Perubahan Iklim dan Pemanasan Global Per

Teks penuh

(1)

Perubahan Iklim dan Pemanasan Global

Perubahan Iklim dan Pemanasan Global

1. 1. Kelompok VI – Perubahan IklimGlobal | 1 KATA PENGANTAR Puji syukur ke hadirat Allah SWT. karena berkat limpahan rahmat-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan sebuah makalah yang berjudul “Perubahan Iklim Global”. Penulisan makalah ini berkaitan dengan perubahan iklim global yang dampaknya saat ini kerap kali kita rasakan. Saya mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah membantu kami dalam menyelesaikan makalah ini, terutama kepada Allah SWT, dan dosen Geografi kami, karena tanpa bantuan dari mereka, kami tak mungkin bisa menyelesaikan makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca, agar mampu menyikapi perubahan iklim global yang saat ini terjadi di bumi secara bijak. Makassar, 9 Maret 2015 Penyusun

2. 2. Kelompok VI – Perubahan IklimGlobal | 2 DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ...1 DAFTAR ISI...2 BAB I PENDAHULUAN ...3 I.1 Latar Belakang...3 I.2 Rumusan Masalah...4 I.3 Tujuan Masalah...4 BAB II PEMBAHASAN ...5 II.1 Perubahan Iklim...5 II.2 Tanda-tanda perubahan iklim global...6 II.3 Faktor-faktor penyebab terjadinya perubahan iklim global...9 II.4 Dampak terjadinya perubahan iklim global...16 II.5 Pengendalian perubahan iklim...21 BAB III PENUTUP...26 III.1 Kesimpulan...26 III.2 Saran...27 DAFTAR PUSTAKAN...28

(2)

4. 4. Kelompok VI – Perubahan IklimGlobal | 4 I.2 Rumusan Masalah Masalah yang dirumuskan dalam makalah ini adalah masalah perubahan iklim global dan apa dampaknya bagi manusia. Rumusan masalah secara lebih rinci dijelaskan sebagai berikut : 1. Apakah yang di maksud dengan Perubahan Iklim ? 2. Apakah tanda-tanda perubahan iklim global ? 3. Apakah faktor-faktor penyebab terjadinya perubahan iklim global ? 4. Apakah dampak dari perubahan iklim global ? 5. Bagaimanakah pengendalian perubahan iklim ? I.3 Tujuan Masalah Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah agar mahasiswa dapat : 1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan Perubahan Iklim 2. Mengetahui tanda-tanda perubahan iklim global 3. Mengetahui faktor-faktor penyebab terjadinya perubahan iklim global 4. Mengetahui dampak dari perubahan iklim global 5. Mengetahui bagaimana cara pengendalian perubahan iklim

5. 5. Kelompok VI – Perubahan IklimGlobal | 5 BAB II PEMBAHASAN II.1 Perubahan Iklim Perubahan iklim menurut Wikipedia adalah perubahan yang terjadi secara signifikan mengenai pola cuaca yang dihitung berdasarkan angka statistik dalam rentang waktu puluhan hingga ratusan tahun lamanya. Banyak faktor yang mempengaruhi terjadi perubahan iklim seperti proses biologis, radiasi sinar matahari, tekanan tektonik, erupsi gunung berapi, dan masih banyak lagi. Sedangkan perubahan iklim menurut Enviromental Protection Agency (EPA) adalah perubahan iklim secara signifikan yang terjadi pada periode waktu tertentu. Dengan kata lain, perubahan iklim juga bisa diartikan sebagai perubahan suhu yang drastis, curah hujan, pola angin, dan lain sebagainya. Perlu diketahui bahwa suhu bumi berubah satu derajat dalam tempo 100 tahun terakhir. Pengertian perubahan iklim menurut situs Pemerintah Kanada adalah perubahan kondisi cuaca dalam kurun waktu yang relatif panjang di dalam temperatur/suhu, curah hujan, angin dan juga indikasi-indikasi lainnya. Perubahan iklim termasuk juga perubahan kondisi rata-rata (yang umumnya terjadi) atau perubahan di dalam variabelnya misalnya seperti kejadian-kejadian ekstrem. Kejadian-kejadian luar bisa tersebut mungkin tidak ada sebelumnya dan kondisi alam tar kinilah yang menyebabkan semua itu terjadi. Definisi perubahan iklim menurut situs Pemerintah Victoria, Australia adalah berubahnya iklim yang ada di bumi ini dalam satu abad ke belakang ini. Meningkatnya suhu / temperatur udara di bumi ini merupakan bukti kuat dan nyata bahwa iklim di bumi ini sedang dalam perubahan. Sama halnya dengan pemanasan global, perubahan iklim juga merupakan

(3)

mencapai swasembada beras sejak 1984, terpaksa mengimpor beras dari India, Thailand dan Korea Selatan seharga Rp 200 miliar. Tanda-tanda perubahan iklim juga terlihat pada kondisi beberapa pulau di Kalimantan Timur, khususnya di pulau Tarakan. Udara yang semakin panas serta sulitnya mendapatkan air bersih dirasakan oleh seluruh penduduk Tarakan yang mayoritas bermukim di kawasan pesisir. Tidak hanya itu, kawasan hutan lindung di Tarakan sudah melebihi dari 30 persen

7. 7. Kelompok VI – Perubahan IklimGlobal | 7 yang diprogramkan pemerintah kota. Namun hal tersebut baru sebatas luas kawasannya, bukan pada keberadaan hutannya. Kawasan hutan pantai juga sudah mulai hilang perlahan dan digantikan sebagai lahan aktifitas manusia sehingga ikut menyebabkan perubahan iklim. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mengevaluasi hubungan antara manifes kesehatan dan pajanan oleh perubahan curah hujan, ketersediaan, dan kualitas air: 1. Hubungan antara ketersediaan air, akses air bersih di perumahan dan beban kesehatan akibat penyakit diare. 2. Peran curah hujan ekstrem (lebatnya curah hujan dan kekeringan) dalam memfasilitasi kejadian luar biasa Water Bone disease lewat suplai air lewat jaringan pipa ataupun air permukaan 3. Efek suhu dan runoff dengan kontaminasi bahan kimia dan mikrobiologi pada ari pantai, tempat rekreasi, dan air permukaan. 4. Efek langsung suhu pada insiden diare Hoetomo menyebutkan bahwa perubahan iklim di Indonesia ditandai oleh munculnya musim kemarau yang berkepanjangan yang mengakibatkan terjadinya kekeringan dan meningkatnya potensi kebakaran hutan. Namun saat memasuki musim penghujan, turunnya hujan berlangsung lebih cepat dengan intensitas curah hujan yang tinggi yang mengakibatkan banjir dan tanah longsor. Pemanasan yang terjadi pada sistem iklim bumi merupakan hal yang jelas terasa, seiring dengan banyaknya bukti dari pengamatan kenaikan temperatur udara dan laut, pencairan salju dan es di berbagai tempat di dunia, dan naiknya permukaan laut global. Secara langsung maupun tidak langsung, angin dan awan di permukaan bumi terkait dengan matahari. Panas dari matahari memproduksi perbedaan temperatur, yang mengarahkan pada perbedaan temperatur. Dan angin selalu bergerak dari tekanan tinggi ke rendah.

(4)

penyimpangan, variasi dan keadaan atau nilai-nilai yang ekstrim juga mempunyai arti penting. Indonesia mempunyai karakteristik khusus, baik dilihat dari posisi, maupun ke beradaannya, sehingga mempunyai karakteristik iklim yang spesifik.

9. 9. Kelompok VI – Perubahan IklimGlobal | 9 II.3 Faktor-faktor penyebab terjadinya perubahan iklim global 1. Para ahli menyatakan bahwa penyebab utama terjadinya perubahan iklim adalah terjadinya pemanasan global akibat gas rumah kaca (GRK). Hal yang menyebabkan emisi GRK menjadi masalah yang besar adalah karena dalam jangka panjang, bumi harus melepaskan energi dengan laju yang sama ketika bumi menerima energi dari matahari. Selubung GRK yang lebih tebal akan membantu untuk mengurangi hilangnya energi ke angkasa, sehingga sistem iklim harus menyesuaikan diri untuk mengembalikan keseimbangan antara energi yang masuk dan energi yang keluar. Proses ini disebut sebagai “efek GRK yang semakin besar”. Meningkatnya pemanasan, sebelas dari dua belas tahun terakhir merupakan tahun-tahun terhangat dalam temperatur permukaan global sejak 1850. Tingkat pemanasan rata-rata selama lima puluh tahun terakhir hampir dua kali lipat dari rata-rata seratus tahun terakhir. Temperatur rata-rata global naik sebesar 0.74°C selama abad ke-20, Diana pemanasan lebih dirasakan pada daerah daratan daripada lautan. 2. Jumlah karbondioksida yang lebih banyak di atmosfer Karbondioksida adalah penyebab palang dominan terhadap adanya perubahan Lim saat ini dan konsentrasinya di atmosfer telah naik dari masa pra-industri yaitu 278 ppm (parts-permillion) menjadi 379 ppm pada tahun 2005 3. Lebih banyak air, tetapi penyebarannya tidak merata Adanya peningkatan presipitasi pada beberapa dekade terakhir telah diamati di bagian Timur Amerika Utara dan Amerika Selatan, Eropa Utara, Asia Utara serta Asia Tengah. Akan tetapi pada daerah Sahel, Mediteranian, Afrika Selatan dan sebagian Asia Selatan mengalami pengurangan presipitasi. Sejak tahun 1970 telah terjadi kekeringan yang lebih kuat dan lebih lama.

(5)

11.11. Kelompok VI – Perubahan IklimGlobal | 11 9. Iklim menyesuaikan diri terhadap selubung GRK yang lebih tebal dengan “pemanasan global” pada permukaan bumi dan atmosfer bagian bawah. Kenaikan temperatur tersebut diikuti oleh perubahan-perubahan lain, seperti tutupan awan dan pola angin. Beberapa perubahan ini dapat mendukung terjadinya pemanasan (timbal balik positif), sedangkan yang lainnya melakukan hal yang berlawanan (timbal balik negatif). Berbagai interaksi tersebut sangat menyulitkan para ahli untuk menentukan secara tepat bagaimana iklim akan berubah dalam beberapa dekade ke depan. 10. Penggunaan lahan dan berubahnya vegetasi alami juga ikut berkontribusi menyebabkan perubahan iklim. Perubahan vegetasi menyebabkan variasi karakteristik permukaan bumi seperti albedo (kemampuan memantulkan) dan roughness (ketinggian vegetasi) mempengaruhi keseimbangan energi permukaan bumi lewat gangguan evapotranspirasi. Selain itu, perubahan vegetasi juga dapat mempengaruhi suhu, laju presipitasi, dan curah hujan di suatu regional. Perubahan iklim pada hakikatnya adalah sebuah keniscayaan. Iklim bumi bersifat dinamis dan senantiasa berubah melalui siklus alamiah. Perubahan ini dapat dideteksi dan diteliti oleh para pakar melalui bukti-bukti ilmiah yang tersimpan dalam lingkaran-lingkaran kambium pohon, inti lapisan es dan endapan lautan. Nyata sekali bahwa perubahan iklim dewasa ini nampak memiliki sebuah kecenderungan yang bersifat konstan, yakni meningkatnya temperatur global. Pada Februari 2007, IPCC mengumumkan temuannya yang menyatakan secara konklusif bahwa: 1. Pemanasan global sedang terjadi 2. Peningkatan temperatur global adalah dampak dari aktifitas manusia 3. Dengan tren yang ada sekarang, temperatur yang bersifat ekstrem, gelombang panas, dan hujan lebat akan terus mengalami peningkatan frekuensi. Temperatur bumi dan lautan akan terus meningkat dalam milenium selanjutnya.

12.12. Kelompok VI – Perubahan IklimGlobal | 12 Mengapa aktivitas manusia menjadi penyebab utama perubahan iklim? Jawabannya terletak pada efek gas rumah kaca (GERK). Aktivitas atau kegiatan manusia yang menjadi sumber meningkatnya gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global adalah sebagai berikut: 1. Peternakan Kegiatan peternakan, seperti: pemeliharaan ayam, sapi, babi, dan hewan-hewan ternak lainnya. Kegiatan peternakan memberi sumbangan pemanasan global sekitar 18%. Dalam laporan PBB (FAO) yang berjudul Livestock's Long Shadow: Enviromental Issues and Options (Dirilis bulan November 2006), PBB mencatat bahwa industri peternakan adalah penghasil emisi gas rumah kaca yang terbesar (18%), jumlah ini lebih banyak dari gabungan emisi gas rumah kaca seluruh transportasi di seluruh dunia (13%). Emisi gas rumah kaca industri peternakan meliputi 9 % karbon dioksida, 37% gas metana (efek pemanasannya 72 kali lebih kuat dari CO2), 65 % nitro oksida (efek pemanasan 296 kali lebih kuat dari CO2), serta 64% amonia penyebab hujan asam. Peternakan menyita 30% dari seluruh permukaan tanah kering di Bumi dan 33% dari area tanah yang subur dijadikan ladang untuk menanam pakan ternak. Peternakan juga penyebab dari 80% penggundulan Hutan Amazon. Sedangkan laporan yang baru saja dirilis World Watch Institut menyatakan bahwa peternakan bertanggung jawab atas sedikitnya 51 % dari pemanasan global. 2. Pembangkit Energi Sektor energi merupakan sumber penting gas rumah kaca, khususnya karena energi dihasilkan dari bahan bakar fosil, seperti minyak, gas, dan batu bara, di mana batu bara banyak digunakan untuk menghasilkan listrik. Sumbangan sektor energi terhadap emisi gas rumah kaca mencapai 25,9%.

(6)

transportasi darat (79,5%), disusul kemudian oleh transportasi udara (13%), transportasi laut (7%), dan terakhir kereta api (0,5%). 4. Industri Gas buangan industri, penggunaan bahan bakar fosil memberikan sumbangan terhadap emisi gas rumah kaca mencapai 19,4%. Sebagian besar sumbangan kegiatan industri berasal dari penggunaan bahan bakar fosil untuk menghasilkan listrik atau dari produksi C02secara langsung sebagai bagian dari pemrosesannya, misalnya saja dalam produksi semen. Hampir semua emisi gas rumah kaca dari sektor ini berasal dari industri besi, baja, kimia, pupuk, semen, kaca dan keramik, serta kertas. 5. Alih Fungsi Hutan Penebangan hutan yang menyebabkan penyerapan CO2 oleh tumbuhan berkurang ,karena CO2 adalah bahan baku dalam proses fotosintesis (illegal logging, pabrik kertas, furniture berbahan dasar kayu, ekspor kayu, dsbnya). Kebakaran hutan, selain memiliki dampak yang sama dengan penebangan hutan, pembakaran hutan juga melepaskan CO2 hasil pembakaran (pembukaan lahan baru, pembukaan lahan pertanian, dsbnya). Alih fungsi lahan hutan akibat penebangan ataupun kebakaran tersebut menjadi penyumbangan emisi GRK sebesar 17.4%. 6. Kegiatan Pertanian Kegiatan pertanian memberi sumbangan terhadap emisi gas rumah kaca sebesar 13,5%. Sumber emisi gas rumah kaca pertama-

14.14. Kelompok VI – Perubahan IklimGlobal | 14 tama berasal dari pengerjaan tanah dan pembukaan hutan. Selanjutnya, berasal dari penggunaan bahan bakar fosil untuk pembuatan pupuk dan zat kimia lain. Penggunaan mesin dalam pembajakan, penyemaian, penyemprotan, dan pemanenan menyumbang banyak gas rumah kaca. Yang terakhir, emisi GRK berasal dari pengangkutan hasil panen dari lahan pertanian ke pasar. 7. Hunian dan Bangunan Komersial Hunian dan bangunan bertanggung jawab sebesar 7,9%. Namun, bila dipandang dari penggunaan energi, maka hunian dan bangunan komersial bisa menjadi sumber emisi gas rumah kaca yang besar. Misalnya saja dalam penggunaan listrik untuk menghangatkan dan mendinginkan ruangan, pencahayaan, penggunaan alat-alat rumah tangga, maka sumbangan sektor hunian dan bangunan bisa mencapai 30%. Konstruksi bangunan juga mempengaruhi tingkat emisi GRK. Sebagai contohnya, semen, menyumbang 5% emisi GRK. 8. Sampah Limbah sampah menyumbang 3,6% emisi gas rumah kaca. Sampah yang dimaksud bisa berasal dari sampah yang menumpuk di Tempat Pembuangan Sampah (2%) atau dari air limbah atau jenis limbah lainnya (1,6%). Gas rumah kaca yang berperan terutama adalah metana, yang berasal dari proses pembusukan sampah tersebut. Pemanfaatan energi secara berlebihan, terutama energi fosil, merupakan penyebab utama terjadinya perubahan iklim secara global. Revolusi Industri di abad 19 memulai penggunaan bahan bakar secara besar-besaran untuk aktivitas industri. Industri-industri tersebut menciptakan lapangan pekerjaan dan memicu relokasi penduduk dari desa ke kota. Tren ini bahkan berlanjut sampai sekarang. Lahan yang tadinya hijau terus diratakan untuk menyediakan tanah bagi perumahan. Sumber daya alam yang ada

(7)

namun pantulan radiasi tersebut oleh permukaan bumi terperangkap oleh gas-gas rumah kaca tadi. Selanjutnya, lapisan bawah atmosfer bumi secara lambat tapi pasti, mengalami peningkatan temperatur. Sejatinya, efek rumah kaca seperti ini adalah sebuah proses alamiah yang penting demi memungkinkan kehidupan di atas bumi. Tanpanya, bumi akan menjadi sebuah tempat yang tak mungkin ditinggali oleh sebagian besar makhluk hidup yang ada sekarang. Masalahnya terletak pada manusia yang menyebabkan peningkatan pemanasan global melalui emisi GRK ke atmosfer bumi. Inilah yang mengubah keseimbangan alami efek rumah kaca. Semakin banyak gas rumah kaca yang diproduksi, semakin banyak radiasi matahari yang “terperangkap” di lapisan atmosfer kita. Fenomena inilah yang sekarang sedang terjadi yaitu pemanasan global pada lapisan bawah atmosfer karena terus meningkatnya akumulasi emisi gas rumah kaca.

16.16. Kelompok VI – Perubahan IklimGlobal | 16 II.4 Dampak terjadinya perubahan iklim global Perubahan iklim dapat mempengaruhi banyak hal, seperti di jelaskan di bawah ini. 1. Kondisi perubahan iklim global yang terjadi saat ini telah menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat luas dengan munculnya krisis persediaan makanan akibat tingginya potensi gagal panen, krisis air bersih dan meluasnya penyebaran penyakit tropis, malaria, demam berdarah dan diare. 2. Ketika perubahan iklim datang, maka kesehatan manusia akan berada dalam ketidakpastian waktu. Kasus bisa terjadi sewaktu-waktu dengan kuantitas dan kualitas dampak yang juga tidak dapat dipastikan. Sistem pelayanan kesehatan akan menemui berbagai macam tantangan yang rumit seperti naiknya biaya pelayanan kesehatan, komunitas yang mengalami penuaan dini, dan berbagai tantangan lainnya sehingga strategi pencegahan yang efektif sangat dibutuhkan. 3. Aktivitas antropogenik lain, di antaranya adalah bencana alam yang dapat terjadi karena perubahan vegetasi di antaranya adalah banjir, munculnya heatstroke akibat gelombang panas yang tidak diserap karena hilangnya vegetasi alami, tsunami, keseringan All. Peningkatan permukaan air laut ini menyebabkan tenggelamnya beberapa daerah presisi dan pulau-pulau kecil, termasuk di Indonesia. 4. Selain itu, tambah Hoetomo, perubahan iklim juga menyebabkan hilangnya jutaan spesies flora dan fauna karena tidak dapat beradaptasi dengan kondisi perubahan suhu. 5. Perubahan iklim juga menyebabkan kemunculan dini musim semi serbuk sari di belahan bumi utara. Sangat beralasan jika menyimpulkan bahwa penyakit alargen disebabkan oleh serbuk sari seperti alergi rinitis seiring ditemuinya kejadian tersebut bersamaan dengan perubahan musim tersebut. 6. Perubahan iklim dapat mengubah kualitas air, udara, makanan; ekologi vektor; ekosistem, pertanian, industri, dan perumahan. Semua aspek tersebut memiliki peranan yang sangat besar dalam menentukan kualitas

(8)

laut Amerika, ditemukan bukti respons genetik (mikro evolusioner) dari spesies nyamuk Wyeomia smithii untuk meningkatkan jumlah mereka dan mereka dalam dua dekade ini muncul di musim semi lebih awal. Walaupun spesies itu bukan merupakan vektor yang dapat menyebarkan penyakit ke manusia, tetapi spesies ini memiliki hubungan yang dekat dengan spesies vektor arbovirus lainnya yang dimungkinkan mengalami perubahan/evolusi genetis juga. Selain itu perubahan distribusi geografis vektor sandfly dilaporkan terjadi di Eropa Selatan. Akan tetapi, belum ada penelitian yang spesifik meneliti kausa perubahan distribusi tersebut. Virus berbasis vektor lainnya yang paling menjadi pusat perhatian seluruh dunia dalang dengue. Beberapa penelitian melaporkan bahwa ada hubungan antara kondisi spasial temporal, atau pola spasiotemporal terhadap dengue dan iklim. Telah diketahui bahwa curah hujan yang tinggi serta suhu yang hangat dapat meningkatkan transmisi virus ini. Akan tetapi, diketahui juga bahwa kasus dapat terjadi dalam jumlah yang sama di musim kemarau asal terdapat

18.18. Kelompok VI – Perubahan IklimGlobal | 18 cukup tempat penyimpanan air yang desibel menjadi breeding site nyamuk (Confalonieri dik, 2007: 403). 8. Dampak di masa depan. Banyak sistem alam, pada semua benua dan di beberapa lautan, terpengaruh oleh perubahan iklim regional terutama adanya kenaikan temperatur. a. Komunitas komunitas yang kurang mampu adalah yang paling rentan terhadap dampak dari perubahan iklim b. Tinggi muka laut rata-rata global diproyeksikan naik sebesar 28-58 cm akibat adanya perluasan lautan dan pencairan gletser pada akhir abad ke 21 (dibandingkan dengan tinggi muka laut pada 1989 – 1999) c. 20-30% spesies akan menghadapi resik kepunahan lebih besar d. Akan terjadi gelombang panas yang lebih kuat, pola-pola angin baru, kekeringan yang semakin parah di beberapa daerah dan bertambahnya presipitasi di daerah lainnya 9. Dampak regional. Akan sangat sulit untuk mengantisipasi perubahan iklim pada skala regional daripada skala global. Namun, telah dilakukan langkah- langkah untuk itu, dan para ahli telah menyimpulkan beberapa hal sebagai berikut. a. Afrika Sangat rentan terhadap perubahan iklim dan variabilitas iklim karena banyaknya kelaparan, kelembagaan yang lemah, bencana, dan konflik. Kekeringan telah menyebar dan semakin intensif terjadi sejak tahun 1970, dan daerah Sahel serta Afrika Selatan kini menjadi lebih kering selam abad ke-20. Ketersediaan air dan produksi agrikultur sangat terancam oleh keadaan ini. Basil panen di beberapa negara Afrika dapat turun hingga 50% pada 2020, dan beberapa daerah pertanian besar akan terpaksa berhenti berproduksi. Hutan, Padang rumput, dan ekosistem alami lainnya telah berubah, terutama di bagian Selatan Afrika. Kemudian pada

(9)

lembah sungai-sungai besar pada 2050. Pencairan gletser di Himalaya, yang diprediksi akan meningkatkan kejadian banjir dan longsor, akan mempengaruhi sumber daya air pada dua hingga tiga dekade ke depan. Daerah pantai, terutama daerah mega-delta region yang padat penduduk, akan berisiko terkena banjir akibat kenaikan muka laut, dan juga dari luapan sungai.

20.20. Kelompok VI – Perubahan IklimGlobal | 20 e. Australia dan New Zealand Meningkatnya tekanan dalam ketersediaan air dan pertanian, ekosistem alami yang berubah, tutupan salju Muslimah yang semakin berkurang dan berkurangnya gletser. Selama beberapa dekade terakhir telah terjadi lebih banyak gelombang panas (heat waves), sedikit hujan es dan lebih banyak hujan di bagian barat laut Australia dan barat daya New Zealand; sedikit hujan di bagian selatan dan timur Australia serta timur laut New Zealand; dan peningkatan intensitas kekeringan Australia. Iklim pada abad ke-21 akan lebih padas dengan frekuensi dan intensitas gelombang panas, kebakaran, banjir, tanah longsor, kekeringan dan storm surge yang lebih besar. f. Eropa Gletser dan es abadi mulai mencair, musim tanam menjadi semakin panjang dan cuaca ekstern – seperti gelombang panas besar tahun 2003 – lebih sering terjadi. Para peneliti mengatakan bahwa bagian utara Eropa akan mengalami musim dingin yang lebih hangat, presipitasi yang lebih besar, meluasnya hutan dan produktivitas pertanian yang lebih besar, sedangkan bagian selatan Eropa (di dekat Mediteranian) akan mengalami musim panas yang lebih panas, pengurangan presipitasi, lebih banyak kekeringan, pengurangan luas hutan dan penurunan produktivitas pertanian. Eropa banyak terdiri dari daerah dataran rendah dekat pantai yang sangat rentan terhadap naiknya muka laut, dan banyak tumbuhan, reptil, amfibi, serta spesies lainnya akan terancam pindah pada akhir abad ini. g. Amerika Latin Hutan tropis di bagian timur Amazon dan bagian selatan serta Meksiko tengah diprediksi akan berubah menjadi savana. Sebagian daerah bagian timur laut Brazil serta sebagian besar Meksiko tengah dan utara akan menjadi lebih kering (arid)

21.21. Kelompok VI – Perubahan IklimGlobal | 21 disebabkan oleh kombinasi antara perubahan iklim dan manajemen lahan oleh manusia. Pada 2050, 50% dari lahan pertanian diperkirakan akan perlahan berubah menjadi gurun dan mengalami salinitas. h. Amerika utara Perubahan iklim akan mempengaruhi sumber daya air, sedangkan saat ini sumber ada air telah terdesak oleh kebutuhan penggunaan air dari pertanian, industri, dan kota-kota. Kenaikan temperatur akan lebih lanjut mengurangi jumlah salju di pegunungan dan meningkatkan evaporasi. Sehingga mengubah ketersediaan air musiman. Penurunan muka air danau-danau serta sungai-sungai besar akan mempengaruhi kualitas air, navigasi, rekreasi dan kapasitas pembangkit listrik tenaga air. Kebakaran hutan dan menjangkitnya serangga akan terus berkembang dengan memanasnya bumi dan tanah yang kering. Selama abad ke-21, kecenderungan bagi spesies-spesies untuk berpindah ke utara dan ke ketinggian akan menyusun ulang ekosistem Amerika Utara. i. Negara-negara di Pulau Kecil Sangat rentan terhadap perubahan iklim, luasnya yang terbatas mengakibatkan mudah terjadi bencana alam, terutama berkaitan dengan naiknya muka laut dan ancaman terhadap ketersediaan air bersih. II.5 Pengendalian perubahan iklim 1. Metode Pengendalian Perubahan Cuaca dan Iklim di Negara-Negara Berkembang Secara umum, ada tiga cara yang mulai dikembangkan saat ini untuk mengendalikan karbon, karena karbon adalah domain utama yang menjadi penyebab perubahan iklim. Tiga cara tersebut di antaranya adalah CDM (Clean Development Mechanism), REDD (Reduced Emission from

(10)

Protokol Kyoto. Mekanisme CDM merupakan satu-satunya mekanisme yang melibatkan negara berkembang, di mana negara maju dapat menurunkan emisi gas rumah kacanya dengan mengembangkan proyek ramah lingkungan di negara berkembang. Mekanisme ini sendiri pada dasarnya merupakan perdagangan karbon, di mana negara berkembang dapat menjual kredit penurunan emisi kepada negara yang memiliki kewajiban untuk menurunkan emisi, yang disebut negara Annex I. Akan tetapi, mekanisme perdagangan kabin ini mengalami tantangan. Almuth Ernsting dalam tulisannya yang berjudul “Reduce Emission From Deforestation: Can Carbon Trading Save Our Ecosystem?” mengemukanan fakta bawah dana hasi CDM memang dialokasikan untuk reboisasi. Akan tetapi, reboisasi yang dilakukan tidak benar-benar dapat mengembalikan ekosistem yang rusak. Selama ini reboisasi yang dilakukan menggunakan monokultur-tree Plantation yang artinya dilakukan penanaman kembali lahan yang gundul dengan satu jenis bibit pohon. Hal tersebut dianggap memberikan efek buruk terhadap lingkungan dan komunitas di sekitar hutan yang rusak karena reboisasi yang dilakukan hanya sekedar menghijaukan, tetapi tidak mampu mengembalikan kualitas ekosistem. Oleh karena itu, dia mengusulka n untuk mengintegrasikan CDM dengan REDD. b. Reduced Emission from Deforestation on Development Country (REDD) REDD adalah cara mereduksi karbon dengan jalan mengatur laju deforestasi. Mekanisme ini sebenarnya tidak mutlak menganggap CMD buruk. Pelaksanaan REDD dapat dilaksanakan bersama dengan pelaksanaan CDM yang sudah berlangsung. Hanya saja, dana hasil CDM sebagian dipisahkan untuk biaya perawatan atau pelestarian hutan yang

23.23. Kelompok VI – Perubahan IklimGlobal | 23 masih ada. Dalam publikasi ilmiah Yan diadakan UNFCCC pada Mei 2007, disebutkan bahwa opsi yang digunakan dikenal dengan sebutan 50- 50-50. Artinya, mengurangi laju deforestasi hingga 50% pada tahun 2050 sambil mempertahankan laju deforestasi pada kisaran tersebut dikalim akan menyelamatkan 50 miliyar ton emisi karbon. Gambaran ini didapat dengan menggunakan Stern Review. Memang, Stern Review tidak merekomendasikan gambaranya nyata apa pun dalam mengurangi laju deforestasi. Akan tetapi, Stern menyatakan bahwa dengan tujuan menstabilkan kadar emisi CO2 pada angka 450 ppm, maka akan dicari cara dekarbonisasi yang cepat dan lengkap lewat emisi energi nontransportasi, menghentikan deforestasi, dan intensifikasi substansi aktivitas penyitaan aset. Dengan mencoba untuk mengendalikan laju deofrestasi amasalh mendasar dari pendekatan bak kritis dapat ditutup. Sementara itu, hasil pertemuan di Bali beberapa bulan yang lalu mengisyaratkan bahwa REDD akan fokus pada penilaian perubahan cakupan hutan dan kaitannya dengan emisi gas rumah kaca, metode pengurangan emisi dari deforestasi, dan perkiraan jumlah pengurangan emisi dari deforestasi. Deforestasi dianggap sebagai komponen penting dalam perubahan iklim sampai 2012. Untuk pelaksanaan praktisnya masih belum disepakati. Isu ini diagendakan untuk dibahas di pertemuan selanjutnya yang disebut Bada Tambahan untuk Saran Inlimah dan Teknis di Bonn, Jerman, pada tahun 2008. c. Carbon Capture and Storage (CCS) CCS adalah satu cara mengurangi emisi karbon dengan jalan menyuntikkan karbon dioksida ke perut bumi. Metode ini membutuhkan ruang kosong di perut bumi, bisa juga menggunakan sumur-sumur gas dan minyak bumi yang sudah mengering. Akan tetapi, kendala penerapan teknologi ini adalah mahalnya biaya investasi dan tidak semua orang bisa melakukan transfer teknologi walaupun untuk Indonesia teknologi tersebut mampu mengurangi emisi karbon hingga 20% pada tahun 2005.

(11)

persen dari level tahun 2000 (2000 levels) pada tahun 2050. Hal ini dapat membatasi peningkatan temperatur rata-rata global pada 2.8-3.2°C. jika masih terjadi peningkatan gas CO2 setelah tahun 2030, pemanasan akan terus meningkat. Sebagai perbandingan pada tahun 2000, level GRK sekitar 379 ppm. Efforts dari mitigasi perubahan iklim akan dirasakan lebih dari 2 - 3 dekade mendatang. Mitigasi ini sangat menetukan dan berpengaruh secara luas terhadap peningkatan suhu rata-rata global dan dampak terjadinya perubahan iklim dapat dihindari. Sebaiknya peraturan perubahan iklim didesign sebagai bagian atau persel pembangunan berkelanjutan dan IPCC akan menkonfirmasi bahwa pembangunan berkelanjutan dapat mengurangi emisi GRK dan mengurangi pengaruh- pengaruh dari perubahan iklim. Menyebarluaskan teknologi ramah iklim sangatlah mendesak. Dalam mitigasi perubahan iklim, kehadiran clean teknologi dibutuhkan untuk secara bertahap diterapkan dan disebarluaskan oleh sektor-sektor swasta, termasuk kerja sama teknologi antara industri-industri dan negara-negara berkembang, serta pengembangan akan inovasi dan teknologi terbaru uang berkelanjutan sangatlah diperlukan. 2. Metode Pengendalian Perubahan Cuaca dan Iklim di Indonesia Hoetomo sependapat jika masyarakat diajak dan disadarkan kembali untuk meyesuaikan diri terkait dengan perubahan iklim, agar Amu meminimalisasi dampak yang telah terjadi dan mengantisipasi risiko sekaligus mengurangi biasa yang harus dikeluarkan. Dalam usaha mengurangi efek rumah kaca dan memperlambat laju pemanasan global. Sebaiknya masyarakat kita gemar menanam pohon dan menggunakan tanaman hidup sebagai pagar rumah, harapnya.

25.25. Kelompok VI – Perubahan IklimGlobal | 25 Dirinya menyarankan, pemerintah segera melakukan aksi nasional dalam menghadapi perubahan iklim global ini dengan melakukan kegiatan mitigasi dan adaptasi. Kegiatan mitigasi dilakukan di sektor energi, sektor pemanfaatan lahan dan hutan, serta di sektor kelautan dan perikanan. Manfaat dari mitagi ini untuk meningkatkan kemampuan sumber daya hutan dan lahan di daerah pesisir pantai untuk menyerap karbon sehingga mengurangi efek gas rumah kaca. Mitigasi dengan era menanam mangrove dan vegetasi pantai, melakukan rehabilitasi terumbu karang melalaui transplantasi terumbu buatan. Selain itu, Menambah luas wilayah konservasi laut menjadi 9,5 juta hektar, katanya. Sementara bentuk adaptasi dilakukan oleh sektor sumber daya air, sektor pertanian, kelautan, pesisir dan perikanan, sektor infrastruktur, sektor kesehatan, sektor kehutanan. Dengan menerapkan kebijakan ketak mengenai perubahan iklim, pemerintah dapat memperlambat dan menurunkan tren emisi dari GRK ini, dan juga menstabilkan tingkat kandungan dari GRK ini di atmosfer. Sebagai contohnya, menstabilkan GRK pada 445-490 ppm da merupakan target yang paling ambisius. Untuk dapat mencapai target tersebut pada tahun 2015 tidak ada lagi peningkatan gas CO2. Hal ini akan menurunkan 50-85 persen dari level tahun 2000 (2000 levels) pada tahun 2050. Hal ini dapat membatasi peningkatan temperatur rata-rata global pada 2-2.4°C pare- industrial levels.

(12)

penyesuaian iklim terhadap selubung gas rumah kaca, dan penggunaan lahan serta perubahan vegetasi alam. 4. Dampak perubahan iklim global berupa krisis persediaan makan, kesehatan manusia akan berada dalam ketidakpastian, bencana alam, hilangnya jutaan spesies flora dan fauna, timbulnya penyakit atau alergi, perubahan kualitas air, udara, dan makanan, dan ada pula dampak pada masa depan, serta dampak regional di setiap benua. 5. Pengendalian terhadap perubahan iklim secara umum yang di gunakan adalah metode Clean Development Mechanism (CDM), Reduced Emission from Deforestation on Development Country (REDD), serta Carbon Capture Storage (CCS)

27.27. Kelompok VI – Perubahan IklimGlobal | 27 III.2 Saran a. Masyarakat pada umumnya diharapkan agar mampu menjaga lingkungannya agar mampu menyelamatkan bumi meski dengan hal-hal kecil, seperti membuang sampah pada tempatnya, tidak menggunakan produk yang tidak ramah lingkungan, menanam pohon, dan lainnya. b. Pemerintah diharapkan agar lebih proaktif dalam upaya pelestarian lingkungan dengan menciptakan program-program yang berwawasan lingkungan, seperti penanaman pohon massal, revitalisasi terumbu karang, atau memberikan izin ketat bahkan bila perlu melarang kegiatan-kegiatan yang dikhawatirkan merusak lingkungan, seperti penambangan liar, dan sebagainya. c. Sekolah sebagai lembaga pendidikan hendaknya bersama-sama menciptakan kawasan pendidikan berbasis lingkungan dan kurikulum berbasis lingkungan, serta mengajak siswa-siswinya untuk mencintai lingkungan, dalam hal ini lingkungan sekolahnya seperti mengajarkan siswa untuk membuang sampah pada tempatnya, meminimalisir penggunaan kemasan makanan berbungkus plastik, mendaur ulang sampah menjadi barang kerajinan yang bernilai ekonomi tinggi, dan lainnya. d. Lembaga-lembaga terkait diharapkan agar ikut membantu upaya pemerintah dalam pelestarian lingkungan serta mengajak masyarakat mencintai lingkungannya seperti mengadakan program penanaman sejuta pohon, mengadakan pelatihan wirausaha pembuatan bahan bakar non-fosil atau kerajinan barang-barang hasil daur ulang, penanaman bakau, dan lain sebagainya.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...