Pemberdayaan Usaha Kecil Dan Menengah (UKM) Masyarakat Desa Melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri

78  146  Download (6)

Teks penuh

(1)

PEMBERDAYAAN USAHA KECIL DAN MENENGAH (UKM) MASYARAKAT DESA MELALUI PROGRAM NASIONAL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT (PNPM) MANDIRI

(Studi Kasus di Desa Jorlang Huluan Kecamatan Pamatang Sidamanik Kabupaten Simalungun)

SKRIPSI

Diajukan Guna Memenuhi salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Sosial Dan Ilmu

Politik

Disusun Oleh : JULIANDO PURBA

070903058

DEPARTEMEN STUDI ILMU ADMINISTRASI NEGARA

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(2)

KATA PENGANTAR

Dengan segala kerendahan hati penulis mengucapkan puji dan syukur kepada Tuhan

Yang Maha Esa, karena kasih dan perlindungan-Nya yang begitu besar pada penulis sehingga

penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi yang berjudul : “PEMBERDAYAAN

USAHA KECIL DAN MENENGAH (UKM) MASYARAKAT DESA MELALUI PROGRAM NASIONAL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT (PNPM) MANDIRI”. Skripsi ini disusun untuk memenuhi syarat guna memperoleh gelar sarjana dari Departemen

Ilmu Administrasi Negara, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.

Skripsi ini penulis persembahkan terkhusus buat orang tua penulis tercinta, yaitu

Ayahanda H. Purba dan Ibunda R. Sipayung Am. keb yang selalu sabar dalam membimbing

dan mengarahkan penulis untuk menjadi seorang sarjana yang berkompeten. Orang tua yang

melahirkan, membesarkan dan selalu memberikan cinta kasih dan pengertian, dorongan,

pengorbanan, dan motivasi yang tidak ada hentinya kepada penulis terlebih untuk

menyelesaiakan perkuliahan terutama dalam masa penyelesaian skripsi ini. Semoga Tuhan

memberikan rahmat dan umur yang panjang kepada kedua orang tua penulis. Terima kasih

untuk semua cinta kasih dan pengertian, dorongan, pengorbanan, dan motivasi serta Doa

Ayah dan Ibu.

Dalam penulisan skripsi ini, penulis banyak mendapatkan pembelajaran dan hikmad,

terutama dalam hal ketekunan, kesabaran, dan disiplin. Dalam penyelesaian skripsi ini

penulis penulis merasakan betapa pentingnya eksplorasi berpikir dan bertindak, serta

mengembangkan penalaran, selain hal tersebut penulis juga mendapati berbagai hambatan.

Hal ini disebabkan keterbatasan pengetahuan, pengalaman, dan materi penulis. Selama

penulisan skripsi ini, penulis banyak menerima bantuan, kritikan, saran-saran, motivasi, serta

dukungan dan doa dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis menyampaikan banyak

(3)

dalam menyelesaikan skripsi ini. Dalam kesempatan ini penulis menyampaikan dan

mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Bapak Prof. DR. Badaruddin, M.Si., selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu

Politik Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Drs. M. Husni Tamrin Nasution, M.Si, selaku Ketua Departemen Ilmu

Administrasi Negara, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera

Utara.

3. Ibu Elita Dewi M,Si, selaku sekretaris Jurusan Ilmu administrasi Negara, Fakultas

Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.

4. Bapak Drs. Kariono M.Si, selaku Dosen Pembimbing penulis selama proses

penyusunan skripsi yang telah banyak membimbing, memberikan waktu, tenaga, dan

sumbangan pemikiran dalam memberikan saran dan kritik serta mengevaluasi

sehingga skripsi ini dapat selesai dengan baik.

5. Bapak dan Ibu Dosen yang ada di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas

Sumatera Utara, khususnya dosen yang mengajar mata kuliah di Departemen Ilmu

Administrasi Negara, atas ilmu yang telah diberikan kepada penulis selama ini.

6. Para Pegawai Ilmu administrasi Negara di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik yang

membantu penulis dalam menyelesaikan studi selama di Kampus ini.

7. Bapak M. Iqbal, S.STP,M.SP, selaku Camat Pamatang Sidamanik yang telah

membantu dan memberikan izin penelitian kepada penulis dalam menyelesaikan

skripsi ini.

8. Bapak R. Situmorang, selaku Kepala Desa yang telah membantu dan memberikan izin

penelitian kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

9. Masyarakat Desa Jorlang Huluan, terkhusus kepada para informan yang telah

(4)

10. Kepada Keluarga Besar Op. Saut Sipayung, Adik penulis Limchia Purba, Edi

Purwanto Purba atas dukungan dan doanya yang senantiasa memotivasi penulis dalam

menyelesaikan skripsi ini.

11. Kepada seseorang yang teristimewa Maulina Simanjuntak S.pd (Cumie) yang tak

henti-hentinya memberikan masukan, dukungan dan doa yang senantiasa memotivasi

penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

12. Kepada Abang/kakak dan adik-adik junior dan khusus buat teman-teman angkatan

2007 di departemen Ilmu Administrasi Negara di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik

yang senantiasa memberikan motivasi dan dukungan kepada penulis dalam

penyelesaian skripsi ini.

13. Serta teman-teman diorganisasi GMNI yang telah banyak memberikan masukan

kepada penulis sehingga skripsi ini dapat terselelesaikan.

Ahir kata penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah banyak

membantu penulis dalam penyelesaian skripsi ini. Doa dan harapan penulis kiranya skripsi ini

dapat menjadi bahan masukan bagi siapa saja yang membanca.

Medan, Januari 2014

Penulis

(5)

ABSTRAKSI

Usaha kecil dan Menengah atau yang sering disebut UKM merupakan bagian integral dari dunia usaha nasional yang mempunyai kedudukan, potensi dan peranan yang sangat strategis dalam mewujudkan tujuan pembangunan nasional. Mengingat peranannya dalam pembangunan, usaha kecil dan menengah harus terus dikembangkan dengan semangat kekeluargaan, saling isi mengisi, saling memperkuat antara usaha yang kecil dan besar dalam rangka pemerataan serta mewujudkan kemakmuran yang sebesar-besarnya bagi seluruh rakyat Indonesia. Usaha Kecil dan menengah juga menciptakan lapangan pekerjaan lebih cepat dibandingkan sektor usaha lainnya serta memberikan kontribusi penting dalam ekspor dan perdagangan. Karena itu UKM merupakan aspek penting dalampembangunan ekonomi yang kompetitif. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, Pemerintah dan masyarakat harus saling bekerjasama. Masyarakat sebagai pelaku utama pembangunan, sedangkan Pemerintah berkewajiban untuk mengarahkan, membimbing, melindungi serta menumbuhkan iklim usaha.

Metode pada dasarnya merupakan cara yang digunakan untuk mencapai sesuatu. Menurut (Arikunto, 2006:160) metode penelitian adalah cara yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data penelitiannya. Mengenai metode penelitian pada dasarnya menggunakan metode deskriptif. Sebagaimana yang diungkapkan oleh (Danial dan Warsiah, 2009:62) mengenai metode deskrptif yaitu : Metode yang bertujuan untuk menggambarkan secara sistematik suatu situasi, kondisi objek bidang kajian pada suatu waktu secara akurat. Tujuan metode deskriptif adalah memperlihatkankeberadaan suatu fenomena yang ada misalnya dengan menggunakan sensus, sosial ekonomi penduduk, potensi pendidikan dan lain-lain. Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri, merupakan suatu jalan alternatif bagi masyarakat untuk bisa lebih aktif dalam mengembangkan potensi diri, dan memperbaiki perekonomian keluarga. Dengan adanya Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri ini, masyarakat bisa lebih berperan aktif dalam menjalankan serta mengembangkan perekonomian yang ada di Desa masing-masing. Sehingga Usaha Kecil dan Menengah (UKM) masyarakat Desa, dapat berjalan optimal sesuai dengan potensi yang dimiliki oleh Desa baik dari Sumber Daya Alam (SDA), Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada di Desa. Pemerintah Desa juga sangat memperhatikan dan peduli terhadap warga Desa yang memiliki usaha kecil agar mereka lebih bisa mengembangkan usaha-usaha yang mereka miliki.

Semua masyarakat Desa Jorlang Huluan memiliki hak untuk mendapatkan dana dari pemerintah, dalam hal ini dana dari PNPM Mandiri pedesaan, dengan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan dari pusat/atas. Dan masyarakat harus memenuhi seluruh prosedur-prosedur yang telah ditetapkan agar dana tersebut dapat keluar sebagaimana mestinya. Dalam hal ini pelaku UKM diharapkan mampu untuk mengembangkan usahanya setelah ada bantuan modal dari pemerintah.

(6)

DAFTAR ISI

1.6. Sistematika Penulisan ... 8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 9

II.1 Pemberdayaan Masyarakat ... 9

II.1.1 Tugas-Tugas Pemberdayaan Masyarakat ... 11

II.1.2 Prinsip-Prinsip dan Tahapan Pemberdayaan Masyarakat ... 12

II.1.3 Kebijakan-Kebijakan Pemberdayaan Masyarakat ... 14

II.2 Pengertian Usaha Kecil dan Menengah (UKM) ... 16

II.2.1 Kriteria-Kriteria UKM ... 17

II.3 Pengertian Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri ... 18

II.3.1 Pendekatan PNPM Mandiri ... 18

II.3.2 Prinsip Dasar PNPM Mandiri ... 19

II.3.3 Tujuan PNPM Mandiri ... 20

II.3.4 Dasar Hukum PNPM Mandiri ... 21

II.3.5 Struktur Organisasi PNPM Mandiri ... 25

II.4 Definisi Konsep ... 31

BAB III METODE PENELITIAN ... 33

III.1 Metode Penelitian ... 33

III.2 Lokasi Penelitian ... 33

(7)

III.4 Teknik Pengumpulan Data ... 34

III.5 Teknik Analisis Data ... 35

III.6 Validitas Data ... 37

BAB IV TEMUAN PENELITIAN ... 38

IV.1 Gambaran Umum Lokassi Penelitian ... 38

IV.1.1 Kependudukan ... 43

IV.1.2 Struktur Organisasi Desa Jorlang Huluan ... 45

IV.1.3 Visi dan Misi Desa Jorlang Huluan ... 47

IV.1.4 Isu Strategis/Isu Utama Pembangunan Desa Jorlang Huluan ... 48

IV.2 Pemberdayaan Usaha Kecil dan Menengah di Desa Jorlang Huluan ... 50

IV.2.1 Program Pemberdayaan Yang Disarankan Oleh Kementrian Koperasi dan UKM ... 51

IV.2.2 Program Pemberdayaan Usaha Kecil dan Menengah Desa Jorlang Huluan ... 52

IV.2.3 Organisasi Pelaksana Pemberdayaan Usaha masyarakat ... 54

BAB V ANALISA TEMUAN ... 56

V.1 Strategi Pemberdayaan Usaha kecil dan Menengah (UKM) ... 56

V.2 Prosedur Perolehan Dana PNPM Mandiri Pedesaan ... 58

V.3 Problematika Dalam Pemberdayaan Usaha Kecil dan Menengah Masyarakat Desa ... 61

V.4 Dampak Pemberdayaan UKM Terhadap Masyarakat ... 61

V.4.1 Menambah Modal Usaha ... 61

V.4.2 Meningkatkan Peluang Usaha ... 62

V.4.3 Kemampuan Memenuhi Kebutuhan Hidup ... 64

BAB VI PENUTUP ... 66

VI.1 Kesimpulan ... 66

VI.2 Saran ... 67

(8)

ABSTRAKSI

Usaha kecil dan Menengah atau yang sering disebut UKM merupakan bagian integral dari dunia usaha nasional yang mempunyai kedudukan, potensi dan peranan yang sangat strategis dalam mewujudkan tujuan pembangunan nasional. Mengingat peranannya dalam pembangunan, usaha kecil dan menengah harus terus dikembangkan dengan semangat kekeluargaan, saling isi mengisi, saling memperkuat antara usaha yang kecil dan besar dalam rangka pemerataan serta mewujudkan kemakmuran yang sebesar-besarnya bagi seluruh rakyat Indonesia. Usaha Kecil dan menengah juga menciptakan lapangan pekerjaan lebih cepat dibandingkan sektor usaha lainnya serta memberikan kontribusi penting dalam ekspor dan perdagangan. Karena itu UKM merupakan aspek penting dalampembangunan ekonomi yang kompetitif. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, Pemerintah dan masyarakat harus saling bekerjasama. Masyarakat sebagai pelaku utama pembangunan, sedangkan Pemerintah berkewajiban untuk mengarahkan, membimbing, melindungi serta menumbuhkan iklim usaha.

Metode pada dasarnya merupakan cara yang digunakan untuk mencapai sesuatu. Menurut (Arikunto, 2006:160) metode penelitian adalah cara yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data penelitiannya. Mengenai metode penelitian pada dasarnya menggunakan metode deskriptif. Sebagaimana yang diungkapkan oleh (Danial dan Warsiah, 2009:62) mengenai metode deskrptif yaitu : Metode yang bertujuan untuk menggambarkan secara sistematik suatu situasi, kondisi objek bidang kajian pada suatu waktu secara akurat. Tujuan metode deskriptif adalah memperlihatkankeberadaan suatu fenomena yang ada misalnya dengan menggunakan sensus, sosial ekonomi penduduk, potensi pendidikan dan lain-lain. Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri, merupakan suatu jalan alternatif bagi masyarakat untuk bisa lebih aktif dalam mengembangkan potensi diri, dan memperbaiki perekonomian keluarga. Dengan adanya Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri ini, masyarakat bisa lebih berperan aktif dalam menjalankan serta mengembangkan perekonomian yang ada di Desa masing-masing. Sehingga Usaha Kecil dan Menengah (UKM) masyarakat Desa, dapat berjalan optimal sesuai dengan potensi yang dimiliki oleh Desa baik dari Sumber Daya Alam (SDA), Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada di Desa. Pemerintah Desa juga sangat memperhatikan dan peduli terhadap warga Desa yang memiliki usaha kecil agar mereka lebih bisa mengembangkan usaha-usaha yang mereka miliki.

Semua masyarakat Desa Jorlang Huluan memiliki hak untuk mendapatkan dana dari pemerintah, dalam hal ini dana dari PNPM Mandiri pedesaan, dengan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan dari pusat/atas. Dan masyarakat harus memenuhi seluruh prosedur-prosedur yang telah ditetapkan agar dana tersebut dapat keluar sebagaimana mestinya. Dalam hal ini pelaku UKM diharapkan mampu untuk mengembangkan usahanya setelah ada bantuan modal dari pemerintah.

(9)

BAB I PENDAHULUAN I.I Latar belakang

Usaha kecil dan Menengah atau yang sering disebut UKM merupakan bagian integral

dari dunia usaha nasional yang mempunyai kedudukan, potensi dan peranan yang sangat

strategis dalam mewujudkan tujuan pembangunan nasional. Mengingat peranannya dalam

pembangunan, usaha kecil dan menengah harus terus dikembangkan dengan semangat

kekeluargaan, saling isi mengisi, saling memperkuat antara usaha yang kecil dan besar dalam

rangka pemerataan serta mewujudkan kemakmuran yang sebesar-besarnya bagi seluruh

rakyat Indonesia. Usaha Kecil dan menengah juga menciptakan lapangan pekerjaan lebih

cepat dibandingkan sektor usaha lainnya serta memberikan kontribusi penting dalam ekspor

dan perdagangan. Karena itu UKM merupakan aspek penting dalampembangunan ekonomi

yang kompetitif. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, Pemerintah dan masyarakat harus saling

bekerjasama. Masyarakat sebagai pelaku utama pembangunan, sedangkan Pemerintah

berkewajiban untuk mengarahkan, membimbing, melindungi serta menumbuhkan iklim

usaha.

Menurut Nurhajati (2005:2) Peran Usaha Kecil dan Menengah (UKM) dalam

perekonomian Indonesia dapat ditinjau dari empat aspek yaitu :

1. Usaha Kecil dan Menengah (UKM) merupakan bagian terbesar dari seluruh unit

usaha yang ada di Indonesia.

2. Usaha Kecil Dan Menengah (UKM) berperan besar dalam penyerapan tenaga kerja.

3. Usaha Kecil dan Menengah (UKM) memberi kontribusi yang cukup besar terhadap

Produk Domestik Bruto (PDB).

4. Usaha Kecil dan Menengah (UKM) memberikan kontribusi terhadap perkembangan

(10)

Peran Usaha Kecil dan Menengah (UKM) dalam perekonomian Indonesia ternyata

belum mampu meningkatkan daya saing ekonomi di tingkat Internasional, utamanya di

regional ASEAN. Hasil penelitian Word Economic Forum terhadap 59 negara termasuk

Indonesia, menunjukkan bahwa Indonesia menduduki posisi ke-37 pada tahun 1992.

Rendahnya daya saing ekonomi Indonesia disebabkan oleh banyak faktor. Permasalahan

pokok yang sering dihadapi oleh sebagian besar usaha kecil, antara lain pemasaran,

keuangan, manajemen, teknologi, lokasi, sumber daya manusia, dan struktur ekonomi.

Beberapa hasil penelitian menyebutkan bahwa persoalan yang dihadapi Usaha Kecil

dan Menengah (UKM) sehingga sulit berkembang antara lain: ketidakmampuan dalam

manajemen, lemahnya kemampuan dalam pengambilan keputusan, kurang berpengalaman

dan lemahnya pengawasan keuangan. Menghadapi persoalan-persoalan Usaha Kecil dan

Menengah (UKM) yang telah dikemukan diatas, Pemerintah telah melakukan berbagai upaya

yang sekaligus menunjukkan komitmen untuk meningkatkan kinerja dan daya saing ekonomi

Indonesia. Komitmen tersebut secara institusi ditunjukkan melalui pembentukan kementerian

yang menangani Usaha Kecil dan Menengah (UKM) sejak jaman Pemerintah orde baru.

Selain itu, secara yuridis komitmen Pemerintah ditandai dengan adanya

Undang-undang Nomor: 9 Tahun 1995 tentang Usaha Kecil, yang bertujuan antara lain untuk

mewujudkan peran usaha kecil sebagai tulang punggung serta memperkokoh struktur

perekonomian nasional. Undang-undang tersebut ditindaklanjuti dengan Peraturan

Pemerintah Nomor: 44 Tahun 1997 tentang Kemitraan sebagai salah satu bentuk upaya

penciptaan iklim usaha melalui kerjasama Usaha Kecil dan Menengah (UKM) dengan Usaha

Besar.

Oleh karena itu, dalam peraktek Usaha Kecil dan Menengah (UKM) seringkali berada

dalam posisi yang lemah, maka Pemerintah berupaya untuk memperbaiki situasi ini secara

(11)

dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Pembentukan dan peran serta Kamar Dagang dan Industri

(KADIN) baik ditingkat pusat maupun daerah dalam membina dan mengembangkan Usaha

Kecil dan Menengah (UKM) juga merupakan salah satu wujud komitmen Pemerintah

terhadap Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Kebijakan perkreditan yang khusus

diperuntukan bagi Usaha Kecil dan Menengah (UKM) untuk mengatasi kelemahan Usaha

Kecil dan Menengah (UKM) dalam struktur permodalan dan keterbatasan untuk memperoleh

akses terhadap sumber sumber permodalan juga sudah banyak yang dilakukan. Banyak upaya

yang sudah dilakukan Pemerintah yang bertujuan meningkatkan kinerja dan daya saing

Usaha Kecil dan Menengah (UKM).

Salah satu wujud dalam mengembangan potensi dan peran Usaha Kecil dan

Menengah Pemerintah juga membuat program baru yaitu Program Nasional Pemberdayaan

Masyarakat (PNPM) Mandiri, dimana program ini lebih memfokuskan kepada rakyat miskin.

Namun program ini juga mempunyai tujauan bagaimana mengembangkan Unit Usaha Kecil

dan Menengah masyarakat. PNPM Mandiri Perdesaan menyediakan dana langsung dari pusat

(APBN) dan daerah (APBD) yang disalurkan ke rekening kolektif desa di Kecamatan.

Masyarakat desa dapat mempergunakan dana tersebut sebagai hibah untuk membangun

sarana/prasarana penunjang produktivitas desa, pinjaman bagi kelompok ekonomi untuk

modal usaha bergulir, atau kegiatan sosial seperti kesehatan dan pendidikan. Setiap

penyaluran dana yang turun ke masyarakat harus sesuai dengan dokumen yang dikirimkan ke

pusat agar memudahkan penelusuran. Warga desa, dalam hal ini TPK atau staf Unit

Pengelola Kegiatan (TPK) di tingkat Kecamatan mendapatkan peningkatan kapasitas dalam

pembukuan, manajemen data, pengarsipan dokumen dan pengelolaan uang/dana secara

umum, serta peningkatan kapasitas lainnya terkait upaya pembangunan manusia dan

pengelolaan pembangunan wilayah perdesaan.

(12)

Permasalahan kemiskinan yang cukup kompleks membutuhkan intervensi semua

pihak secara bersama dan terkoordinasi. Namun penanganan selama ini cemderung parsial

dan tidak berkelanjutan. Peran dunia usaha dan masyarakat pada umumnya juga belum

optimal. Kerelaan sosial dalam kehidupan masyarakat yang dapat menjadi sumber penting

permberdayaan dana pemecahan akar permasalahan kemiskinan juga mulai luntur. Untuk itu

diperlukan perubahan yang bersifat sistemik dan menyeluruh dalam upaya penanggulangan

kemiskinan. Untuk meningkatkan efektivitas penanggulangan kemiskinan dan penciptaan

lapangan kerja.

Pemerintah meluncurkann Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM)

Mandiri mulai tahun 2007. Melalui PNPM Mandiri dirumuskan kembali mekanisme upaya

penanggulangan kemiskinan yang melibatkan unsur masyarakat, mulai dari tahap

perencanaan, pelaksanaan, hingga pemantauan dan evaluasi. Melalui proses pembangunan

partisipatif, kesadaran kritis dan kemandirian masyarakat, terutama masyarakat miskin, dapat

ditumbuh kembangkan sehingga mereka sebagai obyek melainkan subyek penanggulangan

kemiskinan. Pelaksanaan PNPM Mandiri tahun 2007 dimulai dengan Program

Pengembangan Kecamatan (PPK) sebagai dasar pengembangan pemberdayaan masyarakat di

pedesaaan beserta program pendukungnya seperti PNPM Generasi; Program Penanggulangan

Kemiskinan di Perkotaan (P2KP) sebagai dasar bagi pengembangan pemberdayaan

masyarakat di perkotaan; dan Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal dan Khusus

(P2DTK) untuk pengembangan daerah tertinggal, pasca bencana, dan konflik.

Mulai tahun 2008 PNPM Mandiri diperluas dengan melibatkan Program

Pengembangan Infrastruktur Sosial Ekonomi Wilayah (PISEW) untuk mengintegrasikan

pusat-pusat pertumbuhan ekonomi dengan daerah sekitarnya. PNPM Mandiri diperkuat

(13)

departemen/sektor dan Pemerintah daerah. Pelaksanaan PNPM Mandiri 2008 juga akan

diprioritaskan pada desa-desa tertinggal.

Dengan pengintegrasian berbagai program pemberdayaan masyarakat ke dalam

kerangka kebijakan PNPM Mandiri, cakupan pembangunan diharapkan dapat diperluas

hingga ke daerah-daerah terpencil dan terisolir. Efektivitas dan efesiensi dari kegiatan yang

selama ini sering berduplikasi antar proyek diharapkan dapat juga diwujudkan. Mengingat

proses pemberdayaan pada umumnya membutuhkan waktu 5 sampai 6 tahun, maka PNPM

Mandiri akan dilaksanakana sekurang-kurangnya hingga 2015. Hal ini sejalan dengan target

waktu pencapaian tujuan pembangunan milenium atau Millennium Development Goals

(MDGs). Oleh sebab itu, para pemilik Usaha Kecil dan Menengah pedesaaan dapat lebih

bernapas legah sebab mereka sudah mempunyai pandangan yang lebih baik dalam

pengembangan usaha yang mereka tekuni.

Berdasarkan hasil observasi dilapangan bahwa yang menjadi permasalahan adalah

apakah dana yang disalurkan oleh pemerintah melalui program PNPM Mandiri Pedesaan ini

diberikan kepada masyarakat yang membutuhkan modal untuk usaha mereka. Dimana uang

yang diberikan oleh pemerintah melalui program PNPM Mandiri pedesaan adalah pinjaman

yang harus dikembalikan dalam jangka waktu yang telah disepakati. Faktanya banyak

masyarakat yang tidak mengembalikan uang (pinjaman) tersebut dengan tepat waktu, padahal

pengembalian uang tersebut dengan sistem mencicil dalam rentang waktu yang cukup

panjang sudah sangat meringankan masyarakat. Selain itu yang menjadi masalah lain adalah

terdapat beberapa peminjam yang tidak menggunakan uang tersebut untuk modal dagang atau

modal usaha untuk menambah pendapatan keluarga, akan tetapi untuk kepentingan lainnya,

seperti memenuhi biaya sekolah anak, atau keperluan sehari-hari. Ini lah permasalahan yang

dihadapi oleh Aparatur Desa Jorlang Huluan Kecamatan Pematang Sidamanik Kabupaten

(14)

Desa Jorlang Huluan dengan mayoritas penduduk bermata pencaharian sebagai petani

atau pedagang sangat terbantu dengan adanya dana tersebut. Dimana pinjaman tersebut

biasanya digunakan untuk menambah modal usaha mereka. Walaupun dikenakan bunga

pinjaman, akan tetapi tidak seperti meminjam di Bank yang mengharuskan masyarakat

menjaminkan sesuatu untuk bisa meminjam. Sangat jauh berbeda dengan PNPM Mandiri

pedesaaan yang hanya dengan membentuk Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) yang

terdiri kurang lebih dari 5 orang, kemudian mengajukan proposal pinjaman dengan berbagai

persyaratan yang cukup sederhana, masyarakat sudah bisa memperoleh pinjaman tersebut.

Adapun yang menyebabkan penulis tertarik untuk meneliti program pemerintah ini,

salah satunya karena program ini hadir untuk menanggulangi kemiskinan yang ada di desa,

dengan konsep pinjaman bergulir yang diberikan kepada masyarakat yang membutuhkan

untuk memajukan usaha mikro mereka. Dimana dengan pinjaman tersebut diharapkan

masyarakat mampu untuk meningkatkan pendapatan mereka. Oleh karena itu penulis ingin

melihat “Bagaimana Pemberdayaan Usaha Kecil dan Menengah Masyarakat Desa

Melaui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Pedesaan pada Desa Jorlang Huluan Kecamatan Pematang Sidamanik Kabupaten Simalungun”.

1.2 Fokus Masalah

Dalam penelitian kualitatif ada yang disebut dengan batasan masalah yang selanjutnya

disebut dengan fokus yang berisi pokok masalah yang masih bersifat umum. Fokus masalah

dalam penelitian ini masih bersifat sementara dan akan berkembang di lapangan. Dalam

penelitian ini, peneliti ingin mengetahui Bagaimana Pemberdayaan Usaha Kecil dan

Menengah Masyarakat Desa Melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM)

(15)

1.3 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah di jelaskan diatas, maka penulis tertarik untuk

melakukan penelitian yang berjudul “Bagaimana Pemberdayaan Usaha Kecil dan

Menengah (UKM) Masyarakat Desa Melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri”.

1.4 Tujuan Penelitian

Adapun yang menjadi tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui peran Pemerintah dalam memberdayakan usaha kecil dan

menengah melalui program nasional pemberdayaan masyarakat mandiri.

2. Untuk mengetahui respon masyarakat khususnya para pemilik usaha kecil dan

menengah dengan adanya program nasional pemberdayaan masyarakat mandiri.

1.5 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang dapat diperoleh dari hasil penelitian ini adalah :

1. Secara Subjektif

Penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk melatih, meningkatkan dan

mengembangkan kemampuan berpikir ilmiah, sistematis dan metodologis penulis

dalam menyusun suatu wacana baru dan memperkaya ilmu pengetahuan.

2. Secara Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran pada masyarakat

Desa Jorlang Huluan Kecamatan Pamatang Sidamanik Kabupaten Simalungun

tentang strategi dalam pengembangan Usaha Kecil.

3. Secara Akademis

Penelitian ini diharapkan mampu untuk memberikan kontribusi besar baik secara

(16)

Negara dan bagi kalangan penulis lainnya yang tertarik untuk mengekplorasi kembali

kajian tentang strategi pengembangan usaha kecil.

1.6 Sistematika Penulisan Bab 1 : Pendahuluan

Bab ini memuat latar belakang masalah, fokus penelitian, perumusan

masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan sistematika penulisan.

Bab 11 : Tinjauan Pustaka

Bab ini memuat tentang teori-teori yang berhubungan dengan judul

penelitian dan defenisi konsep yang diperlukan peneliti.

Bab 111 : Metode Penelitian

Bab ini memuat alasan menggunakan penelitian deskriftif, lokasi penelitian,

teknik pengambilan subjek penelitian, metode pengumpulan data dan metode

analisis data yang digunakan dan pengujian keabsahan data

Bab IV : Temuan Penelitian

Bab ini menguraikan tentang gambaran atau atau karakteristik lokasi

penelitian yang ditemukan dilapangan.

Bab VI : Analisis Temuan Penelitian

Bab ini memuat hasil penelitian yang diperoleh dari lapangan dan

dokumentasi serta hasil analisanya.

Bab VI : Penutup

Bab ini memuat kesimpulan dan saran atas hasil penelitian yang telah

(17)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Pemberdayaan Masyarakat

Pemberdayaan sebagai proses mengembangkan, memandirikan, menswadayakan,

memperkuat posisi tawar menawar masyarakat lapisan bawah terhadap kekuatan-kekuatan

penekan di segala bidang dan sektor kehidupan. Konsep pemberdayaan (masyarakat desa)

dapat dipahami juga dengan dua cara pandang.

1. pemberdayaan dimaknai dalam konteks menempatkan posisi berdiri masyarakat.

Posisi masyarakat bukanlah obyek penerima manfaat (beneficiaries) yang tergantung

pada pemberian dari pihak luar seperti pemerintah, melainkan dalam posisi sebagai

subyek (agen atau partisipan yang bertindak) yang berbuat secara mandiri. Berbuat

secara mandiri bukan berarti lepas dari tanggungjawab negara. Pemberian layanan

publik (kesehatan, pendidikan, perumahan, transportasi dan seterusnya) kepada

masyarakat tentu merupakan tugas (kewajiban) negara. Masyarakat yang mandiri

sebagai partisipan berarti terbukanya ruang dan kapasitas mengembangkan

potensi-kreasi, mengontrol lingkungan dan sumberdayanya sendiri, menyelesaikan masalah

secara mandiri, dan ikut menentukan proses politik di ranah negara. Masyarakat ikut

berpartisipasi dalam proses pembangunan dan pemerintahan (Sutoro Eko, 2002).

2. Pemberdayaan adalah bagian dari paradigma pembangunan yang memfokuskan

perhatiannya kepada semua aspek yang prinsipil dari manusia di lingkungannya yakni

mulai dari aspek intelektual, Sumber Daya Manusia, aspek material dan fisik, sampai

kepada aspek manajerial. Aspek-aspek tersebut bisa jadi dikembangkan menjadi

(18)

3. Pemberdayaan Masyarakat adalah upaya untuk menciptakan atau meningkatkan

kapasitas masyarakat, baik secara individu maupun berkelompok, dalam memecahkan

berbagai persoalan terkait upaya peningkatan kualitas hidup, kemandirian dan

kesejahteraannya. Pemberdayaan masyarakat memerlukan keterlibatan yang besar

dari perangkat Pemerintah daerah serta berbagai pihak untuk memberikan kesempatan

dan menjamin keberlanjutan berbagai hasil yang dicapai. Permendagri RI No 7 tahun

2007 tentang Kader Pemberdayaan Masyarakat, dinyatakan bahwa pemberdayaan

masyarakat adalah suatu strategi yang digunakan dalam pembangunan masyarakat

sebagai upaya untuk menunjukkan kemampuan dan kemandirian dalam kehidupan

bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara (pasal 1 ayat 8).

Melihat dari penjelasan diatas inti dari pemberdayaan masyarakat adalah merupakan

strategi untuk mewujudkan kemampuan dan kemandirian masyarakat. Dan perberdayaan bisa

diartikan memberi kemampuan kepada orang yang lemah. Bukan hanya dalam arti tidak

terbatas kemampuan ekonomi, tapi juga kemampuan lainnya yang bisa membuat orang lain

berdaya seperti dalam politik, budaya, sosial, agama dan lainnya. Harus dicatat, kemampuan

ini bukan hanya berarti mampu memiliki uang, modal, tapi kekuatan atau mobilitas yang

tinggi pun itu kemampuan pemberdayaan diri sendiri.

Menurut (Loekman Soetrisno, 1995), Strategi pemberdayaan yang telah diupayakan

selama ini dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

1. Aspek manegerial, yang meliputi; peningkatan produktivitas/omset/tingkat hunian,

meningkatkan kemampuan pasar, dan pengembangan sumber daya manusia.

2. Aspek permodalan, yang meliputi; bantuan modal (penyisihan 1-5% keuntungan

BUMN dan kewajiban untuk menyalurkan kredit usaha kecil minimum 20% dari

(19)

3. Mengembangkan program kemitraan dengan besar usaha, baik bapak-anak angkat,

keterkaitan hulu-hilir (forward linkage), keterkaitan hilir-hulu (backward linkage) dan

subkontrak.

4. Pengembangan sentra industri kecil dalam suatu kawasan apakah PIK (pemukiman

Industri Kecil), LIK (Lingkungan Industri Kecil), SUIK (Sarana Usaha Industri Kecil)

yang didukung oleh UPT (Unit Pelayanan Teknis), dan TPI (Tenaga Penyuluh

Industri).

5. Pembinaan untuk bidang usaha dan daerah tertentu lewat KUB (kelompok usaha

bersama), KOPINKRA (Koperasi industri Kecil dan Kerajinan).

II.1.1` Tugas-Tugas Pemberdayaan Masyarakat

Pemberdayaan masyarakat bisa dilakukan oleh banyak elemen: Pemerintah,

perguruan tinggi, lembaga swadaya masyarakat, pers, partai politik, lembaga donor,

aktor-aktor masyarakat sipil, atau oleh organisasi masyarakat lokal sendiri. Birokrasi Pemerintah

tentu saja sangat strategis karena mempunyai banyak keunggulan dan kekuatan yang luar

biasa ketimbang unsur-unsur lainnya: mempunyai dana, aparat yang banyak, kewenangan

untuk membuat kerangka legal, kebijakan untuk pemberian layanan publik, dan lain-lain.

Proses pemberdayaan bisa berlangsung lebih kuat, komprehensif dan berkelanjutan bila

berbagai unsur tersebut membangun kemitraan dan jaringan yang didasarkan pada prinsip

saling percaya dan menghormati (Sutoro Eko, 2002)

Konsep pemberdayaan berangkat dari asumsi yang berbeda dengan pembinaan.

Pemberdayaan berangkat dari asumsi hubungan yang setara antar semua elemen masyarakat

dan negara. Para ahli mengatakan bahwa pemberdayaan sangat percaya bahwa “kecil itu

indah”, bahwa setiap orang itu mempunyai kearifan yang perlu dibangkitkan dan dihargai.

(20)

konteks pemberdayaan, semua unsur (pejabat, perangkat negara, wakil rakyat, para ahli,

politisi, orpol, ormas, LSM, pengusaha, ulama, mahasiswa, serta rakyat banyak) berada

dalam posisi setara, yang tumbuh bersama melalui proses belajar bersama-sama.

Masing-masing elemen harus memahami dan menghargai kepentingan maupun perbedaan satu sama

lain. Perberdayaan tersebut dimaksudkan agar masing-masing unsur semakin meningkat

kemampuannya, semakin kuat, semakin mandiri, serta memainkan perannya masing-masing

tanpa mengganggu peran yang lain. Justru dengan pemberdayaan kemampuan dan peran yang

berbedabeda tersebut tidak diseragamkan, melainkan dihargai dan dikembangkan kerjasama,

sehingga bisa terjalin kerjasama yang baik.

II.1.2 Prinsip-Prinsip dan Tahapan Pemberdayaan Masyarakat

Menurut (Suharto, 2006:68) prinsip-prinsip pemberdayaan masyarakat adalah sebagai

berikut:

1. Pemberdayaan adalah proses kolaboratif. Oleh karena itu harus ada kerjasama sebagai patner.

2. Proses pemberdayaan menempatkan masyarakat sebagai aktor atau subjek yang

kompeten dan mampu menjangkau sumber-sumber dan kesempatan-kesempatan.

3. Masyarakat harus melihat diri mereka sendiri sebagai agen penting yang dapat

mempengaruhi perubahan.

4. Kompetensi diperoleh dan dipertajam melalui pengalaman hidup, khususnya

pengalaman yang memberikan perasaan mampu pada masyarakat.

5. Solusi-solusi yang berasal dari situasi khusus, hasus beragam dan menghargai

keberagaman yang berasal dari faktor-faktor yang berada pada situasi masalah tersebut.

6. Jaringan-jaringan sosial informal merupakan sumber dukungan yang penting bagi

penurunan ketegangan dan meningkatkan kompetensi serta kemampuan untuk mengendalikan seseorang.

7. Masyarakat harus berpartisipasi dalam memberdayakan diri mereka sendiri, tujuan, cara dan hasilmharus dirumuskan oleh mereka sendiri.

8. Tingkat kesadaran merupakan kunci dalam pemberdayaan, karena pengetahuan dan

mobilisasi tindakan bagi perubahan.

9. Pemberdayaan melibatkan akses terhadap sumber-sumber dan kemampuan untuk

menggunakan sumber-sumber tersebut secara efektif.

10.Proses pemberdayaan bersifat dinamis, sinergis, dinamis, evolutif, dikarenakan

permasalahan selalu memiliki beragam solusi.

(21)

Nugroho (2007) pemberdayaan adalah sebuah “proses menjadi” bukan “proses

instan”. Sebagai proses, pemberdayaan mempunyai tiga tahapan yaitu penyadaran,

pengkapasitasan, dan pendayaan.

Gambar 2.1

Tiga Tahapan dalam Proses Pemberdayan

Sumber: Randy R Wrihatnolo dan Riant Nugroho Dwidjowijoto, ”Manajemen Pemberdayaan. Sebuah Pengantar dan Panduan Untuk Pemberdayaan Masyarakat”, 2007.

1. Dalam tahap penyadaran, target sasaran adalah masyarakat yang kurang mampu yang

harus diberikan pemahaman bahwa mereka mempunyai hak untuk menjadi berada

atau mampu. Disamping itu juga mereka harus dimotivasi bahwa mereka mempunyai

kemampuan untuk keluar dari kemiskinannya. Proses ini dapat dipercepat dan

dirasionalisasikan hasilnya dengan hadirnya upaya pendampingan.

2. Tahap pengkapasitasan bertujuan untuk memampukan masyarakat yang kurang

mampu sehingga mereka memiliki keterampilan untuk mengelola peluang yang akan

diberikan. Dimana tahap ini dilakukan dengan cara memberikan pelatihan-pelatihan,

lokakarya dan kegiatan sejenisnya yang bertujuan untuk meningkatkan life skill dari

masyarakat tersebut.

(22)

3. Pada tahap pendayaan, masyarakat diberikan peluang yang disesuaikan dengan

kemampuan yang dimiliki melalui partisipasi aktif dan berkelanjutan yang ditempuh

dengan memberikan peran yang lebih besar secara bertahap, sesuai dengan kapasitas

dan kapabilitasnya serta diakomodasi aspirasinya dan dituntun untuk melakukan self

evaluation terhadap pilihan dan hasil pelaksanaan atas pilihan tersebut.

Menurut (Suharto:67-68), pelaksanaan proses dan pencapaian tujuan pemberdayaan

masyarakat dapat dicapai melalui penerapan pendekatan pemberdayaan yang disingkat

menjadi 5P, yaitu:

1. Pemungkinan, menciptakan suasana atau iklim memungkinkan potensi masyarakat

berkembang secara optimal. Pemberdayaan harus mampu membebaskan masyarakat dari sekat-sekat kultural dan strukturak yang menghambat.

2. Penguatan, memperkuat pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki masyarakat

dalam memecahkan masalah dan memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Pemberdayaan harus menumbuhkembangkan segenap kemampuan dan kepercayaan diri masyarakat yang menunjang kemandirian.

3. Perlindungan, melindungi masyarakat terutama kelompok-kelompok lemah agar tidak

tertindas oleh kelompok yang kuat, menghindari persaingan yang tidak seimbang (apalagi tidak sehat) antara yang kuat dan yang lemah dan mencegah terjadinya eksploitasi kelompok yang kuat dan kelompok yang lemah. Pemberdayaan harus diarahkan pada penghapusan segala jenis diskriminasi dan dominasi yang menguntungkan masyarak kecil.

4. Penyokongan, memberikan bimbingan dan dukungan agar masyarakat mampu

menjalankan peranan dan tugas-tugas kehidupannya. Pemberdayaan harus mampu menyokong masyarakat agar tidak terjatuh kedalam posisi yang semakin lemah dan terpinggirkan.

5. Pemeliharaan, memelihara kondisi yang kondusif agar tidak terjadi keseimbangan

distribusi kekuasaan antara berbagai kelompok dalam masyarakat. Pemberdayaan harus mampu menjamin keselarasan dan keseimbangan yang memungkinkan setiap orang memperoleh kesempatan berusaha.

II.1.3 Kebijakan-kebijakan Pemberdayaan

Gagasan pemberdayaan berangkat dari realitas obyektif yang merujuk pada kondisi

struktural yang timpang dari sisi alokasi kekuasaan dan pembagian akses sumberdaya

masyarakat. Pemberdayaan sebenarnya merupakan sebuah alternatif pembangunan yang

(23)

januari 2013).

Adapun kebijakan-kebijakan tentang pemberdayaan masyarakat adalah sebagai

berikut:

a) Kebijakan Pemerintah tentang pemberdayaan masyarakat secara tegas tertuang

didalam GBHN Tahun 1999, serta Undang-undang Nomor: 22 Tahun 1999 tentang

Pemerintahan Daerah. Didalam GBHN Tahun 1999, khususnya didalam “Arah

Kebijakan Pembangunan Daerah”, antara lain dinyatakan “mengembangkan otonomi

daerah secara luas, nyata dan bertanggung jawab dalam rangka pemberdayaan

masyarakat, lembaga ekonomi, lembaga politik, lembaga hukum, lembaga

keagamaan, lembaga adat dan lembaga swadaya masyarakat, serta seluruh potensi

masyarakat dalam wadah NKRI “.

b) Sedangkan didalam Undang-undang. Nomor: 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah

Daerah, antara lain ditegas-kan bahwa “Hal-hal yang mendasar dalam

Undang-undang ini adalah mendorong untuk memberdayakan masyarakat,

menumbuhkembangkan prakarsa dan kreativitas, serta meningkatkan peran serta

masyarakat “.

c) Mencermati rumusan kebijakan Pemerintah didalam dua dokumen kebijakan

tersebut, dapat disimpulkan bahwa “kebijakan pemberdayaan masyarakat merupakan

bagian yang tak terpisahkan dari kebijakan otonomi daerah”. Setiap upaya yang

dilakukan dalam rangka pemberdayaan masyarakat akan secara langsung mendukung

upaya pemantapan dan penguatan otonomi daerah, dan setiap upaya yang dilakukan

dalam rangka pemantapan dan penguatan otonomi daerah akan memberikan dampak

(24)

d) Dalam Undang-undang Nomor: 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan

Nasional (PROPENAS) Tahun 2000-2004 dan Program Pembangunan Daerah

(BAPPEDA) dinyatakan bahwa tujuan pemberdayaan masyarakat adalah

meningkatkan keberdayaan masyarakat melalui penguatan lembaga dan organisasi

masyarakat setempat, penanggulangan kemiskinan dan perlindungan sosial

masyarakat, peningkatan keswadayaan masyarakat luas guna membantu masyarakat

untuk meningkatkan kehidupan ekonomi, sosial dan politik”.

e) Dalam rangka mengemban tugas dalam bidang pemberdayaan masyarakat, Badan

Pemberdayaan Masyarakat telah menetapkan visi, misi, kebijakan, strategi dan

program pemberdayaan masyarakat.

II.2 Pengerian Usaha Kecil dan Menengah (UKM)

Usaha Kecil dan Menengah (UKM) adalah sebuah istilah yang mengacu pada jenis

usaha kecil yang memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 200.000.000,- tidak termasuk

tanah dan bangunan tempat usaha.

Pengertian tentang UKM sangat beragam, baik itu dari instansi, pemerintah dan

bahkan UU yaitu sebagai berikut:

1. Menurut Keputusan Presiden RI No. 99 tahun 1998, pengertian UKM adalah

Kegiatan ekonomi rakyat yang berskala kecil dengan bidang usaha yang secara

mayoritas merupakan kegiatan usaha kecil dan perlu dilindungi untuk mencegah dari

persaingan yang tidak sehat.

2. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS)

Pengertian usaha kecil menengah berdasarkan kuantitas tenaga kerja adalah bahwa

(25)

orang. Sedangkan, usaha menengah memiliki entitas usaha yang memiliki jumlah

tenaga kerja 20 s/d 29 orang.

3. Menurut UU No. 20 Tahun 2008

Usaha kecil menengah dibagi kedalam dua (2) yakni:

a) Usaha kecil adalah entitas yang memiliki kriteri sebagai berikut:

Kekayaan bersih lebih dari Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) sampai

dengan paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) tidak

termasuk tanah dan bangunan tempat usaha. Dan memiliki hasil penjualan

tahunan lebih dari Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) sampai dengan

paling banyak Rp 2.500.000.000,00 (dua milyar lima ratus juta rupiah).

b) Sementara itu, yang disebut dengan Usaha Menengah adalah entitas usaha

yang memiliki kriteria sebagai berikut :

Kekayaan bersih lebih dari Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) sampai

dengan paling banyak Rp 10.000.000.000,00 (sepuluh milyar rupiah) tidak

termasuk tanah dan bangunan tempat usaha. Dan memiliki hasil penjualan

tahunan lebih dari Rp2.500.000.000,00 (dua milyar lima ratus juta rupiah)

sampai dengan paling banyak Rp 50.000.000.000,00 (lima puluh milyar

rupiah).

II.2.1 Kriteria-Kriteria UKM

Adapun kriteria UKM menutut UU No. 9 Tahun 1995 adalah sebagai berikut :

1) Memiliki kekayaan bersih paling sedikit Rp. 200.000.000,- (Dua Ratus Juta Rupiah)

tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha.

2) Memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp. 1.000.000.000,- (Satu Miliar

(26)

3) Milik warga Negara Indonesia (WNI)

4) Berdiri sendiri, bukan merupakan anak usaha perusahaan atau cabang perusahaan

yang tidak dimiliki, dikuasai atau berafiliasi langsung maupun tidak langsung dengan

usaha besar atau menengah.

5) Berbentuk usaha orang perorangan, badan usaha yang tidak berbadan hukum atau

badan usaha yang berbadan hukum, termasuk koperasi

II.3 Pengertian Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri PNPM Madiri adalah program nasional dalam wujud kerangka-kebijakan sebagai

dasar dan acuan pelaksanaan program-program penanggulangan kemiskinan berbasis

pemberdayaan masyarakat. PNPM Mandiri dilaksanakan melalui harmonisasi dan

pengembangan sistem serta mekanisme dan prosedur program, penyediaan pendampingan

dan pendanaan stimulan untuk mendorong prakarsa dan inovasi masyarakat dalam upaya

penanggulangan kemiskinan yang berkelanjutan.

II.3.1 Pendekatan PNPM Mandiri

Pendekatan atau upaya-upaya rasional dalam mencapai tujuan program dengan

memperhatikan prinsip-prinsip pengelolan program adalah pembangunan yang berbasis

masyarakat dengan:

1. Menggunakan Kecamatan sebagai fokus program untuk mengharmonisasikan

perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian program.

2. Memposisikan masyarakat sebagai penentu/pengambil kebijakan dan pelaku utama

(27)

3. Mengutamakan nilai-nilai universal dan budaya lokal dalam proses pembangunan

partisipatif.

4. Menggunakan pendekatan pemberdayaan masyarakat yang sesuai dengan

karakteristik sosial, budaya dan geografis.

5. Melalui proses pemberdayaan yang terdiri atas pembelajaran, kemandirian, dan

keberlanjutan.

II.3.2 Prinsip Dasar PNPM Mandiri

PNPM Mandiri menekankan prinsip-prinsip dasar sebagai berikut :

1. Bertumpu Pada Pembangunan Manusia. Pelaksanaan PNPM Mandiri senantiasa

bertumpu pada peningkatan harkat dan martabat manusia seutuhnya.

2. Otonomi. Dalam pelasanaan PNPM Mandiri, masyarakat memiliki kewenangan

secara mandiri untuk berpartisipasi dan mengelola kegiatan pembangunan secara

swakelola.

3. Desentralisasi. Kewenangan pengelolaan kegiatan pembangunan sektoral dan

kewilayahan dilimpahkan kepada Pemerintah daerah atau masyarakat sesuai dengan

kepastiannya.

4. Berorientasi pada masyarakat Miskin. Semua kegiatan yang dilaksanakan

mengutamakan kepentingan dan kebutuhan masyarakat miskin dan kelompok

masyarakat yang kurang beruntung.

5. Partisipasi. Masyarakat terlibat secara aktif dalam setiap proses pengambilan

keputusan pembangunan dan secara gotong royong menjalankan pembangunan.

6. Kesetaraan dan Keadilan Gender. Laki-laki dan perempuan mempunyai kesetaraan

dalam perannya disetiap tahap pembangunan dan dalam menikmati secara adil

(28)

7. Demokratis. Setiap pengambilan keputusan pembangunan dilakukan secara

musyawarah dan mufakat dengan tetap berorientasi pada kepentingan masyarakat

miskin.

8. Transparansi dan Akuntabel. Masyarakat harus memiliki akses yang memadai

terhadap segala informasi dan proses pengambilan keputusan sehingga pengelolaan

kegiatan dapat dilaksanakan secara terbuka dan dipertanggunggugatkansecara moral,

teknis, legal maupun admistratif.

9. Prioritas. Pemerintah dan masyarakat harus memprioritaskan pemenuhankebutuhan

untuk pengentasan kemiskinan dengan mendayagunakansecara optimal berbagai

sumberdaya yang terbatas.

10.Kolaborasi. Semua pihal yang berkepentingan dalam penanggulangankemiskinan

didorong untuk mewujudkan kerjasama dan sinergiantar pemangku kepentingan

dalam penanggulangan kemiskinan.

11.Keberlanjutan. Setiap pengambilan keputusan harus mempertimbangkankepentingan

peningkatan kesejahteraan masyarakat tidak hanyasaat ini tapi juga di masa depan

dengan tetap menjaga kelestarianlingkungan.

12.Sederhana. Semua aturan, mekanisme dan prosedur dalam pelaksanaan

PNPMMandiri harus sederhana, fleksibel, mudah dipahami, dan mudah

dikelola, serta dapat dipertanggungjawabkan oleh masyarakat.

II.3.3 Tujuan PNPM Mandiri

1. Tujuan Umum

Meningkatnya kesejahteraan dan kesempatan kerja masyarakat miskin secara mandiri.

(29)

a. Meningkatnya partisipasi seluruh masyarakat, termasuk masyarakat miskin,

kelompok perempuan, komunitas adat terpencil dan kelompok masyarakat

lainnya yang rentan dan sering terpinggirkan ke dalam proses pengambilan

keputusan dan pengelolaan pembangunan.

b. Meningkatnya kapasitas kelembagaan masyarakat yang mengakar,

representatif dan akuntabel.

c. Meningkatnya kapasitas Pemerintah dalam memberikan pelayanan kepada

masyarakat terutama masyarakat miskin melalui kebijakan, program dan

penganggaran yang berpihak pada masyarakat miskin (pro poor).

d. Meningkatnya sinergi masyarakat, Pemerintah daerah, swasta, asosiasi,

perguruan tinggi, lembaga swadaya masyarakat, organisasi masyarakat dan

kelompok perduli lainnya untuk mengefektifkan upaya-upaya penanggulangan

kemiskinan.

e. Meningkatnya keberadaan dan kemandirian masyarakat serta kapasitas

Pemerintah daerah dan kelompok perduli setempat dalam menanggulangi

kemiskinan di wilayahnya.

f. Meningkatnya modal sosial masyarakat yang berkembang sesuai dengan

potensi sosial dan budaya serta untuk melestarikan kearifan lokal.

g. Meningkatnya inovasi dan pemanfaatan teknologi tepat guna, informasi dan

komunikasi dalam pemberdayaan masyarakat.

II.3.4 Dasar Hukum PNPM Mandiri

Dasar hukum pelaksanaan PNPM Mandiri mengacu pada landasan konstitusional

Undang-undang Dasar 1945 beserta amandemennya, Pancasila, dan peraturan

(30)

disusun kemudian. Peraturan perundang-undangan khususnya terkait sistem Pemerintahan,

perencanaan, keuangan negara, dan kebijakan penanggulangan kemiskinan adalah sebagai

berikut:

1. Sistem Pemerintahan

Dasar peraturan perundangan sistem Pemerintahan yang digunakan

adalah:

a. Undang-undang Nomor: 22 Tahun 1999. Undang-undang Nomor: 32 Tahun

2004 tentang Pemerintahan Daerah.

b. Peraturan Pemerintah Nomor: 72 Tahun 2005 tentang Pemerintah Desa.

c. Peraturan Pemerintah Nomor: 73 Tahun 2005 tentang Kelurahan.

d. Peraturan Presiden Nomor: 54 Tahun 2005 tentang Tim Koordinasi

Penanggulangan Kemiskinan.

2. Sistem Perencanaan

Dasar peraturan perundangan sistem perencanaan terkait adalah:

a. Undang-undang Nomor: 25 Tahun 2004 tentang SistemPerencanaan

Pembangunan Nasional (SPPN).

b. Undang-undang Nomor: 17 Tahun 2007 tentang RencanaPembangunan

Jangka Panjang Nasional 2005-2025.

c. Peraturan Presiden Nomor: 7 Tahun 2005 tentang RencanaPembangunan

Jangka Menengah (RPJM) Nasional 2004-2009.

d. Peraturan Pemerintah Nomor: 39 Tahun 2006 tentang Tata CaraPengendalian

dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan.

e. Peraturan Pemerintah Nomor: 40 Tahun 2007 tentang Tata CaraPenyusunan

(31)

f. Instruksi Presiden Nomor: 9 Tahun 2000 tentangPengarusutamaan Gender

dalam Pembangunan Nasional.

3. Sistem Keuangan Negara

Dasar peraturan perundangan sistem keuangan negara adalah sebagai berikut :

a. Undang-undang Nomor: 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran

Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran

Negara Republik Indonesia Nomor 4286);

b. Undang-undang Nomor: 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara

(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan

Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4455);

c. Undang-undang Nomor: 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan

Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara

Republik IndonesiaTahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara

Republik Indonesia Nomor 4438);

d. Peraturan Pemerintah Nomor: 57 Tahun 2005 tentang Hibah Kepada Daerah

(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 139, Tambahan

LembaranNegara Republik Indonesia Nomor 4577);

e. Peraturan Pemerintah Nomor: 2 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengadaan

Pinjaman dan atau Penerimaan Hibah serta Penerusan Pinjaman dan/atau

Hibah Luar Negeri (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor

3, Tambahan LembaranNegara Republik Indonesia Nomor 4597);

f. Keputusan Presiden Nomor: 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan

(32)

g. Peraturan Menteri PPN/Kepala Bappenas Nomor: 005/MPPN/06/2006 tentang

Tata cara Perencanaan dan Pengajuan Usulan serta Penilaian Kegiatan yang

Dibiayai dari Pinjaman/Hibah Luar Negeri;

h. Peraturan Menteri Keuangan Nomor: 52/PMK.010/2006 tentang Tata Cara

Pemberian Hibah kepada Daerah;

i. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor: 13 Tahun 2006 tentangPedoman

(33)

II.3.5 Struktur Organisasi PNPM Mandiri

Penyelenggaraan PNPM Mandiri dilakukan secara berjenjang dari tingkat nasional

(34)

1. Tingkat Nasional

Penanggung jawab pengelolaan program tingkat nasional PNPM Mandiri Perkotaan

adalah Departemen Pekerjaan Umum yang bertindak sebagai lembaga penyelenggara

program (executing agency). Untuk melaksanakan Program Penanggulangan

Kemiskinan di Perkotaan (P2KP) agar dapat mencapai sasaran yang telah ditetapkan

dan terciptanya sinergidengan program lainnya untuk mengoptimalkan hasil yang

dicapai dalam rangka keberlanjutan program sekaligus mendukung pelaksanaan

Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perkotaan (PNPM-Mandiri

Perkotaan), telah dibentuk Unit Manajemen Program Penanggulangan Kemiskinan di

Perkotaan (PMU P2KP) sesuai Keputusan Menteri Pekerjaan Umum nomor

358/KPTS/M/2008 tanggal 10 Juni 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit

Manajemen Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (PMU P2KP).

2. Tingkat Propinsi

Di tingkat propinsi dikoordinasikan langsung oleh Gubernur setempat melalui Bapeda

Propinsi dengan menunjuk Tim Koordinasi Pelaksanaan PNPM yang anggotanya

terdiri dari pejabat instansi terkait di daerah di bawah koordinasi TKPKD Propinsi.

Sebagai pelaksana ditunjuk Dinas Pekerjaan Umum/Bidang Ke-Cipta Karya-an di

bawah kendali/koordinasi Satker Non Vertikal Tertentu (SNVT) PBL tingkat

propinsi. Tugas Kepala SNVT PBL Propinsi adalah :

a. Melaksanakan kegiatan teknis dan administratif untuk pelaksanaan PNPM

Mandiri Perkotaan sesuai arah kebijakan PMU-P2KP ;

b. Mengelola tata pelaporan pelaksanaan PNPM Mandiri Perkotaan;

c. Mempertanggungjawabkan seluruh pengeluaran dana sesuai ketentuan yang

(35)

d. Bersama dgn KMW dan TKPKD menindak lanjuti berbagai pengaduan terkait

PNPM Mandiri Perkotaan sampai proses hukum/ke tangan penegak hukum

dengan tetap mengutamakan penyelesaian secara kekeluargaan.

3. Tingkat Kota/Kabupaten

Di tingkat Kabupaten/Kota dikoordinasikan langsung oleh Walikota/Bupati setempat

melalui Bapeda Kabupaten/Kota dengan menunjuk Tim Koordinasi Pelaksanaan

PNPM (TKPP) yang anggotanya terdiri dari pejabat instansi terkait di daerah di

bawah koordinasi TKPKD Kabupaten/Kota. TKPKD Kota/ Kabupaten dalam PNPM

Mandiri Perkotaan berperan mengkoordinasikan TKPP dari berbagai program

penanggulangan kemiskinan.

4. Tingkat Kecamatan

Di tingkat kecamatan, unsur utama pelaksanaan PNPM Mandiri Perkotaan yaitu

sebagai berikut :

a. Camat

Peran pokok Camat adalah memberikan dukungan dan jaminan atas

kelancaran pelaksanaan PNPM Mandiri Perkotaan di wilayah kerjanya,

dengan rincian tugas sebagai berikut:

1) Melakukan sosialisasi program PNPM Mandiri Perkotaan kepada

Lurah dan perangkat kelurahan di wilayah kerjanya;

2) Memfasilitasi berlangsungnya koordinasi dan konsolidasi dalam

pelaksanaan PNPM Mandiri Perkotaan di wilayah kerjanya;

3) Melakukan pemantauan pelaksanaan PNPM Mandiri Perkotaan di

wilayah kerjanya dan menerima serta memverifikasi laporan para

(36)

4) Mendorong dan mendukung tumbuhnya forum LKM tingkat

kecamatan;

5) Memfasilitasi berlangsungnya integrasi antara rencana program

masyarakat dan program daerah lainnya dalam Musrenbang

Kecamatan;

6) Melakukan koordinasi dan kerjasama dengan Forum LKM di tingkat

kecamatan/kota/kabupaten, KSM, dan kelompok peduli lainnya untuk

meningkatkan keberhasilan PNPM Mandiri Perkotaan di wilayah

kerjanya; serta

7) Berkoordinasi dengan PJOK dan Tim Fasilitator dalam penyelesaian

persoalan, konflik dan penanganan pengaduan mengenai pelaksanaan

PNPM Mandiri Perkotaan di wilayahnya.

b. Penanggung Jawab Operasional Kegiatan (PJOK)

Di tingkat kecamatan ditunjuk PJOK (Penanggung Jawab Operasional

Kegiatan). PJOK adalah perangkat kecamatan yang diangkat oleh

Walikota/Bupati) untuk pengendalian kegiatan di tingkat kelurahan

administrasi pelaksanaan PNPM Mandiri Perkotaan di wilayah kerjanya.Tugas

pokok PJOK adalah sebagai berikut:

1) Memantau pelaksanaan PNPM Mandiri Perkotaan di wilayah kerjanya;

2) Melaksanakan administrasi program berupa penandatanganan SPPB,

memproses SPPB ke bank pembayar dan lain-lain;

3) Membuat laporan bulanan pelaksanaan tugas setiap bulan. Laporan

bulanan dibuat rangkap tiga untuk diserahkan sebelum tanggal 15

setiap bulan kepada bupati/walikota. Laporan tersebut dikirim juga

(37)

4) Membuat laporan pertanggungjawaban pada akhir masa jabatannya

dan menyerahkannya kepada Walikota/Bupati paling lambat satu bulan

setelah masa tugasnya sebagai PJOK berakhir. Jika terjadi pergantian

PJOK antar waktu, maka PJOK sebelumnya harus membuat Berita

Acara Serah Terima Pekerjaan kepada PJOK penggantinya. Berita

Acara tersebut memuat pelaksanaan tugas, hasil-hasil kegiatan, hasil

monitoring dan evaluasi serta dilengkapi dengan uraian dan

penjelasanpenggunaan dana BOP-PJOK;

5) Melakukan koordinasi dan sinkronisasi kegiatan PNPM Mandiri

Perkotaan dengan KMW dan Tim Fasilitator untuk

bersama-samamenangani penyelesaian permasalahan dan pengaduan mengenai

pelaksanaan PNPM Mandiri Perkotaan di wilayah kerjanya;

6) Melakukan pemeriksaan terhadap penggunaan dana yang telah

disalurkan kepada masyarakat (LKM/KSM/Panitia/dsb) sesuai dengan

usulan yang disetujui Fasilitator.

5. Tingkat Kelurahan/Desa

Di tingkat kelurahan/desa, unsur utama pelaksanaan PNPM Mandiri Perkotaan

adalah (1) Lurah/Kades dan perangkatnya, (2) Relawan masyarakat, (3) LKM

(Lembaga Keswadayaan Masyarakat), (4) KSM (Kelompok Swadaya

Masyarakat)dengan peran dan tugas masing-masing unsur yaitu sebagai berikut :

a. Lurah atau Kepala Desa

Secara umum peran utama Kepala Kelurahan/Lurah dan Kepala Desa adalah

memberikan dukungan dan jaminan agar pelaksanaan PNPM Mandiri

(38)

aturan yang berlaku sehingga tujuan yang diharapkan melalui PNPM Mandiri

Perkotaandapat tercapai dengan baik.Untuk Itu Lurah/ Kepala Desa dapat

mengerahkan perangkat kelurahan atau desa sesuai dengan fungsi

masing-masing.Secara rinci tugas dan tanggung jawab Lurah/Kepala Desa dalam

pelaksanaan PNPM Mandiri Perkotaan adalah sebagai berikut:

1) Membantu sosialisasi tingkat kelurahan/desa dan Kesiapan Masyarakat

yang menyatakan kesiapan seluruh masyarakat untuk mendukung dan

melaksanakan PNPM Mandiri Perkotaan;

2) Memfasilitasi terselenggaranya pertemuan pengurus RT/RW dan

masyarakat dengan KMW/Tim Fasilitator, dan relawan masyarakat

dalam upaya penyebarluasan informasi dan pelaksanaan PNPM

Mandiri Pedesaan.

3) Memfasilitasi pelaksanaan pemetaan swadaya (Community Self

Survey) dalam rangka pemetaan kemiskinan dan potensi sumberdaya

masyarakat yang dilaksanakan secara swadaya oleh masyarakat;

4) Memfasilitasi proses pembentukan LKM. (Bentuk-bentuk dukungan

disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat setempat, serta ketentuan

PNPM Mandiri Pedesaan).

5) Memfasilitasi dan mendukung penyusunan Program Jangka Menengah

Penanggulangan Kemiskinan dan rencana tahunannya oleh masyarakat

yang diorganisasikan oleh lembaga kepemimpinan masyarakat

setempat (LKM).

6) Memfasilitasi koordinasi dan sinkronisasi kegiatan yang terkait dengan

penanggulangan kemiskinan termasuk peninjauan lapangan oleh

(39)

7) Memfasilitasi PJM Pronangkis sebagai program kelurahan/desa untuk

dibahasa didalam Musrenbang kelurahan/desa.

8) Memberi laporan bulanan kegiatan PNPM Mandiri Perkotaan

diwilayahnya kepada Camat.

9) Berkoordinasi dengan Tim Fasilitator, relawan masyarakat dan LKM,

memfasilitasi penyelesaian persoalan dan konflik serta penanganan

pengaduan yang muncul dalam pelaksanaan PNPM Mandiri Perkotaan

diwilayah kerjanya.

II.4 Defenisi Konsep

Menurut Masri Singarimbun (1995:37) bahwa konsep adalah istilah yang digunakan

untuk menggambarkan kejadian secara abstrak kejadian atau kelompok individu yang

menjadi pusat ilmu sosial. Defenisi konsep berfungsi untuk menemukan batasan-batasan

masalah yang ada dalam penelitian. Karena dalam penelitian deskriftif diperlukan fokus

penelitian agar data penelitian yang akan diteliti dapat terukur validitasnya. Untuk itu dalam

penelitian ini, penulis menguraikan defenisi konsep sebagai berikut :

1. Pemberdayaan Masyarakat

Pemberdayaan Masyarakat adalah upaya untuk menciptakan atau meningkatkan

kapasitas masyarakat, baik secara individu maupun berkelompok, dalam memecahkan

berbagai persoalan terkait upaya peningkatan kualitas hidup, kemandirian dan

kesejahteraannya. Pemberdayaan masyarakat memerlukan keterlibatan yang besar

dari perangkat Pemerintah daerah serta berbagai pihak untuk memberikan kesempatan

(40)

2. Usaha Kecil dan Menengah (UKM)

Usaha Kecil dan Menengah (UKM) adalah sebuah istilah yang mengacu pada jenis

usaha kecil yang memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 200.000.000,- tidak

termasuk tanah dan bangunan tempat usaha. UKM sesungguhnya merupakan sektor

ekonomi yang memiliki efisiensi tinggi dibandingkan usaha dalam skala besar. UKM

yang lebih banyak dikelola dan menjadi milik keluarga, memiliki fisibilitas tinggi

dalam menghadapi perubahan pasar. Jika di bandingkan dengan sektor usaha berskala

besar yang dilingkupi banyak faktor pada saat sebuah keputusan perusahaan akan

diambil. Disamping itu, usaha skala besar biasanya sangat tergantung kepada

kemajuan teknologi yang dimiliki pula.Risiko pada usaha skala besarpun lebih tinggi

dibandingkan UKM.

3. Progaram Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM)

PNPM Madiri adalah program nasional dalam wujud kerangka-kebijakan sebagai

dasar dan acuan pelaksanaan program-program penanggulangan kemiskinan berbasis

pemberdayaan masyarakat. PNPM Mandiri dilaksanakan melalui harmonisasi dan

pengembangan sistem serta mekanisme dan prosedur program, penyediaan

pendampingan dan pendanaan stimulan untuk mendorong prakarsa dan inovasi

(41)

BAB III

METODE PENELITIAN

III.1 Metode Penelitian

Metode pada dasarnya merupakan cara yang digunakan untuk mencapai sesuatu.

Menurut (Arikunto, 2006:160) metode penelitian adalah cara yang digunakan oleh peneliti

dalam mengumpulkan data penelitiannya. Mengenai metode penelitian pada dasarnya

menggunakan metode deskriptif.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh (Danial dan Warsiah, 2009:62) mengenai

metode deskrptif yaitu : Metode yang bertujuan untuk menggambarkan secara sistematik

suatu situasi, kondisi objek bidang kajian pada suatu waktu secara akurat. Tujuan metode

deskriptif adalah memperlihatkankeberadaan suatu fenomena yang ada misalnya dengan

menggunakan sensus, sosial ekonomi penduduk, potensi pendidikan dan lain-lain.

III.2 Lokasi Penelitian

Lokasi adalah tempat dimana penelitian berlangsung. Dalam penelitian ini yang

menjadi lokasi penelitian adalah Desa Jorlang Huluan Kecamatan Pematang Sidamanik

Kabupaten Simalungun.

III.3 Informan Penelitian

Data yang diperoleh dari penelitian ini berasal dari iforman dan hasil dari interpretasi

yang dilakukan oleh peneliti. Menurut (Bagong Suyanto, 2005:172) informan penelitian

(42)

a. Informan kunci; mengetahui dan memiliki informasi pokok yang diperlukan dalam

penelitian. Dalam hal ini yang menjadi informan kunci adalah Kepala Desa Jorlang

Huluan.

b. Informan utama; yang terlibat langsung dalam interaksi sosial dalam proses

penelitian. Dalam hal ini yang menjadi informan utama dalam penelitian ini adalah

Relawan masyarakat, Lembaga keswadayaan Masyarakat (LKM)

c. Informan tambahan: yang dapat memberikan informasi walaupun tidak terlibat secara

langsung dalam interaksi sosial yang akan diteliti. Dalam hal ini yang menjadi

informan tambahaan adalah masyarakat desa Jorlang Huluan.

III.4 Teknik Pengumpulan Data

Data merupakan bahan yang sangat diperlukan untuk selanjutnya dianalisis guna

mendapatkan suatu hasil penelitian. Sebagaimana yang diungkapkan (Moleong, 2010:11)

bahwa karakteristik pendekatan kualitatif salah satunya adalah deskriptif, dengan demikian

untuk memperoleh data penelitian berasal dari naskah wawancara, catatan lapangan, fhoto,

dokumen pribadi, memo, dan dokumen resmi lainnya. Dengan demikian teknik penelitian

yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini ada 2 cara yaitu, sebagai

berikut:

a. Data Primer yan diperoleh melalui

1. Observasi

Dalam bahasa Indonesia sering digunakan istilah pengamatan. Alat ini

digunakanuntukmengamatidengan melihat,mendengar, merasakan, mencium,

mengikuti segala hal yang terjadi dengan cara mencatat atau merekam segala

sesuatunya tentang orang atau kondisi suatu fenomena tersebut (Danial dan Wasriah,

(43)

2. Wawancara

Wawancara adalah tehnik mengumpulkan data dengan cara mengadakan dialog,tanya

jawab antara peneliti dengan responden secara sungguh-sungguh (Danial dan

Warsiah, 2009:71).

3. Studi Dokumentasi

Menurut (Daniel dan Warsiah, 2009:79) mengemukakan Studi dokumentasi adalah

mengumpulkan sejumlah dokumen yang diperlukan sebagai bahan data informasi

sesuai dengan masalah penelitian seperti peta, data statistik, jumlah dan nama

pegawai, data siswa, data penduduk, grafik, gambar, surat-surat, fhoto, akte, dan

lain-lain.

b. Data sekunder yang diperoleh melalui

1. Studi Literatur

Menurut Daniel dan Warsiah (2009:80) Studi Literatur adalah dengan cara

mengumpulkan sejumlah buku-buku, artikel, majalah dan lain-lain yang berkenaan

dengan masalah dan tujuan penelitian.

III.5 Teknik Analisis Data

Teknik analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisa data

kualitatif. Dimana analisa data dilakukan dengan mengorganisir data, menjabarkannya

kedalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun kedalam pola, memilih mana yang penting

dan mempelajarinya, serta menyusun kesimpulan yang dapat diceritakan kepda orang lain

(Sugyono, 2008:246). Adapun langkah-langkah dalam melakukan analisis data adalah

(44)

Gambar 3.1

Komponen Dalam Analisa Data Periode Pengumpulan

Reduksi Data

Antisipasi Selama Setelah

Display Data ANALISIS

Selama Setelah

Verifikasi/Kesimpulan

1. Reduksi Data

Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada

hal-hal yang penting, lalu dicari tema dan polanya. Dengan demikian data yang telah

direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas, dan mempermudah peneliti

untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya dan mencarinya bila diperlukan.

2. Displsay Data (Penyajian Data)

Setelah data direduksi, maka langkah selanjutnya adalah menyajikan data. Dalam

penelitian kualitatif, penyajian data dapa dilakukan dalam bentuk uraian singkat,

bagan dan hubungan antar kategori. Dengan menyajikan data makan akan

mempermudah untuk memahami apa yang terjadi, dan setelah itu dapat merencanakan

kerja selanjutnya berdasarkan apa yang telah dipahami tersebut.

3. Penarikan Kesimpulan

Kesimpulan dalam penelitian kualitatif adalah merupakan temuan baru yang

(45)

yang sebelumnya masih remang-remang atau belum jelas sehingga setelah diteliti

menjadi jelas, dapat berupa hubungan kausal, interaktif, hipotesis ataupun teori.

III.6 Validitas Data

Dalam penelitian kualitatif, temuan atau data dapat dinyatakan valid apabila tidak ada

perbedaan antara yang diperoleh peneliti dengan apa yang sesungguhnya terjadi pada objek

yang diteliti. Hasil penelitian kualitatif sering kali diragukan karena dianggap tidak

memenuhi syarat validitas dan kredibilitas. Oleh sebab itu ada cara-cara untuk memperoleh

tingkat kepercayaan yang dapat digunakan untuk memenuhi kriteria kredibilitas dan validitas

internal (sugyono, 2008:271). Pengujian kredibilitas data dapat antara lain dilakukan dengan:

1. Triangulasi

Triangulasi dalam pengujian kredibilitas data diartikan sebagai pengecekan data dari

berbagai sumber dengan berbagai cara, dan berbagai waktu. Penulis melakukan

observasi berulang kali kepada para pelaku PNPM Mandiri guna melihat apakah data

yang diberikan sudah sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya atau malah

sebaliknya.

2. Menggunakan Bahan Refrensi

Yang dimaksud dengan bahan refrensi disini adalah adanya pendukung untuk

membuktikan data yang telah ditemukan atau dikumpulkan oleh peneliti. Sebagai

bekal/bahan, penulis banyak membaca berbagai refrensi tentang PNPM Mandiri yang

berkaitan dengan pemberdayaan usaha kecil dan menengah (UKM).

3. Perpanjangan Pengamatan

Perpanjangan pengamatan yang dimaksud disini adalah bahwa peneliti kembali

(46)

Disini penulis mencoba untuk memastikan apakah informasi yang didapat

Figur

Gambar 2.1 Tiga Tahapan dalam Proses Pemberdayan

Gambar 2.1

Tiga Tahapan dalam Proses Pemberdayan p.21
Gambar 3.1 Komponen Dalam Analisa Data

Gambar 3.1

Komponen Dalam Analisa Data p.44
Tabel 4.2 Sarana Kesehatan Masyarakat

Tabel 4.2

Sarana Kesehatan Masyarakat p.50
Tabel 4.1

Tabel 4.1

p.50
Tabel 4.4

Tabel 4.4

p.52
Tabel 4.3

Tabel 4.3

p.52
Tabel 4.5

Tabel 4.5

p.54
Gambar 4.1

Gambar 4.1

p.59
Tabel 4.6

Tabel 4.6

p.63

Referensi

Memperbarui...

Outline : PENUTUP