Kajian ekofisiologi tanaman semusim penyusun agroforestri pada beberapa zona agroklimat di DAS Ciliwung Hulu

126  Download (0)

Teks penuh

(1)

KAJIAN EKOFISIOLOGI TANAMAN SEMUSIM

PENYUSUN AGROFORESTRI PADA BEBERAPA

ZONA AGROKLIMAT DI DAS CILIWUNG HULU

ABD. HARIS BAHRUN

Ds

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)

PERNYATAAN MENGENAI DISERTASI DAN SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa disertasiKajian Ekofisiologi Tanaman Semusim Penyusun Agroforestri pada beberapa Zona Agroklimat di DAS Ciliwung Hulu”adalah karya saya sendiri dengan arahan Komisi Pembimbing dan belum pernah diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka di bagian akhir disertasi ini.

Bogor, Januari 2012

(3)

ABSTRACT

ABD. HARIS BAHRUN. An Eco-Physiological Study of Seasonal Crops that Form Agroforestry in Some Agroclimate Zones on the Upstream Watershed of Ciliwung. Under Supervisor of M.A. CHOZIN as a chairman, HADI SUSILO ARIFIN and DUDUNG DARUSMAN as members of the advisory committee.

The study consists of three major experiments, namely: the identification and analysis of planting patterns; eco-physiological assessment of seasonal crops; and analysis of land productivity and financial analysis of the agroforestry system in some agro-climate zones.The research objectives were to analyze planting patterns and vegetations that create agroforestry as well as the characteristics of microclimate in some agro-climate zones;examine the eco-physiological characteristics of seasonal crops under different levels of shading; determine the productivity of land and make a financial analysis of agroforestry farming patterns based on the composition and constituent species of agroforestry.

The study results of the first stage showed that the land cultivation of the agroforestry system in the climate zone A was quite intensive. The annual crops were cultivated 3-4 times during the planting period one year in the agroforestry system, but 2-3 times in the agro-climate zone C. The combination of agroforestry system with monoculture was more dominant in zone A (60.58%) and B (57.75%) with a simple agroforestry pattern, whereas in zone C (41%) it was with a complex agroforestry pattern. There were seven stands of perennial crops suitable for the agroforestry pattern. The resulted analysis of micro-climate and production found that four types of crops can be planted in the agroforestry system: Lycopersicon esculentum Mill, Capsicum frustescens L, Colocasia esculenta L and Zea mays L. saccharata.In the second experiment, the annual crops from the selection in the first experiment were analyzed for eco-physiological characteristics. It was found that that the most suitable plants grown with the agroforestry pattern were Lycopersicon esculentum Millin zone A; Colocasia esculenta L. in zone A and B; Capsicum frustescens L. in zone B and C; and Zea mays L. saccharata. in zone C. The characteristics that mostly determined the tolerance of the annual crops to the shade were the high interception of solar radiation, the coefficient of light and darkness as well as increased levels of chlorophyll a and b, the reduced ratio of chlorophyll a/b. Some physiological characteristics of plants were found to be related to the efficiency in the capture and use of solar radiation intensity, which include: photosynthesis rate, Photosyntetic Active Radiation(PAR), stomata conductance and CO2 internal. The results of the third-stage experiment showed that the agroforestry systems in three agro-climate zones were technically and economically feasible based on the land productivity and financial analyses. In the agro-climate zone A, that is, the agroforestry system with cinnamon stands the composition and the best annual crops were carrot and tomato. In zone B with albazia stands, the best crops were taro and chili pepper. Zone C consisted of mindi timber stands and sweet corn.

(4)

RINGKASAN

ABD. HARIS BAHRUN. Kajian Ekofisiologi Tanaman Semusim Penyusun Agroforestri pada beberapa Zona Agroklimat di DAS Ciliwung Hulu. Dibimbing olehM.A. CHOZIN (Ketua Komisi), HADI SUSILO ARIFIN, dan DUDUNG DARUSMAN (Anggota Komisi Pembimbing).

Lahan kering merupakan salah satu lahan yang potensial untuk pengembangan komoditi pertanian, diperkirakan sekitar 124 juta hektar di daratan Indoensia. Umumnya dijumpai di bagian hulu dan tengah daerah aliran sungai (DAS) dengan lereng yang curam, tanahnya kurang subur dan dangkal. Agroforestri merupakan sistem dan teknologi penggunaan lahan yang mengkombinasikan produksi tanaman pangan dan tegakan pohon pada unit lahan yang sama. Agroforestri adalah pola usahatani produktif yang tidak saja mengetengahkan kaidah konservasi tetapi juga kaidah ekonomi. Sistem ini diharapkan dapat mengintegrasikan teknologi budidaya pertanian dan kehutanan. Sehingga diperoleh sistem pengelolaan lahan di DAS yang optimal, mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat, memperkecil degradasi lahan dan meningkatkan fungsi hidrologis lahan. Pemilihan jenis tanaman yang sesuai zona agroklimat dan kombinasi tanaman dalam sistem agroforestri, merupakan suatu hal yang mutlak diperhatikan.

(5)

Mill , Zona A dan B adalah Colocasia esculenta L, di zona B dan C adalah Capsicum frutescens L., sedangkan pada zona C adalah Zea maysL. saccharata.

Hasil penelitian pada tahap kedua menunjukkan bahwa terdapat keragaman karakter morfo-fisiologi tanaman semusim pada perbedaan tingkat naungan dan zona agroklimat. Karakter yang paling menentukan sifat toleransi tanaman semusim terhadap naungan N2 (intensitas radiasi surya 120-230 kal/cm2/hari) adalah tingginya intersepsi radiasi surya, koefisien penyirnaan serta meningkatnya kadar klorofil a dan b. Peningkatan klorofil b lebih tinggi dibanding klorofil a yang ditunjukkan dengan penurunan ratio klorofil a/b. cekaman naungan pada sistem agroforestri berdampak kepada perbedaan keragaman karakter morfo-fisiologi tanaman semusim pada berbagai tingkat naungan dan zona agroklimat. Karakter yang paling menentukan sifat toleransi tanaman semusim terhadap naungan adalah tingginya intersepsi radiasi surya, koefisien penyirnaan serta meningkatnya kadar klorofil a dan b. Peningkatan klorofil b lebih tinggi dibanding klorofil a yang ditunjukkan dengan penurunan ratio klorofil a/b. Titik kritis untuk pengembangan tanaman semusim secara agroforestri diperoleh pada naungan N2 (intensitas radiasi surya 120-230 kal/cm2/hari). Terdapat beberapa karakter fisiologi tanaman yang terkait dengan efisiensi penangkapan dan penggunaan intensitas radiasi surya yang meliputi: laju fotosisintesis, Photosyntetic Active Radiation (PAR), konduktan stomata dan CO2 internal.

Hasil penelitian tahap ketiga menunjukkan bahwa sistem agroforestri pada tiga zona agroklimat (A, B, C), di DAS Ciliwung hulu layak secara teknis maupun ekonomis berdasarkan indikator nilai kesetaraan lahan (NKL) dan analisis kelayakan ekonomi. Pada zona agroklimat A dengan sistem agroforestri tegakan kayu manis, komposisi dan jenis tanaman semusim yang terbaik adalah wortel + tomat, nilai NKL pada perlakuan N0 = 1.55 dan N2 = 159. Zona agroklimat B dengan sistem agroforestri tegakan kayu albizia, komposisi dan jenis tanaman semusim yang terbaik adalah tanaman talas + cabai rawit, nilai NKL pada perlakuan N0 = 1.64 dan N2 =165, Pada zona agroklimat C dengan sistem agroforestri tegakan kayu mindi, komposisi dan jenis tanaman semusim yang terbaik adalah talas + jagung manis, nilai NKL pada perlakuan N0 = 2.20 dan N2 = 2.27. Hasil analisis finansial pada zona A terlihat pola usahatani Kayu Manis + Wortel + Tomat adalah yang terbaik dengan NPV Rp 9.101.318, BCR = 2.89 dan IRR 49%. Pada zona B terlihat pola agroforetri Kayu Albizia + Cabai Rawit + Talas menghasilkan hasil kriteria kelayakan finansial lebih baik dibanding 2 skenario lainnya, yaitu NPV Rp. 10.865.887, BCR= 2.96 dan IRR= 52%. Hasil analisis kelayakan pada zona C terlihat pola usahatani Kayu Mindi + Jagung + Talas menghasilkan hasil kriteria kelayakan finansial lebih baik dengan NPV= Rp. 8.849.687, BCR 2.93 dan IRR = 57%.

(6)

© Hak cipta milik Institut Pertanian Bogor, tahun 2012 Hak cipta dilindungi Undang-Undang

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencamtumkan atau menyebutkan sumber. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB

(7)

KAJIAN EKOFISIOLOGI TANAMAN SEMUSIM

PENYUSUN AGROFORESTRI PADA BEBERAPA

ZONA AGROKLIMAT DI DAS CILIWUNG HULU

ABD. HARIS BAHRUN

Disertasi

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Doktor pada

Program Studi Agronomi

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(8)

Penguji Luar Komisi Ujian Tertutup: Dr. Ir. Sudradjat, M.Sc. Dr. Ir. Edi Santosa, M.Si.

Penguji Luar Komisi Ujian Tertutup: Prof. Dr. Ir. Didy Sopandie, M.Agr. Dr. Ir. Christine Wulandari, M.Sc.

(9)

Judul Disertasi : Kajian Ekofisiologi Tanaman Semusim Penyusun Agroforestri pada Beberapa Zona Agroklimat di DAS Ciliwung Hulu

Nama : Abd. Haris Bahrun

NIM : A156010081

Disetujui

Komisi Pembimbing

Prof. Dr. Ir. H. M. Ahmad Chozin, M.Agr. Ketua

Prof. Dr. Ir. H. Hadi Susilo Arifin, M.S. Anggota

Prof. Dr. Ir. H. Dudung Darusman, M.A. Anggota

Diketahui :

Ketua Program Studi Agronomi

Prof. Dr. Ir. Munif Ghulamahdi, M.S.

Dekan Sekolah Pasacasarjana

Dr. Ir. Dahrul Syah, M.Sc.Agr.

(10)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah Rabbul Alamien karena

dengan rahmat dan hidayah-Nya sehingga disertasi ini dapat diselesaikan.

Disertasi ini menguraikan hasil penelitian tentang Kajian Ekofisiologi Tanaman

Semusim Penyusun Agroforestri pada Beberapa Zona Agroklimat di DAS

Ciliwung Hulu. Disertasi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh

gelar Doktor pada Sekolah Pascasarjana di Institut Pertanian Bogor.

Penulis menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang

setinggi-tingginya kepada :

1. Prof. Dr. Ir. H. M.A. Chozin, M.Agr. (Ketua komisi pembimbing), Prof.

Dr. Ir. H. Hadi Susilo Arifin, M.S. dan Prof. Dr. Ir. H. Dudung Darusman,

M.A, (Anggota komisi pembimbing). Selaku komisi pembimbing yang

telah banyak memberikan bimbingan, arahan dan motivasi mulai dari

perencanaan dan pelaksanaan penelitian sampai penyelesaian penulisan

disertasi ini.

2. Pimpinan beserta staf Institut Pertanian Bogor yang telah berkenan

menerima penulis untuk melanjutkan pendidikan Program Doktor.

3. Pimpinan beserta staf Universitas Hasanuddin yang telah mengizinkan dan

merekomendasikan untuk melanjutkan pendidikan Program Doktor.

4. Departemen Pendidikan Nasional (Dirjen DIKTI), yang telah memberikan

bantuan beasiswa selama mengikuti pendidikan Program Doktor di IPB.

5. Proyek kerjasama Core University Program IPB - Tokyo University

(Research Unit of Biological Resources Development/ RUBRD-JSPS

DGHE) Periode 2003-2008, Judul: Landscape Ecological Studies on

Sustainable Bioresources Management in Rural Indonesia dan Hibah

Penelitian Tim Pascasarjana (HPTP-Hibah Penelitian Tim Pasca) DP2M,

DIKTI Angkatan IV periode 2006-2008 Depdiknas, Judul: Harmonisasi

Pembangunan Pertanian Berbasis DAS pada Lanskap Desa Kota Kawasan

Bogor-Puncak-Cianjur (BOPUNJUR). Penelitian ini merupakan bagian

dari payung penelitian di bawah koordinasi Prof Dr. Hadi Susilo Arifin,

(11)

6. Hibah Penelitian Program Doktor dari Dirjen DIKTI, Pemerintah Daerah

Sulawesi Selatan dan Beasiswa Toyota Astra yang telah membantu

membiayai penelitian ini.

7. Pimpinan beserta staf Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi

(Balitklimat) Litbang-Deptan, staf Laboratorium Ekofisiologi IPB, staf

Jurusan Agroklimat IPB, aparat pemerintahan dan kelompok tani di

kawasan DAS Ciliwung, BPDAS Ciliwung-Cisadane, yang telah

membantu memfasilitasi peralatan, data-data agroklimat serta lahan

penelitian.

8. Seluruh keluarga, terkhusus kapada kedua orang tua, mertua, adik, istri

dan anak-anak yang tercinta, yang telah memberikan bantuan dan motivasi

untuk penyelesaian studi.

9. Rekan-rekan mahasiswa pascasarjana di Institut Pertanian Bogor dan rekan

yang tergabung dalam forum Mahasiswa Pascasarjana se Indonesia

(Forum Wacana Indonesia) serta semua pihak yang telah membantu

selama penulis mengikuti pendidikan di IPB.

Semoga bimbingan dan bantuan yang telah diberikan mendapat nilai ibadah

yang diterima oleh Allah SWT, dan disertasi ini dapat bermanfaat bagi

pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya di bidang pertanian. Amin.

Bogor, Januari 2012

(12)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Kabupaten Gowa-Sulawesi Selatan pada tanggal

11 Agustus 1967 sebagai anak ke dua dari tiga bersaudara dari ayah H. Bahrun

Sibali (Alm) dan ibu Hj. Saribina (Alm). Penulis menikah dengan Andi Akmawati

Burhanuddin dan telah dikaruniai empat orang anak: A. Mutiah Amalia, A.

Yustika Afifah, A.H. Zalzabila (alm) dan A. Anugerah A.Amanagappa.

Pendidikan sarjana ditempuh di Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas

Pertanian dan kehutanan Universitas Hasanuddin Kota Makassar, lulus pada tahun

1993. Tahun 1996 melanjutkan studi Magister pada Program Studi Agronomi

Pascasarjana Institut Pertanian Bogor (IPB), selesai Januari 1999. Sejak tahun

2001 penulis melanjutkan pendidikan Program Doktor pada Departemen

Agronomi Sekolah Pascasarjana IPB dengan Beasiswa Bantuan Pendidikan

Program Doktor (BPPS) dari Departemen Pendidikan Nasional Republik

Indonesia.

Penulis menjadi asisten dosen di Universitas Hasanuddin tahun 1990-1993

dengan Tunjangan Ikatan Dinas (TID). Mulai tahun 1994 sampai sekarang

menjadi dosen tetap pada Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian

Universitas Hasanuddin - Makassar.

Sebagian isi dari disertasi ini telah dipresentasikan dan dipublikasikan pada

1. International Seminar of Toward Harmonization between Development and

Environmental Conservation in Biological Production. 28-29 February 2008

in Tokyo, Japan, and FAO Forest Meeting, 21-26 April 2008 in Hanoi,

Vietnam.

2. National Seminar and General Meeting “Agroforestry Education Strategy

for Global Climate Change”, 3-5 March 2008, in Sebelas Maret Univ.

Surakarta.

3. Jurnal Agrivigor, Volume 7, nomor 1 Desember 2007 (Jurnal Akreditasi

Nasional) Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas

(13)

4. The 13th National Seminar of Persada: “Science, Technology and Art Based

for National Development Toward Autonomous Nation”, 9 August 2007 in

Fak. Kedokteran Hewan IPB Bogor.

5. International Seminar of Agroforestry and Workshop, Second General

Meeting of INAFE, 7-8 February 2006, 6-7 February 2006 in Gadjah Mada

Univ., Yogyakarta.

6. International Seminar : “Toward Harmonization between Development and

Enviromental Conservation in Biological Production” Cilegon-Banten 3-5

December 2004.

7. International Seminar : “Toward Rural and Urban Sustainable

Communities: Restructuring Human – Nature Interaction”, Bandung 6 – 7

(14)
(15)

DAFTAR ISI

Kendala dan Potensi Pemanfataan Lahan Kering pada Produksi Pertanian ……... 10 Peningkatan Produksi Pertanian melalui Sistem Agroforestri …….... 12

Pola Pengembangan Lahan Pertanian di Daerah Aliran Sungai ……. 15

Zona Agroklimat dan Adaptasi Tanaman pada Sistem Agroforestri ………... 19 Adaptasi Tanaman Terhadap Cahaya Rendah ……... 24

IDENTIFIKASI DAN ANALISIS POLA TANAM SISTEM AGROFORESTRI DIBEBERAPA ZONA AGROKLIMAT Abstrak ……... 26

Analisis Biofisik dan Pola Tanam Agroforetri ……... 31

Sistem Agroforestri di beberapa Zona Agroklimat ……... 43

Simpulan ………. 50

(16)

Halaman

Hasil dan Pembahasan ……… 56

Karateristik Iklim Mikro pada Berbagai Zona Agroklimat ……….... 56

Kondisi umu tanaman pada berbagai tingklat naungan di beberapa zona agroklimat ……….………... 60

Respon Morfo-fisiologi Tanaman terhadap naungan di Berbagai Zona Agroklimat ………... 63

Analisis Kesesuaian Tanaman untuk Sistim Agroforestri di Berbagai Zona Agroklimat ………... 73

Simpulan ……….. 75

ANALISIS PRODUKTIVITAS LAHAN DAN ANALISIS FINANSIAL SISTEM AGROFORESTRI DI BERBAGAI ZONA AGROKLIMAT Abstrak ………. 76

Latar Belakang ……… 76

Bahan dan Metode ……… 76

Tempat dan Waktu ……….. 81

Metode Percobaan ………... 81

Peubah yang Diamati ……... 82

Hasil dan Pembahasan ………. 83

Analisis Ratio Kesetaraan Lahan ………... 83

Analisis Finansial Usahatani Sistem Agroforetri ……… 87

Simpulan . ………..……….. 93

PEMBAHASAN UMUM ……... 94

SIMPULAN DAN SARAN ……... 101

(17)

DAFTAR TABEL

Halaman

1 Deskripsi nilai rata-rata unsur iklim pada perbedaan zona agroklimat..

32

2 Peruntukan lahan dan luas DAS Ciliwung Tahun 2007……… 33

3 Penggunaan lahan dan luas peruntukan DAS Ciliwung Hulu

2007……… 35

4 Perbandingan pola tanam pada system agroforestry pada setiap zona

agroklimat ……… 40

5 Jenis tanaman tahunan, pola tanam dan tanaman yang toleran terhadap naungan pada berbagai zona agroklimat ……….

41

6 Hasil relatif (% terhadap kontrol) beberapa tanaman semusim dengan sistem agroforetri pada perlakuan naungan N2 (50%) di zona agroklimat A, B dan C ………...

42

7 Rata rata kondisi iklim mikro di bawah tegakan tanaman kehutanan pada berbagai zona agroklimat ………

57

8 Respon fisiologi beberapa tanaman semusim di zona agroklimat A pada perlakuan naungan N0,N1 dan N2……….

61

9 Respon fisiologi beberapa tanaman semusim di zona agroklimat B pada perlakuan naungan N0,N1 dan N2 ………..

66

10 Respon fisiologi beberapa tanaman semusim di zona agroklimat C pada perlakuan naungan N0,N1 dan N2………

69

11 Produksi tanaman semusim pada berbagai tingkat naungan dan zona agroklimat………..

73

12 Produksi tanaman wortel dan tomat dengan sistem monokultur dan tumpangsari pada sietem agroforetri di zona agroklimat A…………..

84

13 Produksi tanaman talas dan cabe rawit dengan sistem monokultur dan tumpangsari pada sietem agroforetri di zona agroklimat B ………

84

14 Produksi tanaman talas dan jagung dengan sistem monokultur dan tumpangsari pada sietem agroforetri di zona agroklimat C………..

(18)

15 Analisis finansial sistem agroforestri pada zona agroklimat A………

88

16 Analisis finansial sistem agroforestri pada zona agroklimat B……….

89

17 Analisis finansial sistem agroforestri pada zona agroklimat C………

(19)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

1 Alur pikir penelitian ………... 9

2 Peta kemiringan lereng Ciliwung hulu 2007……….. 32

3 Peta Penggunaan lahan Ciliwung hulu 2007……….. 34

4 Peta Zona Agroklimat DAS Ciliwung dan lokasi pengambilan sampel penelitian ……….

36

5 Jumlah curah hujan di DAS Ciliwung pada tiga zona agroklimat ……. 37

6 Jumlah hari hujan di DAS Ciliwung pada tiga zona agroklimat………. 37

7 Rata-rata intensitas radiasi surya (kal/cm2 /hari) dan suhu udara (o C) di bawah tegakan pohon tahunan antar zona agroklimat A …………

44

8 Rata-rata intensitas radiasi surya (kal/cm2 /hari) dan suhu udara (o C) di bawah tegakan pohon tahunan antar zona agroklimat B …………

44

9 Rata-rata intensitas radiasi surya (kal/cm2 /hari) dan suhu udara (o C) di bawah tegakan pohon tahunan antar zona agroklimat C ………….

44

10 Rata-rata kelembaban udara (%) pada berbagai zona agroklimat

(20)

1 1 PENDAHULUAN

Latar Belakang

Lahan kering merupakan salah satu lahan yang potensial untuk

pengembangan komoditi pertanian. Hal ini didasari oleh luasnya mencapai 88,6

% dari total lahan di Indonesia dan belum dimanfaatkan secara optimal namun

memiliki prospek yang sangat besar untuk penyediaan pangan bagi masyarakat.

Ketersediaan lahan tersebut ditunjang oleh keanekaragaman tanaman yang dapat

tumbuh dengan fungsi sebagai pengganti makanan pokok beras ataupun sebagai

komplementer dan subtitusi makanan. Pemanfatan lahan secara optimal dan

berkelanjutan merupakan salah satu tujuan dari pembangunan pertanian.

Indonesia memiliki lahan kering sekitar 148 juta ha (78%) dan lahan

basah (wet lands) seluas 40,20 juta ha (22%) dari 188,20 juta ha total luas daratan.

Lahan yang yang sesuai untuk budidaya pertanian hanya sekitar 76,22 juta ha

(52%), sebagian besar terdapat di dataran rendah (70,71 juta ha atau 93%) dan

sisanya di dataran tinggi. Di wilayah dataran rendah, lahan datar sampai

bergelombang (lereng < 15%) yang sesuai untuk pertanian tanaman pangan mencakup 23,26 juta ha sedang pada lahan dengan lereng15−30%, lebih sesuai untuk tanaman tahunan (47,45 juta ha). Di dataran tinggi, lahan yang sesuai

untuk tanaman pangan hanya sekitar 2,07 juta ha, dan untuk tanaman tahunan 3,44

juta ha. Sebagian besar lahan kering tersebar pada dataran rendah yakni

hamparan lahan yang berada pada ketinggian 0 – 700 m dpl (60,65%) dan dataran

tinggi yang terletak pada ketinggian >700 m dpl (39,35%) (Hidayat dan Mulyani,

2002; Adimihardja et al. 2005; Notohadiprawiro 200; Minardi 2009).

Pengembangan komoditi pangan dapat juga dilakukan pada lahan

kehutanan dengan syarat-syarat teknis dan kebijakan yang berlaku. Luas hutan di

Indonesia mencapai 180 juta hektar, namun sebagian besar hutan tersebut telah

mengalami deforestasi (kerusakan hutan) dan dalam kondisi rusak akibat bekas

area HPH (hak penguasaan hutan). Dari total luas hutan di Indonesia hanya

sekitar 23 persen atau setara dengan 43 juta hektar saja yang masih terbebas dari

deforestasi sehingga masih terjaga dan berupa hutan primer (BPS Kehutanan

(21)

2 2 Lahan pertanian yang dapat ditanami hanya sekitar 60 juta ha atau 30 %

dari total luas lahan. Lebih dari 87 % dari total lahan pertanian atau lebih dari 52

Juta ha yang dapat ditanami adalah lahan kering, sedangkan 13 % sisanya berupa

lahan sawah. Jumlah sebesar 52 juta ha tersebut meliputi areal kebun/ladang,

tanaman perkebunan, semak belukar dan pepohonan serta lahan lahan yang belum

dimanfaatkan atau lahan bero.

Terdapat beberapa kendala yang kurang mendukung pada pengembangan

sistem usahatani di lahan kering diantaranya adalah (1) kendala dari segi fisik dan

kesuburan tanah yang sangat minim serta terbatasnya ketersediaan air sepanjang

tahun (2) topografi yang tajam dengan penutupan vegetasi yang rawan, sehingga

laju infiltrasi dan erosi tanah cukup tinggi; (3) hujan yang tidak tersebar secara

merata, dan kemampuan tanah yang rendah untuk menyimpan air, (4) masih

terbatasnya dukungan paket teknologi, laju perbaikan dan penyaluran paket

teknologi pada proses produksi berlangsung lambat; (5) terbatasnya prasarana,

jangkauan pelayanan dan kemudahan serta ketersediaan agroinput dan pemasaran

hasil sangat terbatas; (6) lokasi pengembangan yang tersebar, terpencil dengan

skala pengembangan yang ada umumnya tidak mencapai minimum skala

ekonomi, sehingga mempersulit pelayanan bimbingan dan penyuluhan; (7) benih

yang digunakan pada umumnya masih benih lokal dengan ciri umum berumur

panjang dengan produktivitas rendah (Las et al. 1997; Sitorus 2001; Kusmana

1988; Arsyad 2000).

Menurunnya laju produksi pertanian (pangan dan buah-buahan) pada

tahun terakhir ini, yang bersamaan dengan krisis ekonomi nasional dan regional,

menyebabkan pendapatan petani semakin rendah. Hal ini juga menyadarkan

banyak kalangan untuk mereformasi arah pembanguan pertanian dengan

meletakkan sektor pertanian sebagai andalan penggerak pemulihan dan

pertumbuhan ekonomi nasional. Berdasarkan hal tersebut perlu dipertajam ruang

lingkupnya dengan memasukkan pemanfaatan sumberdaya lahan kering sebagai

sumber produksi pangan andalan, melalui upaya yang terencana untuk

(22)

3 3 Salah satu sistem usahatani yang mampu memperkecil kendala

pengembangan pertanian dilahan kering adalah dengan sistem agroforestri.

Agroforestri merupakan sistem dan teknologi penggunaan lahan yang

mengkombinasikan produksi tanaman dan kehutanan pada unit lahan yang sama.

Agroforestri adalah pola usahatani produktif yang tidak saja mengetengahkan

kaidah konservasi tetapi juga kaidah ekonomi (Chozin 1995, Kusmarini 2002,

Arifin 2002 dan, Wijayanto 2002 dan Nair 1993). Sistem agroforestri dapat

menumbuhkan tanaman pada kondisi sub-optimum, menggantikan spesies/

varietas yang toleran terhadap naungan seperti talas-talasan (Chozin 2006).

Penerapan sistem agroforestri sebenarnya telah banyak diterapkan di

beberapa lokasi lahan kering yang berkemiringan curam, sekaligus sebagai

komplemen teknologi konservasi lahan. Sistem ini mampu memberikan

pendapatan yang cukup tinggi bagi masyarakat dan berkesinambungan karena

memiliki resiliensi yang tinggi (Darusman 2002). Kendala dalam pemanfaatan

lahan di bawah tegakan (agroforestri) adalah rendahnya intensitas radiasi surya,

yang berakibat pada proses pertumbuhan dan produksi. Naungan dapat

mengurangi jumlah anakan, bobot kering tajuk, indeks luas daun dan hasil padi

gogo (Marler 1994; Murty dan Dey 1992; Ahmed 1990; Chozin 2006 dan Haris

et al. 1999).

Pengembangan sistem usahatani pada daerah aliran sungai (DAS)

diarahkan kepada pengelolaan lahan yang mempunyai efek ganda terhadap

keberlanjutan lingkungan. Lahan merupakan bagian dari bentang lahan (lanskap)

yang meliputi lingkungan fisik termasuk iklim, topografi/relief, hidrologi tanah

dan keadaan vegetasi alami yang semuanya secara potensial akan berpengaruh

terhadap penggunaan lahan. Berdasarkan penggunaan lahan di DAS secara garis

besar dikelompokkan menjadi : hutan, tegalan, perkebunan sawah, permukiman

dan penggunaan lain. Penetapan penggunaan lahan pada umumnya didasarkan

pada karakteriktik lahan dan daya dukung lingkungan yang ada. Sistem

agroforestri merupakan salah satu sistem pertanaman yang mampu menjaga

kelestarian lingkungan. Sistem ini baik dikembangakan karena mempunyai

manfaat dari segi pelestarian, keanekaragaman jenis (biodiversity), unsur hara

(23)

4 4 Pencapaian sistem ini dapat dilakukan dengan mengoptimalkan pemanfaatan

faktor lingkungan fisik, sosial-ekonomi dan teknologi secara terpadu. (Chozin

1995, Arifin et al. 2009, Darusman 2002 dan Widaningsih 1991).

Di beberapa daerah pada bagian hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) telah

banyak diusahakan usahatani dengan kombinasi beberapa tanaman tahunan,

sedangkan pada daerah dengan kemiringan rendah umumnya diusahakan tanaman

pangan dan palawija atau tanaman makanan ternak. Pengelolaan lahan kering,

khususnya di sekitar DAS dengan sistem agroforestri sangat diperlukan sebagai

sumberdaya pembangunan yang memiliki potensi strategis antara lain : (1) lahan

kering merupakan luasan terbesar dari wilayah budidaya, (2) lahan kering dapat

memasok sebagai besar komoditas andalan (3) lahan kering mempunyai

keanekaragaman komoditas untuk pengembangan agroindustri (Widaningsih

1991; Suhara 1991 dan Badrun 1998)

Agar pembangunan pertanian dapat berjalan secara berkelanjutan, maka

usahatani yang dilaksanakan harus memperhatikan daya dukung lahan dan

kesesuaian lahan untuk komoditas yang diusahakan, supaya lahan tidak cepat

terdegradasi. Untuk itu perlu pengelolaan tanah dan usahatani yang bersifat

spesifik sesuai zona agroklimat untuk pertumbuhan tanaman. Teknologi sistem

usahatani konservasi di DAS yang dapat mengendalikan erosi tanah pada lahan

kering, khususnya di bagian hulu. Terdapat 4 (empat) komponen dalam teknologi

sistem usahatani konservasi yaitu (1) teknologi pengawetan tanah dan air, (2)

pola tanaman tahunan yang mendukung kegiatan konservasi tanah dan air, (3)

pola tanam semusim yang dikombinasikan dengan tanaman tahunan. (Sinukaban

2003; Sitorus 2001; Fagi et al. 1988).

Pola tanam dengan sistem agroforestri yang selama ini dilakukan oleh

masyarakat belum didasarkan pada pertimbangan keberlanjutan suatu usahatani,

tetapi hanya sebagai usaha sampingan yang belum dikelola secara optimal.

Beragamnya jenis tanaman yang diusahakan petani, serta belum adanya pola

pertanaman agroforestri yang optimal, khususnya di DAS, maka diperlukan

adanya model pengembangan agroforestri yang mempunyai produktivitas tinggi

dan berkelanjutan berdasarkan zona agroklimat. Faktor paling dominan untuk

(24)

5 5 tempat di atas permukaan laut (elevasi) dan curah hujan. Hal ini sangat

diperlukan untuk mengetahui produksi optimal dari jenis dan kombinasi tanaman

yang tepat. Disamping itu akan diperoleh waktu tanam tepat yang produksinya

dapat disesuaikan dengan kebutuhan pasar, sehingga komoditas tersebut bernilai

ekonomi tinggi.

Berbagai upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pendapatan

petani pada sistem agroforestri, diantaranya dengan mengusahakan tanaman

semusim dan tahunan dengan jenis yang berproduktivitas tinggi serta bernilai

ekonomi tinggi. Saat ini masih sedikit program pemerintah, baik penelitian

ataupun paket-paket teknologi dalam pemanfaatan lahan kering untuk

pengembangan sistem agroforestri, karena masih terbatasnya informasi tentang

pelaksanaan sistem agroforestri yang optimal. Berdasarkan hal tersebut

diperlukan adanya kajian pemanfaatan lahan kering, yang mencakup interaksi

unsur iklim, ekofisiologis tanaman, kesesuaian agroklimat, analisis usahatani,

serta analisis keberlanjutannya. Berdasarkan permasalahan tersebut maka

penelitian tentang kajian ekofisiologi tanaman semusim penyusun agroforetsri

pada beberapa zona agroklimat, diharapkan dapat memberikan solusi yang terbaik

untuk pengelolaan sistem agroforestri khususnya di daerah aliran sungai yang

sangat rentan terhadap degradasi lahan (Gambar 1).

Perumusan Masalah

Pengelolaan lahan kering yang kurang tepat atau tidak optimal di Daerah

Aliran Sungai (DAS) telah menimbulkan dampak kerusakan ekosistem.

Pemanfaatan DAS sangat beragam dan kompleks mulai dari hulu hingga hilir,

sehingga jika pengelolaannya tidak optimal sebagai sumber daya air di produksi

maka akan berdampak negatif. Salah satu dampak yang ditimbulkan adanya

berkurangnya bahan organik tanah, erosi, sedimentasi dan penurunan kualitas

serta kuantitas air. Sistem usahatani yang tidak memperhatikan aspek pengawetan

tanah dan air merupakan penyebab utama terjadinya kerusakan lingkungan atau

degradasi lahan.

Degradasi lahan dapat berdampak terhadap menurunnya produktivitas

(25)

6 6 DAS sangat terkait dengan aspek-aspek sumberdaya manusia (petani), teknologi,

sumberdaya tanah dan air serta aspek soial-ekonomi yang ada di masyarakat.

Penggunaan lahan umumnya didasarkan pada karakteristik lahan dan daya dukung

lingkungannya. Bentuk penggunaan lahan yang ada dikaji melalui proses evaluasi

lahan untuk berbagai penggunaannya.

Tingginya tingkat kerusakan lahan erat kaitaannya dengan desakan

kebutuhan ekonomi masyarakat dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk,

yang tidak disertai dengan perluasan areal pertanian. Masyarakat semakin

terdesak untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sehingga melakukan usahatani

di DAS untuk memperoleh produk pertanian yang berproduksi dengan cepat

diantaranya tanaman semusim. Untuk mengurangi tingkat kerusakan lahan dan

penebangan tanaman tahunan maka salah satu pola tanam yang telah banyak

diterapkan adalah sistem agroforestri, sistem ini merupakan sistem pertanaman

antara tanaman pangan (semusim) dengan tanaman tahunan (kehutanan), yang

juga banyak dijumpai di DAS. Sistem agroforestri diharapkan mampu

meningkatkan produktivitas lahan dan pendapatan petani serta penggunaan lahan

yang optimal (pendapatan maksimal dengan resiko lingkungan minimal) di lahan

kering.

Sistem agroforestri diharapkan petani dapat mengintegrasikan teknologi

budidaya pertanian dan kehutanan. Sehingga diperoleh sistem pengelolaan lahan

di DAS yang optimal, dengan demikian mampu meningkatkan pertumbuhan

ekonomi masyarakat, memperkecil degradasi lahan dan meningkatkan fungsi

hidrologis lahan. Pemilihan jenis tanaman yang sesuai zona agroklimatnya dan

kombinasi tanaman dalam sistem agroforestri, merupakan suatu hal yang mutlak

diperhatikan di dalam sistem usahatani di DAS. Penerapan ini diperlukan

pertimbangan kondisi kesesuaian lahan, waktu tanam dan ketersediaan air bagi

tanaman selama masa kritis pertumbuhan dan produksi.

Terdapat beberapa aspek penelitian yang dilakukan untuk menjawab

berbagai masalah pada sistem usahatani di lahan kering. Diantaranya adalah

aspek analisis pemanfaatan lahan kering melalui penyesuaian berbagai pola tanam

dan usahatani, ini didasari karena masih minimnya pedoman sistem pola tanam

(26)

7 7 dilakukan adalah mengetahui perbedaan respon pertumbuhan tanaman terhadap

perbedaan tingkat naungan/ karakteristik iklim mikro pada setiap zona agroklimat

Pada aspek ini juga dianalisis vegetasi penyusun dan komposisi sistem

agroforestri serta karakter ekofisiologinya.

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bersifat sangat strategis karena menyangkut keberlanjutan

sistem pengelolaan lahan kering di wilayah DAS, melalui penerapan teknik pola

tanam yang bertujuan melakukan kajian ekofisiologi tanaman semusim penyusun

agroforestri pada beberapa zona agroklimat di DAS Ciliwung. Secara khusus

penelitian ini bertujuan:

1. Menganalisis pola tanam dan vegetasi penyusun agroforestri serta

karakteristik iklim mikro pada beberapa zona agroklimat

2. Menganalisis respon morfo-fisiologi tanaman semusim penyusun

agroforestri pada perbedaan tingkat naungan dan zona agroklimat.

3. Menganalisis produktifitas lahan dan analisis finansial usahatani pola

agroforestri berdasarkan komposisi dan jenis tanaman penyusun

agroforestri.

Hipotesis

1. Terdapat perbedaan pola tanam, penyusun agroforestri dan karakteristik

iklim mikro pada beberapa zona agroklimat.

2. Terdapat perbedaan respon morfo-fisiologi tanaman semusim penyusun

agroforestri pada beberapa tingkat naungan dan zona agroklimat.

3. Berdasarkan produktifitas lahan dan analisis finansial diperoleh sistem

agroforestri yang terbaik berdasarkan komposisi dan jenis untuk setiap

(27)

8 8 Manfaat Penelitian

1. Sebagai pedoman atau landasan penerapan sistem agroforestri dengan

komposisi dan jenis tanaman semusim dan tahunan yang terbaik pada

setiap zona agroklimat.

2. Dasar pertimbangan untuk mengusahakan usahatani sistem agroforestri

dengan mengetahui karakteristik iklim mikro dan karakter ekofisiologi

tanaman semusim pada perbedaan tingkat naungan dan zona agroklimat.

3. Dapat menjadi model untuk perencanaan sistem usahatani agroforestri

yang lebih produktif berdasarkan ratio kesetaraan lahan dan analisis

(28)

9

Kajian Ekofisologi Tanaman Semusim Penyusun Agroforestri Pada Beberapa Zona Agroklimat

• Interpretasi peta Peta DAS Ciliwung : Peta Penutupan lahan, penggunaan lahan dan Peta iklim

• Karakteristik usaha tani agroforestri • Klasifikasi jenis tanaman agroforestri

(tanaman tahunan dan semusin)

• Adaptasi tanaman toleran naungan pada zona agroklimat

• Respon morfologi dan fisiologi tanaman • Karakteristik fisiologi tanaman toleran

naungan

(Laju fotosintesis, CO2 internal, konduktan stomata, laju transpirasi dan PAR)

• Kesesuaian tanaman pada sistem

agroforestri pada beberapa zona agroklimat

• Zona agroklimat

• Iklim mikro Agroforestri

• Karakteristik sistem agroforestri • Seleksi tanaman toleran naungan • Batas minimal tingkat naungan

• Karakterteristik/respon fisiologi dan tanaman toleran naungan • Kesesuaian tanaman dan efisiensi

penggunaan radiasi surya

• Pola tanam agroforestri • Analisis produktivitas Lahan • Analisis finansial usaha tani

• Pola agroforestri masing masing zona agroklimat

• Efisiensi usaha tani Agroforestri

Rekomendasi pola tanam agroforestri pada setiap zona agroklimat

(29)

10 TINJAUAN PUSTAKA

Kendala dan potensi pemanfataan lahan kering untuk produksi pertanian

Lahan kering selalu dikaitkan dengan pengertian bentuk bukan sawah

yang dilakukan oleh masyarakat di bagian hulu suatu daerah aliran sungai

(DAS), sebagai lahan atas (upland) atau lahan yang terdapat di wilayah

kering (kekurangan air) yang tergantung pada air hujan sebagai sumber

air. Pengembangan pertanian lahan kering seringkali menghadapi

berbagai kendala, seperti fisik, kimia dan biologi tanah serta ketersediaan

air, yang semuanya menyebabkan produktivitasnya sangat rendah. Lahan

kering dikelompokkan menjadi 9 (sembilan) jenis penggunaan, meliputi usaha

tani lahan kering (tegalan/kebun, padang rumput, tanah tidak diusahakan,

tanah hutan rakyat dan perkebunan) dan usaha tani lainnya (pekarangan/

bangunan, tanah rawa, tambak dan kolam/empang) (BPS 2009; Adimihardja

et al. 2005; Notohadiprawiro 2006 dan Minardi 2009).

Beberapa pengertian lahan kering diantaranya adalah lahan yang dalam

keadaan alamiah, bagian atas dan bawah tubuh tanah sepanjang tidak jenuh

air atau tidak tergenang dan sepanjang tahun di bawah kapasitas lapang.

Kelembaban tanah tersebut dipengaruhi oleh kondisi cuaca, fisiografis dan

edafis. Diperkirakan dari hampir 200 juta hektar luas daratan di Indoensia,

sekitar 124 juta hektar berupa lahan kering (Satari et al. 1991; Kartono

1998).

Menurut Prasad dan Power (1997) lahan kering di Indonesia menurut

sifatnya merupakan areal yang dibatasi oleh kendala-kendala sebagai berikut :

topografi yang tajam dengan penutupan vegetasi yang rawan, sehingga laju

infiltrasi dan erosi tanah cukup tinggi; hujan yang tidak tersebar secara merata,

dan kemampuan tanah yang rendah untuk menyimpan air. Kaidah umum yang

dinyatakan untuk dikembangkan adalah lahan kering antara kemiringan 0-15

%. Secara ideal lahan kering untuk budidaya tanaman pangan terbatas pada

daerah dengan relatif datar hingga berombak (kemiringan < 8%). Namun di

atas kemiringan 8% perlu persyaratan-persyaratan penanggulangan erosi

(30)

11 Rendahnya kandungan bahan organik pada lahan kering merupakan

salah satu kendala dalam meningkatkan produktivitasnya. Sisa dari tanaman

yang tumbuh di atasnya serta kotoran hewan merupakan sumber utama bahan

organik (Brady 1990). Sumberdaya lahan kering dan air secara ekonomi

maupun fisik merupakan sumberdaya terbatas yang kemanfaataannya sangat

ditentukan oleh kegiatan pemenuhan kebutuhan hidup layak. Kondisi fisik

lahan kering umumnya lahan tadah hujan berciri khas agroekologi lahan yang

amat beragam karena ketersediaan, tingkat erosi, tingkat adopsi teknologi

masih rendah dan ketersediaan modal sangat terbatas dan peka terhadap erosi.

Penggunaan air dalam bidang pertanian sampai saat ini masih mengandalkan

air yang bersumber dari curah hujan dengan sedikit dalam bentuk irigasi

(Momuat dan Wahid 1997; Badrun 1998).

Lahan kering umumnya dijumpai di bagian hulu dan tengah daerah

aliran sungai dengan lereng yang curam, tanahnya kurang subur dan dangkal,

sehingga menjadi kendala dalam pengembangan potensinya untuk usaha

pertanian. Lahan kering yang secara topografis umumnya terdapat di DAS

sangat mempengaruhi daur hidrologi dan fungsi DAS. Keanekaragaman

topografi menjadikan keragaman pada jenis tanah, kesuburan iklim mikro dan

vegetasi dalam wilayah yang sempit. (Partorahardjo et al. 1997; Arsyad

2000; Adimihardja et al. 2005 ).

Ciri penting dari pengelolaan sistem pertanian lahan kering di daerah

beriklim kering adalah pembukaan lahan umumnya dilakukan dengan cara

tebas bakar. Pembersihan lahan dilakukan dengan cara pembabatan dan

pembakaran serasah atau sisa-sisa tanaman; kondisi permukaan tanah relatif

terbuka sepanjang tahun; terbatasnya penggunaan pupuk dan bahan organik

serta bibit unggul; dan belum diterapkannya teknik konservasi (Solahuddin

dan Ladamay 1997)

Bentuk-bentuk konservasi sesuai dengan kondisi lahan yang

diusahakan, untuk daerah lahan kering miring masalah erosi adalah faktor

utama yang menyebabkan lahan menjadi marjinal dan produktivitasnya

(31)

12 erosi yang terjadi dengan cara memperpendek panjang lereng dan tingkat

kemiringan lereng (Sitorus 2001).

Pengelolaan lahan kering bertujuan untuk memantapkan dan

melestarikan produktivitas serta mempertahankan keanekaragaman alami

masyarakat biotik dalam batas-batas daya dukung lingkungan, pengawetan

tanah dan air. Pengembangan pertanian di lahan kering berpotensi untuk

swasembada pangan. Potensi tersebut antara lain dapat dilihat dari luas lahan

kering yang tersebar cukup luas di Indonesia (Sinukaban 1994).

Sistem Agroforestri dan Optimalisasi Penggunaan Lahan

Agroforestri diartikan secara luas terhadap suatu sistem usaha tani

yang mengintegrasikan secara spatial atau temporal tanaman pohon-pohonan

di dalam produksi tanaman rendah atau ikan, pada sebidang tanah yang sama.

Agroforestri merupakan bentuk penggunaan lahan yang dapat

mempertahankan dan meningkatkan produktivitas lahan secara keseluruhan

yang merupakan kegiatan campuran antara kegiatan kehutanan dan pertanian

baik secara bersama-sama atau secara bergilir dengan menggunakan

manajemen praktis yang disesuaikan dengan pola budaya masyarakat

setempat. (King dan Chandler 1978; Wijayanto 2002; Widaningsih 1991;

Arsyad 2000 ; Arifin 2005).

Sistem usahatani agroforestri secara garis besarnya dikelompokkan

menjadi 2 (dua) yaitu : (1). Sistem agroforestri sederhana, merupakan

perpaduan satu jenis tanaman tahunan dan satu atau beberapa jenis tanaman

semusim. Jenis pohon yang ditanam bisa bernilai ekonomi tinggi seperti

kelapa, karet, cengkeh, jati dan lain lain; atau bernilai ekonomi rendah seperti

dadap, lamtoro, kaliandra. Tanaman semusim biasanya padi, jagung,

palawija, sayur-mayur dan rerumputan; atau jenis tanaman lain seperti pisang,

kopi, coklat. Contoh: budidaya pagar (alley cropping) lamtoro dengan padi

atau jagung, pohon kelapa ditanam pada pematang mengelilingi sawah dan

lain-lain. (2). Sistem agroforestri kompleks, merupakan suatu sistem

pertanian menetap yang berisi banyak jenis tanaman (berbasis pohon) yang

(32)

13 ekosistem menyerupai dengan yang dijumpai di hutan. Sistem ini mencakup

sejumlah besar komponen pepohonan, perdu, tanaman musiman dan atau

rumput. Penampakan fisik dan dinamika di dalamnya mirip dengan ekosistem

hutan alam baik primer maupun sekunder. Sistim agroforestri kompleks ini

dibedakan atas (a) pekarangan berbasis pepohonan dan (b) agroforest

kompleks. Pekarangan, biasanya terletak di sekitar tempat tinggal dan luasnya

hanya sekitar 0.1 – 0.3 ha; dengan demikian sistem ini lebih mudah

dibedakan dengan hutan. Contoh: kebun talun dan sebagainya. Agroforest

kompleks, merupakan hutan masif yang merupakan mosaic(gabungan) dari

beberapa kebun berukuran 1-2 ha milik perorangan atau berkelompok,

letaknya jauh dari tempat tinggal bahkan terletak pada perbatasan desa, dan

biasanya tidak dikelola secara intensif (Hairiah et al. 2003; Sardjono et al.

2003).

Agroforestri mempunyai banyak bentuk, bila ditinjau dari segi ruang

dan waktu. Ditinjau dari segi ruang agroforestri mencakup dua dimensi yaitu

vertikal dan horizontal. Pada dimensi vertikal, peran agroforestri terutama

berhubungan erat dengan pengaruhnya terhadap ketersediaan hara,

penggunaan dan penyelamatan (capture) sumber daya alam. Bila ditinjau dari

segi waktu, dua komponen agroforestri yang berbeda dapat ditanam

bersamaan atau bergiliran. Pola Kombinasi tanaman kehutanan dan pertanian

sistem agroforestri harus memperhatikan ketersediaan hara dalam tanah

terutama dari segi pemilihan jenis dan pergiliran tanaman pertanian. Agar

tanah tidak terkuras unsur hara maka perlu dibuat pergiliran tanaman

pertanian yang dikombinasikan dengan tanaman kehutanan. Setelah beberapa

kali penanaman dan panen tanaman pertanian perlu digantikan dengan

tanaman kacang-kacangan yang termasuk dalam jenis leguminosae. Jenis ini

dapat bersimbiosis dengan bakteri penambat nitrogen untuk menyuburkan

tanah kembali. (Ong dalam Suprayogo et al. (2003)

Pengembangan agroforestri merupakan salah satu jawaban dalam

memahami masalah degradasi lahan dan penurunan produktivitas. Menurut

Cruz dan Vergera (1987) penerapan agroforestri dapat bermanfaat : aspek

(33)

14 aspek rehabilitasi yaitu status hara, bahan organik, pH tanah; dan periode

jangka panjang yaitu meningkatkan produktivitas tanaman,sosial ekonomi,

gizi dan kesehatan.

Sistem agroforestri mencakup bentuk-bentuk agroforestri atau cara

pemanfaatan lahan seperti yang umum dilakukan oleh masyarakat Indonesia

seperti kebun talun, pekarangan dan kebun campuran. Teknologi agroforestri

merupakan pelaksanaan agroforestri yang memanfaatkan teknik perbaikan atau

inovasi baru yang biasanya dari hasil penelitian seperti tumpangsari, sistem

tiga strata dan sebagainya (Nair 1989).

Pada lahan kering atau lahan marginal sistem agroforestri akan

berhadapan dengan banyak kendala, baik dari segi fisik, teknis, budaya

maupun ekonomi masyarakat yang terlibat. Hambatan dari segi fisik antara

lain kesuburan lahan, kemiringan lereng lapangan, ketinggian tempat, iklim

dan ketersediaan air. Kendala dari segi sosial ekonomi adalah kebutuhan

yang mendesak, kurangnya jiwa wiraswasta, tingkat pengetahuan dan tingkat

pendapatan yang rendah (Hadipoernomo 1983 dan Kusmana 1988).

Menentukan jenis tanaman yang akan ditanam pada sebidang lahan,

maka haruslah diketahui sifat-sifat jenis tanaman dalam hubungannya dengan

faktor-faktor iklim, tanah dan kecepatan tumbuhnya. (Arsyad 2000 dan Sitorus

2001). Menurut Nair (1984) sifat tanaman yang digunakan dalam pola

agroforestri harus memenuhi persyaratan sebagai berikiut :

1) Tanaman sampingan/semusim yang digunakan harus tidak lebih tinggi

dari tanaman pokok (kehutanan) serta dalam pengambilan zat hara pada

tempat yang sama di dalam horizon tanah.

2) Tanaman sampingan yang digunakan tahan terhadap hama dan penyakit

dibandingkan dengan tanaman pokok.

3) Dalam penanaman, pemeliharaan dan pemanenan tanaman sampingan

tidak merusak tanaman pokok.

4) Tanaman sampingan yang diusahakan mempunyai nilai ekonomis yang

baik.

5) Tidak menimbulkan erosi serta merusak struktur tanah setelah tanaman

(34)

15 Menurut Kusmana (1988) sistem agroforestri akan memberikan

optimalisasi dalam penggunaan lahan dan penerapan sistem ini di lahan yang

berproduktivitas rendah seperti lahan kering akan memberikan manfaat

sebagai berikut :

1) Pada sistem agrofoerstri dapat tanaman yang heterogen dan tidak seumur

yang terdiri dari atas dua strata atau lebih. Bentuk pola tanam seperti ini,

tajuk tegakan dapat menutup tanah, sehingga tanah terhindar dari erosi dan

produktivitas tanah dapat dipertahankan serta pemanfaatan energi surya

oleh tanaman dapat maksimal.

2) Sistem agroforestri merupakan usahatani terpadu kawasan hutan yang

dapat memenuhi kebutuhan majemuk seperti hijauan makanan ternak,

kayu dan lingkungan sehat, sehingga sistem ini dapat meningkatkan

produktivitas lahan.

Bowo (1989) menyatakan bahwa agroforestri merupakan teknologi

tepat guna untuk mengusahakan usahatani di lahan kering, khususnya dalam

rangka diversifikasi dan optimalisasi penggunaan lahan. Hasil dari sistem ini

telah memberikan banyak manfaat baik untuk pelestarian sumberdaya alam

dan meningkatkan pendapatan masyarakat.

Pengusahaan lahan dengan sistem agroforestri mengarahkan

penggunaan dan produktivitas yang lebih tinggi yaitu memanfaatkan

sumberdaya alam secara optimal, lestari dan sosial-ekonomi serta ekologis.

Walaupun sistem agroforestri memiliki manfaat yang besar dalam usaha

perbaikan lahan kritis dan peningkatan kesejahteraan masyarakat pedesaan,

namun tidak mudah untuk diterapkan di dalam masyarakat. Keterbatasan

utama adalah penempatan pohon dalam usahatani menyebabkan persaingan

tempat dengan tanaman pertanian (Kusmana 1988 dan Kartasubrata 1992)

Pola pengembangan lahan pertanian di Daerah Aliran Sungai

Daerah aliran sungai (DAS) merupakan suatu hamparan wilayah yang

dibatasi oleh pembatas topografi yang menerima, mengumpulkan air hujan,

sedimen, unsur hara serta mengalirkannya melalui anak-anak sungai (sub

(35)

16 yang terdiri dari berbagai komponen dan unsur, yang mana unsur utamanya

adalah vegetasi, tanah, air dan manusia dengan segala apa yang dilakukan di

daerah tersebut. Komponen vegetasi, tanah dan air membentuk subsistem

biofisik, sedangkan komponen manusia dengan perilakunya membentuk sub

sistem sosial, kedua subsistem ini berinteraksi dalam bentuk ekosistem DAS

(Syarief 1997, Arsyad 2000, dan Sinukaban 2003).

Terdapat tiga unsur pokok dalam pengelolaan DAS yaitu lahan, air dan

pengelolaan (manipulasi). Lahan meliputi semua komponen dari suatu unit

geografis dan atmosfer tertentu seperti tanah, air, batuan, vegetasi, kehidupan

mahluk hidup serta perkembangannya. Pengelolaan DAS dapat diartikan

sebagai pengelolaan dari lahan untuk produk air dengan kuantitas optimum,

pengaturan produk air dan stabilitas tanah yang maksimum (Arsyad 2000)

Tujuan yang lebih besar dari setiap kegiatan pembangunan dalam suatu

DAS seharusnya sama, yaitu untuk memberikan kontribusi pada :

pembangunan ekonomi nasional, pembangunan daerah atau wilayah dan usaha

memperbaiki meningkatkan kualitas lingkungan (Sinukaban 2003). Hasil

akhir yang menjadi titik sentral perhatian dalam pengelolaan DAS adalah

kondisi tata air dari wilayah DAS. Hal ini dapat diukur dari kondisi tata air

tersebut yakni tersedianya air yang cukup sepanjang waktu, baik kuantitas

maupun kualitas. Untuk menciptakan tata air tersebut unsur yang paling

menonjol adalah air yang diperoleh dari air hujan maupun dari sumber-sumber

air yang terjadi karena interaksi antara vegetasi permanen yang terdapat dalam

kawasan tersebut, terutama pohon-pohon yang rimbun (Sukmana, Syam dan

Adimihardja 1990, Pretty and Shah 1989, Wambeke 1992 dan Reijntjes,

Havercort and Bayer 1992).

Pola pengembangan lahan pertanian di DAS sangat tergantung kepada

tujuan yang akan dicapai. Besar kecilnya potensi penggunaan lahan

tergantung pada dua hal, yaitu kemiringan lereng dan tinggi tempat yang erat

kaitannya dengan zona agroklimat. Makin terjal sebidang lahan, makin sedikit

penggunaannya, sebaliknya permukaan dengan kemiringan tertentu yang

mendekati datar penggunaannya akan semakin intensif, namun biasanya

(36)

17 DAS sebagai suatu sistem dan pengembangannya bertujuan untuk memenuhi

tujuan pembangunan berkelanjutan, maka sasaran pengembangan DAS akan

menciptakan ciri-ciri sebagai berikut :

1. Mampu memberikan produktivitas lahan yang tinggi

2. Mampu menjamin kelestarian DAS, yaitu mampu menjamin

produktivitas yang tinggi erosi/sedimen yang rendah dan fungsi DAS

sebagai penyimpan air dapat memberikan “water yield” yang cukup

tinggi dan merata sepanjang tahun.

3. Mampu menjaga adanya pemerataan pendapatan petani (equity)

4. Mampu mempertahankan kelenturan DAS terhadap goncangan yang

terjadi (resilient)

Pengelolaan DAS pada dasarnya adalah usaha-usaha penggunaan

sumberdaya alam di suatu DAS secara rasional untuk mencapai tujuan

produksi yang maksimum dalam waktu yang tidak terbatas (lestari), disertai

dengan upaya untuk menekan kerusakan seminimum mungkin sehingga

distribusi aliran sungai dapat berjalan sepanjang tahun, satuan pengembangan

sosial-ekonomi dan satuan pengaturan tata ruang wilayah. Pengelolaan DAS

juga ditujukan untuk produksi dan perlindungan sumberdaya air termasuk di

dalamnya pengendalian erosi dan banjir (Sinukaban 1997).

Menurut Sitorus (2001) pengelolaan dan penggunaan lahan akan

dipengaruhi oleh tipe usahatani yang dijalankan dan jenis kelas tanah.

Lahan-lahan klas I (kemiringan 0% – 5 %), II (kemiringan 5% – 15 %), klas

III (kemiringan 15 % - 25 %) dan klas IV (kemiringan 25% – 35 %) sesuai

untuk usahatani dengan memberikan perlakuan tertentu apabila diperlukan

persyaratan agro-tehnis. Sedangkan lahan di atas kemiringan 35 % - 65 %,

umumnya diperuntukkan untuk padang rumput, tanaman tahunan atau

dijadikan sebagai cagar alam atau hutan lindung.

Salah satu faktor yang mempengaruhi pengelolaan daerah aliran sungai

adalah faktor iklim terutama hujan. Intensitas, jumlah dan penyebaran hujan

akan menentukan kecepatan dan volume aliran permukaan. Jumlah curah

hujan rata-rata yang tinggi dalam satu periode kemungkinan tidak akan

(37)

18 hujan intensitasnya tinggi, tetapi dalam waktu atau periode singkat,

kemungkinan tidak akan menyebabkan banjir atau erosi tanah (Haryati,

Abdurrahman dan Setiani 1993 dan Arsyad 2000).

Berbagai sistem pola tanam dapat diterapkan di DAS. Pola tanam

diartikan sebagai sistem pertanaman yang diusahakan di atas sebidang lahan

yang meliputi cara tanam, jenis tanaman serta jadwal tanam. Sistem

pertanaman tersebut diselenggarakan dalam periode waktu tertentu, baik

semusim maupun sepanjang tahun. Secara garis besar pola tanam dibagi

menjadi : pola tanam tunggal (monocropping) dan pola tanam ganda (multiple

cropping). Pada pola tanam ganda dibagi lagi menjadi pola tanam campuran

dan tumpang sari, dimana kedua pola tanam ini terdapat lagi berbagai

jenis-jenis pola tanam tergantung dari tujuan usahatani dan kondisi lahan setempat

(Sukmana et al. 1990, dan Haryati et al. 1993).

Perkembangan penduduk yang cukup pesat pada wilayah DAS akan

berakibat kepada intensitas penggunaan lahan yang semakin tinggi dan

kecenderungan meluasnya lahan untuk pemenuhan kebutuhan akan bahan

pangan. Dengan demikian, pola penggunaan lahan akan cenderung lebih

memperhatikan faktor peningkatan produksi pertanian dan kurang perhatian

kepada faktor konservasi lahan. Apabila kondisi ini tidak segera ditangani,

maka kegiatan yang dilakukan penduduk di wilayah DAS dalam mencari

nafkah tersebut dapat merusak sumberdaya air dan tanah. Pemanfaatan lahan

yang kurang bijaksana oleh masyarakat yang bermukim pada wilayah DAS

akan menimbulkan berbagai gangguan ekosistem antara lain terganggunya

tata air DAS yang mengakibatkan banjir dan erosi. Kondisi ini akan

mengakibatkan terjadinya kerusakan lahan, penurunan produktivitas dan

produksi usahatani, serta kesejahteraan masyarakat yang bersangkutan. Untuk

mencegah terjadinya gangguan tersebut di atas, maka perlu dilakukan

pengelolaan DAS dengan melibatkan masyarakat yang bermukim pada DAS

yang bersangkutan. Pengelolaan DAS dimaksudkan agar terjadi

keseimbangan antara sumberdaya alam dengan manusia dan segala

aktivitasnya, sehingga diharapkan dapat terwujud kondisi tata air yang

(38)

19 terkendalinya erosi pada tingkat yang diperkenankan (Hidayat 2008,

Nuryanto et al. 2003 dan Sinukaban 2003).

Zona agroklimat dan pertumbuhan tanaman

Secara garis besar unsur iklim dibagi menjadi dua bagian yaitu unsur

iklim utama (seperti radiasi surya, suhu udara, kelembaban udara, angin,

tekanan udara, curah hujan panjang hari), dan unsur iklim tetap seperti

topografi, ketinggian tempat, slope antara arah kemiringan dengan posisi

surya serta jarak dekatnya dari lautan (Baharsyah 1991).

Daerah tropik dicirikan oleh keadaan iklim yang hampir seragam.

Namun demikian adanya perbedaan keadaan geografik seperti perbedaan

ketinggian tempat dari permukaan laut akan menimbulkan perbedaan pada

keadaan cuaca dan iklim secara keseluruhan seperti curah hujan dan suhu

udara, yang umumnya memiliki karakteristik sangat nyata berbeda antara

dataran rendah dan dataran tinggi (Baharsyah 1991, Koesmaryono 1999 dan

Barry 1976).

Perbedaan zona agroklimat khususnya yang disebabkan oleh

ketinggian tempat umumnya terjadi penurunan suhu udara. Penyebab utama

dari penurunan suhu di dataran tinggi adalah karena menipisnya lapisan udara

pada ketinggian dan rendahnya kadar gas rumah kaca sehingga penyerapan

panas menjadi berkurang. Meskipun pada dataran tinggi suhu udaranya

rendah, namun radiasi matahari bebas masuk menembus kerapatan udara yang

tipis dan memanasi permukaan tanah. Variasi suhu harian di dataran tinggi

lebih kecil dibandingkan dataran rendah karena sering adanya awan di daerah

pegunungan, selain juga adanya angin yang berhembus lebih kencang

sehingga panas lebih mudah menyebar di udara (Suharsono, 1982 dan Rozari

1987).

Agroekosistem merupakan konsep analisis yang mengadopsi konsep

sistem dengan tujuan mengidentifikasi berbagai faktor yang mempengaruhi

keragaman sistem usahatani sehingga antara satu tempat dengan tempat yang

(39)

20 produksi (stability), keberlanjutan produksi (sustainability) dan pemerataan

distribusi produksi atau pendapatan (equilibilty) (Bey dan Las, 1991).

Konsep agroecological zones merupakan pendekatan membagi wilayah ke

dalam zona-zona fisik yang kurang lebih homogen, dan untuk evaluasi lahan

konsep ini adalah syarat perlu, bukan syarat cukup untuk pengambilan

keputusan penggunaan lahan. Menggunakan parameter lahan yang lebih

banyak di pakai yakni : fisiografi, unsur iklim, ketinggian tempat, vegetasi dan

sebaran tanah sampai tingkat sub group (Rositter, 1994).

Curah hujan berperan sebagai masukan sistem dan sebagai parameter

iklim yang dapat menerangkan kondisi lingkungan suatu wilayah. Disamping

curah hujan parameter lain adalah suhu dan radiasi matahari yang akan

menentukan laju evaporasi dan transpirasi. Variasi dan radiasi netto suatu

permukaan akan ditentukan oleh sifat tutupan permukaan lahan.

Klasifikasi iklim yang banyak digunakan di Indonesia, khususnya

untuk penggunaan lahan pertanian adalah sistem sistem klasifikasi Oldeman.

Klasifikasi ini menghubungkan dengan aktivitas pertanian menggunakan

unsur iklim hujan. Kriteria yang digunakan dalam sistem klasifikasi iklim

Oldeman didasarkan pada perhitungan bulan basah (BB), bulan lembab (BL

dan bulan kering (BK) yang batasannya memperhatikan peluang curah hujan,

hujan efektif dan kebutuhan air tanaman. Batasan tersebut adalah :

1. Bulan Basah (BB) : bulan dengan rata-rata curah hujan > 200 mm

2. Bulan Lembab (BL) : bulan dengan rata-rata curah hujan 100-200 mm

3. Bulan Kering (BK) : bulan dengan rata-rata curah huja < 100 mm

Penentuan pola tanam dan masa tanam pada lahan kering merupakan

tahapan yang penting dari beberapa tahapan yang ada dalam usaha pengaturan

(perencanaan) budidaya tanaman pangan untuk meningkatkan produksi

dengan memanfaatkan sumberdaya iklim secara efisien. Berdasarkan hasil

penelitian Oldeman (1975) bahwa penanaman dengan tanaman palawija dapat

didasarkan pada curah hujan 100 mm atau lebih, ketentuan ini didasarkan

bahwa :

1. Tanaman di lahan kering sebagian besar membutuhkan air paling

(40)

21 2. Selama periode pertumbuhan daerah persawahan memerlukan air 150

– 200 mm/bulan

3. Daerah alluvial yang ditanami padi mengalami kekurangan air karena

perkolasi yang terjadi sekitar 30 mm/bulan.

Masa tanam pada lahan kering dengan iklim yang agak kering (semi

arid) harus dikaitkan dengan pemanfaatan air secara efisien dan pola

perkembangan tanaman yang disesuaikan pada pola curah hujan atau

kelembaban tanah yang tersedia. Iklim agak kering (semi arid) pada suatu

daerah dimaksudkan adalah yang mempunyai periode basah dan kering secara

bergantian. Khususnya pada periode basah terdapat tiga sub periode sebagai

berikut: periode “pra humid” berlangsung pada presipitasi awal dan ditandai

dengan evapotranspirasi potesnsial (PE) yang relatif kecil; periode basah

(humid), berlangsung apabila presipitasi melebihi PE dan PE AE

(evapotraspirasi aktual); periode pasca basah, jumlah presipitasi lebih kecil

dari PE, pada akhir musim penghujan, AE menurun terus sampai sumber air di

dalam tanah selama peiode basah (Sagi et al. 1988)

Tanaman akan mengubah keadaan iklim mikto. Perubahan ini

disebabkan oleh besarnya tanaman, jarak tanam satu dengan tanaman yang

lainnya, bentuk serta besarnya percabangan. Dengan demikian terdapat proses

turbulensi pergerakan udara dan pola yang tidak beraturan dalam penerimaan

radiasi surya. Iklim mikro merupakan struktur renik dari ruang udara yang

dimulai dari permukaan bumi hingga ketinggian yang tidak lagi mengalami

akibat langsung dari permukaan yang di bawahnya, serta perbedaannya

dengan iklim setempat sudah tidak terasa. Salah satu yang terpenting dari

Iklim mikro adalah penyerapan energi surya pada siang hari dan kehilangan

bahang (panas) pada malam hari. Pemindahan bahang dari permukaan dapat

terjadi dalam bentuk radiasi, konduksi, konveksi dan adveksi (Rozari 1987

dan Squire 1990).

Pengaruh tajuk terhadap radiasi yang diterima, dipantulkan, dan

ditransmisikan menyebabkan suhu dalam komunitas tanaman siang hari

menjadi lebih rendah dan malam hari menjadi lebih tinggi dibandingkan

(41)

22 dipengaruhi oleh kerapatan, tinggi, bentuk, warna, susunan dan jumlah daun,

serta tajuk tanaman.

Peranan radiasi surya bagi pertumbuhan tanaman dapat dibagi dalam

dua cara yaitu efek kuantitatif dan efek kualitatif. Secara kuantitafif total

radiasi diperlukan untuk aktivitas fotosintesis agar diperoleh assimilat

semaksimal mungkin, sedangkan secara kualitatif berperan terhadap

fotomorfogenesis. Respon tanaman terhadap tanaman yang ternaungi, seperti

pada usahatani sistem agroforestri akan tergantung pada jenis tanamannya,

karena ada tanaman yang senang radiasi langsung dan jenis tanaman yang

senang pada keadaan ternaungi (Kreating dan Carberry 1993). Smith (1982)

mengelompokkan tanaman menjadi tiga golongan yaitu tanaman suka cahaya

(sun plant); tanaman suka naungan (shade plant); dan tanaman naungan yang

fakultatif (toleran terhadap naungan).

Hale dan Orcutt (1987) menyatakan bahwa adaptasi tanaman terhadap

naungan melalui 2 (dua) cara yaitu : (a) meningkatkan luas daun sebagai

upaya mengurangi metabolit dan (b) mengurangi jumlah cahaya yang

ditransmisikan dan direfleksikan. Pada golongan rumput-rumputan naungan

dapat menyebabkan perubahan (partisi) bahan kering untuk mempertahankan

atau meningkatkan luas daun dan panjang batang (Allard et al. 1991 dan

Kephart et al. 1982).

Radiasi surya merupakan unsur iklim yang sangat berperan terhadap

pertumbuhan dan produksi tanaman, baik secara langsung melalui pemasokan

energi untuk proses fotosintesis maupun secara tidak langsung melalui unsur

iklim lainnya. Radiasi surya berpengaruh terhadap klorofil, jumlah dan

komposisi kloroplas, struktur daun dan gerak membuka dan menutupnya

stomata serta dapat mengontrol laju transpirasi, sehingga berpengaruh

terhadap serapan air dan hara Pada proses fotosintesis, klorofil daun

menyerap energi radiasi pada kisaran panjang gelombang PAR

(Photosynthetic Active Radiation) yaitu 0.38 – 0.68 µm. Tanaman dalam

proses fotosintesis tidak dapat memanfaatkan semua pancaran radiasi

matahari yang sampai pada permukaan bumi, tetapi hanya radiasi yang

(42)

23 yang disebut radiasi nampak (visible radiation) atau cahaya yang juga dikenal

dengan istilah Radiasi Aktif Fotosintesis (PAR = photosynthetically active

radiation). Pembentukan karbohidrat dalam proses fotosintesis terjadi dalam

khloroplas yang umumnya terdapat dalam organ daun, dan berlangsung

melalui dua rangkaian peristiwa yang umum dikenal dengan reaksi cahaya

dan reaksi gelap. Energi cahaya yang diabsorbsi oleh sistem pigmen terutama

khlorofil pada reaksi cahaya mengakibatkan eksitasi electron (e-) yaitu

elektron terangkat dari kedudukan dasar ke kedudukan eksitasi I atau II pada

sistem pigmen tersebut Pada keadaan ini, pigmen berada dalam keadaan

reduksi. Eklektron yang tereksitasi tidak kuat terikat pada atom atau molekul

pigmen yang merupakan fungsi dari daya tarik inti. Sebagai konsekuensinya,

elektron ini akan mudah ditransfer ke molekul lain di sekitarnya yang terdapat

pada keadaan oksidatif. (Sitompul dan Guritno 1995 dan Salisbury and Ros

1995).

Laju fotosintesis daun akan meningkat dengan bertambahnya intensitas

PAR karena peningkatan reaksi kimia. Konduksi stomata terhadap CO2 sangat

besar pengaruhnya terhadap laju fotosintesis maksimum yang dicapai pada

kondisi cahaya tinggi. Sedangkan pada intensitas cahaya rendah hampir tidak

ada penyerapan CO2 karena laju penyerapan CO2 melalui fotosintesis lebih

rendah daripada laju evolusi CO2 dari respirasi mitokondria. Respons

fotosintesis terhadap cahaya sangat bervariasi menurut species tanaman dan

antara daun pada satu tanaman (Koesmaryono 1999).

Suhu merupakan faktor iklim yang mempunyai peranan utama dalam

proses pertumbuhan tanaman, dari segi fisiologis, pertumbuhan vegetatif

maupun generatif hingga pemasakan biji. Suhu udara berpengaruh juga pada

proses fotosintesis, respirasi, permeabilitas dinding sel, absorbsi air dan hara,

transpirasi, aktivitas enzim dan koagulasi protein (Bey dan Las 1991).

Sistem budidaya tanaman erat kaitannya dengan berbagai unsur dari

ekosistem seperti agroklimat, tanah, vegetasi, teknologi dan sosial-ekonomi.

Sasaran budidaya adalah produksi maksimal, optimum secara ekonomis dan

ekologis lestari. Terdapat tiga macam pengaruh antara tanaman , yakni

Figur

Gambar 1. Diagram alur penelitian

Gambar 1.

Diagram alur penelitian p.28
Gambar 3), masih didominasi oleh lahan pertanian yaitu sekitar 49.93 %,  hutan

Gambar 3),

masih didominasi oleh lahan pertanian yaitu sekitar 49.93 %, hutan p.51
Gambar 3 :   Peta Penggunaan lahan Ciliwung hulu 2007

Gambar 3 :

Peta Penggunaan lahan Ciliwung hulu 2007 p.53
Tabel 3. Penggunaan lahan dan luas peruntukan DAS Ciliwung Hulu 2007

Tabel 3.

Penggunaan lahan dan luas peruntukan DAS Ciliwung Hulu 2007 p.54
Gambar 4 :  Peta Zona Agroklimat DAS Ciliwung dan lokasi pengambilan

Gambar 4 :

Peta Zona Agroklimat DAS Ciliwung dan lokasi pengambilan p.55
Tabel 5.  Jenis tanaman tahunan, pola tanam dan tanaman yang toleran terhadap  naungan pada berbagai zona agroklimat

Tabel 5.

Jenis tanaman tahunan, pola tanam dan tanaman yang toleran terhadap naungan pada berbagai zona agroklimat p.60
Gambar 7 : Rata-rata intensitas radiasi surya (kal/cm

Gambar 7 :

Rata-rata intensitas radiasi surya (kal/cm p.63
Gambar 8 : Rata-rata intensitas radiasi surya (kal/cm

Gambar 8 :

Rata-rata intensitas radiasi surya (kal/cm p.63
Gambar 10. Rata-rata kelembaban udara (%)  pada   berbagai zona agroklimat

Gambar 10.

Rata-rata kelembaban udara (%) pada berbagai zona agroklimat p.65
Tabel 7. Rata rata kondisi iklim mikro di bawah tegakan tanaman kehutanan pada berbagai zona agroklimat

Tabel 7.

Rata rata kondisi iklim mikro di bawah tegakan tanaman kehutanan pada berbagai zona agroklimat p.76
Gambar 11. Laju asimilasi tanaman talas dan jagung dengan peningkatan CO2

Gambar 11.

Laju asimilasi tanaman talas dan jagung dengan peningkatan CO2 p.76
Gambar 12.  Laju asimilasi tanaman talas dan jagung dengan peningkatan CO2

Gambar 12.

Laju asimilasi tanaman talas dan jagung dengan peningkatan CO2 p.78
Tabel  8. Respon morfo-fisiologibeberapa tanaman semusim terhadap naungan di zona agroklimat A

Tabel 8.

Respon morfo-fisiologibeberapa tanaman semusim terhadap naungan di zona agroklimat A p.80
Tabel  9. Respon morfo-fisiologifisiologi beberapa tanaman semusim terhadap naungan di zona agroklimat B

Tabel 9.

Respon morfo-fisiologifisiologi beberapa tanaman semusim terhadap naungan di zona agroklimat B p.85
Tabel  10. Respon morfo-fisiologi beberapa tanaman semusim terhadap naungan di zona agroklimat C

Tabel 10.

Respon morfo-fisiologi beberapa tanaman semusim terhadap naungan di zona agroklimat C p.88
Tabel 11. Produksi tanaman semusim (kg)/plot  pada perbedaan beberapa  tingkat

Tabel 11.

Produksi tanaman semusim (kg)/plot pada perbedaan beberapa tingkat p.92
Tabel 15. Produksi tanaman talas dan jagung dengan sistem monokultur dan

Tabel 15.

Produksi tanaman talas dan jagung dengan sistem monokultur dan p.101

Referensi

Memperbarui...