ABSTRACT
INFLUENCE OF CARTOON SERIAL OF UPIN, IPIN DAN KAWAN-KAWAN THEME OF RAMADHAN AMONG CHILDREN’S ATTITUDE
(Study on Students in 5th Grade in SD Negeri I Jati Indah on Tanjung Bintang, Subdistrict of Lampung Selatan)
By
NOVA RIZQI PUTRI
Television is one of the most mass media type enthused by society because it's superiority in pampering society through it's ability of visual audio which is easy to be understood. Television universally also can reach audience from various economic class of society and also can reach audience in various area, either in rural and also urban.
One of TV programs which is served by television is film. But not all type of films are good to be watched, especially by children. We have to choose some good TV programs for children, because children usually imitative what they get from television. One of good TV programs for children is Cartoon Serial of Upin, Ipin dan Kawan-kawan Theme of Ramadhan. Not like the the other children’s TV programs, this TV program is fully equipped with education and Islamic nuance.
Formulation of the problem in this research is : “How is the influence of Cartoon Serial of Upin, Ipin dan Kawan-kawan theme of Ramadhan among children’s attitude?”. The purpose of this research is to find out the influence of Cartoon Serial of Upin, Ipin dan Kawan-kawan theme of Ramadhan among children’s attitude.
This research uses a type of descriptive with quantitative approach. Sample in this research consist of 55 students in SDN I Jati Indah, Tanjung Bintang subdistrict of South Lampung. Primary data collection is done using questionnaires, then the data were analyzed quantitatively using simple linear regression formula.
ABSTRAK
PENGARUH SERIAL KARTUN UPIN,IPIN DAN KAWAN-KAWAN TEMA RAMADHAN TERHADAP SIKAP ANAK
(Studi Pada Siswa dan Siswi Kelas V SD Negeri I Jati Indah Kecamatan Tanjung Bintang, Kabupaten Lampung Selatan)
Oleh
NOVA RIZQI PUTRI
Televisi merupakan salah satu jenis media massa yang paling diminati oleh masyarakat karena keunggulannya dalam memanjakan masyarakat melalui kemampuan audio visualnya yang mudah untuk dicerna. Televisi secara universal juga mampu untuk menjangkau audiens dari berbagai lapisan ekonomi masyarakat, yaitu kecil, menengah, maupun atas, serta dapat menjangkau audiens di berbagai daerah, baik di pedesaan maupun perkotaan.
Salah satu tayangan yang disuguhkan oleh televisi adalah film. Namun tidak semua jenis film baik untuk ditonton, khususnya oleh anak-anak. Kita harus dapat memilih tayangan yang baik bagi anak-anak, karena pada umumnya anak-anak suka meniru tindakan yang mereka dapatkan dari televisi. Salah satu tayangan yang baik bagi anak-anak adalah Serial Kartun Upin, Ipin dan Kawan-kawan Tema Ramadhan karena tayangan ini sarat edukasi dan nuansa yang islami. Penelitian ini diangkat karena Serial Kartun Upin, Ipin dan Kawan-kawan merupakan salah satu tayangan yang menjadi fenomena atau trend tersendiri di tanah air. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Seberapa besarkah pengaruh serial kartun Upin, Ipin dan Kawan-Kawan Tema Ramadhan terhadap sikap anak?”. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar pengaruh serial kartun Upin, Ipin dan Kawan-Kawan terhadap sikap anak.
Penelitian ini menggunakan tipe penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Sampel yang diambil adalah siswa dan siswi kelas V SD Negeri I Jati Indah Kecamatan Tanjung Bintang, Kabupaten Lampung Selatan yang berjumlah 55 orang. Pengumpulan data primer dilakukan dengan menggunakan kuesioner, selanjutnya data dianalisis secara kuantitatif menggunakan rumus regresi linier sederhana.
BAB I PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang Masalah
Televisi merupakan salah satu jenis media massa yang paling diminati oleh masyarakat karena keunggulannya dalam memanjakan masyarakat melalui kemampuan audio visualnya yang mudah untuk dicerna. Televisi secara universal juga mampu untuk menjangkau audiens dari berbagai lapisan ekonomi masyarakat, yaitu kecil, menengah, maupun atas, serta dapat menjangkau audiens di berbagai daerah, baik di pedesaan maupun perkotaan.
Bagi anak, kehadiran televisi ini selain bisa dijadikan alat bermain, juga sebagai salah satu teman yang setia ketika anak merasa kesepian dan tidak mempunyai kegiatan. Berkaitan dengan hal ini, penelitian Greenberg mengungkapkan adanya delapan motif mengapa anak menonton televisi, yaitu: untuk mengisi waktu, melupakan kesulitan, mempelajari sesuatu, mempelajari diri, memberi rangsangan, bersantai, mencari persahabatan dan sekedar kebiasaan. Adanya motif pada anak mengapa anak menonton televisi ini, dapat dijadikan dasar bahwa anak telah menentukan salah satu pilihannya yang paling disenangi dan anak puas dengan pilihannya ini (Hidayati,1998:76).
oleh sifatnya yang audio visual, sehingga informasi yang disampaikan menjadi sangat mudah diterima dan dicerna oleh pemirsa, bahkan oleh anak sekalipun (Hidayati, 1998:76).
Salah satu tayangan yang disuguhkan oleh televisi adalah film. Film merupakan media komunikasi sosial yang terbentuk dari penggabungan dua indera, pendengaran dan penglihatan, yang mempunyai inti atau tema sebuah cerita yang banyak mengungkapkan realita sosial yang terjadi di sekitar lingkungan tempat di mana film itu sendiri tumbuh. Film sendiri dapat juga berarti sebuah industri, yang mengutamakan eksistensi dan ketertarikan cerita yang dapat mengajak banyak orang terlibat.
Film juga dianggap sebagai media massa karena film merupakan alat yang digunakan untuk mengkomunikasikan mengenai suatu informasi kepada khalayak. Selain itu, film mampu mempengaruhi audiens dari segi pembentukan sikap, nilai dan persepsi individu. Salah satu jenis film yang paling digemari oleh anak-anak adalah film kartun atau animasi. Secara umum, animasi dapat didefinisikan sebagai seni atau teknik membuat hidup dan bergeraknya suatu objek diam dan tidak bergerak. Namun tidak semua jenis film kartun baik untuk disaksikan oleh anak-anak, karena terdapat beberapa film kartun yang menyuguhkan adegan kekerasan yang dapat merusak moral anak-anak (Aditya, 2009:3).
serial kartun ini sangat baik untuk ditonton karena sarat edukasi dan nuansa yang islami. Serial kartun Upin, Ipin dan Kawan-Kawan mengandung begitu banyak cerita yang mendidik dan mencerdaskan bagi penontonnya.
Serial kartun yang bercerita tentang kehidupan anak-anak yang dibalut dengan nuansa lokal melayu justru memberikan nuansa berbeda dengan tampilan-tampilan film atau program-program anak-anak yang lain. (http://mediaanakindonesia.wordpress.com. Diakses pada tanggal 24 Februari 2011). Berbeda dengan tayangan sarat nilai edukasi lainnya seperti Si Bolang, Laptop Si Unyil serta Dora The Explorer yang lebih banyak memuat ilmu pengetahuan, serial kartun Upin, Ipin dan Kawan-kawan lebih dapat mudah dicerna dan digemari oleh anak-anak. Hal ini dikarenakan serial kartun Upin, Ipin dan Kawan-kawan mengangkat tema tentang kehidupan sehari-hari anak-anak dengan alur cerita yang sangat simple dan dikemas secara menarik. Selain itu, keunikan dari serial kartun Upin, Ipin dan Kawan-kawan ini terletak pada bahasa yang mereka gunakan yaitu bahasa Malaysia. Meskipun menggunakan bahasa Malaysia, namun anak-anak tetap dapat memahami alur ceritanya karena bahasa Malaysia memiliki arti yang tidak jauh berbeda dengan bahasa Indonesia. Selain itu, terdapat terjemahan dalam bahasa Indonesia dari setiap percakapannya.
Upin, Ipin dan Kawan-Kawan sendiri adalah serial animasi mengenai dua anak kembar berusia lima tahun yang bernama Upin dan Ipin. Serial produksi Les’ Copaque ini pertama
kali ditayangkan di TV9 Malaysia pada 14 September 2007. Upin, Ipin dan Kawan-Kawan merupakan sebuah film kartun berdurasi pendek, rata-rata sepuluh menit. Penyajiannya sangat simple dan menggunakan bahasa sehari-hari khas anak-anak, sehingga mudah ditangkap meskipun menggunakan bahasa melayu.
Mulanya, film ini bertujuan untuk mendidik anak-anak agar menghayati bulan Ramadhan. Nizam Abdul Razak percaya aspek kebudayaan Malaysia yang berlatarkan sebuah kampung yang sederhana dapat menarik minat pasar internasional. Hal ini juga terbukti pada serial kartun Upin, Ipin dan Kawan-Kawan yang sangat digemari di berbagai negara seperti Turki, Indonesia, dan beberapa negara lainnya. Meskipun dalam penayangannya serial kartun Upin, Ipin dan Kawan-Kawan menggunakan bahasa Malaysia, namun anak-anak dapat dengan mudah menyerap serta memahami alur cerita serta pesan yang terdapat di dalam serial kartun Upin dan Ipin. Hal ini dikarenakan bahasa Malaysia memiliki arti yang tidak jauh berbeda dengan bahasa Indonesia.
Di tengah kuatnya arus modernitas di kalangan anak-anak, serial kartun Upin dan ipin mampu menyuguhkan sajian yang berbeda. Serial kartun Upin dan Ipin banyak menyajikan nilai-nilai tradisional yang sudah hampir tidak pernah dilakukan oleh anak-anak pada saat ini. Dapat kita temukan di dalam beberapa episode, terdapat adegan di mana Upin dan Ipin serta kawan-kawannya sedang memainkan permainan tradisional. Selain itu, serial kartun Upin dan Ipin juga mengangkat cerita tentang sopan santun serta tata krama di dalam kehidupan sehari-hari yang selama ini sudah jarang dilakukan oleh anak-anak.
anak-anak. Selain itu, episode tema Ramadhan ini juga memberikan pengetahuan mengenai apa saja yang dilakukan pada saat bulan Ramadhan, seperti membaca niat berpuasa sebelum sahur, membaca doa berbuka puasa, menahan hawa nafsu, serta sholat tarawih.. Hal ini diharapkan akan menumbuhkan motivasi kepada anak-anak untuk lebih taat kepada Allah serta taat dalam menjalankan ibadah mereka tanpa mengharapkan imbalan apapun.
Seperti yang kita ketahui, saat ini sebagian besar anak-anak meminta hadiah kepada orangtua mereka sebagai imbalan atau puasa yang mereka jalani. Selain itu, banyak diantara mereka yang belum menjalankan puasa sehari penuh meskipun usia mereka bisa dikatakan sudah cukup mampu untuk menjalankan ibadah puasa.
Di dalam episode ini diceritakan bahwa Upin, Ipin dan kawan-kawannya akan menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Sebelum menjalankan ibadah puasa, Cikgu Jasmin memberi penjelasan kepada Upin, Ipin dan kawan-kawan tentang arti dan pentingnya puasa di sekolah mereka, yaitu Tadika Mesra. Saat di rumah pun, Upin dan Ipin juga mendapat penjelasan dari Opah dan Kak Ros mengenai bulan puasa. Pada malam harinya mereka melaksanakan sholat tarawih di masjid bersama Opah dan Kak Ros. Opah dan Kak Ros juga member pengertian kepada Upin dan Ipin bahwa puasa tidak hanya menahan haus dan lapar, tetapi juga harus menahan hawa nafsu. Pada serial kartun bertema ramadhan ini, anak-anak juga mendapat pelajaran tentang kewajiban membayar zakat.
tradisi-tradisi yang hampir hilang dan biasa dilakukan pada saat bulan ramadhan yang saat ini sudah tidak terlalu mendapat perhatian dari anak-anak. Anak-anak pun tidak terlalu sulit untuk memahami cerita dari serial kartun Upin, Ipin dan kawan-kawan tema Ramadhan ini karena tradisi yang dilakukan oleh Upin, Ipin dan kawan-kawan tidak jauh berbeda dengan tradisi yang ada di Indonesia.
Dengan bahasa melayunya serta keluguan khas anak-anak, Upin dan Ipin serta kawan-kawannya menyampaikan beragam cerita yang ada di dalam kehidupan sehari-hari secara ringan sehingga mudah ditangkap oleh anak-anak. Selain sarat akan nilai-nilai edukasi dan budi pekerti yang patut diserap anak-anak di tengan kisahnya yang menghibur, teknologi animasi yang lebih berwarna dan halus juga menjadi keunggulan dari tayangan berdurasi 30 hingga 60 menit ini.
Sikap sendiri merupakan hal terpenting dalam kehidupan manusia, karena sikap diri manusia akan memberi warna atau corak pada tingkah laku atau perbuatan orang tersebut. Pembentukan dan perubahan sikap tidak terjadi dengan sendirinya. Sikap terbentuk dalam hubungannya dengan suatu objek, orang, kelompok, nilai, lembaga, melalui hubungan antar individu,hubungan di dalam kelompok, komunikasi surat kabar, buku, poster, radio, televisi, dan sebagainya, terdapat berbagai kemungkinan yang mempengaruhi timbulnya sikap. Lingkungan yang terdekat dengan kehidupan sehari-hari banyak memiliki peranan. Keluarga yang terdiri dari orangtua, saudara-saudara di rumah memiliki peranan yang penting. Oleh sebab itu, penulis ingin meneliti lebih lanjut tentang sikap anak di dalam penelitian ini.
sosok karakter dan kepribadiannya. Anak juga dianggap sebagai media penyampai pesan kepada orang tua mereka, karena jika mereka mendapatkan pengalaman dan informasi baru, mereka cenderung akan berbagi dan bercerita kepada orang terdekat mereka khususnya orangtua.
Anak-anak yang dimaksud di dalam penelitian ini adalah anak-anak yang berusia 6 sampai 12 tahun. Adapun alasan penentuan anak usia 6 sampai 12 tahun, yakni karena karena anak usia 6 sampai 12 tahun sudah dapat mengenal logika, simbol, dan komunikasi yang memungkinkan mereka menyerap dan memahami simbol-simbol komunikasi yang diperoleh langsung atau melalui media (Suhartin, 1986 : 98). Media yang dimaksud di dalam penelitian ini adalah serial kartun Upin, Ipin dan Kawan-kawan tema Ramadhan.
Pemilihan sasaran khalayak siswa dan siswi SD Negeri I Jati Indah Tanjung Bintang sebagai pemirsa tayangan serial kartun Upin, Ipin dan Kawan-kawan tema Ramadhan pada penelitian ini dikarenakan berdasarkan hasil pra riset yang dilakukan pada tanggal 13 Oktober 2011, sebagian besar siswa dan siswi SD Negeri I Jati Indah Tanjung Bintang menyatakan pernah menyaksikan tayangan serial kartun Upin, Ipin dan Kawan-Kawan tema Ramadhan.
1.2Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah tersebut, maka dapat dirumuskan permasalahannya sebagai berikut: “Seberapa besarkah pengaruh serial kartun Upin, Ipin dan Kawan-Kawan Tema Ramadhan terhadap sikap anak?”.
1.3Tujuan dan Kegunaan Penelitian
a. Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh serial kartun Upin, Ipin dan Kawan-Kawan Tema Ramadhan terhadap sikap anak.
b. Kegunaan Penelitian
1. Secara teoritis, penelitian ini diharapkan mampu menambah wawasan bagi pengembangan Ilmu Komunikasi
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Penelitian Terdahulu
Penulis akan melakukan penelitian yang berjudul: “Pengaruh Serial Kartun Upin, Ipin dan Kawan-kawan Tema Ramadhan Terhadap Sikap Anak (Studi Pada SDN I Jati Indah Tanjung Bintang, Kabupaten Lampung Selatan”. Dalam kaitannya dengan penelitian ini, maka penulis mencantumkan beberapa penelitian terdahulu, yaitu:
Pada skripsi Cita Martini (2008) yang berjudul “Pengetahuan Dalam Tayangan Laptop Si Unyil Pada Anak”. Penelitian ini lebih memfokuskan pada pentingnya pengetahuan yang
terdapat di dalam tayangan Laptop Si Unyil yang diserap oleh anak, sehingga dapat disimpulkan hasil penelitiannya sebagai berikut:
1. Pengetahuan yang telah diperoleh dapat hilang karena meluruhnya pengetahuan oleh waktu atau pengetahuan telah lama dan kurangnya perhatian anak-anak saat proses penyerapan dan penyimpanan pengetahuan dalam memori.
Perbedaan dari penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan oleh penulis adalah penulis lebih mengkhususkan penelitian kepada pengaruh dari tayangan serial Upin & Ipin dan kawan-kawan terhadap sikap anak.
Selanjutnya pada skripsi Etris Miradesi (2009) yang berjudul: “Pengaruh Tayangan Sinetron
Legenda Di Televisi Terhadap Sikap Anak”. Dari penelitian tersebut, diketahui bahwa
terdapat pengaruh Sinetron sinema Legenda terhadap sikap anak sebesar 24,9%. Angka tersebut menunjukkan bahwa pengaruh yang kecil dalam tayangan sinetron sinema Legenda di televisi. Dan sesuai dengan teori belajar sosial yang menyatakan bahwa proses pembelajaran tidak berasal dari lingkungan yang ada saja, tetapi juga dari media yang ada di sekitarnya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa teori S-O-R dan teori belajar sosial mempunyai fungsi mempengaruhi pemirsanya untuk melakukan tindakan tertentu sesuai dengan yang disajikan oleh media massa tersebut telah terbukti.
Penelitian terdahulu ini memiliki banyak kesamaan baik dilihat dari subjek maupun objek penelitian. Sehingga penulis menggunakan beberapa referensi yang terdapat di dalam penelitian terdahulu tersebut.
2.2Tinjauan Mengenai Komunikasi Massa
Menurut Onong Uchjana Effendy (2004:9) mengemukakan bahwa istilah komunikasi atau dalam Bahasa Inggris adalah communication berasal dari kata latin communication yang bersumber dari kata communis yang berarti sama. Sama di sini maksudnya adalah sama makna.
(source,communicator, sender) ditujukan kepada penerima pesan (receiver, communicant, audience). Dalam proses komunikasi tersebut diusahakan melalui tukar menukar pendapat, penyampaian pesan informasi, serta perubahan sikap dan perilaku. Pada hakikatnya setiap proses komunikasi terdapat unsur-unsur tersebut, yaitu sumber pesan, saluran dan penerima di samping masih terdapat pula unsur pengaruh (effect) dan umpan balik (feedback).
Komunikasi massa kita adopsi dari istilah Bahasa Inggris, mass communication, kependekan dari mass media communication (komunikasi media massa) yang artinya adalah komunikasi yang menggunakan media massa atau komunikasti yang “mass mediated” (Wiryanto, 2002:2). Komunikasi massa adalah komunikasi yang ditujukan kepada masyarakat atau komunikasi yang menggunakan media massa. Massa adalah kumpulan orang-orang yang hubungan antar sosialnya tidak jelas dan tidak mempunyai struktur tertentu (Widjaja, 2003:37).
2.2.1 Unsur-unsur Komunikasi Massa
Komunikasi massa terdiri dari unsur sumber (source), pesan (message), saluran (channel) dan penerima (receiver) serta efek (effect).
1. Unsur Who (sumber atau komunikator)
2. Unsur Says What (pesan)
Orang memiliki rasio yang tinggi atas masukannya, maka orang sanggup melakukan encode ribuan atau jutaan pesan-pesan yang sama pada saat bersamaan. Jadi, pesan-pesan komunikasi massa dapat diproduksi dalam jumlah yang sangat besar dan dapat menjangkau audiens yang sangat banyak jumlahnya. Pesan adalah keseluruhan dari apa yang disampaikan oleh komunikator. Pesan ini mempunyai pesan (tema) yang sebenarnya menjadi pengaruh di dalam usaha mencoba mengubah sikap tingkah laku komunikan (Widjaja, 1998:32).
3. Unsur In Which Channel (saluran atau media)
Unsur ini menyangkut semua peralatan mekanik yang digunakan untuk menyebarluaskan pesan-pesan komunikasi massa. Tanpa saluran ini, pesan-pesan tidak dapat menyebar secara cepat, luas dan simultan. Media yang mempunyai kemampuan tersebut adalah surat kabar, majalah, radio, film, televisi dan internet. Yang dipelajari di sini bukan aspek-aspek teknis dari media itu, melainkan aspek psikologi sosialnya. Misalnya, kapasitas dan ciri-ciri dari masing-masing media dalam membawakan pesan-pesan komunikasi, fungsi dan peranannya dalam kehidupan sosial psikologis masyarakat serta efek yang ditimbulkan.
4. Unsur To Whom (penerima atau mass audience)
Unsur ini menyangkut sasaran-sasaran komunikasi massa seperti perorangan-perorangan yang membaca surat kabar, yang membuka halaman-halaman majalah, yang sedang mendengarkan berita radio, yang sedang menikmati film atau yang sedang menonton televisi dan yang sedang menggunakan internet, disebut sebagai perorangan-perorangan dalam mass audience.
5. Unsur With What Effect (unsur efek atau akibat)
Unsur ini sesungguhnya lekat pada unsur audiens. Efek adalah perubahan-perubahan yang terjadi di dalam diri audiens sebagai akibat keterpaan pesan-pesan media. David Berlo dalam Wiryanto (2000:9) mengklasifikasikan efek atau perubahan ke dalam tiga kategori yaitu perubahan dalam ilmu pengetahuan, sikap dan perilaku nyata.
2.2 Tinjauan Mengenai Media Massa
Media massa adalah saluran komunikasi yang dapat menjangkau khalayak dalam jumlah yang besar, heterogen dan terpencar-pencar serta bagi komunikator yang menyebarkan pesannya bersifat abstrak. Media tersebut meliputi televisi, radio, pers, dan film sebagai cirinya yang utama menimbulkan keserempakan dan keserentakan pada khalayak saat diterpa pesan (Effendy, 1992:62). Media massa dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai alat atau sarana dan saluran komunikasi resmi untuk menyebarkan berita dan pesan kepada masyarakat luas (2005:640).
Sedangkan menurut Soehoet (2003:28) media massa adalah media yang ditujukan kepada khalayak orang, memiliki komunikan lebih dari satu orang, yang satu sma lain umumnya tidak saling mengenal, dan tempat tinggalnya berlainan. Lebih lanjut dijelaskan tentang peran dan fungsi media massa sebagai berikut:
1. Pengetahuan : menyediakan informasi tentang peristiwa dan kondisi masyarakat dan dunia.
mengkoordinasikan kegiatan, membentuk kesepakatan serta menentukan urutan prioritas dan memberikan status relatif.
3. Kesinambungan : mengekspresikan budaya dominan dan mengakui keberadaan khusus serta perkembangan budaya baru dan meningkatkan serta melestarikan nilai-nilai.
4. Hiburan : menyediakan hiburan, pengalihan perhatian dan sarana relaksasi serta meredakan ketegangan sosial.
5. Mobilisasi : mengkampanyekan tujuan masyarakat dlam bidang politik, perang, ekonomi, dan pekerjaan, juga mengkampanyekan tujuan masyarakat dalam bidang agama.
2.2.1 Fungsi Media Massa
Media massa memiliki beberapa fungsi, yaitu:
1. Juru bahasa atau interpreter
2. Jendela pengalaman (experience window) yang meluaskan pandangan dan memahami kondisi sekitar kita tanpa campur tangan serta tidak memihak.
3. Pengantar informasi atau pendapat.
4. Sarana penyaring (filter) yang memilih bagian pengalaman yang perlu diberi perhatian khusus baik secara sadar maupun tidak.
5. Papan penunjuk arah (kompas).
7. Tirai yang menutupi sesuatu (propaganda).
2.2.2 Pengaruh Media Massa
Sejauh mana pengaruh media massa baik itu yang bersifat internal maupun eksternal (komersil), sangat erat kaitannya dengan respon dari khalayaknya. Yang dimaksud dengan respon itu sendiri adalah efek komunikasi yang terjadi pada diri khalayak setelah menerima pesan komunikasi. Efek komunikasi itu terdiri dari perubahan opini (opinion change), perubahan persepsi (perseption change), perubahan afeksi (affection change), dan perubahan tindakan (action change).
Suatu media dikatakan efektif apabila mendapatkan respon positif dari khalayaknya. Maksudnya pemberian informasi melalui pemakaian atau aplikasi media yang positif dapat menimbulkan efek yang diinginkan sehingga menjadikannya sebagai media informasi yang efektif. Efek atau pengaruh ini telah menjadi pusat perhatian bagi berbagai pihak dalam masyrakat melalui pesan-pesan yang hendak disampaikannya berusaha untuk menjangkau khalayak yang diinginkan. Oleh karenanya, mereka akan berusaha untuk menemukan saluran yang paling efektif untuk dapat mempengaruhi khalayak. Media massa yang paling banyak dan luas dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia adalah televisi. Sebagai media audio visual, media ini tidak memberi banyak syarat untuk dapat menikmatinya. Perkembangan keberadaannya jauh melampaui media massa yang lain. Dari segi harga, meski tidak selalu bisa dikatakan murah untuk sebagian besar masyarakat Indonesia, keinginan untuk memiliki sebuah televisi jauh lebih besar dan tinggi daripada keinginan untuk membeli radio apalagi buku bacaan (Wirodono. S, 2006:iiv).
televisi untuk mengangkat khalayak memang sangat luas dibandingkan dengan media lainnya. Menurut Fahmi A. Alatas (1997:46), luasnya televisi dapat ditempuh dalam waktu bersamaan secara serentak, pesan yang disampaikan memiliki rangkaian potensi yang dominan dengan hal-hal yang berkaitan dengan tujuan-tujuan dalam pembentukan pemahaman, pengertian bahkan sikap dari khalayak.
2.2.3 Media Televisi
Televisi ditemukan pada tahun 1884 oleh Paul Nipkov di Jerman Timur yang menemukan elecrishe teleskop dan terus mengalami modifikasi mengikuti perkembangan teknologi di mana telepon, telegraf, dan fotografi ditemukan (Kuswandi, 1996:6). Televisi adalah sebuah alat elektronik yang merupakan gabungan antara audio (broadcast) dan film (video atau moving picture) yang dapat menerima pesan yang dipancarkan dari stasiun pemancar televisi (McQuail, 1996:15).
Media televisi merupakan media yang terpopuler dan digemari oleh khalayak. Benda berbentuk kotak (pada umumnya) dengan kemampuan audio visual sejak tahun 1980 telah menggeser popularitas media radio. Media ini tidak hanya sebuah benda mati tetapi sebuah showbiz yang penuh dengan kreasi dan inovasi yang mampu mengangkat dirinya dan menghipnotis publik (Bungin, 2001:64).
Sebagai media elektronik yang mutakhir, kemajuan televisi sangat ditunjang dengan kemajuan-kemajuan elektronika itu sendiri. Kecanggihan teknologi yang ada membuat televisi mempunyai tingkat aktualisasi yang tinggi yang meyakinkan semua kejadian dan peristiwa dapat langsung dinikmati pemirsa dari berbagai tempat. Secara garis besar, program acara televisi dapat diklasifikasikan ke dalam tiga golongan besar, yaitu program acara berita, program acara non berita, dan program acara siaran iklan (Wahyudi, 1994:8-11).
a. Program Berita
Berita adalah suatu upaya menemukan isyarat yang jelas dan objektif dengan menitik beratkan suatu peristiwa. Oleh karena itu, berita bukanlah cerminan kondisi sosial, tetapi merupakan laporan tentang salah satu aspek yeng menonjolkan sendiri. Untuk mendapatkan berita yang baik, maka kita harus memperhatikan unsur:
1. Aktual (terbaru, terkini).
2. Faktual (fakta empiris yang dapat dibuktikan kebenarannya).
3. Penting dan menarik (merupakan topik yang sedang hangat atau topik yang tidak membosankan).
b. Program non berita
Siaran non berita merupakan acara siaran yang tidak memiliki nilai politik atau strategi. Siaran non berita lebih mengutamakan nilai keindahan dan yang menjadi sasarannya adalah kepuasan penonton. Siaran non berita tidak selalu faktual. Penayangannya lebih mengedepankan kepuasan penontonnya.
c. Program siaran iklan
Siaran iklan adalah siaran yang khusus ditujukan untuk memfasilitasi perusahaan-perusahaan yang ingin melakukan promosi tentang produk yang dikeluarkannya. Siaran iklan bertujuan untuk mempersuasi masyarakat sebagai konsumen potensial. Dengan adanya siaran iklan, diharapkan mampu mempengaruhi penonton untuk mengkonsumsi produk yang diiklankan. Siaran iklan juga merupakan slah satu sumber pemasukan utama bagi sebuah stasiun televisi.
Besarnya potensi media televisi terhadap perubahan masyarakat menimbulkan pro dan kontra. Pandangan pro melihat televisi sebagai wahana pendidikan dan sosialisasi nilai-nilai positif kepada masyarakat. Sebaliknya, pandangan kontra menganggap televisi sebagai ancaman yang dapat merusak moral dan perilaku destruktif lainnya. Secara umum, kontroversi tersebut dapat digolongkan ke dalam tiga kategori, yaitu:
1. Tayangan televisi dapat mengancam tatanan nilai masyarakat yang telah ada.
2. Televisi dapat menguatkan tatanan nilai yang telah ada.
3. Televisi dapat membentuk tatanan nilai yang baru bagi masyarakat, termasuk lingkungan dan anak.
Berikut dijelaskan kelebihan dan kekurangan dari televisi:
1. Kelebihan: media televisi mampu menampilkan pesan berupa gambar hidup beserta suaranya, jangkauan lebih luas dari media lainnya, serta komunikasi yang berlangsung antara komunikator dengan komunikan seolah-olah langsung.
Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa media televisi adalah alat atau media komunikasi yang dapat memberikan pesan berupa gambar dan suara (audiovisual) kepada komunikan yang berasal dari stasiun pemancar televisi. Dalam penelitian ini, media televisi yang digunakan oleh pemirsa untuk dapat menyaksikan tayangan serial kartun Upin, Ipin dan Kawan-Kawan adalah pesan yang berasal dari stasiun MNC TV dan ditampilkan melalui layar televisi.
2.3 Tinjauan Mengenai Animasi
2.3.1 Pengertian Animasi
Animasi berasal dari bahasa Latin, yakni anima yang artinya jiwa; hidup; nyawa; dan semangat. Dalam bahasa Inggris, animasi berasal dari kata animate yang berarti menjiwai atau menghidupkan, dan animation yang berarti semangat atau gelora. Menurut Aditya (2009 : 2-3), animasi dapat didefinisikan dalam beberapa arti, yaitu:
a. Animasi adalah ilusi adanya gerakan yang dicapai dengan menampilkan sederetan gambar secara cepat yang memiliki sedikit perbedaan antara yang satu dengan yang lain.
b. Animasi adalah aksi animasi atau yang dianimasikan; mempunyai kesenangan, ketajaman, kegembiraan hidup.
c. Animasi adalah seni yang memberikan penglihatan gerakan dari suatu objek yang tidak bergerak.
e. Secara umum animasi dapat didefinisikan sebagai suatu sequence gambar yang diekspos pada tenggang waktu tertentu sehingga tercipta sebuah ilusi gambar bergerak.
f. Animasi adalah seni menggerakkan gambar dengan menggunakan ilusi optik.
g. Animasi berarti menghidupkan urutan still images (gambar tidak bergerak) atau teknik memfilmkan susunan gambar atau model untuk menciptakan rangkaian gerakan ilusi. Jadi animasi itu dibentuk dari model-model yang dibuat secara grafis kemudian digerakkan.
Secara umum, animasi dapat didefinisikan sebagai seni atau teknik membuat hidup dan bergeraknya suatu objek diam dan tidak bergerak.
2.3.2 Sejarah Animasi
Sejak timbul kesadaran bahwa gambar dapat dipakai sebagai media alternatif komunikasi, timbullah keinginan untuk menghidupkan lambang-lambang tersebut menjadi cermin ekspresi kebudayaan. Hal ini dapat dilihat dengan ditemukannya berbagai artefak pada peradaban Mesir kuno, 2.000 tahun sebelum Masehi. Salah satunya adalah beberapa panel yang menggambarkan aksi dua pegulat dlam berbagai pose.
Sejarah perkembangan animasi dunia tidak dapat dilepaskan dari pengaruh negara-negara di Eropa, Amerika Serikat dan Jepang. Cikal bakal perkembangan animasi di Eropa secara dominan dipengaruhi oleh keberadaan komik-komiknya. Perkembangan komik yang sedemikian pesat telah melahirkan banyak tokoh-tokoh kartun Eropa yang terkenal, seperti Asterix dan Obelix, Tintin, Johan and Pirlouit, Steven Sterk, Lucky Luke, dan lain-lain.
Negara-negara di Eropa bersama-sama membangun sebuah komunitas komik sebagai cikal bakal industri-industri animasi di Eropa. Keberhasilan komik secara komersial berpengaruh besar dalam upaya untuk menghidupkan tokoh-tokoh komik tersebut ke dalam film animasi. Sementara itu, di Amerika Serikat, walt disney telah membawa pengaruh yang sangat besar bagi perkembangan animasi film kartun. Ia berhasil menciptakan tokoh-tokoh kartun ternama, seperti Mickey Mouse dan Donald Duck yang masih populer hingga saat ini. Karya-karya lainnya yang juga sangat melegenda adalah Snow White and Seven Dwarfs (1937), Bambi, Putri Cinderella, Pinocchio, Dumbo Kecil, dan Peter Pan.
Di Jepang, seperti halnya di Eropa, perkembangan animasi tidak terlepas dari pesatnya perkembangan komik. Pemutaran srial animasi televisi “Tetsuwan Atom (Astro Boy)”
merupakan film animasi pertama yang sukses di Jepang. Film yang diangkat dari komik populer karya Osamu Tezuka dianggap sebagai pelopor industri animasi Jepang (Aditya, 2009 : 6-9).
2.3.3 Jenis Animasi
1. Traditional animation (2D animation)
Animasi tradisional (traditional animation) adalah kategori animasi yang sudah berumur sangat tua. Disebut tradisional karena teknik atau model animasi inilah yang digunakan untuk pengembangan awal animasi di media layar kaca atau televisi dan layar perak atau bioskop.
Traditional animation sering disebut dengan cell animation karena teknik pengerjaannya dilakukan pada media kertas celluloid transparent yang secara sekilas terlihat sama dengan kertas transparansi untuk OHP. Celluliod transparent adalah kertas yang tembus pandang sehingga animator dapat dengan mudah membuat gambar yang saling berurutan satu sama lain dan dapat menciptakan animasi yang tampak halus dan mulus pergerakannya.
Animasi tradisional banyak menghasilkan film-film kartun (animasi kartun) untuk televisi maupun bioskop. Beberapa film kartun produksi Disney yaiyu Snow White and seven Dwarfs, Cinderella, Bambi, Beauty and The Beast, Alladin, The Lion King dan lain-lain.
2. Stop Motion Animation
Stop motion animation adalah animasi yang menggunakan media perekam, misalnya kamera untuk menangkap pergerakan objek yang digerakkan sedikit demi sedikit. Dalam jenis animasi ini, objek akan diatur dalam memperlihatkan proses tertentu dan kamera akan merekam pose objek tersebut. Proses gerak objek dan rekam pose akan terjadi berulang kali. Hasilnya, ketika kamera memutar pose-pose objek secara cepat, terciptalah ilusi pergerakan animasi.
untuk digerakkan. Namun, animasi jenis ini tidak hanya terbatas pada objek berbahan tanah liat saja. Kertas, kayu, dan bahan lainpun dapat digunakan dalam animasi jenis ini. Film Wallace and Gronit dan Chicken Run karya Nick Parks serta Corpse Bride dan Nightmare Before Christmast karya Tim Burton adalah beberapa contoh stop motion animation.
3. Computer Graphic Animation (3D animation)
Computer graphic animation adalah jenis animasi yang keseluruhan prosesnya dikerjakan dengan media komputer. Animasi ini dapat berupa animasi dua dimensi (2D) dan tiga dimensi (3D). Namun, dalam perkembangannya computer graphic animation ini telah berevolusi dengan sangat cepat melalui pendekatan 3D yang sangat revolusioner dan bahkan mampu mendekati bentuk objek aslinya (hyper reality), sehingga pada akhirnya animasi ini menjadi identik dengan animasi 3D (3D animation).
Dengan bantuan komputer, maka seluruh pengerjaan animasi, mulai dari tahap permodelan hingga hasil akhir (rendering), tidak lagi dikerjakan dengan sketsa tangan manual (konvensional), sehingga seluruh pembuatan animasi menjadi lebih mudah dan cepat. Computer graphic animation saat ini dikenal juga dengan istilah computer generated imagery (CGI).
2.3.4 Tipe-tipe Film Animasi
Menurut Aditya (2009 : 14-15), sampai saat ini terdapat berbagai tipe animasi, yaitu:
1. Berdasarkan sistem pendistribusiannya:
a. Motion pictures
c. Direct to video
2. Berdasarkan target audiensnya:
a. Dewasa (The Simpsons)
b. Anak-anak (Tiny toons, The Rugrats)
c. Pra sekolah/edukasi (Blues Clues)
d. Keluarga/ semua umur (Finding Nemo)
3. Berdasarkan medianya:
a. 2D (The Flinstone)
b. 3D (Shark)
c. Clay/ foam (The PJ’S)
d. Paper cut out (South Park)
4. Berdasarkan genrenya:
a. Action-adventures (Batman)
b. Action-comedy (Kura-kura Ninja)
c. Anime (Dragonball)
d. Comedy (Hey Arnold)
e. Dramatic (Princess of Egypt)
f. Edukasi (Dora The Explorer)
h. Pra sekolah (Blues Clues)
i. Sci-fi (Legend of Orin)
j. Sitcom (King of The Hill)
k. Squash & stretch (Catdog, Den & Stimpi)
Berdasarkan penjabaran di atas, dapat disimpulkan bahwa serial kartun Upin, Ipin dan Kawan-kawan tema Ramadhan merupakan serial kartun bergenre edukasi karena di dalam serial kartun Upin, Ipin dan Kawan-kawan tema Ramadhan terdapat begitu banyak pelajaran yang dapat diambil oleh anak-anak.
2.4 Serial Kartun Upin, Ipin dan Kawan-kawan Tema Ramadhan
Berdasarkan hasil observasi peneliti, maka serial kartun Upin, Ipin dan kawan-kawan tema ramadhan dapat diceritakan bahwa bulan puasa akan segera tiba. Cikgu Jasmin pun memberi tahu Upin, Ipin serta kawan-kawannya bahwa esok hari adalah hari pertama mereka menjalankan ibadah puasa. Namun salah satu dari mereka, yaitu Mail tidak menjalankan ibadah puasa karena tidak tahan dengan masakan yang dibuat oleh ibunya.
berbuka puasa tiba, Upin dan Ipin tidak sanggup untuk melahap semua makanan yang mereka beli sebelumnya. Lalu Opah dan Kak Ros menjelaskan kepada Upin dan Ipin bahwa mereka sebenarnya hanya tergoda oleh hawa nafsu. Oleh karena itu, puasa bukan hanya menahan lapar dan haus saja, tetapi juga harus dapat menahan hawa nafsu.
Pada malam harinya Upin dan Ipin melaksanakan ibadah sholat tarawih di masjid bersama Opah dan Kak Ros. Namun pada saat sholat tarawih sedang berlangsung, Upin dan Ipin diajak oleh Mail, Ehsan dan Fizi untuk bermain. Sesampainya di rumah, Opah dan Kak Ros mengingatkan Upin dan Ipin bahwa apa yang mereka lakukan di masjid tadi tidaklah baik. Dan meminta Upin dan Ipin untuk tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Di lain hari, Upin dan Ipin berecerita kepada Opah bahwa Ehsan mendapatkan uang sebesar satu ringgit setiap kali ia puasa. Upin dan Ipin pun meminta hal yang sama kepada Opah, namun dengan sabar Opah menjelaskan bahwa ibadah tidak mengharapkan apapun, karena apabila kita banyak beribadah, maka Allah akan memeberi banyak pahala sehingga kita bisa masuk surga. Pada serial kartun Upin, Ipin dan Kawan-kawan tema Ramadhan ini juga memberi penjelasan tentang kewajiban untuk membayar zakat.
Ada beberapa unsur cerita yang akan diteliti di dalam penelitian ini, yaitu:
a. Tema, yaitu ide dasar (permasalahan utama) yang dibahas di dalam cerita. Unsur ini mewarnai semua uraian sejak awal hingga akhir cerita.
b. Tokoh serta penokohan, yaitu meliputi penentuan nama tokoh, watak, dan kebiasaan hidupnya sesuai dengan tema, latar dan jalan cerita.
d. Latar atau setting, yaitu unsur yang berkaitan dengan tempat, waktu dan suasana yang mendasari terjadinya peristiwa di dalam cerita (Sri Sutarni, S.Pd dan Drs. Sukardi, M.Pd, 2008: 37-38).
Di dalam penelitian ini, peneliti hanya memilih sikap-sikap tertentu dari masing-masing tokoh yang terdapat di dalam serial kartun Upin, Ipin dan Kawan-kawan tema Ramadhan. Sikap inilah yang nantinya akan menjadi tolak ukur penelitian ini. Sikap-sikap tersebut antara yaitu tokoh Rajoo yang mengajak Upin dan Ipin membatalkan ibadah puasanya, tokoh Mail yang tidak menjalankan ibadah puasanya, tokoh Ehsan yang meminta bayaran uang kepada orang tuanya sebagai imbalan atas ibadah puasanya, serta tokoh Fizi yang bermain petasan di malam idul fitri bersama Mail, Rajoo dan Ehsan. Selain itu terdapat juga tokoh Upin dan Ipin yang taat dan iklas dalam menjalankan ibadah dan senantiasa patuh kepada orang tua serta tokoh Mei mei yang selalu mengingatkan tentang kebaikan kepada teman-temannya.
2.5 Tinjauan Mengenai Sikap
dimaksud dapat berbentuk situasi. Bagaimana respon tersebut dapat kita berikan kepada person atau situasi itu, itulah yang memaparkan penggambaran dari sikap atau attitude terhadap objek tersebut’ (Lisdiana, 2009).
Definisi lain mengungkapkan bahwa sikap memaparkan respon terhadap person atau sikap-sikap tertentu. Gerungan (1986) mengajukan pengertian sebagai berikut: “pengertian attitude itu dapat kita terjemahkan dengan sikap perasaan, tetapi sikap tersebut disutujui oleh kecenderungan untuk bertindak sesuai dengan sikap objek tadi, jadi attitude itu dapat diterjemahkan sebagai sikap dan kesediaan bereaksi terhadap suatu hal, attitude itu senantiasa terarah pada suatu hal atau objek”.
Selain itu Walgito (1983) memberikan pengertian sikap sebagai berikut: “ keadaan dalam diri
manusia yang menggerakkan untuk bertindak, menyertai manusia dengan perasaan-perasaan tertentu di dalam menanggapi objek dan terbentuk atas dasar perjalanan-perjalanan”.
Dari pengertian sikap yang dikemukakan bahwa yang dimaksud dengan sikap adalah suatu kecenderungan-kecenderungan untuk bertindak sebagai objek yang dihadapi sesuai dengan faktor motif, perasaan, dan kognisi yang dimiliki seseorang.
Menurut John C. Mowen dan Michael Minor dalam bukunya yang berjudul “Perilaku Konsumen” (2001:319), kata sikap berasal dari bahasa latin aptus yang berarti kecocokan atau kesesuaian. Pada abad ke-18, sikap diartikan mengacu pada postur fisik yang dapat menunjukkan orientasi fisik secara umum untuk sesuatu. Dan pada abad ke-19, Charles Darwin menggunakan sikap pada istilah biologi yang diartikan sebagai ekspresi secara fisik.
Tetapi pada akhirnya definisi sikap yang dianggap mengena adalah pendapat L.L. Thurstone. Ia mendefinisikan sikap sebagai afeksi atau “perasaan untuk atau terhadap sebuah
Berikut ini adalah beberapa dari definisi terbaru:
a. Sikap merupakan kategori objek pada rangkaian kesatuan evaluatif.
b. Karakteristik umum yang membedakan sikap dan konsep lainnya adalah sifat evaluasi atau afektif.
c. Sikap merupakan inti dari rasa suka dan tidak suka bagi orang, kelompok, objek, dan ide-ide tidak terwujud tertentu.
Second dan Backman mendefinisikan sikap sebagai keteraturan tertentu dlam hal perasaan (afeksi), pemikiran (kognisi) dan prodoposisi (konasi) seseorang terhadap suatu aspek di lingkungan sekitarnya (Azwar, 1995:5). Banyak sekali perumusan-perumusan mengenai sikap, Allport adalah salah satu yang menghimpun 13 pengertian mengenai sikap, diantaranya adalah;
a. Attitudes are learned, dalam hal ini sikap dipandang sebagai hasil belajar yang diperoleh melalui pengalaman dan interaksi terus menerus terhadap lingkungan.
b. Attitudes have referent, sikap selalu dihubungkan dengan objek seperti manusia, wawasan, peristiwa, maupun ide.
c. Attitudes are learning, sikap diperoleh dalam berinteraksi dengan manusia lain, baik di rumah, sekolah, tempat ibadah, ataupun tempat lainnya melalui nasehat teladan ataupun percakapan.
d. Attitudes have readiness to respond, kesiapan untuk bertindak dengan cara-cara tertentu terhadap objek.
f. Attitudes are very intensive, tingkat antusias sikap terhadap objek tertentu kuat atau juga lemah.
g. Attitudes have a time dimension, sikap tersebut hanya mungkin cocok pada situasi yang sedang berlangsung tetapi belum tentu sesuai pada saat lainnya. Karena itu sikap dapat berubah tergantung situasinya.
h. Attitudes have duration factor, sikap dapat bersifat relatif “consistent” dalam sejarah hidup individu.
i. Attitudes are complete, sikap merupakan gagasan dari konsep persepsi ataupun kognisi individu.
j. Attitudes are evaluation, sikap merupakan penilaian terhadap sesuatu yang mempunyai konsekuiensi tertentu bagi yang bersangkutan.
k. Attitudes are inferred, sikap merupakan penfsiran dari tingkah laku yang mungkin menjadi indikator yang sempurna dan bahkan yang tidak memadai.
Adapun ciri-ciri sikap pada dasarnya memaparkan keadaan dalam diri seseorang untuk bertindak terhadap suatu objek tertentu, yaitu:
2. Sikap itu dapat mengubah-ubah sebaliknya, sikap itu dapat dipelajari karena sikap dapat berubah-ubah pada orang-orang bila terdapat keadaan dan syarat-syarat tertentu yang mempermudah sikap pada orang lain itu.
3. Sikap itu tidak berdiri sendiri, tetapi senantiasa mengandung nilai tertentu terhadap suatu objek, dengan kata lain sikap itu terbentuk, dipelajari atau berubah senantiasa berkenaan dengan suatu objek tertentu dapat dirumuskan dengan jelas.
4. Objek itu dapat memaparkan suatu hal tertentu, tetapi dapat juga memaparkan kumpulan dari hal-hal tersebut. Jadi sikap tersebut dapat berkenaan dengan sederetan objek-objek yang serupa.
5. Sikap mempunyai segi-segi motivasi dan segi-segi perasaan (Lisdiana, 2000).
2.5.1 Pembentukan dan Perubahan Sikap
Proses belajar sosial terbentuk dari interaksi sosial. Dalam interaksi sosial, individu membentuk pola sikap tertentu terhadp berbagai objek psikologis yang dihadapinya. Di antara berbagai faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap adalah :
1. Pengalaman Pribadi
2. Kebudayaan
B.F. Skinner (dalam Azwar 2005) menekankan pengaruh lingkungan (termasuk kebudayaan) dalam membentuk kepribadian seseorang. Kepribadian tidak lain daripada pola perilaku yang konsisten yang menggambarkan sejarah reinforcement (penguatan, ganjaran) yang dimiliki. Pola reinforcement dari masyarakat untuk sikap dan perilaku tersebut, bukan untuk sikap dan perilaku yang lain.
3. Orang Lain Yang Dianggap Penting
Pada umumnya, individu bersikap konformis atau searah dengan sikap orang-orang yang dianggapnya penting. Kecenderungan ini antara lain dimotivasi oleh keinginan untuk berafiliasi dan keinginan untuk menghindari konflik dengan orang yang dianggap penting tersebut.
4. Media Massa
Sebagai sarana komunikasi, berbagai media massa seperti televisi dan radio mempunyai pengaruh besar dalam pembentukan opini dan kepercayaan orang. Adanya informasi baru mengenai sesuatu hal memberikan landasan kognitif baru bagi terbentuknya sikap terhadap hal tersebut. Pesan-pesan sugestif yang dibawa informasi tersebut, apabila cukup kuat, akan memberi dasar afektif dalam mempersepsikan dan menilai sesuatu hal sehingga terbentuklah arah sikap tertentu.
5. Institusi Pendidikan dan Agama
6. Faktor Emosi Dalam Diri
Tidak semua bentuk sikap ditentukan oleh situasi lingkungan dan pengalaman pribadi seseorang. Kadang-kadang, suatu bentuk sikap merupakan pernyataan yang didasari oleh emosi yang berfungsi sebagai semcam penyaluran frustasi atau pengalihan bentuk mekanisme pertahanan ego. Sikap demikian bersifat sementara dan segera berlalu begitu frustasi telah hilang, akan tetapi dapat pula merupakan sikap yang lebih persisten dan tahan lama. Contohnya bentuk sikap yang didasari oleh faktor emosional adalah prasangka.
Sarlito Wirawan Sarwono mengatakan bahwa pembentukan dan perubahan sikap dapat terjadi melalui empat cara, yaitu:
1. Adopsi, yaitu kejadian atau peristiwa yang berulang-ulang dan terus menerus diserap ke dalam diri individu.
2. Diferensiasi, dengan berkembangnya intelegensia, bertambahnya pengalaman sejalan dengan bertambahnya usia.
3. Intelegensia, bertahap yang tiba-tiba mengejutkan berbagai pengalaman.
4. Trauma, yaitu pengalaman yang tiba-tiba mengejutkan dan meninggalkan kesan yang mendalam (Sarwono, 1986:95-96).
Menurut Sarlito Wirawan Sarwono (Sarwono,1986: 95-95) terdapat faktor-faktor yang menyebabkan perubahan sikap, yaitu:
2. Faktor ekstern: yaitu faktor yang terdapat di luar pribadi manusia. Faktor ini berupa interaksi sosial di luar kelompok. Misalnya interaksi antara manusia dengan hasil kebudayaan manusia yang sampai padanya melalui alat-alat komunikasi seperti surat kabar, radio, televisi, majalah dan lain sebagainya.
Pembentukan dan perubahan sikap tidak terjadi dengan sendirinya. Sikap terbentuk dalam hubungannya dengan suatu objek, orang, kelompok, lembaga, nilai, melalui hubungan antar individu, hubungan di dalam kelompok, komunikasi surat kabar, buku, poster, radio, televisi dan sebagainya, terdapat banyak kemungkinan yang mempengaruhi timbulnya sikap. Lingkungan yang terdekat dengan kehidupan sehari-hari banyak memiliki peranan. Keluarga yang terdiri dari orang tua, saudara-saudara di rumah memiliki peranan yang penting.
2.5.2 Fungsi Sikap
Menurut Devito (Devito, 1997: 515-516), fungsi sikap dapat dibagi menjadi empat golongan, yaitu;
1. Sikap berfungsi sebagai alat untuk menyesuaikan diri
2. Sikap berfungsi sebagai alat pengatur tingkah laku.
3. Sikap berfungsi sebagai alat pengatur pengalaman.
2.6 Tinjauan Mengenai Anak-anak
2.6.1 Pengertian Anak
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, anak adalah:
1. Keturunan yang ke-dua
2. Manusia yang masih kecil
3. Binatang yang masih kecil
4. Pohon kecil yang tumbuh pada umbi atau rumpun tumbuh-tumbuhan yang besar.
5. Orang yang berasal atau dilahirkan di (suatu negeri, daerah dan sebagainya)
6. Orang yang termasuk dalam golongan pekerjaan (keluarga dan sebagainya)
7. Bagian yang kecil (pada suatu benda)
8. Yang lebih kecil dari pada yang lain.
Suhartin mendefinisikan anak adalah mereka yang ditandai dengan pertumbuhan fisik yang terbagi ke dalam tahapan-tahapan sebagai berikut:
1. Umur 0-1 tahun yaitu masa bayi
2. Umur 1-3 tahun yaitu masa balita
3. Umur 3-6 tahun yaitu masa pra sekolah
4. Umur 6-12 tahun yaitu masa sekolah
2.6.2 Ciri-ciri Perkembangan Pada Anak usia 6 – 12 Tahun
Menurut Meily Sri Sulastri Rifai (dalam Suhartin, 1986:98) pada masa ini anak-anak memiliki tiga ciri, sebagai berikut:
1. Dorongan untuk keluar dari rumahnya dan masuk dalam kelompok anak-anak yang sebaya.
2. Dorongan yang bersifat kejasmanian untuk memasuki dunia permainan dan dunia kerja yang menuntut keterampilan-keterampilan.
3. Dorongan untuk memasuki dunia dewasa yaitu dunia konsep logika, simbol dan komunikasi.
Dari pendapat di atas pada poin ke- tiga dapat disimpulkan bahwa anak sudah dapat mengenal logika simbol dan komunikasi sehingga memungkinkan anak menyerap dan menanggapi informasi serta menggunakan logika untuk menanggapi simbol-simbol dan komunikasi yang diperolehnya baik langsung ataupun melalui media, dalam hal ini yang dimaksud dengan media adalah Serial Kartun Upin, Ipin dan Kawan-kawan Tema Ramadhan.
2.7 Landasan Teori
Teori Belajar Sosial
Teori belajar sosial dikenalkan oleh Albert Bandura, yang mana konsep dari teori ini menekankan pada komponen kognitif dari pikiran, pemahaman dan evaluasi. Menurut Bandura, orang belajar melalui pengalaman langsung atau pengamatan (mencontoh model). Orang belajar dari apa yang ia baca, dengar, dan lihat di media, dan juga dari orang lain dan lingkungannya.
Teori Belajar Sosial dari Bandura ini merupakan gabungan antara teori belajar behavioristik dengan penguatan dan psikologi kognitif, dengan prinsip modifikasi perilaku. Proses belajar masih berpusat pada penguatan, hanya terjadi secara langsung dalam berinteraksi dengan lingkungannya (Bigge, 1984 dan Tan, 1981:203-210). Teori ini menjelaskan perilaku manusia dalam konteks interaksi timbal balik yang berkesinambungan antara kognitif, perilaku dan pengaruh lingkungan.
Bandura menjelaskan proses belajar sosial dalam empat tahapan proses, yaitu proses perhatian, proses pengingatan (retention), proses reproduksi motoris dan proses motivasional. Permulaan proses belajar ialah munculnya peristiwa yang dapat diamati secara langsung atau tidak langsung oleh seseorang. Peristiwa ini dapat berupa tindakan tertentu atau gambaran pola pemikiran, yang disebut “abstract modeling” (misalnya sikap, nilai, atau persepsi realitas sosial). Kita mengamati peristiwa tersebut dari orang tua kita, kawan, guru, atau sajian media massa. Bila peristiwa itu sudah diamati, terjadilah tahap pertama belajar sosial, yaitu perhatian. Kita baru dapat mempelajari sesuatu bila kita memperhatikannya. Setiap saat kita menyaksikan berbagai peristiwa yang dapat kita teladani. Tetapi tidak seluruh peristiwa itu kita perhatikan.
berulang-ulang, atau menimbulkan perasaan positif pada pengamatnya (memuaskan kebutuhan psikologisnya). Perhatian saja tidak cukup menghasilkan efek prososial. Khalayak harus sanggup menyimpan hasil pengamatannya dalam benaknya dan memanggilnya kembali tatkala mereka akan bertindak sesuai dengan teladan yang diberikan.
Peneladanan tertangguh (delayed modeling) hanya terjadi bila mereka sanggup mengingat peristiwa yang diamatinya. Untuk mengingat, peristiwa yang diamati harus direkam dalam bentuk imaginal dan verbal.
Yang pertama disebut visual imagery, berarti membuat gambaran mental tentang peristiwa yang kita amati dan menyimpan gambaran itu pada memori kita. Yang kedua menunjukkan representasi peristiwa dalam bentuk bahasa. Menurut Bandura, agar peristiwa itu dapat diteladani, kita bukan saja harus merekamnya dalam memori, tetapi juga harus mampu membayangkan secara mental bagaimana kita dapat menjalankan tindakan yang kita teladani.
Sampailah kita pada proses reproduksi motoris, artinya menghasilkan kembali perilaku atau tindakan yang kita amati. Kita akan terdorong melakukan perilaku teladan bila kita melihat orang lain yang berbuat sama mendapatkan ganjaran karena perbuatannya. Kita memerlukan peneguhan gantian. Walaupun kita tidak mendapat ganjaran (pujian, penghargaan, status, dan sebagainya), tetapi melihat orang lain mendapat ganjaran karena perbuatan yang ingin kita teladani akan membantu terjadinya proses reproduksi motor.
2.8 Kerangka Pemikiran
Saat ini hampir setiap keluarga memiliki televisi dan anak-anak merupakan kelompok yang secara sosiologis menjadikan televisi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari mereka. Artinya televisi dijadikan sebagai sarana hiburan dan pedoman berperilaku anak sehari-hari.
Sampai saat ini semua stasiun televisi menayangkan film kartun dengan berbagai cerita. Di antara sekian banyaknya film kartun, Upin dan Ipin merupakan salah satu serial kartun yang mendidik. Upin dan Ipin merupakan serial kartun yang mengetengahkan kisah keseharian masyarakat Melayu, yang rumpun budayanya dekat dengan budaya Indonesia. Banyak ilmu agama dan pembelajaran yang sarat dengan pesan-pesan moral tentang sikap dan perilaku sehingga patut menjadi contoh bagi pemirsa khususnya anak-anak.
Khusus pada serial kartun Upin, Ipin dan Ipin tema Ramadhan, serial ini menyajikan betapa pentingnya untuk senantiasa taat beribadah tanpa mengharap imbalan suatu apapun. Hal ini sangat berguna bagi anak-anak karena pada umumnya anak-anak saat ini selalu mengaharapkan imbalan dari orangtuanya saat menjalankan ibadah puasa. Diceritakan pula Mail yang tidak berpuasa, Ehsan yang meminta uang setelah berhasil menjalankan ibadah puasa, serta Fizi yang bermain petasan di malam sebelum hari raya Idul Fitri sehingga diharapkan setelah menonton tayangan serial kartun Upin, Ipin dan Kawan-kawan tema Ramadhan ini, anak-anak akan lebih taat beribadah serta memiliki sikap yang baik seperti yang dicontohkan oleh tokoh-tokoh berperilaku baik seperti Upin dan Ipin.
atau saksikan. Dengan adanya respon tersebut akan membawa efek terhadap pengetahuan, sikap dan perilaku anak.
Kerangka pemikiran dari judul ini secara garis besar digambarkan melalui skema berikut ini:
Serial Kartun Upin, Ipin dan Kawan-kawan Tema Ramadhan
(Variabel X)
a. Tema cerita
b. Tokoh dalam cerita
c. Amanat atau pesan
d. Latar atau setting
Teori Belajar Sosial
Sikap Anak (Variabel Y)
a. Aspek Kognitif (pengetahuan)
b. Aspek Afektif (perasaan)
2.9. Hipotesis
Berdasarkan kerangka pikir di atas dapat ditarik kesimnpulan sementara terhadap masalah penelitian. Kesimpulan ini disebut sebagai hipotesis. Perumusan hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1) Hipotesis Nol (HO)
Tidak ada pengaruh dari tayangan serial kartun Upin, Ipin dan kawan-kawan tema Ramadhan terhadap sikap anak.
2) Hipotesis Penelitian (H1)
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Tipe Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat deskriptif kuantitatif, menurut Koentjaningrat (1985:29), jika penelitian yang bersifat deskriptif mempunyai tujuan untuk menggambarkan secara tepat sifat-sifat individu, keadaan, gejala atau kelompok tertentu atau menentukan frekuensi atau penyebaran suatu gejala lain dalam masyarakat. Dapat disimpulkan bahwa deskriptif adalah dengan mendeskripsikan secara terperinci tentang fenomena sosial yang ada. Sedangkan kuantitatif merupakan suatu penyajian sebuah analisis dari fenomena yang disusun dengan data kuantitatif serta membuat ketetapan pengukurannya dengan metode statistik sebagai alat ukurnya.
3.2. Variabel Penelitian
Penelitian ini terdiri dari dua variabel yaitu:
a. Variabel bebas (X), yaitu serial kartun Upin, Ipin dan kawan-kawan tema Ramadhan
b. Variabel terikat (Y), yaitu sikap anak.
3.3 Definisi Konseptual
Menurut Masri Singarimbun dan Sofyan Effendy (1989:33), definisi konsep adalah istilah dan definisi yang digunakan untuk menggambarkan secara abstrak kejadian, keadaan, kelompok atau individu yang menjadi pusat perhatian ilmu sosial.
Definisi konseptual pada penelitian ini adalah:
1). Serial Kartun Upin, Ipin dan Kawan-kawan Tema Ramadhan
Upin, Ipin dan kawan-kawan adalah sebuah kartun berdurasi lima sampai sepuluh menit yang penyajiannya sangat simple dan menggunakan bahasa khas sehari-hari anak-anak sehingga mudah ditangkap meski menggunakan bahasa melayu.
Saat di rumah pun, Upin dan Ipin juga mendapat penjelasan dari Opah dan Kak Ros mengenai bulan puasa. Pada malam harinya mereka melaksanakan sholat tarawih di masjid bersama Opah dan Kak Ros. Opah dan Kak Ros juga memberi pengertian kepada Upin dan Ipin bahwa puasa tidak hanya menahan haus dan lapar, tetapi juga harus menahan hawa nafsu. Pada serial kartun bertema ramadhan ini, anak-anak juga mendapat pelajaran tentang kewajiban membayar zakat.
2). Sikap Anak
Sikap anak adalah efek yang terjadi pada anak setelah menyaksikan tayangan serial kartun Upin, Ipin dan Kawan-kawan Tema Ramadhan. Sikap ini merupakan keseluruhan aspek kognitif (pengetahuan), afektif (perasaan), dan konatif (kecenderngan melakukan sesuatu).
3.4 Definisi Operasional
Menurut Masri Singarimbun dan Sofyan Effendi (1989:46), definisi operasional adalah unsur penelitian yang memberitahukan bagaimana caranya mengukur suatu variabel.
Maka definisi operasional dalam pelaksanaan penelitian ini adalah :
1). Serial Kartun Upin, Ipin dan Kawan-kawan Tema Ramadhan
Indikator tayangan serial kartun Upin, Ipin dan Kawan-kawan Tema Ramadhan, yaitu:
a. Tema cerita
2. Pemahaman anak-anak mengenai tema cerita dalam serial kartun b. Tokoh dalam cerita
1. Pengetahuan anak-anak mengenai tokoh-tokoh yang terdapat di dalam serial kartun.
2. Pemahaman anak-anak mengenai tokoh-tokoh yang terdapat di dalam serial kartun.
c. Amanat atau pesan dalam cerita
1.Pesan mengenai perbuatan baik yang harus dilakukan
2.Pesan mengenai perbuatan tidak baik yang harus ditinggalkan. c. Latar atau setting dalam cerita
1.Pengetahuan anak-anak mengenai latar atau setting yang terdapat di dalam serial kartun.
2. Pemahaman anak-anak mengenai latar atau setting yang terdapat di dalam serial kartun.
2). Sikap Anak
a. Komponen Kognitif, diukur dari pengetahuan anak mengenai:
1. Tema yang terdapat di dalam serial kartun Upin, Ipin dan Kawan-kawan tema Ramadhan
2. Tokoh-tokoh serial kartun Upin, Ipin dan Kawan-kawan yang terdapat di dalam serial tema Ramadhan.
4. Latar atau setting yang terdapat di dalam serial kartun Upin, Ipin dan Kawan-kawan tema Ramadhan.
b. Komponen Afektif diukur dari:
1. Rasa senang anak menyaksikan tayangan serial kartun Upin, Ipin dan kawan-kawan serial tema Ramadhan.
2. Rasa senang anak pada tokoh-tokoh berkarakter baik yang terdapat pada serial kartun Upin, Ipin dan kawan-kawan serial tema Ramadhan.
3. Rasa puas anak menyaksikan tayangan serial kartun Upin, Ipin dan kawan-kawan serial tema Ramadhan.
c. Komponen Konatif diukur dari:
1. Kecenderungan anak untuk mendukung tokoh-tokoh berkarakter baik pada serial kartun Upin, Ipin dan kawan-kawan serial tema Ramadhan.
2. Keyakinan anak untuk melakukan perbuatan baik seperti yang dilakukan oleh tokoh-tokoh berkarakter baik di dalam serial kartun Upin, Ipin dan kawan-kawan serial tema Ramadhan.
No. Variabel Dimensi Indikator
1 Variabel X, yaitu Serial Kartun Upin, Ipin dan
Kawan-kawan Tema
Ramadhan
1. Tema cerita
2. Tokoh
- Pengetahuan anak-anak
mengenai tema cerita.
- Pemahaman anak-anak
mengenai tema cerita.
- Pengetahuan anak-anak
mengenai tokoh-tokoh yang terdapat di dalam serial kartun.
- Pemahaman anak-anak
3. Pesan atau amanat
4. Latar atau setting
- Pesan mengenai perbuatan baik yang harus dilakukan. - Pesan mengenai perbuatan
tidak baik yang harus ditinggalkan.
- Pengetahuan anak-anak
mengenai latar atau setting yang terdapat di dalam serial kartun.
- Pemahaman anak-anak
mengenai latar atau setting yang terdapat di dalam serial kartun.
2 Variabel Y, yaitu Sikap Anak
1. Komponen
kognitif
2. Komponen
Afektif
3. Komponen Konatif
- Pengetahuan anak mengenai tema cerita.
- Pengetahuan anak mengenai tokoh dalam cerita.
- Pengetahuan anak mengenai pesan dalam cerita.
- Pengetahuan anak mengenai latar atau setting dalam cerita.
- Rasa senang anak
menyaksikan tayangan. - Rasa senang anak pada
tokoh-tokoh berkarakter baik. - Rasa puas anak menyaksikan
tayangan.
- Kecenderungan anak untuk
mendukung tokoh-tokoh
berkarakter baik.
- Keyakinan anak untuk
melakukan perbuatan baik seperti yang dilakukan oleh tokoh-tokoh berkarakter baik
- Keyakinan anak untuk
3.5 Lokasi Penelitian
Lokasi dalam penelitian ini dilaksanakan di Lampung Selatan yaitu tepatnya di SDN I Jati Indah Kecamatan Tanjung Bintang Lampung Selatan. Lokasi ini dipilih mengingat adanya beberapa kesamaan dengan setting yang terdapat di dalam serial kartun Upin, Ipin dan Kawan-kawan tema Ramadhan dan berdasarkan hasil pra riset yang dilakukan pada tanggal 13 Oktober 2011 diperoleh hasil bahwa sebagian besar siswa dan siswi kelas V SD Negeri I Jati Indah menyatakan pernah menonton serial kartun Upin, Ipin dan Kawan-kawan tema Ramadhan. Kesamaan setting yang dimaksud di dalam penelitian ini yaitu latar belakang budaya yang tidak jauh berbeda, serta lokasi penelitian yang berada di sebuah desa yang suasananya tidak jauh berbeda dengan budaya yang terdapat di dalam serial kartun Upin, Ipin dan Kawan-kawan.
Selain itu, tradisi yang dilakukan pada bulan puasa di lokasi penelitian juga tidak jauh berbeda dengan tradisi yang terdapat di dalam serial kartun, sehingga diharapkan anak-anak akan lebih mudah untuk memahami cerita dari serial kartun Upin, Ipin dan kawan-kawan tema Ramadhan.
3.6 Populasi dan Sampel
a. Populasi
Berdasarkan pendapat diatas, maka yang menjadi populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswa dan siswi yang bersekolah di SDN I Jati Indah Tanjung Bintang Lampung Selatan kelas Va yang berjumlah 43, Vb yang berjumlah 41, dan Vc yang berjumlah 40 maka keseluruhan pupolasinya berjumlah 124 siswa.
b. Sampel
Sampel adalah bagian dari populasi yang mempunyai ciri-ciri atau keadaan tertentu yang akan diteliti. (Riduwan, 2006:56). Sampel penelitian adalah sebagian dari populasi yang akan dijadikan responden penelitian di mana penentuan besarnya sampel penelitian mengikuti ukuran Suharsimi Arikunto (2000:121), yang menyebutkan jika populasi kurang dari 100 orang maka diambil semua, tapi jika lebih dari 100 orang maka diambil 10-15% atau 20-25%.
1. Penentuan Besarnya Sampel
Untuk menentukan besarnya sampel tiap-tiap anggota agar representatifnya benar-benar merupakan wakil dari keseluruhan populasi maka penulis menggunakan sampel 10% dan rumus alokasi proposional sebagai berikut:
1
2
Nd
N n
Keterangan: n = Sampel N = Populasi
55 35 . 55 24 . 2 124 1 ) 1 . 0 ( 124 124
2
n
Dengan demikian maka besarnya sampel adalah 55.35 maka dibulatkan menjadi 55 orang responden.
2. Teknik Pengambilan Sampel
Teknik pengambilan sampel dari setiap kelas dilakukan dengan Rumus Alokasi Proposional, sebagai berikut:
N NX n x nx
Keterangan:
n = Banyaknya Sampel
NX = Banyaknya Populasi kelas X N = Banyaknya Populasi Keseluruhan
nx = Banyaknya Sampel kelas X ( dari kelas tertentu ) (Rakhmat, 2009)
Berdasarkan rumus di atas maka untuk menentukan jumlah sampel siswa dan siswi kelas Va, Vb, dan Vc ialah sebagai berikut:
N1 66
N2 58
P= ───x n = ———x 55 = 25.72 = 26 siswi N 124
3.7 Sumber Data
Sumber data merupakan asal data yang akan diteliti yang kemudian dianalisis oleh peneliti menjadi sebuah karya ilmiah. Sumber data ini dapat berupa orang atau dokumen-dokumen resmi yang dibutuhkan dalam penelitian ini (Singarimbun dan Effendi 1989:56)
Data yang diambil dalam penelitian ini mencakup : a. Data primer
Merupakan data yang diperoleh langsung dari responden penelitian berupa hasil penyebaran kuisoner kepada siswa dan siswi kelas V SDN I Jati Indah Tanjung Bintang, Lampung Selatan.
b. Data sekunder
4.8 Teknik Pengumpulan Data 4.8.1 Kuesioner
Dalam usaha untuk memperoleh data yang relevan dengan masalah yang akan diteliti. Maka, penelitian ini menggunakan instrumen penelitian yang berbentuk kuesioner. Kuesioner adalah daftar pertanyaan yang diberikan kepada orang lain (responden) yang bersedia memberikan respon sesuai dengan permintaan pengguna. Tujuannya untuk mencari informasi yang lengkap mengenai suatu masalah dan responden tanpa merasa khawatir bila responden memberikan jawaban yang tidak sesuai dengan kenyataan dalam pengisian daftar pertanyaan (Riduwan, 2006:99).
Kuesioner ini dimaksudkan untuk mendapatkan data–data yang berupa jawaban tertulis yang diajukan peneliti untuk mengetahui apakah ada pengaruh tayangan serial kartun Upin, Ipin dan Kawan-Kawan tema Ramadhan terhadap sikap anak.
4.8.2 Studi Kepustakaan
Menurut M.Nazir dalam bukunya yang berjudul Metode Penelitian mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan studi kepustakaan adalah teknik pengumpulan data dengan mengadakan studi penelaahan terhadap buku-buku, litertur-literatur, catatan-catatan, dan laporan-laporan yang ada hubungannya dengan masalah yang dipecahkan.”(Nazir,1988: 111). Studi Kepustakaan yaitu
4.8.3 Observasi
Observasi yaitu melakukan pengamatan secara langsung ke objek penelitian untuk melihat dari dekat kegiatan yang dilakukan. Apabila objek penelitian bersifat perilaku dan tindakan manusia, fenomena alam (kejadian-kejadian yang ada di alam sekitar), proses kerja dan penggunaan responden kecil (Riduwan, 2006:104).
3.9 Skala Data dan Penentuan Skor
Skala data yang di gunakan dalam penelitian ini adalah skala interval. Menurut Masri Singarimbun dan Sofyan Effendi (1989:103), skala interval ialah mengurutkan orang atau obyek berdasarkan suatu atribut. Selain itu juga memberikan informasi tentang interval antara satu orang dengan obyek lainnya. Interval atau jarak yang sama pada skala interval dipandang sebagai mewakili interval atau jarak yang sama pula pada obyek yang diukur.
Dalam penelitian ini skor ditentukan dengan menggunakan tiga jenjang, dengan penentuan skor sebagai berikut:
3.10 Teknik Pengolahan Data
Teknik pengolahan data yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi:
1. Editing, adalah mengedit data untuk memeriksa kembali data yang telah diperoleh pada pelaksanaan penelitian.
2. Koding, adalah mengkode data dengan cara memberi kode-kode tertentu pada jawaban responden pada kuisoner untuk dilakukan pengolahan data.
3. Tabulating, adalah merumuskan data dalam tabel berdasarkan kategori jawaban yang sama, untuk mengetahui frekuensi dan persentase jawaban.
3.11 Teknik Analisa Data
Untuk mencari pengaruh dua variabel penelitian, dalam penelitian ini digunakan analisa statistik menggunakan rumus regresi linier sederhana :
bX a Y
keterangan :
Y (baca Y t