Pengaruh Tegangan pada Reaktor Elektrokoagulasi Terhadap Pengolahan Effluent Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit

67  60  Download (1)

Teks penuh

(1)

LAMPIRAN 1

DATA PENELITIAN

L1.1 DATA PKS BAGERPANG

L1.1.1 Data Persentase Penurunan COD

Tabel L1.1 adalah data persentase penurunan COD elektrokoagulasi tegangan 7, 8, 9, 10 dan 11 volt dengan waktu tinggal 3 jam.

Tabel L1.1 Data Persentase Penurunan COD.

(2)

L1.1.2 Data Persentase Penurunan TS

Tabel L1.2 adalah data persentase penurunan TS elektrokoagulasi tegangan 7, 8, 9, 10 dan 11 volt dengan waktu tinggal 3 jam.

Tabel L1.2 Data Persentase Penurunan TS.

(3)

L1.1.3 Data Persentase Penurunan TSS

Tabel L1.3 adalah data persentase penurunan TSS elektrokoagulasi tegangan 7, 8, 9, 10 dan 11 volt dengan waktu tinggal 3 jam.

Tabel L1.3 Data Persentase Penurunan TSS.

(4)

L1.2 Data Baku Mutu Limbah

Berikut adalah tabel data baku mutu limbah sesuai dengan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.5/Kep-MenLH/2014.

(5)

LAMPIRAN II

CONTOH PERHITUNGAN

L2.1 PERHITUNGAN COD

L2.1.1 Perhitungan Nilai COD

Perhitungan nilai COD awal pada 7V Diketahui :

• Titrasi blanko (a) = 7,04 ml • Titrasi pada menit 0 (b) = 5,255 ml • Volume sampel (v) = 2 ml • Normalitas larutan buffer (N) = 0.0997N • Pengenceran =10 kali.

Nilai COD = (a−b)

V x N x 8000

Nilai COD = (Titrasi Blanko−Titrasi menit 0)

Volume sampel x Normalitas x 8000 x Pengenceran

= (7,04−5,255)

2 x 0,0997 x 8000 x 10

= 7118,58 g/ml

L2.1.2 Perhitungan Persentase Penurunan COD

Perhitungan persentase penuruan COD pada 7V Diketahui :

(6)

• Pengenceran =10 kali. Nilai COD = (b−a)

V x Nx 8000

Nilai COD (0) = (Titrasi Blanko−Titrasi menit 0)

Volume sampel x Normalitas x 8000 x Pengenceran

= (7,04−5,255)

2 x 0,0997 x 8000 x 10

= 7.118,58 g/ml

Nilai COD (180) = (Titrasi Blanko−Titrasi menit 180)

Volume sampel x Normalitas x 8000 x

Pengenceran

= (7,04−5,97)

2 x 0,0997 x 8000 x 10

= 4.267,16 g/ml

% COD (0) = (Titrasi menit 0−Titrasi menit 180)

������ � ����� 0 x 100 % = (7.118,58−4.267,16)

7.118,58 x 100 %

= 40,05 % L2.2 PERHITUNGAN TS

L2.2.1 Perhitungan Nilai TS

Perhitungan nilai TS awal pada 7V Diketahui :

Berat cawan kosong pada menit 0 (a) = 45,4703 gr Berat cawan berisi padatan pada menit 0 (b) = 45,5999 gr

Volume sampel (v) = 20ml.

Nilai TS = (�−�)

(7)

Nilai TS = (Berat cawan isi−Berat cawan kosong )

Volume sampel x1000

= (45,5999−45,4703 )

20 x1000

= 6,48 g/ml

L2.2.2 Perhitungan Persentase Penurunan TS

Perhitungan persentase penurunan TS pada 7V Diketahui :

Nilai TS pada menit 0 (a) = 6,48 g/ml Nilai TS pada menit 120 (b) = 2.62 g/ml. % TS = (�−�)

� x100%

% TS = (TS menit 0−TS menit 120)

������� 0 x100%

= (6.48−2.62)

6,48 x100%

= 56,25 %

L2.3 PERHITUNGAN TSS

L2.3.1 Perhitungan Nilai TSS

Perhitungan nilai TSS awal pada 9V Diketahui :

Berat kertas saring kosong pada menit 0 (a) = 0,0923 gr Berat kertas saring berisi padatan pada menit 0 (b) = 0,0942 gr

Volume sampel (v) = 25ml

(8)

Nilai TSS = (a−b)

V x1000

Nilai TSS = (Berat kertas isi−Berat kertas kosong )

Volume sampel x1000 x pengenceran

= (0,0942−0,0923)

25 x1000 x 50

= 3,8 g/ml

L2.3.2 Perhitungan Persentase Penurunan TSS

Perhitungan persentase penurunan TSS pada 9V Diketahui :

Nilai TSS pada menit 0 (a) = 3,8 g/ml Nilai TS pada menit 150 (b) = 0,4 g/ml. % TSS = (a−b)

� x100%

% TSS = (TSS menit 0−TSS menit 120)

�������� 0 x100%

= (3,8−0,4)

3,8 x1000

(9)

LAMPIRAN 3

DOKUMENTASI PENELITIAN

L3.1 GAMBAR RANGKAIAN ALAT

(a)

(b)

(c) (d)

(10)

L3.2 PENGETESAN ALAT

(a) (b)

Gambar L3.2 (a) Pengetesan Alat Sebelum Dijalankan dan (b) Pengetesan Alat Sesudah Dijalankan.

L3.4 TEMPAT PENGAMBILAN LIMBAH

(11)

L3.4 SAMPEL OLAHAN

(12)

DAFTAR PUSTAKA

[1] World Growth.The Economic Benefit of Palm Oil to Indonesia. World Growth, Palm Oil Green Development Campaign. (Arllington, Virginia, US : Palm Oil Green Development Campaign, 2011).

[2] Aris Mukmin. “Pengolahan Limbah Industri Berbasis Logam Dengan Teknologi Elektrokoagulasi Flotasi”. Tesis, Program Magister Ilmu Lingkungan, Program Pascasarjana, Universitas Diponegoro, Semarang, 2006.

[3] Fauzil Husni. “Pengolahan Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit Effluent RANUT (Reaktor Anaerobik Unggun Tetap) Menggunakan Teknik Elektrokoagulasi”. Tesis, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara, Medan, 2010.

[4] Muhammad Ansori Nasution (2012). “Pengolahan LCPKS Keluaran Fat Pit, Kolam Anaerobik dan Reaktor Biogas Dengan Elektrokoagulasi”. Prosiding INSINAS 2012. En-56.

[5] C.B Shivayogimath dan Chandrakant Watawati. (2013). “Treatment of Solid Waste Leachate By Electrocoagulation Technology”. IJRET, IC-RICE Conference. eISSN : 2319-1163, pISSN : 2371-7308.

[6] PT.PP London Sumatera Indonesia. “Effluent Analysis Result”. Bagerpang, Medan. February 2016.

[7] Bapedal.Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.5/Kep-MenLH/10/2014 (Jakarta, 2014), Lampiran III.

[8] Ahmad Kali Ansori Nasution. “Penentuan Kekeruhan pada Air Reservoir di PDAM Tirtanadi Instalasi Pengolahan Air Sunggal Medan Metode Turbidimetri”. Program Studi Diploma 3 Kimia Analisis. Departemen Kimia. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.Univesitas Sumatera Utara : Medan, 2008.

(13)

[10] Rahardjo, P. N. “Studi Banding Teknologi Pengolahan Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit”. Peneliti di Pusat Teknologi Lingkungan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi. Jakarta, 2009.

[11] Ena Marlina, Slamet Wahyudi dan Lilis Yuliati. “Produksi Brown's Gas Hasil Elektrolisis H2O dengan Katalis NaHCO3”. Tesis,Mahasiswa Program Magister Teknik Mesin, Universitas Brawijaya, Malang, 2013.

[12] Fitri Aristrya Ardhani dan Dwilsmawati. “Penanganan Limbah Cair Rumah Potong Hewan Dengan Metode Elektrokoagulasi”. Jurnal Teknik Kimia,

2007.

[13] Elfrida Siringo-Ringo, Ali Kusrijadi, dan Yayan Sunarya. “Penggunaan Metode Elektrokoagulasi Pada Pengolahan Limbah Industri Penyamakan Kulit Menggunakan Aluminium Sebagai Sacrificial Electrode”. Jurnal Sains dan Teknologi Kimia, 4(2) 2013.

[14] Retno Susetyaningsih, Endro Kismolo dan Prayitno.“Kajian Proses Elektrokoagulasi Untuk Pengolahan Limbah Cair”. Seminar Nasional IV SDM Teknologi Nuklir (2008).

[15] T. Herawan. (2009). “Penerapan Zero Waste Concept Pada Industri Kelapa Sawit”. Bahan Perkuliahan Mata Kuliah Perancangan Proses Berwawasan Lingkungan.

[16] Erick Butler, Yung-Tse Hung, Ruth Yu-Li Eh dan Mohammed Suleiman Al Ahmad. “Electrocoagulation In Wastewater Treatment”. Journal Water, 3, 2011.

[17] Zakire (2006). “Cara Kerja Pengendapan Partikel Tersuspensi”. Diakses

November 19, 2015, dari Zakire: http://www.alumuniumprinting.com/content/mengenal-bahan-pelat-atau-plat

[18] Kasem K. Kasemdan Stephanie Jones. (2008). “Platinum as a Reference Electrode in Electrochemical Measurements”. Journal Platinum52(2), 2008: hal 100-106.

[19] Windholz, M., ed. “The Merck Index : Encyclopedia of Chemicals, Drugs

and Biologicals. Tenth edition. (Rahway, NJ: Merck and Company, 1983)

(14)

Elektrokoagulasi Menggunakan Elektroda Aluminium”. Jurnal Teknologi Lingkungan, 5 (2) 2009.

[21] Benny Syahputra. (2007, April 12). “Cara Kerja Pengendapan Partikel Tersuspensi”. Diakses Oktober 18, 2014, dari Edublogs: http://bennysyah.edublogs.org/ 2007/04/12/cara-kerja-pengendapan-partikel-tersuspensi/

[22] Rachmawati S. W., Bambang Iswanto, & Winarni. (2009). “Pengaruh pH Pada Proses Koagulasi Dengan Koagulan Aluminium Sulfat Dan Ferri Klorida”.

Jurnal Teknik Lingkungan, 5(2) 2009 : hal. 40-45.

[23] P.K Holt, G.W Barton, M. Wark dan C.A Mitchell.“A Quantitative Comparison Between Chemical Dosing And Electrocoagulation”. Journal Colloids And Surfaces A : Physiochemical and Engineering Aspects, 211(2) 2002 : hal. 233-248.

[24] SMK Negeri 3 Kimia Madiun. Bahan Kimia Penjernih Air Koagulan.Diakses pada 31 Maret 2016, dari SMK Negeri 3 Kimia Madiun. https://smk3ae.wordpress.com/2008/08/05/bahan-kimia-penjernih-air-koagulan/ [25] Vernier. Water Quality with Vernier.Diakses pada 31 Maret 2016, dari Vernier Software & Technology. www2.vernier.com/sample_labs/WQV-04-COMP-total_solids.pdf

[26] Pinastika Nurandani, Sawitri Subiyanto dan Bandi Sasmito. “Pemeraan Total Suspended Solid (TSS) Menggunakan Citra Satelit Multi Temporal Di Danau Rawa Pening Provinsi Jawa Tengah”. Skripsi, Jurusan Teknik Geodesi. Universitas Diponegoro : Semarang, 2013.

[27] MISA (Municipal Industry Strategy for Abatement). Protocol For The Sampling And Analysis Of Industrial/Municipal Wastewater.(Ontario: Queen's Printer, 1999).

[28] Illinois Enviromental Protection Agency Bureau of Water, Division of Water Pollution Control, Field Operations Section.. Quality Assurance And Field Methods Manual.(Springfield: EPA (Enviroment Protection Agency), 2002-2006). [29] Bambang Sugito.“Pengambilan Sampel Limbah Untuk Analisis di Laboratorium”. Jurnal Hasil Penelitian dan Kegiatan PTLR(2006)

(15)
(16)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 LOKASI DAN WAKTU PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Engineering, Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) / Indonesian Oil Palm Research Institute (IOPRI), Jl. Brigjend. Katamso No.51, Kampung Baru, Medan – Sumatera Utara. Penelitian ini dilakukan selama 6 (enam) bulan, sedangkan perakitan alat akan dilaksanakan di Laboratorium Penelitian, Departemen Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara, Medan.

3.2 ALAT DAN BAHAN PERCOBAAN

3.2.1 Bahan

Bahan utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah limbah cair pabrik kelapa sawit (LCPKS) hasil pengolahan Kolam Anaerobik yang berada di Pabrik Kelapa Sawit Bagerpang PT. PP London Sumatera, Tanjung Morawa, Medan. Untuk analisa parameter respon dibutuhkan COD Reagent Vial, aquadest, dan kertas saring berpori 1,6µm, serta H2SO4 p.a. untuk pengawetan sampel analisa COD.

3.2.2 Peralatan

Peralatan utama yang diperlukan meliputi :

1.

Bak kaca ukuran (12 x 12 x 36) cm sebagai bak elektrokoagulasi (batch)

2.

Pengatur sumber arus listrik searah (DC power supply)

3.

Plat Aluminium digunakan sebagai elektroda. Ketebalan plat yang digunakan adalah 0,8 mm, dengan luas efektif 828,472 cm2

4.

Stopwatch

5.

Gelas ukur 1000 mL

6.

Ember penyimpan limbah

(17)

Adapun peralatan tambahan untuk analisis parameter respon adalah: 1. Botol gelas dan gelap 100 mL untuk penyimpanan sampel COD 2. Peralatan analisa COD(Hach method 8000)

3. Peralatan analisa TS(Nephelometric) 4. Peralatan analisa TSS(SNI 06-2413-1991)

5. Peralatan gelas lainnya, seperti gelas kimia, labu erlenmeyer, pipet volumetri, labu takar, pipet corong kaca dan lain-lain

3.2.3 Perancangan Reaktor 3.2.3.1Dimensi Reaktor

Reaktor yang digunakan adalah bak terbuat dari kaca (3mm) dengan dimensi sebagai berikut :

Panjang reaktor : 12 cm

Berikut gambar dan spesifikasi dari reaktor yang akan dibuat :

Reaktor elektrokoagulasi

(18)

3.2.3.2Elektroda

Elektroda yang digunakan adalah plat dengan ketebalan 0,8 mm, dengan dimensi sebagai berikut:

Panjang elektroda (p) : 12 cm

Berikut gambar dan spesifikasi dari elektroda aluminium yang akan digunakan :

11,5 cm 1 cm

14 cm

36 cm

0,008 cm

Gambar 3.2 Bentuk dan Ukuran Plat Elektroda Aluminium

3.3 RANCANGAN PENELITIAN

Penelitian ini dirancang dengan menggunakan 3 (tiga) faktor sebagai variabel bebas. Adapun faktor atau variabel bebas dan level tiap faktor yang digunakan dalam percobaan yaitu:

1. Tegangan (V) : 7 V, 8 V, 9 V, 10 V dan 11 V 2. Jarak antar Elektroda : 1,5 cm

3. Waktu pengontakan : 3 jam

4. Waktu retensi : 30, 60, 90, 120, 150 dan 180 menit

(19)

Tabel 3.1. Kombinasi Pada Setiap Satuan Percobaan No Tegangan Listrik

(V)

Setiap selesai variasi waktu retensi, akan diambil sampling dari hasil proses elektrolisis dan akan dianalisa lebih lanjut.

3.4 TATA CARA PENGAMBILAN SAMPEL 3.4.1. SamplingEffluent

(20)

Perlu diketahui, bahwa agar tidak mengaduk effluent supaya sedimen yang terdapat didalam limbah tidak terikut. Untuk tempat-tempat tertentu seperti di saluran dangkal, manhole inverts, dll tidak bisa menggunakan teknik ini [28].

3.4.2. Sampling Hasil Elektrokoagulasi

Pada tahap setelah proses elektrokoagulasi selesai, akan diambil sampel sebagai perwakilan dari hasil keseluruhan, dimana sampel ini bisa diambil dengan menggunakan botol sampel, dimana sebelum diambil, limbah yang telah diproses, dihomogenisasikan terlebih dahulu dengan cara mengaduknya. Untuk lebih effisien, diambil dibeberapa titik pada bak elektrokoagulasi [29].

3.5 PROSEDUR PENELITIAN

3.5.1. Perangkaian Reaktror Elektrokoagulasi

Reaktor elektrokoagulasi yang digunakan adalah reaktro tipe batch. Reaktor berupa bak persegi empat terbuat dari kaca dengan dimensi: panjang 12 cm, lebar 12 cm dan tinggi 36cm. Setiap plat elektroda dipotong dengan ukuran yang seragam. Selanjutnya elektroda dihubungkan dengan sumber tegangan (DC

power supply) dengan jarak elektroda sesuai dengan yang telah ditetapkan.

3.5.2. Preparasi Limbah Kolam Anaerobik

Limbah cair yang berasal dari kolam anaerobik adalah bahan utama yang akan diolah dalam penelitian ini. Limbah effluentkolam anaerobik diambil dan dimasukkan kedalam ember ataupun jerigen, untuk selanjutnya dianalisa sesuai dengan parameter yang dibutuhkan (COD, TS dan TSS). Untuk analisa COD, dilakukan pengawetan sampel dengan cara menyimpannya kedalam botol kaca gelap 100mL. Prosedur analisa parameter respon serta efisiensi terdapat pada Lampiran 1.

3.5.3. Pelaksanaan Penelitian

Pelaksanaan penelitian dapat dilakukan sesuai dengan langkah berikut :

1.

Perangkaian reaktor elektrokoagulasi sesuai perlakuan yang diberikan

(21)

2.

Sampel limbah kolam anaerobikyang telah dianalisa, diambil sebanyak 4.500 mL, lalu dimasukkan kedalam reaktor elektrokoagulasi, selanjutnya power dan stopwatch dihidupkan.

3.

Pengambilan sampel hasil pengolahan elektrokoagulasi sesuai dengan waktu retensi yang telah ditetapkan, yaitu 30, 60, 90, 120, 150 dan 180 menit, dan sekaligus melakukan pengawetan sampel untuk uji analisa COD.

4.

Melakukan analisa sampel yang meliputi : penurunan COD, TSS, dan TS.

5.

Pembahasan hasil analisa dan penarikan kesimpulan.

3.6 ANALISA DATA

(22)

3.7 FLOWCHART

3.7.1 Flowchart Prosedur Penelitian

(23)

3.7.2 Flowchart Prosedur Analisa COD

(24)

3.7.3 Flowchart Prosedur Analisa TS

Gambar 3.5 Flowchart Prosedur AnalisaTS

3.7.4 Flowchart Prosedur Analisa TSS

(25)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 KARAKTERISTIK AWAL LIMBAH CAIR EFFLUENT KOLAM ANAEROBIK

Limbah cair yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari Pabrik Kelapa Sawit PT. PP London Sumatera di Bagerpang, Tanjung Morawa. Tujuan utama penelitian ini adalah melihat persentase penurunan COD, TS, dan TSS. Sampel limbah yang akan dilakukan percobaan perlu dilakukan analisa awal. Adapun hasil yang didapat dari analisa awal tersebut dapat dilihat pada Tabel 4.1.

Tabel 4.1 Karakteristik Limbah Awal PKS Bagerpang NO Tegangan COD Awal

Dari hasil analisa yang telah dilakukan, dapat dilihat bahwa parameter COD, TS dan TSS dari sampel limbah awal masih jauh dari baku mutu limbah yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

4.2 PERANCANGAN REAKTOR ELEKTROKOAGULASI

Beberapa bahan yang diperlukan dalam perancangan reaktor elektrokoagulasi, yaitu : bak kaca, supply DC, plat aluminium, dan kabel pendukung. Adapun tahapan dalam perancangan tersebut adalah :

1. Ambil 200 mL larutan limbah dimasukkan kedalam bak kaca. 2. Larutkan sampai 2 liter dengan ditambahkan aquadest.

3. Susun plat aluminium didalam bak kaca dan sesuaikan jarak antar plat nya.

(26)

6. Hubungkan supply DC ke sumber arus listrik dan dihidupkan, kemudian diatur tegangan yang akan dilakukan sesuai dengan percobaan.

Berikut ini merupakan foto rancangan alat elektrokoagulasi :

Gambar 4.1 Rancangan Alat Elektrokoagulasi.

Foto langkah-langkah perangkaian alat dapat dilihat pada lampiran III.

4.3 PENGARUH VARIABEL TERHADAP PERUBAHAN COD, TS DAN TSS

4.3.1 Pengaruh Tegangan Terhadap Perubahan COD

COD merupakan salah satu parameter untuk menentukan banyaknya

jumlah zat organik didalam air [24]. Pengaruh tengangan terhadap perubahan COD limbah cair pabrik kelapa sawit dapat dilihat pada Gambar 4.2.

(27)

teori. Karena secara teori, semakin besar tegangan yang diberikan, maka penurunan COD akan semakin besar. Hal ini disebabkan oleh tegangan yang dialirkan oleh supply DC tidak stabil. Akan tetapi, hasil ini sesuai dengan hasil penelitian Husni, 2010, dimana persentase penurunan COD terbesar terdapat di voltase menengah yaitu 8-10 V [3], hal ini juga diperoleh oleh Ansori [4] dan Shivayogimath [5].

Gambar 4.2 Grafik Penurunan COD Terhadap Waktu.

4.3.2 Pengaruh Tegangan Terhadap Perubahan TS

Total solid adalah padatan yang tidak terlarut dalam air. Ketika sampel air menguap, sering ada residu yang tersisa, ini disebut dengan total solid. Padatan dalam air memiliki atribut dan ukuran yang berbeda. Partikel yang tersuspensi dalam air dapat dipertahankan pada filter dengan 2 µm atau lebih besar dari ukuran pori [30]. Pengaruh tengangan terhadap perubahan TS limbah cair pabrik kelapa sawit dapat dilihat pada Gambar 4.3.

Dari Gambar 4.3 dapat dilihat bahwa semakin lama waktu kontak, maka semakin besar penurunan nilai TS dari limbah yang diolah. Pada grafik dapat dilihat bahwa persentase penurunan TS maksimum dicapai pada 88,97% dengan

(28)

tegangan 7V dan mencapai minimum pada 25,37% dengan tegangan 11V. Penurunan TS paling baik didapat pada 7 V dengan waktu operasi 180 menit.

Dari hasil yang didapat kurang sesuai jika dibandingkan dengan teori, karena secara teori semakin besar tegangan yang diberikan maka penurunan TS akan semakin besar. Hal ini disebabkan oleh terbentuknya endapan dan busa ketika terjadinya reaksi elektrolisis sehingga akan mempengaruhi hasil yang diperoleh. Semakin besar tegangan yang diberikan maka laju pembentukan busa dan endapan semakin cepat dan banyak sehingga membuat hasil limbah olahan menjadi keruh. Penurunan nilai TS dikarenakan ion logam yang terdapat pada air tereduksi ke dalam elektroda katoda. Hasil ini sesuai dengan hasil penelitian Husni, 2010, dimana persentase penurunan TS terbesar terdapat di voltase menengah yaitu 8-10 V [3], hal ini juga diperoleh oleh Ansori [4] dan Shivayogimath [5].

Gambar 4.3 Grafik Penurunan TS Terhadap Waktu.

4.3.3 Pengaruh Tengangan Terhadap Perubahan TSS

Total padatan tersuspensi (TSS) adalah partikel yang lebih besar dari 2 mikron yang ditemukan dalam kolom air. Partikel yang lebih kecil dari 2 mikron

(29)

(rata-rata ukuran filter) dianggap sebagai padatan terlarut [26]. Besaran nilai TSS pada badan air dapat diukur sebagai besarnya konsentrasi bakteri, nutrisi, pestisida dan kandungan ion logam pada air. Kandungan ion logam yang termasuk dalam TSS adalah kalsium, magnesium, sodium dan ion-ion organik lainnya [31]. Penurunan nilai TSS disebabkan oleh ion-ion logam yang terkandung didalamnya tereduksi kedalam elektroda katoda. Pengaruh tegangan terhadap perubahan TSS limbah cair pabrik kelapa sawit dapat dilihat pada Gambar 4.4.

Gambar 4.4 Grafik Penurunan TSS Terhadap Waktu

Dari Gambar 4.4 dapat dilihat bahwa semakin lama waktu reaksi, maka semakin besar penurunan nilai TSS dari limbah yang diolah. Pada grafik dapat dilihat bahwa persentase penurunan TSS paling maksimum dicapai pada 99,9% dengan tegangan 11V dan mencapai minimum pada 87,5% dengan tegangan 8V.Penurunan TSS paling baik didapat pada 7 V dengan waktu operasi 30 menit. Tujuan dilakukan penelitian sampai 180 menit agar dapat hasil yang konstan.

Dari hasil yang didapatkurang sesuai jika dibandingkan dengan teori, karena secara teori semakin besar tegangan yang diberikan maka penurunan TSS akan semakin besar. Hal ini dikarenakan cairan limbah yang terdapat berwarna keruh, dimana masih terdapat endapan yang terlarut. Akan tetapi, hasil ini sesuai dengan hasil terdahulu yang telah disebutkan sebelumnya.

(30)

4.4 PERBANDINGAN HASIL DENGAN BAKU MUTU LIMBAH CAIR PABRIK KELAPA SAWIT

4.4.1 Perbandingan Hasil COD Dengan Baku Mutu

Hasil yang diperoleh setelah melakukan penelitian menunjukkan bahwa nilai COD akhir, semuanya tidak memenuhi baku mutu yang telah ditetapkan oleh pemerintah Kep MenLH No.5 tahun 2014 tentang baku mutu limbah cair pabrik kelapa sawit. Tabel 4.2 adalah hasil perbandingan COD dengan baku mutu.

Tabel 4.2 Hasil Perbandingan COD dengan baku mutu

Voltase COD (mg/L) Baku Mutu Sesuai/Tidak Sesuai 7 4.267,16

350

TidakSesuai

8 3.828,48 Tidak Sesuai

9 2.013,94 TidakSesuai

10 5.124,58 TidakSesuai

11 3.389,80 TidakSesuai

4.4.2 Perbandingan Hasil TS Dengan Baku Mutu

Hasil yang diperoleh setelah melakukan penelitian menunjukkan bahwa nilai TS akhir, semuanya tidak memenuhi baku mutu yang telah ditetapkan oleh pemerintah Kep MenLH No.5 tahun 2014 tentang baku mutu limbah cair pabrik kelapa sawit. Tabel 4.3 adalah hasil perbandingan TS dengan baku mutu.

Tabel 4.3 Hasil Perbandingan TS dengan baku mutu

Voltase TS(mg/L) Baku Mutu Sesuai/Tidak Sesuai 7 715,00

100

TidakSesuai

8 2.100,00 TidakSesuai

9 2.285,00 TidakSesuai

10 2.375,00 TidakSesuai

11 2.000,00 TidakSesuai

4.4.3 Perbandingan Hasil TSS Dengan Baku Mutu

(31)

Tabel 4.4 Hasil Perbandingan TSS dengan baku mutu

Voltase TSS(mg/L) Baku Mutu Sesuai/Tidak Sesuai 7 200,00

250

Sesuai

8 200,00 Sesuai

9 200,00 Sesuai

10 1.000,00 Tidak Sesuai

(32)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 KESIMPULAN

Dari hasil penelitian yang didapat dari pengolahan limbah cair pabrik kelapa sawit (LCPKS) dari PKS Bagerpang dengan menggunakan teknik elektrokoagulasi untuk menurunkan COD, TS dan TSS, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

1. Nilai COD awal berkisar antara 6000-8000 mg/L, TS 3000-6000 mg/L dan TSS 2000-6000 mg/L.

2. Persentase penurunan COD paling besar adalah 73,76 % pada 9 V. 3. Persentase penurunan TS paling besaradalah 88,97 % pada 7 V. 4. Persentase penurunan TSS paling besar adalah 99,9 % pada 11 V.

5. Hasil penurunan COD yang terbaik didapat pada 9 V dengan waktu operasi 150 menit, hasil penurunan TS yang terbaik didapat pada 7 V dengan waktu operasi 180 menit, akan tetapi belum memenuhi baku mutu, sedangkan penurunan TSS yang terbaik didapat pada 7 V dengan waktu operasi 30 menit dan hampir keseluruhan memenuhi baku mutu yaitu Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 5/Kep-MenLH/10/2014, tentang baku mutu limbah cair untuk industri minyak sawit.

5.2 SARAN

Beberapa saran yang dapat diberikan agar penelitian selanjutnya dapat lebih baik, yaitu :

1. Perlu lebih teliti lagi dalam mengambil sampel analisa, dikarenakan adanya busa dan endapan yang terbentuk, dimana sampel analisa yang baik tidak terdapat busa dan endapan didalamnya.

2. Perlu lebih menjaga kestabilan dari alat supply DC dalam mensuplai arus. 3. Penelitian selanjutnya perlu dicoba dengan aliran kontinyu agar dapat

dilihat perbedaannya.

(33)
(34)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 KARAKTERISTIK DAN BAKU MUTU LIMBAH CAIR PABRIK KELAPA SAWIT

Limbah yang dihasilkan pada pabrik kelapa sawit (PKS) memiliki karakteristik tersendiri pada setiap tahapan proses, namun karakteristik yang ditinjau untuk masuk kedalam unit pengelolaan limbah cair adalah karakteristik limbah secara keseluruhan. Menurut Husni (2010), limbah cair PKS umumnya bersuhu tinggi, berwarna kecoklatan, mengandung padatan terlarut, dan tersuspesi berupa koloid dan residu minyak dengan kandungan Biological Oxygen Demand

(BOD) yang tinggi [3].Karakteristik limbah yang dihasilkan dari PT. PP London Sumatera PKS Bagerpang dapat dilihat pada Tabel 2.1 :

Tabel 2.1 Karakteristik Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit PKS Bagerpang [6]. No Parameter Mutu Raw Effluent Outlet Anaerobic Pond

1. Dissolved Oxygen (mg/L) 5,0 6,3 7. Volatile Suspended Solid(mg/L) 4.890 1.970 8. P Alkalinity (mg/L) - 245

(35)

parameter utama yang dijadikan pedoman baku mutu limbah cair pabrik kelapa sawit.

Tabel 2.2 Baku Mutu Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit [7].

No Parameter Kadar Paling

Tinggi (mg/L)

8. Debit Limbah Paling Tinggi 2,5 m2 per ton produk minyak sawit (CPO) * TS diambil dari KepMenLH No.51 tahun 2005.

2.2 PENGOLAHAN LCPKS DENGAN KOLAM ANAEROBIK

LCPKS adalah air limbah yang dikeluarkan oleh pabrik kelapa sawit (PKS) yang umumnya terdiri dari kondensat rebusan, buangan hydrocyclonedan separator sludge. Sekitar 2.9–3.5 m3 LCPKS dihasilkan setiap ton CPO yang dihasilkan. LCPKS kaya akan senyawa karbon organik dengan kandungan chemical oxygen demand (COD) lebih dari 40 g/L dan kandungan nitrogen sekitar 0.2 and 0.5 g/L sebagai ammonia nitrogen dan total nitrogen. Selain itu, LCPKS adalah senyawa koloid dengan kandungan air sebesar 95–96%, minyak sebesar 0.6–0.7% dan total solid 4–5% termasuk 2–4% suspended solids[8].

Ada beberapa cara pengolahan limbah cair pabrik kelapa sawit (LCPKS), seperti sistem kolam stabilisasi biasa, proses biologis anaerobik aerasi, proses biologis anaerobik fakultatif,dan lain-lain. Akan tetapi proses yang ada sekarang ini membutuhkan biaya yang besar dan susah dalam perawatannya, maka dari itu dicari alternatif lain dalam pengolahan LCPKS salah satunya adalah proses pengolahan dengan kolam anaerobik.

Kolam anaerobik adalah salah satu sistem dalam pemanfaatan limbah yang dapat menghasilkan biogas yang dilakukan secara anaerobik dengan kecepatan tinggi dan sangat efisien [3].

(36)

pengolahan berikutnya seperti foaming, sedimentasi dan penyumbatan pipa

outletkolam karena adanya lumpur, lalu setelah terpisah, LCPKS dialirkan kedalam kolam, dimana akan terbentuknya biogas yang bisa disimpan dalam tangki. LPCKS yang telah terdegradasi, dapat digunakan sebagai air irigasi untuk nutrisi bagi tanah, akan tetapi harus diolah lebih lanjut secara aerobik jika ingin dibuang ke sungai sesuai dengan baku mutu yang telah ditentukan [9].

Menurut Rahardjo (2009), Sistem pengolahan ini dibuat dengan skala besar. Kolam dengan panjang 50 m, lebar 100 m dan tinggi 7 m, yang berjumlah dua buah. Didalamnya terdapat unggun tetap yang menggunakan media pendukung berupa potongan-potongan pipa Poly Vinyl Chloride(PVC) dengan dinding bergelombang. Dalam proses pengolahannya, limbah cair dalam kolam

Fatpit mengalir ke dalam kolam anaerobik pertama dari bawah ke atas [10]. Untuk mengencerkan limbah cair yang baru masuk dan meningkatkan pHnya, sebagian effluent diresirkulasi, sedangkan sebagian besar effluent lagi dialirkan ke dalam kolam anaerobik kedua yang mempunyai arah aliran dari atas ke bawah. Effluent dari kolam anaerobik kedua yang sudah memenuhi ketentuan Baku Mutu Lingkungan (BML) dapat dibuang ke sungai. Gas yang dihasilkan dari proses anaerobik ini ditampung dengan menggunakan Gas Meter [10].

Keunggulan utama dari penggunaan kolam anaerobik untuk pengolahan LCPKS adalah :

• Kebutuhan energi yang rendah • Mudah dalam pengoperasian • Mudah dalam start up

• Kinerja yang tinggi [9]

(37)

sistem kolam anaerobik ini adalah COD terlarut berkisar antara 6 dan 8 kg/m3/hari dengan jumlah padatan tersuspensi tidak lebih dari 5000 mg/l[10].

2.3 ELEKTROKOAGULASI DAN ELEKTROLISIS 2.3.1 Definisi Elektrolisis

Elektrolisis adalah suatu proses penguraian molekul air (H2O) menjadi hidrogen (H2) dan oksigen (O2) dengan energi pemicu yaitu energi listrik. Proses ini dapat berlangsung ketika dua buah elektroda ditempatkan didalam air dan arus searah dialirkan melewati kedua elektroda tersebut. Hidrogen yang terbentuk akan melekat pada katoda dan oksigen akan melekat pada anoda. Selama ini, elektrolisis dikenal sebagai proses produksi hidrogen dari air yang paling efektif dengan tingkat kemurnian tinggi, yang hanya digunakan dalam skala kecil [11].

Pada proses elektrolisis, terjadi perpindahan ion ke elektroda, dimana jika dialiri arus listrik, reaksi yang terjadi pada elektroda dapat dilihat sebagai berikut :

o Reaksi oksidasi di anoda

• Al → Al 3+ + 3e E0=1,66 V

• 2 H2O → 4H+ + O2 + 4e E0= - 1,23 V o Reaksi reduksi di katoda

• 2 H2O + 2e → 2 OH- + H2 E0= - 0,83 V • Al 3+ + 3e → Al E0= - 1,66 V [12]

2.3.2 Pengaruh Tegangan Listrik Terhadap Elektrokoagulasi

(38)

penurunan kadar dalam limbah, ini dikarenakan adanya perubahan arus listrik dan terbentuknya magnet listrik disekitar elektroda [14].

2.3.3 Definisi Elektrokoagulasi

Elektrokoagulasi merupakan suatu proses koagulasi dengan menggunakan arus listrik searah melalui peristiwa elektrokimia ,yaitu gejala dekomposisi elektrolit yang digunakan untuk mengolah air limbah [15].

Menurut Siringo-ringo, dkk (2013), elektrokoagulasi merupakan proses pengolahan limbah yang sederhana dan mudah diterapkan dengan kemampuan yang baik dalam menggumpalkan berbagai pengotor dan polutan, baik bahan organik maupun anorganik. Mollah dan Schennach (2001) menyatakan bahwa elektrokoagulasi adalah teknologi yang saat ini berkembang secara efektif yang diaplikasikan untuk mengolah air limbah. Secara umum, keuntungan dari penggunaan metode ini adalah efisiensi pemisahan yang tinggi, sederhana dan ramah lingkungan [13].

Menurut Butler, dkk (2011), elektrokoagulasi terdiri dari lempengan metal yang disebut elektroda, yang disusun secara berpasangan dengan anoda dan katoda. Dengan menggunakan prinsip elektrokimia, katoda dioksidasi, sedangkan larutan elektrolit direduksi. Dengan ini, limbah cair dapat diolah dengan baik [16].

2.3.4 Proses Elektrokoagulasi

Proses elektrokoagulasi umumnya menggunakan elektroda aluminium ataupun besi yang dapat berperan sebagai sacrificial electrode (elektroda yang berperan sebagai anoda dan katoda). Proses elektrokoagulasi sistem batch

(39)

2.3.5 Jenis Plat Elektroda

Ada beberapa jenis plat elektroda yang biasa digunakan dalam proses elektrokoagualasi, yaitu: aluminium (Al), platina (Pt), tembaga (Cu), karbon (C) dan lain-lain. Namun dari hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, plat aluminium merupakan elektroda yang baik dalam proses elektrokoagulasi.

Adapun keunggulan dan kelemahan dari beberapa jenis plat tersebut adalah sebagai berikut :

A. Plat aluminium (Al) :

Keunggulan plat aluminium : • Berperan sebagai koagulan. • Tahan karat.

• Konduktor listrik dan panas yang baik, bahkan 2 kali lebih baik dari tembaga.

• Mudah di dapat

• Digunakan sebagai bahan pelapis untuk bahan mudah berkarat. • Tidak bersifat racun.

• Jika dipadukan dengan logam lain, dapat menghasilkan logam kuat seperti duralium (campuran Al, Cu, Mg) yang dijadikan sebagai bahan pesawat.

• Mudah dibentuk kembali. Kelemahan dari plat aluminium : • Tidak tahan terhadap asam. • Harganya mahal [17].

B. Plat platina (Pt)

Keunggulan plat platina :

• Dapat berkinerja baik dalam larutan air garam pada tekanan dan suhu tinggi (~ 250ºC).

(40)

• Dalam elektrolit tertentu, modifikasi permukaan platina penting bagi stabilitas.

• Tidak mudah keropos.

• Histeresis rendah dan respon cepat.

• Platina dapat dimodifikasi dengan polimer berbasis nitrogen atau dimasukkan sebagai bagian dari perakitan biosensor.

Kelemahan dari plat platina :

• Harga sangat mahal, bahkan lebih mahal dari emas murni. • Susah untuk teroksidasi [18].

C. Plat tembaga (Cu)

Keunggulan plat tembaga : • Mudah direcovery kembali

• Konduktor listrik dan panas yang baik Kelemahan plat tembaga :

• Bersifat racun

• Dapat menyebabkan alergi dan iritasi [19].

Dari semua jenis plat elektroda yang ada, jenis plat yang paling baik adalah plat aluminium (Al).Pada proses elektrokoagulasi, digunakan elektroda yang terbuat dari aluminium (Al), karena logam ini mempunyai sifat sebagai koagulan yang baik. Aluminium berasal dari bahasa latin alumen, yang ditemukan oleh Hans Christian. Aluminium adalah logam bewarna keperakan, mempunyai berat atom = 26,98154, titik leleh = 660,37oC, titik didih = 2467 oC, densitas = 2,702 g/cm3 dan konduktivitas listrik = 0,377 x 106 /cm.Ω [20].

2.3.6 Keunggulan Teknik Elektrokoagulasi

Metode elektrokoagulasi memiliki beberapa keunggulan, yaitu metode yang sederhana dan efisien, baik digunakan untuk menghilangkan senyawa organik tanpa penggunaan bahan kimia sehingga mengurangi pembentukan residu (sludge) dan efektif untuk menghilangkan padatan tersuspensi [16].

(41)

2. Tidak menggunakan zat kimia tambahan.

3. Waktu retensi relatif lebih singkat jika dibandingkan dengan yang menggunakan kolam sedimentasi.

4. Lebih cepat dalam mereduksi partikel-partikel kecil.

5. Adanya gelembung-gelembung gas yang berupa gas hidrogen (H2) ,yang dihasilkan dari proses ini, yang bisa disimpan dan digunakan sebagai bahan bakar, dan juga dapat membantu proses pembentukan flotasi.

6. Efisiensi proses yang cukup tinggi [16].

2.3.7 Kelemahan Teknik Elektrokoagulasi

Metode elektrokoagulasi memiliki beberapa kelemahan, antara lain : 1. Tidak dapat digunakan untuk mengolah limbah yang mempunyai sifat

elektrolit yang cukup tinggi karena akan terjadi hubungan singkat antar elektroda.

2. Besarnya reduksi dari plat elektroda yang digunakan dipengaruhi oleh arus listrik yang mengalir melewatinya.

3. Penggunaan listrik yang cukup besar dan lama akan mengakibatkan beban biaya yang besar [16].

2.4 KOAGULASI DAN FLOKULASI

Koagulasi dan flokulasi merupakan dua proses yang umumnya terdapat dalam pengolahan limbah cair dan air bersih. Kedua proses ini merupakan satu paket yang terjadi berurutan pada satu tahap, yang dimulai dari koagulasi lalu flokulasi [20]. Kadang-kadang prosesnya terjadi secara bersamaan, yaitu flotasi. Jadi, ada 3 tahap yang terjadi, yaitu: proses koagulasi, flokulasi dan flotasi.

(42)

Flotasi adalah proses dimana terjadi interaksi antara gelembung udara dengan sebuah fasa terdispersi dimana kecepatan gaya dorong keatas sangat bergantung pada gaya gravitasi dan dispersi. Flotasi juga dipengaruhi oleh kosentrasi permukaan dari fasa terdispersi dan pemakaian bahan kimia sebagai penurunan tegangan antara solid [22].

Menurut Holt, dkk (2002), Flotasi merupakan aspek yang melekat pada reaktor batch elektrokoagulasi melalui produksi gas elektrolit. Dalam reaktor, pemisahan polutan terjadi secara in situ, baik secara pengapungan atau settling. Dari profil kosentrasi diekstrak, ekspresi kinetik asli dirumuskan untuk mengukur proses penghapusan. Semakin meningkatnya arus, settling dan laju tingkat flotasi semakin meningkat karena adanya regenerasi koagulan tambahan. Penghilangan cepat ini diimbangi dengan penurunan efisiensi koagulan. Akibatnya ada perbedaan di antara waktu penghapusan dan efisiensi koagulan yang dapat dievaluasi secara ekonomi [23].

2.5 PARAMETER UTAMA YANG DIAMATI

Limbah pada setiap pabrik berbeda-beda sehingga parameter yang akan diamati dalam penentuan kualitas suatu limbah berbeda pula, sesuai dengan kriteria limbah yang ingin diolah. Terdapat beberapa parameter yang selalu terdapat dalam baku mutu yaitu : Chemical Oxygen Demand (COD), turbiditas,

Total Suspended Solid (TSS), dan warna.

2.5.1. Chemical Oxygen Demand (COD)

COD atau kebutuhan oksigen kimia adalah jumlah oksigen yang diperlukan agar limbah organik yang ada di dalam air dapat teroksidasi melalui reaksi kimia. Salah satu kandungan bahan organik yang terdapat dalam limbah cair adalah sulfat (SO42-), dimana sulfat akan bereaksi dengan Al pada proses elektrokoagulasi dan menghasilkan senyawa tawas (Al2[SO4]3) dengan persamaan reaksi sebagai berikut:

(43)

Setelah terbentuknya Al2[SO4]3, tawas bereaksi kembali dengan air yang terkandung didalam limbah cair dan menghasilkan Al(OH)3 (endapan putih) dengan persamaan reaksi sebagai berikut :

Al2[SO4]3+ H2O Al(OH)3 (s) + H+ + SO42- [24]

Endapan Al(OH)3 yang terbentuk akan terkoagulasi dengan zat organik pada limbah sehingga kandungan zat organik yang terkandung akan turun, akibatnya kandungan COD juga mengalami penurunan [24].

2.5.2. Total Solid (TS)

TS adalah keseluruhan bahan yang tersuspensi, koloid, dan padatan yang terlarut didalam air. Dimana termasuk garam yang terlarut seperti sodium chloride, NaCL dan partikel solid seperti endapan lumpur dan plankton. Banyak faktor yang dapat termasuk ke dalam total soliddi dalam air, seperti erosi tanah, dimana peningkatan aliran air atau penurunan vegetasi sungai yang dapat mempercepat proses erosi tanah dan memberikan kontribusi pada naiknya partikel tersuspensi seperti tanah liat dan lumpur. Secara alami batu atau mineral dalam tanah seperti karang, NaCl, atau batu kapur, CaCO3 dapat terlarut kedalam air. TS juga bisa berasal dari berbagai jenis buangan. Buangan limbah pertanian sering mengandung pupuk dan partikel tanah yang tersuspensi dan juga sumber-sumber lain termasuk limbah industri dan limbah dari pabrik pengolahan air [25].

2.5.3. Total Suspended Solid (TSS)

TSS adalah bahan-bahan tersuspensi (diameter >1 μm) yang tertahan pada saringan miliopore dengan diameter pori 0,45 μm. TSS terdiri dari lumpur dan pasir halus serta jasad-jasad renik. Konsentrasi TSS yang terlalu tinggi akan menghambat penetrasi cahaya ke dalam air dan mengakibatan terganggunya proses fotosintesis [26].

2.6 TEKNIK SAMPLING 2.6.1 Tujuan Pengambilan Sampel

(44)

mewakili semua yang terdapat didalam aliran tersebut selama lebih dari 24 jam lamanya [27].

2.6.2 Tempat Pengambilan Sampel Bahan Baku

Pada pengambilan sampel bahan baku, ada banyak tempat yang bisa dijadikan sebagai acuan dan sebagai perwakilan, diantaranya :

1. Proses limbah, pengolahan sekunder ,dan pengolahan primer. 2. Tempat pengolahan lanjut.

3. Bypass effluent[27]. 4. Outlet tangki. 5. Manhole.

6. Aliran pembuangan. 7. Tangki overflow. 8. Pencucian limbah [28].

2.6.3 Perlengkapan Pengambilan Sampel

Dalam pengambilan sampel, selalu disertakan kertas effluent laboratoriun yang berisikan data tempat pengambilan pada masing-masing tempat effluent. Dimana setiap pengambilan sampel juga disertakan perlengkapan keamanan, yaitu :

1. Botol sampling. 2. Tali, tiang ,dan ember. 3. Sarung tangan.

4. Termometer. 5. Bak es. 6. P3K.

7. Kamera [28].

2.7 ANALISIS EKONOMI

(45)

anaerobik membutuhkan lahan yang luas dan juga dalam. Akan tetapi, penggunaan kolam anaerobik tidak efisien dari segi waktu dan biaya, hal ini dikarenakan untuk mengolah limbah agar dapat mencapai baku mutu yang ditetapkan oleh pemerintah sebelum dibuang ke sungai diperlukan beberapa kolam yang memerlukan biaya investasi awal yang besar dan memakan waktu untuk menguraikan maupun menurunkan sampai sesuai standar, dimana waktu retensi per kolam mencapai 30 hari. Hal ini juga dipertimbangkan karena dapat menimbulkan efek rumah kaca akibat timbulnya gas karbon dioksida (CO2) dan gas metan (CH4) yang dapat disimpan dan dijadikan sebagai biogas.

Reaktor elektrokoagulasi merupakan salah satu alternatif dalam pengolahan limbah cair pabrik kelapa sawit, dimana penggunaan reaktor ini lebih efisien dari segi waktu dan biaya investasi awal yang hampir sama bahkan lebih murah dari pada menggunakan kolam anaerobik. Untuk waktu retensi pada reaktor elektrokoagulasi jika dibandingkan dengan kolam anaerobik dipastikan lebih cepat dalam mengolah limbah. Hal ini dikarenakan reaktor elektrokoagulasi menggunakan daya supplai listrik dan menggunakan plat elektroda aluminium, dimana jika plat aluminium ketika berada didalam limbah dialiri oleh listrik dapat membentuk tawas dan membentuk flok yang dapat mengendapkan sedimen pada limbah. Penggunaan reaktor elektrokoagulasi ini dapat digunakan secara tertutup, jadi gas hidrogen yang terbentuk pada saat reaksi berlangsung dapat disimpan dan dapat digunakan sebagai biogas dan tidak menimbulkan efek rumah kaca.

(46)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Indonesia merupakan salah satu negara terbesar didunia sebagai produsen

Crude Palm Oil (CPO), disusul oleh Malaysia dan Thailand [1]. Namun timbul beberapa permasalahan baru, yaitu banyaknya limbah yang dihasilkan. Apabila limbah yang tanpa diolah terlebih dahulu ataupun sudah diolah, akan tetapi belum memenuhi persyaratan dapat mencemari lingkungan. Hal ini mungkin karena tidak ada kepedulian dalam mengolah air limbah, disamping itu teknologi pengolah air limbah yang mudah dan efisien belum ditemukan sehingga belum bisa diterapkan oleh industri-industri [2].

Pabrik pengolahan kelapa sawit menghasilkan limbah cair dalam jumlah yang besar, yaitu berkisar antara 600-700 liter/ton tandan buah segar (TBS) atau sekitar 65% dari TBS. Saat ini diperkirakan jumlah limbah cair pabrik kelapa sawit (LCPKS) di Indonesia mencapai 28,7 juta ton. Jumlah LCPKS yang besar dan kandungan bahan organiknya yang tinggi (80%) mengupayakan bagi industri untukmemanfaatkan limbah yang dapat menghasilkan produk lain, salah satunya adalah pemanfaatan LCPKS untuk menghasilkan biogas. Walaupun LCPKS dapat menghasilkan biogas, akan tetapi, dari hasil penelitian LCPKS masih belum memenuhi standar baku mutu [3]. Karena itu dibutuhkan teknologi pengolahan lain yang lebih efisien.

(47)

Elektrokoagulasi merupakan metode yang mampu menghilangkan berbagai jenis polutan dalam air, seperti partikel tersuspensi, logam berat, warna, larutan humus, dan deflouridasi air. Metode ini memiliki efisiensi yang cukup tinggi dan tidak perlu ditambahkan bahan kimia.

Pada limbah cair pabrik kelapa sawit terdapat bahan organik dan anorganik yang dapat meningkatkan nilai Chemical Oxygen Demand (COD),

Total Solid (TS), dan Total Suspended Solid (TSS). Jika kadar COD, TS, dan TSS yang tinggi dibuang ke sungai dapat mencemari lingkungan dan ekosistem didalamnya. Oleh karena itu, diperlukan pengolahan lanjut untuk menurunkan nilai COD, TS, dan TSS sampai memenuhi baku mutu yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Tabel 1.1 merupakan penelitian terdahulu tentang teknik elektrokoagulasi.

Tabel 1.1 Penelitian Terdahulu.

No Penulis Judul Metodologi Hasil Yang Diperoleh

1. Husni (2010) [3]

Pengolahan Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit Effluent RANUT (Reaktor Anaerobik Fat Pit, Kolam Anaerobik dan Reaktor Biogas Dengan

Treatment of Solid Waste Leachate By

(48)

digunakan juga memiliki perbedaan pada jenis dan bentuknya, dimana pada penelitian Husni (2010) menggunakan 3 jenis material, yaitu : aluminium, seng dan besi dengan panjang elektroda 15 cm dan lebar elektroda 9 cm, sedangkan yang akan dilakukan pada penelitian ini hanya menggunakan 1 jenis material elektroda, yaitu aluminium, dimana aluminium adalah jenis elektroda yang paling baik untuk proses elektrokoagulasi.

1.2 PERUMUSAN MASALAH

Berdasarkan uraian diatas, maka permasalahan dapat dirumuskan sebagai berikut:

a. Dalam limbah cair pabrik kelapa sawit terdapat bahan organik dan anorganik yang dapat meningkatkan kadar COD, TS, dan TSS, yang dimana jika dibuang secara langsung dapat mencemari lingkungan.

b. Teknologi yang digunakan kurang efektif dan efisien dalam segi biaya maupun segi waktu untuk menurunkan kadar COD, TS, dan TSS sampai memenuhi baku mutu limbah cair pabrik kelapa sawit yang ditetapkan oleh pemerintah.

1.3 TUJUAN PENELITIAN

Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas dari penggunaan metode elektrokoagulasi dalam mengolah limbah cair pabrik kelapa sawit effluent kolam anaerobik. Adapun tujuan yang lain adalah sebagai berikut:

a. Untuk mengetahui tegangan dan waktu retensi yang terbaik dalam proses elektrokoagulasi.

b. Untuk menurunkan kadar COD, TS, dan TSS dari effluent kolam anaerobik dari limbah cair pabrik kelapa sawit dengan menggunakan metode elektrokoagulasi agar dapat dibuang ke badan sungai sesuai dengan baku mutu yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

c. Merakit peralatan elektrokoagulasi.

(49)

Hasil dari penelitian ini diharapkan bisa memberikan kontribusi kepada ilmu pengetahuan, dan juga diharapkan bisa memberikan teknologi alternatif dalam teknik pengolahan limbah cair pabrik kelapa sawit effluent kolam anaerobik yang lebih efisien dan ramah lingkungan.

1.5 RUANG LINGKUP PENELITIAN

Limbah cair yang diolah dalam penelitian ini adalah limbah cair pabrik kelapa sawit effluent kolam anaerobik. Pengolahan dilakukan dengan menggunakan teknik elektrokoagulasi. Percobaan ini dilakukan dengan berbagai variasi variabel bebas dengan sebagai berikut :

Tegangan : 7 V, 8 V, 9 V, 10 V dan 11 V Jarak antar elektroda : 1,5 cm

Waktu retensi : 30, 60, 90, 120, 150 dan 180 menit.

Sedangkan waktu pengontakan selama 3 jam. Percobaan dilakukan dalam reaktor batch dengan volume aktif reaktor 4.500 mL. Variabel terikat yang diamati dari penelitian ini adalah penurunan kadar Chemical Oxygen Demand

(50)

ABSTRAK

Produksi minyak sawit mentah (crude palm oil, CPO) di Indonesia terus meningkat sehingga akan menambah jumlah limbah cair yang dihasilkan. Teknologi kolam anaerobik telah banyak dikembangkan, namun karakteristik limbah cair pabrik kelapa sawit belum memenuhi baku mutu limbah cair yang telah ditentukan oleh pemerintah terutama untuk COD. Karena itu perlu dilakukan penelitian lanjutan tentang pengolahan limbah cair pabrik kelapa sawit dari kolam anaerobic dengan teknik elektrokoagulasi. Elektrokoagulasi merupakan metode yang mampu menyisihkan berbagai jenis polutan dalam air, seperti partikel tersuspensi, logam berat, warna, larutan humus, dan deflouridasi air dengan mengalirkan arus listrik kedalam sistem. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tegangan pada supply DC terhadap kinerja sistem elektrokoagulasi serta menentukan waktu terbaik untuk pengolahan limbah cair pabrik kelapa sawit tersebut. Jenis material elektroda yang digunakan adalah aluminium, dimensi reaktor adalah 12 x 12 x 36 cm dengan waktu retensi limbah 3 jam, jarak antar elektroda 1,5 cm, variasi tegangan supply DC adalah 7, 8, 9, 10 dan 11 volt dengan sampel limbah dari PKS PT. PP London Sumatera di Bagerpang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase penurunan COD, TS dan TS paling besar adalah 73,76% pada 9V, 88,97% pada 7V dan 99,9% pada 11V. Hasil penurunan COD yang terbaik pada 9 V dengan waktu operasi 60 menit, hasil penurunan TS yang terbaik didapat pada 7 V dengan waktu operasi 180 menit, akan tetapi belum memenuhi baku mutu, sedangkan penurunan TSS yang terbaik didapat pada 7 V dengan waktu operasi 30 menit dan hampir keseluruhan memenuhi baku mutu limbah cair pabrik kelapa sawit sesuai dengan Kep MenLH No.5 Tahun 2014.

(51)

ABSTRACT

The production of crude palm oil (crude palm oil, CPO) in Indonesia keep increasing that also will increase the amount of wastewater that being generated. Anaerobic pond technology had been developed, but the characteristics of palm oil mill effluent had not met the effluent standards set by the government, especially for COD. Therefore it is necessary to do further research on the treatment of palm oil mill effluent from anaerobic pond with electrocoagulation technique. Electrocoagulation was a method that capable of removing various kinds of pollutants in water, the suspended particles, heavy metals, color, solution of soil, and deflouridize water with an electricity into the system. This study aims to determine the effect of the supply DC voltage to the electrocoagulation system performance and determine the best time for the wastewater treatment from palm oil plant. The type of electrode material used is aluminum, the dimension of the reactor is 12 x 12 x 36 cm with the retention time of waste 3 hours, the distance between the electrodes of 1.5 cm, supply DC voltage variation was 7, 8, 9, 10 and 11 volts with samples of the waste from PT. PP London Sumatra Mill at Bagerpang. The results showed that the percentage reduction in COD, TS and TS greatest was 73,76 % at 9V, 88.97% at 7V and 99.9% at 11V. The best COD reduction reached at9V with operation time 60 minutes, reduction of TS was best obtained at 7 V with operation time 180 minutes, but do not meet quality standards, while the reduction in TSS was best obtained at 7 V with operation time 30 minutes and almost all met the quality standards for palm oil mill effluent according with Kep MenLH No.5 2014 .

(52)

PENGARUH TEGANGAN PADA REAKTOR

ELEKTROKOAGULASI TERHADAP PENGOLAHAN

EFFLUENT LIMBAH CAIR PABRIK KELAPA SAWIT

SKRIPSI

Oleh

100405054

WILLIAM WARDHANA KASIM

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(53)

PENGARUH TEGANGAN PADA REAKTOR

ELEKTROKOAGULASI TERHADAP PENGOLAHAN

EFFLUENT LIMBAH CAIR PABRIK KELAPA SAWIT

SKRIPSI

Oleh

100405054

WILLIAM WARDHANA KASIM

SKRIPSI INI DIAJUKAN UNTUK MELENGKAPI SEBAGIAN

PERSYARATAN M ENJADI SARJANA TEKNIK

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(54)

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi dengan judul:

PENGARUH TEGANGAN PADA REAKTOR ELEKTROKOAGULASI TERHADAP PENGOLAHAN EFFLUENT LIMBAH CAIR PABRIK

KELAPA SAWIT

yang dibuat untuk melengkapi sebagian persyaratan menjadi Sarjana Teknik pada Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara, sejauh yang saya ketahui bukan merupakan tiruan atau duplikasi dari skripsi yang sudah dipublikasikan dan atau pernah dipakai untuk mendapatkan gelar kesarjanaan di lingkungan Universitas Sumatera Utara maupun di Perguruan Tinggi atau instansi manapun, kecuali bagian yang sumber informasinya dicantumkan sebagaimana mestinya.

Medan, 2016

(55)
(56)

PRAKATA

Puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan laporan hasil penelitian yang berjudul “Pengaruh Tegangan Pada Reaktor Elektrokoagulasi Terhadap Pengolahan

Effluent Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit”,berdasarkan hasil penelitian yang penulis lakukan di Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara. Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan gelar sarjana teknik.

Hasil penelitian ini:

• Penelitian ini melakukan variasi voltase yang lebih banyak, yaitu 7-11 V. • Penelitian ini membantu pengolahan limbah cair pabrik kelapa sawit

sehingga tidak akan membahayakan kehidupan masyarakat.

Selama melakukan penelitian sampai penulisan hasil penelitian ini penulis banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak, untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. Farida Hanum, S.T, M.T selaku Dosen Pembimbing 2. Dr.Ir.Iriany, M.Si selaku Dosen Penguji

3. Ir.Lilis Suksesi, M.Sc, Ph.D selaku Dosen Penguji

4. PPKS yang telah memberikan izin untuk melakukan analisa bahan disana. 5. M. Ansori Nasution, S.T, M.Sc dari PPKS

6. PT. PP London Sumatera Indonesia, Tbk. khususnya PKS Kebun Bagerpang sebagai penyuplai limbah bahan percobaan.

Penulis menyadari bahwa laporan hasil penelitian ini masih banyak kekurangannya. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk kesempurnaan laporan hasil penelitian ini.

(57)

William Wardhana Kasim

DEDIKASI

Penulis mendedikasikan skripsi ini kepada:

1. Kedua orang tua penulis, Kasim dan Boniyem yang tak hentinya memberikan doa dan dukungan baik moral maupun materil kepada penulis dalam menyelesaikan penelitian dan penulisan skripsi ini.

(58)

RIWAYAT HIDUP PENULIS

Nama: William Wardhana Kasim, S.Kom, BIT

NIM: 100405054

Tempat / Tanggal Lahir: Kisaran / 12 Agustus 1992

Nama Orang Tua: Kasim dan Boniyem

Alamat Orang Tua: Jl. Aksara Baru Blok D no. 217, Medan

Asal Sekolah

• TK Diponegoro Kisaran tahun 1996 – 1998 • SD Diponegoro Kisaran tahun 1998 – 1999 • SD Sutomo 1 Medan tahun 1999 – 2004 • SMP Sutomo 1 Medan tahun 2004 – 2007 • SMA Sutomo 1 Medan tahun 2007 – 2010 • IT&B Campus Medan tahun 2010 - 2014

Pengalaman Organisasi / Kerja

• Himatek periode 2013 – 2014 sebagai Anggota • KMB USU periode 2010-2011 sebagai Anggota

Artikel yang telah dipublikasikan dalam Jurnal/Pertemuan Ilmiah :

(59)

ABSTRAK

Produksi minyak sawit mentah (crude palm oil, CPO) di Indonesia terus meningkat sehingga akan menambah jumlah limbah cair yang dihasilkan. Teknologi kolam anaerobik telah banyak dikembangkan, namun karakteristik limbah cair pabrik kelapa sawit belum memenuhi baku mutu limbah cair yang telah ditentukan oleh pemerintah terutama untuk COD. Karena itu perlu dilakukan penelitian lanjutan tentang pengolahan limbah cair pabrik kelapa sawit dari kolam anaerobic dengan teknik elektrokoagulasi. Elektrokoagulasi merupakan metode yang mampu menyisihkan berbagai jenis polutan dalam air, seperti partikel tersuspensi, logam berat, warna, larutan humus, dan deflouridasi air dengan mengalirkan arus listrik kedalam sistem. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tegangan pada supply DC terhadap kinerja sistem elektrokoagulasi serta menentukan waktu terbaik untuk pengolahan limbah cair pabrik kelapa sawit tersebut. Jenis material elektroda yang digunakan adalah aluminium, dimensi reaktor adalah 12 x 12 x 36 cm dengan waktu retensi limbah 3 jam, jarak antar elektroda 1,5 cm, variasi tegangan supply DC adalah 7, 8, 9, 10 dan 11 volt dengan sampel limbah dari PKS PT. PP London Sumatera di Bagerpang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase penurunan COD, TS dan TS paling besar adalah 73,76% pada 9V, 88,97% pada 7V dan 99,9% pada 11V. Hasil penurunan COD yang terbaik pada 9 V dengan waktu operasi 60 menit, hasil penurunan TS yang terbaik didapat pada 7 V dengan waktu operasi 180 menit, akan tetapi belum memenuhi baku mutu, sedangkan penurunan TSS yang terbaik didapat pada 7 V dengan waktu operasi 30 menit dan hampir keseluruhan memenuhi baku mutu limbah cair pabrik kelapa sawit sesuai dengan Kep MenLH No.5 Tahun 2014.

(60)

ABSTRACT

The production of crude palm oil (crude palm oil, CPO) in Indonesia keep increasing that also will increase the amount of wastewater that being generated. Anaerobic pond technology had been developed, but the characteristics of palm oil mill effluent had not met the effluent standards set by the government, especially for COD. Therefore it is necessary to do further research on the treatment of palm oil mill effluent from anaerobic pond with electrocoagulation technique. Electrocoagulation was a method that capable of removing various kinds of pollutants in water, the suspended particles, heavy metals, color, solution of soil, and deflouridize water with an electricity into the system. This study aims to determine the effect of the supply DC voltage to the electrocoagulation system performance and determine the best time for the wastewater treatment from palm oil plant. The type of electrode material used is aluminum, the dimension of the reactor is 12 x 12 x 36 cm with the retention time of waste 3 hours, the distance between the electrodes of 1.5 cm, supply DC voltage variation was 7, 8, 9, 10 and 11 volts with samples of the waste from PT. PP London Sumatra Mill at Bagerpang. The results showed that the percentage reduction in COD, TS and TS greatest was 73,76 % at 9V, 88.97% at 7V and 99.9% at 11V. The best COD reduction reached at9V with operation time 60 minutes, reduction of TS was best obtained at 7 V with operation time 180 minutes, but do not meet quality standards, while the reduction in TSS was best obtained at 7 V with operation time 30 minutes and almost all met the quality standards for palm oil mill effluent according with Kep MenLH No.5 2014 .

(61)

DAFTAR ISI

Halaman

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI i

PENGESAHAN ii

PRAKATA iii

DEDIKASI iv

RIWAYAT HIDUP PENULIS v

ABSTRAK vi

ABSTRACT vii

DAFTARISI viii

DAFTAR GAMBAR xi

DAFTAR TABEL xii

DAFTAR LAMPIRAN xiii

DAFTAR SINGKATAN xiv

BAB I PENDAHULUAN 1

1.1 Latar Belakang 1

1.2 Perumusan Masalah 3

1.3 Tujuan Penelitian 3

1.4 Manfaat Penelitian 3

1.5 Ruang Lingkup Penelitian 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 5

2.1 Karakteristik dan Baku Mutu Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit 5

2.2 Pengolahan LPCKS Dengan Kolam Anaerobik 6

2.3 Elektrokoagulasi Dan Elektrolisis 8

2.3.1 Definisi Elektrolisis 8

2.3.2 Pengaruh Tegangan Listrik Terhadap Elektrokoagulasi 8

2.3.3 Definisi Elektrokoagulasi 9

2.3.4 Proses Elektrokoagulasi 9

2.3.5 Jenis Plat Elektroda 9

(62)

2.3.7 KelemahanTeknik Elektrokoagulasi 12

2.4 Koagulasi dan Flokulasi 12

2.5 Parameter Utama Yang Diamati 13

2.5.1Chemical Oxygen Demand (COD) 13

2.5.2Total Solid (TS) 14

2.5.3Total Suspended Solid (TSS) 14

2.6 Teknik Sampling 14

2.6.1.Tujuan Pengambilan Sampel 14

2.6.2.Tempat Pengambilan Sampel Bahan Baku 15 2.6.3.Perlengkapan Pengambilan Sampel 15

2.7Analisis Ekonomi 15

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 17

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian 17

3.2 Alat Dan Bahan Percobaan 17

3.2.1 Bahan 17

3.2.2 Peralatan 17

3.2.3 Perancangan Reaktor 18

3.2.3.1Dimensi Reaktor 18

3.2.3.2Elektroda 18

3.3 Rancangan Penelitian 19

3.4 Tata Cara Pengambilan Sampel 20

3.4.1 Sampling Effluent 20

3.4.2 Sampling Hasil Elektrokoagulasi 21

3.5 Prosedur Penelitian 21

3.5.1 Perangkaian Reaktor Elektrokoagulasi 21 3.5.2 Preparasi Limbah Kolam Anaerobik 21

3.5.3 Pelaksanaan Penelitian 21

3.6 Analisa Data 22

3.7 Flowchart 23

(63)

3.7.4 Flowchart Prosedur Analisa TSS 25

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 26

4.1 Karakteristik Awal Limbah Cair Effluent Kolam Anaerobik 26 4.2 Perancangan Reaktor Elektrokoagulasi 26 4.3 Pengaruh Variabel Terhadap Perubahan COD, TS Dan TSS 27 4.3.1 Pengaruh Tegangan Terhadap Perubahan COD 27

4. 3.2Pengaruh Tegangan Terhadap Perubahan TS

28 4.3.3Pengaruh Tegangan Terhadap Perubahan TSS 29 4.4Perbandingan Hasil Dengan Baku Mutu 30 4.4.1 Perbandingan Hasil COD Dengan Baku Mutu 30 4.4.2Perbandingan Hasil TS Dengan Baku Mutu 31 4.4.3Perbandingan Hasil TSS Dengan Baku Mutu 31

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 32

5.1 Kesimpulan 32

5.2 Saran 32

DAFTAR PUSTAKA 34

(64)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 3.1 Rancangan dan Spesifikasi Reaktor Elektrokoagulasi 18 Gambar 3.2 Bentuk dan Ukuran Plat Elektroda Aluminium 19

Gambar 3.3 Flowchart Prosedur Penelitian 23

Gambar 3.4 Flowchart Prosedur Analisa COD 24

Gambar 3.6 Flowchart Prosedur Analisa TS 25

Gambar 3.7 Flowchart Prosedur Analisa TSS 25

Gambar 4.1 Rancangan Alat Elektrokoagulasi 27

Gambar 4.2 Grafik Penurunan COD Terhadap Waktu 28 Gambar 4.3 Grafik Penurunan TS Terhadap Waktu 29 Gambar 4.4 Grafik Penurunan TSS Terhadap Waktu 30 GambarL3.1 (a) Bak Kaca, (b) Plat Aluminium, (c) Supply DC dan (d) Perakitan

Alat yang sudah selesai 45

Gambar L3.2 (a) Pengetesan Alat Sebelum Dijalankan dan (b) Pengetesan Alat

Sesudah Dijalankan 46

Gambar L3.3 Tempat Limbah PKS Bagerpang 46

(65)

DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 Penelitian Terdahulu 2

Tabel 2.1 Tabel Karakteristik Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit PKS Bagerpang5 Tabel 2.2 Baku Mutu Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit 6 Tabel 3.1Kombinasi Pada Setiap Satuan Percobaan 20

Tabel 4.1Karakteristik Limbah Awal 26

Tabel 4.2 Hasil Perbandingan COD Dengan Baku mutu 31 Tabel 4.3 Hasil Perbandingan TS Dengan Baku mutu 31 Tabel 4.4 Hasil Perbandingan TSS Dengan Baku mutu 31

Tabel L1.1Data Persentase Penurunan COD 37

Tabel L1.2 Data Persentase Penurunan TS 38

Tabel L1.3 Data Persentase Penurunan TSS 39

(66)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 DATA PENELITIAN 37

L1.1 Data PKS Bagerpang 37

L1.1.1Data Persentase Penurunan COD 37

L1.1.2 Data Persentase Penurunan TS 38

L1.1.3Data Persentase Penurunan TSS 39

L1.2 Data Baku Mutu Limbah 40

Lampiran 2 CONTOH PERHITUNGAN 41

L2.1 Perhitungan Kadar COD 41

L2.1.1 Perhitungan Nilai COD 41

L2.1.2 Perhitungan Persentase Penurunan COD 41

L2.2 Perhitungan Kadar TS 42

L2.2.1 Perhitungan NilaiTS 42

L2.2.2 Perhitungan Persentase Penurunan TS 43

L2.3 Perhitungan Kadar TSS 43

L2.3.1 Perhitungan Nilai TSS 43

L2.3.2 Perhitungan Persentase Penurunan TSS 44

Lampiran 3 DOKUMENTASI PENELITIAN 45

L3.1 Gambar Rangkaian Alat 45

L3.2 Pengetesan Alat 46

L3.3 Tempat Pengambilan Sampel 46

(67)

DAFTAR SINGKATAN

Al Aluminium

BOD Biological Oxygem Demand

COD Chemical Oxygen Demand

CPO Crude Palm Oil

LCPKS Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit MASS Mitra Agung Sawita Sejahtera

PKS Pabrik Kelapa Sawit

SNI Standar Nasional Indonesia

TBS Tandan Buah Segar

TS Total Solid

Figur

Tabel L1.1 Data Persentase Penurunan COD.

Tabel L1.1

Data Persentase Penurunan COD. p.1
Tabel L1.2 Data Persentase Penurunan TS.

Tabel L1.2

Data Persentase Penurunan TS. p.2
Tabel L1.3 Data Persentase Penurunan TSS.

Tabel L1.3

Data Persentase Penurunan TSS. p.3
Tabel L1.4 Baku Mutu Limbah

Tabel L1.4

Baku Mutu Limbah p.4
Gambar L3.1 (a) Bak Kaca, (b) Plat Aluminium, (c) Supply DC dan (d) Perakitan Alat Yang Sudah Selesai

Gambar L3.1

(a) Bak Kaca, (b) Plat Aluminium, (c) Supply DC dan (d) Perakitan Alat Yang Sudah Selesai p.9
Gambar L3.3 Tempat Limbah PKS Bagerpang.

Gambar L3.3

Tempat Limbah PKS Bagerpang. p.10
Gambar L3.2 (a) Pengetesan Alat Sebelum Dijalankan dan (b) Pengetesan Alat

Gambar L3.2

(a) Pengetesan Alat Sebelum Dijalankan dan (b) Pengetesan Alat p.10
Gambar L3.4 Sampel Olahan Limbah PKS Bagerpang

Gambar L3.4

Sampel Olahan Limbah PKS Bagerpang p.11
Gambar 3.1 Rancangan dan Spesifikasi Reaktor Elektrokoagulasi.

Gambar 3.1

Rancangan dan Spesifikasi Reaktor Elektrokoagulasi. p.17
Gambar 3.2 Bentuk dan Ukuran Plat Elektroda Aluminium

Gambar 3.2

Bentuk dan Ukuran Plat Elektroda Aluminium p.18
Tabel 3.1. Kombinasi Pada Setiap Satuan Percobaan

Tabel 3.1.

Kombinasi Pada Setiap Satuan Percobaan p.19
Gambar 3.3 Flowchart Prosedur Penelitian

Gambar 3.3

Flowchart Prosedur Penelitian p.22
Gambar 3.4 Flowchart Prosedur Analisa COD

Gambar 3.4

Flowchart Prosedur Analisa COD p.23
Gambar 3.5 Flowchart Prosedur AnalisaTS

Gambar 3.5

Flowchart Prosedur AnalisaTS p.24
Gambar 3.6 Flowchart Prosedur AnalisaTSS

Gambar 3.6

Flowchart Prosedur AnalisaTSS p.24
Tabel 4.1 Karakteristik Limbah Awal PKS Bagerpang

Tabel 4.1

Karakteristik Limbah Awal PKS Bagerpang p.25
Gambar 4.1 Rancangan Alat Elektrokoagulasi.

Gambar 4.1

Rancangan Alat Elektrokoagulasi. p.26
Gambar 4.2 Grafik Penurunan COD Terhadap Waktu.

Gambar 4.2

Grafik Penurunan COD Terhadap Waktu. p.27
Gambar 4.3 Grafik Penurunan TS Terhadap Waktu.

Gambar 4.3

Grafik Penurunan TS Terhadap Waktu. p.28
Gambar 4.4 Grafik Penurunan TSS Terhadap Waktu

Gambar 4.4

Grafik Penurunan TSS Terhadap Waktu p.29
Tabel 4.3 Hasil Perbandingan TS dengan baku mutu

Tabel 4.3

Hasil Perbandingan TS dengan baku mutu p.30
Tabel 4.2 Hasil Perbandingan COD dengan baku mutu

Tabel 4.2

Hasil Perbandingan COD dengan baku mutu p.30
Tabel 4.4 Hasil Perbandingan TSS dengan baku mutu

Tabel 4.4

Hasil Perbandingan TSS dengan baku mutu p.31
Tabel 2.1 Karakteristik Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit PKS Bagerpang [6].

Tabel 2.1

Karakteristik Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit PKS Bagerpang [6]. p.34
Tabel 2.2 Baku Mutu Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit [7].

Tabel 2.2

Baku Mutu Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit [7]. p.35
Tabel 1.1 Penelitian Terdahulu.

Tabel 1.1

Penelitian Terdahulu. p.47

Referensi

Memperbarui...