• Tidak ada hasil yang ditemukan

Persepsi advokat dan hakim terhadap kewenangan absolut peradilan agama di bidang ekonomi syariah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Persepsi advokat dan hakim terhadap kewenangan absolut peradilan agama di bidang ekonomi syariah"

Copied!
130
0
0

Teks penuh

(1)

EKONOMI SYARIAH

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Islam (S.H.I)

Oleh:

BUDISUSILO

103044228105

KONSENTRASI ADMINISTRASI KEPERUATAAN ISLAM

PROGRAM STUDI AL-AHWAL AL-SYAKHSIYYAH

FAKULTAS SYARI' AH DAN IIUKUM

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SYARIFHIDAYATULLAH

J A K A R T A

(2)

EKONOMl SYARIAH

Skripsi

Diajukan kepada Fakultas Syari'ah dan Hukum Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh

Gelar Sarjana Hukum Islam (S.H.I)

Pembimbing I,

Oleh: BUD! SlJSILO

103044228105

Mn iammacl Ta fiki, M. Ag. NIP. 150 290 159

KONSENTRASI ADMINISTRASJ KEPERDAT AAN ISLAM

PROGRAM STUD I AL-AHWAL AL-SY AKHSIYY AH

FAKUL TAS SYARI' AH DAN HUKUM

TJNIVERSIT AS ISLAM NEGERI

SY ARIF HIDA YATULLAH

J A K A R T A

(3)

Penelitian ini bersifat kualitatif dengan pendekatan analisis deskriptif.

Wawancara menjadi metode perolehan data, seperti dengan advokat Muhammad

Muslih, S.Ag. MH dan advokat Renti Maharaini Kerti, SH. MH serta juga

melibatkan para hakim. Diantaranya hakim Pengadilan Agama Jakatta Selatan,

Drs. H. Muhamad Abduh Sulaiman SH. MH, kemudian hakim Pengadilan Agama

Jakarta Timur Drs. H. Muhamad Noer dan Drs. Hj. Saniyah. Sebagai pelengkap

penulis juga melakukan penelitian dari beberapa literatur yang ada. Tujuan

penelitian untuk mengetahui sebagian kecil para advokat dan para Hakim dalam

menyikapi, mengenal, memaknakan sesuatu fenom1ma penyelesaian perkara

ekonomi syariah di lingkungan Peradilan Agama.

Hasil penelitian ini menunjukkan : Pertama, Kedudukan Peradilan Agama kini mandiri di bawah Mahkamah Agung, dan kewenangannya meluas seperti

perkara ekonomi syariah, zakat, infaq, penetapan hak adopsi anak, dan tak hanya

perkara perdata saja tapi wilayah pidana pun juga me1tjadi wewenang Peradilan

Agama. Kedua, Advokat dan hakim menyambut positif atas proses amandemen Undang-undang Peradilan Agama No. 7 tahun 1989 menjadi Undang-undang No.

3 tahun 2006. Dengan alasan kebutuhan masyarakat akan hukum yang semakin

kompleks telah terakomodir dengan baik. Ketiga, Peradilan Agama menangani perkara ekonomi syariah oleh advokat dan hakim ditanggapi positif dengan alasan

Peradilan Agama adalah satu-satunya peradilan Indonesia yang pantas berwenang

perkara-perkara syariah dan memiliki tradisi keislaman yang mengental. Keempat, Keterkaitannya dengan perkara ekonomi syariah di Peradilan Agama, advokat dan

hakim menyatakan merasa siap menghadapi permasalahan hukum yang mengenai

perkara kegiatan dan pembiayaan ekonomi syariah.

Hasil penelitian diharapkan menjadi penambah kekayaan literatur bagi

semua pihak dalam rangka peningkatan pemahaman mengenai perkara ekonomi

syariah di Peradilan Agama. Di samping itu diharapkan menjadi bahan renungan bagi para mahasiswa yang ingin berprofesi sebagai advokat dan hakim bahwa

perlu adanya peningkatan wawasan ekonomi syariah yang semakin pesat

(4)

セjGケMᄋjGL@ セ@

Segala Puji bagi Allah seru sekalian alam, yang tclah memberikan rahmat, taufiq dan hidayah-Nya sehingga penulis clapat menyelesaikan skripsi ini.

Sholawat serta salam senantiasa terlimpahkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW, pembawa syari'ah-Nya yang universal bagi semua manusia dalam setiap waktu dan tempat sampai

akhir

zaman.

Dalam penulisan skripsi ini, tidak sOOikit kesulitan dm hambatan yang penulis jumpai, namun syukur Alhamdulillah berk:at rahmat clan inayah-Nya, kesungguhan, kerja keras dan kerja cerdas disertai dukungan clan bantl:tan dari berbagai pihak, baik langsung maupun tidak langsung, segala kesulitan akhirnya dapat diatasi dengan sebaik-baiknya sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.

Atas bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak dalam menyelesaikan skripsi ini penulis secara khusus mempersembahkan ungkapan

u:rirna

kasih kepada :

I. Bapak Prof. Dr. H. Muhammad Amin Suma, S.H., M.A., M.M., Dekan Fakultas Syari'ah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) SyarifHidayatullah Jakarta. 2. Bapak Drs. H. A. Basiq Djalil, S.H., M.A., dan Bapak Kamarusdiana, S.Ag.,

M.H., Ketua Program Studi dan Sekretaris Progrrun Studi AI-Ahwal Al-Syakhsiyyah Fakultas Syari'ah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

(5)

A. Kedudukan dan Kewenangan Peradilan Agama Pasca Amandemen

Undang-undang No.3 Tahw1 2006 ... 80

B. Persepsi Advokat dan Hakim Terhadap Peradilan Agama Atas Wewenang Perkara Ekonomi Syariah ... 92

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 111

B. Saran ... 113

DAFTAR PUSTAKA ... 114

(6)

A. Latar Belakang Masalah

Semenjak tumbangnya rezim Orde Baru pada 1:ahun 1998,

perubahan-perubahan mengalami kemajuan yang berarti, utamanya sangat terasa di

bidang politik. Perubahan politik telah membawa Indonesia kepada negara

yang lebih demokratis yang ditandai kebebasan menyatakan pendapat, pers

yang tak dikekang dan desakralisasi kepemimpinan. Namun, yang

memprihatinkan dalam bidang ekonomi masih mengalami stagnan, meskipun

harus d iakui tel ah ada perbaikan-perbaikan, kondisi krisis be I um pulih benar

sebagaimana harapan nurani rakyat. Terlebih dengan adanya berbagai bencana

yang terus menerpa bangsa dan negara Indonesia. Hal tersebut tidak terlepas

dari pengaruh kondisi hukum yang ada pada saat sekarang ini.1

Akan tetapi, di tengah kemelut persoalan bangsa yang tidak kunjung

berkesudahan, terdapat asa dan upaya untuk bangkit dari kubangan krisis. lni

terlihat dari semaraknya nuansa gerakan pemulihan ekcmomi nasional dengan

kekuatan ekonomi berbasis syariah di seantero tanah air. Tidak hanya itu,

upaya memformalkan perangkat hukum syariah yang terkait dengan ekonomi

dan keuangan ke dalam aturan legislasi negara terus dilakukan. Ini terlihat dari

pemerintah yang mengupayakan pembenahan legislasi Undang-undang No. 10

Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-undang No. 7 Tahun 1992

tentang Perbankan. Aturan ini mengukuhkan Iandasan hukum bagi eksistensi

1 Abdul Gani Abdullah, "Politik Hukum di Bidang Ekonomi Syariah dan Agenda

Legislasi," Departemen I-Iukum dan HAM RI Badan Pembinaan Hukum Nasional, ed., Seminar Nasional Reformulasi Sis/em Ekonomi Syariah dan Legislasi Nasional 6-8 Juni 2006 (Jakarta:

(7)

perbankan syariah menjadi kokoh dari segi kelembagaan maupun landasan

operasionalnya di dunia belantika perbankan nasional.

Demikian pula dilakukan legislasi Undang-undang No. 3 Tahun 2006

tentang Perubahan Atas Undang-undang No. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan

Agama pada 20 Maret 2006. Undang-undang tersebut menjadi perangkat

hukum (legal Substance) yang salah satunya mengakomodir tentang ihwal penyelesaian perkara ekonomi syariah pada tataran lembaga pengadilan yang

bemuansa syariah. Selama ini lembaga penyelesaian sengketa alternatif di luar

yuridiksi pengadilan, atau yang sering di istilahkan dengan sebutan arbritase

menjadi salah satu Jembaga yang dipercaya menangani masalah bisnis syariah.

Contohnya dalam hat ini adalah Badan Arbritase Syariah Nasional, merupakan

satu-satunya dari sekian banyak contoh lembaga arbritl1Se yang menyelesaikan

sengketa-sengketa yang terkait dengan perekonomian yang berakad syariah.

Penanganan sengketa ekonomi syariah dalam Undang-undang No. 3

tahun 2006 bisa dilihat dalam pasal 49 poin (1), yang menyebutkan dengan

jelas, bahwa Pengadilan Agama berwenang menyelesailkan sengketa di bidang

ekonomi syariah. Sengketa-sengketa yang dimaksud, s:eperti sengketa antara

lembaga keuangan dan pembiayaan syariah dengan nasabahnya. Kemudian

sengketa antar sesama lembaga keuangan dan pembiayimn syariah, Jalu juga

menangani sengketa antara orang-orang yang beragarna Islam yang dalam akad perjanjiannya disebutkan dengan tegas, bahwa pe'rbuatan atau kegiatan

usaha yang dilakukan adaiah berdasarkan prinsip-prinsip syariah. 2

2

Abdul Manan, "Beberapa Masalah Hukum dalam Praktek Ekonomi Syariah," dalam Rlfayal Ka'bah, ed., Rapa/ Kelja Nasional Mahkamah Agung RI de,,gan Jajaran Pengadilan Empat Linglamgan Peradilan Se/uruh Indonesia Tahun 2006, Batam 10-14 September 2006

(8)

Refonnasi hukum tersebut membawa atmosfir baru dalam sejarah

hukum ekonomi di Indonesia. Selama ini dalam prakteknya, sebelum

amandemen Undang-undang No. 7 Tahun 1989, penegakan hukum kontrak

bisnis di lembaga-lembaga keuangan syariah tersebut mengacu pada ketentuan

KUH Perdata yang merupakan terjemahan dari Burgerlijk Wetboek (BW),

kitab Undang-undang hukum sipil Belanda yang dikonkordansi

keberlakuannya di tanah jajahan Hindia Belanda sejak tahun 1854 ini,

sehingga konsep perikatan dalam Hukum Islam tidak lagi berfungsi dalam

praktek fonnalitas hukum di masyarakat, tetapi yang berlaku adalah BW.3

Dengan kejadian demikian, imbasnya konsep perikatan dalam hukum Islam

yang telah bercokol di adat istiadat dan telah mengurat nadi dalam kehidupan

masyarakat Indonesia tidak berfungsi dalam praklek fonnalitas hukum.

Ibaratnya hukum Islam seperti macan ompong yang ticlak berwibawa. Padahal

kalau mau dikata, menurut Abdul Manan, hukum Isi'an1 mempunyai tujuan

(Maqasid al-Syariah) yang memiliki aspek mewujudkan kemaslahatan manusia di dunia dan akhirat. Serta membawa manusia ke bawah naungan

hukum agar nantinya manusia terbebas dari kukungan hawa nafsu.4

Belakangan ini, nilai-nilai religiusitas keisla.man mulai terkonsep

dalam seluruh kehidupan berbangsa dan bernegara. Salah satu contohnya

menggeliatnya kegiatan ekonomi syariah yang menjadi detenninan dan cara

mengga11tika11 bobroknya sistem sosialisme clan kapitalisme yang berkonsep

3 Agustianto, "Urgensi Kodifikasi Hukum Ekonomi Islam/'

artikel diakses 31 Agustus 2007 dari http://www.resantrenvirtual.com/index.php

4

(9)

pada ekonomi eksklusif, individualisme dan materialisme yang menihilkan nilai keadilan dan kesejahteraan sosial. Karena itu, pesatnya ekonomi syariah saat ini harus diiringi oleh kreatifitas, semangat etos kerja, tingginya kapasitas pembelajaran serta kematangan organisasi agar ekonomi syariah tidak hanya sebatas ideologi simbolis yang menanggalkan nilai substansi luhur ekonomi syariah. Dan terlebih lagi, kunci sukses dari itu semua berpijak pada penegak hukumnya. Jika para penegak hukumnya berperan buruk maka prinsip ekonomi syariah hanya menampakan simbolis semata, tanpa memberikan makna yang berarti bagi kemaslahatan seluruh alam semesta.

Tolak ukur penegakan, pencapaian, kepastian dan keadilan hukum bergantung pada "pendekar hukum", yaitu Kehakiman dan Advokat selain Kejaksaan, Tentara Nasional Indonesia serta Kepolisian juga termasuk. Berhubung dalam skripsi ini mengangkat tema Advokat dan Hakim, maka pembahasanya secara mendalam mengenai Advokat yang berprofesi sebagai pemberi jasa hukum dan Hakim yaitu sebuah profesi yang termasuk dalam lingkaran kekuasaan kehakiman yang bebas dari segala campur tangan dan pengaruh dari luar.

(10)

Wujudnya proses penegakkan dan keadilan lmkum, bertumpu pada Hakim yang identik sebagai figur sentral dalam proses peradilan dengan melandaskan pada pengasahan kepekaan nurani suci, mengandalkan kecerdasan moral dan intelektual serta penunjukkan sikap profesionalisme dalam menegakkan hukum dan keadilan masyarakat secara keseluruhan. Putusan Hakim yang mendasarkan pada itu semua, akan menjadi puncak kearifan bagi penyelesaian permasalahan hukum yang terjadi dalam kehidupan masyarakat berbangsa dan bemegara. Sehingga nuansa sifat masyarakat madani selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kemerdekaan sipil dan hak asasi manusia.

Hakim merupakan profesi yang penuh dengan pertanggungjawaban secara horizontal kepada sesama manusia, lingkungan alam semesta dan vertikal kepada Tuhan Yang Maha Esa. Hakim selalu disimbolkan dalam bentuk kartika, cakra, candra, sari dan tirta. Y akni c:erminan dari perilaku Hakim yang harus senantiasa berlandaskan pada prinsip ketakwaan pada Ketuhanan Maha Esa, adil, bijaksana berwibawa, berbudi luhur dan jujur.

(11)

Kebutuhan akan jasa Advokat dan eksistensi peran Haldm dalam proses peradilan kali ini semakin berkembang dan rumit, sejalan dengan kebutuhan hukum masyarakat terutama halnya baru-baru ini mengenai problematika hukum ekonomi syariah. Advokat dan Hakim saat ini dituntut untuk memberi sumbangan serta peran yang bera1ti bagi pemberdayaan masyarakat dan pembaharuan hukum, khususnya dalam hal ihwal penanganan sengketa ekonomi syari'ah. Karena ditangan para penegak hukum inilah perkembangan hukum bidang ekonomi syariah mettjadi agent of change pengentasan ekonomi Indonesia yang tak selalu menggembirakan. Berhubung topik yang dibahas adalah seputar tanggapan penegak hukum, khususnya Advokat dan Hakim, terhadap proses perkembangan hukum ekonomi berbasis syariah, maka penulis mengangkat dalam skripsi de:ngan tajuk: "Persepsi Advokat dan Hakim terhadap Kewenangan Absolut Peradilan Agama di Bidang Ekonomi Syariah ".

B. Pembatasan dan Perumnsan Masalab

Era globalisasi saat ini, berbagai hal kebutuhan masyarakat di bidang hukum menuntut penyesuaian. Sepe1'ti halnya menerbitkan Undang-undang No. 3 tahun 2006 tentang perubahan atas Undang-undang No. 7 tahun 1989

(12)

Hal ini tentunya para Hakim yang biasanya menyelesaikan perkara di

lembaga Peradilan Agama sebatas masalah perkawinan, kewarisan, hibah dan

perwakafan kini tertantang untuk menangani problernatika hukum ekonomi

syariah. Begitu juga dengan advokat yang fungsinya memberikan jasa hukum

yang ruang lingkupnya memberikan nasihat hukum, mendampingi, membela

klien dalam kasus perkawinan, kewarisan, hibah dan perwakafan, kini harus

dihadapkan oleh proses beracara kasus sengketa ekonomi syariah di Peradilan

Agama yang satu-satunya sebagai jalur litigasi penyelesai ekonomi syariah.

Oleh karenanya agar pembahasan skripsi ini lebih terarah, penulis

merumuskan beberapa permasalahan yang menjadi bahasan dalam skripsi ini,

yaitu:

I. Bagaimanakah kedudukan dan kewenangan Peradilan Agama pasca

terbitnya Undang-undang No. 3 Tahun 2006 tentang perubahan atas

Undang-undang No. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama?

2. Bagaimana persepsi sebagian kecil Advokat dan Hakim terhadap

fenomena baru dalam tataran Peradilan Agama yang memiliki

kewenangan absolut di bidang sengketa ekonomi syariah?

C. Tujuau dan Manfaat Pcnulisan

Dalam tujuan skripsi kali ini, penulis mengangkat topik ini dengan

tujuan, sebagai berikut:

I. Untuk mengetahui garis besar reformasi kelembagaan hukum di tubuh

Peradilan Agama dengan melihatnya dari segi kedudukan dan

(13)

Perubahan Atas Undang-undang No. 7 Tahun il 989 tentang Peradilan Agama. Serta bagaimana juga keterkaitan Peradilan Agama atas amandemen undang-undang Kekuasaan Kehakiman yang tertuang dalam Undang-undang No. 4 Tahun 2004 tentang Kek11asaan Kehakiman. 2. Untuk mengetahui persepsi sebagian kecil advokat dan hakim dari segi

penyikapan, strategi pelaksanaan, pemahaman, clan kesiapan, terhadap perkembangan dinamika Peradilan Agama yang mendapatkan perluasan kewenangan absolut di bidang penyelesaian sengketa ekonomi syariah, sebagaimana termaktub dalam pasal 49, poin (1) Undang-undang No. 3 Tahun 2006 tentang Perubahan Amandemen Undang-undang No. 7 Tahun 1987 tentang Peradilan Agama.

Sedangkan manfaat penulis membahas ha! ini adalah sebagai berikut: I. Kegunaan akademis: Untuk mengembangkan dan memperdalam

wawasan ilmu pengetahuan di bidang hukum khususnya yang berkaitan dengan profesi advokat dalam memberikan jasa hukum dan profesi hakim sebagai pemberi kebijakan atas keadilan hukum, terutama terkait erat keprofesionalan advokat dan hakim terhadap perkembangan kewenangan Peradilan Agama di bidang sengketa ekonomi syariah.

(14)

E. Metode Penelitian

Pada kesempatan kali ini, penulis menggunakan pencarian data melalui metode studi kepustakaan (Library Research), yaitu penelitian yang dilakukan di perpustakaan-perpustakaan, arsip, museum, dan lain-lain dengan cara mengumpulkan, meneliti, mengkaji yang terdapat dalam buku-buku, surat kabar, majalah dan lain-lain yang berkaitan dengan materi hukum, ekonomi dan dinamika profesi advokat, kehakiman serta Peradilan Agama

Selain itu penulis juga memadukan metode penelitian lapangan (Field Research) dengan mencari fakta-fakta yang ada di lapangan, melakukan observasi, mengumpulkan data-data serta melihat langsung objek yang akan dijadikan topik bahasan serta mewawancarai para 11ara sumber yang terkait dengan topik skripsi.

Adapun untuk memperoleh data-data yang dimaksud tersebut diatas, penulis menggunakan beberapa teknik:

a. Metode kontak (personal interview), yaitu percakapan dengan maksud tertentu yang dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancara:i yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu. Dalam operasionalnya dilakukan melalui wawancara langsung (face to face) dan kontak telepon, via e-mail jikalau memang tidak bisa berkesempatan bertemu langsung.

(15)

c. Observasi (pengamatan), yaitu pengamatan dan pencatatan sesuatu objek dengan sistematika fenomena yang diselidiki.

Dari basil penelitian di lapangan, penulis me:nganalisa pennasalahan dari data-data yang terkumpul dengan menitikberatkan pengolahan data pada metode kualitatif dengan pendekatan analisis deskriptif, yaitu yang penyajiannya berdasarkan logika dengan menggimakan kalimat untuk kemudian dijadikan kesimpulan dalam pembahasan judul skripsi ini.

Sedangkan mengenai teknik penulisan skripsi ini, penulis berpedoman pada buku Pedoman Penulisan Karya Ilmiah: Skripsi, Tesis, dan Disertasi atas buah karya tim penulis Hamid Nasuhi, dkk. yang diterbitkan oleh CeQDA (Center for Quality Development and Assurance) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, cetakan I, tahun 2007.

F. Sistematika Penullsan

Agar pembahasan dan penulisan skripsi ini terurai secara sistema!is, maka dalam hal ini terbagi menjadi lima bab, dengan susunan sebagai berikut: BAB Pertama : Merupakan pendahuluan yang terdiri dari latar belakang masalah, pembatasan dan perumusim masalah, tujuan dan kemanfaatan dari penelitian, metodelogi penelitian, serta sistematika penulisan.

(16)

BABKetiga

membahas Advokat dan Hakim sebagai salah satu unsur

penegak hukum.

Merupakan paparan mengenai gambaran hubungan Islam

dan ekonomi keuangan atau konseptualisasi dari ekonomi

syariah yang pokok bahasannya meliputi, Prinsip Ekonomi

Syariah, Sistem Ekonomi dalam Islam, Perkembangan

Lembaga Keuangan Syariah di Indonesia, serta membahas

Lembaga Penyelesaian Sengketa Bisnis Syariah dalam jalur

litigasi maupun non litigasi di Indonesia.

BAB Keempat: Dalam bab ini akan dikemukakan clan dipaparkan terlebih

BABKelima

dahulu tentang pembahasan kedudukan dan kewenangan

Peradilan Agama setelah amandem1:n Undang-undang No.

7 tahun 1987 menjadi Undang-undang No. 3 tahun 2003

tentang Peradilan Agama. Serta melihat gambaran presepsi

dari para advokat yang biasa beracara di Peradilan Agama

dan hakim Peradilan Agama mengenai penyelesaian

masalah ekonomi syariah di jalur litigasi.

Merupakan tahap akhir dari penulisan skripsi ini yang berisi

dari kesimpulan-kesimpulan penelitian dari awal sampai

akhir dalam skripsi ini, juga terdili dari saran-saran penulis

terhadap topik pembahasan yang diangkat dalam penelitian

(17)

BABU

KERANGKA TEORI DAN KONSEP

A. JPengertian Advokat dan Hakim

Di surat kabar seringkali di temui tulisan berita yang bunyinya "tergugat

tidak bisa hadir dalam persidangan kasus perceraian dan hanya bisa diwakili oleh

pengacaranya

dan juga berita seperti "terdakwa kasus terorisme hadir dalam

persidangan dengan di dampingi oleh

penasehat hukumnya.

Atau juga bila kita

menyusuri jalan-jalan pusat keramaian sering terlihat plang persegi berwarna

putih yang terpampang di setiap depan kantor-kantor yang notabene diperuntukan

dalam penyediaanjasa hukum yang dengan kontrasnya

her-font

hitam, bertuliskan

Advokat

dan

Penasehat Hukum.

Memang di kalangan masyarakat umumnya, istilah yang menyangkut

profesi ahli hukum ada tiga, yaitu pengacara, penasehat hukum, advokat. Ke

semua istilah tersebut bersinonim sebagai orang yang ahli dalam seluk-beluk

dunia hukum. Hanya saja yang menjadi pembeda pengertian ketiga istilah

tersebut adalah dru:i segi peran dan praktek profesinya. Untuk istilah advokat dan

pengacara dari segi peran dan praktek profesinya bermakna sama, dan hanya

istilah penasehat hukum saja yang berbeda sendiri pengertiannya.

Untuk itu, agar tidak menimbulkru1 kebingungan penjelasan yang

dimaksud, beriknt jelasnya mengenai pengertian ketiga istilah tersebut. Menurut

Yudha Pru1du, advokat atau pengacara adalah orang yang mewakili kliennya

untuk melakukan tindakan hukum berdasarkan surat kuasa yang diberikan untuk

(18)

Jelas sekali bunyi pasal tersebut berbeda dengan apa yang diperlihatkan oleh

aturan hukum Kekuasaan Kehakiman yang baru pada saat ini. Aturan yang

dimaksud ini tertuang dalam Undang-undang No. 4 Tahun 2004 tentang

Kekuasaan Kehakiman. Undang-undang ini menggimakan istilah advokat di

dalam pasal 38-nya, dengan menyebutkan bahwa:

"Dalam perkara pidana seorang tersangka sejak saat dilakukan penangkapan atau penahanan berhak menghub1mgi dan meminta bantuan advokat."

Lain halnya, Departemen Kehakiman-sekarang Departemen Hukum dan

HAM-mempergimakan dua istilah dalam surat pengangkatan bagi mereka yang

bergelar sarjana hukum dan mempunyai pekerjaan tetap di bidang advocatuur,

yakni pada periode sebelum tahun 1970 mempergimakan istilah "advokat" dan

pada periode setelah tahun 1970 dengan nama "pengacara''. Menurut Martirnan

Prodjoharnidjojo, adanya perbedaan penggunaan istilah di tengah masyarakat

hukum dikarenakan karena belum adanya undang-undang yang mengatur perihal

mengenai profesi yang dimaksud.3

Akan tetapi semenjak peristiwa reformasi kenegaraan di tahun 1998,

undang-undang yang dimaksud tersebut saat ini sudah berwujud. Semua mengenai kedudukan, hak dan kewajiban, organisasi, klien, kode etik dan aturan

lainnya diperuntukkan bagi para profesional yang mernberikan jasa, pelayanan,

nasihat serta bantuan hukum bagi pencari keadilan termaktub dalam

Undang-undang No. 18 Tahun 2003. Di aturan perUndang-undang-undaugan ini tenninologi yang

3

Martiman Prodjohamiqjojo, Penasehat dan Bantuan Hukum Indonesia, (Jakarta: Ghalia

(19)

digunakan adalah istilah advokat. Sehingga di tengah masyarakat hukum sekarang

terdapat satu kesatuan dalarn memberikan istilah profesi ini, yaitu advokat.

Oleh karenanya dewasa ini, komunitas profesi-profesi hukum sekarang ini

sepakat menggunakan tenninologi advokat untuk menyebut profesi hukum yang

bergerak dibidang pemberian nasihat-nasihat hukum tertentu secara lisan ataupun

tertulis, maupun yang bergerak dibidang litigasi seperti pembelaan dan mewakili

di pengadilan atau juga menjalankan kuasa dalarn penyelesaian suatu kasus

alternatif (alternative dispute resolution) seperti negosiasi, mediasi, dan arbritase.

Bukan saja karena alasan aturan undang-undang mengistilahkan advokat,

terlebih juga karena alasan pertimbangan segi pemaknaan bahasa. Dimana istilah

penasehat hukum memiliki kelemahan yang sifatnya mendasar. Karena istilah

penasehat secara konotatif bennakna pasif. Padahal secara nonnatif dalarn bah IV

ketentuan Susunan Kehakiman dan Kebijaksanaan Mengadili (RO) sifat pasif

maupun aktif dapat dilakukan seorang Advocaat en Procureur dalarn mengurus

sesuatu ha! yang perlu pertimbangan hukum atau mengurus perkara yang

dikuasakan kepadanya.4

Dan itulah kenapa Undang-undang No. 18 Talmn 2003 juga menggunakan

istilah advokat. Karena menurut pertimbangan pem.ilis, kata advokat Iebih tepat

dalarn mengartikan sebagai orang yang profesional S(:cara aktif maupun pasif

dalarn mengurus problematika hukum, ketimbang penggunaan istilah penasehat

hukum. Untuk lebih jelasnya, definsi advokat bisa dilihat dalarn Undang-undang

4 M.P.Luhut Pauganouan,

(20)

No. 18 Tahun 2003 tentang advokat pasal 1 ayat !. Undang-undang tersebut mengartikan advokat sebagai berikut:

"Orang yang berprofesi memberi jasa hukum, baik

di

dalam maupun di luar pengadilan yang memenuhi persyaratan berdasarkan ketentuan undang-undang ini ."

Jadi advokat itu merupakan orang yang mempunyai keahlian dalam bidang hukum baik itu yang cakupannya hukum privat maupun publik. Dengan keahlian tersebut, seorang advokat memberi jasa keahliannya berupa konsultasi, bantuan, menjalankan kuasa, mewakili, mendampingi, membela, para pihak yang berperkara di dalam maupun luar pengadilan. Atas apresiasi keahliannya, seorang advokat di cap sebagai profesi yang bebas, mandiri, dan bertanggungjawab dalam menegakkan supermasi hukum yang telah clilindungi clan dijamin oleh undang-undang.

Pada lain bahasan, tulisan ini juga membahas pengertian hakim yang juga merupakan salah satu Iingkup dengan advokat sebagai perangkat penegak hukum. Perlu cliketahui definisi hakim adalah rechter (Belanda), petugas pengadilan yang mengadili perkara, dalam ihnu pengetahuan diakui sebagai salah satu sumber hukum.5

Dalam peraturan perundang-undangan ウ・「。ァ。セュゥウ。ャ@ dalam Undang-undang No. 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana dalam pasal 1, definisi hakim disebutkan:

"Pejabat peradilan negara yang diberi wewenang oleh undang-undang untuk mengadili."

5

(21)

Sedangkan di Undang-undang No. 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial dalam

pasal I ayat ( 5) disebutkan, bahwa:

"Hakim adalah hakim Agung dan hakim pada badan peradilan di semua lingkungan peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung serta hakim Mahkamah Konstitusi sebagaimana di!maksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945."

Bahkan di Undang-undang No. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman

pengertian hakim pun disinggung dalam pasal 31, bahwa:

"Hakim adalah pejabat yang melakukan kekuasaan kehakiman yang diatur dalam undang-undang."

Perlu diketahui yang dimaksud kehakiman adalah proses mengadili suatu perkara

sengketa individual konkrit antara dua pihak dengan maksud untuk diberi suatu

keputusan tentang bagaimana ketentuan hukum positif da!am rumusannya yang

konkrit dan harus menguasai sengketa yang dihadapi.6 Menurut Denny Indrayana,

Direktur Eksekutif Indonesia Court Monitoring, hakim adalah pejabat, baik itu

hakim di semua tingkatan peradilan termasuk hakim ag1mg dan hakim konstitusi,

yang melakukan kekuasaan kehakiman, yaitu sebuah kekuasaan yang ditujukan

untuk menyelenggarakan proses peradilan yang penyelenggaraan kekuasaannya

dilakukan oleh Mahkamah Agung dan badan peradilan berada di bawalmya.7 Jadi

dapat ditarik kesimpulan, hakim itu ialah pejabat negara yang dilindungi oleh

undang-undang untuk berwenang mengadili perkara sengketa individual konkrit

6

Taufiq, "Praktek Penyelenggaraan Kekuasaan Kehakiman di :Negara Repuhlik Indonesia sebagai Kekuasaan Negara yang Mandiri," Suara Uldilag II, no. 5 (September 2004): h. 7.

1

(22)

antara dua pihak yang dilandasi dengan hukum positif dan nilai-nilai keadilan

yang hidup di tengah-tengah masyarakat.

Sedangkan pendapat dari beberapa intelektual rnuslim seperti Muhammad

Sangalaji, hakim didefinisikan sebagai orang yang bertindak dalam memutuskan

perselisihan agar membawa penyelesaian perselisihan, mengatur perselisihan dan

mengakhiri perkara dengan memerintahkan untuk melarang pelanggar untuk

bersikap tidak adi!.8 Kalan lbnu Khaldun dalam Muqaddimah-nya, hakim adalah

pejabat negara yang memutuskan perkara di antara orang yang berselisih untuk

dibenahi dengan pas dan menempatkan pengakhiran perdebatan dan konflik.9 Dan Muhammad Sallam Madkur, hakim adalah orang yang diangkat oleh penguasa

untuk menyelesaikan dakwaan dan persengketaan, lrnrena penguasa tidak mampu

melaksanakan sendiri semua tugas tersebut, sebagaimana Nabi Muhammad SAW

mengangkat hakim-hakim untuk mengadili di tempat jauh Nabi berada. 10

B. Peran dan Fungsi dari Advokat dan Hakim

Sebagaimana kita ketahui Indonesia merupakan negara berprinsip hukum dan bukan atas kekuasaan belaka sehingga hukurn dijadikan sebagai panglima

dalam berkehidupan kebangsaan. Prinsip negara hukwn menuntut adanya jaminan

kesederajatan bagi setiap orang di hadapan hukum tanpa memandang dari mana suku, agama, ras, ideologi dan warna lrnlitnya. Oleh kairena itu, konstitusi telah

8

Ghulam Murtaza Azad, Judicial System of Islam, (New Delhi: Kitab Bahvan, 1994), h. 5.

9

Ibid, h. 5-6.

10

Kamarusdiana, "Penyatuan Lembaga Peradilan dan Falsafuh Kemerdekaan Hakim,''. ...

AHKAM VJ, no. 14 (2004): h. 190. _ ... .

(23)

menentukan bahwa setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan perlindungan

dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum.

Untuk menghindari jaminan perlindungan dan kepastian hukum

sebagaimana ini terkandung dalam negara berprinsip hukum hanya sebatas indah

diatas kertas, perlu adanya perwujudan dan tindakan konkrit. Dalam usaha

mewujudkannya, disinilah kemudian peran dan fungsi dari advokat sebagai

profesi yang bebas, mandiri dan bertanggung jawab merupakan ha! yang konkrit

mewujudkan jaminan perlindungan dan kepastian hukum. Di samping lembaga

peradilan dan instansi penegak hukum seperti hakim, kejaksaan, TNI-Polri

menunjukan kualitas memperjuangkan hati nurani rakyat, dipastikan cita-cita

negara hukum yang mapan akan tercipta.

Oleh sebab itu, peran advokat sebagai garda terdepan dal.am

memperjuangkan perlindungan dan kepastian hukum, advokat dituntut membela

kepentingan rakyat tanpa keberpihakan pada ketidakbenaran dan ketidakadilan.

Pembelaan kepada semua orang tennasuk juga kepada fakir rniskin sebagai salah

satu bentuk bantuan hukum merupakan wujud

dari

penghayatan advokat terhadap prinsip persamaan kedudukan di hadapan hukum s\セイエ。@ proses implementasi

bentuk hak dalam mendapatkan pendampingan advoka.t pada setiap orang yang

tengah dirundung problematika hukum.

Berbicara mengenai pembelaan hukum, terutama bantuan hukum secara

cuma-cuma, sejarah Indonesia mencatat kontribusi signifikan yang diberikan

kalangan advokat. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Binziad Kadafi dan

(24)

sebagian besar mengaku pemah memberi bantuan hulrnm cuma-cuma dan hanya sebagian kecil saja yang mengatakan tidak pemah. Sebagian besar alasan advokat memberikan jasa hukum secara cuma-cuma dilatarbelakangi oleh alasan tanggungjawab moral dan pertimbangan kemanusiaan semata. Selain kondisi ekonomi klien lemah dan tuntutan profesi yang memiliki aspek muatan sosial.11

Mengenai peran dan fungsi advokat, ada satu hal lagi yang menarik dari apa yang diutarakan oleh Bagir Manan dalam Munas Ikatan Penasehat Hukum Indonesia ke-IV di Medan, 20 Agustus 2003. Advokat selain membantu hakim mengungkap fakta yang benar dan menemukan lmlrum yang tepat agar hakim dapat memutus secara benar dan adil, sekaligus advokat juga bisa dijadikan penyedia jasa hukum bagi pihak yang berperkara atau sering disebut klien.12

Perlu diketahui, dalam redaksi Undang-undang No. 18 Tahun 2003 tentang Advokat di pasal I ayat 2-nya, secara jelas menerangkan yang dimaksud denganjasa hukum adalah:

"Jasa yang diberikan advokat berupa memberikan konsultasi hukum, bantuan hukum, menjalankan kuasa, mewakili, mendampingi, membela, dan melakukan tindakan hukum lain untuk kepentingan hukum klien." Dan tentu saja yang tak bisa dilupakan oleh advokat dalam kinerjanya sebagai pemberi jasa hukum, haruslah berdasar nilai etika moral yang suci. Sebagaimana hal

ini

terkandung dalam sumpah profesinya di pasal 4 ayat 2, Undang-undang No. 18 Tahun 2003 yang mengharuskan tugas sebagai pemberi jasa hukum akan

11

Binziad Kadfi, dkk, Advokat Indonesia Mencari Legitimasi, (Jakarta: Pusat Studi Hukum

dan Kebijakan Indonesia, 2002), h. 177-178.

12

Bagir Manan, "Peranan Advokat dalam Penataan Pe radii an," Suara U/dilag II, no. 4

(25)

bertindak jujur, adil, bertanggungjawab berdasarkan hukum dan keadilan. Tentu saja, dengan begitu atmosfir penegakkan supem1asi hukum membawa arah pembangunan bangsa menjadi sukses, sejahterah dan berkeadilan sosial.

Sebagai fasilitator dalam memberi jasa hukum, advokat hanya berkaitan dengan urusan kepentingan klien. Dimana kepentingai11 klien tidak semata-mata kepentingan hukum, tetapi juga kepentingan lain seperti sosial, ekonomi yang bertalian dengan persoalan hukum yang dihadapi. Seorang advokat bukan hanya wajib membantu klien dalam suatu proses hukum, tetapi juga mencari, memberi, dan menemukan jalan penyelesaiaJll lebih mudah, lebih sederhana yaJ11g dapat melindungi reputasi termasuk menghindarkaJll atau mencegah klien berperkara secara berkepanjangan. Dengan perkataan lain, jasa hukum sebagai profesi advokat, bukaJ11 saja membantu klien berperkara tetapi juga membaJ11tu untuk menghindari atau tidak berperkara.13

Jadi dengaJll begitu, dapat disimpulkan bahwa titik peraJ11 advokat menjadi penegak hukum dengan menyediakan jasa hukum dalarn mengatasi problematika hukum yang kusut masai, menjadikaJll advokat sebagai dalaJ11g yaJ11g mewujudkan kesepakatan dengaJll mendasarkan keridha-aJll dan kepatutan di aJ11tara para pihak pencari keadilaJ11. Sehingga usaha mendamaikan perkara tercapai, bahkaJll proses penyelesaiaJ11 sengketa yaJ11g didapat pun menjadi cepat, murah, dan sederhaJlla. Akan tetapi maksud tersebut hanya bisa diterapkanjika terkait dengan aturaJll

hak-hak peroraJ11gaJ11 yaJ11g berhubungaJ11 dengaJt1 harta bendaJ11ya atau yaJ11g sering oraJ11g menyebutnya dengaJll istilah perkara hukum perdata.

(26)

Tak sampai di situ saja, peran dan fungsi advokat temyata juga berpengaruh terhadap kesuksesan proses persidangar1. Dengan kebebasan dan kemandirian sebagaimana telah dijamin oleh undang-undang sang advokat berperan terhadap jalannya persidangan yang sedang dijalani oleh pihak yang berperkara. Dan tentu saja dengan keterlibatan advokat dalam persidangan, misalkan menyangkut ha! pidana ataupun perdata bisa membawa manfaat terhadap proses persidangan yang efisen, efektif, tepat,. adil dan benar. Sehingga cita-cita penegakkan hukum dan keadilan serta proses penyelenggaraan peradilan yang sederhana, cepat, dan biaya ringan, tak terjadi inkonsistensi antara das sollen

dan das sein (law in book and law iii action gap) di negara hukum Republik

Indonesia.

Untuk melihat bagaimana implikasi dari perar1 dim fungsi penggunaanjasa hukum

dari

advokat. Berikut pemaparan

dari

basil penelitian DIP tahun anggaran 1998/1999, IAIN Syarif Hidayatullah, yang ー・ュセャゥエゥ。ョョケ。@ dilakukan di Pengadilan Agama Jakarta Selatan. Survei membuktikan, bahwa proses penjadwalan persidangan yang dilakukan kompromistilc oleh advokat, membuat hakim merasa terbantu akan keberlangsungan proses persidangan. Karena dengan begitu penjadwalan akan terlihat disiplin sesuai dengan apa yang disanggupi dalam kompromi sebelumnya.14

Kemudian peran dan fungsi advokat dalam penyelesaian perkara sangat meringankan beban seorang halcim. Maksudnya, beracara di pengadilan sangat

14

(27)

membutuhkan pengetahuan seseorang tentang hukum materil dan formil. Jika saja seorang warga buta hukum mengajukau satu perkara hukum, dewan hakirn tidak jarang sangat disibukkan untuk rnengarahkan bagairnana caranya rnernbuat berkas tuntutan yang benar. Tak jarang berkas-berkas perkaranya harus direvisi berulang-ulang akibat ketidakjelasan inti permasalahan. Bahkan penghadiran para saksi yang tidak tepat untuk rnernberikan keterangan bukti tentang duduk perkara yang dipermasalahkan tidak jarang rneujadi dilerna besar. Tentunya dengan kejadian tersebut, bisa rnernperpanjang waktu penyelesaian perkara, juga rnernbengkakan biaya yang harus dia keluarkan, terlebih lagi dewan hakirn pun harus rnenguras tenaga ek:stra rnenunda sidang berkali-kali akibat yang berperkara tidak memenuhi syarat.15

Sehingga bila ditarik benangmeralrnya, advokat berperan memberikan bimbingan dan pengetahuan kepada masyarakat luas, nerutama masyarakat yang selama ini belurn "melek" akan proses hukum fomril dan materil patut berhak didampingi, dididik, dibimbing, denri meajaga hak asasinya sebagai manusia yang sejak dilalrirkan ke planet bunri oleh Sang Raja Manusia; Allah SWT, secara

fitrah telah melekat rnutlak. Sehingga keterjanrinan kualiitas proses peradilan yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran dan keadilan dapat terbangun dengan baik. Oleh sebabnya hal-hal yang dinilai

mudharat

dalam proses peradilan bisa dihindari. Dan keterciptaan proses penegakkan supermasi hukum yang berkualitas

shahih

dapat berlabuh di pangkuan "lbu pertiwi" RepubHk Indonesia.
(28)

Sehingga dapat disimpulkan advokat memiliki peran diantaranya, yaitu: 16

1. Mempercepat penyelesaian administrasi persidangan di pengadilan.

2. Membantu menghadirkan para pihak yang berperkara di pengadilan sesuai

jadwal persidangan.

3. Memberikan pemahaman hukum yang berkaitan dengan duduk perkara dan

posisinya, terhadap para pihak dalam menyan1paikan pemohonan atau

gugatan atau menerima putusan pengadilan.

4. Mendampingi para piliak yang berperkara di Pengadilan Agama misalnya,

sehingga yang didampingi merasa terayomi keadilannya.

5. Mewakili para pihak yang tidak dapat hadir d!alam proses persidangan

lanjutan, sehingga memperlancar proses persidangan.

6. Dalam memberikan bantuan hlli..'U!Il, sebagai advokat profesional tetap

menjunjung tinggi sumpali advokat, kode etik profesi dalan1 menjalaukan

peran sesuai dengan tugas dan fungsinya.

Kemudian juga terdapat fungsi dari advokat, yaitu diantaranya: 17

1. Sebagai pengawal konstitusi dan memperjuangllam tegaknya hak asasi

manusia dalam negara hukum Indonesia.

2. Menjunjung tinggi serta mengutamakan nilai keadilan, kebenaran dan

moralitas sesuai apa yang menjadikan advokat sebagai profesi yang terhormat

(ojficium nobile).

16

Rahmat Rosyadi dan Sri Hartani, Advokat dalam Prespektiflslam dan Hukum Positif,

(Jakarta: Ghalia Indonesia, 2003), b. 70.

17

(29)

3. Berfungsi sebagai pemberi nasehat hukum, pelayanan hukum, konsultan hukurn, pendapat hukum, pemberian informasi hukum serta membantu dalam penyusunan kontrak-kontrak (legal drafting).

4. Membela kepentingan klien dan mewakilinya di muka pengadilan.

5. Memberikan bantuan hukum dengan cuma-cuma atm sukarela, kepada rakyat lemah dan tidak mampu (legal aid).

Itulah uraian singkat

dari

peran dan fungsi advokat. Lalu bagaimana dengan peran dan fungsi hakim? apakah memiliki peran dan fungsi? Jawabannya adalah tentu

hakim

juga memiliki peran dan fungsi, karena tugasnya sebagai aparatur penegak hukum, yaitu profesi yang menjalankan kekuasaan kehakiman di negara yang berlandaskan hukum (rechtstaat), maka kemudian keberadaan hakim meajadikan perannya sebagai al'ior yang menjalankan proses peradilan, yaitu dengan cara mengekspresikan kadar intelekt:ua]itas dan moralitas yang berkualitas, dalam menggali, mengikuti, dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup di masyarakat. Sehingga penempatan hukum sebagai panglima dalam kehidupan berbangsa dan bemegara terwujud dengan apik.

Perlu ditambahkan kembali, terciptanya penegalam hukum ditentukan oleh peranan hakim. Dimana perananan

hakim

yang dimaksud tersebut adalah seperti mengupayakan keselarasan antara ketertiban dan kepastian hukum di masyarakat, mengupayakan fungsionalisasi keselarasan ketertiban dan kepastian hukum

di

dalam perubahan sosial, serta mengupayakan kefektifan hukum

di

rnasyarakat.18

18

Deden Effendi, Kompleksitas Peranan Hakim Agama; Hukum Islam dan Lingkungan,

(30)

Dalam teori ilmu hukum, berjalannya proses mengadili yang dilakukan oleh seorang hakim bisa terjadi ketika hakim meme1iksa dan mengadili suatu perkara yang kesemuanya harus dilandaskan pada kenyataan yang terjadi, serla menghukuminya dengan peraturan yang berlaku. Pada waktu diputuskan tentang bagaimana atau apa hukum yang berlaku untuk suatu kasus, maka pada waktu itulah penegakan hukum mencapai puncaknya. 19

Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa fungsi kehakiman adalah keseluruhan rangkaian kegiatan berupa mengadili suatu perkara sengketa yang individual konkrit.20 Artinya hakim berfungsi sebagai subjek penentu nilai-nilai kebenaran dan keadilan masyarakat yang tengah dinmdung masalah hukum baik itu masalah perdata maupun pidana. Katakaulah misalnya ketika te1jadi konflik di antara kepentingan orang-perorang (perdata) atau pernrang dengan kepentingan banyak orang (pidana), maka kemudianlah hakim memfungsikan dirinya sebagai penentu penyelesaian tersebut dengan solusi yang mengiuntungkan di semua pihak

(

yang bersengketa, tanpa menimbulkan rasa ketidakadilan di antara keduanya.

C. Hak dan Kewajiban Advokat dan Hakim

Kita telah ketahui, bahwa peran advokat sebagai penyedia jasa hukum secara garis besar berpengaruh terhadap penegakan huk:um serta penjaminan

hak

asasi manusia dalam kehidupan berba11gsa dan beniegara. Oleh sebab itu, hak

19

Satjipto Raharjo, I/mu Hukum (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2000), h. 182-183.

(31)

yang dimiliki advokat harus diakui penuh, demi memaksimalkan dari peran dan manfaat advokat. Hak-hak yang dimaksud itu adalah:21

J. Hak untuk mendampingi ldien se/ama proses penyelidikan dan penyidikan.

Hal demikian timbul atas dasar dari pengakuan akan perlindungan hak asasi manusia tersangka atau terdakwa dalam perkara pidana. Hak ini timbul dari asumsi bahwa setiap warga negara membutuhkan bantuan dari profesi hukum guna mendapatkan peradilan yang wajar (due process of law), dalam menghadapi tuduhan kriminal yang seringkali melibatkan penggunaan upaya paksa oleh alat-alat negara yang diberi wewenang untuk memprosesnya secara hukum. Peran advokat disini adalah untuk memastikan tidak adanya peleanggaran hak asasi manusia dalam penggunaan upaya paksa oleh alat-alat Negara.

2. Hak untuk Maju di Muka Pengadi/an

Hanya fungsi mewakili orang-orang yang mencari keadilan hukum di depan pengadilanlah yang merupakan fungsi khas para lmvyer (pengacara/pembela, advokat).

3. Hak atas Kebebasan dan Perlindungan dalam Menjalankan Fungsinya

Maksudnya di sini seorang advokat memiliki kebebasan dalam menjalankan profesinya sebagai pemberi jasa bidang hul'lllll, atau dalam artian mempunyai kekebalan bagi advokat dalam melakukan tindakan dan menyatukan pendapat pada saat ia menjalankan tugasnya dalam mendampingi klien. Tanpa adanya kekebalan ini, fungsi advokat dalam membela kll.ennya tidak akan. dapat

21

(32)

berjalan dengan baik, karena upaya yang dilakukannya akan terhambat dan adanya ketakutan dalam memberikan upaya yang mungkin dilakukan.

4. Hak untuk Ikut Menentukan Kebijakan dalam Sistem Peradilan

Hak ini dimaksudkan karena advokat mempakan salah satu pihak stakeholder dalam sistem peradilan. Sebaliknya sebagai profesi hukum memiliki kewajiban moral untuk ikut memastikan prinsip-p1rinsip peradilan yang baik terwujud. Serta advokat dalam menjalankan fungsinya berkewajiban untuk mengupayakan peradilan yang adil dan benar bagi kliennya, maka hak yang dimaksud harus dimiliki advokat demi mengoptimalkan prinsip peradilan yang adil dan benar.

5. Hak untuk Menjalankan Pengawasan terhadap Proses Peradilan dan Aparat

Penegak Hukum

Dengan adanya hak demikian, advokat dapat memastikan proses peradilan dan aparat penegak hukum yang dihadapinya dapat menjarnin adanya kebenaran dan keadilan. Te1masuk hak untuk mengajukan penolakan hakim atas keterlibatan hakim dalam persidangan, jikalau hakim tersebut dianggap mempunyai kepentingan dengan perkara yang ditangani.

6. Hak untuk Mendapatkan Informasi dan Pelayanan Administrasi Yudisial yang

Berkaitan dengan Penanganan Perkara

(33)

kesulitan dalam membela kliennya dau memberikan argumentasi hukum terhadap suatu ha! yang ditujnkan kepada ldiennya.

7. Hak untuk Mewakili Klien dalam Pelaksanaan Putusan Hakim

Ini merupakan adanya asumsi bahwa setiap warga negara membutuhkan bantuan hnkum guna mendapakan peradilan yang wajar dau konsekuensi logis dari hak klien untnk didampingi selama proses peradilan. Hal ini dikarenakan pelaksanaan putusan hakim merupakan rangkaian yang tidak terpisahkan dari proses peradilan itu sendiri. Bila ada anggapan pelaksanaan putusan hakim merupakan bagian terpisah dari proses peradilan tidak dapat dibenarkan, sebab seseorang yang dikenakan kewajiban atau sanksi oleh pengadilan kembali akan ditempatkan dalam posisi yang rentan untnk dilanggar hak asasinya.

8. Hak untuk Menjalankan Fungsi Arbritase dan Mediasi dalam Penyelesaian

Sengketa di Luar Pengadilan

Advokat sebagai profesi yang memastikan klien mendapat keadilan dalam suatu perkara. Pencapaian kedilan tidak harus melalui proses peradilan, tapi dapat juga pihak yang berperkara melaknkan arbritase dan mediasi yang dapat dilaknkan sebelum atau pada saat proses peradilan dilangsungkan dan dari pembicaraan terdapat kesepakatan yang dipandang adil bagi semua pihak. 9. Hak atas Rahasia Jabatan

(34)

yaitu: "Government shall recognize and respect that all communications and consultations between lawyers and their clients within their professional

relationship are confidential". Pemerintah harus mengakui dan menghormati

semua komunik:asi dan konsultasi diantara hubungai11 advokat dengan kliennya yang secara profesional bersifat rahasia. 22

Advokat dalam menjalankan tugas memberikan jasa hukunt, terdapat hal-hal yang menjadi kewajiban yang harus dipegang oleh arlvokat, yaitu:

I. Menjalankan Kode Etik Profesi, yang merupakan bagian dari etika umum, yang menuntut advokat untuk berbudi luhur yang berkenaan dengan tugas profesinya dan bahkan kehidupan pribadinya.

2. Melaksanakan Kode Etik Peradilan, yang me,rupakan tempat pengaduan berbagai piliak terhadap tingkah laku dan tindakan-tindakan advokat yang melangar kode etik profesi.

3. Disiplin saling hormat menghormati sesama penegak hukum seperti hakim, jaksa, polisi, serta badan-badan peradilan dan k:ekuasaan eksekutif maupun

kekuasaan legislatif.

4. Disiplin terbadap diri sendiri, artinya harus memegang teguh ikatan-ikatan dan janji-janji. Semisalnya seorang rekan advokat telah berjanji akan datang kepada rekan advokat lainnya atas nama kliennya untuk melakukan pembayaran, sehingga posisi perkarruiya tidak perlu di eksekusikan, makajika pengertian demikian ada, permintaan eksekusi wajib ditangguhkan untuk sementara waktu, menunggu pembayaran.

21

(35)

5. Disiplin kebebasan, yakni bahwa advokat dalam ュQセュ「・ャ。@ suatu perkara tidak

selalu mengikuti pendapat dan keinginan klien, alam tetapi berdasarkan fakta

dan hukum.23

6. Harus memiliki kaulifikasi agar dapat interaksi secara fungsional dengan

pelaku peradilan lainya dan menjanun terselenggaranya proses peradilan yang

mengedepankan prinsip sederhana, murah, dan cepat. Bagaimana misalnya

jika advokat tak memiliki kualifikasi seperti pengetahuan yang cukup

mengenai hukum acara dan substansi hukum kasus yang disidangkan akan

terjadi kekacauan dalam peradilan.

7. Mentaati ketentuan hukum acara karena jika seandainya terjadi pelanggaran

ketentuan hukum acara bisa berdampak luas bagi proses peradilan dan bisa

mendatangkan konsekunsi yuridis bagi pihak-pihak yang terkait dengan

jalarmya peradilan. 24

Tak hanya advokat saja terdapat hak clan kewaj'iban yang melekat dalam

keprofesiarmya, hakim pun memiliki ha! yang serupa. Bila dilihat dari haknya

hakim memiliki hak yang berbeda dari advokat. k。イ・セ。@ fungsi hakim sebagai subjek penyelesaian perkara, maka hak yang melekat pada hakim adalah memutus

perkara pengadilan tanpa adanya intimidasi dari pihak manapun. Hakim bemak memutuskan mana pihak yang benar, mana pihak yang dinyatakan bersalah,

sesuai dengan aturan positifisasi dan kebenaran intepretasi hati nurani sang

23 Prodjohamidjojo, Penasehat dan Bantuan Hu/cum, h. 19-20.

24

(36)

hakim. Dengan segala hal kebijaksapaan mandiri sang hakim, dalam putusannya

haruslah mempertimbangkan segala hal landasan yuridis dan nilai keadilan yang

hidup di masyarakat. Dengan demikian hakim berhak memberi keputusan,

menetapkan hukum atau memberi jalan keluar penyelesaian dari para pihak yang berperkara dalam persidangan dengan kewajiban mencerminkan prinsip keadilan

dan persamaan terhadap siapapun. Sebagaimana hal ini tertuang dalam al-Quran

al-Karim, bahwa:

Artinya:

"Hai orang-orang yang beriman, hendaklah !camu menjadi orang yang Jurus karena Allah, menjadi saksi yang adil dim janganlah kebencianmu terhadap suatu kainn menyebabkan kamu berkata berlaku tidak adil. Bersikap adil, karena adil itu lebub dekat kepada takwa." (QS/al-Maidah/8)

Ada satu tambahan lagi yang menarik dari Ronald Dworkin tentang

putusan hakim yang menekankan pertimbangan putusannya dengan mendasarkan

landasan yuridis dan nilai keadilan yang hidup di masyarakat dalam dua karya

utamanya yaitu Law's Empire dan Taking Right Seriously. Dalam karyanya

tersebut, Dworkin mengangkat teori hubungan hukum dengan moral serta metode

penafsiran hukum.

Menurut Dworkin, setiap upaya hukum harus melibatkan dimensi moral

karena kalau tidak rentan terhadap sifat ketidakadilan publik. Jadi seorang hakim

yang tengah mengadili sebuah perkara harus menetapkan tidak hanya "siapa

(37)

memenuhi kewajiban-kewajiban yang disyaratkan sebagai warga negara, dan siapa yang karena itikad atau kerena kerakusan atau karena ketidalcpedulian telah melalaikan kewajibannya terhadap orang lain atau melebih-lebihkan kewajiban mereka tersebut terhadap orang lain. Jika putusan hakim tidak adil, maka komunitas telah dirugikan secara moral yang dibeban'kan secara khusus kepada salah satu warganya, karena misalnya seorang hakim telah memberikan stigma tertentu sebagai pelanggar. Secara moral, kerugian paling besar adalah seseorang yang tidak bersalah dinyatakan beF...alah, ha! ini sama pentingnya dengan seseorang yang menggugat dengan gugatan berdasar ditolak oleh pengadilan atau seseorang dinyatakan kalah, padahal dasar huknmnya sudahjelas.25

Lantas apa yang menjadi kewajiban pada diri seorang hakim? perlu diketahui bahwa hakim dalam proses persidangan sebagai aktor penemu hukum dan pembentuk hukum, dimana harus memiliki kewajiban yang melekat dalam jati diri seorang hakim. Kewajiban yang dimaksud t<ersebut adalah menggali, mengikuti, dan memahami segala ha! aspek-aspek keadilan dan kondisi sosial yang hidup dalam masyarakat dengan mendasarkan kebijakannya pada instrumen logika, sejarah, kearifan lokal, dan moralitas. Hal ini sebagaimana diatur dalam Islam yang tentu saja termaktub dalam al-Quran, yaitu:

Artinya:

"Sesungguhnya Allah memerintahkan keadilan dan berbuat kebaikan." (QS/an-Nahl/90)

25

(38)

Artinya:

"Sesunguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila kamu menetapkan hukum antara manusia, maka hendaklah kamu tetapkan dengan cara adil." (QS/An-Nissa' /58)

Bahkan dalam aturan perundang-undangan pun menyinggung kewajiban

hakim untuk menciptakan nilai-nilai hukum yang bernuansa keadilan. Hal ini

tercantum dalam pasal 28 ayat (1), Undang-undang No. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman, yang menyebutkan bahwa:

"Hakim wajib menggali, mengikuti dan memahami nilai-nilai hukum dan

rasa keadilan yang hidup dalan1 ma3yarakat."

Oleh sebabanya hakim dituntut untuk terjun secara aktif bersosialisasi dengan

masyarakat luas, selain juga dengan membekali diri dengan ban yak pcngetahuan

mengenai perkembangan arus infonnasi yang menggejala di lingkungan sosial

masyarakat, yang dari hari-kehari mengalami penyesuaian kondisi dan kebutuhan.

Terlebih lagi kehidupan sekarang telah memasuki abad globalisasi, yaitu eranya

trend digitalisasi. Sehingga perkembangan kehidupan masyarakat selalu Jabil.

Menurut Sirajuddin Sailellah, sebagaimana ia menggan1barkan dalan1

pasal 229 Kompilasi Hukum Islam, hakim dalam menyelesaikan perkara-perkara

yang diajukan kepadanya, untuk berkewajiban memperhatikan dengan

sungguh-sungguh nilai-nilai hukum yang hidup di masyarakat, sehingga putusannya sesuai

dengan rasa keadilan. Ketentuan tersebut, menurutnya pasal yang secara tegas

(39)

memegang teguh dan menjadikan sebagai landasan moral dalam menjatuhkan putusan.26

Selain itu juga hakim tidak saja dituntut untuk memahami hukum yang telah diposititkan, tetapi lebih dari sekedar itu hakim harus pula memahami makna yang terkandung di balik hukun1 yang telah diposititkan tersebut. Seorang hakim harus sadar akan ideologi dan subjektivitasnya sendiri, sehingga keduanya tidak akan mengintervensi proses interpretasi. Untuk mengungkap makna teks sebuah aturan tertentu, hakim harus mulai dengan pembacaan awal, yang kemudian dilanjutkan dengan pembacaan analitis,. agar kunci dan gagasan-gagasan sentral teks dapat dibuka. Melalui gagasan-gagasan-gagasan-gagasan sentral ini, hakim diharapkan dapat menemukan makna yang tersemounyi dan mengembangkan makna-makna baru.27

D. Advokat dan Hakim sebagai Penegak Hukum

Di dalam negara yang berdasar hukum, diperlukan adanya sebuah konsep penegakkan hukum. Tentunya bukan tidak lain adalah untuk menebarkan nilai-nilai keadilan di tengah kehldupan masyarakat luas. Oleh karenanya, keterciptaan masyarakat terhadap hak-hak dan kewajiban-kewajibar1 yang melekat padanya, memberikan nuansa harmonisasi yang abadi. Tentunya ha! yang perlu ada dalam proses penegakkan huk:um dimaksud adalah adanya aparat penegak hukum yang

26

Sirajuddin Sailellah, "Hakim Belkewajiban Menggali Nilai-Nilai Hnkum yang Hidup di

Masyarakat," Suara Uldi/ag I, no. 3 (Oktober 2003): h. 92.

27

Anthon F. Susanto, Semiotika Hukum dari Dekonstruksi 1i1ks Menuju Progresivitas Makna,

(40)

menjadi tonggak proses tegaknya hukum, dengan mendasarkan nilai keadilan dan

kebenaran yang terdapat di matahati masyarakat. Kenapa harus demikian? karena,

jika nilai keadilan dan kebenaran yang berdasar matahati aparat penegak hukum

tidak sebanding atau lebih tinggi posisinya dibandingkan matahati masyarakat,

maka akan timbul sikap ketidakpuasan dan anarkisme dari masyarakat. Sehingga

masyarakat mempunyai cara-cara sendiri dalam menye:lesaikan masalah sosial.28

Inilah yang kemudian sering terjadi tindakkan main hakim sendid di masyarakat.

Jadi penegakkan hukum itu kurang lebih merupakan upaya yang

dilakukan untuk memaknai hukun1, baik dalam artian formil maupun dalam arti

mated! yang berdasar nilai-nilai keadilan dan kebenaran masyarakat yang

menjadi pedoman perilaku baik untuk masyarakat secara luas maupun secara

sempit untuk aparatur penegak hukum untuk menjamin berfungs!nya

norma-norma hukum yang sebagai tata tertib dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Berbicara mengenai upaya penegakkan hukum, dalam Islam sangat

menganjurkan sebagaimana ha! ini tertuang dalam al-Quran:

Artinya:

"Wahai orang-orang yang bedman, jadilah kanm orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu, bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia seorang yang kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah

kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpan dari kebenaran." (QS/An-Nisaa'/135)

28

(41)

Tolak

ukur

dari penegakkan hukum agar memiliki kepastian

dan

pencapaian keadilan hukurn, semua bertitik tolak pada para aparatur penegak hukum. Aparat penegak hukum merupalcan kunci drui proses tegaknya nilai-nilai keadilan yang bennartabat bagi semua elemen masyarakat berbangsa dan bemegara. Jika saja para aparatur penegak hukumnya :mencenninkan kebejatan, keserakahan, kemunafikan, dan hal-hal

setanisme

lainnya, tentu saja untuk mencapai proses tegaknya nilai-nilai keadilan yang bermartabat bagi semua elemen masyarakat tak akan terwujud. Tetapi jika saja ha! negatif tersebut tak tercenninkan pada aparatur penegak hukumnya tentu supennasi hukurn akan menjadi segala-galanya dalam kehidupan bennasyarakat yang adil dan sejahterah.

Dalam

ha!

ini Makhrus Mun!\jat menghimbau kepada aparat penegak hukurn ataupun penyelenggara negara dalam menegakkm1 supennasi hukurn agar wajib menerapkan kekuasaan negara dengan adil, jujw-,

dan

bijaksana. Seluruh rakyat tanpa kecuali, harus dapat merasakan nikmat keadilan yang timbul dari kekuasaan negara

dan

rakyat dapat merasakan haknya secara adil tanpa Adanya diskriminasi. Lalu juga wajib menerapkan kekuasaan kehaldman yang seadil-adilnya serta wajib penyelenggara negara untuk m<iwujudkan suatu tujuan masyarakat yang adil dan kesejahterahan sosial.29

Kenapa tegaknya nilai keadilan diperlukan dalam kehidupan masyarakat berbangsa dan bemegara? Karena bagaimana pun tegalmya keadilan itu adalah suatu

ha!

yang sangat berpengaruh terhadap ketentraman

dan

kedmnaian hidup

29

(42)

peradilan yang mempunyai kedudukan setara dengan aparat penegak hukum

lainnya yang berupaya dalam penegakkan hukum dan keadilan masyarakat.

Selain advokat, hakim juga tennasuk aparat penegak hukum. Karena

hakimlah yang menjadi ujung tombak penyelanggaraan kekuasaan kehakiman.

Sehingga dengan begitu penyelenggaraan kekuasaan kehakiman yang dimiliki

oleh

hakim

dapat berfungsi sebagai kekuasaan yang secara mutlak melegalkan tindak tanduk hakim dalam upayanya menegakkan hukum. Tentunya ha! tersebut

dengan prasyarat harus berada di muka pengadilan, karena tanpa ha! demikian

adalah illegal. Pola penegakkan hukwn oleh hakim adalah berupa mengadili

perkara atau sengketa yang timbul dari pihak-pihak yang telah mempercundangi,

melecehkan dan melaberak ketentuan nilai-nilai luhur yang terkaridung dalam

peraturan perundang-undangan dan konsep keadilan yang l1idup di masyarakat.

Berbicara hakim sebagai elemen penegak hukum, peraturan

perundang-undangan telah menempatkan profesi hakim sebagai aparatur penegak hukum.

Hal ini bisa dilihat dalam Undang-undang No. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan

Kehakiman, di pasal l, bahwa:

"Kekuasaan Kehakiman adalah kekuasaan negara yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan Pancasila, demi terselenggaranya Negara Hukum Republik Indonesia."

Dari uraian pasal tersebut diatas, dapat dipahami bahwa hakim merupakan

penegak hukum yang upaya proses penegakkan hukumnya dilakukan di meja

pengadilan. Jelas ha! demikian selaras dengan pendapat Cik Hasan Bisri, yang

(43)

keputusan pengadilan diidentikkan dengan keputusan hakim. Oleh karenanya

pencapaian penegakan hukum dan keadilan terletak pada kemampuan dan

kearifan hakim dalam merumuskan keputusan yang mencenuinkan keadilan.31

Ditambahkan lagi, hakim yang terlingkup dalam sistem kekuasaan

kehakiman yang dalam istilah kelembagaan disebut yudikatif menempati posisi

sentral dalam menegakan hukum, dalam merealisasik:m ide-ide yang tertuang

dalam undang-undang sebagai produk dari sistem politik serta memberikan isi

dan wujud konkrit kepada kaidah hukum. Ditangan badan yudikatif inilah hukum

yang berintikan keadilan dan kebenaran menjadi sesuatu yang nyata dalam

realitas ォ・ィゥ、オー。ョN S セ@

Lalu ada juga tambahan pendapat yang menyatakan hakim sebaglli. aparat

penegak hukum. Salah satunya yaitu tokoh yang terkenal dengan karya bukunya

yang berjudul Common Law dan The Path of The Law, yaitu Oliver Wendell

Holmes. Tokoh yang kelahiran tahun 1841 ini berpendapat, bahwa hakim sebagai aktor penegak hukum utama di pengadilan harus benar-benar melakukan tindakan

"konkretisasi hukum", yaitu dengan tetap memperhitw1gkan perasaan keadilan

masyarakat. Konkretisasi hukum berarti hakim telah menghidupkan pasal-pasal

mati dalam sebuah peraturan perundang-undangan meqjadi suatu putusan nyata

untuk memberikan putusan terhadap suatu peristiwa hukum.33

31

Cik Hasan Bisri, Peradilan Agama di Indonesia (Jakarta: PT RajaGarfindo Persada, 2003),

h. 193-194.

32

AA. Oka Mahendra, "Pennasalahan dan Kebijakan Penegakkan Huknm'', Legis/asi

Indonesia vol I, no. 4 (Desember 2004), h. 25.

33 Saifullah,

(44)

BAB HI

KONSEPTUALISASI EKONOMI SYARIAH

A. Prinsip Ekonomi Syariah

Dalam aktivitas keseharian manusia, selalu terselingi apa yang namanya

berekonomi. Dengan berekonomi manusia dapat ュQセュ・ョオィゥ@ kebutuhan yang

sifatnya tak terbatas. Untuk dapat melaksanaan kegiatan ekonominya, manusia

menggunakan faktor-faktor produksi yang terbatas. Sehingga dengan begitu,

keberlanjutan kehidupan manusia akan terns berjalan :reiring dengan perputaran

bumi pada orbitnya. Dari sini dapat disimpulkan, bahwa tingkah laku manusia

yang hakekatnya selalu untuk mernuaskan keinginan yang tak terbatas

mencerminkan manusia berkarakter individual selainjuga bersifat sosial.

Oleh karenanya, untuk menur1jang pemenuhan kebutuhan rnanusia yang

tak terbatas itu, dalam aktivitas perekonomiannya harus memiliki prinsip-prinsip

penopang berekonomi. Prinsip dimaksudkan agar upaya kegiatan ekonomi dapat

memberikan arah,

ukuran,

dan tujuan yang benar sehingga menghasilkan kesejahterahan, kedamaian,

dan

pencapaian titik kesuksesan kehidupan dunia dan akhirat. Berekonomi tanpa prinsip, ibarat pepatah "anak ayam kehilangan

induknya" atau "bagaikan menulis kata diatas air". Ini artinya suatu upaya dan asa

tanpa arah,

ukuran, dan

tujuan yang jelas. Oleh karena itu, betapa pentingnya prinsip dalam berekonomi. Jika dianalogikan,

ini

seper1i manusia membutuhkan

hirupan udara oksigen. Berbicara mengenai prinsip ekonomi, berikut

ini

penulis
(45)

1. Prinsip Ilahiah1

Ekonomi Islam pengaturannya bersifat ketuhanan/Ilahiah (nizhamun

rabbaniyyun), mengingat dasar-dasar pengaturannya yang tidak diletakkan

oleh manusia, akan tetapi didasarkan pada aturan-aturan yang ditetapkan

Allah SWT, sebagaimana terdapat dalam dalan1 al-Quran dan as-Smmah. Jadi,

berbeda dengan huklll11 ekonomi lainnya yakni kapitalis dan sosialis yang

aturannya semata-mata didasarkan atas konsep-konsep atau teori-teori yang

dihadirkan oleh manusia.

2. Berdimensi Akidah2

Mengingat ekonomi Islam itu pada dasarnya terbit atau lahir dari akidah

Islamiah yang di dalamnya akan dimintakan pertanggmigjawaban terhadap

akidah yang diyakininya. Atas dasar ini maka seorang muslim terikat dengan

sebagian kewajibannya semisal zakat, sedekah dan lain-lain walaupun dia

sendiri harus kehilangan sebagian kepentingan dunianya karena lebih

cenderm1g untuk mendapatkan pahala dari Allah S\VT di hari kiamat kelak.

3. Memiliki Elastisitas3

Ekonomi Islam mampu berkembang secara perlahan-lahan atau evolusi.

Elastisitas ini didasarkan pada kenyataan bahwa haik Quran maupun

al-1

Muhammad Amin Suma, "Arah Pengembangan · Hukum Ekonomi Islam di Indonesia."

Depertemen Hukum dan HAM RI Badan Pembinaan Hukum Nasional, ed., Seminar Nasional

Reformulasi Sistem Ekonomi Syari'ah dan Legislasi Nasional, Semarang 6-8 Juni 2006 (Jakarta:

DepHumHam, 2006), h. 128.

2 Ibid, h. 129.

3

(46)

h. 8.

Hadis, yang keduanya dijadikan sebagai sumher asasi ekonomi, tidak

memherikan doktrin ekonomi secara tekstual akan tetapi hanya memberikan

garis-garis besar yang hersifat instruktif gnna mengarahkan perekonomian

Islam secara global. Sedangkan implementasinya secara riil di lapangan

diserahkan kepada kesepakatan sosial (masyarakat ekonomi) sepanjang tidak

menyalahi cita-cita syari'at (maqashid as-syari'ah).

4. Kebebasan Individu4

Individu mempnnyai hak kebebasan sepenuhnya nntuk herpendapat atau

membuat suatu keputusan yang dianggap perlu dalmn sebuah negara Muslim.

Karena tanpa kebebasan tersebut individu muslim tidak dapat melaksanakan

kewajiban mendasar dan penting dalam menikmati kesejahterahan

dan

menghindari terjadinya kekacauan dalam masyarakat.

5. Ketidaksamaan Ekonomi Dalam Batas yang Wajar5

Islam mengakui adanya ketidaksamaan ekonomi di antara orang-perorang,

tetapi tidak membiarkannya menjadi hertambah luas, ia mencoba menjadikan

perhedaan tersebut dalam batas-batas yang wajar, adil dan tidak berlebihan.

Dalam artian memhedakan antara dua hal yang 「Qセイ「・、。@ sesuai batas-batas

perhedaan dan keterpautan kondisi antar keduanya .. Lagi pula menyamakan

sesuatu secara mutlak adalah hal yang mustahil. Karena setiap konstruksi

Allah SWT, memiliki karakter

khas

tersendiri diantara heherapa ciptaan-Nya.

4 AfZalur Rahman,

Doktrin Ekonomi Islam (tery), (Y ogyakarta:

:PT.

Dana Bakti Wakaf, 1995),
(47)

6. Kesamaan Sosial6

Islam tidak menganjurkan kesamaan ekonomi tetapi ia mendukung dan

menggalakkan kesamaan sosial sehingga sampai tahap bahwa kekayaan

negara yang dimiliki tidak hanya dinikmati oleh sekelompok tertentu

masyarakat saja. Disamping itu amat penting set:iap individn dalam sebuah

negara (muslim) mempunyai peluang yang sama untuk berusaha mendapatkan

pekerjaan atau menjalankan berbagai aktivitas ekonomi.

7. Mekanisme Distribusi Kekayaan7

Kesenjangan kekayaan di tengal1 masyarakat diatasi dengan keseimbangan

ekonomi melalui mekanisme distribusi. Negara yang bertanggung jawab dan

menjamin kebutuhan pokok rakyatnya, mendistribusikan harta orang kaya

yang menjadi hak fakir miskin, se11a mengawasi pemanfaatan hak milik

um um maupm1 negara. Sebagaimana Allah SWT. berfirman:

Artinya:

"Supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu ... " (QS/al-Hasyr/7)

8. Larangan Menumpuk Kekayaan8

Islam mengharanikan menimbun harta benda, dan imewajibkan pembelanjaan

terhadap harta tersebut, agar beredar dan diambil manfaatnya. Penggunaan

6

Ibid, h. 9.

7

Gambar

Tabel 1. Jaringan Kantor Networking

Referensi

Dokumen terkait

Dimana pada pola aliran ini terjadi gelombang pada lapisan kerosene karena relative terpengaruh oleh tegangan geser yang terjadi pada kedua lapisan fluida,

mrnggunakan bahasa isarat, dan tulisan  Klien meringis pada

Materi yang digunakan dalam media video pembelajaran adalah pengertian menggambar perspektif, macam-macam teknik dalam menggambar perspektif dan langkah-langkah dalam

Pemenuhan kinerja standar pelayanan minimal jaringan jalan penelitian pada tiga rute untuk tingkat layanan jalan dianalisis berdasarkan 3 aspek, yakni aspek

Untuk mencapai lokasi makam keramat Bedugul (Habib Umar bin Maulana Yusuf Al Maghribi) harus mendaki bukit dengan medan yang sangat terjal, pendakian diawali dari kebun raya Eka

jaan dalam KUHPTindak pidana yang dirumuskan dalam KUHP me muat unsur kesengajaan (objek).. musan tindak pidana diguna- kan istilah dengan sengaja un- tuk menunjukkan

Penggunaan Model Make A Match Dengan Media Grafis Dalam Peningkatan Pembelajaran IPS Kelas V SDN Sempor Tahun 2013/2014... Hasibuan, J.J dan

beberapa aliran yang mengalami hambatan seperti yang di tunjukan pada gambar terdapat beberapa bagian dari bodi Mobil listrik gaski yang menghambat laju dari aliran