Studi Perbandingan Kadar Protein Pada Putih Telur Ayam Ras, Telur Ayam Buras, Telur Itik, Telur Puyuh dan Telur Penyu Secara Titrasi Formol

65  66  11 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

STUDI PERBANDINGAN KADAR PROTEIN PADA PUTIH

TELUR AYAM RAS, TELUR AYAM BURAS, TELUR ITIK,

TELUR PUYUH DAN TELUR PENYU

SECARA TITRASI FORMOL

SKRIPSI

OLEH: OKTRIZA WITI

NIM 111524051

PROGRAM EKSTENSI SARJANA FARMASI

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(2)

STUDI PERBANDINGAN KADAR PROTEIN PADA PUTIH

TELUR AYAM RAS, TELUR AYAM BURAS, TELUR ITIK,

TELUR PUYUH DAN TELUR PENYU

SECARA TITRASI FORMOL

SKRIPSI

Diajukan untuk melengkapi salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Farmasi pada Fakultas Farmasi

Universitas Sumatera Utara OLEH:

OKTRIZA WITI NIM 111524051

PROGRAM EKSTENSI SARJANA FARMASI

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(3)

PENGESAHAN SKRIPSI

STUDI PERBANDINGAN KADAR PROTEIN PADA PUTIH

TELUR AYAM RAS, TELUR AYAM BURAS, TELUR ITIK,

TELUR PUYUH DAN TELUR PENYU

SECARA TITRASI FORMOL

OLEH: OKTRIZA WITI

NIM 111524051

Dipertahankan di Hadapan Panitia Penguji Skripsi Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara

Pada Tanggal: 3 Agustus 2013

Pembimbing I, Panitia Penguji,

Medan, Oktober 2013 Disahkan Oleh:

Dekan Fakultas Farmasi, Dr. Muchlisyam, M.Si., Apt.

NIP 195006221980021001

Drs. Chairul Azhar Dalimunthe, M.Sc., Apt. NIP 194907061980021001

Dr. Muchlisyam, M.Si., Apt. NIP 195006221980021001

Drs. Maralaut Batubara, M.Phill., Apt. NIP 195191311976031003

Pembimbing II,

Dra. Tuty Roida Pardede, M.Si., Apt. NIP 195401101980032001

Drs. Immanuel S. Meliala, M.Si., Apt. NIP 195001261983031002

(4)

KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat

dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan

penulisan skripsi ini yang berjudul “Studi Perbandingan Kadar Protein Pada

Putih Telur Ayam Ras, Telur Ayam Buras, Telur Itik, Telur Puyuh dan Telur

Penyu Secara Titrasi Formol”untuk memenuhi syarat guna memperoleh gelar

sarjana Farmasi pada Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara.

Pada kesempatan ini dengan segala kerendahan hati, penulis

mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Sumadio Hadisahputra, Apt., selaku Dekan Fakultas

Farmasi Universitas Sumatera Utara yang telah mensahkan dan

memberikan pengarahan dalam penyusunan skripsi ini.

2. Bapak Dr. Muchlisyam, M.Si., Apt., dan Drs. Maralaut Batubara, M.Phill., Apt., selaku dosen pembimbing yang telah membimbing penulis dengan

penuh kesabaran dan keikhlasan selama penelitian hingga selesainya

penulisan skripsi ini.

3. Bapak Drs. Fatur Rahman Harun, M.Si., Apt., selaku dosen wali yang

selama ini telah banyak membina dan membimbing penulis selama masa

pendidikan.

4. Ibunda tercinta Chadijah, Ayahanda Badaruddin, nenek Hj. Ramani, kakak

Desi Dariatni serta adik Bachtera Akbar yang telah memberikan kasih

(5)

5. Spesial untuk sahabat-sahabatku desy, ayu sari, nanda, niky, maya, didi

dan imal serta kepada teman-teman Semua mahasiswa/i khususnya S-1

Ekstensi tahun 2011 yang telah memberikan semangat, perhatian, doa, dan

kebersamaannya selama ini kepada penulis dalam menyelesaikan

penelitian dan penulisan skripsi ini. Semoga Allah SWT memberikan

balasan yang berlipat ganda atas segala kebaikan yang telah diberikan.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih banyak kekurangannya, oleh

karena itu sangat diharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari

semua pihak guna perbaikan skripsi ini. Akhir kata penulis berharap semoga

skripsi ini bermanfaat bagi ilmu pengetahuan khususnya di bidang farmasi.

Medan, Agustus 2013

Penulis,

(6)

STUDI PERBANDINGAN KADAR PROTEIN PADA PUTIH TELUR AYAM RAS, TELUR AYAM BURAS, TELUR ITIK,

TELUR PUYUH DAN TELUR PENYU SECARA TITRASI FORMOL

ABSTRAK

Telur merupakan produk peternakan yang memberikan sumbangan besar bagi tercapainya kecukupan gizi masyarakat. Dari sebutir telur mengandung zat gizi yang lengkap dan mudah dicerna. Oleh karena itu protein yang terdapat dalam makanan hewani seperti telur dikatakan sebagai protein sempurna. Di dalam telur terdapat bagian kuning dan putih yang mempunyai nilai protein yang berbeda. Protein merupakan faktor terpenting untuk fungsi tubuh. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan kandungan protein pada putih telur dari berbagai spesies telur.

Metode penelitian yang dilakukan yaitu analisis kualitatif protein dari putih telur dengan menggunakan pereaksi biuret dan xantoprotein. Sedangkan analisis kuantitatif dengan menggu nakan titrasi formol.

Hasil penelitian menunjukkan kandungan protein dalam putih telur ayam ras adalah (6,89 ± 0,1107) g/100 ml, putih telur ayam buras adalah (6,27 ± 0,0985) g/100 ml, putih telur itik adalah (8,06 ± 0,0879) g/100 ml, putih telur puyuh adalah (8,98 ± 0,1323) g/100 ml dan putih telur penyu adalah (0,44 ± 0,0985) g/100 ml. Secara statistik, uji beda rata-rata kandungan protein antara putih telur ayam ras, ayam buras, itik, puyuh dan penyu dengan menggunakan distribusi t, bahwa kandungan protein pada putih telur puyuh, putih telur itik, putih telur ayam ras, putih telur ayam buras lebih tinggi secara signifikan dari putih telur penyu.

Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kandungan protein yang tertinggi adalah pada putih telur puyuh yaitu (8,98 ± 0,1323) g/100 ml sedangkan yang terendah adalah pada putih telur penyu yaitu (0,44 ± 0,0985) g/100 ml.

(7)

COMPARATIVE STUDY ON THE WHITE EGG PROTEIN OF RAS CHICKEN, BURAS CHICKEN EGG, DUCK EGG,

QUAIL EGG AND TURTLE EGG CONTENT IN TITRATION FORMOL

ABSTRACT

Eggs are farm products contributed greatly to the achievement of community nutrition. An of egg contains complete nutrients and easy to digest. Therefore the protein contained in animal foods such as eggs is said to be a perfect protein. Contained in the egg yolk and the white part that has a value different proteins. Protein is an important factor for the functioning of the body. The purpose of this study was to determine differences in the protein content of egg whites from egg species.

Research methodology is a qualitative analysis of egg white proteins using biuret reagent and xantoprotein. Quantitative analyzes using titration Formol.

The results showed the protein content in ras chicken egg white is (6.89 ± 0.1822) g/100 ml, buras chicken egg white is (6.27 ± 0.1621) g/100 ml, duck egg white is (8.06 ± 0.1448) g/100 ml, quail egg white is (8.98 ± 0.2177) g/100 ml and egg white g/100 ml turtle is (0.44 ± 0.1621) g/100 ml. Statistically, the average difference test protein content between white eggs ras chicken, buras chicken, duck, quail and turtle using the t distribution, that the protein content in egg white quail, duck egg white, egg white ras chicken, buras chicken egg white significantly higher than white turtle eggs.

From the research it can be concluded that the protein content is the highest in the quail egg white (8.98 ± 0.2177) g/100 ml where as the lowest was on the turtle egg whites (0.44 ± 0.1621) g/100 ml.

(8)
(9)
(10)

3.5.5.1 Pembuatan Blanko ... 27

3.5.5.2 Penetapan Kadar Protein dalam Sampel ... 27

3.5.5.2.1 Penetapan Kadar Protein dalam Putih Telur Ayam Ras ... 27

3.5.6 Analisis data Secara Statistik ... ... 28

3.5.7 Pengujian Beda Nilai Rata-rata ... 29

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 31

4.1 Analisis Kualitatif ... 31

4.2 Analisis Kuantitatif ... 32

4.2.1 Analisis Kadar Protein dalam Putih Telur ... 32

4.2.2 Pengujian Beda Nilai Rata-rata Kadar Protein pada Putih Telur Ayam Ras, Telur Ayam Buras, Telur Itik, Telur Puyuh dan Telur penyu ... 33

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 35

5.1 Kesimpulan ... 35

5.2 Saran ... 35

DAFTAR PUSTAKA ... 36

(11)

DAFTAR TABEL

Halaman Tabel 1. Angka Kecukupan Protein Menurut Kelompok Umur

Dinyatakan Dalam Taraf Asupan Terjamin ... 14

Tabel 2. Hasil Analisis Kualitatif dalam Sampel ... 31

Tabel 3. Hasil Analisis Kuantitatif Kadar Protein Dalam Sampel ... 32

Tabel 4. Hasil Uji Beda Nilai Rata-Rata Protein Dalam Sampel ... 34

(12)

DAFTAR GAMBAR

Halaman Gambar 1. Pembakuan NaOH 0,1 N ... 39

Gambar 2. Sebelum dan Sesudah Titrasi Pada Sampel ... 39

Gambar 3. Hasil analisis kualitatif dengan Larutan pereaksi Biuret ... 41

Gambar 4. Hasil analisis kualitatif dengan larutan pereaksi

(13)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1. Perhitungan Pembakuan NaOH 0,1 N ... 38

Lampiran 2. Identifikasi Sampel ... 39

Lampiran 3. Bagan Alir Proses Pembuatan Larutan Sampel ... 40

Lampiran 4. Hasil Analisis Kualitatif Protein ... 41

Lampiran 5. Contoh Perhitungan Kadar Protein dalam Sampel ... 42

Lampiran 6. Perhitungan Statistik Kadar Protein pada Putih Telur ... 44

Lampiran 7. Pengujian Beda Nilai Rata-rata Kadar Protein antara Putih Telur Ayam Ras, Telur Ayam Buras, Telur Itik, Telur Puyuh, dan Telur Penyu ... 46

Lampiran 8. Tabel Distribusi t ... 49

(14)

STUDI PERBANDINGAN KADAR PROTEIN PADA PUTIH TELUR AYAM RAS, TELUR AYAM BURAS, TELUR ITIK,

TELUR PUYUH DAN TELUR PENYU SECARA TITRASI FORMOL

ABSTRAK

Telur merupakan produk peternakan yang memberikan sumbangan besar bagi tercapainya kecukupan gizi masyarakat. Dari sebutir telur mengandung zat gizi yang lengkap dan mudah dicerna. Oleh karena itu protein yang terdapat dalam makanan hewani seperti telur dikatakan sebagai protein sempurna. Di dalam telur terdapat bagian kuning dan putih yang mempunyai nilai protein yang berbeda. Protein merupakan faktor terpenting untuk fungsi tubuh. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan kandungan protein pada putih telur dari berbagai spesies telur.

Metode penelitian yang dilakukan yaitu analisis kualitatif protein dari putih telur dengan menggunakan pereaksi biuret dan xantoprotein. Sedangkan analisis kuantitatif dengan menggu nakan titrasi formol.

Hasil penelitian menunjukkan kandungan protein dalam putih telur ayam ras adalah (6,89 ± 0,1107) g/100 ml, putih telur ayam buras adalah (6,27 ± 0,0985) g/100 ml, putih telur itik adalah (8,06 ± 0,0879) g/100 ml, putih telur puyuh adalah (8,98 ± 0,1323) g/100 ml dan putih telur penyu adalah (0,44 ± 0,0985) g/100 ml. Secara statistik, uji beda rata-rata kandungan protein antara putih telur ayam ras, ayam buras, itik, puyuh dan penyu dengan menggunakan distribusi t, bahwa kandungan protein pada putih telur puyuh, putih telur itik, putih telur ayam ras, putih telur ayam buras lebih tinggi secara signifikan dari putih telur penyu.

Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kandungan protein yang tertinggi adalah pada putih telur puyuh yaitu (8,98 ± 0,1323) g/100 ml sedangkan yang terendah adalah pada putih telur penyu yaitu (0,44 ± 0,0985) g/100 ml.

(15)

COMPARATIVE STUDY ON THE WHITE EGG PROTEIN OF RAS CHICKEN, BURAS CHICKEN EGG, DUCK EGG,

QUAIL EGG AND TURTLE EGG CONTENT IN TITRATION FORMOL

ABSTRACT

Eggs are farm products contributed greatly to the achievement of community nutrition. An of egg contains complete nutrients and easy to digest. Therefore the protein contained in animal foods such as eggs is said to be a perfect protein. Contained in the egg yolk and the white part that has a value different proteins. Protein is an important factor for the functioning of the body. The purpose of this study was to determine differences in the protein content of egg whites from egg species.

Research methodology is a qualitative analysis of egg white proteins using biuret reagent and xantoprotein. Quantitative analyzes using titration Formol.

The results showed the protein content in ras chicken egg white is (6.89 ± 0.1822) g/100 ml, buras chicken egg white is (6.27 ± 0.1621) g/100 ml, duck egg white is (8.06 ± 0.1448) g/100 ml, quail egg white is (8.98 ± 0.2177) g/100 ml and egg white g/100 ml turtle is (0.44 ± 0.1621) g/100 ml. Statistically, the average difference test protein content between white eggs ras chicken, buras chicken, duck, quail and turtle using the t distribution, that the protein content in egg white quail, duck egg white, egg white ras chicken, buras chicken egg white significantly higher than white turtle eggs.

From the research it can be concluded that the protein content is the highest in the quail egg white (8.98 ± 0.2177) g/100 ml where as the lowest was on the turtle egg whites (0.44 ± 0.1621) g/100 ml.

(16)

BAB I PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang

Protein adalah zat makanan yang mengandung nitrogen yang

merupakan faktor penting untuk fungsi tubuh. Senyawa ini merupakan

senyawa kompleks yang terdiri dari asam-asam amino yang diikat satu sama

lain dengan ikatan peptida (Muchtadi, 2010). Protein terdapat dalam produk

hewan maupun dalam produk tumbuhan. Kualitas protein hewan lebih tinggi

daripada kualitas protein tumbuhan (Deman, 1989).

Telur sebagai salah satu sumber protein mempunyai banyak keunggulan

antara lain, kandungan asam amino yaitu arginin, sistin, histidin, isoleusin,

leusin, lisin, metionin, fenilalanin, treonin, triptofan dan valin (Muchtadi,

2010). Telur mempunyai citarasa yang enak sehingga digemari oleh banyak

orang. Bahan ini juga berfungsi dalam aneka ragam pengolahan bahan

makanan, dan termasuk bahan makanan sumber protein yang relatif murah dan

mudah ditemukan. Oleh karenanya, telur merupakan bahan pangan yang sangat

baik untuk anak-anak yang sedang tumbuh dan memerlukan protein dalam

jumlah yang banyak, juga sangat baik dikonsumsi oleh ibu yang sedang hamil

maupun yang sedang menyusui (Sudaryani, 2003).

Protein telur merupakan salah satu dari protein yang berkualitas terbaik.

Dianggap mempunyai nilai biologi yang tinggi dan dapat dipilah menjadi

(17)

(2012), putih telur mengandung banyak sekali kelompok protein yang

beragam. Lebih lanjut dijelaskan bahwa protein putih telur lebih cocok untuk

diteliti daripada protein yang lain (kuning telur), hal ini karena protein putih

telur lebih mudah dipisahkan daripada kuning telur selama tidak ada lemak

yang melekat melalui purification.

Berdasarkan literatur, perbedaan yang diperoleh kandungan protein

yang terdapat dalam putih telur ayam ras, telur ayam buras, telur ayam itik,

telur penyu dan telur puyuh, disebabkan kondisi lingkungan induk, Suhu dan

pakan (Sudaryani, 2003).

Analisis kuantitatif protein dapat dilakukan secara Spektrofotometri

Sinar Tampak, Kjedahl, Lowry dan Titrasi Formol (Sudarmadji, dkk., 1984).

Dalam penelitian ini digunakan Titrasi Formol, pemilihan metode ini

dikarenakan pada analisis kuantitatif secara Spektrofotometri Sinar Tampak

tidak mendapatkan hasil yang maksimal sehingga digunakan Titrasi Formol

didasarkan pada penentuan yang sederhana, murah dan mudah. Berdasarkan

hal tersebut, peneliti melakukan penelitian terhadap perbedaan kandungan

protein pada putih telur ayam ras, telur ayam buras, telur itik, telur puyuh dan

telur penyu yang terdapat di sekitar kota Medan.

Metode Titrasi Formol merupakan titrasi asam amino dengan

formaldehide dengan adanya NaOH. Indikator yang digunakan adalah

fenolftalein, akhir titrasi bila tepat terjadi perubahan warna menjadi merah

(18)

1.2 Perumusan Masalah

1. Berapakah kadar protein yang terkandung di dalam putih telur ayam

ras, telur ayam buras, telur itik, telur puyuh dan telur penyu?

2. Apakah ada perbedaan kadar yang terkandung di dalam putih telur

ayam ras, telur ayam buras, telur itik, telur puyuh dan telur penyu?

1.3 Hipotesis

1. Protein yang terkandung di dalam putih telur ayam ras, telur ayam

buras, telur itik, telur puyuh dan telur penyu dalam kadar tertentu.

2. Terdapat perbedaan kadar protein yang terkandung di dalam putih telur

ayam ras, telur ayam buras, telur itik, telur puyuh dan telur penyu.

1.4Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui kadar protein pada putih telur ayam ras, telur ayam

buras, telur itik, telur puyuh dan telur penyu.

2. Untuk membandingkan kadar protein yang terdapat di dalam putih telur

ayam ras, telur ayam buras, telur itik, telur puyuh dan telur penyu.

1.5Manfaat Penelitian

Untuk memberikan informasi kepada masyarakat tentang kandungan

protein yang terkandung dalam putih telur ayam ras, telur ayam buras, telur

(19)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Uraian

2.1.1 Ayam Ras Petelur

Ayam petelur adalah ayam-ayam betina dewasa yang dipelihara khusus

untuk diambil telurnya. Asal mula ayam unggas berasal dari ayam hutan liar

yang ditangkap dan dipelihara oleh masyarakat pedesaan.

Memasuki periode 1940-an, orang mulai mengenal ayam lain selain

ayam liar itu. Dari sini, orang mulai membedakan antara ayam orang belanda

(bangsa belanda saat itu menjajah Indonesia) dengan ayam liar di Indonesia.

Ayam liar ini mulai dinamakan ayam lokal yang kemudian disebut ayam

kampung karena keberadaan ayam itu memang di pedesaan. Sementara ayam

orang belanda disebut dengan ayam luar negeri (ayam ras) yang kemudian

lebih akrab dengan ayam ras white leghorn (Anonima, 2013).

2.1.2 Ayam Buras

Ayam kampung adalah ayam jinak yang telah terbiasa hidup ditengah

masyarakat. Daya adaptasinya sangat tinggi, karena ayam itu mampu

menyesuaikan diri dengan berbagai situasi, lingkungan, dan iklim yang ada.

Umumnya ayam peliharaan secara ekstensif, dibiarkan lepas bebas

(20)

kampung atau daerah pemukiman manusia. Karena tempat hidupnya itulah lalu

namanya disebut ayam kampung atau ayam buras (Saswono, 1997).

2.1.3 Itik

Itik yang banyak dikenal di Indonesia adalah spesies Anas domesticus.

Spesies ini berasal dari jenis itik liar Anas sp., kecuali manila

(Cairinamoschata). Telur itik untuk konsumsi umumnya merupakan telur asin.

Telur asin merupakan menu yang umum disajikan, dari warteg sampai hotel

berbintang lima. Itik dianggap sebagai hewan ternak asli Indonesia yang sangat

potensial menjadi sumber tumpuan kehidupan masyarakat pedesaan

(Simanjuntak, 2007).

2.1.4 Puyuh

Puyuh mempunyai ukuran tubuh yang relatif kecil dan berkaki pendek.

Puyuh inilah yang telurnya sering kita lihat dijajakan di pasar-pasar. Telur

puyuh berukuran kecil dan berwarna khas campuran cokelat tua, biru, putih,

dengan bintik-bintik hitam, cokelat, dan biru. Untuk produksi telur puyuh,

dipilih telur puyuh betina, yang sehat atau bebas dari penyakit. telur puyuh

biasanya mempunyai berat sekitar 10-11 gram (Juariah, 2010).

2.1.5 Penyu

Penyu memiliki sepasang tungkai depan yang berupa kaki pendayung

yang memberinya ketangkasan berenang di dalam air dan mempunyai berat

(21)

hewan ini tetap harus sesekali naik ke permukaan air untuk mengambil napas.

Penyu mengalami siklus bertelur yang beragam, dari 2-8 tahun sekali.

Sementara penyu jantan menghabiskan seluruh hidupnya di laut, betina

sesekali mampir ke daratan untuk bertelur. Penyu merupakan hewan yang

dilindungi karena dikhawatirkan hampir punah sebab jumlahnya makin sedikit

(Anonimb, 2013).

2.2 Protein

Nama protein berasal dari proteios, yang berarti yang utama atau yang

terdahulukan. Protein adalah zat yang paling penting dalam tiap organisme.

Protein adalah biopolimer dari asam-asam amino yang dihubungkan melalui

ikatan peptida. Protein terdiri atas rantai-rantai panjang asam amino, yang

terikat satu sama lain oleh ikatan peptida. Asam-asam amino terdiri atas

unsur-unsur karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen, fosfor, besi, kalium dan kobalt.

Unsur nitrogen adalah unsur utama protein yang tidak terdapat pada

karbohidrat dan lemak (Almatsier, 2004; Irianto, 2007).

Protein merupakan zat gizi yang sangat penting bagi tubuh karena

selain sebagai sumber energi, protein berfungsi sebagai zat pembangun tubuh

dan zat pengatur di dalam tubuh. Selain zat pembangun, fungsi utamanya bagi

tubuh adalah membentuk jaringan baru (misalnya membentuk janin pada masa

kehamilan seorang ibu atau jaringan baru pada proses pertumbuhan anak),

disamping untuk memelihara jaringan yang telah ada (mengganti

(22)

Protein terdapat antara lain di dalam kulit, rambut, otot, dan putih telur.

Protein terdiri dari molekul–molekul yang besar yang mempunyai berat

molekul antara 12.000 hingga beberapa juta.

Menurut (Sastrohamidjojo, 2005), klasifikasi protein yakni:

I. Protein–protein sederhana

Protein ini bila pecah menjadi satuan–satuan yang lebih

sederhana yang hanya menghasilkan asam asam alpha amino atau

turunannya. Yang termasuk di dalamnya adalah:

1. Albumin: oleh panas menggumpal, larut dalam air dan dalam

larutan garam yang encer. Albumin telur, albumin serum

terdapat dalam darah, laktabumin dari susu.

2. Globulin: terdapat dalam biji-bijian dan dalam darah binatang.

Menggumpal oleh panas, tak larut dalam air, larut dalam larutan

netral encer dari garam-garam dari asam-asam kuat, basa kuat

(NaCl, MgSO4).

3. Glutelin: terdapat dalam biji-bijian. Tidak larut dalam air atau

dalam larutan-larutan encer, larut dalam asam atau alkali encer.

Glutein terdapat dalam gandum.

4. Prolamin: terdapat dalam sebangsa gandum atau padi. Tidak

larut dalam air, larut dalam alkohol 80%. Gliadin terdapat dalam

(23)

5. Albuminoid: terdapat dalam jaringan-jaringan, rambut, bulu,

tanduk, kuku, dan sebagainya. Tidak larut dalam air, larut dalam

garam, asam encer atau alkali encer.

6. Histoine: tidak menggumpal oleh panas, larut dalam air, atau

dalam NH4OH encer. Bila terhidrolisis memberikan sejumlah

asam-asam amino terutama asam-asam diamino. Histone

terdapat dalam kelenjar timus.

7. Protamin: tidak menggumpal oleh panas, larut dalam larutan

amoniak dan dalam air.

II. Protein terkonjugasi

Peruraian dari senyawa ini menunjukkan bahwa mereka

terbentuk atas protein-protein sederhana dan gugus-gugus lain yang

tidak menunjukkan sifat protein. Yang termasuk dalam golongan ini

adalah

1. Kromoprotein: (Haemoglobin), protein yang sederhana ini

dalam senyawanya disatukan dengan gugus yang mempunyai

warna. Haemoglobin dari darah merah.

2. Glikoprotein: dalam rangkaiannya terdapat gugus karbohidrat

mucin dalam saliva.

3. Pospoprotein: terdapat dalam susu. Di dalam molekulnya

terdapat pospor. Casein, susu.

4. Nukleoprotein: terdapat tambahan gugus asam nukleat.

(24)

6. Lipoprotein: gugus tambahan adalah salah satu dari asam-asam

lemak yang lebih tinggi

Protein yang terkandung dalam bahan pangan setelah dikonsumsi akan

mengalami pencernaan (pemecahan atau hidrolisis oleh enzim-enzim protease)

menjadi unit-unit penyusunnya, yaitu asam-asam amino. Asam-asam amino

inilah yang selanjutnya diserap oleh tubuh melalui usus kecil, yang kemudian

dialirkan ke seluruh tubuh untuk digunakan dalam pembentukan

jaringan-jaringan baru dan mengganti jaringan-jaringan-jaringan-jaringan yang rusak. Asam-asam amino

yang berlebihan dapat juga digunakan sebagai sumber energi bagi tubuh atau

disimpan dalam bentuk lemak sebagai cadangan energi (Muchtadi, 2010).

Berdasarkan kandungan asam-asam amino esensialnya, maka suatu

protein bahan pangan dapat dinilai apakah bergizi tinggi atau rendah. Suatu

protein dikatakan bernilai gizi tinggi apabila mengandung asam-asam amino

esensial yang susunannya lengkap serta komposisinya sesuai dengan kebutuhan

tubuh serta asam-asam amino tersebut dapat digunakan oleh tubuh (tersedia

atau available bagi tubuh) (Muchtadi, 2010).

Umumnya protein hewani (daging, ikan, susu, telur) merupakan protein

yang bernilai gizi tinggi. Protein nabati umumnya daya cernanya lebih lebih

rendah dan kekurangan salah satu (sering juga kekurangan dua macam) asam

amino esensial. Sebagai contoh protein serealia (beras, terigu) kekurangan

asam amino lisin, sedangkan protein kacang-kacangan (kedelai) kekurangan

(25)

menentukan jumlah yang harus dikonsumsi. Untuk memenuhi kebutuhan tubuh

akan protein, protein dengan nilai gizi rendah harus dikonsumsi dalam jumlah

yang lebih banyak dibandingkan dengan protein yang bernilai gizi tinggi

(Muchtadi, 2010).

Protein merupakan senyawa kompleks yang terdiri dari asam amino

yang diikat satu sama lain dengan ikatan peptida. Asam amino sendiri terdiri

dari rantai karbon (radikal R), atom hidrogen, gugus karboksilat (COOH),

kadang-kadang gugus hidroksil (OH), belerang (S) serta gugus amino (NH2)

(Muchtadi, 2010).

2.3 Asam amino

Asam amino merupakan unit dasar struktur protein. Suatu asam amino

alfa terdiri dari gugus amino, gugus karboksil, atom H dan gugus R tertentu,

yang semuanya terikat pada atom karbon α. Gugus R menyatakan rantai

samping (kusnandar, 2010). Struktur Umum dari asam amino dapat dilihat

pada gambar di bawah ini:

Gugus karboksil dan gugus amin yang terikat pada karbon α dapat

(26)

asam sedangkan gugus amin bermuatan positif yang bersifat basa. Dengan

adanya dua gugus dengan muatan yang berbeda tersebut, maka asam amino

disebut bersifat amfoter, artinya dapat bersifat asam maupun basa. Sifat asam

atau basa ini dipengaruhi pH lingkungannya (Kusnandar, 2010).

Apabila asam amino dalam keadaan basa, maka asam amino akan

terdapat dalam bentuk (I) karena konsentrasi ion OH− yang tin ggi mampu

mengikat ion-ion H+ pada gugus NH3+. Sebaliknya bila dalam keadaan asam,

maka konsentrasi ion H+ yang tinggi mampu berikatan dengan ion −COO−

sehingga terbentuk gugus –COOH maka asam amino akan terdapat dalam

bentuk (II) (Poedjiadi, 1994).

Semua protein pada semua spesies mulai dari bakteri sampai manusia dibentuk

dari 20 asam amino. Keanekaragaman fungsi yang diperantarai oleh protein

dimungkinkan oleh keragaman susunan yang dapat dibuat dari 20 jenis asam

amino ini sebagai unsur pembangun (Poedjiadi, 1994).

Setiap asam amino terdiri dari gugus amin (NH2) dan gugus karboksil

(COOH). Asam amino yang sudah diketahui ada sekitar 20 macam. Sepuluh

(27)

konsumsi makanan sehari-hari, yaitu histidin, arginin, isoleusin, leusin, lisin,

metionin, valin, triptofan, fenilalanin dan treonin (Auliana, 2001).

2.4 Sumber Protein

Sumber protein bagi manusia dapat digolongkan menjadi dua macam,

yaitu berdasarkan sifatnya, sumber protein nabati seperti biji-bijian (serealia)

dan kacang-kacangan dan sumber protein hewani seperti daging, ikan, susu dan

telur (Muchtadi, 2010).

Bahan makanan hewani merupakan sumber protein yang baik, dalam

jumlah maupun mutu, seperti telur, susu, daging, unggas, ikan dan kerang.

Sumber protein nabati adalah kacang kedelai dan hasilnya, seperti tempe dan

tahu serta kacang-kacangan lain. Bahan makanan hewani kaya dalam protein

bermutu tinggi, tetapi hanya merupakan 18,4% konsumsi protein rata-rata

penduduk Indonesia (Almatsier, 2004).

Hasil-hasil hewani yang umum digunakan sebagai sumber protein

adalah daging (sapi, kerbau, kambing, dan ayam), telur (ayam dan bebek), susu

(terutama susu sapi), dan hasil-hasil perikanan (ikan, udang, kerang dan

lain-lain). Protein hewani disebut sebagai protein yang lengkap dan bermutu tinggi,

karena mempunyai kandungan asam-asam amino esensial yang lengkap yang

susunannya mendekati apa yang diperlukan oleh tubuh, serta daya cernanya

tinggi sehingga jumlah yang dapat diserap (dapat digunakan oleh tubuh) juga

(28)

Protein nabati hampir sekitar 70% penyediaan protein didunia berasal

dari bahan nabati (hasil tanaman), terutama berasal dari biji-bijian (serealia)

dan kacang-kacangan. Sebagian besar penduduk dunia menggunakan serealia

(terutama beras, gandum, dan jagung) sebagai sumber utama kalori, yang

ternyata sekaligus juga merupakan sumber protein yang penting (Muchtadi,

2010).

Protein adalah zat yang dibentuk oleh sel-sel yang hidup. Lebih dari

separo zat-zat yang berbentuk padat di dalam jaringan–jaringan manusia dan

binatang mamalia terdiri atas protein. Protein mempunyai peranan yang

penting di dalam tubuh manusia dan binatang, karena ia bertangggung jawab

untuk menggerakkan otot-otot, protein hemoglobin mempunyai peranan

mengangkut oksigen dari paru–paru ke jaringan seluruh tubuh. Sehingga

protein sangat penting untuk masing–masing individu (Sastrohamidjojo, 2005).

2.5 Kecukupan konsumsi protein

Kekurangan protein dapat menyebabkan kwashiorkor pada anak-anak

dibawah lima tahun (balita). Kekurangan protein sering ditemukan secara

bersamaan dengan kekurangan energi yang menyebabkan kondisi yang

dinamakan maramus. Sindroma gabungan antara 2 jenis kekurangan ini

dinamakan energy-protein Malnutrition/EPM atau kurang energi-protein/KEP

atau kurang kalori protein/KKP. Kwashiorkor lebih banyak terdapat pada usia

dua hingga tiga tahun yang sering terjadi pada anak sehingga komposisi gizi

(29)

umumnya merupakan penyakit pada bayi (dua belas bulan pertama) karena

terlambat diberi makanan tambahan, formula pengganti ASI terlalu encer, tidak

higienis atau sering kena infeksi terutama gastrointeritis. Maramus

berpengaruh pada jangka panjang terhadap mental dan fisik yang sukar

diperbaiki (Almatsier, 2004).

Mengkonsumsi protein dalam jumlah berlebihan akan membebani kerja

ginjal. Makanan yang berprotein tinggi, biasanya juga tinggi lemaknya

sehingga menyebabkan obesitas. Kelebihan protein pada bayi dapat

memberatkan kesehatan ginjal dan hati yang harus memetabolisme dan

mengeluarkan kelebihan nitogen, juga dapat menyebabkan asidosis, dehidrasi,

diare dan demam (Almatsier, 2004).

Asupan protein yang dianjurkan menurut hasil penelitian WHO (1985)

menggunakan tingkat asupan aman sebesar 0,75 g/kg berat badan, Untuk

penetapan Referensi Asupan Gizi (RNI) protein; angka ini setara dengan 56

g/hari untuk pria dewasa dan 45 g/hari untuk wanita dewasa (Barasi, 2007).

Tabel 1. Angka kecukupan protein menurut kelompok umur dinyatakan dalam taraf asupan terjamin.

Kelompok Umur (tahun) AKP (nilai PST) gram/kg berat badan

(30)

60 + 0,75 0,75

Ibu hamil + 12 gram/hari

Ibu menyusui enam bulan pertama + 16 gram/hari

Ibu menyusui enam bulan kedua + 12 gram/hari

Ibu menyusui tahun kedua + 11 gram/hari Sumber: Almatsier, 2004

2.6 Telur

Telur merupakan salah satu bahan pangan yang paling lengkap gizinya.

Selain itu bahan pangan ini juga bersifat serba guna karena dapat dimanfaatkan

untuk berbagai keperluan. Komposisi sebutir telur terdiri dari 11% kulit telur,

58% putih telur dan 31% kuning telur. Kandungan gizi sebutir telur ayam

dengan berat 50 g terdiri dari protein 6,3 g, karbohidrat 0,6 g, lemak 5 g,

vitamin dan mineral. Protein disusun dari asam-asam amino yang terikat satu

dengan lainnya. Mutu dari protein disebut sebagai nilai hayati. Mutu dari

protein disebut sebagai nilai hayati yang ditentukan oleh asam-asam amino dan

jumlah masing-masing asam amino (Sudaryani, 2003).

Protein telur merupakan protein yang bermutu tinggi dan mudah

dicerna dalam telur, protein lebih banyak terdapat pada kuning telur, yaitu

sebanyak 16,5%, sedangkan pada putih telur sebanyak 10,9%. Dari sebutir

telur yang berbobot sekitar 50 g, kandungan total proteinnya adalah 6 g.

Dibandingkan bahan makanan sumber protein lainnya, ternyata telur memiliki

pola komposisi asam amino esensial yang sesuai dengan kebutuhan sintesa

protein di dalam tubuh. Pola komposisi asam amino esensial telur diambil

(31)

makanan. Patokan standar tersebut dinamakan PST (protein senilai telur)

(Sudaryani, 2003; Auliana, 2001).

Telur ayam terdiri dari kira-kira 11% kulit, 31% kuning telur dan 58%

putih telur. Dilihat kegunaannya sebagai bahan pangan, maka kulit telur dan

membrannya hanya berfungsi sebagai pembungkus untuk menjaga komponen

bahan pangan didalamnya, yaitu putih dan kuning telur. Bagian cair telur utuh

terdiri dari sekitar 85% putih telur dan 35% kuning telur (Muchtadi, 2010).

2.6.1 Lemak

Kandungan lemak pada telur sekitar 5 gram. Lemak pada telur terdapat

pada kuning telur, sekitar 32%, sedangkan lemak yang lain terdapat pada putih

telur. Zat gizi ini mudah dicerna oleh manusia. Lemak pada telur terdiri dari

trigliserida (lemak netral), fosfolipida dan kolesterol. Fungsi trigliserida dan

fosfolipida umumnya menyediakan energi yang diperlukan untuk aktivitas

sehari-hari (Sudaryani, 2003).

2.6.2 Vitamin dan Mineral

Telur mengandung semua vitamin. Selain sebagai sumber vitamin, telur

juga merupakan bahan pangan sumber mineral. Beberapa mineral yang

terkandung dalam telur di antaranya besi, fosfor, kalsium, tembaga, yodium,

magnesium, mangan, potasium, sodium, zink, klorida dan sulfur (Sudaryani,

(32)

2.7 Protein Telur

Putih telur yang segar adalah tebal dan diikat kuat oleh kalaza. Untuk

telur baik, putih telur harus bebas dari titik daging atau titik darah. Albumen

dari putih telur terdiri dari 4 lapisan. Masing-masing chalazae (27,0%), putih

kental (57,0%), putih telur encer dalam (17,3%), dan putih telur encer bagian

luar (23,0%). Putih telur adalah larutan yang mengandung sekitar 12% protein.

Lapisan yang terakhir ini berhubungan dengan “chalaza”, suatu serabut yang

menahan kestabilan kuning telur. Sifat masing-masing lapisan berbeda,

terutama dalam hal kandungan ovomusin, di mana lapisan kental

kandungannya lebih tinggi dibandingkan dengan lapisan encer (Muchtadi,

2010; Sudaryani, 2003).

2.8Faktor Yang Mempengaruhi Kandungan Protein Pada Telur

1. Kondisi Lingkungan Ayam

- Penyakit

Beberapa jenis penyakit ayam, seperti infeksi bronkitis dapat

menimbulkan abnormalitas pada pada kulit telur. Bahkan penyakit

tersebut juga menimbulkan penurunan kualitas pada putih telur dan

kuning telur (Sudaryani, 2003).

- Suhu

Suhu yang panas akan mengurangi kualitas putih telur, kuning telur dan

mengurangi kekuatan maupun ketebalan kulit telur. Hal ini disebabkan

(33)

diperlukan tidak mencukupi. Suhu yang diperkenankan maksimal

mencapai 29oC (Sudaryani, 2003).

2. Pakan

Kualitas pakan akan mengurangi kualitas putih telur, kuning telur dan

mengurangi kekuatan maupun ketebalan kulit telur. Untuk memenuhi

sejumlah unsur nutrisi, ayam memperoleh pakan dari berbagai bahan

makanan. Bahan pakan sebagai sumber energi yaitu jagung, dedak,

bekatul dan ubi kayu. Bahan pakan sebagai sumber protein yaitu

Bungkil kacang kedelai, bungkil kacang tanah, bungkil kelapa. Bahan

makanan sebagai sumber mineral yaitu tepung tulang, tepung kerang,

tepung ikan (Rasyaf, 1994).

2.9 Metode Analisis Protein 2.9.1 Analisis Kualitatif

Analisis protein secara umum dilakukan dengan dua metode, yaitu

kualitatif dan kuantitatif. Reaksi pengenalan (kualitatif) yang dapat dilakukan

yakni reaksi Xantoprotein dan reaksi Biuret.

1. Reaksi Xantoprotein

Dibuat dengan cara: larutan asam nitrat pekat ditambahkan dengan

hati-hati kedalam larutan protein. Setelah dicampur terjadi endapan putih yang

dapat berubah menjadi kuning apabila dipanaskan. Reaksi yang terjadi adalah

nitrasi pada inti benzena yang terdapat pada molekul protein. Reaksi ini positif

untuk protein yang mengandung tirosin, fenilalanin dan triptofan (Bintang,

(34)

2. Metode Biuret

Dilakukan dengan cara: larutan protein dibuat alkalis dengan NaOH

kemudian ditambahkan larutan CuSO4 encer. Uji ini untuk menunjukkan

adanya senyawa-senyawa yang mengandung gugus amida asam yang berada

bersama gugus amida yang lain. Uji ini memberikan reaksi positif yaitu

membentuk senyawa kompleks ditandai dengan timbulnya warna ungu violet

atau biru violet (Bintang, 2010).

2.9.2 Analisis Kuantitatif

Bentuk uji kuantitatif (penentuan kadar) yang dapat dilakukan:

1. Metode Titrasi Formol

Prinsip metode ini adalah dengan adanya air dan penambahan Kalium

oksalat, protein akan dihidrolisis menjadi asam-asam amino. Selanjutnya

dengan penambahan formaldehid akan menghambat gugus basa asam amino

membentuk gugus dimethilol sehingga tidak mengganggu reaksi antara NaOH

dengan gugus asam dari asam amino dan konsentrasi protein dapat ditentukan

(Estiasih, dkk., 2012).

Indikator yang digunakan adalah PP (fenolftalein), akhir titrasi bila

tepat terjadi perubahan warna menjadi merah muda yang tidak hilang dalam 30

detik. Titrasi formol ini hanya tepat untuk menentukan suatu proses terjadinya

pemecahan protein (Sudarmadji, dkk., 1989).

Dipipet 10 ml larutan putih telur atau larutan protein kedalam

erlenmeyer 125 ml dan tambahkan 20 ml akuades dan 0,4 ml larutan kalium

(35)

Diamkan selama 2 menit. Dititrasilah larutan dengan 0,1 N NaOH sampai

mencapai warna seperti warna standar atau sampai warna merah jambu.

Setelah warna tercapai, tambahkan 2 ml larutan formaldehid 40% dan titrasilah

kembali dengan larutan NaOH sampai warna seperti warna standar tercapai

lagi. Catat titrasi kedua ini. Titrasi koreksi yaitu titrasi kedua dikurangi titrasi

blanko merupakan titrasi formol, untuk perhitungan % protein (Sudarmadji,

dkk., 1984):

% Protein = NNaOH

0,1 (�� − ��) × 1,83

Untuk protein digunakan faktor 1,83

Keterangan : �� = titrasi sampel

�� = titrasi blanko

Menurut Sudarmadji, dkk., (1989), reaksi titrasi formol adalah sebagai berikut:

(36)

2. Metode Kjeldhal

Metode Kjeldahl merupakan metode yang sederhana untuk penetapan

nitrogen total pada asam amino, protein dan senyawa yang mengandung

nitrogen. Cara Kjeldahl digunakan untuk menganalisis kadar protein kasar

dalam bahan makanan secara tidak langsung karena senyawa yang

dianalisisnya adalah kadar nitrogennya. Dengan mengalikan hasil analisis

tersebut dengan faktor konversi 6,25 diperoleh nilai protein dalam bahan

makanan tersebut. Penentuan kadar protein dengan metode ini mengandung

kelemahan karena adanya senyawa lain yang bukan protein yang mengandung

N akan tertentukan sehingga kadar protein yang diperoleh langsung dengan

cara kjeldahl ini sering disebut dengan kadar protein kasar/crude protein

(Sudarmadji, dkk., 1989).

Berlangsung tiga tahap:

a. Tahap Destruksi

Pada tahap ini, sampel dipanaskan dalam asam sulfat pekat sehingga

terjadi destruksi menjadi unsur-unsurnya. Elemen karbon (C) dan hidrogen (H)

teroksidasi menjadi karbon monoksida (CO), karbondioksida (CO2), dan air

(H2O). Elemen Nitrogen akan berubah menjadi amonium sulfat. Banyaknya

asam sulfat yang digunakan untuk destruksi diperhitungkan terhadap

kandungan protein, karbohidrat dan lemak (Bintang, 2010).

Untuk mempercepat destruksi maka ditambahkan katalisator. Dengan

penambahan katalisator, maka titik didih asam sulfat akan dipertinggi sehingga

(37)

campuran K2SO4 yang dapat mempercepat proses oksidasi dan juga dapat

menaikkan titik didih asam sulfat. Proses destruksi diakhiri jika larutan telah

menjadi warna jernih (Bintang, 2010).

Reaksi yang terjadi pada proses destruksi (Meloan, 1987):

katalisator

n – C – NH2 + H2SO4 CO2 + (NH4)2SO4 + SO2

pemanasan protein

b. Tahap Destilasi

Pada tahap destilasi, amonium sulfat dapat dipecah menjadi amonia,

yaitu dengan penambahan larutan NaOH sampai alkalis dan dipanaskan.

Amonia yg dibebaskan ditangkap oleh larutan asam. Asam yg dapat dipakai

adalah H2SO4. Agar kontak antara larutan asam dengan amonia berjalan

sempurna, maka ujung selang pengalir destilat harus tercelup kedalam larutan

asam. Destilasi diakhiri jika semua amonia sudah terdestilasi sempurna

menggunakan indikator mengsel sebagai indikator penunjuk. Reaksi yang

terjadi pada tahap destilasi yaitu (Bintang, 2010):

(NH4)2SO4 + 2 NaOH 2 NH3↑ + Na2SO4 + 2H2O

c. Tahap Titrasi

Apabila penampung destilat yang digunakan adalah larutan asam sulfat,

maka sisa asam sulfat yang tidak bereaksi dengan amonia dititrasi dengan

(38)

dan metil blue). Selisih jumlah titrrasi sampel dan blanko merupakan jumlah

nitrogen.

% N =������(������−������)

�����������(�)�1000 x N NaOH x 14,007 x 100%

Setelah diperoleh %N selanjutnya dihitung kadar proteinnya dengan

mengalikan %N dengan suatu faktor konversi. Besarnya faktor konversi

nitrogen tergantung pada persentase nitrogen yang menyusun protein dalam

bahan pangan yg dianalisa tersebut (Sudarmadji, dkk., 1989).

Reaksi yang terjadi pada tahap titrasi ini yaitu:

NH3 + H2SO4 (NH4)2SO4

Kelebihan H2SO4 + 2 NaOH Na2SO4 + 2H2O

(Bintang, 2010).

Dasar perhitungan penentuan protein menurut Kjeldahl adalah

berdasarkan hasil penelitian yang menyatakan bahwa umumnya protein

mengandung rata-rata 16% N dalam protein murni. Apabila jumlah N dalam

bahan telah diketahui, maka jumlah protein dihitung dengan mengalikan

jumlah N dengan 100/16 (N X 6,25). Sedangkan untuk protein-protein tertentu

yang telah diketahui komposisinya dengan tepat, maka faktor konversi yang

(39)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Kimia Farmasi Kualitatif

Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara pada bulan Maret 2013 - Juni

2013.

3.2 Bahan-bahan 3.2.1 Sampel

Sampel yang digunakan yaitu Telur Ayam Ras dan Telur Puyuh yang

diambil secara purposif di Pasar Simpang Limun, Sisingamangaraja, Medan.

Sedangkan Telur Buras dan Telur Itik yang diambil dari salah satu rumah dan

Telur penyu diambil di daerah sekitar kota Medan.

3.2.2 Pereaksi

Pereaksi yang digunakan adalah pro analis produksi E.Merck yaitu

NaOH 99%, formaldehid 37%, etanol 96%, fenolftalein 99%, kalium oksalat

99%, kalium biftalat 99%, cuso4 99% dan air suling (Laboratorium Analisis

Kualitatif).

3.3 Alat-alat

Alat–alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah Buret (Pyrex),

statif, klem, neraca analitik (shimadzu), cawan penguap, alat-alat gelas (Pyrex

(40)

3.4 Pembuatan Pereaksi

3.4.1 Larutan NaOH 0,1 N (b/V)

Larutan NaOH 0,1 N dibuat dengan cara melarutkan 4,0 gr NaOH

pellet (b/v) dilarutkan dengan air suling bebas CO2 hingga 1000 ml (Ditjen

POM, 1995).

3.4.2 Larutan indikator Fenolftalein 1% (b/v)

Larutan Indikator fenolftalein 1% dibuat dengan cara melarutkan 1,0 gr

fenolftalein dilarutkan dengan etanol 96% p.a hingga 100 ml (Ditjen POM,

1995).

3.4.3 Larutan Tembaga (II) sulfat 0,5%

Larutan Tembaga (II) sulfat 0,5% dibuat dengan cara melarutkan 0,5 gr

CuSO4.H2O dilarutkan dengan 100 ml air suling (Ditjen POM, 1995).

3.5 Prosedur Penelitian

3.5.1 Pembakuan Larutan 0,1 N NaOH

Ditimbang dengan teliti lebih kurang 0,5 g kalium phtalat (BM 204,2)

yang telah dipanaskan pada temperatur 110OC selama 4 jam, dan dimasukkan

kedalam erlenmeyer 250 ml. Dibuat 3 kali ulangan.

Kristal pthalat dilarutkan kedalam 25 ml air suling dan dipanaskan

perlahan-lahan sampai semua terlarut. Ditambahkan 2–3 tetes indikator

fenolftalein dan dititrasi dengan larutan NaOH yang akan distandartkan sampai

warna merah jambu timbul. Perhitungan N NaOH dari hasil rata – rata 3 kali

ulangan (Sudarmadji, dkk., 1984).

N Larutan NaOH = g K-phtalat

(41)

3.5.2 Pengambilan Sampel

Metode pengambilan sampel dilakukan dengan cara sampling purposif

yang dikenal juga sebagai sampling pertimbangan dimana sampel ditentukan

atas pertimbangan bahwa populasi sampel adalah homogen dan sampel yang

tidak diambil mempunyai karakteristik yang sama dengan sampel yang sedang

diteliti (Sudjana, 2005).

3.5.3 Penyiapan Bahan

Sampel yang digunakan adalah Telur Ayam Ras, Telur Ayam Buras,

Telur Itik, Telur Puyuh, dan Telur Penyu. Masing-masing telur diambil dalam

kondisi yang bagus, kemudian dicuci dengan air suling dan dikeringkan,

dipecahkan telur, dipisahkan kuning dan putihnya.

3.5.4 Analisis kualitatif

3.5.4.1 Reaksi warna dengan Biuret

Kedalam tabung reaksi dimasukkan 1 ml sampel kemudian

ditambahkan Basa dan 2-3 tetes larutan Cu-sulfat. Lihat perubahan warna yang

terjadi. Jika terdapat protein maka akan terbentuk warna ungu violet (Girindra,

1993).

3.5.4.2 Reaksi warna dengan Xantoprotein

Kedalam tabung reaksi dimasukkan 1 ml sampel kemudian

ditambahkan Asam Nitrat. Jika terdapat protein maka akan terbentuk warna

kuning dan endapan putih (Girindra, 1993).

(42)

Dipipet 20 ml air suling ditambahkan 0,4 ml kalium oksalat jenuh dan 1

ml indikator fenolftalein 1% lalu tambahkan 2 ml lautan formaldehid 37% dan

dititrasi dengan larutan NaOH 0,1 N.

3.5.5.2 Penetapan Kadar Protein dalam Sampel

3.5.5.2.1 Penetapan Kadar Protein dalam Putih Telur Ayam Ras

Metode ini merupakan metode modifikasi dari Sudarmadji, dkk.,

(1984), dengan cara sebagai berikut:

Dipipet 10 ml cairan putih telur ayam ras atau larutan protein kedalam

erlenmeyer 125 ml dan tambahkan 20 ml air suling dan 0,4 ml larutan kalium

oksalat jenuh (K-Oksalat : air = 1 : 3) dan tambahkan 1 ml fenoftalein 1%.

Diamkan selama 2 menit. Lalu, tambahkan 2 ml larutan formaldehid 37% dan

titrasilah dengan larutan NaOH 0,1 N sampai warna seperti warna merah jambu

tercapai. Catat titrasi ini.

Titrasi koreksi yaitu titrasi dikurangi titrasi blanko merupakan titrasi

formol, untuk perhitungan % protein:

% Protein = NNaOH

0,1 (�� − ��) × 1,83

Untuk protein digunakan faktor 1,83

Keterangan : �� = titrasi sampel

�� = titrasi blanko

Dengan cara yang sama di lakukan selanjutnya pengerjaan terhadap sampel

(43)

3.5.6 Analisis data Secara Statistik

Menurut Gandjar dan Rohman (2009), kadar protein yang diperoleh

dari hasil pengukuran masing-masing larutan sampel dianalisis secara statistik

dengan metode standar deviasi dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

SD =

(

)

X= Kadar rata-rata sampel n = jumlah pengulangan

Kadar protein yang diperoleh dari hasil pengukuran masing-masing ke

enam larutan sampel, diuji secara statistik dengan uji T.

Untuk mengetahui data ditolak atau diterima dilakukan dengan uji T

yang dapat dihitung dengan rumus:

� − ℎ�����= �Xi− X SD/√n�

Hasil pengujian atau nilai T yang diperoleh ditinjau terhadap daftar harga T,

apabila Thitung > Ttabel maka data tersebut ditolak.

Menurut Sudjana (2005), untuk menentukan kadar protein di dalam

sampel dengan interval kepercayaan 99%, α = 0,01, dk = n-1, dapat digunakan

rumus:

µ = X ± t (½α,dk) x (SD/ √n )

Keterangan : µ = interval kepercayaan X = kadar rata-rata sampel

t = harga t tabel sesuai dengan dk = n-1

(44)

3.5.7 Pengujian Beda Nilai Rata-rata

Menurut Sudjana (2005), sampel yang dibandingkan adalah independen

dan jumlah pengamatan masing-masing lebih kecil dari 30 dan varians (σ)

tidak diketahui sehingga dilakukan uji F untuk mengetahui apakah varians

kedua populasi sama (σ1 = σ 2 ) atau berbeda (σ1 ≠ σ 2 ) dengan menggunakan

rumus:

F0 =

�12

22

Keterangan : F0 = Beda nilai yang dihitung

S1 = Standar Deviasi sampel 1

S2 = Standar Deviasi sampel 2

Apabila dari hasilnya diperoleh Fo tidak melewati nilai kritis F maka

dilanjutkan uji dengan distribusi t dengan rumus:

to =

(�1−2)

���1/�1+1/�2

Sp = �(�1−1)�12 + (�2−1)�22

�1+�2−2

Keterangan : X1 = Kadar rata-rata sampel 1

X2 = Kadar rata-rata sampel 2

Sp = Simpangan baku

n1 = Jumlah perlakuan sampel 1

n2 = Jumlah perlakuan sampel 2

S1 = Standar Deviasi sampel 1

(45)

Dan jika Fo melewati nilai kritis F maka dilanjutkan uji dengan distribusi t

dengan rumus:

to =

(�1−2)

����12/�1+�22/�2

Keterangan : X1 = Kadar rata-rata sampel 1

X2 = Kadar rata-rata sampel 2

Sp = Simpangan baku

n1 = Jumlah perlakuan sampel 1

n2 = Jumlah perlakuan sampel 2

S1 = Standar Deviasi sampel 1

S2 = Standar Deviasi sampel 2

Kedua sampel dinyatakan berbeda apabila to yang diperoleh melewati nilai

(46)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Analisis kualitatif

Analisis kualitatif dilakukan sebagai analisis pendahuluan untuk

mengetahui ada atau tidaknya protein dalam sampel. Data dan gambar dapat

dilihat pada Tabel 2, dan Lampiran 4, halaman 41.

Tabel 2 Hasil Analisis Kualitatif

N o

Sampel Pereaksi Hasil reaksi Hasil

1

Asam Nitrat Endapan putih, Larutan Kuning

Asam Nitrat Endapan putih, Larutan Kuning

Asam Nitrat Endapan putih Larutan Kuning

Asam Nitrat Endapan putih Larutan Kuning

Asam Nitrat Sedikit Endapan putih, Sedikit Larutan Kuning

+

Keterangan: + = Mengandung Protein

Tabel 2 di atas menunjukkan bahwa kelima bahan tersebut mengandung

(47)

warna ungu violet dengan penambahan CuSO4 0,5% dan terbentuk endapan

putih dan larutan kuning dengan penambahan asam nitrat.

4.2 Analisis kuantitatif

4.2.1 Analisis Kadar protein dalam Putih Telur

Pada pengukuran sampel yang dilakukan secara titrasi formol, dimana

sampel yang digunakan tidak dihomogenkan karena untuk mempermudah

pemipetan. Terlebih dahulu dirangkaikan alat dengan sesuai, Setelah itu dipipet

10 ml cairan putih telur, lalu tambahkan 20 ml air suling dan 0,4 ml larutan

k-oksalat dan tambahkan 1 ml fenolftalein 1%, kemudian tambahkan 2 ml larutan

formaldehid 37% dan ditittrasi dengan NaOH 0,1 N sampai tercapai warna

merah jambu. Data dan contoh perhitungan dapat di lihat pada Lampiran 5,

halaman 42 dan 43.

Analisis dilanjutkan dengan perhitungan statistik (perhitungan dapat

dilihat pada Lampiran 6, halaman 44 dan 45. Hasil analisis kuantitatif protein

pada sampel dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 3. Kadar protein dalam sampel Putih Telur Ayam Ras, Telur Ayam buras, Telur Itik, Telur Puyuh dan Telur Penyu.

No

Sampel Kadar Protein (%)

(48)

Dari Tabel 3, setelah dilakukan uji F terhadap kadar sampel maka dapat

dilihat bahwa kadar protein yang terdapat dalam sampel Putih Telur Puyuh,

Telur Itik, Telur Ayam Ras, Telur Ayam Buras dan Telur Penyu mempunyai

perbedaan yang signifikan. Hal ini dipengaruhi oleh faktor pakan, lingkungan

dan suhu penyimpanan (Sudaryani, 2003).

Dari hasil analisis kuantitatif, sesuai yang tercantum pada Tabel 3,

putih telur puyuh mempunyai kadar putih telur yang lebih tinggi, sedangkan

putih telur penyu memiliki kadar protein yang paling kecil dibandingkan bahan

sampel tersebut.

Meskipun semua protein yang terdapat di dalam tubuh hewan atau

bahan-bahan makanan sering dapat digolongkan ke dalam protein secara

kolektif, akan tetapi setiap protein berbeda satu sama lainnya. Perbedaan

disebabkan kandungan asam-asam amio yang memberikan kekhasan sifat

fisika dan kimia dari tiap-tiap protein serta sifat biologisnya (Wahju, 2004).

4.2.2 Pengujian Beda Nilai Rata-rata Kadar Protein pada Putih Telur Ayam Ras, Telur Ayam buras, Telur Itik, Telur Puyuh dan Telur Penyu

Pengujian nilai beda rata-rata kadar protein pada sampel bertujuan untuk

melihat apakah ada perbedaan yang signifikan pada rata-rata kadar protein

antara kelima sampel telur tersebut. Uji statistik yang digunakan yaitu uji beda

nilai rata-rata kadar protein antara kelima sampel dengan menggunakan

distribusi t pada taraf kepercayaan 95%, jika diperoleh to atau thitung lebih tinggi

atau lebih rendah dari range t tabel maka menunjukkan perbedaan kadar yang

(49)

Tabel 4. Hasil Uji Beda Nilai Rata-rata Kadar Protein antara Lima Sampel

S1 terhadap S3 -20,2667 Ditolak

3

S1 terhadap S4 -29,6454 Ditolak

4

S1 terhadap S5 106,4356 Ditolak

5

S2 terhadap S3 -33,2096 Ditolak

6

S2 terhadap S4 -40,2675 Ditolak

7

S2 terhadap S5 102,4604 Ditolak

8

S3 terhadap S4 -15,9363 Ditolak

9

S3 terhadap S5 141,4498 Ditolak

10

S4 terhadap S5 126,8945 Ditolak

Keterangan : S1 = Sampel Telur Ayam Ras

S2 = Sampel Telur Ayam Buras

S3 = Sampel Telur Itik

S4 = Sampel Telur Puyuh

S5 = Sampel Telur Penyu

Daerah kritis penolakan dengan menggunakan distribusi t dengan taraf

kepercayaan 95% adalah thitung < -2.2281 dan thitung > 2,2281. Dari Tabel 4 di

atas menunjukkan bahwa hipotesis ditolak. Hasil ini menunjukkan bahwa

terdapat perbedaan kadar protein yang signifikan antara sampel Putih Telur

Ayam Ras, Telur Ayam buras, Telur Itik, Telur Puyuh dan Telur Penyu

(50)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan

Pemeriksaan secara kuantitatif dengan menggunakan titrasi formol

menunjukkan bahwa kandungan protein dalam putih telur puyuh 8,98 ± 0,2177

g/100 ml, telur itik 8,06 ± 0,1448 g/100 ml, telur ayam ras 6,89 ± 0,1822 g/100

ml, telur ayam buras 6,27 ± 0,1621 g/100 ml, dan telur penyu 0,44 ± 0,1621

g/100 ml.

Hasil uji statistik yaitu uji beda rata-rata kandungan protein dalam

kelima bahan tersebut menyimpulkan bahwa terdapat perbedaan signifikan

dimana kandungan protein pada putih telur puyuh lebih tinggi dari bahan putih

telur lainnya, urutan tertinggi selanjutnya pada putih telur itik, putih telur ayam

ras, putih telur ayam buras dan putih telur penyu sehingga dapat disimpulkan

bahwa kandungan Protein paling banyak terkandung dalam putih telur puyuh

dan kandungan protein paling sedikit terkandung pada putih telur penyu.

5.2 Saran

Disarankan bahwa untuk penelitian selanjutnya kadar protein pada

(51)

DAFTAR PUSTAKA

Almatsier, S. (2004). Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Cetakan Keempat. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. Halaman 77, 100, 102-104.

Anonima. (2013). Tips dan Teknik Budidaya Ayam Ras Petelur. 2013.

Anonimb. (2013). Penyu. http://id.wikipedia.org. Diakses pada tanggal 25 juli 2013.

Auliana, R. (2001). Gizi dan Pengolahan Pangan. Cetakan Pertama. Yogyakarta: Adicitra Karya Nusa. Halaman 7-8.

Barasi, M.E. (2007). Nutrition At a Glance. Terjemahan: Hermin Halim. At a Glance: Ilmu Gizi. (2009). Jakarta: Penerbit Erlangga. Halaman 43.

Bintang, M. (2010). Biokimia Teknik Penelitian. Jakarta: Penerbit Erlangga. Halaman 100, 101, 108-109, 112.

Deman, J.M. (1989). Principles of Food Chemistry. Terjemahan: Kosasih Padmawinata. Kimia Makanan. (1997). Bandung: ITB. Halaman 103, 105-151.

Ditjen POM. (1995). Farmakope Indonesia. Edisi IV. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Halaman 1127, 1165.

Estiasih, T., Novita, W., Indira, P., Wenny, B.S., Nurcholis, M., dan Feronika, H. (2012). Modul Praktikum Biokimia Dan Analisis Pangan. Malang: Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya. Halaman 41.

Gandjar, I.G., dan Rohman, A. (2009). Kimia Farmasi Analisis. Cetakan IV. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Halaman 22.

Girindra, A. (1993). Biokimia I. Cetakan Ketiga. Jakarta: PT. Gramedia Utama. Halaman 88.

Irianto, K., dan Waluyo, K. (2007). Gizi Dan Pola Hidup Sehat. Cetakan IV. Bandung: Penerbit Yrama Widya. Halaman 21-22.

(52)

Kusnandar, F. (2010). Kimia Makanan Komponen Makro. Jakarta: PT. Dian Rakyat. Halaman 206.

Muchtadi, D. (2010). Teknik Evaluasi Nilai Gizi Protein. Cetakan Kesatu. Bandung: Alfabeta, CV. Halaman 2-6, 11-15, 24-25.

Poedjiadi, A. (1994). Dasar-dasar Biokimia. Bogor: PT. Dian Rakyat. Halaman 56.

Pomeranz, Y., dan Meloan, C. (1987). Food Analysis: Theory and Practise.

Edisi kedua. New York: Van Nostrand Reinhold Company. Halaman 753-755.

Rasyaf, M. (1994). Makanan Ayam Broiler. Cetakan I. Yogyakarta: Kanisius. Halaman 102, 110.

Sastrohamidjojo, H. (2005). Kimia Organik. Edisi I. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Halaman 119-120.

Saswono, B. (1997). Beternak ayam Buras. Cetakan 15. Jakarta: Penebar Swadaya. Halaman 59-62.

Simanjuntak, L. (2002). TikTok Unggas Pedaging Hasil Persilangan Itik Dan Entok. Cetakan I. Jakarta: Agromedia Pustaka. Halaman 1, 8-9.

Sudarmadji, S., Haryono, B., dan Suhardi. (1984). Prosedur Analisa Untuk

Bahan Makanan dan Pertanian. Edisi Ketiga. Yogyakarta: Penerbit

Liberty. Halaman 54-55.

Sudarmadji, S., Haryono, B., dan Suhardi. (1989). Analisa Bahan Makanan dan Pertanian. Edisi Pertama. Yogyakarta: Penerbit Liberty. Halaman 119, 141, 144.

Sudaryani, T. (2003). Kualitas Telur. Jakarta: Penebar Swadaya. Halaman 1, 8-10, 13, 19.

Sudjana. (2005). Metode Statistika. Edisi VI. Bandung: Tarsito. Halaman 93.

Wahju, J. (2004). Ilmu Nutrisi Unggas. Cetakan V. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Halaman 60.

(53)

Lampiran 1. Perhitungan Pembakuan NaOH 0,1 N Data Larutan Baku NaOH

No. Berat K.Biftalat Titrasi yang diperoleh

1. 0,501 25,5

2. 0,500 25,1

3. 0,500 25,3

Perhitungan:

Normalitas NaOH = G. K. Biftalat 0,2042 × ml NaOH

Normalitas rata-rata (Nr) dan Persen Deviasi (% d)

Nr1 = N1+N2

(54)

Lampiran 2. Identifikasi Sampel

Gambar 1. Pembakuan NaOH 0,1 N

Gambar 2. Sebelum dan sesudah titrasi pada sampel

(55)

Lampiran 3. Bagan alir proses pembuatan larutan sampel

Telur

Ditambahkan 20 ml akuades

Ditambahkan 0,4 ml larutan K-Oksalat jenuh

Ditambahkan 2 ml formaldehid 40% (Larutan berwarna putih)

Didiamkan selama 2 menit Dipisahkan kuning dan putihnya Dikeringkan

Sampel yang telah diperoleh (100 ml)

Dititrasi dengan NaOH sampai tercapai warna merah jambu

Diambil bagian putihnya Dibersihkan cangkangnya

Dipipet 10 ml

Dimasukkan kedalam erlemeyer 125 ml

Ditambahkan 1 ml indikator fenolftalein 1%

Hasil

(56)

Lampiran 4. Hasil analisis kualitatif protein

Gambar 3. Hasil analisis kualitatif dengan larutan pereaksi biuret

(57)

Lampiran 5. Perhitungan kadar protein dalam sampel Data perhitungan % protein pada Sampel Telur Ayam Ras

1. % Protein = 0,0965

0,1 �4,3- 0,4�×1,83 = 6,89%

2. % Protein = 0,0965

0,1 �4,2- 0,4�×1,83 = 6,71%

3. % Protein = 0,0965

0,1 �4,3- 0,4�×1,83 = 6,89%

4. % Protein = 0,0965

0,1 � 4,4- 0,4�×1,83 = 7,06%

5. % Protein = 0,0965

0,1 �4,3- 0,4�×1,83 = 6,89%

6. % Protein = 0,0965

0,1 �4,3- 0,4�×1,83 = 6,89%

Dengan cara yang sama di lakukan selanjutnya pengerjaan terhadap

sampel putih telur ayam buras, telur itik, telur puyuh dan telur penyu, sehingga

(58)
(59)

Lampiran 6. Perhitungan statistik kadar protein Data Perhitungan Telur Ayam Ras

% protein (�− ��) (�− ��)�

distribusi t diperoleh nilat t tabel = 4,0321. Data diterima jika t-hitung < t-tabel

� − ℎ�����= �X−X

karena nilai t-hitung < t-tabel, maka data yang dipakai adalah keseluruhan data

1,2,3,4,5 dan 6

(60)

= 6,89 ± (4,0321 x 0,1107 / √6 )

= 6,89 ± 0,1822

Dengan cara yang sama dilakukan selanjutnya pengerjaan terhadap

sampel putih telur ayam buras, putih telur itik, putih telur puyuh dan putih telur

penyu, sehingga didapat nilai masing–masing seperti tertera pada tabel

dibawah ini:

Sampel Nilai % Protein Nilai t-hitung Hipotesis

Kadar Rata-rata

6,18 2,2388 Diterima

6,18 2,2388 Diterima

6,36 2,2388 Diterima

8,12 1,6713 Diterima

8,12 1,6713 Diterima

8,12 1,6713 Diterima

Putih

9,01 0,5555 Diterima

9,01 0,5555 Diterima

(61)

Lampiran 7. Pengujian Beda Nilai Rata-rata Kadar Protein Pada Sampel

Dilakukan uji F dengan taraf kepercayaan 95% untuk mengetahui apakah

variasi kedua populasi sama (σ1 = σ2) atau berbeda (σ1 ≠σ2)

1. Ho : (σ1= σ2)

H1 : (σ1≠σ2)

2. dk data 1 = 5 dan dk data 2 = 5

Nilai Fkritis yang di peroleh dari Ftabel (F(0,05/2)(5,5) adalah 7,15

Daerah kritis penolakan: jika Fo≥ 7,15

3. Fo = �1

2

22= 0,11072

0,09852 = 1,2680

4. Dari hasil ini menunjukkan bahwa Ho diterima dan H1 ditolak sehingga

disimpulkan bahwa (σ1 = σ2) kemudian dilanjutkan dengan uji beda

rata-rata menggunakan distribusi t. Karena ragam populasi sama (σ1=

σ2), maka simpangan bakunya adalah:

Sp = �(�1−1)�12 + (�2−1)�22

�1+�2−2

= �(6−1)0,11072 + (6−1)0,0985 2

(62)

1. Ho : (µ1= µ2)

H1 : (µ1≠ µ2)

2. Dengan menggunakan taraf kepercayaan α = 5 %

T 0,05/2 = ± 2,2281

Untuk df = 6 + 6 - 2 = 10

3. Daerah kritis penerimaan: -2,2281 ≤ to≥ 2,2281

Daerah kritis penolakan: to < -2,2281 dan to >2,2281

4. Pengujian statistik

to =

(�1−2)

���1/�1+1/�2

= (6,96 – 6,34)

0,1065�1/6+1/6

= 10,2310

5. Karena to 10,0813 > 2,2281 maka hipotesis ditolak. Berarti terdapat

perbedaan signifikan rata-rata kadar protein antara putih telur ayam ras

dengan putih telur ayam buras.

Selanjutnya dilakukan pengerjaan yang sama terhadap sampel lain, sehingga

(63)

Tabel 5. Hasil Pengujian Beda Rata-rata Nilai Kadar protein Terhadap Kelima Sampel

Sampel F0 SP t0 Hipotesis

S1 terhadap S2 1,2680 0,1049 10,2310 Ditolak

S1 terhadap S3 1,5974 0,1000 -20,2667 Ditolak

S1 terhadap S4 0,7028 0,1221 -29,6454 Ditolak

S1 terhadap S5 1,2680 0,1049 106,4356 Ditolak

S2 terhadap S3 1,2597 0,0933 -32,2096 Ditolak

S2 terhadap S4 0,5543 0,1166 -40,2675 Ditolak

S2 terhadap S5 1,0000 0,0985 102,4604 Ditolak

S3 terhadap S4 0,4406 0,1000 -15,9363 Ditolak

S3 terhadap S5 0,7938 0,0933 141,4498 Ditolak

S4 terhadap S5 1,8041 0,1166 126,8945 Ditolak

Keterangan : S1 = Sampel Telur Ayam Ras

S2 = Sampel Telur Ayam Buras

S3 = Sampel Telur Itik

S4 = Sampel Telur Puyuh

(64)
(65)

Figur

Tabel 1. Angka kecukupan protein menurut kelompok umur dinyatakan dalam   taraf asupan terjamin
Tabel 1 Angka kecukupan protein menurut kelompok umur dinyatakan dalam taraf asupan terjamin. View in document p.29
Tabel 2 Hasil Analisis Kualitatif
Tabel 2 Hasil Analisis Kualitatif . View in document p.46
Tabel 3. Kadar protein dalam sampel Putih Telur Ayam Ras, Telur Ayam
Tabel 3 Kadar protein dalam sampel Putih Telur Ayam Ras Telur Ayam . View in document p.47
Tabel 4. Hasil Uji Beda Nilai Rata-rata Kadar Protein antara Lima Sampel
Tabel 4 Hasil Uji Beda Nilai Rata rata Kadar Protein antara Lima Sampel . View in document p.49
Gambar 1. Pembakuan NaOH 0,1 N
Gambar 1 Pembakuan NaOH 0 1 N . View in document p.54
Gambar 2. Sebelum dan sesudah titrasi pada sampel
Gambar 2 Sebelum dan sesudah titrasi pada sampel . View in document p.54
Gambar 3. Hasil analisis kualitatif dengan  larutan  pereaksi biuret
Gambar 3 Hasil analisis kualitatif dengan larutan pereaksi biuret . View in document p.56
Gambar  4. Hasil analisis kualitatif dengan larutan pereaksi xanthoprotein
Gambar 4 Hasil analisis kualitatif dengan larutan pereaksi xanthoprotein . View in document p.56
Tabel 5. Hasil Pengujian Beda Rata-rata Nilai Kadar protein Terhadap Kelima
Tabel 5 Hasil Pengujian Beda Rata rata Nilai Kadar protein Terhadap Kelima . View in document p.63

Referensi

Memperbarui...