PROSES KADERISASI DEWAN PIMPINAN DAERAH (DPD) PARTAI AMANAT NASIONAL KOTA BANDAR LAMPUNG

103  11 

Teks penuh

(1)

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tahun 1998 merupakan momentum proses demokratisasi di Indonesia, Pergolakan massa yang dimotori mahasiswa pada waktu itu membuat semua berubah. Jatuhnya rezim orde baru, telah membuka peluang bagi kehidupan politik bangsa Indonesia dan menumbuhkan hasrat para tokoh politik untuk dapat menggapai kekuasaan lewat partai politik. Mundurnya Soeharto dari kursi kepresidenan menandai dimulainya babak baru kehidupan politik di negeri ini. Harapan akan terciptanya kehidupan politik nasional yang demokratis begitu kuat menancap dibenak publik.

Pada masa reformasi tersebut, pembatasan yang selama puluhan tahun mereduksi aspirasi politik kedalam tiga partai politik, yaitu Partai Golkar, Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI), tak mampu lagi dipertahankan. Euforia politik yang mewarnai masa-masa itu diwujudkan melalui pendirian partai politik yang jumlahnya puluhan bahkan ratusan. Maka, kehidupan politik pun memasuki babak baru yang penuh gairah. Hanya dalam waktu satu tahun, sebanyak 181 partai politik hadir dan menyatakan diri siap mengikuti Pemilihan Umum 1999. Semua berlomba untuk mengisi kevakuman pemimpin nasional (Musa Kazhim dan Alfian Hamzah, 2000: 21).

(2)

memenuhi ambisinya untuk memenangi pertarungan perebutan kekuasaan. Partai Golkar, PDIP, PKB, PPP, PKS, Demokrat dan Partai PAN adalah tujuh partai politik yang berhasil mendominasi peta politik nasional di badan legislatif dan eksekutif. Satu lagi perubahan besar dalam perpolitikan Indonesia adalah adanya sistem pemilu yang diadakan secara langsung karena calon pemimpin dapat dinilai langsung oleh rakyat sehingga menunjukkan adanya konsistensi penyelenggaraan pemerintah dalam mekanisme pemilihan pejabat publik, selain itu juga dapat memberikan pendidikan politik kepada rakyat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dalam kerangka stabilitas nasional. Dengan demikian rakyat memahami tujuan pemilihan secara langsung diselenggarakan.

Partai politik merupakan sarana yang penting sebagai perwujudan kemerdekaan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pikiran dalam mengembangkan kehidupan demokrasi yang menjunjung tinggi kedaulatan rakyat. Dalam sistem demokrasi modern, keberadaan partai politik merupakan sesuatu yang niscaya. Partai politik merupakan institusi kunci bagi demokrasi dan partai politik akan tetap menjadi satu-satunya kerangka institusional bagi proses representasi dan pemerintahan (Dwight Y King, Dalam Eman Hermawan dkk, 2004: 36)

(3)

Terkait dengan eksistensi partai politik, ada tugas yang tak kalah penting yang harus diemban oleh partai politik yaitu melakukan kaderisasi setelah melalui proses rekrutmen politik. Semua tanggung jawab ini sangat penting untuk bisa diemban dengan baik oleh partai politik apabila proses demokratisasi di Indonesia benar-benar bertujuan untuk menciptakan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Setiap partai politik memiliki pola rekrutmen yang berbeda, dimana pola perekrutan anggota partai disesuaikan dengan arah perjuangan partainya masing-masing. Perekrutan ini berkaitan erat dengan proses kaderisasi yang dilakukan oleh setiap partai politik dalam rangka mempertahankan eksistensi partai dalam pentas politik tanah air.

Kaderisasi merupakan upaya yang penting karena partai perlu membina kader mereka untuk menjadi anggota partai yang memiliki jiwa kepemimpinan dan bermental jujur. Untuk itu sangat perlu dan mendesak bagi partai politik, terutama para ketua umumnya, untuk segera memikirkan langkah-langkah strategis yang bisa merubah keadaan ini. Mereka harus segera melakukan perombakan mendasar terhadap sistem rekrutmen politik di dalam partai politik yang mereka pimpin sehingga bisa mendukung proses kaderisasi pemimpin nasional.

(4)

Sistem kaderisasi akan berjalan baik jika semua pihak yang saling terkait saling membantu dan bekerja sama dalam membentuk pola pengkaderan. Dibutuhkan kerja sama antara pihak yang melakukan pengkaderan terhadap anggota baru partai, yaitu pihak yang diajak untuk menjadi kader maupun unsur pendukung lainnya yang dibutuhkan, misalnya seperti materi yang mampu membentuk pola berpikir dan bekerja seorang kader sesuai dengan tujuan partai politik yang bersangkutan. Bila partai politik mampu menghasilkan kader partai yang berkualitas, berarti partai politik mampu menyediakan pemimpin nasional masa depan yang berkualitas pula.

Partai Amanat Nasional (PAN) merupakan sebuah partai politik di Indonesia. Kelahiran Partai PAN dibidani oleh Majelis Amanat Rakyat (MARA). Salah satu organ gerakan reformasi pada era pemerintahan Soeharto, PPSK Muhamadiyah, dan kelompok Tebet. PAN dideklarasikan di Jakarta pada tanggal 23 Agustus 1998 berdasarkan pengesahan Depkeh HAM No. M-20.UM.06.08 tanggal 27 Agustus 2003. Asas Partai PAN adalah "Akhlak Politik Berlandaskan Agama yang Membawa Rahmat bagi Sekalian Alam". Ketua Umum saat ini yaitu Hatta Rajasa dan Ketua Majelis Pertimbangan Partai dijabat oleh Amin Rais (id.wikipedia.org/wiki/Partai_Amanat_Nasional, diakses 23 Februari 2012).

(5)

Pentingnya melakukan pembinaan kader adalah untuk mengantisipasi dan menangani berbagai permasalahan yang terjadi pada para kader PAN, permasalahan tersebut diantaranya yaitu kurangnya pemahaman dan kecakapan organisator para pengurus di tingkat kecamatan dan kelurahan dimana dengan tidak maksimalnya pemahaman dan kecakapan ini akan mempengaruhi kinerja dan aktivitas organisasi yang juga akan berpengaruh pada kinerja PAN secara umum, permasalahan lain yaitu terpilihnya Abdurachman Sarbini sebagai ketua Dewan Perwakilan Wilayah Partai Amanat Nasional (DPW PAN) Lampung dianggap inprosedural karena hanya lewat proses musyawarah . Salah satu kandidat, Fikri Yasin menggugat hasil Musyawarah Wilayah ke Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan yang menyatakan, bahwa Musyawarah Wilayah PAN III Lampung tidak sah, karena meloloskan kader Partai Demokrat Abdurrachman Sarbini sebagai ketua DPW PAN Lampung dinilai menyalahi aturan partai. Menurut Fikri Yasrin, dalam putusan pengadilan disebutkan Abdurrachman Sarbini tak memenuhi syarat mencalonkan diri karena tidak pernah menjadi anggota dan menjabat pengurus PAN hanya memiliki Kartu Tanda Anggota (KTA). Terpilihnya kader Partai Demokrat menjadi ketua DPW PAN Lampung diyakini akan melemahkan perjuangan kader PAN dan akan menimbulkan kecemburuan pada kader sejati Partai PAN Lampung (Sumber: hasil prariset pada DPD PAN Kota Bandar Lampung, 15 maret 2012)

(6)

Berdasarkan uraian tersebut maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dan penulisan mengenai proses kaderisasi partai politik pada Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Amanat Nasional Kota Bandar Lampung.

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah penelitian ini adalah sebagai berikut:

Bagaimanakah Proses Kaderisasi Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Amanat Nasional Kota Bandar Lampung?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan pelaksanaan penelitian ini adalah untuk mengetahui Proses Kaderisasi Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Amanat Nasional Kota Bandar Lampung

D. Kegunaan Penelitian

Penelitian ini diharapkan berguna secara teoritis maupun secara praktis, yaitu sebagai berikut:

1. Kegunaan Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna dalam memperkaya khazanah ilmu sosial dan politik, khususnya yang berkaitan dengan proses rekrutmen kader yang berkualitas bagi partai politik.

(7)
(8)

ABSTRAK

PROSES KADERISASI DEWAN PIMPINAN DAERAH (DPD) PARTAI AMANAT NASIONAL KOTA

BANDAR LAMPUNG

Oleh

MARITA HERVINA

Kaderisasi bagi partai politik merupakan upaya yang penting, karena setiap partai harus mempersiapkan dan membina para kader untuk menjadi anggota partai yang memiliki jiwa kepemimpinan dan kecakapan berorganisasi yang optimal. Kaderisasi dilaksanakan dalam suatu sistem yang saling berhubungan antara satu dengan yang lainnya, meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi kaderisasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis proses Kaderisasi Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Amanat Nasional Kota Bandar Lampung. Tipe yang digunakan dalam penelitian adalah kualitatif, dengan mengambil informan yaitu para pengurus DPD PAN Kota Bandar Lampung dan Wakil Ketua Pimpinan Muhammadiyah (PWM) Provinsi Lampung. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan dokumentasi. Data selanjutnya dianalisis secara kualitatif, dengan tahapan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa proses kaderisasi oleh DPD PAN Kota Bandar Lampung sudah dilaksanakan dengan cukup baik, karena lebih mengutamakan kualitas kader hal tersebut dapat dilihat dari tahapan kaderisasi sebagai berikut:

(9)

yang ingin dicapai, yaitu memberikan dan menanamkan pendidikan berupa pengetahuan nilai dan sikap pada peserta pelatihan sehingga melahirkan kader-kader yang berkualitas. d) menyusun kurikulum pelatihan, yaitu dengan mempersiapkan bahan-bahan atau material yang harus disediakan seperti: media peraga, konsumsi, teknik pelaksanaan dan lainnya agar pada saat pelaksanaan pelatihan nanti dapat berjalan dengan lancar. e) penetapan metode pembelajaran: pertama, Issu kunci yaitu berupa tanya jawab tentang isu-isu dasar politik; kedua, Diskusi Terpadu yaitu pelatih memandu peserta dengan mulai melontarkan pertanyaan mengenai isu-isu politik; ketiga, Diskusi Kelompok yaitu dengan membagi peserta dalam kelompok kecil untuk mendiskusikan topik tertentu dengan waktu yang telah ditentukan; keempat,

Mencairkan Situasi yaitu dengan mengadakan permainan untuk membuat peserta ”bergerak” atau untuk menghangatkan suasana; kelima, Curah Gagasan yaitu mengumpulkan gagasan sebanyak mungkin dari peserta mengenai masalah yang diajukan; keenam, Studi Kasus yaitu media untuk mengambil keputusan dan pemecahan masalah dalam bentuk suatu tulisan untuk diatasi oleh peserta; ketujuh, Bermain Peran yaitu media untuk mengambil keputusan dan pemecahan masalah dengan diperankan secara langsung oleh pelatih. f) waktu pembelajaran, yaitu menentukan penjadwalan dan lamanya proses pelatihan, karena lamanya pelatihan dapat mempengaruhi konsentrasi peserta. g) pelibatan narasumber, yaitu menentukan narasumber dari luar partai untuk menyajikan dan menangani materi yang bersangkutan hal ini bertujuan untuk meningkatkan wawasan peserta mengenai banyak hal, misalnya tentang kepemimpinan, masalah agama, manajemen dan keuangan dan komunikasi politik melalui media massa.

(2) Proses pelaksanaan kaderisasi yang dilakukan secara berjenjang yang terdiri dari kader muda , kader dasar, kader madya dan kader utama. Adapun tahapan dalam pelaksanaan kaderisasi tersebut dilakukan dengan ; a) mengawali proses kaderisasi, yaitu dengan bina suasana atau perkenalan antara fasilitator, peserta dan panitia hal ini bertujuan untuk terciptanya suasana yang mendukung dan memperlancar proses pelatihan b) proses pembelajaran per sesi dan uji pembelajaran yang dikelola oleh fasilitator yang diawali dengan penyampaian materi berupa platform partai hal ini bertujuan selain untuk menambah wawasan peserta tentang partai juga untuk memperkokoh diri peserta agar memiliki sikap loyalitas pada partai, setelah itu dilakukan penyampaian materi-materi lainnya yang menyangkut isu politik dan diadakan sesi uji pembelajaran secara tertulis maupun lisan hal tersebut bertujuan untuk melatih peserta menjadi aktif dan mampu menyelesaikan permasalahan, selanjutnya dilakukan sesi praktik yaitu dengan peragaan hal ini bertujuan untuk melatih keterampilan peserta dan memastikan peserta dapat memahami pelatihan tersebut dengan baik. Selain itu juga kegiatan kaderisasi dilakukan dalam bentuk ceramah hal ini bertujuan untuk memperkuat iman dan nilai keagamaan peserta agar menjadi pribadi yang santun.

(10)

asas, tujuan, dan garis perjuangan partai hal ini dapat dilihat dari semula kader yang belum memahami identitas partai setelah dilaksanakan proses kaderisasi dapat mendeskripsikan dengan baik tentang partai dan kader-kader muda mulai memiliki kemajuan / keterampilan secara organisatoris baik dalam berbicara maupun dalam penyelesaikan persoalan yang sedang terjadi selain itu kader memiliki sikap loyalitas atau kesetiaan kepada partai yang tinggi hal ini dapat dilihat dari kader yang selalu terlibat aktif di kepengurusan dan dalam pelaksanaan program kerja partai serta tetap konsisten pada partai PAN , serta kader memiliki akhlak yang baik hal ini dapat dilihat dari kader-kader yang tidak tersangkut tindak asusila maupun tindak pidana sehingga sesuai dengan asas partai PAN yang berlandaskan agama. Selain untuk melihat capaian yang diperoleh, tahap evaluasi juga dilakukan untuk membandingkan dengan pelaksanaan kaderisasi pada tahun-tahun sebelumnya guna mengetahui apakah kaderisasi yang sudah dilaksanakan sudah sesuai target yang diinginkan atau belum sehingga dapat diperbaiki pada pelaksanaan kaderisasi kedepannya.

(11)

ABSTRACT

REGENERATION PROCESS ON REGIONAL LEADERSHIP COUNCIL OF NATIONAL MANDATE PARTY AT BANDAR LAMPUNG

By

MARITA HERVINA

Cadres for political parties is an important effort, because each party must prepare and develop the cadres to become party members who have leadership and organizational skill are optimal. Regeneration carried out in a system of interconnected between each other, covering planning, planning and evaluation of regeneration.

The purpose of this study was to determine and analyze the regeneration process of the Regional Leadership Council National Mandate Party Bandar Lampung. The type used in the study is qualitative, drawing on the board of informants is Regional Leadership Council National Mandate Party Bandar Lampung and Lampung Province of Muhammadiyah Council. Data was collected through interviews and documentation. The data were then analyzed qualitatively, with the stage of data reduction, data presentation and drawing coclusions.

The result showed that the regeneration process of the Regional Leadership Council National Mandate Party Bandar Lampung is run fairly well, because he prefers the quality of cadres. This can be seen from the following stages of regeneration:

(12)

delivered. c) determine the goals and objectives to be achieved, which provide education in the form of knowledge andand inculcate values attitudes that gave birth to the trainees qualified cadres. d) developing training curriculum, by preparing the materials or materials that must be provided such as: media display, consumption, and other implementation techniques that later when the training run smoothly. e) determining learning methods: first, the key Issues be asked questions about basic issues of political and secondly, the coach guides the Integrated Discussion participants began asking questions about political issues; Third, group discussions to divide participants into small groups to discuss a particular topic with the specified time; fourth, Melt situation is with the game to make participants "move" or to warms the atmosphere; fifth, Brainstorming Ideas that collect as many ideas as possible from the participants regarding the issues raised; sixth, the Case Study media to make decisions and problem solving in the form of a paper to be addressed by the participants; seventh, Role Playing the media for making decisions and solving problems with played directly by the trainer. f) the learning time, which determines the scheduling and duration of the training process, because the length of training can affect the concentration of the participants. g) engaging speaker, which was to determine sources of outside parties to present and handle the material in question it aims to improve the knowledge of participants on many things, such as leadership, religious issues, and financial management and political communication through the mass media.

(2) The implementation process of regeneration is done in stages consisting of young cadres, cadres basic, intermediate cadres and cadres major. The stages in the implementation of succession planning is done by: a) start the process of regeneration, by building an atmosphere or introduction between facilitators, participants and organizers it aims to create a supportive atmosphere and accelerate the process of training b) per session learning process and learning test- run by facilitators that begins with the delivery of content in the form of party platforms in addition it aims to broaden participants of the party as well as to strengthen the self- participants to have an attitude of loyalty to the party, after it was done delivering other materials relating to political issues and learning test session held written or oral that aims to train participants to be active and able to solve problems, then performed the practice session is to show it aims to train the participants skills and ensure participants understand the training well. In addition, regeneration activity in the form of lectures it aims to strengthen inthe faith and religious values order to be individual participants polite.

(13)

an attitude of loyalty or allegiance to the party high this can be seen from the cadres who are always actively involved in the management and in the implementation of the party's work program and remain consistent the National Mandate party, and cadres have good morals it can be seen from the cadres were not involved immoral and criminal acts in accordance with the principle that the National Mandate party based on religion. In addition to see the achievements obtained, the evaluation phase is also carried out to compare the implementation of succession planning in previous years to determine if they are already implemented succession planning was appropriate or not desired target so it can be fixed on the future implementation of the cadre.

(14)

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Tentang Partai Politik

Eksistensi partai politik sebagai suatu kekuatan politik telah lahir sejak awal abad ke 19 di Eropa Barat. Dengan meluasnya gagasan bahwa rakyat merupakan faktor yang perlu diperhitungkan dan diikutsertakan dalam proses politik, maka lahirlah partai politik yang akan menghubungkan rakyat dan pemerintah.

Partai politik merupakan kelompok yang terorganisir yang anggota-anggotanya mempunyai orientasi nilai-nilai dan cita-cita yang sama dan bertujuan untuk memperoleh kekuasaan politik dan merebut kedudukan politik, biasanya dengan cara konstitusional, untuk melaksanakan kebijakan-kebijakan mereka.

1. Pengertian Partai Politik

Menurut Carl J. Priedrich dalam Miriam Budiardjo (2001: 161), partai politik adalah sekelompok manusia yang terorganisir secara stabil dengan tujuan merebut atau mempertahankan penguasaan terhadap pemerintahan bagi pemimpin partainya dan, berdasarkan penguasaan ini memberi kepada anggota partainya manfaat secara ideal maupun materil (A political party is a Group of human beings. Stabily organized white the objective of securing or maintaining for its leaders

the control of a government, with the futher objective of giving to members of the party, through

(15)

Pengertian di atas menekankan partai politik sebagai sebuah organisasi yang stabil dan terdiri dari sekelompok manusia sebagai anggotanya, organisasi ini bertujuan merebut atau mempertahankan kekuasaan dan pemerintahan atas nama partainya dan berdasarkan kekuasaan yang dimiliki ini, partai akan memberikan reward kepada anggota partainya, baik berbentuk materil maupun non materil.

Menurut RH. Soltau dalam Miriam Budiardjo (2001:161), Partai politik adalah warga negara terorganisir dan bertindak sebagai satu kesatuan politik, serta dengan memanfaatkan kekuasannya untuk memilih, bertujuan menguasai pemerintahan dan melaksanakan kebijaksanaan umum (A group of citizens more or les organized, who act as apolitical unit and who, by the use of their voting fower, aim to control the goverment and carry out their general

politicies).

Pengertian di atas menekankan partai politik sebagai kesatuan politik dari sekelompok warga negara, baik dengan jumlah sedikit maupun banyak, kesatuan politik ini bertujuan menguasai pemerintahan dan melaksanakan kebijaksanaan umum sesuai dengan apa yang telah ditetapkan dalam kesatuan politik mereka.

Menurut Sigmund Neumann dalam Eman Hermawan dkk (2004: 35), Partai politik adalah organisasi dari aktivis-aktivis politik yang berusaha untuk menguasai kekuasaan pemerintahan serta merebut, mendukung rakyat atas dasar persaingan dengan satu golongan atau golongan-golongan lain yang berbeda” (A political party is the articulate organization of society’s active

political agents, those who concerned with the control of governmental power and who compete

(16)

Pengertian di atas menekankan partai politik sebagai organisasi yang beranggotakan aktivis-aktivis politik yang bertujuan menguasai kekuasaan pemerintahan dan merebut dukungan rakyat atas dasar persaingan partai politik yang satu dengan partai politik yang lainnya.

Berdasarkan beberapa pengertian di atas maka dapat diketahui ciri-ciri yang umumnya dapat ditemukan pada setiap partai politik yaitu sebagai organisasi yang memiliki anggota para aktivis politik, memiliki tujuan untuk merebut dan mempertahankan kekuasaan, mempengaruhi dan mencari dukungan rakyat sebanyak-banyaknya untuk mempertahankan eksistensi partai di tengah-tengah persaingan partai politik dalam sistem demokrasi, dan merupakan cermin kebebasan berserikat dan berkumpul serta mengeluarkan pendapat.

2. Ciri-Ciri Partai Politik

(17)

La Palombara dan Wainer (Firmanzah, 2008: 67-68) mengemukakan bahwa ada empat karakteristik dasar yang menjadi ciri khas organisasi yang dikategorikan sebagai partai politik. Keempat karakteristik dasar tersebut adalah:

a) Organisasi jangka panjang. Organisasi partai politik harus bersifat jangka panjang, diharapkan dapat terus hadir meskipun pendirinya sudah tidak ada lagi. Partai politik bukan sekedar gabungan dari para pendukung yang setia dengan memimpin yang kharismatik. Partai politik hanya akan berfungsi dengan baik sebagai organisasi ketika ada sistem dan prosedur yang mengatur aktivitas organisasi, dan ada mekanisme suksesi untuk jangka waktu yang lama.

b) Struktur organisasi. Partai politik hanya akan dapat menjalankan fungsi politiknya apabila didukung oleh struktur organisasi, mulai dari tingkat lokal sampai dengan tingkat nasional, dan ada pola interaksi yang teratur diantara keduanya. Partai politik kemudian dilihat sebagai organisasi yang meliputi satu wilayah teritorial serta dikelola secara prosedural dan sistematis. Struktur organisasi partai politik yang sistematis dapat menjamin aliran informasi dari bawah keatas maupun dari atas kebawah, sehingga nantinya akan meningkatkan efisiensi serta efektivitas fungsi kontrol dan koordinasi.

c) Tujuan berkuasa. Partai politik didirikan untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan, baik dilevel lokal maupun nasional.

(18)

diterima oleh mayoritas masyarakat dan sanggup memobilisasi sebanyak mungkin elemen masyarakat. Semakin besar dukungan publik yang didapatkan oleh suatu partai politik, semakin besar juga legitimasi yang diperolehnya.

Menurut Ramlan Subakti (1992: 114-115), yang mengemukakan bahwa ciri-ciri partai politik adalah sebagai berikut:

a) Partai politik berakar dalam masyarakat lokal, dalam arti bahwa partai mempunyai cabang-cabang di setiap daerah

b) Melakukan kegiatan secara terus-menerus, dengan penyusunan program kegiatan yang berkesinambungan

c) Berusaha memperoleh dan memperhatikan kekuasaan dalam pemerintahan d) Ikut serta dalam pemilihan umum

e) Mempunyai landasan ideologis

f) Sebagai Pembina kesadaran nasional dan mengarahkan massa untuk mencapai kemerdekaan (dalam masyarakat yang tengah dijajah)

Berdasarkan gambaran ciri-ciri partai politik yang dikemukakan diatas, organisasi politik baru dapat dikatakan atau diklaim sebagai partai politik apabila merupakan kelompok orang yang terorganisasi dan berakar dalam masyarakat formal dengan memiliki beberapa tujuan dan beraktivitaskan menyeleksi kandidat pejabat publik secara berkesinambungan.

3. Tipologi Partai Politik

(19)

a. Partai Massa ialah memiliki ciri utama yaitu jumlah anggota atau pendukung yang banyak. Meskipun demikian, partai jenis ini memiliki program walaupun program tersebut agak kabur dan terlampau umum. Partai jenis ini cenderung menjadi lemah apabila golongan atau kelompok yang tergabung dalam partai tersebut mempunyai keinginan untuk melaksanakan kepentingan kelompoknya. Selanjutnya jika kepentingan kelompok tersebut tidak terakomodasi, kelompok ini akan mendirikan partai sendiri.

b. Partai Kader ialah suatu partai yang mengandalkan kader-kadernya untuk loyal. Pendukung partai ini tidak sebanyak partai massa karena memang tidak mementingkan jumlah, partai kader lebih mementingkan disiplin anggota dan ketaatan dalam berorganisasi. Doktrin dan ideologi partai harus tetap terjamin kemurniannya. Bagi anggota yang menyeleweng, akan dipecat keanggotaannya.

4. Fungsi Partai Politik

Menurut Miriam Budiardjo (2000: 163-164), dalam negara demokratis partai politik menyelenggarakan beberapa fungsi:

a. Partai sebagai sarana komunikasi politik.

(20)

dan aspirasi ini diolah dan dirumuskan dalam bentuk yang teratur. Proses ini dinamakan ”perumusan kepentingan” (interest articulation).

b. Partai sebagai sarana sosialisasi Politik

Partai politik juga memainkan peranan sebagai sarana sosialisasi politik (instrument of political socialization). Di dalam ilmu politik, sosialisasi politik diartikan sebagai proses melalui seseorang memperoleh Pengetahuan, sikap dan nilai serta orientasi terhadap fenomena politik, yang umumnya berlaku dalam masyarakat dimana dia berada. Biasanya proses sosialisasi berjalan secara berangsur-angsur dari masa kanak-kanak sampai dewasa. Partai politik sebagai agen atau sarana sosialisasi politik dalam melaksanakan proses sosialisasi politiknya memperkenalkan nilai-nilai, pengetahuan maupun sikap-sikap politik yang diajarkan partai politik merupakan materi dari sosialisasi politik, antara lain terdiri dari ideologi partai, platform partai, program-program partai maupun kandidat-kandidat partai yang akan mewakili rakyat.

c. Partai politik sebagai sarana rekrutmen politik

Partai Politik juga berfungsi sebagai untuk mencari dan mengajak orang yang berbakat untuk turut aktif dalam kegiatan politik sebagai anggota partai (political recruitment). dengan demikian partai turut memperluas partisipasi politik. Caranya ialah dengan melalui kontak pribadi persuasi dan lain-lain. Juga diusahakan untuk menarik golongan muda untuk dididik menjadi kader dimasa datang akan mengganti pimpinan lama (selection of leadership).

(21)

Dalam suasana demokratis, persaingan dan perbedaan pendapat dalam masyarakat merupakan hal yang wajar jika terjadi konflik partai politik berusaha untuk mengatasinya. Dalam praktik politik sering dijumpai bahwa fungsi-fungsi diatas tidak didapati seperti yang diharapkan. Misalnya informasi yang diberikan justru memberikan kegelisahan dan perpecahan dalam masyarakat; yang dikejar bukan kepentingan nasional akan tetapi kepentingan partai yang sempit dengan akibat pengkotakan partai; konflik tidak diselesaikan, akan tetapi lebih dipertajam.

5. Sistem Kepartaian

Ilmuwan politik Italia bernama Giovanni Sartori dalam Ramlan Subakti (1992: 127) berpendapat tentang sistem kepartaian. Menurutnya, penggolongan sistem kepartaian bukan masalah jumlah partai, melainkan jarak ideologi di antara partai-partai yang ada.

Kongkretnya, penggolongan sistem kepartaian didasarkan atas jumlah kutub (polar), jarak di antara kutub-kutub itu (polaritas), dan arah perilaku politiknya. Oleh karena itu, sartori mengklasifikasikan sistem kepartaian menjadi tiga, yaitu pluralisme sederhana, pluralisme moderat, dan pluralisme ekstrim. Adapun penggolongan sistem kepartaian menurut sartori sebagai berikut:

Tabel 1

Sistem Kepartaian Menurut Sartori

Sistem kepartaian Kutub Polaritas Arah

(22)

Pluralisme Ekstrim Multipolar Besar Sentrifugal

Sumber: Surbakti (1992: 127)

Yang dimaksud dengan bipolar ialah kegiatan aktual suatu sistem partai yang bertumpu pada dua kutub, meskipun jumlah partai lebih dari dua karena sistem kepartaian ini tidak memiliki perbedaan ideologi yang tajam. Yang dimaksud dengan multipolar ialah sistem partai yang bertumpu pada lebih dari dua kutub yang biasanya terdiri atas lebih dari dua partai dan di antara kutub-kutub itu terdapat perbedaan ideoligi yang tajam. Namun, yang terpenting tidak hanya jumlah kutub, tetapi juga jarak antara kutub-kutub tersebut. Yang dimaksud dengan polaritas yang besar ialah jarak ideologi di antara kutub-kutub yang sangat jauh: yang satu berideologi kiri (komunisme), yang lain berideologi kanan (kapitalisme).

Dengan kata lain, perbedaan ideologi di antara partai-partai sangat tajam. Polarisasi yang besar ini merupakan indikator yan menunjukan ketiadaan konsensus dasar mengenai asas dan tujuan masyarakat-negara yang hendak dituju. Akan tetapi, hal ini tidak harus ditafsirkan sebagai perpecahan yang tak terintegrasikan karena hal itu mungkin merupakan gejala sementara yang masih dapat diatasi. Dalam hal ini, perlu diperhatikan arah perilaku politik setiap partai apakah menuju ke pusat atau keintegrasi nasional (sentripetal) ataukah menjauhi pusat atau hendak mengembangkan sistem tersendiri (sentrifugal).

B. Tinjauan Tentang Kaderisasi

(23)

Menurut Abdussalam (2002: 3), secara terminologis, definisi kaderisasi adalah proses pencetakan kader, sedangkan definisi kader itu sendiri adalah orang yang dipercaya mampu melanjutkan dan melaksanakan tugas-tugas yang ada dalam suatu organisasi. Dengan kata lain, Kaderisasi adalah proses, cara, atau pembuatan dalam usaha mendidik manusia-manusia yang memiliki kompetensi yang mapan untuk menjalankan amanah dalam suatu organisasi.

Kaderisasi berfungsi untuk mempersiapkan orang-orang yang berkualitas, yang nantinya dipersiapkan untuk melanjutkan perjuangan sebuah organisasi. Tanpa kaderisasi, rasanya sangat sulit dibayangkan sebuah organisasi dapat bergerak dan melakukan tugas-tugas keorganisasiannya dengan baik dan dinamis. Hal ini sejalan dengan pola kaderisasi partai politik tentang fungsi kaderisasi yang menyatakan bahwa fungsi dari kaderisasi adalah mempersiapkan calon-calon (embrio) yang siap melanjutkan tongkat estafet perjuangan sebuah organisasi. Kader suatu organisasi adalah orang yang telah dilatih dan dipersiapkan dengan berbagai keterampilan dan disiplin ilmu, sehingga dia memiliki kemampuan yang di atas rata-rata orang umum.

Koirudin mendefinisikan kaderisasi sebagai proses penyiapan Sumber Daya Manusia (SDM) agar kelak mereka menjadi pemimpin yang mampu membangun peran dan fungsi orang secara lebih bagus (2004: 113). Dalam pengkaderan terdapat dua persoalan penting, yaitu :

(24)

2. Kemampuan untuk menyediakan stok kader atau SDM organisasi, terutama pada kaum muda. Kaum muda akan menjadi sasaran yang efektif untuk menjadi sasaran pengkaderan untuk dijadikan terdidik dan berkualitas.

Kaderisasi organisasi dalam hal ini organisasi partai politik merupakan urat nadi organisasi. Peran dari kader partai politik adalah sangat penting, karena kepemimpinan partai politik nantinya akan sangat ditentukan oleh kualitas kader-kader yang dimilikinya, yang mana akan menjadi pemimpin-pemimpin bangsa.

Menurut Amir Pandjaitan (2005: 32), kaderisasi dalam suatu organisasi mempunyai peranan yang sangat penting. Adapun peran kaderisasi dalam suatu organisasi sebagai berikut :

(25)

kondisi-3 Sarana belajar bagi anggota

Tempat dimana anggota mendapat pendidikan yang tidak didapat dibangku pendidikan formal. Pendidikan dalam konsep kaderisasi dibagi menjadi dua, yaitu pengajaran/ pembentukan (yang dalam lingkup kaderisasi lebih mengacu pada karakter) dan pelatihan/pengembangan (yang dalam lingkup kaderisasi lebih mengacu pada skill)

Sumber: Amir Pandjaitan (2005: 32)

Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kaderisasi merupakan hal penting bagi sebuah organisasi, karena merupakan inti dari kelanjutan perjuangan organisasi ke depan. Kaderisasi adalah sebuah keniscayaan mutlak membangun struktur kerja yang mandiri dan berkelanjutan.

2. Kaderisasi Partai Politik

Kaderisasi merupakan salah satu hal yang paling penting dalam sebuah organisasi termasuk partai politik, mengingat kaderisasi adalah bagian yang sangat menentukan umur sebuah partai politik. Sebuah partai politik hanya akan mampu bertahan dari berbagai tantangan dan perubahan zaman jika dapat melakukan regenerasi dengan baik. Dalam rangka melakukan regenerasi yang baik, maka mutlak diperlukan suatu proses kaderisasi yang teratur dan berjenjang.

(26)

jenjang ketiga yang diperuntukkan bagi calon-calon politisi. Kaderisasi merupakan salah satu bentuk pendidikan politik yang dijalankan oleh partai politik, biasanya dilakukan dengan menanamkan sejumlah informasi politik yang dilakukan dengan sengaja kepada orang-orang tertentu, dalam hal ini adalah kader partai. Informasi politik yang diberikan biasa berupa pengetahuan (knowledge) politik, tetapi juga hal-hal yang terkait dengan permasalahan bangsa dan negara. Dalam pola kaderisasi juga dapat dilakukan transfer keterampilan dan keahlian berpolitik.

Proses kaderisasi yang diwujudkan dalam bentuk pendidikan politik yang dilakukan oleh partai politik merupakan suatu pembinaan terhadap seseorang yang bertujuan agar seseorang itu memahami nilai-nilai yang terkandung dalam sistem politik yang ideal yang hendak dibangun. urgensi pendidikan politik menurut Idrus Affandi (2009: 28), adalah Pendidikan dengan indroktrinasi dipandang sudah kurang tepat, karena dalam banyak hal terbukti kurang memberi hasil sebagaimana diinginkan. Sementara itu penyadaran politik lebih berorientasi pada tindakan, yakni mempraktekan apa yang telah diketahui dan dipahami masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal ini menunjukan bahwa proses pendidikan politik yang efektif tidak sekedar menambah pengetahuan, tetapi sampai pada tingkat pengambilan keputusan dalam tindakan.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, maka dapat dinyatakan bahwa dengan pendidikan politik selain akan meningkatkan pemahaman serta pengetahuan sesorang mengenai politik juga akan meningkatkan keterampilan seseorang dalam bertindak secara politik.

(27)

mengembangkan potensi diri yang dimiliki seseorang, yang meliputi aspek kognitif, aspek afektif, dan aspek psikomotor. Hal ini sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Stradling (Yani Suryani, 2009: 23) bahwa substansi pendidikan politik meliputi Pertama, pengetahuan yang terdiri dari pengalaman professional dan pengetahuan praktikal. Kedua, keterampilan yang terdiri dari keterampilan intelaktual, keterampilan tindakan, keterampilan komunikasi. Ketiga, sikap dan nilai-nilai prosedural, kaderisasi yang dilakukan oleh partai politik yang tercermin dalam pendidikan politiknya merupakan suatu usaha sadar yang dilakukan dengan sengaja oleh partai politik dalam rangka melakukan regenerasi dengan baik.

C. Kerangka Pikir

Kaderisasi pada partai politik merupakan salah satu bentuk pendidikan politik yang dijalankan oleh partai politik bagi para kadernya. Kaderisasi yang dijalankan oleh partai politik biasanya dilakukan dengan menanamkan sejumlah informasi politik yang dilakukan dengan sengaja kepada orang-orang tertentu, dalam hal ini kader partai. Informasi politik yang diberikan biasa berupa pengetahuan politik, tetapi juga hal-hal yang terkait dengan permasalahan bangsa dan Negara. Dalam kaderisasi juga dapat dilakukan transfer keterampilan dan keahlian berpolitik.

(28)

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui proses Kaderisasi Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Amanat Nasional Kota Bandar Lampung, sebagaimana dapat dilihat pada bagan kerangka pikir di bawah ini :

Gambar 1

Bagan Kerangka Pikir Penelitian DPD Partai Amanat Nasional

Kota Bandar Lampung

Rekrutmen Kader

Pendidikan Politik Bagi Para Kader

Proses Kaderisasi

Bentuk Materi

(29)
(30)

III. METODE PENELITIAN

A. Tipe Penelitian

Penelitian ini menggunakan tipe penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan dan lain-lain. Secara holistik dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah (Moleong, 2005: 6).

Penelitian kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Penelitian kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada pengamatan manusia dan kawasannya dan dalam peristilahannya.

Penelitian kualitatif digunakan untuk meneliti objek dengan cara menuturkan, menafsirkan data yang ada, ada pelaksanaanya melalui pengumpulan, penyusunan, analisa dan interpretasi data yang diteliti pada masa sekarang. Tipe penelitian ini dianggap sangat relevan untuk dipakai karena menggambarkan keadaan objek yang ada pada masa sekarang secara kualitatif berdasarkan data yang diperoleh dari penelitian.

(31)

Fokus penelitian menyatakan pokok persoalan apa yang menjadi pusat perhatian dalam penelitian. Penelitian kualitatif. Hal ini karena suatu penelitian kualitatif tidak dimulai dari sesuatu yang kosong atau tanpa adanya masalah, baik masalah-masalah yang bersumber dari pengalaman peneliti atau melalui kepustakaan ilmiah (Moleong, 2000: 62). Pada prinsipnya fokus penelitian dimaksudkan untuk dapat membantu penulis agar dapat melakukan penelitiannya sehingga hanya akan ada beberapa hal atau beberapa aspek yang dapat diarahkan penulis sesuai dengan tema yang telah ditentukan sebelumnya. Masalah dalam penelitian ini difokuskan berupa pengetahuan, nilai dan sikap yang didapat dari proses kaderisasi Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Amanat Nasional Kota Bandar Lampung.

C. Informan

Menurut Moleong (2005: 6), penelitian kualitatif pada umumnya mengambil jumlah informan yang lebih kecil dibandingkan dengan bentuk penelitian lainnya. Unit analisis dalam penelitian ini adalah individu atau perorangan. Untuk memperoleh informasi yang diharapkan, peneliti terlebih dahulu menentukan informan yang akan dimintai informasinya. Pada penelitian kualitatif tidak ada informan acak tetapi bertujuan (purposive). Informan dalam penelitian ini adalah :

1. Sekretaris DPD PAN Kota Bandar Lampung (Muswir)

2. Ketua Bagian Perkaderan DPD PAN Kota Bandar Lampung ( Syahdan Bren) 3. Ketua Bagian Pengembangan Organisasi dan Keanggotaan (Hamami)

(32)

6. Wakil Ketua PWM Provinsi Lampung (Mudzakir Noor)

D. Jenis Data

Jenis data penelitian ini meliputi :

1. Data Primer, yaitu data yang diperoleh langsung dari sumber penelitian atau lokasi penelitian.

2. Data Sekunder, yaitu data tambahan yang diperoleh dari berbagai sumber yang terkait dengan penelitian, seperti arsip, dokumen, maupun produk perundang-undangan yang sesuai dengan penelitian.

A. Teknik Pengumpulan Data

Teknik Pengumpulan data dilakukan dengan:

1. Wawancara, adalah teknik yang digunakan untuk memperoleh data melalui percakapan langsung dengan para informan yang berkaitan dengan masalah yang dibahas dalam penelitian.

2. Dokumentasi, adalah teknik untuk mendapatkan data dengan cara mencari informasi dari berbagai sumber atau referensi yang terkait dengan penelitian, seperti arsip, dokumen, maupun produk perundang-undangan yang sesuai dengan penelitian.

B. Teknik Analisa Data

(33)

analisis kualitatif yang berpijak dari data yang di dapat dari hasil wawancara serta hasil dokumentasi, dengan tahapan analisis sebagai berikut:

a. Reduksi Data, yaitu tahap merangkum atau menyederhanakan data sesuai dengan kebutuhan dalam penelitian

b. Penyajian Data, yaitu tahap menyajikan data ke dalam deskripsi atau penjabaran kalimat dan memberikan interpretasi atas data tersebut

(34)

PROSES KADERISASI DEWAN PIMPINAN DAERAH (DPD)

PARTAI AMANAT NASIONAL

KOTA BANDAR LAMPUNG

(Skripsi)

Oleh :

MARITA HERVINA

JURUSAN ILMU PEMERINTAHAN

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS LAMPUNG

(35)

1

VI. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa proses kaderisasi oleh DPD PAN Kota Bandar Lampung sudah dilaksanakan dengan cukup baik, hal ini dapat dilihat dari tahapan kaderisasi sebagai berikut:

(36)

2

dasar politik; kedua, Diskusi Terpadu yaitu pelatih memandu peserta dengan mulai melontarkan pertanyaan mengenai isu-isu politik; ketiga, Diskusi Kelompok yaitu dengan membagi peserta dalam kelompok kecil untuk mendiskusikan topik tertentu dengan waktu yang telah ditentukan; keempat,

Mencairkan Situasi yaitu dengan mengadakan permainan untuk membuat peserta ”bergerak” atau untuk menghangatkan suasana; kelima, Curah Gagasan yaitu mengumpulkan gagasan sebanyak mungkin dari peserta mengenai masalah yang diajukan; keenam, Studi Kasus yaitu media untuk mengambil keputusan dan pemecahan masalah dalam bentuk suatu tulisan untuk diatasi oleh peserta; ketujuh, Bermain Peran yaitu media untuk mengambil keputusan dan pemecahan masalah dengan diperankan secara langsung oleh pelatih. f) waktu pembelajaran, yaitu menentukan penjadwalan dan lamanya proses pelatihan, karena lamanya pelatihan dapat mempengaruhi konsentrasi peserta. g) pelibatan narasumber, yaitu menentukan narasumber dari luar partai untuk menyajikan dan menangani materi yang bersangkutan hal ini bertujuan untuk meningkatkan wawasan peserta mengenai banyak hal, misalnya tentang kepemimpinan, masalah agama, manajemen dan keuangan dan komunikasi politik melalui media massa.

(37)

3

sesi dan uji pembelajaran yang dikelola oleh fasilitator yang diawali dengan penyampaian materi berupa platform partai hal ini bertujuan selain untuk menambah wawasan peserta tentang partai juga untuk memperkokoh diri peserta agar memiliki sikap loyalitas pada partai, setelah itu dilakukan penyampaian materi-materi lainnya yang menyangkut isu politik dan diadakan sesi uji pembelajaran secara tertulis maupun lisan hal tersebut bertujuan untuk melatih peserta menjadi aktif dan mampu menyelesaikan permasalahan, selanjutnya dilakukan sesi praktik yaitu dengan peragaan hal ini bertujuan untuk melatih keterampilan peserta dan memastikan peserta dapat memahami pelatihan tersebut dengan baik. Selain itu juga kegiatan kaderisasi dilakukan dalam bentuk ceramah hal ini bertujuan untuk memperkuat iman dan nilai keagamaan peserta agar menjadi pribadi yang santun dan tidak tercela.

(38)

4

yang tidak tersangkut tindak asusila maupun tindak pidana sehingga sesuai dengan asas partai PAN yang berlandaskan agama. Selain untuk melihat capaian yang diperoleh, tahap evaluasi juga dilakukan untuk membandingkan dengan pelaksanaan kaderisasi pada tahun-tahun sebelumnya guna mengetahui apakah kaderisasi yang sudah dilaksanakan sudah sesuai target yang diinginkan atau belum sehingga dapat diperbaiki pada pelaksanaan kaderisasi kedepannya.

B. Saran

Saran penelitian ini adalah:

1. DPD PAN Kota Bandar Lampung disarankan untuk terus menerapkan proses kaderisasi yang sudah dilaksanakan selama ini yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi kaderisasi, karena dengan proses yang meliputi tiga hal ini akan terlihat tercapai atau tidaknya proses kaderisasi yang dilakukan.

(39)

DAFTAR ISI

I PENDAHULUAN ... 1 A. Latar Belakang ... 1 B. Rumusan Masalah ... 6 C. Tujuan Penelitian ... 7 D. Kegunaan Penelitian ... 7

II TINJAUAN PUSTAKA ... 8 A. Tinjauan Tentang Partai Politik ... 8 1. Pengertian Partai Politik ... 8 2. Ciri-Ciri Partai Politik ... 10 3. Tipologi Partai Politik ... 13 4. Fungsi Partai Politik ... 13 5. Sistem Kepartaian ... 15 B. Tinjauan Tentang Kaderisasi... 17 1. Pengertian Kaderisasi ... 17 2. Kaderisasi Partai Politik ... 20 C. Kerangka Pikir ... 22

(40)

IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN ... 28 A. Sejarah Partai Amanat Nasional... 28 B. Aktivitas dan Program Kerja PAN ... 34 C. Platform Partai PAN ... 35 D. Kaderisasi Pada Partai PAN ... 37 E. Tingkatan Kepengurusan Partai ... 41 F. Susunan Kepengurusan DPD PAN Kota Bandar Lampung ... 43

V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 50 A. Hubungan Pan dan Muhammadiyah ... 50 B. Proses Perencanaan Kaderisasi oleh DPD PAN Kota Bandar

Lampung ... 53 C. Pelaksanaan Proses Kaderisasi oleh DPD PAN Kota Bandar

Lampung ... 75 D. Evaluasi Proses Kaderisasi oleh DPD PAN Kota Bandar ... 90

IV KESIMPULAN DAN SARAN ... 97 A. Kesimpulan ... 97 B. Saran ... 100

(41)

V. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hubungan PAN dan Muhammadiyah

Hubungan antara PAN dan Muhammadiyah bersifat historis dan tidak bersifat organisatoris. Artinya hubungan tersebut tidak dapat dipisahkan dari sejarah berdirinya PAN pasca jatuhnya Pemerintahan Soeharto. Berdasarkan hasil wawancara kepada Mudzakir Noor, selaku Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Provinsi Lampung, maka diketahui bahwa:

”Secara organisatoris, tidak ada hubungan antara PAN dan Muhammadiyah. Namun secara historis, Muhammadiyah selaku organisasi kemasyarakatan membidani lahirnya PAN sebagai partai politik pasca tumbangnya rezim orde baru pada tahun 1998”

Sumber: Hasil Wawancara dengan Mudzakir Noor, selaku Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Provinsi Lampung. Selasa, 01 Mei 2012)

Penjelasan di atas menunjukkan bahwa hubungan PAN dan Muhammadiyah lebih bersifat kesejarahan dan tidak ada garis koordinasi secara struktural dan organisasional. Terkait dengan kepartaian, Pengurus Pusat Muhammadiyah membebaskan setiap warga Muhammadiyah untuk menjadi kader partai politik apapun tidak terkecuali kader PAN sesuai dengan minat dan potensi warganya.

(42)

amar ma’ruf nahi munkar(memerintahkan berbuat baik dan melarang berbuat buruk). Atas dasar ini, maka Amien Rais melakukan ijtihad politik dengan mendirikan Partai Amanat Nasional, yang kedudukannya sulit dipisahkan secara historis dari Muhammadiyah. Oleh karena itu, dalam rangka menjaga ritme gerakan Muhammadiyah, pada sidang Pleno PP Muhammadiyah tanggal 22 Agustus 1998 memutuskan bahwa antara Muhammadiyah dengan partai-partai politik yang ada termasuk dengan PAN tidak ada hubungan kelembagaan/organisatoris, dan memberikan izin pada M. Amien Rais untuk sebagai pribadi memimpin PAN dan melepaskan jabatan sebagai Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, jika yang bersangkutan ditetapkan sebagai Pimpinan PAN. Perkembangan selanjutnya adalah Pimpinan Pusat Muhammadiyah menetapkan Ahmad Syafii Maarif, menjabat ketua sampai dengan terlaksananya Sidang Tanwir yang akan memilih dan menetapkan Ketua Pimpinan Muhammadiyah yang baru. Tantangan bagi kepemimpinan Syafii Maarif dalam tubuh Muhammadiyah dari pengaruh partai politik termasuk PAN.

Secara historis nampak pula bahwa kelahiran PAN, sebagai partai politik senantiasa terkait dengan keberadaan Muhammadiyah. Terlebih lagi antara ketua PAN dan Ketua PP Muhammadiyah adalah dua sahabat yang mempunyai sejarah panjang, yang nampak sulit dipisahkan. Bahkan di beberapa tempat, fasilitas-fasilitas Muhammadiyahsering dipakai dalam kegiatan PAN sehingga menunjukkan betapa sulitnya membuat garis tegas antara PAN dan Muhammadiyah (Sumber: Hasil Wawancara dengan Mudzakir Noor, selaku Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Provinsi Lampung, Selasa, 1 Mei 2012).

Keterangan tersebut senada dengan hasil wawancara dengan Taslim, Ketua Bagian Pengkajian Perkaderan:

”Hubungan antara PAN dan Muhammadiyah bersifat historis yang sangat mengakar, hal

(43)

Muhammadiyah yang juga pendiri Partai Amanat Nasional adalah orang yang sama yaitu Amien Rais. Pada awal pendiriannya amal-amal usaha Muhammadiyah menjadi pilar utama dalam menjunjung infrastruktur partai ini”

Berdasarkan penjelasan tersebut maka diketahui bahwa terdapat agenda-agenda PAN yang selaras dengan agenda Muhammadiyah, seperti PAN secara proaktif menyuarakan kepentingan-kepentingan politik Muhammadiyah seperti di tingkat legislatif, misalnya, PAN semestinya melibatkan Muhammadiyah dalam setiap pembahasan dan penyusunan Rancangan Undang-Undang (RUU) yang ada. Sebagai instrumen fundamental dalam mendesain masa depan bangsa Indonesia. Kepentingan Muhammadiyah terhadap RUU terutama untuk melindungi amal usaha dan dakwah Muhammadiyah. Dalam konteks yang demikian PAN diminta bersungguh-sungguh menyuarakan aspirasi Muhammadiyah.

Selain itu PAN juga membuka akses dan kemudahan bagi aktitivis Muhammadiyah untuk dapat berkompetisi dalam setiap pemilu dan pilkada-pilkada. Sebagai organisasi kader, Muhammadiyah memiliki sejumlah kader yang siap mengabdi untuk kepentingan bangsa dan negara. Namun karena tingginya persaingan di internal partai, kader-kader tersebut tidak bisa didistribusikan secara baik. Tentu sangat bijak bila PAN membuka akses dan memprioritaskan kader-kader terbaik Muhammadiyah tersebut.

(Sumber: Hasil Wawancara dengan Taslim, Ketua Bagian Pengkajian Perkaderan DPD PAN Kota Bandar Lampung, 11 Mei 2012)

B. Proses Perencanaan Kaderisasi oleh DPD PAN Kota Bandar Lampung

(44)

”Kaderisasi Partai Amanat Nasional merupakan sarana perkaderan politik, yakni upaya-upaya Pelatihan atau Pendidikan yang sistematis, terarah dan kontinyu”

(Sumber: Hasil Wawancara dengan Muswir, Sekretaris DPD PAN Kota Bandar Lampung, Rabu, 14 Maret 2012)

Sesuai dengan penjelasan tersebut diketahui bahwa melalui berbagai jenis, tahapan dan proses yang ada di dalam sistem kaderisasi PAN ini, insan-insan PAN ditempa dan diperkuat karakternya, dikembangkan potensi dirinya, diperluas pengetahuan dan wawasannya, dipupuk kemandiriannya, diasah kesadaran, naluri, kepekaan dan keterampilan politiknya dalam berorganisasi.

Sebelum melakukan proses kaderisasi diperlukan proses rekrutmen bagi anggota baru yang sepenuhnya dilaksanakan PAC di setiap tingkatan baik itu di tingkat Kelurahan, Kecamatan, Kota, maupun Kabupaten. Proses rekrutmen di mulai dari pencarian anggota baru. Pencarian anggota baru itu ada yang melalui proses tertutup yaitu pencarian dilakukan langsung oleh partai dengan cara menentukan kelompok sasaran untuk direkrut menjadi anggota, sedangkan pencarian proses terbuka yaitu membuka pendaftaran bagi siapa saja yang ingin masuk menjadi anggota. Untuk pendaftaran bisa dilakukan dimana saja, baik itu di DPP, DPD, DPC, PAC, maupun ranting disetiap daerah. Setelah tahap pencarian, dilaksanakan tahap kedua yang ditempuh oleh DPD PAN adalah melakukan tahap seleksi, yang dilihat dari keaktifan anggota baik itu di dalam partai maupun di luar partai dan kontribusi yang telah diberikan untuk partai, bagi bakal calon anggota yang aktif akan menjadi kader Muda, tahap ini dinamakan sebagai tahap penyaringan yang selanjutnya akan mengalami proses kaderisasi.

(45)

tidak adanya regenerasi yang baik. Dengan memiliki banyak politisi atau kader yang berkualitas, maka PAN akan memiliki kemungkinan untuk bisa hidup dengan kontribusinya yang nyata dan menjadi partai politik yang diperhitungkan, baik karena aspek-aspek material kuantitatifnya atau karena komitmen, konsistensi, kualitas dan tanggung jawab pada rakyat, bangsa, dan negara.

Sesuai dengan pendapat Khoirudin (2004: 113), bahawa kaderisasi sebagai penyiapan Sumber Daya Manusia agar kelak mereka mereka menjadi pemimpin yang mampu membangun peran dan fungsi orang secara lebih bagus dalam pengkaderan terdapat dua persoalan penting, yaitu : (1) Bagaimana usaha-usaha yang dilakukan oleh organisasi untuk peningkatan kemampuan baik keterampilan maupun pengetahuan. Hal ini berkaitan dengan kemampuan para pengurusnya memfasilitasi pengadaan pendidikan dan pelatihan secara intensif di bidang-bidang tertentu terhadap kader-kadernya. Ini semua harus dilakukan pada semua tingkatan kepengurusan partai. (2) Kemampuan untuk menyediakan stok kader atau SDM organisasi, terutama pada kaum muda. Kaum muda akan menjadi sasaran yang efektif untuk menjadi sasaran pengkaderan untuk dijadikan terdidik dan berkualitas.

(46)

Menurut Sigmund Neumann dalam Eman Hermawan dkk (2004: 35), Partai politik adalah organisasi dari aktivis-aktivis politik yang berusaha untuk menguasai kekuasaan pemerintahan serta merebut, mendukung rakyat atas dasar persaingan dengan satu golongan atau golongan-golongan lain yang berbeda.

Hal tersebut sesuai dengan tujuan utama didirikan Partai Amanat Nasional yaitu masuk kedalam sistem politik dengan mengikuti dan meraih suara dalam Pemilihan Umum. Sehingga program kerja yang dilakukan sejak awal berdirinya Partai Amanat Nasional ini adalah bagaimana sesungguhnya dapat memenangkan pemilihan umum dengan memanfaatkan basis massa Muhammadiyah yang telah ada sejak awal mendirikan Partai Amanat Nasional tersebut.

Untuk mempertahankan eksistensi di dunia perpolitikan, Partai Amanat Nasional harus menciptakan kader yang berkualitas yang memiliki pengetahuan, nilai dan sikap dalam berogranisasi, maka DPD PAN Kota Bandar Lampung menentukan tahap perencanaan sebelum melakukan kaderisasi. Perencanaan merupakan tahapan yang sangat penting karena pada tahap inilah ditetapkan dasar atau fondasi dari kegiatan kaderisasi yang akan dilaksanakan, Kaderisasi merupakan proses kegiatan yang memadukan banyak pemikiran, cara pandang, metode, gaya, dan sebagainya, serta melibatkan banyak unsur, seperti peserta panitia, fasilitator, narasumber, dan sebagainya.

Menurut hasil wawancara dengan Syahdan Bren, maka diperoleh keterangan sebagai berikut: ”Dalam menyelenggarakan kaderisasi yang berbentuk pelatihan, DPD PAN Kota Bandar Lampung selaku panitia dan fasilitator dalam hal ini menempatkan diri sebagai mitra kader PAN. Dengan penempatan diri semacam ini, baik panitia maupun peserta kaderisasi sama-sama memiliki tanggung jawab untuk menyukseskan kegiatan yang akan dilaksanakan”

(47)

DPD PAN Kota Bandar Lampung, Kamis, 15 Maret 2012)

Penjelasan di atas menunjukkan bahwa untuk merencanakan desain kaderisasi, DPD PAN Kota Bandar Lampung memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

1. Mengidentifikasi subyek dan tujuan kaderisasi. Maksudnya apabila subyek atau kaderisasi dilakukan di tempat sendiri biasanya akan mudah diidentifikasi, karena dalam aktivitas sehari-hari DPD PAN Kota Bandar Lampung merasakan dan mengetahui dengan detail keadaan, kebutuhan komunitas atau lingkungan. Tetapi sebaliknya, jika kaderisasi yang dimaksud diselenggarakan di tempat lain, biasxanya identifikasi subyek dan tujuan kaderisasi akan relatif lebih sulit bila tanpa melibatkan orang-orang yang secara langsung terlibat dalam persoalan persoalan-persoalan yang ada dikomunitas itu.

2. Mengidentifikasi prasyarat minimal suatu rancangan kaderisasi/kaderisasi dan memadukan perencanaan tersebut mulai dari segi administrasi, logistik, rencana Pelatihan/kaderisasi kader, hingga pada tahapan evaluasi yang akan dilakukan.

3. Mengidentifikasi aspek-aspek tertentu dalam kepemimpinan, terutama yang berkaitan dengan bagaimana bekerja secara bersama-sama dengan sejumlah atau sekelompok orang, mendorong dan mengarahkan kader ke arah pencapaian tujuan kaderisasi yang dilaksanakan DPD PAN Kota Bandar Lampung.

Terkait dengan tujuan kaderisasi, data dokumentasi pada DPD PAN Kota Bandar Lampung menyebutkan bahwa bahwa tujuan dari penyelenggaraan proses kaderisasi PAN meliputi:

(48)

partai agar menjadi kader-kader dan politisi partai yang: bertaqwa dan amanah, beradab, santun, cerdik-cendikia, berkarakter, memiliki wawasan yang luas, kesadaran dan kepekaan yang mendalam, komitmen ideologi, kepekaan dan naluri politik yang kuat, loyalitas yang tinggi, serta keberanian, kegigihan, keterampilan, kecakapan dan kemampuan yang handal, dalam menyikapi dan memecahkan persoalan-persoalan politik, kemasyarakatan, kerakyatan, kebangsaan, kenegaraan dan tata pergaulan dunia beserta segenap aspeknya, dalam melakukan proses-proses politik, serta dalam menjalankan roda PAN dalam segala upaya partai mencapai cita-cita dan tujuan perjuangannya.

2. Tujuan khusus dari penyelenggaraan proses kaderisasi PAN adalah untuk:

a. Membentuk kader dan politisi partai yang memiliki pengetahuan atau wawasan politik, sosial, budaya, ekonomi dan ideologi yang memadai sehingga mereka memiliki kesadaran yang utuh dan pemahaman yang kritis mengenai persoalan-persoalan politik, kemasyarakatan, kebangsaan, pemerintahan, kenegaraan, tata pergaulan dunia dan segenap aspeknya.

b. Membentuk kader dan politisi partai yang memiliki komitmen yang tinggi serta keberpihakan yang rasional pada nilai-nilai universal keagamaan, kemanusiaan dan kebangsaan sehingga mengikat mereka dalam membangun solidaritas sosial, mengembangkan demokrasi, HAM dan supremasi hukum bagi proses pengembangan kualitas manusia dan perdamaian dunia.

(49)

d. Memberikan dasar-dasar kecakapan partisipatoris bagi kader-kader PAN untuk secara cerdas dan proaktif mempengaruhi dan terlibat aktif dalam proses penentuan kebijakan publik serta dalam mengawasi dan mengadvokasi pelaksanaannya di lapangan bagi kedaulatan rakyat.

e. Memberikan dasar-dasar filsafat dan teori-teori sosial dan politik bagi kader-kader PAN, sehingga mereka mampu menjadi relawan sosial, politisi, negarawan dan ideolog yang visioner, cakap, kritis, berkarakter, berani, gigih, bertanggung jawab dan ditopang akhlak mulia.

Berdasarkan uraian di atas maka jelaslah bahwa proses kaderisasi yang pada DPD PAN Kota Bandar Lampung bertujuan untuk menumbuhkan pengetahuan para kader terhadap partai politik dan wawasan mengenai kepartaian lainnya. Selain itu proses kaderisasi bertujuan menanamkan keterampilan atau kecakapan (skill) kader dalam berorganisasi atau melaksanakan tugasnya masing-masing, baik sebagai kader partai maupun sebagai pengurus partai. Sikap kader yang terbentuk melalui proses kaderisasi adalah memiliki kesetiaan atau loyalitas kepada partai.

Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan Taslim, yang menyatakan bahwa:

”Kaderisasi DPD PAN Kota Bandar Lampung sangatlah penting untuk memfasilitasi agar para kader PAN dapat dengan maksimal mengetahui tentang PAN seperti: ideologi partai, tujuan didirikan partai, arah perjuangan partai, dan para kader memiliki kemampuan dan kecakapan yang matang dalam berorganisasi, khususnya bagi pengurus partai di tingkat kecamatan dan kelurahan”

(Sumber: Hasil Wawancara dengan Taslim, Ketua Bagian Kajian Perkaderan DPD PAN Kota Bandar Lampung, Kamis 15 Maret 2012)

(50)

b.1 Persiapan Kaderisasi

Persiapan kaderisasi merupakan hal yang sangat penting. Misalnya menyangkut tujuan pelatihan, rencana berbagai macam tipe penyajian materi di tiap sesi, baik yang bersifat wawasan, pengetahuan, kecakapan, model pembentukan kelompok kecil, atau besar, proses dan prosedur khusus yang akan diterapkan dalam pelatihan. Karena itu, agar sukses atau mencapai target, penyelenggaraan pelatihan harus:

1) Mendukung tujuan, orientasi dan sasaran dari organisasi/partai. Diantara penilaian kebutuhan yang efektif hendaknya memastikan bahwa pelatihan itu direncanakan untuk mencapai tujuan partai.

2) Memberi pengaruh yang menguntungkan pada produktivitas dan kualitas kinerja kepengurusan partai/organisasi. Suatu analisis tugas dapat menilai aspek manusia, teknis, dan proses dari kinerja tugas.

3) Dapat diukur. Sasaran-sasaran tertulis hendaknya menyatakan kinerja khusus yang akan dicapai serta kondisi dimana pelatihan itu akan dilaksanakan, disampaikan secara kompeten agar mencapai tujuan.

4) Suatu pelatihanperlu dievaluasi untuk memastikan bahwa pelatihan itu memang mencapai apa yang dimaksudkan.

b.2 Menganalisis Kebutuhan

(51)

sosial dan politik yang ada, sehingga pelatihan seringkali dianggap sebagai bentuk atau upaya pemecahan masalah (problem solving).

Oleh karena itu, maka sebelum pelatihan dilaksanakan, DPD PAN Kota Bandar Lampung melakukan penjajagan atau analisis kebutuhan (need assessment). Ini penting, karena jika suatu pelatihan dilaksanakan tidak atas dasar kebutuhan yang sesungguhnya dihadapi itu hanya karena ada instruksi dari pusat, maka proses pelaksanaan dan hasil-hasilnya pun akan berbeda dengan pelatihan yang dilaksanakan sesuai dengan permasalahan dan kebutuhan yang dihadapi partai itu. Apalagi jika DPD PAN Kota Bandar Lampung harus mengembangkan suatu sessi pengajaran menurut kebutuhan tertentu yang dikaitkan dengan tugas khusus, maka analisis kebutuhan sangat penting. Misalnya, DPD PAN Kota Bandar Lampung akan mengadakan pelatihan advokasi. Untuk mencari tahu apa kebutuhan khusus dari calon peserta pelatihan, maka DPD PAN Kota Bandar Lampung perlu melakukan analisis kebutuhan. DPD PAN Kota Bandar Lampung dapat melakukan ini sendiri secara langsung atau melibatkan orang lain untuk melakukan tugas-tugas tertentu.

(52)

Terkait dengan hal tersebut, maka hal-hal yang menjadi pertimbangan DPD PAN Kota Bandar Lampung dalam melakukan analisis kebutuhan adalah sebagai berikut:

1) Permasalahan atau kebutuhan penting dan mendesak yang dihadapi oleh partai atau atas dasar tuntutan situasi serta realitas sosial dan politik yang ada sehingga mengharuskan diadakannya pelatihan sebagai jawabannya.

2) Identifikasi target pelatihan. Siapa calon peserta, apa pengalaman, kebutuhan, pendidikan/pelatihan sebelumnya, harapan , umur mereka dan seterusnya.

3) Kaji ulang aspek-aspek yang relevan dari tugas khusus mereka. Identifikasi kecendrungan kecakapan dan pengetahuan yang diperlukan sekarang (atau di masa depan) untuk melakukan tugas secara benar dan wajar. Perlu diketahui setiap perubahan yang mungkin terjadi dalam situasi pekerjaan itu, misalnya mungkinkah diperlukan teknik/pendekatan baru kedalam bidang kera/tugas tertentu, sehingga DPD PAN Kota Bandar Lampung bisa memutuskan secara tepat tentang apa yang diperlukan untuk menjalankan kerja/tugas dengan cara yang baru ini.

4) Mencari tahu apa yang diperlukan oleh personil yang terlibat. DPD PAN Kota Bandar Lampung dapat mengetahui ini dengan melakukan survei atau mewawancara pada kelompok target yang sebenarnya atau orang yang relevan dalam suatu organisasi yang berkompeten. 5) DPD PAN Kota Bandar Lampung memastikan bahwa telah dipersiapkan atau memiliki

segala sesuatu berkaitan dengan apa yang perlu dipelajari, perbaikan kinerja apa yang diperlukan, atau masalah atau keprihatinan apa yang mereka hadapi yang bisa ditangani secara tepat melalui pelatihan dan seterusnya.

(53)

Proses perumusan tujuan berperan sangat penting, sebab dengan rumusan tujuan yang jelas akan dapat diukur/diproyeksikan keberhasilan suatu pelatihan. Karena itu, sebelum memulai pelatihan, perlu dipastikan lebih dahulu apakah tujuan dan siapa peserta pelatihan, apa bentuk forum per sessi (diskusi, seminar, talkshow), workshop, dsb), apa alasan dari penyelenggaraan pelatihan dan seterusnya. Tema utama yang akan dikomunikasikan dengan peserta atau tujuan substantif yang ingin dicapai dari proses pelatihan, misalnya: dalam rangka mengubah sikap dan tingkah laku dalam rangka mempengaruhi dan meyakinkan sesuatu dalam rangka mensosialisasikan informasi tertentu dalam rangka mendorong munculnya perubahan sikap dan tingkah laku dalam rangka memberikan motivasi untuk melakukan sesuatu dan sebagainya. Rumusan tujuan untuk suatu pelatihan yang akan diselenggarakan hendaknya didasarkan pada kebutuhan ataupun masalah-masalah yang dihadapi.

Menurut hasil wawancara dengan Muswir, Sekretaris DPD PAN Kota Bandar Lampung, diketahui bahwa biasanya dalam penyelenggaraan pelatihan ada dua macam tujuan, yaitu:

”Pertama, Tujuan yang bersifat umum, biasanya menggunakan kata kunci seperti: memahami, menghargai, mengetahui, mengakui, dsb. Tujuan yang sudah dirumuskan seperti itu beserta orientasi pada proses belajarnya menjadi bagian paling penting yang harus diperhatikan. Jika tujuan pelatihan memang seperti itu, maka perlu diidentifikasi hal-hal konkret yang bisa digunakan sebagai ukuran. Sebab panitia ataupun fasilitator bisa kesulitan untuk memastikan apakah peserta memahami, atau menghargai sesuatu. Maka, diantara tugas fasilitator adalah membuat ukuran konkret yang akan dicapai dalam tujuan. Kedua, Tujuan yang bersifat khusus, biasanya dihubungkan dengan ketrampilan nyata, seperti apa yang diharapkan oleh seorang peserta. Tujuan khusus ini biasanya menggunakan kata kunci seperti: mampu membuat, menulis, merencanakan, menyusun, memproduksi, mengidentifikasi, membandingkan, mengumpulkan, menggambar, mengukur, dsb. Karena itu, maka rumusan tujuan khusus harus mudah diukur dan tidak sulit mengevaluasinya.

(54)

Selain itu harus ditentukan juga sasaran pelatihan. Sasaran adalah pernyataan yang dengan jelas menyatakan kinerja target, termasuk menguraikan dengan pasti apa yang dapat dilakukan oleh peserta di akhir pelatihan. Sasaran mencakup standar-standar untuk mengukur kinerja peserta dibandingkan dengan tingkat kinerja minimum yang lazim. Rumusan tentang sasaran ditulis dalam kualitas, kuantitas waktu yang khusus, dimana, kapan, dan dengan apa (peralatan) mereka akan melakukan apa saja yang harus dilakukan, metode yang akan digunakan, urutan/prosedur yang dilalui untuk menyajikan materi tertentu, kondisi, kendala/pembatasan yang dihadapi peserta dst.

Kemudian berdasarkan hasil wawancara dengan muin, diketahui bahwa:

”Para kader yang pada awalnya kurang atau hanya sedikit memiliki dasar-dasar pengetahuan dan pemahaman yang sama mengenai politik, demokrasi dan isu politik yang terus berkembang. Oleh karena itu, jika tujuan kaderisasi adalah untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman secara lebih luas mengenai hal-hal tersebut maka hal tersebut tentunya sangat bagus, agar para kader mendapatkan semacam pencerahan dalam pengetahuan politik mereka”

.

(Sumber: Hasil Wawancara dengan Muin, Ketua Bagian Program Pelatihan dan Pengembangkan Materi Perkaderan DPD PAN Kota Bandar Lampung, Jumat 16 Maret 2012)

b.4 Menyusun Kurikulum Pelatihan

Figur

Tabel 2.
Tabel 2 . View in document p.24
Gambar 1 Bagan Kerangka Pikir Penelitian
Gambar 1 Bagan Kerangka Pikir Penelitian . View in document p.28

Referensi

Memperbarui...