Perlindungan Konsumen Dalam Melakukan Kredit Kendaraan Bermortor Melalui Lembaga Leasing Menurut Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999

108  39  Download (4)

Teks penuh

(1)

PERLINDUNGAN KONSUMEN DALAM

MELAKUKANKREDIT KENDARAAN BERMOTOR

MELALUI LEMBAGA LEASING MENURUT

UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1999

SKRIPSI

Diajukan untuk melengkapi Tugas-Tugas Dan Memenuhi Syarat-Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Hukum

Oleh:

MHD.HARRYADI.SIREGAR NIM : 060200224 Departemen Hukum Ekonomi

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

(2)

Perlindungan Konsumen Dalam Melakukan Kredit Kendarann Bermotor Melalui Lembaga Leasing Menurut Undang-Undang No.8 Tahun 1999

Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-Tugas dan Memenuhi Syarat-Syarat untuk Mencapai Gelar Sarjana Hukum

Oleh:

MHD.HARRYADI.SIREGAR 060200224

Departemen Hukum Ekonomi

Disetujui Oleh:

Ketua Departemen Hukum Ekonomi

Windha,SH.M.Hum NIP.197501122005012002

Pembimbing I Pembimbing II

DR.T.Keizerina Devi A,CN.MS Ramli Siregar,SH,M.Hum NIP. 197002012002122001 NIP.197501122005012002

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

(3)

KATA PENGANTAR

Puji syukur Penulis ucapkan kepada ALLAH SWT,karena anugerah dan segala kebaikanNya maka penulis dapat menyelesaikan skripsi ini sebagai tugas akhir untuk menyelesaikan skripsi ini sebagai tugas akhir untuk menyelesaikan perkuliahaan di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

Adapun yang menjadi judul skripsi ini adalah “Perlindungan Konsumen Dalam Melakukan Kredit Kendaraan Bermortor Melalui Lembaga Leasing Menurut Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999” skripsi ini membahas tentang bagaiamana bentuk perlindungan konsumen dalam perjanjian kredit kendaraan bermotor melaui lembaga leasing sesuai dengan Undang-Undang No 8 Tahun 1999.

Namun Penulis sadari masih sangat banyak kekurangan dan keterbatasan dalam penulisan skripsi ini baik dari isi maupun penulisannya, tetapi terlepas dari itu semua kiranya skripsi ini dapat menambah pengetahuan bagi para pembacanya.

Dalam kesempatan ini juga, Penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada:

1. Prof.Dr.dr. Syahril Pasaribu DTM&H, M.Sc.(CTM),Sp.A(AK), sebagai Rektor Universitas Sumatera Utara

(4)

3. Ibu Windha,SH.,M.H., sebagai Ketua Departemen Hukum Ekonomi dan Dosen Hukum Ekonomi yang selalu memberikan bimbingan dan dukungan dalam proses penyelesaian skripsi ini.

4. Bapak Ramli,S.H.,M.Hum., sebagai sekertaris jurusan Departemen Hukum Ekonomi dan Dosen Pembimbing II yang telah memberikan bimbingan,bantuan,ilmu,serta masukan dalam penulisan skripsi ini.

5. Ibu DR.T.Keizerina Devi A,CN.MS, sebagai dosen pembimbing I yang telah meluangkan waktu untuk memberikan masukan dan bimbingan dalam penulisan skripsi ini.

6. Untuk semua dosen dan staf pengajar di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan perkuliahaan,khususnya untuk pada dosen jurusan Hukum Ekonomi.

7. Untuk kedua orang tuaku tercinta,ayah dan ibu yang tak pernah lelah dan bosan memberikan dukungan semangat,doa dan kasih sayang dalam penulisan skripsi ini.

8. Untuk semua teman-teman yang selalu memberikan dukungan dalam penulisan skripsi ini

Akhir kata penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini,dan semoga skripsi ini berguna bagi para pembaca sekalian.

Medan, Januari 2014

(5)

DAFTAR ISI

KATAPENGANTAR...i

DAFTAR ISI...iii

ABSTRAKSI...v

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang...1

B. Perumusan Masalah...8

C. Tujuan dan Manfaat Penulisan...8

D. Keaslian Penulisan...9

E. Tinjauan Pustaka...10

F. Metode Penulisan...13

G. Sistematika Penulisan...13

BAB II PENGERTIAN DAN BENTUK PERJANJIAN DI INDONESIA A. Pengertian Perjanjian...16

B. Asas-asas dalam Hukum Perjanjian...18

C. Syarat sahnya perjanjian...21

D. Jenis-jenis Perjanjian...25

BAB III PERJANJIAN LEASING DI PT OTO MULTIARTHA FINANCE CIKOKOL 1. Sejarah Singkat PT. OTO MULTIARTHA FINANCE...41

2. Struktur Organisasi...44

3. Leasing 1. Pengertian Leasing...45

2. Pihak-pihak YangTerlibat...46

3. Jenis-jenis Lesing...47

(6)

2. Prosedur Terjadinya Perjanjian Leasing...60

3. Pihak-pihak dalam Perjanjian...62

E. Perlindungan Hukum konsumen 1. Pengertian Perlindungan Konsumen...64

2. Pengertian dan Hak serta Kewajiban Konsumen...70

BAB IV PERLINDUNGAN HUKUM KONSUMEN MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1999 DALAM PERJANJIAN LEASING PADA PT.OTO MULTIARTHA FINANCE CIKOKOL A. Hubungan Hukum Para Pihak Dalam Perjanjian Leasing Pada PT. Oto Multiartha Finance Cikokol 1. Para Pihak dan Hubungan Hukum Para Pihak dalam Leasing...78

2. Hak dan Kewajiban Para Pihak dalam Leasing...80

3. Putusnya Perjanjian Leasing...82

a. Putusnya Kontrak Leasing Karena Konsensus...83

b. Putusnya Kontrak Leasing Karena Wanprestasi...85

c. Putusnya Kontrak Leasing Karena Force Mejeure...93

B. Perlindungan Konsumen Menurut Pasal 18 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Pada Perjanjian Kredit Leasing PT.Oto Multiara Finance...94

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan...96

B. Saran...99

(7)

ABSTRAKSI

Perjanjian leasing adalah sebuah badan usaha yang diluar bank dan lembaga keuangan bukan bank yang dilakukan oleh lembaga pembiayaan. Adapun yang menjadi alas hukum dari leasing yaitu Surat Keputusan Bersama Menteri Keuangan, Perindustrian, dan Perdagangan Nomor: KEP-122/MK/IV/2/1974, Nomor: 32/M/SK/2/1974 dan Nomor: 30/KPB/I/1974 tentang Perizinan Usaha Leasing. Dimana leasing ini dapat membantu masyarakat untuk mendapatkan sebuah kendaraan dengan cara yang sangat mudah dan persyaratan administrasi yang tidak terlalu rumit. Akan tetapi lembaga leasing ini dalam prakeknya menggunakan bentukperjanjian baku yang dimana dalam perjanjian tersebut pihak pelaku usaha/lessor telah menyiapkan perjanjiannya, sedangkan pihak lessee hanya tinggal medatanginya saja.

Posisi konsumen dalam hal ini sangatlah lemah apabila mereka tidak mensetujui syarat-syarat yang diajukan maka mereka harus meninggalkan atau tidak mengadakan perjanjian dengan pelaku usaha tersebut (take at or leave it contract). Masalah yang diulas dalam penulisan ini adalah tentang analisis perjanjian leasing sebagai bentuk baku dari aspek hukum perlindungan konsumen pada PT. Oto Multiartha Finance Cikokol,Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah Deskriptif analisis untuk mendapatkan data primer dengan merujuk pada bahan perjanjian leasing kendaraan bermotor PT. Oto Multiartha Finance Cikokol, dan tinjauan kepustakaan dengan merujuk kepada bahan-bahan/sumber bacaan yang terkait dengan perjanjian, wanprestasi, jaminan, resiko dan asuransi. Hasil dari penulisan ini menunjukkan bahwa Pelaku Usaha sebagai pihak yang membuat perjanjian menggunakan klausula-klausula baku yang cenderung melepaskan, mengalihkan atau mengurangi tanggung jawabnya yang menurut hukum positif, yaitu Undang-Undang Perlindungan Konsumen, seharusnya menjadi tanggung jawabnya.

(8)

BAB I PENDAHULUAN

H. Latar Belakang Masalah

Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama pada saat dahulu untuk mendapatkan sebuah mobil sangatlah mahal dan hal ini dikarena beberapa faktor. Tetepi untuk saat ini mobil bukan lagi barang yang sanagat mahal, hal ini dikarena adanya kemudahan bagi masyarakat untuk memperoleh dengan cara yang sangat mudah yaitu dengan cara leasing atau sewa guna usaha

Leasing badan usaha di luar Bank dan Lembaga Keuangan Bukan Bank yang khusus didirikan untuk melakukan kegiatan yang termasuk dalam bidang usaha Lembaga Pembiayaan.

Kegiatan Perusahaan Pembiayaan merupakan sebagian kegiatan yang dilakukan oleh lembaga pembiayaan. Dalam pasal 2 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 84/PMK.012/2006 tentang Perusahaan Pembiayaan, disebutkan bahwa bentuk kegiatan usaha dari Perusahaan Pembiayaan antara lain:

1. Sewa Guna Usaha; 2. Anjak Piutang;

3. Usaha Kartu Kredit; dan/atau 4. Pembiayaan Konsumen.

Menurut terjemahaan bahasa Indonesia, Lembaga pembiayaan leasing

(9)

berorientasi pada pemberian atau peminjaman sejumlah modal kerja dalam bentuk alat-alat produksi. lembaga pembiayaan Leasing yang dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Keuangan, Menteri Perindustrian dan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor.Kep.122/MK/IV/2/1974, 2 Nomor.32/M/SK/2/1974, 30/Kpb/I/1974 tertanggal 7 Februari 1974, tentang Perizinan Usaha Leasing.

Salah satu leasing yang cukup terkenal di Indonesia adalah PT Oto Multiartha adalah salah satu perusahaan pembiayaan otomotif independen yang terkemuka. Oto Multiartha didirikan di Jakarta dengan nama PT Manunggal Multi Finance tanggal 28 Maret 1994. Bulan September 1994 perusahaan mengubah namanya menjadi PT Oto Multiartha yang mencerminkan fokus usaha khusus pada pembiayaan mobil. Tahun 1996 Sumitomo Corporation, Jepang bergabung sebagai pemegang saham baru. Selanjutnya sebagai wujud komitmen sejak September 1998 Sumitomo Corporation menjadi pemegang saham utama hingga sekarang.

(10)

Selain itu juga Oto Multiartha telah bekerjasama untuk penerimaan pembayaran angsuran dengan bank-bank berjaringan nasional dan PT Pos Indonesia, sehingga para Pelanggan semakin mudah dan nyaman membayar angsurannya. Maret 2008 PEFINDO memberikan peringkat idAA- (Double A Minus; Stable Outlook) untuk Perseroan dan Obligasi Oto Multiartha.”1

Dalam memberikan pelayanan terhadap konsumen, produsen mempergunakan perjanjian baku (perjanjian standar), khususnya untuk melayani konsumen dalam jumlah yang banyak mengenai barang dan/atau jasa sejenis. Sebagaimana diketahui bahwa munculnya hukum perjanjian dalam lalu lintas hukum, dilandasi oleh kebutuhan akan pelayanan yang efektif dan efisien terhadap kegiatan yang bersifat transaksional.

Dalam Pasal 1313 KUHPerdata disebutkan bahwa:

”Perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih”.

Selanjutnya dalam Pasal 1320 KUHPerdata disebutkan bahwa untuk sahnya suatu perjanjian, diperlukan 4 syarat, yaitu adanya sepakat mereka yang mengikatkan dirinya, kecakapan untuk membuat perikatan, hal tertentu dan suatu sebab yang halal. Dengan memenuhi persyaratan ini, masyarakat dapat membuat perjanjian apa saja. Pasal 1320 KUHPerdata disebut sebagai ketentuan yang mengatur asas konsesualisme, yaitu perjanjian adalah sah apabila ada kata sepakat mengenai hal-hal yang pokok dari perjanjian.

      

(11)

Hal ini berkaitan dengan asas kebebasan berkontrak dalam membuat semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai Undang-Undang bagi mereka yang membuatnya, yang disimpulkan dari Pasal 1338 ayat (1) KUHPerdata, sehingga perjanjian harus dibuat dengan memenuhi ketentuan Undang-Undang, maka perjanjian tersebut mengikat para pihak yang kemudian menimbulkan hak dan kewajiban di antara pihak-pihak tersebut.

Berdasarkan Pasal 1338 ayat (3) KUHPerdata, salah satu syarat yang harus dipenuhi dalam menerapkan asas kebebasan berkontrak, adalah itikad baik dari pihak yang membuat perjanjian. “Itikad baik dalam tahap pelaksanaan perjanjian adalah kepatutan, yaitu suatu penilaian baik terhadap tindak tanduk suatu pihak dalam melaksanakan apa yang akan diperjanjikan.”2

Dengan demikian asas itikad baik mengandung pengertian, “bahwa kebebasan suatu pihak dalam membuat perjanjian tidak dapat diwujudkan sekehendaknya tetapi dibatasi oleh itikad baiknya.”3 Umumnya lembaga sewa

guna usaha menggunakan bentuk perjanjian baku yang mengikat para pihak. Klausula-klausula dalam perjanjian tersebut telah dibuat sebelumnya oleh salah satu pihak tanpa melibatkan pihak yang lain, dan pihak yang lain tersebut tinggal menandatangani saja perjanjian yang sudah disediakan.

Penyewa guna atau konsumen menerima dan memenuhi klausula-klausula yang telah dipersiapkan dengan risiko tidak akan memperoleh barang yang menjadi obyek perjanjian, apabila ia tidak menandatangani perjanjian.

      

(12)

Lembaga sewa guna usaha merupakan lembaga hukum perjanjian yang perkembangannya didasarkan pada asas kebebasan berkontrak sebagai asas pokok dari hukum perjanjian, yang diatur dalam Pasal 1338 Juncto Pasal 1320 KUH Perdata.

Secara harfiah lembaga sewa guna dilandasi oleh lembaga jual beli dan sewa menyewa. Secara khusus perundang-undangan yang melandasi jual-beli tunai dan sewa menyewa adalah sama. Keduanya memiliki dasar hukum yang diatur dalam KUHPerdata dan dikelompokkan sebagai perjanjian bernama, sementara sewa guna usaha ini termasuk dalam perjanjian tidak bernama yang timbul dalam praktek.

Perjanjian tidak bernama, adalah perjanjian-perjanjian yang belum ada pengaturannya secara khusus di dalam Undang-Undang, karena tidak diatur dalam KUHPerdata dan Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD). Perjanjian-perjanjian yang tergolong dalam perjanjian perjanjian tidak bernama itu berdasarkan hukum praktek sehari-hari dan putusan pengadilan (yurisprudensi).

(13)

Undang-Undang akan memerlukan waktu yang relatif lama, karena harus melalui perintah Hakim. Untuk menghindari risiko tersebut, sering pihak penjual menempuh jalan pintas dengan penarikan barang obyek sewa guna (otomotif) secara langsung.

Sepeti halnya suatu perjanjian antara pelaku usaha yang pada umumnya lebih kuat, dihadapkan dengan pihak konsumen yang cenderung mempunyai posisi lemah, bagi pihak yang lemah hanya terdapat dua pilihan, yaitu apabila mereka membutuhkan jasa atau barang yang ditawarkan kepadanya, maka ia harus menyetujui semua syarat-syarat yang diajukan kepadanya, tanpa menghiraukan apakah konsumen mengetahui dan atau memahami urusan perjanjian tersebut atau tidak, dan sebaliknya, apabila mereka tidak menyetujui syarat-syarat yang diajukan kepadanya, maka mereka harus meninggalkan atau tidak mengadakan perjanjian dengan pelaku usaha tersebut (take it or leave it contract).

“Dalam perjanjian baku sering ditemukan pencantuman klausula-klausula yang antara lain mengatur cara, penyelesaian sengketa, dan klausula-klausula eksonerasi, yaitu klausula yang mengandung kondisi membatasi atau bahkan menghapus sama sekali tanggung jawab yang semestinya dibebankan kepada pihak pelaku usaha.” 4

Walaupun telah ada tentang perijinan kegiatan sewa beli dan jual beli angsuran dan sewa. Namun pengaturan lembaga sewa guna tersebut tidak menjelaskan secara rinci, tentang kedudukan

pembeli/penyewa-guna-      

(14)

konsumen dalam lembaga sewa beli. Keadaan yang demikian telah mendorong instansi terkait untuk melindungi konsumen terhadap keadaan-keadaan yang tidak seimbang yang diciptakan oleh pelaku usaha.

Dengan memberikan perlindungan hukum kepada konsumen maka lahirlah Undang Perlindungan Konsumen (UUPK), yaitu Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, yang diundangkan pada tanggal 20 April 1999 yang efektif mulai berlaku sejak tanggal 20 April 2000, yang dapat membatasi kebebasan penerapan klausula baku, sehingga dapat tercipta suatu perjanjian baku yang didasari oleh asas kebebasan berkontrak yang tidak bertentangan dengan Pasal 18 Undang-Undang Perlindungan Konsumen Pasal 1 ayat (10) Undang-Undang-Undang-Undang Perlindungan Konsumen menyebutkan bahwa:

“Klausula Baku adalah setiap aturan atau ketentuan dan syarat-syarat yang telah dipersiapkan dan ditetapkan terlebih dahulu secara sepihak oleh pelaku usaha yang dituangkan dalam suatu dokumen dan/atau perjanjian yang mengikat dan wajib dipenuhi oleh konsumen”

Berdasarkan hal diatas sebagaimana diuraikan dalam latar belakang penulisan tersebut, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang

berjudul: “PERLINDUNGAN KONSUMEN DALAM MELAKUKAN

(15)

I. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas,dirumuskan masalah sebagai Berikut:

1. Bagaimanakah bentuk Perjanjian yang ada diindonesia ?

2. Bagaimanakah Perjanjian Leasing di PT.OTO MULTIARA FINANCE ? 3. Bagaimanakah Hukum Perlindungan Konsumen Menurut Undang-Undang

No.8 Tahun 1999 Dalam Perjanjian Leasing Pada PT.OTO MULTIARA FINANCE?

J. Tujuan dan Manfaat Penulisan

1. Tujuan Penelitian

a. Untuk mengetahui dan memahami Sistem Perjanjian yang ada di Indonesia

b. Untuk mengetahui dan memahami Perjanjian Leasing di PT.OTO MULTIARA FINANCE

c. Untuk mengetahui dan memahami Perlindungan Hukum Konsumen dalam Perjanjian Leasing pada PT.OTO MULTIARA FINANCE menurut Undang-Undang No.8 Tahun 1999

2. Manfaat Penulisan Adapun kegunaan penulisan ini mencakup dua kegunaan, secara teoritis maupun secara praktis, yaitu

(16)

Hasil penulisan ini dapat diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih baik dalam rangka pengembangan lebih lanjut dalam hokum perjanjian khususnya leasing dan Perlindungan Konsumen. b. Kegunaan praktis

Hasil penulisan ini diharapkan dapat memberikan tambahan dari penulis maupun pihak-pihak yang membacanya mengenai berbagai macam masalah dalam hukum perjanjian khususnya sewa guna otomotif dan perlindungan konsumen dan diharapkan sebagai bahan pertimbangan dalam menerapkan kebijaksanaan hukum melalui pembentukan hukum yuridisprudensi.

K. Keaslian Penulisan

(17)

L. Tinjauan Pustaka

“Istilah leasing sendiri berasal dari Bahasa Inggris yaitu “To Lease”

yang berarti “menyewakan”. Istialh ini berbeda dengan istilah rent/rental yang masing-masing mempunyai hakikat yang tidak sama.”5

Eguipment Leasing Association di London memberikan definisi leasing

sebagai berikut:

Leasing adalah perjanjian antar Lessor dan Lessee untuk menyewa suatu jenis barang modal tertentu yang dipilih/ditentukan oleh lesse. Hak pemilih atas barang tersebut ada pada Lessee hanya menggunakan barang modal tersebur berdasarkan pembayran uang sewa yang telah ditentukan dalam jangka waktu tertentu.”6

Perjanjian dalam bahasa Belanda disebut dengan (Overeenkomst) dan hukum perjanjian adalah (Overeenkoms-tenrecht). Berkenaan dengan istilah hukum perjanjian (sebagai bagian atau isi dari hukum perikatan) terdapat beberapa istilah/pendapat, dalam Kitab Undang Hukum Perdata Buku III, Subekti menggunakan istilah kontrak atau persetujuan. Akan tetapi dalam buku Pokok-Pokok Hukum Perdata, Subekti ”Menggunakan istilah perjanjian sewa menyewa” 7 karena kata perbuatan mencakup juga semua perbuatan yang tanpa kata sepakat. “Pengertian perbuatan termasuk juga tindakan mengurus kepentingan orang lain dan perbuatan melawan hukum.” 8 Sudikno

      

5 Achmad Anwari, Leasing di Indonesia, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1986, hal 9

6 Arif Djohan Tunggal, Amin Widjaja Tunggal Akuntansi Leasing Guna Usaha, Rineke Cipta, Jakarta 1994 hal 3

7 C.S.T. Kansil, Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia, Cetakan Kesebelas, Balai Pustaka, Jakarta, 2000, hal. 204

(18)

Mertokusumo juga memberi pengertian perjanjian sebagai “hubungan hukum berdasarkan kata sepakat untuk menimbulkan akibat hukum”.9

Wirjono Prajodikiro memberikan pengertian tersendiri mengenai perjanjian yaitu “suatu hubungan hukum mengenai harta benda kekayaan antara dua pihak, dalam mana satu pihak berjanji atau dianggap berjanji untuk melaksanakan sesuatu hal yang untuk tidak melakukan sesuatu hal, sedangkan pihak lain menuntu pelaksanaan perjanjian itu.”10

Bagi para ahli hukum pada umumnya sepakat bahwa arti konsumen adalah, pemakai terakhir dari benda dan jasa yang diserahkan kepada mereka oleh pengusaha. Dalam buku A.Z. Nasution yang berjudul aspek-aspek hukum masalah perlindungan konsumen, istilah konsumen berasal dari bahasa

consumer (Inggris- Amerika) atau consument (Belanda). “Secara harfiah arti kata consumer adalah lawan dari produsen, setiap orang yang menggunakan barang.”11“Pengertian konsumen dalam arti umum adalah pemakai, pengguna barang dan/atau jasa untuk tujuan tertentu.”12

Pengertian Perlindungan Konsumen

“Perlindungan konsumen merupakan masalah kepentingan manusia, oleh karenanya menjadi harapan bagi semua bangsa didunia untuk dapat mewujudkanya. Mewujudkan perlindungan konsumen adalah mewujudkan

      

9 Sudikno Mertokusumo, Bunga Rampai Ilmu Hukum, Liberty, Yogyakarta, 1985, hal. 117.

(19)

hubungan berbagai dimensi yang satu sama lain mempunyai keterkaitan dan saling ketergantungan antara konsumen, pelakuusaha, dan pemerintah.”13

Pengertian Pelaku Usaha

Pelaku usaha secara garis besar dibagi menjadi 2 bagian, yaitu :

a. Produsen

Produsen tidak punya hubungan langsung dengan para konsumen, ini

dikarenakan produsen hanya bertugas membuat makanan yang akan dijual

oleh penjual.

b. Penjual

Penjual disini mempunyai hubungan langsung dengan konsumen, karena

setiap harinya penjualah yang berhadapan langsung dengan para konsumen.

Disamping itu ada para kalangan ahli ekonomi (ikatan sarjana ekonomi

indonesia ) yang mengatakan bahwa pelaku usaha itu terdiri dari 3 kelompok

besar, yaitu :

1) Kelompok penyedia dana atau biasa disebut dengan investor. Investor disini untuk memenuhi kebutuhan pelaku usaha atau orang perorangan

(konsumen).

Contoh : Bank, koperasi atau lembaga penyedia dana lainya.

2) Kelompok pembuat barang (produsen) seperti pabrik atau industri rumah tangga.

3) Kelompok pengedar barang, seperti warung, PKL, toko dll.”14

      

13 Husni Syawali dan Neni S M, Hukum Perlindungan Konsumen,Mandar Maju, Bandung, 2000, hal 7

(20)

M.METODE PENULISAN

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Deskriptif Analisis, yaitu berusaha berusaha mendeskripsikan, membahas, mengkritik, menjelaskan dan memaparkan dengan sejelas-sejelasnya mengenai permasalahan yang di teliti dari data primer dan data sekunder.

1. Sumber Data Penelitian

a. Data primer merupakan analisa dari kontrak perjanjian dengan nomor perjanjian 10-026-10-04596.

b. Sumber Data Sekunder diperoleh dari data yang terdiri dari bahan hukum yang didapat dengan melalukan studi kepustakaan

N. Sistematika Penulisan

Dalam sistematika penyusunanterdiri dari lima bab, dimana satu sama lain saling berkaitan, dan di setiap bab terdiri dari sub-sub bab. Untuk mempermudah pemahaman dalam pembahasan ini, sistematika penulisannya akan dibuat sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN

(21)

BAB II PENGERTIAN DAN BENTUK PERJANJIAN

Di dalam bab ini akan menyajikan Tinjauan Hukum tentang Perjanjian, yang di dalam sub babnya membahas tentang Pengertian Perjanjian, Asas-asas Perjanjian, Syarat-syarat Perjanjian, Jenis-jenis Perjanjian.

BAB III PERJANJIAN LEASING DI PT OTO MULTIARTHA FINANCE CIKOKOL

Di dalam bab ini akan menyajikan Perjanjian leasing di PT Oto Multiartha Finance Cikokol yang sub babnya membahasa tentang Sejarah berdirinya, Struktur Organisani, Pengertian dan Jenis-jenis Leasing, Pengaturan Leasing di Indonesia yang terdiri dari Perbedaan Perjanjian Leasing dengan perjanjian lainnya, Prosedur Terjadinya Perjanjian Leasing, Para pihak Dalam Perjanjian Leasing, Hak dan Kewajiban Para pihak, Jaminan serta Tinjauan tentang Perlindungan Konsumen yang sub babnya Perngertian Perlindungan Konsumen dan Pengertian Klausa-Klausa Baku

BAB IV PERLINDUNGAN HUKUM KONSUMEN MENURUT UNDANG-UNDANG NO 8 TAHUN 1999 DALAM PERJANJIAN LEASING PADA PT.OTO MULTIARA FINANCE

(22)

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

(23)

BAB II

PENGERTIAN DAN BENTUK PERJANJIAN

A. Pengertian Perjanjian

Istilah perjanjian berasal dari bahasa Belanda overeenkomst dan

verbintenis. Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata digunakan istilah perikatan untuk verbintenis dan perjanjian untuk overeenkomst. Pengertian perjanjian menurut Pasal 1313 ayat (1) KUHPerdata disebutkan perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih. Dari pasal1313 ayat (1) KUH Perdata, dapat diketahui bahwa suatu perjanjian adalah suatu peristiwa di mana seorang berjanji kepada orang lain atau dimana dua orang atau lebih saling berjanji untuk melaksanakan suatu hal. Dari peristiwa tersebut timbul suatu hubungan antara dua orang atau lebih yang dinamakan perikatan.

(24)

Perikatan yang lahir dari perjanjian menimbulkan hubungan hukum yang memberikan hak dan meletakkan kewajiban kepada para pihak yang membuat perjanjian berdasarkan atas kemauan dan kehendak sendiri dari para pihak yang bersangkutan yang mengikatkan diri tersebut, sedangkan perikatan yang lahir dari undang-undang terjadi karena adanya suatu peristiwa tertentu sehingga melahirkan hubungan hukum yang menimbulkan hak dan kewajiban di antar pihak yang bersangkutan, tetapi bukan berasal atau merupakan kehendak para pihak yang bersangkutan melainkan telah diatur dan ditentukan oleh undang-undang.15

Pada suatu transaksi leasing minimal terdapat tiga pihak yang terlibat yaitu Lessor, Lessee dan supplier. Terjadinya transaksi leasing biasanya diikuti dengan adanya perjanjian leasing/kontrak leasing antar Lessor dan

Lessee yang merupakan landasan hukum atas perjanjian leasing yang telah disepakati bersama. Perjanjian leasing mencantumkan Lessor adalah pihak yang meyediakan dana dan membiayai seluruh pembelian barang, masa

leasing biasanya ditetapkan sesuai dengan perkiraan umur kegunaan barang, pada akhir masa leasing, lesse dapat menggunakan hak opsi (hak pilih) untuk membeli barang yang bersangkutan, sehingga hak milik atas barang beralih pada Lessee.Namun dalam praktek pelaksanaan perjanjian leasing ini sering menimbulkan masalah, hal ini dikarenakan perjanjian leasing biasanya merupakan perjanjian sepihak, sehingga kedudukan yang membuat perjanjian akan lebih kuat dari Lessee. Pengaduan yang paling tinggi yang ada pada

      

(25)

lembaga-lembaga perlindungan konsumen adalah keluhan tentang perjanjian

leasing.

Berkaitan dengan hal tersebut pemerintah telah mengeluarkan kebijakan dengan memberikan perlindungan dan kepastian hukum bagi konsumen melalui Undang-Undang No.8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Beberapa hal yang penting dalam perlindungan konsumen tercantum dalam pasal-pasal dari undang-undang ini.

B. Asas-asas dalam Hukum Perjanjian

Hukum Perjanjian mengenal beberapa asas penting yang merupakan dasar kehendak pihak-pihak dalam mencapai tujuan. Beberapa asas tersebut menurut Mariam Darus Badrulzaman adalah sebagai berikut:16

1. Asas konsensualisme

Asas konsensualisme memberikan batasan bahwa suatu perjanjian terjadi sejak tercapainya kata sepakat antara pihak-pihak, dengan kata lain perjanjian itu sudah sah dan membuat akibat hukum sejak saat tercapainya kata sepakat antara pihak-pihak mengenai pokok perjanjian.

Dari asas ini dapat disimpulkan bahwa perjanjian dapat dibuat secara lisan atau dapat pula dibuat dalam bentuk tertulis berupa akta, jika dikehendaki sebagai alat bukti, kecuali untuk perjanjian-perjanjian tertentu yang harus dibuat secara tertulis sebagai formalitas yang harus dipenuhi sebagai perjanjian formal, misalnya perjanjian perdamaian, perjanjian

      

(26)

penghibahan, dan perjanjian pertanggungan. Asas konsensualisme disimpulkan dari Pasal 1320 KUH Perdata.

2. Asas kepercayaan

Asas kepercayaan (vertrouwensbeginsel), yaitu suatu asas yang menyatakan bahwa seseoarang yang mengadakan perjanjian dengan pihak lain menumbuhkan kepercayaan di antara kedua pihak bahwa satu sama lain akan memegang janjinya atau melaksanakan prestasinya masing-masing.

3. Asas kekuatan mengikat

Asas kekuatan mengikat mengatur bahwa para pihak pada suatu perjanjian tidak semata-mata terikat pada apa yang diperjanjikan dalam perjanjian, akan tetapi juga terhadap beberapa unsur lain sepanjang dikehendaki oleh kebiasaan, kepatutan, serta moral.

4. Asas persamaan hukum

Asas persamaan hukum menempatkan para pihak di dalam persamaan derajat, tidak ada perbedaan yang menyangkut perbedaan kulit, bangsa, kekayaan, kekuasaan dan jabatan.

5. Asas keseimbangan

(27)

diimbangi dengan kewajibannya untuk memperhatikan itikad baik, sehingga kedudukan kreditur dan debitur menjadi seimbang.

6. Asas kepastian hukum

Perjanjian merupakan suatu figur hukum sehingga harus mengandung kepastian hukum. Asas kepastian hukum disebut juga asas

pacta sunt servanda. Asas pacta sunt servanda merupakan asas dalam perjanjian yang berhubungan dengan daya mengikat suatu perjanjian. Perjanjian yang dibuat secara sah oleh para pihak mengikat bagi mereka yang membuatnya seperti Undang-Undang.

Dengan demikian maka pihak ketiga tidak mendapatkan keuntungan karena perbuatan hukum para pihak, kecuali apabila perjanjian tersebut memang ditujukan untuk kepentingan pihak ketiga. Maksud dari asas

pacta sunt servanda ini dalam suatu perjanjian tidak lain adalah untuk memberikan kepastian hukum bagi para pihak yang telah membuat perjanjian, karena dengan asas ini maka perjanjian yang dibuat oleh para pihak mengikat sebagai Undang-Undang bagi para pihak yang membuatnya.

7. Asas moral

Asas moral terlihat pada perikatan wajar, dimana suatu perbuatan sukarela dari seseorang tidak menimbulkan hak baginya untuk menggugat kontra prestasi dari pihak debitur. Asas moral terlihat pula dari

(28)

(moral) mempunyai kewajiban untuk meneruskan dan menyelesaikan perbuatannya. Asas ini dapat disimpulkan dari Pasal 1339 KUH Perdata.

8. Asas kepatutan

Asas kepatutan berkaitan dengan isi perjanjian, dimana perjanjian tersebut juga mengikat untuk segala sesuatu yang menurut sifat perjanjian diharuskan oleh kepatutan, kebiasaan atau Undang-Undang. Asas kepatutan dapat disimpulkan dari Pasal 1339 KUH Perdata.

9. Asas kebiasaan

Asas kebiasaan menyatakan bahwa hal-hal yang menurut kebiasaan secara diam-diam selamanya dianggap diperjanjikan. Asas ini tersimpul dari Pasal 1339 juncto 1347 KUH Perdata.

C. Syarat sahnya perjanjian

Menurut Marhainis Abdul Hay,17 lahirnya suatu perjanjian terjadi apabila

ada kata sepakat dan pernyataan sebelah menyebelah. Kata sepakat dalam hal ini adalah mengenai hal-hal yang pokok baik berbentuk lisan ataupun tulisan, sedangkan pernyataan sebelah menyebelah terjadi apabila satu pihak yang menawarkan menyatakan tentang perjanjian dan pihak lawan setuju tentang apa yang dinyatakan sebelumnya.

Dalam Pasal 1320 KUH Perdata disebutkan bahwa: Untuk sahnya persetujuan-persetujuan diperlukan empat syarat:

      

(29)

1. sepakat mereka yang mengikatkan dirinya; 2. kecakapan untuk membuat suatu perikatan; 3. suatu hal tertentu;

4. suatu sebab yang halal”.

Dalam rumusan Pasal di atas disebutkan bahwa untuk sahnya perjanjian diperlukan empat syarat. Kedua syarat pertama dinamakan syarat subyektif, karena kedua syarat tersebut menyangkut subyek perjanjian, sedangkan kedua syarat terakhir disebut syarat obyektif, karena menyangkut obyek dari perjanjian. Terdapatnya cacat kehendak (yang disebabkan adanya keliru, paksaan ataupun penipuan) atau tidak cakap untuk membuat perikatan mengakibatkan dapat dibatalkannya perjanjian. Jika obyeknya tidak tertentu atau tidak dapat ditentukan atau kausanya tidak halal maka perjanjian batal demi hukum. Sesuai dengan asas konsensualisme, suatu perjanjian lahir pada saat tercapainya kata sepakat mengenai hal-hal pokok. Untuk mengetahui lahirnya suatu perjanjian perlu diketahui apakah telah tercapai kata sepakat atau belum. Pengertian kata sepakat dilukiskan sebagai pernyataan kehendak yang disetujui (overrenstemende wilsklaring) antara pihak-pihak. Perjanjian harus dianggap dilahirkan pada saat dimana pihak yang melakukan penawaran

(offerte) menerima jawaban yang termaktub dalam surat tersebut (acceptatie), sehingga pada detik itulah dianggap sebagai detik lahirnya sepakat.18

Menurut Rutten, penawaran dirumuskan sebagai suatu usul yang ditujukan kepada pihak lain untuk menutupi perjanjian, usul mana telah

      

(30)

dirumuskan sedemikian rupa sehingga penerimaan oleh pihak lain segera melahirkan perjanjian.19

Penerimaan/akseptasi mengikat orang yang menyatakan akseptasinya, sejak saat akseptasi diberikan, kecuali penerimaan tersebut dilakukan dengan bersyarat. Cara menyatakan penerimaan/akseptasi adalah bebas, kecuali oleh orang yang menawarkan diisyaratkan suatu bentuk akseptasi tertentu.

Untuk lahirnya perjanjian yang sah, pernyataan kehendak harus merupakan perwujudan kehendak yang bebas, tanpa paksaan (dwang), kekhilafan (dwaling) atau penipuan (bedrog). Paksaan menurut KUH Perdata adalah suatu perbuatan yang menakutkan seseorang yang berpikiran sehat dimana terhadap orang yang terancam karena paksaan tersebut timbul ketakutan baik terhadap dirinya maupun terhadap kekayaan dengan suatu kerugian yang terang dan nyata, sedangkan kehilafan dapat terjadi mengenai orang atau barang yang menjadi tujuan pihak-pihak yang mengadakan perjanjian.

Penipuan dalam suatu perjanjian maksudnya adalah suatu tipu muslihat yang dipakai oleh salah satu pihak sehingga menyebabkan pihak lain dalam kontrak tersebut telah menandatangani kontrak itu, padahal tanpa tipu muslihat tersebut pihak lain itu tidak akan menandatangani kontrak yang bersangkutan.

Mengenai kapan suatu kesepakatan kehendak terjadi yang menentukan pula kapan suatu perjanjian telah mulai berlaku, dikenal beberapa teori tentang kesepakatan kehendak:20

      

(31)

1. Teori kehendak (wilstheorie), yang menentukan apakah telah terjadi suatu perjanjian adalah kehendak para pihak. Menurut teori ini perjanjian mengikat kalau kedua kehendak telah saling bertemu.

2. Teori pengiriman (verzentdtheorie) mengajarkan bahwa kata sepakat terbentuk pada saat dikirimnya jawaban oleh pihak yang kepadanya telah ditawarkan suatu perjanjian, karena sejak saat pengiriman tersebut, si pengirim jawaban telah kehilangan kekuasaan atas surat yang dikirim itu. 3. Teori pengetahuan (vernemingstheorie) mengajarkan bahwa kata sepakat

telah terbentuk pada saat pihak yang menawarkan mengetahui bahwa tawarannya telah disetujui oleh pihak lainnya.

4. Teori kepercayaan (vertrouwenstheorie) mengajarkan bahwa kesepakatan itu terjadi pada saat pernyataan kehendak secara obyektif dapat dipercaya.

Asser 21 membedakan syarat-syarat perjanjian menjadi beberapa bagian perjanjian, yaitu bagian inti (wezenlijk oordeel) dan bagian yang bukan inti

(non wezenlijk oordeel). Bagian inti disebut esensialia, sedangkan bagian bukan inti terdiri dari naturalia dan accidentalia.

Sifat yang harus ada di dalam perjanjian merupakan esensialia, yaitu sifat yang menentukan atau menyebabkan perjanjian itu tercipta (contstructiev oordeel). Seperti perjanjian antara para pihak dan obyek perjanjian, sedangkan sifat bawaan (natuur) dalam perjanjian sehingga secara diam-diam melekat pada perjanjian, seperti menjamin tidak ada cacat dalam benda yang dijual

(virjwaring), disebut bagian naturalia. Dalam perjanjian ada hal yang secara

       

(32)

tegas diperjanjikan oleh para pihak, seperti ketentuan-ketentuan mengenai domisili para pihak, hal yang secara tegas diperjanjikan merupakan sifat yang melekat dalam perjanjian tersebut adalah aksidentalia.

D. Jenis-jenis Perjanjian

Menurut Sutarno, perjanjian dapat dibedakan menjadi beberapa jenis yaitu:

1. Perjanjian timbal balik

Perjanjian timbale balik adalah perjanjian yang dibuat dengan meletakkan hak dan kewajiban kepada kedua pihak yang membuat perjanjian. Misalnya perjanjian jual beli Pasal 1457 KUHPerdata dan perjanjian sewa menyewa Pasal 1548 KUHPerdata. Dalam perjanjian jual beli hak dan kewajiban ada di kedua belah pihak. Pihak penjual berkewajiban menyerahkan barang yang dijual dan berhak mendapat pembayaran dan pihak pembeli berkewajiban membayar dan hak menerima barangnya. 2. Perjanjian sepihak

(33)

3. Perjanjian dengan percuma

Perjanjian dengan percuma adalah perjanjian menurut hukum terjadi keuntungan bagi salah satu pihak saja. Misalnya hibah (schenking) dan pinjam pakai Pasal 1666 dan 1740 KUHPerdata.

4. Perjanjian konsensuil, riil dan formil

Perjanjian konsensuil adalah perjanjian yang dianggap sah apabila telah terjadi kesepakatan antara pihak yang membuat perjanjian. Perjanjian riil adalah perjanjian yang memerlukan kata sepakat tetapi barangnya harus diserahkan. Misalnya perjanjian penitipan barang pasal 1741 KUHPerdata dan perjanjian pinjam mengganti Pasal 1754 KUHPerdata.

Perjanjian formil adalah perjanjian yang memerlukan kata sepakat tetapi undang-undang mengharuskan perjanjian tersebut harus dibuat dengan bentuk tertentu secara tertulis dengan akta yang dibuat oleh pejabat umum notaris atau PPAT. Misalnya jual beli tanah, undang-undang menentukan akta jual beli harus dibuat dengan akta PPAT, perjanjian perkawinan dibuat dengan akta notaris.

5. Perjanjian bernama atau khusus dan perjanjian tak bernama

(34)

khusus dalam undang-undang. Misalnya perjanjian leasing, perjanjian keagenan dan distributor, perjanjian kredit. 22

Sedangkan menurut Achmad Busro, jenis perjanjian dapat dibedakan menurut berbagai cara, adapun perbedaannya adalah sebagai berikut:

1. Perjanjian timbal balik dan perjanjian sepihak

Perjanjian timbal balik yaitu perjanjian yang dapat menimbulkan kewajiban pokok bagi kedua belah pihak yang melakukannya. Misalnya: kewajiban yang timbul dalam perjanjian jual beli, pihak penjual mempunyai kewajiban pokok menyerahkan barang yang dijualnya, dipihak lain pembeli mempunyai kewajiban untuk membayar harga yang telah disepakati. Perjanjian sepihak yaitu perjanjian dimana salah satu pihak saja yang dibebani suatu kewajiban. Misal: dalam perjanjian pemberian hibah, hanya satu pihak saja yang mempunyai kewajiban.

2. Perjanjian cuma-cuma dan perjanjian dengan alas hak membebani

Perjanjian cuma-cuma yaitu suatu perjanjian yang memberikan keuntungan bagi salah satu pihak tanpa adanya imbalan dari pihak lain. Perjanjian dengan alas hak yang membebani adalah perjanjian dimana terhadap prestasi dari pihak yang lain, antara prestasi dan kontra prestasi tersebut terdapat hubungan menurut hukum meskipun kedudukannya tidak harus sama. Misal: Disatu pihak berprestasi sepeda, di pihak lain berprestasi kuda. Jadi disini yang penting adanya prestasi dan kontra prestasi.

      

(35)

3. Perjanjian konsensuil, riil dan formil

Perjanjian konsensuil yaitu adanya suatu perjanjian cukup dengan adanya kata sepakat dari para pihak. Misalnya: Masing-masing pihak sepakat untuk mengadakan jual beli kambing.

Perjanjian riil yaitu perjanjian disamping adanya kata sepakat masih diperlukan penyerahan bendanya. Misalnya: Dalam jual beli kambing tersebut harus ada penyerahan dan masih diperlukan adanya formalitas tertentu.

Adapun untuk perjanjian formil dalam perjanjian jual beli kambing di atas dengan dibuatkan akta tertentu.

4. Perjanjian bernama, tidak bernama dan perjanjian campuran.

Perjanjian bernama adalah perjanjian yang telah ada namanya seperti dalam buku III KUHPerdata Bab V sampai dengan Bab XVIII. Perjanjian tidak bernama adalah perjanjian yang tidak ada namanya. Ketentuannya diatur dalam buku III KUHPerdata Bab I sampai dengan Bab IV yang merupakan ketentuan umum. Perjanjian campuran adalah perjanjian yang terdiri dari beberapa perjanjian bernama juga kemungkinan pula terdapat perjanjian tidak bernama.

5. Perjanjian kebendaan dan obligatoir

(36)

6. Perjanjian yang sifatnya istimewa

a. Perjanjian liberatoir yaitu perjanjian untuk membebaskan dari kewajiban. Misal dalam Pasal 1438 KUHPerdata mengenai pembebasan hutang dan pasal-pasal berikutnya (Pasal 1440 dan Pasal 1442 KUHPerdata).

b. Perjanjian pembuktian, yaitu perjanjian dimana para pihak sepakat menentukan pembuktian yang berlaku bagi para pihak.

c. Perjanjian untung-untungan, seperti yang ada dalam Pasal 1774 yaitu perjanjian yang pemenuhan prestasinya digantungkan pada kejadian yang belum tentu terjadi.

d. Perjanjian publik, yaitu perjanjian yang sebagian atau seluruhnya dikuasai oleh hukum publik karena salah satu pihak bertindak sebagai penguasa. Contoh: Perjanjian yang dilakukan antara mahasiswa tugas belajar (ikatan dinas).23

Abdulkadir Muhammad juga mengelompokkan perjanjian menjadi beberapa jenis, yaitu:

1. Perjanjian timbal balik dan perjanjian sepihak

Perjanjian timbal balik (bilateral contract) adalah perjanjian yang memberikan hak dan kewajiban kepada kedua belah pihak. Perjanjian timbale balik adalah pekerjaan yang paling umum terjadi dalam kehidupan bermasyarakat, misalnya perjanjian jual beli, sewa menyewa, pemborongan bangunan, tukar menukar.

Perjanjian sepihak adalah perjanjian yang memberikan kewajiban kepada satu pihak dan hak kepada pihak lainnya, misalnya perjanjian hibah,

      

(37)

hadiah. Pihak yang satu berkewajiban menyerahkan benda yang menjadi obyek perikatan dan pihak yang lainnya berhak menerima benda yang diberikan itu. Yang menjadi kriteria perjanjian jenis ini adalah kewajiban berprestasi kedua belah pihak atau salah satu pihak. Prestasi biasanya berupa benda berwujud baik bergerak maupun tidak bergerak, atau benda tidak berwujud berupa hak, misalnya hak untuk menghuni rumah.

Pembedaan ini mempunyai arti penting dalam praktek, terutama dalam soal pemutusan perjanjian menurut pasal 1266 KUHPerdata. Menurut pasal ini salah satu syarat ada pemutusan perjanjian itu apabila perjanjian itu bersifat timbal balik.

(38)

3. Perjanjian bernama dan tidak bernama.

Perjanjian bernama adalah perjanjian yang mempunyai nama sendiri, yang dikelompokkan sebagai perjanjian-perjanjian khusus karena jumlahnya terbatas, misalnya jual beli, sewa menyewa, tukar menukar, pertanggungan. Perjanjian tidak bernama adalah perjanjian yang tidak mempunyai nama tertentu dan jumlahnya tidak terbatas.

4. Perjanjian kebendaan dan perjanjian obligatoir.

Perjanjian kebendaan (zakelijke overeenkomst, delivery contract) adalah perjanjian untuk memindahkan hak milik dalam perjanjian jual beli. Perjanjian kebendaan ini sebagai pelaksanaan perjanjian obligatoir. Perjanjian obligatoir adalah perjanjian yang menimbulkan perikatan, artinya sejak terjadi perjanjian, timbullah hak dan kewajiban pihak-pihak. Pembeli berhak menuntut penyerahan barang, penjual berhak atas pembayaran harga. Pembeli berkewajiban membayar harga, penjual berkewajiban menyerahkan barang.

Pentingnya pembedaan ini adalah untuk mengetahui apakah dalam perjanjian itu ada penyerahan (levering) sebagai realisasi perjanjian dan penyerahan itu sah menurut hukum atau tidak.

5. Perjanjian konsensual dan perjanjian real.

(39)

Dalam hukum adat, perjanjian real justru yang lebih menonjol sesuai dengan sifat hukum adat bahwa setiap prbuatan hukum (perjanjian) yang obyeknya benda tertentu, seketika terjadi persetujuan kehendak serentak keetika itu juga terjadi peralihan hak. Hal ini disebut "kontan dan tunai".24

Salim H.S. memaparkan jenis perjanjian dengan cara yang sedikit berbeda dibandingkan dengan para sarjana di atas. Salim H.S di dalam bukunya menyebutkan bahwa jenis kontrak atau perjanjian adalah:

1. Kontrak Menurut Sumber Hukumnya

Kontrak berdasarkan sumber hukumnya merupakan penggolongan kontrak yang didasarkan pada tempat kontrak itu ditemukan. Perjanjian (kontrak) dibagi jenisnya menjadi lima macam, yaitu:

a. Perjanjian yang bersumber dari hukum keluarga, seperti halnya perkawinan;

b. Perjanjian yang bersumber dari kebendaan, yaitu yang berhubungan dengan peralihan hukum benda, misalnya peralihan hak milik;

c. Perjanjian obligatoir, yaitu perjanjian yang menimbulkan kewajiban; d. Perjanjian yang bersumber dari hukum acara, yang disebut dengan

bewijsovereenkomst;

e. Perjanjian yang bersumber dari hukum publik, yang disebut dengan

publieckrechtelijke overeenkomst; 2. Kontrak Menurut Namanya

Penggolongan ini didasarkan pada nama perjanjian yang tercantum di dalam Pasal 1319 KUHPerdata dan Artikel 1355 NBW. Di dalam Pasal

      

(40)

1319 KUHPerdata dan Artikel 1355 NBW hanya disebutkan dua macam kontrak menurut namanya, yaitu kontrak nominaat (bernama) dan kontrak innominaat (tidak bernama). Kontrak nominnat adalah kontrak yang dikenal dalam KUHPerdata. Yang termasuk dalam kontrak nominaat adalah jual beli, tukar menukar, sewa menyewa, persekutuan perdata, hibah, penitipan barang, pinjam pakai, pinjam meminjam, pemberian kuasa, penanggungan utang, perdamaian. Sedangkan kontrak innominaat adalah kontrak yang timbul, tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Jenis kontrak ini belum dikenal dalam KUHPerdata. Yang termasuk dalam kontrak innominat adalah leasing, beli sewa, franchise, kontrak rahim,

(41)

peraturan perundangundangan dari perjanjian, dalam peristiwa yang terjadi merupakan peristiwa yang paling menonjol, sedangkan dalam tahun 1947 Hoge Raad menyatakan diri (HR, 21 Februari 1947) secara tegas sebagai penganut teori kombinasi.

3. Kontrak Menurut Bentuknya

Di dalam KUHPerdata, tidak disebutkan secara sistematis tentang bentuk kontrak. Namun apabila kita menelaah berbagai ketentuan yang tercantum dalam KUHPerdata maka kontrak menurut bentuknya dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu kontrak lisan dan tertulis. Kontrak lisan adalah kontrak atau perjanjian yang dibuat oleh para pihak cukup dengan lisan atau kesepakatan para pihak (Pasal 1320 KUHPerdata). Dengan adanya konsensus maka perjanjian ini telah terjadi. Termasuk dalam golongan ini adalah perjanjian konsensual dan riil. Pembedaan ini diilhami dari hukum Romawi. Dalam hukum Romawi, tidak hanya memerlukan adanya kata sepakat, tetapi perlu diucapkan kata-kata dengan yang suci dan juga harus didasarkan atas penyerahkan nyata dari suatu benda. Perjanjian konsensual adalah suatu perjanjian terjadi apabila ada kesepakatan para pihak. Sedangkan perjanjian riil adalah suatu perjanjian yang dibuat dan dilaksanakan secara nyata.

(42)

berita acara Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) dalam sebuah PT. Akta yang dibuat di hadapan notaris merupakan akta yang dibuat oleh para pihak di hadapan notaris. Di samping itu, dikenal juga pembagian menurut bentuknya yang lain, yaitu perjanjian standar. Perjanjian standar merupakan perjanjian yang telah dituangkan dalam bentuk formulir.

4. Kontrak Timbal Balik

Penggolongan ini dilihat dari hak dan kewajiban para pihak. Kontrak timbal balik merupakan perjanjian yang dilakukan para pihak menimbulkan hak dan kewajiban-kewajiban pokok seperti pada jual beli dan sewa menyewa. Perjanjian timbal balik ini dibagi menjadi dua macam, yaitu timbal balik tidak sempurna dan yang sepihak.

a. Kontak timbal balik tidak sempurna menimbulkan kewajiban pokok bagi satu pihak, sedangkan lainnya wajib melakukan sesuatu. Di sini tampak ada prestasi-prestasi seimbang satu sama lain. Misalnya, si penerima pesan senantiasa berkewajiban untuk melaksanakan pesan yang dikenakan atas pundaknya oleh orang pemberi pesan. Apabila si penerima pesan dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban tersebut telah mengeluarkan biaya-biaya atau olehnya telah diperjanjikan upah, maka pemberi pesan harus menggantinya.

b. Perjanjian sepihak merupakan perjanjian yang selalu menimbulkan kewajiban-kewajiban hanya bagi satu pihak. Tipe perjanjian ini adalah perjanjian pinjam mengganti. Pentingnya pembedaan di sini adalah dalam rangka pembubaran perjanjian.

(43)

Penggolongan ini didasarkan pada keuntungan salah satu pihak dan adanya prestasi dari pihak lainnya. Perjanjian cuma-cuma merupakan perjanjian, yang menurut hukum hanyalah menimbulkan keuntungan bagi salah satu pihak. Contohnya, hadiah dan pinjam pakai. Sedangkan perjanjian dengan alas hak yang membebani merupakan perjanjian, disamping prestasi pihak yang satu senantiasa ada prestasi (kontra) dari pihak lain, yang menurut hukum saling berkaitan. Misalnya, A menjanjikan kepada B suatu jumlah tertentu, jika B menyerahkan sebuah benda tertentu pula kepada A.

6. Perjanjian Berdasarkan Sifatnya

Penggolongan ini didasarkan pada hak kebendaan dan kewajiban yang ditimbulkan dari adanya perjanjian tersebut. Perjanjian menurut sifatnya dibagi menjadi dua macam, yaitu perjanjian kebendaan (zakelijke overeenkomst) dan perjanjian obligatoir. Perjanjian kebendaan adalah suatu perjanjian, yang ditimbulkan hak kebendaan, diubah atau dilenyapkan, hal demikian untuk memenuhi perikatan. Contoh perjanjian ini adalah perjanjian pembebanan jaminan dan penyerahan hak milik. Sedangkan perjanjian obligatoir merupakan perjanjian yang menimbulkan kewajiban dari para pihak.

Disamping itu, dikenal juga jenis perjanjian dari sifatnya, yaitu perjanjian pokok dan perjanjian accesoir. Perjanjian pokok merupakan perjanjian yang utama, yaitu perjanjian pinjam meminjam uang, baik kepada individu maupun pada lembaga perbankan. Sedangkan perjanjian accesoir

(44)

7. Perjanjian dari Aspek Larangannya

Penggolongan perjanjian berdasarkan larangannya merupakan penggolongan perjanjian dari aspek tidak diperkenankannya para pihak untuk membuat perjanjian yang bertentang dengan undang-undang, kesusilaan, dan ketertiban umum. Ini disebabkan perjanjian itu mengandung praktik monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat.

Di dalam UU Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, perjanjian yang dilarang dibagi menjadi tiga belas jenis, sebagaimana disajikan berikut ini:

a. Perjanjian oligopoli, yaitu perjanjian yang dibuat antara pelaku usaha dengan pelaku usaha lainnya untuk secara bersama melakukan penguasaan produksi dan atau pemasaran barang atau jasa. Perjanjian ini dapat mengakibatkan terjadinya praktik monopoli dan atau persaingan tidak sehat.

b. Perjanjian penetapan harga, yaitu perjanjian yang dibuat antara pelaku usaha dengan pelaku usaha pesaingnya untuk menetapkan harga atas suatu barang dan atau jasa yang harus dibayar oleh konsumen atau pelanggaran pada pasar yang bersangkutan sama. Pengecualian dari ketentuan ini adalah

1) Suatu perjanjian yang dibuat usaha patungan, dan

2) Suatu perjanjian yang didasarkan pada undang-undang yang berlaku.

(45)

membayar dengan harga berbeda dari harga yang harus dibayar oleh pembeli lain untuk barang atau jasa yang berbeda.

d. Perjanjian dengan harga di bawah harga pasar, yaitu perjanjian yang dibuat antara pelaku usaha dengan pelaku usaha pesaingnya untuk menetapkan harga yang berada di bawah harga pasar, perjanjian ini dapat mengakibatkan terjadinya persaingan usaha tidak sehat.

e. Perjanjian yang memuat persyaratan, yaitu perjanjian yang dibuat antara pelaku usaha dengan pelaku usaha lainnya yang memuat persyaratan bahwa penerima barang dan atau jasa tidak akan menjual atau memasok kembali barang dan atau jasa yang diterimanya. Tindakan ini dilakukan dengan harga yang lebih rendah daripada harga yang telah diperjanjikan sehingga dapat mengakibatkan terjadinya persaingan usaha tidak sehat.

f. Perjanjian pembagian wilayah, yaitu perjanjian yang dibuat antara pelaku usaha dengan pelaku usaha pesaingnya yang bertujuan untuk membagi wilayah pemasaran atau alokasi pasar terhadap barang dan atau jasa. Perjanjian ini dapat mengakibatkan terjadinya praktik monopoli dan atau persaingan tidak sehat.

(46)

h. Perjanjian kartel, yaitu perjanjian yang dibuat antara pelaku usaha dengan pelaku usaha pesaingnya, yang bermaksud untuk mempengaruhi harga dengan mengatur produksi dan atau pemasaran suatu barang dan atau jasa, yang dapat mengakibatkan terjadinya praktik monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat.

i. Perjanjian trust, yaitu perjanjian yang dibuat antara pelaku usaha dengan pelaku usaha lain untuk melakukan kerjasama dengan membentuk gabungan perusahaan atau perseroan yang lebih besar, dengan tetap menjaga dan mempertahankan kelangsungan hidup masing-masing perseroan anggotanya. Perjanjian ini bertujuan untuk mengontrol produksi dan atau pemasaran atas barang dan atau jasa, sehingga dapat mengakibatkan terjadinya praktik monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat.

j. Perjanjian oligopsoni, yaitu perjanjian yang dibuat antara pelaku usaha dengan pelaku usaha lain yang bertujuan untuk secara bersama-sama menguasai pembelian atau penerimaan pasokan agar dapat mengendalikan harga atas barang dan atau jas dalam pasar yang bersangkutan. Perjanjian ini dapat mengakibatkan terjadinya praktik monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat.

(47)

merupakan hasil pengolahan atau proses lanjutan, baik dalam satu rangkaian langsung maupun tidak langsung yang dapat mengakibatkan terjadinya persaingan usaha tidak sehat dan atau merugikan masyarakat.

l. Perjanjian tertutup, yaitu perjanjian yang dibuat antara pelaku usaha dengan pelaku usaha lain yang memuat persyaratan bahwa pihak yang menerima barang dan atau jasa hanya akan memasok kembali barang dan atau jasa tersebut kepad pihak dan atau pada tempat tertentu.

m. Perjanjian dengan pihak luar negeri, yaitu perjanjian yang dibuat antara pelaku usaha dengan pihak lainnya di luar negeri yang memuat ketentuan yang dapat mengakibatkan terjadinya praktik monopoli dan atau persaingan tidak sehat.

Dari berbagai perjanjian yang dipaparkan di atas, menurut Salim H.S, jenis atau pembagian yang paling asasi adalah pembagian berdasarkan namanya, yaitu kontrak nominaat dan innominaat. Dari kedua perjanjian ini maka lahirlah perjanjian-perjanjian jenis lainnya, seperti segi bentuknya, sumbernya, maupun dari aspek hak dan kewajiban. Misalnya, perjanjian jual beli maka lahirlah perjanjian konsensual, obligator dan lain-lain.25

      

(48)

BAB III

PERJANJIAN LEASING DI PT OTO MULTIARTHA FINANCE CIKOKOL

A. Sejarah Singkat PT. OTO MULTIARTHA FINANCE

PT Oto Multiartha adalah salah satu Perseroan pembiayaan otomotif independen terkemuka. Usaha utama Perseroan adalah di bidang pembiayaan konsumen, antara lain pembiayaan kepemilikan mobil baik baru maupun bekas. Perseroan juga menyediakan pembiayaan sewa guna usaha berdasarkan permintaan pelanggan. Target utama Perseroan adalah pelanggan perorangan, selain itu juga memberikan pembiayaan kepada badan usaha. Perseroan ini didirikan di Jakarta pada tanggal 28 Maret 1994, bernama PT Manunggal Multi Finance.

(49)

meningkatkan pembiayaan mobil serta memiliki kantor jaringan ke seluruh Indonesia.

Sebagai Perseroan pembiayaan yang independen, Perseroan tidak memiliki keterkaitan dengan pabrikan, sehingga memiliki keleluasaan untuk membiayai semua merek mobil yang ada di pasar. Perseroan juga telah menikmati pertumbuhan pasar mobil domestik yang kuat dalam beberapa tahun terakhir, serta mampu mempertahankan posisinya sebagai salah satu pemain terkemuka dalam pembiayaan mobil.

Dengan pedoman kinerja “3M + 1T” (Man, Management, Money plus Technology), Perseroan berhasil memberikan pelayanan yang memuaskan kepada nasabahnya dan mencatat peningkatan kinerja yang signifikan selama tahun 2012.

(50)
(51)

B. Struktur Organisasi

Gambar 3.1

(52)

C. Leasing

1. Pengertian Leasing

Istilah Leasing berasal dari bahasa Inggris to Lease yang berarti

menyewakan. Leasing atau sewa guna adalah suatu kegiatan pembiayaan kepada perusahaan (badan hukum) atau perorangan dalam bentuk pembiayaan barang modal. Pembayaran kembali oleh peminjam dilakukan secara berkala dan dalam waktu jangka menengah atau panjang. Perusahaan yang menyelenggarakan leasing disebut Leessor, sedangkan perusahaan yang mengajukan leasing disebut Lessee.

Transaksi konsumen yang menimbulkan hubungan hukum sewa menyewa atau menyewakan hak guna barang diartikan sebagai leasing. Pengertian leasing baru dikenal melalui Surat Keputusan Bersama Menteri Keuangan dan Menteri Perdagangan Republik Indonesia dengan No.KEP-122/MK/IV/2/1974, No.32/M/SK/2/1974, dan No.30/Kpb/I/1974 tanggal 7 Februari 1974 disebutkan leasing ialah, “ Setiap kegiatan pembiayaan perusahaan dalam bentuk penyediaan barang- barang modal untuk digunakan oleh suatu perusahaan untuk suatu jangka waktu tertentu, berdasarkan pembayaran-pembayaran secara berkala disertai dengan hak pilih bagi perusahaan tersebut untuk membeli barang-barang modal yang bersangkutan atau memperpanjang jangka waktu berdasarkan nilai sisa yang telah disepakati bersama”.

(53)

menyediakan barang modal, baik sewa guna usaha dengn hak opsi

(finance lease) maupun sewa guan usaha tanpa hak opsi (operating lease)

untuk digunakan oleh leasse selama jangka waktu tertentu berdasarkan pembayaran berkala.

2. Pihak-pihak Yang Terlibat

Ada beberapa pihak yang terlibat dalam pemberian fasilitas leasing, dan masing-masing pihak mempunyai hak dan kewajibannya. Masing-masing pihak dalam melakukan kegiatannya selalu bekerja sama dan saling berkaitan satu sama lainnya melalui kesepakatan yang dibuat bersama.

Adapun pihak-pihak yang terlibat dalam proses pemberian fasilitas leasing adalah sebagai berikut:

1. Lessor.

Merupakan perusahaan leasing yang membiayai keinginan para nasabahnya untuk memperoleh barang-barang modal.

2. Lessee

Nasabah yang mengajukan permohonan leasing kepada Lessor untuk memperoleh barang modal yang diinginkan.

3. Supplier

(54)

4. Asuransi

Merupakan perusahaan yang akan menanggung resiko terhadap perjanjian antara Lessor dengan Lessee. Dalam hal ini Lessee

dikenakan biaya asuransi dan apabila terjadi sesuatu, maka perusahaan akan menanggung resiko sebesar sesuai dengan perjanjian terhadap barang yang dileasingkan

3. Jenis-jenis Lesing

a. Finance Leasing (sewa guna usaha pembiayaan)

Dalam sewa guna usaha ini, perusahaan sewa guna usaha (Lessor) adalah pihak yang membiayai penyediaan barang modal. Penyewa guna usaha (Lessee) biasanya memilih barang modal yang dibutuhkan dan atas nama perusahaan sewa guna usaha, sebagai pemilik barng modal tersebut, melakukan pemesanan, pemeriksaan dan pemeliharaan barang modal yang menjadi objek transaksi leasing.

Lessor akan mengeluarkan dananya untuk membayar barang tersebut kepada supplier dan kemudian barang tersebut diserahkan kepada

Lessee. Sebagai imblan atau jasa penggunaan barang tersebut lesse akan membayar secara berkala kepada Lessor sejumlah uang yang beruba uang rental untuk jangka waktu tertentu yang telah disepakati bersama.

(55)

1) Direct finance lease

Transaksi ini terjadi jika Lessee sebelumny belum pernah memilike barang yang dijadikan objek lease. Secara sederhana bisa dikatakan bahwa Lessor membeli suatu barang atas permintaan lesse dan akan dipergunakan oleh Lessee.

2) Sale and lease back

Dalam transaksi ini lesse menjual barang yang telah dimilikinya kepada Lessor. Atas barang yang sama ini kemudian dilakukan uatu konrak leasing antara lesse dengan Lessor. Dengan memperhatikan mekanisme ini, maka perjanjian ini memiliki tujuan yang berbeda dibandingkan direct finance lease. Di sini lesse memerlukan cash yng bisa dipergunakan untuk tambahan modal kerja atau untuk kepentingan lainnya. Bisa dikatakan bahwa dengan sistem saale and lease back memungkinkan Lessor

memberikan dana untuk keperluan pa saja kepada kliennya dan tentu saja dana yang dibutuhkana sesuai dengan nilai objek barang lease.

b. Operatinglease (sewa menyewa biasa)

(56)

modal tersebut berikut dengan bunganya. Perbedaan ini disebabkan perusahaan sewa guna usaha mengharapkan keuntungan justru dari penjualan barang modal yang disewa guna usahakan atau melalui beberapa kontrak sewa guna usaha lainnya.

Perusahaan sewa guna usaha dalam operating lease biasanya bertanggung jawab atas biaya – biaya pelaksanaan sewa guna usaha seperti asuransi, pajak maupun pemeliharaan barang modal yang bersangkutan.

c. Sales – Typed Lease (sewa guna usaha penjualan)

Suatu transaksi sewa guna usaha, dimana produsen atau pabrikan juga berperan sebagai perusahaan sewa guna usaha sehingga jumlah traksaksi termasuk bagian laba sudah diperhitungkan oleh produsen atau pabrikan.

d. Leveraged Lease

Suatu transaksi sewa guna usaha, selain melibatkan Lessor dan

Lessee juga melibatkan bank atau kreditor jangka panjang yang membiayai bagian terbesar transaksi.

e. Cross Border Lease

(57)

D. Pengaturan Leasing di Indonesia

1. Perbedaan Perjanjian Leasing dengan perjanjian lainnya

a. Perbedaan Perjanjian Leasing dengan Sewa-Menyewa

Sebelum mengadakan perbedaan antara perjanjian leasing dengan perjanjian sewa-menyewa, maka adalah baik kiranya lebih dahulu mengetahui system hokum perjanjian di Indonesia. Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Sebagaimana diketahui, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata menganut “system terbuka atau open system” dalam hukum perjanjian, ini berarti hukum perjanjian memberi kebebasan seluas-luasnya kepada pihak-pihak yang bersangkutan untuk mengadakan perjanjian tentang apa saja, asalkan tidak bertentangan dengan undangundang, ketertiban umum, dan kesusilaan. Perjanjian leasing itu sendiri adalah salah satu perjanjian yang telah timbul dalam praktek karena kebutuhan bisnis.

Seperti diketahui bahwa dalam hukum perdata dikenal istilah

Nominat untuk perjanjian-perjanjian tertentu dan In Nominat untuk perjanjian-perjanjian yang timbul dalam praktek, yang dibuat oleh pihak-pihak yang berhubungan satu sama lain dalam perdagangan atau hubungan hukum lainnya. Salah satu Nominat yaitu Perjanjian Sewa-Menyewa.

Pada dasarnya tidak banyak kelihatan perbedaan antara

(58)

pihak, dimana pihak yang satu mengikat dirinya untuk memberikan pada pihak yang lain hak untuk menggunakan atau menikmati suatu barang, selama jangka waktu tertentu dengan suatu pembayaran yang telah disepakati bersama. Namun dalam kelanjutannya sebagai yang akan kita lihat ada perbedaan-perbedaan yang cukup mendasar dan penting.

Sewa-Menyewa merupakan perjanjian yang diatur dalam KUH Perdata dalam Bab VII pasal 1548 sampai dengan pasal 1580 dan karenanya disebut Perjanjian Bernama. Pasal 1548 KUH Perdata memberikan tentang definisi tentang perjanjian sewa-menyewa sebagai berikut:26

“Sewa-menyewa ialah suatu persetujuan, dengan mana pihak yang satu mengikat dirinya untuk memberikan kepada pihak yang lainnya kenikmatan dari sesuatu barang, selama suatu waktu tertentu dan dengan pembayaran sesuatu harga, yang oleh pihak tersebut belakangan itu disanggupi pembayarannya.”

Perjanjian sewa-menyewa seperti halnya dengan perjanjian-perjanjian lainnya adalah suatu perjanjian-perjanjian Konsensuil, artinya perjanjian itu sudah sah dan mengikat pada saat tercapainya kata sepakat mengenai unsur-unsur pokok yaitu barang dan harga.

Dalam perjanjian sewa-menyewa kewajiban pihak yang menyewakan adalah menyerahkan barang untuk dinikmati oleh pihak penyewa. Oleh sebab itu barang yang diserahkan itu tidak untuk dimiliki seperti halnya dalam perjanjian jual beli, tetapi hanya untuk

      

(59)

dinikmati kegunaannya. Maka sifatnya hanya untuk penyerahan kekuasaan belaka atas barang yang disewa. Karena yang diserahkan bukan hak milik dari barang itu tetapi hanya pemakaiannya saja, maka pihak yang menyerahkan tidak usah seorang pemilik dari barang tersebut.

Jadi unsur yang terpenting dalam perjanjian sewa menyewa adalah kenikmatan dari sesuatu barang yang disewakan dan harga sewa. Perbedaan antara perjanjian sewa-menyewa dan perjanjian leasing terletak pada unsur kepentingan para pihak yang berbeda dalam beberapa segi. Adapun pokok-pokok perbedaan perjanjian sewa-menyewa dan perjanjian leasing adalah :27

1) Leasing (dalam hal ini yang dimaksudkan adalah perjanjian financial lease) adalah suatu pembiayaan sedangkan perjanjian sewa-menyewa belum tentu bertujuan pembiayaan perusahaan; 2) Obyek dari perjanjian leasing menurut Surat Keputusan Bersama

Tiga Menteri dan Pengumuman Direktur Jenderal Moneter No. PENG-307/DJM/III.1/7/1974 tentang Pedoman Pelaksanaan Peraturan Leasing adalah barang-barang modal atau alat-alat produksi, sedangkan perjanjian sewa-menyewa juga dapat meliputi barang-barang untuk digunakan di luar perusahaan;

3) Subyek-subyek dalam leasing:

      

(60)

Pada perjanjian sewa-menyewa subyeknya tidak ditentukan, setiap subyek hokum dapat menjadi penyewa atau yang menyewakan. Dalam perjanjian leasing, berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 649/MK/IV/5/1974 tentang “Perizinan Usaha Leasing” dan Pengumuman Direktur Jenderal Moneter Peng- 307/DJM/III.1/7/1974, yang dapat melakukan usaha leasing adalah perusahaan yang telah memperoleh izin dari Menteri Keuangan dan telah memenuhi persyaratan dalam pasal 5 Surat Keputusan Menteri Keuangan tersebut. Dalam pasal 2 Surat Keputusan Menteri Keuangan tersebut antara lain ditentukan bahwa yang dapat bertindak sebagai Lessor hanyalah Lembaga Keuangan atau Badan Hukum tersendiri baik yang berbentuk Perusahaan Nasional maupun Perusahaan Campuran dan yang terlebih dahulu telah memperoleh izin usaha leasing dari Menteri Keuangan.

4) Dalam perjanjian sewa-menyewa, pihak yang menyewakan telah memiliki atau menguasai barang-barang yang hendak dipergunakan oleh pihak yang lain dengan membayar sewa sebagai imbalan, sedangkan dalam hal perjajian leasing, pihak

(61)

membiayai (finance) pengadaan barang-barang yang dibutuhkan oleh pihak Lessee itu;

5) Seluruh risiko obyek ada pada umumnya pemeliharaannyapun menjadi kewajiban Lessee, sedangkan dalam sewa-menyewa penyewa (ikut) memikul risiko obyek sewa-menyewa;

6) Imbalan jasa yang dibayar pada perjanjian sewa-menyewa adalah uang sewa, di mana uang sewa ini tidak terhutang apabila perjanjian sewa mengakhiri atau dibatalkan asal saja barang yang disewa dikembalikan, sedangkan dalam perjanjian leasing, Lessor

berkepentingan memperoleh suatu imbalan jasa (uang sewa) yang pada pokoknya merupakan tebusan berkala harga perolehan barang ditambah ongkos pembiayaan, dan lagipula pihak Lessee

tetap berkewajiban membayar seluruh jumlah imbalan jasa tersebut serta mengembalikan barang yang di-lease. Kewajiban

Lessee untuk membayar seluruh imbalan jasa tersebut tidak berhenti atau berkurang., walaupun barang yang menjadi obyek lease itu musnah. Bahkan Lessee tetap berkewajiban membayar seluruh imbalan jasa walaupun Lessee mungkin belum mulai menikmati kegunaan barang tersebut, karena misalnya barang musnah sebelum selesai pemasangannya. Lessor berkepentingan memperoleh imbalan jasa tersebut ialah dikarenakan Lessor harus membayar kembali dana (berikut bunganya) yang dipinjam Lessor

(62)

disediakan kepada Lessee serta seluruh ongkos yang berkaitan ditambah dengan suatu margin yang merupakan keuntungannya. Risiko yang ditanggung oleh Lessor dengan demikian lebih tinggi dari risiko yang pada umumnya ditanggung oleh seorang yang menyewakan dalam perjanjian sewa-menyewa. Alasan ini antara lain menyebabkan perbedaan tertentu dibandingkan dengan perjanjian sewamenyewa. Karena Lessor menanggung risiko pembiayaan adalah tidak fair apabila Lessor juga menanggung risiko atas barang modal tersebut (hilang, rusak, musnah, tidak berfungsi) sepenuhnya kepada Lessee;

7) Jangka waktu dalam perjanjian sewa-menyewa mungkin bisa tidak terbatas, tetapi dalam perjanjian leasing harus merupakan jangka waktu yang tertentu;

8) Jaminan-jaminan tertentu yang harus diberikan oleh seorang yang menyewakan dalam perjanjian sewa-menyewa, seperti jaminan untuk menikmati barang yang disewakan tanpa gangguan, tidak berlaku sepenuhnya dalam perjanjian leasing. Oleh karena Lessee

(63)

b. Perbedaan Perjanjian Leasing dengan Sewa-Beli

Sewa-beli adalah suatu lembaga yang timbul dalam praktek yang sudah diakui sah oleh yurisprudensi. Oleh karena itu belum ada suatu definisi yuridis untuk pengertian ini. Hal ini memang dimungkinkan asal saja setiap persetujuan itu memenuhi persyaratan pasal 1320 KUH Perdata dan lagi pula sebagaimana diketahui hukum perjanjian kita menganut Asas Kebebasan Berkontrak yang terkandung dalam pasal 1338 KUH Perdata.

Dalam Keputusan Menteri Perdagangan dan Koperasi Nomor: 34/Kp/II/80, tentang Perizinan Kegiatan Usaha Sewa Beli (Hire Purchase), Jual Beli dengan Angsuran dan Sewa (Renting), tertanggal 1 Februari 1980, kita menemukan definisinya sebagai berikut:

“Sewa beli (hire purchase) adalah: Jual beli barang di mana penjual melaksanakan penjualan barang dengan cara memperhitungkan setiap pembayaran yang dilakukan oleh pembeli dengan pelunasan atas harga barang yang telah disepakati bersama dan yang diikat dalam suatu perjanjian, serta hak milik atas barang tersebut baru beralih dari penjual kepada pembeli setelah jumlah harganya dibayar lunas oleh pembeli kepada penjual,”

Figur

Gambar 3.1 Struktur organisasi PT. OTO MULTIARTHA FINANCE

Gambar 3.1

Struktur organisasi PT. OTO MULTIARTHA FINANCE p.51

Referensi

Memperbarui...