Kualitas pengasuhan anak di Panti Sosial Asuhan Anak (PSAA) di Indonesia: PSAA Al-Ikhlas kabupaten Lombok Barat provinsi Nusa Tenggara Barat

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

halaman

Kata Pengantar

Laporan penelitian ini merupakan bagian dari penelitian ’Kualitas Pengasuhan di Panti Sosial Asuhan Anak (PSAA) di Indonesia’. Penelitian ini dilakukan di 6 provinsi di Indonesia (Nang-groe Aceh Darussalam, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, dan Maluku) yang menghasilkan suatu asesmen mendalam mengenai kualitas pengasuhan di 36 panti asuhan dan di satu panti asuhan yang merupakan model nasional yang diselenggarakan oleh Depsos. Selain 37 laporan panti asuhan tersebut, suatu laporan lengkap dan menyeluruh yang diberi judul ”Seseorang yang Berguna” juga dihasilkan yang mengetengahkan temuan-temuan,

isu-isu utama yang teridentiikasi, dan rekomendasi-rekomendasi dari penelitian ini.

Penelitian Kualitas Pengasuhan di Panti Asuhan di Indonesia merupakan kerjasama antara Depsos, Save the Children serta didukung oleh UNICEF. Tujuan penelitian ditujukan untuk me-nyediakan:

• Suatu gambaran yang komprehensif tentang kualitas pengasuhan di panti asuhan anak di Indonesia;

• Bukti dan analisis yang diperlukan untuk mendukung kebijakan dan standard yang tepat dan efektif untuk anak-anak yang membutuhkan pengasuhan alternatif;

• Pengetahuan dan kapasitas bagi mitra-mitra utama untuk melakukan asesmen/penilaian dan membangun basis untuk mengembangkan sistem pengaturan panti asuhan.

Selain itu, penelitian ini juga merespon salah satu rekomendasi-rekomendasi utama Komite Hak-hak Anak PBB dalam review-nya terhadap pelaksanaan Konvensi Hak-hak Anak yang memin-ta Pemerinmemin-tah Indonesia untuk ”Melaksanakan studi komprehensif untuk menelaah situasi anak-anak yang ditempatkan dalam panti, termasuk kondisi hidup mereka dan layanan-layanan yang disediakan.”

Penelitian yang dilakukan mulai dari Bulan September 2006 s/d akhir tahun 2007 ini dipimpin oleh dua orang penasehat perlindungan anak Save the Children UK yang ditempatkan di Departe-men Sosial RI. Tim Peneliti berasal dari DeparteDeparte-men Sosial sendiri yaitu dari Direktorat Pelayanan Sosial Anak, Pusat Penelitian dan Pengembangan, dan Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung, juga berasal Universitas Indonesia dan dari Universitas Islam Negeri Jakarta.

Berdasarkan laporan-laporan penelitian per panti inilah pengolahan dan analisis data dilaku-kan sehingga diperoleh gambaran menyeluruh secara kualitatif situasi pengasuhan di panti asuhan di Indonesia. Oleh karenanya, para pembaca yang berminat mendalami tentang situasi pengasuhan di panti asuhan di Indonesia diharapkan membacara laporan-laporan penelitian panti lainnya juga laporan keseluruhannya.

Selamat membaca!

Ketua Penelitian, Florence Martin

(4)

halaman

(5)

halaman

DAFTAR ISI

A. PROFIL PANTI ... 1

1. Gambaran Umum ... 1

2. Kondisi Fisik Panti ... 2

3. Pendanaan Panti ... 3

4. Sumber Daya Manusia (SDM) ... 4

B. PROFIL ANAK ... 7

1. Proil Anak Berdasarkan Permasalahannya ... 7

2. Proil Anak Berdasarkan Asal Daerah ... 8

3. Proil Anak Berdasarkan Lamanya Tinggal. ... 8

4. Proil Anak Berdasarkan Permasalahn di Panti ... 9

5. Proil Anak Berdasarkan Pelayanan ... 9

6. Proil Anak Berdasarkan Hubungan Dengan Orangtua/ Keluarga ... 9

... C. KUALITAS PELAYANAN ... 11

1. Praktek Profesional ... 11

1.1. Maksud Dan Tujuan ... 11

1.2. Kebijakan Perlindungan Anak (Child Protection Policy/CPP) ... 13

1.3. Praktek Perlindungan Anak ... 13

1.4. Pendekatan Awal dan Penerimaan ... 14

1.5. Rencana Pelayanan Individual (Care Plan) ... 16

1.6. Review ... 16

1.7. Pelayanan, Kelanjutan Pelayanan, dan Pasca Pelayanan ... 17

1.8. Prosedur Penanganan Anak yang Keluar Dari Panti ... 18

2. Personal Care ... 18

2.1. Makanan ... 18

2.2. Kesehatan ... 21

2.3. Kegiatan Bermain, Rekreasi, Serta Pemanfaatan Waktu Luang dan Kegiatan-Kegiatan Kesenian ... 23

2.4. Privacy ... 26

2.5. Pilihan ... 28

2.6. Martabat ... 29

2.7. Relasi dan Kedekatan ... 30

2.8. Kesadaran Identitas Anak ... 33

2.9. Pengasuhan, Pengendalian dan Sanksi ... 33

(6)

halaman

v

2.11. Pendidikan Anak ... 34

3. Pengaturan Staf ... 35

3.1 Perekrutan dan Seleksi ... 35

3.2. Supervisi Dan Dukungan ... 35

3.3. Pendayagunaan Staf dan Petugas ... 36

3.4. Pelatihan Dan Pengembangan Profesional ... 37

4. Sumber-Sumber ... 37

4.1. Lokasi dan Rancangan Sistem Pelayanan ... 37

4.2. Akomodasi ... 38

5. Administrasi ... 39

5.1. Records ... 39

5.2. Kerahasiaan ... 39

5.3. Peranan Manajer Dan pemilik ... 39

D. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI ... 41

1. Kesimpulan ... 41

2. Rekomendasi ... 45

DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Kondisi Panti Selama Renovasi Gedung Baru yang Belum Selesai dibangun ... 23

Gambar 2. Kondisi Panti Selama Renovasi Tumpukan kayu untuk membangun aula yang baru ... 23

Gambar 3. Kondisi Panti Selama Renovasi Selama masa renovasi, anak-anak tidur di masjid atau di kantor dengan menggelar kasur ... 23

Gambar 4. Kegiatan Muhadhoroh Seorang anak berpidato ... 24

Gambar 5. Kegiatan Muhadhoroh Mendengarkan pidato ... 24

Gambar 6. Kegiatan Muhadhoroh Membagikan snack setelah kegiatan ... 24

Gambar 7. Mengecat genting di kala waktu senggang ... 26

Gambar 8. Mengangkut genting di kala waktu senggang... 26

Gambar 9. Kamar mandi & kegiatan kebersihan diri anak asuh ... 27

Gambar 10. Anak-anak berbincang dengan seorang donatur ... 30

Gambar 11. Suasana dapur, Ukuran dapur terlalu sempit dan gelap ... 38

(7)

halaman

v

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Sarana Ruang PSAA Al-Ikhlas ... 2

Tabel 2 Sumber Dana PSAA Al-Ikhlas ... 3

Tabel 3 Penggunaan Uang PSAA Al-Ikhlas tahun 2005 ... 4

Tabel 4 Penggunaan uang pelayanan anak PA Al-Ikhlas tahun 2005 ... 4

Tabel 5 SDM Panti Asuhan Al-Ikhlas Berdasarkan Jenis Jabatan ... 4

Tabel 6 SDM Panti Asuhan Al-Ikhlas Berdasarkan Lama Bekerja ... 4

Tabel 7 SDM Panti Asuhan Al-Ikhlas Berdasarkan Tingkat Pendidikan di Panti ... 5

Tabel 8 SDM panti asuhan Al-Ikhlas berdasarkan pengalaman kerja di panti ... 5

Tabel 9 Komposisi Anak Asuh Panti Berdasarkan Permasalahannya ... 8

Tabel 10 Komposisi Anak Asuh Panti Berdasarkan Rentang Usia ... 8

Tabel 11 Komposisi Anak Asuh Panti Berdasarkan Daerah Asal ... 8

Tabel 12 Komposisi Anak Asuh Panti Berdasarkan Lamanya Tinggal di PA ... 8

Tabel 13 Komposisi Anak Asuh Panti Berdasarkan Pendidikan ... 9

Tabel 14 Komposisi Anak Asuh Panti Berdasarkan Pihak yang Mengantar ke Panti ... 9

Tabel 15 Komposisi Anak Asuh Panti Berdasarkan Tingkat Kunjungan Keluarga ... 10

(8)

halaman

(9)

halaman

A.

Proil Panti

1. Gambaran Umum

Panti Sosial Asuhan Anak (PSAA) Al-Ikhlas Nahdlatul Wathan (NW), berada di Desa Lem-puak, Kecamatan Narmada Kabupaten Lombok Barat Propinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Panti Asuhan ini beralamat di Jl. Ahmad Yani telepon (0376) 672969; berada di belakang Mesjid Al-Ikhlas di depan salah satu obyek Wisata di Pulau Lombok yaitu “Air Suci Narmada”.

Desa Lebuak dapat dikatakan sebagai pusat kegiatan bisnis di Kecamatan Narmada Lombok Barat. Selain karena berada atau dilalui jalan raya menuju kabupaten Lombok Tengah dan Lombok Timur, disini terdapat terminal transit angkutan kota, dan pasar tradisional.

(10)

halaman

Nahdlatul Wathan di Lombok Timur.

PA Al-Ikhlas yang berdiri tahun 1982 lalu ini sekarang dipimpin oleh HM Rusydi didiri-kan secara legal dengan Notaris nomor 38 dari Notaris Edy Hermansyah, SH dengan masa berlaku sejak: 28 Mei 2004. Panti juga telah memiliki Surat Izin Kegiatan (SIK) Nomor 062/142/Dinsos/LB04 berlaku sejak 31 Mei 2004 sampai dengan 31 Mei 2009 dari Dinsos Propinsi NTB. (Sejarah pendirian akan diulas sedikit di bagian maksud dan tujuan panti)

Sebagai yayasan yang tidak memiliki akti-vitas lain kecuali pelayanan sosial melalui panti asuhan, Yayasan Al-Ikhlas memiliki ruang ling-kup sebatas Kabupaten Lombok Barat saja. Mereka memberi layanan bagi anak terlantar terbatas hanya yang ada di dalam panti saja.

Panti Asuhan Al-Ikhlas bertujuan untuk

”Memberi santunan dan pendidikan kepada anak yatim, piatu, yatim-piatu dan anak terlantar agar dapat hidup mandiri dan tidak tergantung pada orang lain”. dan untuk menyalakan sema-ngat pelayanannya mereka mengembangkan visi ”Turut berpartisipasi dalam pembangunan kesejahteraan sosial untuk membina anak, lanjut usia terlantar di tengah masyarakat

2. Kondisi Fisik Panti

Panti Asuhan Al-Ikhlas ketika dikunjungi tengah dalam proses renovasi; khususnya untuk bangunan asrama dan kantor. Namun demikian karena renovasi itu hanya

mening-katkan kualitas bangunan (dari bangunan berdinding kayu menjadi bangunan batu/per-manen), maka secara umum jumlah sarana dan prasarana tidak mengalami perubahan. Panti

Asuhan Al-Ikhlas secara isik adalah Panti kecil

dengan daya tampung 50 anak.

Luas tanah PA 1800 M2 dengan peruntu-kan untuk ruang pelayanan, seperti kamar tidur anak, ruang kantor, dapur dan sebagainya; ser-ta ruang terbuka yang digunakan untuk tempat terbuka dan kolam ikan serta saluran air yang membelah panti tepat di tengah-tengah.

Dari alokasi ruang di atas tergambarkan

bahwa panti ini secara isik belum memenuhi

syarat sebagai tempat pelayanan yang baik bagi anak terlantar di masyarakat. Indikatornya adalah ketiadaan ruang-ruang penting dalam pelayanan seperti; ruang pekerja sosial, ru-ang staf, ruru-ang ibadah, ruru-ang case conference

ruang konseling ruang isolasi ruang pelatihan keterampilan, ruang pemeriksaaan kesehatan, ruang belajar, tempat/ruang bermain dan olah-raga termasuk perpustakaan.

Ruang tidur tidak memiliki tempat tidur dan kasur yang sesuai dengan jumlah anak. Anak-anak tidur dalam 3 ruangan (masing-ma-sing terdiri dari 15 anak). Sebagian anak-anak terpaksa tidur berdesakan atau bila tidak mau berdesakan mereka memilih tidur dilantai beralas tikar.

Dapur sebagai tempat memasak hanya diisi peralatan yang tradisional dan terbatas.

Tabel 1. Sarana Ruang PSAA Al-Ikhlas

No Jenis ruang Luas m2 Keterangan

1 Ruang kantor 4 X 6 Hanya ada satu ruang seluas multi fungsi untuk Ruang pimpinan, Ruang tamu, Ruang rapat

2 Ruangan pelayanan :

Ruang tidur 8 x 7 3 ruang Sedang dibongkar

Kamar Mandi 2 x 4

3 ruang Km dan WC yang jadi satu WC

Dapur 3 x 8 Tanpa ruang makan

3 Lain-lain

Ruang Serba Guna 8 x 9 1 buah

Rumah Pegawai 5 x 4 3 buah

(11)

halaman

Karena keterbatasan itu anak-anak makan dan minum dengan piring dan gelas secara bergan-tian. Bahkan anak-anak asuh karena berbagai alasan minum air mentah langsung dari saluran air yang mengalir membelah panti.

Kelemahan yang lain dalam pemenuhan kebutuhan dasar ini adalah masalah jumlah ruang MCK yang hanya ada 3 buah sehingga aktivitas kebersihan ini sangat menghambat kesehatan dan proses tumbuh kembang anak-anak.

Keterbatasan secara isik ini juga meng -ganggu proses belajar anak asuh, karena anak-anak tidak memiliki ruang belajar. UmumnyaUmumnya anak-anak asuh Al-Ikhlas ini jarang belajar; atau mereka baru belajar bila ada pekerjaan rumah yang harus mereka kerjakan. Untuk belajar anak biasanya menggunakan ruang serbaguna yang ada.

3. Pendanaan Panti

Sebagai Yayasan Sosial yang kecil dan hidup dan tumbuh hanya didasarkan pada ni-lai kemanusiaan dan alasan keagamaan saja, maka Al-Ikhlas sangat mengandalkan bantuan pihak lain untuk mendukung pelayanannya se-hari-hari. Beberapa donatur yang secara tetap membantu saat ini (2005 sampai September 2006) adalah subsidi pemerintah yang berasal dari subsidi panti dari dana bantuan Departe-men Sosial dan Sumbangan badan sosial lain yaitu dana bantuan dari Yayasan Dharmais di Jakarta. Keduanya adalah bantuan permakanan kepada anak-anak.

Meskipun dana tersebut hanya sebagai

bantuan makanan tambahan namun ia men-jadi kebutuhan utama bagi panti asuhan ini. Sedangkan bantuan dari masyarakat baik perorangan atau kelompok umumnya bersifat insidental sehingga tidak dapat digunakan se-bagai bahan perencanaan panti dalam jangka tahunan. Untuk mendukung berbagai kebutuh-an di luar permakkebutuh-ankebutuh-an maka pkebutuh-anti mengguna-kan dana yang mereka dapatmengguna-kan dari sumber usaha ekonomi panti sendiri. Beberapa usaha panti tersebut adalah pertokoan/jasa foto stu-dio, jasa angkutan dari mobil pick up tua milik mereka.

Secara rinci subsidi/bantuan yang pernah diterima pada tahun 2005 dapat dilihat pada Tabel 2.

Sumber dana yang diterima PA Al-Ikhlas di atas betul-betul dimanfaatkan untuk un-tuk kepentingan pengembangan panti secara

keseluruhan; artinya bukan hanya untuk ke-butuhan pelayanan anak seperti maksud atau dari dana bantuan yang ada namun juga un-tuk administrasi panti, honor pengurus serta renovasi panti yang menjadi kebutuhan panti (tabel 3).

Mengenai honor pengurus yang hanya se-besar Rp 300.000,- seorang setahun ini, dapat dilihat pada tabel 3.

Menurut informasi, pengurus hanya untuk tambahan operasional bendahara panti yang besarnya Rp 25.000,- per bulan.

Adapun penggunaan dana pelayanan anak dalam tabel di atas dialokasikan untuk keper-luan-keperluan antara lain (Tabel 4):

Tabel 2. Sumber Dana PSAA Al-Ikhlas

Sumber Dana Jenis Subsidi/Bantuan Thn Periode Waktu Penyaluran Total Rupiah Jumlah Anak

(12)

halaman

Sebagian besar dana pelayanan anak ter-sebut digunakan untuk makan anak yaitu lebih dari 82 persen yang artinya setiap anak hanya mendapat makan Rp. 2500,- per hari. Sedang biaya pendidikan yang hanya 500.000,- semua itu karena mereka mendapat bantuan dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) sehing-ga dana itu hanya untuk membeli buku-buku tulis. Artinya anak-anak tidak pernah menda-pat buku-buku pelajaran sekolah. Bila mereka membutuhkan maka itu akan mereka miliki dengan uang mereka sendiri (yang berasal dari keluarga/orang tua/sumbangan masyarakat).

4. Sumber Daya Manusia (SDM)

Untuk mengelola PA Al-Ikhlas membutuh-kan Sumber Daya Manusia (SDM) yang dapat bekerja di dunia pelayanan anak, diharapkan tentu saja memiliki pendidikan, pengalaman, dan keterampilan yang sesuai dengan bidang tugasnya.

Meskipun saat ini Panti Al-Ikhlas secara administratif di kelola oleh 15 orang pengurus

dan pengasuh, namun yang aktif hanya 8 orang saja. Mereka terdiri dari

Selain gambaran keterbatasan jumlah SDM tersebut, yang mungkin menarik adalah bahwa kecuali Pimpinan, juru masak (dan seorang pengurus) semua pengurus dan pengasuh PA adalah alumni Panti Al-Ikhlas sendiri sehingga selain memberikan nilai “pengalaman di Panti”

Tabel 3. Penggunaan Uang PSAA Al-Ikhlas tahun 2005

NO Aktivitas Nilai Total

1 Penerimaan bantuan rutin Rp. 57.956.250

2 Pengeluaran :

Administrasi kantor Rp 4.000.000

Pelayanan anak Rp 45.940.000

Honor Pengurus Rp 300.000

Persiapan renovasi panti Rp 7.716.250 Rp. 57.956.250

SALDO 0

Sumber : Sur�e� �S������e ���������r��� ��������5

Tabel 4. Penggunaan uang pelayanan anak PA Al-Ikhlas tahun 2005

No PengeluaranJenis Jumlah %

1 Makanan Rp. 38.000.000 82,72

2 Pendidikan Rp. 500.000 1,09 3 Kesehatan Rp. 3.000.000 6.53

4 Rekreasi Rp 440.000

-5 Pelatihan Rp -

-6 Pakaian Rp. 4.000.000 9.66

Total Rp. 45.940.000 100

Sumber : Sur�e� �S������e ���������r��� ��������6

Tabel 5. SDM Panti Asuhan Al-Ikhlas Berdasarkan Jenis Jabatan

NO Jabatan dalam

Panti Jumlah Keterangan

1 Pimpinan 1

Kecuali juru masaknya, Seluruh SDM panti ini adalah

laki-laki

2 Pengurus 3

3 Pengasuh 3

4 Juru Masak 1

Total 8

Sumber: Sur�e� �S������e ���������r��� ��������6

No Lama Bekerja

Jenis Kelamin

Ket.

L P

1 Dibawah 1 th 1 - 1

2 1 – 5 th 2 - 2

3 6 – 10 th 1 - 1

4 11 – 15 th 1 - 1

5 16 – 20 th 1 - 1

6 Di atas 21 th 1 - 1

Jumlah 7 1 8

Sumber : Sur�e� SDM �S�� (��) Tabel 6. SDM Panti Asuhan Al-Ikhlas Berdasarkan

(13)

halaman

Tabel 7 menunjukkan bahwa latar belakang pendidikan SDM ini relatif kurang menunjang pelaksanaan pelayanan panti apalagi sifat mere-ka yang umumnya bekerja lebih memfokusmere-kan diri pada pekerjaan lain diluar panti.

Selain pendidikan, pelatihan terkait yang pernah dimiliki SDM panti juga relatif sedikit, yaitu pelatihan manajemen orsos dan pelatih-an pekerja sosial. Apalagi penerima pelatihpelatih-an pekerja sosial ini sudah tua, tinggal diluar panti dan tidak lagi menjadi pengasuh anak di panti.

Sasaran pelayanan atau penerima pelayan-an Ppelayan-anti Asuhpelayan-an Al-Ikhlas saat ini sebpelayan-anyak 45 anak, Seluruhnya laki-laki. Jumlah anak tersebut menurut pengurus panti, sebenarnya di bawah kapasitas (daya tampung) sesungguhnya yang 50 anak. Meskipun tentu saja persoalan kapasi-tas tampung ini masih bisa diperdebatkan.

Dengan kondisi itu maka PA Al-Ikhlas sebetulnya masih memiliki ruang kosong bagi anak-anak yang membutuhkan pelayanan me-reka, namun mengingat saat ini (sejak tahun 2005) Panti tengah direnovasi, maka mereka membatasi jumlah anak untuk sementara wak-tu.

Tabel 8. SDM panti asuhan Al-Ikhlas berdasarkan pengalaman kerja di panti

No Pengalaman Kerja Sebelumnya

Jenis

Kelamin Ket.

L P

SDM yg pernah mengikuti

pelatih an terkait

hanya 1 orang 1 Pelatihan pekerja sosial 1

2 Manajemen orsos 1

2

-Sumber: Sur�e� SDM �S�� (��)

mereka juga mewarisi proses dan pola pela-yanan tradisional yang mereka terima di masa dulu; yakni, tidak dihargainya partisipasi anak dan dominannya pengurus dalam pengambilan keputusan.

Meskipun para pengurus dan pengasuh bervariasi dalam masa kerja di panti tetapi hampir semua (kecuali juru masak) tidak sepenuhnya (full time) bekerja untuk panti. Mereka memiliki pekerjaan lain seperti men-jadi guru sekolah, menjalankan usaha ekonomi panti (foto studio) di pasar, berdagang bakso atau alat tulis di pasar, dan lain lain. Hal ini ber-dasarkan nilai bahwa bekerja di panti adalah pengabdian sehingga menjadi dasar juga me-reka tidak mendapat honor sebagai pengurus dan pengasuh panti.

Selain mereka memiliki pekerjaan lain, namun faktor yang sangat mendukung adalah semua pengasuh tinggal di panti dan para pe-ngurus tinggal tidak jauh (paling jauh 1 Km dari Panti Al-Ikhlas.

Untuk mendukung kegiatan pelayanan ter-hadap anak asuh, para pengurus dan pengasuh yang ada ternyata kurang dibekali pendidikan dan pelatihan terkait yang cukup.

Tabel 7. SDM Panti Asuhan Al-Ikhlas Berdasarkan Tingkat Pendidikan di Panti

No Pendidikan Jenis Kelamin

L P

1 Tidak sekolah - 1

2 Sekolah Dasar -

-3 Sekolah Menengah Pertama -

-4 Sekolah Menengah Umum / Ketramp 5

-5 Diploma 1 2

-6 D i p l o m a 4 – Sarjana 1 -

-7 Pasca sarjana -

-Jumlah 7 1

(14)

halaman

(15)

halaman

1. Proil Anak Berdasarkan Permasalahannya.

Anak asuh di PSAA ini juga dapat dilihat dari permasalahan keluarga yang mereka hadapi sebelum mereka tinggal di panti.

Dari tabel 9 di atas terlihat bahwa permasalahan utama anak Asuh di PA Al-Ikhlas adalah mereka yang dikategorikan sebagai anak terlantar (masih memiliki orang tua yang lengkap) yaitu 53,3 % sedang yang kedua adalah anak yatim (33,3 %).

Dalam hal latar belakang permasalahan ini tidak ada kelompok anak yang berasal dari per-masalahan lain yang kini kerap terjadi di masyarakat; seperti karena kecacatan (yang membuat mereka terganggu fungsi sosialnya), karena orang tua sakit keras, akibat tindak kekerasan (abuse) di keluarga atau masyarakat, akibat konllik, anak terpisah (separated childrens) dan sebagainya. Na-mun demikian tentu saja sulit mendapatkan data demikian dengan keterbatasan waktu penelitian

(16)

halaman

yang ada.

Anak asuh di PA Al-Ikhlas juga dapat di li-hat dari tingkat usia mereka. PA Al-Ikhlas lebih memilih mengasuh anak-anak yang telah me-masuki usia sekolah dasar (di atas 5 tahun).

Tabel 10 di atas menunjukkan bahwa mes-ki rentang usia anak di PA Al-Ikhlas cenderung merata dengan dominasi oleh anak-anak yang berusia antara 16 - 18 tahun (40 %), diikuti dengan kelompok usia 11 – 15 tahun (35,6 %) dan sisanya adalah kelompok antara 5 – 9 tahun. Diantara mereka yang termuda beru-sia 10 tahun dan anak asuh tertua beruberu-sia 18 tahun

2. Proil Anak Berdasarkan Asal Daerah

Daerah asal anak PA Al-Ikhlas umumnya

berasal dari lingkungan Lombok Barat send-iri (66,6 %), namun demikian ada juga mereka yang berasal dari luar propinsi seperti Bali dan Nusa Tenggara Timur walau jumlahnya relatif kecil yaitu 13,4 %. Kedatangan mereka ke panti ini pun terjadi secara kebetulan.

3. Proil Anak Berdasarkan Lamanya Tinggal di PA Al-Ikhlas.

Dalam hal masa tinggal di panti anak-anak asuh dapat dikelompokkan dalam satuan tahun. Dari kategori ini anak asuh PA Al-Ikhlas dapat dikatakan relatif merata diantara kelompok. Namun yang terbanyak adalah mereka yang masuk kelompok di bawah 1 tahun, antara 4 - < 5 tahun, dan antara 5 - < 10 tahun, masing-masing (20 %).

Dalam komposisi ini anak asuh yang baru masuk baru selama 8 bulan dan terlama 9 ta-hun.

Tabel 9. Komposisi Anak Asuh Panti Berdasarkan Permasalahannya

No Permasalahan Keluarga Anak Jml %

1 Kedua orangtuanya masih hidup 24 53,3

2 Yatim piatu 1 2,3

3 Yatim 15 33,3

4 Piatu 5 11,1

5 Kedua orangtuanya tidak diketahui

-6 Keberadaan bapak tidak diketahui

-7 Keberadaan ibu tidak diketahui

-TOTAL 45 100

Sur�e� �S������e ��������r��� ���k�5

Tabel 10. Komposisi Anak Asuh Panti Berdasarkan Rentang Usia

No Usia jumlah persen

1 Di bawah 5 th -

-2 5 – 10 th 11 24,4

3 11 – 15 16 35,6

4 16 – 18 18 40

5 Di atas 18 th -

-45 100

Sumber: Sur�e� �S������e ��������r��� ���k�6

Tabel 11. Komposisi Anak Asuh Panti Berdasarkan Daerah Asal

No Daerah Asal Jml % Ket.

1 . Dari desa/kelurahan

setempat 8 17,8

2 Dari kecamatan setempat 11 24,4

3 Dari kabupaten/kota setempat 11 24,4

4 kabupaten/kotaDari lain 9 20

5 Dari luar propinsi 6 13,4

3 dari Bali & 3 dari NTT

Total 45 100

Sumber: Sur�e� �S������e ��������r��� ���k�9

Tabel 12. Komposisi Anak Asuh Panti Berdasarkan Lamanya Tinggal di PA

No Umur Jumlah %

1 < 1 tahun 9 20

2 1 – <2 tahun 5 11,1

3 2 – <3 tahun 8 17,8

4 3 – <4 tahun 5 11,1

5 4 – <5 th 9 20

6 5 – 10 th 9 20

Total 45 100

(17)

halaman

4. Proil Anak Berdasarkan Permasalahan di Panti

Kondisi pelayanan terhadap anak-anak asuh di PA Al-Ikhlas yang memprihatinkan ini ternyata tidak membuat anak asuh kecewa apalagi sampai protes. Diketahui bahwa sela-ma tahun 2005 hingga kini tidak ada anak yang melarikan diri dari panti ini karena tidak da-pat beradaptasi dengan sistem pelayanan yang ada. Meskipun begitu menurut pengurus adaMeskipun begitu menurut pengurus ada 1 (satu) orang anak yang terpaksa dirujuk ke panti lain. Tindakan rujukan ke panti lain itu adalah akibat kenakalan anak (mencuri barang milik anak asuh lain).

5. Proil Anak Berdasarkan Pelayanan

Seperti gambaran panti sebelumnya, maka seluruh anak PA Al-Ikhlas bersekolah di luar lingkungan panti, hal ini karena Yayasan Al-Ikh-las hanya memiliki pelayanan panti asuhan dan tidak menyelenggarakan program lain, seperti pendidikan atau keterampilan.

Data pendidikan anak ini juga menunjuk-kan bahwa permasalahan pendidimenunjuk-kan (par-tisipasi belajar) tidak menghadapi masalah. Artinya anak-anak tidak menghadapi masalah dalam pendidikan khususnya putus sekolah (drop out). Data selengkapnya dapat dilihat pada tabel 13.

Kondisi pendidikan ternyata tidak ber-lanjut pada pelayanan lainnya seperti dalam pelatihan keterampilan. Al-Ikhlas sebagai Panti Asuhan tidak memberi kegiatan atau aktivitas lain kecuali pendidikan. Meskipun demikian

karena beberapa pengurus dan pengasuh me-miliki usaha dibidang bisnis foto, maka bebe-rapa anak (di tahun terakhir atau kelas 3 SLTA) diajari usaha itu. Jenis keterampilan yang di-peroleh adalah pengelolaan toko, ketrampilan foto, dan edit foto.

6. Proil Anak Berdasarkan

Hubungannya dengan Orang Tua/ Keluarga

Orang tua atau anggota keluarga adalah pihak utama yang membawa anak-anak me-reka ke PA Al-Ikhlas Narmada dari pada pihak lain. Namun bila ingin dipisahkan maka orang tua dan anggota keluarga adalah pihak utama yang mengantar anak-anak mereka memasuki dunia panti (84,4 %) baru sisanya adalah te-tangga atau warga masyarakat lainnya. Hal ini dapat dilihat pada tabel 14.

Hubungan anak dengan orang tua dan keluarga ini dapat diwujudkan dalam jumlah kunjungan orang tua dan keluarga mereka ke Panti. Dalam kunjungan anak dan keluarga ini diperoleh data sebagai ditampilkan dalam tabel 15. Sebagian besar (86,7 %) Anak asuh PA Al-Ikhlas merasa tidak pernah dikunjungi sanak keluarga mereka. Hanya sebagian kecil (13,3 %) data mengenai hal ini terlihat pada tabel 15.

Selain itu hubungan antara anak dan orang tua/keluarga juga diwujudkan dalam kunjungan

Tabel 13. Komposisi Anak Asuh Panti Berdasarkan Pendidikan

No Pendidikan Jumlah Persen

1 Belum sekolah -

-2 Prasekolah/TK -

-3 SD/MI 11 24,4

4 SLTP/MTS 17 37.8

5 SLTA/MA 17 37,8

6 Pendidikan tinggi

Total 45 100

Sumber: Sur�e� �S������e ��������r��� ���k��7

Tabel 14. Komposisi Anak Asuh Panti Berdasarkan Pihak yang Mengantar ke Panti

No Pihak Pengantar Jml %

1 Orangtua 24 53,3

2 Sanak keluarga 14 31,1

3 Tetangga dan warga lainnya 7 15,6

4 LSM, Orsos, dan lembaga lain -

-5 Polisi -

-6 Dinsos dan instansi lainnya -

-7 Anak datang sendiri -

-8 Lainnya -

-Total 45 100

(18)

halaman

0

(11,1 %) yang tidak pernah sekalipun di tahun 2005 berkunjung ke keluarga atau orang tua mereka. Mereka umumnya yang berasal dari propinsi lain sehingga biaya untuk melakukan perjalanan sangat mahal menurut ukuran mer-eka. Data kunjungan ini terlihat pada tabel 16.

Tabel 15. Komposisi Anak Asuh Panti Berdasarkan Tingkat Kunjungan Keluarga

No Jumlah Kunjungan Jumlah Persen

1 Tidak pernah 39 86,7

2 1 kali pertahun 6 13,3

3 > 5 kali pertahun -

-4 > 1 kali perbulan -

-5 > 1 kali perminggu -

-Total 45 100

Sumber: Sur�e� �S������e ��������r��� ���k���

Tabel 16. Komposisi Anak Asuh Panti Berdasarkan Tingkat Kunjungan Keluarga

No Lama Kunjungan Jumlah %

1 Tidak pernah 5 11,1

2 1 kali pertahun -

-3 >5 kali pertahun 40 88,9

4 >1 kali perbulan -

-5 >1 kali perminggu -

-Total 45 100

Sumber: Sur�e� �S������e ��������r��� ���k���

anak ke orang tua/keluarga mereka. Dalam hal itu anak-anak Al-Ikhlas umumnya (88,9 %) ker-ap berkunjung kekeluarga/orang tua. Mereka umumnya kembali pada saat libur sekolah dan masa hari raya agama (lebaran).

(19)

halaman

1. Praktek Profesional

a. Maksud dan Tujuan

Panti Al-Ikhlas tidak mempunyai pernyataan maksud dan tujuan atau visi misi secara tertulis, namun demikian sesungguhnya panti memiliki maksud dan tujuan yang jelas, yaitu, seperti layaknya panti-panti sosial asuhan anak yang lainnya, panti ini bertujuan membantu anak-anak terlantar maupun yatim piatu agar mendapat kehidupan yang layak serta pendidikan yang memadai agar dapat bermanfaat kelak mereka dewasa. Berikut penuturan Kepala Panti mengenai visi dan misi panti, “Ingin membuat anak-anak yang terlantar itu menjadi orang yang berguna bagi keluraga dan masyarakat. Cuma cita-cita ini belum terwujud karena kekurangan kami, pengurus.”1 (KP) Dan berikut

1 Wawancara dengan kepala panti pada Jum’at, 15 September 2006 pukul 13.00 WITA s.d selesai, No. FieldWawancara dengan kepala panti pada Jum’at, 15 September 2006 pukul 13.00 WITA s.d selesai, No. Field Record: NTB/PA Al-Ikhlas/1/1.1.1.

(20)

halaman

penuturan salah seorang staf yang sehari-hari membina anak-anak, “Tujuannya untuk memelihara anak-anak yatim dan terlantar.”2 (S) Maksud dan tujuan di atas tentu saja merupa-kan maksud dan tujuan yang dipakai sekarang.

Namun sesungguhnya panti ini mem-punyai maksud dan tujuan sendiri pada awal pendiriannya yaitu untuk memakmurkan mas-jid, yang telah diceritakan sendiri oleh pendi-rinya, “Saya pikir karena masjid, memakmurkan masjid, saya lihat hari Jumat saja ditempati, lain harinya kosong, mudah-mudahan anak yatim ini yang meramaikan.”3 (Pd) Dari rasa prihatin atas kekosongan masjid itu dia mengumpul-kan anak-anak di kampung setempat dan seki-tarnya untuk mengaji di masjid dekat rumah orang tuanya tersebut, masjid Nurul Jihad, lalu didapatlah 150 anak yang mau mengaji. Pendiri sendiri yang mengajarkan ngaji karena sema-ngat beliau yang baru lulus sekolah Pendidikan Guru Agama. Ketika saatnya pulang kemudian ada 12 anak yang tetap diam di masjid, mereka tidak pulang. Semua anak adalah anak laki-laki, dan karenanya kemudian panti ini merupakan panti asuhan khusus putra. Pendiri kemudian bertanya kepada mereka mengapa tidak pu-lang. Karena mereka menjelaskan bahwa me-reka tidak punya rumah, meme-reka biasa tinggal di jalan, di pasar dan lain sebagainya, maka pendiri menawarkan mereka untuk tinggal di bangunan bekas madrasah yang sudah tidak lagi dipakai yang berada di seberang masjid. Lalu anak-anak pun mau. Mulai saat itu kedua belas anak tersebut tinggal di sana. Mereka ti-dur di madrasah, sholat, dan mengaji di masjid, dan makan di rumah orang tua pendiri, “Kalo makan mereka saya giring ke sini, ke rumah orang tua saya, ibu saya yang masak.”4 (Pd) Mulai saat itu pendiri berusaha mencari dukungan untuk kelangsungan hidup anak-anak tersebut. Jadi sesungguhnya tidak ada niat untuk mendirikan panti asuhan, karena awalnya hanya ingin mera-maikan masjid dengan cara membuat

penga-2 Wawancara dengan staf pada Jum’at, 15 Septem-Wawancara dengan staf pada Jum’at, 15 Septem-ber 2006 pukul 10.30 WITA s.d selesai, No. Field Record: NTB/PA Al-Ikhlas/1/1.1.1.

3 Wawancara dengan pendiri panti pada Sabtu, 16Wawancara dengan pendiri panti pada Sabtu, 16 September 2006 pukul 09.30 WITA s.d selesai, No. Field Record: NTB/PA Al-Ikhlas/1/1.1.1.

4 Wawancara dengan pendiri panti pada Sabtu, 16Wawancara dengan pendiri panti pada Sabtu, 16 September 2006 pukul 09.30 WITA s.d selesai, No. Field Record: NTB/PA Al-Ikhlas/1/1.1.1.

jian anak-anak. Setelah ada kedua belas anak itulah dan proses alamiah dalam mencarikan bantuan untuk mereka mengarahkan usaha-usaha tersebut pada pendirian panti asuhan. Dengan cara “bergerilya” atas dasar semangat dan keihklasan, panti ini akhirnya direstui untuk berdiri dengan formal oleh tokoh masyarakat, tokoh agama, dan pemerintah lokal setempat pada tahun 1982.

Jadi tidak ada poses perumusan tujuan dan maksud berdirinya panti ini secara for-mal, semua proses inisiatif, direstuinya panti ini berdiri dan pencarian bantuan dana dijalankan secara bertahap oleh pendiri atas semangat meramaikan masjid dan membuktikan akan adanya pertolongan Allah untuk anak-anak terlantar tersebut dan masjidnya seperti di-katakan pendiri sendiri, “Saya ingin membuk-tikan bahwa pertolongan Allah itu ada.”5 (Pd) Itulah nilai-nilai yang melatari berdirinya panti. Dan pendiri sekarang merasa sudah bersyu-kur atas keberlanjutan panti ini melaksanakan tugasnya dan kemajuan yang terjadi, beliau berkata, “Saya melihat bahwa pertolongan Allah itu sudah kelihatan.”6 (Pd)

Berdasarkan hasil wawancara terhadap beberapa anak, berikut ini maksud dan tujuan panti menurut mereka. Seorang anak menu-turkan, “Saya pernah dengar dari pengurus, Pak Jaelani, katanya panti ini didirikan untuk mera-maikan masjid.”7 (AI. A1) Kemudian dia melan-jutkan,

“Masjid ini (sambil menunjuk masjid raya Nurul Jihad yang ada di depan panti), sepi, ramainya hanya hari Jum’at, terus ada ketakutan seperti gereja di agama kristen ramainya hanya hari minggu, makanya terus dicari anak-anak yang mau meramaikan masjid ini.” (AI. A1)

Anak lain menambahkan, “Untuk

menam-5 Wawancara dengan pendiri panti pada Sabtu, 16Wawancara dengan pendiri panti pada Sabtu, 16 September 2006 pukul 09.30 WITA s.d selesai, No. Field Record: NTB/PA Al-Ikhlas/1/1.1.2.

6 Wawancara dengan pendiri panti pada Sabtu, 16Wawancara dengan pendiri panti pada Sabtu, 16 September 2006 pukul 09.30 WITA s.d selesai, No. Field Record: NTB/PA Al-Ikhlas/2/1.1.3.

7 Wawancara, anak AI. A1, laki-laki, pada Sabtu, 16Wawancara, anak AI. A1, laki-laki, pada Sabtu, 16 September 2006 pukul 11.00 WITA s.d selesai, No. Field Record: NTB/PA Al-Ikhlas/1/1.1.1.

(21)

halaman

pung anak yatim, anak-anak tidak mampu.”9 (AI.

A2) Anak yang lain lagi juga menambahkan, “Menjadikan anak-anak yatim pinter dan diseko-lahkan.”10 (AI. A3)

Tampaknya semua pengurus memahami nilai-nilai tersebut seperti ungkap seorang staf, “Kami memahami nilai-nilai yang mendasari pendirian panti ini.”11 (S) Dia sendiri merupakan alumni panti asuhan angkatan kedua, jadi dia masih merasakan masa-masa panti asuhan pada masa-masa awal yang sulit.

Para pengurus juga memandang bahwa maksud, tujuan, dan nilai yang diusung panti semua berdasarkan kepentingan terbaik un-tuk anak seperti tutur kepala panti, “Ya ini yang terbaik untuk anak.”12 (KP) Begitu pula pan-dangan seorang staf, “Ini sudah yang lebih baik daripada apa yang mereka dapat kalau mereka di rumah.”13 (S)

Menurut penilaian anak-anak, tujuan panti baik untuk kehidupan mereka. Begitu penutur-an beberapa penutur-anak seperti, “Saya setuju panti ini meramaikan masjid, biar anak-anak yang ada di panti jadi ahli masjid,”14 (AI. A1) “Saya anak gak

punya, bisa dibantu.”15 (AI. A2)

Dalam mengelola panti, pengurus selama ini tidak mempunyai pengetahuan tentang peraturan perundangan-undangan dan pedo-man yang terkait dengan panti dan pengasuhan anak. Buku-buku tersebut pun tidak tersedia di panti, seperti pengakuan pengurus bahwa mereka belum pernah tahu apa itu undang-un-dang No. 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak, seperti kata kepala panti, “Belum pernah

9 Wawancara dengan anak pada Sabtu, 16 Septem-Wawancara dengan anak pada Sabtu, 16 Septem-ber 2006 pukul 11.00 WITA s.d selesai, No. Field Record: NTB/PA Al-Ikhlas/1/1.1.1.

10 Wawancara dengan anak pada Sabtu, 16 Septem-Wawancara dengan anak pada Sabtu, 16 Septem-ber 2006 pukul 11.00 WITA s.d selesai, No. Field Record: NTB/PA Al-Ikhlas/1/1.1.1.

11 Wawancara dengan staf pada Jum’at, 15 Septem-Wawancara dengan staf pada Jum’at, 15 Septem-ber 2006 pukul 10.30 WITA s.d selesai, No. Field Record: NTB/PA Al-Ikhlas/2/1.1.3.

12 Wawancara dengan kepala panti pada Jum’at, 15Wawancara dengan kepala panti pada Jum’at, 15 September 2006 pukul 13.00 WITA s.d selesai, No. Field Record: NTB/PA Al-Ikhlas/3/1.1.4.

13 Wawancara dengan staf pada Jum’at, 15 Septem-Wawancara dengan staf pada Jum’at, 15 Septem-ber 2006 pukul 10.30 WITA s.d selesai, No. Field Record: NTB/PA Al-Ikhlas/3/1.1.4.

14 Wawancara dengan anak pada Sabtu, 16 Septem-Wawancara dengan anak pada Sabtu, 16 Septem-ber 2006 pukul 11.00 WITA s.d selesai, No. Field Record: NTB/PA Al-Ikhlas/3/1.1.4.

15 Wawancara dengan anak pada Sabtu, 16 Septem-Wawancara dengan anak pada Sabtu, 16 Septem-ber 2006 pukul 11.00 WITA s.d selesai, No. Field Record: NTB/PA Al-Ikhlas/3/1.1.4.

tahu.”16 (KP) Dan juga staf, “Belum tahu.”17 (S)

b. Kebijakan Perlindungan Anak (Child Protection Policy/CPP)

Panti Al-Ikhlas memang dikelola jauh dari profesionalitas. Pekerjaan sebagai pengurus panti lebih merupakan pekerjaan sosial tanpa pamrih serta merupakan ibadah semata. Oleh karena itu kebanyakan pengurusnya mempu-nyai pekerjaan tetap dan rutin di luar panti sehingga mereka tidak sepanjang waktu dapat mengontrol panti. Ini berakibat pada tata ad-ministrasi panti yang tidak rapi apalagi setelah adanya pembongkaran gedung lama yang membuat arsip-arsip haru dipindah. Sangat se-dikit dokumen yang dapat diakses baik karena memang tidak pernah ada maupun pernah ada namun tidak dilanjutkan lagi. Mengenai kebi-jakan perlindungan anak, dari segi dokumen tertulis dan dari segi kasus yang memerlukan kebijakan khusus perindungan anak panti tidak memilikinya seperti tutur kepala panti, “Belum ada yang dalam bentuk tertulis dan baku. Dan belum ada kasus kekerasan yang bisa dijadikan contoh,”18 (KP) dan tutur staf, “Belum dibuat

se-cara baku.”19 (S) Kalaupun ada kasus, tampak baik kepala panti, staf atau pengurus dan pe-ngasuh apalagi anak-anak belum tahu prose-dur dan respon yang benar terhadap kasus kekerasan pada anak.

c. Praktek Perlindungan Anak

Berdasarkan pengetahuan staf dan pen-elusuran asesor terhadap anak-anak belum pernah ada anak yang mengalami kekerasan di luar panti sebelum masuk panti. Hal ini dike-tahui staf panti dari riwayat anak yang diceri-takan orang yang membawa anak-anak ketika mendaftar ke panti. Riwayat yang disampaikan secara lisan itulah yang dipegang. Memang staf

16 Wawancara dengan kepala panti pada Jum’at, 15Wawancara dengan kepala panti pada Jum’at, 15 September 2006 pukul 13.00 WITA s.d selesai, No. Field Record: NTB/PA Al-Ikhlas/4/1.1.5.

17 Wawancara dengan staf pada Jum’at, 15 Septem-Wawancara dengan staf pada Jum’at, 15 Septem-ber 2006 pukul 10.30 WITA s.d selesai, No. Field Record: NTB/PA Al-Ikhlas/4/1.1.5.

18 Wawancara dengan kepala panti pada Jum’at, 15Wawancara dengan kepala panti pada Jum’at, 15 September 2006 pukul 13.00 WITA s.d selesai, No. Field Record: NTB/PA Al-Ikhlas/5/1.2.1.

(22)

halaman

belum pernah mengikuti pelatihan mengenai keterampilan untuk mengenali dan merespon tanda kekerasan. Dan berdasarkan penuturan staf dan kepala panti, tidak ada kasus kekerasan yang pernah terjadi di panti. Ini berbeda de-ngan pengakuan anak-anak. Mereka mengaku pernah mengalami dan melihat temannya dipukul, dicubit, dan ditampar. Beberapa anak menyatakan bahwa itu sebagai hukuman kare-na tidak melaksakare-nakan tugas atau melanggar aturan. Sepertinya jenis-jenis hukuman seperti ini tidak diatur dalam kebijakan panti.

Adapun upaya panti mencegah kekerasan terhadap anak di panti lebih difokuskan pada pencegahan kekerasan antar anak, bukan dari pengurus kepada anak. Ini tercermin dari penuturan kepala panti tentang usaha pence-gahan terjadinya kekerasan terhadap anak, yaitu, ”Dengan menanamkan kedisiplinan dan budi pekerti baik pada mereka.”20 (KP) Namun demikian, staf juga mengakui adanya hukuman memukul, namun mereka menganggap itu demi kedisiplinan dan peringatan, seperti tutur staf,

“Kalo yang dipukul itu ndak semua anak dipukul, pukulnya sih ndak seperti kita memukul maling, paling kita pelintir-pelintir aja. Itu kalo dia mengganggu temannya misalnya, yang kecil diganggu, kita panggil, kamu apain anak itu? Setelah itu kita peringatin dia.”�� (S)

Untuk memudahkan kontrol dan perlin-dungan terhadap anak, anak-anak dibagi dalam kelompok yang masing-masing mempunyai ketua kelompok. Ketua kelompoknya ditunjuk oleh pengurus dan diambil dari kelas 3 SMA atau Aliyah. Masing-masing ketua kelompok harus mengawasi dan melindungi adik-adiknya. Sistem ini sudah digunakan sejak lama.

d. Pendekatan Awal dan Penerimaan

Proses ataupun tahapan dan kegiatan pe-nerimaan anak di panti diawali dengan kegiatan penerimaan. Anak diwajibkan membawa surat-surat yang diperlukan panti seperti dituturkan

20 Wawancara dengan kepala panti pada Jum’at, 15Wawancara dengan kepala panti pada Jum’at, 15 September 2006 pukul 13.00 WITA s.d selesai, No. Field Record: NTB/PA Al-Ikhlas/11/1.3.4.

21 Wawancara dengan staf pada Jum’at, 15 Septem-Wawancara dengan staf pada Jum’at, 15 Septem-ber 2006 pukul 10.30 WITA s.d selesai, No. Field Record: NTB/PA Al-Ikhlas/11/1.3.4.

oleh kepala panti, “Anak dan yang mengan-tarnya membawa surat keterangan miskin dari kepala lingkungan dan membawa raport.”22 (KP) Demikian juga penjelasan staf,

“Syarat masuk panti:

1. Surat keterangan tidak mampu, terlantar, dari desa dari camat;

�� R�p�r���j�z�h seb�g�� b�h��

pertimbangan (dari ranking dan nilai rata-rata. Namun demikian tidak pernah terjadi penolakan terhadap anak yang raportnya jelek.”�3 (S)

Anak-anak biasanya dibawa oleh sauda-ranya yang mengetahui keberadaan panti. Pada umumnya keluarga anak mengetahui panti karena ada anggota keluarganya yang pernah tinggal di panti tersebut dan mengenal salah seorang pengurusnya. Atas perkenalannya tersebut, anak kemudian dititipkan ke staf.

Pada masa awal-awal panti berdiri, anak-anak masuk panti ada yang melalui penjang-kauan yang dilakukan oleh pengurus. Namun sekarang, tanpa adanya penjangkauan pun anak-anak kadang datang sendiri dengan dian-tar oleh orang tuanya atau keluarganya. Kepala panti menjelaskan, “Pada awalnya dikumpulkan, sekarang tidak lagi.”24 (KP) Demikian juga staf mengatakan, “Dulu memang dicari, sekarang anak datang sendiri.”25 (S) Pendiri menjelaskan,

“Pada awalnya anak-anak dikumpulkan u��uk ���j�k me�g�j�, ��r� �50 ���k ���g �erkumpu� �er����� �er��p�� �� ���k ���g tidak pulang, tapi tetap diam di masjid dan tidur di pasar. Anak-anak inilah yang menjadi angkatan pertama panti. Sistem rekrutment panti sendiri tidak dengan penjangkauan, akan tetapi anak datang ke panti.”�6 (Pd)

22 Wawancara dengan kepala panti pada Jum’at, 15Wawancara dengan kepala panti pada Jum’at, 15 September 2006 pukul 13.00 WITA s.d selesai, No. Field Record: NTB/PA Al-Ikhlas/12/1.4.1.

23 Wawancara dengan staf pada Jum’at, 15 Septem-Wawancara dengan staf pada Jum’at, 15 Septem-ber 2006 pukul 10.30 WITA s.d selesai, No. Field Record: NTB/PA Al-Ikhlas/12/1.4.1.

24 Wawancara dengan kepala panti pada Jum’at, 15Wawancara dengan kepala panti pada Jum’at, 15 September 2006 pukul 13.00 WITA s.d selesai, No. Field Record: NTB/PA Al-Ikhlas/13/1.4.2.

25 Wawancara dengan staf pada Jum’at, 15 Septem-Wawancara dengan staf pada Jum’at, 15 Septem-ber 2006 pukul 10.30 WITA s.d selesai, No. Field Record: NTB/PA Al-Ikhlas/13/1.4.2.

(23)

halaman

Pengalaman anak juga menunjukkan hal yang sama, seperti tutur seorang anak, “Saya datang ke sini bersama paman saya, paman dulu tinggal di panti sini, temannya Pak Jum.”27 (AI. A2) Ia adalah anak kelas 1 SMP Negeri Nar-mada, salah satu SMP favorit di Lombok Barat. Dia berasal dari Bali dan sudah 2 (dua) tahun berada di PA Al-Ikhlas. Bapak dan ibunya masih hidup, namun berdasarkan pengakuannya dia berasal dari keluarga miskin. Ibu dan bapaknya bekerja sebagai buruh tani. Dia masuk panti kemauan orang tuanya dan dia setuju karena ingin melanjutkan sekolah. Dia ingin seperti pamannya. Sekarang sejak keluar dari panti pa-mannya bekerja dan sudah berkeluarga. Selama 2 (dua) tahun di panti dia baru pulang satu kali saat lebaran. Lain lagi dengan pengalaman anak yang lain, yang menceritakan, “Ke sini sama kakak, dulu kakak di sini, sekarang dah bekerja dan menikah.”28 (AI. A3) Anak ini berasal dari Lombok Tengah. Ibu dan bapaknya masih ada. Menurut penuturannya, bapaknya pergi ke Ka-limantan sudah 7 (tujuh) tahun tidak pulang-pulang. Sedangkan ibunya menikah lagi. Kelu-arganya termasuk orang miskin tidak mampu membiayai sekolahnya. Karena kakaknya ber-hasil sekolah sampai SLTA, maka ia juga oleh orang tuanya dikirim ke panti yang sama. Ia juga setuju dengan alasan ingin sekolah. Begitu juga halnya dengan anak yang lain lagi, “Saya ke sini sama kakak, atas kemauan sendiri, karena kalau tinggal di rumah ndak bisa sekolah.”29 (AI. A4) Anak ini berasal dari Lombok Timur. Dia saat ini duduk di kelas 1 (satu) SMPN 1 Nar-mada. Bapak ibunya masih ada, bekerja sebagai petani.

Adapun kriteria yang digunakan untuk menerima anak adalah anak tersebut adalah laki-laki, minimal dalam usia SD. Seperti penu-turan kepala panti,

“Kita menerima anak (Laki-laki) dari SD, tamat SD, dan tamat SMP. Kita lebih

Record: NTB/PA Al-Ikhlas/13/1.4.2.

27 Wawancara, anak, AI. A2, laki-laki, pada Sabtu, 16Wawancara, anak, AI. A2, laki-laki, pada Sabtu, 16 September 2006 pukul 11.00 WITA s.d selesai, No. Field Record: NTB/PA Al-Ikhlas/13/1.4.2.

28 Wawancara, anak, AI. A3, laki-laki, pada Sabtu, 16Wawancara, anak, AI. A3, laki-laki, pada Sabtu, 16 September 2006 pukul 11.00 WITA s.d selesai, No. Field Record: NTB/PA Al-Ikhlas/13/1.4.2.

29 Wawancara, anak, AI. A4, laki-laki, pada Sabtu, 16Wawancara, anak, AI. A4, laki-laki, pada Sabtu, 16 September 2006 pukul 11.00 WITA s.d selesai, No. Field Record: NTB/PA Al-Ikhlas/13/1.4.2.

suka terima yang SD karena lebih mudah pembentukan karakternya. Ini berangkat dari pengalaman sebelumnya di mana membina anak SMA itu lebih sulit.”30 (KP)

Selain itu, anak yang diterima hanya ber-status yatim, piatu, yatim piatu, atau terlantar seperti yang dikatakan staf, “Yatim, piatu, yatim piatu, dan anak terlantar.”31 (S) Jika anak tidak memenuhi kriteria yang ditentukan maka pihak panti meminta permaklumannya seperti yang dikatakan kepala panti.32 Namun demikian, ka-sus yang terjadi seringkali bukan karena calon anak asuh yang mendaftar itu tidak memenuhi kriteria yang ditentukan, namun karena daya tampung panti yang tidak mungkin menerima banyak anak, seperti kata staf, “Seringkali alasan penolakan adalah asrama yang penuh.”33 (S)

Ketika anak masuk panti, biasanya ia diberi penjelasan tentang ketentuan dan kegiatan-ke-giatan panti, hak-haknya, serta peranan yang ha-rus dilakukannya. Penjelasan itu dilakukan oleh pengasuh, demikian penjelasan kepala34 dan staf panti.35 Ini diakui oleh anak-anak. Mereka mengatakan bahwa sebelum ke panti, mereka sudah diberi tahu tentang hal ihwal yang ter-kait dengan kehidupan panti, seperti makanan, sekolah, disiplin, aturan-aturan, dan hukuman apabila melanggar aturan. Sesampainya di pan-ti, staf menjelaskannya kembali.36

Ketika masuk panti, tidak ada kesepakat-an penempatkesepakat-an kesepakat-anak di pkesepakat-anti dalam bentuk tertulis. Anak-anak hanya dimintakan komit-mennya untuk mematuhi semua yang menjadi peraturan panti, seperti dikatakan kepala panti,

30 Wawancara dengan kepala panti pada Jum’at, 15Wawancara dengan kepala panti pada Jum’at, 15 September 2006 pukul 13.00 WITA s.d selesai, No. Field Record: NTB/PA Al-Ikhlas/14/1.4.3.

31 Wawancara dengan staf pada Jum’at, 15 Septem-Wawancara dengan staf pada Jum’at, 15 Septem-ber 2006 pukul 10.30 WITA s.d selesai, No. Field Record: NTB/PA Al-Ikhlas/14/1.4.3.

32 Wawancara dengan kepala panti pada Jum’at, 15Wawancara dengan kepala panti pada Jum’at, 15 September 2006 pukul 13.00 WITA s.d selesai, No. Field Record: NTB/PA Al-Ikhlas/15/1.4.4.

33 Wawancara dengan staf pada Jum’at, 15 Septem-Wawancara dengan staf pada Jum’at, 15 Septem-ber 2006 pukul 10.30 WITA s.d selesai, No. Field Record: NTB/PA Al-Ikhlas/15/1.4.4.

34 Wawancara dengan kepala panti pada Jum’at, 15Wawancara dengan kepala panti pada Jum’at, 15 September 2006 pukul 13.00 WITA s.d selesai, No. Field Record: NTB/PA Al-Ikhlas/16/1.4.5.

35 Wawancara dengan staf pada Jum’at, 15 Septem-Wawancara dengan staf pada Jum’at, 15 Septem-ber 2006 pukul 10.30 WITA s.d selesai, No. Field Record: NTB/PA Al-Ikhlas/16/1.4.5.

(24)

halaman

Tidak tertulis. Yang penting taat peraturan,”37 (KP) dan dikatakan staf panti, “Tidak tertulis. Anak-anak harus mematuhi semua peraturan yang ada di panti.”38 (S)

e. Rencana Pelayanan Individual (Care Plan)

Dalam merancang pelayanan, panti Al-Ikh-las tidak mempunyai rencana pelayanan untuk tiap anak. Semua pelayanan dilakukan seperti biasanya secara rutin, jarang sekali ada ren-cana-rencana khusus terkait kekhasan akan kebutuhan anak. Tidak ada assessment khusus untuk setiap anak yang membuat pelayanan terhadap anak-anak tersebut berbeda. Semua dilakukan secara umum saja, sesuai kemam-puan panti, seperti biasanya. Ini yang diakui oleh kepala39 dan staf panti.40 Demikian yang diakui anak-anak. Mereka mengatakan tidak ada rencana pelayanan individual. Anak-anak mengikuti kegiatan rutin yang sudah ada. Ke-giatan rutin dan umum tersebut pun tidak disusun secara terencana, melainkan terjadi secara alamiah karena sudah berlangsung se-jak panti berdiri.41

f. Review

Selama ini panti tidak pernah melakukan

review perkembangan anak, situasi anak, dan situtasi keluarga. Akan tetapi staf panti per-nah secara personal mendatangi keluarga anak asuh, tidak dalam rangka perjalanan tugas dari panti. Waktu itu dia mendatangi keluarga anak asuh di Bali, karena kebetulan ia ada urusan di daerah sana. Ia melihat bahwa kondisi ke-luarga anak tersebut memang masih mempri-hatinkan dan memang selayaknnya anak

me-37 Wawancara dengan kepala panti pada Jum’at, 15Wawancara dengan kepala panti pada Jum’at, 15 September 2006 pukul 13.00 WITA s.d selesai, No. Field Record: NTB/PA Al-Ikhlas/17/1.4.6.

38 Wawancara dengan staf pada Jum’at, 15 Septem-Wawancara dengan staf pada Jum’at, 15 Septem-ber 2006 pukul 10.30 WITA s.d selesai, No. Field Record: NTB/PA Al-Ikhlas/17/1.4.6.

39 Wawancara dengan kepala panti pada Jum’at, 15Wawancara dengan kepala panti pada Jum’at, 15 September 2006 pukul 13.00 WITA s.d selesai, No. Field Record: NTB/PA Al-Ikhlas/19/1.5.2.

40 Wawancara dengan staf pada Jum’at, 15 Septem-Wawancara dengan staf pada Jum’at, 15 Septem-ber 2006 pukul 10.30 WITA s.d selesai, No. Field Record: NTB/PA Al-Ikhlas/19/1.5.2.

41 Wawancara dengan anak-anak pada Sabtu, 16Wawancara dengan anak-anak pada Sabtu, 16 September 2006 pukul 11.00 WITA s.d selesai, No. Field Record: NTB/PA Al-Ikhlas/19/1.5.2 dan NTB/PA Al-Ikhlas/20/1.5.3.

reka tetap berada di panti. Jadi seperti sudah menjadi kesepakatan tak tertulis bahwa setiap pengurus yang bepergian ke suatu daerah dia wajib menyempatkan diri menengok keluarga anak asuh, seperti tuturnya, “Ada, tapi sifatnya individu, setiap pengurus yang pergi ke wilayah tertentu untuk kepentingannya sendiri, ia wajib menengok anak tersebut.”42 (S)

Di panti ini, semua kebutuhan anak sebisa mungkin dipenuhi, meskipun dilihat kadar pri-oritasnya. Karena faktor prioritas karena mem-pertimbangkan sumber daya yang ada itulah maka pemenuhan kebutuhan tidak selalu seja-lan dengan perkembangan dan usia anak yang berubah. Kepala panti menjelaskan, “Semua ke-butuhan diri disediakan oleh panti secara sama, baik kecil maupun besar.”43 (KP) Menurut anak-anak pun demikian. Tidak ada pelayanan yang khusus. Hanya saja anak-anak dikelompokkan berdasarkan tingkatan sekolahnya. Kegiatan anak berjalan secara alamiah.44

Adapun review penempatan anak di panti hanya dilakukan dalam konteks adanya pelang-garan berat yang dilakukan sang anak se-hingga anak harus terpaksa dikembalikan ke orang tua. Jadi bukan karena situasi anak yang berubah atau kondisi orang tua atau keluarga yang berubah. Seperti dikatakan kepala panti, “Tidak. Anak dipulangkan ke orang tua kalau dia melakukan kesalahan berat saja.”45 (KP) Ke-salahan berat yang dimaksud adalah mencuri, suatu perbuatan yang tidak dapat ditolerir di panti ini. Saat ini pun, di mana kondisi panti masih belum normal karena pembangunan atau renovasi, anak-anak tetap di dalam panti, tidak dipulangkan ke rumahnya. Anak tidur di masjid dan sebagian di kantor dengan meng-gelar kasur, sebagian lagi di depan dapur. Pada siang hari, anak-anak biasa tidur di alam ter-buka, di atap kandang ayam misalnya.

42 Wawancara dengan staf pada Jum’at, 15 Septem-Wawancara dengan staf pada Jum’at, 15 Septem-ber 2006 pukul 10.30 WITA s.d selesai, No. Field Record: NTB/PA Al-Ikhlas/22/1.6.1.

43 Wawancara dengan kepala panti pada Jum’at, 15Wawancara dengan kepala panti pada Jum’at, 15 September 2006 pukul 13.00 WITA s.d selesai, No. Field Record: NTB/PA Al-Ikhlas/23/1.6.2.

44 Wawancara dengan anak-anak pada Sabtu, 16Wawancara dengan anak-anak pada Sabtu, 16 September 2006 pukul 11.00 WITA s.d selesai, No. Field Record: NTB/PA Al-Ikhlas/23/1.6.2.

(25)

halaman

g. Pelayanan, kelanjutan pelayanan, dan

pasca pelayanan

Pelayanan-pelayanan yang disediakan un-tuk anak yang tinggal di panti adalah penyantu-nan kebutuhan akan sandang, pangan, dan pe-menuhan kebutuhan tempat tinggal anak, serta pelayanan pendidikan, baik formal di sekolah maupun non-formal di dalam lingkungan panti seperti, kedisiplinan shalat berjamaah 5 waktu, pengajian dan bimbingan belajar, seperti kepala panti katakan, “Ada pengajian yang diisi oleh pengurus menurut jadwalnya masing-masing. Al-hamdulillah lima waktu anak-anak ini berjamaah, kalau yang di sekolah ya berjamaah di sekolah.”46 (KP) Menurut penuturan anak-anak, pelayanan yang mereka terima selama di panti meliputi:

1. Pendidikan, dengan bersekolah formal sampai dengan tamat SLTA, kalau ada yang pintar juga diusahakan akan dikuli-ahkan. Contohnya ada satu orang anak panti yang sekarang dikuliahkan.

2. Makan 3 (tiga) kali sehari. Pagi jam 06.00 sebelum berangkat sekolah, siang jam 13.00 sepulang dari sekolah setelah sholat dzuhur. Makan malam jam 19.30 setelah sholat isya.

3. Tempat tinggal dalam bentuk kamar-ka-mar, asrama.

4. Uang transport yang diberikan seminggu sekali setiap hari Senin. Besar kecilnya ongkos bergantung dari jauh dekatnya sekolah. Uang transport berkisar antara Rp.3000 sampai dengan

Rp.5000,-5. Perlengkapan sekolah setahun sekali berupa buku tulis, bolpoin, dan seragam sekolah.

Panti tidak memiliki prosedur yang te-rencana untuk mengakhiri pelayanan. Setelah anak lulus SLTA, anak-anak biasanya dikemba-likan ke keluarganya. Hanya saja, ada beberapa anak yang disalurkan bekerja di tempat-tem-pat usaha milik panti atau milik pengurus panti seperti di studio foto. Panti biasanya juga mempersiapkan anak dengan membekali ke-terampilan selama berada di panti, tergantung

46 Wawancara dengan kepala panti pada Jum’at, 15Wawancara dengan kepala panti pada Jum’at, 15 September 2006 pukul 13.00 WITA s.d selesai, No. Field Record: NTB/PA Al-Ikhlas/26/1.7.1.

minat anak. Hal ini dilakukan untuk mengan-tisipasi masalah-masalah yang muncul karena pengakhiran pelayanan. Dari pembekalan ke-terampilan yang dilakukan nanti akan terlihat siapa anak yang potensial untuk ”dikader” baik di bidang usahanya atau di bidang pendidikan-nya, dengan dikuliahkan, seperti kata kepala panti, ”Mengambil anak yang potensial untuk bantu di kios dan atau dikuliahkan.”47 (KP) Di an-tara pengayaan keterampilan itu, semasa masih menjadi anak asuh, anak-anak sudah ada yang dilibatkan untuk membantu menjaga studio foto milik panti secara bergiliran seperti kata staf panti, “Ditugaskan menjaga kios atau studio foto.”48 (S) Semua itu dilakukan panti dalam rangka memfasilitasi anak supaya dengan mu-dah memasuki kehidupan baru setelah keluar dari panti, seperti dijelaskan kepala panti,

”Member� merek� ke�er�mp���� f���gr��� Kami punya studio foto, petugasnya anak-anak kita. Kalau jahit menjahit kelihatannya mereka kurang selera begitu padahal kita punya mesin, tapi ya itu minatnya yang ndak ada. Cuma mereka ndak tertarik sepertinya. Padahal kalau kita lihat di masyarakat itu sangat dibutuhkan. Kalau untuk keterampilan montir itu baru ada semangat itu, padahal itu agak berat dan agak kotor. Sayangnya itu yang tidak kita miliki. Sekarang di Narmada ini sudah ��� 3 (��g�) s�u��� f��� ���g ��ke���� ���k panti. Mereka sudah bisa mandiri, bisa hidup, malah mereka bisa lebih kaya dari saya. Saya belum punya mobil, motor pun kreditan haha, mereka sudah punya mobil. Malah kita mau buka kerjasama dengan Departemen Agama untuk pemotoan calon jamaah haji, kita yang melakukan pemotoannya.”49 (KP)

Meskipun demikian, panti tidak memiliki mekanisme monitoring terhadap anak yang telah keluar dari panti.

47 Wawancara dengan kepala panti pada Jum’at, 15Wawancara dengan kepala panti pada Jum’at, 15 September 2006 pukul 13.00 WITA s.d selesai, No. Field Record: NTB/PA Al-Ikhlas/29/1.7.4.

48 Wawancara dengan staf pada Jum’at, 15 Septem-Wawancara dengan staf pada Jum’at, 15 Septem-ber 2006 pukul 10.30 WITA s.d selesai, No. Field Record: NTB/PA Al-Ikhlas/29/1.7.4.

(26)

halaman

h. Prosedur penanganan anak yang keluar dari panti

Terhadap anak yang tidak mau lagi di pan-ti, kebijakan panti adalah mengembalikan anak tersebut ke rumah orang tua atau keluarganya seperti dikatakan oleh kepala panti.50 Namun, kasus anak yang tidak mau lagi di panti biasanya melanda pada anak baru dan karenanya kepu-tusan memulangkan mereka tidak buru-buru diambil karena biasanya kalau sudah sampai dua atau tiga hari mereka akan bisa menye-suaikan diri seperti dikatakan staf, ”Anak-anak kadang-kadang baru-baru masuk saja ndak be-��h���, p����g ��3 h�r�, k��� su��h 3 bu��� �� s��� disuruh pulang aja ndak mau dia.”51 (S)

Menurut anak-anak, yang mengobrol san-tai sambil mengecat genteng, ada beberapa kasus anak yang dikembalikan ke keluarganya, seperti cerita seorang anak,

“Dulu ada anak yang dipulangkan, anak pendiam, tidak mau bergaul, tidak mau beradaptasi gitu, diajak juga ndak mau, katanya ndak betah ingat saja kepada keluarganya, terus orang tuanya dipanggil, dibawa pulang lagi sama orang tuanya”5�

(AI. A1)

Cerita anak yang lain, “Saya pernah diceri-tain sama teman, katanya ada anak yang ngero-kok terus dikeluarin sama Pak Jum.”53 (AI. A5)

Berdasarkan pengetahuan dan pengala-man kepala panti, belum pernah ada anak yang kabur dari panti. Dan menurut staf panti, anak yang kabur itu paling lama dia tidak pulang ke panti selama 2 (dua) hari saja. Selain itu, anak

50 Wawancara dengan kepala panti pada Jum’at, 15Wawancara dengan kepala panti pada Jum’at, 15 September 2006 pukul 13.00 WITA s.d selesai, No. Field Record: NTB/PA Al-Ikhlas/32/1.8.1.

51 Wawancara dengan staf pada Jum’at, 15 Septem-Wawancara dengan staf pada Jum’at, 15 Septem-ber 2006 pukul 10.30 WITA s.d selesai, No. Field Record: NTB/PA Al-Ikhlas/32/1.8.1.

52 Wawancara, anak, AI. A1, laki-laki, pada Jum’at, 15Wawancara, anak, AI. A1, laki-laki, pada Jum’at, 15 September 2006 pukul 09.15 WITA s.d selesai, No. Field Record: NTB/PA Al-Ikhlas/32/1.8.1 NTB/PA Al-Ikhlas/32/1.8.1.

53 Wawancara, anak, AI. A5, laki-laki, pada Jum’at,Wawancara, anak, AI. A5, laki-laki, pada Jum’at, 15 September 2006 pukul 09.15 WITA. Ketika sedang mengobrol ini, anak-anak tiba-tiba bubar berlarian sambil berteriak, “Eh Mas Bur, Mas Bur.” Ada seseorang datang ke masjid. Dia bernama Burhanudin. Dia sering ke panti untuk menemui anak-anak. Setiap datanag dia membawa sesuatu untuk anak-anak seperti sabun, odol, baju bekas, makanan, dan sebagainya. Lima belas menit kemudian anak-anak berkumpul kembali sambil membawa sabun dan odol di tangannya.

biasanya pulang lagi ke panti, seperti kata staf panti,

“�er��h ���� ��bur��� ��u p����g � h�r�� Trus kembali lagi. Ya kita panggil aja maksud kita supaya dia jangan mengulangi lagi. Ya hukumnya dengan kata-kata kita berikan sedikit sanksi, kalo dia ulangi lagi kita suruh dia bersihkan WC sama menyapu sepanjang anu [halaman].”54 (S)

2. Personal Care

a. Makanan

Secara kualitas, makanan yang disediakan untuk disantap anak, berdasarkan pengamatan, belum memenuhi standar gizi 4 sehat 5 sem-purna. Hal ini karena anak-anak sangat jarang diberi susu dan buah serta daging, dan tidak ada yang bertugas mengatur dan mengontrol menu. Menurut juru masak, yang biasa juga dipanggil ibu dapur oleh anak-anak, beliau bi-ngung dalam hal mengatur menu. Hal ini karena daftar menu yang lama sudah hilang, sedangkan ibu dapur baru 2 (dua) bulan bertugas menjadi juru masak dan belum terbiasa dengan menu panti. Berikut cerita ibu dapur tentang tugas dan beberapa menu panti,

”Tug�s, m�s�k 3 k��� seh�r�� S�r�p�� puku� setengan tujuh. Menu tahu, tempe, telur. �er��h s��� m���� ��p� p�k Rez� b����g nanti-nanti terus. Jadi saya bingung di pasar. Kalo malam, pelecing kangkung, pindang dll. Kalo ayam paling 1 kali dalam 1 minggu, tapi ndak tentu juga. Daging sapi dan kambing tidak pernah.”55 (JM)

Sedangkan staf mengatakan,

“Menu kita buat sendiri, disesuaikan dengan yang ada di pasar, ya berkisar tahu, tempe, ikan asin dll. Kalo susu pernah tiap hari minggu kita kasih sesudah anak-anak olahraga, susunya susu kaleng. Kalo kita lihat makannya anak-anak di sini lebih

54 Wawancara dengan staf pada Jum’at, 15 Septem-Wawancara dengan staf pada Jum’at, 15 Septem-ber 2006 pukul 10.30 WITA s.d selesai, No. Field Record: NTB/PA Al-Ikhlas/33/1.8.2.

(27)

halaman

mewah lah makannya daripada dia di rumahnya. Keinginan kita sih memberi yang paling baik, tapi kan kita ambil akhirnya yang sederhana, tidak terlalu mewah.”56 (S)

Anak-anak menjelaskan tentang kegiatan makan mereka yaitu mereka makan sehari 3 kali sehari dengan jadwal dan menu sebagai berikut,

Pagi: Jam 06.00 dengan menu nasi, sayur dan kadang-kadang dengan tempe atau tahu.

Siang: Jam 13.00 dengan menu nasi, sayur, tahu atau tempe atau ikan asin.

Malam: Jam 19.30 dengan menu nasi, sayur, tahu atau tempe atau ikan asin.

Mereka mengatakan bahwa di antara menu makan mereka tidak pernah ada lauk daging atau ikan atau ayam, seringnya tahu, tempe, dan ikan asin, serta tidak pernah ada susu. Menu disusun sendiri oleh ‘ibu dapur’ (sebutan anak-anak untuk juru masak) dan anak-anak-anak-anak tidak pernah terlibat dalam penyusunan menu.

Adapun alokasi biaya untuk makan per anak per hari sulit untuk dikalkulasi, karena pa-tokan pembiayaan makan anak bukan berdasar-kan berapa rupiah per anak. Adapun sumber pembiayaannya adalah dari beberapa sumber seperti dana subsidi BBM, Yayasan Dharmais dan sumbangan tidak mengikat lainnya. Berikut penjelasan staf, “Ada bantuan dari subsidi BBM �500 per ���k� ��� ����k cukup� �e�ge�u�r�� k���

Secara umum staf memahami kebutuhan makan anak sesuai dengan perkembangannya, namun sulit untuk membeda-bedakan menu makan anak, jadi menu disamakan untuk semua

56 Wawancara dengan staf pada Jum’at, 15 Septem-Wawancara dengan staf pada Jum’at, 15 Septem-ber 2006 pukul 10.30 WITA s.d selesai, No. Field Record: NTB/PA Al-Ikhlas/34/2.1.1

57 Wawancara dengan staf pada Jum’at, 15 Septem-Wawancara dengan staf pada Jum’at, 15 Septem-ber 2006 pukul 10.30 WITA s.d selesai, No. Field Record: NTB/PA Al-Ikhlas/35/2.1.2

58 Wawancara dengan juru masak pada Jum’at, 15Wawancara dengan juru masak pada Jum’at, 15 September 2006 pukul 13.00 WITA s.d selesai, No. Field Record: NTB/PA Al-Ikhlas/35/2.1.2

umur. Staf mengatakan ibu dapur mengetahui kebutuhan makan anak sesuai usianya, “Tahu ���� Y��g p����g kec�� ���k �� s��� k�� �0 ��hu�, kita tidak masakan khusus karena biasanya nafsu makan usia segitu sudah sama saja dengan yang besar.”59 (S) Ini berbeda dengan yang dikatakan ibu dapur yang mengatakan bahwa yang dima-saknya sama saja untuk semua umur.60

Adapun peralatan, tempat, dan proses penyiapan dan penghindangan makanan relatif bersih, meskipun mungkin belum sepenuhnya memenuhi syarat higienis. Hal ini dikarenakan air mengalir dengan lancar dan kualitasnya sangat baik di dapur sehingga sangat mudah membersihkan baik sayuran, makanan, dan peralatan makan dan masak di dapur.

Meskipun yang memasak adalah juru masak, namun menurut pengurus anak-anak terbiasa terlibat dalam penyiapan makanan minimal menyiapkan makanan untuk mereka sendiri. Bahkan ketika juru masak sedang pu-lang kampung dalam beberapa hari, sebagian anak yang besar berinisiatif memasak untuk semua temannya. Kepala Panti mengatakan, “Ya. Anak-anak ini kalo ibu dapur ndak ada mereka memberlakukan jadwal masak sendiri.”61 (KP) Staf juga membenarkan,

”Ya mereka ikut bantu sedikit-sedikit, tapi kalo ibu sedang ndak ada ya mereka masak sendiri. Biasanya yang besar. Ini kita latih mereka supaya mandiri dan yang besar tumbuh rasa sayang kepada yang kecil. Saya ndak perlu nyuruh. Kalo ibu dapurnya pulang seperti sekarang ini, tanpa disuruh dia bisa masak. Saya juga dulu begitu, saya bisa masak, kita gantian masak. Itu anak-anak mereka sendiri bikin jadwal, inisiatif sendiri, masak pagi siapa, masak sore siapa. Setelah ada ibu dapur ya mereka sekadar membantu mengupas-ngupas, anak tidak dibuat manja.”6� (S)

59 Wawancara dengan juru masak pada Jum’at, 15Wawancara dengan juru masak pada Jum’at, 15 September 2006 pukul 13.00 WITA s.d selesai, No. Field Record: NTB/PA Al-Ikhlas/36/2.1.3

60 Wawancara dengan juru masak pada Jum’at, 15Wawancara dengan juru masak pada Jum’at, 15 September 2006 pukul 13.00 WITA s.d selesai, No. Field Record: NTB/PA Al-Ikhlas/36/2.1.3

61 Wawancara dengan kepala panti pada Jum’at, 15Wawancara dengan kepala panti pada Jum’at, 15 September 2006 pukul 13.00 WITA s.d selesai, No. Field Record: NTB/PA Al-Ikhlas/38/2.1.5

Figur

Tabel 1.  Sarana Ruang PSAA Al-Ikhlas

Tabel 1.

Sarana Ruang PSAA Al-Ikhlas p.10
Tabel 3.  Penggunaan Uang PSAA Al-Ikhlas tahun 2005

Tabel 3.

Penggunaan Uang PSAA Al-Ikhlas tahun 2005 p.12
Tabel 6. SDM Panti Asuhan Al-Ikhlas Berdasarkan Lama Bekerja

Tabel 6.

SDM Panti Asuhan Al-Ikhlas Berdasarkan Lama Bekerja p.12
Tabel 7. SDM Panti Asuhan Al-Ikhlas Berdasarkan

Tabel 7.

SDM Panti Asuhan Al-Ikhlas Berdasarkan p.13
Tabel 9. Komposisi Anak Asuh Panti

Tabel 9.

Komposisi Anak Asuh Panti p.16
Tabel 13.  Komposisi Anak Asuh Panti Berdasarkan Pendidikan

Tabel 13.

Komposisi Anak Asuh Panti Berdasarkan Pendidikan p.17
Tabel 14.  Komposisi Anak Asuh Panti Berdasarkan Pihak yang Mengantar ke Panti

Tabel 14.

Komposisi Anak Asuh Panti Berdasarkan Pihak yang Mengantar ke Panti p.17
Tabel 15. Komposisi Anak Asuh Panti Berdasarkan Tingkat Kunjungan Keluarga

Tabel 15.

Komposisi Anak Asuh Panti Berdasarkan Tingkat Kunjungan Keluarga p.18
Gambar 1. Kondisi Panti Selama Renovasi

Gambar 1.

Kondisi Panti Selama Renovasi p.31
Gambar 4. Kegiatan Muhadhoroh

Gambar 4.

Kegiatan Muhadhoroh p.32
Gambar 7. Mengecat genting di kala waktuMengecat genting di kala waktu

Gambar 7.

Mengecat genting di kala waktuMengecat genting di kala waktu p.34
Gambar 9. Kamar mandi & kegiatan kebersihan diri anak asuh

Gambar 9.

Kamar mandi & kegiatan kebersihan diri anak asuh p.35
Gambar 10. Anak-anak berbincang dengan

Gambar 10.

Anak-anak berbincang dengan p.38
Gambar 11. Suasana dapur, Ukuran dapur terlalu

Gambar 11.

Suasana dapur, Ukuran dapur terlalu p.46
Gambar 12. Suasana kantor

Gambar 12.

Suasana kantor p.47

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :