KEKUASAAN KEHAKIMAN YANG MERDEKA MENURUT UNDANG-UNDANG DASAR 1945

64  12  Download (0)

Teks penuh

(1)

ABSTRAK

KEKUASAAN KEHAKIMAN YANG MERDEKA MENURUT UNDANG-UNDANG DASAR 1945

Oleh

SOFYAN JAILANI

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kekuasaan kehakiman yang merdeka menurut Undang-Undang Dasar 1945, sebelum dan sesudah amandemen UUD 1945. Pendekatan masalah dalam penulisan ini menggunakan pendekatan yuridis normatif, sumber data penelitian ini menggunakan data primer dan data sekunder yang di dapat dari studi kepustakaan, analisis data yang digunakan adalah analisis preskriptif. Hasil pembahasan menunjukan bahwa Kekuasaan kehakiman yang merdeka/independen

menurut Undang-Undang Dasar tahun 1945 adalah pertama Independensi Kekuasaan

kehakiman sebelum amandemen belum tercapai karena secara struktural dan fungsional

kekuasaan kehakiman masih dipengaruhi oleh eksekutif. Kedua Independensi

Kekuasaan kehakiman sesudah amandemen adalah independensi hakim secara personal/individual hakim yang bebas dari semua pengaruh yang dapat mempengaruhi putusanya, serta independensi secara struktural/lembaga yang terpisah dari kekuasaan lainya.

(2)

ABSTRACT

INDEPENDENT JUDICIAL POWER UNDER THE 1945 CONSTITUTION

By

SOFYAN JAILANI

This study aims to determine independent judicial in the Constitution of 1945. before and after the amendment of the 1945 Constitution, the approach used is a problem normative approach This study uses data sources primary data and secondary data were obtained from the literature study analysis of the data used is descriptive analysis. The results show that the discussion of an independent judicial power according to the Constitution in 1945 was the first independent before amandement can’t sucsses because abaout institutionaly and function judicial power in suggest of executive, second independent after amandement of the 1945 constitustion is independent judge as personality and free from suggest to make dicision and independent as institutional not be suggest executif and legislative.

(3)

1 I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 3

menegaskan Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara hukum. Artinya

sebagai negara hukum menegaskan bahwa segala tindakan pemerintah dan

rakyatnya harus berlandaskan atas hukum. Paham negara hukum dalam khazanah

negara hukum tidak dapat dipisahkan dari paham kerakyatan, karena pada

hakikatnya hukum yang mengatur dan membatasi kekuasaan negara

(pemerintahan) dipahami sebagai hukum yang membingkai atas dasar kekuasaan

yang bersumber dari kedaulatan rakyat, dengan kata lain meminjam istilah yang

sering dilafalkan oleh para ahli hukum yakni rechstaat dan rule of law

Pengertian rechstaat dan rule of law bila diterjemahkan menurut KBBI

sama-sama negara hukum, namun jika ditelisik lebih dalam kedua istilah tersebut

memiliki makna yang berbeda sebagaimana diidentifikasikan oleh Roscoe Pound,

bahwa rechstaat memiliki karakter administratif sedangkan rule of law

berkarakter yudisial.1 Sebagai negara hukum menegaskan bahwa segala sesuatu

yang dilakukan harus berlandaskan/berdasarkan hukum, hal ini sesuai dengan

1

(4)

2

konsep rechstaat yang diilhami oleh Freidrich Julius Stahl, menurut Stahl

unsur-unsur negara hukum (rechstaat)2 adalah:

1. Perlindungan Hak-hak Asasi Manusia;

2. Pemisahan atau Pembagian Kekuasaan untuk menjamin hak-hak itu; dan

3. Pemerintahan berdasarkan Peraturan Perundang-undangan;

Sedangkan unsur-unsur the rule of law:

1. adanya supremasi aturan hokum;

2. adanya kesamaan kedudukan di depan hukum, dan

3. adanya jaminan perlindungan HAM

Pada waktu yang hampir bersamaan adapula konsep negara hukum pancasila

dimana ciri-ciri hubungan yang erat antara agama dan negara yang bertumpu pada

ketuhanan Yang Maha Esa dengan memberi kebebasan beragama dalam arti

positif. Ateisme tidak dibenarkan dan komunisme dilarang, asas kekeluargaan

dan kerukunan dengan unsur utamanya adalah sistem konstitusi, persamaan dan

peradilan yang bebas. Seperti ketahui Konstitusi Negara Indonesia adalah UUD

tahun 19453.

Salah satu materi muatan atau bidang yang diatur dalam bidang UUD Tahun 1945

adalah mengenai kekuasaan kehakiman. Sejalan dengan ketentuan tersebut maka

salah satu prinsip penting dari negara hukum adalah adanya jaminan

penyelenggaraan kekuasaan kehakiman yang merdeka, bebas dari pengaruh

kekuasaan lainya untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakan hukum dan

keadilan.4 Salah satu materi penting yang selalu ada dalam konstitusi adalah

2

Ridwan Hr, Hukum Administrasi Negara, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2002), hlm 3.

3

Azhary, H.M. Tahir, Negara Hukum: Suatu Studi tentang Prinsip-Prinsipnya, Dilihat dari Segi

Hukum Islam, Implementasinya pada Periode Negara Madinah dan Masa Kini.

( Bogor: Kencana, 2003)

4

(5)

3 tentang lembaga negara, kekuasaan negara pada akhirnya diterjemahkan kedalam

tugas dan wewenang lembaga negara, UUD tahun 1945 sebagai suatu dokumen

hukum mengandung aturan-aturan pokok mengenai ketatanegaraan suatu negara

serta peraturan perundang-undangan dibidang ketatanegaraan yang bertalian

dengan organisasi negara dan pemerintahan maka materi muatanya meliputi

ketentuan mengenai bentuk negara, bentuk pemerintahan, jabatan (organ) negara,

dan pemerintahan.5 Tercapai tidaknya tujuan dari bernegara bergantung pada

bagaimana lembaga-lembaga negara tersebut melaksanakan tugas dan wewenang

konstitusionalnya6 dan pembagian kekuasaan negara dalam lembaga-lembaga

negara juga sejalan dengan logika demokrasi yang menghendaki difrensiasi peran

antarlembaga negara dan situasi saling mengawasi antarlembaga negara guna

menghindari pemusatan dan penyalahgunaan kekuasaan, pengaturan dan

pembatasan kekuasaan itu juga menjadi ciri konstitusionalisme dan juga

merupakan tugas dari konstitusi sehingga kemungkinan kesewenang-wenangan

kekuasaan dapat dikendalikan7

Kekuasaan kehakiman sejak awal kemerdekaan diniatkan sebagai cabang

kekuasaan yang terpisah dari lembaga-lembaga politik seperti MPR/DPR dan

Presiden serta memiliki hak untuk menguji yakni hak menguji formil (formele

toetsingrecht) dan hak menguji meteril (materiele toetsingrecht)8. Belum eksisnya

5

Armen Yasir, Hukum Perundang-undangan, (Bandar Lampung: Universitas Lampung, 2007), hlm 76

6

Zulkarnain Rildwan, Jurnal Konstitusi: kompetensi hakim konstitusi dalam penafsiran konstitusi, (Jakarta: MKRI, 2011), hlm 70

7

Jimly Asshiddiqie, Konstitusi dan Konstitusionalisme Indonesia, (Jakarta: Sinar Grafika, 2010), hlm 138

8

(6)

4 negara hukum modern menurut Imanuel kant menyebutkan bahwa disamping

adanya perlindungan hak asasi manusia, juga terdapat pemisahan kekuasaan

dalam negara yang menjamin keberadaan lembaga yang berfungsi memisahkan

persengketaan warga dalam negara penjaga malam (klassiekerechtstaat)9.

Penegasan bahwa kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka

artinya terlepas dari pengaruh kekuasaan pemerintah berhubung dengan hal itu

harus termaktub didalam undang-undang tentang kedudukan para hakim, bila

dihubungkan dengan asas negara hukum maka adanya badan pemegang

kekuasaan kehakiman seperti Mahkamah Agung tak lain sebagai penegasan

bahwa Indonesia adalah negara hukum seperti diketahui syarat sebagai negara

hukum adalah adanya peradilan yang bebas dan tidak terpengaruh kekuasaan lain

serta tidak memihak, kekuasaan kehakiman dan peradilan adalah kekuasaan untuk

memeriksa dan mengadili serta memberikan putusan atas perkara-perkara yang

diserahkan kepadanya untuk menegakan hukum dan keadilan berdasarkan

peraturan perundang-undangan10.

Usaha untuk memperkuat prinsip kekuasaan kehakiman yang merdeka sesuai

dengan tuntutan reformasi di bidang hukum telah dilakukan perubahan terhadap

Undang-Undang Nomor 14 Tahun 197011 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok

Kekuasaan Kehakiman dengan perubahan menjadi Undang-Undang Nomor 35

9

Sudargo Gautama. Pengertian tentang Negara Hukum, dalam Muhtadi .Pengawasan Hakim Indonesia,Universitas Andalas,2008, hlm 122

10

Moh mahfud MD, Dasar dan Struktur Ketatanegaraan Indonesia, (Jakarta: Rineka Cipta, 2000), hlm 117

11

(7)

5

Tahun 199912 melalui perubahan tersebut telah diletakkan kebijakan bahwa segala

urusan mengenai peradilan baik yang menyangkut teknis yudisial maupun urusan

organisasi dan finansial berada dibawah satu atap yakni Mahkamah Agung, yang

harus dilaksanakan paling lambat lima tahun sejak disahkan Undang-Undang

Nomor 35 Tahun 1999 pembinaan badan peradilan umum, badan peradilan

agama, badan peradilan militer, dan badan peradilan tata usaha negara berada

dibawah Mahkamah Agung yang kemudian kembali diubah dengan

Undang-Undang Nomor 4 Tahun 200413 dan kemudian terjadi perubahan kembali dengan

Undang-Undang Nomor 3 Tahun 200914 tentang perubahan kedua dari

Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung. selanjutnya dalam

Pasal 4315 dan 4416 sejak dialihkanya organisasi, administrasi, dan finansial

tersebut maka terjadi perubahan terhadap tatanan badan peradilan di Indonesia

menjadi dibawah kekuasaan Mahkamah Agung. Ketentuan-ketentuan

12

LNRI Nomor 147 tahun 1999 TLNRI Nomor 3879

13

(a) semua pegawai Direktorat Jenderal Badan Peradilan Umum dan Peradilan Tata Usaha Negara Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia, pengadilan negeri, pengadilan tinggi, pengadilan tata usaha negara, dan pengadilan tinggi tata usaha negara, menjadi pegawai pada Mahkamah Agung;

(b) semua pegawai yang menduduki jabatan struktural pada Direktorat Jenderal Badan Peradilan Umum dan Peradilan Tata Usaha Negara Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia, pengadilan negeri, pengadilan tinggi, pengadilan tata usaha negara, dan pengadilan tinggi tata usaha negara, tetap menduduki jabatannya dan tetap menerima tunjangan jabatan pada Mahkamah Agung;

(c) semua aset milik/barang inventaris di lingkungan pengadilan negeri dan pengadilan tinggi serta pengadilan tata usaha negara dan pengadilan tinggi tata usaha negara beralih ke Mahkamah Agung

16

Pasal 44 UU no 4 tahun 2004 :

a. semua pegawai Direktorat Pembinaan Peradilan Agama Departemen Agama menjadi pegawai Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama pada Mahkamah Agung, serta pegawai pengadilan agama dan pengadilan tinggi agama menjadi pegawai Mahkamah Agung;

b. semua pegawai yang menduduki jabatan struktural pada Direktorat Pembinaan Peradilan Agama Departemen Agama menduduki jabatan pada Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama pada Mahkamah Agung, sesuai dengan peraturan perundang-undangan;

(8)

6 undangan dan kelembagaan yang telah ada yang bersumber pada ketentuan

tertentu dalam UUD tahun 1945 sebelum perubahan harus dilihat kembali

kesesuaianya dengan ketentuan hasil perubahan UUD tahun 194517.

Perubahan yang terjadi dengan semangat reformasi nasional yang berpuncak pada

perubahan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai hukum tertinggi, perubahan yang

terjadi membawa kearah yang signifikan dalam sistem ketatanegaraan Indonesia.

Kelemahan dan ketidak sempurnaan UUD 1945 bahkan memang telah dinyatakan

oleh Soekarno18 pada rapat pertama PPKI tanggal 18 agustus 1945.19

Pasca amandemen UUD tahun 1945 telah ada dua lembaga dalam struktur

kekuasaan kehakiman selain Mahkamah Agung, yaitu Mahkamah Konstitusi dan

Komisi Yudisial, yang mempunyai fungsi kekuasaan kehakiman dimana tugas

utamanya menegakan supremasi hukum. Ada beberapa alasan mengapa timbul

dua lembaga baru ini yang kiranya dapat dikemukakan yaitu20 :

1. Profesionalitas dan Kredibilitas lembaga yang ada terdahulu masih

diragukan dan dipertanyakan.

2. Kebutuhan dalam upaya penegakan supremasi hukum.

3. Ketidakpercayaan akan lembaga yang sudah ada.

4. Fungsi controling.

5. Kekuasaan kehakiman tidak ingin diawasi oleh lembaga lain.

17

Jimly Asshiddiqiie, Menuju Negara Hukum yang Demokratis, (Jakarta: PT Bhuana Ilmu Populer, 2009), hlm 250

18

Pidato Soekarno menyatakan “ tuan-tuan semuanya tentu mengerti bahwa undang-undang dasar yang kita buat sekarang ini adalah undang-undang dasar sementara, kalau saya boleh memaknai ini adalah undang-undang dasar kilat nanti kalau kita telah bernegara dalam suasana yang lebih tentram, kita tentu akan mengumpulkan kembali majelis perwakilan rakyat rakyat yang

dapat membuat undang-undang dasar yang lebih lengkap dan lebih sempurna” lihat, Muhammad

Yamin, Naskah persiapan Undang-Undang Dasar 1945, jilid pertama, ( Jakarta: YayasanPrapanca, 1959, hal 410 dalam Jimly Asshidiqie “ Menuju Negara Hukum yang Demokratis

20

(9)

7 Sebagai implementasi dari ketentuan pasal 24, pasal 24 A, Pasal 24 B, dan Pasal

24 C Undang-undang Dasar tahun 1945 ketiga lembaga kehakiman tersebut diatur

dalam undang-undang tersendiri yaitu Undang-Undang Nomor 8 tahun 2011

tentang Perubahan atas Undang-Undang nomor 24 Tahun 2003 tentang

Mahkamah Konstitusi21, Undang-Undang Nomor 3 tahun 2009 tentang perubahan

kedua atas Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung.

Dan Undang-Undang Nomor 22 tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. Kekuasaan

kehakiman yang dilaksanakan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan

yang berada dibawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan

peradilan agama, lingkungan peradilan militer, dan lingkungan peradilan tata

usaha negara, dan oleh Mahkamah Konstitusi sebagaimana termaktub ketentuan

pasal 24C ayat (1) Undang-Undang Dasar 194522.

Tiga tahun pertama sejak reformasi perubahan terhadap UUD 1945,

penyempurnaan pemilihan legislatif, otonomi daerah dan lainya berjalan dengan

cepat namun tidak dengan reformasi di bidang hukum, khususnya lembaga

yudikatif (Mahkamah Agung dan Badan Peradilan dibawahnya) tidak terlihat

perubahan yang berarti bahkan dapat dikatakan pasif,23 sikap pasif tersebut

menimbulkan tekanan publik yang besar karena kekecewaan terhadap lembaga VIIB, pasal 22E ayat (1),(2),(3),(4),(5), dan (6) pasal 23 ayat(1),(2),(3); pasal 23A; pasal 23C;Bab VIIIA; pasal 23E ayat (1),(2), dan( 3) pasal 23F; ayat (1) dan (2); pasal 23G ayat (1) dan (2), pasal 24 ayat (1)dan( 2); pasal 24A ayat (1),(2),(3),(4), dan (5), pasal 24B pasal (1),(2),(3), dan (4); pasal 24C ayat (1),(2),(3),(4),(5),dan (6) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945

23

(10)

8 peradilan. Badan peradilan dianggap berpihak terhadap salah satu pihak yang

berperkara secara sewenang-wenang akibat penyalahgunaan kebebasan hakim24

Sejatinya kekuasaan kehakiman adalah kekuasaan yang merdeka (tanpa ikatan

atau tanpa keberpihakan) dalam beberapa literatur ilmu hukum, dikenal adanya

judicial independence (kemerdekaan yudisial). Independensi yang seperti apa

yang diinginkan oleh konstitusi atau apakah makna kekuasaan kehakiman yang

merdeka menurut UUD 1945.

24

(11)

9 1.2 Rumusan Masalah dan Ruang Lingkup

1.2.1 Permasalahan

Apakah Makna Kekuasaan Kehakiman yang Merdeka menurut Undang-Undang

Dasar tahun 1945 ?

1.2.2 Ruang Lingkup

Penelitian ini berada di dalam bidang Hukum Tata Negara pada umumnya, dan

lebih dikhususkan lagi pada lingkup kelembagaan negara yang akan membahas

mengenai aturan yang terdapat didalam konstitusi tentang makna kekuasaan

kehakiman yang merdeka sebelum amandemen dan sesudah Amandemen UUD

tahun 1945.

1.3 Tujuan dan Kegunaan Penelitian

1.3.1 Tujuan penelitian

Sesuai dengan latar belakang dan pokok bahasan yang telah diuraikan diatas,

maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan memahami makna

kekuasaan kehakiman yang merdeka menurut Undang-Undang Dasar tahun 1945

(12)

10 1.3.2 Kegunaan Penelitian

Adapun kegunaan dari penelitian ini adalah:

a. Secara teoritis, penulisan ini diharapkan dapat digunakan dalam

pengembangan daya pikir dan nalar serta sumbangan pemikiran yang sesuai

dengan disiplin ilmu Hukum Tata Negara mengenai Kemerdekaan atau

Independensi Kekuasaan Kehakiman

b. Secara praktis, penulisan ini diharapkan dapat berguna sebagai Solusi serta

sumbangan pemikiran dalam proses ilmu pengetahuan dan pembelajaran bagi

mahasiswa dalam memahami serta menganalisis makna kemerdekaan pada

kekuasaan kehakiman pada Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi

c. Selain kegunaan diatas kegunaan lain dari tulisan ini sebagai salah satu syarat

dalam menyelesaikan pendidikan Strata Satu di Fakultas Hukum Universitas

(13)

1 II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Independensi Kekuasaan Kehakiman

Istilah independen atau independensi merupakan serapan dari kata Independence

yang bearti The state of quality of being independent; a country freedom to

manage all its affairs, whether external or internal without countrol by other

country.1 Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia tidak ditemukan definisi

daripada independen tetapi memiliki padanan kata yakni mandiri2, kemandirian,

bebas yang memiliki makna tidak memiliki ikatan pada pihak lain dalam

melakukan segala bentuk aktifitasnya, bebas, otonom, ketidak berpihakan,

kemandirian, atau hal lain yang memiliki persamaan makna tidak memiliki

ketergantungan pada organ atau lembaga lain, dan dapat menjalankan tindakan

sendiri termasuk dalam membuat suatu keputusan.

Jika frase kata independen atau kemandirian dilekatkan dengan kekuasaan

Kehakiman, maka yang dimaksudkan adalah suatu kondisi yang menunjukan

suatu kehendak yang bebas terhadap lembaga kekuasaan kehakiman yang

Merdeka3 dimana makna merdeka adalah berdiri sendiri; bebas dari

1

Bryan A Garner, Black Law Dictionary, seventh edition, West group :United States of America, 1999 page 773

2

Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi ketiga. Departemen Pendidikan Nasional, (Jakarta: Balai Pustaka, 2005), hlm 655

3

(14)

2 penghambatan; penjajahan dan sebagainya , tidak terkena tuntutan; leluasa; tidak

terikat; tidak tergantung pada pihak tertentu atau freedom of independency

judiciary yang tidak terbatas dalam organ struktural dan fungsional. kekuasaan

kehakiman yang merdeka atau independen itu bersifat universal.

Ketentuan universal sebagaimana diatur dalam The Universal Declaration of

HumanRights, Pasal 10 mengatakan: Everyone is entitled in full equality to a fair

and public hearing by an independent and impartial tribunal in the determination

of his rights and obligation of any criminal charge agains him. Dalam artian

secara bebas (Setiap orang berhak dalam persamaan sepenuhnya didengarkan

suaranya di muka umum dan secara adil oleh pengadilan yang merdeka dan tak

memihak, dalam hal menetapkan hak-hak dan kewajiban-kewajibannya dan dalam

setiap tuntutan pidana yang ditujukan kepadanya).

Sehubungan dengan itu, Pasal 8 The Universal Declaration of Human Rights

berbunyi sebagai berikut: Everyone has the right to an effective remedy by the

competent national tribunals for act violating the fundamental rights granted him

by the constitution or by law. (Setiap orang berhak atas pengadilan yang efektif

oleh hakim-hakim nasional yang kuasa terhadap tindakan perkosaan hak-hak

dasar, yang diberitakan kepadanya oleh undang dasar negara atau

undang-undang).

Kemerdekaan kekuasaan kehakiman terdiri dari dua komponen sebagaimana

(15)

3

independensi individual.4 Kekuasaan kehakiman tersebut tentunya dilaksanakan

oleh suatu lembaga negara dimana lembaga negara adalah lembaga pemerintahan

atau civilizated organization lembaga tersebut dibuat oleh negara, dari negara

untuk negara dan memiliki fungsi, tugas, dan kewenanganya yang diatur secara

tegas dalam UUD tahun 1945 dan/atau oleh undang-undang.

Lembaga negara terkadang disebut sebagai lembaga pemerintahan, lembaga

pemerintahan non-departemen atau hanya lembaga negara dan asal pembentukan

berdasarkan atau karena diberi kekuasaan oleh UUD tahun 1945 dan ada pula

yang dibentuk dari undang-undang bahkan adapula yang hanya dibentuk

berdasarkan keputusan Presiden. Hirarki atau kedudukanya tentu saja tergantung

pada derajat pengaturanya menurut undang-undang yang berlaku,5 memahami

pengertian lembaga atau organ negara secara lebih dalam, kita dapat

mendekatinya dari pandangan Hans Kelsen mengenai the concept of the State

Organ dalam bukunya General Theory of Law and State. Hans Kelsen

menguraikan bahwa “Whoever fulfills a function determined by the legal order is

an organ”, artinya siapa saja yang menjalankan suatu fungsi yang ditentukan oleh

suatu tata hukum (legal order) adalah suatu organ6 lembaga negara dalam hal ini

adalah oleh sebuah Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi

UUD 1945 Pasal 24 Ayat (1) sesudah amandemen ketiga berbunyi:

4

D Jhohansjah... Op Cit.. hlm 11

5

M Iwan Satriawan, Jurnal Konstitusi: Paradigma Baru Lembaga Negara, (Jakarta: Mahkamah Konstitusi,2011)

hlm 52

6

(16)

4

Kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan.

Ayat (2) mengatakan:

"Kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha negara dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi”

Perbedaan dengan Pasal 24 lama adalah kekuasaan kehakiman yang merdeka

sudah disebut dalam rumusan bukan hanya dalam penjelasan. Juga dirinci

peradilan dibawah Mahkamah Agung, termasuk yang baru yaitu Mahkamah

Konstitusi.

Kekuasaan kehakiman yang merdeka terlepas dari pengaruh kekuasaan

pemerintah, seperti dikehendaki UUD 1945, sebagai upaya untuk menjamin dan

melindungi kebebasan rakyat dari kemungkinan tindakan sewenang-wenang dari

pemerintah apabila kekuasaan kehakiman digabungkan dengan kekuasaan

legislatif, maka kehidupan dan kebebasan seseorang akan berada dalam suatu

kendali yang dilakukan secara sewenang-wenang, kalau kekuasaan kehakiman

bersatu dengan kekuasaan eksekutif, maka hakim mungkin akan selalu bertindak

semena-mena dan menindas. Independensi konstitusional (Constituionale

onafankelijkheid) adalah independensi yang dihubungkan dengan doktrin trias

politica dengan sistem pembagian kekuasaan menurut Montesquieu lembaga

kehakiman harus independen dalam arti kedudukan kelembagaanya harus bebas

dari pengaruh politik.7

7

(17)

5 Akar dari konsep independensi kekuasaan kehakiman adalah doktrin pemisahan

kekuasaan (separation of power) yang ide pertama kali dikemukakan oleh

Aristoteles dalam Politica dan memperoleh formulasi sempurnanya oleh

Monstesquieu yang menyatakan

“Again, there is not liberty, if the judiciary power be not separated from the legislative and executive. Were it joined with the legislative, the life and liberty of the subject would be exposed to albitary control; for the judge would be then the legislator. Were it joined to executive powers, then judge might behave with violence and oppression.”

“Sekali lagi, tiada kebebasan jika kekuasaan yudisial tidak dipisahkan dari legislatif dan eksekutif jika bergabung dengan kekuasaan legislatif maka akan terjadi penyalahgunaan pengawasan karena hakim telah menjadi legislator, jika bergabung dengan kekuasaan eksekutif hakim dapat berbuat

kejam dan sewenang-wenang.”

Maka harus dipisahkan antara legislatif, eksekutif maupun yudikatif dan diberikan

kepada suatu organ negara, apabila dua kekuasaan atau lebih digabungkan maka

akan menimbulkan penyalahgunaan kekuasaan. Dengan demikian, kehadiran

kekuasaan kehakiman yang merdeka merupakan suatu conditio sine quanon bagi

terwujudnya negara hukum, terjaminnya kebebasan dan pengendalian atas

jalannya pemerintahan negara. Dalam hal kekuasaan kehakiman yang merdeka

Scheltema mengemukakan bahwa penyelesaian sengketa hukum oleh suatu

kekuasaan kehakiman yang merdeka (hakim yang bebas), merupakan dasar bagi

berfungsinya sistem hukum dengan baik.8

8

(18)

6 Kekuasaan kehakiman yang merdeka sehingga setiap orang akan mendapat

jaminan bahwa pemerintah akan bertindak sesuai dengan hukum yang berlaku,

dan dengan hanya berdasarkan hukum yang berlaku itu kekuasaan kehakiman

yang merdeka bebas memutus suatu perkara.9 Batasan mengenai ruang lingkup

merdeka, adalah bahwa kekuasaan kehakiman adalah kekuasaan negara yang

merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan

keadilan berdasarkan Pancasila, demi terselenggaranya negara hukum Republik

Indonesia. Independensi kekuasaan kehakiman merupakan syarat utama

demokrasi dalam hal tersebut terkandung penekanan bahwa independensi

kekuasaan kehakiman harus terdapat dalam hubungan dengan eksekutif dan

legislatif sebagaimana juga dalam hubungan dengan kelompok-kelompok politik,

ekonomi, atau penekanan sosial yang dikemukaan oleh Macsonald, Matscher dan

Petzold.10

Independensi kekuasaan kehakiman sangat diperlukan untuk menjamin hak asasi

manusia dan mempertahankan keadilan yang menjadi unsur penting dalam negara

demokrasi, antara demokrasi dan hukum tidak dipahami sebagai dua entitas yang

contradictio in terminis dimana keduanya bisa berada dalam suasana hidup yang

berdampingan secara damai (peacefull co-existance) tanpa salah satu diunggulkan

dari yang lainya karenasemua penting dalam gagasan negara modern11

9

Bagir Manan, Opcit hal 79

10

Jimly Asshiddiqiie, Komisi Yudisial dan Reformasi Keadilan, ELSAM, Jakarta, 2004. hlm 51

11

(19)

7 Sir Ninian Stephen dalam J Djohansyah mengemukakan pengertian Independensi

dengan cara menjelaskan apa yang dimaksud istilah suatu kekuasaan kehakiman

yang independen yaitu “a judiciary which dispenses justice according to law

without regard to the policies and inclinations of the goverment of the day” yang

artinya suatu peradilan yang menjalankan keadilan menurut hukum tanpa

pengaruh dari kebijakan dan tekanan pemerintah pada saat itu.12 Independensi

kekuasaan kehakiman diyakini sebagai sarana yang efektif bagi tercapainya

keadilan dalam bentuk jaminan perlindungan warga negara dari tindakan melawan

hukum atau tindakan represif dari pihak penguasa13

Sampai saat ini belum ada suatu kesepakatan mengenai pengertian untuk

independensi kekuasaan kehakiman setiap negara memberi pengertian yang

berbeda yang ditunjukan melalui struktur kekuasaan kehakiman dalam tata politik

dan tata hukum suatu negara, serta independensi kekuasaan kehakiman adalah

konsep yang bersifat relatif bukan absolut namun sebagai suatu konsep

independensi kekuasaan kehakiman telah berkembang dan masuk dalam tata

politik dan tata hukum negara-negara modern dewasa ini melalui konstitusi

negara.

2.2. Prinsip Check and Balance

2.2.1. Prinsip Chek and Balance Lembaga Negara

12

J.Djohansyah, Reformasi Mahkamah Agung Menuju Independensi Kekuasaan Kehakiman, (Jakarta: Kesaint Blanc, 2008), hlm 136

13

(20)

8

Prinsip checks and balances relatif masih baru diadopsi ke dalam sistem

ketatanegaraan Indonesia, utamanya setelah amandemen UUD 1945, sehingga

dalam praktiknya masih sering timbul “konflik kewenangan” antar lembaga

negara atau pun dengan/atau antar komisi-komisi negara. Ferguson dan McHenry

mendefinisikan checks and balances (sistem perimbangan kekuasaan)

sebagaimana yang dipraktikkan di Amerika Serikat “Separation of power is

implemented by an elaborate system of checks and balances. To mention only a

few, Congress is checked by the requirement that laws must receive the approval

of both house, by the President’s veto and by the power of judicial review of the

courts. Setiap negara pasti akan mengimplementasikan prinsip checks and

balances sesuai dengan kondisi dan kebutuhan negaranya. Tidak terkecuali

Indonesia. Reformasi politik 1998 yang disusul dengan reformasi konstitusi

1999-2002, menyepakati diadopsinya prinsip tersebut ke dalam sistem pemerintahan

Indonesia.14 Dari pengalaman praktik Indonesia menerapkan prinsip tersebut

memang belum sempurna karena kelembagaan negara pasca reformasi masih

sangat banyak jumlahnya, terkadang tumpang tindih kewenangannya, dan belum

ideal untuk menampung kebutuhan ketatanegaraan Indonesia. Akibatnya, konflik

kewenangan antar lembaga/komisi/badan negara tak terhindarkan15.

Jika negara dipandang dari sudut kekuasaan dan menganggap negara sebagai

organisasi kekuasaan, maka Undang-Undang Dasar 1945 dapat dipandang sebagai

kumpulan asas yang menetapkan bagaimana kekuasaan dibagi atas beberapa

14

http://pshk.law.uii.ac.id/index.php?option=com_content&task=view&id=100&Itemid=69 diunduh pada tanggal 5 Desember 2012 pukul 02:00 Wib

15

(21)

9 lembaga kenegaraan, misalnya pembagian kepada lembaga legislatif, lembaga

eksekutif, dan lembaga yudisial sehingga setiap lembaga ini dapat bersinergis satu

sama lain dapat dikatakan bahwa adanya pembagian kekuasaan menurut fungsi

dan kewenangnya didalam suatu negara menunjukan bahwa negara tersebut

menganut paham demokrasi yang menggunakan prinsip chek and balances

didalam Undang-Undang Dasar 1945 dijelaskan terdapat berbagai lembaga negara

sebagai pemegang kekuasaan yang memiliki fungsi, wewenang, dan kedudukan

yang berbeda yang merupakan pengejawantahan dari kedaulatan rakyat, yang

kemudian didistribusikan kedalam berbagai lembaga negara yang melaksanakan

dan menyelenggarakan kehidupan negara dalam upaya pelaksanaan chek and

balance tersebut, pembentukan lembaga negara yang dibentuk oleh

Undang-Undang Dasar 1945 dan lembaga yang dibentuk oleh undang-undang. Lembaga

yang dibentuk oleh Undang-Undang Dasar 1945:

1. Majelis Permusyawaratan Rakyat (BAB II UUD 1945)

2. Lembaga Kepresidenan (BAB III UUD 1945, Pasal 4 ayat (1) sampai

Pasal 16.)

3. Wakil Presiden (Pasal 4 ayat (2) UUD 1945)

4. Menteri dan Kementerian Negara (BABV Pasal 17 ayat (1), (2), dan

(3)

5. Menteri Luar Negeri, Menteri Dalam Negeri, dan Menteri Pertahanan

sebagai menteri Triumvirat ( Pasal 8 ayat (3) UUD 1945)

6. Dewan Pertimbangan Presiden (Pasal 16 UUD 1945)

7. Duta ( Pasal 13 ayat (1) dan (2) UUD 1945

8. Konsul ( Pasal 13 ayat (1) UUD 1945 )

9. Pemerintah Daerah Provinsi ( Pasal 18 ) UUD 1945 )

10. Gubernur Kepala Pemerintahan Daerah ( Pasal 18 ayat (4) UUD 1945 )

11. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi ( Pasal 18 ayat (3) UUD

1945)

12. Pemerintah Daerah Kabupaten ( Pasal 18 ayat (2), (3), (5), (6) dan (7)

UUD 1945)

13. Bupati Kepala Pemerintah Daerah Kabupaten ( Pasal 18 ayat (4) UUD

1945 )

14. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten ( Pasal 18 ayat (3) UUD

(22)

10

15. Pemerintah Daerah Kota ( Pasal 18 ayat (2), (3), (5), (6) dan (7) UUD

1945)

16. Walikota Kepala Pemerintah Daerah Kota ( Pasal 18 ayat (4) UUD

1945 )

17. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota ( Pasal 18 ayat (3) UUD 1945)

18. Satuan Pemerintah Daerah yang bersifat khusus atau istimewa ( Pasal

18 B ayat (1) UUD 1945)

19. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), ( BAB VII UUD berisi Pasal 19

sampai 22B)

20. Dewan Perwakilan Daerah (Pasal 22 C dan 22 D UUD 1945)

21. Komisi Penyelengara Pemilu ( Pasal 22 E ayat (5) UUD 1945)

22. Bank Sentral ( Pasal 23 D UUD 1945)

23. Badan Pemeriksa Keuangan (Pasal 23 E ayat (1), (2), (3), Pasal 23 F

ayat (1), (2), Pasal 23 G ayat (1), (2) UUD 1945 )

24. Mahkamah Agung ( Pasal 24 dan Pasal 24 A UUD 1945 )

25. Mahkamah Konstitusi ( Pasal 24 dan Pasal 24 C UUD 1945 )

26. Komisi Yudisial ( Pasal 24 dan Pasal 24 B UUD 1945 )

27. Tentara Nasional Indonesia (TNI), ( Pasal 30 UUD 1945 )

28. Angkatan Darat ( Pasal 10 UUD 1945)

29. Angkatan Laut ( Pasal 10 UUD 1945)

30. Angkatan Udara ( Pasal 10 UUD 1945)

31. Kepolisian Negara Republik Indonesia ( Pasal 30 UUD 1945)

adapula lembaga Negara yang kemunculanya diperintahkan oleh undang-undang

yaitu:

1. Komisi Informasi Publik (KIP) oleh UU Nomor 14 tahun 2008 tentang

Keterbukaan Informasi Publik

2. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (KOMNASHAM) oleh UU

Nomor 39 tahun 1999 tentang HAM

3. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) oleh UU Nomor 30 tahun 2002

tentang Komisi Pemberantasan Korupsi

4. Komisi Ombudsman oleh UU Nomor 37 tahun 2008 tentang

Ombudsman Republik Indonesia

5. Komisi Penyiaran Publik UU Nomor 32 tahun 2002 tentang Penyiaran

6. Komisi Pengawas Persaingan Usaha oleh UU Nomor 5 tahun 1999

tentang Larangan Monopoli dan Praktik Usaha Tidak Sehat

7. Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi oleh UU Nomor 27 tahun 2004

tentang Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi

8. Komisi Perlindungan Anak Indonesia oleh UU Nomor 23 tahun 2002

tentang Perlindungan Anak

9. Dewan Pers oleh UU Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers

10. Dewan Pengupahan oleh UU Nomor 13 tahun 2003 tentang

Ketenagakerjaan

11. Komisi Banding Paten oleh UU Nomor 14 tahun 2001 tentang Paten

12. Komisi Banding Merek oleh UU Nomor 15 tahun 2001 tentang Merek

13. Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia oleh UU Nomor 36 tahun

(23)

11 Adanya pergeseran kewenangan membentuk undang-undang dari eksekutif ke legislatif memberikan satu pertanda ditinggalkannya prinsip “pembagian

kekuasaan” (distribution of power) dengan prinsip supremasi MPR menjadi

“pemisahan kekuasaan” (separation of power) dengan prinsip checks and

balances sebagai ciri melekatnya. Hal ini juga merupakan penjabaran lebih jauh

dari kesepakatan untuk memperkuat sistem presidensial. Dengan adanya prinsip

checks and balances ini maka kekuasaan negara dapat diatur, dibatasi bahkan

dikontrol dengan sebaik-baiknya, sehingga penyalahgunaan kekuasaan oleh aparat

penyelenggara negara ataupun pribadi-pribadi yang kebetulan sedang menduduki

jabatan dalam lembaga-lembaga negara yang bersangkutan dapat dicegah dan

ditanggulangi dengan sebaik-baiknya.

Pembentukan undang-undang, belum sepenuhnya ideal. Kehadiran DPR dan DPD

yang oleh UUD 1945 keduanya diberi kewenangan bidang legislasi, praktik

checks and balances belum dapat dijalankan sepenuhnya karena kedudukan dan

kewenangan antara DPR dan DPD tidak seimbang16. Sehingga dalam

pembentukan undang-undang lebih didominasi oleh DPR. Andaipun ada usulan

RUU dari DPD, di disain UUD 1945 belum memungkinkan DPD ikut membahas

RUU tersebut bersama-sama DPR dan Presiden.

16

(24)

12 2.2.2. Prinsip Check and Balance Terhadap Kekuasaan Kehakiman

Hasil perubahan UUD 1945 melahirkan bangunan kelembagaan negara yang satu

sama yang lain dalam posisi setara melakukan kontroling (cheks and balances),

mewujudkan supremasi hukum dan keadilan serta menjamin dan melindungi hak

asasi manusia17. Semangat perubahan UUD 1945 adalah mendorong terbangunnya

struktur ketatanegaraan yang lebih demokratis, profesional dan proporsional.

Suatu konsekwensi logis bahwa Negara kesatuan Republik Indonesia sebagai

negara hukum adalah terjaminnya kekuasaan kehakiman yang merdeka untuk

menjalankan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan

Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 karena kekuasaan

kehakiman yang merdeka merupakan salah satu prisip penting bagi Indonesia

sebagai suatu negara hukum. Prinsip ini mengkehendaki kekuasaan kehakiman

yang bebas dari campur tangan pihak maupun dalam bentuk apapun, sehingga

dalam menjalankan tugas dan kewajibannya ada jaminan ketidakberpihakan

(independensi) kekuasaan kehakiman namun tidak melampaui kewenanganya

melalui sistem pengawasan dan keseimbangan (check and balance) sehingga

masing-masing cabang kekuasaan tidak saling menggerogoti ataupun terisolasi

dari yang lain

Judicial is of belonging to judgement in a court of law, or to a judge in relation

to this function pertaining to the administration of justice; proper to a court of

(25)

13 Kehakiman semestinya diadakan untuk mengadili di dalam sebuah pengadilan

hukum, atau untuk mengadili yang berkaitan dengan hukum administrasi yang

berarti Kehakiman merupakan lembaga peradilan hukum dalam kaitannya

dengan fungsi ini berkaitan dengan administrasi peradilan serta untuk pengadilan

atau mahkamah.

Menurut Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945

Kekuasaan Kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka yang dilakukan oleh

sebuah Mahkamah Agung dan Badan Peradilan dibawahnya dan oleh sebuah

Mahkamah Konstitusi untuk menyelenggarakan Peradilan guna menegakan

hukum dan keadilan. Sebagaimana klausul pasal 24A bahwa Mahkamah Agung

adalah pengadilan negara yang mempunyai kewenangan:

a. Mengadili pada tingkat kasasi terhadap putusan yang diberikan pada

tingkat terakhir oleh pengadilan disemua lingkungan peradilan yang berada dibawah Mahkamah Agung;

b. Menguji peraturan perundang-undangan dibawah undang-undang

terhadap undang-undang; dan

c. Kewenangan lainya yang diberikan undang-undang

Mahkamah konstitusi yang merupakan lembaga negara yang berfungsi menangani

perkara dibidang ketatanegaraan dalam rangka menjaga konstitusi agar

dilaksanakan secara bertanggungjawab sesuai dengan kehendak rakyat dan

cita-cita demokrasi. Sedangkan pasal 24C menyatakan bahwa Mahkamah Konstitusi

berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir dan putusanya bersifat

final untuk:

1. Menguji undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar tahun

(26)

14

2. Memutus sengketa kewenangan antar lembaga negara yang

kewenanganya diberikan oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

3. Memutus pembubaran partai politik; dan

4. Memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum.

Selain kewenangan diatas Mahkamah Konstitusi wajib memberikan putusan atas

pendapat Dewan Perwakilan Rakyat bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden

diduga telah melakukan pelanggaran hukum berupa penghianatan terhadap

negara, korupsi, penyuapan, tindak pidana berat lainya atau perbuatan tercela dan

atau tidak agi memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil Presiden.

Selain itu Undang-Undang Dasar 1945 telah mengintroduksikan lembaga baru

yang berkaitan dengan penyelenggaraan kekuasaan kehakiman yang mendisain

relasi antar lembaga negara dengan prinsip chek and balance yaitu Komisi

Yudisial dalam Pasal 24 B UUD Tahun 1945 yang memiliki kewenangan

mengusulkan pengangkatan hakim agung dan kewenangan lain dalam rangka

menjaga dan menegakan kehormatan keluhuran martabat serta prilaku hakim.

Dengan demikian kedudukan Mahkamah Agung, Mahkamah Konstitusi, dan

Komisi Yudisial adalah sama yaitu sama-sama mendapat kewenangan atribusi

dari Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Sebagai

lembaga negara yang mandiri

2.3. Kekuasaan Negara menurut Undang-Undang Dasar 1945

Seiring dengan perkembangan kesadaran demokrasi dan kenegaraan indonesia

(27)

15 perubahan yang signifikan berupa amandemen kesatu sampai dengan amandemen

keempat akibatnya sistem ketatanegaraan mengalami perkembangan.

Ketika membahas organisasi negara ada dua unsur pokok yang saling berkaitan

yaitu organ dan functie, organ adalah bentuk atau wadahnya sedangkan functie

adalah isinya dalam naskah Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia

Tahun 1945 organ-organ yang dimaksud ada yang disebut secara eksplisit hanya

fungsinya ada pula lembaga atau organ yang disebut bahwa baik namanya

maupun fungsinya atau kewenanganya akan diatur dalam undang-undang yang

lebih rendah.19 Telah diuraikan sebelumnya dalam Undang-Undang Dasar 1945

tidak kurang terdapat 34 organ yang disebutkan keberadaanya didalam UUD

1945. Organ-organ negara tersebut dapat dibedakan mejadi dua segi yaitu secara

hierarki dan dari segi fungsinya jika dilihat dari segi hierarki lembaga negara itu

dapat dibedakan menjadi tiga lapis, organ lapis pertama disebut lembaga tinggi

negara. Organ lapis kedua disebut lembaga negara sedangkan organ lapis ketiga

disebut lembaga daerah20

Lembaga-lembaga negara tersebut dapat dikatagorikan kedalam organ utama atau

primer (primary constitutional organ) dan ada pula yang merupakan organ

pendukung atau penunjang (auxiliary state organ) untuk membedakan keduanya

lembaga negara tersebut dibedakan menjadi tiga ranah yaitu kekuasaan eksekutif

19

Jimly Asshiddiqie, Perkembangan dan Konsolidasi Lembaga Negara Pasca Reformasi, Jakarta: Sinar Grafika, 2010, Hlm 84

20

(28)

16

atau pelaksana (administratur, bestuurzorg); kekuasaan legislatif dan fungsi

pengawasan; kekuasaan kehakiman atau fungsi yudisial.

Dalam cabang kekuasaan eksekutif atau pemeritahan negara ada presiden dan

wakil presiden yang merupakan kesatuan institusi. Pasal 4 ayat (1) UUD 1945

menyatakan “Presiden Republik Indonesia memegang kekuasaan pemerintah

menurut Undang-Undang Dasar” pada ayat (2) menyatakan “Dalam melakukan

kewajibanya Presiden dibantu oleh satu orang wakil presiden” hal ini cukup jelas

bahwa kekuasaa eksekutif atau pelaksana dipegang oleh presiden dan wakil

presiden.

Dalam cabang kehakiman dilaksanakan oleh Mahkamah Agung dan Mahkamah

Konstitusi tetapi adapula Komisi Yudisial sebagai lembaga pengawas martabat,

kehormatan dan prilaku hakim keberadaan fungsi komisi yudisial ini bersifat

penunjang (auxiliary) terhadap cabang kekuasaan kehakiman, komisi yudisial

bukanlah lembaga penegak hukum tetapi lembaga penegak etika hakim.

Ketentuan mengenai MA, MK dan KY diatur dalam Bab IX UUD 1945 tentang

kekuasaan kehakiman. Menurut Pasal 24 ayat (1) dan (2) UUD 1945 menyatakan;

1) Kekuasaan Kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakan hukum dan keadilan. 2) Kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan

badan peradilan yang berada dibwahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama, lingkungan peradilan tata usaha negara, lingkungan peradilan militer dan oleh sebuah Mahkamah Agung.

Pasal tersebut secara tegas menyatakan bahwa kekuasaan kehakiman yang

dijalankan oleh MA dan MK adalah kekuasaan yang merdeka atau

(29)

17 MA adalah puncak dari kekuasaan kehakiman dalam lingkungan peradilan umum,

peradilan agama, peradilan tata usaha negara dan peradilan militer, mahkamah ini

pada pokoknya merupakan pengawal undang-undang (the guardian of indonesian

law) sedangkan MK dibentuk untuk menjamin agar konstitusi sebagai hukum

tertinggi dapat ditegakna sebagaimana mestinya oleh karena itu MK disebut

sebagai (the guardian of the constitution).21

Sedangkan dalam fungsi pengawasan dan kekuasaan legislatif terdapat empat

organ atau lembaga yaitu Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Dewan Perwakilan

Daerah (DPD), Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Dalam UUD 1945

dalam rangka fungsi legislatif lembaga utamanya adalah DPR. Pasal 20 ayat (1)

menegaskan “Dewan Perwakilan Rakyat memegang kekuasaan membentuk

undang-undang”. Pembentukan DPD dimaksudkan dalam rangka mereformasi

struktur parlemen menjadi dua kamar (bikameral) sehingga diharapkan proses

legislasi dapat diselenggarakan dengan sistem double-check yang memungkinkan

representasi kepentingan seluruh rakyat dapat disalurkan dengan lebih luas. DPR

merupakan cermin representasi politik (political representatition) sedangkan DPD

mencerminkan representasi teritorial atau regional (regional representation).

2.4. Konstitusi dan Undang-Undang Dasar 1945

Istilah konstitusi berasal dari bahasa prancis (constituer) yang berarti membentuk.

Pemakaian istilah konstitusi yang dimaksudkan adalah pembentukan suatu negara

21

(30)

18

atau menyusun dan menyatakan suatu negara22 dinegara yang menggunakan

bahasa Inggris sebagai bahasa nasional dipakai istilah constitution yang dalam

bahasa Indonesia disebut konstitusi.23 Pengertian konstitusi dalam praktik dapat

berarti lebih luas dari pada Undang-Undang Dasar tetapi ada juga yang

menyamakan dengan Undang-Undang Dasar.

Sedangkan istilah Undang-Undang Dasar merupakan terjemahan istilah yang

dalam bahasa Belanda Gronwet perkataan wet diterjemahkan kedalam bahasa

Indonesia undang-undang, dan ground yang berarti tanah/dasar. Konstitusi pada

umumnya bersifat kodifikasi yaitu sebuah dokumen yang berisian aturan-aturan

untuk menjalankan suatu organisasi pemerintahan negara, namun dalam

pengertian ini, konstitusi harus diartikan dalam artian tidak semuanya berupa

dokumen tertulis (formal). Namun menurut para ahli ilmu hukum maupun ilmu

politik konstitusi harus diterjemahkan termasuk kesepakatan politik, negara,

kekuasaan, pengambilan keputusan, kebijakan dan distibusi maupun alokasi24

Dalam Oxford Dictionary of Law, perkataan constitution dapat diartikan sebagai

“the rule and practice that determine the composition and function of the

organs of the central and local goverment in a state and regulate the

relation between individual and the state”25

Artinya yang dinamakan konstitusi itu tidak saja aturan yang tertulis tetapi juga

apa yang dipraktikan dalam kegiatan penyelenggaraan negara dan yang diatur itu

22

Wirjono Projodikoro, Asas asas Hukum Tata Negara di Indonesia, (Jakarta: Dian Rakyat, 1989), hlm 10

23

Sri Soemanteri M, Susunan ketatanegaraan Menurut UUD 1945 dalam Ketatanegaraan Indonesia dalam Kehidupan Politik Indonesia, (Jakarta: Sinar Harapan, 1993), hlm 29

24

Ibid hlm 31

25

(31)

19 tidak saja yang berkenaan dengan organ negara berserta komposisi dan fungsinya

baik ditingkat pusat maupun ditingkat pemerintahan daerah (local goverment)

tetapi juga mekanisme hubungan antara negara atau organ negara itu dengan

warga negara.

Negar Inggris dan Israel saja yang sampai sekarang dikenal tidak memiliki satu

naskah tertulis yang disebut Undang-Undang Dasar. Undang-Undang Dasar di

kedua negara ini tidak pernah dibuat, tetapi tumbuh menjadi konstitusi dalam

pengalaman praktik ketatanegaraan namun para ahli tetap dapat menyebut adanya

konstitusi dalam konteks hukum tata negara Inggris.26 Jika antara norma yang

terdapat dalam konstitusi bersifat mengikat itu dipahami, diakui dan diterima oleh

subjek hukum yang terikat maka dinamakan konstitusi yang mempunyai nilai

normatif27

Menurut penulis Konstitusi memiliki pengertian yang lebih luas dan kompleks

karena konstitusi meliputi peraturan yang tertulis dan peraturan yang tidak tertulis

yang berkembang dan menjadi kebiasaan dimasyarakat, sedangkan

Undang-Undang Dasar adalah peraturan tertinggi dari pada undang-undang serta memiliki

kekuatan hukum sehingga dapat dikatakan bahwa UUD adalah bagian daripada

Konstitusi, konstitusi atau UUD diartikan sebagai suatu bentuk peraturan tentang

berbagai aspek yang mendasar dalam sebuah negara.

26

O. Hood Phillips, Constitutional and Administrative Law, 7th ed., (London: Sweet and Maxwell, 1987), hal. 5.

27

(32)

20 Mengenai hal pemahaman atau penafsiran atas Konstitusi yakni dengan

menggunakan metode interpretasi atau penafsiran baik terhadap undang-undang

maupun hukum, metode interpretasi28 yang lazim digunakan adalah sebagai

berikut:29

1. Interpretasi Gramatikal atau penafsiran menurut Bahasa

2. Interpretasi teleologis atau sosiologis

Asosiasi Pengajar Hukum Acara MK, Hukum Acara Mahkamah Konstitusi, (Jakarta: Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan MK, 2010), hlm 70

29

Interpretasi Gramatikal atau interpretasi menurut bahasa merupakan metode penafsiran yang paling sederhana untuk mengetahui makna ketentuan undang-undang untuk menguraikannya menurut bahasa, susunan kata atau bunyinya, ketentuan konstitusi atau undang-undang dijelaskan menurut bahasa sehari-hari yang umum tetapi tentunya tetap harus logis

Interpretasi teleologis atau sosiologis adalah apabila makna undang-undang ditetapkan berdasarkan tujuan kemasyarakatan dengan interpretasi teleologis ini undang-undang masih berlaku tetapi tidak sesuai lagi, diterapkan pada peristiwa, hubungan, kebutuhan masa kini atau peraturan yang lama dibuat aktual.

Interpretasi sistematis atau logis adalah menafsirkan undang-undang sebagai bagian dari keseluruhan sistem perundang-undangan dengan jalan menghubungkanya dengan undang-undang lain

Interpretasi historis adalah menafsirkan dengan cara meneliti sejarah pembentukan peraturan itu sendiri. Ada dua macam interpretasi historis yaitu:

1. Penafsiran menurut sejarah undang-undang; 2. Penafsiran menurut sejarah hukum.

Menurut sejarah undang-undang hendak dicari maksud ketentuan seperti yang dilihat atau dikehendaki oleh pembentuk undang-undang pada waktu pembentukanya, pikiran yang mendasari interpretasi ini adalah adalah undang-undang sebagai kehendak dari pembuat undang-undang dan disebut juga sebagai interpretasi subjektif karna penafsiran menempatkan diri pada penfsiran subjektif pembentuk undang-undang. Sedangkan metode interpretasi yang hendak memahami undang-undang dalam konteks seluruh sejarah hukum disebut Interpretasi menurut sejarah hukum Interpretasi komparatif atau perbandingan merupakan metode penafsiran dengan membandingkan antara beberapa aturan hukum. Tujuan membandingkan adalah untuk mencari kejelasan mengenai makna dari suatu ketentuan undang-undang, Interpretasi perbandingan dapat dilakukan dengan jalan membandingkan asas-asas hukumnya (rechtbeginselen) dalam peraturan perundang-undangan yang lain dan/atau aturan hukumnya (rechtregel), disamping perbandingan tentang latar belakang atau sejarah pembentukan hukumnya.

Interpretasi futuris atau metode penemuan hukum yang bersifat antisipasi adalah penjelasan ketentuan undang-undang yang belum mempunyai kekuatan hukum dan Interpretasi ini lebih bersifat ius constituendum ( hukum atau undang-undang yang dicitakan)

(33)

21

Interpretasi atau penafsiran konstitusi yang dapat digunakan dalam memberikan

penjelasan dan keterangan mengenai Konstitusi Negara Kesatuan Republik

Indonesia.

Konsensus yang menjamin tegaknya konstitusionalisme di zaman modern pada

umumnya dipahami bersandar pada tiga elemen kesepakatan (consensus)31, yaitu:

1. Kesepakatan (consensus) tentang tujuan atau cita-cita bersama (the general

goals of society or general acceptance of the same philosophy of government).

2. Kesepakatan tentang the rule of law sebagai landasan pemerintahan atau

penyelenggaraan negara (the basis of government).

3. Kesepakatan tentang bentuk institusi-institusi dan prosedur-prosedur

ketatanegaraan (the form of institutions and procedures).

Kesepakatan pertama yaitu berkenaan dengan cita-cita bersama sangat

menentukan tegaknya konstitusi dan konstitusionalisme karena cita-cita itulah

30

Ibid hlm 75

Interpretasi tekstual adalah penafsiran konstitusi dengan cara memberikan makna terhadap arti dari kata-kata terhadap dokumen atau teks yang dibuat oleh lemabaga legislatif ( meaning of the word in the legislatif text ) dengan kata lain penafsiran ini menekankan pada pengertian atau pemehaman terhadap kata-kata yang tertera dalam konstitusi atau undang-undang.

Interpretasi doktrinal dilakukan dengan cara memehami aturan undang-undang melalui sistem preseden atau melalui praktik peradilan dan metode penafsiran doktrinal ini banyak dipengaruhi oleh tradisi common law yang dilakukan sebagi pendekatanya.

Interpretasi struktural adalah menafsirkan dengan cara mengaitkan aturan dalam undang-undang dengan konstitusi atau Undang-Undang Dasar yang mengatur tentang struktur-struktur ketatanegaraan

Interpretasi etikal adalah metode penafsiran yang dilakukan dengan menurunkan prinsip-prinsip moral dan etik sebagaimana terdapat dalam konstitusi atau Undang-Undang Dasar, metode penafsiran ini dikonstruksikan dari tipe berpikir konstitusional dengan menggunakan metode pendekatan falsafati aspirasi atau moral.

31

(34)

22 yang menunjukan abstraksinya yang paling mungkin mencerminkan kesamaan

kepentingan diantara warga masyarakat yang hidup didalam pluralisme maka

diperlukan perumusan tujuan dan cita-cita bersama yang biasa disebut sebaagi

falsafah negara atau cita-cita Negara (Staatside) yang berfungsi sebagai

filosofische grondslag dan common platforms diantara sesama warga negara di

Indonesia dasar-dasar filosofis itulah yang disebut sebagai Pancasila32 yang berarti

lima sila atau lima prinsip dasar untuk mewujudkan tujuan negara.

Kesepakatan kedua adalah kesepakatan bahwa pemerintahan berdasarkan hukum

dan konstitusi, karena didalam setiap negara harus ada keyakinan bersama bahwa

apapun yang hendak dilakukan dalam konteks penyelenggaraan negara haruslah

didasarkan pada rule of the game33 yang ditetukan bersama, hal ini berarti hukum

dapat dipandang sebagai suatu kesatuan sistem yang puncaknya terdapat

pengertian mengenai hukum dasar yakni Konstitusi, dari sinilah kita mengenal

adanya istilah constitutional state yang merupakan ciri penting dari negara

demokrasi, maka kesepakatan tentang sistem aturan sangat penting sehingga

konstitusi sendiri dapat dijadikan pegangan tertinggi dalam memutuskan segala

sesuatu yang harus didasarkan pada hukum.

32

Lima prinsip atau lima dasar itu mencakup sila: (i) Ketuhanan yang Maha Esa; (ii) Kemanusiaan yang Adil dan Beradab; (iii) Persatuan Indonesia; (iv) Kemanusiaan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan; dan (v) Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Kelima sila itulah yang dipakai sebagai dasar filosofis-ideologis untuk mencapai tujuan atau cita-cita negara, yaitu: (i) melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia; (ii) meningkatkan kesejateraan umum; (iii) mencerdaskan kehidupan bangsa; dan (iv) ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan perdamaian yang abadi, dan keadilan sosial

33

Rule of the game dipelopori oleh A.V. Dicey, bahkan di Amerika serikat dikembangkan menjadi

(35)

23

Kesepakatan ketiga adalah berkenaan dengan bangunan organ negara dan

prosedur-prosedur yang mengatur kekuasaanya; hubungan-hubungan antar

organ-organ itu satu sama lain; serta hubungan antara organ-organ-organ-organ negara itu dengan

warga negara. Dengan adanya kesepakatan ini maka isi konstitusi dapat dengan

mudah dirumuskan karenabenar-benar mencerminkan keinginan bersama

berkenaan dengan institusi kenegaraan dan mekanisme ketatanegaraan yang akan

dikembangkan.

Perubahan Konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Memuat sejarah

Ketatanegaraan Republik Indonesia telah beberapa kali terjadi pergantian

Konstitusi. Undang-Undang Dasar 1945 yang dibentuk atau disusun oleh Badan

Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Panitia

Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) sebagai hukum dasar bagi Negara

Kesatuan Republik Indonesia yang kemerdekaanya diproklamasikan pada tanggal

17 agustus 1945. Pada tahun 1949 ketika bentuk negara Republik Indonesia

berubah menjadi Negara Serikat (Federasi) diadakan pergantian konstitusi dari

UUD tahun 1945 ke Konstitusi Republik Indonesia Serikat tahun 1949 yang

kemudian pada tahun 1950 ketika bentuk negara Indonesia berubah kembali

menjadi negara Kesatuan, Konstitusi RIS 1949 diganti dengan Undang-Undang

Dasar Sementara (UUDS) tahun 1950.34 Kemudian dibentuklah lembaga

34

(36)

24 konstituante yang bertugas membentuk dan menyusun konstitusi yang bersifat

tetap dari tahun 1956-1959 akan tetapi usaha ini gagal dilaksanakan. Kemudian

pada 5 juli 1959, Presiden Soekarno mengeluarkan keputusan yang dikenal

dengan Dekrit Presiden 5 juli 195935 membubarkan Konstituante dan menetapkan

berlakunya kembali UUD tahun 1945 menjadi Konstitusi Indonesia hingga saat

ini.

Konstitusi juga tidak boleh disakralkan dari kemungkinan perubahan seperti yang

terjadi pada masa Orde Baru. Perubahan UUD tahun 1945 sebagai agenda utama

era reformasi mulai dilakukan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) pada

tahun 1999. Pada sidang tahunan MPR 1999, seluruh fraksi di MPR membuat

kesepakatan arah perubahan UUD 1945, yaitu:36

1. sepakat untuk tidak mengubah Pembukaan UUD tahun 1945;

2. sepakat untuk mempertahankan bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia; 3. sepakat untuk mempertahankan sistem presidensil;

4. sepakat untuk memindahkan hal-hal normatif yang ada dalam penjelasan UUD 1945 kedala pasal-pasal UUD 1945; dan

5. sepakat untuk menempuh cara adendum dalam melakukan amandemen terhadap UUD 1945.

35

Dengan tidak berhasilnya Konstituante Republik Indonesia menyusun UUD baru, UUD 1945 diberlakukan kembali dengan Keputusan Presiden Nomor 150 Tahun 1959. dari sejarah berlakuknya UUD di Indonesia, ternyata UUD itu pernah dinyatakan berlaku dengan berbagai cara; yaitu pertama, dilakukan dengan maklumat, yakni Maklumat Wakil Presiden Nomor X Tahun 1945 tanggal 16 Oktober 1945, dan Maklumat Pemerintah tanggal 14 November 1945; kedua, dilakukan dengan Keputusan Presiden Nomor 150 Tahun 1959 mengenai Dekrit Presiden Republik Indonesia/Panglima Tertinggi Angkatan Perang tentang Kembali kepada Undang-Undang Dasar 1945; dan ketiga, sejak sidang umum Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) IV perubahan dilakukan dengan menggunakan Ketetapan MPR(S).

36

(37)

25 Perubahan kemudian terjadi secara bertahap menjadi salah satu agenda sidang

tahunan MPR37 dan bersamaan dengan kesepakatan dibentuk pula Komisi

Konstitusi yang bertugas melakukan pengkajian secara komprehensif tentang

perubahan UUD tahun 1945 berdasarkan Ketetapan MPR No. I/MPR/2002

tentang Pembentukan Komisi Konstitusi.

Perubahan pertama dalam sidang tahunan MPR tahun 1999 yang arahnya

membatasi kekuasaan Presiden dan memperkuat kedudukan Dewan Perwakilan

Rakyat (DPR) sebagai lembaga legislatif.38Perubahan kedua dilakukan dalam

sidang tahunan MPR tahun 2000 meliputi masalah wilayah negara dan pembagian

pemerintah daerah, menyempurnakan perubahan pertama dalam hal memperkuat

kedudukan DPR, dan ketentuan-ketentuan yang terperinci dalam HAM.39

Perubahan ketiga yang ditetapkan pada Sidang Tahunan MPR Tahun 2001

meliputi ketentuan tentang Asas-asas landasan bernegara dan hubungan antar

lembaga negara dan ketentuan-ketentuan tentang Pemilihan Umum.40 Perubahan

keempat dilakukan dalam Sidang Tahunan MPR tahun 2002 meliputi ketentuan

37

Sidang Tahunan MPR baru dikenal ada masa reformasi berdasarkan pasal 49 dan Pasal 50 TAPMPR No. II/MPR/1999 tentang Peraturan Tata Tertib MPR

38

Ditetapkan pada tanggal 19 Oktober 1999. Meliputi pasal 5 ayat (1), Pasal 7, Pasal 9, Pasal 13 ayat (2), Pasal 14, Pasal 15, Pasal 17 ayat (2) dan( 3), Pasal 20, dan Pasal 22 UUD 1945.

39

Ditetapkan pada tanggal 18 Agustus 2000. Meliputi Pasal 18, Pasal 18A, Pasal 18B, Pasal 19, Pasal 20 ayat (5), Pasal 20A, Pasal 22A, Pasal 22B, Bab IXA, Pasal 28A, Pasal 28B, Pasal 28C, Pasal 28C, Pasal 28D, Pasal 28E, Pasal 28F, Pasal 28G, Pasal 28H, Pasal 28I, Pasal 28J, Bab XII, Pasal 30, Bab XV, Pasal 36A, Pasal 36B, dan Pasal 36C UUD 1945.

40

(38)

26 tentang kelembagaan negara dan hubungan antar lembaga negara, pengahapusan

Dewan Pertimbangan Agung (DPA), ketentuan tentang pendidikan dan

kebudayaan, ketentuan tentang perekonomian dan kesejahteraan sosial, dan aturan

peralihan serta aturan tambahan.41

Perubahan diatas hampir meliputi keseluruhan materi UUD 1945. Jika naskah asli

UUD 1945 berisi 71 butir ketentuan, maka setelah empat kali mengalami

perubahan, materi muatan UUD 1945 mencakup 199 butir ketentuan. Namun

sesuai dengan kesepakatn MPR yang kemudian menjadi lampiran dari TAPMPR

No. IX/MPR/1999, Pembukaan UUD 1945 tidak akan diubah karena memuat

cita-cita bersama sebagai puncak abstraksi yang mencerminkan kesamaan-kesamaan

kepentingan diantara warga masyarakat yang kenyataanya hidup dalam

pluralisme. Pembukaan UUD 1945 juga memuat tujuan-tujuan atau cita-cita

bersama yang biasa disebut sebagai falsafah kenegaraan atau Staatsidee. (cita

negara). Perkembangan sejarah penyelenggaraan pemerintahan di Indonesia

sejalan dengan perkembangan kehidupan konstitusional dan politik, secara umum

dikatagorikan kedalam empat yang mewarnai penyelenggaraan negara yaitu

sistem politik demokrasi liberal-parlementer (1945-1959), terpimpin (1959-1966),

demokrasi Pancasila (1966-1998) dan demokrasi berdasarkan UUD42.

41

Ditetapkan pada tanggal 10 Agustus 2002. Perubahan dan atau penambahan dalam Perubahan Keempat ini meliputi Pasal 2 ayat (1); Pasal 6A ayat (4); Pasal 8 ayat (3); Pasal 11 ayat (1); Pasal 16, Pasal 23B; Pasal 23D; Pasal 24 ayat (3); Bab XIII, Pasal 31 ayat (1), (2), (3), (4), dan (5); Pasal 32 ayat (1), (2), (3), dan (4); Bab IV, Pasal 33 ayat (4) dan (5); Pasal 34 ayat (1), (2), (3), dan (4); Pasal 37 ayat (1), (2), (3), (4), dan (5); Aturan Peralihan Pasal I, II, dan III; Aturan Tambahan Pasal I dan II UUD 1945.

42

(39)

1 III. METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian hukum normatif (normative legal research)

yaitu penelitian yang dilakukan dengan cara melakukan pengkajian

perundang-undangan yang berlaku dan diterapkan terhadap suatu permasalahan hukum

tertentu1

3.2 Tipe Penelitian

Penulisan ini, tipe penelitian yang dipakai adalah tipe penelitian deskriptif

analisis, yaitu dengan melakukan penelitian dan menganalisa dengan cara

memahami, menerangkan pasal-perpasal secara jelas, terperinci, dan sistematis

sehingga di peroleh informasi serta tafsiran atas suatu permasalahan yang belum

sepenuhnya di mengerti dan/atau masih terdapat perbedaan pendapat mengenai

permasalahan tersebut.

1

(40)

2 3.3 Pendekatan Masalah

Pendekatan masalah yang digunakan dalam penulisan ini adalah pendekatan

normatif. Yaitu penelitian hukum yang dilakukan dengan cara meneliti bahan

pustaka (library research)2 atau data sekunder. Masalah yang akan dikaji akan

dikembalikan terhadap ketentuan yang telah diatur di dalam Undang-Undang

Dasar 1945 serta aturan-aturan lain yang juga berkaitan dengan permasalahan

yang akan dibahas. Peter Mahmud Marzuki mengatakan bahwa pendekatan

undang-undang (statute approach), yang menurut tulisan ini disebut pendekatan

yuridis normatif adalah pendekatan dengan menelaah semua undang-undang dan

regulasi yang terkait dengan isu hukum yang sedang ditangani3.

3.4 Sumber Data

Penelitian ini menggunakan alat pengumpulan bahan hukum atau data yang

diperoleh dari studi kepustakaan dalam studi tersebut sebagaimana di bawah ini :

1. Bahan Hukum Primer

Bahan hukum primer dalam penelitian ini adalah bahan hukum yang

bersifat autoriatif artinya mempunyai sifat memaksa4. Bahan hukum

primer bersumber dari berbagai peraturan perundang-undangan yang

berkaitan tentang permasalahan dalam penulisan. Bahan-bahan hukum

primer terdiri dari:

a. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

2

Soerjono Soekanto dan Sri Madmuji, Penelitian Hukum Normatif, dalam Muhtadi, Pengawasan Hakim di Indonesia, padang, 2008. hlm 33

3

Peter Mahmud, Penelitian Hukum, Edisi Pertama Cetakan ke-4 (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, , Jakarta, 2008), hal.93.

4

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...