Dampak investasi infrastruktur transportasi terhadap penyerapan tenaga kerja sektor ekonomi dan distribusi pendapatan masyarakat di Provinsi Jawa Barat

421  16 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

TERHADAP PENYERAPAN TENAGA KERJA SEKTOR

EKONOMI DAN DISTRIBUSI PENDAPATAN MASYARAKAT

DI PROVINSI JAWA BARAT

`

DISERTASI

Oleh:

IFAN HARYANTO

SEKOLAH PASCA SARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)

Saya menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa segala pernyataan dalam disertasi saya yang berjudul: “DAMPAK INVESTASI INFRASTRUKTUR TRANSPORTASI TERHADAP PENYERAPAN TENAGA KERJA SEKTOR EKONOMI DAN DISTRIBUSI PENDAPATAN MASYARAKAT DI PROVINSI JAWA BARAT” merupakan gagasan atau hasil penelitian disertasi saya sendiri dengan bimbingan Komisi Pembimbing, kecuali yang dengan jelas rujukannya. Disertasi ini belum pernah diajukan untuk memperoleh gelar pada program sejenis di perguruan tinggi lain.

Semua sumber data dan informasi yang digunakan telah dinyatakan secara jelas dan dapat diperiksa kebenarannya.

Bogor, Febuari 2012

(3)

IFAN HARYANTO. Impact of The Transportation Infrastructure Investment towards Economic Sector’s Labor Absorption and Household’s Income Distribution In West

Java Province (DEDI BUDIMAN HAKIM as a Committee Chairman, W.H.

LIMBONG, and MUHAMMAD FIRDAUS as committee members).

The existing condition of transportation infrastructure in West Java Province does not support effectively the economic performance of the region. The physical condition of West Java’s road infrastructure in the recent years is deteriorating. In the linkage analysis, the driving economic sectors in West Java are strongly connected with the transportation infrastructure’s condition. The leading sectors of backward and forward linkage in the West Java Province are industry, agriculture and trade. The path analysis indicates that every single policy related to road infrastructure’s improvement encourage the performance of leading sectors as well as influence the employment’s absorption and household’s income distribution. This is clearly proven by the research result that reveals the shock of transportation infrastructure’s improvement will provide a multiplier effect to the economic sectors and to the various types of household. Generally, based on findings, the improvement of transportation’s infrastructure in west java Province will boost the economic performance and increase the absorption of employment. Obviously, the investment in transportation infrastructure will also affect the distribution of household income in West Java.

(4)

RINGKASAN

IFAN HARYANTO. Dampak Investasi Infrastruktur Transportasi terhadap Penyerapan Tenaga Kerja Sektor Ekonomi dan Distribusi Pendapatan Masyarakat di Provinsi Jawa Barat. Dibimbing oleh: BUDIMAN HAKIM, DEDI, LIMBONG, W.H, FIRDAUS, MUHAMMAD.

Investasi infrastruktur transportasi dalam pembangunan ekonomi penting sebagai sarana untuk memperlancar mobilisasi barang dan jasa serta sebagai sarana untuk memperlancar hubungan antara wilayah terpencil dengan pusat pusat pertumbuhan. Kelancaran arus barang dan jasa serta keterbukaan wilayah-wilayah potensial dapat digunakan sebagai pendorong percepatan pertumbuhan ekonomi. Dengan infrastruktur transportasi yang baik, sumber daya manusia maupun kapital yang tersebar tersebut juga dapat dimanfaatkan dengan lebih baik. Efektifitas investasi infrastruktur transportasi untuk meningkatkan perekonomian dan memberikan manfaat bagi masyarakat tergantung kepada pemanfaatan sarana transportasi tersebut oleh produsen maupun konsumen serta sektor-sektor unggulan, sehingga mampu memberikan stimulus perekonomian seperti yang diharapkan.

Jawa Barat sebagai daerah ekonomi potensial memiliki berbagai keunggulan, diantaranya keunggulan letak geografis. Peningkatan infrastruktur transportasi diperkirakan akan menjadi stimulan bagi peningkatan investasi, baik investasi dalam negeri maupun luar negeri. Penyediaan infrastruktur transportasi yang baik seperti halnya jalan, jembatan, pelabuhan dan lainnya diyakini dapat memicu limpahan (spill-over) investasi dari wilayah sekitarnya ke wilayah Jawa Barat. Terkait dengan hal tersebut, pengembangan investasi infrastruktur transportasi harus didasari atas berbagai pertimbangan seperti halnya pertimbangan terhadap sektor ekonomi yang berkembang maupun pertimbangan kewilayahan. Pengembangan dengan mempertimbangkan sektor ekonomi misalkan dengan melihat kepada sektor-sektor unggulan yang berkembang di Jawa Barat. Sedangkan dimensi kewilayahan diperhatikan agar pengembangan infrastruktur transportasi dapat menjangkau wilayah atau daerah terpencil (desa) yang potensial secara ekonomi untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut, menyerap tenaga kerja serta memperbaiki pemerataan pendapatan. Secara garis besar, stimulus berupa investasi infrastruktur transportasi diharapkan menjadi pemicu peningkatan perekonomian daerah maupun nasional.

Analisis yang digunakan untuk menjawab tujuan penelitian ini menggunakan kerangka data SNSE Provinsi Jawa Barat tahun 2010 yang dibangun oleh penulis. Terdapat tiga pendekatan dalam melakukan analisis.

Pendekatan pertama adalah dengan nilai riil (nominal) yang diekstraksi dari tabel SNSE Jawa Barat tahun 2010, dimana digunakan untuk menganalisis struktur output, struktur pengeluaran rumah tangga dan sumber pendapatan rumah tangga dari berbagai golongan. Pendekatan kedua adalah melakukan analisis keterkaitan

antar sektor-sektor ekonomi. Pendekatan ketiga adalah analisis dekomposisi untuk melihat keterkaitan dengan lebih tajam seperti melakukan analisis effect multiplier

output bruto, nilai tambah serta kaitannya menjawab tujuan analisis yang berkaitan

(5)

Barat, baik yang disebabkan oleh injeksi faktor produksi, institusi serta sektor produksi berada pada kelompok rumah tangga golongan atas sektor bukan industri di desa maupun di kota. Di sisi lain, rumah tangga golongan bawah sektor industri di desa dan buruh tani menerima dampak terendah dikarenakan nilai pengganda global yang dimiliki merupakan yang terendah dibandingkan golongan rumah tangga lainnya.

Selanjutnya untuk mengetahui sektor produksi unggulan di propinsi Jawa Barat dapat dijelaskan melalui nilai pengganda global yang di terima oleh sektor-sektor produksi di provinsi Jawa Barat. Hasil pengolahan data menunjukkan bahwa nilai pengganda global terbesar yang diterima oleh sektor produksi di provinsi ini baik yang disebabkan oleh injeksi faktor produksi, institusi serta sektor produksi berada pada sektor produksi jasa perdagangan dan jasa perorangan, serta jasa lainnya. Sebaliknya,sektor kehutanan dan pertanian tanaman lainnya merupakan sektor-sektor yang menerima dampak terendah dikarenakan nilai pengganda global yang dimiliki merupakan yang terendah dibandingkan sektor produksi lainnya.

Berdasarkan analisis dekomposisi diperoleh hasil bahwa rumah tangga golongan atas sektor bukan industri di kota memperoleh pengaruh terbesar dibandingkan dengan golongan rumah tangga lainnya. Simulasi investasi infrastruktur transportasi sebesar Rp. 20.95 trilyun yang diinjeksikan pada perekonomian Jawa Barat menyebabkan peningkatan pendapatan sebesar 18.76% untuk rumah tangga golongan ini. Sebaliknya, rumah tangga golongan bawah sektor industri di desa memperoleh peningkatan pendapatan terendah. Sedangkan sektor produksi yang mendapatkan peningkatan terbesar akibat dari investasi ini adalah sektor industri kertas, percetakan, alat angkutan, industri barang dari logam dan industri lainnya. Sedangkan sektor kehutanan dan perburuan hanya memperoleh peningkatan sebesar 0.36% akibat investasi tersebut.

Sementara itu, berdasarkan analisis jalur terlihat bahwa rumah tangga golongan atas sektor bukan industri di kota memiliki nilai pengganda global terbesar. Bila ditelaah lebih lanjut, rumah tangga golongan atas tersebut mendapatkan pengaruh terbesar dikarenakan kepemilikan atas faktor produksi bukan tenaga kerja atau kapital. Sedangkan golongan rumah tangga bawah sektor industri di desa mendapatkan pengaruh terkecil, dimana pengaruh tersebut diperoleh karena kepemilikan faktor produksi tenaga kerja sebagai buruh, manual dan operator alat angkutan di desa. Temuan ini sejalan dengan teori yang dikembangkan oleh Harrod-Domar yang menyatakan bahwa pemilik faktor produksi, yang umumnya adalah rumah tangga golongan atas akan memperoleh lebih banyak keuntungan dari sistem perekonomian yang berjalan.

(6)
(7)

@Hak Cipta Milik IPB, tahun 2012. Hak Cipta dilindungi Undang-undang.

1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumber.

a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah.

b. Pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB.

(8)

DAMPAK INVESTASI INFRASTRUKTUR

TRANSPORTASI TERHADAP PENYERAPAN

TENAGA KERJA SEKTOR EKONOMI DAN

DISTRIBUSI PENDAPATAN MASYARAKAT

DI PROVINSI JAWA BARAT

IFAN HARYANTO

Disertasi

Sebagai Salahsatu Syarat untuk memperoleh gelar

Doktor

Pada

Program Studi Ilmu Ekonomi Pertanian

Institut Pertanian Bogor

SEKOLAH PASCA SARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(9)

Penguji Luar Komisi pada Ujian Tertutup:

1. Dr. Ir. Heny K. Daryanto, M,Ec

Staf Pengajar Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor

2. Dr. Ir. M. Parulian Hutagaol, MS

Staf Pengajar Departemen Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor

Penguji Luar Komisi pada Ujian Terbuka:

1. Dr. Ardi Adji

Fungsional Peneliti, Sekretariat Tim Nasional Percepatan Penanggulangan kemiskinan (TNP2K), Sekretariat Wakil Presiden RI

2. Dr. Ir. Arief Daryanto, M.Ec

(10)

Judul Disertasi

:

Dampak

Investasi

Infrastruktur

Transportasi

Terhadap Penyerapan Tenaga Kerja Sektor Ekonomi

dan Distribusi Pendapatan Masyarakat di Provinsi

Jawa Barat

Nama

:

Ifan Haryanto

Nomor Pokok

:

H361064144

Program Studi

:

Ilmu Ekonomi Pertanian

Menyetujui:

1. Komisi Pembimbing

Dr. Ir. Dedi Budiman Hakim, M.Ec

Ketua

Prof. Dr. Ir. W.H. Limbong, MS Muhammad Firdaus, MSi.,Ph.D

Anggota

Anggota

Mengetahui:

2. Ketua Program Studi

3. Dekan Sekolah Pascasarjana

Ilmu Ekonomi Pertanian,

(11)

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayahnya-Nya kepada penulis untuk dapat menyelesaikan disertasi dengan judul: Dampak Investasi Infrastruktur Transportasi Terhadap Penyerapan Tenaga Kerja Sektor Ekonomi dan Distribusi Pendapatan Masyarakat di Provinsi Jawa Barat. Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) mengkaji kondisi infrastruktur dan karakteristik perekonomian Jawa Barat seperti halnya struktur ekonomi sektoral, struktur pendapatan faktorial serta struktur pendapatan dan pengeluaran rumahtangga, (2) mengkaji pengaruh dan keterkaitan investasi infrastruktur transportasi terhadap penciptaan pendapatan sektoral, faktorial serta pendapatan institusi, (3) mengkaji mekanisme transmisi investasi infrastruktur transportasi dapat berpengaruh terhadap pendapatan rumah tangga melalui sektor produksi dan faktor produksi, (4) merumuskan dampak pengembangan infrastruktur transportasi terhadap penyerapan tenaga kerja, pendapatan serta distribusi pendapatan di Jawa Barat.

Pada kesempatan ini penulis secara tulus mengucapkan terima kasih dan penghormatan setinggi-tingginya kepada:

1. Bapak Dr. Ir. Dedi Budiman Hakim, M.Ec selaku Ketua Komisi Pembimbing; Bapak Prof. Dr. Ir. W.H. Limbong, MS dan Bapak Muhammad Firdaus, MSi., Ph.D masing-masing sebagai Anggota Komisi Pembimbing, yang telah banyak meluangkan waktunya untuk membimbing penulis sejak penyusunan proposal penelitian hingga penyelesaian disertasi ini.

(12)

moril dan semangat kepada penulis untuk menyelesaikan studi.

4. Sekretariat Program Ilmu Ekonomi Pertanian, khususnya Mba Ruby, Mba Yani, Pak Iwan, Bu kokom dan Pak Husen yang telah membantu penulis dalam kelancaran penyelesaian administrasi selama Penulis mengikuti studi.

5. Istri tercinta, Melany P Lestari dan anak-anak, Aikon, Alyssa dan Aurheva yang telah ikut memberi motivasi dan pengorbanan waktu selama kurang lebih 5 tahun.

6. Pak Margo Yuwono, Pak Setianto, Pak Windi, Pak Wisnu dan rekan-rekan di BPS yang telah memberikan segala dukungannya, sehingga penulis mampu menyelesaikan penelitian ini.

Penulis menyadari bahwa dengan segala keterbatasan yang dimiliki penulis, penelitian ini jauh dari sempurna. Walaupun demikian, penulis berharap semoga hasil penelitian ini bermanfaat bagi pihak yang memerlukannya.

Bogor, Febuari 2012

(13)

Penulis lahir di Banyumas, Jawa Tengah pada tanggal 4 Januari 1975, sebagai putra kedelapan dari sepuluh bersaudara putera-puteri keluarga Bapak Hofoer Adiatmodjo, BSc dan Ibu Siti Musringah. Penulis menikah dengan Melany P Lestari Amd,SIP, dan dikaruniai tiga orang anak yaitu : Aikon, Alyssa dan Aurheva

Setelah menamatkan pendidikan menengah di SMAN 2 Purwokerto pada tahun 1993 penulis melanjutkan studi pada Jurusan Teknik Planologi, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Institut Teknologi Bandung (ITB) dan lulus pada tahun 1999. Selanjutnya penulis mendapatkan beasiswa Foreign Commonwealth

Office (FCO) dari British Council untuk melanjutkan studi pada Jurusan Economic

(14)

i

Halaman

DAFTAR TABEL... iv

DAFTAR GAMBAR………. ... vi

DAFTAR LAMPIRAN... vii

I. PENDAHULUAN………... 1

1.1. Latar Belakang………... 1

1.2. Perumusan Masalah………. 8

1.3. Tujuan Penelitian………... 9

1.4. Kegunaan Penelitian………. 10

1.5. Ruang Lingkup Penelitian……… 11

II. TINJAUAN PUSTAKA………. 13

2.1. Teori Pertumbuhan Ekonomi...……… 14

2.2. Teori Kutub Pertumbuhan………... 19

2.3. Keterhubungan dan Ketergantungan Antar Wilayah………... 24

2.4. Teori Lokasi Optimum dan Aglomerasi Industri………... 28

2.5. Perkembangan, Kebijakan dan Strategi Pengembangan Industri di Indonesia……… 35 2.6. Tinjauan Studi Dampak Pembangunan Infrastruktur Dalam Pembangunan Perekonomian Suatu Wilayah………. 40 2.6.1. Dampak Investasi Infrastruktur Transportasi……… 47

2.6.2. Debat: Sebuah Perspektif Sejarah………. 49

2.6.2.1. Periode Awal 1800-1970: Teori Lokasi……….. 50

2.6.2.2. Periode Awal 1970an–1980an: Modelling Wilayah & Perkotaan.. 51

2.6.2.3. Periode 1990an: Pendekatan makroekonomi……….. 53

2.7. Teori Distribusi Pendapatan……… 54

2.8. Studi-Studi Terdahulu………... 59

III. KERANGKA PEMIKIRAN TEORITIS………... 68

3.1. Kerangka Pemikiran……….. 68

3.2. Hipotesis………. 73

(15)

ii

3.3.2. Kegunaan SNSE……… 79

3.3.3. Asumsi dan Keterbatasan Model……… 81

3.4. Investasi Infrastruktur Transportasi dan Pertumbuhan Ekonomi.. 82

3.4.1. Evaluasi Ekonomi Proyek Transportasi………. 82

3.4.2. Dampak Ekonomi Infrastruktur Transportasi……… 83

IV METODOLOGI PENELITIAN………. 86

4.1. Kerangka Sederhana SNSE……… 86

4.2. Kerangka Analisis Pengganda SNSE……… 91

4.3. Metode Penyusunan SNSE………. 96

4.4. Aplikasi Model SNSE Jawa Barat………... 100

4.4.1. Konstruksi SNSE Jawa Barat……….. 100

4.4.2. Tahapan Penyusunan SNSE Provinsi Jawa Barat……….. 101

4.4.3. Pendefinisian Klasifikasi………... 103

4.4.4. Metode Analisis………. 107

4.4.4.1. Analisis Struktur PDRB, dan Struktur Pendapatan serta Pengeluaran Rumah Tangga……….. 107 4.4.4.2. Analisis Dampak Multiplier……….. 108

4.4.4.3. Analisis Dekomposisi……… 108

4.4.4.4. Analisis Jalur (Structural Path Analysis)……… 109

4.4.4.5. Metode Simulasi……… 110

4.4.4.6. Analisis Tenaga Kerja…….……….. 111

4.4.4.7. Analisis Distribusi Pendapatan: Dekomposisi Matrik Income Multiplier……….. 111 V. INFRASTRUKTUR JALAN, STRUKTUR PEREKONOMIAN DAN KETENAGAKERJAAN……….. 114 5.1. Peran Infrastruktur dalam Perekonomian………. 114

5.2. Kondisi Infrastruktur Transportasi Jalan……… 116

5.3. Struktur dan Kinerja Perekonomian………... 119

5.4. Ketenagakerjaan………... 124

5.5. Pendapatan dan Pengeluaran Rumah Tangga……… 130

5.5.1. Penduduk Miskin………... 130

(16)

iii

………

5.5.2.2. Struktur Pengeluaran Rumah Tangga………... 135

VI ANALISIS MULTIPLIER& DISTRIBUSI PENDAPATAN RMAH TANGGA……… 138 6.1. Infrastruktur dan Kinerja Perekonomian……… 138

6.2. Analisis Keterkaitan Sektoral Jawa Barat………. 140

6.2.1. Analisis Backward dan Forward Linkages……… 142

6.2.2. Interdependensi Sektoral Jawa Barat……… 146

6.3. Analisis Multiplier Sektoral………... 148

6.4. Analisis Multiplier Institusi Rumah Tangga………... 150

6.5. Analisis Dekomposisi Keterkaitan Investasi Infrastruktur Trasportasi……….. 152 6.6. Analisis Penyerapan Tenaga Kerja……… 157

6.7. Analisis Jalur (Structural Path Analysis) ………... 158

6.8. Dekomposisi global Effect Multiplier

m

HjA39………. 161

VII. KESIMPULAN DAN SARAN………..……… 169

7.1. Kesimpulan ……….. 169

7.2. SARAN……… 171

(17)

iv

Halaman

1. PDRB (adh berlaku) Menurut Lapangan Usaha Propinsi Jawa Barat

Tahun 2010 (persen)………... 5

2. Jumlah Tenaga Kerja Menurut Lapangan Usaha Propinsi Jawa Barat Tahun 2010 (persen)………..………... 6

3. Kerangka Data Matriks SNSE………..………... 88

4. Klasifikasi SNSE Jawa Barat, Tahun 2010………... 106

5. Perkembangan Panjang Jalan Menurut Tingkat Kewenangan Pemerintah……….…………...………...……… 117

6. Perkembangan Kondisi Jalan Menurut Kualitas dan Jenis Permukaan Jalan di Jawa Barat Tahun 2008-2010 (km)…………... 118

7. Perkembangan Pangsa PDRB Provinsi Jawa Barat, Berdasarkan Sektor………..……….. 121

8. PDRB Harga Berlaku dan Rata-rata Pertumbuhan PDRB Provinsi Jawa Barat, Berdasarkan Sektor ………...……….. 123

9. Penduduk Berumur 15 Tahun Keatas Menurut Jenis Kegiatan Utama, TPAK dan Tingkat Pengangguran di Provinsi Jawa Barat….………...………...……… 124

10. Pertumbuhan Angkatan Kerja dan Bukan Angkatan kerja Jawa Barat, Tahun 2009-2010 (persen)……….....……… 125

11 Perkembangan Pangsa penyerapan Tenaga Kerja Menurut Sektor………...………... 126

12. Elastisitas Tenaga Kerja Jawa Barat………... 129

13. Jumlah Penduduk Miskin Jawa Barat, 2009-2010……….. 130

14. Struktur Rumah Tangga Jawa Barat 2010………... 133

15. Persentase Pendapatan dan Pengeluaran Terhadap Total Pendapatan Menurut Golongan Rumah Tangga Jawa Barat, 2010 (persen) ………...………...……….. 136

16 Rata-rata Pendapatan dan Pengeluaran Perkapita Menurut Golongan Rumah Tangga Jawa Barat, 2010 (Rp. Ribu)……… 137

(18)

v

Tahun 2010………...………... 145

19. Nilai Pengganda Global Yang Diterima Sektor Produksi di Provinsi

Jawa Barat Tahun 2010………...………... 147

20. Nilai Pengganda Global yang Diterima Rumah Tangga di Provinsi

Jawa Barat Tahun 2010……….. 151

21. Dekomposisi Nilai Pengganda Akibat Injeksi Investasi Infrastruktur

Transportasi di Provinsi Jawa Barat, Tahun 2010……….. 155

22. Dampak Investasi Infrastruktur Transportasi Terhadap Penyerapan

Tenaga Kerja Menurut Sektor di Provinsi Jawa Barat Tahun 2010…. 158

(19)

vi

Halaman

1. Arus Perputaran uang dalam Perekonomian ……….. 55

2. Distribusi Pendapatan dengan Pendekatan Fungsional ………... 56

3. Kerangka Pemikiran Dampak Investasi Infrastruktur Transportasi Terhadap Penyerapan Tenaga kerja Sektor Industri dan Distribusi Pendapatan Masyarakat di Provinsi Jawa Barat……… 70

4. Tahapan Analisis Dampak Investasi Infrastruktur Transportasi Terhadap Penyerapan Tenaga kerja Sektor Industri dan Distribusi Pendapatan Masyarakat di Provinsi Jawa Barat………. 71

5. Skema Sederhana SNSE………..……….. 78

6. Proses Pengganda Antara Neraca Endogen SNSE……… 94

7. Tahapan Penyusunan SNSE Provinsi Jawa Barat……….. 102

8. Dampak Langsung dari jalur (i, j)……….…….. 109

9. Dampak Langsung dari jalur (i, x, y, j)……….…….. 109

10. Pengaruh Total dari jalur (i, x, y, j), berikut adjacent sirkuit………….. 110

11. Pengaruh Global: seluruh jalur utama serta sirkuit yang menghubungkan sektor i dan j……….………….. 110

12.

Transmisi yang Diakibatkan oleh Pengaruh dari Investasi

Infrastruktur Transportasi terhadap Golongan Rumah Tangga

di Provinsi Jawa Barat Tahun 2010

………. 159

(20)

vii

Halaman

1. Dekomposisi global effect multiplier mH1A39 dari matriks Ma…………... 175

(21)

P E N D A H U L U A N

1.1 Latar Belakang

Investasi infrastruktur transportasi dalam pembangunan ekonomi penting sebagai sarana untuk memperlancar mobilisasi barang dan jasa serta sebagai sarana untuk memperlancar hubungan antara wilayah terpencil dengan pusat pusat pertumbuhan. Kelancaran arus barang dan jasa serta keterbukaan wilayah-wilayah potensial dapat digunakan sebagai pendorong percepatan pertumbuhan ekonomi. Dengan infrastruktur transportasi yang baik, sumber daya manusia maupun kapital yang tersebar tersebut juga dapat dimanfaatkan dengan lebih baik. Efektifitas investasi infrastruktur transportasi meningkatkan perekonomian dan memberikan manfaat bagi masyarakat tergantung kepada pemanfaatan sarana transportasi tersebut oleh produsen maupun konsumen serta sektor sektor unggulan, sehingga mampu memberikan stimulus perekonomian seperti yang diharapkan.

(22)

 

 

 

 

Jawa Barat seperti halnya sektor industri dan sektor pertanian. Sedangkan dimensi kewilayahan diperhatikan agar pengembangan infrastruktur transportasi dapat menjangkau wilayah atau daerah terpencil (desa) yang potensial secara ekonomi untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut, menyerap tenaga kerja serta memperbaiki pemerataan pendapatan. Secara garis besar, stimulus berupa investasi infrastruktur transportasi diharapkan menjadi pemicu perekonomian daerah maupun nasional.

(23)

 

 

 

 

Namun demikian pada tahun 2010 investasi di sektor ini mengalami kenaikan menjadi Rp. 3.819,58 milyar.

Di sisi lain, berdasarkan data BPS Jawa Barat, dapat disampaikan bahwa nilai investasi fisik (PMTB) di Provinsi Jawa Barat selama periode 2007-2010 juga mengalami kenaikan (BPS Jawa Barat, 2011). Jika pada tahun 2007 nilai investasi fisik di Jawa Barat hanya sebesar Rp. 87.498,79 milyar, maka pada tahun 2010 adalah sebesar Rp.138.629,06 milyar. Sementara itu berdasarkan data BPS dapat juga diungkapkan bahwa nilai investasi jalan, rel dan jembatan di Jawa Barat mengalami penurunan pada kurun waktu 2007-2008 dari Rp.19.261,72 milyar pada tahun 2007 menjadi Rp.12.510,90 pada tahun 2008. Setelah mengalami kenaikan tajam menjadi Rp. Rp.30.575,88 milyar pada tahun 2009, investasi di sektor ini turun kembali menjadi Rp.21.212,05 milyar pada tahun 2010. Sebagai tambahan, investasi terminal, pelabuhan dan stasiun dan bandara mengalami penurunan dari Rp.5.337,85 milyar pada tahun 2007 menjadi Rp. 4.466,16 milyar pada tahun 2008. Namun demikian setelah itu investasi di sektor ini secara konsisten mengalami kenaikan dari tahun 2008-2010. Pada tahun 2008 investasi di sektor ini senilai Rp.4.466,18 milyar kemudian naik menjadi Rp.6.046,90 milyar pada tahun 2009 dan Rp. 6.536,92 pada tahun 2010.

(24)

 

 

 

 

mengalokasikan dana untuk membiayai berbagai kegiatan memberikan peluang yang lebih besar bagi setiap daerah untuk melaksanakan aktivitas pembangunan sesuai dengan potensi yang dimiliki dan memilih sektor-sektor prioritas dalam mempercepat pertumbuhan ekonomi (Saragih, et al, 2010). Hal ini menunjukkan perhatian pemerintah yang sangat besar pada pembangunan infrastruktur. Perhatian pemerintah yang besar pada infrastruktur ini sangatlah relevan mengingat beberapa temuan studi mengindikasikan pentingnya infrastruktur terkait dengan dampaknya terhadap perekonomian. Pengungkapan data perkembangan nilai investasi fisik dan nilai investasi infrastrutur transportasi di atas, baik pada tingkat nasional maupun pada tingkat Provinsi Jawa Barat dapat menjadi sinyal awal dukungan pemerintah pada pembangunan infrastruktur transportasi.

(25)

 

 

 

 

Tabel 1. PDRB (adh berlaku) Menurut Lapangan Usaha Propinsi Jawa Barat Tahun 2010 (persen)

Lapangan Usaha 2010

1. Pertanian 12.61

2. Pertambangan dan Penggalian 2.02

3. Industri 37.73

4. Listrik Gas dan Air Bersih 3.76

5. Konstruksi non transportasi  2.4

6. Konstruksi tranportasi  1.4

7. Perdagangan Hotel, & Restoran 22.41 8. Pengangkutan & Komunikasi 7.09 9. Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan 2.75

10. Jasa‐Jasa 8.86

Sumber: BPS Jawa Barat, 2011

Meningkatnya aktivitas di sektor industri akan menyerap tenaga kerja dan kinerja perekonomian. Baik di Indonesia maupun di Provinsi Jawa Barat kegiatan industri merupakan sektor yang memiliki peran penting dalam perekonomian serta mampu menyerap tenaga kerja yang cukup banyak. Menurut data BPS (2011), sektor industri menyumbang Rp.1.594,3 trilyun terhadap PDB adh berlaku (24.82%), dengan tenaga kerja yang terserap pada sektor ini sebesar 13.05 juta jiwa (12.14%). Pada periode yang sama, sektor industri menyumbang Rp. 290.75 trilyun (37.7%) terhadap PDRB Provinsi Jawa Barat dan menyerap

tenaga kerja sejumlah 3.111.149 jiwa (18%) di Provinsi Jawa Barat. Gambaran kontribusi sektor industri dalam PDRB Provinsi Jawa Barat dapat dilihat pada

(26)

 

 

 

 

membangkitkan kegiatan ekonomi nasional/wilayah. Sebagai catatan, pada periode yang sama, sektor industri pengolahan di Jawa Barat menurut data statistik berkontribusi sebesar 60 % dari total pendapatan sektor industri pengolahan di tingkat nasional (BPS Jawa Barat, 2011). Dengan demikian peran sektor industri di Provinsi Jawa Barat bisa dikatakan sangat penting bagi perekonomian nasional.

Tabel 2. Jumlah Tenaga Kerja Menurut Lapangan Usaha Propinsi Jawa Barat Tahun 2010 (persen)

Lapangan Usaha 2010

1. Pertanian 27.0

2. Pertambangan dan Penggalian 1.0

3. Industri 18.0

4. Listrik Gas dan Air Bersih 0.1

5. Konstruksi non transportasi  4.0

6. Konstruksi tranportasi  2.0

7. Perdagangan Hotel, & Restoran 26.0 8. Pengangkutan & Komunikasi 7.0 9. Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan 1.0

10. Jasa‐Jasa 14.0

Sumber: BPS Jawa Barat, 2011

Dari segi struktur perekonomian, provinsi Jawa Barat dicirikan oleh tiga sektor utama sebagai mesin penggerak (engine power) roda perekonomian yakni

masing masing sektor Industri, sektor perdagangan, hotel dan restoran serta sektor pertanian. Dari ketiga sektor tersebut tercatat hingga tahun 2010, sektor

(27)

 

 

 

 

Perekonomian Jawa Barat juga menyediakan lapangan kerja bagi lebih dari 10% angkatan kerja secara nasional (BPS Jawa Barat, 2011).

Meskipun ekonomi terus tumbuh, namun persentase pengangguran di Jawa Barat masih relatif besar dimana pada tahun 2010 menempati urutan ketiga setelah Provinsi Banten, dan DKI Jakarta, masing-masing sebesar 14.13%, 11.32%, dan 10.57%. Kemiskinan di Jawa Barat juga menunjukkan penurunan, namun angkanya masih relatif besar. Penduduk miskin di Jawa Barat pada tahun 2010 menempati urutan ketiga terbesar yaitu 4.8 juta jiwa setelah Jawa Tengah (5.4 juta jiwa) dan Jawa Timur (5.5 juta jiwa).

Kondisi diatas diperparah dengan kondisi infrastruktur jalan yang buruk dimana pada akhir tahun 2010, tercatat panjang jalan di wilayah Jawa Barat adalah 25.803 km meningkat hanya 0,1% dari tahun 2009. Sebaliknya jalan pada tahun 2009 berkurang 0.3% dari tahun 2008 dengan panjang berkisar 25.857 km. Hal ini diperparah dengan kondisi jalan yang semakin buruk, dimana kerusakan jalan tidak hanya terjadi di perkotaan (kotamadya) namun juga di pedesaan (kabupaten). Kondisi jalan yang masih dalam kondisi baik berkurang dari 8.895 km pada tahun 2009 menjadi hanya 7.980 km pada tahun 2010. Jalan rusak meningkat dari 5.199 km pada akhir tahun 2009 menjadi 5.694 km. pada tahun 2010. Jalan rusak parah kondisinya lebih buruk yaitu 2.404 km pada tahun 2009 menjadi 2.820 km pada tahun 2010 (BPS Jawa Barat, 2011)..

(28)

 

 

 

 

pendapatan, maka penelitian ini penting dilakukan, terutama untuk mengetahui bagaimana dampak investasi infrastruktur transportasi terhadap penyerapan tenaga kerja sektor ekonomi dan distribusi pendapatan masyarakat.

1.2. Perumusan Masalah

Dengan latar belakang penelitian yang disampaikan di atas maka rumusan permasalahan yang ada didalam penelitian ini adalah sebagaimana diuraikan pada paparan di bawah ini.

(29)

 

 

 

 

penelitian, diperlukan juga kajian kondisi eksisting infrastruktur transportasi untuk melihat seberapa urgent investasi infrastruktur transportasi di Jawa Barat.

Investasi merupakan variabel yang penting dalam pertumbuhan ekonomi (Mankiw, 2007). Berdasarkan pengalaman empiris, investasi infrastruktur, termasuk halnya infrastruktur transportasi ini menjadi sektor yang paling efektif untuk menaikkan output, meningkatkan penyerapan tenaga kerja serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mengurangi kemiskinan. Lalu bagaimanakah dengan di Provinsi Jawa Barat, apakah investasi infrastruktur transportasi berpengaruh dan terkait dengan penciptaan pendapatan sektoral, faktorial serta pendapatan institusi? Hal ini akan dikaji lebih lanjut didalam penelitian ini.

Injeksi investasi infrastruktur transportasi pada SNSE Provinsi Jawa Barat 2010 akan membawa dampak-dampak pada neraca-neraca sektor produksi, faktor produksi, institusi, dan neraca lainnya. Secara spesifik timbul pertanyaan di dalam studi ini tentang bagaimanakah dampak dari injeksi investasi infrastruktur transportasi ini terhadap sektor industri dan bagaimanakah transmisi perubahan pendapatan dapat diterima oleh rumah tangga melalui berbagai sektor dan faktor produksi.

Hal terakhir yang menjadi pertanyaan didalam penelitian ini adalah tentang apa dampak dari investasi infrastruktur transportasi terhadap penyerapan tenaga kerja sektor industri dan distribusi pendapatan masyarakat (rumah tangga) di Provinsi Jawa Barat.

1.3 Tujuan Penelitian

(30)

 

 

 

 

1.

Mengkaji karakteristik perekonomian Jawa Barat seperti halnya struktur

ekonomi sektoral, struktur pendapatan faktorial, dan struktur pendapatan dan pengeluaran rumahtangga. Disamping itu juga akan dikaji kondisi eksisting infrastruktur transportasi yang ada di Provinsi Jawa Barat.

2.

Mengkaji pengaruh dan keterkaitan investasi infrastruktur transportasi

terhadap penciptaan pendapatan sektoral, faktorial serta pendapatan institusi.

3.

Mengkaji bagaimana mekanisme transmisi investasi infrastruktur transportasi

berpengaruh terhadap pendapatan masyarakat (rumah tangga) melalui sektor produksi dan faktor produksi.

4.

Mengkaji dampak pengembangan infrastruktur transportasi terhadap

penyerapan tenaga kerja sektor ekonomi, pendapatan serta distribusi pendapatan masyarakat (rumah tangga) di Jawa Barat.

1.4. Kegunaan Penelitian

Penelitian dilakukan untuk memberikan berbagai manfaat:

1. Bagi pemerintah: sebagai masukan kedepan bagi perumusan kebijakan investasi infrastruktur, khususnya investasi infrastruktur transportasi dan memberikan bukti ilmiah kepada pemerintah bahwa investasi infrastruktur transportasi sangat diperlukan dalam kerangka mendorong perkembangan sektor ekonomi, menyerap tenaga kerja sektor-sektor dan mempengaruhi distribusi pendapatan masyarakat.

(31)

 

 

 

 

Distribusi Pendapatan Masyarakat. Penelitian ke depan dapat diarahkan

pada sektor-sektor lain.

3. Bagi masyarakat luas: sebagai bahan informasi bagi seluruh komponen masyarakat (termasuk dunia usaha) untuk memberikan dasar pengertian bahwa didalam proses pembangunan ekonomi diperlukan investasi infrastruktur (termasuk halnya infrastruktur transportasi), sehingga masyarakat dapat memberikan masukan-tanggapan-kontribusi dan kritik yang konstruktif, dan jika memungkinkan turut teribat aktif dalam upaya menyediakan infrastruktur transportasi tersebut.

1.5. Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini mengkaji mengenai hubungan infrastruktur transportasi dengan pertumbuhan ekonomi, ketenaga-kerjaan dan distribusi pendapatan masyarakat di Provinsi Jawa Barat. Studi ini mencakup wilayah provinsi Jawa Barat dengan referensi tahun 2010. Penelitian ini menggunakan analisis yang bersifat cross section/statis dengan menggunakan alat berupa kerangka data Sistem Neraca Sosial Ekonomi (SNSE). SNSE dapat mengkaitkan pelaku ekonomi (rumah tangga, pemerintah, perusahaan dan luar negeri), sektor ekonomi, faktor produksi serta variabel lain dalam bentuk matriks yang kompak dan konsisten. SNSE merupakan kerangka data berbentuk matriks yang terdiri dari blok blok neraca sebagai klasifikasi dan bersifat fleksibel.

(32)

 

 

 

 

dirinci dengan klasifikasi yang sama yaitu terdiri dari 26 kelompok sektor/komoditi serta blok neraca lainnya seperti neraca kapital, luar negeri, marjin perdagangan dan pengangkutan. Analisis kuantitatif menggunakan accounting multiplier, dekomposisi multiplier, analisis jalur (path analysis) serta pengembangan multiplier untuk analisis redistribusi pendapatan rumah tangga.

Software yang digunakan dalam penghitungan multiplier adalah Excel

dan MATS untuk menghitung besaran jalur dari variabel asal ke variabel tujuan. Makalah ini sendiri merupakan bagian dari keseluruhan penelitian yang dilakukan.

investasi infrastruktur transportasi ini bisa berdampak pada semua sektor, faktor produksi dan institusi yang ada di dalam perekonomian, namun demikian secara spesifik penelitian ini akan mengkaji lebih mendalam dampak investasi infrastruktur transportasi terhadap penyerapan tenaga kerja sektor ekonomi.

(33)

TINJAUAN PUSTAKA

Pada bab ini secara garis besar akan dibahas tinjauan pustaka dan landasan teori yang relevan dan mendukung penelitian ini. Beberapa teori dan ulasan terkait yang akan dibahas pada bab ini antara lain: teori pertumbuhan ekonomi; keterhubungan keterhubungan dan ketergantungan antar wilayah; teori lokasi optimum dan aglomerasi industri; perkembangan, kebijakan dan strategi pengembangan industri di Indonesia; tinjauan studi dampak pembangunan infrastruktur transportasi dalam pembangunan perekonomian suatu wilayah; teori distribusi pendapatan dan studi-studi terdahulu.

Teori pertumbuhan diungkapkan pada pokok bahasan ini sebagai landasan untuk menjelaskan bagaimana perekonomian tumbuh pada suatu negara atau wilayah. Ulasan tentang keterhubungan dan ketergantungan wilayah

dipaparkan untuk menegaskan bahwa suatu perekonomian wilayah tumbuh tidak berdiri sendiri, melainkan berhubungan dan bergantung sama lain. Dalam hal ini

(34)

 

 

 

 

pendapatan dan distribusi pendapatan dapat berubah dan mengalir ke institusi, dan secara spesifik ke institusi rumah tangga.

2.1 Teori Pertumbuhan Ekonomi

(35)

 

 

 

 

Salah satu pandangan yang dampaknya besar dan berlanjut hingga sekarang adalah model pertumbuhan yang dikembangkan oleh Harrod (1948) dan Domar (1946). Pada intinya model ini berpijak pada pemikiran Keynes (1936) yang menekankan pentingnya aspek permintaan dalam mendorong pertumbuhan jangka panjang. Dalam model Harrod-Domar seperti yang diungkapkan oleh Kartasasmita (1997), pertumbuhan ekonomi akan ditentukan oleh dua unsur pokok, yaitu tingkat tabungan (investasi) dan produktivitas modal (capital output ratio). Agar dapat tumbuh secara berkelanjutan, masyarakat dalam suatu perekonomian harus mempunyai tabungan yang merupakan sumber investasi. Makin besar tabungan, yang berarti makin besar investasi, maka akan semakin tinggi pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya, makin rendah produktivitas kapital atau semakin tinggi capital output ratio, makin rendah pertumbuhan ekonomi.

(36)

 

 

 

 

Model pertumbuhan neoklasik merupakan teori pertumbuhan yang mulai memasukkan unsur teknologi yang diyakini akan berpengaruh dalam pertumbuhan ekonomi suatu negara (Solow, 1957). Dalam teori neoklasik, teknologi dianggap sebagai faktor eksogen yang tersedia untuk dimanfaatkan oleh semua negara di dunia. Dalam perekonomian yang terbuka, di mana semua faktor produksi dapat berpindah secara leluasa dan teknologi dapat dimanfaatkan oleh setiap negara, maka pertumbuhan semua negara di dunia akan konvergen, yang berarti kesenjangan akan berkurang.

Teori pertumbuhan selanjutnya mencoba menemukan faktor-faktor lain di luar modal dan tenaga kerja, yang mendorong pertumbuhan ekonomi. Salah satu teori berpendapat bahwa investasi sumber daya manusia mempunyai pengaruh yang besar terhadap peningkatan produktivitas. Menurut Becker (1967) peningkatan produktivitas tenaga kerja ini dapat didorong melalui pendidikan dan pelatihan serta peningkatan derajat kesehatan. Teori human capital ini selanjutnya diperkuat dengan berbagai studi empiris, antara lain untuk Amerika Serikat oleh Kendrick (1976).

(37)

 

 

 

 

tersebut dapat terjadi melalui kegiatan perdagangan internasional, penanaman modal, lisensi, konsultasi, komunikasi, pendidikan, dan aktivitas R & D.

Nurkse (1953) menunjukkan teori pertumbuhan yang menonjolkan peran perdagangan dalam pertumbuhan. Nurske menunjukkan bahwa perdagangan merupakan mesin pertumbuhan selama abad ke-19 bagi negara-negara yang sekarang termasuk dalam kelompok negara maju seperti Amerika Serikat, Kanada, Australia, dan Selandia Baru. Pada abad itu kegiatan industri yang termaju terkonsentrasi di Inggris. Pesatnya perkembangan industri dan pertumbuhan penduduk di Inggris yang miskin sumber alam telah meningkatkan permintaan bahan baku dan makanan dari negara-negara yang tersebut di atas. Dengan demikian, pertumbuhan yang terjadi di Inggris menyebar ke negara lain melalui perdagangan internasional. Kemudian kita lihat bahwa kemajuan ekonomi di negara-negara industri baru yang miskin sumber alam di belahan kedua abad ke-20, seperti Korea, Taiwan, Hongkong, dan Singapura, juga didorong oleh perdagangan internasional.

(38)

 

 

 

 

pengembangan pemikiran dari Collin Clark dan Kuznets, perkembangan perekonomian akan mengalami suatu transformasi (konsumsi, produksi dan lapangan kerja), dari perekonomian yang didominasi oleh sektor pertanian menjadi didominasi oleh sektor industri dan jasa.

Pandangan-pandangan yang berkembang dalam teori-teori pembangunan terutama di bidang ekonomi memang mengalir ke arah manusia dan dalam konteks yang lebih luas ke arah masyarakat atau rakyat, sebagai pusat perhatian dan sasaran sekaligus pelaku utama pembangunan. Salah satu harapan atau anggapan dari pengikut aliran teori pertumbuhan adalah bahwa hasil pertumbuhan akan dapat dinikmati masyarakat sampai di lapisan yang paling bawah. Namun, pengalaman pembangunan dalam tiga dasawarsa di Indonesia (1940-1970) menunjukkan bahwa masyarakat di lapisan bawah tidak senantiasa menikmati limpahan hasil pembangunan seperti yang diharapkan itu. Bahkan di banyak negara kesenjangan sosial ekonomi makin melebar. Hal ini disebabkan oleh karena meskipun pendapatan dan konsumsi makin meningkat, kelompok masyarakat yang sudah baik keadaannya dan lebih mampu, lebih dapat memanfaatkan kesempatan, antara lain karena posisinya yang menguntungkan (privileged) karena memiliki faktor produksi yang lebih banyak, sehingga akan memperoleh bagian lebih banyak dari hasil pembangunan. Dengan demikian, yang kaya makin kaya dan yang miskin tetap miskin bahkan dapat menjadi lebih miskin.

(39)

 

 

 

 

dunia, walaupun sesungguhnya bukti-bukti empiris dan uji teoritis menunjukkan bahwa trickle down process tidak pernah terwujud, terutama pada negara-negara yang sedang berkembang. Berdasarkan pada kesadaran bahwa pembangunan yang berorientasi pada pertumbuhan semata memiliki banyak kelemahan, maka berkembanglah berbagai pemikiran lain yang berorientasi pada pembangunan sosial yang tujuannya adalah untuk menyelenggarakan pembangunan yang lebih berkeadilan atau lebih merata.

2.2. Teori Kutub Pertumbuhan

Perkembangan modern dari teori titik pertumbuhan terutama berasal dari karya ahli-ahli teori ekonomi regional Perancis yang dipelopori oleh Francois Perroux. Menurut Perroux, seperti yang disampaikan oleh Adisasmita (2005), pertumbuhan ataupun pembangunan tidak dilakukan di seluruh tata ruang, tetapi terbatas pada beberapa tempat atau lokasi tertentu. Tata ruang diidentifikasikannya sebagai arena atau medan kekuatan yang didalamnya terdapat kutub-kutub atau pusat-pusat. Setiap kutub memiliki kekuatan pancaran pengembangan ke luar dan kekuatan tarikan ke dalam. Teori ini menjelaskan tentang pertumbuhan ekonomi dan khususnya mengenai perusahaan-perusahaan dan industri-industri serta saling ketergantungannya dan bukan mengenai pola geografis dan pergeseran industri baik secara intra maupun secara inter, pada dasarnya konsep kutub pertumbuhan mempunyai pengertian tata ruang ekonomi secara abstrak.

(40)

 

 

 

 

kemampuan tinggi untuk memindahkan dorongan-dorongan pertumbuhan melalui dampak berantai ke belakang dan ke depan (backward dan forward linkages) termasuk sebagai industri yang mempunyai kekuatan pendorong. Perroux sendiri tidak menggunakan istilah backward dan forward linkage effects. Istilah tersebut dilontarkan oleh Hirschman. Konsep Hirschman didasarkan pada pemahaman matarantai-matarantai keterhubungan (masukan-keluaran) agar industri dan keberartian dalam kaitannya dengan proses pertumbuhan ekonomi yang diciptakan.

Seperti yang diungkapkan oleh Adisasmita (2005), terdapat beberapa ciri penting dari konsep kutub pertumbuhan dapat dikemukakan. Pertama, terdapat keterkaitan internal antara berbagai industri secara teknik dan ekonomi. Kedua, terdapat pengaruh multiplier. Ketiga, terdapat konsentrasi geografis. Sedangkan Growth Pole dapat diartikan dengan 2 (dua) cara, yaitu:

1. Secara Fungsional

Suatu lokasi konsentrasi kelompok usaha atau cabang industri yang sifat hubungannya memiliki unsur-unsur kedinamisan sehingga mampu menstimulasi kehidupan ekonomi baik kedalam maupun keluar (daerah belakangnya).

2. Secara Geografis

(41)

 

 

 

 

Konsep dasar ekonomi dari pada kutub pertumbuhan menurut Adisasmita (2005) adalah:

1. Konsep industri utama dan industri pendorong

2. Konsep polarisasi, pertumbuhan dari pada industri utama dan perusahaan pendorong akan menimbulkan polarisasi unit-unit ekonomi lain ke kutub pertumbuhan.

3. Terjadinya aglomerasi, yang ditandai dengan: a. Scale Economies

• Keuntungan yang timbul bila kegiatan ekonomi dilakukan dengan skala besar.

• Biaya produksi rata-rata rendah, spesialisasi dan efisiensi. b. Localization Economies

Kekuatan pusat pengembangan akan terletak pada keterkaitan yang erat antara beberapa kegiatan produksi yang berada dalam pusat tsb. Kekuatan itu timbul karena kegiatan produksi saling berkaitan dan

terkonsentrasi pada pada suatu tempat, maka ongkos angkut bahan baku dan barang jadi akan berkurang. Produksi akan lebih besar karena

persediaan bahan baku, tenaga terampil dan pasar terjamin. c. Urbanization Economies

(42)

 

 

 

 

Daya tarik suatu daerah untuk berkembang menjadi pusat pertumbuhan menurut Adisasmita (2005), secara garis besar disebabkan karena 2 (dua) hal, yaitu karena keadaan prasarana dan keadaan pasar. Sedangkan kaitannya antara keberadaan industri dengan keadaan pasar adalah:

1. Industri yang didasarkan pada ketersediaan bahan baku (resources based industri) contoh: bahan pertanian dan bahan makanan

2. Industri dekat pasar (market oriented industri) contoh: industri bahan makanan tidak tahan lama dan industri jasa

3. Industri yang letaknya netral (footloose) contoh: industri pengolahan karena tidak tergantung dari sumber bahan baku tetapi ketersediaan prasarana dan fasilitas.

Sedangkan pusat pertumbuhan menurut Adisasmita (2005) memiliki 4 (empat) ciri, yaitu:

1. Adanya hubungan internal dari berbagai macam kegiatan.

Hubungan internal sangat menentukan dinamika sebuah kota, ada keterkaitan antara satu sektor dengan sektor lain sehingga apabila ada satu sektor yang tumbuh akan mendorong pertumbuhan sektor lain karena saling terkait. Kehidupan kota menjadi satu irama dengan berbagai komponen kehidupan kota dan menciptakan sinergi untuk saling mendukung terciptanya pertumbuhan.

2. Ada efek penggandaan (multiplier Effect)

(43)

 

 

 

 

terjadi akumulasi modal. Unsur efek penggandaan sangat berperan dalam membuat kota mampu memacu pertumbuhan belakangnya.

3. Adanya konsentrasi geografis

Konsentrasi geografis dari berbagai sektor atau fasilitas, selain bisa menciptakan efisiensi diantara sektor-sektor yang salng membutuhkan juga meningkatkan daya tarik (attractiveness) dari kota tersebut.

4. Bersifat mendorong daerah belakangnya.

Hal ini antarakota dan wilayah belakangnya terdapat hubungan yang harmonis. Kota membutuhkan bahan baku dari wilayah belakangnya dan menyediakan berbagai kebutuhan wilayah belakangnya untuk dapat mengembangkan dirinya.

Agglomeration Economies adalah pemusatan produksi di lokasi tertentu, pemusatan produksi ini dapat terjadi dalam satu perusahaan atau dalam berbagai perusahaan di satu tempat akan menimbulkan penghematan eksternal (Capello, 2007). Untuk menjelaskan persoalan-persoalan kutub pembangunan harus ditunjang oleh teori-teori lokasi. Di antara teori-teori lokasi yang telah kita pelajari, Central Place Theory dapat dianggap sebagai teori global yang menjelaskan mengenai ketergantungan di antara kegiatan-kegiatan jasa sebagai akibat dari adanya pembagian kerja secara spatial.

(44)

 

 

 

 

yang terjadi dalam sistem pusat-pusat serta pengendalian pertumbuhan kota (Capello, 2007). Ditinjau dari segi lain terdapat kekurangan-kekurangan, yaitu tempat sentral tidak menjelaskan gejala-gejala pembangunan. Central Place Theory dikategorisasikan sebagai teori statis, yang hanya menjelaskan adanya pola pusat-pusat tertentu dan tidak membahas adanya perubahan-perubahan pola tertentu. Teori Boudeville merupakan teori kutub pertumbuhan yang telah dimodifikasikan, dan dapat digunakan untuk menganalisis gejala-gejala dinamis tersebut.

2.3. Keterhubungan dan Ketergantungan Antar Wilayah

Pembangunan wilayah antar provinsi yang berdekatan akan dapat mengembangkan daya pertumbuhan yang kuat yang terdapat dalam lingkungan suatu provinsi dan dapat pula perkembangan provinsi-provinsi lainnya yang relatif terbelakang. Dalam hubungan ini perlu digairahkan kerja sama antar wilayah (provinsi) secara saling menguntungkan (mutual regional cooperation). Hal ini berarti bahwa produksi dan usaha-usaha pembangunan dikaitkan dengan keuntungan komparatif dan regionalisasi wilayah pembangunan.

(45)

 

 

 

 

yang relatif lebih kecil atau mengimpor barang-barang yang mempunyai kerugian produksi yang lebih besar (comparative disadvantage). Masing-masing wilayah akan menspesialisasikan produksi pada satu atau beberapa barang tertentu. Wilayah-wilayah yang tidak memproduksi sendiri barang-barang yang dibutuhkan akan membeli barang-barang yang dimaksud dari wilayah-wilayah lain menjadi produsennya. Jelaslah bahwa di antara wilayah-wilayah yang ada mempunyai pengaruh timbal balik dan saling berkepentingan satu sama lainnya dan sedemikian rupa akan menciptakan suatu pola perdagangan antar wilayah.

Lebih lanjut Adisasmita (2005) menyampaikan bahwa regionalisme termasuk dalam kerangka kebijaksanaan pembangunan ekonomi yang mengelompokkan lingkungan teritorial menjadi wilayah-wilayah sub nasional. Dalam pengelompokkan itu dipertimbangkan dua aspek utama yaitu pola fisik dan pola kegiatan. Pola fisik meliputi pemanfaatan tata ruang untuk permukiman penduduk, fasilitas-fasiilitas produktif, trayek-trayek transportasi, tata guna tanah, dan lain-lainnya. Sedangkan pola kegiatan terdiri dari arus modal, tenaga kerja, komoditas dan komunikasi yang menghubungkan elemen-elemen fisik dalam tata ruang. Dilihat dari pertimbangan integrasi nasional, salah satu fungsi pengembangan wilayah adalah membina dan mengefektifkan keterhubungan antar wilayah yang berspesialisasi secara fungsional dan berorientasi pada pasar secara nasional. Jadi regionalisasi wilayah pembangunan dimaksudkan untuk meningkatkan pembangunan baik sektoral maupun regional secara lebih efektif dan efisien.

(46)

 

 

 

 

digunakan adalah homogenitas kondisi wilayah, kriteria tersebut dapat dinyatakan sebagai karakteristik geografis, sosial, dan ekonomi. Suatu perencanaan wilayah yang semata-mata hanya didasarkan pada kriteria geografis dapat dikatakan kurang bermanfaat ditinjau dari kepentingan analisis ekonomi. Untuk menentukan homogenitas ekonomi dapat digunakan ciri-ciri keserupaan dalam kegiatan-kegiatan produksi, tingkat keterampilan tenaga kerja, dan pendapatan perkapita. Selanjutnya suatu wilayah didefinisikan sebagai suatu gabungan dari sejumlah titik-titik spasial mempunyai kegiatan-kegiatan produksi yang serupa atau tingkat pendapatan per kapita yang sama. Dengan demikian dapat dibedakan dengan mudah antara wilayah-wilayah yang berorientasi pada sektor tersier. Dapat dibedakan pula antara wilayah-wilayah dengan tingkat pendapatan rendah (miskin) dan wilayah dengan tingkat pendapatan tinggi (kaya).

(47)

 

 

 

 

Konsentrasi kegiatan-kegiatan ekonomi terletak pada tata ruang-tata ruang yang pada umumnya adalah kota-kota. Proses industrialisasi dan urbanisasi ke kota-kota berlangsung terus dan meningkat. Tiap-tiap kota-kota besar mempunyai kota satelit, dan selanjutnya kota-kota satelit tersebut mempunyai desa-desa satelit. Gejala ini sangat penting dalam perkembangan peradaban manusia, perkembangan industri dan perdagangan, dimana pertumbuhan kota telah meningkat pesat.

Interdependensi pertukaran (pembelian dan penjualan) mencerminkan karakteristik suatu perangkat kota-kota regional dalam suatu perangkat yang lebih besar yaitu suatu bangsa atau Negara (Adisasmita, 2005). Wilayah polarisasi didefinisikan sebagai perangkat kota-kota dengan daerah-daerah disekitarnya yang mengadakan pertukaran lebih banyak dengan metropolis tingkat regional dari kota-kota lainnya yang mempunyai orde yang sama di suatu negara. Justifikasi dari pengertian wilayah polarisasi adalah sifat empirik. Daerah-daerah di sekitar pusat mempunyai keterhubungan dan ketergantungan yang sangat erat dengan pusatnya. Jadi wilayah polarisasi berarti tidak autarkis. Artinya bersifat terintegrasi antara pusat dengan daerah komplementernya.

(48)

 

 

 

 

antara pusat sedang dengan pusat-pusat kecil. Pola transportasi semacam ini disebut conventional tree pattern yang mendasarkan pada susunan pohon, yang terdiri dari batang, dahan, cabang dan ranting. Dalam susunan trayek atau rute pelayaran dan penerbangan dikenal trunk route dan feeder route. Jaringan jalan raya meliputi jalan arteri (urat nadi), jalan kolektor dan jalan lokal.

Untuk melayani kegiatan pembangunan dan mobilisasi yang semakin meningkat dan meluas, maka jaringan transportasi nasional harus dikembangkan selaras dengan tingkat pertumbuhan arus muatan di seluruh wilayah. Jaringan transportasi yang menghubungkan masing-masing pusat ke seluruh pusat lainnya dikenal sebagai “polygrid pattern” atau pola segala jurusan seperti penerapan di Negara-negara maju (Adisasmita, 2005).

2.4. Teori Lokasi Optimum dan Aglomerasi Industri

Teori lokasi merupakan sebuah ilmu yang menyelidiki tata ruang (spatial order) kegiatan ekonomi. Selain itu, teori lokasi juga dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang lokasi secara geografis dari sumberdaya yang langka, serta pengaruhnya terhadap lokasi berbagai macam usaha atau kegiatan lain (activity). Ruang dikeliingi dengan aktivitas ekonomi, dan seluruh bentuk produksi memerlukan ruang (Capello, 2007). Seluruh wilayah geografis tidak memiliki kesempatan yang sama untuk melakukan produksi dan pengembangan karena tidak samanya distribusi bahan dasar (raw material), faktor produksi dan permintaan.

(49)

 

 

 

 

berbagai ilmu pengetahuan dan disiplin. Berbagai faktor yang ikut dipertimbangkan dalam menentukan lokasi, antara lain ketersediaan bahan baku, upah buruh, jaminan keamanan, fasilitas penunjang, daya serap pasar lokal dan aksesibilitas dari tempat produksi ke wilayah pemasaran yang dituju (terutama aksesibilitas pemasaran ke luar negeri), stabilitas politik suatu negara dan kebijakan daerah (peraturan daerah).

Industrialisasi telah menjadi kekuatan utama di balik urbanisasi yang cepat di kawasan Asia sejak dasawarsa 1980-an. Berbeda dalam kasus industri berbasis sumberdaya (resource-based industries), industri manufaktur cenderung berlokasi didalam dan di sekitar kota. Pertanian dan industri berdampingan, bahkan kadang berebut lahan di seputar pusat-pusat kota yang pada gilirannya semakin mengaburkan perbedaan baku antara desa dan kota. Industri cenderung mengelompok pada daerah-daerah dimana potensi dan kemampuan daerah tersebut memenuhi kebutuhan mereka, dan mereka mendapat manfaat akibat lokasi perusahaan yang saling berdekatan.

(50)

 

 

 

 

kegiatan ekonomi terjadi memperoleh manfaat yang disebut dengan ekonomi aglomerasi (agglomeration economies). Seperti yang dikatakan oleh Bradley dan Gans (1996), bahwa ekonomi aglomerasi adalah eksternalitas yang dihasilkan dari kedekatan geografis dari kegiatan ekonomi. Selanjutnya adanya ekonomi aglomerasi dapat memberikan pengaruh yang positif terhadap laju pertumbuhan ekonomi. Sebagai akibatnya daerah-daerah yang termasuk dalam aglomerasi pada umumnya mempunyai laju pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan dengan daerah yang bukan aglomerasi.

Hubungan positif antara aglomerasi geografis dari kegiatan-kegiatan ekonomi dan pertumbuhan ekonomi telah banyak dibuktikan. Aglomerasi menghasilkan perbedaan spasial dalam tingkat pendapatan. Semakin teraglomerasi secara spasial suatu perekonomian maka akan semakin meningkat pertumbuhannya (Capello, 2007). Daerah-daerah yang banyak industri pengolahan tumbuh lebih cepat dibandingkan daerah-daerah yang hanya mempunyai sedikit industri pengolahan. Alasannya adalah daerah-daerah yang mempunyai industri pengolahan lebih banyak mempunyai akumulasi modal. Dengan kata lain, daerah-daerah dengan konsentrasi industri pengolahan tumbuh lebih cepat dibandingkan dengan daerah yang tidak punya konsentrasi industri pengolahan.

(51)

 

 

 

 

buruh, rnanajemen, dan lainnya dianggap tidak menunjukkan variasi secara spasial, berarti harga-harga faktor produksi adalah sama di mana-mana. Bagaimana pengusaha akan meminimisasikan biaya transport? Biaya transport dianggap sebagai suatu variabel penting dalam penentuan lokasi industri. Asumsi yang sangat sederhana ditetapkan yaitu tingkat biaya transportasi adalah flat berdasarkan pada berat muatan dan fasilitas transportasi tersedia ke segala jurusan. Asumsi tersebut tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu pada umumnya biaya transportasi untuk hasil akhir seringkali lebih tinggi dari pada untuk bahan baku dan fasilitas transportasi hanya terbatas pada sejumlah rute.

Biaya penanganan (handling cost) mempunyai peranan penting (seringkali begitu tinggi) dalam keseluruhan biaya transpor, tidak hanya dari unsur-unsur biaya keuangan tetapi juga biaya non moneter, seperti kerugian waktu, ketidaknyamanan dan sebagainya. Terbatasnya pelayanan transportasi pada beberapa rute bersama-sama biaya penanganan merupakan faktor penting terhadap pemilihan lokasi industri, yang pada umumnya cenderung menempatkan pada lokasi nodal, yang sering merupakan transportation junctions (simpang transportasi) atau transhipment point di mana transportasi darat dan laut bertemu satu sama lainnya yang kemudian menunjang terbentuknya pusat-pusat industri.

(52)

 

 

 

 

biaya transpor yang lebih tinggi dari pada tingkat biaya transpor minimum pada titik P.

Terdapat kemungkinan terjadinya deviasi atau penyimpangan lokasi industri dari titik biaya transportasi minimum, misalnya lokasi industri mendekati lokasi tenaga kerja yang murah, hal ini masih dapat dipertanggungjawabkan jika penghematan dalam faktor per unit (upah buruh) lebih besar atau paling sedikit sama dengan tambahan total biaya transportasi. Jika selisih antara tambahan biaya transpor sama dengan keuntungan-keuntungan biaya non transport yang dapat diperoleh pada suatu tempat alternatif, maka tempat tersebut berada pada isodapan kritis. Jika tempat tersebut terletak di dalam lingkaran kritis, maka tempat tersebut merupakan lokasi produksi yang lebih efisien daripada titik biaya minimum.

Secara teoritis, menurut Weber (1929) tempat optimal (optimal site) adalah tempat di mana biaya-biaya transportasi bagi kombinasi keluaran total adalah yang paling rendah. Dalam praktek, hal ini berarti bahwa yang terbesar di antara ketiga perusahaan tersebut akan menarik perusahaan-perusahaan yang lebih kecil ke suatu lokasi di dalam segmen yang lebih dekat kepada titik biaya transpor minimumnya perusahaan terbesar tersebut. Kerena perubahan posisi lokasi yang harus dilakukan oleh perusahaan terbesar adalah lebih kecil kemungkinannya dari pada yang harus dilakukan oleh perusahaan-perusahaan kecil lainnya, maka deviasi total dari titik-titik biaya transpor minimum dapat dikatakan kecil saja kemungkinannya.

(53)

 

 

 

 

ini pengaruh permintaan tidak diperlihatkan. Lokasi dengan biaya minimal tersebut mungkin berorientasi pada tersedianya tenaga kerja atau transportasi ataupun ditentukan oleh keuntungan-keuntungan yang ditimbulkan oleh aglomerasi. Kekuatan aglomerasi terdiri atas minimum besarnya pabrik yang efisien dan keuntungan-keuntungan eksternal. Kekuatan-kekuatan aglomerasi atau terjadinya konsentrasi industri-industri dan kegiatan-kegiatan lainnya itu harus dipahami sepenuhnya untuk dapat menganalisis perkembangan wilayah dan khususnya pertumbuhan daerah urban. Kedua, Weber merupakan pencetus teori lokasi yang dapat digunakan sebagai teori umum, digunakan untuk pemilihan lokasi industri, meskipun pendekatannya masih secara deskriptif dan kasar, tetapi ia telah menjelaskan terjadinya evolusi ekonomi tata ruang dalam arti munculnya strata yang sukses seperti pambangunan industri (pusat-pusat kegiatan ekonomi), terjadinya urbanisasi dan struktur masyarakat kota dianggap mempunyai kedudukan yang lebih tinggi dari strata pertanian.

(54)

 

 

 

 

keuntungan lokalisasi. Aspek ini mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam analisis aglomerasi. Keuntungan lokalisasi yaitu terkonsentrasinya perusahaan-perusahaan yang termasuk dalam industri yang sejenis pada suatu lokasi tunggal tertentu akan menimbulkan keuntungan-keuntungan yang dinikmati oleh semua perusahaan tersebut. Sebagai ilustrasi yaitu beberapa buah industri tekstil akan memperoleh manfaat berupa biaya listrik yang lebih rendah jika mereka bersama-sama membangun sebuah pabrik pembangkit tenaga listrik dari pada masing-masing mendirikan instalasi pembangkit tenaga berkapasitas listrik besar yang berkapasitas kecil secara sendiri-sendiri.

(55)

 

 

 

 

Analisis aglomerasi di atas menjelaskan pengelompokan kegiatan-kegiatan ekonomi pada suatu lokasi tertentu, tetapi tidak menekankan pada kecenderungan pertumbuhan regional yang berkesinambungan sebagai akibat dari pengelompokan tersebut. Proses pengelompokan kegiatan-kegiatan selama suatu jangka waktu dijelaskan dalam analisis polarisasi, sedangkan aglomerasi itu dapat diinterpretasikan sebagai akibat dari proses polarisasi (Adisasmita, 2005).

2.5. Perkembangan, kebijakan dan Strategi pengembangan Industri di Indonesia

Pada banyak kasus di berbagai negara, manufaktur/industri telah menjadi kontributor utama bagi pertumbuhan perekonomian nasional. Hal ini sejalan

dengan hipotesa Kaldor yang mengatakan bahwa manufaktur (industri) merupakan mesin pertumbuhan ekonomi wilayah (Priyarsono, 2011). Meski pada

(56)

 

 

 

 

kesempatan yang lebih baik untuk mendorong pertumbuhan ekonomi melalui pengembangan industri. Walaupun terdapat persoalan kompleks yang menyebabkan proses industrialisasi pada banyak kasus mengalami hambatan/stagnasi, namun penulis percaya bahwa industri masih tetap dapat diharapkan menjadi motor pertumbuhan ekonomi banyak negara.

Proses industrialisasi di Indonesia ditengarai mulai berkembang pada awal tahun 1990-an yang ditandai dengan meningkatnya peran sektor industri dalam struktur perekonomian nasional. Meski didalam beberapa penelitian, seperti halnya yang dilakukan oleh Priyarsono (2011) diungkapkan bahwa berdasarkan data ekonomi 2003-2008 ada indikasi saat Indonesia mengalami proses de-industrialisasi, namun temuan ini menurut hemat penulis dapat menjadi peringatan dan sekaligus motivasi bagi pemerintah untuk dapat mendorong lebih kuat pertumbuhan sektor industri, dengan pertimbangan bahwa selama ini sektor ini telah memberikan kontribusi yang cukup signifikan pada pertumbuhan perekonomian nasional, penyerapan tenaga kerja dan berperan dalam mereduksi angka kemiskinan. Walaupun dalam beberapa studi ditemukan bahwa ada gejala deindustrialisasi namun secara nyata dalam struktur perekonomian nasional, sektor industri masih memiliki kontribusi yang cukup signifikan dan masih dapat diharapkan menjadi salahsatu motor utama pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

(57)

 

 

 

 

stagnasi atau bahkan penurunan kinerja sehingga pada potret perekonomian tercermin adanya proses de-industrialisasi merupakan peringatan serius agar pemerintah memberikan perhatian khusus dan mendesain suatu kebijakan yang dapat mendukung kinerja dan pertumbuhan industri. Dengan melihat pentingnya kontribusi sektor industri yang ada pada saat ini, sudah selayaknya pemerintah melakukan upaya dan mendesain kebijakan yang dapat mempertahankan pertumbuhan industri di Indonesia agar kinerja perekonomian nasional tetap positif. Dalam beberapa kebijakan dan action plan pemerintah dalam rangka menciptakan iklim kondusif bagi investasi secara teori akan menjadi akselerator bagi berkembangnya aktifitas Industri, dan pada gilirannya mendorong pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

Jika ke depan Pemerintah Indonesia menjaga konsistensi kebijakan pro industri, niscaya proses industrialisasi yang tengah terjadi di Indonesia dapat terus berjalan dan momentum pertumbuhan industri di tanah air dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, menekan angka kemiskinan dan menyerap tenaga kerja.

(58)

 

 

 

 

masyarakat Indonesia dikuasai sepenuhnya oleh Negara. Pada masa orde lama inilah soekarno meletakkan dasar dari pembangunan nasional yang sangat fundamental yaitu membangun karakter nasional (national character building) hal ini mutlak dilakukan karena meskipun Indonesia sudah merdeka tetapi secara perekonomian bangsa belum bisa mandiri karena banyak sector usaha masih dikuasai oleh perusahaan belanda. Dalam rangka mewujudkan ekonomi bangsa yang mandiri dan mewujudkan klaim Negara terhadap kesejahteraan umum inilah yang kemudian pemerintah melakukan nasionalisasi perusahaan asing yang kemudian perusahaan-perusahaan inilah yang saat ini dikenal sebagai BUMN.

Figur

Tabel 1. PDRB (adh berlaku) Menurut Lapangan Usaha        Propinsi Jawa Barat Tahun 2010 (persen)
Tabel 1 PDRB adh berlaku Menurut Lapangan Usaha Propinsi Jawa Barat Tahun 2010 persen . View in document p.25
Gambar 1. Arus Perputaran Uang dalam Perekonomian  
Gambar 1 Arus Perputaran Uang dalam Perekonomian . View in document p.75
Gambar 3.
Gambar 3 . View in document p.90
Gambar 4. Tahapan Analisis Dampak Investasi Infrastruktur Transportasi
Gambar 4 Tahapan Analisis Dampak Investasi Infrastruktur Transportasi . View in document p.91
Gambar 5. Skema Sederhana SNSE
Gambar 5 Skema Sederhana SNSE . View in document p.98
Tabel 3. Kerangka Data Matriks SNSE
Tabel 3 Kerangka Data Matriks SNSE . View in document p.108
Gambar 6. Proses Pengganda Antara Neraca Endogen SNSE
Gambar 6 Proses Pengganda Antara Neraca Endogen SNSE . View in document p.114
Tabel IO, Susenas,
Tabel IO Susenas . View in document p.122
Gambar 9. Dampak langsung dari jalur (i, x, y, j)
Gambar 9 Dampak langsung dari jalur i x y j . View in document p.130
Tabel 5. Perkembangan Panjang Jalan Menurut Tingkat Kewenangan
Tabel 5 Perkembangan Panjang Jalan Menurut Tingkat Kewenangan . View in document p.138
Tabel 6. Perkembangan Kondisi Jalan Menurut Kualitas dan Jenis
Tabel 6 Perkembangan Kondisi Jalan Menurut Kualitas dan Jenis . View in document p.139
Tabel 7. Perkembangan Pangsa PDRB Provinsi Jawa Barat, Berdasarkan Sektor Tahun 2007-2010  
Tabel 7 Perkembangan Pangsa PDRB Provinsi Jawa Barat Berdasarkan Sektor Tahun 2007 2010 . View in document p.142
Tabel 8. PDRB Harga Berlaku dan Rata-Rata Pertumbuhan PDRB
Tabel 8 PDRB Harga Berlaku dan Rata Rata Pertumbuhan PDRB . View in document p.144
Tabel 9. Penduduk Berumur 15 Tahun Keatas Menurut Jenis Kegiatan Utama,
Tabel 9 Penduduk Berumur 15 Tahun Keatas Menurut Jenis Kegiatan Utama . View in document p.145
Tabel 11. Perkembangan Pangsa penyerapan tenaga Kerja Menurut Sektor
Tabel 11 Perkembangan Pangsa penyerapan tenaga Kerja Menurut Sektor . View in document p.147
Tabel 12.  Elastisitas Tenaga Kerja Jawa Barat
Tabel 12 Elastisitas Tenaga Kerja Jawa Barat . View in document p.150
Tabel 14.  Struktur Rumah tangga Jawa Barat, Tahun 2010
Tabel 14 Struktur Rumah tangga Jawa Barat Tahun 2010 . View in document p.154
Tabel 16.Pangsa Pendapatan dan Pengeluaran Terhadap Total Pendapatan Menurut Golongan Rumah T
Tabel 16 Pangsa Pendapatan dan Pengeluaran Terhadap Total Pendapatan Menurut Golongan Rumah T. View in document p.159
Tabel 19.  Nilai Pengganda Global yang Diterima Sektor Produksi
Tabel 19 Nilai Pengganda Global yang Diterima Sektor Produksi . View in document p.170
Tabel 20 . Nilai Pengganda Global yang Diterima Rumah Tangga
Tabel 20 Nilai Pengganda Global yang Diterima Rumah Tangga . View in document p.174
Tabel 21.
Tabel 21 . View in document p.178
Tabel 22.  Dampak Investasi Infrastruktur Transportasi terhadap Penyerapan Tenaga Kerja Menurut Sektor di Provinsi Jawa Barat Tahun 2010
Tabel 22 Dampak Investasi Infrastruktur Transportasi terhadap Penyerapan Tenaga Kerja Menurut Sektor di Provinsi Jawa Barat Tahun 2010 . View in document p.181
Gambar 12. Transmisi yang Diakibatkan dari Investasi Infrastruktur    Transportasi
Gambar 12 Transmisi yang Diakibatkan dari Investasi Infrastruktur Transportasi . View in document p.182

Referensi

Memperbarui...

Lainnya : Dampak investasi infrastruktur transportasi terhadap penyerapan tenaga kerja sektor ekonomi dan distribusi pendapatan masyarakat di Provinsi Jawa Barat Latar Belakang P E N D A H U L U A N Perumusan Masalah P E N D A H U L U A N Tujuan Penelitian Kegunaan Penelitian Ruang Lingkup Penelitian P E N D A H U L U A N Teori Pertumbuhan Ekonomi TINJAUAN PUSTAKA Teori Kutub Pertumbuhan TINJAUAN PUSTAKA Keterhubungan dan Ketergantungan Antar Wilayah Teori Lokasi Optimum dan Aglomerasi Industri Perkembangan, kebijakan dan Strategi pengembangan Industri di Dampak Investasi Infrastruktur Transportasi Periode awal 1800-1970: Teori Lokasi Periode awal 1970an – 1980an: Modelling Wilayah dan perkotaan Teori Distribusi Pendapatan TINJAUAN PUSTAKA Studi-Studi Terdahulu TINJAUAN PUSTAKA Kerangka Pemikiran KERANGKA PEMIKIRAN TEORITIS Bentuk dan Arti Kerangka SNSE Kegunaan SNSE Model SNSE Asumsi dan Keterbatasan Model Evaluasi Ekonomi Proyek Transportasi Dampak Ekonomi Infrastruktur Transportasi Kerangka Sederhana SNSE METODOLOGI PENELITIAN Konstruksi SNSE Jawa Barat Tahapan Penyusunan SNSE Provinsi Jawa Barat Pendefinisian Klasifikasi Aplikasi Model SNSE Jawa Barat Analisis Struktur PDRB, dan Struktur pendapatan serta Analisis Dampak Multiplier Analisis Dekomposisi Analisis Jalur Structural Path Analysis Metode Simulasi Analisis Tenaga Kerja Analisis Distribusi pendapatan: Dekomposisi Matrik Income Multiplier Peran Infrastruktur dalam Perekonomian Kondisi Infrastruktur Transportasi Jalan Struktur dan Kinerja Perekonomian Infrastruktur dan Kinerja perekonomian