• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perbedaan Adaptive Selling Ditinjau dari Locus of Control pada Distributor Multilevel Marketing

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Perbedaan Adaptive Selling Ditinjau dari Locus of Control pada Distributor Multilevel Marketing"

Copied!
76
0
0

Teks penuh

(1)

PERBEDAAN ADAPTIVE SELLING DITINJAU DARI

LOCUS OF CONTROL PADA DISTRIBUTOR

MULTILEVEL MARKETING

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi Persyaratan Ujian Sarjana Psikologi

Oleh

JULIA DOMINIKA 041301008

FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

Perbedaan Adaptive Selling Ditinjau dari Locus of Control pada Distributor Multilevel Marketing

Julia dan Emmy A.A.

ABSTRAK

Adaptive Selling merupakan kemampuan mengadaptasikan atau mengubah perilaku secara efektif saat berinteraksi dengan pembeli sesuai dengan tuntutan situasi penjualan yang meliputi bentuk pertemuan dan karakteristik pembeli yang dihadapi saat itu.

Adaptive Selling dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah ciri-ciri kepribadian (personality traits). Personality traits terdiri dari yakni self-monitoring, androgini, empati, terbuka (openers), dan locus of control (Mayer, Caruso dan Salovey, 1999). Latar belakang penelitian ini lebih difokuskan pada variabel locus of control dari seseorang yang terlibat dalam adaptive selling, apakah dia memiliki kecenderungan locus of control eksternal ataukah internal.

Adaptive selling seseorang terkait dengan locus of controlnya dibedakan melalui adaptasi penjualan dimana individu dengan locus of control internal memiliki sumber kendali adaptasi penjualan yang berasal dari dirinya sendiri sedangkan pada individu dengan locus of control eksternal memiliki sumber kendali adaptasi penjualan dari orang lain.

Penelitian ini melibatkan 100 orang distributor multilevel marketing “Tiens” sebagai subyek penelitian. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling. Data yang diperoleh dalam penelitian ini diolah dengan analisis varians (ANOVA). Alat ukur yang digunakan adalah skala adaptive selling dan skala locus of control.

Hasil analisa data menunjukkan ada perbedaan adaptive selling ditinjau dari locus of control dengan nilai p= .000. Perbedaan yang signifikan dalam adaptive selling terlihat dari peran locus of control internal dan eksternal (p = 0.42). Sementara itu hasil tambahan membuktikan ada perbedaan signifikan adaptive selling ditinjau dari jenis kelamin dan lama masa keanggotaan distributor.

Kata kunci:adaptive selling, locus of control

(3)

The Difference Of The Adaptive Selling Considered From The Locus of Control on Multilevel Marketing Distributor

Julia and Emmy A.A

ABSTRACT

Adaptive Selling is the ability to adapt or change the behavior effectively during during a customer interaction or accross customer interactions based on perceived information about the nature of selling situation including the style of selling and the characteristics of buyers.

Adaptive selling is influenced by several factor such as personality traits, that consisting self monitoring, androgini, emphaty, openers, and locus of control (Mayer, Caruso, and Salovey, 1999). The background of this research is focused on the locus of control of people who involved in the adaptive selling whether they have tendency on eksternal locus of control or internal locus of control.

The person adaptive selling which is connect with the locus of control should be differed in the selling adaptation where the person with the internal locus of control is tend to have a locus of control from ownself and the person with the eksternal locus of control is tend to have locus of control from others.

This research involved 100 multilevel marketing distributor as the subject of the research. The taking of the sample was carried out with the purposive sampling method. The data that was received in this research was processed with anova. The measuring instrument that used are The Adaptive Selling Scale and The Locus of Control Scale.

The results of the data analysis shows that there are the different of the adaptive selling considered from the locus of control with P score = 0.000. The difference that are significant in the adaptive selling seen from the internal and eksternal locus of control. While the addition result was proving that there are significant differences of the adaptive selling are consider from gender and time of joining as dsitributor.

(4)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis sampaikan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas berkat

dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini tepat waktu.

Skripsi yang berjudul “Perbedaan Adaptive Selling Ditinjau dari Locus of Control

pada Distributor Multilevel Marketing” merupakan salah satu tugas mata kuliah

sebagai syarat kelulusan memenuhi persyaratan ujian sarjana psikologi mengikuti

ujian seminar di Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara.

Penulisan menyampaikan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah

membantu penyelesaian proposal ini, yaitu:

1. Ibu Emmy Mariatin, MA, Ph.D, psikolog sebagai dosen pembimbing yang

telah membimbing penulis dalam menyelesaikan proposal seminar ini.

2. Orang tua penulis yang telah memberikan dukungan moral dan materi.

3. Teman-teman dari Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara atas

kritik, saran, dan informasi lainnya.

Penulis telah berusaha menyelesaikan proposal ini dengan sebaik mungkin

menggunakan berbagai literatur yang ada, namun penulis tetap mengharapkan kritik

dan saran yang sifatnya membangun agar proposal ini menjadi lebih baik lagi di masa

yang akan datang.

Akhir kata penulis berharap semoga proposal ini dapat memberikan manfaat

bagi para pembaca.

Medan, Desember 2009

(5)

DAFTAR ISI

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... iv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Perumusan Masalah ... 11

C. Tujuan Penelitian ... 11

D. Manfaat Penelitian ... 13

E. Sistematika Penulisan ... 13

BAB II LANDASAN TEORI ... 15

A. Adaptive Selling ... 15

1. Pengertian Adaptive Selling ... 15

2. Aspek-aspek Adaptive Selling ... 16

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Adaptive Selling ... 17

B. Locus of Control ... 17

1. Pengertian locus of control ... 17

2. Konsep dasar locus of control ... 18

3. Jenis orientasi dan aspek locus of control ... 20

C. Distibutor Multilevel Marketing ... 22

D. Perbedaan Adaptive Selling Ditinjau dari Locus of Control pada Distributor Multilevel Marketing ... 24

E. Hipotesa ... 27

(6)

A. Identifikasi Variabel Penelitian ... 28

B. Definisi Operasional Variabel Penelitian ... 29

1. Adaptive Selling ... 29

2. Locus of control internal dan eksternal ... 30

C. Populasi dan Metode Pengambilan Sampel ... 30

1. Populasi ... 30

2. Sample dan metode pengambilan sampel ... 31

D. Alat Ukur Penelitian ... 31

G. Prosedur Pelaksanaan Penelitian ... 42

H. Metode Analisis Data... 43

BAB IV HASIL ANALISIS DATA ... 45

A. Analisa Data ... 45

1. Gambaran Umum Subjek Penelitian ... 45

a. Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Locus of Control... 45

b. Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Lama Masa Keanggotaan……….………... 46

(7)

2. Hasil Penelitian ... 47

3. Kategorisasi Skor Adaptive Selling ... 50

4. Hasil tambahan ... 52

B. Pembahasan ... 54

BAB V KESIMPULAN, DISKUSI dan SARAN ... 56

A. Kesimpulan ... 56

B. Saran ... 57

DAFTAR PUSTAKA ... 60

(8)

Perbedaan Adaptive Selling Ditinjau dari Locus of Control pada Distributor Multilevel Marketing

Julia dan Emmy A.A.

ABSTRAK

Adaptive Selling merupakan kemampuan mengadaptasikan atau mengubah perilaku secara efektif saat berinteraksi dengan pembeli sesuai dengan tuntutan situasi penjualan yang meliputi bentuk pertemuan dan karakteristik pembeli yang dihadapi saat itu.

Adaptive Selling dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah ciri-ciri kepribadian (personality traits). Personality traits terdiri dari yakni self-monitoring, androgini, empati, terbuka (openers), dan locus of control (Mayer, Caruso dan Salovey, 1999). Latar belakang penelitian ini lebih difokuskan pada variabel locus of control dari seseorang yang terlibat dalam adaptive selling, apakah dia memiliki kecenderungan locus of control eksternal ataukah internal.

Adaptive selling seseorang terkait dengan locus of controlnya dibedakan melalui adaptasi penjualan dimana individu dengan locus of control internal memiliki sumber kendali adaptasi penjualan yang berasal dari dirinya sendiri sedangkan pada individu dengan locus of control eksternal memiliki sumber kendali adaptasi penjualan dari orang lain.

Penelitian ini melibatkan 100 orang distributor multilevel marketing “Tiens” sebagai subyek penelitian. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling. Data yang diperoleh dalam penelitian ini diolah dengan analisis varians (ANOVA). Alat ukur yang digunakan adalah skala adaptive selling dan skala locus of control.

Hasil analisa data menunjukkan ada perbedaan adaptive selling ditinjau dari locus of control dengan nilai p= .000. Perbedaan yang signifikan dalam adaptive selling terlihat dari peran locus of control internal dan eksternal (p = 0.42). Sementara itu hasil tambahan membuktikan ada perbedaan signifikan adaptive selling ditinjau dari jenis kelamin dan lama masa keanggotaan distributor.

Kata kunci:adaptive selling, locus of control

(9)

The Difference Of The Adaptive Selling Considered From The Locus of Control on Multilevel Marketing Distributor

Julia and Emmy A.A

ABSTRACT

Adaptive Selling is the ability to adapt or change the behavior effectively during during a customer interaction or accross customer interactions based on perceived information about the nature of selling situation including the style of selling and the characteristics of buyers.

Adaptive selling is influenced by several factor such as personality traits, that consisting self monitoring, androgini, emphaty, openers, and locus of control (Mayer, Caruso, and Salovey, 1999). The background of this research is focused on the locus of control of people who involved in the adaptive selling whether they have tendency on eksternal locus of control or internal locus of control.

The person adaptive selling which is connect with the locus of control should be differed in the selling adaptation where the person with the internal locus of control is tend to have a locus of control from ownself and the person with the eksternal locus of control is tend to have locus of control from others.

This research involved 100 multilevel marketing distributor as the subject of the research. The taking of the sample was carried out with the purposive sampling method. The data that was received in this research was processed with anova. The measuring instrument that used are The Adaptive Selling Scale and The Locus of Control Scale.

The results of the data analysis shows that there are the different of the adaptive selling considered from the locus of control with P score = 0.000. The difference that are significant in the adaptive selling seen from the internal and eksternal locus of control. While the addition result was proving that there are significant differences of the adaptive selling are consider from gender and time of joining as dsitributor.

(10)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kemajuan zaman yang membawa masalah dan kesempatan baru merupakan

penyebab menariknya pengetahuan marketing bagi perusahaan, lembaga, dan

bangsa-bangsa. Organisasi-organisasi nonprofit seperti universitas, museum, lembaga

pemerintah dan sebagainya, memandang marketing sebagai suatu cara baru untuk

menjalin hubungan dengan masyarakat. Negara-negara yang sedang berkembang

mempelajari prinsip-prinsip marketing untuk mengetahui bagaimana memperbaiki

sistem distribusi domestik mereka, dan bagaimana caranya untuk dapat bersaing

dengan lebih efektif di pasar dunia.

Naisbitt (dalam Budaya Industri Pemasaran Jaringan di Indonesia, 2003)

mengatakan bahwa akan terjadi perubahan besar dalam marketing dunia, yang

diistilahkannya sebagai renaisans Asia. Fenomena ini menyinggung delapan tren

perubahan yaitu kecenderungan perubahan dari dominasi negara ke dominasi

jaringan, dari tuntutan ekspor ke konsumen, dari pengaruh Barat ke cara Asia, dari

kontrol pemerintah ke tuntutan pasar, dari desa ke metropolitan, dari padat karya ke

teknologi canggih, dari dominasi peran pria ke penonjolan peran perempuan, dan dari

Barat ke Timur.

Di tengah gelombang perubahan semacam itu, peran dunia bisnis semakin

menentukan. Eksistensi perusahaan, baik nasional maupun multinasional, yang

(11)

yang bersamaan, menghadapi tantangan yang jauh lebih berat yang belum pernah

dihadapi sebelumnya. Eksistensi perusahaan sangat terkait dengan nasib karyawan,

konsumen, lingkungan, kebijaksanaan pemerintah, di samping mekanisme pasar.

Tanggung jawab sosial merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sasaran dan

tujuan perusahaan. Paradigma inilah diakui telah membawa perusahaan mampu

bertahan lama.

Konsep marketing bermula dari beberapa temuan pada tahun 1980-an melalui

penelitian beberapa penulis bisnis yang mulai memikirkan apa yang membuat suatu

perusahaan menjadi unggul. Temuan yang mereka dapatkan memiliki sejumlah

prinsip operasional dasar yang sama, diantaranya penghormatan yang mendalam

kepada pelanggan, suatu perasaan yang tajam mengenai pasar yang tepat, dan suatu

kapasitas yang luar biasa untuk memotivasi pegawai mereka unuk menghasilkan

kualitas dan nilai yang tinggi bagi para pelanggannya (Kotler, 1991).

Radiosunu (2001) mengemukakan definisi marketing sebagai kegiatan manusia

yang diarahkan pada usaha memuaskan keinginan dan kebutuhan melalui proses

pertukaran. Titik tolak marketing adalah kebutuhan dan keinginan manusia. Kegiatan

marketing timbul apabila manusia memutuskan kebutuhan dan keinginannya dengan

cara pertukaran.

Definisi yang sejalan dikemukakan oleh Kotler (1991) yang menyatakan bahwa

pemasaran (marketing) adalah suatu proses sosial dan manajerial dengan mana

individu-individu dan kelompok-kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan

dan inginkan melalui penciptaan, penawaran dan pertukaran produk-produk yang

(12)

Kemudian Kotler (1991) menyatakan bahwa pemasaran mengalami perkembangan

seiring dengan berkembangnya tuntutan keinginan dan kebutuhan manusia.

Perkembangan yang terjadi ini mengakibatkan munculnya berbagai sistem pemasaran

baru. Salah satu sistem pemasaran tersebut adalah dengan sistem pemasaran dengan

menggunakan sistem jaringan kerja, atau lebih dikenal dengan nama multilevel

marketing atau network marketing (pemasaran jaringan). Dinamakan multilevel

marketing karena merupakan sebuah jaringan kerja pemasaran yang di dalamnya

terdapat sejumlah orang yang melakukan pekerjaan pemasaran produk dan atau jasa.

Rozi (2003) berpendapat bahwa pemasaran jaringan merupakan salah satu cara

yang dapat dipilih oleh sebuah perusahaan untuk memasarkan produknya kepada

pelanggan eceran dengan memberdayakan distributor independennya melalui

pengembangan-pengembangan tenaga-tenaga pemasarnya secara independen, tanpa

campur tangan langsung perusahaan. Target penjualan sepenuhnya ditentukan oleh

distributor independennya dan organisasi pemasaran yang dikembangkannya.

Sementara imbalan jasa dalam bentuk potongan harga, komisi atau intensif ditetapkan

oleh perushaan secara berjenjang sesuai dengan nilai penjualan yang diberitahukan

kepada setiap distributor independen sejak mereka mendaftar sebagai calon anggota.

Pemasaran jaringan merupakan bagian dari sistem penjualan langsung. Prinsip

sistemnya sama, yakni mengandalkan para penual langsung yang bekerja secara

mandiri atas dasar komisi penjualan.

Perusahaan multilevel marketing memiliki visi dan misi ke depan, yang

ditanamkan dengan jelas pada para distributornya. Seorang distributor juga tidak

(13)

untuk menjadi seorang leader di kelompoknya dimasa yang masa mendatang. Di

perusahaan multilevel marketing para distributor dilatih untuk menjadi seorang

pengusaha mandiri agar dapat meraih cita-citanya tersebut melalui berbagai training

atau seminar-seminar kewirausahaan. Untuk merangsang distributor dalam

meningkatkan target yang diharapkan oleh perusahaan, maka perusahaan akan

memberikan kompensasi bagi orang-orang yang berprestasi dengan berbagai fasilitas

(Royan, 2001).

Perusahaan penjualan langsung (direct selling) mengeluhkan distributor Indonesia

yang tidak produktif, dan hanya 15% dari 6,7 juta anggota perusahaan multilevel

marketing yang dinyatakan aktif (Silitonga, 2007).

Menurut Widarto Wirawan (dalam Bisnis Indonesia edisi 24 juli 2007), Humas

APLI (Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia), kurangnya kemandirian distributor

menjadi pemicu cuma sedikitnya anggota yang mampu secara kontinu menjual

barang multilevel marketing. Hanya 15% dari enam juta distributor di Indonesia yang

aktif. Mereka hanya sekadar mendaftar sebagai anggota, belanja sekali, dan

selanjutnya tidak melakukan transaksi lagi.

Silitonga (2007) menambahkan bahwa distributor Indonesia terlalu bergantung

pada upline (ditributor perekrut), terlalu menuntut, dan segalanya minta dilayani

termasuk dikirimi segala keperluannya. Tidak produktifnya distributor multilevel

marketing di Indonesia menekan omzet perusahaan penjualan langsung dibandingkan

negara lain di Asean. Sebanyak 6,7 juta distributor di Indonesia, tercatat hanya

menjual barang US$765 juta atau sekitar Rp7,5 triliun. Kondisi di Indonesia ini

(14)

perusahaan multilevel marketing, dan telah memahami apa yang harus dilakukannya

sebagai seorang distributor. Distributor giat berjualan untuk mengejar bonus yang

lebih tinggi dari perusahaan.

Adaptive selling merupakan penjualan yang mengadaptasikan pada kebutuhan dan

harapan si pelanggan selama penjual dan pelanggan saling berinteraksi (Weitz, Sujan

dan Sujan, 1986). Reagan (1995) menambahkan bahwa adaptive selling merupakan

pemodifikasian gaya komunikasi, format presentasi, dan isi pesan yang dilakukan

oleh penjual selama berinteraksi dengan pembeli.

Mengembangkan dan mengelola hubungan dengan pelanggan merupakan

komponen kunci dari penjualan personal dalam organisasi modern (Leigh dan

Marshal, 2001). Dalam tujuan untuk meningkatkan peluang sukses, sangatlah penting

bagi penjual untuk memperluas hubungan sosial secara efektif dan efisien. Tantangan

untuk menjual baik melalui perusahaan maupun perorangan adalah perlunya

konsistensi untuk mengirimkan pesan kepada pembeli yang berfokus pada kebutuhan,

keinginan, dan kepentingan masing-masing pembeli secara individual. Hal ini penting

karena pembeli kurang menggunakan kesepakatan dan cenderung meningkatkan

target secara konstan bahwa organisasi penjualan menyesuaikan bentuk pendekatan

hanya berdasarkan keinginan mereka sendiri, bukan berdasarkan keinginan pembeli

(Weitz, Sujan, dan Sujan, 1986). Orang yang melakukan penjualan harus

mengadaptaskan motivasi dan kemampuan untuk menciptakan presentasi yang

berfokus pada konsumen secara lebih efektif.

Weitz dan Bradford (1999) menyarankan agar implementasi konsep pemasaran

(15)

mempertimbangkan baik kebutuhan konsumen maupun perusahaan dalam

mengembangkan strategi penjualan. Hal ini sejalan dengan pendapat Spiro dan Weitz

(1990) yang menyatakan bahwa, penjualan personal merupakan satu-satunya alat

komunikasi yang memungkinkan pesan pemasaran diadaptasikan pada kebutuhan

spesifik dan kepercayaan masing-masing pembeli. Komunikasi jenis ini dianggap

lebih dapat dipercaya dam memberikan pengaruh lebih besar daripada mengirimkan

pesan berbentuk media.

Kemampuan untuk mengirimkan pesan yang berfokus pada konsumen merupakan

hal yang penting bagi performansi penjual. Weitz, Sujan dan Sujan (1986)

memberikan suatu gambaran penelitian mengenai peningkatan akan pemahaman

komponen kemampuan performansi penjual. Levy dan Sharma (1994) menyarankan

agar penjual memperhatikan praktik adaptive selling karena memiliki korelasi positif

terhadap performansi penjual. Spiro dam Witz (1990) mengembangkan dan

mengakuratkan pengukuran derajat adaptive selling mengenai praktik yang dilakukan

penjual. Mereka meenyatakan bahwa penjual cenderung bertindak ke dalam enam

tahapan yakni: (1) Merekognisi berbagai pendekatan penjualan dibutuhkan dalam

situasi penjualan yang berbeda-beda; (2) Percaya akan kemampuan diri dalam

menggunakan berbagai pendekatan yang berbeda; (3) Percaya akan kemampuan

mengubah pendekatan penjualan selama berinteraksi dengan konsumen; (4) Struktur

pengetahuan yang memungkinkan pengenalan situasi penjualan yang berbeda dan

akses pengubahan strategi penjualan yang tepat di setiap situasi; (5) Pengumpulan

informasi mengenai situasi penjualan yang akan memudahkan adaptasi; (6)

(16)

Fase pertama merujuk pada motivasi penjual dalam melaksanakan adaptive selling.

Fase keempat dan kelima berhubungan dengan kemampuan untuk melakukan praktik

adaptive selling. Fase keenam merujuk pada perilaku aktual penjual.

Adaptive selling merupakan filosofi penjualan personal dimana perilaku menjual

dan pendekatan digunakan selama interaksi penjualan atau sepanjang interaksi antar

pelanggan, yang didasarkan pada informasi mengenai situasi penjualan (Levy dan

Sharma, 1994). Adaptasi para penjual akan tampak melalui presentasi selama

penjualan, teknik pendekatan, keahlian tertentu, dan sebagainya, berdasarkan tipe

pelanggan atau lingkungan penjualan.

Weitz (1984) mengemukakan beberapa dimensi dimana perilaku penjual dapat

diadaptasi, yakni: (1) Dasar kemampuan persuasi, apakah berdasarkan keahlian,

koersivitas, legitimasi, ataukah reward; (2) Penggunaan teknik persuasi, apakah

secara terbuka ataupun tertutup, rasional atau emosional; (3) Elemen kognitif dalam

penyampaian pesan, apakah berdasarkan nilai dan kepercayaan tertentu ataukah

berdasarkan bobotnya; (4) Gaya komunikasi, apakah secara agresif atukah pasif,

dengan pemaksaan berlebih ataukah pemaksaan biasa; (6) Format pesan, apakah

dengan format satu sisi ataukah dua sisi; (7) Pelayanan, tanggal pengiriman, harga,

dan ketentuan pemesanan.

Pelaksanaan adaptive selling memiliki efek positif pada performansi penjualan

(Gengler, Howard, dan Zolner, 1995). Adaptive selling harus dilaksanakan agar

menghasilkan hasil positif secara efektif (Spiro dan Weitz, 1990). Efektifitas

(17)

Kemampuan adaptive selling sangat penting digunakan oleh distributor multilevel

marketing karena distributor tersebut akan menghadapi calon distributor baru yang

akan direkrut sebagai anak jaringan (downliner) serta menghadapi calon pembeli

produk perusahaan yang sangat bervariasi karakteristik maupun kebutuhannya.

Seorang distributor multilevel marketing dituntut mampu menyesuaikan diri dengan

karakteristik dan kebutuhan pelanggan dalam hal menjual serta merekrut distributor

baru.

Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa kualitas sumber daya manusia dan

pendekatan pelayanan tenaga pemasar terhadap konsumen di Indonesia dirasa masih

relatif kurang (Roesanto, 1996). Kondisi ini membawa konsekuensi perlunya

peningkatan kemampuan adaptive selling para distributor multilevel marketing

dengan mempertimbangkan bahwa produk multilevel marketing.

Menurut Weitz, Sujan dan Sujan (1986), faktor-faktor yang berhubungan dengan

adaptive selling adalah self monitoring, empati, androgini, terbuka, locus of control,

dan aktifitas manajerial.

Weitz, Sujan dan Sujan (1986) mendefinisikan adaptive selling sebagai

kemampuan individu untuk beradaptasi dengan situasi penjualan berdasarkan

informasi yang diterima mengenai harapan pelanggan dan adanya keyakinan akan

kemampuan diri sendiri untuk melakukan perubahan-perubahan dalam presentasi.

Mayer, Caruso, dan Salovey (1999) mengemukakan bahwa peningkatan

kemampuan adaptive selling salah satunya dipengaruhi oleh ciri-ciri kepribadian

(personality traits). Peningkatan kualitas kepribadian sangat dibutuhkan agar manusia

(18)

Mayer, Caluso, dan Salovey (1999) mengemukakan bahwa locus of control

merupakan ciri umum personality trait yang merefleksikan fleksibilitas aspek

interpersonal yang berhubungan dengan praktek adaptive selling.

Rotter (dalam Schultz dan Schultz, 1996) mendefinisikan locus of control sebagai

atribut kepribadian dimana seorang individu dibedakan berdasarkan derajat

keyakinan dalam mengendalikan peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam hidup

mereka. Tambahan menurut Rotter (dalam Lefcourt, 1982) orientasi locus of control

merupakan suatu kontinum unidimensional, dari eksternal menuju internal. Seseorang

dengan keyakinan yang kuat akan kendali internal dinyatakan oleh Buss (dalam

Salazar, 2002) lebih percaya diri dan asertif, dan aktif mencari informasi yang

menolong mereka untuk mencapai tujuan mereka, dan tertarik pada situasi yang

menawarkan kesempatan berprestasi. Sedangkan seseorang yang dikendalikan secara

eksternal melihat suatu peristiwa bukan berasal dari perilaku mereka sendiri

melainkan dari hal-hal yang diluar kemampuan mereka.

Carver dan Scheier (1981) menyatakan bahwa jika seseorang percaya bahwa ia

mempunyai pengaruh atas apa yang terjadi padanya, ia belajar dari pengalaman masa

lalunya sebagai pedoman dan pengukur masa depannya lebih lanjut.

Locus of control merupakan ciri personality traits, yang mana personality traits

merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi adaptive selling (Mayer, Caruso,

dan Salovey, 1999). Hal inilah yang melatarbelakangi peneliti untuk mengetahui

perbedaan adaptive selling pada distributor multi level marketing ditinjau dari locus

(19)

Tiens Group awalnya merupakan sebuah perusahaan bioteknologi yang berdiri

pada tahun 1992. Kantor pusat “Tiens” berada di Henderson Centre, Beijing. Pabrik

utamanya terletak di Pusat Industri Teknologi Modern Tianjin, dengan luas tanah

68.000 meter persegi dan luas bangunan 120.000 meter persegi. Pada Juli 1995,

perusahaan “Tiens” mengadopsi sistem network marketing dan penjualannya

meningkat dari 630 juta Yuan pada tahun 1996, menjadi 2,12 milyar Yuan pada tahun

1997. Di tahun 1998 bisnis “Tiens” mulai berekspansi ke pasar dunia. Kantor

pemasarannya melingkupi Amerika Serikat, Kanada, Rusia, Eropa dan puluhan

negara lainnya. Pada tahun 2001, Tiens Group mendirikan kantor pemasaran di

Indonesia. Tiens Group secara aktif dalam pengembangan riset dan teknologi untuk

menggabungkan teknologi modern dengan perawatan kebudayaan kerajaan Tiongkok

kuno yang telah berusia 5000 tahun. Dengan proses berbasis teknologi canggih dan

quality control berstandar internasional, ”Tiens” menghasilkan produk-produk

suplemen berkualitas tinggi. Berikutnya, ”Tiens” membeli hak paten bioteknologi

modern untuk ekstrasi kalsium organik. Pada tahun 1999, sistem quality control

Tiens telah diakui dengan mendapatkan sertifikat ISO-9002 yang dikeluarkan oleh

China Quality Certification Center of Import and Export Commodities (Winata,

dalam Penjelasan Marketing Plan Tiens Internasional).

Perusahaan multilevel marketing “Tiens” melatih para distributor untuk menjadi

seorang pengusaha mandiri agar dapat meraih cita-citanya melalui berbagai training

atau seminar-seminar kewirausahaan. “Tiens” bekerjasama dengan “Unicore” dalam

melaksanakan sistem multilevel marketing. “Tiens” berperan sebagai produsen

(20)

distributor produk “Tiens” agar mampu bertahan dan memberdayakan diri. “Tiens”

memberikan pendidikan manajemen dan marketing yang positif bagi distributornya

melalui seminar dan diklat, yang secara langsung ditangani oleh “Unicore” (Susanto,

2008). Hal ini yang membedakan “Tiens” dengan perusahaan multilevel marketing

lainnya.

Keseriusan “Tiens” dalam memberdayakan distributornya ternyata tidak mampu

menghilangkan faktor-faktor kegagalan yang juga dialami distributor multilevel

marketing lainnya. Namun kegagalan ini lebih kepada faktor internal distributor

tersebut. Distributor “Tiens” yang gagal tidak benar-benar tahu apa yang sebetulnya

mereka cari dalam menjalankan bisnis multilevel marketing. Konsistensi dan

komitmen mereka rendah dalam menjalankan bisnis “Tiens” (Susanto, 2008).

Meskipun sudah mendapatkan pelatihan untuk menjadi seorang pengusaha yang

mandiri, namun banyak ditemukan kasus para distributor menyerah dan tidak

sanggup melanjutkan bisnis multilevel marketing. Hal inilah yang melatarbelakangi

peneliti untuk melakukan penelitian tentang perbedaan adaptive selling distributor

multilevel marketing ditinjau dari locus of control pada perusahaan “Tiens”.

B. Perumusan Masalah

Apakah ada perbedaan adaptive selling ditinjau dari locus of control?

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bermaksud untuk mendapatkan data secara langsung sesuai dengan

(21)

locus of control pada distributor multilevel marketing. Data yang diperoleh nantinya

akan digunakan dan diolah untuk menguji hipotesa yang diajukan penelitian.

C. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Manfaat Teoritis

a. Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu

Psikologi terutama Psikologi Industri dan Organisasi, dalam hal ini adalah

dunia marketing.

b. Memperkaya kajian empiris mengenai locus of control dalam kaitannya

dengan adaptive selling.

2. Manfaat Praktis

a. Penelitian ini dharapkan dapat bermanfaat bagi masyarakat luas khususnya

distributor multilevel marketing. Distributor multi level marketing mendapat

masukan tentang adaptive selling. Para distributor dapat mengerti dan

memahami tentang adaptive selling dan menerapkannya dalam proses

penjualan yang mereka lakukan.

b. Diharapkan agar distributor multilevel marketing dapat lebih menyadari

pentingnya locus of control dalam melakukan praktek adaptive selling

sehingga para distributor tidak selalu menggantungkan diri kepada upliner

(22)

D. Sistematika Penulisan

Proposal penelitian ini disajikan dalam beberapa bab, dengan sistematika sebagai

berikut:

BAB I : Pendahuluan

Bab ini menjelaskan tentang latar belakang masalah penelitian,

permasalahan penelitian, tujuan dan manfaat penelitian, serta sistematika

penulisan.

BAB II : Landasan Teori

Bab ini memuat tinjauan teoritis yang menjadi acuan dalam pembahasan

masalah. Teori-teori yang dimuat adalah teori mengenai adaptive selling,

locus of control, dan distributor multilevel marketing. Bab ini akan

diakhiri dengan memaparkan hipotesa penelitian.

Bab III : Metodologi Penelitian

Pada bab ini dijelaskan mengenai identifikasi variabel penelitian, definisi

operasional dari variabel penelitian, populasi dan teknik pengambilan

sampel, metode pengumpulan data, alat ukur yang digunakan, uji validitas

dan reliabilitas alat ukur serta metode analisis data.

Bab IV : Analisa Data dan Pembahasan

Pada bab ini akan dipaparkan mengenai gambaran umum dan karakteristik

dari subjek penelitian serta bagaimana analisa data dilakukan dengan

menggunakan analisa statistik. Kemudian pada bab ini juga dibahas

(23)

menggunakan SPSS 15.0 For Windows yang kemudian data-data tersebut

akan diuraikan kedalam pembahasan.

Bab V : Kesimpulan dan Saran

Bab ini membahas mengenai kesimpulan peneliti mengenai hasil penelitian

dilengkapi dengan saran-saran bagi pihak lain berdasarkan hasil penelitian

(24)

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Adaptive Selling

1. Pengertian Adaptive Selling

Weitz, Sujan dan Sujan (1986) mendefinisikan adaptive selling sebagai:

“The altering of sales behaviour during a customer interaction or accross customer interactions based on perceived information about the nature of selling situation”

Adaptive selling merupakan penyesuaian perilaku menjual selama berinteraksi dengan pelanggan berdasarkan informasi yang didapat mengenai situasi penjualan (Weitz, Sujan dan Sujan, 1986)

Reagan, dkk (1995) menyatakan bahwa adaptive selling merupakan

pemodifikasian gaya komunikasi, format presentasi, dan isi pesan yang dilakukan

oleh penjual selama berinteraksi dengan pembeli. Adaptive selling juga merupakan

salah satu tehnik menjual dimana penjual diminta untuk menyesuaikan dengan gaya

sosial pembeli untuk dapat memaksimalkan keefektifan kerjanya.

Weitz dan Wright (1990) juga mengemukakan definisi tentang adaptive selling,

yaitu proses penjualan yang terdiri dari pengumpulan informasi tentang

harapan-harapan para pelanggan, mengembangkan strategi penjualan berdasarkan informasi

tersebut, menyalurkan sinyal yang dapat dipahami unuk melaksanakan strategi,

mengevaluasi pengaruh dari pesan-pesan, dan melakukan penyesuaian diri

berdasarkan hasil evaluasi.

Berdasarkan beberapa definisi adaptive selling diatas, maka dapat disimpulkan

(25)

menjual secara efektif saat berinteraksi dengan pembeli sesuai dengan tuntutan situasi

penjualan yang meliputi bentuk pertemuan dan karakteristik pembeli yang dihadapi

saat itu.

2. Aspek-Aspek Adaptive Selling

Weitz, Sujan dan Sujan (1986) menyatakan bahwa aspek-aspek adaptive selling

adalah sebagai berikut :

1. Rekognisi setiap pendekatan penjualan yang berbeda-beda sesuai dengan situasi

penjualan.

2. Yakin dan mampu menggunakan bermacam-macam pendekatan penjualan.

3. Yakin dan mampu mengubah cara mendekati pelanggan selama interaksi

berlangsung.

4. Penggunaan pengetahuan dari situasi penjualan yang bermacam-macam untuk

membentuk strategi penjualan yang sesuai dengan setiap situasi.

5. Pengumpulan informasi mengenai situasi penjualan

6. Penggunaan secara nyata pada pendekatan di situasi yang berbeda.

Aspek 1-3 merupakan bentuk motivasi dalam melakukan adaptive selling. Aspek

4-5 berhubungan dengan kemampuan yang dipkai dalam melakukan praktek adaptive

(26)

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Adaptive Selling

Mayer, Caruso dan Salovey (1999) mengemukakan beberapa faktor yang

mempengaruhi adaptive selling, yakni :

1. Aktifitas manajerial.

Aktifitas manajerial terdiri dari motivasi intrinsik (intrinsic motivation),

pengalaman (experience), dan gaya manajemen (management styles).

2. Personality traits.

Personality traits terdiri dari yakni self-monitoring, androgini, empati, terbuka

(openers), dan locus of control.

Terkait dengan permasalahan dalam penelitian ini, peneliti tertarik untuk meneliti

locus of control sebagai variabel bebas dalam penelitian. Rotter (dalam Schultz dan

Schultz, 1996) mendefinisikan locus of control sebagai atribut kepribadian dimana

seorang individu dibedakan berdasarkan derajat keyakinan dalam mengendalikan

peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam hidup mereka.

B. Locus of Control

1. Pengertian locus of control

Locus of Control pertama kali dikemukakan oleh Rotter sekitar tahun 1960-an.

Menurutnya, locus of control merupakan keyakinan individu mengenai sumber dari

control penguatanyang individu terima (dalam Schultz, 1994).

Locus of control menurut Rotter (dalam Lefcourt, 1982) merupakan salah satu

variabel kepribadian, yang didefinisikan sebagai keyakinan individu terhadap

(27)

tingkatan dimana seorang individu berharap bahwa reinforcement bergantung pada

perilaku mereka sendiri atau karakteristik personal mereka. Selanjutnya, Rotter

(dalam Hyatt dan Prawitt, 2001) menyatakan bahwa locus of control terbagi dalam

dua bentuk, yakni locus of control internal dan locus of control eksternal. Locus of

control internal merupakan keyakinan individu terhadap kemampuan dirinya sendiri

dalam mengontrol nasibnya. Sedangkan locus of control eksternal merupakan

keyakinan individu terhadap kemampuan orang lain dalam mengontrol nasibnya.

Schultz (1994) mengemukakan pendapat yang sesuai dengan pernyataan di atas,

yakni bahwa locus of control terbagi atas 2 bagian besar, yaitu internal dan eksternal.

Locus of control internal mengindikasikan keyakinan individu bahwa reinforcement

datang atas kontrol yang terdapat pada individu itu sendiri; kita yang mengatur

reinforcement yang kita terima. Locus of control eksternal, sebagai kebalikan dari

internal, mengindikasikan keyakinan individu bahwa reinforcement yang diterimanya

berada di bawah kuasa orang lain, nasib, atau keberuntungan semata.

Robinson dan Shaver (dalam Lina dan Rasyid, 1997) mengelompokan faktor yang

mempengaruhi pengembangan locus of control menjadi 2, yaitu episodic

antecendents dan accumulative antecendents. Episodic antecendents mengacu pada

kejadian-kejadian penting yang mempengaruhi perkembangan locus of control

seseorang seperti kecelakaan atau kematian orang-orang yang berarti. Accumulative

antecendents mengacu pada faktor-faktor seperti diskriminasi sosial, perasan tidak

berdaya, dan pola asuh.

Selanjutnya, Larsen dan Buss (2002) locus of control merupakan suatu konsep

(28)

peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam hidupnya. Locus of control menggambarkan seberapa

jauh seseorang memandang hubungan antara perbuatan yang dilakukannya (action)

dengan akibat/hasilnya (outcome) yang akan diraihnya.

Menurut Lina dan Rasyid (1997), locus of control tidak bersifat tipologik

melainkan kontinyu dimana internalitas yang tinggi akan diikuti dengan eksternalitas

yang rendah, dan sebaliknya, internalitas yang rendah akan diikuti eksternalitas yang

tinggi.

Berdasarkan beberapa pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa locus of

control adalah keyakinan seseorang akan penyebab peristiwa-peristiwa yang terjadi

dalam hidupnya, apakah berhubungan dengan perbuatan yang dilakukannya sendiri

atau tidak berhubungan dengan perbuatan yang tidak dilakukannya sendiri.

2. Aspek locus of control

Rotter (dalam Schultz dan Schultz, 1996), menyatakan bahwa locus of control

internal terdiri dari 2 aspek yaitu kemampuan, dan usaha. Sedangkan locus of control

eksternal terdiri dari 3 aspek yaitu nasib, keberuntungan dan pengaruh orang lain.

3. Jenis orientasi locus of control

Rotter (dalam Schultz dan Schultz, 1994) membagi orientasi locus of control

menjadi dua, yakni locus of control internal dan locus of control eksternal. Individu

dengan locus of control internal cenderung mengangap bahwa ketrampilan (skill),

kemampuan (ability), dan usaha (effort) lebih menentukan apa yang mereka peroleh

(29)

cenderung menganggap bahwa hidup mereka terutama ditentukan oleh kekuatan dari

luar diri mereka, seperti nasib, takdir, keberuntungan, dan orang lain yang berkuasa.

Sedangkan mereka yang memiliki kecenderungan orientasi kontrol eksternal adalah

mereka yang secara umum menganggap bahwa reinforcement positif atau negatif

yang di terima berada di luar wilayah kontrolnya. Perbedaan dalam kecenderungan

locus of control internal dan eksternal berhubungan dengan bentuk kontrol terhadap

lingkungan. Individu yang berorientasi internal lebih aktif dan selalu berusaha

menguasai kehidupan yang dijalaninya dibandingkan dengan individu yang

berorientasi eksternal.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa orang yang memiliki kontrol internal

lebih dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan dan perubahan yang terjadi dalam

lingkungan tersebut. Mereka berusaha untuk dapat mengatasi masalah yang mereka

hadapi dengan mencari berbagai alternatif pemecahan. Sebaliknya orang-orang

dengan kontrol eksternal dianggap kurang memiliki usaha untuk mencari informasi,

untuk mencari alternatif pemecahan masalah yang mereka hadapi.

Perbedaan karateristik antara locus of control internal dengan locus of control

eksternal menurut Crider (1983) sebagai berikut :

a). Locus of control internal

a. Suka bekerja keras.

b. Memiliki inisiatif yang tinggi.

c. Selalu berusaha untuk menemukan pemecahan masalah.

d. Selalu mencoba untuk berpikir seefektif mungkin.

(30)

b). Locus of control eksternal

a. Kurang memiliki inisiatif.

b. Mempunyai harapan bahwa ada sedikit korelasi antara usaha dan kesuksesan.

c. Kurang suka berusaha, karena mereka percaya bahwa faktor luarlah yang

mengontrol.

d. Kurang mencari informasi untuk memecahkan masalah.

Pada orang-orang yang memiliki locus of control internal,faktor kemampuan dan

usaha terlihat dominan. Oleh karena itu apabila individu dengan locus of control

internal mengalami kagagalan mereka akan menyalahkan dirinya sendiri karena

kurangnya usaha yang dilakukan. Begitu pula dengan keberhasilan, mereka akan

merasa bangga atas hasil usahanya. Hal ini akan membawa pengaruh untuk tindakan

selanjutnya di masa yang akan datang bahwa mereka akan mencapai keberhasilan

apabila berusaha keras dengan segala kemampuannya Sebaliknya pada orang yang

memiliki locus of control eksternal melihat keberhasilan dan kegagalan dari faktor

kesukaran dan nasib, oleh karena itu apabila mengalami kegagalan mereka cenderung

menyalahkan lingkungan sekitar yang menjadi penyebabnya. Hal itu tentunya

berpengaruh terhadap tindakan di masa yang akan datang, karena merasa tidak

mampu dan kurang usahanya maka mereka tidak mempunyai harapan untuk

memperbaiki kegagalan tersebut (Lefcourt, 1982).

Menurut Rotter (dalam Lefcourt, 1982), locus of control merupakan dimensi

kepribadian yang berupa kontinum dari eksternal menuju internal. Kedua tipe locus of

control terdapat pada setiap individu, hanya saja ada kecenderungan untuk lebih

(31)

ataupun locus of control eksternal. Disamping itu, locus of control tidak bersifat statis

tapi juga dapat berubah. Individu yang berorientasi locus of control internal dapat

berubah menjadi individu yang memiliki locus of control eksternal dan begitu pula

sebaliknya. Hal tersebut disebabkan karena situasi dan kondisi yang menyertainya

yaitu dimana ia tinggal dan frekuensi aktifitas yang sering dilakukannya. Oleh

karenanya tidak satupun individu yang benar-benar internal atau yang benar-benar

eksternal.

C. Distibutor Multilevel Marketing

Distributor adalah pedagang yang membeli atau mendapatkan produk barang

dagangan dari tangan pertama atau produsen secara langsung (Godam, 2008).

Di dalam ketentuan Pasal 1 angka 4 Undang-undang Nomor 16 tahun 2000 (UU

KUP), distributor multilevel marketing dikategorikan sebagai pengusaha karena

sebagai orang pribadi dianggap melakukan usaha perdagangan. Distributor berfungsi

sebagai agen yang melakukan penjualan atas nama perusahaan multilevel marketing

dan tidak memperoleh penghasilan berkala seperti gaji atau upah (Kevin, 2008).

Distributor mendapat imbalan berkaitan dengan omzet penjualan baik pribadi maupun

kelompok dan bonus diberikan saat seorang distributor mencapai target-target

tertentu. Sementara distributor mendapat keuntungan langsung diperoleh dari selisih

harga distributor dengan harga konsumen. Komisi didapatkan seorang distributor

berkaitan dengan prestasi. Prestasi di sini hubungannya adalah dengan omzet

penjualan yang dicapainya. Mengenai jenis komisi ini masing-masing perusahaan

(32)

batasan mengenai penghasilan distributor berupa komisi dan bonus yg berbeda.

Masing-masing memiliki kebijakan sendiri dalam memberikan imbalan kepada

distributornya.

Kevin (2008) menambahkan bahwa distributor multilevel marketing diperlakukan

sebagai tenaga lepas, yaitu orang pribadi yang bekerja pada pemberi kerja yang hanya

menerima imbalan apabila orang pribadi yang bersangkutan bekerja sehingga tidak

wajib melakukan pembukuan, yang perlu dilakukan hanya pencatatan.

D. Perbedaan Adaptive Selling Ditinjau dari Locus of Control pada Distributor Multilevel Marketing

Adaptive selling merupakan penjualan yang mengadaptasikan pada kebutuhan dan

harapan si pelanggan selama penjual dan pelanggan saling berinteraksi (Weitz, Sujan

dan Sujan, 1986). Reagan (1995) menambahkan bahwa adaptive selling merupakan

pemodifikasian gaya komunikasi, format presentasi, dan isi pesan yang dilakukan

oleh penjual selama berinteraksi dengan pembeli. Menurut Weitz, Sujan dan Sujan

(1986), faktor-faktor yang berhubungan dengan adaptive selling adalah aktifitas

manajerial dan personality traits.

Weitz, Sujan dan Sujan (1986) mendefinisikan adaptive selling sebagai

kemampuan individu untuk beradaptasi dengan situasi penjualan berdasarkan

informasi yang diterima mengenai harapan pelanggan dan adanya keyakinan akan

kemampuan diri sendiri untuk melakukan perubahan-perubahan dalam presentasi.

Weitz dan Wright juga mengemukakan definisi tentang adaptive selling, yaitu

(33)

para pelanggan, mengembangkan strategi penjualan berdasarkan informasi tersebut,

menyalurkan sinyal yang dapat dipahami unuk melaksanakan strategi, mengevaluasi

pengaruh dari pesan-pesan, dan melakukan penyesuaian diri berdasarkan hasil

evaluasi.

Peningkatan kualitas kepribadian sangat dibutuhkan agar manusia dapat

menghadapi tantangan serta mampu memainkan perannya (Masrun, dkk, 1986).

Mayer, Caluso, dan Salovey (1999) mengemukakan bahwa locus of control

merupakan bagian dari personality trait yg merefleksikan fleksibilitas aspek

interpersonal yang berhubungan dengan praktek adaptive selling.

Mayer, Caruso, dan Salovey (1999) mengemukakan bahwa peningkatan

kemampuan adaptive selling salah satunya dipengaruhi oleh ciri-ciri kepribadian

(personality traits). Peningkatan kualitas kepribadian sangat dibutuhkan agar manusia

dapat menghadapi tantangan serta mampu memainkan perannya Masrun, dkk (1986).

Rotter (dalam Schultz & Schultz, 1996) mendefinisikan locus of control sebagai

atribut kepribadian dimana seorang individu dibedakan berdasarkan derajat

keyakinan dalam mengendalikan peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam hidup

mereka. Tambahan menurut Rotter (dalam Lefcourt, 1982) orientasi locus of control

merupakan suatu kontinum unidimensional, dari eksternal menuju internal. Seseorang

dengan keyakinan yang kuat akan kendali internal dinyatakan oleh Buss (dalam

Salazar, 2002) lebih percaya diri dan asertif, dan aktif mencari informasi yang

menolong mereka untuk mencapai tujuan mereka, dan tertarik pada situasi yang

(34)

eksternal melihat suatu peristiwa bukan berasal dari perilaku mereka sendiri

melainkan dari hal-hal yang diluar kemampuan mereka.

Carver dan Scheier (1981) menyatakan bahwa jika seseorang percaya bahwa ia

mempunyai pengaruh atas apa yang terjadi padanya, ia belajar dari pengalaman masa

lalunya sebagai pedoman dan pengukur masa depannya lebih lanjut.

Crider (1983) menyebutkan bahwa terdapat perbedaan karateristik antara locus of

control internaldengan locus of control eksternal. Individu yg karakteristik individu

yang dominan pada locus of control internal sebagai berikut: suka bekerja keras,

memiliki inisiatif yang tinggi, selalu berusaha untuk menemukan pemecahan

masalah, selalu mencoba untuk berpikir seefektif mungkin, dan selalu mempunyai

persepsi bahwa usaha harus dilakukan jika ingin berhasil. Sedangkan individu yang

dominan pada locus of control eksternal memiliki karakteristik sebagai berikut:

kurang memiliki inisiatif, mempunyai harapan bahwa ada sedikit korelasi antara

usaha dan kesuksesan, kurang suka berusaha, dan kurang mencari informasi untuk

memecahkan masalah.

Penjabaran perbedaan karakteristik individu di atas memiliki kesamaan pada

distributor yang bermasalah bagi perkembangan perusahaan multilevel marketing,

seperti yang dikemukakan oleh Susanto (2008), yakni distributor terlalu

menggantungkan diri kepada upliner (orang yang merekrut) dan tidak berani untuk

memiliki impian sendiri, hanya mengikuti apa yang diimpikan oleh upliner-nya.

Pernyataan ini sesuai dengan karakteristik individu dengan dominasi locus of control

(35)

kesuksesan memiliki korelasi minim, serta rendahnya daya usaha individu karena

anggapan bahwa faktor luar yang mengontrol individu.

Susanto (2008) kembali menambahkan bahwa distributor tidak tahu alasan

mengapa terjun ke bisnis multilevel marketing, hanya sekedar tergiur pada komisi

atau insentif yang diberikan perusahaan ataupun dengan melihat orang-orang yang

sudah meraih kesuksesan melalui multilevel marketing. Hal ini juga sesuai dengan

karakteristik locus of control eksternal, yakni kurang berusaha karena faktor luar

yang mengontrol, dan kurang mencari informasi untuk memecahkan masalah.

Melalui penjabaran di atas dapat dilihat bahwa locus of control secara tidak

langsung menentukan sukses tidaknya adaptive selling yang dilakukan oleh seorang

distributor dan juga dapat diketahui apa yang menentukan sukses tidaknya seorang

individu dalam menjalankan perannya sebagai seorang distributor multilevel

marketing. Hal ini menarik peneliti untuk melihat ada tidaknya perbedaan adaptive

selling distributor multilevel marketing ditinjau dari locus of control.

E. Hipotesa

Berdasarkan uraian di atas, maka hipotesa yang diajukan sebagai jawaban

sementara dalam penelitian ini adalah:

”Ada perbedaan adaptive selling ditinjau dari locus of control pada distributor

(36)

BAB III

METODE PENELITIAN

Metode penelitian sangat menentukan karena menyangkut cara yang benar dalam

pengumpulan data, analisa data, dan pengambilan kesimpulan hasil penelitian,

defenisi operasional, subjek penelitian, prosedur penelitian, dan metode penelitian

(Hadi, 2000).

Adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian ini akan diuraikan pada

bab ini yaitu identifikai variabel penelitian, definisi operasional variabel penelitian,

subjek penelitian, metode pengambilan data dan metode analisis data.

A. Identifikasi Variabel Penelitian 1. Variabel tergantung

Variabel tergantung dalam penelitian ini adalah adaptive selling.

2. Variabel bebas

Variabel bebas dalam penelitian ini adalah locus of control internal dan locus of

(37)

B. Defenisi Operasional 1. Adaptive Selling

Adaptive selling merupakan kemampuan mengadaptasikan atau mengubah

perilaku secara efektif saat berinteraksi dengan pembeli sesuai dengan tuntutan situasi

penjualan yang meliputi bentuk pertemuan dan karakteristik pembeli yang dihadapi

saat itu.

Skala adaptive selling dibuat berdasarkan aspek-aspek adaptive selling yang

dikemukakan oleh Weitz, Sujan dan Sujan (1986), yaitu rekognisi setiap pendekatan

penjualan berbeda-beda sesuai dengan situasi penjuaklan saat itu, keyakinan pada

kemampuan menggunakan pada berbagai pendekatan penjualan yang berbeda,

keyakinan pada kemampuan untuk mengubah pendekatan penjualan selama

berinteraksi dengan pelanggan, struktur pengetahuan memfasilitasi rekognisi dari

situasi penjualan yang berbeda dapat mengarahkannya pada strategi penjualan yang

sesuai dengan setiap situasi, mengumpulkan informasi mengenai situasi penjualan,

dan penggunaan nyata pada pendekatan yang berbeda di situasi yang berbeda.

Skor adaptive selling menunjukkan kemampuan mengadaptasikan atau mengubah

perilaku secara efektif saat berinteraksi dengan pembeli sesuai dengan situasi saat itu.

Skor adaptive selling yang tinggi mengidentifikasikan sesorang memiliki kemampuan

(38)

2. Locus of control internal dan eksternal

Locus of control internal yaitu keyakinan seseorang terhadap perilaku, kegiatan

dan peristiwa yang terjadi di dalam kehidupan dikendalikan oleh sejumlah faktor

yang ada dalam dirinya yaitu kemampuan dan usaha. Sedangkan locus of control

eksternal yaitu keyakinan seseorang terhadap perilaku, kegiatan dan peristiwa yang

terjadi di dalam kehidupan dikendalikan oleh sejumlah hal yang berada di luar dirinya

yaitu nasib, keberuntungan atau pengaruh orang lain.

Locus of control diukur dengan menggunakan skala yang disusun oleh peneliti

berdasarkan teori yang dikemukakan oleh Rotter (dalam Schultz dan Schultz, 1996),

yang menyatakan bahwa locus of control dibedakan atas dua, yaitu locus of control

internal dan locus of control eksternal. Locus of control internal terdiri dari 2 aspek

yaitu kemampuan, dan usaha. Sedangkan locus of control eksternal terdiri dari 3

aspek yaitu nasib, keberuntungan dan pengaruh orang lain. Skor yang tinggi pada

skala locus of control menunjukkan subjek cenderung memiliki orientasi locus of

control internal, sedangkan skor yang rendah pada skala locus of control

menunjukkan subjek cenderung memiliki locus of control eksternal.

C. Populasi dan Metode Pengambilan Sampel 1. Populasi

Populasi merupakan kumpulan atau keseluruhan subyek penelitian (Azwar, 1999).

Menurut Hadi (2000), populasi adalah sejumlah penduduk atau individu yang paling

sedikit mempunyai sifat yang sama. Populasi dalam penelitian ini adalah semua

(39)

2. Sampel dan metode pengambilan sampel

Tidak semua hal yang ingin dijelaskan atau diramalkan atau dikendalikan dapat

diteliti. Penelitian ilmiah boleh dikatakan hampir selalu hanya dilakukan terhadap

sebagian saja dari hal-hal yang sebenarnya mau diteliti. Jadi penelitian hanya

dilakukan terhadap sampel, tidak terhadap populasi (Suryabrata, 2006). Selanjutnya

dikatakan oleh Sugiarto, Siagian, Sunaryanto, & Oetomo (2003), sampel adalah

sebagian anggota dari populasi yang dipilih dengan menggunakan prosedur tertentu

sehingga diharapkan dapat mewakili populasinya.

Pengambilan sampel penelitian dilakukan dengan menggunakan teknik purposive

sampling. Selanjutnya menurut Crocker dan Algina (dalam Azwar, 2000), jumlah

sampel sebanyak dua ratus subjek sudah cukup memadai, dengan kriteria sampel

sebagai berikut :

1. Pria dan wanita.

2. Terdaftar sebagai anggota PT. Singa Langit Utama (Tiens Group) di Medan.

3. Masa keanggotaan minimal dua tahun.

Peneliti menganggap masa keanggotaan dua tahun atau lebih dapat menunjukkan

intensitas aktifitas subjek dalam menjalankan bisnis multilevel marketing.

D. Alat Ukur Penelitian

Alat ukur yang digunakan hendaknya disesuaikan dengan tujuan penelitian dan

bentuk data yang akan diambil dan diukur (Hadi, 2000). Data penelitian ini

selanjutnya diperoleh dengan menggunakan metode skala untuk mengukur

(40)

Skala adalah suatu prosedur pengambilan data yang merupakan suatu alat ukur

aspek afektif yang merupakan konstruk atau aspek psikologis yang menggambarkan

aspek kepribadian individu (Azwar, 1999).

Hadi (2000) menyatakan bahwa skala dapat digunakan dalam penelitian

berdasarkan asumsi sebagai berikut:

1. Subyek adalah orang yang paling tahu tentang dirinya.

2. Bahwa apa yang dinyatakan oleh subyek kepada penyelidik adalah benar dan

dapat dipercaya.

3. Interpretasi subyek tentang pernyataan-pernyataan yang diajukan kepadanya

adalah sama dengan apa yang dimaksud oleh penyelidik.

Dalam penelitian ini, menggunakan skala adaptive selling dan skala locus of

control.

1. Skala adaptive selling

Alat ukur yang digunakan dalam adaptive selling adalah skala adaptive selling

yang dirancang dengan menggunakan aspek-aspek adaptive selling yang

dikemukakan oleh Weitz, Sujan Sujan (1986), yaitu :

1. Rekognisi setiap pendekatan penjualan yang berbeda-beda sesuai dengan situasi

penjualan.

2. Yakin dan mampu dalam menggunakan bermacam-macam pendekatan penjualan.

3. Yakin dan mampu mengubah cara mendekati pelanggan selama berinteraksi

berlangsung.

4. Penggunaan pengetahuan dari situasi penjualan yang bermacam-macam untuk

(41)

5. Pengumpulan informasi mengenai situasi penjualan

6. Penggunaan secara nyata pada pendekatan di situasi yang berbeda.

Model skala adaptive selling dibuat berdasarkan model skala Likert. Setiap aitem

terdiri dari pernyataan dengan empat pilihan jawaban, yaitu sangat sesuai (SS), sesuai

(S), tidak sesuai (TS), dan sangat tidak sesuai (STS). Skala yang disajikan dalam

bentuk pernyataan yang mendukung (favorable) dan tidak mendukung (unfavorable).

Nilai setiap pilihan bergerak dari 4 sampai 1. Bobot penilaian untuk pernyataan

favorable yaitu: SS=4, S=3, TS=2, STS=1. Sedangkan bobot penilaian untuk

pernyataan unfavorable bergerak dari 1 sampai 4, yaitu: SS=1, S=2, TS=3, STS=4.

Jumlah item total untuk skala adaptive selling adalah 50 item yang terdiri dari 25

item yang favorable dan 25 item yang unfavorable. Item-item yang terdapat pada

skala yang disusun berdasarkan aspek-aspek adaptive selling.

Adapun blue-print yang digunakan dalam penyusunan skala yang mengukur skala

(42)

Tabel 1

Blueprint Skala Adaptive Selling Saat Uji Coba

No Aspek Adaptive Selling Aitem Jumlah

Favorable Unfavorable

1 Rekognisi setiap pendekatan penjualan yang berbeda-beda

Yakin dan mampu mengubah cara mendekati pelanggan selama yang sesuai dengan setiap situasi

5,12,24,49. 11,18,30,33 8

5 Pengumpulan informasi mengenai situasi penjualan 10,22,34,46 4,16,28,40. 8

6 Penggunaan nyata pada pendekatan di situasi yang berbeda 2,20,32,36 14,26,44,42,50 9

Total 50

Skor pada masing-masing dimensi skala saling bebas satu sama lain. Skor pada

masing-masing dimensi tidak berhubungan dengan skor pada dimensi lainnya dan

hanya menggambarkan bagaimana skor pada dimensi tersebut. Semakin tinggi skor

yang dicapai seseorang dalam tiap dimensi berarti semakin tinggi pula adaptive

selling dalam dimensi tersebut. Skor yang tinggi menggambarkan individu yang

memiliki kemampuan adaptive selling yang baik dan sebaliknya skor yang rendah

menggambarkan individu yang memiliki kemampuan adaptive selling yang kurang

(43)

2. Skala Locus of Control

Skala locus of control yang disusun oleh peneliti adalah hasil adaptasi skala

locus of control yang dikemukakan oleh Rotter (dalam Schultz dan Schultz, 1996),

yang menyatakan bahwa locus of control dibedakan atas dua, yaitu locus of control

internal dan locus of control eksternal. Locus of control internal terdiri dari 2 aspek

yaitu kemampuan dan usaha. Sedangkan locus of control eksternal terdiri dari 3 aspek

yaitu nasib, keberuntungan dan pengaruh orang lain. Skala berisi aitem-aitem yang

mengacu pada locus of control internal dan eksternal yang kemudian mendapatkan

penambahan-penambahan item dari peneliti untuk menghindari bila terdapat aitem

yang masih gugur dalam uji coba alat ukur

Setiap bentuk diuraikan kedalam butir pernyataan yang mengungkap locus of

control distributor multilevel marketing. Untuk mengukur locus of control pada

distributor, maka pada penelitian ini digunakan skala subyektif. Skala ini terdiri 50

aitem. Pada tiap aitem terdapat dua pilihan pernyataan yaitu A dan B. Skala disajikan

dalam bentuk pernyataan yang mengungkap locus of control eksternal dan internal.

Nilai setiap pilihan bergerak dari 1 sampai 2, bobot penilaian untuk pernyataan locus

of control eksternal adalah 1, dan bobot penilaian untuk pernyataan locus of control

internal adalah 2.

Item-item yang terdapat pada skala ini mengungkap aspek-aspek locus of control

yaitu kemampuan, usaha, nasib, keburuntungan, dan pengaruh orang lain.

Adapun blue-print yang digunakan dalam penyusunan skala yang mengukur skala

(44)

Tabel 2.

Blue Print Skala Locus of Control Saat Uji Coba

No Aspek Locus of Control Aitem Jumlah

Eksternal Internal

1 Kemampuan 1,13,25,37,49 7,19,31,43,48 10

2 Usaha 8,12,20,32,44 2,14,26,38,50 10

3 Nasib 3,6,15,27,39 9,18,21,33,45 10

4 Keberuntungan 10,22,34,36,46 4,16,28,30,40 10

5 Pengaruh orang lain 5,17,24,29,41 11,23,35,42,47 10

Total 50

E. Validitas dan Reliabilitas

Alat ukur penelitian tersebut sebelum digunakan untuk memperoleh data-data

penelitian, terlebih dahulu dilakukan uji coba agar diperoleh alat ukur yang memiliki

daya aitem tinggi, valid dan reliabel.

1. Daya beda aitem

Uji daya beda aitem dilakukan dalam penelitian ini adalah untuk melihat sejauh

mana aitem mampu membedakan antara individu atau kelompok individu yang

memiliki dan tidak memiliki atribut yang diukur (Azwar, 2000).

Daya beda aitem pada penelitian ini dilihat dengan menggunakan koefisien

korelasi Pearson Product Moment dengan bantuan komputerisasi dari program SPSS

version 15.0 for windows. Prosedur pengujian ini akan menghasilkan koefisien

korelasi aitem total yang dikenal dengan indeks daya beda aitem. Setiap butir aitem

dalam skala dikorelasikan dengan skor total skala. Item yang lulus seleksi adalah

(45)

2. Validitas

Validitas adalah derajat yang menyatakan suatu tes mengukur apa yang seharusnya

diukur. Validitas suatu alat ukur tidak begitu saja melekat pada tes itu sendiri, tetapi

tergantung pada penggunaannya dan subjeknya. Uji validitas yang digunakan pada

penelitian ini adalah validitas isi (content validity), yaitu berkaitan dengan apakah

aitem mewakili pengukuran dalam area isi sasaran yang diukur. Validitas isi

merupakan hal utama dalam suatu tes yang biasanya dinilai dengan menggunakan

pertimbangan pakar (Azwar, 2005). Peneliti meminta pertimbangan profesional, yang

dalam hal ini adalah dosen pembimbing peneliti dan pihak-pihak lain yang

berkompeten dalam memberikan pertimbangan, sebelum menentukan aitem-aitem

mana yang dapat dijadikan alat ukur yang sesuai dengan blue print yang ada.

3. Reliabilitas

Uji reliabilitas dimaksudkan untuk melihat sejauh mana hasil suatu pengukuran

dapat dipercaya. Hasil pengukuran dapat dipercaya hanya apabila dalam beberapa

kali pelaksanaan pengukuran terhadap sekelompok subyek yang sama diperoleh hasil

yang relatif sama, selama aspek yang diukur dalam diri subyek memang belum

berubah (Azwar, 2005).

Uji reliabilitas alat ukur ini menggunakan pendekatan konsistensi internal yaitu

single trial administration yang artinya menggunakan satu bentuk tes yang dikenakan

sekali saja pada sekelompok subjek. Pendekatan ini dipandang ekonomis, praktis, dan

(46)

Formula statistika yang digunakan untuk menguji reliabilitas alat ukur adalah

alpha Cronbach dengan bantuan komputerisasi dari program SPSS 15.0 for Windows.

Uji reliabilitas aitem dilakukan pada alat ukur dalam penelitian ini yaitu skala

adaptive selling dan skala locus of control dengan prosedur pengujian menggunakan

koefisien korelasi r ≥ 0,3.

F. Hasil Uji Coba Alat Ukur

Uji coba terhadap kedua instrumen penelitian dilaksanakan pada 3 November 2009 sampai dengan 20 November 2009. Uji coba dilakukan pada distributor

multilevel marketing “Tiens” Medan yang sesuai dengan karakteristik populasi

penelitian yaitu sebanyak 100 orang.

1. Skala Adaptive Selling

Uji coba skala adaptive selling dilakukan terhadap 100 orang subjek distributor

multilevel marketing. Untuk melihat daya beda aitem, dilakukan analisa uji coba

dengan menggunakan aplikasi komputer SPSS version 15.0 for Windows, kemudian

nilai Corrected Aitem Total Correlation yang diperoleh dibandingkan dengan

Pearson Product Moment dengan interval kepercayaan 95% yang memiliki harga

kritik diatas .275. Karena menurut Azwar (1999), kriteria pemilihan aitem

berdasarkan korelasi aitem total, biasanya digunakan batasan rix≥ .30. Namun apabila

(47)

diinginkan, peneliti dapat mempertimbangkan untuk menurunkan sedikit batasan

kriteria .30 sehingga jumlah aitem yang diinginkan dapat tercapai.

Adapun distribusi hasil uji coba skala dijelaskan pada tabel 3 :

Tabel 3. Blueprint Skala Adaptive Selling Setelah Uji Coba

No Aspek Adaptive Selling Aitem Jumlah

Favorable Unfavorable

1 Rekognisi setiap pendekatan penjualan yang berbeda-beda

1,13,25,37. 19,43. 6

2 Yakin dan mampu dalam menggunakan berbagai macam pendekatan penjualan. 6,47. 3,17,29 5

3

Yakin dan mampu mengubah cara mendekati pelanggan selama berinteraksi berlangsung.

8,15,27,39,48. 9,21,38,45. 9

4

Penggunaan pengetahuan dari situasi penjualan yang berbagai macam untuk membentuk strategi penjualan yang sesuai dengan setiap situasi

5,24,49. 11,18 5

5 Pengumpulan informasi mengenai situasi penjualan 10,22,34,46 16,28,40. 7

6 Penggunaan nyata pada pendekatan di situasi yang berbeda 2,20,32,36 14,26,42,50 8

Total 40

Berdasarkan blue-print diatas, diketahui setelah uji coba dari 50 aitem skala

adaptive selling dengan 100 subjek, terdapat 40 aitem yang memiliki koefisien

korelasi yang memenuhi syarat untuk dapat digunakan dalam penelitian (r ≥ 0,3)

dengan reliabilitas alpha (α) sebesar 0,936. Koefisien determinasi aitem-aitem yang

Gambar

Tabel 2.
Tabel 3. Blueprint Skala Adaptive Selling Setelah Uji Coba
Tabel 4. Blueprint Skala Adaptive Selling yang Digunakan Saat Penelitian
Tabel 8.
+7

Referensi

Dokumen terkait

Lain halnya pada karyawan yang berorientasi locus of control eksternal, apabila dihadapkan pada situasi konflik antara perannya di pekerjaan dan keluarga, maka ia

terdapat hubungan yang positif antara locus Implikasinya adalah individu dengan locus of of control dengan resiliensi pada remaja yang control internal lebih mampu bertahan dan

Lain halnya pada karyawan yang berorientasi locus of control eksternal, apabila dihadapkan pada situasi konflik antara perannya di pekerjaan dan keluarga, maka ia

A review of personality types and locus of control as moderators of stress and conflict management.. Talent management, work-life balance and

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan pada individu dengan locus of control internal dan eksternal dengan perilaku kerja (job stress) dari auditor yang bekerja

Individu yang memiliki kecenderungan locus of control internal, yang meyakini bahwa ia memiliki kendali atas perisitiwa dalam hidupnya melalui kemampuan ( ability )

Hasil penelitian menunjukkan bahwa individu dengan Pusat Kendali Eksternal cenderung memiliki burnout lebih tinggi dibandingkan orang-orang dengan Pusat Kendali Internal.. Kata

Seseorang dengan internal locus of control adalah individu yang yakin bahwa apa yang mereka lakukan mempengaruhi apa yang akan terjadi pada diri mereka, adapun seseorang dengan