Sintesis Zeolit X Dan Nanokomposit Zeolit/TiO2 Dari Kaolin Dengan Sekam Padi Sebagai Sumber Silika

46  14  Download (2)

Teks penuh

(1)

SINTESIS ZEOLIT X DAN NANOKOMPOSIT ZEOLIT/TiO

2

DARI KAOLIN DENGAN SEKAM PADI SEBAGAI SUMBER

SILIKA

LINDA TRIVANA

DEPARTEMEN KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)
(3)

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER

INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Sintesis Zeolit X dan Nanokomposit Zeolit/TiO2 dari Kaolin dengan Sekam Padi sebagai Sumber Silika adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir disertasi ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

Bogor, Februari 2013

Linda Trivana

(4)
(5)

ABSTRAK

LINDA TRIVANA. Sintesis Zeolit X dan Nanokomposit Zeolit/TiO2 dari Kaolin dengan Sekam Padi sebagai Sumber Silika. Dibimbing oleh SRI SUGIARTI dan ETI ROHAETI.

Pada penelitian ini dilakukan sintesis zeolit X dari kaolin Bangka Belitung sebagai bahan baku dan abu sekam padi sebagai sumber silika tambahan. Zeolit X disintesis karena memiliki berbagai manfaat, salah satunya sebagai adsorben. Kaolin digunakan sebagai bahan baku karena memiliki kandungan silika dan alumina yang tinggi, yaitu 48.03% dan 35.50%, sedangkan abu sekam padi sebagai sumber silika berupa natrium silikat. Zeolit disintesis dengan proses hidrotermal, dengan mencampurkan metakaolin hasil kalsinasi kaolin pada suhu 700 °C selama 6 jam, natrium silikat, dan NaOH untuk mengaktivasi komponen utama Si dan Al pada kaolin dalam botol polipropilena. Proses hidrotermal dilakukan pada suhu 100 °C selama 24 jam dengan konsentrasi NaOH 1.5 N dan 2.5 N karena konsentrasi NaOH yang digunakan menentukan jenis zeolit yang diperoleh. Zeolit X diperoleh pada penambahan NaOH 2.5 N dengan pengotor zeolit NaP1 dan faujasite, sedangkan pada NaOH 1.5 N diperoleh zeolit NaP1. Zeolit dimodifikasi menjadi nanokomposit zeolit/TiO2 terbukti memiliki kemampuan yang lebih baik, yaitu adsorpsi-fotokatalis karena mampu mendegradasi biru metilena di bawah sinar ultraviolet.

Kata kunci: hidrotermal, kaolin, sekam padi, silika, zeolit X

ABSTRACT

LINDA TRIVANA. Synthesis of Zeolite X and Nanocomposite Zeolite/TiO2 from Kaolin with Silica Addition from Rice Husk. Supervised by SRI SUGIARTI dan ETI ROHAETI.

Zeolite X was synthesized from kaolin originated from Bangka Belitung and was added with silica from rice husk ash. Zeolite X was synthesized because it has many benefits, including as an adsorbent. Kaolin was used as raw material due to its high content of silica and alumina, which were 48.03% and 35.50% respectively. Meanwhile, silica from rice husk ash was used in the form of sodium silicate. Zeolite was synthesized through hydrothermal process inside a polypropylene bottles, by mixing metakaolin, the calcined form of kaolin heated at 700 °C for 6 hours, with sodium silicate and NaOH to activate the major components of Si and Al in the kaolin. Hydrothermal processes were carried out at 100 °C for 24 hours with NaOH concentrations of 1.5 N and 2.5 N. The concentration of NaOH used was resulted in certain type of zeolite obtained. Zeolite X was obtained when the addition 2.5 N NaOH with NaP1 and Faujasite as impurities. On the other hand, NaOH 1.5 N gave NaP1 zeolite. Modification of zeolite to nanocomposite zeolit/TiO2 was shown to have better capability, that was adsorption-photocatalytic property due to its ability to degrade methylene blue under ultraviolet light.

(6)
(7)
(8)
(9)

SINTESIS ZEOLIT X DAN NANOKOMPOSIT ZEOLIT/TiO

2

DARI KAOLIN DENGAN SEKAM PADI SEBAGAI SUMBER

SILIKA

LINDA TRIVANA

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sains

pada

Departemen Kimia

DEPARTEMEN KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(10)
(11)

Judul Skripsi : Sintesis Zeolit X Dan Nanokomposit Zeolit/TiO2 Dari Kaolin Dengan Sekam Padi Sebagai Sumber Silika

Nama : Linda Trivana

NIM : G44080075

Disetujui oleh

Sri Sugiarti, PhD Dr Eti Rohaeti, MS

Pembimbing I Pembimbing II

Diketahui oleh

Prof Dr Ir Tun Tedja Irawadi, MS Ketua Departemen Kimia

(12)
(13)

PRAKATA

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT sehingga penulis bisa menyelesaikan karya ilmiah ini. Penelitian ini dimulai dari bulan Februari sampai Juli 2012 bertempat di Laboratorium Kimia Anorganik dan Laboratorium Bersama, Departemen Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu Sri Sugiarti, Ph.D selaku pembimbing satu dan Ibu Dr Eti Rohaeti, MS selaku pembimbing dua atas bimbingan yang diberikan kepada penulis selama penelitian dan penyusunan karya ilmiah ini dan kepada Ibu, Ayah, dan Kakak-kakak saya yang selalu memberi doa, dukungan moral dan materi kepada penulis dalam menyelesaikan penelitian ini. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Pak Syawal, Teh Nurul, Pak Eko, Pak Caca dan Pak Mul selaku laboran yang telah banyak membantu penulis dalam pengerjaan penelitian, serta Pak Dikdik dan Pak Ahmad yang telah membantu dalam analisis sampel zeolit dengan XRD dan SEM-EDX di Balitbang Kehutanan, Bogor.

Ucapan terima kasih kepada Ade Irawan, Indah Mayasari, Ade Evan, Ryna Siahaan, Junaenah, dan Asa Marifa yang telah meluangkan waktunya untuk menemani penulis ketika harus mengerjakan penelitian di malam hari. Ucapan terima kasih juga saya ucapkan kepada Ahmad Sahid Abdillah yang selalu memberikan dukungan dan perhatian kepada penulis selama penelitian.

Bogor, Februari 2013

(14)

viii

DAFTAR ISI

DAFTAR GAMBAR vi

DAFTAR TABEL vi

DAFTAR LAMPIRAN vi

PENDAHULUAN 1

BAHAN DAN METODE 3

Alat dan Bahan 3

Metode Penelitian 3

HASIL DAN PEMBAHASAN 5

Pembuatan dan Pencirian Natrium Silikat 5

Sintesis Zeolit dan Nanokomposit Zeolit/TiO2 7

Pencirian Zeolit dan Nanokomposit Zeolit/TiO2 dengan XRD 9

Pencirian Zeolit dan Nanokomposit Zeolit/TiO2 dengan SEM 10

Pengaruh Konsentrasi NaOH terhadap Kristalinitas Zeolit 13

Penentuan Panjang Gelombang Maksimum 13

Uji Adsorpsi Biru Metilena oleh Zeolit dan Nanokomposit Zeolit/TiO2 14

Isoterm Adsorpsi 14

Uji Fotodegradasi 15

SIMPULAN DAN SARAN 17

Simpulan 17

Saran 18

DAFTAR PUSTAKA 18

(15)

DAFTAR GAMBAR

1 Spektrum FTIR sampel natrium silikat (Na2SiO3) 6

2 Hasil EDX sampel natrium silikat (Na2SiO3) 7

3 Difraktogram sampel metakaolin 8

4 Difraktogram sampel zeolit A dan B 9

5 Difraktogram sampel nanokomposit zeolit/TiO2 10

6 Hasil analisis SEM sampel zeolit A dan B 11

7 Hasil analisis SEM (A) zeolit dan (B) nanokomposit zeolit/TiO2 12 8 Hasil uji fotodegradasi (A) tanpa penyinaran; (B) dengan penyinaran

UV selama 6 jam 16

9 Serapan filtrat nanokomposit zeolit/TiO2 ( ) dengan dan( ) tanpa

penyinaran UV selama 6 jam dan ( ) larutan biru metilena 17

DAFTAR TABEL

1 Perlakuan dalam sintesis zeolit X 4

2 Daerah vibrasi sampel natrium silikat (Na2SiO3) 6

3 Pengaruh konsentrasi NaOH terhadap kristalinitas zeolit 13

4 Nilai kuadrat terkecil (R2) isoterm adsorpsi biru metilena 15

DAFTAR LAMPIRAN

1 Bagan alir penelitian 20

2 Hasil analisis EDX sampel kaolin 21

3 Data sudut 2θ sampel zeolit dan JCPDS 22

4 Data sudut 2θ sampel nanokomposit zeolit/TiO2 dan JCPDS 22

5 Kristalinitas sampel zeolit sintetis 23

(16)

x

8 Kapasitas adsorpsi sampel zeolit B terhadap larutan biru metilena 25 9 Kapasitas adsorpsi nanokomposit zeolit/TiO2 terhadap larutan biru

metilena 25

10Isoterm adsorpsi sampel zeolit A terhadap larutan biru metilena 26 11Isoterm adsorpsi sampel zeolit B terhadap larutan biru metilena 27 12Isoterm adsorpsi sampel nanokomposit zeolit/TiO2 terhadap larutan

biru metilena 28

(17)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Kaolin atau kaolinite termasuk jenis mineral lempungdengan rumus kimia Al2O3·2SiO2·2H2O dan memiliki struktur lapisan 1:1 dengan unit dasar terdiri dari lembaran tetrahedral SiO4 dan lembaran oktahedral dengan Al3+ sebagai kation oktahedral (Murray 2000). Kaolin merupakan masa batuan yang tersusun dari material lempung dengan kandungan besi yang rendah, dan umumnya berwarna putih atau agak keputihan (Bakri 2008). Kaolin dapat ditemukan di alam dalam bentuk kaolinit murni maupun mineral kaolin lain, seperti haloisit, nakrit, maupun dikrit serta mineral lempung lain, seperti smektit, ilit, dan mika sebagai komponen utama serta feldspar dan kuarsa sebagai pengotor (Ekosse 2005). Hasil analisis kandungan mineral kaolin terdiri atas komponen utama silika (SiO2) 48.03% dan alumina (Al2O3) 35.50%, dan oksida-oksida logam dalam jumlah kecil. Kandungan silika dan alumina yang tinggi, memungkinkan kaolin dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku dalam pembentukan kerangka zeolit (Umah S 2010).

Zeolit merupakan mineral yang terdiri atas kristal aluminosilikat terhidrasi yang mengandung kation alkali atau alkali tanah dalam kerangka tiga dimensi (Bekkum 1991). Zeolit ada dua macam, yaitu zeolit alam dan zeolit sintetis. Zeolit sintetis antara lain, zeolit A, X, Y, NaP1, hidroksi sodalit, dan faujasite merupakan zeolit yang dibuat oleh industri untuk mendapatkan sifat tertentu. Zeolit sintetis dikembangkan untuk mengatasi kelemahan dari zeolit alam, seperti banyak mengandung pengotor dan kristalinitasnya yang rendah sehingga mengurangi kemampuannya sebagai adsorben dan katalis, oleh karena itu dilakukan sintesis zeolit untuk memperbaiki sifat-sifat dan mensubstitusi zeolit yang berasal dari alam (Breck 1974).

Zeolit X merupakan salah satu tipe zeolit sintetis, yaitu zeolit yang memiliki diameter super cage 13Å dan diameter β-cage (kerangka sodalit) 6.6Å

dengan diameter pori 7.4Å membentuk struktur tiga dimensi dengan nisbah Si/Al 1.0-1.5 (Thammavong 2003). Zeolit X banyak digunakan untuk komersial, seperti katalis untuk pemecahan rantai hidrokarbon, pembuatan deterjen, pernukar ion logam berat, dan absorben untuk separasi dan proses pemurnian (Thammavong 2003). Pada penelitian ini, zeolit X disintesis dari kaolin dan abu sekam padi sebagai sumber silika yang berupa natrium silikat. Penggunaan abu sekam padi sebagai sumber silika didasari oleh alasan bahwa kandungan silika pada kaolin tidak mencukupi untuk membentuk zeolit X. Selain itu, abu sekam padi memiliki kandungan silika yang tinggi, harganya relatif murah, bersifat amorf, dan tidak sekeras pasir kuarsa sehingga untuk peleburan abu sekam padi tidak memerlukan waktu yang lama dan temperatur yang tinggi (Sriyanti 2005).

(18)

2

masih memerlukan langkah-langkah lanjut sampai limbah aman untuk dilepas ke lingkungan. Kelemahan tersebut dapat diatasi dengan teknik fotodegradasi, yaitu suatu proses penguraian senyawa (biasanya senyawa organik) dengan bantuan energi foton atau cahaya. Keberhasilan metode fotodegradasi bertumpu pada fotokatalis, yaitu bahan padatan yang memiliki sifat semikonduktor, misalnya TiO2, CdS, dan Fe2O3 (Wijaya 2002).

Penelitian sebelumnya, Hediana (2011) berhasil mensintesis nanokomposit sodalit/TiO2 dan terbukti memiliki kemampuan adsorpsi dan fotodegradasi terhadap biru metilena. Selain itu nanokomposit yang dihasilkan tersebut memiliki daya serap yang besar daripada sodalit. Oleh karena itu, hasil penelitian tersebut dapat menjadi sebuah landasan pada penelitian yang kami lakukan, yaitu mensintesis, pencirian, dan penentuan kapasitas adsorpsi zeolit dan nanokomposit zeolit sintetis/TiO2. Zeolit berhasil disintesis dengan proses hidrotermal dan adanya aktivitas fotokatalisis pada sampel nanokomposit zeolit/TiO2 diketahui melalui uji fotodegradasi.

Perumusan Masalah

Keberhasilan sintesis zeolit X ditentukan dengan nisbah Si/Al dan kondisi reaksi yang sesuai, seperti suhu reaksi, waktu reaksi, komposisi kaolin, dan komposisi reagen. Zeolit X memiliki nisbah SiO2/Al2O3 adalah 1.0-1.5. Kondisi untuk sintesis zeolit X yang dilakukan yaitu suhu kalsinasi kaolin menjadi metakaolin 700 ºC selama 6 jam, variasi konsentrasi NaOH (1.5 N dan 2.5 N), Na2SiO3 10%, dan suhu pemeraman 40 ºC dan hidrotermal 100 ºC masing-masing selama 24 jam, pada kondisi tersebut belum adanya laporan atau data yang menunjukkan keberhasilan mensintesis zeolit X.

Kegunaan zeolit X salah satunya sebagai adsorben, dan untuk meningkatkan sifat tersebut maka dilakukan sintesis nanokomposit zeolit X/TiO2 untuk menghasilkan sifat sebagai fotokatalis. Nanokomposit zeolit X/TiO2 disintesis dengan cara melakukan interkalasi zeolit dengan TiO2, yaitu menggantikan kation-kation kecil antar lapisan (Na+) dengan kation logam yang diameternya lebih besar seperti Ti2+. Oksida logam titania ini merupakan material yang sensitif terhadap cahaya dan baik menjadi katalis fotokimia. Keberhasilan nanokomposit zeolit X/TiO2 sebagai fotokatalisis tergantung pada TiO2, yaitu bahan padatan yang memiliki sifat semikonduktor untuk mendegradasi senyawa-senyawa organik.

Tujuan Penelitian

(19)

3

Manfaat Penelitian

Penelitian ini akan mendapatkan informasi cara mengurangi limbah sekam padi melalui pemanfaatan abu sekam padi dalam mensintesis zeolit X sebagai sumber silika, dan membuat zeolit X yang bermanfaat sebagai adsorben serta nanokomposit zeolit/TiO2 sebagai fotokatalis.

Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari sampai Juli 2012 di Laboratorium Anorganik Departemen Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor.

Hipotesis

Sintesis zeolit-X dari bahan dasar kaolin yang sebelumnya diubah terlebih dahulu menjadi metakaolin dan memanfaatkan sekam padi sebagai sumber silika.

BAHAN DAN METODE

Alat dan Bahan

Alat yang digunakan adalah spektrofotometer UV-VIS Shimadzu 1700,

Difraktometer sinar-X Shimadzu XRD-7000, SEM-EDX BRUKER, shaker

Heidolp TITRAMAX 101, sentrifuga HERMLE Labnet, neraca analitik CASIO, oven SANYO DRYING OVEN , tanur Barnstead Termolyne, penyaring vakum, botol polipropilen, lampu UV, dan peralatan kaca.

Bahan-bahan yang digunakan ialah kaolin Bangka Belitung, akuades, serbuk titanium oksida anatase P 25, sekam padi Batuhalanng Bogor, pelet NaOH, kertas pH, HCl, sodium silikat (Na2SiO3), dan biru metilena.

Lingkup Kerja

Penelitian ini terdiri dari beberapa tahap (Lampiran 1). Tahap pertama ialah sintesis natrium silikat dari abu sekam padi. Tahap kedua, preparasi metakaolin. Tahap ketiga, sintesis zeolit X. Tahap keempat, preparasi nanokomposit zeolit X/TiO2. Tahap kelima, penentuan kapasitas adsorpsi. Dan tahap keenam adalah uji fotodegradasi nanokomposit zeolit X/TiO2.

Penyiapan Silika dari Abu Sekam Padi (Hikmawati 2010)

(20)

4

(diuji dengan kertas pH). Hasil penyaringan dikeringkan pada suhu 105 ºC selama 4 jam sampai silika putih yang tersisa.

Preparasi Natrium Silikat (Na2SiO3) (Muljiyanti 2010)

Abu sekam padi bersih digerus, kemudian sebanyak 10 g abu sekam ditambahkan 82.5 ml NaOH 4 M (Stokiometri), lalu dididihkan sambil diaduk. Setelah agak kering, larutan dituangkan ke dalam cawan porselin dan dilebur pada suhu 500 ºC selama 30 menit. Filtrat yang dihasilkan merupakan natrium silikat (Na2SiO3) dan didinginkan. Natrium silikat yang diperoleh berbentuk padatan berwarna putih kehijauan.

Preparasi Metakaolin (Hediana 2011)

Sampel kaolin bubuk dari Bangka Belitung dikalsinasi dalam tanur pada suhu 700 ºC selama 6 jam. Setelah mengalami proses kalsinasi, sampel kaolin yang telah berubah menjadi metakaolin dianalisis dengan difraktometer sinar-X.

Sintesis Zeolit X

Sampel metakaolin ditimbang sebanyak 2.0 gram, kemudian ditambahkan NaOH dengan variasi konsentrasi (1.5 N dan 2.5 N) dan Na2SiO3 10%. Setiap campuran larutan tersebut kemudian dimasukkan ke dalam botol polipropilen dan dipanaskan dalam oven 40 ºC selama 24 jam. Tahap ini disebut proses pemeraman. Setelah proses pemeraman, sampel dipanaskan kembali pada suhu

100 ºC selama 24 jam. Produk difiltrasi dan dicuci dengan air destilata hingga pH netral. Produk yang diperoleh dikeringkan pada suhu 120 ºC selama 6 jam dan dikarakterisasi dengan XRD dan SEM-EDX.

Tabel 1 Perlakuan dalam sintesis zeolit X

(21)

5

Uji Adsorpsi (Hediana 2011)

Larutan biru metilena (MB) dibuat dengan konsentrasi yang bervariasi, yaitu 75, 100, 150, 200, dan 300 mg/l. Zeolit ditimbang sebanyak 0.05 gram, kemudian ditambahkan 15 ml larutan MB dari setiap konsentrasi dalam tabung reaksi yang berbeda dan dikocok selama 2 jam. Setelah itu, campuran dipisahkan dengan sentrifuga selama 20 menit dengan kecepatan 3500 rpm untuk memisahkan endapan. Filtratnya kemudian diukur absorbannya menggunakan spektrofotometer UV-tampak pada panjang gelombang 664.5 nm.

Kapasitas adsorpsi dihitung dengan menggunakan persamaan berikut: Q = V [Co-Ca]

m Keterangan:

Q = Kapasitas adsorpsi (mg/g) V = Volume larutan (mL) Co = Konsentrasi awal (ppm) Ca = Konsentrasi akhir (ppm) m = Massa adsorben (g)

Penentuan kapasistas adsorpsi sampel nanokomposit zeolit-TiO2 dengan perlakuan yang sama seperti zeolit.

Pembuatan Kurva Standar Biru Metilena (Hediana 2011)

Larutan biru metilena dibuat pada berbagai konsentrasi (0.5; 1.0; 1.5; 2.0; 2.5; dan 3.0 mg/l), kemudian diukur serapannya pada panjang gelombang maksimum. Setelah itu, kurva hubungan antara konsentrasi dengan absorbans dibuat dan ditentukan persamaan linier kurva tersebut. Persamaan linier ini digunakan untuk menghitung konsentrasi MB pada larutan zeolit.

Uji Fotodegradasi Senyawa Biru Metilena (Hediana 2011)

Sebanyak 0.1 gram nanokomposit zeolit-TiO2 ditambahkan 15 ml larutan biru metilena dengan konsentrasi 12.5 ppm. Larutan kemudian disinari dengan sinar UV pada panjang gelombang 365 nm selam 6 jam. Setelah itu, diambil filtratnya dan dilakukan analisis menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 200700 nm. Uji fotodegradasi juga dilakukan pada sampel zeolit, TiO2, dan biru metilena sebagai pembanding. Setiap sampel tersebut diberi perlakuan dengan dan tanpa sinar UV untuk mengetahui aktivitas fotokatalis.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pembuatan dan Pencirian Natrium silikat

(22)

6

2000). Penggunaan HCl dikarenakan SiO2 tidak larut dalam asam apapun selain dalam HF. Selanjutnya, abu sekam padi dilarutkan dalam NaOH, kemudian dilakukan peleburan 500 °C. Peleburan pada suhu 500 °C didasarkan pertimbangan titik leleh NaOH, yaitu 318 °C sehingga pada suhu tersebut NaOH terdisosiasi sempurna membentuk ion Na+ dan OH-. Pelarutan yang diikuti dengan peleburan ini bertujuan agar pada proses perubahan abu sekam menjadi natrium silikat (Na2SiO3) menjadi sempurna (Muljiyanti 2010). Natrium silikat (Na2SiO3) yang diperoleh berwujud padatan berwarna putih kehijauan.

Natrium silikat yang diperoleh dianalisis menggunakan FTIR dan SEM-EDX. Hasil analisis Na2SiO3 dengan FTIR ditunjukkan pada Gambar 1, sementara interpretasi pola serapan ditampilkan pada Tabel 2.

Gambar 1 Spektrum FTIR sampel natrium silikat (Na2SiO3) Tabel 2 Daerah vibrasi sampel natrium silikat (Na2SiO3)

Bil. Gelombang Na2SiO3 (cm-1) Vibrasi Sumber

1500-3700 Hpada gugus Si-OH 2O dan Tekuk -OH Efinov 2003

950-1250 Ulur asimetri Si-O-Si

dan Si-O- Mufrodi 2010

500-800 Tekuk Si-O-Si Macdonald 2000

(23)

7

Natrium silikat (Na2SiO3) hasil sintesis juga dianalisis dengan EDX untuk mengetahui unsur-unsur yang terdapat di dalamnya. Hasil EDX natrium silikat (Na2SiO3) ditunjukkan pada Gambar 2.

Gambar 2 Hasil EDX sampel natrium silikat (Na2SiO3)

Hasil EDX menunjukkan bahwa unsur-unsur yang terdapat dalam Na2SiO3 sintetis, yaitu oksigen 71.89%, natrium 22.63%, dan silikon 5.39%. Berdasarkan data di atas, diperkirakan Na2SiO3 yang disintesis telah menjerap H2O. Hal ini dibuktikan dengan adanya serapan H2O dan vibrasi tekuk gugus Si-OH di bil. gelombang 1500-3700 cm-1 pada spektrum FTIR dan perubahan warna Na2SiO3 dari putih kehijauan menjadi coklat. Hasil EDX juga menunjukkan Na2SiO3 sintetis tidak terdeteksinya pengotor, yaitu berupa atom C atau karbon akibat pembakaran sekam padi pada suhu 600 °C dan logam-logam pengotor seperti MgO, K2O, dan CaO yang menunjukkan bahwa logam-logam tersebut telah larut dalam HCl pada proses pencucian abu sekam padi (Hikmawati 2010). Natrium silikat (Na2SiO3) hasil sintesis kemudian digunakan sebagai sumber silika pada sintesis zeolit X.

Sintesis Zeolit dan Nanokomposit Zeolit/TiO2

Bahan baku yang digunakan mensintesis zeolit adalah kaolin, karena kaolin memiliki komponen utama, silika dan alumina sehingga dapat digunakan sebagai bahan baku dalam pembentukan kerangka zeolit. Sintesis zeolit X ini memerlukan nisbah Si/Al sebesar 1.0 – 1.5, namun dari hasil analisis EDX kaolin (Lampiran 2) diperoleh nisbah Si/Al hanya sebesar 0.73, sehingga tidak mencukupi untuk membentuk zeolit X. Oleh sebab itu dilakukan penambahan sumber silika lain, yaitu natrium silikat (Na2SiO3) hasil sintesis dari abu sekam.

Kaolin yang akan digunakan terlebih dahulu dikalsinasi pada suhu 700 °C selama 6 jam untuk menghilangkan gugus hidroksil (-OH) yang terikat secara kimia sehingga terbentuk metakaolin. Metakaolin hasil kalsinasi dianalisis dengan XRD, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 3.

O

Na

(24)

8

Gambar 3 Difraktogram sampel metakaolin

Hasil XRD kalsinasi kaolin menjadi metakaolin menunjukan puncak difraktogram yang landai atau dapat dikatakan bahwa metakaolin yang diperoleh berbentuk amorf. Hal ini dikarenakan kalsinasi atau pemanasan yang menguapkan H2O dan melepaskan ikatan -OH pada kaolin sehingga kaolin yang kristalin menjadi lebih amorf (Mitra GB dan Nhattacherjee 1969). Thamavong (2003) menyatakan reaksi kimia dehidroksilasi kaolin menjadi metakaolin adalah sebagai berikut:

Si2O5(OH)4Al2 Al2Si2O7 + 2H2O Kaolin Metakaolin

Selanjutnya, metakaolin yang diperoleh dilarutkan dalam NaOH dan Na2SiO3. Penambahan NaOH ini bertujuan untuk mengaktivasi komponen Si dan Al pada metakaolin menjadi fase mineral yang mudah larut, yaitu natrium silikat dan amorf alumina silikat, dimana lebih lanjut digunakan dalam formasi zeolit selama proses hidrotermal, sedangkan Na2SiO3 sebagai sumber silika lain selain dari kaolin. Sebelum proses hidrotermal, larutan tersebut dipanaskan pada suhu 40 °C selama 24 jam, proses ini disebut proses pemeraman. Pada proses pemeraman

terjadi pembentukan inti kristal dan dilanjutkan dengan pembentukan kristal selama proses hidrotermal pada suhu 100 °C selama 24 jam.

Zeolit hasil sintesis dicuci hingga pH netral. Pencucian ini bertujuan untuk menghilangkan material yang tidak menjadi bagian dari pembentukan zeolit yang mungkin ada di permukaan dan larut dalam air dan kemudian dikeringkan untuk menguapkan air yang terperangkap dalam pori-pori kristal zeolit.

(25)

9

Sintesis nanokomposit zeolit/TiO2 dilakukan dengan perbandingan 85% metakaolin:15% TiO2 dengan bobot total 2.0 gram. Penambahan TiO2 ini untuk memanfaatkan sifat fotokatalis TiO2 sehingga dihasilkan material yang bersifat adsorben-fotokatalis. Sintesis nanokomposit zeolit/TiO2 menggunakan NaOH dan Na2SiO3 pada kondisi sintesis sama seperti sintesis zeolit X yang telah dijelaskan diatas.

Pencirian Zeolit dan Nanokomposit Zeolit/TiO2 dengan XRD

Pencirian zeolit dan nanokomposit zeolit/TiO2 dengan teknik difraksi sinar-X pada kondisi sebagai berikut: atom target Cu, panjang gelombang 1.5406 Å, voltase 40 kV, dan arus 30 mA. Proses pemindaian pada rentang sudut 5-80º. Difraksi sinar X digunakan untuk mengidentifikasi jenis mineral zeolit yang terkandung dan kristalinitasnya. Puncak difraksi yang didapatkan dari data pengukuran dicocokkan dengan standar difraksi sinar X, yaitu JCPDS ( Joint Commited on Powder Difraction Standards). Hasil XRD sampel zeolit

ditunjukkan pada Gambar 4. Sampel A

Sampel B

Gambar 4 Difraktogram sampel zeolit A dan B

(26)

10

Hasil XRD sampel A menunjukkan zeolit yang terbentuk merupakan zeolit tipe NaP1, sedangkan sampel B terbentuk campuran zeolit, yaitu zeolit NaP1, faujasite, dan zeolit X. Hasil XRD setiap sampel dianalisis dengan

membandingkan sudut 2θ sampel dengan 2θ pada data JCPDS (Lampiran 3).

Sampel B diperoleh zeolit X dengan pengotor zeolit lain. Hal ini disebabkan oleh zeolit X yang bersifat tidak stabil secara termodinamika dibandingkan zeolit P dan hidroksisodalit (Breck 1974).

Gambar 5 Difraktogram sampel nanokomposit zeolit/TiO2

Sintesis nanokomposit zeolit/TiO2 mengikuti kondisi pada sintesis sampel zeolit A. Hal ini dilakukan karena pada kondisi tersebut menghasilkan zeolit yang lebih murni tanpa adanya campuran zeolit lain, yaitu zeolit NaP1. Pola difraksi sampel nanokomposit zeolit/TiO2 pada Gambar 5 menunjukkan bahwa jenis zeolit yang diperoleh adalah zeolit NaP1 dan sudut 2θ TiO2 di 25.3353. Data sudut 2θ nanokomposit zeolit/TiO2 dan JCPDS ditunjukkan pada Lampiran 4. Keberadaan TiO2 pada difraktogram di atas dapat disimpulkan bahwa sintesis nanokomposit zeolit/ TiO2 berhasil.

Pencirian Zeolit dan Nanokomposit Zeolit/TiO2 dengan SEM

Hasil mikroskop pemindai elektron (SEM) pada Gambar 6 adalah jenis mikroskop elektron yang gambar permukaan sampel dipindai dengan menggunakan sinar elektron berenergi tinggi dalam pola pemindai pixel. SEM

digunakan untuk mengetahui struktur mikro suatu material meliputi tekstur, morfologi, komposisi, dan informasi kristalografi permukaan sampel. Hasil SEM sampel A dan B ditunjukan pada Gambar 6.

TiO2, anatase

(27)

11

Sampel A

Sampel B

Gambar 6 Hasil analisis SEM sampel A dan B Zeolit NaP1

(28)

12

Hasil analisis SEM sampel A dengan perbesaran 2500x menunjukkan bentuk partikel zeolit jenis P1 dengan bentuk partikel yang bulat dan kisaran diameter partikel 1-10 µm, sedangkan sampel B dengan perbesaran 1000x menunjukkan adanya campuran jenis zeolit. Hal ini terlihat dari bentuk partikel yang berbeda-beda. Hasil SEM sampel B sesuai dengan hasil analisis XRD yang menyatakan terdapatnya campuran zeolit pada sampel tersebut seperti zeolit X, zeolit NaP1, dan faujasite. Zeolit X dan faujasite memiliki bentuk partikel/

framework yang sama, sedangkan zeolit NaP1 memiliki bentuk partikel yang

bulat.

Gambar 7 Hasil SEM (A) zeolit dan (B) nanokomposit zeolit/TiO2 A

(29)

13

Perbedaan hasil SEM sampel zeolit dengan dan tanpa penambahan TiO2 ditunjukan pada Gambar 7. Hasil SEM zeolit dan nanokomposit zeolit/TiO2 menunjukkan bahwa dengan penambahan TiO2 mengubah permukaan dan pori-pori zeolit, terlihat dari hasil SEM nanokomposit zeolit/TiO2 yang memiliki pori-pori lebih besar. Hal ini disebabkan oleh pergantian kation logam yang berukuran kecil (Na+) dengan kation logam yang diameternya lebih besar (Ti2+) sehingga pori tersebut mengembang. Melalui teknik ini porositas zeolit akan menjadi besar, dan oksida-oksida logam (TiO2) sebagai agen pemilar dapat digunakan untuk katalis (Desfita 2009). Ukuran partikel dari sampel nanokomposit zeolit/TiO2 yang disintesis ini tidak menunjukkan ukuran nano, yaitu sekitar 9 µm tetapi sampel ini dapat dikatakan sebagai nanokomposit karena TiO2 itu sendiri sudah berukuran nanometer, sekitar 7 nm.

Pengaruh Konsentrasi NaOH terhadap Kristalinitas Zeolit

Sintesis zeolit pada penelitian ini menggunakan pelarut NaOH atau pada pH basa karena pada pH tersebut di dalam larutan akan terjadi polimerisasi ion-ion pembentuk zeolit. Sintesis suatu zeolit dipengaruhi oleh ion-ion yang ada dalam campuran tersebut. Pada pH > 6 terbentuk anion Al(OH4)- atau AlO2- yang merupakan anion pembentuk zeolit yang berasal dari sumber alumina. Hal ini akan berbeda jika larutan dalam keadaan asam, yaitu pada pH 1 sampai pH 4, karena spesies Al yang dominan adalah [Al(H2O)6]3+. Keberadaan kation tersebut akan menghambat pembentukan kerangka aluminosilikat dari zeolit. Kerangka zeolit juga dipengaruhi oleh keberadaan anion dari silikat. Pada pH > 12, akan terbentuk ion Si(OH)4- yang merupakan ion utama dalam pembentukan kerangka zeolit (Hamdan 1992).

Variasi konsentrasi NaOH yang digunakan, yaitu 1.5 N dan 2.5 N. Variasi konsentrasi ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perubahan konsentrasi NaOH terhadap kristalinitas zeolit yang diperoleh (Lampiran 5). Pengaruh konsentrasi NaOH terhadap kristalinitas zeolit sintetis ditunjukkan pada Tabel 3. Tabel 3 Pengaruh konsentrasi NaOH terhadap kristalinitas zeolit

Sampel Perlakuan Kristalinitas (%)

Metakaolin (g) NaOH (N)

Sampel A 2.0 1.5 50.62

Sampel B 2.0 2.5 75.40

Kristalinitas sampel A dengan konsentrasi NaOH 1.5 N, yaitu 50.62% dan 75.40% sampel B dengan konsentrasi NaOH 2.5 N. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi NaOH menyebabkan kristalinitas zeolit yang diperoleh meningkat. Konsentrasi NaOH mempengaruhi laju kristalisasi zeolit. Peningkatan konsentrasi NaOH menyebabkan jumlah Si dan Al terlarut meningkat sehingga laju kristalisasi zeolit juga meningkat (Wijaya 2002).

Penentuan Panjang Gelombang Maksimum

(30)

14

sensitivitas yang baik dan limit deteksi yang rendah serta mengurangi kesalahan dalam pengukuran. Panjang gelombang maksimum yang diperoleh adalah 664.5 nm (Lampiran 6) dan persamaan garis kurva standar biru metilena adalah y=0.2914x-0.0994 dengan R = 0.9930 R2 = 0.9861.

Uji Adsorpsi Biru Metilena oleh Zeolit dan Nanokomposit Zeolit/TiO2

Zeolit hasil sintesis kemudian diuji kemampuannya sebagai adsorben dalam menjerap zat warna. Zat warna yang digunakan adalah biru metilena. Biru metilena digunakan karena interaksinya dengan air akan menghasilkan ion dari biru metilena yang bermuatan positif, sedangkan zeolit memiliki muatan negatif akibat substitusi ion Al3+ terhadap Si4+ dalam struktur jaringannya dan dinetralkan dengan kation alkali atau alkali tanah. Kation-kation ini dapat dipertukarkan dengan kation biru metilena sehingga biru metilena terjerap. Larutanbiru metilena dibuat dengan berbagai variasi konsentrasi untuk mengetahui kapasitas adsorpsi terbesar dari zeolit. Larutan biru metilena dikocok bersama-sama dengan zeolit, agar adsorben dapat tersebar secara merata disetiap bagian dengan harapan dapat menjerap zat warna dengan sempurna dan dapat menghasilkan daya adsorpsi yang maksimum. Setelah tercapai kesetimbangan, zat yang tidak teradsorpsi dipisahkan dari adsorben dengan sentrifuga, kemudian konsentrasi sisa larutan biru metilena diukur dengan spektrofotometer UV-Vis di λ maksimum 664.5 nm. Data penentuan kapasitas adsorpsi zeolit dan nanokomposit zeolit/TiO2 ditunjukkan pada Lampiran 7-9.

Variasi konsentrasi larutan biru metilena yang digunakan untuk uji adsorpsi zeolit dan nanokomposit zeolit/TiO2, yaitu 75. 100, 150, 200, dan 300 mg/l. Konsentrasi biru metilena terbesar yang diadsorpsi oleh zeolit dan nanokomposit zeolit/TiO2 adalah pada konsentrasi awal BM 300 mg/l, yaitu sebesar 152.505 mg/l untuk sampel zeolit A, 149.259 mg/l untuk sampel zeolit B dan nanokomposit zeolit/TiO2 sebesar 143.240 mg/l.

Penentuan kapasitas adsorpsi sampel zeolit A, B, dan nanokomposit zeolit/TiO2 terbesar terjadi pada konsentrasi awal BM 300 mg/l, yaitu berturut-turut sebesar 45.71; 43.14; 43.01 mg/l. Hal ini sesuai dengan pernyataan Mouzdahir et al. (2007), bahwa kapasitas adsorpsi meningkat seiring dengan

meningkatnya konsentrasi awal larutan biru metilena. Semakin besar konsentrasi awal biru metilena yang diberikan maka semakin besar pula molekul biru metilena yang terjerap oleh sampel zeolit. Hal ini terjadi apabila keberadaan tapak aktif sampel untuk menjerap zat warna masih memungkinkan untuk menjerap larutan biru metilena.

Isoterm Adsorpsi

(31)

15

Tabel 4 Nilai kuadrat terkecil (R2) isoterm adsorpsi biru metilena

Sampel Isoterm R2

Zeolit A Langmuir 0.9799

Freundlich 0.9890

Zeolit B Langmuir 0.9626

Freundlich 0.9874

nanokomposit Zeolit/TiO2 Langmuir 0.9686

Freundlich 0.9651

Nilai kuadrat terkecil (R2) dari kedua persamaan tersebut, yaitu Langmuir dan Freundlich yang memiliki nilai R2 yang paling besar atau mendekati satu merupakan kurva yang paling sesuai. Berdasarkan nilai kuadrat terkecil (R2), adsorpsi biru metilena oleh sampel zeolit A dan B mengikuti persamaan Freundlich, sedangkan nanokomposit mengikuti persamaan Langmuir (Tabel 4). Dengan demikian, dapat diasumsikan bahwa sampel zeolit A dan B memiliki pusat-pusat aktif adsorben heterogen dan adsorbat membentuk lapisan multimolekuler pada permukaan adsorben, sedangkan nanokomposit zeolit/TiO2 mengikuti persamaan Langmuir, dimana proses adsorpsi terjadi membentuk satu lapisan dan memiliki pusat-pusat aktif yang identik (Edwin et al 2005).

Uji Fotodegradasi

Fotodegradasi merupakan proses penguraian suatu senyawa (biasanya senyawa organik) dengan bantuan energi cahaya (foton). Fotodegradasi biasanya memerlukan fotokatalis, yang umumnya merupakan bahan semikonduktor, salah satunya adalah TiO2. Uji fotodegradasi ini dilakukan pada sampel nanokomposit zeolit/TiO2, zeolit, dan TiO2 terhadap zat warna biru metilena dengan perlakuan tanpa dan dengan disinari sinar UV. Serbuk TiO2 yang digunakan adalah titanium oksida anatase P 25. Setiap sampel tersebut disinari lampu UV pada λ 365 nm selama 6 jam, karena pada panjang gelombang tersebut energi foton mampu mengeksitasi elektron pada pita valensi dari TiO2 anatase yang memiliki bandgap

λ< 385 nm ke pita konduksi yang menyebabkan timbulnya lubang elektron pada

pita valensi dan elektron di pita konduksi. Kemudian hole (H+) bereaksi dengan

pelarut membentuk radikal OH yang merupakan oksidator kuat, sedangkan elektron pada pita konduksi akan bereaksi dengan oksigen di lingkungan menghasilkan radikal superoksida (O2-) yang bersifat reduktor. Radikat-radikal tersebut bersifat aktif dan dapat terus terbentuk sehingga bereaksi dan menguraikan senyawa organik target (Fatimah et al 2006). Setelah penyinaran selesai, dilakukan pengukuran serapan filtrat masing-masing sampel tersebut dengan spektrofotometer UV-Vis pada λ 200-700 nm. Mekanisme reaksi yang terjadi pada proses fotodegradasi dengan TiO2 adalah sebagai berikut:

TiO2 + UV TiO2 (e- + h+)

TiO2 (h+) + H2O TiO2 + ˙OH + H+ TiO2 (e-) + O2 TiO2 + ˙O2

(32)

16

Nanokomposit zeolit-TiO2 hasil sintesis dapat berperan sebagai fotokatalis dengan bantuan sinar UV seperti yang ditunjukkan pada Gambar 8. Hal ini dibuktikan dari memudarnya warna biru metilena yang teradsorpsi pada sampel nanokomposit zeolit-TiO2 setelah disinari sinar UV, sedangkan pada sampel nanokomposit yang tidak disinari UV, tidak terjadi proses fotodegradasi melainkan hanya terjadi proses adsorpsi, karena TiO2 tidak aktif menguraikan senyawa organik tanpa adanya sinar UV (foton) untuk membentuk radikal (•OH-) atau (•O2-).

A

Zeolit TiO2 Nanokomposit

B

Zeolit TiO2 Nanokomposit

Gambar 8 Hasil uji fotodegradasi (A) tanpa penyinaran UV, (B) dengan penyinaran UV selama 6 jam

(33)

17

Gambar 9 Serapan filtrat nanokomposit zeolit/TiO2 ( ) dengan dan ( ) tanpa penyinaran UV dan ( ) larutan biru metilena

Serapan filtrat nanokomposit tanpa perlakuan penyinaran masih menunjukkan adanya serapan biru metilena yang ditunjukkan dengan λ

maksimum sebesar 663 nm yang merupakan λ khas dari larutan biru metilena, sedangkan serapan filtrat nanokomposit dengan penyinaran UV sudah tidak menunjukkan adanya serapan biru metilena yang ditunjukkan dengan munculnya

puncak baru dengan λ maksimum sebesar 607.5 nm. Maka dapat disimpulkan

bahwa aktivitas fotokatalis ini dapat terlihat dari perubahan warna sampel nanokomposit menjadi tidak berwarna yang menghasilkan senyawa baru yang lebih sederhana dan terjadi penurunan panjang gelombang (λ) serapan. Senyawa baru ini tidak diketahui identitasnya.

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

(34)

18

Saran

Perlu dilakukan metode atau variasi konsentrasi NaOH, dan waktu reaksi yang lebih lama agar diperoleh zeolit X tanpa campuran zeolit lain. Selan itu, dilakukan variasi konsentrasi silika lain yang sesuai dengan nisbah Si/Al zeolit X serta dapat menggunakan sumber sillika alternatif lain sebagai sumber silika tambahan untuk mensintesis zeolit X.

DAFTAR PUSTAKA

Aina H, Nuryono, Tahir I. 2007. Sintesis aditif β-Ca2SiO4 dari abu sekam padi dengan variasi temperatur pengabuan. [skripsi]. Yogyakarta: Fakultas MIPA Universitas Gadjah Mada.

Atkins PW. 1999. Kimia Fisik. Penerjemah: Irma IK. Jakarta: Erlangga.

Terjemahan dari: Physical Chemistry.

Bakri R, Utari T, Puspita IS. 2008. Kaolin sebagai sumber SiO2 untuk pembuatan katalis Ni/SiO2: karakterisasi dan uji katalis pada hidrogen benzena menjadi sikloheksana. MAKARA SAINS. 12:37-43

Bekkum VH, Jansen JC, Flanigen EM. 1991. Zeolite and molecular sieves: an historical perspective. Introduction to zeolite science and practice.

58:13-33. doi:http://dx.doi.org/10.1016/S0167-2991(08)63599-5

Breck DW. 1974. Zeolite Molecular Sieve: Structure Chemistry and Use. New

York: Wiley.

Desfita. 2009. Pembuatan fotokatalis TiO2-bentonit dan aplikasinya pada penguraian selektif zat warna polutan yang diaktivasi dengan sinar matahari. [skripsi]. Padang: Universitas Andalas.

Edwin E, Sherliy, Syarifuddin, Paulina T. 2005. Pemanfaatan karbon aktif tempurung kenari sebagai adsorben fenol dan klorofenol dalam perairan.

Marina Chimica Acta. 6:9-15.

Efinov AM, Pogareva VG, Shashkin. 2003. Water-related Bands in Absorption Spectra Of silicate Glasses. Journal of Non Crystaline Solid 332:93-114. doi: http://dx.doi.org/10.1016/j.jnoncrysol.2003.09.020

Ekosse GE. 2005. Fourier transform infrared spectrophotometry and x-ray powder diffractometry as complementary technique in characterizing clay size fraction of kaolin. J Appl Sci Enviro Mgt 9:43-48.

Fatimah I, Sugiharto E, Wijaya K, Tahir I, dan Kamalia. 2006. Titan dioksida terdispersi pada zeolit alam (TiO2/Zeolit) dan aplikasinya untuk fotodegradasi Congo Red. IndoJ Chem 69: 38-42.

Hamdan H. 1992. Introduction to zeolites: synthesis, characterization and modification. Kuala Lumpur: Universitas Teknologi Malaysia.

Hediana Nova. 2011. Sintesis, pencirian, dan uji fotodegradasi nanokomposit sodalit/TiO2 terhadap zat warna biru metilena. [skripsi]. Bogor: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Pertanian Bogor.

(35)

19

Kalapathy U, Proctor A, Shults J. 2000. A simple method for production of pure silica from rice hull ash. Bioresource Technology. 73: 257-262. doi:

http://dx.doi.org/10.1016/S0960-8524(99)00127-3

MacDonald SA, Schardt CR, Masiello DJ,Simmons JH. 2000. Dispersion Analysis Of FTIR Reflection Measurements in Silicate Glasses. J Of Non-Crystaline material 275:72-82. doi: 10.1016/S0022-3093(00)00121-6

Maria EU, Alifia FY, Istadi. 2006. Optimasi pembuatan katalis zeolit x dari tawas, NaOH, dan waterglass, dengan response surface methodology. Bull Chem React Eng & Catal. 1:26-32.

Mitra GB, Bhattacherjee. 1969. X-Ray difraction studies on the transformation of kaolinite into metakaolin: I. Variability of interlayer spacings. Am Mineralogist. 54.

Mouzdahir Y, Elmchaouri A, Mahboub R, Gil A, Korili SA. 2007. Adsorption of methylene blue from aqueous solution on a moroccan clay. J Chem Eng

52:1621-1625. doi: 10.1021/je700008g

Mufrodi Z, Sutrisno B, Hidayat A. 2010. Modifikasi limbah abu layang sebagai material baru adsorben. Prosiding Seminar Nasional Teknik Kimia;

Yogyakarta, 26 Januari 2010. Yogyakarta: hlm 1-6.

Muljiyanti DR, Nuryono, Kunarti ES. 2010. Sintesis dan karakterisasi silika gel dari abu sekam padi yang dimobilisasi dengan 3-(trimetoksisilil)-1-propantiol. [tesis]. Yogyakarta: Sekolah Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Murray HH. 2000. Traditional and new applications for kaolin, smectit, and polygorskite: A general oview. Appl Clay Sci. 17:207-221. doi:

10.1016/S0169-1317(00)00016-8.

Pham TH, Brindley GW. 1970. Methylene blue absorption by clay mineral determination of surface areas and cation exchange capacities (Clay-Organic studies XVIII). Clays and Clay Mineral 18:203-212. doi:

10.1346/CCMN.1970.0180404

Sriyanti, Taslimah, Nuryono, dan Narsito. 2005. Sintesis bahan hibrida amino-silika dari abu sekam padi melalui proses sol-gel. JKSA 8.

Supeno M. 2007. Bentonit alam terpilar sebagai material katalis/co-katalis pembuatan gas hidrogen dan oksigen dari air. [tesis]. Medan: Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatra Utara.

Thammavong S. 2003. Studies of synthesis, kinetics, and particle size of zeolite X from Narathiwat kaolin. [tesis]. Suranaree: Degree of Master of Science in

Chemistry, Suranaree University of Technology.

Umah S. 2010. Kajian Penambahan Abu Sekam Padi dari Berbagai Suhu Pengabuan Terhadap Plastisitas Kaolin [skripsi]. Malang: Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.

Utubira Y, Wijaya K, Triyono, dan Sugiharto E. 2006. Preparasi dan karakterisasi TiO2-zeolit serta pengujiannya pada degradasi limbah industri tekstil dengan bantuan radiasi sinar ultra violet.Indo J Chem. 6:231-237.

Wijaya K. 2002. Multifuction of layered and porous material.. Indo J Chem

2:142-154.

Wijaya K dan Fatimah I. 2005. Sintesis TiO2/ zeolit sebagai fotokatalis pada pengolahan limbah cair industri tapioka secara adsorpsi-fotodegradasi.

(36)

20

Lampiran 1 Bagan alir penelitian

(37)

21

(38)

22

Lampiran 3 Data sudut 2θ sampel zeolit dan JCPDS

 Sampel Zeolit A

2θ° Intensitas Data JCPDS-ICDD

2θ° Intensitas No. JCPDS Jenis Zeolit

12.5121 61 12.465 795 39-0219 P1, (Na)

2θ° Intensitas Data JCPDS-ICDD

2θ° Intensitas No. JCPDS Jenis Zeolit

12.4947 33 12.465 795 39-0219 P1, (Na)

Lampiran 4 Data sudut 2θ sampel nanokomposit zeolit/TiO2 dan JCPDS

2θ° Intensitas Data JCPDS-ICDD

2θ° Intensitas No. JCPDS Jenis Zeolit

(39)

23

Lampiran 5 Kristalinitas sampel zeolit sintetis

 Sampel A

(40)

24

Lampiran 6 Penentuan panjang gelombang maksimum larutan standar biru metilena

Lampiran 7 Kapasitas adsorpsi sampel zeolit A terhadap larutan biru metilena

Bobot zeolit (g)

Co

(ppm) Adsorbans

Ce

(ppm) FP

Ct (ppm)

Q (mg/g)

Rerata Q (mg/g)

0.0499 75 0.167 52.14 25 22.86 15.67

15.45

0.0500 75 0.183 50.77 25 24.23 15.23

0.0500 100 0.116 63.04 50 36.96 18.91

18.92

0.0501 100 0.115 63.21 50 36.79 18.93

0.0500 150 0.238 92.10 50 57.90 27.63

27.68

0.0500 150 0.236 92.45 50 57.55 27.73

0.0500 200 0.147 115.44 100 84.56 34.63

34.79

0.0500 200 0.144 116.47 100 83.53 34.94

0.0501 300 0.115 152.85 200 147.15 45.76

45.71

0.0500 300 0.116 152.16 200 147.84 45.65

(41)

25

Lampiran 8 Kapasitas adsorpsi sampel zeolit B terhadap larutan biru metilena

Bobot

Lampiran 9 Kapasitas adsorpsi nanokomposit zeolit/TiO2 terhadap larutan biru metilena

Persamaan garis kurva standar biru metilena:

(42)

26

Lampiran 10 Isoterm adsorpsi sampel zeolit A terhadap larutan biru metilena

Co

 Persamaan garis isoterm Langmuir yang diperoleh y = 1.3391 + 0.0129x dengan R= 0.9899 dan R2 = 98%

(43)

27

Lampiran 11 Isoterm adsorpsi sampel zeolit B terhadap larutan biru metilena

Co

 Persamaan garis isoterm Langmuir yang diperoleh y = 1.7360 + 0.0123x dengan R= 0.9811 R2 = 96.2%

(44)

28

 Persamaan garis isoterm Langmuir yang diperoleh y = 1.0364 + 0.0173x dengan R= 0.9842 dan R2 = 96.8%

(45)

29

Lampiran 13 Spektrum UV filtrat sampel

A) Tanpa Penyinaran UV

B) Penyinaran UV selama 6 jam

Zeolit

TiO2, FP 20 kali

Biru metilena 1.25 ppm, FP 20 kali

Nanokomposit

Nanokomposit TiO2

(46)

30

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Jakarta pada tanggal 25 Mei 1990 dari pasangan Bapak Welly Havana dan Ibu Nuraini. Penulis merupakan anak ketiga dari tiga bersaudara. Pada tahun 2008, penulis lulus dari SMA Negeri 1 Jakarta dan diterima menjadi mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) di Departemen Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA).

Figur

Tabel 1  Perlakuan dalam sintesis zeolit X

Tabel 1

Perlakuan dalam sintesis zeolit X p.20
Gambar 1  Spektrum FTIR sampel natrium silikat (Na2SiO3)

Gambar 1

Spektrum FTIR sampel natrium silikat (Na2SiO3) p.22
Gambar 2 Hasil EDX sampel natrium silikat (Na2SiO3)

Gambar 2

Hasil EDX sampel natrium silikat (Na2SiO3) p.23
Gambar 3 Difraktogram sampel metakaolin

Gambar 3

Difraktogram sampel metakaolin p.24
Gambar 4  Difraktogram sampel zeolit A dan B

Gambar 4

Difraktogram sampel zeolit A dan B p.25
Gambar 5  Difraktogram sampel nanokomposit zeolit/TiO2

Gambar 5

Difraktogram sampel nanokomposit zeolit/TiO2 p.26
Gambar 6  Hasil analisis SEM sampel A dan B

Gambar 6

Hasil analisis SEM sampel A dan B p.27
Gambar 7  Hasil SEM (A) zeolit dan (B) nanokomposit zeolit/TiO2

Gambar 7

Hasil SEM (A) zeolit dan (B) nanokomposit zeolit/TiO2 p.28
Tabel 4 Nilai kuadrat terkecil (R2) isoterm adsorpsi biru metilena

Tabel 4

Nilai kuadrat terkecil (R2) isoterm adsorpsi biru metilena p.31
Gambar 8 Hasil uji fotodegradasi (A) tanpa penyinaran UV, (B) dengan

Gambar 8

Hasil uji fotodegradasi (A) tanpa penyinaran UV, (B) dengan p.32
Gambar 9  Serapan filtrat nanokomposit zeolit/TiO2 (       ) dengan dan (        )  tanpa  penyinaran UV dan (       ) larutan biru metilena

Gambar 9

Serapan filtrat nanokomposit zeolit/TiO2 ( ) dengan dan ( ) tanpa penyinaran UV dan ( ) larutan biru metilena p.33

Referensi

Memperbarui...