Persepsi Masyarakat Suku Batak Toba Dan Batak Karo Dalam Konteks Komunikasi Antarbudaya (Studi Kasus Masyarakat Suku Batak Toba di Desa Unjur Dan Masyarakat Batak Karo di Desa Surbakti Terhadap Suku Batak Toba Dalam Mempersepsi Nilai-Nilai Perkawinan Ant

173  25  Download (1)

Teks penuh

(1)

PERSEPSI MASYARAKAT SUKU BATAK TOBA DAN

BATAK KARO DALAM KONTEKS KOMUNIKASI

ANTARBUDAYA

(Studi Kasus Masyarakat Suku Batak Toba di Desa Unjur Dan Masyarakat Batak Karo di Desa Surbakti Terhadap Suku Batak Toba Dalam

Mempersepsi Nilai-Nilai Perkawinan Antarsuku Tersebut)

SKRIPSI

Liberty T. Togatorop

(090904066)

DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

PERSEPSI MASYARAKAT SUKU BATAK TOBA DAN

BATAK KARO DALAM KONTEKS KOMUNIKASI

ANTARBUDAYA

(Studi Kasus Masyarakat Suku Batak Toba di Desa Unjur Dan Masyarakat Batak Karo di Desa Surbakti Terhadap Suku Batak Toba Dalam

Mempersepsi Nilai-Nilai Perkawinan Antarsuku Tersebut)

SKRIPSI

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana Program Strata 1 (S1) pada Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu

Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara

Liberty T. Togatorop

(090904066)

DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(3)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FEKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI

Lembar Persetujuan

Skripsi ini disetujui untuk dipertahankan oleh :

Nama : Liberty T. Togatorop

NIM : 090904066

Departemen : Ilmu Komunikasi

Skrispsi : PERSEPSI MASYARAKAT SUKU BATAK TOBA DAN

BATAK KARO DALAM KONTEKS KOMUNIKASI ANTARBUDAYA (Studi Kasus Masyarakat Suku Batak Toba di Desa Unjur Dan Masyarakat Batak Karo di Desa Surbakti Terhadap Suku Batak Toba Dalam Mempersepsi Nilai-Nilai Perkawinan Antarsuku Tersebut)

Medan, Agustus 2013

Dosen Pembimbing Ketua Departemen

Dra. Lusiana A. Lubis, MA.,Ph.D Dra. Fatma Wardy Lubis, MA

NIP. 196704051990032002 NIP. 195102191987011001

Dekan FISIP USU

(4)

HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS

Skripsi ini adalah hasil karya saya sendiri, semua sumber baik yang dikutip maupun dirujuk telah saya cantumkan sumbernya dengan benar. Jika dikemudian hari saya terbukti melakukan pelanggaran (plagiat) maka saya

akan bersedia diproses sesuai dengan hukum yang berlaku

Nama : Liberty T. Togatorop

NIM : 090904066

(5)

HALAMAN PENGESAHAN Skripsi ini diajukan oleh

Nama : Liberty T. Togatorop

NIM : 090904066

Departemen : Ilmu Komunikasi

Judul Skripsi : PERSEPSI MASYARAKAT SUKU BATAK TOBA DAN

BATAK KARO DALAM KONTEKS KOMUNIKASI ANTARBUDAYA (Studi Kasus Masyarakat Suku Batak Toba di Desa Unjur Dan Masyarakat Batak Karo di Desa Surbakti Terhadap Suku Batak Toba Dalam Mempersepsi Nilai-Nilai Perkawinan Antarsuku Tersebut)

Telah berhasil dipertahankan di hadapan dewan penguji dan diterima sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Sarjana Ilmu Komunikasi pada Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.

Majelis Penguji

Ketua Penguji : ( )

Penguji : ( )

Penguji Utama : ( )

Ditetapkan di : Medan

(6)

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis haturkan ke hadirat Yesus Kristus sebagai Juruselamat pribadi penulis atas berkat dan kasih setiaNya yang melimpah, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Studi Kasus Masyarakat Suku Batak Toba di Desa Unjur Dan Masyarakat Batak Karo di Desa Surbakti Terhadap Suku Batak Toba Dalam Mempersepsi Nilai-Nilai Perkawinan Antarsuku Tersebut.” Penulisan skrispsi ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Ilmu komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sumatera Utara (USU). Berkat penyertaan tangan Tuhan yang kuat, dan kasih setiaNya, penulis mengerjakan skripsi ini dengan semangat yang menyala-nyala, tak lupa juga untuk tetap menjaga integritas sebagai seorang mahasiswa yang bertanggung jawab dihadapan Tuhan dan manusia.

(7)

Peneliti juga menyadari bahwa banyak sekali bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak dari masa perkuliahan sampai pada penyusunan skripsi ini. oleh karena itu, peneliti mengucapkan terima kasih kepada:

1. Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara

yakni Bapak Prof. Drs. Badruddin, M.si beserta jajarannya.

2. Ketua Departemen Ilmu Komunikasi yakni Ibu Dra. Fatma Wardy Lubis,

M.A.

3. Dosen pembimbing penulis Ibu Dra. Hj. Lusiana Andriani Lubis, MA., Ph.D.

yang senantiasa meluangkan waktu untuk memberi arahan, bimbingan dan ilmu dengan sabar selama penulis menyusun skripsi ini.

4. Dosen pembimbing akademis peneliti Prof. DR. Suwardi Lubis, M.Si yang

telah membimbing peneliti selama masa perkuliahan.

5. Seluruh staff Departemen dan Laboratorium Ilmu Komunikasi FISIP USU

yakni Kak Maya, Kak Icut, Kak Yovita cantik, Kak Hanim manis, dan Kak Puan yang telah membantu segala sesuatu yang berkaitan dengan jalannya pendidikan peneliti.

6. Seluruh dosen dan staf pengajar yang telah membimbing penulis selama

perkuliahan di Departemen Ilmu Komunikasi.

7. Kepada seluruh informan penulis di Desa Surbakti dan Desa Unjur, yang

telah menyediakan waktu dan tenaga untuk diwawancarai penulis.

8. Kepada keluarga Bapak Olet Sitepu dan Ibu br Ginting, Abang Andi dan

kakak Ernawati Ginting, S. Kep, Mia, Egy, Luna dan Eloy Pindonta, yang sangat membantu penulis selama proses penelitian.

9. Kelompok Tumbuh Bersama (KTB) ‘Laetictia Dulcissima (LD7)’ yakni Kak

(8)

mendukung penulis. Juga kepada adik Marisi Sihombing, Amd dan Devi Silalahi, Amd yang selalu memberi semangat dan doa.

10. Kelompok Kecil ‘Ameiren Zephan’ yakni Monalisa Sitepu, Raja Ramos Hot

Monang Purba, Fernando Anderson, dan Samuel Christian Lubis, terimakasih atas dukungan dan doa kalian. Belajar dengan baik ya dek, tetap jaga hubungan pribadi yang baik dengan Tuhan. Masa depan hanya ada di tanganNya.

11. Kepada sahabat baik penulis, Damai Ryanti Purba, S. I.kom yang selalu

mendukung, mendoakan dan memotivasi penulis, menjadi sahabat ‘pendengar yang sejati’ dan tempat penulis berbagi banyak hal. Sahabat penulis lainnya, Serdita, Willer, Siska, Rani, Mianhot Pandiangan, Kak Mery S.Sos, Kak Marinta S.Sos, Christo Surbakti, dan sahabat lainnya yang tak bisa disebutkan satu per satu.

12. Kepada teman seperjuangan penulis di Komunikasi angkatan 2009, Tika A.

Purba, Rebeka Purba, Sarah Gultom, Rina Maria Hutagaol, Norasina Pandia, Arnold Nainggolan, Reno C.O Sibarani, Rittar Murdani Samosir dan masih banyak lagi. Tetap semangat dan berjuang menjadi yang terbaik.

13. Seluruh komponen pelayanan UKM KMK USU UP PEMA FISIP baik AKK,

PKK, TPP dan Alumni atas dukungan, doa dan bimbingan yang mengajari penulis menjadi alumni berkualitas, jadi garam dan terang dunia.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu dengan segala kerendahan hati, penulis mengharapkan saran yang membangun. Semoga karya ilmiah ini dapat bermanfaat bagi pembacanya.

(9)

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Sebagai civitas akademika Universitas Sumatera Utara, saya yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama : Liberty T. Togatorop

NIM : 090904066

Departemen : Ilmu Komunikasi

Fakultas : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Universitas : Sumatera Utara

Jenis Karya : Skripsi

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Universitas Sumatera Utara Hak Bebas Royalti Non Ekslusif (Non-ekslusive Royalty-Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul :

PERSEPSI MASYARAKAT SUKU BATAK TOBA DAN BATAK KARO DALAM KONTEKS KOMUNIKASI ANTARBUDAYA (Studi Kasus Masyarakat Suku Batak Toba di Desa Unjur Dan Masyarakat Batak Karo di Desa Surbakti Terhadap Suku Batak Toba Dalam Mempersepsi Nilai-Nilai Perkawinan Antarsuku Tersebut). Dengan Hak Bebas Royalti Nonekslusif ini Universitas Sumatera Utara berhak menyimpan, mengalih media-formatkan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), merawat dan mempublikasikan tugas akhir saya tanpa meminta izin dari saya selama masih tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik hak cipta.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Dibuat di : Medan

Pada Tanggal : Agustus 2013

Yang Menyatakan,

(10)

ABSTRAK

Penelitian ini berjudul Studi Kasus Masyarakat Suku Batak Toba di Desa Unjur Dan Masyarakat Batak Karo di Desa Surbakti Terhadap Suku Batak Toba Dalam Mempersepsi Nilai-Nilai Perkawinan Antarsuku Tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana persepsi masyarakat Batak Karo di Desa Surbakti, Kabupaten Karo terhadap masyarakat Batak Toba, dan sebaliknya persepsi mayarakat Batak Toba di Desa Unjur, Kabupaten Samosir terhadap masyarakat Batak Karo. Selain daripada itu tujuan lainnya dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pergeseran nilai-nilai kebudayaan yang terjadi di masing-masing suku, Batak Karo dan Batak Toba dalam memahami arti perkawinan antarsuku tersebut.

Penelitian ini bersifat kualitatif dengan metode studi kasus, artinya hanya berlaku di dua daerah yang sudah ditetapkan oleh peneliti, yaitu Desa Unjur, Kabupaten Samosir dan Desa Surbakti, Kabupaten Karo. Teknik yang digunakan adalah wawancara mendalam kepada informan yang ditemukan oleh peneliti

dengan purpossive sampling, dengan kriteria tertentu yaitu bapak atau ibu yang

sudah mempunyai anak berumur 17 tahun ke atas, karena umur 17 tahun adalah masa bagi seorang anak diakui secara kewarganegaraan dan masuk dalam fase muda (pubertas), mulai tertarik dengan lawan jenis. Subjek penelitian di Desa Surbakti ada sebanyak enam keluarga Batak Karo, dan sebanyak lima keluarga Batak Toba di Desa Unjur.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara keseluruhan masyarakat Batak Karo di Desa Surbakti tidak pernah memegang prinsip melarang anak untuk pacaran atau menikah dengan orang Batak Toba, sebaliknya masyarakat Batak Toba di Desa Unjur yang menekankan nilai itu kepada anak dalam keluarga. Faktor lain yang mempengaruhi persepsi masyarakat Batak Toba di Desa Unjur terhadap masyarakat Batak karo ini adalah hambatan komunikasi seperti stereotip, etnosentrisme dan juga prasangka. Secara keseluruhan, hal yang paling disoroti oleh masing-masing suku ketika diperhadapkan dengan perkawinan antarsuku Batak Karo dengan Batak Toba adalah ketidaksesuaian adat istiadat budaya, dan bahasa. Dan agama menjadi hal yang paling utama untuk mempertimbangkan perkawinan antarsuku tersebut, Batak Karo dan Batak Toba.

(11)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

LEMBAR PERSETUJUAN ... ii

HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS ... iii

HALAMAN PENGESAHAN ... iv

KATA PENGANTAR ... v

LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ... viii

ABSTRAK ... ix

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR GAMBAR ... xii

DAFTAR TABEL ... xiii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiv

BAB I PENDAHULUAN 1.1Konteks Masalah ... 1

1.2Fokus Masalah ... 7

1.3Tujuan Penelitian ... 7

1.4Manfaat Penelitian ... 7

BAB II URAIAN TEORITIS 2.1Paradigma Kajian ... 8

2.1.1 Perspektif Interpretivisme ... 8

2.2Uraian Teoritis ... 9

2.2.1 Komunikasi Antarbudaya ... 9

2.2.1.1 Pengertian Komunikasi Antarbudaya ... 9

2.2.1.2 Asumsi-asumsi Komunikasi Antarbudaya ... 10

2.2.2 Persepsi ... 11

2.2.2.1 Sistem Lambang ... 14

2.2.2.2 Pandangan Dunia (World View) ... 15

2.2.2.3 Organisasi Sosial ... 21

2.2.3 Hambatan Komunikasi Antarbudaya ... 24

2.2.3.1 Prasangka Sosial ... 26

2.2.3.2 Stereotip ... 28

2.2.3.3 Etnosentrisme ... 30

(12)

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.1Metode Penelitian ... 34

3.2Objek Penelitian ... 36

3.3 Subjek Penelitian ... 36

3.4 Kerangka Analisis ... 39

3.5 Tehnik Pengumpulan Data ... 40

3.6 Tehnik Analisis Data ... 42

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1Deskripsi Subjek Penelitian ... 45

4.2Hasil Pengamatan dan Wawancara ... 54

4.3 Pembahasan ... 117

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1Kesimpulan ... 139

5.2Saran ... 141

5.3 Implikasi ... 141

(13)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Judul Halaman

1. Model Teoritis Persepsi Nilai-nilai perkawinan

dalam tinjauan Komunikasi Antarbudaya

33

(14)

DAFTAR TABEL

Nomor Judul Halaman

1. Hubungan antara Kesadaran dan

Kemampuan Berkomunikasi Antarbudaya

25

(15)

DAFTAR LAMPIRAN

1. Hasil Wawancara

2. Biodata Peneliti

3. Daftar Bimbingan Skripsi

(16)

ABSTRAK

Penelitian ini berjudul Studi Kasus Masyarakat Suku Batak Toba di Desa Unjur Dan Masyarakat Batak Karo di Desa Surbakti Terhadap Suku Batak Toba Dalam Mempersepsi Nilai-Nilai Perkawinan Antarsuku Tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana persepsi masyarakat Batak Karo di Desa Surbakti, Kabupaten Karo terhadap masyarakat Batak Toba, dan sebaliknya persepsi mayarakat Batak Toba di Desa Unjur, Kabupaten Samosir terhadap masyarakat Batak Karo. Selain daripada itu tujuan lainnya dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pergeseran nilai-nilai kebudayaan yang terjadi di masing-masing suku, Batak Karo dan Batak Toba dalam memahami arti perkawinan antarsuku tersebut.

Penelitian ini bersifat kualitatif dengan metode studi kasus, artinya hanya berlaku di dua daerah yang sudah ditetapkan oleh peneliti, yaitu Desa Unjur, Kabupaten Samosir dan Desa Surbakti, Kabupaten Karo. Teknik yang digunakan adalah wawancara mendalam kepada informan yang ditemukan oleh peneliti

dengan purpossive sampling, dengan kriteria tertentu yaitu bapak atau ibu yang

sudah mempunyai anak berumur 17 tahun ke atas, karena umur 17 tahun adalah masa bagi seorang anak diakui secara kewarganegaraan dan masuk dalam fase muda (pubertas), mulai tertarik dengan lawan jenis. Subjek penelitian di Desa Surbakti ada sebanyak enam keluarga Batak Karo, dan sebanyak lima keluarga Batak Toba di Desa Unjur.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara keseluruhan masyarakat Batak Karo di Desa Surbakti tidak pernah memegang prinsip melarang anak untuk pacaran atau menikah dengan orang Batak Toba, sebaliknya masyarakat Batak Toba di Desa Unjur yang menekankan nilai itu kepada anak dalam keluarga. Faktor lain yang mempengaruhi persepsi masyarakat Batak Toba di Desa Unjur terhadap masyarakat Batak karo ini adalah hambatan komunikasi seperti stereotip, etnosentrisme dan juga prasangka. Secara keseluruhan, hal yang paling disoroti oleh masing-masing suku ketika diperhadapkan dengan perkawinan antarsuku Batak Karo dengan Batak Toba adalah ketidaksesuaian adat istiadat budaya, dan bahasa. Dan agama menjadi hal yang paling utama untuk mempertimbangkan perkawinan antarsuku tersebut, Batak Karo dan Batak Toba.

(17)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Konteks Masalah

Istilah komunikasi bukanlah suatu istilah yang baru bagi kita. Bahkan komunikasi itu sendiri tidak bisa dilepaskan dari sejarah peradaban umat manusia, dimana pesan yang menjadi inti dari komunikasi itu sendiri sampai saat ini selalu menjadi suatu kajian yang tak pernah ada habisnya. Secara sederhana, komunikasi adalah proses penyampaian pesan dari komunikator kepada komunikan dengan menggunakan sebuah saluran, sehingga bisa memberikan suatu efek bagi komunikan itu sendiri, sesuai dengan pemaknaannya terhadap pesan yang diterima. Bentuk pesan dalam komunikasi ini juga terbagi menjadi dua bagian, yaitu pesan dalam bentuk bahasa verbal dan juga pesan dalam bentuk bahasa non verbal.

Komunikasi verbal adalah proses penyampaian pesan kepada komunikan dalam bentuk kata-kata baik itu secara lisan ataupun dalam bentuk tertulis. Sedangkan komunikasi non verbal adalah proses penyampaian pesan kepada komunikan dalam bentuk ekspresi, sentuhan, wajah, waktu, gerak, isyarat, bau, perilaku, mata dan lain-lain, yang bisa merangsang makna pada diri komunikan tersebut. Proses pemaknaan inilah yang pasti kita alami dalam segala aspek kehidupan kita, dimana ketika menjalin komunikasi dengan orang lain, kita pasti terlibat langsung dalam komunikasi verbal dan juga non verbal serta bagaimana kita akan memaknai simbol dari komunikasi verbal dan non verbal tersebut (Mulyana, 2007:259). Kesamaan pemaknaan terhadap penggunaan simbol verbal dan non verbal akan membuat orang-orang yang berkomunikasi lebih mudah mencapai pengertian bersama. Dalam hal ini, peneliti ingin menambahkan aspek kebudayaan atau dimensi perbedaan kebudayaan ke dalam proses komunikasi, maka tak lain yang akan diulas adalah Komunikasi Antarbudaya (KAB).

(18)

Komunikasi Antarbudaya adalah komunikasi antara dua orang atau lebih dengan perhatian khusus pada faktor-faktor kebudayaan yang mempengaruhinya, bagaimana dua orang atau lebih, yang ketika menjalin sebuah komunikasi, saling memaknai simbol atau lambang, juga bahasa, dengan latar belakang budaya yang berbeda. Hal tersebut adalah sangat penting bagi kita, sehingga dapat menimbulkan pemaknaan yang sama, untuk terciptanya suatu komunikasi yang efektif.

Salah satu asumsi yang ada dalam komunikasi antarbudaya adalah adanya perbedaan persepsi antara komunikator dan komunikan. Bagaimana persepsi mengenai orang lain dan akibat dari persepsi tersebut terhadap sifat hubungan yang terbentuk. Komunikasi, dalam bentuk dan konteks apapun, selalu menampilkan perbedaan iklim antara komunikator dengan komunikan. Dengan adanya perbedaan iklim budaya tersebut, maka pada umumnya perhatian teoritis atau praktis dari komunikasi selalu difokuskan pada pesan-pesan yang menghubungkan individu atau kelompok dari dua situasi budaya yang berbeda. Prinsip-prinsip yang terkandung dalam perbedaan itu umumnya mengimplikasikan bahwa hambatan komunikasi antarbudaya, acapkali tampil dalam bentuk perbedaan persepsi terhadap norma-norma budaya, pola-pola berpikir, prinsip, struktur budaya dan juga sistem budaya.

Kebudayaan merupakan hasil cipta, rasa dan karsa manusia yang turut menentukan persepsi manusia. Berbeda kebudayaan, maka berbeda pula persepsi yang dimiliki oleh masing-masing individu tersebut. Persepsi seringkali dimaknakan dengan pendapat, sikap, penilaian dan perasaan. Persepsi menggambarkan pengalaman manusia tentang objek, peristiwa atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan tentang objek tersebut, namun adanya perbedaan persepsi diantara manusia terhadap rangsangan yang sama, inilah yang menjadi keunikan dari persepsi itu sendiri.

(19)

Semakin tinggi tingkat kesamaan persepsi individu dalam suatu kelompok maka semakin besar kemungkinan anggota kelompok itu berkomunikasi satu sama lain sehingga mereka dapat mempertahankan identitasnya (Liliweri, 2001:114).

Peristiwa tentang persepsi dalam komunikasi antarbudaya ini masih sering kita temukan di negara kita sendiri, Indonesia, karena terdiri dari beraneka ragam suku (etnis) yang masing-masing suku tersebut memiliki nilai budaya yang dapat membedakan ciri suku yang satu dengan yang lainnya. Nilai budaya yang dimaksud adalah nilai budaya daerah yang dipandang sebagai suatu cara hidup dan dianut pada setiap kelompok masyarakat. Ciri nyata dari keanekaragaman ini adalah adanya kecenderungan yang kuat dari setiap suku bangsa untuk mempertahankan identitas masing-masing. Orientasi yang dominan ke dalam golongan sendiri memberikan indikasi mengenai pekanya hubungan antarsuku atau antarbudaya dalam masyarakat, dikarenakan perbedaan nilai budaya dalam setiap suku, hal ini sering disebut dengan Etnosentrisme (Lubis,1999:2). Etnosentrisme ini juga bisa kita maknai dengan suatu kecenderungan untuk memandang norma-norma dan nilai dalam kelompok budayanya sebagai hal yang mutlak dan digunakan sebagai standar untuk mengukur serta bertindak terhadap semua kebudayaan yang lain. Hal ini menyebabkan persepsi dalam setiap kelompok etnis memandang orang dari kelompok etnis lain sebagai orang barbar, kafir, atau bahkan tidak mempunyai peradaban.

(20)

serta bahasanya, namun juga nilai-nilai kehidupan, prinsip hidup, struktur sosial, adat-istiadat dan yang lainnya.

Perbedaan persepsi, adanya stereotip, prasangka dan juga etnosentrisme dari suatu suku terhadap suku lainnya sering terealisasi dalam fenomena-fenomena yang sering diamati, bahkan dialami langsung oleh peneliti, yaitu adanya keluarga suku Batak Toba yang melarang anak-anaknya berpacaran dengan suku Batak Karo dan juga sebaliknya, orang tua dari suku Batak Karo melarang anak-anaknya untuk menjalin hubungan yang sangat dekat atau pacaran bahkan menikahi orang yang bersuku Batak Toba. Peneliti mendapati hal yang demikian karena sudah bertanya kepada beberapa orang yang mewakili kedua suku tersebut, teman-teman dari suku Batak Toba dan suku Batak Karo yang ada di kampusnya, akhirnya peneliti mendapati fenomena yang sama. Jika ditarik benang merah, maka yang menjadi pemicu timbulnya fenomena adalah persepsi yang berbeda, stereotip, prasangka dan etnosentrisme diantara kedua sub suku Batak tersebut, Batak Toba dan Batak Karo yang membuat komunikasi antarbudaya menjadi sedikit terbatas.

(21)

cerdas, mengutamakan pendidikan dan kemajuan daripada harta benda, prinsip dan idealisme yang kuat, dan agak kasar dan terkesan keras.

Prinsip-prinsip yang berbeda dalam budaya kedua suku tersebut menjadi salah satu faktor penghambat komunikasi antarbudaya, yang mengakibatkan individu dari suku Batak Toba lebih mementingkan kelompoknya sendiri karena menganggap prinsip, norma, adat istiadatnya lebih baik daripada suku Batak Karo dan juga sebaliknya, sehingga sulit untuk menjalin hubungan yang lebih dari sekedar teman atau hubungan ke jenjang yang lebih serius, antarsuku tersebut atau sering disebut dengan etnosentrisme. Dalam penelitian ini, peneliti memusatkan perhatian pada dua suku, Batak Toba dan Batak Karo yang berada dibawah satu rumpun suku, yaitu suku Batak. Supaya lebih spesifik lagi, peneliti memilih lokasi untuk mengadakan penelitian kepada masyarakat Batak Toba yang ada di Desa Unjur, Kabupaten Samosir dan masyarakat Batak Karo yang ada di Desa Surbakti, Kabupaten Karo.

(22)

Sementara Desa Surbakti adalah salah satu desa yang mempunyai penduduk yang cukup banyak berasal dari suku Batak Toba. Desa ini termasuk dalam wilayah Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo. Secara umum keadaan topografi desa Surbakti adalah daerah perbukitan atau dataran tinggi. Iklim di desa ini sama halnya dengan desa-desa lainnya di wilayah Indonesia, yaitu kemarau dan penghujan, hal ini berhubungan dengan mata pencaharian yang mendominasi desa tersebut, yakni bertani. Udara yang sejuk dan pemandangan yang sangat indah adalah salah satu daya tarik dari desa ini. Penduduk dominan adalah suku Batak Karo, dengan jumlah penduduk sebanyak 632 KK. Desa ini sudah dipengaruhi oleh era modern, karena memang letaknya yang dekat dengan Kota Berastagi dan Kota Medan. Namun, ketika peneliti melakukan survey sementara dan bertanya kepada beberapa orangtua di desa Surbakti, tidak jarang peneliti menemukan orang tua yang mengatakan kalau mereka juga berpesan kepada anak-anaknya untuk tidak pacaran dengan suku Batak Toba, walaupun pada akhirnya beberapa dari anak-anak mereka menikah dengan suku Batak Toba. Inilah yang membuat peneliti merasa tertarik untuk meneliti apa sebenarnya persepsi orang tua dari sub suku Batak Toba terhadap sub suku Batak Karo, dalam nilai-nilai perkawinan kedua suku tersebut, namun bukan berarti hanya dari sudut adat pernikahan, tetapi juga mencakup nilai, norma, sistem kepercayaan, kebiasaan, cara pandang (pandangan hidup), sikap, stereotip, prasangka dan hal lain yang membedakannya.

(23)

diakui sebagai pribadi yang sudah diterima, serta mempunyai tanggung jawab sosial dalam lingkungan bermasyarakat.

1.2 Fokus Masalah

Berdasarkan uraian konteks masalah di atas, maka peneliti merumuskan bahwa fokus masalah yang akan diteliti adalah

“Bagaimana masyarakat suku Batak Toba di Desa Unjur dan masyarakat suku Batak Karo di Desa Surbakti dalam mempersepsi nilai-nilai perkawinan antarsuku tersebut?”

1.3 Tujuan Penelitian

Adapun Tujuan penelitian ini adalah :

1. Untuk mengetahui persepsi dalam Komunikasi Antarbudaya suku Batak Toba

terhadap suku Batak Karo dan sebaliknya, suku Batak Karo terhadap Batak Toba.

2. Untuk mengetahui pergeseran nilai-nilai dari masing-masing kebudayaan

dalam memahami arti perkawinan antarsuku tersebut.

1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini adalah :

1. Manfaat Akademis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi

akademis dalam Ilmu Komunikasi, khususnya mengenai Komunikasi Antarbudaya.

2. Manfaat Teoritis, untuk menguji pengalaman teoritis peneliti selama

mengikuti perkuliahan di Departemen Ilmu Komunikasi FISIP USU, serta menambah pengetahuan dan wawasan peneliti maupun mahasiswa lain yang membacanya, khususnya Departemen Ilmu Komunikasi.

3. Manfaat Praktis, Penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi

(24)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Paradigma Kajian

2.1.1 Perspektif Interpretivisme

Interpretivisme merupakan perspektif teori dalam konstruktivisme. Perspektif ini adalah salah satu bagian dari paradigma yang menolak keberadaan paradigma positivistik. Interpretivisme ini berangkat dari upaya untuk mencari penjelasan tentang peristiwa-peristiwa sosial atau budaya yang didasarkan pada pengalaman orang yang diteliti (Newman, 1997:68). Metodologi seperti ini disebut fenomenologi, yaitu berbagai bentuk objek simbolis yang dihasilkan dari tindakan sosial manusia: percakapan, ungkapan, pikiran, pendapat, persepsi, perasaan dan keinginan. Apa yang ingin ditemukan dalam dunia sosial adalah makna, bukan hanya sekedar hubungan sebab akibat yang memang sudah pasti, pemahaman makna ini barang tentu tidak dapat diukur semata secara kuantitatif melainkan kualitatif (Vardiansyah, 2008:60).

(25)

2.2 Uraian Teoritis

2.2.1 Komunikasi Antarbudaya

2.2.1.1Pengertian Komunikasi Antarbudaya

Manusia belajar berpikir, merasa, mempercayai dan mengusahakan apa yang patut menurut budayanya. Bahasa, persahabatan, kebiasaan makan, minum, tindakan sosial, ekonomi dan politik juga dilakukan berdasarkan pola kebudayaan yang kita dianut oleh masing-asing individu. Hal ini menunjukkan bahwa semua tindakan komunikasi kita sesuai dengan konsep budaya yang mendarah daging dalam tubuh kita. Dengan demikian budaya tidak bisa dipisahkan dari komunikasi, karena budaya itu sendiri tidak hanya mencakup siapa bicara dengan siapa, tentang apa dan bagaimana komunikasi tersebut berlangsung, akan tetapi budaya juga turut menentukan bagaimana seseorang menyandi pesan, menyampaikan pesan, serta bagaimana konteks dan situasi dalam proses pengiriman pesan, dan proses penafsiran akan pesan tersebut sampai pada akhirnya menemukan makna dibalik pesan. Jadi komunikasi antarbudaya adalah proses komunikasi yang terjadi diantara dua orang atau lebih, dengan latar belakang budaya yang berbeda. Inilah yang menjadi ciri khas dari komunikasi antarbudaya.

Komunikasi Antarbudaya selalu mempunyai tujuan tertentu yakni menciptakan komunikasi yang efektif melalui pemaknaan yang sama melalui pesan yang dipertukarkan. Dengan demikian, untuk mencapai komunikasi yang efektif itu, individu-individu yang saling berkomunikasi itu haruslah mempunyai makna yang sama terhadap pesan yang disampaikan dan diterima. Secara umum tujuan komunikasi antarbudaya antara lain menyatakan identitas sosial dan menjembatani perbedaan antarbudaya melalui perolehan informasi baru, mempelajari sesuatu yang baru yang tidak pernah ada dalam kebudayaan. Intensifitas kita dalam Komunikasi antarbudaya mampu mengubah persepsi dan sikap kita terhadap lawan bicara kita (Liliweri, 2004:254).

(26)

besar diantara para komunikatornya yang disebabkan oleh perbedaan kebudayaan. Konsekuensinya, jika ada dua orang yang berbeda budaya, maka akan berbeda pula perilaku komunikasi dan makna yang dimilikinya. Ada syarat-syarat pokok yang diperlukan individu untuk berkomunikasi secara efektif antar budaya. Syarat-syarat itu adalah : 1. Menghormati anggota budaya lain sebagai budaya, 2. Menghormati budaya lain apa adanya, bukan sebagaimana yang kita kehendaki, 3. Menghormati hak anggota budaya yang lain untuk bertindak berbeda dari cara kita bertindak (Mulyana, 2005:6-7).

Sebagaimana kita ketahui bahwa budaya mempengaruhi orang yang berkomunikasi. Budaya bertanggung jawab atas perbendaharaan perilaku komunikatif dan makna yang dimiliki setiap orang. Namun yang sering menjadi masalah adalah ketika makna yang disandi oleh seseorang dengan budayanya berbeda dengan penyandian balik oleh lawan bicaranya. Cara menilai budaya lain dengan nilai-nilai budaya sendiri dan menolak mempertimbangkan norma-norma budaya lain akan menentukan keefektifan komunikasi yang akan terjadi. Disatu pihak ada orang-orang yang sekaligus mengetahui dan menerima kepercayaan dan perilaku orang lain, dipihak lain ada juga orang-orang yang tidak mengetahui dan menerima, sehingga kemungkinannya tinggi sekali untuk mengalami kegagalan komunikasi.

2.2.1.2 Asumsi-Asumsi Komunikasi Antarbudaya

(27)

Ketika sebuah teori komunikasi bisa diterapkan dalam sebuah kehidupan sehari-hari, hal inilah yang disebut dengan asumsi, dan dengan adanya asumsi ini orang-orang akan mampu memberikan batas-batas bagi penerapan sebuah teori. Jdi, asumsi teori komunikasi antarbudaya berarti seperangkat pernyataan yang menggambarkan sebuah lingkungan yang valid, tempat dimana sebuah teori komunikasi antarbudaya dapat diterapkan atau diaplikasikan. Berikut ada beberapa asumsi teori komunikasi antarbudaya, yaitu:

1. Komunikasi Antarbudaya dimulai dengan anggapan dasar bahwa ada

perbedaan persepsi antara komunikator dengan komunikan

2. Dalam komunikasi antarbudya terkandung isi dan relasi antarpribadi

3. Gaya personal mempengaruhi komunikasi antarpribadi

4. Komunikasi antarbudaya bertujuan mengurangi tingkat ketidakpastian

5. Komunikasi berpusat pada kebudayaan

6. Efektifitas antarbudaya merupakan tujuan komunikasi antarbudaya

2.2.2 Persepsi

Manusia diberi kemampuan oleh Tuhan untuk mempersepsikan apa yang dia lihat dan dia rasakan dari pengalaman dilingkungan tempat dia hidup. Persepsi-persepsi tersebut berasal dari kebudayaan yang mengajarkan kepada individu untuk mencipta, merasa, dan mengkarsa. Jadi kebudayaan merupakan hasil cipta, rasa dan karsa manusia yang turut menentukan persepsi manusia. Berbeda kebudayaan, maka berbeda pula persepsi yang dimiliki oleh masing-masing individu tersebut. Komunikasi antarbudaya dimulai dengan anggapan dasar bahwa ada perbedaan persepsi antara komunikator dengan komunikan. Komunikasi antarbudaya akan lebih dapat dipahami sebagai perbedaan budaya dalam mempersepsi objek-objek sosial dan kejadian-kejadian.

Perbedaan kerangka berpikir dan pengalaman seseorang (Frame of reference dan Field of experience) menyebabkan perbedaan model komunikasi

(28)

kendala dalam memahami komunikasi antarbudaya adalah masalah bahasa dan persepsi masing-masing pihak yang berkomunikasi. Tidak hanya itu, faktor pendukung seperti kebiasaan-kebiasaan, aturan-aturan, sikap pola perilaku, yang semua tercakup dalam perbedaan budaya juga menjadi kendala dalam berkomunikasi antar budaya.

Komunikasi antara dua orang atau lebih juga akan dipengaruhi oleh iklim komunikasi, antara komunikator dengan komunikan adalah berbeda. Prinsip-prinsip yang terkandung dalam perbedaan latar belakang kebudayaan dan juga iklim komuniaksi diantara individu, umumnya mengimplikasikan bahwa hambatan komunikasi antarbudaya acapkali tampil dalam bentuk perbedaan persepsi terhadap nilai-nilai budaya, norma budaya, pola berpikir dan sistem budaya (Liliweri, 2004:15). Bahkan masalah-masalah yang kecil dalam komunikasi pun sering sekali diperumit oleh perbedaan-perbedaan persepsi ini, jadi mau atau tidak, kita harus paham apa kerangka persepsi dari lawan bicara kita. Belajar bagaimana mempersepsi dunia. Karena dalam komunikasi antarbudaya yang efektif dan ideal itu, yang diharapkan adalah adanya persamaan dalam pengalaman dan persepsi. Namun yang menjadi masalah adalah ketika kita dihadapkan dengan budaya, maka jarang kita menemukan yang namanya persamaan dalam pengalaman dan persepsi.

Persepsi adalah proses internal yang kita lakukan untuk memilih, mengevaluasi dan mengorganisasikan rangsangan dari luar atau lingkungan eksternal kita (Lubis, 2012). Dengan kata lain persepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa atau hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Secara umum bisa kita lihat bahwa bagaimana orang berperilaku itu adalah hasil dari bagaimana persepsinya terhadap dunia. Inilah yang disebut dengan pengalaman budaya mereka. Kita cenderung memperhatikan, memikirkan dan memberikan respon kepada unsur-unsur lingkungan kita yang penting bagi kita. Misalnya, ketika anak-anak dari penduduk Amerika serikat digabung dengan anak-anak dari penduduk Meksiko, dan dihadapan mereka ada

dua jenis pertandingan yang berlangsung, baseball dan adu banteng, secara

(29)

berhubungan dengan budaya mereka; Anak-anak Meksiko cenderung menyukai adu banteng dan anak-anak Amerika Serikat cenderung melihat pertandingan baseball. Apa yang terjadi adalah bahwa anak-anak membuat pilihan berdasarkan

latar belakang budaya mereka; mereka cenderung untuk melihat, menyenangi dan melaporkan apa yang biasa bagi mereka (Samovar,2010: 222).

Persepsi juga membicarakan bagaimana kita memberikan makna pada stimuli yang dikecap oleh alat indera kita. Kebudayaan juga sangat mempengaruhi persepsi, sebab apa yang dianggap sama oleh seorang individu, belum tentu dianggap sama oleh individu yang lain. Misalnya, pada masyarakat yang menitikberatkan kekayaan, akan membagi masyarakat dalam dua kelompok : orang kaya dan orang miskin. Sementara pada masyarakat yang mengutamakan pendidikan akan membagi masyarakat dalam dua golongan yaitu : kelompok terdidik dan tidak terdidik. Pengelompokan budaya erat kaitannya dengan label ; dan yang kita beri label yang sama cenderung untuk kita persepsi sama. Agama, Ideologi, intelektualitas,tingkat ekonomi, pekerjaan dan citra rasa sebagai faktor-faktor internal akan mempengaruhi persepsi seseorang terhadap realitas yang ada (Rakhmat, 2007:61).

(30)

2.2.2.1Sistem Lambang

Hampir semua pernyataan manusia baik yang ditujukan pada diri sendiri atau pun yang ditujukan pada orang lain dinyatakan dengan lambang atau simbol. Hubungan antara pihak yang ikut serta didalam suatu proses komunikasi banyak ditentukan oleh lambang-lambang yang digunakan dalam berkomunikasi. Lambang atau simbol adalah hasil kreasi manusia dan sekaligus menunjukkan tingginya kualitas budaya manusia dalam berkomunikasi dengan sesamanya. Diantara semua bentuk simbol, bahasa merupakan simbol yang paling rumit, halus dan berkembang. Lambang ini bukan hanya tergambar dalam bentuk verbal saja, yang menggunakan kata-kata (bahasa lisan atau tertulis), tetapi juga sangatlah penting untuk meyakinkan lambang verbal dengan lambang non verbal, seperti gerakan anggota tubuh, bunyi-bunyian, bau-bauan. Lambang membawa pernyataan dan diberi makna oleh penerima, karena itu memberi makna terhadap lambang yang dipakai dalam berkomunikasi bukanlah sesuatu hal yang mudah, melainkan suatu persoalan yang cukup rumit (Cangara, 2005:50). Proses pemberian makna terhadap suatu lambang yang diterima ini sangat dipengaruhi oleh faktor budaya dan juga psikologis, karena sebuah pesan yang disampaikan dengan lambang yang sama, bisa saja berbeda arti bilamana individu yang menerima pesan itu berbeda dalam kerangka berpikir dan kerangka pengalaman.

“Meskipun kita hidup dalam satu bahasa yang sama (Inggris), tetapi kita banyak berbeda dalam kerangka budaya (McNamara, 1966).”

(31)

(Mulyana, 2007: 276). Sebenarnya bukan kata yang mempunyai makna, namun kitalah yang memberikan makna terhadap kata-kata itu, dan makna yang kita berikan pada satu kata bisa lebih dari satu atau dua makna, tergantung pada konteks ruang dan waktu. Kata-kata yang membangkitkan makna dalam pikiran orang. Jadi makna ada di kepala bukan pada lambang atau simbol. Contoh, orang Sunda menggunakan kata bujur yag berarti “pantat”, ternyata bagi orang Batak Karo itu artinya “Terimakasih”, dan “benar” bagi orang di Kalimantan Selatan. Bagaimana jika dua, tiga orang ini berkomunikasi, apa yang akan terjadi? Kemungkinan akan tergambar seperti ilustrasi di bawah ini:

Seorang cowok Batak dan cewek Sunda berada di sebuah angkutan kota. Si cowok berlagak sok akrab dengan cewek terseebut dan ia langsung membayar ongkos si cewek. “Biarin saya yang bayar, Neng.” Si cewek tidak bisa berbuat apa-apa. “Terima kasih, Mas” katanya. Si cowok pun menjawab, “Bujur kembali”. Tentu saja si cewek marah dan menamparkan uang ke wajah si cowok, sambil berucap, “Enak saja, nih uangmu!”

Menurut Gudykunst dan Kim (1984) untuk mencapai komunikasi yang

efektif, maka komunikator harus mengetahui apa yang ingin dibicarakan, sehingga pesan yang ingin disampaikan jelas dan membuat komunikan bisa menerima dengan cermat. Pola berpikir seorang individu yang berasal dari budaya lain dituntut untuk bisa memahami sebagaimana budaya lawan bicaranya (Lubis, 2012). Dengan mengerti pola-pola dasar pengetahuan verbal dan non verbal dari suatu kebudayaan, kita dapat mengetahui sikap-sikap dasar dari kebudayaan tersebut. Misalnya dengan memperhatikan cara pemberian salam dari pihak keluarga laki-laki dalam acara pernikahan adat Batak Toba, terhadap keluarga perempuan, kita dapat melihat dan mempelajari sedikit tentang sikap orang batak yang sangat menghormati pihak pemberi isteri. Dengan demikian, kita juga bisa melihat bagaimana sistem nilai suatu budaya.

2.2.2.2Pandangan Dunia (World View)

(32)

melihatnya dalam interaksi antarbudaya. Misalnya, jelas berbeda bagaimana pandangan seorang kristiani dengan muslim, dengan khatolik, juga dengan seorang atheis. Pandangan dunia sangat mempengaruhi budaya. Efeknya sering sekali dalam hal-hal yang tampak nyata dan remeh seperti pakaian, isyarat dan perbendaharaan kata. Pandangan dunia mempengaruhi kepercayaan, nilai, sikap, penggunaan waktu dan banyak aspek budaya lainnya, sehingga pandangan dunia ini pun akhirnya mempengaruhi komunikasi antarbudaya, oleh karena sebagai anggota suatu budaya setiap pelaku komunikasi mempunyai pandangan dunia yang tertanam dalam pada jiwa yang sepenuhnya dianggap benar dan ia otomatis menganggap bahwa pihak lain juga memandang dunia sama seperti pandangannnya.

a. Sistem Kepercayaan

(33)

tidak boleh menyatakan itu sesuatu hal yang salah. Kita harus dapat mengenal dan menghadapi kepercayaan tersebut bila kita ingin menjalin komunikasi yang baik dengan orang tersebut.

b. Nilai

Menjelaskan apa itu suatu nilai bukanlah hal yang mudah. Setidak-tidaknya bisa kita katakan bahwa nilai itu bagi kita adalah sesuatu yang kita cari, sesuatu yang menarik bagi kita, sesuatu hal yang kita inginkan dan pastinya semua itu adalah sesuatu yang baik. Nilai selalu mempunyai konotasi positif. Sesuatu dikatakan memiliki nilai apabila berguna dan berharga (nilai kebenaran), indah (nilai estetika), baik (nilai moral) dan juga nilai religius. Tidak pernah ada komunitas masyarakat yang terbentuk dan berdiri tanpa adanya sistem nilai. Nilai dalam masyarakat tercakup dalam adat kebiasaan dan tradisi, yang secara tidak sadar diterima dan dilaksanakan oleh anggota masyarakat. Dalam suatu komunitas masyarakat yang secara cepat mengalami perubahan, nilai menjadi bahan pertentangan. Nilai mempunyai tiga ciri, sebagai berikut: 1). Nilai berkaitan dengan subjek. Kalau tidak ada subjek yang menilai, maka tidak akan ada nilai. 2). Nilai tampil dalam suatu konteks praktis, dimana subjek ingin membuat sesuatu. 3). Nilai-nilai menyangkut sifat-sifat yang ditambah oleh subjek pada sifat-sifat yang dimiliki objek (Bertens, 2004: 139).

(34)

Dengan demikian bisa kita simpulkan bahwa sistem nilai yang berlaku itu tidak tersebar secara sembarangan, tetapi menunjukkan serangkaian hubungan yang bersifat timbal balik, yang menjelaskan adanya tata tertib dalam suatu komunitas masyarakat. Jadi, nilai-nilai itu tidak bersifat universal karena kecenderungannya berbeda antara satu budaya dengan budaya lainnya. Misalnya, dalam komunitas masyarakat suku Batak Karo, ada satu nilai yang dipegang kuat, yaitu menantu perempuan tidak boleh mengajak berbicara mertuanya laki-laki. Ternyata nilai seperti ini tidak berlaku bagi masyarakat suku Batak Toba. Tidak ada batasan dalam masyarakat suku Batak Toba untuk bicara kepada mertua atau menantunya, namun yang pasti berbicaralah dengan sopan.

Wujud nilai lainnya yang berlaku bagi kedua suku ini adalah sistem kekerabatan yang sangat kuat, dalam bahasa Batak Toba dikatakan Dalihan Na Tolu, sementara dalam suku Batak Karo disebut Sangkep Sitelu, Artinya, ada tiga

(35)

tersebut, Batak Toba dan Batak Karo, bagaimana dengan pemaknaan terhadap simbol, nilai budaya dan juga adat istiadat diantara keduanya.

Menurut Williams (1960), dalam sistem nilai tersebut, kadang-kadang terdapat berbagai konsepsi yang hidup di dalam alam pikiran sebagian besar warga masyarakat mengenai hal-hal yang dianggap bernilai dalam hidup. Nilai-nilai budaya adalah aspek penilaian daripada sistem kepercayaan, nilai dan sikap. Nilai-nilai tersebut pada dasarnya bersifat normatif, yang dapat menjadi rujukan kepada anggota budaya tentang perkara yang baik, buruk, benar, salah, positif, negatif dan sebagainya. Nilai-nilai budaya ini juga menekankan perilaku-perilaku yang penting dan yang harus dikesampingkan. Nilai budaya menjadi suatu pedoman tertinggi bagi kelakuan manusia dalam suatu komunitas masyarakat. Nilai-nilai budaya adalah sesuatu aturan yang tersusun untuk membuat pilihan-pilihan dan mengurangkan konflik dalam masyarakat. Sistem nilai budaya itu demikian kuatnya meresap dan berakar dalam jiwa masyarakat, sehingga sulit diganti atau diubah dalam waktu yang singkat (Soelaeman, 2005).

c. Perilaku

Dengan adanya sistem nilai dan juga kepercayaan yang dipegang oleh setiap individu, maka berbeda juga perilaku yang dilahirkan. Sikap adalah suatu keadaan internal atau keadaan yang masih ada dalam diri manusia. Keadaan internal ini berupa keyakinan yang diperoleh dari sebuah proses belajar dari kebudayaan, proses akomodasi dan asimilasi pengetahuan yang mereka dapatkan, sebagaimana telah dikemukakan oleh Peaget’s tentang perkembangan kognitif manusia (Wadworth, 1971)

(36)

bukanlah demikian. Sikap dan perilaku jelas berbeda, perilaku adalah bagian dari kehidupan manusia yang menurut Wikipedia adalah sekumpulan perilaku yang dimiliki oleh manusia dan dipengaruhi oleh adat, sikap, emosi, nilai, etika, kekuasaan, persuasi, dan/atau genetika. Sedangkan prilaku itu sendiri adalah tindakan atau aktivitas dari manusia itu sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas antara lain : berjalan, berbicara, menangis, tertawa, bekerja, kuliah, menulis, membaca, dan sebagainya. Dari uraian ini dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud perilaku manusia adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang diamati langsung, maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar. Para psikolog, di antaranya Morgan dan King, Howard dan Kendler, Krech, Crutchfield dan Ballachey, mengatakan bahwa perilaku seseorang dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan hereditas. 09 Maret 2013

(37)

2.2.2.3Organisasi Sosial

Cara bagaimana suatu budaya mengorganisasikan dirinya dan lembaga-lembaganya juga mempengaruhi bagaimana anggota-anggota budaya itu mempersepsi dunia dan bagaimana mereka berkomunikasi. Ada dua organisasi sosial yang turut berperan dalam pembentukan individu, mengembangkan wawasan individu dan mewariskan budaya dalam diri individu, yaitu keluarga dan sekolah.

a). Keluarga

Keluarga adalah organisasi sosial terkecil dalam suatu budaya, namun memiliki pengaruh yang cukup besar. Dalam suatu lembaga sosial, keluarga ini merupakan salah satu institusi non formal yang paling berperan dalam mengembangkan seorang anak. Keluarga memberikan banyak pengaruh budaya kepada anak, bahkan sejak pembentukan sikap pertamanya. Keluarga juga yang membimbing anak dalam memilih kata-kata hingga komunikasi dengan dialeknya. Melalui keluarga, individu belajar mengenal kebudayaannya dan menilai kebudayaannya paling baik dibandingkan dengan kebudayaan etnis lain.

Menurut Galvin dan Bromel (1991), keluarga adalah institusi dasar dan

tertua dibandingkan yang lainnya. Keluargalah yang menjadi dasar dari segala sesuatunya, dimana anak dilahirkan, dibesarkan dan juga dididik sebaik mungkin, diwarisi nilai-nilai dan juga budaya yang berlaku, hingga akhirnya individu itu paham dan dewasa, membentuk keluarga sendiri, yang pada akhirnya akan mewarisi hal yang sama pada anak-anaknya (Lubis, 2012). Hal-hal seperti disebutkan diatas sering disebut dengan fungsi keluarga sebagai lembaga sosialisasi. Dimana dalam keluarga, anak diajak dan diberitahu bagaimana harus hidup bersama dengan orang lain, diajak dan diberitahu bagaimana anak harus hadir dalam kehidupan yang luas di kalangan masyarakat. Dalam keluarga, kita diajari bagaimana menyapa orang lain dengan sebutan ibu guru, bapak guru, dan

lain-lain.

diakses tanggal 2013-03-12.

(38)

dari sebuah keluarga mengetahui bagaimana berinteraksi dengan orang lain. Dalam interaksi, anak diajak mempelajari status dan peranan masing-masing anggota. Ayah, ibu, kakak dan adik, dan mereka mempunyai peranan yang berbeda. Dengan demikian, secara perlahan-lahan anak ditatapkan pada kehidupan nyata yang ada di masyarakat yang kompleks dengan status dan peranan. Namun, walau demikian, interaksi komunikasi antara keluarga yang satu dengan keluarga lainnya juga bisa terhambat, apalagi dengan keluarga yang berbeda latar belakang budaya, karena memang setiap keluarga mempunyai persepsi masing-masing yang tentunya berbeda antara satu dengan lainnya dalam menanamkan pandangan, nilai-nilai yang pada akhirnya terwujud dalam bentuk perilaku (Lubis, 2012:78). Proses belajar dalam kehidupan keluarga akan sangat mempengaruhi pandangan atau perspektif seorang individu pada dunianya sendiri dan dunia lain.

b). Sekolah

Sekolah adalah organisasi sosial lainnya yang juga berpengaruh. Sekolah diberikan tanggung jawab besar dalam mewariskan dan memelihara suatu budaya. Banyak hal yang diajarkan di sekolah, namun apapun yang diajarkan di sekolah, pelajaran itu ditentukan oleh budaya tempat sekolah itu berada. Menurut Webster (1991), sekolah merupakan tempat atau institusi/lembaga yang secara khusus didirikan untuk menyelenggarakan proses belajar-mengajar atau pendidikan. Sebagai institusi, sekolah merupakan tempat untuk engajar murid-murid, tempat untuk melatih murid, memberikan instruksi tentang keterampilan dan keilmuan di lapangan. Berdasarkan pendapat itu, maka sekolah terdiri dari dua bagian, yaitu secara fisik yaitu bangunan-bangunannya, dan secara non fisik terdiri dari sistem-sistem hubungan diantara mereka yang bertugas untuk mengaajar dan yang diajar. Kedua bagian tersebut saling berkaitan satu dengan yang lainnya, misalnya seorang tenaga pengajar akan berhasil mensosialisasikan nilai-nilai dengan sempurna apabila didukung dengan adanya fasilitas yang mamadai (Lubis, 2012).

(39)

dan sikap dari kebiasaan-kebiasaan yang baik yang dapat diterima dalam kebudayaan. Jadi, sekolah merupakan salah satu agen sosialisasi norma dan nilai, sekolah merupakan tempat lembaga (institusi) pendidikan yang menyelenggarakan seluruh kegiatannya baik praktis maupun substantif.

Terkait dengan fungsi sekolah sebagai salah satu agen sosialisasi nilai dan norma, maka masyarakat akan menghadapi dua msalah, yaitu: (1) keadaan sosial budaya yang turut mempengaruhi penyelenggaraan pendidikan, sebagimana kita ketahui bahwa masyarakat indonesia adalah masyarakat yang majemuk yang terlihat dari keanekaragaman suku, agama, golongan dalam masyarakat. Hal ini tentunya turut mewarnai pola-pola kontak, interaksi, relasi dan komunikasi intrabudaya maupun antarbudaya sehingga orang indonesia lebih menyukai hubungan-hubungan “kekeluargaan, kekerabatan dan kesukuan”. Sekolah umum yang menampung anak didik dari berbagai latar belakang budaya yang berbeda sering sekali mengahadapi konflik antar etnik, yaang berujung pada komunikasi non efektif. Hal ini terbkti dari pendirian lembaga atau sekolah yang berkaitan erat dengan kepentingan suatu kelompok etnik tertentu, satu suku, satu agama, satu ras, dan sama golongan. (2) Keadaan di bidang pendidikan. Semakin hari semakin banyak lemabaga yang beridiri untuk memajukan anak didik dari segi keterampilan dan bakat, seperti SMK, STM dan lainnya.

(40)

akan terhindar dari wawasan yang sempit (Liliweri, 2001:211). Sekolah mengutamakan peningkatan dan pengembangan kemampuan anak didik untuk mampu memandang dunia dari berbagai perspektif. Jadi, anak didik diharuskan untuk mengetahui dan menghargai hakikat nilai, struktur, sistem, fungsi, ajaran dogma sesuai kepercayaan antarbudaya. Selain sekolah, peranan organisasi kemasyarakatan seperti serikat tolong menolong, arisan dan perkumulan sosial lainnya juga mempengaruhi individu dalam mempersepsi sesuatu. Disini jugalah individu mencoba untuk saling belajar dan memahami perbedaan-perbedaan yang terdapat pada masing-masing budayanya.

2.2.3 Hambatan dalam Komunikasi Antarbudaya

Dalam kenyataannya, manusia tidak dikatakan berinteraksi apabila tidak terjadi komunikasi. Setiap komunikasi yang terjadi pasti memiliki tujuan yaitu mencapai pemahaman yang sama diantara komunikator dan komunikan. Sama halnya dengan komunikasi antarbudaya yang mempunyai tujuan yakni mencapai komunikasi yang efektif dengan adanya penafsiran serta pemahaman yang sama terhadap suatu rangsangan atau stimuli. Tujuan komunikasi antarbudaya ini akan tercapai apabila bentuk-bentuk hubungan antarbudaya menggambarkan upaya yang sadar dari peserta komunikasi untuk memperbaharui relasi antara komunikator dengan komunikan, menciptakan dan memperbaharui manajemen komunikasi yang efektif, adanya semangat kesetiakawanan, persahabatan, hingga kepada mengurangi konflik.

(41)

Tabel 2.1

Hubungan antara kesadaran dan kemampuan Berkomunikasi Antarbudaya SADAR bahwa TIDAK

MAMPU

SADAR bahwa MAMPU TIDAK SADAR bahwa

TIDAK MAMPU

TIDAK SADAR bahwa MAMPU

Sumber: Lubis (2012)

1. Seseorang sadar bahwa dia tidak mampu memahami budaya orang lain.

Kesadaran ini dapat mendorong orang untuk melakukan eksperimen bagi komunikasi antarbudaya yang efektif. Dengan adanya kesadaran maka seseorang akan mencari tahu bagaimana cara berkomunikasi yang baik dengan orang lain di luar buadyanya sendiri.

2. Dia sadar bahwa dia mampu memahami budaya orang lain. Kesadaran

akan kemampuan itu dapat mendorong untuk memahami, melaksanakan, memelihara dan mengatasi komunikasi antarbudaya. Komunikasi efektif akan tercapai dengan adanya kesadaran kemampuan memahami budaya orang lain, sehingga akan sangat sedikit peluang untuk hambatan komunikasi antarbudaya seperti stereotip, persepsi, etnosentrisme, dan diskriminasi.

3. Dia tidak sadar bahwa dia mampu memahami budaya orang lain. Dia

sebenarnya mempu berbuat untuk memahami orang lain, dan kemungkinan orang lain menyadari kemampuannya itu. Sikap seperti ini juga tidak baik, karena dalam kondisi tertentu akan membuat dia untuk lebih menarik diri dari suatu pergaulan, karena adanya rasa tidak percaya diri dalam hatinya, yang disebabkan oleh ketidaksadarannya terhadap kemampuan yang dimiliki.

4. Dia tidak sadar bahwa dia tidak mampu menghadapi perbedaan

(42)

komunikasi efektif tidak terjalin, namun dia selalu ingin menjalin hubungan komunikasi antarbudaya tersebut.

Setiap manusia pasti ingin menjalin sebuah komunikasi yang efektif, supaya apa yang disampaikan bisa dimengerti orang lain dengan baik. Demikian juga halnya dalam hubungan komunikasi antarbudaya. Namun, ada beberapa hal yang menjadi penghambat bagi kita untuk mencapai sebuah komunikasi efektif, seperti prasangka sosial, stereotip, diskriminasi dan juga etnosentrisme yang tinggi. Hal ini jelas akan menghambat, karena semua faktor tersebut memandang pada self-centre, yang membuat seseorang memaksakan apa yang dipikirkan pada orang lain.

2.2.3.1Prasangka Sosial

Prasangka Sosial merupakan satu bentuk sikap yang secara psikologis

menjadi sangat penting dalam hubungan interaksi dalam masyarakat. Interaksi Sosial

dalam komunitas masyarakat akan sangat rentan bagi munculnya prasangka sosial,

yang dapat mengarah pada perilaku-perilaku yang merusak keharmonisan hubungan

antarkelompok dalam masyarakat. Istilah prasangka sering digunakan untuk menggambarkan kecenderungan untuk menganggap hal lain dengan cara negatif. Menurut Effendy (1981), prasangka merupakan salah satu rintangan atau hambatan berat bagi suatu kegiatan komunikasi oleh karena orang-orang yang mempunyai prasangka, belum apa-apa sudah bersikap curiga dan menentang komunikator yang sedang menyampaikan pesan (Liliweri, 2001: 175). Prasangka sosial merupakan sikap perasaan orang-orang terhadap golongan manusia tertentu, golongan ras atau kebudayaan, yang berlainan dengan golongan orang yang berprasangka itu. Prasangka hanya hasil dari ketidakmampuan individu untuk menyadari keterbatasan dalam berpikir etnosentris dan stereotip-nya. Johnson (1986) dalam Liliweri (2001), menyatakan bahwa prasangka disebabkan karena: (1) gambaran perbedaan antara kelompok; (2) nilai yang dimiliki kelompok lain nampaknya sangat menguasai kelompok minoritas; (3) adanya stereotip; (4) karena perasaan superior pada kelompok sendiri atau adanya etnosentrisme.

(43)

kelompok lain, bersikap ramah pada kelompok lain, bersikap ramah pada kelompok lain dalam waktu tertentu, namun menjaga jarak pada saat lain. Sebenarnya hingga derajat tertentu, kita berprasangka terhadap suatu kelompok. Hal ini tidak bisa dipungkiri, kita tidak bisa tidak berprasangka. Dengan adanya prasangka, maka proses komunikasi sering menjadi korbannya, terganggu dan akhirnya menghambat komunikasi. Pada umumnya, orang-orang yang mempunyai prasangka yang sama akan lebih cocok dan senang ketika menjalin hubungan komunikasi daripada mereka yang tidak kenal, dengan perbedaan prasangka yang tinggi.

Prasangka merupakan suatu konsep yang sangat dekat dengan stereotip, akan tetapi tidaklah demikian. Prasangka memiliki dua komponen: komponen (berpikir) kognitif, dan komponen (perasaan) afektif. Stereotip menjadi dasar dari komponen kognitif dari prasangka. Komponen afektif terdiri dari satu perasaan pribadi terhadap kelompok orang lain. Perasaan ini mungkin termasuk kemarahan, penghinaan, kebencian, penghinaan, kasih sayang dan simpati. Disisi lain, stereotip ini bisa bersifat negatif bisa juga bersifat positif, beda halnya dengan prasangka yang memang cenderung bersifat negatif. Alport (1954) dalam Mulyana (2005), mendefinisikan bahwa prasangka etnik sebagai suatu antipati berdasarkan suatu generalisasi yang salah dan kaku. Prasangka mungkin dinyatakan atau dirasakan. Budaya dan kepribadian sangat mempengaruhi prasangka.

(44)

diskriminatif terhadap masing-masing pihak yang diprasangkai. Bahwasanya tindakan-tindakan diskriminatif yang berdasarkan prasangka social akan merugikan masyarakat Negara itu sendiri, akibatnya perkembangan potensi-potensi manusia masyarakat tersebut akan sangat diperhambat. Apabila kita berprasangka bahwa orang kulit hitam pemalas, orang Jepang itu militeristik, orang China itu mata duitan, wanita sebagai objek seks, politisi itu penipu, tanpa didukung dengan data yang memadai dan akurat, maka komunikasi kita akan sering macet karena berlandaskan persepsi kita yang keliru, yang pada akhirnya orang lain pun akan salah mempersepsi kita.

Sekarang ini telah diusahkan untuk mengubah dan menghilangkan prasangka-prasangka sosial yang picik dan yang menghambat perkembangan masyarakat dengan wajar. Usaha-usaha memerangi prasangka sosial antargolongan itu kiranya jelas harus dimulai dari : (1) didikan anak-anak dalam keluarga oleh orangtuanya dan di sekolah nantinya oleh gurunya. Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa organisasi non formal (keluarga) dan formal (sekolah) sangatlah berpengaruh pada pembentukan karakter seorang anak terlebih bagaimana dia nantinya memandang dunia sekitarnya; (2) Kemudian kita bisa menghindarkan anak dari pengajaran-pengajaran yang dapat menimbulkan prasangka-prasangka sosial, dan ajaran-ajaran yang sudah berprasangka sosial; (3) menjalin interaksi antargolongan yang cukup intensif (Gerungan, 1991).

2.2.3.2Stereotip

(45)

putih terhadap sifat dan watak orang kulit hitam, terlepas dari tingkat ekonomi, pendidikan dan kebudayaannya.

Larry A. Samovar dan Richard E. Porter (1991), mendefenisikan stereotip sebagai kepercayaan yang kita anut mengenai kelompok-kelompok atau individu-individu berdasarkan pendapat dan sikap yang lebih dulu terbentuk (Mulyana, 2005). Misalnya, orang Batak Toba pekerja keras, agak kasar, jujur dan menjunjung tinggi nilai anak laki-laki dalam keturunan, orang Sunda suka kawin cerai, pelit dalam hal uang belanja, orang Batak Karo pemalas, jorok, pendendam, menyukai hal yang berbau mistis, dan masih banyak contoh stereotip lainnya. Ada beberapa faktor yang berperan dalam terbentuknya stereotip, yaitu: (1) sebagai manusia kita cenderung membagi dunia ini ke dalam dua kategori, yaitu kita dan mereka; (2) stereotip bersumber dari kecenderungan kita untuk melakukan kerja kognitif sesedikit mungkin, dalam berpikir mengenai orang lain. Kita seolah-olah sudah diberikan bayangan apa yang ada di depan kita, sebelum kita memasuki dunia itu, seperti yang diungkapkan oleh Lippman, bahwa kita tidak melihat dulu baru memberikan defenisi; kita mendefenisikan dahulu baru melihat; kita diberitahukan dahulu tentang dunia sebelum kita melihatnya; kita membayangkan banyak hal sebelum kita mengalaminya. Dan prakonsepsi itu mempengaruhi keseluruhan proses persepsi.

Sekalipun dikatakan bahwa stereotip itu bisa negatif bisa positif, namun pada umumnya stereotip itu bersifat negatif. Sebenarnya tidak salah ketika setiap suku dalam bangsa itu memiliki stereotip tersendiri, dan sangatlah baik ketika stereotip itu memang kita simpan dalam benak kita. Tetapi yang berbahaya itu adalah ketika kita mengaktifkan stereotip itu dalam menjalin hubungan dengan orang lain yang berasal dari luar golongan atau suku kita, dengan kata lain kita membentuk suatu hubungan komunikasi antarbudaya yang terhambat dikarenakan stereotip yang ada dalam benak kita terhadap orang yang kita ajak berbicara. Ada Empat alasan mengapa Stereotip menghambat komunikasi antarbudaya:

1. Sejenis penyaring, dimana suatu hal yang benar memiliki peluang yang

(46)

2. Stereotip ini mempengaruhi pandangan kita untuk mengeneralisasi suatu sifat atau watak pada suatu komunitas tertentu.

3. Dengan adanya stereotip, maka kita mengarahkan orang lain untuk

menerima pendapat kita sesuai dengan cara kita sendiri.

4. Sekali terbentuk stereotip akan sangat jarang berubah, karena dipegang

kuat dalam suatu kelompok.

Stereotip juga bisa berkembang dari pengalaman negatif. Jika kita memiliki pengalaman tidak menyenangkan dengan orang-orang dari kelompok atau golongan tertentu, kita bisa mengeneralisasi ketidaknyamanan yang mencakup semua anggota kelompok tersebut, seperti kutipan berikut ;

“Stereotypes can also develop out of negative experiences. If we have unpleasant cantact with certain people, we may generalize that unpleasantness to include all members of that particular group (Marthin, Judith N dan Thomas K. Nakayama. 2008).”

Misalnya, kita bersahabat dengan seseorang dari Padang, selama menjalin hubungan dengan dia, kita merasa bahwa dia sangat pelit dalam berbagai hal. Sifat pelit itu mendominasi sifatnya. Dengan demikian, akan tersimpan dalam memori otak kita bahwa orang Padang itu memang pelit, dan yang berbahaya kita langsung mengeneralisasikan stereotip itu pada individu lain yang berasal dari suku yang sama. Menurut Psikologi kognitif, pengalaman-pengalaman baru akan dimasukkan dalam laci kategori yang ada dalam memori kita, berdasarkan dengan kesamaannya dengan pengalaman masa lalu. Dengan cara seperti ini, orang memperoleh informasi tambahan dengan segera, sehingga membantu meramalkan peristiwa atau kejadian yang dihadapi. Inilah yang disebut dengan stereotip yang sangat erat kaitannya dengan emosi, nilai, dan inti diri, yang dengan demikian sulit untuk mengubahnya.

2.2.3.3Etnosentrisme

(47)

sendiri, yang sering kita sebut dengan etnosentrisme. Menurut Summer (dalam Lubis, 1999:35), manusia pada dasarnya seorang yang individualistik yang cenderung mengikuti naluri biologi untuk memementingkan diri sendiri sehingga mempunyai prinsip yang bertentangan dengan orang yang berasal dari kelompok lain. Akibatnya manusia mementingkan diri sendiri dan kelompoknya sendiri karena menganggap folkwaysnya lebih baik daripada oang atau kelompok lain. Lahirlah rasa in groups yang berlawanan dengan out groups, yang akhirnya bermuara pada sikap etnosentrisme. Etnosentris adalah kecenderungan untuk melihat dunia melalui filter budaya sendiri. Misalnya, dalam pandangan orang Amerika yang etnosentris, upacara inisiasi atau pengukuhan menjadi orang dewasa dalam suatu komunitas masyarakat dinilai biadab. Mereka tidak akan terima dan tidak akan paham juga, apa sebabnya orang mau menderita sengsara hanya untuk diakui sudah dewasa dan diterima secara umum dalam masyarakat dimana orang tersebut tinggal. Orang Amerika tidak akan mengerti kalau seremoni sejenis itu adalah suatu acara yang sangat sakral dan kehormatan bagi individu yang dikenakan upacara tersebut. seperti yang diungkapkan oleh Ihromi dalam bukunya:

“Etnosentrisme menghalangi pengertian seorang individu tentang adat-istiadat orang lain dan juga menghalangi tumbuhnya pengertian yang terbuka dan kreatif mengenai kebiasaan dalam kebudayaannya sendiri”.

Istilah etnosentrisme sering dipandang negatif yang didefinisikan sebagai ketidakmampuan untuk melihat orang lain dengan cara di luar latar belakang budaya anda sendiri. Sebuah definisi terkait etnosentrisme memiliki kecenderungan untuk menilai orang dari kelompok, masyarakat, atau gaya hidup yang lain sesuai dengan standar dalam kelompok atau budaya sendiri, dengan kata lain seringkali melihat kelompok lainnya sebagai inferior (lebih rendah). Etnosentrisme disebabkan oleh tradisi dan kebiasaan, kita sering didorong untuk bangga oleh sikap sosial yang telah tertanam.

(48)
(49)

2.3 Model Teoritis

Adapun model teoritis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

Gambar 2.2

Model Teoritis Persepsi Nilai-nilai perkawinan dalam tinjauan KAB

PERSEPSI

BATAK TOBA BATAK KARO

Pandangan Dunia

1. Kepercayaan

2. Nilai

3. Perilaku

Pandangan Dunia

1. Kepercayaan

2. Nilai

3. Perilaku

Organisasi Sosial

1. Keluarga

2. Sekolah

Organisasi Sosial

1. Keluarga

2. Sekolah

Sistem Lambang

1. Bahasa

Sistem Lambang

1. Bahasa

HAMBATAN KAB

PRASANGKA

STEREOTIP

(50)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian

Metode penelitian kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang atau perilaku yang dapat diamati dan dimaknai. Penelitian kualitatif bertujuan untuk menjelaskan fenomena dengan sedalam-dalamnya melalui pengumpulan data sedalam-dalamnya tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi dan tindakan. Metode kualitatif berusaha memahami dan juga menafsirkan makna suatu peristiwa interaksi tingkah laku manusia dalam situasi tertentu menurut perspektif peneliti sendiri. Menurut Denzin dan Lincoln 1987 dalam Moleong (2006), penelitian kualitatif adalah penelitian yang menggunakan latar ilmiah, dengan maksud menafsirkan fenomena yang terjadi dan dilakukan dengan jalan melibatkan berbagai metode yang ada, seperti wawancara, observasi dan pemanfaatan dokumen. Dalam penelitian kualitatif ini tidak semua konteks dapat diteliti tetapi memang dilakukan dalam suatu konteks khusus. Penelitian kualitatif didasarkan pada upaya membangun pandangan mereka yang diteliti, dibentuk dengan kata-kata, gambaran holistik dan sedikit rumit. Jadi penelitian kualitatif ini berupaya memahami fenomena sosial apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan dan persoalan tentang manusia yang diteliti.

(51)

Dalam metode penelitian yang kualitatif, periset adalah bagian integral dari penelitian, artinya periset ikut aktif dalam menentukan jenis data yang diinginkan, dengan terjun langsung ke lapangan dan mengenali subjek penelitiannya, atau dengan istilah lain yang sering kita dengar adalah Key Instrument. Karena itu penelitian kualitatif ini bersifat subjektif dan hasilnya bukan tidak untuk digeneralisasikan (Kriyantono, 2007 : 4).

Penelitian ini bersifat kualitatif dengan menggunakan metode studi kasus. Studi kasus adalah salah satu metode penelitian Ilmu-ilmu sosial, selain dari beberapa metode lain yang ada. Secara umum, studi kasus merupakan straategi yang lebih cocok bila pokok pertanyaan sebuah penelitian berkenaan dengan “how” atau “why”, dan bilamana fokus penelitinya terletak pada fenomena yang

ada dalam konteks kehidupan nyata. Konsep studi kasus ini masih dibagi dalam tiga tipe, yaitu studi kasus eksplanatoris, eksploratoris dan deskriptif. Namun dalam penelitian ini, peneliti menggunakan studi kasus dengan tipe eksplanatoris yang lebih menyoroti pada historis dan eksperimen (pengalaman).

Penelitian dengan menggunakan pendekatan studi kasus masuk dalam wilayah pendekatan kualitatif adalah sifat lebih alami, holistik, dan unsur budaya, serta didekati secara fenomonologis. Studi kasus sebagai kajian yang rinci atas suatu fenomena tertentu. Studi kasus ini juga menjadi strategi untuk melakukan penyelidikan intensif tentang seorang individu, namun terkadang studi kasus juga dapat digunakan untuk menyelidiki unit sosial yang kecil seperti keluarga, sekolah, masyarakat dalam suatu desa, dan kelompok kecil lainnya (Robert, 2003).

(52)

Begitu banyak informasi yang perlu digali dari dalam diri seorang individu, sementara lain lagi dengan individu lain dalam satu komunitas atau kelompok kecil (unit sosial) yang diteliti. Karena itulah batas waktu yang dibutuhkan oleh peneliti cukup lama.

Peneliti dalam hal ini memilih studi kasus sebagai metode penelitian kualitatif yang digunakan, karena memang bertujuan ingin memecahkan suatu masalah tertentu. Jadi, dengan menggunakan studi kasus, peneliti pun akhirnya bisa memperoleh wawasan yang mendalam mengenai aspek-aspek dasar tentang perilaku manusia, karena studi kasus mampu meneliti dengan lebih mendalam, totalitas, intensif dan utuh. Namun dalam hal ini, dibutuhkan kemampuan peneliti dalam mengumpulkan, memilah, mengkategorisasikan, memberikan kode, serta menafsirkan makna dari sejumlah informasi yang didapat dari seorang individu.

3.2Objek Penelitian

Objek penelitian adalah karakteristik tertentu yang memiliki skor atau ukuran yang berbeda untuk individu yang berbeda. Dalam penelitian ini, yang menjadi objek penelitian adalah persepsi terhadap nilai-nilai perkawinan.

3.3Subjek Penelitian

Penelitian Kualitatif tidak bertujuan untuk membuat generalisasi hasil penelitian, karena hasil penelitian lebih bersifat kontekstual dan kasuistik dalam waktu dan ruang tertentu. Oleh karena itu, dalam penelitian kualitatif ini, tidak ada istilah sampel. Sampel dalam penelitian kualitatif ini disebut dengan subjek penelitian atau informan, yaitu orang-orang yang dipilih untuk diwawancarai atau diobservasi sesuai dengan tujuan dan kebutuhan penelitian (Kriyantono,

2007:161). Subjek penelitian menurut Amirin (1986) dalam Idrus (2009) adalah

(53)

pengumpulan data penelitian. Menentukan subjek penelitian dalam suatu penelitian kualitatif adalah sangat penting, agar tidak terjadi kesalahan dalam menentukan informan, sebab dari merekalah diharapkan informasi dapat terkumpul sebagai upaya untuk menjawab pertanyaan penelitian yang diajukan (Idrus, 2009 : 92). Dalam menentukan subjek penelitian memang sangatlah perlu sebuah kerasionalan yang jelas tentang alasan subjek tersebut dipilih. Jadi, sebenarnya bukan asal dipilih begitu saja, namun asumsi yang harus ada adalah subjek tersebut merupakan subjek yang paling tepat dan sesuai dengan tema penelitian yang dilaksanakan serta kriteria yang telah ditentukan oleh peneliti.

Adapun subjek penelitian (Informan) ini adalah orang tua dari keluarga yang sudah memiliki anak berumur 17 tahun ke atas, dari masing-masing Suku Batak Toba di Desa Unjur, Kabupaten Samosir dan Suku Batak Karo di Desa Surbakti, Kabupaten Karo. Hal ini didasarkan pada fase perkembangan pribadi seorang anak yang terdiri dari empat tahap, yaitu Masa kanak-kanak, Masa Muda (remaja), Masa pertengahan (paruh baya), Masa Tua. Usia 17 tahun ke atas masuk dalam fase Masa Muda. Fase ini ditandai dari pubertas sampai dengan masa pertengahan. Dalam fase inilah seorang anak mencoba bertahan untuk mencapai kebebasan fisik dan psikis dari orang tuanya, mendapatkan pasangan, dan mencari tempat di dunia lain (Feist, 2010: 143). Oleh karena itulah peneliti menggunakan

kriteria sudah mempunyai anak 17 tahun ke atas, karena secara pertumbuhan

pribadi seorang anak, dalam fase inilah orangtua mulai ketat dalam mengawasi anak-anaknya, termasuk dalam hal memilih teman hidup. Dengan demikian pengambilan subjek penelitian atau informan dengan cara seperti ini dinamakan teknik Purpossive Sampling atau sampel bertujuan.

Figur

Gambar 2.2 Model Teoritis Persepsi Nilai-nilai perkawinan dalam tinjauan KAB

Gambar 2.2

Model Teoritis Persepsi Nilai-nilai perkawinan dalam tinjauan KAB p.49
Gambar 3.1 Model Analisis Interaktif Miles dan Huberman

Gambar 3.1

Model Analisis Interaktif Miles dan Huberman p.55
Tabel 4.1 Deskripsi Subjek Penelitian

Tabel 4.1

Deskripsi Subjek Penelitian p.62

Referensi

Memperbarui...