SKRIPSI
Analisis pengaruh Quick Ratio, Working Capital to Total Asset, Inventory Turnover, Operating Ratio, Time Interest Earned terhadap Return On Asset pada
perusahaan manufaktur sektor Food and Beverage yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
OLEH
DEDI SUHADI MUNTHE
120522171
PROGRAM STUDI AKUNTANSI
DEPARTEMEN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
ABSTRAK
Analisis pengaruh Quick Ratio, Working Capital to Total Asset, Inventory Turnover, Operating Ratio, Time Interest Earned terhadap Return On Asset pada
perusahaan manufaktur sektor Food and Beverage yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah Quick Ratio, Working Capital to Total Asset, Inventory Turnover, Operating Ratio,dan Time Interest Earned berpengaruh secara simultan dan parsial terhadap Return On Asset pada perusahaan manufaktur sektor Food and Beverage yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh Quick Ratio, Working Capital to Total Asset, Inventory Turnover, Operating Ratio,dan Time Interest Earned secara simultan dan parsial terhadap Return On Asset pada perusahaan manufaktur sektor Food and Beverage yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
Hipotesis dalam penelitian ini adalah Quick Ratio, Working Capital to Total Asset, Inventory Turnover, Operating Ratio,dan Time Interest Earned berpengaruh secara simultan dan parsialterhadap Return On Asset pada perusahaan manufaktur sektor Food and Beverage yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
Pengumpulan data sekunder dilakukan dengan teknik sampling yang didasarkan pada teknik dokumentasi pada laporan keuangan yang dipublikasikan oleh BEI peride 2009 sampai dengan 2013. Variabel independen dan dependen diolah sesuai dengan defenisi operasional varibel. Metode analisis yang digunakan adalah metode analisis deskriptif dan analisis linier berganda.
Hasil pengujian Hipotesis dalam penelitian ini menunjukkan bahwa secara simultan variabel independen (Quick Ratio, Working Capital to Total Asset, Inventory Turnover, Operating Ratio,dan Time Interest Earned) berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen (Return On Asset) pada perusahaan manufaktur sektor Food and Beverage yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Uji parsial menunjukkan hanya tiga variabel yaitu Quick Ratio, Inventory Turnover,dan Operating Ratio yang berpengaruh signifikan terhadap Return on asset
ABSTRACT
Analysis of the effect of the Quick Ratio, Working Capital to Total Assets, Inventory Turnover, Operating Ratio, Time interest earned on Return on Assets at a manufacturing company Food and Beverage sector listed in the Indonesia Stock
Exchange
The problem of this study is whether the Quick Ratio, Working Capital to Total Assets, Inventory Turnover, Operating Ratio, and Time Interest Earned effect simultaneously and partially on the Return on Assets in manufacturing companies Food and Beverage sector listed in Indonesia Stock Exchange. The purpose of this study was to determine the effect of Quick Ratio, Working Capital to Total Assets, Inventory Turnover, Operating Ratio, and Time Interest Earned simultaneously and partially on the Return on Assets in manufacturing company Food and Beverage sector listed in Indonesia Stock Exchange.
The hypothesis of this study is the Quick Ratio, Working Capital to Total Assets, Inventory Turnover, Operating Ratio, and Time Interest Earned effect simultaneously and partially on the Return on Assets in manufacturing company Food and Beverage sector listed in Indonesia Stock Exchange.
Secondary data collection was done by using a sampling technique based on the documentation in the financial statements published by IDX periods of 2009 to 2013, the independent and dependent variables are processed in accordance with the operational definition of variables. The analytical method used is descriptive analysis method and linear analysis.
Hypothesis testing results in this study indicate that simultaneous independent variables (Quick Ratio, Working Capital to Total Assets, Inventory Turnover, Operating Ratio, and Time Interest Earned) a significant effect on the dependent variable (Return on Assets) at manufacturing sector Food and Beverage listed in Indonesia Stock Exchange. Partial test shows only three variables: Quick Ratio, Inventory Turnover, Operating Ratio and significant effect on return on assets. Keywords: Quick Ratio, Working Capital to Total Assets, Inventory Turnover,
KATA PENGANTAR
PenulispanjatkanpujidansyukurkepadaTuhan Yang MahaEsaataskaruniadanrahmat yang telahdilimpahkan-Nya,
khususnyadalampenyusunanlaporanpenelitianini.
PenulisanSkripsiinidimaksudkanuntukmemenuhisebagiandaripersyaratan-persyaratangunamemperolehgelarsarjana S1 Akuntansipada Program S1 AkuntansiUniversitas Sumatera Utara.
Penulismenyadaribahwabaikdalampengungkapan, penyajiandanpemilihan
kata-kata maupunpembahasanmateriSkripsiinimasihjauhdarisempurna.
Olehkarenaitudenganpenuhkerendahanhatipenulismengharapkan saran, kritikdansegalabentukpengarahandarisemuapihakuntukperbaikanSkripsiini.
Skripsiiniberjudul “AnalisispengaruhQuick Ratio, Working Capital to Total Asset, Inventory Turnover, Operating Ratio, Time Interest Earned terhadapReturn On Asset padaperusahaanmanufaktur sector Food and Beverage yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia”. Penulistelahbayakmenerimabimbingan, saran, motivasidandoadariberbagaipihakselamapenulisanskripsiini. Olehkarenaitu, padakesemptaninipenulismenyampaikanterimakasihkepadasemuapihak yang telahmemberikanbantuandanbimbingan, yaitu:
1. Bapak Prof. Dr. AzharMaksum, M.Ec.Ac.,Ak.,CA
selakuDekanFakultasEkonomiUniversitas Sumatera Utara.
3. Bapak Drs. HotmalJa’far, MM.,AkselakuSekretarisDepartemenAkuntansiFakultasEkonomiUniversitas
Sumatera Utara.
4. Bapak Drs. FirmanSyarif, M.Si.,AkselakuKetua Program Studi S1
AkuntansiFakultasEkonomiUniversitas Sumatera Utara.
5. Bapak Drs. M. UtamaNasution, MM.,AkselakuDosenPembingbing yang
telahmencurahkanperhatiandantenagasertadorongankepadapenulishinggaseles ainyaskripsiini.
6. IbuDra. Nurzaimah, MM.,AkselakuDosenPembandingyang
telahmembantudanmemberikan saran-saran sertaperhatiansehinggapenulisdapatmenyelesaikanskripsiini.
7. Para stafpengajar Program S1 AkutansiUniversitasSumatera Utara
yangtelahmemberikanilmuAkuntansimelaluisuatukegiatanbelajarmengajarden gandasarpemikirananalitisdanpengetahuan yang baik.
8. Para stafadministrasi Program S1
AkuntansiFakultasEkonomiUniversitasSumatera Utara yang telahbanyakmembantudanmempermudahpenulisdalammenyelesaikanstudi di
Program S1 AkuntansiFakultasEkonomiUniversitas Sumatera Utara.
9. Orang Tuatercinta(+) JilmanMunthedanBilmaTumanggerberkatdoa,
kasihsayang, kesabarandankeiklasanhatimembesarkan, mendidikdanselalumemberikandorongandansemangatnyasertapengorbanan
tidakdapatPenulisbalasdenganapapunsehinggapenulismerasaterdoronguntukm enyelesaikancita-citadanharapankeluarga. BuatabangTenang, Jaminten, Sarihon, Lamar danKakakMurniama, Rasima, Ramayana sertaBuatadekRomaida, terimakasihatasdorongandanmotivasi, danmateri yang telahdiberikan, Sayaakanselalumengikutijejak kalian semua.
10.Teman-temankuliah, yang telahmemberikansebuahpersahabatandankerjasama yang baikselamamenjadimahasiswa di Program S1 AkutansiUniversitasSumatera Utara
Hanyadoa yang dapatpenulispanjatkansemogaAllohTuhanberkenanmembalassemuakebaikanBapa
k, Ibu, Saudaradanteman-temansekalian. Akhir kata, semogapenelitianinidapatbermanfaatbagipihak yang berkepentingan.
Medan, Juli 2014
DAFTAR ISI
Halaman
BAB I. PENDAHULUAN ... 1
1.1 ... Latar Belakang ... 1
1.2 ... Rumu san Penelitian... 5
1.3 ... Tujua n Penelitian ... 5
1.4 ... Manf aat Penelitian ... 6
1.4.1 ... Manf aat Teoritis ... 6
1.4.2 ... Manf aat Praktis ... 6
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ... 7
2.1 Laporan Keuangan ... 7
2.1.1 Pengertian Lapran Keuangan ... 7
2.1.2 Tujuan Laporan Keuangan ... 8
2.1.3 Pihak-pihak yang Berkepentingan ... 10
2.2 Keterbatasan Laporan Keuangan ... 12
2.3 Komponen-komponen Laporan Keuangan ... 13
2.3.1.1 Aktiva ... 14
2.3.1.2 Kewajiban (Hutang) ... 19
2.3.1.3 Ekuitas (Modal) ... 22
2.3.2 Laporan Laba Rugi (Income statemen) ... 22
2.3.3 Laporan Perubahan Ekuitas ... 23
2.3.4 Laporan Aus Kas ... 24
2.3.5 Catatan atas Laporan Keuangan ... 24
2.4 Analisis Laporan Keuangan ... 25
2.4.1 Sifat-sifat Analisis Laporan Keuangan ... 26
2.4.2 Tujuan Analisis Laporan Keuangan ... 26
2.4.3 Prosedur Analisis ... 28
2.4.4 Metode Analisis ... 29
2.4.5 Teknik Analisis ... 30
2.5 Analisis Rasio ... 30
2.5.1 Keunggulan Analisis Rasio ... 31
2.5.2 Keterbatasan Analisis Rasio ... 32
2.5.3 Jenis-jenis Analisis Rasio ... 33
2.5.4 Rasio Likuiditas ... 33
2.5.4.2 Cash Ratio ... 35
2.5.4.3 Quick Ratio ... 35
2.5.4.4 Working Capital to Total Asset ... 36
2.5.5 Inventory Turnover ... 36
2.5.6 Return on Asset ... 37
2.5.7 Operating Ratio ... 39
2.5.8 Time Interest Earnet ... 40
2.6 Pengaruh Likuiditas terhadap ROA ... 42
2.7 Pengaruh Inventory Turnover ... 42
2.8 Peneltian Terdahulu ... 43
2.10 Kerangka Konseptual ... 47
2.11 Hipotesis ... 48
BAB III METODE PENELITIAN ... 49
3.1 Jenis Penelitian ... 49
3.2 Tempat dan waktu Penelitian ... 49
3.3 Batasan Operasional ... 50
3.4 Defenisi Operasional ... 50
3.7 Metode Pengumpulan Data ... 54
3.8 Teknik Analisis ... 54
3.8.1 Analisis Deskriptif ... 54
3.8.2 Analisis Regresi ... 56
3.8.2.1 Pengujian Asumsi Klasik ... 56
3.8.2.1.1 Normalitas ... 57
3.8.2.1.2 Multikolinearitas ... 58
3.8.2.1.3 Heterokesdastisitas ... 59
3.8.2.1.4 Autokorelasi ... 61
3.8.2.2 Pengujian Hipotesis ... 63
3.8.2.2.1 Uji T statistic ... 63
3.8.2.2.2 Uji F Statistik ... 64
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 65
4.1 Data Deskripif ... 66
4.1.1 Keadaan Return on Asset periode 2009-2013 ... 66
4.1.2 Keadaan Quick Ratio periode 2009-2013 ... 67
4.1.5 Keadaan Operating Ratio periode 2009-2013 ... 71
4.1.6 Keadaan Time interest earned periode 2009-2013 ... 73
4.2 Hasil Analisis ... 76
4.2.1 Hasil Uji Asumsi Klasik ... 76
4.2.1.1 Normalitas Data ... 76
4.2.1.2 Hasil Uji Multikolinearitas ... 79
4.2.1.3 Hasil Uji Heterokesdastisitas ... 80
4.2.1.4 Hasil Uji Autokorelasi ... 83
4.2.2 Hasil UJi Hipotesis ... 85
4.3 Pembahasan ... 90
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN... 94
5.1 Kesimpulan ... 94
5.2 Saran ... 99
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR GAMBAR dan Tabel
Halaman
Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu ... 44
Tabel 3.1 Daftar Sampel penelitian ... 52
ABSTRAK
Analisis pengaruh Quick Ratio, Working Capital to Total Asset, Inventory Turnover, Operating Ratio, Time Interest Earned terhadap Return On Asset pada
perusahaan manufaktur sektor Food and Beverage yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah Quick Ratio, Working Capital to Total Asset, Inventory Turnover, Operating Ratio,dan Time Interest Earned berpengaruh secara simultan dan parsial terhadap Return On Asset pada perusahaan manufaktur sektor Food and Beverage yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh Quick Ratio, Working Capital to Total Asset, Inventory Turnover, Operating Ratio,dan Time Interest Earned secara simultan dan parsial terhadap Return On Asset pada perusahaan manufaktur sektor Food and Beverage yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
Hipotesis dalam penelitian ini adalah Quick Ratio, Working Capital to Total Asset, Inventory Turnover, Operating Ratio,dan Time Interest Earned berpengaruh secara simultan dan parsialterhadap Return On Asset pada perusahaan manufaktur sektor Food and Beverage yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
Pengumpulan data sekunder dilakukan dengan teknik sampling yang didasarkan pada teknik dokumentasi pada laporan keuangan yang dipublikasikan oleh BEI peride 2009 sampai dengan 2013. Variabel independen dan dependen diolah sesuai dengan defenisi operasional varibel. Metode analisis yang digunakan adalah metode analisis deskriptif dan analisis linier berganda.
Hasil pengujian Hipotesis dalam penelitian ini menunjukkan bahwa secara simultan variabel independen (Quick Ratio, Working Capital to Total Asset, Inventory Turnover, Operating Ratio,dan Time Interest Earned) berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen (Return On Asset) pada perusahaan manufaktur sektor Food and Beverage yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Uji parsial menunjukkan hanya tiga variabel yaitu Quick Ratio, Inventory Turnover,dan Operating Ratio yang berpengaruh signifikan terhadap Return on asset
ABSTRACT
Analysis of the effect of the Quick Ratio, Working Capital to Total Assets, Inventory Turnover, Operating Ratio, Time interest earned on Return on Assets at a manufacturing company Food and Beverage sector listed in the Indonesia Stock
Exchange
The problem of this study is whether the Quick Ratio, Working Capital to Total Assets, Inventory Turnover, Operating Ratio, and Time Interest Earned effect simultaneously and partially on the Return on Assets in manufacturing companies Food and Beverage sector listed in Indonesia Stock Exchange. The purpose of this study was to determine the effect of Quick Ratio, Working Capital to Total Assets, Inventory Turnover, Operating Ratio, and Time Interest Earned simultaneously and partially on the Return on Assets in manufacturing company Food and Beverage sector listed in Indonesia Stock Exchange.
The hypothesis of this study is the Quick Ratio, Working Capital to Total Assets, Inventory Turnover, Operating Ratio, and Time Interest Earned effect simultaneously and partially on the Return on Assets in manufacturing company Food and Beverage sector listed in Indonesia Stock Exchange.
Secondary data collection was done by using a sampling technique based on the documentation in the financial statements published by IDX periods of 2009 to 2013, the independent and dependent variables are processed in accordance with the operational definition of variables. The analytical method used is descriptive analysis method and linear analysis.
Hypothesis testing results in this study indicate that simultaneous independent variables (Quick Ratio, Working Capital to Total Assets, Inventory Turnover, Operating Ratio, and Time Interest Earned) a significant effect on the dependent variable (Return on Assets) at manufacturing sector Food and Beverage listed in Indonesia Stock Exchange. Partial test shows only three variables: Quick Ratio, Inventory Turnover, Operating Ratio and significant effect on return on assets. Keywords: Quick Ratio, Working Capital to Total Assets, Inventory Turnover,
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pelaksanaan operasi suatu organisasi atau perusahaan harus berpedoman pada rencana kerja yang telah ditetapkan oleh kebijakan manajemen perusahaan tersebut, baik mengenai pengolahan maupun pengadaan. Dengan demikian kelangsungan perusahaan tersebut dimasa yang akan datang lebih terjamin. Oleh karena itu beberapa faktor yang membantu pencapaian tujuan perusahaan harus dilaksanakan dengan baik. Faktor utama yang perlu mendapat perhatian adalah keadaan keuangan perusahaan. Krisis keuangan yang terjadi pada Amerika Serikat pada tahun 2008 memberikan dampak bagi seluruh dunia yang disebabkan dari penumpukan hutang nasional, pengurangan pajak korporasi, pembengkakan biaya perang Irak dan Afghanistan, dan yang paling krusial adalah Subprime Mortgage atau kerugian surat berharga property. Indikator penting penurunan ekonomi di seluruh dunia adalah tingginya harga minyak dunia, yang menyebabkan
minyak, dan juga penggunaan makanan sebagai alternatif minyak bumi),
On Asset (ROA). Sehingga penulis memilih judul analisis pengaruh Quick Ratio, Working Capital to Total Asset, inventory turnover, Operating Ratio, Time Interest Earned terhadap Return On Asset (ROA) pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, perumusan masalah dalam penelitian ini adalah Apakah Quick Ratio, Working Capital to Total Asset, Inventory Turnover, Operating Ratio, Time Interest Earned berpengaruh secara simultan dan parsial terhadap Return On Asset (ROA) pada perusahaan Manufaktur sector Food and Beverage yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia?
1.3 Tujuan Penelitian
1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Manfaat Teoritis
1.4.1.1 Mengembangkan teori tentang Quick Ratio, Working Capital to Total Asset, Inventory Turnover, Operating Ratio, Time Interest Earned dan Return On Asset (ROA). 1.4.1.2 Bagi peneliti, penelitian ini bermanfaat untuk
membandingkan antara aplikasi yang ada dengan teori yng dipelajari. Sedangkan bagi peneliti selanjutnya diharapkan penelitian ini dapat memberikan manfaat.
1.4.2 Manfaat Praktis
1.4.2.1 Bagi perusahaan, penelitian ini dapat diharapkan menjadi sebuah evaluasi bagi kebijakan yang telah dikeluarkan dalam memahami kinerja perusahaan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Laporan Keuangan
2.1.1 Pengertian Laporan Keuangan
Pada umumnya laporan keuangan bagi suatu perusahaan hanyalah sebagai “alat penguji” dari pekerjaan bagian pembukuan, tetapi untuk selanjutnya laporan keuangan tidak hanya sebagai alat penguji, tetapi sebagai dasar untuk menemukan atau menilai posisi keuangan perusahaan tersebut, dari hasil analisis tersebut, pihak-pihak yang berkepentingan dalam mengambil suatu keputusan.
Laporan keuangan adalah hasil dari proses akuntansi yang dapat memberikan informasi tentang keadaan suatu perusahaan sekaligus merupakan alat komunikasi antar data keuangan atau aktivitas perusahaan dengan pihak-pihak yang berkepentingan dengan data atau aktivitas perusahaan tersebut.
Menurut Raharjo (2000:45),
2.1.2 Tujuan Laporan Keuangan
Tujuan laporan keuangan menurut APB Statement No.4 digolongkan sebagai berikut:
2.1.2.1 Tujuan Khusus
Tujuan khusus dari laporan keuangan adalah untuk menyajikan laporan posisi keuangan, hasil usaha dan perobahan posisi keuangan lainnya secara wajar dan sesuai dengan General Accepted Accounting Principle (GAAP). 2.1.2.2 Tujuan umum
Adapun tujuan umum dari laporan keuangan adalah sebagai berikut:
2.1.2.2.1 Memberikan informasi yang terpecaya tentang sumber-sumber ekonomi dan kewajiban perusahaan dengan maksud:
2.1.2.2.1.1 Untuk menilai kekuatan dan kelemahan perusahaan.
2.1.2.2.1.2 Untuk menunjukkan posisi keuangan dan investasinya.
2.1.2.2.1.3 Untuk menilai kemampuannya untuk menyelesaikan utang-utangnya.
2.1.2.2..1.4 Menunjukkan kemampuan sumber-sumber kekayaan yang ada untuk pertumbuhan perusahaan.
2.1.2.2.2 Memberikan informasi yang terpercaya tentang sumber kekayaan bersih yang berasal dari kegiatan usaha dalam mencari laba dengan maksud:
2.1.2.2.2.1 Memberikan gambaran tentang deviden yang diharapkan pemegang saham.
2.1.2.2.2.2 Menunjukkan kemampuan perusahaan untuk membayar kewajiban kepada kreditur, supplier, pegawai, pajak, mengumpulkan dana untuk perluasan.
2.1.2.2.2.3 Memberikan informasi kepada manajemen untuk digunakan dalam pelaksanan fungsi perencanaan dan pengawasan.
2.1.2.2.3 Memeberikan informasi keuangan yang dapat digunakan untuk menaksir potensi perusahaan dalam menghasilkan laba.
2.1.2.2.4 Memberikan informasi yang diperlukan lainnya tentang perubahan harta dan kewajiban.
2.1.2.2.5 Mengungkapkan informasi relevan lainnya yang dibutuhkan para pemakai laporan keuangan. 2.1.2.3 Tujuan Kualitatif
2.1.2.3.2 Relevan
Memilih informasi yang benar-benar dapat membantu pemakai laporan.
2.1.2.2.2 Understandability
Informasi yang dipilih untuk disajikan bukan saja yang penting tetapi juga harus informasi yang dimengerti para pemakainya.
2.1.2.2.3 Verifiability
Hasil akuntansi itu harus dapat diperiksa oleh pihak lain yang akan menghasilkan pendapat yang sama, dengan kata lain ukurannya harus ada.
2.1.2.2.4 Netrality
Laporan akuntansi itu harus netral terhadap pihak-pihak yang berkepentingan. Informasi dimaksudkan untuk pihak umum bukan untuk pihak-pihak tertentu saja.
2.1.2.2.5 Time-Liness
Laporan akuntansi bermanfaat untuk pengambilan keputusan apabila diserahkan pada saat yang tepat.
2.1.2.2.6 Comparability
Laporan akuntansi harus dapat saling diperbandingkan artinya akuntansi harus memiliki prinsip yang sama baik untuk suatu perusahaan maupun perusahaan lain.
2.1.2.2.6.1 Completeness
2.1.3 Pihak-Pihak yang Berkepentingan. Menurut Munawir (2004:2),
Pihak-pihak yang berkepentingan terhadap laporan keuangan maupun perkembangan suatu perusahaan adalah:
2.1.3.1 Pemilik Perusahan
Bagi pemilik perusahaan laporan keungan sangat berguna untuk menilai sukses tidaknya manajer dalam memimpin perusahaannya dan kesuksesan seseorang manajer tersebut dinilai dengan laba yang diperoleh perusahaan karena hasil-hasil stabilitas serta kontinuitas atau kelangsungan perusahannya tergantung dari cara kerja atau efisiensi manajemennya, maka jika hasil-hasil yang dicapai oleh manajemennya tidak memuaskan maka para pemilik perusahaan dalam hal ini pemegang saham mungkin akan mengganti manajemennya atau bahkan menjual saham-sahamnya yang dimiliki tersebut. Keputusan untuk mengganti manajemen adalah untuk mempertahankan saham yang dimiliki atau menjual saham-sahamnya akan tergantung dari hasil analisis mereka terhadap laporan keuangan perusahaan tersebut. Dengan kata lain laporan keuangan diperlukan oleh pemilik perusahaan diperlukan untuk menilai hasil-hasil yang akan dicapai di masa yang akan datang sehingga bisa menafsirkan bagian keuntungan yang akan diterima dan perkembangan harga saham
2.1.3.2 Manajer atau Pemimpin Perusahaan
2.1.3.3 Investor (Penanam Modal Jangka Panjang)
Investor sangat memerlukan laporan keuangan perusahaan dimana mereka ini penanam modalnya. Mereka ini berkepentingan terhadap prospek keuntungan di masa mendatang dan perkembangan perusahaan selanjutnya, untuk mengetahui jaminan investasinya dan untuk mengetahui kondisi kerja atau kondisi keuangan jangka pendek perusahaan tersebut. Dari hasil analisis laporan tersebut para investor akan dapat menentukan langkah-langkah yang harus ditempuhnya.
Para investor berkepentingan terhadap laporan keuangan suatu perusahaan dalam rangka penentuan kebijksanaan penanaman modalnya, apakah mempunyai prospek yang cukup baik dan akan diperoleh keuntungan atau “rate of return” yang cukup baik.
2.1.3.4 Para Kreditur dan Bankers
Sebelum mengambil keputusan untuk memberi atau menolak permintaan kredit dari suatu perusahaan, perlu mengetahui terlebih dahulu posisi keuangan dari perusahaan yang bersangkutan. Posisi atau keadaan keuangan perusahaan bagi pemberi kredit akan dapat diketahui melalui penganalisaan laporan keuangan perusahaan tersebut. Hal ini akan dilakukan baik oleh kreditur jangka pendek maupun kreditur jangka panjang.
Kreditur jangka panjang selain ingin mengukur kemampuan perusahaan untuk membayar hutangnnya dan beban-beban bunganya, juga untuk mengetahui apakah kredit yang akan diberikan itu cukup untuk mendapat jaminan dari perusahaan tersebut, yang digambarkan atau terlihat pada kemampuan perusahaan untuk mendapatkan keuntungan di masa yang akan datang. Sehingga mereka dalam mengadakan analisis laporan keuangan terbatas datanya, yaitu hanya atas dasar laporan-laporan keuangan yang dipublikasikan oleh perusahaan tersebut.
2.1.3.5 Pemerintah
Pemerintah adalah suatu pihak dimana perusahaan berdomisili, pemerintah sangat berkepentingan dengan laporan keuangan perusahaan tersebut di samping untuk menentukan besarnya pajak yang harus ditanggung oleh perusahaan juga sangat diperlukan oleh Biro Pusat Statistik Dinas Perindustrian, perdagangan dan tenaga kerja untuk dasar perencanaan pemerintah.
2.1.3.6 Karyawan Perusahaan
Karyawan perusahaan biasanya juga mengetahui laporan keuangan perusahaan tersebut. Bagi karyawan laporan keuangan diperlukan guna menawar kontrak kerja berikutnya.
2.2 Keterbatasan Laporan Keuangan
Menurut Ikatan Akuntan Indonesia (2002:6) dikatakan bahwa, Keterbatasan laporan keuangan adalah:
2.2.1 Laporan keuangan bersifat historis, yaitu merupakan laporan atas kejadian yang telah lewat bukan masa kini. Karena laporan keuangan tidak dapat dianggap sebagai satu-satunya sumber informasi dalam proses pengambilan keputusan ekonomi apalagi untuk meramalkan masa depan atau menentukan nilai (harga) perusahaan saat itu.
2.2.2 Laporan Keuangan bersifat umum, dan bukan dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan pihak tertentu atau pihak khusus saja seperti untuk pihak yang akan membeli perusahaan.
2.2.3 Proses penyusunan laporan keuangan tidak luput dari penggunaan taksiran dan berbagai pertimbangan.
2.2.4 Akuntansi hanya melaporkan informasi yang material. Demikian pula, penerapan prinsip akuntansi terhadap suatu fakta atau pos tertentu mungkin tidak dilaksanakan jika hal ini tidak menimbulkan pengaruh secara material terhadap kelayakan laporan keuangan.
jika harga pasar melebihi harga pokok tidak dicatat sebagai laba.
2.2.6 Laporan keuangan lebih menekankan pada makna
ekonomis suatu peristiwa/transaksi daripada bentuk hukumnya (formalitas). Misalnya jika perusahaan memiliki kredit Rp. 1 milyar, artinya perusahaan memiliki dana yang dapat ditarik setiap saat sebesar jumlah itu. Namun jika itu belum ditarik maka kita tidak dibolehkan mencatatnya sebagai unsur kas di neraca.
2.2.7 Laporan keuangan disusun dengan menggunakan istilah-istilah teknis, dan pemakai laporan diasumsikan memahami bahasa teknis akuntansi dan sifat dari informasi yang dilaporkan.
2.2.8 Adanya berbagai alternatif metode akuntansi yang dapat digunakan menimbulkan variasi dalam pengukuran sumber-sumber ekonomis dan tingkat kesuksesan antar perusahaan. Metode penilaian persediaan boleh menggunakan metode LIFO (last in first out), FIFO (first in first out), Average yang hasilnya pasti berbeda. Demikian juga metode penyusutan: garis lurus, saldo menurun, Sum of Years Digit, dan sebagainya.
2.2.9 Informasi yang bersifat kualitatif dan fakta yang tidak dapat dikuantifikasikan umumnya diabaikan.
2.3 Komponen-komponen Laporan Keuangan
Menurut Ikatan Akuntan Indonesia (2002:1.3), “laporan keuangan yang lengkap terdiri dari komponen-komponen neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan ekuitas, laporan arus kas dan catatan atas laporan keuangan tersebut.”
2.3.1 Neraca atau laporan posisi keuangan (Balance Sheet)
Neraca terdiri dari 3 bagian yaitu: Aktiva, Hutang, dan Modal 2.3.1.1 Aktiva
Menurut Ikatan Akuntan Indonesia (2002:13) aktiva adalah “Sumber daya yang dikuasai oleh perusahaan sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan dari mana manfaat ekonomi dimasa depan diharapkan akan diperoleh.”
Aktiva tidak terbatas pada kekayaan perusahaan yang berwujud saja, tetapi juga termasuk pengeluaran-pengeluaran yang belum dialokasikan pada penghasilan yang akan datang serta aktiva yang tidak berwujud lainnya (intangible assets) misalnya Goodwil, hak paten dan sebagainya.
Pada dasarnya aktiva dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian yaitu aktiva lancar dan aktiva tidak lancar.
2.3.1.1.1 Aktiva Lancar
Secara umum aktiva lancar, meliputi kas dan semua aktiva yang dalam jangka waktu singkat akan kembali lagi dalam bentuk kas. Dimana jangka waktunya tidak lebih dari satu tahun terhitung dari tanggal neraca.
Penyajian pos-pos aktiva lancar di dalam neraca didasarkan pada urutan likuiditasnya, sehingga penyajiannya diliputi dari aktiva yang paling likuid sampai pada aktiva yang paling tidak likuid.
Dari uraian diatas yang temasuk dalam kelompok aktiva yang likuid adalah sebagai berikut:
2.3.1.1.1.1 Kas atau uang tunai, yang meliputi uang kertas, cek dan segala sesuatu yang dapat disamakan dengan uang kas,
2.3.1.1.1.2 Surat-surat berharga yang merupakan investasi jangka pendek, berupa saham, obligasi dan jenis-jenis surat berharga lainnya yang dapat dijual, 2.3.1.1.1.3 Piutang wessel, tagihan kepada pihak
perjanjian yang diatur dalam undang undang,
2.3.1.1.1.4 Piutang dagang, tagihan kepada pihak lain (kepada kreditur atau langganan) sebagai akibat adanya penjualan barang dagangan secara kredit,
2.3.1.1.1.5 Persediaan, adalah persediaan yang berupa barang dagangan, barang setengah jadi, atau bahan mentah yang dimiliki perusahaan pada suatu saat tertentu,
2.3.1.1.1.6 Penghasilan yang masih harus diterima, adalah tagihan perusahaan kepada pihak lain yang timbul dari penghasilan yang sudah menjadi hak perusahaan tetapi saat penyesuaian
neraca belum diterima pembayarannya,
pembayaran premi asuransi dimuka dan lain sebagainya.
2.3.1.1.2 Aktiva Tidak Lancar
Menurut Munawir (2004:16), “aktiva tidak lancar adalah aktiva yang mempunyai umur kegunaan relatif permanen atau jangka panjang (mempunyai umur ekonomis lebih dari satu tahun atau tidak akan habis dalam satu kali perputaran operasi perusahaan).” Sedangkan menurut Tunggal (1995:11), “aktiva
tidak lancar adalah aktiva yang mempunyai masa penggunaan yang relatif panjang, dalam arti tidak akan habis dipakai dalam satu siklus operasi perusahaan atau satu tahun dan tidak dengan segera dijadikan kas.”
Yang termasuk dalam aktiva tidak lancar adalah sebagai berikut:
2.3.1.1.2.2 Aktiva tetap berwujud, kekayaan yang dimiliki oleh perusahaan yang fisiknya nampak (konkrit) dan digunakan dalam operasi yang bersifat permanen (aktiva tersebut mempunyai umur manfaat jangka panjang atau tidak habis dalam satu periode kegiatan perusahaan). Seperti bangunan kantor, pabrik, mesin, dan lain sebagainya.
2.3.1.1.2.3 Aktiva tetap tak berwujud (intangible fixed asset), merupakan kekayaan perusahan yang secara fisik tidak tampak tetapi merupakan milik perusahaan dan digunakan dalam kegiatan operasi perusahaan.
2.3.1.1.2.5 Aktiva lain-lain yang mana belum menunjukkan kekayaan atau aktiva perusahaan yang belum dimasukkan dalam klasifikasi sebelumnya seperti gedung dalam proses, tanah dalam penyelesaian, piutang jangka panjang dan sebagainya.
2.3.1.2 Kewajiban (Hutang)
Menurut Munawir (2004:18), “hutang adalah Semua kewajiban keuangan perusahan kepada pihak lain yang belum terpenuhi, dimana hutang ini merupakan sumber dana atau modal perusahaan yang berasal dari kreditor.” Dari pengertian di atas maka hutang dapat dibedakan menjadi dua bagian yaitu:
2.3.1.2.1 Hutang lancar (hutang jangka pendek)
Hutang lancar terdiri atas:
2.3.1.2.1.1 Hutang dagang, adalah suatu bentuk hutang lancar yang tidak disertai dengan janji tertulis secara formal yang timbul akibat pembelian barang atau jasa secara kredit.
2.3.1.2.1.2 Hutang wessel, hutang yang disertai janji tertulis (diatur oleh undang-undang) yang dibuat oleh perusahaan untuk membayar sejumlah uang kepada atau perusahaan lain pada waktu yang telah ditetapkan dalam surat tersebut.
2.3.1.2.1.3 Hutang pajak, baik pajak perusahaan tersebut maupun pajak pendapatan karyawan yang belum disetorkan ke kas negara.
Misalnya, hutang gaji kepada pegawai, hutang bunga, hutang pajak, hutang sewa, dan lain-lain biaya yang masih harus dibayar. 2.3.1.2.2 Hutang jangka panjang.
Hutang jangka panjang adalah kewajiban keuangan dari perusahaan yang mana jangka waktu pembayarannya (jatuh temponya) masih jangka panjang lebih dari satu tahun sejak tanggal neraca yang terdiri atas:
2.3.1.2.2.1 Hutang obligasi, adalah suatu janji tertulis untuk membayar pokok pinjaman pada saat jatuh tempo ditambah dengan bunga yang akan dibayar secara teratur pada waktu tertentu,
2.3.1.3 Ekuitas (Modal)
Modal merupakan hak atau bagian yang dimiliki oleh pemilik perusahaan yang ditunjukkan dalam pos modal (modal saham), surplus dan laba yang ditahan, atau dapat diartikan sebagai selisih antara aktiva yang dimiliki perusahaan dengan seluruh hutang-hutang perusahaan. Terkadang dalam prakteknya klasifikasi dalam neraca seringkali membingungkan pembaca dengan nama reserve (cadangan) yang merupakan surplus, yang mana cadangan tersebut merupakan hak para pemilik perusahaan, sebagai contoh “cadangan untuk ekspansi” adalah merupakan pemisahan sebagian dari laba yang ditahan (retained earning) yang mana dalam neraca akan masuk dalam klasifikasi modal (appropriated surplus).
2.3.3 Laporan Laba Rugi (Income Satement)
Laporan laba rugi merupakan suatu laporan yang sistematis tentang penghasilan dan biaya yang diperoleh suatu perusahaan selama periode tertentu.
Bentuk-bentuk laporan laba rugi terbagi atas dua yaitu:
langkah yakni mengurangkan total biaya dengan total pendapatan.
2.3.3.2 Bentuk multiple step, yakni pengelompokan yang lebih teliti sesuai prinsip yang digunakan secara umum.
Tujuan pokok laporan laba rugi adalah melaporkan kemampuan riil perusahaan dalam menghasilkan keuntungan. Laporan laba rugi perusahaan disajikan sedemikian rupa yang menonjolkan berbagai unsur kinerja keuangan yang diperlukan bagi penyajian secara wajar. Laporan laba rugi minimal mencakup pos-pos berikut:
2.3.3.1 Pendapatan, 2.3.3.2 Laba rugi usaha, 2.3.3.3 Beban pinjaman,
2.3.3.4 Bagian dari laba atau rugi perusahaan afiliasi dan asosiasi yang diperlukan menggunakan metode ekuitas,
2.3.3.5 Beban pajak,
2.3.3.6 Laba atau rugi dari aktivitas normal perusahaan, 2.3.3.7 Pos luar biasa,
2.3.3.8 Hak minoritas,
2.3.3.9 Laba atau rugi bersih untuk periode berjalan. (IAI, 2002:1.14)
2.3.4 Laporan Perubahan Ekuitas
Laporan perubahan ekuitas menggambarkan peningkatan atau penurunan aktiva bersih atau kekayaan selama periode yang bersangkutan. Perusahaan harus menyajikan laporan perubahan ekuitas sebagai komponen utama laporan keuangan, yang menunjukkan:
2.3.4.1 Laba atau rugi bersih periode yang bersangkutan,
2.3.4.2 Setiap pos pendapatan dan beban, keuntungan atau kerugian beserta jumlahnya yang berdasarkan PSAK terkait diakui secara langsung dalam ekuitas,
2.3.4.3 Pengaruh kumulatif dari perubahan kebijakan akuntansi dan perbaikan terhadap kesalahan mendasar sebagaimana diatur dalam PSAK terkait,
2.3.4.5 Saldo akumulasi laba atau rugi pada awal dan akhir periode serta perubahan, dan
2.3.4.6 Rekonsiliasi antar nilai tercatat dari masing-masing jenis modal saham, agio dan cadangan pada awal dan akhir periode yang mengungkapkan secara terpisah setiap perubahan. (IAI, 2002:1.17)
Laporan perubahan ekuitas, kecuali untuk perubahan yang berasal dari transaksi dengan pemegang saham seperti setoran modal dan pembayaran dividen, menggambarkan jumlah keuntungan dan kerugian yang berasal dari kegiatan perusahaan selama periode yang bersangkutan.
2.3.5 Laporan Arus Kas
Laporan arus kas dapat memberikan informasi yang memungkinkan para pemakai untuk mengevaluasi perubahan dalam aktiva bersih, struktur keuangan (termasuk likuiditas dan solvabilitas) dan kemapuan untuk mempengaruhi jumlah serta waktu arus kas dalam rangka adaptasi dengan perubahan keadaan dan peluang. (IAI, 2002:2.1) Informasi arus kas berguna untuk menilai kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas dan setara kas dan memungkinkan para pemakai mengembangkan model untuk menilai dan membandingkan nilai sekarang dari arus kas masa depan (future cash flow) dari berbagai perusahaan.
2.3.6 Catatan atas Laporan Keuangan
Catatan atas laporan keuangan mengungkapkan:
2.3.6.1 Informasi tentang dasar penyusunan laporan keuangan dan kebijakan akuntansi yang dipilih dan diterapkan terhadap peristiwa dan transaksi yang penting,
2.3.6.2 Informasi yang diwajibkan dalam pernyataan Standar Akuntansi Keuangan tetapi tidak disajikan di neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan ekuitas,
2.3.6.3 Informasi tambahan yang tidak disajikan dalam laporan keuangan tetapi diperlukan dalam rangka penyajian secara wajar.
(IAI, 2002:1.17) 2.4 Analisis Laporan Keuangan
Menurut Soemarso (2005:21), “analisis laporan keuangan adalah menghubungkan angka-angka yang terdapat dalam laporan keuangan dengan angka lain atau menjelaskan perubahannya (trend).”
Sedangkan menurut Harahap (1997:190),
Analisis laporan keuangan adalah menguraikan pos-pos laporan keuangan menjadi unit informasi yang lebih kecil dan melihat hubungannya yang bersifat signifikan atau mempunyai makna antara satu dengan yang lainnya baik antara data kuantitatif maupun data nonkuantitatif dengan tujuan untuk mengetahui kondisi keuangan lebih dalam yang sangat penting dalam proses menghasilkan keputusan yang tepat.
kondisi keuangan dari perusahaan tersebut. Oleh karena itu untuk menjawab adanya pertanyaan-pertanyaan dari pihak eksternal dan internal tersebut maka perlu dilakukan analisis terhadap laporan keuangan tersebut yang berfungsi untuk membandingkan atau mengidentifikasikan laporan keuangan tersebut terhadap pos-pos yang terdapat dalam laporan keuangan tersebut.
2.4.1 Sifat-sifat Analisis Laporan Keuangan
Analisis laporan keuangan mempunyai sifat-sifat seperti:
2.4.1.1 Fokus pelaporan adalah laporan laba rugi, neraca, arus kas, yang merupakan akumulasi transaksi dari keterjadian historis, dan penyebab terjadinya dalam suatu perusahaan, 2.4.1.2 Prediksi, analisis harus mengkaji implikasi kejadian yang
sudah berlalu terhadap dampak prospek perkembangan keuangan perusahaan dimasa yang akan datang,
2.4.1.3 Dasar analisa adalah laporan keuangan yang memiliki sifat dan prinsip tersendiri sehingga hasil analisa sangat tergantung pada kualitas laporan ini. Penguasaan pada sifat akuntansi, prinsip akuntansi sangat diperlukan dalam menganalisa laporan keuangan.
2.4.2 Tujuan Analisis Laporan Keuangan
Secara lengkap tujuan analisis laporan keuangan adalah:
2.4.2.1 Dapat memberikan informasi yang lebih luas, lebih dalam, daripada yang terdapat dari laporan keuangan,
2.4.2.2 Dapat menggali informasi yang tidak tampak secara kasat mata (explicit) dari suatu laporan keuangan atau yang berada dibalik laporan keuangan (implicit),
2.4.2.3 Dapat mengetahui kesalahan yang terkandung dalam laporan keuangan,
2.4.2.4 Dapat membongkar hal-hal yang bersifat tidak konsisten dalam hubungannya dengan suatu laporan keuangan baik dikaitkan dengan komponen intern laporan keuangan maupun kaitannya dengan informasi yang diperoleh dari luar perusahaan,
2.4.2.5 Mengetahui sifat-sifat hubungan yang akhirnya dapat melahirkan model-model dan teori-teori yang terdapat dilapangan seperti untuk prediksi dan peringkat (rating) 2.4.2.6 Dapat memberikan informasi yang diinginkan oleh para
pengambil keputusan seperti:
2.4.2.6.1 Dapat menilai prestasi perusahaan,
2.4.2.6.3 Dapat menilai kondisi keuangan masa lalu dan masa sekarang dari aspek waktu tertentu seperti posisi keuangan (asset, dan modal pada neraca), hasil usaha perusahaan (hasil dan biaya), likuiditas, solvabilitas, aktivitas, rentabilitas atau profibilitas, dan indikator pasar modal, 2.4.2.6.4 Menilai perkembangan dari waktu ke waktu, 2.4.2.6.5 Melihat komposisi struktur keuangan, arus dana 2.4.2.7 Dapat menentukan peringkat (rating) perusahaan menurut
kriteria tertentu yang sudah dikenal dalam bisnis,
2.4.2.8 Dapat membandingkan situasi perusahaan dan perusahaan lain dengan periode sebelumnya atau dengan standar industri normal atau standar ideal.
2.4.2.9 Dapat memahami situasi dan kondisi keuangan yang dialami perusahaan, baik posisi keuangan, hasil usaha, struktur keuangan, dan sebagainya,
2.4.2.10 Dapat memprediksi potensi apa yang mungkin dialami perusahaan di masa yang akan datang.
2.4.3 Prosedur Analisis
Menurut Smith dan Skousen (2001:590),
Prosedur analitis dapat dibagi menjadi dua kategori yaitu: 2.4.3.1 Perbandingan dan pengukuran berdasarkan data
2.4.3.2 Perbandingan dan pengukuran berdasarkan data keuangan hanya dari suatu periode fiskal
Kategori ini mencakup penetapan hubungan neraca dengan perhitungan rugi laba periode berjalan dan penganalisaan laba dan kemampuan menghasilkan laba.
2.4.4 Metode Analisis
Secara umum metode analisis laporan keuangan dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu:
2.4.4.1 Metode Analisis Horizontal
Adalah metode analisis yang dilakukan dengan cara membandingkan laporan keuangan untuk beberapa tahun (periode) sehingga dapat diketahui perkembangan dan kecenderungannya. Metode ini disebut juga dengan metode analisis dinamis karena metode ini bergerak dari tahun ketahun (periode).
2.4.4.2 Metode Analisis Vertikal
Adalah metode yang dilakukan dengan cara menganalisis laporan keuangan pada tahun (periode) yang sama, karena membandingkan antara pos-pos yang satu dengan pos-pos yang lainnya pada laporan keuangan yang sama.
2.4.5 Teknik analisis
Teknik analisis yang biasa digunakan dalam analisis laporan keuangan adalah sebagai berikut:
2.4.5.1 Analisis perbandingan laporan keuangan, 2.4.5.2 Analisis seri trend atau angka index,
2.4.5.3 Laporan dengan persentase per komponen (common size statement),
2.4.5.4 Analisis sumber dan penggunaan modal kerja, 2.4.5.4 Analisis sumber dan penggunaan dana,
2.4.5.5 Analisis rasio,
2.4.5.6 Analisis perubahan laba kotor 2.4.5.7 Analisis Break-even
Dari jenis analisis di atas, penulis akan mempersempit cakupan pembahasannya, yaitu hanya menyajikan analisis rasio dalam Penelitian ini sesuai dengan yang dikemukakan yaitu mengenai analisis rasio.
2.5 Analisis Rasio
(berarti).” Analisis rasio adalah suatu cara untuk menganalisis laporan keuangan yang mengungkapkan hubungan matematik antara suatu jumlah dengan jumlah lainnya atau perbandingan antara satu pos dengan pos lainnya. Analisis rasio juga merupakan suatu alat analisis keuangan yang sangat populer dan banyak digunakan. Namun perannya sering disalah pahami dan sebagai konsekuensinya, kepentingan sering dilebih lebihkan. Kita harus ingat bahwa rasio merupakan alat untuk menyatakan pandangan terhadap kondisi yang mendasari, dalam hal ini kondisi financial perusahan Analisis rasio sering kali digunakan dalam melakukan analisis terhadap kondisi keuangan perusahaan. Rasio ini berfungsi untuk menyederhanakan informasi yang menggambarkan hubungan antara pos tertentu dengan pos lainnya. Sehingga dengan melihat perbandingan tersebut dengan rasio lain maka dapat diambil penilaian dan kita dapat memperoleh informasi yang lebih cepat.
2.5.1 Keunggulan Analisis rasio
Analisis rasio mempunyai keunggulan-keunggulan yang membuat analisis tersebut banyak dipergunakan oleh banyak perusahaan ataupun perusahan jasa. Keunggulan tersebut adalah sebagai berikut:
2.5.1.2 Merupakan pengganti yang lebih sederhana dari informasi yang disajikan laporan keuangan yang sangat rinci dan rumit,
2.5.1.3 Mengetahui posisi perusahaan di tengah industri lainnya, 2.5.1.4 Sangat bermanfaat untuk bahan dalam mengisi
model-model pengambilan keputusan dan model-model prediksi, 2.5.1.5 Menstandarisir size perusahan,
2.5.1.6 Lebih mudah membandingkan perusahaan dengan perusahan lain atau melihat perkembangan perusahaan secara periodik atau “time series”
2.5.1.7 Lebih mudah melihat trend perusahaan serta melakukan prediksi dimasa yang akan datang.
2.5.2 Keterbatasan Analisis Rasio
Selain terdapat keunggulan dari analisis rasio ini maka terdapat juga beberapa keterbatasan yang harus disadari ketika menggunakannya sehingga kita tidak salah dalam penggunanya. Keterbatasan tersebut berupa hal-hal sebagai berikut:
2.5.2.1 Kesulitan dalam memilih rasio yang tepat yang dapat digunakan untuk kepentingan pemakainya,
2.5.2.3 Bahan perhitungan rasio atau laporan keuangan itu banyak mengandung taksiran dan judgment yang dapat dinilai biasa atau subyektif,
2.5.2.4 Metode pencatatan yang tergambar dalam standar akuntansi bisa diterapkan berbeda oleh perusahan yang berbeda,
2.5.2.5 Klasifikasi dalam laporan keuangan bisa berdampak pada angka rasio,
2.5.2.6 Jika data untuk menghitung rasio tidak tersedia maka akan menimbulkan kesulitan dalam menghitung rasio,
2.5.2.7 Nilai yang terkandung dalam laporan keuangan dan rasio adalah nilai perolehan (cost) bukan harga pasar,
2.5.2.8 Sulit jika data yang tersedia sinkron,
2.5.2.9 Jika dua perusahaan dibandingkan bisa saja standar akuntansi yang dipakai tidak sama. Oleh karena itu jika dilakukan perbandingan dapat menimbulkan kesalahan. 2.5.3 Jenis-jenis Rasio
Secara umum rasio yang sering digunakan oleh perusahaan dalam menganalisa posisi keuangan perusahan adalah:
2.5.4 Rasio Likuiditas
Rasio likuiditas menggambarkan kemampuan perusahaan untuk menyelesaikan kewajiban jangka pendek. Rasio ini dihitung melalui sumber informasi tentang modal kerja yaitu pos pos aktiva lancar dan hutang lancar.
Menurut Soemarso (2005:385), “rasio likuiditas adalah analisis laporan keuangan yang dapat mengukur kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendeknya yang jatuh tempo.”
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa rasio likuiditas adalah rasio yang menunjukkan hubungan kas dan aktiva lancar lainnya dengan kewajiban lancar. Secara umum untuk dapat menilai posisi keuangan jangka pendek (likuiditas) diberikan beberapa rasio yang dapat digunakan sebagai alat untuk menganalisa atau menginterpretasikan data laporan keuangan tersebut adalah sebagai berikut:
2.5.4.1 Current ratio (rasio lancar)
lancar maka semakin tinggi kemampuan perusahaan menutupi kewajiban jangka pendeknya.
Apabila rasio lancar 1:1 atau 100%, ini berarti bahwa aktiva lancar dapat menutupi semua hutang lancar. Rasio lancar yang lebih aman adalah jika berada di atas 1 atau diatas 100%, artinya aktiva lancar harus jauh di atas jumlah hutang lancar.
Rasio kas adalah perbandingan antara jumlah kas (termasuk yang disimpan di bank) dan surat berharga yang segera dapat diuangkan dengan jumlah hutang lancar.
Cash ratio =
2.5.4.3 Acid Test Ratio (rasio cepat)
Aktiva
mudah atau membutuhkan waktu yang relatif lama untuk direalisisir menjadi uang kas walaupun sebenarnya persedian lebih likuid daripada piutang.
Quick Ratio =
2.5.4.4 Working Capital to Total Asset Ratio (Rasio modal kerja atas total harta)
Rasio modal kerja atas total harta adalah perbandingan antara jumlah modal kerja bersih (jumlah aktiva lancar setelah dikurangi dengan kewajiban lancar) dengan seluruh aktiva perusahaan.
Working capital to total asset ratio =
2.5.5 Inventory Turnover
diterpakan dalam persediaan bahan mentah maupun persediaan barang dalam proses. Apabila harga pokok penjualan tidak diperoleh maka perputaran persediaan dapat dihitung dari penjulan.
Inventory turnover adalah untuk mengukur efisiensi perusahaan dalam mengelola dan menjual persediaannya. Rasio ini menggambarkan kecepatan persediaan, sehingga besar rasio akan semakin baik. Sehingga tinggi perputaran rasio ini maka akan semakin baik waktu rata-rata antara penanaman modal dalam persediaan dengan transaksi penjualan. Hal tersebut menunjukkan semakin tinggi permintaan atau penjualan produk perusahaan serta semakin efisien kerja dari tim manajemen persediaan maka semakin tinggi laba yang akan diperoleh. Rumus Inventory Turnover yang digunakan:
Inventory Turnover =
diperoleh dari modal sendiri maupun dari modal asing yang telah diubah perusahaan menjadi aktiva-aktiva perusahaan yang digunakan untuk kelangsungan hidup perusahaan.
Return on Assets =
Aktiva Total
Laba
Misalnya perusahaan A, dengan margin laba bersih hanya 2 persen dan perputaran total aktiva 10, memiliki daya untuk menghasilkan laba yang sama yaitu 20, dengan perusahaan B yang memiliki margin laba bersih 20 persen dan rasio perputaran total aktiva 1. Bagi setiap perusahaan tersebut, setiap 100 dollar yang diinvestasikan dalam aktiva akan kembali 20 dollar laba setelah pajak per tahunnya.
2.5.7 Operating Ratio
Selisish antara net margin ratio (rasio laba bersih dengan penjualan) dengan 100% menunjukkan prosentase yang tersisa untuk menutup harga pokok penjualan dan biaya operasi, prosentase ini dinamakan “operating ratio” atau rasio antara (harga pokok penjualan + biaya operasi) dengan penjualan bersih.
Operating Ratio =
Sales Net
Operasi Biaya
Sold Good of
Cost +
dikendalikan oleh management, tetapi juga factor ekstern, misalnya factor harga yang sulit dikendalikan oleh manajemen.
2.5.8 Time Interest Earned
Time Interest Earned adalah mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban dalam melunasi beban yang ditimbulkan karena dana dari pihak eksternal bukan pemilik dengan menggunakan dana dari laba usaha (EBIT). Rasio ini disebut juga rasio penutupan (Coverage Ratio), yaitu mengukur kemampuan pemenuhan kewajiban bunga tahunan dengan laba operasi (EBIT), sejauh mana laba operasi boleh turun tanpa menyebabkan kegagalan dalam pemenuhan kewajiban membayar bunga pinjaman.
Time Interest Earned =
e
mencari tambahan dana untuk kegiatan investasinya karena tingkat kemanan yang baik dari para kreditur yang digambarkan oleh tingginya kemampuan perusahaan dalam membayar bunga atas hutangnya. Laba sebelum bunga dan pajak merupakan gambaran keuntungan perusahaan yang di dapatkan dari kegiatan operasi perusahaan. Dengan perolehan keuntungan yang besar maka perusahaan disamping dapat membayar beban bunganya, juga memperlihatkan kemampuan laba perusahaan yang kuat sehingga investor atau calon investor tertarik untuk menanamkan modalnya pada perusahaan.
dari para pemegang sahamnya, dan akhirnya berdampak juga pada kelangsungan hidup perusahaan.
2.6 Pengaruh Likuiditasterhadap ROA
Likuiditas adalah rasio yang bertujuan untuk mengukur kemampuan suatu
perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Semakin tinggi
Likuidtas suatu perusahaan berarti semakin kecil resiko kegagalan perusahaan
dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Akibatnya resiko yang akan
ditanggung pemegang saham juga semakin kecil. Nilai Likuidtas yang tinggi
dari suatu perusahaan akan mengurangi ketidakpastian bagi investor, namun
mengindikasikan adanya dana yang menganggur (idle cash) sehingga akan
mengurangi tingkat profitabilitas perusahaan, akibatnya ROA juga semakin
kecil. Dengan demikian diduga semakin besar nilai Likuiditas maka ROA
semakin kecil .
2.7 Pengaruh Inventory Turnover terhadap ROA
Informasi mengenai tingkat perputaran persediaan dapat digunakan sebagai
dasar untuk menentukan apakah suatu persediaan lambat dalam proses
penjualan atau memakaiannya dalam kegiatan perusahaan. Inventory
Semakin tinggi perputarannya menunjukkan perusahaan semakin efisien
dalam menekan biaya atas persediaan tersebut. Dengan demikian sangat
dimungkinkan bahwa hubungan antara Inventory turnover dengan ROA
adalah positif. Semakin besar inventory turnover akan semakin baik karena
berarti semakin efisien seluruh aktiva yang digunakan untuk menunjang
kegiatan penjualan. ROA yang meningkat karena dipengaruhi oleh inventory
turnover.
2.8 Penelitian Terdahulu
Lubis (2004) melakukan penelitian dengan judul "Analisis Pengaruh Likuiditas Terhadap Profitabilitas Pada PT. Perkebunan Nusantara III (Persero) Medan". Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh variabel-variabel current ratio, cash ratio, dan acid test ratio terhadap profitabilitas. Kesimpulan yang dihasilkan melalui pengujian secara serentak (uji-f) adalah current ratio, cash ratio, dan acid test ratio secara bersama-sama mempunyai pengaruh signifikan terhadap profitabilitas. Pengujian secara parsial (Uji-t) menghasilkan kesimpulan bahwa hanya current ratio yang dapat mempengaruhi atau menjelaskan profitabilitas secara signifikan.
Dimana hasil penelitiannya menunjukkan bahwa secara simultan, tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara variavbel current ratio (CR), total asset turnover (TATO), return on equity (ROE), debt to equity ratio (DER), dan economic value added (EVA) terhadap return saham pada perusahaan yang tergabung dalam saham Food and Beverages di Bursa Efek Indonesia periode 2003-2007. Secara parsial, terdapat pengaruh yang signifikan antara current ratio (CR), dan debt to equity ratio (DER), terhadap return saham pada perusahaan yang tergabung dalam saham Food and Beverages di Bursa Efek Indonesia periode 2003-2007.
Sedangkan variabel total asset turnover (TATO), return on equity (ROE), dan economic value added (EVA) tidak terdapat pengaruh yang signifikan terhadap return saham pada perusahaan yang tergabung dalam saham Food and Beverages di Bursa Efek Indonesia periode 2003-2007.
Untuk perusahaan consumer goods, variabel inventory turnover, DER secara parsial berpengaruh signifikan positif terhadap variabel ROA sedangkan variabel current ratio, size tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel ROA pada perusahaan consumer goods.
Secara parsial menunjukkan bahwa terdapat perbedaan pengaruh Inventory Turnover (IT), Debt to Equity Ratio (DER), dan Size terhadap Profitabilitas (ROA) pada Perusahaan Food and Beverage dan Perusahaan Consumer Goods yang Terdaftar (listed) di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2005-2007.
Table 2 Penelitian Terdahulu
No Peneliti Variabel Metode
Analisis
Secara serentak (uji-f) current ratio, cash ratio, dan acid test ratio secara bersama-sama mempunyai pengaruh signifikan terhadap profitabilitas. Secara parsial (Uji-t) menghasilkan kesimpulan bahwa hanya current ratio yang dapat
mempengaruhi atau
value added signifikan antara current ratio (CR), dan debt to equity ratio (DER), terhadap return saham Sedangkan total asset turnover
(TATO), return on equity
(ROE), dan economic value
added (EVA) tidak terdapat pengaruh yang signifikan terhadap return saham.
3 Budi
Current ratio, size tidak berpengaruh signifikan terhadap (IT), Debt to Equity Ratio
(DER), dan Size terhadap
Profitabilitas (ROA)
ROA industri, rasio leverage keuangan tertimbang dan rasio intensitas modal tertimbang berpengaruh signifikan terhadap ROA, ROE industri yang terbukti berpengaruh signifikan terhadap ROE. Rasio leverage keuangan tertimbang paling signifikan dalam menjelaskan ROA, sedangkan yang paling signifikan dalam menjelaskan ROE adalah ROE industri. Sumber: Berbagai Jurnal dan Penelitian
2.10 Kerangka Konseptual
variabel independen (Xi). Pengaruh Current ratio, Cash ratio,Quick Ratio
Working capital to total asset ratio dan inventory Turnover terhadap ROA dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar 2.1 Kerangka Konseptual 2.11 Hipotesis
Dari gambar di atas menunjukkan bahwa H1: Quick Ratio, Working
Capital to Total Asset, Inventory Turnover, Operating Ratio dan Time Interest Earned berpengaruh secara simultan dan parsial terhadap Return
Inventory Turnover
Time Interest Earned Quick Ratio
Working capital to total asset ratio
Operating Ratio
On Asset pada perusahaan manufaktur sector food and beverage yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitan pengembangan. Penelitian
3.2 Tempat dan Waktu penelitian 3.2.1 Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Bursa Efek Indonesia melalui media
internet dengan situs
3.2.2 Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukn dari bulan Maret 2014
3.3 Batasan Operasional
Adapun batasan operasional dalam penelitian ini adalah:
3.3.1 Quick Ratio, Working Capital to Total Asset, Inventory Turnover, Operating Ratio dan Time Interest Earned yang mempengaruhi Return on Assets (ROA).
3.3.2 Data laporan keuangan perusahaan yang aktif di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode 2009-2013.
3.4 Definisi Operasional Variabel
Dalam penelitian ini ada beberapa variabel yang digunakan, yaitu variabel dependen (terikat) dan variabel independen (bebas). Variabel dependen (Y) adalah Return on Assets (ROA), sedangkan variabel independen (X) terdiri dari : Quick Ratio, Working Capital to Total Asset, Inventory Turnover, Operating Ratio dan Time Interest Earned
Aktiva
Rasio cepat atau disebut dengan quick ratio adalah perbandingan antara aktiva lancar setelah dikurangi dengan persediaan dengan kewajiban lancar.
3.4.2 Working Capital to Total Asset Ratio ( Rasio modal kerja atas total harta).
Rasio modal kerja atas total harta adalah perbandingan antara jumlah modal kerja bersih (jumlah aktiva lancar setelah dikurangi dengan kewajiban lancar) dengan seluruh aktiva perusahaan.
Working capital to total asset rati =
3.4.3 Inventory Turnover
Inventory Turnover adalah merupakan rasio antara jumlah harga pokok barang yang dijual dengan rata-rata persediaan yang dimiliki oleh perusahaan.
Operating Ratio =
3.4.5 Time Interest Earned (TIE)
Time Interest Earned di tentukan dengan membagi laba sebelum bunga dan pajak (EBIT) dengan beban bunga
Time Interest Earned =
e
Rasio antara net income after tax (NIAT) terhadap Total Asset.
Return on Assets =
Aktiva Total
Laba
3.5 Populasi dan Sampel
Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan sektor food and beverage yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode tahun 2009 sampai dengan tahun 2013 sejumlah 10 perusahaan.
Teknik pengambilan sampel dilakukan melalui metode purposive dengan tujuan untuk mendapatkan sampel yang representatif sesuai dengan kriteria berikut:
3.5.1 Terdaftar pada Bursa Efek Indonesia selama periode tahun 2009 2013.
3.5.3 Perusahaan yang membayar beban bunga periode tahun 2009-2013.
Dari 10 perusahaan yang terdaftar, 10 perusahaan yang memenuhi semua syarat penelitian untuk dijadikan sampel tersebut.
Table 3.1
Daftar Sampel Penelitian
No Kode Nama Perusahaan
2009 2010 2011 2012 2013
Kriteria Kriteria Kriteria Kriteria Kriteria
1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3
1 ADES PT. Akasha Wira
International Tbk √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
2 AISA PT. Tiga Pilar
Sejahtera Food Tbk √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
3 ALTO PT. Tri Bangun Tirta
Tbk x x x x x x x x x √ √ √ √ √ √
4 CEKA PT. Cahaya Kalbar Tbk √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
5 DAVO PT. Davomas Abadi
Tbk √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ x √ √ x
6 DLTA PT. Delta Djakarta Tbk √ √ x √ √ x √ √ x √ √ x √ √ x
7 ICBP PT. Indofood CBP
Sukses Makmur Tbk √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
8 INDF PT. Indofood Sukse
Makmur Tbk √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
9 MLBI PT. Multi Bintang
Indonesia Tbk √ √ x √ √ x √ √ √ √ √ √ √ √ √ 10 MYOR PT. Mayora Indah Tbk √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
11 PSDN PT. Prashida Aneka
12 ROTI PT. Nippon Indosari
Corporindo Tbk x x x √ √ √ √ √ x √ √ x √ √ √ 13 SKBM PT. Sekar Bumi Tbk x x x √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
14 SKLT PT. Sekar Laut Tbk √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
15 STTP PT. Siantar Top Tbk √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
16 ULTJ
PT. Ultrajaya Milk Industri and Trading Company TbK
√ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Sumbe
3.6 Obyek Penelitian, Jenis dan Sumber Data
Obyek penelitian adalah perusahaan yang sahamnya terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2009-2013. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder, dimana sumber data dari masing-masing variabel yang digunakan yaitu Quick Ratio, Working Capital to Total Asset, Inventory Turnover, Operating Ratio dan Time Interest Earned dan ROA diperoleh dari bursa efek indonesia untuk periode pengamatan tahun 2009 sampai dengan tahun 2013.
3.7 Metode Pengumpulan data
Earned, dan ROA dalam BEI diolah sesuai dengan definisi operasional variabel.
3.8 Teknik Analisis
Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis deskriptif dan analisis regresi. Metode Deskriptif adalah suatu metode analisis data dengan mengumpulkan data, menyusun, menginterpretasikan dan menganalisis data tersebut sehingga memberikan keterangan yang lengkap bagi pemecahan masalah yang dihadapi dalam penelitian ini.
Analisis regresi berganda dilakukan untuk mengetahui adanya pengaruh ada hubungan antara variabel-variabel independen dengan variabel dependen dengan menggunakan nilai beta unstandardized karena variabel yang digunakan mempunyai satuan yang sama yaitu persentase. Mekanisme analisis regresi berganda dilakukan dengan pengujian asumsi klasik (teoritis) meliputi uji normalitas data, uji multikolinearitas, uji heteroskedastisitas, dan uji autokorelasi, dilanjutkan dengan pengujian hipotesis. Untuk mengetahui proporsi dari total variasi variabel dependen yang dijelaskan oleh beberapa variabel independen secara bersama-sama diukur melalui koefisien determinasi yang dinyatakan dalam nilai .
statistik f. Selanjutnya dilakukan uji signifikansi t yakni menguji signifikansi koefisien regresi (beta) masing-masing variabel independen secara parsial.
Model regresi yang dirumuskan dalam penelitian ini adalah: ROA = a + β1 QR + β2 WCTA+ β3 IT + β4 OR + β5 TIE + e
dimana:
ROA = Return on asset
QR = Quic Ratio
WCR = Working capital to total asset ratio IT = Inventory turnover
OR = Operating Ratio TIE = Time Interest Earned
a = Koefisien konstanta (intercept)
β1 – β5 = Koefisien variabel independen
e = Variabel Pengganggu
3.8.1.1 Pengujian Asumsi Klasik
Sehubungan dengan penggunaan data sekunder dalam penelitian ini, maka untuk mendapatkan ketepatan model yang akan dianalisis perlu dilakukan pengujian atas beberapa persyaratan asumsi klasik yang mendasari model regresi di atas. Pengujian asumsi klasik ini terdiri dari uji normalisasi, uji multikolinieritas, uji heteroskedastisitas, serta uji autokorelasi.
3.8.1.1.1 Normalitas
Zhitung =
Sedangkan nilai t kurtosis dapat dihitung
dengan rumus: Zkurtosis
=
Pengujian ini diperlukan karena untuk melakukan uji t dan uji F mengasumsikan bahwa nilai residual mengikuti distribusi normal. Jika asumsi ini dilanggar atau tidak dipenuhi maka uji statistic menjadi tidak valid untuk jumlah sampel kecil. (Erlina, 2011:101)
3.8.1.1.2 Multikolinearitas
VIF =
VIF yang tinggi menunjukkan bahwa multikolinearitas telah menaikkan sedikit varian pada koefisisn estimasi, akibatnya menurunkan nilai t. semakin tinggi VIF, semaik berat dampak dari multikolinearitas. Pada umumnya jika nilai VIF>10, maka terjadi multikolinearitas yang cukup berat diantara variable independen. (Erlina, 2011:104).
Disamping itu, cara lain yang dapat digunakan untuk mendeteksi adanya gejala multikolinearitas adalah dengan melihat koefisien korelasi sedrhana antara variabel-variabel independen/penjelas. Apabila r tinggi nilai absolutnya, maka ada dua variabel penjelas tertentu berkorelasi dan masalah multikolinearitas ada dalam persamaan tersebut. Suatu model terdapat gejala multikolinearitas, jika korelasi diantar variabel independen lebih besar dari 0.8 (Erlina, 2011:104).
nol. Selain itu dapat juga dilihat melalui grafik normalitasnya terhadap variabel yang digunakan. Jika data yang dimiliki terletak menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal maka model regressi memenuhi asumsi normalitas dan tidak ada yang berpencar maka dapat dikatakan tidak
terjadi heteroskedastisitas tetapi homokedastisitas. Untuk mengetahui adanya
gejala heteroskedastisitas dalam model regresi, maka digunakan uji Glejser yang dilakukan dengan menggunakan rumus:
[ei] = βi Xi + Vi
dimana:
e
i = ResidualXi = Variabel independen yang diperkirakan
mempunyai hubungan erat dengan
variance ( i2)
Vi = Unsur kesalahan
3.8.1.1.4 Autokorelasi