• Tidak ada hasil yang ditemukan

Potensi dan Laju Eksploitasi Sumberdaya Ikan Kerapu di Perairan Teluk Lasongko, Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Potensi dan Laju Eksploitasi Sumberdaya Ikan Kerapu di Perairan Teluk Lasongko, Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara"

Copied!
85
0
0

Teks penuh

(1)

POTENSI DAN LAJU EKSPLOITASI SUMBERDAYA

IKAN KERAPU DI PERAIRAN TELUK LASONGKO,

KABUPATEN BUTON, SULAWESI TENGGARA

RUSMAN PRASETYA

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)

DAN SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa penelitian Potensi dan Laju Eksploitasi Sumberdaya Ikan Kerapu di Perairan Teluk Lasongko, Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.

Bogor, 2010

(3)

RUSMAN PRASETYA. The Potency and Exploitation Rate of Grouper Resources in the Gulf of Lasongko, Buton Regency, South East Sulawesi Province. Supervised by MENNOFATRIA BOER and KIAGUS ABDUL AZIZ

A grouper wich has a high economic value is one of the major predators in the coral reef ecosystem. Market demand on this fish has led to a declination in the natural grouper population. The study was aimed to estimate both the potential catch and the exploitation rate of grouper resources in Gulf of Lasongko. The potential catch of grouper was estimated by calculating MSY using a surplus production of Fox model; exploitation rate was measured based on a length-based on the growth parameter estimation. The result showed that the MSY of the humpback, brown marble, orange-spotted and leopard coral grouper consecutively were 3.72 ton year-1; 31.73 ton year-1; 66.57 ton year-1; 44.90 ton year-1. The exploitation rate of the humpback, brown marble, orange-spotted and leopard coral grouper consecutively were 0.51 year-1; 0.53 year-1; 0.52 year-1; 0.51 year-1. The results indicated that the exploitation rate of all species of groupers had reached their optimum level, however, the declination of the population was due to the habitat deterioration within the study site. A coral rehabilitation program should be conducted in enhancing coral reef coverage in the Gulf of Lasongko.

(4)

RUSMAN PRASETYA. Potensi dan Laju Eksploitasi Sumberdaya Ikan Kerapu di Perairan Teluk Lasongko, Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara. Dibimbing oleh MENNOFATRIA BOER dan KIAGUS ABDUL AZIZ

Ikan kerapu merupakan salah satu sumberdaya perikanan yang penting. Pada ekosistem terumbu karang, ikan kerapu memiliki nilai ekologis yang penting karena merupakan merupakan salah satu predator utama dalam rantai makanan di ekosistem ini. Selain memiliki nilai ekologis, beberapa spesies kerapu memiliki nilai ekonomis yang tinggi baik di pasar domestik maupun internasional.

Berbagai penelitian melaporkan bahwa stok ikan kerapu di beberapa perairan telah mengalami penurunan, termasuk Indonesia. Indikator yang dapat menggambarkan penurunan stok ini adalah menurunnya ukuran dan jumlah hasil tangkapan. Ada dua faktor yang menyebabkan penurunan stok ikan kerapu: pertama, tekanan kegiatan penangkapan yang tinggi, utamanya penggunaan alat tangkap yang bersifat merusak seperti penggunaan sianida dan potasium; kedua, menurunnya daya dukung lingkungan yang berdampak pada berkurangnya sumber makanan atau ruang habitat ikan kerapu.

Di Teluk Lasongko, pemanfaatan ikan kerapu secara intensif berlangsung sejak awal tahun 1990 hingga akhir 1999. Hal ini ditandai dengan masuknya kapal-kapal penampung dari Hongkong yang juga memperkenalkan penggunaan sianida dan potasium untuk menangkap ikan kerapu. Pemanfaatan ikan kerapu yang intensif dan metode penangkapan yang merusak menyebabkan penurunan stok ikan kerapu di wilayah ini. Namun demikian beberapa penelitian yang dilakukan di perairan ini belum dapat menggambarkan kondisi stok ikan kerapu.

Tujuan penelitian ini adalah menduga hasil tangkapan maksimum lestari dan laju eksploitasi ikan kerapu di Teluk Lasongko. Informasi yang diperoleh dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar pertimbangan dalam menyusun stategi pengelolaan sumberdaya ikan kerapu di Teluk Lasongko.

Pendugaan hasil tangkapan maksimum lestari atau Maximum Sustainable Yield (MSY) dilakukan dengan menggunakan Model Surplus Produksi (model Schaeffer atau model Fox). Hasil tangkapan maksimum dapat diestimasi dari data input berupa jumlah hasil tangkapan dan upaya penangkapan dalam runtun tahun 2000 – 2007. Di Teluk Lasongko, ikan kerapu ditangkap dengan menggunakan alat tangkap pancing biasa dan bubu sehingga standarisasi upaya penangkapan harus dilakukan terlebih dahulu sebelum digunakan untuk menduga besarnya MSY.

Pendugaan laju eksploitasi ikan kerapu dilakukan dengan penentuan parameter-paremeter pertumbuhan ikan kerapu terlebih dahulu berdasarkan persamaan von Bertalanffy. Parameter-parameter pertumbuhan ikan tersebut adalah panjang asimtotik (L), koefisien laju pertumbuhan (K) dan umur teoritis pada saat panjang ikan = 0 (to). Pendugan nilai L∞ dilakukan menggunakan metode Powell-Wetherall dalam paket FiSAT II. Nilai L yang diperoleh kemudian digunakan sebagai dugaan awal Luntuk memperoleh nilai K dengan menggunakan program ELEFAN I dalam paket FiSAT II. Nilai to diduga dengan

(5)

pendugaan laju mortalitas alami (M) berdasarkan persamaan empiris Pauly. Nilai Z dan M kemudian digunakan untuk menduga laju kematian ikan akibat penangkapan (F), dan laju eksploitasi ikan kerapu dihitung berdasarkan nisbah dari laju kematian ikan akibat penangkapan dan laju mortalitas total.

Hasil penelitian menunjukkan bahwaikan kerapu yang tertangkap di Teluk Lasongko terdiri dari empat spesies yaitu ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis), kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus), kerapu lumpur (Epinephelus coioides) dan kerapu sunu (Plectropomus leopardus). Total jumlah ikan kerapu yang tertangkap sebanyak 1.783 ekor. Dari keempat jenis ikan kerapu, ikan kerapu lumpur merupakan ikan kerapu yang paling banyak tertangkap yakni 755 ekor (42,34 %) dan paling sedikit adalah kerapu tikus sebanyak 76 ekor (4,26 %).

Berdasarkan perhitungan dugaan hasil tangkapan maksimum lestari atau MSY diketahui bahwa MSY ikan kerapu tikus, kerapu macan, kerapu lumpur dan kerapu sunu di Teluk Lasongko masing-masing sebesar 3.72; 31.73; 66.57; dan 44.90 ton pertahun. Idealnya, MSY ikan kerapu sebesar 1 ton/hektar terumbu karang per tahun sedang untuk tujuan konservasi sebesar 0,5 ton/ha terumbu karang per tahun. Berdasarkan hal tersebut, dengan luas areal terumbu karang 275,3 ha maka idealnya nilai MSY ikan kerapu di Teluk Lasongko adalah sebesar 275,3 ton/tahun. Nilai tersebut lebih besar dibanding nilai MSY yang diperoleh dari penelitian ini untuk masing-masing jenis ikan kerapu. Kondisi ini mengindikasikan bahwa telah terjadi penurunan stok ikan kerapu di Teluk Lasongko.

Hasil pendugaan laju eksploitasi (E) ikan kerapu tikus, kerapu macan, kerapu lumpur dan kerapu sunu di Teluk Lasongko masing-masing sebesar 0.51; 0.53; 0.52; dan 0.51 per tahun. Laju eksploitasi optimal suatu sumberdaya ikan sebesar 0,5 dimana besarnya mortalitas alami sama dengan mortalitas akibat penangkapan. Nilai E yang tidak jauh berbeda dengan 0,5 mengindikasikan bahwa laju eksploitasi sumberdaya ikan kerapu di teluk Lasongko berada pada kondisi optimal. Kondisi tersebut mengindikasikan pula bahwa penurunan stok ikan kerapu di Teluk Lasongko tidak disebabkan oleh kegiatan penangkapan ikan yang dilakukan oleh nelayan saat ini. Penurunan daya dukung habitat ikan kerapu di Teluk Lasongko diduga menjadi penyebab penurunan stok ikan kerapu di perairan ini.

Strategi pengelolaan yang dapat diterapkan agar sumberdaya ikan kerapu di Teluk Lasongko tetap lestari adalah penerapan upaya optimum ikan kerapu macan yakni 357 unit upaya dengan rincian 160 unit alat tangkap pancing dan 197 unit alat tangkap bubu. Namun demikian, pilihan kebijakan ini harus disertai pula dengan adanya kebijakan pelarangan untuk menangkap ikan kerapu tikus selama dua tahun. Strategi berikutnya adalah pembatasan ukuran ikan kerapu yang boleh tertangkap yakni 45 cm untuk ikan kerapu betina dan 70 cm untuk ikan kerapu jantan. Untuk meningkatkan daya dukung habitat ikan kerapu dapat dilakukan dengan transplantasi karang atau pengembangan karang buatan.

(6)

©Hak Cipta milik IPB, tahun 2010 Hak Cipta dilindungi Undang-undang

1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumber

a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah

b. Pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB

(7)

IKAN KERAPU DI PERAIRAN TELUK LASONGKO,

KABUPATEN BUTON, SULAWESI TENGGARA

RUSMAN PRASETYA

Tesis

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada

Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(8)

Penguji Luar Komisi pada Ujian Tesis : Dr. Ir. Luky Adrianto, M.Sc

Tanggal Lulus : Tanggal Ujian : 14 Februari

(9)

Perairan Teluk Lasongko, Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara.

Nama Mahasiswa : Rusman Prasetya Nomor Pokok : C251050151

Program Studi : Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan

Disetujui

Komisi Pembimbing

Prof. Dr. Ir. Mennofatria Boer, DEA. Ir. Kiagus Abdul Aziz, M.Sc.

Ketua Anggota

Diketahui

Ketua Program Studi Dekan Sekolah Pascasarjana Pengelolaan Sumberdaya Pesisir

dan Lautan

Prof. Dr. Ir. Mennofatria Boer, DEA. Prof. Dr. Ir. Khairil A. Notodiputro, M.S.

(10)

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT., atas rahmat dan hidayah-Nya sehingga penelitian “Potensi dan Laju Eksploitasi Sumberdaya Ikan Kerapu di Perairan Teluk Lasongko, Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara” dapat diselesaikan. Penelitian ini merupakan satu syarat untuk mendapatkan gelar Magister Sains pada Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Pesisi dan Lautan Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Penelitian ini dapat terselenggara atas bantuan berbagai pihak. Oleh karenanya penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. Bupati Buton atas kesempatan yang diberikan kepada penulis untuk dapat melanjutkan pendidikan di Sekolah Pascasarjana IPB.

2. Prof. Dr. Ir. Mennofatria Boer, DEA selaku Ketua Komisi Pembimbing yang dengan kesempatan, kearifan, kebijakan dan kebaikan beliau mengantarkan penelitian penulis hingga selesai.

3. Ir. Kiagus Abdul Aziz, M.Sc selaku Anggota Komisi Pembimbing atas kesempatan, kebaikan dan perhatian beliau dalam mengevaluasi penelitian penulis hingga selesai.

4. Istri tercinta, Irianti Amin, ketiga anak-anak kami Izzat, Anya dan Yaya serta kedua orang tua kami mama wajo dan mama haji atas doa, kasih sayang, perhatian, kesabaran dan ketabahan dalam mendampingi penulis selama ini. 5. Coral Reef Rehabilitation and Management Program (Coremap) Konsorsium

Pusat di Jakarta melalui Program Mitra Bahari yang telah memberikan beasiswa penulisan tesis kepada penulis.

6. Saudara-saudaraku tercinta, Zamri Amin sek, Aminudin sek, Halimu sek, Ruslan Setyawan sek, Rusman sek, Darwin sek, Nunu, Andri dan Tasman atas bantuan doa dan bantuan dana serta perhatian yang diberikan kepada penulis selama ini.

7. Keluarga besar penulis yang tidak bisa disebutkan satu-persatu atas bantuan dan doa yang diberikan kepada penulis.

8. Teman-teman SPL 12, Indra, Nirmala, Haryadi, Ferdinan, Erlangga, Yusuf, Evi, Widi, Haikal dan Faisal atas dorongan dan semangatnya.

9. Teman-teman lain yang penulis tidak bisa sebutkan satu persatu, terima kasih atas segala doa dan bantuannya.

Kesempurnaan merupakan hal yang amat didambakan, namun tidaklah mungkin dapat tercapai karena kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT, karena itu adanya saran dari pembaca terhadap hasil penelitian ini akan diterima dengan senang hati. Semoga penelitian ini memberikan manfaat bagi pembaca dan semoga Allah SWT., meridhoi setiap usaha yang dilakukan. Amin.

Bogor, 2010

(11)

Penulis dilahirkan di Kota Bau-Bau, Sulawesi Tenggara pada tanggal 3 Juni 1973 sebagai anak pertama dari dua bersaudara pasangan bapak Basirun Azis dan ibu Zanuma.

Tahun 1992 penulis diterima di Institut Pertanian Bogor melalui jalur USMI dan pada tahun 1993 diterima di Program Studi Ilmu dan Teknologi Kelautan, Fakultas Perikanan. Tahun 2005 penulis mendapat kesempatan melanjutkan pendidikan program magister pada Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan, Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

Penulis menjadi dosen luar biasa pada Fakultas Perikanan Universitas Dayanu Ikhsanuddin Kota Bau-Bau tahun 2002. Pada tahun yang sama, penulis diterima sebagai calon pegawai negeri sipil di Pemerintah Kabupaten Buton dan tahun 2003 penulis menjadi pegawai negeri sipil yang ditempatkan di Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Buton bidang Bina Usaha Perikanan.

(12)

Halaman

DAFTAR TABEL... ix

DAFTAR GAMBAR ... x

DAFTAR LAMPIRAN ... xi

1. PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Perumusan Masalah ... 3

1.3 Tujuan dan Manfaat ... 4

2. TINJAUAN PUSTAKA ... 5

2.1 Sumberdaya Ikan Kerapu... 5

2.2 Estimasi Parameter Pertumbuhan Ikan ... 7

2.3 Estimasi Mortalitas Ikan ... 11

2.3.1 Mortalitas Total ... 11

2.3.2 Mortalitas Alami ... 12

2.3.3 Mortalitas Penangkapan ... 13

2.4 Laju Eksploitasi ... 13

2.5 Program-program Komputer untuk Menduga Parameter-parameter Pertumbuhan Ikan ... 14

2.6 Hasil Tangkapan Maksimum Lestari ... 15

2.7 Pengelolaan Sumberdaya Perikanan ... 19

3. METODOLOGI ... 23

3.1 Waktu dan Tempat ... 23

3.2 Metode Pengumpulan Data ... 25

3.3.1 Pengumpulan Data Primer ... 25

3.2.2 Pengumpulan Data Sekunder ... 25

3.3 Analisa Data ... 26

3.3.1 Analisa Komposisi dan Kelimpahan Ikan Kerapu ... 26

3.3.2 Pendugaan Hasil Tangkapan Maksimum Lestari ... 26

3.3.3 Pendugaan Laju Eksploitasi Ikan Kerapu ... 28

4. HASIL PENELITIAN ... 31

4.1 Komposisi Hasil Tangkapan Ikan Kerapu ... 32

4.2 Hasil Tangkapan Maksimum Lestari Ikan Kerapu ... 34

4.3 Frekuensi Panjang Ikan Kerapu ... 38

4.4 Parameter Pertumbuhan ... 44

4.5 Laju Mortalitas dan Laju eksploitasi ... 45

5. PEMBAHASAN ... 47

5.1. Potensi Sumberdaya Ikan Kerapu... 47

5.2. Laju Eksploitasi Ikan Kerapu ... 48

5.3. Strategi Pengelolaan Perikanan Kerapu ... 51

6. KESIMPULAN DAN SARAN ... 56

6.1. Kesimpulan ... 56

6.2. Saran ... 56

DAFTAR PUSTAKA ... 57

(13)

DAFTAR TABEL

Halaman 1. Nama ilmiah, Inggris dan Hongkong dari ikan-ikan karang yang

dipasarkan di Hongkong ... 1

2. Harga grosir (G) dan eceran (E) (US$/kg) ikan kerapu hidup yang diperdagangkan di Hong Kong dan China bagian Selatan... 2

3. Areal terumbu karang di Teluk Lasongko, luas dan presentase penutupan karangnya ... 23

4. Jumlah alat tangkap di Teluk Lasongko tahun 2000 - 2007 ... 35

5. Jumlah upaya standar dan hasil tangkapan ikan kerapu di Teluk Lasongko tahun 2000 - 2007 ... 35

6. Koefisien regresi dan determinasi antara CPUE atau ln CPUE dengan upaya standar... 36

7. Nilai MSY dan fopt ikan kerapu di Teluk Lasongko... 38

8. Jumlah dan panjang ikan kerapu berdasarkan jenisnya ... 38

9. Parameter pertumbuhan ikan kerapu berdasarkan zona penangkapan... 45

10. Nilai Z, M, F dan E ikan kerapu di Teluk Lasongko ... 45

11. Nilai Z, M, F dan E ikan kerapu berdasarkan zona penangkapan ... 46

(14)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

1. Klasifikasi ikan kerapu (Heemstra dan Randall, 1993) ... 6

2. Ilustrasi Konsep Surplus Produksi (Wallace dan Fletcher, 1997)... 16

3. Peta lokasi penelitian... 24

4. Presentase jumlah ikan kerapu yang tertangkap di Teluk Lasongko selama bulan Mei – Agustus 2007 ... 31

5. Jumlah ikan kerapu yang tertangkap di Teluk Lasongko berdasarkan jenis dan lokasi penangkapannya selama bulan Mei – Agustus 2007 ... 32

6. Jumlah ikan kerapu yang tertangkap di Teluk Lasongko berdasarkan zona selama bulan Mei – Agustus 2007 ... 32

7. Presentase total berat ikan kerapu yang tertangkap di Teluk Lasongko berdasarkan jenisnya selama bulan Mei – Agustus 2007... 33

8. Presentase total berat ikan yang tertangkap berdasarkan zona penangkapan di Teluk Lasongko selama bulan Mei – Agustus 2007 ... 33

9. Jumlah ikan kerapu yang tertangkap di Teluk Lasongko berdasarkan jenis alat tangkap selama bulan Mei – Agustus 2007 ... 34

10. Hasil tangkapan per satuan upaya (CPUE) ikan kerapu di Teluk Lasongko tahun 2000 – 2007... 36

11. Kurva hubungan antara upaya penangkapan dan jumlah hasil tangkapan ikan kerapu di Teluk Lasongko... 37

12. Panjang rata-rata ikan kerapu yang tertangkap di Teluk Lasongko bulan Mei – Agustus 2007 ... 39

13. Histogram distribusi frekuensi panjang ikan kerapu tikus... 40

14. Histogram distribusi frekuensi panjang ikan kerapu macan ... 41

15. Histogram distribusi frekuensi panjang ikan kerapu lumpur ... 42

16. Histogram distribusi frekuensi panjang ikan kerapu sunu ... 43

17. Grafik pertumbuhan ikan kerapu di Teluk Lasongko ... 44

(15)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

1. Perhitungan nilai MSY ikan kerapu tikus di Teluk Lasongko... 63

2. Perhitungan nilai MSY ikan kerapu macan di Teluk Lasongko ... 64

3. Perhitungan nilai MSY ikan kerapu lumpur di Teluk Lasongko ... 65

4. Perhitungan nilai MSY ikan kerapu sunu di Teluk Lasongko ... 66

5. Distribusi frekuensi panjang ikan kerapu tikus ... 67

6. Distribusi frekuensi panjang ikan kerapu macan ... 68

7. Distribusi frekuensi panjang ikan kerapu lumpur ... 69

8. Distribusi frekuensi panjang ikan kerapu sunu ... 70

(16)

1.1 Latar Belakang

Ikan kerapu merupakan salah satu sumberdaya perikanan yang penting. Pada ekosistem terumbu karang, ikan kerapu memiliki nilai ekologis yang penting karena merupakan merupakan salah satu predator utama dalam rantai makanan di ekosistem. Selain memiliki nilai ekologis, beberapa spesies kerapu memiliki nilai ekonomis yang tinggi baik di pasar domestik maupun internasional.

Di pasar domestik, ikan kerapu bebek (Cromileptes altivelis) ukuran kecil sebagai ikan hias (ukuran 4 – 5 cm) laku dijual dengan harga Rp. 7.000,- per ekor (Akbar dan Sudaryanto 2000). Di pasar internasional, ikan kerapu diperdagangkan dalam bentuk hidup dengan pasar utama adalah Hongkong dan China. Menurut Chan (2000), 50 % ikan karang hidup yang diperdagangkan di Hongkong diimport dari Indonesia, kemudian diikuti oleh Philipina, Australia, Maladewa, Vietnam, Malaysia dan Thailand. Ikan karang yang diperdagangkan di Hongkong dengan harga tinggi, menengah maupun rendah didominasi oleh famili Serranidae (kerapu) kecuali ikan napoleon yang termasuk dalam famili Labridae.

Tabel 1. Nama ilmiah, Inggris dan Hongkong dari ikan-ikan karang yang dipasarkan di Hongkong

No Nama ilmiah Nama umum Nama Hongkong

1. High priced species

Cheilinus undulatus

Cromileptus altivelis

Humphead, maori or Napoleon wrasse

High-finned or mouse grouper, baramundi cod

So Mei Lo Shu Pan 2. Medium priced species

Plectropomus leopardis Plectropomus areolatus

Spotted or leopard coral trout Red or squaretail coral trout

Sai Sing Tung Sing 3. Lower priced species

Epinephelus polyphekadion Epinephelus malabaricus Epinephelus coloidus Epinephelus bleekeri

Epinephelus fuscoguttatus

Flowery grouper

Green or malabar grouper Brown spotted grouper

Orange spotted or green grouper

Tiger or flowery grouper

Charm Pan Ching Pan Ching Pan Chi Ma Pan Lo Fu Pan

Sumber : Chan (2000)

(17)

lebih tinggi dibanding harga grosir (McGilvray dan Chan 2003). Dari hasil survei tersebut, harga ikan kerapu bebek di Hongkong sebesar US$ 60.2 untuk grosir dan US$ 92 untuk eceran, di Guangzhou (RRC) sebesar US$ 84.7 untuk grosir dan di Shanzhen (RRC) sebesar US$ 73.3 untuk grosir serta US$ 110.7 untuk eceran.

Tabel 2. Harga grosir (G) dan eceran (E) (US$/kg) ikan kerapu hidup yang diperdagangkan di Hong Kong dan China bagian Selatan

Jenis Ikan Hongkong

(US$)

Guangzhou (RRC) (US$)

Shanzhen (RRC) (US$)

Cromileptes altivelis G = 60.2

E = 92.0

G = 84.7 E = tidak tersedia

G = 73.3 E = 110.7

Epinephelus coioides /

Epinephelus malabaricus

G = 9.1 E = 20.8

G = 9.0 E = 18.8

G = 10.4 E = 20.8

Epinephelus fuscoguttatus G = 23.7

E = 43.6

G = 15.0 E = 25.4

G = 16.9 E = 35.5

Epinephelus lanceolatus G = 24.3

E = 46.9

G = 15.9 E = 25.4

G = 16.4 E = 47.7

Epinephelus polyphakadion G = 21.3

E = 37.5

G = 23.2 E = 35.5

G = 22.2 E = 37.5

Plectropomus areolatus G = 24.1

E = 39.9

G = 19.5 E = 41.0

G = 19.4 E = 41.0

Plectropomus leopardus G = 35.1

E = 51.7

G = 44.1 E = 50.6

G = 33.6 E = 60.4 Sumber : McGilvray danChan (2003)

Tingginya nilai ikan kerapu di perdagangan internasional mengakibatkan meningkatnya permintaan akan jenis ikan ini. Konsekuensinya, ikan kerapu mengalami tekanan yang cukup berat dan di beberapa wilayah telah mengalami

(18)

Teluk Lasongko merupakan salah satu teluk terbesar di Kabupaten Buton dengan luas perairan 1 360 ha dengan luas areal terumbu karang 279.8 ha atau 20.50 % dari luas total perairannya. Terumbu karang di perairan ini tersebar dalam 7 lokasi yakni Pasi’ Bawona, Pasi’ Katembe, Pasi’ Lasoring Balano, Pasi’ Bunta, Pasi’ Bone Marangi, Pasi’ Madongka dan Pasi’ Lasori. Masyarakat di pesisir Teluk Lasongko telah lama memanfaatkan sumberdaya perikanan yang ada di areal terumbu karang perairan ini sebagai sumber mata pencaharian, termasuk sumberdaya ikan kerapu.

1.2 Perumusan Masalah

Masyarakat di Teluk Lasongko memanfaatkan sumberdaya perikanan di perairan ini dalam bentuk usaha penangkapan ikan dan usaha budidaya laut. Salah satu bentuk usaha budidaya laut yang dikembangkan oleh penduduk di pesisir Teluk Lasongko adalah budidaya ikan kerapu dengan menggunakan Keramba Jaring Apung (KJA) sebagai wadah budidaya. Bentuk budidaya yang dilakukan adalah pembesaran ikan kerapu, di mana bibit ikan kerapu ditangkap dari alam kemudian dibesarkan hingga mencapai ukuran tertentu untuk dapat dijual ke kapal pengumpul yang biasanya datang dari Hongkong. Sadovy dan Pet (1998) menyatakan bahwa pola budidaya berdasarkan pengumpulan juvenil ikan kerapu dari alam dan membesarkannya dalam suatu wadah keramba jaring apung lazim dilakukan di Asia Tenggara. Pola budidaya seperti yang tergambar di atas dapat menurunkan stok sumberdaya ikan kerapu di perairan Teluk Lasongko.

Sadovy (2005) melaporkan bahwa stok ikan kerapu di beberapa perairan telah mengalami penurunan, termasuk Indonesia. Indikator yang dapat menggambarkan penurunan stok ini adalah menurunnya ukuran dan jumlah hasil tangkapan. Ada dua faktor yang menyebabkan penurunan stok ikan kerapu: pertama, tekanan kegiatan penangkapan yang tinggi, utamanya penggunaan alat tangkap yang bersifat merusak seperti penggunaan sianida dan potasium; kedua, menurunnya daya dukung lingkungan yang berdampak pada berkurangnya sumber makanan atau ruang habitat ikan kerapu menjadi yang sempit.

(19)

penurunan. Namun demikian hasil penelitian tersebut tidak merinci berdasarkan jenis ikan sehingga belum dapat menggambarkan kondisi stok ikan kerapu saat ini. Oleh karenanya, kajian potensi dan laju eksploitasi ikan kerapu di Teluk Lasongko sangat perlu dilakukan.

1.3 Tujuan dan Manfaat

Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Menduga hasil tangkapan maksimum lestari ikan kerapu di Teluk Lasongko 2. Menduga laju eksploitasi ikan kerapu di Teluk Lasongko.

(20)

2.1 Sumberdaya Ikan Kerapu

Ikan kerapu termasuk dalam famili Serranidae, subfamili Epinephelinae dan dikenal dengan istilah “grouper” (Heemstra dan Randall 1993; Tucker 1999). Ikan kerapu terdiri dari 15 genus dan mencakup 159 spesies. Kelima belas genus ikan kerapu tersebut adalah Aethalperca, Alphestes, Anyperodon, Cephalopholis, Cromileptes, Dermatolepis, Epinephelus, Gonioplectrus, Gracila, Mycteroperca,

Paranthias, Plectropomus, Saloptia, Triso dan Variola (Heemstra dan Randall 1993). Sedangkan menurut Tucker (1999), ikan kerapu terdiri dari 14 genus dan mencakup setidaknya setengah dari 449 spesies famili Serranidae.

Menurut Heemstra dan Randall (1993), ikan kerapu dapat diidentifikasi berdasarkan pola pewarnaannya, ciri morfologis termasuk bentuk tubuh, konfigurasi dan ukuran sirip, bentuk dan ukuran relatif dari kepala dan beberapa bagian kepala dan tubuh, serta jumlah jari-jari sirip, gurat sisik dan gill raker. Kecuali untuk beberapa jenis ikan kerapu dewasa dengan ukuran besar, pola pewarnaan kebanyakan ikan kerapu biasanya cukup untuk membedakan spesies tertentu. Ikan kerapu yang hidup di perairan dalam biasanya memiliki pola pewarnaan yang lebih kemerahan dibanning spesies yang tertangkap di perairan dangkal.

(21)

(Heemstra dan Randall 1993). Menurut Kuiter (1996), ikan kerapu dewasa biasanya dapat ditemukan pada lereng-lereng karang yang memiliki celah atau gua-gua yang besar. Ikan kerapu biasanya hidup soliter atau dalam kelompok yang kecil (Yearsley et al. 1999).

Gambar 1. Klasifikasi ikan kerapu (Heemstra dan Randall 1993)

(22)

sebagai plankton oseanik. Ketika menjadi juvenil, ikan kerapu menetap di perairan dangkal untuk mencari tempat berlindung. Pada saat ukurannya bertambah panjang, ikan kerapu bergerak ke perairan yang lebih dalam namun kebanyakan tetap tinggal di wilayah dekat gua tempat berlindungnya.

Sebagai predator utama di ekosistem terumbu karang, kebanyakan ikan kerapu memakan sejumlah jenis ikan, crustacea yang besar dan chepalopoda

(Heemstra dan Randall 1993). Menurut Tucker (1999), larva kerapu di alam awalnya memakan copepoda dan zooplankton kecil, kemudian memakan crustacea yang lebih besar seperti amphipoda dan udang mysid. Selanjutnya, makanan utama juvenil ikan kerapu adalah ikan, kepiting, udang-udangan, lobster dan moluska. Heemstra dan Randall (1993) menyatakan bahwa sebagian besar ikan kerapu adalah ambush predator (predator dengan menjebak mangsanya), yang bersembunyi di antara karang dan bebatuan hingga ikan atau crustacea yang tidak waspada melintas, kemudian menangkap mangsanya tersebut dengan cepat dan menggigit mangsanya dengan gigi yang tajam.

Kebanyakan spesies ikan kerapu hermaprodit protogini, di mana setiap individu mencapai usia dewasa secara sexual pertama kali dengan kelamin betina dan beberapa kemudian berubah menjadi jantan (Heemstra dan Randall 1993; Tucker 1999). Beberapa spesies mengalami perubahan sex dari betina ke jantan dengan semakin bertambahnya umur, namun sebagian lagi mengalami perubahan sex akibat kekurangan individu jantan (Tucker 1999). Ikan kerapu memiliki umur yang panjang dan terlambat dalam mencapai usia dewasa secara sexual pertama kali (Heemstra dan Randall 1993).

2.2 Estimasi Parameter Pertumbuhan Ikan

(23)

tagging-recapture; dan pengukuran dengan model progresi terhadap kelas ukuran ikan. Penggunaan tiap metode tergantung pada spesies yang diteliti (Pauly 1984).

Model pertumbuhan yang umum digunakan dalam kajian stok ikan adalah model pertumbuhan von Bertalanffy di mana panjang badan sebagai fungsi dari umur (Sparre dan Venema 1999; Pilling et al. 1999; Jennings et al. 2001). Model ini telah menjadi salah satu dasar dalam biologi perikanan sebab digunakan sebagai submodel dalam sejumlah model yang lebih rumit dalam menjelaskan berbagai dinamika populasi ikan (Sparre dan Venema 1999). Model matematika dari persamaan pertumbuhan von Bertalanffy adalah sebagai berikut :

( )

(

1

K t t0

)

t

L

e

L

=

− − ... (1)

Lt = Panjang pada umur t

L = Panjang asimptotik yakni panjang dimana laju pertumbuhan secara teoritis nol

K = Koefisien pertumbuhan

t0 = umur pada saat panjang ikan nol

Menurut Morales-Nin (1992), parameter pertumbuhan dapat diduga melalui beberapa metode yakni :

- Metode Anatomik : dihitung melalui pertumbuhan teratur yang terbentuk dalam jaringan keras ikan seperti otolith pada sisik ikan

- Analisis frekuensi panjang : studi perkembangan model ukuran kelas panjang berdasarkan waktu

- Pendugaan secara langsung : pengukuran secara langsung laju pertumbuhan ikan berdasarkan contoh-contoh ikan yang telah diketahui umurnya. Sebagai contoh, pengukuran ini dapat dilakukan melalui studi ”mark and recapture”.

(24)

Menurut Jennings et al. (2001), beberapa metode identifikasi kohort menggunakan asumsi bahwa distribusi frekuensi panjang dari tiap kohort biasanya normal. Selanjutnya, Sparre dan Venema (1999) menyatakan bahwa metode yang umum digunakan untuk memisahkan suatu distribusi komposit dari frekeunsi panjang ke dalam distribusi-distribusi yang terpisah dapat dilakukan dengan metode Bhattacharya. Metode Bhattacharya didasarkan pada identifikasi distribusi frekuensi panjang kohort termuda dan mengurangi jumlah ikan dari tiap kelompok panjang dengan kohort pertama dari distribusi frekuensi panjang total Proses ini terus dilakukan pada kohort berikutnya hingga tidak ada lagi distribusi normal yang dapat diidentifikasi (Jennings et al. 2001).

King (1995) mengelompokkan metode analisis frekuensi panjang dalam dua kelompok berdasarkan ukuran contohnya yaitu contoh tunggal dan contoh ganda. Metode contoh tunggal dikenal juga sebagai metode Petersen di mana kurva pertumbuhan dapat dikaji dari posisi relatif modus dalam contoh tunggal frekuensi panjang. Salah satu metode sederhana adalah plot Ford-Warlfort yang memodifikasi persamaan pertumbuhan von Bertalanffy menjadi suatu persamaan linier sebagai berikut :

(

)

K

t K

t L e Le

L+1 = 1− − + − ... (2)

Persamaan tersebut adalah persamaan regresi linier dengan Lt+1 sebagai variabel

tidak bebas dan Ltsebagai variabel bebas sehingga diperoleh

(

K

)

e L

a= 1− − dan

K e

b= − , maka :

( )

b

K =−ln ... (3)

b a L

− =

1 ... (4)

∞ ∞ −

+ =

L L L K t

t 1 ln t

0 ... (5)

Model contoh ganda disebut juga modal progression analysis (King 1995;

Jennings et al. 2001). Data frekuensi panjang dikumpulkan dari waktu yang

berbeda yang kemudian disusun secara berurutan, modus dari kohort ditelusuri

pergeserannya mengikuti aksis panjang. Metode yang umum digunakan adalah

(25)

Kt Kt L Lt + − = − − ∞ 0 1

ln ... (6)

Persamaan tersebut di atas merupakan persamaan linier dengan

∞ − − L Lt 1 ln sebagai

variabel tak bebas dan t sebagai variabel bebas sehingga melalui analisa regresi

sederhana diperoleh K = b dan

b a t0 =− .

Metode lain yang dapat digunakan untuk mengestimasi parameter

pertumbuhan ikan adalah metode Powell-Wetherall (Sparre dan Venema 1999;

Gayanilo et al. 2005) dengan rumus sebagai berikut :

' ' a bL L

L− = + ... (7)

(

)

      + + ∞ = K Z L L L / 1 ' , sehingga b a

L =− ... (8)

      + − = b b K Z 1

... (9)

Selain beberapa metode tersebut di atas, telah pula dikembangkan beberapa

persamaan empirik untuk mengestimasi parameter-parameter pertumbuhan ikan,

di antaranya yang dilakukan oleh Pauly (1984) serta Froese dan Binohlan (2000;

2003). Persamaan empirik Pauly (1984) untuk menduga panjang infiniti adalah

sebagai berikut :

95 . 0

max

L

L = ... (10)

max

L adalah panjang maksimum ikan yang diperoleh.

Froese dan Binohlan (2000; 2003) memperkenalkan beberapa persamaan

empirik untuk menduga parameter pertumbuhan ikan sebagai berikut :

max . 9841 . 0 044 . 0

logL = + L ... (11)

2742 . 0 log . 0421 . 1

logLopt = L − ... (12)

m t t 0.5496 0.957.log

log max = + ... (13)

max

3 t

(26)

max

t adalah umur maksimum yang dapat dicapai oleh tiap individu ikan, sedang

m

t adalah umur pada saat ikan matang gonad pertama kali.

2.3. Estimasi Mortalitas Ikan

Secara umum, ikan akan mengalami kematian (mortalitas) yang dapat

disebabkan oleh kematian alami dan kematian akibat penangkapan. Mortalitas

alami biasanya diberi simbol M dan mortalitas akibat penangkapan diberi simbol

F sedangkan laju mortalitas total diberi simbol Z (Sparre dan Venema 1998;

Jennings et al. 2001).

2.3.1 Mortalitas Total

Laju mortalitas total dapat diestimasi dengan menggunakan data distribusi

panjang. Metode yang umum digunakan dengan menggunakan data distribusi

panjang ini adalah meode Beverton-Holt berbasis panjang (Sparre dan Venema,

1999) dan metode kurva tangkapan berbasis panjang atau length-converted catch

curve (Pauly, 1983).

Metode Beverton-Holt menunjukan hubungan fungsional antara Z dan L

(Sparre dan Venema, 1999), yang dapat dirumuskan sebagai berikut :

(

)

( )

' .

L L

L L K Z

− −

= ∞ ... (15)

L adalah panjang rata-rata ukuran, L’ adalah panjang di mana semua ikan pada

ukuran tersebut dan lebih panjang berada pada penangkapan penuh. L’ dapat pula

dianggap sebagai batas kelas bawah dari interval kelas panjang (Sparre dan

Venema, 1999).

Rumus Beverton-Holt tersebut di atas dapat juga digunakan dalam suatu plot

regresi untuk menduga Z/K dan L di mana

( )

LL' dapat diplot berlawanan dengan L’ sebagai garis lurus, sehingga diperoleh :

( )

LL' = a + bL’ ... (16) Persamaan ini kemudian dikenal sebagai Watherall Plot (Sparre dan Venema

1999). Dari persamaan garis di atas dapat diperoleh nilai Z sebagai berikut :

b b K

Z +

(27)

b a

L =− , dan K diperoleh dari model progression analysis

2.3.2 Mortalitas Alami

Mortalitas alami dapat terjadi akibat pemangsaan, penyakit, parasit, umur

dan faktor lingkungan yang sebagian besar disebabkan oleh perubahan

faktor-faktor lingkungan sepanjang hidup ikan. Pauly (1980) menyatakan adanya

keterkaitan yang erat antara mortalitas alami dengan suhu perairan di mana

semakin hangat suhu perairan akan menyebabkan meningkatnya mortalitas alami

pada ikan.

Beberapa metode telah dikembangkan para ahli pengkajian stok untuk

menduga mortalitas alami pada ikan. Richter dan Baranov (1976) yang diacu

dalam Sparre dan Venema (1998) menyatakan adanya hubungan antara mortalitas

alami dengan umur saat 50% populasi matang gonad atau kemudian dikenal

sebagai the age of massive maturatuion (umur matang yang masif). Persamaan

yang ditunjukkan oleh Rikhter dan Baranov adalah :

155 . 0 521 . 1

720 . 0 50

− =

m

T

M ... (18)

Pauly (1980, 1984) merumuskan hubungan empririk antara laju mortalitas

alami dengan suhu rata-rata tahunan (T) yang kemudian dikenal sebagai rumus

empirik Pauly sebagai berikut :

Log M = -0.0066 – 0.279 log L + 0.6543 log K + 0.4634 log T... (19)

L adalah panjang asimptotik, K adalah koefisien pertumbuhan instrinstik dan T adalah suhu rata-rata tahunan (oC)

Alagaraja (1984) in Sparre dan Venema (1998) merumuskan bahwa rentang

hidup alami (longevity) umur di mana 99% dari suatu kohort akan mati jika kohort

tersebut hanya dikenai mortalitas alami (Z = M). Jika Tm adalah rentang hidup

alamiah dan M1% adalah mortalitas alami setara dengan 1% sintasan, maka :

( )

m T

M1% = −ln 0.01 ... (20)

Raltson (1987) merumuskan formula empirik untuk menduga mortalitas

(28)

pertumbuhan K pada formula pertumbuhan von Bertalanffy. Formula empirik

yang disarankan oleh Raltson adalah :

M = 0.0189 + 2.06 K... (21)

2.3.3 Mortalitas Penangkapan

Sebagaimana telah disebutkan di atas bahwa mortalitas pada ikan dapat

disebabkan oleh mortalitas alami dan mortalitas akibat penangkapan. Mortalitas

penangkapan dapat diperoleh setelah laju mortalitas total (Z) dan mortalitas alami

(M) diketahui. Pauly (1980) dan King (1995) menyatakan bahwa laju mortalitas

total merupakan hasil penambahan dari mortalitas alami dan mortalitas akibat

penangkapan, sehingga diperoleh persamaan :

Z = F + M ... (22)

Dari persamaan (19), mortalitas penangkapan dapat dihitung dengan persamaan

berikut :

F = Z – M ... (23)

2.4 Laju Eksploitasi

Menurut Pauly (1980), laju eksploitasi (E) merupakan rasio antara mortalitas

penangkapan (F) dengan mortalitas total (Z) sehingga dapat dihitung sebagai

berikut :

M F

F E

+

= ... (24)

M = Mortalitas alami

Persamaan (21) dapat disederhanakan lagi menjadi :

Z F

E = ... (25)

Gulland (1971) in Pauly (1980) menyatakan bahwa eksploitasi optimal dari

suatu stok ikan terjadi jika mortalitas penangkapan sebanding dengan mortalitas

alaminya, sehingga laju eksploitasi optimal (E) = 0.5. Dengan demikian, suatu

sumberdaya dikatakan mengalami penangkapan berlebih (overfishing) jika laju

(29)

2.5. Program-program Komputer untuk Menduga Parameter-parameter Pertumbuhan Ikan

Program komputer telah banyak dikembangkan oleh para ahli untuk

memudahkan dalam menduga parameter-parameter pertumbuhan ikan. Menurut

Sparre dan Venema (1999), salah satu program komputer pertama untuk

memisahkan sejumlah frekuensi ke dalam komponen yang terdistribusi normal

dengan menggunakan teknik-teknik likelihood maksimum adalah program

”NORMSEP” yang dikembangkan oleh Hasselblad dan Tomlinson pada tahun

1971.

Program komputer yang umum digunakan adalah Electronic Length

Frequency Analysis (ELEFAN) yang dikembangkan oleh Pauly dan David pada

tahun 1981. Program ini berkaitan dengan estimasi parameter-parameter

pertumbuhan menggunakan analisa frekuensi panjang dalam bahasa BASIC.

Program ini kemudian dimodifikasi menjadi COMPLET ELEFAN oleh Gayanilo,

Soriano dan Pauly pada tahun 1987 (Sparre dan Venema 1999).

Pada tahun 1987 pula, Sparre mengembangkan program komputer yang

diberi nama LFSA (Length-based Fish Stock Assessment) yang disusun dalam

bahasa BASIC. Paket LFSA awalnya dikembangkan untuk komputer Apple II

namun kemudian dikonversikan agar cocok digunakan pada komputer-komputer

IBM (Sparre dan Venema 1999).

Selanjutnya, pada tahun 1990 FAO (Food and Agricultural Organisation)

dan ICLARM (the International Centre of Living Aquatic Resources

Management) sepakat untuk mengembangkan suatu paket program baru untuk

pengkajian stok ikan berdasarkan panjang yang disebut FiSAT (FAO-ICLARM

Stock Assessment Tools). Paket pengkajian stok ini disusun dengan

mengintegrasikan routine-routine yang ada dalam LFSA dan paket COMPLEAT

ELEFAN, namun juga berisi sejumlah routine-routine baru (Sparre dan Venema

1999). Awalnya, paket FiSAT ini menggunakan versi MS DOS namun kemudian

dikonversi ke Microsoft Windows. Konversi ini dilakukan sekitar tahun 2000

sampai 2002 melalui proyek yang didukung oleh Uni Eropa dan FIAS (Fisheries

(30)

The Marine Resources Assessment Group Ltd (MRAG) juga

mengembangkan paket pengkajian stok berbasis panjang yang diberi nama Length

Frequency Distribution Analysis (LFDA). Paket ini telah beberapa kali

mengalami modifikasi, seperti yang dilakukan oleh Holden et al. (1995) menjadi

LFDA versi 4.01 dan Kirkwood et al. (2001) menjadi LFDA versi 5.0. Seperti

halnya FiSAT, dalam LFDA terdapat paket ELEFAN dalam metode estimasi

parameter pertumbuhan ikan. Selain itu juga terdapat metode SLCA (Shepherd's

Length Composition Analysis) dan PROJMAT (Projection Matrix) (Kirkwood et

al. 2001).

2.6 Hasil Tangkapan Maksimum Lestari

Hasil tangkapan maksimum lestari atau Maximum Sustainable Yield (MSY)

dapat diartikan sebagai jumlah berat atau tangkapan maksimum yang dapat

diperoleh dari suatu stok sumber daya ikan tanpa mempengaruhi reproduksi dan

rekruitmen stok sumberdaya ikan tersebut di masa depan (King, 1995). Sparre

dan Venema (1998) juga memberikan penjelasan yang sama dengan

mendefinisikan MSY sebagai jumlah tangkapan maksimum yang dapat diperoleh

tanpa mempengaruhi produktivitas stok ikan dalam jangka panjang.

Model yang umum digunakan untuk menduga MSY adalah model surplus

produksi. Model ini pertama kali diperkenalkan oleh Graham pada tahun 1934

yang kemudian dikembangkan oleh Schaefer pada tahun 1954 sehingga lebih

sering diacu sebagai Model Schaefer (Sparre dan Venema 1998). Model ini

cukup luas digunakan karena hanya membutuhkan serangkaian data hasil

tangkapan dan upaya penangkapan (Lemay 2007).

Larkin (1977) menjelaskan bahwa surplus produksi didasarkan asumsi

bahwa setiap spesies ikan setiap tahunnya akan menghasilkan jumlah berlebih

(surplus) yang dapat ditangkap dan jika yang ditangkap sebanyak surplus yang

dihasilkan oleh setiap spesies tersebut maka sumberdaya tersebut akan tetap

lestari. Penjelasan yang lebih rinci diberikan oleh Wallace dan Fletcher (1997)

yang mengilustrasikan konsep surplus produksi seperti pada Gambar 2. Garis

lurus O ke C menggambarkan kondisi di mana jumlah ikan muda meningkat

(31)

menunjukkan bahwa ketika jumlah ikan betina dewasa meningkat, jumlah ikan

muda dengan cepat meningkat dibanding ikan betina. Hubungan ini terus berlanjut

sampai biomasa ikan betina mulai untuk mendekati daya-dukung habitat. Garis (

A-C) menunjukkan bahwa penambahan ikan betina dewasa memberi peningkatan

ikan muda baru dalam jumlah yang sedikit. Pada titik C, daya-dukung dicapai di

mana jumlah ikan betina dewasa dan ikan muda dalam kondisi yang seimbang.

Bagian dari kurva di sebelah kanan dari daya-dukung menunjukkan bahwa

biomass dapat melampaui daya-dukung. Ketika terjadi penangkapan, populasi

merespon dengan meningkatnya jumlah ikan muda. Peningkatan terbesar terjadi

pada titik A, jarak maksimum (garis A – B) antara kurva dengan garis lurus 45o.

Hal ini bersamaan dengan jumlah maksimum surplus produksi yang dapat tersedia

[image:31.595.188.460.347.552.2]

dari populasi.

Gambar 2. Ilustrasi model Surplus Produksi (Wallace dan Fletcher 1997)

King (1995) menggambarkan laju perubahan biomasa berdasarkan

persamaan logistik sebagai berikut :

   

 

− =

B

B rB dt dB

1 ... (26)

Jika stok mulai tereksploitasi maka persamaan (26) dapat dikurangi oleh hasil

tangkapan (Y) sehingga diperoleh persamaan sebagai berikut :

Y B

B rB dt dB

   

 

− =

(32)

Dalam kondisi seimbang dimana laju penangkapan dipertahankan sehingga

sistem tetap seimbang (jumlah yang ditangkap seimbang dengan pertumbuhan

biomasa), dB/dt = 0 sehingga persamaan (24) menjadi :

      − = ∞ B B rB

Y 1 ... (28)

Persamaan (28) merupakan persamaan parabola yang menunjukkan bahwa hasil

tangkapan maksimum lestari adalah setengah dari biomasa sumberdaya ikan yang

belum tereksploitasi.

Pendugaan nilai MSY dengan model surplus produksi dilakukan dengan

memplotkan CPUE terhadap upaya penangkapan sehingga akan diperoleh

persamaan regresi hubungan antara CPUE dengan upaya. CPUE merupakan

indeks kelimpahan suatu sumberdaya ikan dan banyak digunakan dalam

pengawasan pemanfaatan sumberdaya ikan (Harley et al. 2001; Hanchet et al.

2005). CPUE dihitung berdasarkan nisbah dari jumlah atau bobot hasil tangkapan

yang diperoleh sekelompok atau seorang nelayan terhadap jumlah upaya yang

dilakukannya dalam kurun waktu tertentu (Maunder et al 2006). Selanjutnya King

(1995) menjelaskan bahwa hasil tangkapan (Y) dapat ditulis menjadi : Y =qBf ,

di mana q adalah catchability coefficient (koefisien penangkapan) dan f adalah

upaya penangkapan, sedangkap Y/f ekuivalen dengan hasil tangkapan per upaya

atau Catch per Unit Effort (CPUE) sehingga CPUE = qB atau :

q CPUE

B= ... (29)

Dengan mensubstitusikan persamaan (29) ke persamaan (28) maka diperoleh :

(

CPUE

) (

r CPUE q

) (

[

CPUE q

) (

CPUE q

)

]

f

Y = = / 1− / / / ... (30)

Di mana CPUE adalah hasil tangkapan per upaya dari biomasa maksimum (B) dari stok. Jika persamaan 30 dibagi dengan CPUE maka diperoleh persamaan

sebagai berukut :

      − = ∞ CPUE CPUE q r

f 1 atau :

f r q CPUE CPUE CPUE       −

(33)

Persamaan (31) merupakan persamaan linier, dimana b = - (CPUE q/r) dan a = CPUE sehingga diperoleh persamaan linier :

CPUE = a + bf... (32)

Jika persamaan (32) dikalikan dengan f maka akan diperoleh persamaan :

Y = af + bf2... (33)

Persamaan (33) kemudian dikenal sebagai model Schaefer yang menyatakan

bahwa hasil tangkapan berhubungan dengan upaya penangkapan melalui kurva

parabola yang simetris (King 1995).

Fox (1970) in Spare dan Venema (1998) memperkenalkan model alternatif

untuk menduga MSY. Pada model Fox, CPUE diplot dalam bentuk logaritma

terhadap upaya sehingga menghasilkan persamaan sebagai berikut :

( )

f

r q q K

CPUE

    

=ln .

ln ... (34)

Persamaan (34) dapat pula ditulis sebagai berikut :

(

c df

)

CPUE=exp + ... (35)

Jika persamaan (35) dikalikan dengan f maka diperoleh persamaan non parabolik

sebagai berikut :

Y = f exp(c + df) ... (36)

Penerapan MSY dalam pengelolaan sumberdaya perikanan telah mendapat

kritikan dari para ahli, seperti Larkin (1977) dan Sissenwine (1978). Sebagai

tujuan pengelolaan, interpretasi yang statis dari MSY biasanya tidak tepat karena

mengabaikan fakta bahwa kelimpahan populasi ikan berfluktuasi secara alami dan

biasanya mengalami penurunan jika diterapkan strategi penangkapan konstan

(Mace, 2001). Namun demikian, konsep MSY ini masih diadopsi dan digunakan

oleh berbagai organisasi dan pemerintahan karena konsep ini cukup sederhana,

logis dan dapat melalukan estimasi dengan data terbatas serta belum adanya

konsep yang memiliki kualitas yang sama dengan MSY. Oleh karenanya, Mace

(2001) kemudian menyatakan bahwa MSY haruslah dipandang sebagai batas

(34)

2.7 Pengelolaan Sumberdaya Perikanan

Menurut Cochrane (2002), pengelolaan sumberdaya perikanan didefinisikan

sebagai proses yang terpadu dari pengumpulan informasi, analisis, perencanaan,

konsultasi, pengambilan keputusan, alokasi sumberdaya dan implementasi,

dengan penguatan regulasi atau undang-undang yang mengatur aktivitas

perikanan agar dapat menjamin keberlanjutan produktivitas sumberdaya dan

pencapaian tujuan perikanan lainnya. Dalam Code of Conduct for Responsible

Fisheries (FAO 1995) dijelaskan bahwa pengelolaan perikanan adalah suatu

kebutuhan besar dan menjadi kebutuhan dunia. Hal ini terjadi karena banyak

manusia di muka bumi ini yang bergantung pada perikanan sebagai mata

pencahariannya. Namun pemanfaatan sumberdaya perikanan dunia yang begitu

penting mengalami beberapa kejadian berikut ini yang menjadi dasar atau alasan

pengelolaan sumberdaya perikanan yaitu :

1. Sebagian besar sumberdaya perikanan dunia mengalami tangkap penuh,

tangkap lebih, deplesi atau pada kondisi di mana sumberdaya itu harus

diselamatkan. Selain karena penangkapan, sumberdaya ikan mengalami

degradasi karena kerusakan ekologi dan polusi lingkungan.

2. Kelebihan pemanfaatan sumberdaya perikanan dunia ikut ditentukan oleh

perkembangan teknologi yang cepat terutama pemanfaatan Geographical

Positioning System (GPS), radar, echo sounder, mesin kapal yang lebih kuat

dan besar serta berkembangnya teknologi pengolahan.

3. Status pemanfaatan secara berlebihan sumberdaya perikanan dunia ini adalah

resultante dari kegagalan kepemerintahan perikanan (fisheries governance)

yang mencakup di dalamnya kegagalan masyarakat, peneliti dan ahli

perikanan serta pemerintah sebagai suatu lembaga.

Menurut Mees (1996), tujuan pengelolaan sumberdaya perikanan harus

mempertimbangkan aspek sosial, ekonomi dan biologi. Oleh karenanya,

pengelolaan sumberdaya perikanan haruslah difokuskan untuk menjaga

keseimbangan aspek sosial, ekonomi dan ekologi.

Pada dasarnya, pengelolaan sumberdaya perikanan bertujuan untuk

memastikan berapa banyak ikan yang dapat ditangkap dengan sejumlah upaya

(35)

dikenal sebagai model pengelolaan konvensional (Hoggart et al. 2006).

Selanjutnya Hoggart et al. (2006) menyatakan bahwa model pengelolaan

konvensional dapat dilakukan melalui pengaturan jumlah dan ukuran alat tangkap

(input control) dan pengaturan jumlah dan ukuran hasil tangkapan (output

control). Model pengelolaan non konvensional lebih diarahkan pada upaya

konservasi sumberdaya perikanan melalui pendekatan kehati-hatian atau

precautionary approach (Garcia dan Cochrane 2005).

Menurut Mees (1996), pengelolaan secara biologis dari sumberdaya

perikanan tangkap biasanya bertujuan untuk mencegah terjadinya tangkap

berlebihan (overfishing) dan mengoptimalisasikan produksi. Overfishing

merupakan kondisi dimana level atau laju mortalitas telah menurunkan kapasitas

suatu populasi dalam jangka panjang untuk dapat mencapai MSY (Dayton et al.,

2002). Overfishing dapat dikategorikan menjadi 4 yakni:

1. Growth overfishing adalah kondisi di mana yang tertangkap berada di bawah

ukuran pertumbuhan optimum (Mees 1996; Israel et al. 1997; Hall 2002;

Holland 2003).

2. Recruitment overfishing adalah kondisi di mana ikan-ikan dewasa tertangkap

dalam jumlah yang besar sehingga proses reproduksi menurun dan dengan

sendirinya rekruitmen juga menurun (Israel et al. 1997; Dayton et al. 2002;

Kilduff et al. 2009).

3. Ecosystem overfishing adalah kondisi di mana kegiatan penangkapan ikan

berdampak terhadap penurunan kualitas ekosistem, termasuk penurunan

kelimpahan dan perubahan komposisi spesies, variasi yang luas dari

kelimpahan, biomasa dan produksi beberapa spesies, serta perubahan atau

kerusakan yang signifikan dari habitat (Israel et al. 1997; Murawski 2000;

Dayton et al. 2002).

4. Economic overfishing adalah kondisi di mana peningkatan jumlah upaya

penangkapan tidak memberi dampak terhadap kenaikan pendapatan nelayan

(Israel et al. 1997).

Hinman (1998) menyatakan bahwa permasalahan perikanan dalam konteks

ekosistem adalah eksploitasi yang berlebihan, kurangnya perhatian terhadap

(36)

penggunaan alat tangkap yang tidak selektif. Oleh karenanya, Hinman (1998)

memberikan 3 rangkaian rekomendasi berkenaan dengan permasalahan perikanan

tersebut yaitu :

1. Rangkaian rekomendasi pertama :

a. Memberikan prioritas pada pemulihan populasi yang mengalami tangkap

lebih pada tingkat yang lebih tinggi dibanding level yang dibutuhkan

untuk menghasilkan produksi maksimum lestari.

b. Memperbaiki struktur umur yang stabil dan rasio sex dari populasi.

c. Mengadopsi dan mengimplementasikan pendekatan kehati-hatian dalam

segala hal, termasuk memperkenalkan model perikanan baru atau ekspansi

model perikanan yang telah ada.

d. Menentukan level penangkapan untuk spesies target yang dilestarikan

2. Rangkaian rekomendasi kedua :

a. Memperbaharui seluruh rencana pengelolaan sumberdaya perikanan untuk

dapat mengidentifikasi interaksi spesies penting.

b. Membuat batasan-batasan dengan mempertimbangkan interaksi tersebut.

c. Jika tujuan pengelolaan menghasilkan konflik antar pengguna

sumberdaya, maka penyusunan rencana pengelolaan harus didasarkan

pada aspek ekologis untuk dapat mengharmonisasikan tujuan tersebut.

3. Rangkaian rekomendasi ketiga :

a. Menentukan zona larangan penangkapan untuk daerah-daerah yang telah

mengalami tangkap berlebih.

b. Menetapkan pembatasan alat tangkap untuk meningkatkan

keberlangsungan hidup spesies yang akan dilindungi.

Model pengelolaan perikanan dengan pendekatan ekosistem diadopsi oleh

FAO pada FAO Technical Consultation on Ecosystem-based Fisheries

Management yang dilangsungkan di Reykjavik (Finlandia) dari 16 sampai 19

September 2002 (FAO 2003). EAF didefinisikan oleh Ward et al. (2002)

sebagai perluasan dari model pengelolaan perikanan konvensional dengan secara

eksplisit mengenali adanya hubungan saling ketergantungan antara kesejahteraan

manusia dan kesehatan ekosistem dan kebutuhan untuk memelihara produktifitas

(37)

yang kritis, mengurangi polusi dan bungan sampah serta melindungi

spesies-spesies yang terancam. Dalam konsultasi para ahli di Reykjavik (FAO 2003)

disetujui bahwa tujuan dari pengelolaan perikanan dengan pendekatan ekosistem

adalah merencanakan, mengembangkan dan mengelola perikanan untuk

memenuhi kebutuhan masyarakat saat ini dan menjamin generasi yang akan

datang masih memperoleh manfaat dari ekosistem laut. Oleh karenanya,

pendekatan ekosistem dalam pengelolaan perikanan ditujukan untuk menjaga

keseimbangan dari berbagai kebutuhan masyarakat dengan memperhatikan

pengetahuan dan ketidakpastian antara komponen biotik, abiotik dan manusia dari

ekosistem dan interaksinya serta mengaplikasikan pendekatan yang terintegrasi

(38)

3.1 Waktu dan Tempat

Penelitian ini dilakukan mulai tanggal 13 Mei sampai dengan 19 Agustus

2007di perairan Teluk Lasongko, Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara. Lokasi

ini dipilih dengan pertimbangan bahwa perairan ini merupakan salah satu sentra

penangkapan ikan kerapu di Kabupaten Buton. Luas perairan Teluk Lasongko

mencapai 13. 6 km2 dan luas areal terumbu karang 279.8 ha atau 20 % dari luas

total perairannya. Di perairan ini terdapat 7 areal terumbu karang yang oleh

masyarakat lokal disebut pasi yaitu Pasi Lasori, Pasi Bawona, Pasi Bone Marangi,

Pasi Bunta, Pasi Madongka, Pasi Lasoring Balano dan Pasi Katembe. Kondisi

penutupan karang dari masing-masing areal terumbu karang tersebut

[image:38.595.67.509.402.576.2]

berbeda-beda mulai dari 35 % hingga 75,7 % (Tabel 3).

Tabel 3. Areal terumbu karang di Teluk Lasongko, luas dan presentase penutupan karangnya

No Lokasi Karang Luas Karang

(Ha)

Presentase Karang (%)

I Zona I

1 Pasi Lasori 9,20 35,00

2 Pasi Bawona 122,00 36,00 - 73,70

3 Pasi Bone Marangi 3,60 36,00

II Zona II

4 Pasi Bunta 5,00 72,34

5 Pasi Madongka 90,90 64,90 – 73,70

6 Pasi’ Bunging Balano 4,40 64,90 – 73,70

7 Pasi’ Katembe 40,20 64,90 – 73,70

Sumber : Supardan (2006)

Untuk lebih memudahkan penelitian ini, dipilih 4 lokasi pengumpulan data

yaitu Madongka dan Lasori yang mewakili zona I serta Boneoge dan Lolibu yang

mewakili zona II. Keempat lokasi tersebut merupakan pusat pendaratan hasil

tangkapan ikan kerapu di Teluk Lasongko. Pengumpulan data dilakukan setiap

dua minggu sekali selama penelitian yakni pada tanggal 13 dan 27 Mei 2007, 10

dan 24 Juni 2007, 8 dan 22 Juli 2007 serta 5 dan 19 Agustus 2007 untuk

(39)
[image:39.842.83.774.97.522.2]

Gambar 3. Peta lokasi penelitian di Teluk Lasongko

(40)

3.2 Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah

metode survey. Metode survey merupakan penelitian deskriptif yang

menggambarkan/menguraikan sifat dari suatu fenomena/keadaan yang ada pada

waktu aktual dan mengkaji penyebab dari gejala-gejala tertentu, bertujuan

mengumpulkan data yang terbatas dari sejumlah kasus besar. Selanjutnya,

data-data yang diperoleh digunakan untuk mengukur gejala-gejala yang ada tanpa atau

dengan memperhitungkan hubungan antara variabel-variabel dan data yang

digunakan untuk memecahkan masalah. Data yang dikumpulkan mencakup data

primer dan data sekunder yang dijelaskan di bawah ini.

3.2.1 Pengumpulan Data Primer

Data primer yang dikumpulkan mencakup jenis dan komposisi ikan kerapu

serta frekuensi panjang individu ikan kerapu yang tertangkap di Teluk Lasongko.

Prosedur pengumpulan data primer adalah sebagai berikut :

1. Setiap ikan kerapu yang didaratkan dicatat jumlahnya berdasarkan jenis dan

lokasi penangkapannya kemudian ditabulasi dalam bentuk tabel.

2. Setiap individu ikan diukur panjang totalnya dengan menggunakan mistar

ukur model 118 Wildco yang memiliki ketelitian 0,01 cm kemudian ditabulasi

berdasarkan jenis, lokasi penangkapan dan tanggal pengambilan data.

3. Setiap individu ikan ditimbang beratnya dengan menggunakan timbangan

elektrik Soehnle yang memiliki ketelitian 0,01 gram, kemudian ditabulasi

berdasarkan jenis, lokasi penangkapan dan tanggal pengambilan data.

Data jumlah dan berat ikan digunakan untuk menganalisa komposisi ikan

kerapu yang tertangkap untuk masing-masing zona, sedangkan data panjang total

ikan digunakan untuk menduga laju eksploitasi ikan kerapu di Teluk Lasongko..

3.2.2 Pengumpulan Data Sekunder

Data sekunder yang dikumpulkan adalah data hasil tangkapan dan upaya

penangkapan ikan kerapu di Teluk Lasongko Kabupaten Buton tahun 2000 –

2007 yang tersedia di Dinas Perikanan Kabupaten Buton. Data sekunder ini

digunakan untuk menduga hasil tangkapan maksimum lestari ikan kerapu di Teluk

(41)

3.3 Analisa Data

3.3.1 Analisa Komposisi dan Kelimpahan Ikan Kerapu

Analisa komposisi dan kelimpahan ikan kerapu berdasarkan pembagian zona

terumbu karang baik dan buruk digunakan untuk mengetahui kondisi stok ikan

kerapu saat ini. Analisa komposisi ikan kerapu dilakukan dengan menggunakan

metode statistik deskriptif sebagai berikut :

1) Data hasil tangkapan ikan kerapu yang didaratkan oleh nelayan dihitung

jumlahnya untuk tiap jenis ikan kemudian ditabulasi dalam bentuk tabel.

2) Rata-rata hasil tangkapan selama penelitian dihitung untuk tiap bulannya.

3) Komposisi ikan hasil tangkapan ditentukan berdasarkan presentase jumlah

tangkapan dan diurutkan menurut besarnya presentase jumlah tangkapan

tersebut.

3.3.2 Pendugaan Hasil Tangkapan Maksimum Lestari

Pendugaan hasil tangkapan maksimum lestari atau Maximum Sustainable

Yield (MSY) dilakukan dengan menggunakan Model Surplus Produksi. Hasil

tangkapan maksimum dapat diestimasi dari data input sebagai berikut (Sparre dan

Venema 1998):

- f(i) = upaya dalam tahun ke i; i = 1,2,3,....,n

- Y(i)/f(i) = hasil tangkapan (dalam berat) tahun ke-i per unit usaha pada tahun

ke-i, di mana i = 1,2,3,...n

Di Teluk Lasongko, ikan kerapu ditangkap dengan menggunakan alat

tangkap pancing biasa dan bubu. Oleh karenanya, standarisasi upaya harus

dilakukan terlebih dahulu sebelum digunakan untuk menduga besarnya MSY.

Standarisasi upaya dapat dilakukan dengan langkah-langkah (Gulland 1983;

Sparre dan Venema 1998) sebagai berikut :

1. Upaya dan hasil tangkapan masing-masing upaya dihitung totalnya hingga

tahun ke-i, di mana i = 1,2,3,...,n

2. CPUE dihitung untuk masing-masing upaya.

3. Total upaya terbesar dari kedua jenis upaya dipilih sebagai standar dalam

(42)

4. Jika upaya terbesar adalah bubu maka FPI bubu

Bubu Bubu

CPUE CPUE

= dan

FPI pancing

Bubu Pancing

CPUE CPUE

= , demikian pula sebaliknya.

5. Upaya standar untuk tahun ke-i di mana i = 1,2,3,...,n dihitung melalui

persamaan berikut :

Upaya standar = (upaya bubu tahun ke-i x FPIbubu) + (upaya pancing tahun

ke-i x FPIpancing)

Selanjutnya, upaya standar yang diperoleh dapat digunakan untuk menduga

MSY dengan menggunakan model Schaefer atau model Fox. Dalam model

Schaefer, hasil tangkapan per upaya penangkapan sebagai suatu fungsi dari upaya

adalah model linear yang sebagai berikut :

Y(i)/f(i) = a + bf(i) , bila f(i) < -a/b... (1)

Jika Y(i)/f(i) adalah peubah tak bebas yang disimbolkan dengan y, dan f(i) adalah

peubah bebas yang disimbolkan dengan x, maka diperoleh persamaan :

y = a + bx ... (2)

Model Fox berbentuk logaritma yang jika dilinierkan menjadi sebagai berikut :

( )

. () ln ) ( ) (

ln f i

r q q K i f i Y       − =      

... (3)

Jika ln (Y(i)/f(i)) adalah peubah tak bebas yang disimbolkan dengan y, dan f(i)

adalah peubah bebas yang disimbolkan dengan x, maka diperoleh persamaan

sebagai berikut :

y = c + dx ... (4)

Dengan analisis regresi linier menggunakan metoda kuadrat terkecil, akan

diperoleh nilai b atau d dari data runtut waktu selama n tahun sebagai berikut:

( )

= = = = =       −             − = n i n i i i n i n i i n i i i i x x n y x y x n d atau b 1 2 1 2

1 1 1

... (5)

Nilai a atau c dihitung melalui persamaan sebagai berikut :

x b y

a= − ... (6)

x d y

(43)

Selanjutnya dilakukan perhitungan koefisien determinasi (R2) untuk

mengetahui berapa persen dari data dapat dijelaskan oleh model regresi linier (2)

atau (4) melalui persamaan sebagai berikut :

              −               −                   − =

= = = = = = = n i n i i i n i n i i i n i n i i n i i i i y y n x x n y n x y x n R 1 2 1 2 1 2 1 2 2

1 1 1

2

... (8)

Jika nilai R2 untuk persamaan regresi model Schaefer lebih besar dari R2

persamaan regresi model Fox, maka perhitungan MSY dilakukan dengan model

Schaefer, demikian pula sebaliknya.

Setelah nilai a, b, c dan d diperoleh maka dilakukan perhitungan nilai MSY

dan upaya optimum (fopt). Perhitungan nilai MSY dan fopt untuk model Schaefer

adalah sebagai berikut :

b a MSY 4 2 −

= ... (9)

b a fopt

2

= ...(10)

Sedangkan untuk model Fox adalah sebagai berikut :

1 1 − = c e d MSY ...(11) d

fopt =−1 ...(12)

3.3.3 Pendugaan Laju Eksploitasi Ikan Kerapu

Data primer berupa data frekuensi panjang individu ikan kerapu digunakan

untuk menduga laju eksploitasi ikan kerapu. Pendugaan laju eksploitasi ikan

kerapu dilakukan dengan penentuan parameter-paremeter pertumbuhan ikan

kerapu terlebih dahulu berdasarkan persamaan von Bertalanffy yaitu :

( )

t L

(

1 e k(t t0)

)

L = − − − ... (4)

Lt adalah panjang ikan pada waktu t; L adalah panjang asimtotik; K adalah koefisien laju pertumbuhan; to adalah umur teoritis pada saat L = 0; dan t adalah

(44)

Untuk menentukan nilai L dilakukan dengan menggunakan metode Powell-Wetherall (Sparre dan Venema 1998; Gayanilo et al. 2005) dengan persamaan

sebagai berikut :

' ' a bL L

L− = + ... (5)

'

L adalah batas bawah kelas panjang ikan yang berada pada kondisi penangkapan

penuh, sedangkan

(

)

   

 

+ +

= ∞

K Z

L L L

/ 1

'

, sehingga :

b a

L =− ... (6)

Dalam prakteknya, pe

Gambar

Tabel 1.  Nama ilmiah, Inggris dan Hongkong dari ikan-ikan karang yang dipasarkan di Hongkong
Tabel 2.  Harga grosir (G) dan eceran (E) (US$/kg) ikan kerapu hidup yang diperdagangkan di Hong Kong dan China bagian Selatan
Gambar 1.  Klasifikasi ikan kerapu (Heemstra dan Randall 1993)
Gambar 2.  Ilustrasi model Surplus Produksi  (Wallace dan Fletcher 1997)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Menurut Haris Herdiansyah menyatakan bahwa observasi didefinisikan suatu kegiatan mencari data yang dapat digunakan untuk memberikan suatu kesimpulan atau

Hal tersebut terbukti dengan lebih baiknya pen- capaian hasil postes kemampuan ber- pikir orisinil siswa pada kelas eksperimen dibandingkan dengan ke- las kontrol,

Adapun alasan peneliti menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif yaitu karena dalam mengungkapkan kejadian atau peristiwa interaksi sosial

Analisis untuk menentukan elemen-elemen penting pembentuk lanskap permukiman tradisional Lampung di Tiyuh Gedung Batin dilakukan dengan membandingkan hasil studi

Jenis penelitian ini adalah studi kasus yang bersifat penelitian deskriftif kualitatif yang menafsirkan serta menggambarkan keadaan sesuai dengan kenyataan yang

Proses masuknya Islam di wilayah pesisir Tuban tidak bisa dilepaskan dari usaha dakwah Sunan Bonang dengan memanfaatkan wahana kesenian dan kebudayaan guna lebih menarik simpati

Hubungan antara produktivitas primer dengan intensitas cahaya pada tiap kedalaman, dapat dikatakan pada lapisan permukaan 0 – 50 cm produktivitas primer adalah kecil 124,33 –

Berdasarkan permasalahan di atas belum diketahuinya pengaruh faktor permasalahan di atas, maka peneliti tertarik untuk meneliti tentang apakah ada pengaruh faktor