JUJUTSU DALAM SEJARAH BELADIRI DI JEPANG
NIHON BUDO NO REKISHI NI OKERU JÛJUTSU
SKRIPSI
Skripsi ini diajukan kepada Panitia Ujian Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara Medan untuk melengkapi salah satu syarat Ujian Sarjana Bidang Ilmu
Sastra Jepang
Oleh:
NIM : 030708021
ANWAR GANI MUSTAKIM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
FAKULTAS SASTRA
JUJUTSU DALAM SEJARAH BELADIRI DI JEPANG
NIHON BUDO NO REKISHI NI OKERU JÛJUTSU
SKRIPSI
Skripsi ini diajukan kepada Panitia Ujian Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara Medan untuk melengkapi salah satu syarat Ujian Sarjana Bidang Ilmu
Sastra Jepang
Dosen Pembimbing I, Dosen Pembimbing II,
Drs. Amin Sihombing
NIP. 131945676 NIP. 131763365
Drs. Eman Kusdiyana, M.Hum
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
FAKULTAS SASTRA
Disetujui Oleh : Fakultas Sastra
Universitas Sumatera Utara Medan
Program Studi S-1 Sastra Jepang Ketua Program Studi,
NIP. 131427124
Drs. Hamzon Situmorang, M.S, Ph.D
PENGESAHAN Diterima Oleh :
Panitia Ujian Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara untuk melengkapi salah satu syarat Ujian Sarjana Sastra dalam bidang Ilmu Sastra Jepang pada Fakultas Sastra Jepang
Pada Tanggal : Pukul :
Fakultas Sastra
Universitas Sumatera Utara Dekan
N I P. 131284310
Drs. Syaifuddin, M. A, Phd
Panitia Ujian
No. Nama Tanda Tangan
1. ( )
2. ( )
3. ( )
4. ( )
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, salawat dan salam keharibaan Rasulullah Muhammad SAW dan teriring do’a untuk ayah, ibu dan adik-adik penulis.
Pada kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang telah membantu sehingga penulis menyelesaikan studi dan skripsi ini, antara lain kepada:
1. Bapak Drs. Wan Syaifuddin, M.A, PhD, selaku Dekan Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Drs. Hamzon Situmorang, M.S, Ph.D. selaku Ketua Program Studi S-1 Sastra Jepang Universitas Sumatera Utara.
3. Bapak Drs. Amin Sihombing selaku Dosen Pembimbing I, yang dalam kesibukannya telah menyediakan banyak waktu untuk membimbing dan mengarahkan penulis dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini.
4. Bapak Drs. Eman Kusdiyana, M. Hum. selaku Dosen Pembimbing II. yang juga tidak kenal letih membimbing penulis.
5. Kepada seluruh Dosen Pengajar Program Studi S-1 Sastra Jepang Universitas Sumatera Utara, yang telah memberikan banyak ilmu kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan perkuliahan dengan baik.
6. Teristimewa kepada ayahanda Syahnan dan ibunda Nur Azi Suryana yang tiada lelah untuk memberikan semangat kepada penulis dalam segala hal. Terima kasih untuk semua jasa-jasa yang tiada nilainya di dunia ini.
7. Adik-adik yang sangat penulis cintai. Semoga kalian senantiasa dikarunai kesehatan dan kelak menjadi orang yang sukses dan bertaqwa.
9. Semua pihak yang telah membantu menyelesaikan skripsi ini, yang mungkin belum disebutkan sebelumnya.
Penulis menyadari tidak ada yang dapat membalas kebaikan dan budi dari orang-orang yang telah mendukung dan mendampingi ini, hanya Allah SWT-lah yang akan membalas semua jasa tersebut.
Penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun dan dapat meningkatkan mutu tulisan ini nantinya, dan semoga skripsi ini berguna dan bermanfaat bagi pembaca atau pihak lain yang membutuhkannya.
Sekali lagi atas perhatian dan dukungannya, penulis mengucapkan banyak terima kasih.
Medan, Maret 2008
ABSTRAK
Sejak diciptakan di Jepang ratusan tahun lalu, Jujutsu yang berinduk pada seni beladiri samurai ini telah berkembang menjadi ratusan aliran yang tersebar di seluruh dunia, dimana setiap aliran mempunyai kekhususan atau kelebihannya masing-masing. Secara garis besarnya, aliran yang ada dalam Jujutsu terbagi menjadi dua, yaitu Aliran Tua (Ko Ryu) dan aliran Modern (Gendai Budo).
Yang dimaksud Aliran Tua adalah aliran yang timbul sebelum tahun 1882 dan berpusat di negara Jepang. Pengajaran aliran ini bersifat tertutup/rahasia, tidak sembarang orang boleh menjadi anggota dan kurikulumnya bersifat baku dan tidak berubah selama ratusan tahun, hal ini disebabkan oleh sifat Jujutsu yang pada awalnya hanya boleh dipelajari oleh golongan bangsawan dan prajurit Samurai. Aliran tua antara lain adalah Daito Ryu, aliran Jujutsu tertua di Jepang, Didirikan pada tahun 1100 oleh Shinra Saburo Yoshimitsu.
Selain dikenal seni beladiri yang efektif, Jujutsu juga yang dikenal sebagai "induk" dari seni beladiri Jepang lainnya. Banyak ahli seni beladiri yang Jujutsu secara mendalam, kemudian mengembangkannya menjadi alirannya sendiri. Jigoro Kano mempelajari teknik kuncian dan pukulan dari Tensin Shinyo Ryu Jujutsu dan bantingan dari Kito Ryu Jujutsu sebelum mendirikan Judo di tahun 1882 Morihei Ueshiba sang pendiri Aikido sempat belajar Daito Ryu Aiki Jujutsu dibawah bimbingan Takeda Sokaku selama tahun 1919-1922 Sedangkan Otsuka Hironori telah mengusai Shindo Yoshin Ryu Jujutsu sejak tahun 1922 sebelum mendirikan Wado Ryu Karate pada tahun 1931 Choi Yung Sul dari Korea belajar Daito Ryu Aiki Jujutsu dan kemudian mendirikan seni beladiri Hapkido pada tahun 1947.
Para guru besar seni beladiri di atas mengambil teknik-teknik Jujutsu dalam menyusun kurikulum seni beladirinya yang baru, sehingga teknik-teknik yang digunakan dalam Jujutsu banyak juga ditemui dalam seni beladiri Judo, Aikido, Hapkido, dan Karate. Walaupun demikian, aliran-aliran Jujutsu yang ada sekarang, terutama yang didirikan setelah tahun 1882 sudah tentu tidak dapat dianggap sebagai induk seni beladiri Judo, Aikido, Hapkido dan Karate. Bahkan aliran-aliran Jujutsu yang bersifat modern ini terkadang mengambil kembali jurus-jurus yang ada di dalam Judo, Aikido, Karate, dan juga seni dari beladiri negara lain seperti Kungfu, Silat dan Sambo untuk dikembangkan sesuai dengan perubahan jaman.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR………..i
DAFTAR ISI………ii
BAB I PENDAHULUAN 1.1Latar Belakang Masalah.………. 1
1.2Perumusan Masalah………...……….. 5
1.3Ruang Lingkup Pembahasan………...………….6
1.4Tinjauan Pustaka dan Kerangka Teori……… 6
1.4.1 Tinjauan Pustaka ………...……….……… 6
1.4.2 Kerangka Teori……… 8
1.5Tujuan dan Manfaat Penelitian……… 9
1.5.1 Tujuan Penelitian ……….. 9
1.5.2 Manfaat Penelitian ………. 9
1.6Metode Penelitian………..,……….10
BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG SENI BELADIRI, BELADIRI JEPANG DAN JUJUTSU 2.1 Seni Beladiri ………...……….. 11
2.3 Filosofi dan Teknik dalam Jujutsu…….……… 18
2.3.1 Filosofi ………..19
2.3.2 Teknik-Teknik Jujutsu ………..……25
BAB III JUJUTSU DALAM SEJARAH BELADIRI DI JEPANG 3.1Sejarah Awal Jujutsu ……… 27
3.1.1Daito-ryu Aikijujutsu ………...29
3.1.2Takenouchi-ryu Jujutsu ………30
3.1.3Yoshin-ryu Jujutsu ………...31
3.1.4Kito-ryu Jujutsu ………...32
3.1.5Beladiri yang Bersumber pada Amatsu Tatara ………32
3.2Perkembangan Jujutsu…….………...………... 33
3.3Jujutsu Dewasa Ini ……… 45
BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN 4.1 Kesimpulan ………49
4.2 Saran ………. 51
ABSTRAK
Sejak diciptakan di Jepang ratusan tahun lalu, Jujutsu yang berinduk pada
seni beladiri samurai ini telah berkembang menjadi ratusan aliran yang tersebar di seluruh dunia, dimana setiap aliran mempunyai kekhususan atau kelebihannya masing-masing. Secara garis besarnya, aliran yang ada dalam Jujutsu terbagi
menjadi dua, yaitu Aliran Tua (Ko Ryu) dan aliran Modern (Gendai Budo).
Yang dimaksud Aliran Tua adalah aliran yang timbul sebelum tahun 1882 dan berpusat di negara Jepang. Pengajaran aliran ini bersifat tertutup/rahasia, tidak
sembarang orang boleh menjadi anggota dan kurikulumnya bersifat baku dan tidak berubah selama ratusan tahun, hal ini disebabkan oleh sifat Jujutsu yang
pada awalnya hanya boleh dipelajari oleh golongan bangsawan dan prajurit Samurai. Aliran tua antara lain adalah Daito Ryu, aliran Jujutsu tertua di Jepang, Didirikan pada tahun 1100 oleh Shinra Saburo Yoshimitsu.
Sedangkan Aliran Modern adalah yang didirikan oleh para ahli Jujutsu setelah mereka menyebarkan seni beladiri ini keluar negeri Jepang. Aliran ini timbul setelah runtuhnya kekuasaan Shogun di awal abad ke-19, pada saat seni
beladiri Jujutsu tidak lagi menjadi monopoli kaum bangsawan atau prajurit Samurai dan sudah dapat diajarkan kepada rakyat jelata. Aliran modern ini
bersifat terbuka, boleh diikuti semua orang, kurikulumnya berkembang sesuai kemajuan jaman dan adat istiadatnya tidak seketat aliran tua. Dari aliran modern yang terkenal antara lain Gracie Jiujitsu dari Brazil yang didirikan pada tahun
Selain dikenal seni beladiri yang efektif, Jujutsu juga yang dikenal sebagai
"induk" dari seni beladiri Jepang lainnya. Banyak ahli seni beladiri yang Jujutsu
secara mendalam, kemudian mengembangkannya menjadi alirannya sendiri. Jigoro Kano mempelajari teknik kuncian dan pukulan dari Tensin Shinyo Ryu
Jujutsu dan bantingan dari Kito Ryu Jujutsu sebelum mendirikan Judo di tahun 1882 Morihei Ueshiba sang pendiri Aikido sempat belajar Daito Ryu Aiki Jujutsu dibawah bimbingan Takeda Sokaku selama tahun 1919-1922 Sedangkan Otsuka Hironori telah mengusai Shindo Yoshin Ryu Jujutsu sejak tahun 1922 sebelum
mendirikan Wado Ryu Karate pada tahun 1931 Choi Yung Sul dari Korea belajar Daito Ryu Aiki Jujutsu dan kemudian mendirikan seni beladiri Hapkido pada tahun 1947.
Para guru besar seni beladiri di atas mengambil teknik-teknik Jujutsu dalam menyusun kurikulum seni beladirinya yang baru, sehingga teknik-teknik
yang digunakan dalam Jujutsu banyak juga ditemui dalam seni beladiri Judo, Aikido, Hapkido, dan Karate. Walaupun demikian, aliran-aliran Jujutsu yang ada sekarang, terutama yang didirikan setelah tahun 1882 sudah tentu tidak dapat
dianggap sebagai induk seni beladiri Judo, Aikido, Hapkido dan Karate. Bahkan aliran-aliran Jujutsu yang bersifat modern ini terkadang mengambil kembali
jurus-jurus yang ada di dalam Judo, Aikido, Karate, dan juga seni dari beladiri negara lain seperti Kungfu, Silat dan Sambo untuk dikembangkan sesuai dengan perubahan jaman.
Lamar Fisher dan United States Sport Jujitsu Association dengan ketuanya Ernest
Boggs yang berkedudukan di Amerika, Kokusai Jujutsu Renmei yang
berkedudukan Di Jepang dengan ketuanya Soke Tanemura Shoto dan Federacao De Jiu-Jitsu dengan ketuanya Robert Gracie yang berkedudukan di Brazil, World Council of Jiu Jitsu Organization (WCJJO) yang berpusat di London Inggris.
Badan badan tersebut selain berwenang untuk mengatur perkembangan Jujutsu di negaranya masing-masing juga berwenang untuk mengurusi cabang-cabang Jujutsu yang ada di luar negara mereka. Untuk memenuhi kebutuhan para
Jujutsuka untuk bertanding dan berkompetisi, di Amerika setiap tahun di adakan A.A.U Jujitsu Frestyle Competition, kejuaraan amatir yang diselenggarakan oleh
BAB I
PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang Masalah
Sepanjang sejarah kehidupan manusia, konflik kerap terjadi. Konflik ini
membuat manusia berpikir bagaimana cara untuk melindungi diri sendiri. Hal ini
merupakan suatu awal lahirnya seni beladiri. Keberadaan seni beladiri jadi suatu
kebutuhan, manusia kerap memanfaatkan kaki dan tangannya sebagai senjata.
Bangsa Jepang selama berabad-abad telah menciptakan bermacam-macam
seni beladiri, yang sebagian besar masih ada hingga kini. Sebelum tahun 1603 M
bangsa Jepang mengalami masa peperangan (Sengoku Jidai), dimana negara
Jepang terpecah belah menjadi beberapa provinsi yang dikuasai oleh
kepala-kepala daerah (disebut Daimyou). Para Daimyou saling berperang untuk
merebut kekuasaan dan wilayah. Dalam peperangan ini, para Daimyou
memanfaatkan jasa prajurit profesional yang disebut dengan bushi (Samurai) yang sebelumnya hanyalah petani yang dipersenjatai (Situmorang, 1995:11).
Kaum Samurai inilah yang mengembangkan seni ksatria (Bujutsu). Bujutsu
adalah bermacam-macam seni berkelahi yang dipelajari untuk
kepentingan peperangan, seperti bajutsu (menunggang kuda), yarijutsu (seni tombak), sojutsu (seni lembing), kenjutsu (seni pedang), kyujutsu (seni panah) heiho (metode strategi berperang) dan lain-lain.
Didalam situasi peperangan, terkadang seorang Samurai kehilangan
tersebut (misalnya untuk diculik atau diinterogasi). Oleh karena itu, kaum samurai
juga mengembangkan seni beladiri tangan kosong. Seni beladiri tangan kosong
kaum Samurai ini dari awalnya sudah mencakup jurus-jurus menghindar,
menangkis, menangkap, membanting, bergumul, menyerang titik vital dan
teknik-teknik lainnya. Dengan demikian, beladiri Samurai ini termasuk beladiri yang
komplit untuk pembelaan diri tangan kosong (Haryo, 2006:4).
Ketika Shogun Tokugawa (1603-1868 M) berhasil menguasai seluruh
Jepang dan masa Sengoku Jidai telah berakhir, masa peperangan
bersenjata telah usai dan seni beladiri biasanya lebih dimanfaatkan untuk menjaga
perdamaian, misalnya untuk menangkap penjahat kriminal atau untuk membela
diri dalam sebuah perkelahian. Dalam situasi damai seperti ini tentunya
pembunuhan tidak selalu dianjurkan. Oleh karena itu, seni beladiri tangan kosong
menjadi lebih berkembang daripada seni senjata. Seni beladiri tangan kosong ini
dikenal dengan nama Jujutsu.
Jujutsu adalah salah satu beladiri Jepang yang tertua yang kadang - kadang
dilafalkan oleh orang non Jepang sebagai Jujitsu atau Jiujitsu. Jujutsu berasal dari
dua huruf kanji yaitu (jū) yang berarti lentur atau halus dan (jutsu)
yang berarti seni atau teknik. Jujutsu adalah nama umum yang dikenakan kepada
bermacam-macam seni beladiri tangan kosong yang diciptakan oleh kaum
Samurai. Jujutsu disebut sebagai seni yang “halus” atau “lentur” karena seorang
praktisi Jujutsu mempunyai “kebebasan”, baik untuk membunuh lawannya
dengan tangan kosong, atau hanya sekedar melumpuhkan dan menangkapnya.
Selain itu, Jujutsu disebut sebagai seni yang “halus” atau “lentur” karena
memanfaatkan tenaga lawan daripada jurus saling mengadu tenaga dengan lawan
(Haryo, 2006:3).
Sejak diciptakan di Jepang ratusan tahun lalu, Jujutsu yang berinduk pada
seni beladiri samurai ini telah berkembang menjadi ratusan aliran yang tersebar di
seluruh dunia, dimana setiap aliran mempunyai kekhususan atau kelebihannya
masing-masing. Secara garis besarnya, aliran yang ada dalam Jujutsu terbagi
menjadi dua, yaitu Aliran Tua (Ko Ryu) dan aliran Modern (Gendai Budo).
Yang dimaksud Aliran Tua adalah aliran yang timbul sebelum tahun 1882
M dan berpusat di negara Jepang. Pengajaran aliran ini bersifat tertutup/rahasia,
tidak sembarang orang boleh menjadi anggota dan kurikulumnya bersifat baku
dan tidak berubah selama ratusan tahun, hal ini disebabkan oleh sifat Jujutsu yang
pada awalnya hanya boleh dipelajari oleh golongan bangsawan dan prajurit
Samurai. Aliran tua antara lain adalah Daito Ryu, aliran Jujutsu tertua di Jepang, Didirikan pada tahun 1100 oleh Shinra Saburo Yoshimitsu.
Sedangkan Aliran Modern adalah yang didirikan oleh para ahli Jujutsu
setelah mereka menyebarkan seni beladiri ini keluar negeri Jepang. Aliran ini
timbul setelah runtuhnya kekuasaan Shogun di awal abad ke-19, pada saat seni
beladiri Jujutsu tidak lagi menjadi monopoli kaum bangsawan atau prajurit
Samurai dan sudah dapat diajarkan kepada rakyat jelata. Aliran modern ini
bersifat terbuka, boleh diikuti semua orang, kurikulumnya berkembang sesuai
kemajuan jaman dan adat istiadatnya tidak seketat aliran tua. Dari aliran modern
yang terkenal antara lain Gracie Jiujitsu dari Brazil yang didirikan pada tahun
Seichiro pada tahun 1935 di Hawai dan Kawaishi Ryu yang didirikan pada tahun 1931 oleh Kawaishi Mikonosuke di Eropa.
Selain dikenal seni beladiri yang efektif, Jujutsu juga yang dikenal sebagai
"induk" dari seni beladiri Jepang lainnya. Banyak ahli seni beladiri yang Jujutsu
secara mendalam, kemudian mengembangkannya menjadi alirannya sendiri.
Jigoro Kano mempelajari teknik kuncian dan pukulan dari Tenshin Shinyo Ryu
Jujutsu dan bantingan dari Kito Ryu Jujutsu sebelum mendirikan Judo di tahun 1882. Morihei Ueshiba sang pendiri Aikido sempat belajar Daito Ryu Aiki Jujutsu dibawah bimbingan Takeda Sokaku selama tahun 1919-1922. Sedangkan Otsuka
Hironori telah mengusai Shindo Yoshin Ryu Jujutsu sejak tahun 1922 sebelum mendirikan Wado Ryu Karate pada tahun 1931. Choi Yung Sul dari Korea belajar Daito Ryu Aiki Jujutsu dan kemudian mendirikan seni beladiri Hapkido pada tahun 1947.
Para guru besar seni beladiri di atas mengambil teknik teknik Jujutsu
dalam menyusun kurikulum seni beladirinya yang baru, sehingga teknik-teknik
yang digunakan dalam Jujutsu banyak juga ditemui dalam seni beladiri Judo,
Aikido, Hapkido, dan Karate. Walaupun demikian, aliran-aliran Jujutsu yang ada
sekarang, terutama yang didirikan setelah tahun 1882 sudah tentu tidak dapat
dianggap sebagai induk seni beladiri Judo, Aikido, Hapkido dan Karate. Bahkan
aliran-aliran Jujutsu yang bersifat modern ini terkadang mengambil kembali
jurus-jurus yang ada di dalam Judo, Aikido, Karate, dan juga seni dari beladiri negara
lain seperti Kungfu, Silat dan Sambo untuk dikembangkan sesuai dengan
Sejak Jujutsu menyebar ke seluruh dunia, ada beberapa organisasi
Internasional yang didirikan untuk mengatur perkembangan seni beladiri Jujutsu,
diantaranya American Judo and Jujitsu federation (AJJF) dengan tokoh seniornya
Lamar Fisher dan United States Sport Jujitsu Association dengan ketuanya Ernest
Boggs yang berkedudukan di Amerika, Kokusai Jujutsu Renmei yang
berkedudukan Di Jepang dengan ketuanya Soke Tanemura Shoto dan Federacao
De Jiu-Jitsu dengan ketuanya Robert Gracie yang berkedudukan di Brazil, World
Council of Jiu Jitsu Organization (WCJJO) yang berpusat di London Inggris.
Badan badan tersebut selain berwenang untuk mengatur perkembangan Jujutsu di
Negaranya masing masing juga berwenang untuk mengurusi cabang-cabang
Jujutsu yang ada di luar negara mereka. Untuk memenuhi kebutuhan para
Jujutsuka untuk bertanding dan berkompetisi, Di Amerika setiap tahun di adakan
A.A.U Jujitsu Freestyle Competition, kejuaraan amatir yang diselenggarakan oleh
pemerintah Amerika dan terbuka untuk diikuti oleh hampir semua aliran Jujutsu
dari seluruh Dunia.
Fenomena ini membuat penulis tertarik untuk mendalami lebih jauh tentang
seni beladiri Jujutsu sehingga penulis memilih judul sebagai skripsi penulis yaitu:
Jujutsu Dalam Sejarah Beladiri di Jepang.
1.2Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka penulis akan mencoba
untuk menguraikan tentang defenisi, sejarah dan perkembangan beladiri Jujutsu
Dengan demikian diharapkan dapat mengetahui dan menjawab
permasalahan yang akan dibahas dalam skripsi ini, yaitu:
1. Bagaimana sejarah lahirnya Jujutsu di Jepang?
2. Bagaimana perkembangan Jujutsu hingga kini?
3. Bagaimana eksistensi Jujutsu saat ini?
1.3Ruang Lingkup Pembahasan
Agar masalah penelitian ini tidak terlalu luas, maka masalah penelitian
dibatasi. Dalam penulisan skripsi ini penulis membatasi ruang lingkup
pembahasan yang difokuskan kepada:
- Mendefinisikan Beladiri dan mendeskripsikan beladiri yang berasal dari
Jepang.
- Mendeskripsikan pengertian, teknik, aliran-aliran dan perkembangan
Jujutsu.
- Mendeskripsikan eksistensi Jujutsu dalam bentuk organisasi-organisasi
pada dewasa ini.
1.4Tinjauan Pustaka dan Kerangka Teori
1.4.1 Tinjauan Pustaka
Seni Beladiri adalah perpaduan unsur seni, teknik membeladiri, olahraga,
serta olah batin (spiritual) yang didalamnya terdapat muatan seni budaya
masyarakat dimana seni beladiri itu lahir dan berkembang. Perkembangan seni
beladiri terus berlanjut seiring dengan berkembangnya seni budaya di masyarakat.
Seni beladiri mempunyai peranan dalam memberikan kontribusi perkembangan
Kebudayaan sangat erat hubungannya denga
terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh
masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism. Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu
generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic. Menurut
lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi
ciri khas suatu masyarakat. Menurut
keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan,
kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan kemampuan-kemampuan
lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat. Sedangkan menuru
dan cipta masyarakat (Wikipedia Indonesia).
Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai
kebudayaan yaitu sistem pengetahuan yang meliputi sistem ide atau gagasan yang
terdapat dalam pikiran manusia dan dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan
perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia
sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat
nyata, misalnya pola-pola perilaku,
religi,
Seni adalah ekspresi jiwa. Sebuah karya seni yang dilahirkan oleh seorang
seniman, merupakan hasil pemikiran yang diperkaya oleh pengalaman, yang
diwujudkan kedalam bentuk-bentuk tertentu sesuai dengan bidang seni yang
ditekuninya. Sedangkan secara luas, seni dapat dimaknai sebagai suatu keahlian
mengekspresikan ide-ide dan pemikiran mengenai estetika, termasuk imajinasi
serta kemampuan mewujudkan penciptaan karya seni berbentuk benda, suasana,
gerakan, atau karya yang mampu menimbulkan rasa indah (Haryo, 2005:9).
Seni beladiri maknanya mencakup semua konsep berupa keindahan gerak
(seni), olahraga (pembentukan fisik) dan olah batin (spiritual). Maka dengan
perpaduan dari ketiga unsur diatas, diramu oleh seorang seniman beladiri menjadi
sebuah karya.
Jujutsu adalah nama generik yang dikenakan kepada
bermacam-macam seni beladiri tangan kosong yang diciptakan oleh bangsa Jepang sebelum
tahun 1868 [selain sumo] (Haryo, 2006:3).
1.4.2 Kerangka Teori
Penelitian ini lebih mengarah pada penelitian kebudayaan. Kebudayaan
selalu bersifat sosial dan historik. Sosial karena tidak ada budaya perseorangan,
namun meliputi kelompok manusia (suku dan bangsa). Historik karena suatu
budaya pasti memiliki akar budaya.
Menurut Ratna (2004:66), pendekatan historis melihat konsekuensi karya
sastra sebagai sarana untuk memahami aspek-aspek kebudayaan yang lebih luas
dimana karya sastra adalah gambaran kehidupan masyarakat di zamannya. Dalam
negaranya saja melainkan sampai keseluruh dunia dan melahirkan aliran-aliran
baru.
1.5 Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.5.1 Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan :
1. Untuk mengetahui dan memahami sejarah Jujutsu sebagai seni beladiri
tradisional Jepang.
2. Sebagai media sosialisasi olahraga beladiri Jujutsu kepada masyarakat,
khususnya mahasiswa Sastra Jepang USU Medan.
3. Berusaha mengembangkan dan menjaga nilai-nilai sejarah, khususnya
beladiri Jepang.
1.5.2 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi penulis dan pembaca.
Adapun manfaat penulisan skripsi ini antara lain:
1. Bermanfaat bagi penulis dan juga pembaca yang ingin mempelajari
kebudayaan Jepang, karena bagaimanapun hasil cipta dan karya manusia
merupakan wujud dari kebudayaan.
2. Bermanfaat bagi pendidikan dan lembaga-lembaga yang mengajarkan
kebudayaan Jepang agar para pembelajar bahasa dan sastra kebudayaan
1.6 Metode Penelitian
Dalam penulisan skripsi ini, penulis menggunakan metode studi
kepustakaan (library research) dan metode deskriptif. Studi kepustakaan
merupakan suatu aktifitas yang sangat penting dalam kegiatan penelitian yang
ditujukan untuk mewujudkan jalan pemecahan masalah penelitian. Beberapa
aspek penting perlu dicari dan digali, meliputi: masalah, teori, konsep dan
penarikan kesimpulan dan saran (Nasution, 2001:14). Metode deskriptif berupa
penelitian dengan membuat deskripsi mengenai suatu bentuk keadaan atau
kejadian (Kontjaraningrat, 1985:29).
Dalam memecahkan permasalahan penelitian penulis mengumpulkan,
menyusun, mengklarifikasikan, mengkaji serta menginterpretasikan seluruh data
yang ada. Data yang digunakan adalah data tulisan. Data tulisan ini berhubungan
langsung dengan pokok permasalahan seperti buku-buku, artikel dan informasi
BAB II
TINJAUAN UMUM TENTANG SENI BELADIRI, BELADIRI DI JEPANG DAN JUJUTSU
2.1 Seni Beladiri
Seni beladiri adalah perpaduan unsur seni, teknik membeladiri, olahraga,
serta olahbatin (spiritual) yang didalamnya terdapat muatan seni budaya
masyarakat dimana seni beladiri itu lahir dan berkembang. Perkembangan seni
beladiri, terus berlanjut seiring dengan berkembangnya seni budaya di masyarakat.
Seni beladiri mempunyai peranan dalam memberikan kontribusi perkembangan
seni budaya masyarakat di suatu daerah (Haryo, 2005:V).
Pada dasarnya masyarakat mengenal seni beladiri sebagai suatu metode
yang dilatih oleh seseorang untuk membeladiri dari tindak kekerasan terhadap
dirinya. Seni beladiri juga dikenal sebagai salah satu cabang olahraga yang
dipertandingkan di berbagai pertandingan resmi pada berbagai turnamen. Selain
itu pula, ada kecenderungan yang selama ini dipahami oleh kebanyakan orang
bahwa belajar seni beladiri hanya untuk belajar berkelahi dan membuat orang
cenderung menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan setiap persoalan. Hal
demikian dapat dimengerti, karena maraknya tontonan dan bacaan yang
menggambarkan seni beladiri hanya dari aspek kekerasan saja dan sebagai suatu
unsur hiburan.
Ilmu beladiri merupakan suatu metode yang terstruktur, yang digunakan
Sebagai contoh yang sederhana, kalau kita berhadapan dengan cahaya
menyilaukan maka secara otomatis kita akan memalingkan wajah atau menutup
mata supaya mata kita terhindar dari cahaya tersebut. Inilah yang disebut refleks
atau naluri.
Pada saat manusia berkonfrontasi secara fisik dengan manusia lainnya,
maka pilihannya adalah melarikan diri, menyerah pada kehendak lawan, atau
melawan. Pilihan melawan akan menghasilkan sebuah perkelahian dimana
pihak-pihak yang berkelahi akan berusaha melukai atau menyakiti lawannya. Dari
perkelahian-perkelahian ini terciptalah teknik beladiri untuk menghindari
serangan lawan dan untuk menyerang atau menyakiti lawan.
Manusia menciptakan teknik beladiri tersebut tentunya dengan
pengamatan bahwa tubuh manusia ternyata rentan terhadap cedera. Dari
pengamatan bahwa manusia dapat mengalami cedera kalau jatuh dari tempat yang
tinggi maka terciptalah teknik bantingan. Manusia dapat mengalami cedera kalau
terkena benturan benda keras, terciptalah teknik untuk mencederai lawan melalui
teknik pukulan, tendangan dan hantaman lainnya. Sendi-sendi tulang manusia
dapat bergeser dari letaknya kalau diputar atau dipelintir kearah yang berlawanan,
maka terciptalah teknik kuncian dan mematahkan tulang. Kemudian setelah
memahami bahaya dari teknik-teknik tersebut, manusia belajar untuk
menghindarinya, maka lahirlah teknik menghindar, menangkis, melepaskan diri
dan sebagainya.
Setelah mengalami evolusi selama bertahun-tahun, teknik-teknik
menghindari serangan lawan dan menyerang lawan ini makin lama makin
kurikulum dan metode latihannya. Pada saat telah tercipta sebuah kurikulum yang
terdiri dari kumpulan teknik-teknik menghindari serangan lawan dan menyerang
lawan, dan ada metode latihan tertentu untuk mempelajari teknik tersebut, serta
dilengkapi dengan seni merangkai gerak dan keindahan gerak, kemudian ada
pemahaman mengenai kesadaran untuk menjaga kesehatan fisik dan mental,
memanfaatkan ilmu beladiri untuk pengobatan, dan adanya kaitan ilmu beladiri
dalam mendorong munculnya kesadaran spiritual, maka muncullah pemahaman
mengenai seni beladiri secara proposional, seperti yang disempurnakan oleh
seniman beladiri pada masa yang lalu.
Dalam perjalanan hidupnya, umat manusia dari berbagai bangsa tentunya
tidak lepas dari konflik/konfrontasi yaitu peperangan untuk mempertahankan diri
dari serangan lawan, memperebutkan wilayah untuk mencari atau
mempertahankan sumber mata pencaharian. Sehingga tidak heran kalau semua
bangsa pun mengembangkan mengembangkan seni beladirinya masing-masing.
Bangsa barat mengenal gulat Pankration yang dikembangkan oleh bangsa Yunani, Romawi dan Mesir, dan sudah ada sejak tahun 2000 SM. Sedangkan
dunia timur mengenal quanfa atau kungfu dari Shaolin yang lahir seiring dengan berkembangnya agama Buddha (600-400 SM).
Dari kedua sumber utama inilah lahir berbagai seni beladiri kuno,
misalnya gulat Greco-Roman dari Romawi/Yunani, savate dari Perancis. Boxing (tinju) dari Inggris, gulat Turki, gulat Mongol, gulat Dungal (Indo-Pakistani),
Kemudian setelah Perang Dunia II, seni beladiri kuno diadaptasi untuk
situasi modern, sehingga menghasilkan berbagai aliran seni beladiri seperti yang
kita kenal sekarang, seperti Judo, Karate, Aikido, Jeet Kuno Do, Jujutsu gaya
Brazil, hapkido, taekwondo dan lain-lain.
2.2 Seni Beladiri Jepang
Berikut penulis deskripsikan beberapa seni beladiri yang berasal dari
negara Jepang dan telah dikenal diseluruh dunia yang sebagian penulis kutip dari
Budo.
2.2.1 Judo
Judo ( ) adalah
Jujutsu yang merupakan seni bertahan dan menyerang menggunakan tangan
kosong, dikembangkan menjadi Judo oleh ) pad
Olahraga ini menjadi model dari seni bela diri Jepang,
dikembangkan dari aliran tua (koryu). Pemain judo disebut
merupakan sebuah cabang bela diri yang populer, bahkan telah menjadi cabang
olahraga resmi
2.2.2 Kendo
Kendo ( ) adalah
pedang. Kendo berasal dari kata "Ken" yang artinya "pedang", dan "Do" yang
artinya "jalan". Dalam pertandingan-pertandingan, tiap peserta memakai alat
melindungi lengan dan tangan. Senjata-senjata yang terbuat dari 4 bilah bambu,
kira-kira sepanjang 4 kaki, sebagai pengganti pedang sesungguhnya. Dalam
melakukan serangan, seseorang mengadakan bidikan kearah muka, badan atau
tangan dalam melakukan tusukan dan mencari sasaran ke batang tenggorokan
lawan. Apabila salah seorang dari peserta terkena di sesuatu tempat dari salah satu
bagian badan ini maka yang terkena itu dianggap telah dikalahkan.
2.2.3 Aikido
Aikido adalah salah satu dari seni beladiri Jepang tradisional
yang termuda. Aikido telah didirikan dalam tahun 1922 yang lalu oleh Morihei
Ueshiba yang telah menyatukan seluruh unsur-unsur penting dari seni beladiri dari
yang dijunjung tinggi selama ini kedalam kedisiplinan baru ini. Secara harfiyah
Aikido berarti “jalan pertemuan semangat” yang sehubungan dengan filosofinya
membayangkan “suatu pertemuan harmonis pikiran manusia dan alam”.
Walaupun Aikido didasarkan pada suatu gabungan dari Jujutsu kuno dan
teknik pedang Jepang, Aikido sendiri adalah suatu seni yang khas. Apa yang
membuatnya berbeda dengan yang lain adalah bahwa dalam Aikido, saat-saat
terjadinya persentuhan (hubungan) dengan pihak lawan merupakan saat tindakan
yang menentukan dan tidak terdapat gulatan dan dorong mendorong. Aikido juga
dibedakan oleh gerakan-gerakan yang tidak berbentuk garis-garis lurus dan
langsung, tetapi dalam hampir semua hal/keadaan, gerakannya membentuk
lingkaran yang lemah gemulai. Dalam Aikido para peserta tidak melakukan
pertandingan-pertandingan perorangan karena pendirinya, Ueshiba, percaya hal
adalah cinta” dan bahwa manusia harus belajar untuk hidup secara damai
bersama-sama tanpa kekerasan dan pergulatan.
2.2.4 Naginata
Perkelahian Naginata dengan pedang galah telah
diperaktekkan secara meluas dikalangan wanita di Jepang. Olahraga ini telah
muncul dalam abad ke 9 M, ketika pedang galah dipergunakan sebagai suatu
senjata untuk para serdadu pada saat itu. Akan tetapi dengan berlalunya jaman,
Naginata secara perlahan-lahan telah berkembang berkembang sebagai olah raga
seni pertahanan dan beladiri bagi wanita. Pada kenyataannya, mulai awal abad ke
17 dan seterusnya, putri dari para keluarga samurai biasanya punya pedang galah
sendiri, dengan pegangannya dipernis keemas-emasan, yang dibawa serta ketika
mereka kawin. Selama permulaan zaman tersebut, seolah-olah dengan berbagai
macam aliran bermunculan di Jepang, masing-masing menciptakan bentuk-bentuk
dan teknik-teknik khas.
Dalam pertandingan, tiap penantang mempergunakan sebuah pedang galah
yang panjangnya lebih kurang enam setengah kaki. Batang galah itu terbuat dari
kayu oak dengan pedang dibuat dari bambu.
Tiap penantang mencari sasaran ke kepala, batang leher, perut,
pergelangan tangan dan lutut. Apabila lawan terkena atau tertusuk disalah satu
bagian ini, maka dia dianggap terkalahkan.
Dalam tahun 1955 Federasi Naginata Seluruh Jepang telah dibentuk yang
telah menstandarisasikan bentuk-bentuk dan teknik-teknik dasar. Sejak saat itu,
main berlatih di sekolah-sekolah, akademi-akademi dan universitas-universitas
dan tiap tahun pertandingan kejuaraan nasional diselenggarakan di seluruh Jepang.
2.2.5 Sumo
Sumo ( ) adalah olahraga yang berasal dari
dipertandingkan sejak berabad-abad yang lalu. Di beberapa negara tetangga
Jepang seperti
mirip dengan sumo.
Sumo adalah olahraga saling dorong antara dua orang pegulat yang
berbadan gemuk sampai salah seorang didorong keluar dari lingkaran atau terjatuh
dengan bagian badan selain
lingkaran. Pegulat sumo (rikishi) perlu berbadan besar dan gemuk karena semakin tambun seorang pegulat sumo semakin besar pula kemungkinannya untuk menang.
Sumo memiliki berbagai upacara dan tradisi yang unik seperti menyebarkan
2.2.6 Karate
Karate ( ) adalah seni
karate dibawa masuk ke Jepang lewat
disebut "Tote” yang berarti seperti “Tangan China”. Waktu karate masuk ke
Jepang, nasionalisme Jepang pada saat itu sedang tinggi-tingginya, sehingga
Gichin Funakoshi (pendiri Karate) mengubah kanji Okinawa (Tote: Tangan
China) dalam kanji Jepang menjadi ‘karate’ (Tangan Kosong) agar lebih mudah
‘tangan'. Yang dua kanji bersama artinya “tangan kosong” ( ). Karate
mengunakan teknik-teknik tangkisan, penyerangan pada lawan, pukulan sentakan
serta tendangan. Akan tetapi Karate bukan hanya melatih secara fisik pada
jasmani kita, dalam hal Karate juga banyak mengandung nilai-nilai filosofis yang
positif yang banyak diterjemahkan dalam bentuk bahasa, tingkah laku maupun
gaya hidup setiap Karateka sejati.
2.2.7 Ninjutsu
Ninjutsu ) adalah seni beladiri dari para ninja di Jepang pada
jaman dulu. Jadi ninjutsu adalah seninya dan ninja adalah praktisinya. Ninja
adalah pasukan khusus yang bergerak secara sembunyi-sembunyi untuk
melaksanakan misinya. Misi-misi para ninja mencakup penyusupan (infiltration),
pengintaian (recon), pembunuhan (assasination), penculikan (kidnapping), dan
pencurian barang berharga. Ninjutsu tidak terbatas seni beladiri saja, namun ada
seni membunuh, seni menyusup, seni mengintai dan lain-lain. Tentu saja seni-seni
tersebut banyak yang dianggap sudah tidak relevan di jaman yang sudah maju,
sehingga Ninjutsu yang berkembang sekarang lebih difokuskan ke sisi bela
dirinya.
2.3 Filosofi dan Teknik Dalam Jujutsu
Jujutsu adalah salah satu beladiri Jepang yang tertua yang
kadang-kadang dilafalkan oleh orang non Jepang sebagai Jujitsu atau Jiujitsu.
istilah atau nama dari suatu perguruan beladiri atau aliran beladiri saja tetapi
Jujutsu adalah nama dari berbagai aliran beladiri tangan kosong yang sudah ada di
negara Jepang sejak tahun 1100, yaitu dipelopori oleh perguruan Daito-ryu Aiki
Jujutsu yang didirikan Shinra Saburo Minamoto
Yoshimitsu seorang bangsawan dari kaum Samurai. Jujutsu adalah istilah generik
atau istilah umum yang dipakai oleh beberapa perguruan sekaligus, sama dengan
istilah karate dan pencak silat. Sebagaimana karate yang terdiri atas
bermacam-macam perguruan (Wado-ryu, Shito-ryu, Goju-ryu, Shotokan, Kyokushin dan
sebagainya) dan pencak silat yang juga terdiri atas bermacam-macam perguruan
(Merpati Putih, Harimurti, Nusantara, Setia Hati, Tapak Suci, Perisai Sakti dan
sebagainya) maka jujutsu pun terdiri atas bermacam-macam perguruan seperti
Kito-ryu, Tenjin Shinyo-ryu, Daito-ryu, Yoshin-ryu, Hakko-ryu, Takenouchi-ryu,
sosuishi-ryu, Ryoishinto-ryu, Kokodo-ryu, Shindo Yoshin-ryu, Takagi Yoshin-ryu,
Araki-ryu dan lain-lain.
Jujutsu disebut sebagai seni yang “halus” atau “lentur” karena seorang
praktisi Jujutsu mempunyai “kebebasan”, baik untuk membunuh lawannya
dengan tangan kosong, atau hanya sekedar melumpuhkan dan menangkapnya.
Selain itu, Jujutsu disebut sebagai seni yang “halus” atau “lentur” karena
pendekatan seni Jujutsu yang lebih banyak memanfaatkan jurus menghindar dan
memanfaatkan tenaga lawan daripada jurus saling mengadu tenaga dengan lawan.
2.3.1 Filosofi
warna terhadap esensi murni yang menjadi dasar seni beladiri Jepang
khususnya Jujutsu. Menurut Arifin, ajaran pokok Zen bertujuan untuk mencapai
pencerahan jiwa lewat usaha sendiri secara tekun dan ia bisa diterima dengan
mudah oleh orang Jepang yang sebelumnya telah mengenal ajaran Shinto karena
Zen bisa mengakomodasi nilai-nilai budaya asli orang Jepang ke dalam penafsiran khusus ajaran Budha.
Menurut buku Jepang Dewasa Ini, ada sebelas periode utama dalam
sejarah budaya Jepang :
1. Periode Jomon (8000 SM – 300 SM)
2. Periode Yayoi (300 SM – 300 M)
3. Periode Yamato (300 – 593)
4. Periode Asuka (593 – 710)
5. Periode Nara (710 – 794)
6. Periode Heian (794 – 1192)
7. Periode Kamakura (1192 – 1338)
8. Periode Muromachi (1338 – 1573)
9. Periode Edo (1603 – 1868)
10.Periode Modern (1868 – sekarang)
Bentuk awal Shinto mungkin dimulai pada periode Jomon, sedangkan
kontak budaya dan perdagangan dengan Cina dan Korea dimulai luas termasuk
penggunaan aksara Kanji dan kemudian disusul masuknya agama Budha pada
periode Asuka. Sekte Chan dari agama Budha Mahayana untuk pertama kalinya
dibawa oleh pendeta Eisai (aliran rinzai) pada periode Heian bersamaan dengan
prajurit yang awalnya berasal dari kalangan petani. Sekte Chan gelombang kedua
dibawa oleh Dogen (aliran soto) dan kemudian bertransformasi (setelah
bersinkretisme dengan Shinto) menjadi apa yang disebut dengan Zen pada periode Kamakura.
Zen mencapai puncak perkembangannya pada periode Edo
dibawah pengaruh besar Takuan (pendeta yang juga ahli pedang ternama).
Menurut legenda, ia adalah guru dari Miyamoto Musashi, samurai terbesar Jepang
pada masa feodal Shogun. Takuan mendirikan kuil Tokaiji di Shinagawa, tempat
ia sering menerima para ahli dari banyak jenis ilmu beladiri yang ingin mencapai
kesempurnaan jiwa secara Zen. Sebelumnya semua jenis teknik pertempuran di
Jepang disebut Bugei, yang hanya berisikan konsep disiplin fisik tanpa etika moral apapun . Dari sinilah ia lalu menulis dua buah buku yang berjudul “Hontai” dan
“Seiko” yang keduanya berisi tuntunan nilai filosofis tingkat tinggi yang
dikemudian hari dipakai sebagai semacam kitab induk semua perguruan Budo
(seni beladiri yang mendasarkan ajarannya pada disiplin jiwa, moral, maupun
fisik). Kedisiplinan, rasa hormat pada orang lain, sifat pantang menyerah adalah
beberapa dari filosofi Zen yang kelak menjadi semacam pedoman tidak tertulis
yang membentuk keunikan karakteristik sosial masyarakat Jepang di semua
bidang kehidupan sampai saat ini. Hal ini sangat didukung oleh langkah politik
keshogunan Tokugawa yang menerapkan politik isolasi total mulai tahun 1639
sampai 265 tahun berikutnya. Saat itu mereka benar-benar menutup seluruh pintu
utama pelabuhan laut Jepang bagi dunia luar yang hal ini dilakukan untuk
pengenalan senjata api dan penyebaran agama Kristen, dua potensi asing yang
dianggap sangat berbahaya bagi kelestarian struktur sosial budaya asli ala
Shintoisme yang selama ribuan tahun dianut bangsa Jepang.
Berikut adalah beberapa prinsip utama dari sekian banyak kode etik Zen
yang diajarkan Takuan:
a. Zen selalu menekankan pada pengetahuan atas Satori (intuisi) dan
menolak dengan tegas kepatuhan akan seluruh aspek ritual keagamaan Budha
asli India seperti patung, gambar, upacara dan lain-lain. Ajaran utama Zen
menyatakan bahwa manusia terpisah dari semua benda tetapi pada saat yang
bersamaan ada pada segala realitas. Dalam Go Rin No Sho, Musashi
menjelaskan esensi Zen dalam pemahamannya sebagai seorang samurai:
“Anda boleh saja menghormati Budha, namun Anda tidak boleh tergantung
padanya.”
b. Mutekatsu adalah ajaran awal Takuan yang berbunyi:
“Memukul adalah tidak memukul, sebagaimana membunuh adalah tidak untuk
membunuh”, yang mungkin bisa dijelaskan sebagai prinsip yang menuntun
seseorang untuk menaklukkan musuhnya dengan cara menghindari sejauh
mungkin sebuah pertarungan atau pertarungan tanpa tangan maupun senjata.
Mutekatsu sebenarnya berasal dari Muto, sebuah doktrin pertarungan spiritual “tanpa pedang” karya Yagyu Tajima dari periode Azuchi Momoyama.
c. Mushotoku adalah ajaran yang mengutamakan pelaksanaan
d. Fudoshin berarti keabadian dalam hati. Keadaan di mana pikiran
seorang petarung tidak dihantui oleh ketakutan akan bahaya atau serangan apa
pun. Oleh Musashi diibaratkan sebagai iwa ni mi atau tubuh seperti batu.
e. Hontai adalah keadaan sadar dan waspada penuh dengan pikiran dan
emosi yang tetap terkontrol baik dari seseorang dalam sebuah pertarungan.
f. Hyoho adalah metode strategi bertarung yang ditulis oleh Musashi
yang menekankan pada kondisi yang ia sebut sebagai “menikmati sebuah
pertarungan”. Bertujuan agar kesempurnaan kepercayaan diri bisa dicapai
dengan menemukan hubungan antara pikiran dengan kemampuan bertempur.
g. Musha-Shugyo adalah prinsip yang bermaksud “pemahaman
sempurna akan sesuatu dicapai lewat banyak pengalaman”, dilaksanakan
dalam bentuk menimba ilmu ke banyak guru yang berbeda-beda. Di masa
lampau untuk mengatasi seorang yang belajar ilmu beladiri (Budoka) yang
kerap melakukan musha-shugyo (agar tidak mengungguli teknik sebuah ryu
tempat ia belajar), maka ryu tersebut akan membuat Densho (dokumen
rahasia) yang berisikan Gokuhi (teknik-teknik simpanan khusus tertinggi) yang tidak akan diberikan pada orang yang tidak diyakini kesetiaannya pada
ryu yang bersangkutan.
h. Mizu-Nagare adalah prinsip yang berarti “mengalir bagai air”,
sering diterjemahkan sebagai posisi tubuh yang ideal bak air yang mengalir
lancar melewati tubuh untuk dapat menghasilkan kesempurnaan dari gerakan.
i. Zanshin adalah prinsip kewaspadaan akan segala hal yang akan
j. No aru taka wa tsume o kakusu ( )adalah prinsip yang
berarti “rajawali tidak pernah menunjukkan cakarnya”, lebih mengacu pada
konteks kerendahan hati yang akan membawa kepada kemenangan.
Dianalogikan bahwa orang yang cerdas tidak akan pernah menyebut dirinya
cerdas pada orang lain.
k. Do yang berarti jalan merupakan konsep moral, etika dan sekaligus
estetika yang menuntun pengikutnya pada keharmonian spiritual dan material.
Dalam hubungan dengan beladiri ia digunakan sebagai kode disiplin wajib
yang membedakan Budo dengan Jutsu.
l. Ai yang berarti cinta atau kasih merupakan konsep dasar dari seluruh
jenis Budo di Jepang, dan menurut Zen ia dipakai sebagai pengenalan dasar oleh manusia dalam mengatur alam semesta agar menjadi kekuatan untuk
menjaga keharmonisannya.
m. Gi shin fuki berarti teknik dan pikiran tidak dapat dipisahkan.
n. Do mu kyoku berari tidak ada pembatasan bagi kehidupan, lebih dimaksudkan sebagai pantang menyerah pada situasi dan kondisi apa pun.
o. Myo wa kyo-jitsu no kan ni ari berarti esensi murni sebuah teknik terletak diantara serangan dan pertahanan.
p. Bushi no nasake berarti manusia paling kuat dan berani
haruslah juga menjadi manusia yang paling sopan.
q. Bushido yang berarti “jalan atau pedoman kesatriaan” memiliki
tempat tertinggi dalam tradisi Budo (seni beladiri) kuno. Seorang Budoka baru
2.3.2 Teknik-Teknik Jujutsu
Teknik-teknik Jujutsu pada garis besarnya terdiri atas atemi waza
(menyerang bagian yang lemah dari tubuh lawan), kansetsu waza/gyakudori
(mengunci persendian lawan) dan nage waza (menjatuhkan lawan). Setiap aliran
Jujutsu memiliki caranya sendiri untuk melakukan teknik-teknik tersebut diatas.
Teknik-teknik tersebut lahir dari metode pembelaan diri kaum Samurai (prajurit
perang jaman dahulu) di saat mereka kehilangan pedangnya, atau tidak ingin
menggunakan pedangnya (misalnya karena tidak ingin melukai atau membunuh
lawan).
Jujutsu tidak sama dengan beladiri karate atau beladiri aliran keras lainnya.
Jujutsu adalah beladiri aliran halus dan tidak pernah melawan tenaga lawan.
Pukulan dari lawan tidak ditangkis dengan keras melainkan selalu dihindari baik
kearah luar maupun kearah dalam. Posisi tangan selalu berusaha menepis
serangan, bukan memblok atau menangkis dengan keras. Karena seorang
jujutsuka (praktisi jujutsu) justru berusaha membuat agar lawan membuka pertahanannya sendiri saat dia menyerang. Jadi, seorang jujutsuka harus bersifat
pasif tetapi cerdik dalam arti mampu memancing lawan agar menyerang terlebih
dahulu supaya titik kelemahannya dapat terbuka dan bisa diserang. Oleh karena
itu para jujutsuka harus selalu mengingat bahwa intisari jujutsu adalah tai sabaki (menghindar) dan atemi (pengetahuan akan cara menyerang kelemahan lawan).
Didalam Jujutsu, teknik tendangan dan pukulan tidak sama dengan karate.
Tendangan tidak digunakan untuk menyerang duluan, tetapi untuk menghentikan
sasaran rendah lainnya karena tendangan tinggi akan mengganggu keseimbangan
jujutsuka sendiri. Serangan siku (hiji ate) sering digunakan dalam jujutsu namun jarang menjadi serangan yang bersifat sendiri, melainkan selalu dikombinasikan
dengan hindaran dan tepisan. Sasaran yang lazim dari serangan siku adalah ulu
hati, rusuk, dagu dan tengkuk lawan. Dalam melakukan serangan siku, posisi
kuda-kuda (kamae) harus benar karena kalau tidak benar akan mengganggu
BAB III
JUJUTSU DALAM SEJARAH BELADIRI DI JEPANG
3.1 Sejarah Awal Jujutsu
‘Webster’s dictionary’ mendefinisikan jujutsu sebagai “an art of
weaponless fighting employing holds, throws and paralyzing blows to subdue or
disable an opponent” yang berarti sebuah seni pertarungan tanpa senjata yang
menggunakan pegangan, lemparan dan pukulan yang melumpuhkan untuk
menahan atau menundukkan lawan. Defenisi ini tidak salah tetapi kurang
sempurna. Untuk memahami jujutsu penting untuk melihat asal dan prinsip
fundamental yang mendasari sistem beladiri yang luas ini.
Asal-usul jujutsu sebagian besar hilang dalam masa prasejarah Jepang.
Bahkan sebelum samurai ada, jujutsu telah dikembangkan dan digunakan dalam
bertarung. Tercatat didalam Nihon Shoki (buku sejarah kuno Jepang)
menyebutkan bahwa ada perkelahian yang terjadi pada tahun 230 SM.
Pertarungan ini terjadi antara Takemi-kazuchi-nokami dan
Takemi-nakata-no-kami, dimana Takemi-kazuchi-no-kami memegang sendi lengan lawannya dan
melemparkannya ke tanah dan Takemi-kazuchi-no-kami pun menjadi penguasa
atas kemenangannya. Satu pertarungan berdarah yang lain adalah pertarungan
antara Nomino-sukune dan Taimano-kehaya. Nomino-sukune memukul dada
lawannya dengan tangan, melemparkannya ke tanah dan mencekiknya hingga
mati. Cerita pertarungan ini adalah rekaman awal dari Jujutsu.
Konjaku-nama seperti kumiuchi, kogusoku, taijutsu, wajutsu, torite, koshinomawari, hobaku dan lain-lain. Karena prajurit-prajurit didalam catatan ini memakai baju baja, teknik-teknik yang terkandung sebagian besar menjatuhkan dan melukai
lawan.
Seorang samurai dalam setiap pertarungan biasanya selalu menggunakan
senjata. Ini mengundang pertanyaan mengapa sekumpulan prajurit yang selalu
dipersenjatai mau mencurahkan waktu dan tenaganya dan berusaha dengan
sungguh-sungguh untuk mengembangkan sebuah sistem yaitu pertarungan tangan
kosong. Oleh karena itu, jujutsu pada dasarnya didesain sebagai skill pelengkap
yang digunakan secara bersamaan dengan seni senjata.
Jujutsu adalah istilah generik atau istilah umum yang dipakai oleh
beberapa perguruan sekaligus, sama dengan istilah karate dan pencak silat.
Sebagaimana karate yang terdiri atas bermacam-macam perguruan (Wado-ryu,
Shito-ryu, Goju-ryu, Shotokan, Kyokushin dan sebagainya) dan pencak silat yang
juga terdiri atas bermacam-macam perguruan (Merpati Putih, Harimurti,
Nusantara, Setia Hati, Tapak Suci, Perisai Sakti dan sebagainya). Jujutsu dalam
penyebutan dan ejaannya juga disebut “jiujitsu” dan “jujitsu”. Sebelum
pertengahan awal abad 20 penggunaan ejaan ‘jiujitsu’ dan ‘jujitsu’ lebih dipilih
dan disukai meskipun kata ‘jitsu’, huruf kanji yang kedua, tidak sesuai
penggunaannya dalam bahasa Jepang. Semenjak seni beladiri Jepang pertama kali
dikenal luas di negara Barat, penggunaan dua ejaaan ini masih digunakan sampai
pada masa sekarang. ‘Jujitsu’ masih menjadi ejaan standar di Perancis, Kanada
dan Amerika Serikat, dan jujutsu dikenal dengan ejaan ‘jiujitsu’ di negara Jerman
Secara garis besarnya jujutsu terbagi dalam dua aliran yaitu aliran tua
(koryu) dan aliran modern (Gendai Budo). Yang dimaksud aliran tua adalah aliran
yang timbul sebelum tahun 1882 dan berpusat di negara Jepang. Pengajaran aliran
ini sangat tertutup/rahasia, tidak sembarang orang boleh menjadi anggota dan
kurikulumnya bersifat baku dan tidak berubah selama ratusan tahun. Hal ini
disebabkan oleh sifat jujutsu yang pada awalnya hanya boleh dipelajari oleh
golongan bangsawan dan prajurit samurai saja. Sedangkan aliran modern adalah
yang didirikan oleh para ahli jujutsu setelah mereka menyebarluaskan seni
beladiri ini ke luar negeri Jepang. Aliran ini timbul setelah runtuhnya kekuasaan
Shogun di awal abad ke 19 pada saat seni beladiri jujutsu tidak lagi menjadi
monopoli kaum bangsawan atau prajurit samurai dan sudah diajarkan kepada
rakyat jelata. Aliran modern ini bersifat terbuka, boleh diikuti oleh semua orang
dan kurikulumnya berkembang sesuai kemajuan jaman dan adat istiadatnya tidak
seketat aliran tua.
Aliran-aliran tua ini merupakan sejarah awal dari jujutsu. Yang tergolong
kedalam aliran tua atau ‘koryu’ antara lain adalah Daitoryu Aikijujutsu,
Takenouchiryu Jujutsu, Yoshin-ryu Jujutsu Kenpo, Kitoryu Jujutsu dan
aliran-aliran jujutsu yang bersumber pada ‘Amatsu Tatara’.
3.1.1 Daito-ryu Aikijujutsu
Daito-ryu Aikijujutsu diciptakan pada tahun 1100
oleh Shinra Saburo Minamoto Yoshimitsu, seorang bangsawan dari kaum
Samurai. Sebagai seorang prajurit, beliau sering mengamati orang-orang yang
lemparan dan menyerang titik vital. Beliau juga menemukan prinsip circular movement atau gerakan melingkar setelah melihat aksi seekor laba-laba dalam menjaring mangsa yang lebih besar. Hasil-hasil studi beliau inilah yang mendasari
lahirnya seni beladiri Daito-ryu Aikijujutsu, sesuai dengan nama istana beliau (istana Daito). Daito-ryu Aikijujutsu ini sampai sekarang dikenal sebagai cikal bakal seni beladiri aikido, karena sang pendiri aikido, Morihei Ueshiba adalah
seorang ahli Daito-ryu Aikijujutu sebelum memisahkan diri dari Daitoryu dan mendirikan Aikido.
3.1.2 Takenouchi-ryu Jujutsu
Berdasarkan cerita legenda, Takenouchi-ryu diciptakan oleh
pangeran Takenouchi Nakatsukasadaiyū Hisamori, seorang bangsawan yang
tinggal di wilayah Okayama, pada tahun 1532 di jaman Muromachi. Konon, pada
tahun 1532 sang bangsawan ini bermimpi berjumpa dengan Dewa, kemudian oleh
Dewa diajari 5.000 teknik bertarung dan menangkap orang. Dari wangsit dewa
inilah kemudian Pangeran Hisamori Takenouchi menciptakan seni beladirinya
yang dinamakan Takenouchiryu Jujutsu, sesuai dengan nama beliau. Aliran ini diakui sebagai salah satu yang terhebat pada masa itu, sampai-sampai pada tahun
1663, Hisayoshi Takenouchi, keturunan ketiga dari Hisamori Takenouchi,
3.1.3 Yoshin-ryu Jujutsu
Yoshin-ryu Jujutsu diciptakan oleh seorang dokter
bernama Akiyama Shirōbei Yoshitoki di
Pada tahun 1590, Akiyama pergi ke negeri China untuk mempelajari seni
pengobatan Akupunktur. Sesampainya disana, beliau selain mempelajari
pengobatan juga mempelajari beladiri kungfu (oleh lidah orang Jepang dilafalkan
sebagai “kenpo”). Setelah kembali ke Jepang pada tahun 1610, beliau bertapa di
kuil Tenmangu untuk mencari wangsit dari Dewa, demi mengembangkan seni
pengobatan dan seni beladiri yang telah dipelajarinya, beliau bertapa dengan rajin,
mulai dari musim panas sampai musim salju.
Dalam pertapaannya, beliau melihat bahwa pohon cemara yang
kelihatannya kuat dan kokoh ternyata dahan-dahannya patah setelah ditimpa oleh
badai salju. Sebaliknya, pohon willow (pohon yanagi) yang dahannya lebih lunak
justru bertahan dari timpaan salju dan terpaan angin. Akhirnya beliau memperoleh
pencerahan bahwa seni beladiri yang baik bukanlah mengadu kekuatan lawan
kekuatan, melainkan justru menghadapi kekuatan dengan kelenturan.
Dengan menggabungkan antara prinsip kungfu dengan prinsip kelenturan,
beliau menciptakan beladiri Yoshin-ryu Jujutsu. Yoshinryu artinya aliran jiwa
pohon Yo, jujutsu artinya seni kelenturan, sedangkan kenpo adalah cara orang
Jepang untuk menyebut beladiri kungfu China. Aliran ini dikenal sebagai Shindo
Yoshin-ryu Jujusu; Shindo artinya jalan para dewa atau sesuai ajaran dewa.
Seni beladiri Shindo Yoshinryu Jujutsu ini kemudian dikenal sebagai cikal
karate dari Okinawa, sehingga lahirlah aliran wadoryu sebagai hasil dari
perkawinan ini.
3.1.4 Kito-ryu Jujutsu
Pada tahun 1644 sampai 1648, seorang ahli kungfu dari China bernama
Chen Yuang Ping tinggal di Jepang, tepatnya di kuil Kokuseiji yang terletak di
Edo (sekarang Tokyo). Beliau selama tinggal di Jepang lebih dikenal sebagai ahli
kesenian keramik. Akan tetapi, beliau juga bersahabat dengan tiga orang samurai
bernama Miura, Fukuno dan Isogai. Karena persahabatan yang akrab ini, Mr.
Chen mau mengajarkan seni beladiri kungfu dan filsafat Taoisme (Yin danYang) yang dikuasainya kepada ketiga samurai tersebut. Oleh Miura dan kawan-kawan,
seni kungfu ini diramu menjadi sebuah aliran seni beladiri tangan kosong yang
disebut Kito-ryu Jujutsu . Kito artinya ‘naik dan turun’, sesuai
dengan pepatah China yang berbunyi “segala sesuatu yang naik, pasti akan turun”.
Kitoryu banyak menggunakan teknik membanting dan sampai sekarang dikenal sebagai cikal bakal dari beladiri judo.
3.1.5 Beladiri yang Bersumber pada Amatsu Tatara
Amatsu Tatara adalah nama dari sebuah buku suci yang
berisi kompilasi berbagai ilmu pengetahuan, termasuk ilmu beladiri. Konon, buku
ini adalah hasil pengolahan dari pengetahuan agama Shinto, Budha, seni
berperang dari berbagai bangsa yang pernah singgah di Jepang (kabarnya
termasuk bangsa melayu), dan juga dari bangsa Jepang sendiri. Buku ini telah ada
di tangan keluarga kuki (salah satu keluarga bangsawan Jepang) sejak abad ke-12,
tradisional di Jepang adalah hasil pengembangan dari pengetahuan yang terdapat
di dalam buku tersebut.
Seni beladiri yang bersumber dari ajaran Amatsu Tatara antara lain: Kuki Shin-ryu (seni beladiri keluarga Kuki), Kijin Chosui-ryu dan Shinden Fudo-ryu. Kuki Shin-ryu spesialisasinya adalah bertempur di medan perang dengan berbagai senjata, sedangkan Chosui-ryu dan Shinden Fudo-ryu lebih ke tangan kosong. Juga dikenal Hontai Takagi Yoshin-ryu Jujutsu, yaitu suatu aliran Yoshin-ryu andalan keluarga Takagi yang bersahabat dengan keluarga Kuki. Seni Jujutsu dari
aliran Yoshin-ryu diadopsi oleh Kuki Shin-ryu, sebaliknya seni tongkat Kukishin-ryu diadopsi oleh Yoshin-ryu. Aliran Yoshin-ryu gunanya untuk bertempur di dalam istana. Kemudian juga dikenal Gyokko-ryu dan koto-ryu (keduanya seni jujutsu yang juga dikuasai para Ninja, gunanya untuk beladiri praktis saat sedang
dalam perjalanan) dan Togakure-ryu (seni para Ninja, spesialisasinya pada
berbagai macam senjata rahasia, teknik melarikan diri dari sergapan lawan dan
teknik menelusup ke istana musuh.
Aliran-aliran jujutsu yang disebutkan diatas adalah beberapa yang sangat
dikenal hingga sekarang, namun merupakan sedikit dari aliran-aliran jujutsu kuno
yang tidak dapat penulis jabarkan satu persatu karena jumlahnya yang banyak.
3.2 Perkembangan Jujutsu
Pada masa sebelum Tokugawa, samurai dibutuhkan untuk bisa ahli dalam
kemampuan bertempur. Kemampuan dalam seni beladiri Kyujutsu, kenjutsu,
bajutsu, sojutsu dan kumi uchi (jujutsu) adalah diantaranya. Beladiri ini adalah
keluarga yang dipelajari oleh para pelayan dan anggota keluarganya disebut
dengan ryu atau satu aliran tersendiri.
Ryu biasanya diterjemahkan sebagai aliran dan biasanya banyak
perbedaan yang diajarkan diantara suatu ryu. Dalam usaha mempersiapkan
anggota keluarga mereka untuk cukup siap bertarung, pengajar ryu mengajarkan
jujutsu dalam kesatuan bugei yang luas
Taijutsu, wajutsu, torite dan yawara adalah beberapa sebutan lain dari jujutsu. Tanpa memandang nama yang digunakan, prinsip yang mendasari
menjadikan jujutsu sebagai pelajaran kedua dan satu bagian dari keseluruhan yang
bukan terpisah sendiri. Tidak sampai masa edo (1603-1868) jujutsu menjadi
istilah umum yang digunakan untuk menjelaskan teknik yang cakupannya luas ini.
Periode ini dianggap sebagai masa emas jujutsu, ketika ryu-ryu maju dan teknik-teknik mencapai level tertingginya. Bersamaan dengan datangnya keshogunan
Tokugawa dan penguasaannya terhadap Jepang di awal tahun 1600-an.
Pertarungan di medan perang menjadi satu hal dari masa lalu. Beberapa ryu mulai
mencerminkan perubahan ini. Samurai mampu untuk berkonsentrasi dalam satu
aspek pertarungan dan mencoba menguasai seluruh aspek tersebut. Sebagaimana
perkelahian sampai mati tidak disetujui oleh pemerintah, teknik-teknik yang keras
mulai berkurang dan kemampuan untuk mengkontrol atau melumpuhkan lawan
menggunakan metode yang tidak mematikan menjadi bernilai dan dihormati.
Selama lebih dari 200 tahun kekuasaan Tokugawa, kedamaian menyeluruh
muncul di Jepang. Tokugawa menutup Jepang dari dunia luar dan dengan ketat
mengontrol dan mengatur sampai detail-detail yang kecil, masyarakat Jepang
oleh pemerintahan tokugawa dan menghukum berat bagi mereka-mereka yang
tidak mematuhi. Semenjak periode ini jujutsu mencapai zennya dan mendapat
pengaruh dari teknik beladiri china seperti kempo.
Bersamaan dengan munculnya keshogunan tokugawa dan penyatuan
jepang di awal tahun 1600-an. Peperangan menjadi terhenti dan peluang untuk
menguji senjata melawan senjata menjadi jarang. Pertarungan tanpa senjata lebih
umum dan jujutsu memasuki masa keemasannya. Teknik jujutsu mulai
mencerminkan perubahan ini dalam aplikasi dan beberapa pengajar membuka
pintu mereka kepada para pelajar dari kelas pedagang. Jujutsu pada awalnya
sebuah seni beladiri di medan pertempuran yang diajarkan sebagai sebuah skill
pelengkap bersamaan dengan penggunaan senjata, utamanya pedang. Sebagai
pedagang, atau orang-orang non samurai, dilarang untuk membawa pedang dan
senjata.
Pada tahun 1868, kaisar Meiji mengeluarkan dekrit yang pada intinya
adalah membubarkan kaum samurai. Hak-hak istimewa kaum samurai dicabut dan
mereka dilarang keras membawa pedangnya didepan umum. Kaum samurai tentu
saja tidak terima akan keputusan ini, dan pada tahun 1871. mereka mencoba untuk
memberontak di bawah pimpinan bangsawan Saigo. Akan tetapi, pemberontakan
ini dihancurkan oleh tentara kaisar yang memakai persenjataan modern dari Barat.
Maka punahlah kekuasaan kaum samurai yang sudah dipegang selama
berabad-abad.
Bersamaan dengan hilangnya kekuasaan kaum samurai, seni berperang
oleh bangsa barat. Kaisar Meiji mengadopsi teknologi militer barat dan tentara
kekaisaran Jepang dilatih dengan cara barat. Seni kesatria (Bujutsu), tentunya juga termasuk jujutsu, memudar dan menjadi ‘Seni yang Hilang’, hanya dipelajari oleh
kalangan tertentu, misalnya oleh keturunan-keturunan kaum samurai yang masih
berusaha melestarikan ajaran nenek moyangnya.
Jujutsu telah mencapai sebuah reputasi sebagai sebuah seni yang
menyalahi jaman, sesuatu yang tidak dipelajari oleh orang-orang yang berkualitas.
Jujutsu berhutang banyak dalam mempertahankannya pada Jigoro Kano lewat
kodokan judo nya. Sebagai seorang yang mempelajari jujutsu tradisional, kano menyadari bahwa jujutsu dalam bahaya dan akan dibuang oleh hasrat orang
Jepang yang kini merangkul semua hal yang modern dan dari barat. Dengan
mengambil dari aliran kito-ryu dan tenshin shinyo ryu, kano mengembangkan sebuah bentuk budo dari jujutsu pada tahun 1882 dan dengan menekankan prinsip
dari shieryoku zenyo (efisiensi maksimal dengan usaha yang minimal) kano dan murid-murid seniornya (diantara mereka banyak yang ahli dalam aliran jujutsu
yang lain) menciptakan seni beladiri yang paling terstruktur dengan baik yang
pernah ada. Sistem ranking yudansha/mudansha, sabuk berwarna. Gi dan ukemi
adalah pengembangan dan perbaikan oleh kodokan judo.
Jigoro Kano yang pada waktu itu menjabat sebagai opsir tinggi
kementrian pendidikan Jepang memutuskan untuk melakukan modernisasi dan
reformasi akan seni beladiri jujutsu. Kano banyak melakukan riset tentang
Kano sejak masa mudanya mendalami jujutsu aliran kito-ryu dan beberapa
aliran lainnya sampai mencapai taraf mahir dan dapat membuka Dojo. Untuk
memenuhi cita-citanya dalam menciptakan olahraga yang setaraf dengan
Wrestling, Kano mengumpulkan para ahli jujutsu dari berbagai aliran (antara lain
Tozuka Hidemi dari Yoshin-ryu, Saigo Shiro dari Daito-ryu, Aoyage Kihei dari Sosui Shitsu-ryu, Mataemon Tanabe dari Fusen-ryu, dan lain-lain), lalu meminta
mereka untuk menyumbangkan teknik-teknik yang mereka miliki. Kemudian
teknik-teknik tersebut dimodifikasi agar dapat dikembangkan menjadi cabang
olahraga yang setaraf dengan Wrestling dari barat. Maka lahirlah beladiri Kodokan Judo.
Dalam bentuk olahraganya (disebut Shiai Judo atau Sport Judo), Judo
adalah jenis olah raga gulat dengan memakai dogi (pakaian khas umumnya
beladiri Jepang yang berwarna putih). Teknik yang dipentaskan hanyalah yang
tidak terlalu berbahaya, seperti membanting, menindih, dan menjepit. Teknik
untuk memaksa lawan menyerah dibatasi, hanya boleh menekan sendi siku
(kansetsuwaza) dan menekan urat leher (shimewaza). Akan tetapi, Kano juga tetap
melestarikan beberapa teknik jujutsu kuno didalam bentuk kata, antara lain:
Kimenokata, Junokata, Kimeshiki, Koshikinokata, dan lain-lain. Menurut Kano, Judo adalah seni beladiri yang komplit karena teknik selain mengandung bentuk
pertandingan (Shiai atau Randori) juga mengandung teknik untuk pertarungan
sesungguhnya (Shinken Shobu) yang dipelajari dalam bentuk kata. Oleh karena itu, saat itu muncul istilah: “judo” dan “jujutsu” adalah sama, “judo” adalah berlatih
Kano juga memodernisasikan metode pengajaran jujutsu. Di masa lalu,
seorang murid yang mempelajari jujutsu tidak memperoleh “sabuk” atau
“sertifikat” tanda lulus ujian, melainkan memperoleh menkyo atau Lisensi dan densho atau gulungan naskah. Pada Lisensi tersebut biasanya tertulis jumlah teknik yang sudah dikuasai, deskripsi dan daftar dari teknik-teknik dalam
perguruan yang bersangkutan. Orang yang sudah menguasai seluruh teknik dalam
suatu perguruan akan mendapatkan Lisensi menkyokaiden yang artinya “sudah
menguasai semua pelajaran dari aliran”.
Akan tetapi, sistem pembelajaran seperti ini dianggap kurang efektif oleh
Kano karena tidak ada standar yang baku mengenai berapa lama masa pendidikan
yang diperlukan oleh seseorang untuk menamatkan suatu tingkat, dan berapa
tingkat yang ada di dalam sebuah perguruan. Oleh Kano, sistem ini dimodifikasi
dengan memperkenalkan sistem sabuk (Mudansha-Yudansha) sebagai pengganti
sistem lisensi dan densho. Seorang yang baru belajar judo disebut mudansha, yaitu dianggap belum mendapat tingkat “DAN”, dia harus melalui tingkatan kyu (ada beberapa tingkatan kyu, mulai dari kyu-8 sampai kyu-1), dan setelah itu baru mulai mendapat tingkat yudansha, yaitu tingkat dimana seseorang dianggap sudah mulai memahami judo. Tingkat yudansha dibagi menjadi DAN-1 (shodan), yaitu tingkatan seorang murid yang sudah dianggap mempelajari semua teknik dasar,
sampai tingkat DAN-10, dimana DAN-10 dianggap sebagai pencapaian tertinggi.
Sistem Kano ini dianggap lebih logis dan efektif di masa itu sehingga hampir
semua aliran beladiri lainnya seperti aikido, shotokan, goju-ryu, wado-ryu, kendo,
iaido, naginatado, dan daitoryu kemudian mengadopsi sistim sabuk
Sejak tahun 1882 sampai dengan wafatnya pada tahun 1936, Jigoro Kano
banyak merekrut para jujutsuka (praktisi jujutsu) terkemuka, mengajari mereka judo, dan mengutus mereka ke seluruh dunia untuk menyebarkan seni beladiri
jujutsu dan olah raga judo. Murid-murid Kano seperti Tani Yukio, Koizumi Gunji,
Maeda Mitsuyo, Okazaki Seichiro, dan lain-lain pergi ke seluruh pelosok dunia
untuk mengembangkan seni beladiri. Karena mereka semua sudah menjadi ahli
jujutsu sebelum belajar dari Kano, mereka juga tetap mengajarkan teknik jujutsu
kepada bangsa lain, bahkan sebagian dari mereka tetap menggunakan jujutsu
(pada masa itu dieja oleh orang barat sebagai “ju-jitsu” atau jiu-jitsu”), bukan
menggunakan nama judo. Sebagian dari sekolah-sekolah “ju-jitsu” atau jiu-jitsu”
yang sekarang masih lestari di negara-negara barat, seperti Miyamama-ryu,
Danzan-ryu dan lain-lain lahir pada masa ini.
Pada masa sebelum Perang Dunia II, transformasi dari “Bujutsu” menjadi
“Budo” telah mencapai tahap yang hampir final dan “modern budo” dilahirkan
dari bentuk-bentuk yang lama, dimana jujutsu melahirkan judo dan kenjutsu
melahirkan kendo, disusul oleh aikido (yang juga lahir dari jujutsu) dan karatedo
(lahir dari Okinawate atau Kempo dari Okinawa).
Sebelum pecahnya Perang Dunia II, banyak ahli judo dan jujutsu yang
berimigrasi ke negara-negara Barat, terutama pada tahun 1920-an. Mereka adalah
orang-orang yang sudah mengenal jujutsu, kemudian dididik judo oleh Kano di
Kodokan dan diperintahkan untuk menyebarkan judo ke luar negeri supaya judo
menjadi olahraga di Olimpiade (usaha ini terwujud pada tahun 1964). Mereka