KAJIAN PENAMBAHAN CHITOSAN, GLISEROL DAN CARBOXY METHYL CELLULOSE TERHADAP KARAKTERISTIK BIODEGRADABLE FILM DARI BAHAN KOMPOSIT SELULOSA NANAS

45  20  Download (3)

Teks penuh

(1)

ABSTRAK

KAJIAN PENAMBAHAN GLISEROL, CHITOSAN DAN

CARBOXY METHYL CELLULOSE TERHADAP

KARAKTERISTIK

BIODEGRADABLE

FILM

DARI BAHAN

KOMPOSIT SELULOSA NENAS

Oleh

SATRIYO

Limbah padat buah nenas merupakan bahan baku yang sangat potensial untuk pembuatan biodegradable film. Limbah padat tersebut mengandung antara lain selulosa dan lignin. Penggunaan biodegradable film untuk mengurangi dampak negatif dari plastik yang limbahnya sulit terurai. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan konsentrasi chitosan, gliserol dan carboxy methyl cellulose yang efektif untuk menghasilkan karakteristik biodegradable film dari bahan komposit selulosa nenas terbaik.

(2)

(M2). Kesamaan ragam data diuji dengan Uji Bartlett dan kemenambahan data diuji dengan Uji Tukey. Data hasil pengamatan karakteristik biodegradable film dari bahan komposit selulosa nenas dianalisis dengan ANOVA untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan antar perlakuan. Analisis data dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata Jujur (BNJ) 1% dan 5%.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi chitosan, gliserol dan CMC berpengaruh nyata terhadap kekuatan tarik, kelarutan dan biodegradabilitas. Hasil terbaik diperoleh pada konsentrasi chitosan 1,5%, gliserol 0,5% dan CMC 1% yang menghasilkan kuat tarik 199, 629 MPa, kelarutan 47,22% dan

biodegradabilitas selama 14 hari.

(3)

ABSTRACT

THE STUDY OF GLYCEROL, CHITOSAN AND CARBOXY METHYL CELLULOSE ADDITION TOWARDS BIODEGRADABLE FILM CHARACTERISTIC FROM PINEAPPLE CELLULOSE COMPOSITE

SUBSTANCE

By

SATRIYO

The solid waste of pineaple is a potential raw material biodegradable film for making. The solid waste is a kind of cellulose and lignin. The use of

biodegradable film is to reduce the negative impact of plastic because of its undegradable. This research was aimed to finding the most effective chitosan, glycerol and carboxy methyl cellulose concentration in order to produce the best of biodegradable film pineapple characteristic.

(4)

The result of research showed that chitosan concentration, glycerol and CMC influenced tensile strength, solubility and biodegradability. The best result was gotten in chitosan concentration 1,5%, glycerol 0,5% and CMC 1% which produced tensile strength 199, 629 MPa, solubility 47,22% and biodegradability during 14 days.

(5)

KAJIAN PENAMBAHAN CHITOSAN, GLISEROL DAN

CARBOXY METHYL CELLULOSE TERHADAP

KARAKTERISTIK

BIODEGRADABLE

FILM

DARI BAHAN

KOMPOSIT SELULOSA NENAS

( Skripsi )

Oleh

SATRIYO

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS LAMPUNG

(6)
(7)

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2007. Teknologi Pengolahan Pangan dan Agroindustri. Diakses pada tanggal 15 Desember 2011 http://id.wikipedia.org/ wiki/pemanfaatan gliserol.

Anonim. 2007. Komposisi Kimia Serat Alam. Diakses pada tanggal 16 desember 2011 http://www. buletin litbang.go.id.

Anonymous. 2006. Glycerin. Diakses pada tanggal 5 Mei 2011 http://www.pioneerthinking.com/glycerin.html.

ASTM. 1983. Annual Book of ASTM Standards. American Society for Testing and Material Philadelpia. New york. 578 pp.

Austin. 1985. Shereve’s Chemical Process Industries. Mc Graw – Hill Book. Tokyo.

Bhat, S.G. 1990. Oleic Acid Value Added Product From Palm Oil. The Conference Chemistry Technology. Porim. Kuala Lumpur.

Billmeyer, Jr., F.W. 1987. Textbook of Polimer Science. Willey interscience publication. John Willey and Sons. New york. 578 pp.

Colwell,. R., Pariser, E.R., dan Sinskey, A.J. 1984. Biotechnology of Marine Polisaccharides. Third Edition. Massachusetts Institute of Technology. Wangshinton.

Deviwings, 2008. CMC. Diakses pada pada 11 Juli 2011

http:www//quencawing.ac.id.

Gennadios, A. C.L. Weller, M.H. Hanna and G.W. Froning. 1996. Mechanical and Barrier Properties of Egg Albumen Film. J. Food Sci. 6(3): 585-589. Gontard, N., and S. Guilbert. 1992. Tecnology and Properties of Edible

Biodegradable Material of Agricultural Origin. Food Packaging Preservation. The Avi Publ. Inc. Westport. Connecticut.

(8)

Goudung, D.U. 2004. Catalytic Epoksidation Of Methyl Lindeate. J. Am. Oil. Chem. Socs. Vol.81(4).

Griffin, G.J.L. 1994. Test Methods and Standards For Biodegradable

Plastic In Chemistry and Technology of Biodegradable Polymer. Blackie Academic and Proffesional. Chapmanand Hall.

Hui, Y. H. 2006. Handbook of Food Science. Technology and Engineering Volume 1. CRC Press. USA.

Iguchi, M., A. Isanasari, R. Anggraini, N.M. Surdia dan C.L. Radiman. 2000. The Use Off Fruit Meat and Root Vegetable a New Cellulose Resources. Proc. The second international workshop on green polymers. Date 15-20 0ctober 2000. Pp 150-153.

Indarti, L dan R. Elsy. 2008. Bioselulosa Sebagai Biodegradable Film. Prosiding Teknologi Proses. Yogyakarta. Pp. 150-153.

Krochta, J. M., E. A. Baldwin and M. O. Nisperos-Cariedo. 1994. Edible Coatings and Films To Improve Food Quality. J.Technomic Publ., Lancaster-Basel.

Krochta and M. Johnston. 1997. Edible and Biodegradable Polymers Film. Changes & Opportunities. J. Food Technology. Pp: 51. Kumar. 2000. Review of Chitin and Chitosan Application. Reaktive and

Functional Polimers. J. Ergamen Press. Oxford. Volume 46: P.1-27. Latief. 2001. Teknologi Kemasan Plastik Biodegradable. Makalah Falsafah Sains. (Skripsi). Program Pasca Sarjana/ S3 Institut Pertanian Bogor. (Pp.702)

Liu, L.J.F. Kennedy and P.K. Joseph. 2005. Selection of Optimum Extrsion Technology Parameters In The Manufacture of Edible / Biodegradable Packaging Films Derived From Food – Based Polymers. J. Food Agriculture and Environment. Vol 3.

Manuhara, G.J., 2003. Ekstraksi Karaginan Dari Rumput Laut Eucheuma sp. Untuk Pembuatan Edible film. (Skripsi). Fakultas Teknologi Pertanian UGM. Yogyakarta.

Manskaya, S.M. and Drodzora, T.V. 1968. Chitin and Nature and Technology. Plennum Press. Oxford.

Matthysse AG, Deora R, Mishra M, & Torres AG. Polysacharides Cellulose. Environ. Microbiol. 74 (8): 2384-2390.

(9)

lumpur. Pp (12) 529 – 536.

Muzzarelli, R.A.,Ch. Jeuniawe, Goodway, G.W. 1988. Chitin and Nature and Technology. Plennum Press. New York.

Muzzarelli, R.A. 1997. Chitin. Pergamon Press. Oxford.

Murdianto. 2005. Sifat Fisik dan Mekanik Edible film Ekstrak Daun Janggelan. J. Agrosains. 18 (3) Juli 2005.

Nadarajah. 2005. Devolopment and Characterization of Antimicrobial Edible Film From Craw Fish Chitosan. Disertation louisiana. Louisiana State University and Agricultural Mechanical College. USA.

Nourieddini, H. dan Mendikonduru, V.1997. Glycerolysis Of Fats and Methyl Ester. J. Agrosains. Volume 7(4).

Nurjannah. 2004. Isolasi dan Karakterisasi Alginat Dari Rumput Laut

Sargassum sp. Untuk Pembuatan Biodegradable Film Komposit Alginat Tapioka. (Skripsi). Fakultas Teknologi Pertanian UGM. Yogyakarta. Raberg. 2008. Ralstonia eutropha H16 Flagellation Changes According to

Nutrient Supply and State of Poly(3-Hydroxybutyrate) Accumulation. J. Appl. Environ Microbiol. 74 (14): 4477-4490.

Rais. 2007. Pengaruh Konsetrasi PEG 400 Terhadap Karakteristik Bioplastik Polihidroksialkanoat (PHA) Yang Dihasilkan Oleh Ralstonia Eutropha Menggunakan Substrat Hidrolisat Pati Sagu. (Skripsi). Fakultas Teknologi Pertanian IPB.

Rhoades, J., dan Rastall, B. 1994. Chitosan as an Antimicrobial Agent. Ingridients & Additives. J. Food Technology International. Pp 32-33. Rodrigues, M., J. Ose's., K. Ziani and J.I Mate. 2006. Combined effect of

Plasticizer and Surfactants On The Physical Properties of Starch Based Edible Film. J. Food Research International. Pp 39 : 840-846.

Rukmana dan Rahmat. 1996. Potensi dan Prospek Nenas. Kanisius. Yogyakarta. Salibury, F. B. Dan C.W. Ross. 1985. Plant Physiology. Wadswoth Publishing

Company. California. 539 pp.

Tamaela. P., Lewerissa.S. 2007. Characteristic of Edible Film From Carragenan. (Skripsi). Univesitas Pattimura.

(10)
(11)

x

4. Pembentukan kationik dari chitosan ... 14

5. Struktur Carboxy Methyl Cellulose ... 15

6. Diagram alir pemurnian awal selulosa buah nenas ... 20

7. Diagram alir pembuatan selulosa murni ampas nenas ... 21

8. Diagram alir pelaksanaan penelitian ... 22

9. Biodegradable dari komposit selulosa nenas ... 25

10.Pengaruh konsentrasi chitosan dan gliserol terhadap kuat tarik biodegradable film dari komposit selulosa nenas ... 27

11.Pengaruh konsentrasi gliserol dan CMC terhadap kuat tarik biodegradable film dari komposit selulosa nenas ... 28

12.Pengaruh konsentrasi chitosan dan CMC terhadap kuat tarik biodegradable film dari komposit selulosa nenas ... 28

13.Pengaruh konsentrasi chitosan dan gliserol terhadap kelarutan biodegradable film dari komposit selulosa nenas ... 30

14.Pengaruh konsentrasi gliserol dan CMC terhadap kelarutan biodegradable film dari komposit selulosa nenas ... 31

15.Pengaruh konsentrasi chitosan dan CMC terhadap kelarutan biodegradable film dari komposit selulosa nenas ... 32

(12)

xi

17.Penguburan biodegradable film pada minggu pertama ... 34

18.Penguburan biodegradable film pada minggu kedua ... 35

19.Nenas (Anenas comosus)... 54

20.Daging buah nenas (Anenas comosus) ... 54

21.Penimbangan nenas (Anenas comosus) ... 54

22.Pengecilan ukuran ... 55

23.Penyaringan nenas (Anenas comosus) ... 55

24.Pemisahan padatan ... 55

25.Hasil pemisahan padatan nenas ... 56

26.Pemurnian selulosa dengan pemanasan ... 56

27.Penyaringan sampel ... 56

28.Sampel yang sudah murni ... 57

29.Pembuatan biodegradable film ... 57

30.Casting diatas kaca 20 x 20 cm ... 57

(13)

vii

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL ... ix

DAFTAR GAMBAR ... xi

I. PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang dan Masalah ... 1

1.2 Tujuan Penelitian ... 3

1.3 Kerangka Pemikiran ... 3

1.4 Hipotesis ... 4

II. TINJAUAN PUSTAKA ... 6

2.1 Biodegradable Film ... 6

2.2 Selulosa Buah Nanas ... 8

2.3 Gliserol ... 10

2.4 Chitosan ... 11

2.4.1 Sumber Chitosan ... 12

2.4.2 Karakteristik Chitosan ... 13

2.5 Carboxy Methyl Cellulose (CMC) ... 14

2.6 Plastik Sintetis ... 15

III. METODE PENELITIAN ... 18

(14)

viii

3.2 Bahan dan Alat ... 18

3.3 Metode Penelitian ... 19

3.4 Pelaksanaan Penelitian ... 19

3.4.1 Prosedur Untuk Memperoleh Selulosa Murni Ampas Nenas .... 19

3.4.2 Prosedur Pembuatan Biodegradable Film ... 22

3.5 Pengamatan ... 22

3.5.1 Uji Kuat Tarik (ASTM, 1983) ... 23

3.5.2 Uji Kelarutan (Gontard et al, 1992) ... 23

3.5.3 Uji Biodegradabilitas (Gontard et al, 1992) ... 24

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 25

4.1 Biodegradable Film ... 25

4.2 Kuat Tarik ... 26

4.3 Kelarutan ... 30

4.4 Biodegradabilitas... 34

IV. SIMPULAN DAN SARAN ... 40

5.1 Kesimpulan ... 40

5.2 Saran ... 40

DAFTAR PUSTAKA ... 41

(15)

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Biodegradable Film

Merurut Arpah (1997) dalam Liu et al. (2005) biodegradable film dibagi menjadi tiga jenis bentuk, yaitu: biodegradable film, biodegradable coating dan

enkapsulasi. Hal yang membedakan biodegradable coating dengan biodegradable film adalah cara pengaplikasiannya. Biodegradable coating langsung dibentuk pada produk, sedangkan pada biodegradable film pembentukannya tidak secara langsung pada produk yang akan dilapisi atau dikemas. Enkapsulasi adalah biodegradable packaging yang berfungsi sebagai pembawa zat flavor berbentuk serbuk. Biodegradable film didefinisikan sebagai lapisan yang dapat dimakan yang ditempatkan di atas atau di antara komponen makanan (Austin, 1985).

Fungsi dari biodegradable film sebagai penghambat perpindahan uap air,

menghambat pertukaran gas, mencegah kehilangan aroma, mencegah perpindahan lemak, meningkatkan karakteristik fisik dan sebagai pembawa zat aditif.

Biodegradable film yang terbuat dari lipida dan film dua lapis (billayer) ataupun

campuran yang terbuat dari lipida dan protein atau polisakarida pada umumnya baik digunakan sebagai penghambat perpindahan uap air dibandingkan dengan biodegradable film yang terbuat dari protein dan polisakarida karena lebih bersifat hidrofobik (Austin, 1985).

(16)

satu yang harus diperhatikan untuk mempertahankan kualitas produk dan umur simpan produk. Biodegradable film yang terbuat dari protein dan polisakarida pada umumnya sangat baik sebagai penghambat perpindahan gas, sehingga efektif untuk mencegah oksidasi lemak. Komponen volatil yang hilang atau yang diserap oleh produk dapat diatur dengan melakukan pelapisan biodegradable coating (Austin, 1985).

Komponen penyusun biodegradable film dapat dibagi menjadi tiga macam yaitu: hidrokoloid, lipida dan komposit. Hidrokoloid yang cocok antara lain senyawa protein, turunan selulosa, alginat, pektin, pati dan polisakarida lainnya. Lipida yang biasa digunakan waxes, asilgliserol dan asam lemak. Sedangkan komposit merupakan gabungan lipida dengan hidrokoloid (Austin, 1985). Biodegradable film dapat diklasifikasikan berdasarkan kemungkinan penggunaannya dan jenis film yang sesuai yang dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Penggunaan biodegradable film

Penggunaan Jenis Film Yang Sesuai

Menghambat penyerapan uap air Lipida, komposit

Menghambat penyerapan gas Hidrokoloid, lipida, komposit Menghambat penyerapan minyak dan

lemak

Hidrokoloid

Menghambat penyerapan zat-zat larut Hidrokoloid, lipida, atau komposit Meningkatkan kekuatan struktur atau

memberi kemudahan penanganan

Hidrokoloid, lipida, atau komposit Menahan zat-zat volatil Hidrokoloid, lipida, atau komposit Pembawa bahan tambahan makanan Hidrokoloid, lipida, atau komposit Sumber : Donhowe dan Fennema (1994) dalam Krochta et al.(1994)

(17)

Selulosa merupakan serat-serat panjang yang bersama-sama hemiselulosa, pektin dan protein membentuk struktur jaringan yang memperkuat dinding sel tanaman (Winarno, 1995). Selulosa terdapat pada semua tanaman dari pohon yang bertingkat tinggi sampai organisme primitif seperti rumput laut, flagelata dan bakteri. Isolasi selulosa sangat dipengaruhi oleh senyawa yang menyertai di dalam dinding sel. Struktur selulosa dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Struktur selulosa

Selulosa merupakan polisakarida yang terdiri dari senyawa homopolimer linear dari D-glukosa dengan ikatan beta 1,4 glikosidik (Billmeyer, 1987). Monomer selulosa memiliki tiga gugus hidroksil. Dengan tiga gugus hidroksil tersebut memungkinkan selulosa untuk membentuk banyak ikatan hidrogen. Hal ini menyebabkan kekakuan dan gaya antarrantai yang tinggi sehingga selulosa tidak larut dalam air (Billmeyer, 1987).

(18)

dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Komposisi kimia serat alam

Nama Selulosa Hemi selulosa Lignin Keterangan

Abaka 60-65 6-8 5-10 Pisang

Coir 43 1 45 Sabut kelapa

Kapas 90 6 - Bungkus, biji

Flax 70-72 14 4-5 -

Jute 61-63 13 3-13 -

Mesta 60 15 10 -

Palmirah 40-45 15 42-45 -

Nenas 80 - 12 -

Rami 80-85 3-4 0,5-1 Kulit batang

Sisal 60-67 10-15 8-12 Daun

Straw 40 28 18 -

Sumber : http://buletinlitbang.deptan.go.id. 2007.

Selulosa buah nenas berbentuk seperti pita (Gambar 2). Struktur berbentuk pita dari selulosa nenas menyebabkan film selulosa yang terbentuk memiliki struktur yang kuat. Hal ini dimungkinkan karena memberikan peluang kontak antarmikro fibil yang lebih besar. Iguchi et al.(2000) menyatakan bahwa ampas buah nenas dapat menghasilkan film selulosa yang memiliki kuat tarik yang cukup tinggi sebesar 0,74 GPa.

(19)

Salah satu alkil trihidrat yang penting adalah gliserol (propa-1,2,3 – triol)

CH2OHCHOHCH2OH. Senyawa ini kebanyakan ditemui hampir semua terdapat pada lemak hewani dan minyak nabati sebagai ester gliserin dari asam palmitat dan oleat (Austin, 1985). Gliserol adalah senyawa yang netral, dengan rasa

manis, tidak berwarna, cairan kental dengan titik lebur 20oC dan memiliki titik

didih yang tinggi yaitu 290oC. Gliserol dapat larut sempurna dalam air dan alkohol, tetapi tidak larut dalam minyak. Sebaliknya banyak zat dapat lebih mudah larut dalam gliserol dibanding dalam air maupun alkohol. Oleh karena itu gliserol merupakan pelarut yang baik (Anonymous, 2006).

Senyawa ini bermanfaat sebagai anti beku (antifreeze) juga merupakan senyawa yang higroskopis sehingga banyak digunakan untuk mencegah kekeringan pada tembakau, pembuatan parfum, tinta, kosmetik, makanan dan minuman lainnya (Austin, 1985).

Gliserol ini sangat potensial untuk dikembangkan menjadi produk yang bernilai ekonomis tinggi. Gliserol dapat diperoleh dari pemecahan ester asam lemak dari minyak dan lemak industri oleokimia (Bhat, 1990). Gliserol mampu membentuk gliserolat monogliserida, digliserida dan trigliserida. Gliserol mengandung tiga gugus hidroksi yang terdiri dari dua gugus alkohol primer dan satu gugus alkohol sekunder. Atom karbon yang terdapat dalam gliserol dapat ditunjukkan sebagai

atom karbon α, dan (Nourieddini dan Mendikonduru,1997).

(20)

fleksibilitas film dan menurunkan sifat barier film. Gliserol merupakan plasticizer yang efektif karena memiliki kemampuan untuk mengurangi ikatan hidrogen internal pada ikatan molekular. Gliserol banyak dimanfaatkan dalam industri. Gliserol yang dicampur dengan asam lemak digunakan sebagai bahan kosmetika dan obat-obatan. Karakterisasi dari crude gliserol dan gliserol yang dimurnikan ditunjukkan pada Tabel 3 sebagai perbandingan karakterisasi dari gliserol komersil.

Tabel 3. Karakterisasi dari crude gliserol, gliserol yang dimurnikan dari residu gliserol dan gliserin komersial (Mohtar, 2001).

Parameter Crude Gliserol Gliserol Murni Gliserin Komersial

Kadar Gliserol (%) 60 – 80 99,1 - 99,8 99,2 - 99,98

(21)

gugus amin (NH2). Sedangkan kitin dan chitosan merupakan polisakarida yang bersifat basa. Selulosa adalah suatu homopolimer sedangkan kitin dan chitosan adalah hetero polimer (Kumar, 2000). Struktur chitosan dapat dilihat pada Gambar 3 dibawah ini.

OH

Gambar 3. Struktur chitosan

2.4.1 Sumber Chitosan

Modifikasi kimia yang paling sering dilakukan adalah asetilisasi dengan

penambahan basa pada kitin dimana gugus amida akan terhidrolisis menghasilkan gugus amino bebas dan terbentuklah chitosan. Hidrolisis dapat dilakukan dengan penambahan NaOH 40% dimana apabila derajat deasetilasi 45-55% bersifat larut dalam air sedangkan derajat deasetilasi >60% atau <40% bersifat tidak larut dalam air (Muzzarelli, 1988).

Penambahan asam dilakukan untuk menghilangkan mineral sehingga kandungan abu dalam chitosan adalah kurang dari 0,1%. Perlakuan ini juga memungkinkan penghilangan protein yang terikat dalam matriks kitin-mineral kemudian kitin ditambahkan dengan larutan basa pekat yang panas. Spesifikasi chitosan yang berasal dari cangkang makluk hidup dapat dilihat pada Tabel 4.

(22)

Spesifikasi Kadar

Kelembapan 6-10%

Abu 0,5%

Protein 0,1%

Deasetilasi 77-83%

Range viskositas 100-800 cps

Densitas bulk 0,2 gr/cc

Khlorida 0,5%

Natrium 0,25%

SiO2 400 ppm

Total logam berat <5 ppm

Sumber: Colwell dan Sinskey 1984.

2.4.2 Karakteristik Chitosan

Chitosan merupakan padatan putih yang tidak larut dalam air pada pH netral sebab amina dalam bentuk yang bebas tidak larut dalam air. Chitosan juga tidak larut dalam pelarut organik, alkali, dan asam mineral dalam berbagai kondisi. Chitosan larut dalam asam formiat, asam asetat dan asam organik lainnya dalam keadaan dipanaskan sambil diaduk. Chitosan dapat larut dalam asam mineral pekat apabila dalam kondisi yang bagus diperoleh dalam bentuk endapan. Namun dengan asam nitrat chitosan yang terbentuk adalah chitosan nitrat yang sukar larut (Manskaya dan Drodzora, 1968).

(23)

OH

(Nadarajah, 2005). Sifat yang penting dari chitosan adalah chitosan memiliki muatan positif dalam larutan asam. Sifat ini disebabkan oleh gugus amina primer dalam molekul chitosan yang mengikat proton menurut persamaan berikut.

Chitosan-NH2+H3O+ chitosan –NH3++H2O

Gambar 4. Pembentukan kationik dari chitosan

Aktivasi anti mikroba dari chitosan dipengaruhi beberapa faktor baik intrinsik maupun ekstrinsik. Chitosan yang memiliki molekul rendah mempunyai aktifitas yang lebih baik. Chitosan sempurna bersifat antimikroba dibandingkan dengan chitosan yang memiliki proporsi gugus amino lebih besar karena peningkatan kelarutan dan densitas muatan yang lebih besar. Jumlah pH yang lebih rendah juga meningkatkan aktivasi mikroba dengan alasan yang sama. Temperatur yang lebih tinggi sekitar 37oC meningkatkan aktifitas antimikroba

(Rhoades Dan Rastall, 1994).

2.5 Carboxy Methyl Cellulose (CMC)

Carboxy methyl cellulose (CMC) merupakan eter polimer selulosa linear dan berupa senyawa anion yang bersifat biodegradable, tidak berbau, tidak berwarna, tidak beracun, berbentuk butiran yang larut dalam air. CMC berasal dari selulosa kayu dan kapas yang diperoleh dari reaksi antara selulosa dengan asam

(24)

seperti kelarutan, reologi dan adsorpsi dipermukaan (Deviwings, 2008). CMC sering dipakai dalam industri makanan untuk mendapatkan tekstur yang baik. CMC yang sering dipakai dalam industri makanan disebut gum selulosa. Karena CMC memiliki gugus karboksil maka viskositas larutan CMC dipengaruhi oleh pH larutan optimum pada pH 5 dan apabila pH terlalu rendah <3 akan

mengendap (Winarno, 1995). Struktur carboxy methyl cellulose (CMC) dapat dilihat pada Gambar 5.

Gambar 5. Struktur Carboxy Methyl Cellulose (CMC) Sumber : http://www.google.co.id/struktur/CMC

2.6 Plastik Sintetik

Plastik sintetik merupakan bahan kemasan yang berasal dari polimer. Beberapa jenis kemasan plastik sintetik yang terkenal adalah polietilen, polipropilen, poliester, nilon dan vinil klorida. Sedangkan yang paling banyak digunakan dalam industri makanan adalah polietilen. Polietilen merupakan polimer dari monomer etilen yang dibuat dengan proses polimerisasi adisi dari gas etilen yang diperoleh dari hasil samping industri minyak bumi dan batubara.

(25)

memiliki sifat permeabilitas yang rendah dan sifat mekanik yang baik pada ketebalan 0,001 -0,01 inch sehingga banyak dimanfaatkan sebagai bahan

pengemas makanan. Plastik polietilen termasuk golongan termoplastik sehingga dapat dibentuk menjadi kantung dengan derajat kerapatan yang baik. Selain jenis plastik polietilen juga terdapat banyak jenis plastik. Data dari Dotmar

Engineering plastics product (2011) untuk penggunaan tipe plastik tertentu digunakan sesuai dengan kuat tarik dapat dilihat pada Tabel 5.

Table 5. Kuat Tarik (MPa) of Dotmar Engineering Thermoplastics

Product Name Plastic Type Kuat tarik

(MPa)

Celazole PBI PBI Polybenzimidazole 140

Ketron PEEK-CA30 PEEK Polyetheretherketone 130 Torlon 4203 & 4503 PAI Polyamide-imide 120 Ketron PEEK-1000 PEEK Polyetheretherketone 110

PEI-1000 PEI Polyetherimide 105

Ertalon 66GF-30 Nylon 100

Ertalon 4.6 Nylon 100

Torlon 5530 PAI Polyamide-imide 95

Nylatron GS Nylon 92

Ertalyte PETP Polyester 90

Ketron PEEK-GF30 PEEK Polyetheretherketone 90

Ertalon 66SA Nylon 90

Ertalon 6PLA Nylon 85

Ertalon 6XAU+ Nylon 83

Nylatron MC901 Nylon 81

Torlon 4301 & 4501 PAI Polyamide-imide 80

PSU-1000 PSU Polysulphone 80

Nylatron GSM Nylon 78

Ertalyte TX PETP Polyester 76

Ertalon 6SA Nylon 76

PPSU-1000 PPSU Polyphenylenesulphone 76

Ketron PEEK-HPV PEEK Polyetheretherketone 75 Techtron HPV PPS PPS Polyphenylene Sulphide 75

Ertalon LFX Nylon 70

Ertacetal C Acetal 68

Nylatron 703XL Nylon 66

Safeguard Hardcoat XX PC Polycarbonate 65

Safeguard PC Polycarbonate 65

(26)

PVDF 1000 PVDF Polyviylidenefluoride 50

Tetco V PTFE Polytetrafluoroethylene 36

Polystone 500 PE Polyethylene 28

Tetron S PTFE Polytetrafluoroethylene 28

Polystone PP PP Polypropylene 26

Tetron HG PTFE Polytetrafluoroethylene 25

Polystone 300 PE Polyethylene 23

Tetron B PTFE Polytetrafluoroethylene 23

Polystone 7000 PE Polyethylene 20

Polystone Ezyslide 78 PE Polyethylene 20

Polystone Ultra PE Polyethylene 20

Polystone M-Slide PE Polyethylene 20

Polystone 7000SR PE Polyethylene 20

Polystone 8000+ PE Polyethylene 19

Polystone M-Flametech AST

PE Polyethylene 18

Tetron C PTFE Polytetrafluoroethylene 17.6 Tetron G PTFE Polytetrafluoroethylene 17 Tetron GR PTFE Polytetrafluoroethylene 16.5 Tetron LG PTFE Polytetrafluoroethylene 11.7

(27)

III. METODE PENELITIAN

3.1 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Analisis Hasil Pertanian Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Laboratorium Instrumentasi Hasil Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Lampung serta Laboratorium Kimia Fisik, Prodi Kimia FMIPA - ITB. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni 2011 sampai dengan Desember 2011.

3.2 Bahan dan Alat

Bahan dasar yang digunakan untuk pembuatan biodegradable film dalam penelitian ini adalah nenas. Sedangkan bahan lain yang digunakaan adalah gliserol, chitosan, aquades, etanol 96%, NaCIO 1%, NaOH 10%, NaOH 2,5%, HCL 1 M dan CMC.

Alat yang digunakan adalah timbangan digital, glass enlemeyer, pipet tetes, desikator, talenan, pisau stainless steel, baskom, alumunium foil, spatula, shaker

water bath, pH meter, blender ‘National’, beaker, corong Buchner, sentrifius

‘Sigma’, kertas saring, saringan stainless steel, jangka sorong digital, stopwatch,

penangas air, dan peralatan laboratorium lainnya.

(28)

Perlakuan disusun secara faktorial dalam Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan tiga kali ulangan. Penelitian dilakukan menggunakan tiga faktor, yaitu faktor pertama adalah konsentrasi chitosan (C) yang terdiri dari tiga taraf yaitu 0,5% (C1), 1% (C2), dan 1,5% (C3). Faktor kedua adalah konsentrasi gliserol (G) yang terdiri dari tiga taraf yaitu 0,5% (G1), 1% (G2), dan 1,5% (G3). Sedangkan faktor ketiga adalah konsentrasi CMC (M) yang terdiri dari dua taraf yaitu 1% (M1) dan 2% (M2).

Kesamaan ragam data diuji dengan Uji Bartlett dan kemenambahan data diuji dengan Uji Tukey. Data hasil pengamatan karakteristik biodegradable film dari bahan komposit selulosa nenas dilakukan sidik ragam untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan antar perlakuan. Data diolah lebih lanjut dengan uji BNJ 1% dan 5%.

3.4 Pelaksanaan Penelitian

3.4.1 Prosedur untuk memperoleh selulosa murni ampas nenas (Iguchi et al., 2000)

(29)

Gambar 6. Diagram alir pemurnian awal selulosa buah nenas Zulferiyenni (2004, modifikasi)

Blender selama 2 menit

Suspensi

Disentrifius 10 menit, 3700 rpm

Dipanaskan selama 16 menit

Didinginkan selama 16 menit

Disentrifius 10 menit, 3700 rpm

Dicuci Air

100 ml air

Buah nenas 50 gr ( sudah dikupas dan bersih)

Selulosa buah nenas ( Pemurnian awal )

Air

100 ml air

Air

(30)

3.4.2 Prosedur pembuatan biodegradable film (Indarti dan Elsy, 2008) Gambar 7. Diagram alir pembuatan selulosa murni ampas nenas Zulferiyenni (2004, modifikasi)

Selulosa buah nenas

Direndam selama 1 jam

Disentrifius 10 menit, 3700 rpm

Selulosa nenas

Dicuci sampai bersih

Saring vakum Air

Selulosa nenas

Direndam selama 2 jam

Dicuci sampai bersih NaOH

Dihidrolisis padasuhu 80-85oC selama 2 jam

Dicuci sampai bersih

Direndam selama 2 jam

Dicuci sampai bersih

(31)

Diagram alir pembuatan biodegradable film pada Gambar 8 berikut ini.

3.5 Pengamatan

Biodegradable film yang dihasilkan difoto dengan foto visual biasa untuk mengetahui penampakan fisik. Kemudian dilakukan berbagai pengujian seperti uji kuat tarik, kelarutan dan biodegradabilitas.

3.5.1 Uji Kuat Tarik (ASTM, 1983)

Gambar 8 . Diagram alir pelaksanaan penelitian Sumber : Zulferiyenni (2004, modifikasi)

Ditambahkan 50 ml

Chitosan : C1; 0,5%, C2; 1%, dan C3; 1,5% Gliserol : G1; 0,5%, G2; 1%, dan G3; 1,5%

CMC : M1; 1,5% dan M2; 2%

Pemanasan dan pengadukan pada suhu 70oC, 30 menit

Penghilangan gelembung

Pencetakan pada kaca berukuran 20x20 cm

(32)

Kuat tarik diukur dengan Testing Machine MPY (Type: PA-104-30, Ltd Tokyo, Japan). Sebelum dilakukan pengukuran disiapkan lembaran film (sampel) berukuran 2,5 x 15 cm dan dikondisikan di laboratorium dengan kelembaban (RH) 50% selama 48 jam. Instron diset pada initial grip separation 50 mm, crosshead speed 50 mm/ menit dan loadcell 50 kg. Kuat tarik ditentukan

berdasarkan beban maksimum. Kuat tarik dengan rumus :

Keterangan :

E = Modulus elastisitas/ modulus young (Mpa) F = Gaya (N)

lo = Panjang awal (mm) A = Luas Penampang (mm2)

l = Pertambahan panjang (mm)

3.5.2 Uji kelarutan (Gontard et al., 1992)

Uji kelarutan biodegradable film dalam air dilakukan dengan cara memasukkan lembaran biodegradable film dengan ukuran 2x10 cm ke dalam bejana yang berisi air sambil diaduk secara manual. Kelarutan dalam air dinyatakan persentase bagian film yang larut dalam air setelah perendaman selama satu minggu.

Keterangan :

a : Berat sampel awal (g) b : Berat cawan (g) c : Berat kering (g)

(33)
(34)

Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu

Dan kuatkanlah kesabaranmu Dan tetaplah

bersiap-siaga (di perbatasan negerimu) Dan bertaqwalah kepada

Allah agar kamu beruntung

(Qs. Al-Imran : 200)

“ Allah pasti akan memberikan kedudukan yang

tinggi

kepada orang-orang yang beriman serta mereka yang

menuntut ilmu pengetahuan “

(Q . S. Al Mujadilah : 11)

” Wahai orang

-orang yang beriman! Mohonlah

pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat,

sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sa

bar”

(Q.S. Al-Baqarah : 153)

”Dan kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit

ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan

buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada

orang-orang yang sabar

(35)

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang dan Masalah

Plastik merupakan salah satu bahan yang telah memberikan banyak kemudahan bagi kehidupan manusia sehari-hari. Plastik umumnya berasal dari minyak bumi yang sulit terurai sehingga mencemari tanah (Rais, 2007). Pembakaran plastik dapat melepaskan asap beracun. Pada proses produksinya juga menghasilkan asap dalam jumlah yang besar (Raberg , 2008). Salah satu cara yang telah dilakukan dalam mengurangi limbah plastik adalah dengan memproduksi biodegradable film.

Pembuatan biodegradable film telah lama dilakukan terutama oleh negara maju. Biodegradable film juga terbukti memiliki tingkat kekuatan yang sebanding

dengan plastik sintetik (Matthysse et al., 2008). Penggunaan biodegradable film sebagai kemasan selain dapat memberikan perlindungan yang baik terhadap kualitas produk dan memperpanjang masa simpan juga dapat digunakan sebagai bahan pengemas yang ramah lingkungan.

Biodegradable film memberikan alternatif bahan pengemas yang tidak

berdampak negatif terhadap lingkungan karena menggunakan bahan yang mudah terurai (Anonim, 2007). Pengaplikasian biodegradable film pada bahan

(36)

intensif dan berkesinambungan (Lee dan Wan, 2006 dalam Hui, 2006). Salah satu produk pertanian yang dapat digunakan untuk bahan baku biodegradable film adalah limbah padat dari pengolahan nenas (Billmeyer, 1987).

Biodegradable film adalah lapisan tipis yang terbuat dari bahan yang dapat

dimakan, sehingga dapat dimakan beserta produk makanan yang dilapisinya dan bersifat mudah terurai. Penggunaan biodegradable film bertujuan untuk

menghambat migrasi uap air, gas, aroma dan lemak (Krochta et al., 1997). Selain itu juga berfungsi sebagai pembawa komponen seperti antimikrobia, antioksidan, flavor, pewarna dan suplemen gizi (Gennadios et al., 1996).

Zulferiyenni et al., (2004) telah menggunakan ampas buah nenas sebagai bahan baku biodegradable film tetapi hasil yang diperoleh bersifat kaku. Hasil penelitian Indarti dan Elsy (2008) diketahui bahwa pada pembuatan

biodegradable dari bioselulosa bakteri dengan formulasi CMC (0,5%,1%),

gliserol (1%,1,5%) . Penggunaan gliserol lebih tinggi dari CMC dapat menghasilkan biodegradable film dengan sifat mekanik yang baik untuk

digunakan sebagai pelapis. Sementara penggunaan gliserol lebih rendah dari CMC dapat menghasilkan biodegradable film dengan sifat mekanik yang baik untuk digunakan sebagai bahan pengemas.

Namun belum tersedia informasi tentang formulasi bahan komposit selulosa ampas nenas, chitosan, gliserol dan CMC yang optimum untuk menghasilkan biodegradable film dengan sifat mekanik yang diiinginkan. Oleh karena itu pada

(37)

pembuatan biodegradable film dari bahan selulosa dengan rentang persentase 0,5%, 1% dan 1,5% untuk chitosan dan gliserol serta 1% dan 2% untuk CMC.

1.2 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan konsentrasi chitosan, gliserol dan CMC yang tepat untuk menghasilkan karakteristik biodegradable film dari bahan komposit selulosa nenas terbaik.

1.3 Kerangka Pemikiran

Selulosa buah nenas sangat potensial dijadikan biodegradable film. Menurut Rukmana (1996) komponen penyusun buah nenas terdiri atas 14% serat pangan dan padatan terlarut sekitar 86%. Penelitian yang dilakukan Zulferiyenni (2004) menyatakan bahwa pemurnian ampas nenas dengan NaClO3 dan NaOH

menghasilkan kekuatan regang yang cukup tinggi sebesar 0.96 GPa. Film selulosa dengan kekuatan regang yang tinggi tersebut potensial untuk dibuat menjadi biodegradable film. Oleh karena itu perlu pemplastis, salah satu bahan pemlastis adalah gliserol.

(38)

kerapuhan, meningkatkan fleksibilitas dan ketahanan film terutama jika disimpan pada suhu rendah (Anonim, 2007). Disamping pencampuran dengan bahan pemlastis, dalam pembuatan biodegradable film bisa juga ditambahkan bahan hidrokoloid lain yang akan memberikan fungsi tambahan dari biodegradable film tersebut.

Bahan hidrokoloid lain yang dapat digunakan adalah chitosan dan CMC. Chitosan mempunyai sifat sebagai antimikrobial. Sehingga pembuatan

biodegradable film yang dicampur dengan chitosan akan dapat memberikan efek positif pada produk yang dikemas berupa ketahanan produk terhadap serangan mikroba. CMC merupakan senyawa anion yang bersifat larut dalam air serta mampu mempertahankan pH, sehingga dengan pencampuran CMC diharapkan biodegradable film yang dihasilkan memiliki tingkat kelarutan yang baik (Winarno, 2002).

1.4 Hipotesis

Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Terdapat konsentrasi gliserol yang tepat untuk menghasilkan karakteristik biodegradable film dari bahan komposit selulosa nenas terbaik.

2. Terdapat konsentrasi chitosan yang tepat untuk menghasilkan karakteristik biodegradable film dari bahan komposit selulosa nenas terbaik.

(39)
(40)



Dengan rasa syukur kehadirat Allah SWT

KuPersembahkan Karya ini untuk:

Ibu dan Bapak tercinta *

KakakAlm. Rinjoko Yang Selalu Memberikan Kasih

Sayang, Motivasi Dalam Bentuk Materi Hingga

Mempertaruhkan Nyawa Sebagai Mualim 1 Kapal

Pelayaran Nelly Dwi Putri TB. 63.

Pada Tanggal 03 Juli 2011 DiKalimantan Timur *

Mbk. Isni Sujiati *

keponakan-keponakanku tersayang,

(41)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Dusun Karanganyar, Desa Kelaten, Kecamatan Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan pada tanggal 31 Desember 1988 sebagai anak ketiga dari tiga bersaudara dari Bapak Sapon dan Ibu Ponirah.

Penulis menyelesaikan pendidikan dasar di SD Negeri 3 Kelaten pada tahun 2001, Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) Negeri 1 Penengahan pada tahun 2004 dan Sekolah Menengah Umum (SMU) Negeri 1 Penengahan pada tahun 2007. Pada tahun 2007 penulis diterima sebagai mahasiswa Jurusan Teknologi Hasil Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Lampung melalui Seleksi Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SMPTN).

(42)

Selama masa perkuliahan, penulis mendapat bantuan hibah Program Kreatifitas

Mahasiswa (PKM) dengan judul “Sirup Apple Mangrove Sebagai Minuman

Menyegarkan Dan Menyehatkan Untuk Bisnis Yang Prospektif Yang Berbasis Home Industri” pada tahun 2011. Serta mendapat bantuan hibah Program

Mahasiswa Wirausaha (PMW) dengan judul “ Budidaya Sapi Potong Sebagai

Bisnis di Era Modern” pada tahun 2011. Penulis melakukan Praktik Umum (PU)

di PT. Indofood Sukses Makmur Divisi Bogasari Flour Mills cabang Jakarta Jalan Raya Cilincing, Tanjung Priok, Jakarta Utara dengan judul Proses Pembersihan dan Penambahan Air Pada Gandum Menjadi Tepung Terigu di mill KL

(43)

SANWACANA

Segala puji hanya bagi Allah, Rabb semesta alam yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Skripsi

dengan judul “Kajian Penambahan Chitosan, Gliserol Dan Carboxy Methyl

Cellulose Terhadap Karakteristik Biodegradable Film Dari Bahan Komposit Selulosa Nenas penulis susun berdasarkan hasil penelitian di Jurusan Teknologi Hasil Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Lampung pada bulan Juni sampai bulan Desember 2011.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Ibu Ir. Zulferiyenni, M.T.A. selaku pembimbing utama skripsi yang telah membimbing setiap langkah dalam penelitian dan penulisan skripsi ini.

2. Bapak Ir. H. Muhammad Nur, M.Sc. CHMM. selaku pembimbing kedua yang telah membimbing dan memberikan masukan, saran serta motivasi kepada penulis.

3. Ibu Dr. Sri Hidayati, S.T.P., M.P. selaku penguji yang telah memberikan koreksi dan saran untuk kelancaran dalam proses penyusunan skripsi ini. 4. Bapak Ir. Ahmad Sapta Zuidar. M.P. selaku Pembimbing Akademik yang

telah memberikan bimbingan kepada penulis.

5. Bapak Prof. Dr. Ir. Wan Abbas Zakaria, M.S. selaku Dekan Fakultas Pertanian, Universitas Lampung.

(44)

7. Bapak Ir. Juperta Panji Utama selaku pimpinan lembaga Amil Zakat LAMPUNG PEDULI, Anjar rohmi, mbak Mulyani, mbak Euis, Feri, Umar, Jun, Suhendrik, Ria dan Hariyanti atas dukungan dan semangatnya sehingga atas izin Allah SWT penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

8. Semua karyawan dan staf PT. Indofood Sukses Makmur, Tbk Divisi Bogasari Flour Mills Jakarta khususnya mill KL yang telah memberikan pengalaman

selama Praktik Umum.

9. Almamater, Sahabat, keluargaku, dan My Second Family THP 2007“ High

Heels Hero in The Rain”. yang telah banyak membantu dalam proses

penulisan skripsi ini.

10. Sahabat dan teman seperjuanganku DPM U/MPM U 2010 yang telah banyak membantu dalam proses penulisan skripsi ini

Akhir kata, penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, akan tetapi harapan penulis semoga skripsi yang sederhana ini dapat berguna dan bermanfaat bagi kita semua.

Bandar Lampung, 02 Maret 2012

(45)

V. SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

1. Penambahan konsentrasi chitosan, gliserol dan CMC pada proses pembuatan biodegradable film dari bahan komposit selulosa nenas menghasilkan perbedaan yang nyata terhadap kuat tarik, kelarutan.

2. Hasil terbaik penambahan chitosan, gliserol dan CMC terhadap karakteristik biodegradable film dari bahan komposit selulosa nenas adalah pada

konsentrasi C3G1M1 (chitosan 1,5%; gliserol 0,5%; CMC 1%) yang

memiliki nilai kelarutan 47,22%, kuat tarik 199,63 Mpa dan biodegradabilitas 14 hari.

5.2 Saran

1. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dari bahan komposit selulosa yang lain untuk pembuatan biodegradable film.

Figur

Gambar
Gambar p.11
Tabel 1. Penggunaan biodegradable film

Tabel 1.

Penggunaan biodegradable film p.16
Gambar 1. Struktur selulosa

Gambar 1.

Struktur selulosa p.17
Tabel 2. Komposisi kimia serat alam

Tabel 2.

Komposisi kimia serat alam p.18
Gambar 2. Selulosa buah nenas (Iguchi et.al.,2000)

Gambar 2.

Selulosa buah nenas (Iguchi et.al.,2000) p.18
Tabel 3. Karakterisasi dari crude gliserol, gliserol yang dimurnikan dari residu    gliserol dan gliserin komersial (Mohtar, 2001)

Tabel 3.

Karakterisasi dari crude gliserol, gliserol yang dimurnikan dari residu gliserol dan gliserin komersial (Mohtar, 2001) p.20
Gambar 3. Struktur chitosan

Gambar 3.

Struktur chitosan p.21
Gambar 4. Pembentukan kationik dari chitosan

Gambar 4.

Pembentukan kationik dari chitosan p.23
Gambar 5. Struktur Carboxy Methyl Cellulose (CMC)

Gambar 5.

Struktur Carboxy Methyl Cellulose (CMC) p.24
Table 5. Kuat Tarik (MPa) of Dotmar Engineering Thermoplastics

Table 5.

Kuat Tarik (MPa) of Dotmar Engineering Thermoplastics p.25
Gambar 6. Diagram alir pemurnian awal selulosa buah nenas

Gambar 6.

Diagram alir pemurnian awal selulosa buah nenas p.29
Gambar 7. Diagram alir pembuatan selulosa murni ampas nenas                              Zulferiyenni (2004, modifikasi)

Gambar 7.

Diagram alir pembuatan selulosa murni ampas nenas Zulferiyenni (2004, modifikasi) p.30
Gambar 8 . Diagram alir pelaksanaan penelitian              Sumber : Zulferiyenni (2004, modifikasi)

Gambar 8 .

Diagram alir pelaksanaan penelitian Sumber : Zulferiyenni (2004, modifikasi) p.31

Referensi

Memperbarui...