DISUSUN DISUSUN
DISUSUNDISUSUN OLEH:OLEH:OLEH:OLEH: WENI
WENIWENIWENI SEPTISEPTISEPTISEPTI SUSANTISUSANTISUSANTISUSANTI 20120430285 201204302852012043028520120430285
FAKULTAS
FAKULTASFAKULTASFAKULTAS EKONOMIEKONOMIEKONOMIEKONOMI UNIVERSITAS
UNIVERSITASUNIVERSITASUNIVERSITAS MUHAMMADIYAHMUHAMMADIYAHMUHAMMADIYAHMUHAMMADIYAH YOGYAKARTAYOGYAKARTAYOGYAKARTAYOGYAKARTA 201
SKRIPSI
Diajukan Guna Memenuhi Persyaratan untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pada Fakultas Ekonomi Program Studi Ilmu Ekonomi
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
DISUSUN OLEH: WENI SEPTI SUSANTI
20120430285
FAKULTAS EKONOMI
“Maka Nikmat Manakah yang Kamu Dustakan?” (QS. Ar-Rahman)
“Man Jadda Wajada – Siapa yang bersungguh-sungguh, akan berhasil –” (Negeri 5 Menara)
“Berkarya tanpa batas meskipun hidup dalam keterbatasan”
(DiffableHouse)
“Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang” (Imam Syafii)
“Jadilah seperti lilin, meski nyalanya tak seterang neon namun dia bisa membakar sebuah gedung”
(Rons Imawan)
“Hasil tidak akan pernah mengkhianati proses”
xviii
PERSEMBAHAN
Dengan segala rasa syukur dan kebahagiaan yang tak terhingga, skripsi ini
saya persembahkan secara khusus kepada orang tua terkasih dan kakak
laki-laki tersayang :
(Almh) Ibu Liana
(Almh) Ibu Paitri
Bapak Sugeng
Mas Okky Yoga Bhakti
Terimakasih atas segala dukungannya baik dukungan secara moril maupun
materil. Terimakasih atas setiap bulir keringat yang diteteskan demi masa
depan saya. Terimakasih atas semua doa yang sudah terpanjat untuk saya.
Terimakasih atas semua pembelajaran yang membuat saya menjadi semakin
tangguh dan mengerti apa arti berjuang. Terimakasih untuk keleluasan
bermimpi dan mewujudkannya.
Akhirnya saya bisa sampai pada salah satu tahap terpenting dalam hidup.
Semoga dengan ilmu ini saya bisa menjadi manusia yang lebih bermanfaat lagi
xviii
UCAPAN TERIMAKASIH
Halaman ini saya dedikasikan sebagai ucapan terimakasih kepada seluruh
pihak yang telah berperan dan memberikan warna di setiap perjalanan saya dalam
menyelesaikan masa studi S1 di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ini.
Bapak tercinta, Bapak Sugeng dan Kedua Ibuku tersayang Almh. Ibu
Li’ana dan Almh. Ibu Paitri yang selalu memberikan dukungan baik
berupa doa maupun materi juga dorongan semangat yang tidak pernah ada
habisnya.
Kakak terganteng, Mas Okky Yoga Bhakti yang selalu bisa menghadirkan
tawa disetiap pesan singkatnya.
Saudara (tak) sedarahku; Ida, Reni, Egi, Sabila yang sudah membersamai
selama ini dan selalu ada. Entah kalian tak bisa dilukiskan dengan
kata-kata. Terimakasih untuk semua waktu dan kepercayaan yang kalian
berikan kepadaku. Terimakasih untuk semua kesabaran dan kesetiannya
selama ini. Terimakasih karena selalu ada dalam setiap ambisiku.
Sahabat yang sudah menjelma menjadi saudaraku; Alfatimia dan Bunga
Navyani yang selalu bisa menjadi alasan kenapa skripsi tak kunjung
selesai. Terimakasih sudah mau menjadi rumah tempat menampung semua
keburukanku dan masih menerimaku dengan cinta.
Partner terkece; Wida Fauziah yang selalu siap siaga makan pete bersama,
yang selalu bisa selfie dimanapun kita berada, dan yang selalu rela
xviii
Sahabat seperjuangan Fathur, Endah, Mbadila, Malik, Fadly dan Fitrah
yang selalu memberikan nasihat dan dukungan, yang senantiasa
menghasilkan tawa dan selalu ada untukku.
Keluarga baruku, Keluarga Generasi Bakti Negeri yang sudah
memberikan pengalaman tak terlupakan selama ini. Terimakasih atas dua
bulan terhebat yang pernah ada. Terimakasih untuk cinta yang kalian
berikan.
Partner seperjuangan, Deni Febrian. Terimakasih sudah mengajarkanku
banyak hal tentang hidup, tentang arti “partner”, tentang berjuang sampai
akhir, tentang menjadi dewasa, tentang arti saling memahami. Terimakasih
sudah mau menemani untuk mencoret beberapa mimpiku. Terimakasih
sudah membersamai dalam kebaikan.
Manusia unik dengan sejuta ide gila sekaligus Koordinator Lapangan
Generasi Bakti Negeri, Muammar Irfan. Terimakasih sudah menjadikan
aku lebih tangguh. Terimakasih sudah mengajarkan aku apa arti
“keluarga”. Terimakasih untuk keberaniannya melangkah bersama mewujudkan mimpi “gila” kita untuk membangun satu rumah bersama,
Generasi Bakti Negeri. Terimakasih untuk cerita indahnya. Terimakasih
sudah menjadi warna tersendiri dan Terimakasih untuk 2 bulannya.
Terimakasih atas semua yang tidak dapat aku sebutkan.
Kepada Tim 7 hari yang sudah berjuang bersama dan selalu ada Thomie,
xviii
Teman satu judul; Ervin yang sudah dengan sabar mengajari aku untuk
olah data.
Bidikmisi DIKTI dan Keluarga Bidikmisi UMY yang telah memberikan
kesempatan untuk belajar di Perguruan Tinggi.
Keluarga HIMIE (Himpunan Mahasiswa Ilmu Ekonomi)yang sudah
memberikanpengalaman dan warna tersendiri bagiku.
Keluarga besar Forum Indonesia Muda yang selalu memberikan inspirasi
dan senantiasa bersinergi bersama dalam kebaikan.
Kepada orang-orang yang meremehkanku, terimakasih sudah menjadikan
aku lebih kuat dan tangguh dengan segala tatapan rendah kalian.
Beserta seluruh kawan yang tidak biasa disebutkan satu persatu yang
xviii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
HALAMAN PERNYATAAN ... iv
MOTTO ... v
HALAMAN PERSEMBAHAN ... vi
UCAPAN TERIMAKASIH ... vii
INTISARI ... x
ABSTRACT ... xi
KATA PENGANTAR ... xiii
DAFTAR ISI ... xiv
DAFTAR TABEL ... xvii
DAFTAR GAMBAR ... xviii
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1
B. Batasan Masalah ... 8
C. Rumusan Penelitian ... 9
D. Tujuan Penelitian ... ... 9
E. Manfaat Penelitian ... ... 10
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Landasan Teori ... 11
1. Krisis Perbankan ... 11
a. Definisi ... 11
b. Penyebab Terjadinya Krisis ... 13
c. Krisis Perbankan di Indonesia ... 21
d. Sejarah Perkembangan Teori Krisis ... 23
1) Krisis Generasi Pertama ... 23
2) Krisis Generasi Kedua ... 24
xviii
D. Definisi Operasional Variabel Penelitian ... 35
1. Variabel Penelitian ... 36
E. Uji Hipotesis dan Analisa Data ... 38
1. Model Non Parametik dengan Pendekatan Sinyal ... 38
2. Analisis Regresi Logistik/Logit ... 43
BAB IV GAMBARAN UMUM OBYEK PENELITIAN A. GambaranUmum ... 45
1. Kebijakan Perbankan Pasca Krisis 1998 ... 45
B. Analisis Pergerakan Variabel Penelitian ... 50
1. Variabel Indeks Tekanan Perbankan ... 50
2. Variabel IHSG ... 51
3. Variabel M2 Multiplier ... 52
4. Variabel Rasio Bunga Pinjaman dan Tabungan ... 52
5. Variabel Rasio Konsumsi Pemerintah dengan PDB ... 54
BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian ... 55
1. Analisis Pendekatan Sinyal Krisis Perbankan... 55
xviii
3. Regresi Logit ... 60
B. Pembahasan ... 63
1. Analisis Pendekatan Sinyal ... 63
2. Analisis Regresi Logit ... 64
3. Perbankan Syariah sebagai Alternatif ... 66
BAB VIPENUTUP A. Kesimpulan ... 67
B. Saran ... 68
C. Keterbatasan Penelitian ... 68
xviii
DAFTAR TABEL
Tabel1.1 Beberapa Indikator Ekonomi Dunia ... 3
Tabel1.2Biaya Rekapitulasi Krisis Perbankan ... 4
Tabel 2.1Periode Krisis Perbankan di Indonesia ... 21
Tabel 3.1 Matrik Probabilitas Krisis dan Signal ... 41
Tabel 5.1 Periode Krisis Perbankan di Indonesia 2001-2015 ... 56
Tabel 5.2 Kinerja Indikator Dini ... 57
Tabel 5.3 Tabel Tabulasi Data ... 60
Tabel 5.4 Hasil Uji Regresi Logit Model 1 ... 61
xviii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1 Skema Dampak Krisis ke Perekonomian Global ... 2
Gambar 2.1 Faktor Penyebab Krisis Keuangan dan Perbankan ... 14
Gambar2.2Kerangka Pemikiran Penelitian ... 33
Gambar 4.1 Pergerakan Variabel Indeks Tekanan Perbankan ... 50
Gambar 4.2 Pergerakan Variabel IHSG ... 51
Gambar 4.3 Pergerakan Variabel M2 Multiplier ... 52
Gambar 4.4 Pergerakan Variabel Rasio Bunga Pinjaman dan Tabungan ... 53
Gambar 4.5 Pergerakan Variabel Rasio Konsumsi Pemerintah dengan PDB ... 54
Gambar 5.1 Indeks Tekanan Perbankan dan Treshold Garcia ... 55
1 A. Latar Belakang
Istilah krisisi finansial atau keuangan digunakan untuk berbagai situasi
dengan berbagai institusi atau aset keuangan yang kehilangan sebagian besar nilai
mereka. Pada tahun 1997 perekonomian global telah mengalami krisis finansial
atau keuangan yang melumpuhkan sendi-sendi perekonomian berbagai negara di
belahan dunia. Selanjutnya, tahun 2008 dunia kembali menghadapi permasalahan
yang hampir sama namun kali ini pusat terjadinya krisis adalah negara
perekonomian terbesar di dunia, yaitu Amerika Serikat. Kedua periode krisis
tersebut sama-sama berdampak pada perekonomian domestik maupun
perekonomian internasional.
Pada tahun 1997, krisis keuangan bermula di Thailand dan telah
menghancurkan sendi-sendi perekonomian Negara-negara Asia, terutama negara
yang memiliki tipologi perekonomian yang hampir sama. Krisis ini dipicu oleh
ulah para spekulator yang melancarkan “serangan” secara bertubi-tubi terhadap
mata uang Thailand. Mengingat struktur perekonomian Thailand pada masa itu
dimana penguatan nilai tukar mata uang tidak dibarengi dengan penguatan di
sektor ril (Steve Radelet dan Jeffrey D. Sach, 1998:1).
Sementara pada tahun 2008, krisis finansial dengan skala global kembali
saat salah satu bank terbesar Perancis BNP Paribas mengumumkan pembekuan
beberapa sekuritas yang terkait dengan kredit perumahan beresiko tinggi
(subprime mortage) di Amerika Serikat. Subprime mortage merupakan istilah
untuk kredit perumahan (mortage) yang diberikan kepada debitur dengan sejarah
kredit yang buruk atau belum memiliki sejarah kredit sama sekali, sehingga
digolongkan sebagai kredit yang berisiko tinggi.
Sumber : Outlook Ekonomi Indonesia 2009-2014, Edisi Januari 2009
Gambar 1.1
Skema Dampak Krisis ke Perekonomian Global
Menurut Laporan Tahunan Bank Indonesia 1998/1999, krisis ekonomi
yang semakin meluas ke hampir seluruh dunia mengakibatkan pertumbuhan
Penghindaran
ekonomi dunia merosot tajam dari 4,2% menjadi 2,2%. Pada tahun 1998
perekonomian kelompok negara berkembang hanya tumbuh 2,8% merosot tajam
dari tahun sebelumnya yang mencapai 5,7%. Laju inflasi di negara-negara
berkembang meningkat dari 9,2% menjadi 10,2%.
Tabel 1.1
Beberapa Indikator Ekonomi Dunia
Rincian 1996 1997 1998
Pertumbuhan Ekonomi (%)
Dunia 4,3 4,2 2,2
Negara-negara industri 3,0 3,0 2,0
Negara-negara berkembang 6,5 5,7 2,8
Negara-negara transmisi -1,0 1,9 -1,9
Laju Inflasi (%)
Negara-negara industri 2,2 2,0 1,3
Negara-negara berkembang 14,1 9,2 10,2
Volume Perdagangan Dunia (% pertumbuhan) 7,0 9,9 3,3 Nilai Tukar Yen/Dolar (rata-rata) 108,8 121,8 131,3 Harga Perdagangan Dunia (% petubahan)
Barang manufaktur -3,0 -8,1 -2,5
Komoditas primer nonmigas -1,2 -3,2 -15,6
Minyak bumi 18,4 -5,4 -30,5
Suku Bunga di Negara Industri (rata-rata %)
Jangka pendek 3,70 3,70 4,40
Jangka panjang 5,80 5,10 4,50
Sumber : Laporan Tahunan Bank Indonesia 1998/1999
Krisis keuangan secara tradisional dipicu oleh kegagalan satu atau lebih
lembaga perbankan, lalu diikuti dengan penurunan harga aset. Penyebabnya
biasanya karena kegagalan dalam menilai risiko kredit dengan benar, misalnya
dengan pinjaman pada aset yang mengalami inflasi. Akhirnya, rekapitulasi krisis
Tabel 1.2
Biaya Rekapitulasi Krisis Perbankan
Negara Periode Biaya Rekap berbanding GDP
Spain 1977-1985 16.8
United States (Saving and Loans) 1984-1991 3.2
Scandinavia
Finland 1991-1993 8.0
Norway 1987-1989 4.0
Sweden 1991 6.4
Latin America
Chile 1981-1983 41.2
Mexico 1995 13.5
Asia
Indonesia 1997-1998 34.5
Korea 1997-1998 24.5
Malaysia 1997-1998 19.5
Philippines 1981-1987 3.0
Thailand 1997-1998 34.5
Sumber: Caprio and Klingebiel, World Bank, July 1996; World Bank, Asian Growth and Recovery Initiative, 1999.
Dampak krisis 1997 juga dirasakan oleh Indonesia, diantaranya adalah
merosotnya nilai tukar rupiah secara tajam, laju inflasi yang tinggi dan terjadinya
krisis dibidang perbankan. Sebagai dampak dari krisis yang berkepanjangan, pada
Oktober 1998 jumlah keluarga miskin meningkat sehingga perlu dilancarkan
program-program untuk menunjang mereka yang dikenal sebagai social safety
net. Hal tersebut tidak terlepas dari jatuhnya nilai tukar rupiah yang tajam, yang
menyebabkan terjadinya kesenjangan antara penghasilan yang berkurang karena
PHK atau naik sedikit dengan pengeluaran yang meningkat tajam karena tingkat
Outlook ekonomi Indonesia 2009-2014, edisi Januari 2009 menjelaskan
dampak krisis global ke perekonomian Indonesia pada dasarnya melewati dua
jalur, yaitu jalur finansial (financial channel) dan jalur perdagangan (trade
channel) atau jalur makroekonomi. Dampak melalui jalur finansial secara
langsung akan muncul apabila bank atau lembaga keuangan memiliki eksposur
langsung terhadap aset-aset yang bermasalah (toxic assets) , atau meskipun tidak
memiliki aset bermasalah namun memiliki kaitan dengan lembaga keuangan yang
memiliki eksposur yang besar terhadap aset bermasalah. Sedangkan dampak tidak
langsungnya adalah munculnya hambatan terhadap ketersediaan pembiayaan
ekonomi, baik yang bersumber dari perbankan, lembaga keuangan lain maupun
pihak-pihak lainnya. Dampak krisis melalui jalur perdagangan tidak terlepas dari
karakteristik ekspor Indonesia yang didominasi oleh komoditas primer dan negara
tujuan ekspor yang kurang terdiversifikasi.
Krisis finansial tahun 1997 dan 2007 sama-sama berdampak pada dunia
perbankan Indonesia. Pengalaman krisis keuangan tahun 1997 telah membawa
dunia perbankan Indonesia mampu bertahan di krisis 2008. Laporan Tahunan
Bank Indonesia 2008 menyebutkan bahwa secara umum daya tahan sektor
perbankan cukup mengesankan sebagaimana tampak pada kondisi likuiditas,
rentabilitas dan solvabilitasnya. Ekspansi kredit dengan kualitas kredit yang tetap
terpelihara telah mampu mendukung aktivitas perekonomian domestik sehingga
pertumbuhan ekonomi pada tahun 2008 masih cukup tinggi.
Sampai sejauh ini belum ada standar atau pun patokan yang bersifat baku
studi empiris yang dilakukan oleh Demirguc Kunt dan Detragiache (1998),
tentang determinan krisis perbankan, menggariskan bahwa suatu periode
keterpurukan perbankan dapat dikategorikan sebagai krisis apabila memenuhi
minimal satu dari empat kondisi sebagai berikut :
1. Non performing asset mencapai 10% dari total aset sistem perbankan;
2. Biaya penyelamatan perbankan paling tidak mencapai 2% dari PDB;
3. Terjadi pengalihan kepemilikan bank – bank secara besar – besaran kepada pemerintah; dan
4. Terjadi “bank-run” yang meluas atau terdapat tindakan darurat yang
dilakukan pemerintah dalam bentuk pembekuan simpanan masyarakat,
penutupan kantor-kantor bank dalam jangka waktu yang cukup panjang
atau pemberlakuan penjaminan simpanan yang menyeluruh.
Pada kasus krisis perbankan di kawasan Asia, Hardy dan dan
Pazarbasioglu (1998) menyatakan bahwa faktor-faktor tertentu yang secara
khusus mempengaruhi krisis di kawasan Asia adalah apresiasi nilai tukar yang
diikuti dengan depresiasi yang sangat tajam serta peningkatan secara signifikan
utang luar negeri yang diikuti dengan tingginya event-of-default. Sementara itu,
permasalahan perbankan yang menuju pada krisis umumnya disebabkan oleh
ekspansi kredit yang berlebihan yang bersumber dari utang luar negeri dan
fluktuasi tajam pada real effective exchange rate. Penjelasan tersebut
internal perbankan, tetapi juga adanya fluktuasi dan ketidakstabilan variabel
Makro Ekonomi.
Sistem peringatan dini merupakan salah satu cara untuk menjaga agar
sistem keuangan dapat berjalan sesuai dengan aturannya dan bila ada potensi akan
terjadinya krisis atau instabilitas maka akan terdeteksi lebih awal. Dengan melihat
berbagai model yang telah dikembangkan oleh para ahli, maka akan terlihat
adanya fenomena umum (stylized facts) yang muncul terhadap berbagai indikator
dini yang dapat dilihat menjelang terjadinya krisis atau adanya potensi instabilitas.
Dapat disimpulkan jika instabilitas di sektor keuangan itu sebenarnya dapat
diramalkan dengan melihat berbagai indikator dini yang tepat (Imansyah M.Hardy
dan Kusdarjito Cungki, 2008)
Oleh karena itu sangat relevan apabila dibangun sebuah metode peringatan
dini (early warning system) untuk memprediksi permasalahan potensial yang
terjadi dalam dunia perbankan. Untuk itu diperlukan pemantauan berkelanjutan
atas indikator-indikator internal perbankan, makroekonomi, maupun hal-hal
lainnya yang diyakini dapat memberikan informasi mengenai adanya
permasalahan dalam industri perbankan.
International Monetary Fund (IMF) dan Asian Development Bank (ADB)
secara jelas menyatakan bahwa dibutuhkan suatu perangkat early warning system
untuk mengantisipasi krisis. Banyak metode yang dikembangkan untuk
mengembangkan sebuah model yang dapat memberikan peringatan dini tersebut,
kasus perbankan di Indonesia. Berdasarkan uraian diatas penulis merasa tertarik
untuk melakukan penelitian lebih lanjut dengan “Membangun Sistem Deteksi
Dini terhadap Krisis Perbankan di Indonesia”.
B. Batasan Masalah Penelitian
Berdasarkan penelitian M. Handry Imansyah dan Cungki Kusdarjito,
terdapat 4 indikator yang memberikan kontribusi paling besar di dalam
pembentukan signal adalah perubahan IHSG, pertumbuhan M2 multiplier, rasio
bunga pinjaman atau bunga tabungan, dan rasio konsumsi pemerintah dengan
PDB. Indikator-indikator tersebut merupakan 5 besar di dalam meberikan
sumbangan membangkitkan sinyal dan berkaitan dengan sektor perbankan.
Berdasarkan penjelasan diatas, maka didapatkan batasan penelitian ini
adalah sebagai berikut :
1. Objek penelitian ini adalah deteksi awal terjadinya krisis terhadap bank
umum konvensional yang ada di Indonesia
2. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah IHSG,
pertumbuhan M2 multiplier, rasio bunga pinjaman dan bunga tabungan,
dan rasio konsumsi pemerintah dengan PDB.
3. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder, yang
diperoleh dari web Bank Indonesia.
4. Data yang digunakan merupakan data dari tahun 2001 sampai dengan
C. Rumusan Penelitian
Berdasarkan latar belakang diatas, maka diperlukan adanya sistem
peringatan dini untuk mengantisipasi terjadi krisis perbankan dalam suatu
perekonomian. Dengan demikian studi ini diharapkan dapat menjawab
pertanyaan-pertanyaan berikut :
1. Bagaimana membangun sistem deteksi dini terhadap perbankan
Indonesia ?
2. Variabel apa yang menjadi leading indikator dalam krisis perbankan
Indonesia ?
3. Bagaimana kinerja indikator terpilih dalam memberikan sinyal terhadap
krisis perbankan ?
D. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah :
1. Mengetahui cara membangun sistem deteksi dini terhadap perbankan
Indonesia.
2. Mengetahui dan membuktikan variabel apa yang menjadi leading
indikator dalam krisis perbankan Indonesia.
3. Mengetahui bagaimana kinerja indikator terpilih dalam memberikan
E. Manfaat Penelitian
1. Bagi penulis, penelitian ini merupakan penerapan ilmu yang diperoleh
selama perkuliahan di jurusan Ilmu Ekonomi Keuangan dan Perbankan
Islam, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta serta untuk menambah
dan memperluas pengetahuan dan wawasan tentang deteksi krisis
perbankan secara dini.
2. Bagi masyarakat, penelitian ini diharapkan dapat memberikan
gambaran mengenai keadaan perekekonomian Indonesia saat terjadi
krisis perbankan.
3. Bagi perusahaan, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi
masukan bagi manajemen perbankan dalam mendeteksi krisis secara
dini.
4. Bagi akademisi, penelitian ini diharapkan dapat memberikan
sumbangan ilmu pengetahuan khususnya wacana tentang deteksi secara
dini terhadap terjadinya krisis secara dini.
5. Bagi pembuat kebijakan, penelitian ini diharapkan mampu menjadi
salah satu bahan rujukan dalam mengidentifikasi krisis perbankan dan
juga sebagai bahan pertimbangan untuk membuat kebijakan moneter
11 A. Landasan Teori
1. Krisis Perbankan a. Definisi
Secara spesifik stabilitas sistem keuangan adalah stabilitas
lembaga-lembaga dan pasar keuangan yang membentuk suatu sistem keuangan (Crockett,
1997). Industri perbankan oleh beberapa ahli ekonomi dianggap sebagai industri
yang memerlukan perhatian khusus karena dianggap mudah dipengaruhi oleh
faktor-faktor eksternal perbankan dan merupakan bagian integral dari sistem
pembayaran (Kaufman, 1996). Industri perbankan merupakan industri yang
membutuhkan pengawasan secara khusus karena jatuhnya suatu bank akan
menyebabkan efek bola salju terhadap sistem perekonomian yang ada. Kegagalan
perbankan secara individu memang tidak begitu berpengaruh namun apabila
kegagalan terjadi pada sektor perbankan secara keseluruhan maka akan
memperburuk kondisi perekonomian.
Sampai saat ini definisi krisis perbankan masih menjadi perdebatan oleh
para tokoh ekonomi, belum ada standar ataupun patokan yang bersifat baku untuk
mengindikasikan kondisi perbankan berada dalam situasi krisis. Kaminsky dan
Reinhart (1999) mendefinisikan krisis perbankan terjadi dengan ditandai adanya
masalah dalam neraca dikarenakan penarikan dana besar-besaran dari nasabah dan
Menurut Hardy dan Pazarbasiglu (1998) definisi krisis perbankan adalah
apabila sistem perbankan mengalami salah satu dari kondisi-kondisi sebagai
berikut :
1) Tingginya kredit macet (NPL) yang melebihi 10% dari seluruh aset atau
2% dari Produk Domestik Bruto (PDB).
2) Biaya penyelamatan perbankan melebihi 2% dari PDB.
3) Nasionalisasi atau pengambilan alih perbankan oleh pemerintah.
4) Penarikan dana besar-besaran oleh masyarakat.
5) Penutupan bank oleh pemerintah baik sementara atau selamanya.
Sedangkan menurut studi empiris yang dilakukan oleh Demirguc Kunt dan
Detragiache (1998), tentang determinan krisis perbankan, menggariskan bahwa
suatu periode keterpurukan perbankan dapat dikategorikan sebagai krisis apabila
memenuhi minimal satu dari empat kondisi sebagai berikut :
1) Non performing asset mencapai 10% dari total aset perbankan
2) Biaya penyelamatan perbankan paling tidak mencapai 2% dari PDB
3) Terjadi pengalihan kepemilikan bank secara besar-besaran kepada
pemerintah
4) Terjadi “bank-run” yang meluas atau terdapat tindakan darurat yang dilakukan pemeritah dalam bentuk pembekuan simpanan masyarakat,
penutupan kantor-kantor bank dalam jangka waktu yang cukup panjang
Sementara Gonzales-Hermosillo (1999) menyatakan bahwa indikator
terbaik untuk menyatakan krisis perbankan adalah kredit macet. Berbeda dengan
Rojaz-Suarez (1998) yang mendefinisikan krisis perbankan terjadi apabila kredit
macet lebih besar daripada rata-rata selama masa tidak krisis ditambah 2 standart
deviasi.
b. Penyebab Terjadinya Krisis
Krisis keuangan dan krisis perbankan secara umum pernah terjadi
diberbagai negara di dunia. Pemahaman mengenai penyebab terjadinya krisis
masih sangat beragam tergantung dari kondisi negara yang dijadikan kasus.
Namun bila diamati secara mendalam, krisis keuangan dan krisis perbankan
memiliki karakteristik atau pola tertentu yang selalu berulang.
Menurut Fisher (1997), krisis keuangan dan perbankan dapat disebabkan
oleh faktor internal maupun eksternal yang terdapat dalam sistem keuangan suatu
negara. Terdapat tiga hal medasar yang dapat menjelaskan latar belakang
terjadinya krisis : Pertama, meskipun tidak ada kaitan antara deregulasi dan krisis
keuangan, sistem perbankan di beberapa negara banyak menghadapi problema
setelah pemerintah melancarkan kebijakan deregulasi, khususnya jika kerangka
ketentuan (regulatory framework) dan perangkat sistem pengawasan (prudential
supervision) tidak mampu mengakomodasi tuntutan deregulasi. Kedua, belum
adanya pemahaman subtansi produk-produk keuangan oleh otoritas pengawasan
bank, padahal perkembangan financial market yang produk-produknya bercirikan
inherent risk sangat tinggi. Atau dapat dikatakan bahwa perkembangan industri
otoritas pengawasan bergerak seperti deret hitung. Ketiga, pemerintah melakukan
liberalisasi di sektor keuangan tanpa memastikan apakah sistem keuangan
domestik dalam kondisi sehat dan stabil, serta kebijakan makro ekonomi berjalan
secara efektif.
Sumber : Frederic S Mishkin, 2001: 203 dan 206
Gambar 2.1
Faktor penyebab krisis keuangan dan perbankan
Buruknya kondisi neraca perbankan
Peningkatan tingkat suku bunga
Buruknya kondisi pasar modal
Meningkatnya ketidakpastian
Spekulasi dan masalah moral hazartd memperburuk keadaan
Penurunan aktivitas ekonomi : krisis nilai tukar
Spekulasi dan masalah moral hazard memperburuk keadaan
Kepanikan di sektor perbankan : banking crisis
Spekulasi dan masalah moral hazard memperburuk keadaan
Secara teoritis krisis keuangan dapat dibagi dalam beberapa tipologi
berdasarkan sebabnya. Radelet dan Sachs (1998) memberikan beberapa tipologi
penyebab dari krisis keuangan sebagai berikut :
1) Kebijakan ekonomi yang tidak konsisten
Krugman (1979) merupakan pelopor yang menganalisis krisis
finansial dengan melihat krisis neraca pembayaran, dimana nilai tukar
mata uang jatuh akibat ekspansi kredit domestik oleh bank sentral yang
tidak konsisten dengan target nilai tukar mata uang. Teori ini
menjelaskan penyebab terjadinya krisis keuangan untuk negara yang
menggunakan sistem nilai tukar tetap.
Krisis terjadi bila pemerintah suatu negara melakukan devaluasi
akibat semakin menurunnya cadangan devisa yang disebabkan oleh
nilai mata uang domestik yang mengalami overvalution. Konsekuensi
dari overvalution adalah menurunnya daya saing harga barang ekspor
sehingga barang impor menjadi relatif lebih murah dan impor
meningkat secara signifikan. Dampak putaran akhirnya adalah
meningkatnya defisit di dalam neraca transaksi berjalan. Bila neraca
pembayaran masih relatif baik maka secara umum keadaan ini masih
relatif aman. Namun, bila faktor-faktor tersebut tidak terjadi, maka
cadangan devisa akan terkuras untuk mempertahankan nilai tukar tetap,
2) Kepanikan di pasar uang
Penyebab terjadinya krisis karena adanya penarikan
besar-besaran atas dana kredit yang diberikan oleh kreditor asing, terutama
pinjaman jangka pendek secara mendadak sehingga mengakibatkan
kekurangan likuiditas terhadap mata uang asing (cadangan devisa).
3) Pecahnya gelembung finansial
Terjadinya gelembung finansial (financial bubble) jika
spekulan membeli aset keuangan pada harga di atas harga
fundamentalnya dengan harapan mendapatkan capital gain (Blanchard
dan Watson, 1982). Namun, setelah pelaku pasar menyadarinya, maka
para pelaku pasar segera menjual seluruh aset yang dimilikinya dengan
menukarnya dalam mata uang asing, sehingga mata uang domestik
mengalami kejatuhan.
4) Moral hazard
Moral hazard terjadi karena adanya jaminan pemerintah dan
lemahnya penegakan aturan. Hal ini menjadi salah satu penyebab
investasi yang berlebihan dan berisiko oleh perbankan dan lembaga
keuangan yang dapat meminjam kredit sehingga mereka berhutang
lebih besar dari modal mereka sendiri (Akerlof dan Romer 1993).
Kreditor asing dan domestik melakukan pemberian kredit yang berisiko
tinggi karena mereka tahu bahwa pemerintah dan lembaga keuangan
masalah. Krugman menggunakan teori ini untuk meneliti krisis
keuangan di Asia pada tahun 1997.
5) Ketiadaan aturan baku
Tidak adanya sistem kebangkrutan atau kepailitan dalam kasus
dimana korporasi menghadapi masalah likuiditas merupakan salah satu
penyebab krisis, karena berkaitan erat dengan pemegangan aset-aset
yang harus dilikuidasi (Miller dan Zhang 1997).
Sedangkan menurut Berg dan Pattilo (1999) penyebab krisis keuangan dapat
dibedakan menjadi 2 bagian besar yaitu pertama adanya gangguan terhadap
fundamental ekonomi (inflasi, pertumbuhan ekonomi dan neraca pembayaran)
dan kedua, adanya serangan spekulasi yang mempercepat terjadinya krisis
(self-fulfilling crisis). Sementara itu, McKinnon dan Pil (1994) mengamati peranan
aliran modal dalam perekonomian dengan sektor perbankan yang tidak teratur
serta asuransi deposito dan masalah moral hazard di perbankan merupakan
faktor-faktor penyebab krisis keuangan.
Mc Farlane (1999) mengatakan bahwa krisis perbankan dapat dipicu oleh
berbagai risiko yang bersumber dari elemen-elemen yang terkait dengan sistem
keuangan. Elemen-elemen tersebut saling terkait satu sama lain, yaitu :
1) Lingkungan Makro Ekonomi yang stabil
2) Lembaga finansial yang dikelola dengan baik
3) Pasar keuangan yang efisien
4) Kerangka pengawasan prudensial yang sehat
Menurut kajian stabilitas keuangan Bank Indonesia 2003, krisis perbankan
dapat bersumber dari permasalahan yang terjadi dalam berbagai elemen terkait
dengan sistem keuangan, yaitu lembaga keuangan itu sendiri (bank), lembaga
keuangan non bank atau pasar modal (lingkaran pertama), atau dapat ditimbulkan
oleh salah satu atau kombinasi permasalahan di sektor riil, fiskal, atau sistem
pembayaran (lingkaran kedua). Namun demikian krisisi dapat juga disebabkan
oleh faktor eksternal yang bersumber dari perekonomian internasional melalui
dampak mewabah (contagion effect) seperti yang terjadi pada krisis di kawasan
Asia pada tahun 1997 (lingkaran ketiga).
Keterangan :
1. Lembaga, pasar dan infrastruktur
2. Sektor riil
3. Sektor moneter
4. Sektor fiskal
5. Perekonomian Indonesia
Sumber : Kajian Stabilitas Keuangan Bank Indonesia, 2003
Gambar 2.2
Interaksi Lembaga Keuangan
Honohan (1997) menjelaskan bahwa krisis perbankan umumnya berkaitan
erat dengan masalah makro ekonomi seperti tingginya rasio pinjaman terhadap
simpanan (LDR), tingginya rasio pinjaman luar negeri terhadap simpanan
1
5
3 4
masyarakat dan tingkat pertumbuhan kredit. Sementara Bordo dan Eichengreen
(1999) menyatakan bahwa setelah Perang Dunia Kedua dengan ketatnya aturan
keuangan dan pengawasan maka relatif kecil terjadinya krisis perbankan di 21
negara maju dan emerging market selama periode 1945-1971. Sebaliknya, pada
tahun 1980-an dimana terjadinya liberalisasi dan kurangnya pengawasan, terjadi
54 kasus krisis perbankan dari anggota IMF antara tahun 1957-1997, dan Bank
Dunia mencatat angka yang lebih besar (Eichengreen dan Arteta, 2000).
Menurut Berg dan Pattilo (1999) penyebab krisis perbankan dibedakan
menjadi dua bagian yaitu pertama, adanya gangguan terhadap fundamental
ekonomi, seperti inflasi, pertumbuhan ekonomi dan neraca pembayaran; kedua
adalah adanya serangan spekulasi yang mempercepat terjadinya krisis
(self-fulfilling crisis). Sedangkan menurut McKinnon dan Pilll (1994) penyebab krisis
perbankan adalah ketidakteraturan aliran modal dalam perekonomian dan sektor
perbankan serta asuransi deposito dan masalah moral hazard. Sedangkan Caprio
dan Klingebiel (1996) mengemukakan krisis perbankan di negara maju umumnya
karena faktor dari luar seperti perbedaan tingkat bunga domestik dengan di luar,
siklus bisnis dan hutang luar negeri. Sama halnya dengan Kibritcioglu (2004)
menyebutkan bahwa penyebab utama krisis perbankan adalah meledaknya kredit,
resesi ekonomi dan overvaluation dari mata uang domestik. Sementara Doma dan
Peria (2000) menyatakan bahwa faktor-faktor determinan krisis perbankan adalah
: i) risiko kredit, ii) modal yang tidak memadai, iii) peningkatan drastis bunga
tersedianya asuransi deposito, vi) liberalisasi keuangan, vii) meledaknya kredit,
viii) kondisi ekonomi eksternal.
Demirguc-Kunt dan Detragiache (1998) juga menyatakan bahwa krisis
perbankan cenderung timbul pada saat kondisis makro ekonomi memburuk.
Dalam hal ini, pertumbuhan PDB yang rendah sangat berkaitan dengan
peningkatan risiko pada industri perbankan. Selain itu, peningkatan risiko pada
industri perbankan juga dapat berasal dari laju inflasi yang tinggi dan upaya
stabilisasi laju inflasi akan mengakibatkan peningkatan tajam pada suku bunga riil
yang pada gilirannya meningkatkan kemungkinan terjadinya krisis perbankan.
Furfine (2001) menjelaskan bahwa terdapat tiga alasan terjadinya krisis
perbankan, yaitu pertama, kualitas aset-aset bank mengalami kekurangan
likuiditas; kedua, bank-bank mengalami penarikan dana besar-besaran dari
masyarakat sehingga menumbuhkan dana cadangan bank sentral untuk membayar
nasabahnya; ketiga, adanya gangguan karena bank kehilangan akses dengan pasar
antar bank, dan pinjeman interbank dibekukan sampai institusi keuangan atau
pemerintah dapat memberikan jaminan terhadap risiko pinjaman. Menurut Hans
Gersbach dan Jan Wenzelburger (2003) krisis perbankan disebabkan oleh risiko di
luar makro ekonomi yang terlihat dari neraca perbankan dan dalam kerangka
kompetisi perbankan, dimana bank tidak dapat memenuhi margin intermediasi
sehingga menanggung risiko yang tinggi. Namun perbankan masih bisa
menggunakan dana dari pemerintah yang digunakan untuk mengatasi
c. Krisis Perbankan di Indonesia
Tabel 2.1
Periode Krisis Perbankan di Indonesia
Tahun; Bulan Deskripsi
1992; 11 Bank Summa mengalami kolaps dan pecah menjadi tiga bank kecil karena menanggung utang Rp. 135 miliar 1997;04 Peningkatan GWM dari 3% menjadi 56% terhadap dana
pihak ketiga
1997;08 1. Pemerintah melepas sistem kurs mengambang terkendali (managed floating) dan mengembangkan nilai tukar rupiah (free floating)
untuk memberikan ruang gerak bagi pengendalian moneter sekaligus menyelamatkan cadangan devisa.
2. Mengalihkan dana yayasan milik pemerintah dan BUMN yang ada di bank-bank ke dalam SBI dan menaikkan suku bunga SBI menjadi 30% dan 28% 1997;09 1. Bank Indonesia menurunkan tingkat suku bunga
SBI sebanyak 3 kali yaitu 3%, 2,5% dan 2% 2. Terjadinya isu besar-besaran di masyarakat
mengenai beberapa bank yang kalah kliring, rugi transaksi valas, larinya beberapa para bankir ke luar negeri.
3. Pemerintah mengeluarkan kebijakan pemberian Bantuan Likuiditas Bank Indonesia
1997;10 Pemerintah meminta bantuan IMF untuk memperoleh bantuan keuangan sekaligus persetujuan kebijakan pemerintah terutama dalam langkah restrukturisasi bank. 1997;11 1. Pemerintah melikuidasi 16 bank komersial antara
lain Bank Harapan Sentosa, Bank Guna Internasional, Bank Andromeda, Bank Astria Raya, Sejahtera Bank Umum, Bank Dwipa, Bank Kosagraha Semesta, Bank Jakarta, Bank Citrahasta Manunggal, South Fast Asia Bank, Bank Pinaesaan, Bank Mataram Dhanarta, Bank Anrico, Bank Pasific, Bank Industri dan Bank Majapahit Jaya.
2. Terjadi bank rush besar-besaran
1997;12 1. Bank Indonesia memberikan bantuan dana likuiditas kepada bank-bank komersial sebesar 3% dari GDP.
2. Terjadi lonjakan penyaluran BLBI yang signifikan yang dikarenakan kurs rupiah mencapai lebih dari Rp. 5.000per US$1.
3. Terjadi bank rush besar-besaran
Lanjutan Tabel 2.1.
1998;01 1. Pemerintah memberikan garansi pada semua deposito nasabah di segala jenis bank baik bank pemerintah maupun bank swasta kecuali pada bank Internasional. Program penjaminan ini untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat. Dengan dibentuknya IBRA (Indonesian Bank Restructuring Agency)
2. Kurs rupiah mengalami depresiasi yang sangat tajam mencapai Rp. 17.000 per Dollar
3. Terjadi kegagalan bank dengan grade 4 yaitu Bank Bumi Daya, Bank Dagang Negara.
4. Bank Duta dan Bank Tugu merger dengan nama baru Bank Palapa
1998;02 1. Pembentukan Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) Istismarat, Bank Pelita, Bank Kokindo, Bank Deka dan Bank Centris.
2. Terjadi BTO oleh BPPN terhadap Bank BDNI, Bank Danamon, Bank Umum Nasional, Bank Tiara Asia, Bank PDFCI, Bank Modern dan Bank Exim. 1998;05 Pada tanggal 29 Mei 1998, Bank BCA diambil alih oleh
pemerintah. Bank Nusa Internasional, Bank Angkasa dan Bank Nasional Komersial dimerger dengan Bank Nasional. 1998;06 Terjadi bank rush besar-besaran oleh masyarakat kepada
bank menurun sejak terjadinya likuidasi bank.
1998;07 Tujuh bank dibekukan (BBO) dan 7 Bank diambil alih (BTO).
1998;08 Pemerintah menutup tiga bank swasta nasional yaitu Bank Umum Nasional, Bank Modern dan Bank Dagang Nasional Indonesia.
1998;10 Pemerintah kembali melakukan merger bank namun kali ini menjadi milik pemerintah yang artinya pemerintah melakukan take over dan merger pada saat yang bersamaan. Bank yang dimerger adalah Bank Dagang Nasional, Bank Bumi Daya, Bank Pembangunan Nasional dan Bank Exim dimerger nama Bank Mandiri.
1998;12 1. Terjadi penurunan modal bank menjadi Rp. 250 miliar yang semula sebesar Rp 1 triliun dengan CAR sebesar 4%
2. Terjadi kegagalan dengan tingkat paling parah sebesar grade 4 yaitu Bank BAPINDO.
Lanjutan Tabel 2.1.
1999;02 Pemerintah menerbitkan surat utang sebesar Rp. 64,5 triliun sebagai tambahan penggantian dana yang dikeluarjan BI atas tagihan kepada bank yang dialihkan ke BPPN.
1999;03 Pemerintah menutup 38 bank swasta nasional disertai dengan 29 bank BTO, 7 Bank direkapitulasi.
1999;04 Tanggal 21 April 1999 terjadi take over Bank Niaga oleh pemerintah
1999;06 Bank Danamon merger dengan tujuh bank swasta nasional antara lain : Bank Pos, Bank Rama, Bank Tiara, Bank Risjad Salim Internasional, Bank Nusa Nasional, Bank Duta, Bank Jaya dan bank Tamara.
1999;07 Terjadi taje over pada Bank Bali oleh pemerintah
1999;10 Pemerintah menutup dua bank swasta nasional, Bank Prasidha Utama dan Bank Ratu.
2002;09 Pemerintah melakukan merger pada bank swasta nasional antara lain : Bank Bali, Bank Universal, Bank Patriot, Bank Prima Express dan Bank Arthameda menjadi Bank Permata.
Sumber : Lestano, et.al (2003)
d. Sejarah Perkembangan Teori Krisis
1) Krisis Generasi Pertama
Dalam canonical crisis model terdapat dua asumsi yang melandasi. Pertama, pemerintah suatu negara mencetak uang secara besar-besaran untuk membiayai defisit anggarannya. Kedua, bank sentral memiliki sejumlah cadangan devisa yang digunakan untuk melakukan intervensi pasar dengan tujuan menstabilkan nilai tukar sesuai dengan yang ditargetkan.
2) Krisis Generasi Kedua
Sebagai lawan dari model generasi pertama, model generasi kedua tidak mengasumsikan penentuan dimana penyebab berasal secara eksklusif dari fundamental ekonomi ke ekspektasi. Pada suatu perekonomian yang kondisi fundamental sistem kursnya menunjukkan trend yang baik tidak menutup kemungkinan negara tersebut mengalami krisis yang diakibatkan oleh serangan spekulatif, krisis semacam ini dinamakan self-fullfing crises. Peranan kunci di dalam model generasi kedua dimainkan oleh perubahan ekspektasi sebagai penyebab utama krisis keuangan.
3) Krisis Generasi Ketiga
2. Sistem Deteksi Dini (Early Warning System)
Berbagai macam alternatif pendekatan untuk mendeteksi krisis, baik krisis
ekonomi maupun krisis perbankan telah tersedia. Pendekatan sistem peringatan
dini krisis secara empiris yang relatif populer dan banyak digunakan oleh para ahli
ekonomi adalah model probit atau logit. Model ini digunakan dalam penelitian
Eichengreen dan Arteta (1998) untuk krisis keuangan dan Demirguc-Kunt dan
Detragiache (1998) untuk krisis perbankan. Model alternatif lainnya yang populer
adalah model signal yang dikenalkan oleh Kaminsky, Lizondo dan Reinhart
(1998). Sementara model pendekatannya lainnya adalah Markov Witching Model
serta jaringan saraf buatan (Artificial Neural Network) yang juga mulai banyak
digunakan oleh para pengembang model untuk memprediksi krisis.
3. Variabel Indikator
1) Indeks Harga Saham Gabungan
Perkembangan harga saham dapat menunjukkan kondisi perekonomian
suatu negara. Kecenderungan kenaikan harga saham dalam jangka panjang
menunjukkan perekonomian yang sedang tumbuh pesat, sebaliknya jatuhnya
harga saham mengindikasikan perekonomian sedang mengalami kelesuan.
Walaupun kenaikan harga saham bersifat positif bagi perekonomian, namun
pertumbuhan yang terlalu tajam perlu di waspadai, karena kemungkinan terjadi
overheating. Dalam jangka pendek harga saham dapat berfluktuasi, karena harga
pasar saham bersifat subtitute bagi sistem perbankan (Tjahyono, 1998). IHSG bisa
saham mengalami kenaikan atau penurunan yang melibatkan seluruh harga saham
yang tercatat dalam bursa.
2) Bunga Pinjaman dan Tabungan
Menurut Hubbard (1997), bunga adalah biaya yang harus dibayar borrower
atas pinjaman yang diterima dan imbalan bagi lender atas investasinya. Sementara
itu, Kasmir, (2002:121) menyatakan bahwa suku bunga bank merupakan balas
jasa yang diberikan oleh bank yang berdasarkan prinsip konvesional kepada
nasabah yang membeli atau menjual produknya. Sedangkan menurut Sadono
Sukirno (2006:375) suku bunga adalah bunga yang dinyatakan sebagai persentasi
dari modal.
Dalam kegiatan perbankan sehari-hari ada 2 macam bunga yang diberikan
kepada nasabahnya, yaitu :
a) Bunga Simpanan
Bunga yang diberikan sebagai rangsangan atau balas jasa bagi nasabah yang
menyimpan uangnya di bank. Bunga simpanan merupakan harga yang harus
dibayar kepada nasabahnya. Sebagai contoh : jasa giro, bunga tabungan, bunga
deposito.
b) Bunga Pinjaman
Bunga yang diberikan kepada para peminjam atau harga yang harus dibayar
oleh nasabah peminjam kepada bank. Sebagai contoh : bunga kredit.
Kedua macam bunga ini merupakan komponen utama faktor biaya dan
dikelurkan kepada nasabah sedangkan bunga pinjaman merupakan dana yang
diterima dari nasabah. Bunga simpanan maupun bunga pinjaman masing-masing
mempengaruhi satu sama lainnya. Sabagai contoh seandainya bunga simpanan
tinggi maka secara otomatis bunga pinjaman juga terpengaruh ikut naik dan
demikian pula sebaliknya.
3) Produk Domestik Bruto (PDB)
Produk Domestik Bruto (PDB) adalah nilai total atas segenap output akhir
yang dihasilkan oleh suatu perekonomian baik yang dilakukan oleh penduduk
domestik maupun penduduk asing maupun orang-orang dari negara lain yang
bermukim di negara yang bersangkutan. Produk domestik bruto merupakan
ukuran terbaik dari kinerja perekonomian karena tujuan PDB adalah meringkas
aktivitas ekonomi dalam nilai uang tunggal dalam periode waktu tertentu
(Mankiw, 2000).
Produk Domestik Bruto juga dapat dihitung berdasarkan dua ukuran yaitu
atas dasar harga berlaku dan atas harga konstan. Nilai PDB atas dasar harga
konstan digunakan untuk mengukur pertumbuhan ekonomi karena nilai PDB ini
tidak dipengaruhi oleh perubahan harga, sedangkan PDB atas dasar harga berlaku
digunakan untuk melihat besarnya perekonomian pada tahun tersebut.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Lestari (2005), krisis
moneter yang melanda Indonesia sejak pertengahan tahun 1997 telah memberikan
dampak yang signifikan terhadap kondisi perekonomian Indonesia, dengan
meningkatnya fluktuasi tingkat inflasi di Indonesia sebagai salah satu
model tingkat inflasi sebelum dan sesudah krisis. Salah satu faktor yang
berpengaruh terhadap tingkat inflasi di Indonesia adalah pertumbuhan ekonomi
yang di ukur dengan menggunakan Produk Domestik Bruto (PDB).
4) Angka Pengganda M2 (M2 Multiplier)
Multiplier M2 merupakan rasio antara uang beredar dalam arti luas (M2)
dengan uang primer yang ada di Bank Sentral. Angka multipier M2 yang besar
menunjukkan bahwa kegiatan perekonomian berjalan dengan cepat karena uang
primer yang keluar dari bank sentral dengan cepat mengalami penggandaan
(multiplier) oleh Badan Penciptaan Uang Giral. Sebaliknya angka multiplier yang
kecil menunjukkan kegiatan perbankan yang mengalami kelesuan (Tjahyono,
1998).
Insukindro (1993) membahas menyangkut M2 dimana M2 disebut juga
broad money yang merupakan jumlah uang beredar dalam arti luas atau disebut
juga likuiditas perekonomian. M2 adalah kewajiban moneter system moneter
terhadap sektor swasta domestik yang terdiri dari M1 (uang dalam arti sempit
yaitu uang kartal dan uang giral) dan uang kuasi (aktiva milik swasta domestik
yang dapat memenuhi sebagian fungsi uang).
Dalam kaitannya dengan krisis perbankan angka pengganda M2 yang besar
mengindikasikan kegiatan perekonomian berjalan cepat karena uang primer yang
keluar dari bank sentral dengan cepat mengalami penggandaan oleh Bank
Pencipta Uang Giral, sehingga kemungkinan terjadinya krisis perbankan juga
kecil. Namun, perkembangan angka pengganda yang rendah juga menimbulkan
maupun kegiatan perbankan maupun kegiatan perekonomian secara umumnya.
Multiplier M2 yang terlalu tinggi perlu diawasi karena ada kemungkinan sistem
perbankan over ekspansif yang mana dapat menyebabkan keruntuhan bank dan
memicu krisis (Kunt dan Detragiache, 1998).
B. Penelitian Terdahulu
Penelitian mengenai sistem deteksi dini (Early Warning Sistem) pada krisis
perbankan sudah dilakukan di banyak negara di dunia. Berikut merupakan
rangkuman beberapa penelitian terdahulu mengenai Early Warning Sistem.
Tabel 2.2
Penelitian Terdahulu
No Nama Peneliti, Judul Penelitian,
Tahun
Metodologi Variabel Hasil
1 Graciela
Lanjutan Tabel 2.2. menjadi indikator deteksi dini mampu mendeteksi krisis perbankan di beberapa negara yang dijadikan sampel, baik secara individu atau pun secara gabungan
Faktor-faktor penentu yang secara khusus mempengaruhi krisis di kawasan Asia adalah apresiasi nilai tukar yang diikuti dengan depresiasi yang sangat tajam serta peningkatan tajam utang luar negeri. Permasalahan yang cukup berat pada industri perbankan pada umumnya berasal dari faktor-faktor domestik seperti ekspansi kredit yang berlebihan dan
Lanjutan Tabel 2.2. terjadinya krisis perbankan di Indonesia, yaitu : cash
bank ratio, pertumbuhan
simpanan, pertumbuhan
kredit domestik,
pertumbuhan kurs dan
Lanjutan Tabel 2.2.
2) Berdasarkan model peringatan dini yang dibangun oleh Herrera dan Garcia didapat bahwa leading indicators pertumbuhan kredit Indonesia pada rentang waktu penelitian, yaitu tahun 1997-2008
dominan lebih
disebabkan oleh efek penularan keuangan
Latar Belakang :
Adanya krisis perbankan di Indonesia
Risiko Krisis atau Instabilitas
Indikator Krisis Perbankan
Metode pendekatan sinyal dan regresi logistik untuk analisis EWS :
1. Mengumpulkan data sebagai indikator terpilih
2. Penentuan periode krisis dengan menggunakan Indeks Krisis Perbankan 3. Menentukan ambang batas (threshold) dari tiap indikator
4. Mengidentifikasi keluar-tidaknya signal dari tiap indikator
5. Menganalisa apakah IHSG, pertumbuhan M2 multiplier, rasio bunga pinjaman dan tabungan , dan rasio konsumsi pemerintah terhadap PDB memberikan signal terhadap terjadinya krisis perbankan di Indonesia 6. Menentukan leading indicator
7. Melakukan regresi logistik
Metode EWS dapat digunakan untuk mendeteksi krisis perbankan di Indonesia
C. Kerangka Pemikiran
Penelitian ini membahas mengenai krisis perbankan, yang diukur melalui
beberapa variabel IHSG, pertumbuhan M2 multiplier, rasio bunga pinjamanan dan
bunga tabungan , dan rasio konsumsi pemerintah dengan PDB. Alur dari kerangka
pikir dalam penelitian ini dapat dilihat pada gambar berikut :
Gambar 2.2
D. Hipotesis
1. Diduga variabel IHSG, pertumbuhan M2 multiplier, rasio bunga pinjaman
atau bunga tabungan dan rasio konsumsi pemerintah dengan PDB
berpengaruh positif dan signifikan terhadap krisis perbankan di Indonesia.
2. Diduga terdapat satu leading indikator diantara variabel IHSG,
pertumbuhan M2 multiplier, rasio bunga pinjaman atau bunga tabungan
dan rasio konsumsi pemerintah dengan PDB dalam krisis perbankan di
Indonesia.
3. Diduga kemungkinan indikator terpilih memberikan sinyal terhadap krisis
35 A. Objek Penelitian
Objek penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah krisis
perbankan yang ada di Indonesia periode 2001-2015. Penelitian dimulai dari
tahun 2001 setelah Indonesia mengalami imbas krisis global periode pertama pada
tahun 1997 dan krisis global periode kedua yaitu tahun 2008 yang masing-masing
berdampak pada sektor perbankan Indonesia. Kemudian diteruskan hingga
pertengahan tahun 2015 untuk menjawab isu krisis yang terjadi di Indonesia di
tahun 2015.
B. Jenis Data
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder,
dimana data sekunder merupakan data yang diperoleh secara tidak langsung dari
sumbernya. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data bulanan pada
periode 2001-2015 yang bersumber pada website Bank Indonesia.
C. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dokumentasi. Metode ini
digunakan untuk memperoleh data laporan stastistik ekonomi keuangan Indonesia
di BI dari tahun 2001-2015 seperti IHSG, M2 multiplier, rasio bunga pinjaman
D. Definisi Operasional Variabel Penelitian 1. Variabel Penelitian
1) Variabel Dependen
Variabel dependen yang digunakan dalam penelitian ini adalah Indeks
Tekanan Perbankan disingkat ITP. ITP dihitung dengan menggunakan indikator
tingkat hutang luar negeri sektor perbankan, tingkat kredit, dan tingkat simpanan
(Kibritciouglu, 2003) yang sekanjutnya dimodifikasi oleh Hagen dan Ho (2003).
Ketiga indikator tersebut digunakan karena berkaitan dengan risiko kurs, risiko
kredit dan risiko likuiditas. Formula ITP adalah sebagai berikut :
ITP = Indeks Tekanan Perbankan
FLt = Hutang Luar Negeri Sektor Perbankan
CRt = Kredit yang disalurkan Perbankan
DPt = Simpanan di Perbankan
= standard deviasi perubahan masing-masing komponen
2) Variabel Independen
a. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)
Indeks Harga Saham Gabungan atau Composite Index (IHSG) merupakan
suatu nilai yang digunakan untuk mengukur kinerja kerja saham yang tercatat di
bursa efek. Data IHSG yang digunakan diperoleh dari publikasi statistik Bank
Indonesia berupa Statistik Ekonomi dan Keuangan Indonesia (SEKI). IHSG
dihitung dengan menggunakan metodologi rata-rata tertimbang berdasarkan
IHSG = Indeks harga saham gabungan
= Indeks harga saham gabungan saat ini
= Indeks harga saham gabungan kemarin
b. Angka Pengganda M2 (M2 Multiplier)
Variabel angka pengganda merupakan rasio antara M2 dan M0 atau base
money yang diolah sehingga mendapatkan persentasi pertumbuhannya secara
bulanan. Variabel ini dipilih karena dapat mengukur tingkat perubahan M2
terhadap M0. M2 adalah uang ditambah dengan deposit sedangkan M0 adalah
uang dalam artian sempit (uang lembaran dan koin) sehingga dapat mengukur
pergerakan inflasi. Data M2 Multiplier ini diperoleh dari publikasi statistik Bank
Indonesia berupa Statistik Ekonomi dan Keuangan Indonesia (SEKI).
c. Rasio Bunga Pinjaman/Tabungan
Variabel ini diperoleh dari pembagian antara suku bunga pinjaman dibagi
dengan suku bunga tabungan. Variabel ini dipilih karena dapat menunjukkan
tingkat perbedaan antara suku bunga tabungan dengan suku bunga kredit.
Menurunnya rasio ini mencerminkan tingkat bunga yang lebih tinggi untuk
menarik penabung. Hal ini memberikan indikasi bahwa ada distorsi yang
Suku bunga pinjaman yang digunakan adalah suku bunga pinjaman sektor
konsumsi sedangkan suku bunga tabungan yang digunakan adalah suku bunga
tabungan berjangka 12 bulan
d. Rasio Konsumsi Pemerintah terhadap Produk Domestik Bruto
Produk Domestik Bruto merupakan indikator makroekonomi yang
mempengaruhi profitabilitas bank. Tingginya rasio ini menunjukkan peningkatan
peluang krisis karena konsumsi pemerintah membutuhkan pendanaan jika tidak
akan meningkatkan defisit yang akan berimbas pada kepercayaan investor.
E. Uji Hipotesis dan Analisa Data
Penelitian ini menggunakan alat bantu analisis Microsoft Excel dan Eviews
7, sedangkan metode analisis yang digunakan adalah pendekatan sinyal tekanan
perbankan dan regresi logit. Dalam pengujian yang pertama, akan dihitung
variabel apa saja yang memberikan sinyal terhadap tekanan perbankan,
selanjutnya variabel tersebut diolah dengan menggunakan metode logit, untuk
mengetahui kemungkinan pengaruh variabel-variabel tersebut ketika terjadi
pergerakan fluktuasi pada variabel lainnya.
1. Model Non Parametik dengan Pendekatan Sinyal (Sinyal Approach)
Metode analisis yang digunakan pada penelitian ini merupakan Signal
(1998) untuk memantau sekumpulan indikator ekonomi atau keuangan yang akan
memberikan sinyal yang berbeda dan sistematis jika terjadi krisis.
a) Menentukan Periode Tekanan Perbankan
Indeks tekanan perbankan ditentukan dengan menggunakan indikator
tingkat hutang luar negeri sektor perbankan, tingkat kredit, dan tingkat simpanan
(Kibritciouglu, 2003) yang kemudian dimodifikasi dengan formula dari Hagen
dan Ho (2003) menjadi seperti berikut :
ITP = Indeks Tekanan Perbankan
FLt = Hutang Luar Negeri Sektor Perbankan
CRt = Kredit yang disalurkan Perbankan
DPt = Simpanan di Perbankan
= standard deviasi perubahan masing-masing komponen
Guna menentukan ambang batas Indeks Tekanan Perbankan adalah dengan
membuat rata-rata Indeks Krisis Perbankan ditambah 1,5 standar deviasi dari
Indeks Tekanan Perbankan tersebut. Nilai treshold yang digunakan sebesar 1,5
mengacu pada penelitian sebelumnya (Dimas, 2009) dan sesuai dengan penelitian
yang dilakukan oleh Lestano, Jacobs dan Kuper (2003). Nilai data siklikal ITP
yang melebihi treshold-nya dikategorikan sebagai crisis date. Krisis kemudian
didefinisikan sebagai berikut :
Krisis = 1 jika ITP > µ + 1,5
b) Penghitungan Signal
Berpegang pada penelitian Kaminsky et al (1999) penelitian ini
menggunakan metode statistik untuk menghasilkan prediksi yang akan datang,
yaitu dengan metode ekstraksi signal indikator, baik secara individual maupun
secara gabungan atau komposit. Pendekatan dilakukan dengan cara memonitoring
tiap-tiap variabel dan mengidentifikasikan ketika variabel menyimpang dari level
normal di luar treshold. Pada nilai ekstrim ini variabel dikatakan memberi signal
tentang probabilitas terjadinya krisis.
Variabel atau indikator dikatakan memberikan signal jika :
(St = 1) Jika (|Xt| > | ̅|)
Dan tidak terjadi signal jika :
(St = 0) Jika (|Xt| < | ̅|)
Dimana St adalah signal pada periode t untuk satu indikator, Xt adalah nilai
perubahan atau pertumbuhan dari indikator, dan ̅ adalah ambang batas indikator.
c) Menentukan Batas Ambang
Untuk menentukan batas ambang setiap indikator dini, maka batas ambang
akan dilihat dari daerah normal atau abnormal yang memberikan indikasi
tingginya kemungkinan akan terjadi krisis. Nilai ambang batas atas atau bawah
ditentukan dengan rata-rata ditambah atau dikurangi 1,5 kali standar deviasi
perubahan tiap indikator . Data diamati setiap bulannya dan signal dianggap benar
bulan kemudian tidak terjadi krisis (atau disebut dengan B) maka signal dianggap
salah dan disebut dengan kesalahan tipe II. Dengan analogi yang sama, jika data
indikator yang diamati berada pada daerah normal dan memberikan signal tidak
ada krisis, maka dalam 24 bulan kemudian terjadi krisis berarti adalah signal yang
salah (atau disebut dengan C) atau disebut dengan tipe I; atau jika benar maka
tidak terjadi krisis pada 24 bulan kemudian (atau disebut dengan D).
Tabel 3.1
Matrik Probabilitas Krisis dan Signal
Sumber : Kaminsky et al, 1997
Tipe 1 Error adalah peluang terjadinya krisis yang tidak diantisipasi oleh
sinyal. Jika tipe 1 error mencapai 100 persen berarti tidak ada sinyal yang keluar
setiap bulan berturut-turut selama 24 bulan sebelum terjadinya krisis, artinya
terjadi krisis tidak diantisipasi oleh sinyal atau tidak ada sinyal yang keluar
sebagai peringatan terjadinya krisis. Indikator pembentuk sinyal terbaik apabila
Tipe 1 Error mendekati 0
Jika, H0 : Terjadi krisis dan H1 : Tidak terjadi krisis
Jumlah bulan dimana indikator mengeluarkan signal tetapi tidak terjadi krisis
Jumlah bulan dimana indikator tidak mengeluarkan signal dan tidak terjadi krisis
Tipe 1 Error = P[tolak H0 | H1 benar] = C/A + C
Tipe 1 Error = peluang tidak ada sinyal padahal sebenarnya terjadi krisis,
memutuskan tidak terjadi krisis (tolak H0) padahal sebenarnya terjadi krisis (H0
benar).
Tipe 2 Error = P[menerima H0 | H1 salah] = B/B + D
Tipe 2 Error = berpeluang adanya sinyal tetapi tidak terjadi krisis, memutuskan
terjadi krisis (tidak menolak H0) padahal sebenarnya tidak terjadi krisis (H0 salah).
Tipe 2 Error adalah peluang dihasilkannya sinyal yang salah. Peluang yang
mencapai nilai 100 persen berarti sinyal yang dikeluarkan semuanya salah.
Alternatif lain adalah memilih indikator dini yang menghasilkan Tipe 1 Error
terkecil mengingat resiko yang timbul akibat krisis yang tidak terdeteksi akan
lebih berbahaya daripada resiko munculnya sinyal yang tidak diikuti oleh krisis.
Jika indikator memberikan signal dan indikator tersebut memiliki catatan
yang baik, maka indikator ini dapat diharapkan bahwa probabilitas krisis
kondisional signal, PC = A/(A+B).
Kaminsky et al (1998) membuat batas ambang optimal untuk daerah
abnormal yang disebut dengan noise-to-signal ratio (NSR). NSR didefinisikan
sebagai perbandingan probabilitas dari sebuah indikator yang memberikan signal
selama masa tidak krisis terhadap probabilitas dari sebuah indikator yang
memberikan signal selama krisis. NSR yang lebih dari 1 berarti indikator tersebut
Langkah selanjutnya adalah menyusun model dengan menggunakan leading
indicator yang memiliki probabilitas >50% yang akan diolah dalam estimasi
model logit. Sehingga pada akhirnya diperoleh leading indicator yang
berpengaruh kuat mendorong terjadinya tekanan perbankan di Indonesia.
2. Analisis Regresi Logistik/Logit
Model logit merupakan sebuah konsep transformasi logaritma atas sebuah
peluang (probabilitas). Prosedur estimasi untuk model logit dipengaruhi oleh hasil
observasi terhadap P, apakah berupa angka-angka diantara 0 dan 1 atau berupa
angka binary yang hanya menunjukkan angka 0 atau angka 1. Jika nilai P berada
diantara angka 0 dan 1, maka metoda yang dilakukan adalah dengan
mentrasformasikan P dan memperoleh Y = In [P/(1-P)]. Setelah itu, prosedur
berikutnya adalah dengan melakukan regres Y terhadap satu konstanta dan
variabel Xi. Namun demikian apabila nilai P berupa angka binary [0,1], maka
prosedurnya adalah dengan menggunakan metoda maximum likelihood karena
nilai logaritmik P/(1-P) akan menjadi tidak terdefinisikan.
Secara umum model logit dapat dinyatakan sebagai berikut :
∑
= Variabel dependen (=1 bila terjadi krisis dan = 0 bila tidak )
= Probabilitas
44
A. Gambaran Umum
1. Kebijakan Perbankan Pasca Krisis 1998
Krisis keuangan yang terjadi di Asia mulai pertengahan tahun 1997 telah
memicu krisis perbankan di beberapa negara Asia, termasuk Indonesia. Di
Indonesia, krisis diawali dengan dilikuidasinya beberapa bank yang berakibat
pada menurunnya kepercayaan masyarakat yang tercermin dari penarikan secara
besar-besaran dana masyarakat dari bank. Kondisi tersebut menyebabkan uang
kartal yang dipegang masyarakat melonjak tajam dari Rp. 24,9 triliun pada akhir
Oktober 1997 menjadi Rp. 37,5 triliun pada akhir Januari 1998 dan jumlah ini
terus meningkat hingga puncaknya pada bulan Juli 1998 yang mencapai Rp. 45,4
triliun.
Kepanikan masyarakat tersebut menyebabkan tekanan yang berat terhadap
posisi likuiditas perbankan. Beberapa bank yang sebelumnya tergolong sehat dan
merupakan pemasok dana juga terkena imbas. Akibatnya hampir seluruh bank
umum nasional menghadapi kesulitan likuiditas dalam jumlah sehingga
melanggar ketentuan Giro Wajib Minimum dan mengalami saldo negatif atas
rekening gironya di BI.
Oleh karena itu, untuk memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap
pemberian dana talangan kepada bank-bank yang mengalami rush, pembentukan
Badan Penyehatan Perbankan Nasional atau BPPN dan restrukturisasi perbankan.
a. Pembentukan Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN)
BPPN merupakan satu lembaga yang dibentuk berdasarkan Kepres No.27
pada tanggal 27 Februari Tahun 1998 tentang Pembentukan BPPN dengan tujuan
penyehatan perbankan di Indonesia (PSSK Bank Indonesia, 2003 : 162). Pendirian
BPPN hanya bersifat sementara dan berlaku selama lima tahun, dapat
diperpanjang untuk jangka waktu tertentu sepanjang masih diperlukan untuk
menjalankan tugasnya. BPPN memiliki tiga tugas pokok, yaitu : melakukan
penyehatan perbankan; menyelesaikan aset bermasalah; dan mengupayakan
pengembalian uang negara yang telah tersalur pada sektor perbankan.
b. Restrukturisasi Perbankan
Melalui program ini, industri perbankan yang lumpuh karena krisis, dapat
dipulihkan secara bertahap sehingga dapat kembali berfungsi dalam memobilisasi
dana masyarakat dan menyalurkan kredit kepada dunia usaha. Pulihnya sistem
perbankan diperlukan untuk mendukung efektivitasan kebijakan moneter.
Demikian juga sebaliknya, kebijakan moneter diharapkan dapat mempercepat
upaya restrukturisasi perbankan. Pada dasarnya program restrukturisasi perbankan
tersebut ditujukan untuk mengatasi berbagai permasalahan yang dihadapi
perbankan karena krisis dan sekaligus membangun kembali sistem perbankan