Peningkatan Kualitas Papan Komposit Limbah Batang Sawit dengan Acrylic sebagai Water Repellent

70 

Teks penuh

(1)

PENINGKATAN KUALITAS PAPAN KOMPOSIT LIMBAH BATANG SAWIT DENGAN ACRYLIC SEBAGAI WATER REPELLENT

SKRIPSI

M. HAKIM MUSLIM

071203009/TEKNOLOGI HASIL HUTAN

PROGRAM STUDI KEHUTANAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

LEMBAR PENGESAHAN

Judul Penelitian : Peningkatan Kualitas Papan Komposit Limbah Batang Sawit dengan Acrylic sebagai Water Repellent

Nama : M. Hakim Muslim

NIM : 071203009

Program Studi : Kehutanan

Disetujui Oleh, Komisi Pembimbing

Luthfi Hakim S. Hut., M. Si. Yunus Affifudin S.Hut,, M.Si.

Ketua Anggota

Mengetahui,

(3)

ABSTRACT

M.Hakim Muslim. Quality ImprovementBoardCompositeWasteOil PalmTrunkWithAcrylicasWaterRepellent. Supervised byLuthfiHakimandYunusAffifudin.

Ever-increasingdemand for woodandforestpotential ofshrinkingdemand the useof woodin an efficientandprudent, for example byutilizingwasteoil palmtrunkswhich have not beenoptimallyutilizedahigh-quality productsforthe future.

The purpose of this study was to test the stability and strength of composite boards from waste oil palm trunks with a ratio of water-resistant coating acrylic of various brands. The hypothesis of this study is the differences between different brands of acrylic that affect the physical properties and mechanical properties of composite boards from oil palm trunk waste. There are three treatments in this study, which refers to the first treatment of the outer coating of the composite board with a water repellent Aquaproof brand, treatment of both the outer coating with MultiGuard composite board, and the third with a Waterproof coating. Testing of physical properties and mechanical properties refer to JIS A 5908-2003. The results showed that physical properties of the density has reached the target density with a value of 0.8 gr/cm3, where the density range of 0.78 - 0.82 gr/cm3, water content ranged from 8:23 to 9:11%, water absorption ranged from 8.69 - 10.86%, the development of thick for 2 hours ranged between 3.1 - 4.92% and thickness development during the 24 hours range from 11:34 to 15:53%. Meanwhile, for the results of testing the mechanical properties of obtained results of an internal bond 8:19 - 10.81 kg/cm2, a strong grasp of the screw 56.29 - 59.55 kgf, MOE 21124.08 - 31852.83 kg/cm2 and MOR reached 279.62 - 378.36 kg/cm2. Results of analysis variancetreatment factorsthat affectthe fundamental propertiesof oil palmtrunksarewater content, water absorption, thicknessdevelopmentfor 2hours andthe development ofthickfor 24hours.

(4)

M. Hakim Muslim. Peningkatan Kualitas Papan Komposit Limbah Batang Kelapa Sawit Dengan Acrylic Sebagai Water Repellent. Dibimbing oleh Luthfi Hakim dan Yunus Affifudin.

Kebutuhan kayu yang terus meningkat dan potensi hutan yang terus berkurang menuntut penggunaan kayu secara efisien dan bijaksana, antara lain dengan memanfaatkan limbah batang kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) yang selama ini belum termanfaatkan secara optimal menjadi produk yang bermutu tinggi untuk masa mendatang.

Tujuan dari penelitian ini adalah menguji kestabilan dan kekuatan papan komposit dari limbah batang kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.)dengan perbandingan pelapis anti air (acrylic) dari berbagai merek. Hipotesis penelitian ini adalah perbedaan merek dari acrylic yang mempengaruhi sifat fisis dan sifat mekanis papan komposit dari limbah batang kelapa sawit. Ada tiga perlakuan dalam penelitian ini, dimana perlakuan pertama mengacu pada pelapisan bagian luar papan komposit dengan water repellent merek aquaproof, perlakuan kedua yaitu pelapisan bagian luar papan komposit dengan multiguard, dan yang ketiga pelapisan dengan waterproof. Pengujian sifat fisis dan sifat mekanis mengacu pada JIS A 5908-2003. Hasil penelitian sifat fisis menunjukkan bahwa kerapatan telah mencapai kerapatan target dengan nilai 0.8 gr/cm3, dimana kerapatan berkisar dari 0.78 – 0.82 gr/cm3, kadar air berkisar antara 8.23 – 9.11 %, daya serap air berkisar antara 8.69 – 10.86 %, pengembangan tebal selama 2 jam berkisar antara 3.1 – 4.92 % dan pengembangan tebal selama 24 jam berkisar dari 11.34 – 15.53 %. Sementara itu untuk hasil pengujian sifat mekanis didapat hasil internal bond 8.19 – 10.81 kg/cm2, kuat pegang sekrup 56.29 – 59.55 kgf, MOE 21124.08 – 31852.83 kg/cm2 dan MOR mencapai 279.62 – 378.36 kg/cm2. Hasil analisis sidik ragam faktor perlakuan yang mempengaruhi sifat-sifat dasar batang kelapa sawit adalah kadar air, daya serap air, pengembangan tebal selama 2 jam dan pengembangan tebal selama 24 jam.

Kata kunci : kayu kelapa sawit, papan komposit, isocyanate, acrylic,dan water repellent.

(5)

Penulis dilahirkan di Medan, Sumatera Utara pada tanggal 10 Agustus

1988 dari ayahanda Drs. Awar dan ibunda Roslaini. Penulis merupakan anak ke-2

dari 4 bersaudara.

Penulis memulai pendidikan di SD Negeri 105328 Tanjung Morawa dan

lulus pada tahun 2000. Kemudian penulis melanjutkan sekolah di MTs Nurul

Amaliyah Tanjung Morawa hingga tahun 2003. Penulis menyelesaikan

pendidikan di SMK Mesin Otomotif Nurul Amaliyah Tanjung Morawa pada

tahun 2006. Pada tahun 2007, penulis diterima di Program Studi Kehutanan

(Teknologi Hasil Hutan), Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara melalui

jalur Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB).

Selama perkuliahan penulis tergabung dalam organisasi Himpunan

Mahasiswa Sylva USU. Pada tahun 2009, penulis mengikuti kegiatan Praktik

Pengenalan dan Pengelolaan Hutan (P3H) di Aras Napal dan Pulau Sembilan,

Kabupaten Langkat. Penulis melaksanakan Praktik Kerja Lapangan (PKL) di

PERUM Perhutani Unit III, KPH Cianjur, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa

Barat pada bulan Januari – Februari 2011.

(6)

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah

memberikanrahmat dan karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan

penelitian yang berjudul ” Peningkatan Kualitas Papan Komposit Limbah Batang

Sawit dengan Acrylic sebagai Water Repellent”.

PenelitianinimerupakansalahsatusyaratuntukmenjadiSarjanaKehutanan.

Penulis menyampaikan terima kasih kepada kedua orang tua, abang, dan

kedua adik penulis yang selalumendoakan, memberidukungan,

kasihsayangdanmaterisertamenginspirasipenulisuntuktetapsemangatdalammenjala

nkan penelitianini. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada komisi

pembimbing skripsiyaituLuthfi Hakim S.Hut., M.Si.sebagaiketuadanBapak Yunus

Afiffudin S.Hut., M.Si. sebagaianggota yang telah membimbing dan memberikan

berbagai masukan serta saran dalampenelitianini.

Penulis menyadari terdapat beberapa kekurangan dalam penulisan, oleh

karena itu penulis memohon maaf atas kekurangan tersebut. Penulis juga

mengucapkan banyak terima kasih kepada teman-teman yang selalumembantu,

menemani danmemberidorongandalammengerjakanpenelitianini. Akhir kata

penulis menyampaikan terima kasih.

Medan, Desember 2012

Penulis

(7)

Halaman

Kerapatan Ikatan Pembuluh ... 11

(8)

Alat dan Bahan Penelitian ... 17

Prosedur Penelitian ... 18

Persiapan Bahan Baku ... 18

Perlakuan Pendahuluan Partikel ... 19

Pembuatan Adonan (Pencampuran) ... 19

Pengempaan ... 19

Pengkondisian ... 20

Pelapisan Acrylic ... 20

Pengujian Sifat Fisis ... 20

Kerapatan ... 20

Kadar air ... 21

Daya serap air ... 21

Pengembangan tebal ... 22

Pengujian Sifat Mekanis ... 22

Keteguhan rekat (internal bond) ... 23

Kuat pegang sekrup (screw holding power) ... 24

Keteguhan lentur (modulus of elasticity) ... 24

Keteguhan patah (modulus of rupture) ... 25

Pengujian Kestabilan dan Kekuatan ... 27

HASIL DAN PEMBAHASAN Pengujian Sifat Fisis ... 29

Kerapatan ... 29

Kadar air ... 31

Daya serap air ... 34

Pegembangan tebal ... 36

(9)

Halaman

1. Pengujian internal bond ... 23

2. Pengujian kuat pegang sekrup ... 24

3. Pola pemotongan contoh uji ... 26

4. Skema pelaksanaan proses penelitian ... 28

5. Grafik perbandingan pengujian kerapatan ketiga jenis perlakuan water repellent ... 30

6. Grafik perbandingan pengujian kadar air ketiga jenis perlakuan water repellent ... 32

7. Grafik perbandingan pengujian daya serap air ketiga jenis perlakuan water repellent ... 34

8. Grafik perbandingan pengujian pengembangan tebal 2 jam ketiga jenis perlakuan water repellent ... 37

9. Grafik perbandingan pengujian pengembangan tebal 24 jam ketiga jenis perlakuan water repellent ... 38

10. Grafik perbandingan pengujian keteguhan rekat (internal bond) pada ketiga jenis perlakuan water repellent ... 40

11. Grafik perbandingan pengujian kuat pegang sekrup pada ketiga jenis perlakuan water repellent ... 42

12. Grafik perbandingan pengujian modulus of elasticity (MOE) pada ketiga jenis perlakuan water repellent ... 45

13. Grafik perbandingan pengujian modulus of rupture (MOR) pada ketiga jenis perlakuan water repellent ... 48

(10)

Halaman

1. Sifat-sifat dasar batang sawit ... 8

2. Sifat fisis vascular bundles ... 10

3. Hasil analisa kimia pada berbagai posisi kedalaman batang ... 13

4. Keterangan pola pemotongan contoh uji ... 26

5. Acuan standard JIS A 5908-2003 ... 27

6. Data pengujian sifat fisis papan komposit ... 29

7. Syarat kerapatan papan partikel ... 31

8. Syarat kadar air papan partikel ... 32

9. Syarat pengembangan tebal papan partikel ... 36

10. Data pengujian sifat mekanis papan komposit ... 40

11. Syarat minimum keteguhan cabut sekrup (KPS) papan partikel ... 44

12. Syarat minimum modulus elastisitas papan partikel ... 46

(11)

ABSTRACT

M.Hakim Muslim. Quality ImprovementBoardCompositeWasteOil PalmTrunkWithAcrylicasWaterRepellent. Supervised byLuthfiHakimandYunusAffifudin.

Ever-increasingdemand for woodandforestpotential ofshrinkingdemand the useof woodin an efficientandprudent, for example byutilizingwasteoil palmtrunkswhich have not beenoptimallyutilizedahigh-quality productsforthe future.

The purpose of this study was to test the stability and strength of composite boards from waste oil palm trunks with a ratio of water-resistant coating acrylic of various brands. The hypothesis of this study is the differences between different brands of acrylic that affect the physical properties and mechanical properties of composite boards from oil palm trunk waste. There are three treatments in this study, which refers to the first treatment of the outer coating of the composite board with a water repellent Aquaproof brand, treatment of both the outer coating with MultiGuard composite board, and the third with a Waterproof coating. Testing of physical properties and mechanical properties refer to JIS A 5908-2003. The results showed that physical properties of the density has reached the target density with a value of 0.8 gr/cm3, where the density range of 0.78 - 0.82 gr/cm3, water content ranged from 8:23 to 9:11%, water absorption ranged from 8.69 - 10.86%, the development of thick for 2 hours ranged between 3.1 - 4.92% and thickness development during the 24 hours range from 11:34 to 15:53%. Meanwhile, for the results of testing the mechanical properties of obtained results of an internal bond 8:19 - 10.81 kg/cm2, a strong grasp of the screw 56.29 - 59.55 kgf, MOE 21124.08 - 31852.83 kg/cm2 and MOR reached 279.62 - 378.36 kg/cm2. Results of analysis variancetreatment factorsthat affectthe fundamental propertiesof oil palmtrunksarewater content, water absorption, thicknessdevelopmentfor 2hours andthe development ofthickfor 24hours.

(12)

M. Hakim Muslim. Peningkatan Kualitas Papan Komposit Limbah Batang Kelapa Sawit Dengan Acrylic Sebagai Water Repellent. Dibimbing oleh Luthfi Hakim dan Yunus Affifudin.

Kebutuhan kayu yang terus meningkat dan potensi hutan yang terus berkurang menuntut penggunaan kayu secara efisien dan bijaksana, antara lain dengan memanfaatkan limbah batang kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) yang selama ini belum termanfaatkan secara optimal menjadi produk yang bermutu tinggi untuk masa mendatang.

Tujuan dari penelitian ini adalah menguji kestabilan dan kekuatan papan komposit dari limbah batang kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.)dengan perbandingan pelapis anti air (acrylic) dari berbagai merek. Hipotesis penelitian ini adalah perbedaan merek dari acrylic yang mempengaruhi sifat fisis dan sifat mekanis papan komposit dari limbah batang kelapa sawit. Ada tiga perlakuan dalam penelitian ini, dimana perlakuan pertama mengacu pada pelapisan bagian luar papan komposit dengan water repellent merek aquaproof, perlakuan kedua yaitu pelapisan bagian luar papan komposit dengan multiguard, dan yang ketiga pelapisan dengan waterproof. Pengujian sifat fisis dan sifat mekanis mengacu pada JIS A 5908-2003. Hasil penelitian sifat fisis menunjukkan bahwa kerapatan telah mencapai kerapatan target dengan nilai 0.8 gr/cm3, dimana kerapatan berkisar dari 0.78 – 0.82 gr/cm3, kadar air berkisar antara 8.23 – 9.11 %, daya serap air berkisar antara 8.69 – 10.86 %, pengembangan tebal selama 2 jam berkisar antara 3.1 – 4.92 % dan pengembangan tebal selama 24 jam berkisar dari 11.34 – 15.53 %. Sementara itu untuk hasil pengujian sifat mekanis didapat hasil internal bond 8.19 – 10.81 kg/cm2, kuat pegang sekrup 56.29 – 59.55 kgf, MOE 21124.08 – 31852.83 kg/cm2 dan MOR mencapai 279.62 – 378.36 kg/cm2. Hasil analisis sidik ragam faktor perlakuan yang mempengaruhi sifat-sifat dasar batang kelapa sawit adalah kadar air, daya serap air, pengembangan tebal selama 2 jam dan pengembangan tebal selama 24 jam.

Kata kunci : kayu kelapa sawit, papan komposit, isocyanate, acrylic,dan water repellent.

(13)

Latar belakang

Meningkatkan suatu kualitas papan komposit merupakan upaya terbaik

untuk hasil yang lebih baik, dimana peningkatan tersebut harus dilakukan agar

terdapat nilai tambah bagi papan komposit tersebut yang nantinya akan

menjadikan papan komposit yang bernilai jual tinggi. Untuk meningkatkan nilai

papan komposit tersebut biasanya dapat dilakukan dengan menambah perlakuan

terhadap papan komposit tersebut baik dari segi external (bagian luar) papan

komposit tersebut maupun dari segi internal (bagian dalam) papan komposit

tersebut. Hal tersebut dapat dilakukan dengan menambahkan bahan pengisi

(plastik, semen, dll) maupun bahan bahan pengisi lainnya.

Pemanfaatan limbah batang kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) menjadi

produk yang bermutu tinggi dan dapat diunggulkan untuk masa yang akan datang

haruslah menjadi perhatian kita. Dimana, limbah batang kelapa sawit sangatlah

bermanfaat untuk dijadikan bahan baku papan komposit yang selama ini hanya di

pandang sebelah mata oleh para lapisan masyarakat dimuka bumi ini. Limbah

tersebut adalah hasil peremajaan dari tanaman yang tidak produktif lagi. biasanya

peremajaan dilakukan pada tanaman berusia 25 tahun (Erwinsyah, 2008). Batang

kelapa sawit tersebut dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif penghasil kayu

tambahan (supplement) yang memiliki peluang yang cukup besar mengingat

ketersediaannya yang sangat melimpah sepanjang tahun (Balfas, 2003).

Potensi perkebunan kelapa sawit di Indonesia dari tahun ke tahun

mengalami peningkatan. Menurut Departemen Pertanian (2011) luas perkebunan

kelapa sawit di Indonesia mengalami pertumbuhan sebesar 11,8% dengan luas

(14)

pemerintah yang telah disetujui dengan perusahaan perkebunan, mulai tahun 2010

diadakan peremajaan kebun kelapa sawit paling sedikit 100.000 ha per tahun. Jika

diasumsikan dalam 1 ha terdapat 128 batang, dimana pada umur 25 tahun volume

per batang mencapai 1,638 m3, maka akan dihasilkan limbah batang kelapa sawit

sebanyak 12,8 juta pohon per tahun atau lebih dari 20 juta m3 kayu tersedia per

tahun (Erwinsyah, 2008).

Mengetahui besarnya jumlah limbah batang kelapa sawit yang ada di

seluruh perkebunan kelapa sawit di negara kita ini, maka diharapkan menjadi

suatu pemikiran baru untuk pembuatan papan komposit dari limbah batang kelapa

sawit berbahan dasar vascular bundles batang kelapa sawit dan perekat

isocyanate.

Awalnya pengaplikasian water repellent berbahan dasar acrylic digunakan

untuk pelapis anti bocor atap maupun genting pada bangunan. Tetapiacrylicdisini

yang berupa

rata-rata molekul berat ~ 100.000, sekitar 1.900 unit monomer diaplikasikan

bukan sebagai pelapis anti bocor atap maupun genting, melainkan sebagai pelapis

papan komposit berbahan dasar vascular bundlesdari limbah batang kelapa

sawit(Elaeis guineensis Jacq).

Beberapa hal diatas inilah yang melatarbelakangi dilakukannya suatu

penelitian dengan judul “Peningkatan kualitas papan komposit limbah batang

kelapa sawit dengan acrylic sebagai water repellent”.

(15)

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah menguji kestabilan dan kekuatan

papan komposit dari limbah batang kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.)dengan

perbandingan pelapis anti air (acrylic) dari berbagai merek terhadap standard JIS

A 5908-2003 dan mengetahui kualitas pelapis anti air (acrylic) yang terbaik

sebagai pelapis papan komposit.

Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi pemanfaatan limbah

batang kelapa sawit dan peningkatan nilai tambah untuk pembuatan papan

komposit bagi industri komposit. Hasil penelitian ini juga diharapkan menjadi

sumber referensi bagi penelitian-penelitian papan komposit dari limbah batang

kelapa sawit selanjutnya.

Hipotesis

Hipotesis penelitian ini adalah, perbedaan merek dari acrylicyang

mempengaruhi sifat fisis dan sifat mekanis papan komposit dari limbah batang

(16)

TINJAUAN PUSTAKA

Peningkatan Papan Komposit

Papan komposit adalah papan buatan yang terbuat dari serpihan

bagian-bagian kayu dengan bantuan perekat thermosettingkemudian mengalami kempa panas

sehingga memiliki sifat seperti kayu, tahan api dan merupakan bahan isolasi serta

bahan akustik yang baik (Dumanauw, 1993). Adapun pengetian lain papan partikel

adalah produk kayu yang dihasilkan dari pengempaan panas antara campuran partikel

kayu atau bahan berlignoselulosa lainnya dengan perekat organik serta bahan perekat

lainnya yang dibuat dengan cara pengempaan mendatar dengan dua lempeng datar.

Macam Papan Komposit

a. Bentuk

Papan komposit pada umumnya berbentuk datar dengan ukuran relatif

panjang tipis sehingga disebut panel. Ada beberapa papan partikel yang tidak datar

(papan komposit lengkung) dan mempunyai bentuk tertentu tergantung pada cetakan

yang dipakai seperti bentuk kotak radio.

b. Pengempaan

Cara pengempaan dapat secara mendatar atau secara ekstrusi. Cara mendatar

ada yang kontinyu dan tidak kontinyu. Cara kontinyu berlangsung melalui ban baja

yang menekan pada saat bergerak memutar. Cara tidak kontinyu pengempaan

berlangsung pada lempeng yang bergerak vertikal dan banyaknya celah dapat satu

atau lebih. Pada cara ekstrusi, pengempaan berlangsung kontinyu diantara dua

lempeng statis. Penekanan dilakukan oleh semacam piston yang bergerak vertikal dan

horizontal.

(17)

Ada tiga kelompok kerapatan papan komposit, yaitu rendah, sedang dan

tinggi. Terdapat perbedaan batas antara setiap kelompok tersebut, tergantung pada

standar yang digunakan.

d. Kekuatan (Sifat Mekanis)

Pada prinsipnya sama seperti kerapatan, pembagian berdasarkan kekuatan pun

ada yang rendah, sedang dan tinggi. Terdapat perbedaan batas antara setiap macam

(tipe) tersebut, tergantung pada standar yang digunakan. Ada standar yang

menambahkan persyaratan beberapa sifat fisis.

e. Macam perekat

Macam perekat yang dipakai mempengaruhi ketahanan papan

kompositterhadap pengaruh kelembaban, yang selanjutnya menentukan

penggunaannya. Ada standar yang membedakan berdasarkan sifat perekatnya, yaitu

interior dan eksterior. Ada standar yang memakai penggolonganberdasarkam macam

perekat, yaitu Tipe U (urea formaldehyde atau yang setara), Tipe M (melamin urea

formaldehyde atau yang setara) dan tipe P (phenol formaldehyde atau yang setara). f. Susunan komposit

Pada saat membuat komposit dapat dibedakan berdasarkan ukurannya, yaitu

halus dan kasar. Pada saat membuat papan komposit kedua macam komposit tersebut

dapat disusun tiga macam sehingga menghasilkan papan komposit yang berbeda.

g. Arah komposit

Pada saat membuat hamparan, penaburankomposit (yang sudah dicampur

dengan perekat) dapat dilakukan secara acak (arah serat komposit tidak teratur) atau

arah serat diatur, misalnya sejajar atau bersilangan tegak lurus. Untuk yang

disebutkan terakhir dipakai komposit yang relatif panjang, biasanya berbentuk untai

(18)

h. Penggunaan

Berdasarkan penggunaan yang berhubungan dengan beban, papan komposit

dibedakan menjadi papan komposit penggunaan umum dan papan komposit struktural

(memerlukan kekuatan yang lebih tinggi). Untuk membuat mebel, pengikat dinding

dipakai papan komposit penggunaan umum. Untuk membuat komposisi dinding, peti

kemas dipakai papan komposit struktural.

i. Pengolahan

Ada dua macam papan komposit berdasarkan tingkat pengolahannya, yaitu

pengolahan primer dan pengolahan sekunder. Papan komposit pengolahan primer

adalah papan komposit yang dibuat melalui pembuatan komposit, pembentukan

hamparan dan pengempaan yang menghasilkan papan komposit. Papan komposit

pengolahan sekunder adalah pengolahan lanjutan dari papan komposit pengolahan

primer misalnya dilapisi vinir indah, dilapisi kertas aneka corak.

Limbah Batang Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.)

Choon et al., (1991) mengemukakan bahwa kelapa sawit adalah jenis

monokotil yang tidak memiliki pertumbuhan sekunder, lingkaran tahun, kayu

muda dan kayu dewasa, cabang, dan mata kayu. Pertumbuhan dan pertambahan

diameter batang berasal dari pembelahan sel secara keseluruhan dan pembesaran

sel pada jaringan dasar parenkim, juga berasal dari pembesaran serat dari berkas

pembuluh.

Secara taksonomi kelapa sawit diklasifikasikan sebagai berikut.

(19)

Divisi : Spermatophyta

Subdivisi : Angiospermae

Kelas : Monocotyledonae

Famili : Arecaceae (Palmae)

Subfamili : Cocoidae

Genus : Elaeis

Spesies : Elaeis guineensis Jacq.

Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) merupakan tumbuhan tropis yang

dari Nigeria. Kelapa sawit termasuk tumbuhan pohon, tingginya dapat mencapai

24 m. Bunga buahnya berupa tandan, bercabang banyak. Buahnya kecil, bila

masak berwarna merah kehitaman. Daging buahnya padat. Daging dan kulit

buahnya mengandung minyak yang dapat digunakan sebagai bahan minyak lasti,

sabun dan lilin, sedangkan ampasnya dimanfaatkan untuk makanan ternak.

Tempurungnya digunakan sebagai bahan bakar dan arang. Kelapa sawit

berkembang biak dengan biji, tumbuh didaerah tropis, pada ketinggian 0 – 500

mdpl. Kelapa sawit menyukai tanah subur, di tempat terbuka dengan kelembaban

tinggi serta curah hujan yang berkisar 2000 – 2500 mm setahun (Hadi, 2004).

Kelapa sawit setelah berumur 25-30 tahun sudah tidak produktif lagi

sehingga akan menjadi limbah. Berdasarkan data luas areal tanaman dan

rendemen penggergajian kelapa sawit bagian tepi, diketahui bahwa potensi batang

kelapa sawit dapat dimanfaatkan sekitar 2.782.060 m3 per tahun. jumlah ini akan

terus meningkat dengan semakin luasnya perkebunan kelapa sawit (Bakar, 2003)

Variasi kadar air (KA) kelapa sawit relatif besar seperti halnya variasi KA

(20)

pusat umumnya mempunyai KA yang lebih tinggi dibandingkan dengan bagian

tengah, tetapi lebih rendah dibandingkan dengan bagian kulit. KA akan turun dari

pangkal batang ke beberapa meter di atas pangkal dan kemudian naik menuju

bagian ujung (puncak). Bakar (2003) mengemukakan bahwa KA tertinggi berkisar

antara 65%, variasi ini cenderung turun dari atas batang ke bawah dan dari

empulur ke tepi. Beberapa sifat penting dari setiap bagian batang disajikan pada

Tabel 1.

Tabel 1. Sifat-sifat dasar batang sawit

Sifat-sifat penting Bagian dalam batang Tepi Tengah Pusat Berat jenis 0,35 0,28 0.20 Kadar air 156 257 365 Kekuatan Lentur, (Kg/cm2) 3 x104 1 x 104 0.7 x 104 Keteguhan Lentur, (Kg/cm2) 295 129 67 Susut Volume (%) 26 39 48 Kelas Awet V V V Kelas Kuat III-V V V Sumber: Bakar (2003)

Menurut Fauzi (2002), batang sawit yang sudah tua dan tidak produktif

lagi, dapat dimanfaatkan menjadi produk yang bernilai tinggi. Batang kelapa sawit

tersebut dapat dibuat sebagai bahan perabot rumah tangga seperti mebel,

furniture, atau sebagai papan partikel. Sifat-sifat yang dimiliki batang kelapa

sawit tidak berbeda jauh dengan batang kayu yang biasa digunakan untuk perabot

rumah tangga sehingga berpeluang untuk dimanfaatkan secara luas.

(21)

Pada dasarnya batang kelapa sawit tergolong dalam tanaman monokotil,

dimana apabila terlihat dari penampang transversal, batang kelapa sawit dibagi

menjadi 3 bagian yaitu cortex, peripheral region dan central zone. Cortex

merupakan bagian terluar batang dengan tebal sekitar 1,5-3,5 cm. Peripheral

region merupakan wilayah yang agak gelap, yang sangat padat dengan vascular

bundles dan sedikit parenchyma. Bagian ini memberikan kekuatan terhadap

batang kelapa sawit. Daerah central merupakan wilayah yang paling luas sekitar

80 % dari total luas (Killmann dan Choon, 1985).

Sedangkan Erwinsyah (2008) membagi penampang lintang batang

menjadi 3 bagian yaitu peripheral, central dan inner zone. Zona peripheral

merupakan zona paling luar batang sebelum kulit dan korteks. Vascular bundles

pada area ini sangat padat, sedangkan sel parenkim sangat sedikit dibandingkan

wilayah lainnya. Secara visual, daerah ini terlihat agak gelap. Zona central

merupakan daerah paling lebar sekitar 50 % dari total seluruh area. Orientasi

vascular bundles pada area ini adalah random atau acak. Zona inner hanya 20–25

% dari total area dan memiliki kandungan sel parenkim yang tinggi. Kandungan

vascular bundle pada area ini paling sedikit dibandingkan area lainnya. Orientasi

vascular bundles pada area ini sama dengan zona central.

b. Kadar Air

Bagian pusat batang kelapa sawit umumnya mempunyai kadar air yang

lebih tinggi dibandingkan dengan bagian tengah dan tepinya. Kadar air kayu akan

naik dari pangkal ke beberapa meter di atas pangkal dan kemudian naik menuju

bagian ujung. Hal ini disebabkan pada bagian pusat dan bagian ujung memiliki

(22)

sedangkan parenkim memiliki kemampuan untuk mengikat air lebih banyak

dibandingkan vascular bundle (Bakar et al. 1998).

Killmann dan Choon (1985) menyatakan bahwa kadar air kayu kelapa

sawit sangat bervariasi antara 100-500 %. Lim dan Khoo (1986) juga menyatakan

bahwa kadar air meningkat ke arah tinggi dan juga ke arah pusat batang.

Sedangkan Erwinsyah (2008) mengemukakan kadar air batang kelapa sawit dalam

kondisi segar mencapai lebih dari 500 % dan nilai rata-rata kadar air 304 %.

Tabel 2. Sifat fisis vascular bundles

Sifat fisis Rataan

(pada bagian pangkal, tengah, ujung )

Kadar air 11,71%

Berat jenis zat 0,52

Berat jenis 0,44

Sumber: Saragih (2010)

c. Kerapatan

Menurut faktor ketinggian batang, bagian pangkal mempunyai nilai kerapatan

tertinggi, diikuti bagian tengah dan bagian ujung. Nilai kerapatan tertinggi juga

tercatat pada lapisan terluar dan nilainya menurun menuju ke bagian pusat kayu

(Prayitno, 1995).

Erwinsyah (2008) mengemukakan bahwa kerapatan kayu pada bagian

dalam (inner zone) berkisar antar 0,16 - 0,19 g/cm3 dengan nilai rata-rata 0,18

g/cm3, pada bagian tengah (central zone) berkisar antara 0,17 - 0,23 g/cm3 dengan

nilai rata-rata 0,20 g/cm3. Bagian tepi (peripheral zone) memiliki nilai kerapatan

tertinggi dibandingkan bagian tengah dan dalam. Besarnya nilai kerapatan pada

(23)

kerapatan kayu kelapa sawit meningkat dari bagian dalam hingga bagian tepi,

tetapi akan menurun dari pangkal hingga ujung batang.

d. Kerapatan Ikatan Pembuluh

Bakar et al. (1998) mengemukakan bahwa kerapatan vascular bundles di

bagian tepi sangat rapat dan mengalami penurunan ke arah pusat kayu. Sedangkan

faktor ketinggian tidak memberikan kecenderungan yang jelas tentang jumlah

vascular bundles.

Pola kerapatan vascular bundles kelapa sawit berbanding lurus dengan

nilai berat jenis. Bagian tepi yang mempunyai vascular bundles lebih banyak

menghasilkan nilai berat jenis yang tinggi pula. Jaringan vascular bundles

mempunyai kerapatan yang lebih tinggi daripada jaringan di sekitarnya (Bakar et

al. 1998).

e. Penyusutan

Bakar et al. (1998) menyatakan bahwa penyusutan volume batang kelapa

sawit berkisar antara 25-74 %. Berdasarkan kedalaman batang nilai susut volume

tertinggi ada pada bagian pusat batang dan semakin ke tepi semakin kecil.

Sedangkan berdasarkan faktor ketinggian batang, bahwa pada bagian pangkal

(sampai ketinggian 4,5 m) mempunyai nilai susut yang lebih rendah dibandingkan

bagian lainnya. Prayitno (1995) dan Bakar et al. (1998) menganggap sebagai

(24)

f. Sifat Mekanis

Bakar et al. (1999) mengemukakan bahwa seluruh sifat-sifat mekanis yang

diteliti yaitu keteguhan lentur atau MOE (Modulus of Elasticity), keteguhan patah

atau MOR (Modulus of Rupture), keteguhan tekan, keteguhan belah, keteguhan

geser, dan kekerasan menurun dari bagian dekat kulit ke arah pusat batang dan

dari bagian pangkal ke arah pucuk dari batang, dimana pengaruh kedalaman (arah

diameter) lebih besar dari pengaruh ketinggian (arah tinggi).

Pada arah diameter, seluruh sifat mekanis menurun tajam dari bagian tepi

ke bagian medium dan menurun landai dari bagian medium ke bagian pusat.

Penurunan tersebut terutama disebabkan perbedaan berat jenis dan kerapatan

ikatan pembuluh pada masing-masing bagian. Sedangkan penurunan pada arah

tinggi disebabkan oleh perbedaan umur dari batang kelapa sawit pada setiap

ketinggian (Bakar et al. 1999).

Dibandingkan dengan nilai sifat mekanis kayu lain, nilai keteguhan lentur,

keteguhan patah, keteguhan tekan, keteguhan geser dan kekerasan kayu kelapa

sawit bagian luar hampir setara dengan nilai sifat mekanis pada kayu sengon

(Paraserianthes falcataria) yang termasuk ke dalam kelas kuat IV-V (Bakar et

al. 1999).

g. Sifat Kimia

Bakar et al. (1998) mengemukakan bahwa sifat kimia batang kelapa sawit

bervariasi secara horizontal. Kandungan selulosa dan lignin menurun dari bagian

(25)

pusat batang. Kandungan silica dan abu lebih tinggi pada bagian pusat batang,

seperti terlihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Hasil analisa kimia pada berbagai posisi kedalaman batang

Jenis Analisa Near the Bark Inner Center

Lignin (%) 37,87 36,66 36,31

Selulosa (%) 45,40 42,16 41,11

Pati (%) 4,09 4,81 5,90

Abu (%) 2,23 2,14 3,14

Silica (%) 1,26 1,26 1,96

Kelarutan (%) :

• Air dingin 11,24 13,56 17,82

• Air panas 12,51 15,22 18,22

• Alkohol Benzene 9,90 9,89 10,84

• NaOH 1 % 27,64 28,48 32,26

Sumber : Bakar et al. (1998)

h. Sifat Keawetan

Kelapa sawit tidak luput dari serangan hama dan penyakit. Batangnya

dapat menjadi busuk akibat serangan beberapa cendawan Ganoderma seperti G.

applanatum, G. cochlear, G. laccatum, dan G. tropicum. Berdasarkan klasifikasi

kelas awet, batang kelapa sawit termasuk kelas awet V yang berarti sangat rentan

terhadap serangan faktor-faktor perusak kayu terutama dari faktor biologi.

Berdasarkan hasil pengujian grave yard test didapatkan umur pakai batang kelapa

sawit berkisar antara 0 sampai 232 hari. Batang kelapa sawit yang paling panjang

umurnya terdapat pada bagian tepi pangkal. Berdasarkan laju kerusakan, terjadi

peningkatan persentasi kerusakan dengan semakin tinggi dan semakin dalamnya

(26)

PerekatIsocyanate

Perekatan adalah keadaan dimana 2 permukaan material dapat diikat

secara bersamaan dengan adanya kekuatan interparsial, dapat berupa kekuatan

valensi, kekuatan terpadu ataupun gabungan keduanya. Kekuatan valensi

merupakan interaksi atom-atom, ion-ion dan molekul yang bereaksi didalam dan

pada permukaan material perekat. Kekuatan terpadu yang juga disebut keteguhan

rekat berarti permukaan-permukaan material diikat secara bersamaan oleh perekat

yang telah berpenetrasi melalui pori-pori (bila berbentuk cairan) selama proses

solidifikasi (Vick, 1999).

Menurut Nuryawan (2007) keuntungan perekat isocyanate dibandingkan

perekat berbahan dasar resin antara lain:

1. Jumlah yang dibutuhkan sedikit saja untuk memproduksi papan dengan

kekuatan yang sama.

2. Suhu yang digunakan lebih rendah.

3. Penggunaan kempa lebih cepat.

4. Lebih toleran pada perekat berkadar air tinggi.

5. Energi untuk pengeringan lebih sedikit dibutuhkan.

6. Stabilitas dimensi papan yang dihasilkan lebih stabil.

7. Tidak ada emisi formaldehyde.

Isocyanate adalah perekat yang memiliki kekuatan yang lebih tinggi dari

pada perekat lainnya. Isocyanate bereaksi bukan hanya dengan aquarous tetapi

juga dengan kayu yang menghasilkan ikatan kimia yang kuat sekali (chemical

bonding). Isocyanate juga memiliki gugus kimia yang sangat reaktif, yaitu

(27)

glue, mucilage, pasta, dan cement. Glue merupakan perekat yang terbuat dari

protein hewani, seperti kulit, kuku, urat, otot dan tulang yang secara luas

digunakan dalam industri pengerjaan kayu. Mucilage merupakan perekat yang

dipersiapkan dari getah dan air dan digunakan terutama untuk merekat kertas.

Paste merupakan perekat pati (strach) yang dibuat melalui pemanasan campuran

pati dan air yang hasilnya berbentuk pasta. Cement merupakan istilah yang

digunakan untuk perekat yang bahan dasarnya semen dan mengeras melalui

pelepasan pelarut.

Acrylicuntuk Water Repellent

Acrylic merupakan bahan kimia yang berisi komponen asam acrylic yang

berasal dari

acrylic tanpa mengambil dari perut bumi ini

sintetis polimer yang berisi sekurang-kurangnya 85% acrylonitrile.

Asam acrylic atau prop-2-enoic merupaka

sederhana antara asam karboksida denga

terminus. Dalam bentuk murni, asam acrylic berupa cairan yg tidak memiliki

warna, tetapi memiliki karakteristik acrid atau berbau tajam. itu akibat tidak

bercampur dengaacrylic dapat dihasilkan dari

sebuah produk minyak dan gas yang ada di pasaran. Ester da

acrylic yang secara kolektif dikenal sebagai

paling umum dari alkyl ester. Asam acrylic terdiri dari methyl-,-butyl, ethyl-, dan

(28)

Serat acrylic adalah

monomer. Untuk dikatakanacrylic di negara Amerika Serikat, maka polimer

harus berisi setidaknya 85%

acrylic, maka akan

terasa lembut, dan hangat pada permukaan kulit kita. Belakangan ini, acrylic

biasa digunakan untuk campuran bahan pelapis anti bocor pada atap atau genting

yang produksinya mencapai skala besar, seperti industri Waterproof, Aquaproof

dan Multiguard dan lainnya (Anatole, 2007).

Jenis Umum WaterRepellent di Indonesia

-

-

- Aquaproof

-

- Water proofer

-

-

-

-

-

(29)

METODE PENELITIAN

Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Workshop Program Studi Kehutanan

Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara untuk menghasilkan bahan baku

papan kompositdari limbah batang kelapa sawit, kemudian Laboratorium Kimia

Polimer FMIPA USU untuk menghasilkan papan komposit. Untuk pengujian

dilakukan di Laboratorium Teknologi Hasil Hutan Program Studi Kehutanan

Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara dan Laboratorium Keteknikan

Kayu Departemen Hasil Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor

untuk pengujian sifat mekanis. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni 2011

sampai Oktober 2011.

Alat dan Bahan Penelitian

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah : Chainsaw, Scroll Band

Saw, oven, timbangan, kaliper, kempa panas, plat besi 25 cm x 25 cm x 1 cm, alat

penyemprot (sprayer), cetakan papan 25 cm x 25 cm, Aluminium foil, parang,

kuas, Universal Testing Machine, kamera digital, sarung tangan, kalkulator dan

alat tulis.

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah vascular bundles yang

berasal dari limbah batang kelapa sawit sebagai bahan baku produk papan

komposit berasal dari kebun kelapa sawit di Kecamatan Galang, Lubuk Pakam,

Sumatera Utara, kemudian di serut dengan mesin serut dan kemudian dijemur

(30)

adalah isocyanate sebagai bahan untuk merekatkan sampel yang akan dijadikan

sebagai papan komposit.

Prosedur Penelitian

Target produk komposit yang dibuat mengikuti ukuran komersial dan

disesuaikan dengan Japan Industrial Standard (JIS A 5908 : 2003), yaitu memiliki

kerapatan target 0,8 g/cm3. Sedangkan dimensi panjang, lebar, dan tebal dibuat

25 cm x 25 cm x 1 cm. Produk komposit masing tiga sampel untuk setiap jenis

papan yg akan dilapisi acrylic. Penjelasan mengenai prosedur pembuatan produk

komposit, diterangkan sebagai berikut :

Persiapan Bahan Baku

Pengumpulan serbuk kayu kelapa sawit dilakukan pada kondisi yang

sudah kering maupun masih dalam keadaan basah. Kemudian dicuci dengan air

yang mengalir untuk menghilangkan kotoran, lalu dijemur sampai kondisi kering

udara dan kemudian di oven dengan suhu 103 ± 2 oC.

Perekat yang digunakan adalah isosianat. Kadar perekat yang digunakan

adalah 8% berdasarkan berat kering oven partikel. Kebutuhan partikel kayu dan

perekat yang digunakan untuk pembuatan sebuah papan partikel tergantung pada

perlakuan yang dilakukan dan kerapatan sasaran. Kerapatan yang dipakai yaitu

sebesar 0,8 gr/cm 3

. Adapun perhitungan komposisi bahan baku yaitu:

1. Kebutuhan partikel kadar air (KA) 0%

100/108 x ρ x d

= 100/108 x 0,8 gr/cm3 x 25cm x 25cm x 1cm

(31)

= 509,26 gr

Asumsi untuk KA partikel 8%

= 108/100 x 509,26 gr

= 550 gr

2. Kebutuhan perekat isosianat 8% berdasarkan berat kering oven partikel

= 8/108 x 0,8 gr/cm3 x 25cm x 25cm x 1cm

= 37,04 gr + 10% (spilasi)

= 40,744 gr

Perlakuan Pendahuluan Partikel

Serbuk kayu kelapa sawit dibuat menjadi serpihan dengan menggunakan

circular saw, sehingga menghasilkan serbuk gergaji kemudian hasil serpihan

ditampung pada 29lastic penampung partikel. Selanjutnya dikeringkan kedalam

oven sampai kadar air dibawah 10% atau dalam penelitian ini 8%.

Pembuatan Adonan (Pencampuran)

Bahan baku yang telah dikeringkan dalam oven dimasukkan dalam rotary

blender. Perekat dimasukkan di dalam sprayer gun dan disemprotkan ke dalam

blender berputar yang berisi partikel kayu. Adonan selanjutnya dimasukkan ke

dalam alat pencetak lembaran 25cm x 25cm x 1cm dan dikempa panas.

Pengempaan

Adonan dikempa panas dengan menggunakan alat hot press pada tekanan

(32)

Pengkondisian

Cetakan lembaran dikeluarkan dari alat kempa. Lembaran yang masih

panas dibiarkan + 10 menit agar mempermudah pengambilan papan dari cetakan

(tidak panas saat diambil). Kemudian dilakukan pengkondisian selama satu

minggu, dan kemudian dilakukan pelapisan setiap permukaan dengan acrylic.

Pelapisan Acrylic

Papan komposit yang telah jadi, dilapisi dengan tiga jenis merek bahan

acrylic (aquaproof, multiguard dan waterproof) lalu dikeringkan dibawah sinar

matahari.

Pengujian Sifat Fisis

Pengujian sifat fisis batang kelapa sawit menggunakan standar JIS A 5908-2003.

- Kerapatan

Kerapatan merupakan perbandingan massa kayu dengan volume kayu.

Cara penentuan kerapatan adalah contoh uji diambil dari setiap batang pada arah

horizontal dan vertikal dengan ukuran 25 cm x 25 cm x 1 cm. Dikering udarakan

dengan kipas selama ± 3 minggu kemudian ditimbang beratnya (berat kering

udara) dan diukur dimensinya.Dihitung volume kering udara. Dihitung kerapatan

kayu dapat dihitung dengan rumus:

(33)

- Kadar air

Kadar air adalah jumlah air yang terdapat pada kayu dibagi dengan berat

kering tanur (BKT) dan dinyatakan dalam persen. Pengujian kadar air ini

dilakukan untuk penyeragaman contoh uji. Cara penentuan kadar air adalah :

Contoh uji kadar air diambil dari setiap papan pada arah horizontal

danvertikal batang dengan ukuran 25 cm x 25 cm x 1 cm. Ditimbang berat

awalnya, kemudian dikering udarakan menggunakan kipas angin selama ± 3

minggu. Setelah dikering udarakan contoh uji ditimbang untuk menentukan berat

kering udara. Kemudian dioven selama 24 jam dengan suhu 103 ± 2 oC,

ditimbang beratnya dan dioven lagi selama 3 jam, kemudian ditimbang lagi,

hingga beratnya konstan.Dihitung kadar air dengan rumus :

%

Daya serap air papan dilakukan dengan mengukur selisih berat sebelum

dan setelah perendaman dalam air dingin selama 2 dan 24 jam. Daya serap air

(34)

Keterangan:

DSA : Daya serap air (100%)

B1 : Berat contoh uji sebelum perendaman (g)

B2 : Berat contoh uji sesudah perendaman (g)

- Pengembangan tebal

Perhitungan pengembangan tebal didasarkan pada selisih tebal sebelum

dan setelah perendaman dalam air dingin selama 2 jam dan 24 jam.

Pengembangan tebal dihitung dengan rumus :

Keterangan:

TS : Pengembangan tebal (%)

T1 : Tebal contoh uji sebelum perendaman (g)

T2 : Tebal contoh uji setelah perendaman (g)

Pengujian Sifat Mekanis

Pengujian sifat mekanis menggunakan standar JIS A 5908-2003.

Pengujian sifat mekanis ini meliputi pengujian keteguhan rekat (internal bond),

kuat pegang sekrup, sifat keteguhan lentur (MOE) danketeguhan patah (MOR).

(35)

- Keteguhan rekat (internal bond)

Keteguhan rekat (internal bond) diperoleh dengan cara merekatkan kedua

permukaan contoh uji papan unting pada balok besi, kemudian balok besi tersebut

ditarik secara berlawanan. Cara pengujian internal bond seperti Gambar 2.

Arah beban

Balok besi

Contoh uji

Arah beban

Gambar. 1. Pengujian internal bond

Keteguhan rekat tersebut dihitung dengan menggunakan rumus:

Keterangan:

IB : keteguhan rekat (kg / cm2)

P : gaya maksimum yang bekerja (kg)

A : luas permukaan contoh uji (cm2)

(36)

Kuat pegang sekrup merupakan kemampuan suatu produk komposit untuk

menahan beban sekrup yang diberikan. Proses pengujian kuat pegang sekrup

dapat dilihat pada Gambar 1.

25 mm 25 mm 25 mm 25 mm Posisi sekrup

100 mm

Gambar 2. Pengujian kuat pegang sekrup

Sekrup yang digunakan berdiameter 2,7 mm, panjang 16 mm dimasukkan

hingga mencapai kedalaman 8 mm. Nilai kuat pegang sekrup dinyatakan oleh

besarnya beban maksimum yang dicapai dalam kilogram.

- Keteguhan lentur (modulus of elasticity)

Pengujian MOE dilakukan bersama-sama dengan pengujian keteguhan

patah dengan memakai contoh uji yang sama dengan ukuran 25 cm x 25 cm x

1cm. Besarnya defleksi yang terjadi pada saat pengujian dicatat pada setiap selang

beban tertentu.

Nilai MOE dihitung dengan rumus :

Dimana :

MOE : Modulus lentur (kg/cm2)

∆P : Beban sebelum batas proporsi (kg)

(37)

d : Tebal contoh uji (cm)

- Keteguhan patah (modulus of rupture)

Pengujian keteguhan patah (MOR) dilakukan dengan menggunakan

Universal Testing Machine dengan menggunakan lebar bentang (jarak penyangga)

15 kali tebal nominal. Nilai MOR dihitung dengan rumus :

Dimana :

MOR : Modulus patah (kg/cm2)

P : Beban Maksimum (kg)

L : Jarak sangga (cm)

b : Lebar contoh uji (cm)

d : Tebal contoh uji (cm)

20 cm

MOR = 2

. . 2

. . 3

d b

(38)

5 cm

25 cm 5 cm

5 cm

5 cm

5 cm 10 cm 5 cm

Gambar 3. Pola pemotongan contoh uji

Keterangan gambar diatas disajikan pada Tabel 4.

Tabel 4. Keterangan pola pemotongan contoh uji

No Contoh Uji Ukuran Jumlah

1 MOE dan MOR kering sejajar panjang 20 cm x 5 cm x 1 cm 1 buah 2 MOE dan MOR basah sejajar panjang 20 cm x 5 cm x 1 cm 1 buah 3 Kuat pegang sekrup sejajar lebar 10 cm x 5 cm x 1 cm 1 buah 4 Internal bond (kuat teguh rekat) 5 cm x 5 cm x 1 cm 1 buah 5 Pengembangan tebal dan daya serap air 5 cm x 5 cm x 1 cm 1 buah 6 Kerapatan dan kadar air 10 cm x 10 cm x 1 cm 1 buah

(39)

Dalam pengujian ini dilakukan pengujian sifat fisis yang terdiri dari

kerapatan, kadar air, daya serap air dan pengembangan tebal yang dilandasi

dengan standard JIS A 5908-2003 dan pengujian sifat mekanis yang terdiri dari

internal bond, kuat pegang sekrup, modulus of elasticity (MOE) dan modulus of

rupture (MOR) yang juga dilandasi dengan standard JIS A 5908-2003.

Tabel 5. Acuan standard JIS A 5908-2003

Klasifikasi Acuan Standard JIS A 5908-2003

Kerapatan (gr/cm3) 0,4 – 0,9

Kadar Air (%) 5-13

Daya Serap Air (%) -

Pengembangan Tebal (%) Maks 12 Internal Bond(kg/cm2) Min 1,5 Kuat Pegang Sekrup (kgf) Min 30

MOE(kg/cm2) Min 2,0 x 104

MOR(kg/cm2) Maks 80

(40)

Gambar 4. Skema pelaksanaan proses penelitian HASIL DAN PEMBAHASAN

Perekat 8 %

Dihaluskan 80 mesh

Dilapisi dengan 3 jenis merek acrylic (aquaproof, multiguard dan waterproof)

Dikeringkan

(41)

Pengujian Sifat Fisis

Sifat fisis produk komposityang diuji antara lain, kerapatan, kadar air,

daya serap air dan pengembangan tebal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa

terdapat perbedaan terhadap masing-masing sifat fisis papan komposit dari tiga

jenis perlakuan yang berbeda. Hal tersebut dapat kita lihat pada tabel 5.

Tabel 6. Data pengujian sifat fisis papan komposit

Jenis Water Repellent

Sifat fisis papan komposit

Kerapatan

Kerapatan merupakan perbandingan berat dengan volume pada kondisi

kering udara. Nilai rerata kerapatan tertinggi pada produk komposit yang

dihasilkan terdapat pada papan komposit yang dilapisi oleh aquaproof. Hal ini

menunjukkanaquaproof memiliki mutu yang lebih baik untuk melapisi bagian

luar papan dan melindungi dari resapan air dengan nilai kerapatan 0.82gr/cm3.

Sedangkan nilai kerapatan terendah terdapat pada water proofer, yakni

0.78gr/cm3.

Pada perbandingan kerapatan tersebut, multiguard memiliki kerapatan

diantara kedua jenis water repellent yang diuji, dimana multiguard memiliki

kerapatan 0.79gr/cm3yang berarti kerapatan yang hampir sempurna dalam target

(42)

disimpulkan bahwa nilai kerapatan untuk aquaproof lebih sempurna dibandingkan

dengan kerapatan multiguard maupun waterproofer. Perbandingan tersebut dapat

dilihat pada gambar 5.

Gambar 5. Perbandingan kerapatan ketiga jenis perlakuanwater repellent

Grafik diatas telah menunjukkan perbandingan kerapatan dari ketiga jenis

papan komposit yang di uji dengan ketiga merk water repellent. Perbandingan

kerapatan tersebut terlihat jelas bahwa multiguard dan aquaproof yang memiliki

kerapatan yang sangat mendekati kerapatan target (0.8 gr/cm3). Hal ini

dipengaruhi oleh kelebihan masing-masing daya sebar water repellent tersebut.

Daya sebar yang dimiliki oleh produk aquaproof yakni mencakup 1 meter2/ kg / 2

lapisan, sedangkan untuk daya sebar produk mutiguard yakni mencakup 2.5

meter2/ kg / 2 lapisan, dan untuk daya sebar produk water proofer yakni

mencakup 2-3 meter2/ kg / 2 lapisan.

(43)

Klasifikasi Kerapatan g/cm

3

Komparasi

JIS SNI

Papan partikel biasa Tipe 24-10 0,4-0,9 0,4-0,9 Sama Tipe 17,5-10,5 0,4-0,9 0,4-0,9 Sama

Papan partikel berlapis venir Tipe 30-15 0,4-0,9 0,4-0,9 Sama

Papan partikel dekoratif

Tipe 18 0,4-0,9 0,4-0,9 Sama

Tipe 13 0,4-0,9 0,4-0,9 Sama

Tipe 8 0,4-0,9 0,4-0,9 Sama

Pada ketentuan syarat kerapatan papan partikel untuk standard JIS A

5908-2003 disini memiliki stardard komparasi yang sama dengan standard SNI

03-5908-2006 untuk setiap jenis papan partikel dengan tipe yang berbeda-beda.

Dimana untuk ketentuan standard JIS harus dalam kerapatan 0,4-0,9gr/cm3, dan

untuk standard SNI juga harus dalam kerapatan 0,4-0,9gr/cm3.

Kadar Air

Kadar air merupakan perbandingan antara massa air dalam kayu atau

papan komposit dengan massa kayu atau papan komposit pada kondisi kering

tanur dan dinyatakan dalam persen.

Nilai rerata kadar air terendah terdapat pada aquaproofyang bernilai

8.23%. Hal ini dikarenakan adanya kemampuan kadaracrylicpada aquaproof yang

jauh lebih baik untuk menstabilkan kadar air pada sampel papan komposit,

dimana dapat kita lihat pada gambar 6. Sedangkan untuk kadar air tertinggi

terdapat pada pengujian dengan menggunakanwaterproofer. Hal ini dikarenakan

kurangnya kemampuanwaterprooferuntuk menahan air yang akan masuk melalui

(44)

dengan sampel jenis waterproofer didapat nilai sebesar 9.11%, sedangkan untuk

pengujian kadar air pada sampel jenis multiguard didapat nilai sebesar 8.52%.

Gambar 6. Perbandingan kadar air ketiga jenis perlakuanwater repellent

Dari gambar 5 dan gambar 6 diatas jelas terlihat perbandingan yang nyata

dimana aquaproof selalu lebih baik mutunya dibanding dengan multiguard dan

waterproofer baik dari segi untuk menahan air maupun untuk pengujian kerapatan

papan komposit.

Tabel 8. Syarat kadar air papan partikel

Klasifikasi Kadar air (%) Komparasi Keterangan

(45)

Dari tabel diatas diketahui bahwa pada pengujian untuk papan partikel

dengan memakai standard JIS lebih baik dibandingkan dengan memakai standard

SNI, data tabel tersebut adalah data yang valid untuk setiap pengujian papan

partikel menggunakan standard JIS A 5908-2003 maupun standard SNI

03-5908-2006. Hal ini dikarenakan perbedaan standard persentase (%) yang dimana

standard JIS maksimal 12%, sedangkan standard SNI maksimal 20-25%.

Dari hasil pengujian diatas, pengaruh pertama yang menyebabkan kadar

air menjadi rendah yaitu dikarenakan kualitas produk anti air (water repellent)

yang baik pula. Pada produk aquaproof memiliki membran polyester yang baik

yang menghasilkan ketahanan untuk melapisi bagian luar benda dari serangan air,

sehingga membuat papan komposit lebih tahan terhadap serangan air, yang

mengakibatkan kadar air lebih rendah pada papan komposit yang dilapisi dengan

produk aquaproof. Sedangkan untuk pengaruh dari pengujian papan komposit

dengan lapisan produk multiguard dan water proofer dipengaruhi dengan adanya

viskositas atau kekentalan dari masing-masing jenis produk yang menyebabkan

penyerapan atau penutupan permukaan papan komposit lebih baik lagi, hanya saja

untuk kekentalan dan penutupan pori-pori papan komposit terdapat produk merk

aquaproof yang lebih baik viskositasnya, dibanding dengan multiguard dan water

proofer.

Untuk pengaruh pengujian kadar air pada papan komposit yang dilapisi

dengan water repellent, dapat dipengaruhi dengan adanya perbedaan daya sebar

untuk masing-masing merk water repellent. Semakin luas cakupan untuk daya

sebar pelapis tersebut, maka semakin berkurang ketahanan pelapis tersebut untuk

(46)

dilapisi oleh water repellent maka semakin baik ketahanan water repellent

tersebut untuk membantu papan komposit tersebut menahan serangan air dari

bagian luar permukaan papan komposit.

Daya Serap Air

Daya serap air merupakan sifat fisis yang menunjukan kemampuan suatu

material untuk menyerap air setelah direndam dalam air selama 2 jam dan 24

jam. Dimana sampel tersebut langsung direndam dalam air yang nantinya dihitung

setelah perendaman selama 2 jam, dan direndam kembali untuk perendaman

selama 24 jam. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat perbandingan daya serap air

pada papan yang dilapisi oleh aquaproof, multiguard dan waterproofer pada

gambar 7.

Gambar 7. Perbandingan daya serap air pada ketiga jenis water repellent

(47)

Nilai rerata daya serap air terbesar terdapat pada waterproofer dengan nilai

10.86%. Hal ini menunjukkan bahwawaterproofer yang memiliki ikatan kimia

yang sedikit kurang baik, dimana kemungkinan besar kadar acrylic yang

terkandung didalam bahan tersebut memiliki persen acrylic yang rendah.

Sedangkan untuk menahan tekanan air, dimana sampel tersebut tidak

terlalu meyerap air terdapat pada sampel papan jenis aquaproof. Nilai yang

didapat pada pengujian daya serap air untuk jenis sampel pengujian pada

aquaproof adalah 8.69%. Hal ini menunjukkan water repellentdengan merek

aquaproof memiliki kemampuan untuk menahan air dengan baik dan diikuti

sampel papan komposit dengan merek multiguard yang mendapat nilai 9.56%

pada pengujian terhadap daya serap air. Pada pengujian acrylic dengan merek

multiguard selalu berada pada posisi menengah dimana nilainya terdapat diantara

merek aquaproof dengan waterproofer.

Nilai daya serap air sangat erat kaitannya dengan stabilitas dimensi. Pada

penelitian ini batang kelapa sawit yang telah dijadikan papan komposit

dandilapisiwater repellent dapat dikatakan memiliki stabilitas dimensi yang baik,

dimana tujuan untuk menghambat serta mengurangi pengaruh dari kadar air yang

akan masuk kedalam papan komposit telah dapat dikondisikan dengan adanya

pelapisan water repellent pada bagian permukaan papan komposit tersebut.

Sebaliknya, suatu kecenderungan bahwa ketidakstabilan dimensi suatu

bahan adalah akibat dari bentuk komponen penyusun bahan tersebut (Sekino et al.

1999), dalam hal ini vascular bundles dan parenkim mengalami perubahan

bentuk. Proses pengempaan pada pencetakan papan komposit mengakibatkan

(48)

ketika vascular bundles dan parenkim menyerap air pada pengujian. Hasil

pengujian daya serap air ini menunjukkan sifat batang kelapa sawit yang dilapisi

dengan water repellent ternyata lumayan berbeda jauh dari sifat asalnya, yaitu

memiliki sifat higroskopis yang sangat rendah.

Pengembangan Tebal

Pengembangan tebal adalah perubahan dimensi tebal kayu yang terjadi

akibat perubahan kadar air dalam kayu, dimana untuk pengujian pengembangan

tebal pada papan komposit ini dilakukan pengujian dengan perendaman 2 jam dan

24 jam didalam bak air.

Tabel 9. Syarat pengembangan tebal papan partikel

Klasifikasi

Pengembangan tebal

(%) Komparasi Keterangan

JIS SNI

Papan partikel biasa Tipe 24-10 5 – 13 ≤ 14 Beda JIS lebih baik Tipe 17,5-10,5 5 – 13 ≤ 14 Beda JIS lebih baik

Papan partikel

berlapis venir Tipe 30-15 5 – 13 ≤ 14 Beda JIS lebih baik

Papan partikel

dekoratif

Tipe 18 5 – 13 ≤ 14 Beda JIS lebih baik

Tipe 13 5 – 13 ≤ 14 Beda JIS lebih baik

Tipe 8 5 – 13 ≤ 14 Beda JIS lebih baik

Tabel diatas adalah sebagai acuan untuk menentukan apakah nilai hasil

pada pengembangan tebal disini memenuhi standard JIS A 5908-2003 atau tidak.

Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada grafik hasil pengujian pada gambar 8

(49)

Gambar 8.Perbandingan pengujian pengembangan tebal 2 jam pada ketiga jenis perlakuanwater repellent

Dari grafik diatas didapat nilai tertinggi untuk pengembangan tebal selama

2 jam pengujianyakni pada papan sampel waterproof, dengan nilai 4.92% dan

diikuti papan sampel multiguard dengan nilai 3.87%. sedangkan untuk

pengembangan tebal yang paling kecil didapat dari pengujian sampel aquaproof

dengan nilai 3.10%. Hal ini membuktikan bahwa pada merek aquaproof cukup

baik mutu produknya untuk menahan serangan air dan untuk pengaplikasian pada

papan komposit tahan air. Dimana produk merk aquaproof hanya memiliki daya

sebar mencakup 1 meter2/ kg / 2 lapisan, sehingga hasil yang diperoleh lebih baik.

Sedangkan untuk daya sebar produk mutiguard yakni mencakup 2.5

meter2/ kg / 2 lapisan hanya dapat memberikan nilai pengujian yang sedikit

kurang signifikan dibandingkan dengan produk aquaproof, dan untuk daya sebar

pada produk water proofer yakni mencakup 2-3 meter2/ kg / 2 lapisan. Yang

artinya, perolahan nilai terbaik juga dipengaruhi dengan adanya nilai daya sebar

(50)

Hal yang sama juga terlihat pada pengujian pengembangan tebal selama

24 jam, dimana untuk data hasil pada pengembangan tebal selama 24 jam

memperoleh nilai sebesar 11.34% pada pengujian dengan pelapisan water

repellent merk aquaproofsetelah perendaman selama 24 jam. Hal ini dikarenakan

kadar acrylic yang berfungsi sebagai water repellent memiliki ikatan kimia yang

sangat baik dan juga memiliki persentase komposisi terbaik pada produk tersebut.

Adapun hal tersebut dapat kita lihat pada gambar 9 dibawah ini.

Gambar 9. Perbandinganpengujianpengembangan tebal 24 jam pada ketiga jenis perlakuanwater repellent

Untuk nilai data dari pengujian pengembangan tebal selama 24 jam pada

sampel multiguard didapat nilai 12.99% (tidak memenuhi standard JIS A

5908-2003). hal ini dipengaruhi dengan adanya daya lapis untuk masing-masing produk

water repellent, sehingga perbedaan hasil masing-masing untuk sampel pengujian

berada pada nilai hasil yang berbeda. Dimana luas cakupan total lapisan utnuk

produk aquaproof mencakup 1 meter2/ kg / 2 lapisan, sedangkan untuk daya sebar

(51)

sebar produk water proofer yakni mencakup 2-3 meter2/ kg / 2 lapisan.Sedangkan

untuk nilai data dari pengujian pengembangan tebal selama 24 jam pada sampel

waterproofer didapat nilai sebesar 15.53% (tidak memenuhi standard JIS A

5908-2003). dari pengujian pengembangan tebal selama 24 jam inilah kita dapat melihat

perbandingan nilai pengembangan tebal yang lebih akurat, yang memudahkan kita

untuk membaca angka persentase secara detail.

Hasil pengujian pengembangan tebal 24 jam menunjukkan hal yang

demikian. Nilai pengembangan tebal 24 jam dipengaruhi oleh kerapatan. Nilai

pengembangan tebal 24 jam dari semua kombinasi berada pada rentang 11.34 –

15.53 %. Hasil ini menunjukkan perbedaan yang tidak signifikan. Diduga nilai

pengembangan tebal 24 jam dipengaruhi oleh kondisi vascular bundles yang telah

jenuh air akibat kekurangan ketahanan water repellent dalam melindungi papan

kompositsetelah direndam selama 24 jam dengan pelapisan water repellent untuk

ketiga merk produk pada bagian luar setiap permukaan tersebut, sehingga papan

komposit tidak terlalu mengembang lagi yang menyebabkan nilai pengembangan

tebal tidak terlalu mengalami peningkatan. Menurut Wardhaniet al. (2006)

pengembangan tebal terjadi karena perubahan dimensi sel penyusun kayu akibat

pengembangan dinding sel atau perubahan ukuran rongga sel akibat menyerap air.

Pengujian Sifat Mekanis

Pengujian sifat mekanis papan komposit tahan air yang diuji antara lain,

internal bond (keteguhan rekat), modulus of rupture(MOR), modulus of elastisitas

(MOE), screw holding power (kuat pegang sekrup) dan dapat dilihat pada tabel 6.

Tabel 10. Data pengujian sifat mekanis papan komposit Jenis Water

Repellent

Sifat Mekanis Papan Komposit

(52)

(kg/cm2) (kgf) (kg/cm2) (kg/cm2)

Aquaproof 8.19 59.55 31852.83 378.36

Multiguard 8.99 56.29 21124.08 279.62

Water Proofer 10.81 59.14 31211.73 371.72

Keteguhan Rekat (internal bond)

Keteguhan rekat (internal bond) merupakan gaya maksimum yang bekerja

(kg) dibagi dengan luas permukaan contoh uji (cm2). Dari hasil pengujian internal

bond yang sudah dilapisi dengan acrylic, didapat hasil dengan nilai terbaik

padapapan sampel aquaproof dengan nilai 8.19 kg/cm2 untuk lebih jelasnya dapat

dilihat pada gambar 10.

Gambar 10.Perbandingan pengujian keteguhan rekat (internal bond) pada ketiga jenis perlakuanwater repellent

Dari keterangan gambar diatas terlihat jelas bahwa selisih perbandingan

pada pengujian keteguhan rekat (internal bond) sangatlah berbeda nyata, dimana

selisih perbandingannya hampir mencapai nilai 1 kg/cm2. Sedangkan untuk posisi

(53)

kg/cm2adalah untuk water repellent dengan merek multiguard, dan pada

pengujian waterproofer memiliki hasil dengan nilai 10.81 kg/cm2.

Dari pengujian internal bond ini didapatkan hasil pengujian yang nilainya

bervariasi diantara ketiga jenis merk water repellent yang melapisi setiap bagian

sisi permukaaan papan komposit berbahan dasar vascular bundles batang kelapa

sawit. Variasi nilai inilah yang menunjukkan pengaruh dari masing-masing water

repellent yang berperan sebagai lapisan setiap bagian sisi luar papan komposit

tersebut.

Adapun pengaruh dari masing-masing jenis merk water repellent pada

pengujian internal bond ini terjadi akibat adanya kadar acrylic yang mungkin

tingkat nilai kadarnya berbeda tinggi. Acrylic yang berbahan dasar polyester ini

sangat mempengaruhi papan komposit dalam pengujian ini, dimana ikatan kimia

yang saling mengikat akan dapat memperkuat rekatan dari papan komposit

tersebut.

Besar kemungkinan perbedaan nilai yang didapat dari hasil pengujian ini

diakibatkan karena pengaruh tekanan mesin kempa yang kurang baik. jika

keadaan mesin kempa (hot press) dalam keadaan baik, maka akan menghasilkan

papan komposit yang baik pula dari hasil pengempaan tersebut. Sebaliknya,

apabila keadaan mesin kempa (hot press) dalam keadaan kurang baik, maka papan

komposit yang dihasilkan akan kurang baik pula mutunya.

(54)

Kuat pegang sekrup merupakan kemampuan suatu produk komposit untuk

menahan beban sekrup yang diberikan pada papan komposit tersebut. Nilai kuat

pegang sekrup dinyatakan oleh besarnya beban maksimum yang dicapai dalam

kilogram. Hasil pengujian kuat pegang sekrup pada papan komposit dapat dilihat

pada gambar 11 dibawah ini.

Gambar 11. Perbandingan kuat pegang sekruppada ketiga jenis perlakuanwater repellent

Pada gambar diatas jelas terlihat bahwa angka tertinggi terdapat pada

papan komposit yg dilapisi oleh waterproof, dimana data hasil yang didapatkan

adalah 79.95 kgf. Hal tersebut diakibatkan dengan adanya penambah kekuatan

rekat yang berupa lem atau perekat dari campuran bahan dasar water repellent

tersebut yang dicampurkan dengan acrylic sehingga menjadikan water repellent

tersebut menjadi lebih lekat. Biasanya lem atau perekat yang dicampurkan

kedalam bahan water repellent tersebut berupa perekat thermoplastic ataupun

(55)

water repellent tesebut tidaklah begitu banyak, melainkan untuk tujuan sebagai

perekat yang merekatkan ke permukaan yang akan di lapisi dengan water

repellent tersebut. Selain itu, kekentalan atau viscositas pada water repellent ini

juga mempengaruhi papan komposit pada saat pengujian kuat pegang sekrup ini.

Untuk data dengan angka tertinggi kedua terdapat pada papan komposit

yang dilapisi oleh water repellent dengan merk multiguard, dimana data yang

didapat sebesar 64.31 kgf. Dari hasil pengujian ini dapat dilihat bahwa water

repellent dengan merk multiguard selalu dalam posisi kedua pada setiap

pengujian. Kemungkinan besar diakibatkan dengan komposisi bahan tersebut

yang memang berada dalam keadaan standard, dalam arti bahwa water repellent

dengan merk multiguard ini memang memberikan komposisi yang standard yang

tujuan utamanya adalah untuk mencari konsumen lebih banyak dengan harga yang

relatif sedikit murah. Untuk kekentalan atau viscositas, produk merk multiguard

ini memiliki kekentalan sedang yang di ketahui dengan kasat mata dan kesan raba

langsung. Pengaruh kekentalan ini juga bisa mengakibatkan kekerasan ataupun

kerapuhan untuk papan komposit yang dihasilkan. Oleh karena itu, sebaiknya

menggunakan water repellent yang memiliki kekentalan yang baik.

Adapun selisih perbandingan terbesar terdapat pada data dari papan yang

dilapisi oleh waterproof dan papan yang dilapisi oleh multiguard. Sedangkan

untuk nilai terendah dicapai oleh papan komposit yang dilapisi dengan acrylic

merek aquaproof dan mendapatkan hasil dengan nilai 59.55 kgf. Selisih nilai yang

relatif jauh dengan merk water proofer ini menjadikan perbedaan yang sangat

nyata. Adapun pengaruh yang terjadi umumnya diakibatkan dengan adanya

Figur

Tabel 1. Sifat-sifat dasar batang sawit
Tabel 1 Sifat sifat dasar batang sawit . View in document p.20
Tabel 2. Sifat fisis vascular bundles
Tabel 2 Sifat fisis vascular bundles . View in document p.22
Tabel  3.  Hasil analisa kimia pada berbagai posisi kedalaman batang
Tabel 3 Hasil analisa kimia pada berbagai posisi kedalaman batang . View in document p.25
Gambar. 1. Pengujian internal bond
Gambar 1 Pengujian internal bond . View in document p.35
Gambar 2. Pengujian kuat pegang sekrup
Gambar 2 Pengujian kuat pegang sekrup . View in document p.36
Gambar 3. Pola pemotongan contoh uji
Gambar 3 Pola pemotongan contoh uji . View in document p.38
Tabel 4. Keterangan pola pemotongan contoh uji
Tabel 4 Keterangan pola pemotongan contoh uji . View in document p.38
Tabel 5. Acuan standard JIS A 5908-2003
Tabel 5 Acuan standard JIS A 5908 2003 . View in document p.39
Tabel 6. Data pengujian sifat fisis papan komposit
Tabel 6 Data pengujian sifat fisis papan komposit . View in document p.41
Gambar 5. Perbandingan kerapatan ketiga jenis perlakuanwater repellent
Gambar 5 Perbandingan kerapatan ketiga jenis perlakuanwater repellent . View in document p.42
Gambar 6. Perbandingan kadar air ketiga jenis perlakuanwater repellent
Gambar 6 Perbandingan kadar air ketiga jenis perlakuanwater repellent . View in document p.44
Tabel 8. Syarat kadar air papan partikel
Tabel 8 Syarat kadar air papan partikel . View in document p.44
Gambar 7. Perbandingan daya serap air pada ketiga jenis water repellent
Gambar 7 Perbandingan daya serap air pada ketiga jenis water repellent . View in document p.46
Tabel 9. Syarat pengembangan tebal papan partikel
Tabel 9 Syarat pengembangan tebal papan partikel . View in document p.48
Gambar 8.Perbandingan pengujian pengembangan tebal 2 jam pada ketiga jenis perlakuanwater repellent
Gambar 8 Perbandingan pengujian pengembangan tebal 2 jam pada ketiga jenis perlakuanwater repellent . View in document p.49
Gambar 9. Perbandinganpengujianpengembangan tebal 24 jam pada ketiga jenis perlakuanwater repellent
Gambar 9 Perbandinganpengujianpengembangan tebal 24 jam pada ketiga jenis perlakuanwater repellent . View in document p.50
Gambar 10.Perbandingan pengujian keteguhan rekat (internal bond) pada ketiga
Gambar 10 Perbandingan pengujian keteguhan rekat internal bond pada ketiga . View in document p.52
Gambar 11. Perbandingan kuat pegang sekruppada ketiga jenis perlakuanwater repellent
Gambar 11 Perbandingan kuat pegang sekruppada ketiga jenis perlakuanwater repellent . View in document p.54
Tabel 11. Syarat minimum keteguhan cabut sekrup (KPS) papan partikel
Tabel 11 Syarat minimum keteguhan cabut sekrup KPS papan partikel . View in document p.56
Gambar 12. Perbandingan pengujian modulus of elasticity (MOE) pada ketiga jenis perlakuan water repellent
Gambar 12 Perbandingan pengujian modulus of elasticity MOE pada ketiga jenis perlakuan water repellent . View in document p.57
Tabel 12. Syarat minimum modulus elastisitas papan partikel
Tabel 12 Syarat minimum modulus elastisitas papan partikel . View in document p.58
Gambar 13.  Perbandingan pengujian modulus of rupture (MOR) pada ketiga jenis perlakuanwater repellent
Gambar 13 Perbandingan pengujian modulus of rupture MOR pada ketiga jenis perlakuanwater repellent . View in document p.60

Referensi

Memperbarui...