Efektivitas Penggunaan Media Teka Teki Silang dalam Pembelajaran Katakana

74  39  Download (3)

Teks penuh

(1)
(2)

DAFTAR ISI

ABSTRAK ... i

ABSTRACT ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL ... x

DAFTAR GAMBAR ... xi

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Rumusan Masalah ... 3

1.3. Batasan Masalah ... 3

1.4. Tujuan Penelitian ... 4

1.5. Manfaat Penelitian ... 4

1.6. Definisi Operasional ... 5

1.7. Sistematika Penulisan ... 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Katakana ... 8

2.1.1. Sejrah Katakana ... 8

2.1.2. Huruf Katakana ... 10

2.1.3. Cara Penulisan Huruf Katakana... 11

2.1.4. Penulisan Huruf Katakana Dakuon ... 13

(3)

2.1.6. Penulisan Konsonan Rangkap ... 15

2.17. Penulisan kata kata yang mengandung dua atau lebih Konsonan ... 16

2.1.8. Penggunaan Huruf Katakana... 20

2.2. Media Pembelajaran ... 23

2.2.1. Definisi Media Pembelajaran ... 23

2.2.2. Penggunaan dan Pemilihan Media Pembelajaran ... 24

2.2.3. Fungsi Media Pada Pembelajaran ... 25

2.2.4. Jenis Media Pembelajaran ... 26

2.3. Teka Teki Silang ... 28

2.3.1. Sejarah Teka teki Silang... 28

BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Metode Penelitian... 30

3.2. Objek Penelitian ... 31

3.2.1. Populasi ... 31

3.2.2. Sampel ... 31

3.3. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 31

3.4. Teknik Pengumpulan Data ... 32

3.5. Teknik Pengolahan Data ... 33

3.5.1. Pengolahan Data Pretest dan Postest ... 33

3.5.2. Pengolahan Data Angket ... 36

(4)

4.2. Hasil Evaluasi Pembelajaran Katakana Menggunakan

Media Teka Teki Silang ... 44 4.2.1. Hasil Preetest ... 45 4.2.2. Hasil Postest ... 46 4.2.3. Efektivitas Pembelajaran Katakana Menggunakan

Media Teka Teki Silang ... 46 4.3. Tanggapan Siswa Terhadap Penggunaan

Media Teka Teki Silang Dalam Pembelajaran Katakana ... 47 BAB V KESIMPULAN

5.1. Kesimpulan ... 54 5.2. Saran ... 55

(5)

DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, Azhar Prof Dr. 2011. Media Pembelajaran. Jakarta: Rajawali Pers Arsyad, 2003. Manfaat Dan Fungsi. [online].Tersedia:

http://alasror.wordpress.com/?s=MANFAAT+DAN+FUNGSI Emhas 2006 archive. Diunduh pada 21 Mei 2014. Tersedia pada:

(http://blog.so-net.ne.jp/emhas_2006/archive/200704-1)

Erlina.wordpress.com 2011. Teka teki silang sebagai media pembelajaran. Diunduh pada : 12 Juni 2014. Tersedia Pada:

http://erlinna.wordpress.com/2011/05/20/teka-teki-sebagai-media-pembelajaran/

Gifran akan 2013. Cara membuat teka teki silang. Diunduh pada: 21April 2014. Tersedia pada:

http://www.akangrifan.net/2013/07/cara-membuat-teka-teki-silang-tts-di.html

Pasolin 2012. Mengetahui sejarah teka teki silang. Dinduh pada 23 Mei 2014. Tersdia pada:

http://unik247.blogspot.com/2012/03/mengetahui-sejarah-teka-teki-silang-tts.html.

Rachmawati, Y. 2009. Pengertian Metode. [online]. Tersedia: http://ktiptk. blogspirit.com/archive/2009/01/26/pengertian-metode.html [7 Mei 2014] Sudjianto dan Dahidi, A. 2007. Pengantar Linguistik Bahasa Jepang. Jakarta: Kesaint Blanc

Sudjana, N dan Rival, A. 2007. Media Pembelajaran. Bandung: Sinar Baru Algensindo Offset.

Sugiyono, Prof Dr. 2008. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

(6)

Hamalik, Fungsi dan Manfaat Media Pembelajaran.[online].Tersedia: http://pemudaberkata..com/2009/05/fungsi-dan-manfaat-media-pembelajaran.html.

Tn. 2014. Metodologi Penelitian. [Online]. Tersedia: http://www.ebook-searchengine.

com/pengertian-metode-penelitian-ebook-all.html [7 Mei 2014] Wikipedia. Aksara kana. Diunduh pada : 28 Juni 2014. Tersedia pada:

http://id,wikipedia.org/wiki/aksara_kana

(7)

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Dadang Sujana

Nim : 63809010

Program Studi : Sastra Jepang

Tempat tanggal lahir : Cianjur 27 Juni 1991 Jenis Kelamin : Laki-Laki

Kewarganegaraan : Indonesia

Agama :Islam

Alamat :Kp. Sukadana Ds. Haurwangi RT.04/06 Haurwangi

Kota : Cianjur

Berat Badan : 68 Kg Tinggi Badan : 163 Cm

Status Menikah : Belum Menikah Riwayat Pendidikan :

No Pendidikan Tahun Ajaran

1 SD 2 Haurwangi 1997-2003

2 SMPN 4 Bojong Picung 2003-2006

(8)

ORANG TUA

Nama Ayah :Aceng

Pekerjaan :Wiraswasta

Alamat : Kp. Sukadana Ds. Haurwangi RT. 04/06 Haurwangi

Kota : Cianjur

Nama Ibu : Yayas

Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga

Alamat : Kp.Sukadana Ds. Haurwangi RT.04/06 Haurwangi

Kota : Cianjur

Bandung, Juli 2014

(9)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT karena atas segala rahmat, hidayah, serta petunjuk-Nya telah memberikan kelancaran dalam membuat laporan skripsi ini.

Penulisan skripsi ini adalah guna memenuhi syarat menempuh ujian sidang sarjana sastra, Program Studi Sastra Jepang, Fakultas Sastra, Universitas Komputer Indonesia.

Skripsi ini diberi judul “Efektivitas Penggunaan Media Teka Teki Silang

Dalam Pembelajaran Katakana”.

Dalam penyusunan skripsi ini penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang dikarenakan terbatasnya kemampuan, pengetahuan, dan waktu yang penulis miliki, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik serta saran yang membangun.

Besar harapan penulis agar laporan ini dapat bermanfaat bagi pembaca. Penulis juga berterimakasih kepada semua pihak yang membantu dalam penyusunan skripsi ini, yaitu:

1. Bapak Prof. Dr.Moh. Tadjuddin, MA. Selaku Dekan Fakultas Sastra Universitas Komputer Indonesia.

2. Ibu Pitri Haryanti, M.Pd. Selaku Ketua Program Studi Sastra Jepang 3. Ibu Fenny Febrianty, S.S, M.Pd. Selaku Dosen Wali dan Pembimbing I

(10)

4. Bapak Soni Mulyawan Setiana, M.Pd, Selaku Pembimbing II atas ilmu dan bimbingannya.

5. Ibu Riska Sri Rahmawati, SS. Selaku Dosen Program Studi Sastra Jepang atas kesabaran membimbing dan memberikan saran yang membangun selama masa perkuliahan.

6. Marutani Toshihiro, Dosen yang selalu khawatir akan masa depan murid muridnya dan selalu memberi contoh baik dengan penuh semangat. 7. Mbak Tyas Christiarini, sekretaris Sastra Jepang Universitas Komputer

Indonesia, terima kasih atas segala bantuannya.

8. Seluruh Jajaran Staff Dosen Universitas Komputer Indonesia.

9. Kedua orang tua tercinta, yang tiada lelah dan tiada menyerah untuk memberikan pendidikan setinggi-tingginya dan sebaik-baiknya bagi penulis serta berkat kasih sayang dan kata-kata bijaknya yang memberikan dorongan terkuat agar penulis dapat menyelesaikan laporan penelitian ini. 10.Para siswa SMA KARYABAKTI kelas XI IPS , yang telah bekerja sama

dalam penelitian ini.

11.Teman-temanku, Galuh, Aldi, Babe, Opik, Ican, Regi, Fadly, yang sudah memberikan masukan-masukan dalam Penelitian ini.

12.Untuk sahabatku Nkonk dan yunus yang selalu memberikan saran- saran dan motivasi

(11)

Akhir kata penulis berharap laporan ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca dan penulis sendiri.

Bandung, Agustus 2014

(12)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Katakana

2.1.1 Sejarah Huruf Katakana

Orang Jepang mulai bisa menulis setelah mengenal aksara Tionghoa. Namun akasara tionghoa mulai diciptakan untuk menulis bahasa Tionghoa dan orang Jepang sulit memakainya untuk menulis bahasa Jepang. Sebagai pemecahannya, sebuah karakter dipakai untuk melambangkan sebuah bunyi, sedangkan arti yang dikandung masing-masing karakter diabaikan. Hasilnya adalah tulisan yang ditulis dengan menyusun satu demi satu aksara kanji untuk melambangkan bunyi bahasa Jepang. Metode tersebut dipakai untuk menulis prasasti batu dan literatur klasik seperti kojiki,Nihon shoki dan sebagian besar isi manyoshu sehingga disebut man’nyogana (kana untuk man’yoshu) kata “kana”sendiri berarti aksara

sementara atau aksara pinjaman. Pada waktu itu, kanji juga dikenal sebagai mana (真字, aksara resmi), sehingga kana untuk Man'yōshū disebut magana (真仮名 kana resmi).

Di antara metode penulisan kanji secara man'yōgana yang paling populer

adalah:

(13)

b. kun'gana (訓 仮 名): masing-masing karakter dibaca menurut ucapan Jepang, misalnya: 八間跡夏樫 写心 鳴呼 dibaca: "yamato natsukashi utsushigokoro a".

Berdasarkan fungsinya yang hanya sebagai lambang bunyi, sewaktu kanji dipakai sebagai man'yōgana, orang tidak lagi memakai karakter yang dibentuk

dari coretan-coretan yang rumit dan susah ditulis. Karakter yang terus dipakai adalah karakter yang mudah ditulis. Ketika dipakai untuk menulis waka atau tulisan sehari-hari, man'yogana yang ditulis kursif (sōsho) disebut sōgana (草仮 名?). Selanjutnya agar lebih cepat ditulis, sōgana kembali disederhanakan hingga

tercipta hiragana.

Sementara itu, katakana berawal dari penggunaan kanji yang dibaca menurut ucapan bahasa Jepang untuk menulis kanbun. Tanda-tanda khusus ditambahkan di tempat susunan kanji harus dibaca menurut ucapan bahasa Jepang. Kanbun juga disertai petunjuk berupa okurigana dan furigana (yomigana) agar kalimat bisa dibaca sebagai bahasa Jepang. Keterbatasan ruang kertas akhirnya membuat orang hanya menulis coretan yang unik dari sebuah karakter sehingga tercipta katakana. Selanjutnya, kanbun dilengkapi dengan katakana agar mudah dibaca.Setelah katakana dan hiragana semakin luas digunakan, man'yōgana semakin jarang

(14)

2.1.2 Huruf Katakana

Katakana adalah huruf –huruf yang terbentuk seperti ウ ク ス

ロワ Katakana adalah huruf-huruf yang terbentuk dari garis-garis atau

coretan coretan yang lurus (chokusenteki), sedangkan hiragana terbentuk dari gari-garis atau coretan-coretan yang melengkung (kyokusenteki) (Iwabuchi,1989:51). Bentuk garis-garis atau coretan-coretan inilah yang menjadi salah satu karakteristik katakana yang membedakannya dengan hiragana.

Bunyi bahasa asing tidak dapat dinyatakan dengan tepat sekali dalam kata-kata bahasa jepang, karena dalam bahasa jepang kadang-kadang tidak terdapat huruf untuk bunyi-bunyi tertentu. kata-kata asing di jepangkan dulu atau dirubah menurut sistim lafal bahasa jepang yang dapat ditulis dengan huruf jepang. Misalnya huruf :

“th”ditulis dengan huruf ( (sa), (shi),ス(su), (se), (so))

“ti”ditulis dengan huruf (chi), kadang-kadang ditulis sebagai huruf (ti)

supaya lebih dekat dengan bunyi aslinya.

“di”ditulis dengan huruf (ji), kadang-kadang ditulis sebagai huruf (di )

supaya lebih dekat dengan bunyi aslinya.

(15)

Tabel 2.1

Tabel Asal Mula Huruf Katakana (katoo,1992 :228) (阿) (伊) ウ(宁) (江) (於)

(加) (幾) ク(久) (介) (己)

(散) (之) ス(湏) ( ) (曽)

(多) (千) (川) (天) (止)

(奈) (二) ( ) (祢) (乃)

(八) (比) ( ) (部) (保)

(万) (三) (牟) ( ) (毛)

(也) (由) (與)

(利) (流) (礼) ロ(呂) ワ(輪) 又 (和)

( )

2.1.3 Cara Penulisan Huruf Katakana

(16)

Table 2.2

Tabel Cara Penulisan Huruf Katakana

Huruf katakana ada 46 huruf, tetapi huruf (wo) tidak dipakai maka ada 45 huruf katakana yang dipakai dalam kata-kata bahasa jepang. Bunyi huruf katakana sama dengan bunyi huruf hiragana yaitu, mempunyai bunyi seion, bunyi dakuon, bunyi youon, rangkap konsonan dan vokal panjang. Untuk bunyi panjang huruf hiragana menggunakan huruf あ(a)、い i ,う u ,え e , o

sedangkan bunyi panjang huruf katakana dinyatakan dengan tanda ー(garis). Tanda ini berarti suku-kata sebelumnya diucapkan secara panjang. Penulisan huruf katakana pada kata-kata yang berasal dari bahasa asing tidak ditulis menurut ucapan asli kata asing, tetapi sesuai dengan ucapan oleh penuturnya (orang Jepang).

(17)

Table 2.3

Table Huruf Katakana Dasar

a i ウu e o

ka ki クku ke ko

sa shi スsu se so

ta chi tsu te to

na ni nu ne no

ha hi fu he ho

ma mi mu me mo

ya ― yu ― yo

ra ri ru re ロro

ワwa ― ― ― wo

n ― ― ― ―

2.1.4 Penulisan huruf Katakana Dakuon

(18)

Tabel 2.4

Tabel huruf katakana dakuon

huruf-huruf dasar yang menggunakan [``] tanda tenten adalah huruf (ka)、

(sa)、 (ta) dan (ha) sedangkan huruf dasar yang menggunakan [o] tanda maru

(bulatan kecil) adalah huruf (ha).

2.1.5 Penulisan huruf Katakana Yoon

Bunyi Yoon adalah bunyi huruf katakana dasar dengan menambahkan huruf (ya) (yu) dan (yo) yang ditulis lebih kecil daripada huruf dasar. Apabila

huruf (ya)、 (yu) dan (yo) ditulis sama dengan huruf dasar maka akan

terbaca masing-masing hurufnya, misalnya huruf (hiya) berbeda dengan

(hya). Untuk itu perlu diperhatikan penulisan huruf tersebut. Huruf dasar yang

menggunakan huruf (ya)、 (yu) dan (yo) adalah huruf dasar urutan kedua,

misalnya; huruf (ki)、 (shi)、 (chi)、 (ni)、 (hi)、 (mi)、dan (ri). Contoh:

ga gi gu ge go

za ji zu ze zo

da ji zu de ドdo

ba bi bu be bo

(19)

Tabel 2.5 Tabel katakana yoon

kya ― kyu ― kyo

sya ― syu ― syo

cya ― cyu ― cyo

nya ― nyu ― nyo

hya ― hyu ― hyo

mya ― myu ― myo

rya ― ryu ― ryo

2.1.6 Penulisan Konsonan Rangkap

Bunyi konsonan rangkap dinyatakan dengan huruf dasar (tsu) kecil yang

ditempatkan didepan huruf yang mengandung bunyi konsonan (tsu) kecil ini menunjukkan bahwa konsonan berikutnya diucapkan dengan hitungan dua suku kata.

Contoh :

Kata Asing Ejaan Katakana Soccer Sakka

(20)

2.3.7 Penulisan Kata-kata yang mengandung dua atau lebih konsonan.

Kata-katata yang mengandung dua atau lebih konsonan secara berturut-turut di ucapkan dan ditulis dengan menambahkan vocal dibelakang konsonan masing masing.

a. Menggunakan huruf t dan d ditambah dengan huruf o Contoh:

Kata asing Ejaan katakana

Hint hinto

Emerald emerarudo ド

Salad sarada

Menggunakan huruf c, b, f, g, k, l, m, p dan s ditambah dengan huruf u Contoh:

Kata asing Ejaan katakana

Post posuto ス

Milk miruku ク

3 Penulisan Bunyi konsonan berganda dinyatakan dengan menggunakan huruf (tsu) kecil

1. Menggunakan huruf _ck Contoh :

Pocket poketto

Snack sunakku ス ク

(21)

contoh :

tax takkusu クス

switch suicchi ス

badge bajji

3. menggunakan huruf_ss_pp,_tt,_ff contoh :

massage massaji

pineaple painappuru

marionette marionette

staff sutaffu ス

4. menggunakan huruf _at_ap_et_ip_og_ic_ot contoh :

cat kyatto

snap sunappu ス

net netto

technic tekunikku ク ク

robot robotto ロ

4 penulisan kata-kata yang mengandung dua vocal diucapkan sebagai konsonan berganda.

Contoh :

(22)

Bread bureddo ド

Couple kappuru

Biscuit bisuketto ス

5 Penulisan bunyi panjang dinyatakan dengan tanda _(garis)

tanda _garis ini berarti suku kata sebelumnya di ucapkan secara panjang. Contoh :

1. Menggunakan huruf ar_er_ir_ur_or

Car ka- ー

Lover raba- ー

Skirt suka-to ス ー

Turn ta-n ーn

Form fo-mu ー

2. Menggunakan huruf _ee_ea_ai_ao_ou_au_oo- contoh :

speed supi-do ス ード

seal shi-ru ー

rail re-ru ー

boat bo-to ー

group guru-pu ー

audition o-dishon ー

(23)

3. menggunakan huruf_all,_al,_ol contoh:

call ko-ru ー

half ha-fu ー

gold go-rudo ー ド

4. menggunakan huruf_W_Y contoh :

news nyu-su ース

salary salari- ー

5. menggunakan huruf _a_e_o_e_u_e contoh:

game ge-mu ー

note no-to ー

tube chu-be ー

6. menggunakan huruf _ation,_otion_ contoh :

intonation intone-shon ー

lation ro-shon ロー

7. menggunakan huruf _ire_true_ contoh :

fire faiya

(24)

2.1.8 Penggunaan Huruf Katakana

Huruf Katakana dipakai untuk menulis : a. Kata – kata yang berasal dari bahasa asing.

Dalam bahasa Jepang, kata serapan (loanword) secara garis besar terdiri lima jenis; representational, replacement, truncated, altered, dan pseudo terms .

1. Representational : istilah ini mewakili obyek dari luar dan pengertiannya yang tidak mempunyai padanan kata dalam bahasa Jepang, seperti; [ba-na-na] = pisang, ロ [Meron] =

Melon, ー [booru] = Ball, dan ー [Konpyuuta] = Computer.

2. Replacement : istilah ini mewakili obyek dan pengertiannya yang mempunyai padanan kata dalam bahasa Jepang, seperti ス [risuto] = list , kata ini mempunyai padanan kata dalam bahasa Jepang,目録[もくろく] = mokuroku, ロ [puroguramu] =

program, kata ini mempunyai padanan kata, 計画 [けい く] = Keikaku. Kata serapan jenis ini dipergunakan karena lebih praktis dan lebih familiar untuk menulis surat resmi atau dokumen dibandingkan harus menulis dengan bahasa aslinya.

(25)

bahasa Inggris. Kata serapan jenis ini menggunakan perpendekan dan memotong kata, kata-kata yang panjang sering dipotong ke dalam bentuk yang lebih pendek. Kata serapan jenis ini dapat terjadi pemendekan dalam kata-kata dalam kanji, pola yang umum dari pemendekan ini adalah dengan mengambil dari kanji pertama dari tiap kata dan digabungkan bersama dan pola yang lain adalah dengan mengambil dua suku kata pertama dari dua kata, dalam kata lain, dua kana pertama, dan membentuk sebuah kata baru dari empat suku kata digabung bersama, sebagai contoh; family restaurant [

ー ス ], menjadi famiresu [ ス], Play Station

ー ス ー , menjadi puresuta ー ス dan Personal

Computer ー ー , menjadi pasokon [ ].

4. Altered : istilah ini dipergunakan untuk kata serapan yang berubah artinya sesudah masuk ke dalam bahasa Jepang, seperti;

[Haikara] dari High Collar, yang berarti Modis dan ワ [Waishatsu], yang berarti pakaian [segala warna],

5. Pseudo term : kata baru yang tercipta dari dari kata-kata bahasa asing dan huruf yang sudah ada sebelumnya, [Oeru] dari kata OL,

yang artinya Office Lady, sebuah akronim bahasa Inggris, dan ー ド ス[Orudomisu], yang artinya Old miss, yang digunakan di

Inggris, Old maid.

(26)

b. Nama orang, tempat asing dan kata-kata benda asing

Contoh: nama tempat ー ー ク(nyuuyooku, New York), Nama

orang ス (Osda), Nama benda ー ー

(konpyuuta,computer)

c. Kata kata yang menirukan sesuatu bunyi onomatopoeia (efek bunyi)Katakana juga sering dipakai untuk menghasilkan onomatopeia (efek bunyi) dalam tulisan; terutama untuk bunyi yang keras/menyentak. Dalam bahasa Indonesia, kurang lebih seperti menulis “dug-dug” untuk menggambarkan detak jantung.

Contoh :

(gatsu)

-bunyi hentakan, cf, “gats”atau “bats”

(GOGOGOGOGO…)

= bunyi ledakan beruntun, cf. „dor-dor-dor’

ドク

(DOKUN)

= bunyi detak jantung mendadak, cf. „DUGG’

Dengan cara yang sama, katakana juga bisa dipakai untuk menggambarkan teriakan (cf. “AAAAAAAAAAAAAAA!!!”). Menarik juga untuk dicatat bahwa

(27)

terjemahan. (e.g. “DUGG”, “CRASH”, “BAM”, dan sebagainya.)

(http//sora9n.wordpress.com/2008/12/12/mengenal-huruf-kana-2-katakana/) 2.2 Media Pembelajaran

2.2.1. Definisi media Pembelajaran

Kata media berasal dari bahasa latin medius yang secara harfiah berarti tengah, perantara atau pengantar. Menurut Gerlach dan Ely yang dikutip oleh Azhar Arsyad (2011), media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi dan kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, ketrampilan atau sikap. Dalam pengertian ini, guru, buku teks, dan lingkungan sekolah merupakan media. Sedangkan menurut Criticos yang dikutip oleh Daryanto (2011:4) media merupakan salah satu komponen komunikasi, yaitu sebagai pembawa pesan dari komunikator menuju komunikan.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa media adalah segala sesuatu benda atau komponen yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat siswa dalam proses belajar.

(28)

perasaan, perhatian dan kemampuan atau ketrampilan pebelajar sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar.

Menurut Heinich yang dikutip oleh Azhar Arsyad (2011:4), media pembelajaran adalah perantara yang membawa pesan atau informasi bertujuan instruksional atau mengandung maksud-maksud pengajaran antara sumber dan penerima.

2.2.2 Penggunaan dan Pemilihan Media Pembelajaran

Menurut Strauss dan Frost dalam Dina Indriana (2011:32) mengidentifikasikan sembilan faktor kunci yang harus menjadi pertimbangan dalam memilih media pengajaran. Kesembilan faktor kunci tersebut antara lain batasan sumber daya institusional, kesesuaian media dengan mata pelajaran yang diajarkan, karakteristik siswa atau anak didik, perilaku pendidik dan tingkat keterampilannya, sasaran pembelajaran mata pelajaran, hubungan pembelajaran, lokasi pembelajaran, waktu dan tingkat keragaman media

Sedangkan menurut Arief S. Sadiman, dkk (2011:84) mengemukakan pemilih media antara lain adalah a) bermaksud mendemonstrasikannya seperti halnya pada kuliah tentang media, b) merasa sudah akrab dengan media tersebut, misalnya seorang dosen yang sudah terbiasa menggunakan proyektor transparansi, c) ingin memberi gambaran atau penjelasan yang lebih konkret, dan d) merasa bahwa media dapat berbuat lebih dari yang bisa dilakukan, misalnya untuk menarik minat atau gairah belajar siswa.

(29)

a. Kemampuan mengakomodasikan penyajian stimulus yang tepat (visual dan/ atau audio)

b. Kemampuan mengakomodasikan respon siswa yang tepat (tertulis, audio, dan/ atau kegiatan fisik)

c. Kemampuan mengakomodasikan umpan balik

d. Pemilihan media utama dan media sekunder untuk penyajian informasi atau stimulus, dan untuk latihan dan tes (sebaiknya latihan dan tes menggunakan media yang sama)

e. Tingkat kesenangan (preferensi lembaga, guru, dan pelajar) dan keefektivan biaya

(Azhar Arsyad, 2011:71)

2.2.3 Fungsi Media Pada Pembelajaran

Menurut Azhar Arsyad (2011:15) fungsi utama media pembelajaran adalah sebagai alat bantu mengajar yang turut mempengaruhi iklim, kondisi, dan lingkungan belajar yang ditata dan diciptakan oleh guru. Sedangkan menurut Hamalik (dalam Azhar Arsyad, 2011) bahwa pemakaian media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa.

Menurut Arif S. Sadiman, dkk (2011) menyebutkan bahwa kegunaan-kegunaan media pembelajaran yaitu:

(30)

c. Penggunaan media pembelajaran yang tepat dan bervariasi dapat mengatasi sikap pasif anak didik.

d. Memberikan perangsang belajar yang sama. e. Menyamakan pengalaman.

f. Menimbulkan persepsi yang sama 2.2.4. Jenis Media Pembelajaran

Sejalan dengan perkembangan teknologi, maka media pembelajaran pun mengalami perkembangan melalui pemanfaatan teknologi itu sendiri. Berdasarkan teknologi tersebut, Azhar Arsyad (2011) mengklasifikasikan media atas empat kelompok, yaitu :

a. Media hasil teknologi cetak.

b. Media hasil teknologi audio-visual.

c. Media hasil teknologi yang berdasarkan komputer. d. Media hasil gabungan teknologi cetak dan komputer.

Klasifikasi media pembelajaran menurut Seels dan Glasgow (dalam Azhari Arsyad 2011:33) membagi media kedalam dua kelompok besar, yaitu : media tradisional dan media teknologi mutakhir.

a. Pilihan media tradisional

1) Visual diam yang diproyeksikan yaitu proyeksi apaque, proyeksi overhead, slides, filmstrips.

2) Visual yang tak diproyeksikan yaitu gambar, poster, foto, charts, grafik, diagram, pameran, papan info, papan-bulu.

(31)

4) Penyajian multimedia yaitu slide plus suara (tape).

5) Visual dinamis yang diproyeksikan yaitu film, televisi, video.

6) Media cetak yaitu buku teks, modul, teks terprogram, workbook, majalahilmiah, lembaran lepas (hand-out).

7) Permainan yaitu teka-teki, simulasi, permainan papan.

8) Media realia yaitu model, specimen (contoh), manipulatif (peta, boneka).

b. Pilihan media teknologi mutakhir

1) Media berbasis telekomunikasi yaitu telekonferen, kuliah jarak jauh. 2) Media berbasis mikroprosesor yaitu computer-assisted instruction,

permainan komputer, sistem tutor intelijen, interaktif, hipermedia, compact (video) disc

Sedangkan klasifikasi media pembelajaran menurut Ibrahim yang dikutip oleh Daryanto (2011) media dikelompokkan berdasarkan ukuran dan kompleks tidaknya alat dan perlengkapannya atas lima kelompok, yaitu media tanpa proyeksi dua dimensi, media tanpa proyeksi tiga dimensi, audio, proyeksi, televisi, video, dan komputer.

(32)

2.3. Teka Teki Silang

2.3.1 Sejarah teka teki silang

Teka teki silang di ciptakan pertama kali oleh wartawan/jurnalis dari Liverpool, bernama Arthur Wyne tahun 1913. Dalam majalah new York word dengan format sepert yang lita kenal saat ini. Teka teki silang wayne agak berbeda dengan teka teki silang yang kita kenal sekarang. Teka teki silang buatan wayne bentuknya separti diamond dan tidak ada kotak hitam (kotak kosong). Sejak abad ke 20, teka teki sialng menjadi salah satu isi dari majalah-majalah yang ada di amerika serikat. Pada abad inilah teka teki silang menjadi popular dengan format yang kita kenal sekarang. Semenjak 10 tahun setelah teka teki silang dilahirkan kembali ke amerika serikat, ia kemudian menyebar ke eropa.

teka teki silang diamond

(33)

kotak-kotak tersebut sebagian berwarna putih dan yang lain berwarna hitam. Pada sebagian kotak berwarna putih diberi nomor yang mengindikasikan nomor jawaban.

(34)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian

Metode penelitian menurut Sutedi (2009 : 54) merupakan prosedur dan langkah kerja yang digunakan dalam langkah penelitian secara teratur dan sistematis. Mulai dari tahap perencanaan, pengumpulan data, pengolahan data sampai pada tahap pengambilan kesimpulan. Berdasarkan pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa metode penelitian adalah prosedur sistematis yang harus dilakukan oleh seorang peneliti untuk mengumpulkan data sebagai upaya untuk menyelesaikan suatu permasalahan penelitian mulai dari tahap perencanaan, pengumpulan data, pengolahan data, sampai pada tahap pengambilan kesimpulan. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Penelitian dan Pengembangan atau metode research and development (R&D). Metode penelitian dan pengembangan (R&D) adalah metode penelitian yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu, dan menguji keefektifan produk tersebut, (Sugiyono: 2010). Untuk menguji keefektipan dari media teka teki silang digunakan metode ekperimen quasi dengan dengan model one group pretest-posttest design di mana tidak memungkinkan untuk mengontrol atau

(35)

3.2. Objek Penelitian

3.2.1 Populasi

“Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang

mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya” Sugiyono (2008:117). Pada

penelitian ini yang menjadi populasi adalah siswa SMA KARYABAKTI kelas XI IPS yang ber jumlah 32 siswa.

3.2.2 Sampel

Menurut sugiyono (2009 : 118) sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Pada penelitian ini penulis menggunakan teknik purposive sampling. Menurut Sugiyono (2008 : 218) teknik purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu yakni sumber data dianggap paling tahu tentang apa yang diharapkan sehingga mempermudah peneliti menjelajahi objek atau situasi sosial yang sedang diteliti. Oleh karena itu penulis menentukan sampel dan jumlah sampel dalam penelitian ini, yaitu siswa siswi kelas XI IPS SMA KARYABAKTI CIANJUR yang berjumlah 20 siswa.

3.3 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakasanakan di SMA KARYA BAKTI CIANJUR. Penelitian ini dilakukan dalam bentuk pretest, treatment, postest dan penyebaran angket yang dilaksanakan pada :

(36)

b. Treatmen (pembegian media teka teki silang) dilakuklan pada tanggal 17 Mei kepada 20 siswa

c. Postest dan pembagian angket dilakukan pada tanggal 7 Juni kepada 20 siswa.

3.4 Teknik pengumpulan data

a. Studi Kepustakaan

Peneliti melakukan studi kepustakaan untuk mendapatkan informasi yang berguna untuk menunjang penelitian ini. Dalam studi kepustakaan ini, penulis mencari sumber informasi dari buku, artikel-artikel yang berkaitan dengan penelitian ini. Selain itu penulis banyak membaca dan mempelajari buku yang berkenaan dengan tema penelitian ini.

b. Tes

(37)

c. Angket

Angket merupakan salah satu instrumen pengumpulan data yang diberikan kepada responden (manusia dijadikan subjek penelitian). Teknik angket ini dilakukan dengan cara pengumpulan datanya melalui daftar pertanyaan tertulis yang disusun dan disebarkan untuk mendapatkan informasi atau keterangan dari responden. (Faisal, 1981: 2). Dalam penelitian ini penulis menggunakan angket tertutup dan terbuka, dimana angket ini digunakan untuk mengetahui bagaimana tanggapan para responden terhadap pembelajaran katakana menggunakan teka teki silang dan bagaimana tanggapan para responden mengenai media teka teki silang yang dibuat oleh penulis dilihat dari segi tampilan.

3.5 Teknik pengolahan data

3.5.1 Pengolahan Hasil Pretest dan Posttest

Pretest maupun postest diolah melalui langkah-langkah sebagai berikut: a. Tes

1. Memeriksa Hasil Tes

(38)

2. Menghitung Nilai Rata-Rata Tes

Setelah penghitungan nilai setiap responden selesai, selanjutnya dapat dihitung nilai rata-rata dari seluruh nilai responden dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

Mencari rata-rata pre-tes

(Sarwono, 2006 : 140) Keterangan : M =Nilai rata-rata

∑ = jumlah nilai

N =Responden

Kemudian setelah nilai rata-rata dari kedua tes dihitung, lalu akan dihitung nilai korelasi variabel dengan menggunakan rumus berikut :

(Sugiyono, 2009 : 225) (Sugiyono, 2009 : 225)

Keterangan : rxy =korelasi

∑x2: =rata-rata nilai pretes ∑ 2 = rata-rat nilai postest

=

∑�

rxy=

∑x

(39)

3. Menginterpretasikan Nilai Korelasi Variabel Penelitian

Dari hasil yang telah didapatkan dari tes di atas, maka peneliti mengklasifikasikan sesuai dengan nilai standar, yaitu sebagai berikut:

Tabel 3.1

Pedoman Untuk Memberikan Interpretasi Koefisien Korelasi

Korelasi Tingkat hubungan

80 – 1 Sangat kuat

60 – 799 Kuat

40 – 599 Sedang

20 – 399 Rendah

01 – 199 Sangat Rendah

Iskandar (2008 : 127)

4. Menarik Kesimpulan

Setelah penghitungan hasil pre-tes dan post-tes dilakukan, maka untuk mengetahui apakah kemampuan siswa dalam menguasai Katakana menurun atau meningkat, dilakukan perbandingan hasil pre-test dan post-tes. Selain itu dengan membandingkan hasil tes tersebut, dapat diketahui bagaimana efektivitas penggunaan media teka teki silang dalam pembelajaran katakana

(40)

3.5.2 Pengolahan Data Angket

Selain mengolah data yang diperoleh dari hasil tes, peneliti juga mengolah data yang diperoleh dari angket yang disebarkan kepada responden. Adapun rumus yang digunakan untuk menghitung data angket yaitu sebagai berikut :

(suherman dan sukjaya , 1991 : 71) Keterangan:

P : Prosentase

f : Frekwensi dari setiap jawaban angket n : Jumlah responden

100 : Bilangan tetap

Dari hasil prosentase yang telah didapat kemudian dimasukkan ke dalam skala sikap, yang tampak pada tabel dibawah ini :

Tabel 3.2

Tabel Prosentase Skala Sikap

P = 0 Tidak seorang pun

0<P<25% Sebagian kecil 25%≤ P ≤ 50% Hampir setengahnya

P = 50% Setengahnya

50%>P>75% Hampir sebagian besar 75%>P>99% Sebagian besar

P = 100% Seluruhnya

(Sugiyono,2010)

P

=

(41)

BAB IV

PEMBAHASAN

4.1 Pembuatan Media Teka Teki Silang

Penulis membuat sebuah media yang digunakan sebagai media pembelajaran dengan tujuan untuk mempermudah pembelajar dalam mempelajari huruf katakana. Media tersebut dibuat dengan menggunakan perangkat lunak CoreldrawX6 dalam bentuk teka teki silang.

Langkah langkah yang penulis lakukan saat membuat media teka teki silang adalah sebagai berikut :

1. Mempersiapkan materi yang akan digunakan sebagai isi media, berupa kosakataka Katakana yang terdapat di buku Sakura Jilid 1,2 dan 3.

2. Setelah semua materi sudah terkumpul penulis membuat 10 latihan teka teki silang.

(42)

Gambar 4.1

b. Selanjutnya menentukan kosakata yang akan digunakan sebagai pertanyaan.

(43)

c. Setelah itu menyusun nomor dan menyesuiakan kotak teka teki silang dengan jumlah huruf pada setiap kosakatanya.

Gambar 4.3

d. Setelah itu menghitamkan kotak kotak yang tidak dipakai sehingga kotak kotak yang terisi terlihat dengan jelas.

(44)

e. Setelah itu menyusun pertanyaan dari kosakata yang telah disusun pada kotak teka teki silang.

Gambar 4.5

Berikut ini adalah Gambar 10 latihan teka teki silang.

Gambar 4.6 gambar 4.7

(45)

Gambar 4.8 Gambar 4.9

(46)

Gambar 4.12 Gambar 4.13

(47)

f. Setelah selesai membuat 10 latihan teka teki silang, dibuatlah daftar kosakata katakana yang di tulis dengan huruf romajai untuk mengisi jawaban teka teki silang dari latihan 1sampai 10.

Gambar 4.16 gambar 4.18

(48)

4.2 Hasil Evaluasi Pembelajaran Katakana Menggunakan Media Teka

Teki Silang

Pada penelitian ini peneliti melaksanakan dua kali tes, yaitu pre-tes atau tes awal dimana siswa-siswi diberi tes sebelum menggunakan media teka teki silang sebagai media media pembelajaran Katakana. Setelah diberikan materi pembelajaran Katakana dengan menggunakan media teka teki silang kemudian siswa-siswi diberikan tes yang kedua yaitu post-tes yang data-datanya adalah sebagai berikut.

Tabel 4.1

Hasil test kemampuan siswa dalam pembelajaran Katakana

sebelum menerima media teka teki silang (X) dan sesudah menerima media teka teki silang (Y)

NO NAMA X Y X2 Y2 XY

1 R1 10 95 100 9025 950

2 R2 15 70 225 4900 1125

3 R3 10 61 100 3721 610

4 R4 10 66 100 4356 660

5 R5 5 65 25 4225 325

6 R6 15 90 225 8100 1350

7 R7 15 85 225 7225 1275

8 R8 5 75 25 4900 350

9 R9 5 80 25 5625 375

(49)

4.2.1 Hasil pretest

Untuk penghitungan nilai rata-rata kemampuan siswa dalam pembelajaran Katakana sebelum mempergunakan media teka teki silang, peneliti menghitung nilai rata-rata kemampuan siswa dengan rumus yang telah ditentukan sebagai berikut :

=∑

M = 150

20

M = 7,5

11 R11 5 90 25 8100 450

12 R12 15 80 225 6400 1200

13 R13 5 60 25 3600 300

14 R14 10 75 100 5625 750

15 R15 0 65 0 4225 65

16 R16 0 60 0 3600 60

17 R17 0 65 0 4225 65

18 R18 0 66 0 4356 66

19 R19 0 70 0 4900 70

20 R20 20 95 400 9025 2375

(50)

4.2.2 Hasil postest

untuk nilai rata-rata kemampuan siswa dalam pembelajaran Katakana setelah mempergunakan media teka teki silang ini adalah sebagai berikut :

=∑

M = 1483 20

M = 74,15

Dari hasil yang telah didapatkan, hasil pre-tes kemampuan siswa sebelum menggunakan pembelajaran Katakana dengan media teka teki silang adalah 7,5. Sedangkan dari hasil post-tes setelah siswa menggunakan pembelajaran Katakana dengan media teka teki silang adalah 74,15. Setelah mendapatkan hasil pre-tes dan post-tes, terlihat bahwa kemampuan penguasaan Katakana meningkat.

4.2.3 Efektifitas Pembelajaran Katakana Menggunakan Media Teka Teki

Silang

Selanjutnya peneliti akan menghitung nilai korelasi antara kemampuan siswa sebelum menggunakan pembelajaran Katakana dengan media teka teki silang dan kemampuan siswa setelah menggunakan pembelajaran Katakana dengan media teka teki silang yang akan dihitung dengan rumus sebagai berikut :

rxy= ∑x

∑x2 (∑ 2)

rxy= 12821

1850 98033

rxy= 12821

(51)

rxy= 12821

13467 ,03567

rxy =

0,95

Dari hasil penghitungan yang ada di atas, maka nilai korelasi sebelum siswa menggunakan pembelajaran Katakana dengan media teka teki silang dan setelah menggunakan pembelajaran dengan media teka teki silang adalah 0.95. Nilai 0.95 ini menunjukan bahwa kemampuan siswa sebelum menggunakan pembelajaran Katakana dengan media teka teki silang dan setelah menggunakan pembelajaran dengan media teka teki silang adalah sangat kuat. Ini berarti hasilnya adalah efektif.

4.3 Tanggapan Siswa Terhadap Penggunaan Media Teka Teki Silang

Dalam Pembelajaran Katakana

Pada penelitian ini Penulis juga memberikan dua angket mengenai tanggapan siswa terhadap tampilan media dan materi pembelajaran media. a. Hasil Analisis Angket I

1) Apakah Anda mengalami kesulitan dalam mempelajari Katakana? Tabel 4.2

Tabel Angket Nomor 1

Jawaban F %

a. Ya b. Tidak

17 3

(52)

Berdasarkan tabel diatas dapat kita lihat bahwa responden 85% menyatakan mengalami kesulitan dalam mempelajari katakana sedangkan yang tidak mengalami kesulitan 10%.

2) Jika ya, apa kesulitan yang Anda alami saat mempelajari Katakana? Tabel 4.3

Tabel Angket Nomor 2

Jawaban F %

a. kesulit dalam menghafal bentuk katakana

b. kesulitan menulis katakana

9

11

45%

55%

Berdasarkan tabel diatas dapat kita lihat bahwa kesulitan dalam mempelajari katakana yaitu 45% responden menyatakan kesulitan dalam menghafal bentuk katakana sedangkan kesulitan dalam menulis katakana 55%.

3) Menurut Anda apakah metode yang digunakan oleh guru saat mengajar Katakana selama masa belajar dikelas bahasa Jepang sudah menarik?

(53)

e. Tidak menarik 2 10%

Berdasarkan tabel diatas dapat kita lihat bahwa responden 30% menyatakan sangat menarik, menggunakan metode yang digunakan oleh guru saat mengajar Katakana, cukup menarik, 20% kurang menarik 40% dan tidak menarik 10%.

4) Apakah Anda mengalami kesulitan dengan metode yang digunakan oleh guru saat mengajar Katakana selam masa belajar di kelas bahasa Jepang?

Tabel 4.5

Tabel Angket Nomor 4

Jawaban F %

a. Ya b. Tidak

16 4

45% 55%

(54)

5) Jika ya, apa kekurangan dari metode yang digunakan oleh guru saat mengajar Katakana selama belajar di kelas bahasa Jepang?

Tabel 4.6

Tabel Angket Nomor 5

Jawaban F %

a. Tidak ada media alternatif sebagai alat peraga dalam pembelajaran Katakana

b. Tidak ada media alternatif yang dapat dipergunakan untuk latihan menulis katakana

6

14

30%

70%

(55)

7) Apakah media teka teki silang“ クロスワード” membantu anda dalam media teka teki silang sangat membantu dalam menghafal bentuk katakana.

8) Apakah anda mengalami kesulitan dalam mempelajari Katakana memgunakan media teka teki silang “クロスワード“?

Tabel 4.9

(56)

9) Bagaimana kemampuan anda dalam membaca dan menulis Katakana setelah melakukan pembelajaran dengan media teka teki silang “クロスワ

ード? kemampuannya meningkat dalam membaca dan menulis katakan setelah belajar menggunakan media teka teki sialng “クロスワード“

10)Apakah pembelajaran Katakana dengan menggunakan media teka teki silang “クロスワード“meningkatkan motivasi anda dalam mempelajari

(57)

Dari tabel diatas dapat kita lihat bahwa responden 100% menyatakan belajar Katakana menggunakan media teka teki silang “ク ロ ス ワ ー ド “meningkatkan motivasi dalam mempelajari bahasa Jepang.

b. Hasil Analisis Angket II

1. Secara keseluruhan tampilan media teka teki silang “クロスワード “ sangat menarik dikarenakan tampilan pada gambar kotak teka teki

silang cerah dan tampilan pada cover sangat menarik.

2. Tanggapan mengenai pembelajaran katakana sebagian besar menyatakan sangat membantu dalam latihan menulis dan menghafal katakana

3. Kekurangan media teka teki silang sebagain besar menyatakan tampilan pada setiap teka teki silang tampilannya hanya dua warna.

(58)

EFEKTIVITAS PENGGUNAAN MEDIA TEKA TEKI SILANG DALAM

PEMBELAJARAN KATAKANA

DADANG SUJANA

ABSTRAK

Katakana merupakan salah satu unsur terpenting yang tidak dapat diabaikan dan wajib dikuasai oleh pembelajar bahasa Jepang karena dengan menguasai Katakana akan sangat membantu pembelajar dalam mempelajari bahasa Jepang terutama dalam menuliskan kata-kata asing, nama orang, tempat, dan lain-lain. namun banyak pembelajar yang merasa kesulitan dalam mengingat dan menulis katakana. Maka untuk mengatasi kesulitan itu salah satunya dengan cara mempelajari secara khusus mengenai huruf katakana.yaitu dengan mengunakan media teka teki silang sebagai media pembelajaran katakana.

Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui kemampuan siswa sebelum dan sesudah diterapkan media teka teki silang, mengetahui keefektifan media teka teki silang serta mengetahui tanggapan siswa terhadap pembelajaran katakana menggunakan media teka teki silang.

Penelitian ini menggunakan metode Research and Development (R&D). dan untuk menguji keefektipan dari media teka teki silang digunakan metode ekperimen quasi dengan model one group pretest-posttest design di mana tidak memungkinkan untuk mengontrol atau memanipulasi semua variabel yang relevan.Sampel penelitian ini adalah 20 siswa kelas XI IPS SMA KARYA BAKTI CIANJUR. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah Angket dan tes. Berdasarkan pengolahan data Nilai rata-rata pretest siswa SMA KARYABAKTI CIANJUR adalah 7,5 yang artinya sangat rendah, sedangkan rata-rata hasil posttestnya adalah 74,15 yang artinya baik, sedangkan nilai korelasinya adalah 0,95 yang artinya sangat baik sehingga dapat dikatakan bahwa penggunaan media Teka Teki Silang efektif untuk pembelajaran Katakana. Sementara untuk hasil angket, responden secara keseluruhan menyatakan pembelajaran katakana menggunakan media teka teki silang sangat membantu dalam latihan menulis dan menghafal katakana.

Kata kunci : media teka teki silang Katakana

1. LATAR BELAKANG

(59)

sebagainya. Berdasarkan hal tersebut, katakana merupakan salah satu unsur terpenting yang tidak dapat diabaikan dan wajib dikuasai oleh pembelajar bahasa Jepang karena dengan menguasai Katakana akan sangat membantu pembelajar dalam mempelajari bahasa Jepang terutama dalam menuliskan kata- kata asing, nama orang, tempat, dan lain-lain. banyak cara untuk belajar Katakana, namun banyak pembelajar yang merasa kesulitan dalam menguasai huruf tersebut. Dari pengalaman penulis saat melakukan pengamatan di SMA KARYABAKTI HAURWANGI, ketika siswa disuruh menulis dan membaca kata ataupun kalimat bahasa Jepang dalam huruf katakana mereka mengeluh dan merasa kesulitan. Menurut Sutedi (2009 : 44) (Kesulitan yang dialami biasanya berupa kesulitan mengingat bentuk huruf, kesulitan dalam membedakan huruf, kesulitan menuliskan huruf dengan urutan yang benar.

Untuk mengatasi kesulitan itu salah satunya dengan cara mempelajari secara khusus mengenai huruf katakana. yaitu dengan mengunakan media teka teki silang sebagai media pembelajaran. Karena media Teka-teki silang ini melatih siswa untuk meningkatkan daya ingat terhadap katakana atau kosakata katakana bahasa Jepang. Latihan mengingat membantu siswa menggunakan otak meraka untuk fokus dan menyimpan informasi. Dengan sering berlatiih mengulang Katakana menggunakan media teka teki silang, maka pembelajar bahasa jepang akan menguasai Katakana tersebut. Dengan pelatihan Katakana pun membuat pembelajar bahasa Jepang menjadi terbiasa dalam menulis atau mengingat Katakana, karena dengan menerapkan media teka teki silang siswa dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar peserta didik. sebab dalam mengisi teka teki silang kondisi pikiran yang jernih, rileks dan tenang akan membuat memori otak kuat sehingga daya ingat pun meningkat. Selain itu dengan media teka teki silang ini membuat kita berfikir dan juga mencari dan menemukan jawaban dengan menyenangkan.

Oleh karena itu berdasarkan pemikiran di atas maka penulis akan melakukan penelitian yang berjudul “EFEKTIVITAS PENGGUNAAN MEDIA TEKA TEKI SILANG DALAM PEMBELAJARAN KATAKANA”

(60)

2010). Untuk menguji keefektipan dari media teka teki silang digunakan metode ekperimen quasi dengan dengan model one group pretest-posttest design di mana tidak memungkinkan untuk mengontrol atau memanipulasi semua variabel yang relevan. Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

a. Bagi Penulis

Menjawab permasalahan-permasalahan yang muncul dalam kegitan pembelajaran huruf Katakana.

b. Bagi siswa

Mempermudah siswa dalam mempelajari huruf Katakana dan memberi suasana baru pada pembelajaran bahasa Jepang melalui penggunaan media teka teki silang.

c. Bagi guru

Menjadi salah satu alternatif media yang dapat digunakan dalam pembelajaran bahasa Jepang dalam upaya meningkatkan penguasaan huruf Katakana

d. Bagi sekolah

Sebagai salah satu masukan untuk meningkatkan pembelajaran dengan cara menambah fasilitas pendukung guru dan siswa terhadap berbagai teknik pembelajaran yang semakin berkembang.

2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1.Sejarah Huruf Katakana

(61)

pinjaman. Pada waktu itu, kanji juga dikenal sebagai mana (真 字, aksara resmi), sehingga kana untuk Man'yōshū disebut magana (真仮名kana resmi).

Di antara metode penulisan kanji secara man'yōgana yang paling populer adalah: a. on'gana (音仮名): bunyi dalam ucapan Tionghoa dipakai untuk menulis bahasa

Jepang, misalnya: 夜麻 河波 宇具比須 有兼 dibaca: "yama kawa uguhisu arikemu"

b. kun'gana (訓仮名): masing-masing karakter dibaca menurut ucapan Jepang, misalnya: 八 間 跡 夏 樫 写 心 鳴 呼 dibaca: "yamato natsukashi utsushigokoro a".

Berdasarkan fungsinya yang hanya sebagai lambang bunyi, sewaktu kanji dipakai sebagai man'yōgana, orang tidak lagi memakai karakter yang dibentuk dari coretan -coretan yang rumit dan susah ditulis. Karakter yang terus dipakai adalah karakter yang mudah ditulis. Ketika dipakai untuk menulis waka atau tulisan sehari-hari, man'yogana yang ditulis kursif (sōsho) disebut sōgana (草仮名?). Selanjutnya agar lebih cepat ditulis, sōgana kembali disederhanakan hingga tercipta hiragana.

Sementara itu, katakana berawal dari penggunaan kanji yang dibaca menurut ucapan bahasa Jepang untuk menulis kanbun. Tanda-tanda khusus ditambahkan di tempat susunan kanji harus dibaca menurut ucapan bahasa Jepang. Kanbun juga disertai petunjuk berupa okurigana dan furigana (yomigana) agar kalimat bisa dibaca sebagai bahasa Jepang. Keterbatasan ruang kertas akhirnya membuat orang hanya menulis coretan yang unik dari sebuah karakter sehingga tercipta katakana. Selanjutnya, kanbun dilengkapi dengan katakana agar mudah dibaca.Setelah katakana dan hiragana semakin luas digunakan, man'yōgana semakin jarang dipakai.

http://id,wikipedia.org/wiki/aksara_kana

2.2Sejarah teka teki silang

(62)

menjadi salah satu isi dari majalah-majalah yang ada di amerika serikat. Pada abad inilah teka teki silang menjadi popular dengan format yang kita kenal sekarang. Semenjak 10 tahun setelah teka teki silang dilahirkan kembali ke amerika serikat, ia kemudian menyebar ke eropa.

teka teki silang diamond

Teka teki silang merupakan salah satu bentuk permainan bahasa. permainan ini dapat digunakan sebagai teknik untuk melatih penguasaan kosakata atau huruf. Media yang diperlukan untuk permainan ini adalah gambar yang didalamnya terdapat rangkaian bujur sangkar atau persegi empat sama sisi, kotak-kotak tersebut sebagian berwarna putih dan yang lain berwarna hitam. Pada sebagian kotak berwarna putih diberi nomor yang mengindikasikan nomor jawaban.

Dalam permainan kotak berwarna putih harus diisi dengan huruf-huruf. Susunan huruf tersebut baik secara horisontal maupun vertikal pada akan membentuk kata yang merupakan jawaban dari pertanyaan yang ada. pertanyaan terdiri dari dua macam yaitu pertanyaan untuk jawaban yang harus ditulis secara horisontal (mendatar) dan pertanyaan untuk jawaban yang harus ditulis secara vertikal (menurun). Pertanyaan biasanya ditulis dibawah atau disamping gambar.

3. PEMBAHASAN

3.1 Pembuatan Media Teka Teki Silang

(63)

Media tersebut dibuat dengan menggunakan perangkat lunak CoreldrawX6 dalam bentuk teka teki silang.

Langkah langkah yang penulis lakukan saat membuat media teka teki silang adalah sebagai berikut :

1. Mempersiapkan materi yang akan digunakan sebagai isi media, berupa kosakataka Katakana yang terdapat di buku Sakura Jilid 1,2 dan 3.

2. Setelah semua materi sudah terkumpul penulis membuat 10 latihan teka teki silang.

a. pertama adalah membuat kotak kotak teka teki silang menggunakan program corelDraw X6

b. Selanjutnya menentukan kosakata yang akan digunakan sebagai pertanyaan. c. Setelah itu menyusun nomor dan menyesuiakan kotak teka teki silang

dengan jumlah huruf pada setiap kosakatanya.

d. Setelah itu menghitamkan kotak kotak yang tidak dipakai sehingga kotak kotak yang terisi terlihat dengan jelas.

e. Setelah itu menyusun pertanyaan dari kosakata yang telah disusun pada kotak teka teki silang.

f. Setelah selesai membuat 10 latihan teka teki silang, dibuatlah daftar kosakata katakana yang di tulis dengan huruf romajai untuk mengisi jawaban teka teki silang dari latihan 1sampai 10.

3.2Hasil Evaluasi Pembelajaran Katakana Menggunakan Media Teka Teki Silang

Pada penelitian ini peneliti melaksanakan dua kali tes, yaitu pre-tes atau tes awal dimana siswa-siswi diberi tes sebelum menggunakan media teka teki silang sebagai media media pembelajaran Katakana. Setelah diberikan materi pembelajaran Katakana dengan menggunakan media teka teki silang kemudian siswa-siswi diberikan tes yang kedua yaitu post-tes yang data-datanya adalah sebagai berikut.

Tabel 3.1

Hasil test kemampuan siswa dalam pembelajaran Katakana

sebelum menerima media teka teki silang (X) dan sesudah menerima media teka teki silang (Y)

NO NAMA X Y X2 Y2 XY

1 R1 10 95 100 9025 950

(64)

3 R3 10 61 100 3721 610

Untuk penghitungan nilai rata-rata kemampuan siswa dalam pembelajaran Katakana sebelum mempergunakan media teka teki silang, peneliti menghitung nilai rata-rata kemampuan siswa dengan rumus yang telah ditentukan sebagai berikut :

= ∑

M = 150

20

M = 7,5 3.4 Hasil postest

(65)

= ∑

M = 1483

20

M = 74,15

Dari hasil yang telah didapatkan, hasil pre-tes kemampuan siswa sebelum menggunakan pembelajaran Katakana dengan media teka teki silang adalah 7,5. Sedangkan dari hasil post-tes setelah siswa menggunakan pembelajaran Katakana dengan media teka teki silang adalah 74,15. Setelah mendapatkan hasil pre-tes dan post-tes, terlihat bahwa kemampuan penguasaan Katakana meningkat.

3.5. Efektifitas Pembelajaran Katakana Menggunakan Media Teka Teki Silang

Selanjutnya peneliti akan menghitung nilai korelasi antara kemampuan siswa sebelum menggunakan pembelajaran Katakana dengan media teka teki silang dan kemampuan siswa setelah menggunakan pembelajaran Katakana dengan media teka teki silang yang akan dihitung dengan rumus sebagai berikut :

(66)

3.6.Tanggapan Siswa Terhadap Penggunaan Media Teka Teki Silang Dalam

Pembelajaran Katakana

Pada penelitian ini Penulis juga memberikan dua angket mengenai tanggapan siswa terhadap tampilan media dan materi pembelajaran media.

a. Hasil Analisis Angket I

1) Apakah Anda mengalami kesulitan dalam mempelajari Katakana? Tabel 4.2 mengalami kesulitan dalam mempelajari katakana sedangkan yang tidak mengalami kesulitan 10%.

2) Jika ya, apa kesulitan yang Anda alami saat mempelajari Katakana? Tabel 4.3

Tabel Angket Nomor 2

Jawaban F %

a. kesulit dalam menghafal bentuk katakana b. kesulitan menulis katakana

9 11

45% 55%

Berdasarkan tabel diatas dapat kita lihat bahwa kesulitan dalam mempelajari katakana yaitu 45% responden menyatakan kesulitan dalam menghafal bentuk katakana sedangkan kesulitan dalam menulis katakana 55%.

3) Menurut Anda apakah metode yang digunakan oleh guru saat mengajar Katakana selama masa belajar dikelas bahasa Jepang sudah menarik?

(67)

e. Tidak menarik 2 10%

Berdasarkan tabel diatas dapat kita lihat bahwa responden 30% menyatakan sangat menarik, menggunakan metode yang digunakan oleh guru saat mengajar Katakana, cukup menarik, 20% kurang menarik 40% dan tidak menarik 10%.

4) Apakah Anda mengalami kesulitan dengan metode yang digunakan oleh guru saat mengajar Katakana selam masa belajar di kelas bahasa Jepang?

Tabel 4.5

Dari tabel di atas dapat kita lihat bahwa responden 45% menyatakan mengalami kesulitan dengan metode yang digunakan oleh guru saat mengajar Katakana sedangkan tidak mengalami kesulitan dengan metode yang digunakan oleh guru saat mengajar Katakana 55%.

5) Jika ya, apa kekurangan dari metode yang digunakan oleh guru saat mengajar Katakana selama belajar di kelas bahasa Jepang?

Tabel 4.6

Tabel Angket Nomor 5

Jawaban F %

a. Tidak ada media alternatif sebagai alat peraga dalam pembelajaran Katakana b. Tidak ada media alternatif yang dapat dipergunakan untuk latihan menulis katakana

6

14

30%

70%

Dari tabel di atas dapat kita lihat bahwa responden 70% menyatakan tidak ada media alternatif yang dapat dipergunakan untuk latihan menulis katakana sedangkan 30% tidak ada media alternatif sebagai alat peraga dalam pembelajaran Katakana.

(68)

Tabel 4.7

Dari tabel diatas dapat kita lihat bahwa responden menyatakan 100% media teka teki silang “クロスワード” membantu dalam latihan menulis Katakana.

7) Apakah media teka teki silang“ ク ロ ス ワ ー ド” membantu anda dalam

Dari tabel diatas dapat kita lihat bahwa responden 100% menyatakan media teka teki silang sangat membantu dalam menghafal bentuk katakana.

8) Apakah anda mengalami kesulitan dalam mempelajari Katakana memgunakan media teka teki silang “クロスワード“?

Berdasarkan tabel diatas responden 17% menyatakan tidak mengalami kesulitan dalam mempelajari Katakana memgunakan media teka teki silang “クロスワード sedangkan 15% mengalami kesulitan.

9) Bagaimana kemampuan anda dalam membaca dan menulis Katakana setelah melakukan pembelajaran dengan media teka teki silang “クロスワード?

(69)

Dari tabel diatas dapat kita lihat bahwa responden 100% menyatakan kemampuannya meningkat dalam membaca dan menulis katakan setelah belajar menggunakan media teka teki sialng “クロスワード

10)Apakah pembelajaran Katakana dengan menggunakan media teka teki silang “ク ロ ス ワ ー ド“meningkatkan motivasi anda dalam mempelajari bahasa Katakana menggunakan media teka teki silang “クロスワード“meningkatkan motivasi dalam mempelajari bahasa Jepang.

b. Hasil Analisis Angket II

1. Secara keseluruhan tampilan media teka teki silang “クロスワード“ sangat menarik dikarenakan tampilan pada gambar kotak teka teki silang cerah dan tampilan pada cover sangat menarik.

2. Tanggapan mengenai pembelajaran katakana sebagian besar menyatakan sangat membantu dalam latihan menulis dan menghafal katakana

3. Kekurangan media teka teki silang sebagain besar menyatakan tampilan pada setiap teka teki silang tampilannya hanya dua warna.

4. Saran mengenai media teka teki silang responden menyatakan kosakata sebagai isi jawaban teka teki silang harus di simpan di pinggir pertanyaan.

4. PENUTUP

4.1 KESIMPULAN

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka penulis menarik kesimpulan yaitu

(70)

Langkah langkah yang penulis lakukan saat membuat media teka teki silang adalah sebagai berikut :

1. Mempersiapkan materi yang akan digunakan sebagai isi media berupa kosakataka Katakana yang terdapat di buku Sakura Jilid 1,2 dan 3.

2. Setelah semua materi sudah terkumpul penulis membuat 10 latihan teka teki silang.

a. pertama adalah membuat kotak kotak teka teki silang menggunakan program corelDraw X6

b. Selanjutnya menentukan kosakata yang akan digunakan sebagai pertanyaan

c. Setelah itu menyusun nomor dan menyesuiakan kotak teka teki silang dengan jumlah huruf pada setiap kosakatanya.

d. Setelah itu menghitamkan kotak kotak yang tidak dipakai sehingga kotak kotak yang terisi terlihat dengan jelas

e. Setelah itu menyusun pertanyaan dari kosakata yang telah disusun pada kotak teka teki silang

b. Dari hasil tes yang telah dilakukan, diketahui nilai rata-rata pretest sebelum menggunakan media teka teki silang siswa SMA KARYABAKTI CIANJUR kelas XI IPS adalah 7,5

c. Dari nilai rata-rata postest sesudah menggunakan media teka teki silang siswa SMA KARYABAKTI CIANJUR kelas XI IPS adalah 74,15.

d. Dari hasil postest dapat dilihat bahwa kemampuan responden setelah menggunakan media teka teki silang untuk pembelajaran Katakana meningkat sebanyak 67,9. Nilai korelasi antara kemampuan responden sebelum dan setelah menggunakan media teka teki silang adalah 0,95. Berdasarkan nilai tersebut maka korelasi pembelajaran sebelum menggunakan media dan setelah menggunakan media adalah sangat kuat, sehingga dapat dikatakan bahwa penggunaan media teka teki silang, efektif untuk pembelajaran Katakana.

(71)

4.2 Saran

a. Bagi siswa SMA KARYABAKTI jangan berhenti mencoba berbagai macam media pembelajaran agar belajar tidak membosankan

b. Bagi pengajar bahasa Jepang, media ini juga dapat digunakan untuk membantu dalam pengajaran katakana agar dapat meningkatkan minat siswa dalam

mempelajari bahasa Jepang

5. DAFTAR RUJUKAN

Arsyad, Azhar Prof Dr. 2011. Media Pembelajaran. Jakarta: Rajawali Pers Arsyad, 2003. Manfaat Dan Fungsi. [online].Tersedia:

http://alasror.wordpress.com/?s=MANFAAT+DAN+FUNGSI

Emhas 2006 archive. Diunduh pada 21 Mei 2014. Tersedia pada: (http://blog.so-net.ne.jp/emhas_2006/archive/200704-1)

Erlina.wordpress.com 2011. Teka teki silang sebagai media pembelajaran. Diunduh pada : 12 Juni 2014. Tersedia Pada:

http://erlinna.wordpress.com/2011/05/20/teka-teki-sebagai-media-pembelajaran/

Gifran akan 2013. Cara membuat teka teki silang. Diunduh pada: 21April 2014. Tersedia pada:

http://www.akangrifan.net/2013/07/cara-membuat-teka-teki-silang-tts-di.html

Pasolin 2012. Mengetahui sejarah teka teki silang. Dinduh pada 23 Mei 2014. Tersdia pada:

http://unik247.blogspot.com/2012/03/mengetahui-sejarah-teka-teki-silang-tts.html. Rachmawati, Y. 2009. Pengertian Metode. [online]. Tersedia: http://ktiptk.

blogspirit.com/archive/2009/01/26/pengertian-metode.html [7 Mei 2014] Sudjianto dan Dahidi, A. 2007. Pengantar Linguistik Bahasa Jepang. Jakarta: Kesaint Blanc

Sudjana, N dan Rival, A. 2007. Media Pembelajaran. Bandung: Sinar Baru Algensindo Offset.

Sugiyono, Prof Dr. 2008. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

(72)

Hamalik, Fungsi dan Manfaat Media Pembelajaran.[online].Tersedia:

http://pemudaberkata..com/2009/05/fungsi-dan-manfaat-media-pembelajaran.html. Tn. 2014. Metodologi Penelitian. [Online]. Tersedia: http://www.ebook-searchengine. com/pengertian-metode-penelitian-ebook-all.html [7 Mei 2014]

(73)

LEMBAR PENGESAHAN

Judul : Efektivitas Penggunaan Media Teka Teki Silang Dalam Pembelajaran Katakana

Penulis : Dadang Sujana NIM : 63809010

Bandung, Juli 2014 Disetujui Oleh:

Dosen Penguji I Dosen Penguji II

Pitri Haryanti, S. Pd. M. Pd Riska Sri Rahmawati, SS NIP. 4127. 20. 04. 003

Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II

Fenny Febrianty, SS., M. Pd. Soni Mulyawan Setiana, M.Pd NIP. 4127. 20. 04. 004 NIP. 4127.20.04.001

Ketua Jurusan Sastra Jepang

(74)

Figur

Tabel 3.1 Pedoman Untuk Memberikan Interpretasi

Tabel 3.1

Pedoman Untuk Memberikan Interpretasi p.39
Tabel 3.2 Tabel Prosentase Skala Sikap

Tabel 3.2

Tabel Prosentase Skala Sikap p.40
Gambar 4.1

Gambar 4.1

p.42
Gambar 4.2

Gambar 4.2

p.42
Gambar 4.3

Gambar 4.3

p.43
Gambar 4.4

Gambar 4.4

p.43
Gambar 4.5

Gambar 4.5

p.44
Gambar 4.6

Gambar 4.6

p.44
Gambar 4.8

Gambar 4.8

p.45
Gambar 4.12

Gambar 4.12

p.46
Gambar 4.13

Gambar 4.13

p.46
gambar 4.18

gambar 4.18

p.47
Gambar 4.17

Gambar 4.17

p.47
Tabel 4.1 Hasil test kemampuan siswa dalam pembelajaran Katakana

Tabel 4.1

Hasil test kemampuan siswa dalam pembelajaran Katakana p.48
Tabel 4.2 Tabel Angket Nomor 1

Tabel 4.2

Tabel Angket Nomor 1 p.51
Tabel 4.4 Tabel Angket Nomor 3

Tabel 4.4

Tabel Angket Nomor 3 p.52
Tabel 4.3 Tabel Angket Nomor 2

Tabel 4.3

Tabel Angket Nomor 2 p.52
Tabel 4.5 Tabel Angket Nomor 4

Tabel 4.5

Tabel Angket Nomor 4 p.53
Tabel 4.7 Tabel Angket Nomor 6

Tabel 4.7

Tabel Angket Nomor 6 p.54
Tabel 4.6 Tabel Angket Nomor 5

Tabel 4.6

Tabel Angket Nomor 5 p.54
Tabel 4.9 Tabel Angket Nomor 8

Tabel 4.9

Tabel Angket Nomor 8 p.55
Tabel 4.8 Tabel Angket Nomor 7

Tabel 4.8

Tabel Angket Nomor 7 p.55
Tabel 4.10

Tabel 4.10

p.56
Tabel 4.11

Tabel 4.11

p.56
Tabel 3.1 Hasil test kemampuan siswa dalam pembelajaran Katakana

Tabel 3.1

Hasil test kemampuan siswa dalam pembelajaran Katakana p.63
Tabel 4.3 Tabel Angket Nomor 2

Tabel 4.3

Tabel Angket Nomor 2 p.66
Tabel 4.2 Tabel Angket Nomor 1

Tabel 4.2

Tabel Angket Nomor 1 p.66
Tabel 4.5 Tabel Angket Nomor 4

Tabel 4.5

Tabel Angket Nomor 4 p.67
Tabel 4.6 Tabel Angket Nomor 5

Tabel 4.6

Tabel Angket Nomor 5 p.67
Tabel 4.7 Tabel Angket Nomor 6

Tabel 4.7

Tabel Angket Nomor 6 p.68

Referensi

Memperbarui...