Analisis Yuridis Terhadap Pengurangan Pungutan Oleh Otoritas Jasa Keuangan Sebagai Akibat Dari Kepailitan

116  Download (0)

Teks penuh

(1)

DAFTAR PUSTAKA

A. Buku

Amiruddin dan H. Zainal Asikin. Pengantar Metode Penelitian Hukum. Jakarta: PT.

Irmayanto, July dkk. Bank dan lembaga keuangan. Jakarta: Universitas Trisaksi, 2002.

Pandia, Frianto, Elly Santi Ompusunggu dan Achmad Abror, Lembaga keuangan. Jakarta: Rineka Cipta, 2004.

Budisantoso, Totok dan Nuritomo. Bank dan Lembaga keuangan Lain. Jakarta: Salemba Empat, 2014.

Tjandra,W.Riawan. Hukum Keuangan Negara. Jakarta: PT. Grasindo, 2013.

Sunarmi. hukum kepailitan,edisi 2. Medan: PT. Sofmedia,2010.

Sjahdeini, Sutan Remy. Hukum Kepailitan Memahami Undang-Undang No.37

Tahun 2004 tentang Kepailitan. Jakarta: PT. Pustaka Utama Grafitia,

2002.

Sinaga, Syamsudin M. Hukum Kepailitan Indonesia. Jakarta: PT. Tatanusa,2010. Sutedi, Adrian. Aspek Hukum Otoritas Jasa Keuangan. Jakarta: Raih Asa Sukses,

2014.

Irawan, Bagus. Aspek-Aspek Hukum Kepailitan; Perusahaan; dsn Asuransi. Bandung: PT. Alumni, 2007.

Jono. Hukum Kepailitan. Jakarta: Sinar Grafika, 2008.

Nurdin, Andriani. Kepailitan BUMN Persero Berdasarkan Asas Kepastian

(2)

Hartini, Rahayu. Hukum Kepailitan. Malang: Universitas Muhammadyah, 2007.

Sembiring, Sentosa. Hukum Kepailitan dan Peraturan Perundang-Undangan

yang Terkait dengan Kepailitan. Bandung: CV. Nuansa Aulia, 2006.

Saidi, Muhammad. Hukum Keuangan Negara. Makasar: PT Rajagrafindo Persada, 2008.

B. Peraturan

Republik Indonesia Undang –Undang Nomor 10 Tahun 1998 Tentang Perubahan Atas Undang-republik Indonesia, Undang-Undangn Nomor 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan.

Republik Indonesia, Undang- Undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan

Republik Indonesia, Peraturan Pemerintah No. 11 Tahun 2014 tentang Pungutan Otoritas Jasa Keuangan

Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan PKPU

Republik Indonesia, Undang- Undang Nomor 40 Tahun 2014 tentang Perasuransian

Republik Indonesia, Peraturan OJK No. 3 Tahun 2014 tentang Tata cara Pelaksanaan Pungutan oleh OJK

Republik Indonesia, Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2014 tentang Mekanisme Pembayaran Pungutan OJK.

Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 Tentang Perubahan ketiga atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan.

Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 sebagaimana diubah terakhir kali dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan.

Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2000 Tentang Penagihan Pajak Dengan Surat Paksa.

(3)

C. Makalah

Bismar Nasution, “OJK Sebagai Suatu Sistem Hukum Dalam Pembangunan Ekonomi,” Medan: Makalah disampaikan pada Seminar tentang Keberadaan Otoritas Jasa Keuangan untuk mewujudkan perkonomian nasional yang berkelanjutan dan stabil, 25 November 2014.

Zulkarnain Sitompul, “Fungsi dan Tugas Otoritas Jasa Keuangan Dalam Menjaga

Stabilitas Sistem Keuangan,” Medan: Makalah disampaikan pada Seminar tentang Keberadaan Otoritas Jasa Keuangan untuk mewujudkan perkonomian nasional yang berkelanjutan dan stabil, 25 November 2014.

Bismar Nasution, “Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan : Kajian Terhadap Independensi dan Pengintegrasian Pengawasan Lembaga Keuangan,” Medan : Disampaikan pada Sosialisasi Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan Era Baru Pengawasan Sektor Jasa Keuangan yang Terintegrasi, 8 juni 2012.

Bismar Nasution, “Keberadan Pungutan Otoritas jasa Keuangan untuk pelaksaan

tugas, fungsi dan wewenangnya secara independen,” Medan : Disampaikan pada seminar pungutan oleh OJK dalam mendukung fungsi dan tugas OJK secara independen dan professional, 14 April 2014.

D. Jurnal

Asmirawati, Nova. “Catatan Singkat Terhadap Undang-undang Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan.” Jurnal Legislasi Indonesia, Volume 9 No.3. Oktober 2012.

Sitompul, Julkarnain. “Konsepsi dan Transformasi Otoritas Jasa keuangan.”

Jurnal Legislasi Indonesia, Volume 9 No.3.Oktober 2012.

Pakpahan, Rudy hendra. “Akibat Hukum Dibentuknya lembaga Otoritas Jasa Keuangan Terhadap Pengawasan Lemabaga Keuangan Di Indonesia,”

Jurnal legislasi Indonesia, Volume. 9 No. 3. oktober 2012.

E. Website

http://finansial.bisnis.com/read/20150423/90/426411/iuran-ojk-lebih-baik-dihapus (diakses tanggal 13 Juni 2015).

“Otoritas Jasa Keuangan.” https://id.wikipedia.org/wiki/Otoritas_Jasa_Keuangan (diakses tanggal15 Juni 2015).

(4)

Sulaiman, Alfin. “Hubungan OJK Terhadap Prosedur Kepailitan Perbankan dan

IndustriKeuangan.”http://www.hukumonline.com/klinik/detail/lt52dfe654 d9902/hubungan-ojk-terhadap-prosedur-kepailitan-perbankan-dan-industri-keuangan (diakses tanggal 15 Juni 2015).

Siaran pers. “Aturan Pelaksanaan Pungutan OJK.” http://www.ojk.go.id/siaran-pers-aturan-pelaksanaan-pungutan-ojk (diakses tanggal 16 Mei 2015).

(5)

BAB III

KEBERADAAN SUMBER KEUANGAN OTORITAS JASA KEUANGAN TERKAIT DENGAN FUNGSI OTORITAS JASA KEUANGAN SEBAGAI

PENGAWAS LEMBAGA KEUANGAN

A.Bentuk Penerimaan sebagai Sumber Keuangan Otoritas Jasa Keuangan

Sesuai dengan Pasal 34 ayat (2) UU OJK, anggaran OJK bersumber dari

Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara/ atau pungutan dari pihak yang

melakukan kegiatan di sektor jasa keuangan. Pihak yang melakukan kegiatan di

sektor jasa keuangan adalah lembaga jasa keuangan dan/atau orang perorangan

atau badan yang melakukan kegiatan di sektor jasa keuangan.76

Sehubungan dengan pengaturan secara konstitusional terhadap anggaran,

dalam hal ini adalah APBN Pasal 23 Undang-Undang Dasar Tahun 19945

menyatakan :77

1. APBN sebagai wujud dari pengelolaan keuangan negara ditetapkan setiap

tahun dengan undang-undang dan dilaksanakan secara terbuka dan

bertanggungjawab untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

2. RUU APBN diajukan oleh Presiden untuk dibahas bersama DPR dengan

memperhatikan pertimbangan PDP.

3. Apabila DPR tidak menyetujui R-APBN yang diusulkan oleh Presiden,

pemerintah menjalankan APBN tahun yang lalu.

Penganggaran APBN, untuk pendanaan operasional OJK dilakukan

dengan mekanisme penyusunan APBN secara umum yang berkoordinasi dengan

76Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 Tentang Otoritas Jasa

Keuangan, penjelasan Pasal 37.

77

(6)

Kementerian Keuangan, melalui penyusunan pagu indikatif, pagu anggaran

sementara, dan pagu alokasi anggaran untuk selanjutnya memperoleh persetujuan

DPR.78 Pagu adalah batas tertinggi atas sesuatu, seperti batas tertinggi pemberian

kredit, penetapan bunga deposito dan batas harga nilai tukar mata uang asing;

plafon (ceiling; cap).79OJK memerlukan adanya jaminan sumber pembiayaan

yang mampu mendukung efektivitas pelaksanaan tugas dan fungsi sebagai salah

satu unsur yang menjadikan OJK sebagai lembaga yang independen dalam

pengaturan dan pengawasan sektor jasa keuangan.80

Selain anggaran yang diperoleh dari APBN, Pasal 37 UU OJK mengatur

bahwa OJK mengenakan pungutan kepada pihak yang melakukan kegiatan di

sektor jasa keuangan, dan pungutan tersebut merupakan penerimaan OJK. Dalam

penjelasan Pasal 37 tersebut dinyatakan bahwa pembiayaan kegiatan Otoritas Jasa

Keuangan sewajarnya dibiayai secara mandiri yang pendanaannya bersumber dari

pungutan kepada pihak yang melakukan kegiatan di sektor jasa keuangan.

Berkaitan dengan anggaran OJK ditentukan sebagai berikut:81

1. OJK mengenakan pungutan kepada pihak yang melakukan kegiatan disektor

jasa keuangan.

2. Pihak yang melakukan kegiatan di sektor jasa keuangan wajib membayar

pungutan yang dikenakan OJK sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

3. Pungutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah penerimaan OJK.

78Zulkarnain Sitompul, Op.Cit., hlm. 17.

79http://www.ojk.go.id/pedia (diakses tanggal 15 juni 2015) 80Ibid ,hlm. 16.

81Republik Indonesia, Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2014 tentang Pungutan

(7)

4. OJK menerima, mengelola, dan mengadministrasikan pungutan sebagaimana

dimaksud pada ayat (3) secara akuntabel dan mandiri.

5. Dalam hal pungutan yang diterima pada tahun berjalan melebihi kebutuhan

OJK untuk tahun anggaran berikutnya, kelebihan tersebut disetorkan ke kas

Negara .Ketentuan lebih lanjut mengenai pungutan sebagaimana dimaksud

pada ayat (1) diatur dengan Peraturan pemerintah.

Penetapan besaran pungutan tersebut dilakukan dengan tetap

memperhatikan kemampuan pihak yang melakukan kegiatan di sektor jasa

keuangan serta kebutuhan pendanaan OJK.82Penerimaan pungutan biaya tahunan

pada tahun berjalan telah cukup untuk memenuhi kebutuhan rencana kerja dan

anggaran OJK tahun berikutnya yeng telah disetujui DPR. Maka OJK

mengenakan tarif 0% pada sisa tahun berjalan, sesuai dengan Pasal 20 ayat (1)

POJK Nomor 3 Tahun 2014.

Diamati dari ketentuan Pasal 37 UU OJK tersebut, maka OJK dapat

melepaskan diri dari ketergantungan pada kesediaan anggaran yang berasal dari

APBN, sehingga dapat mengurangi intervensi terhadap OJK. Karena akuntabilitas

diperlukan OJK untuk meletigimasi tindakannya atas dasar kewenangan yang

diberikan. Integritas direfleksikan dalam mekanisme yang mensyaratkan

karyawan lembaga dalam mencapai tujuan organisasi tanpa menjadi takut

terhadap intervensi.83

Aspek keadilan dalam pembiyaan OJK merupakan salah satu aspek

filosofis yang dipertimbangkan, dalam arti pembiayaan secara adil harus

82Ibid. 83

(8)

dibebankan kepada pihak yang secara langsung menerima manfaat dari efektifnya

fungsi pengaturan dan pengawasan sektor jasa keuangan oleh OJK.84

Pengenaan pungutan kepada industri jasa keuangan ini tentunya menjadi

hal penting bagi OJK untuk menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik sesuai

amanah UU. Pengenaan pungutan ini jelas bertujuan untuk mendorong dan

memajukan industri jasa keuangan nasional dan bukan untuk sebaliknya.85Praktik

pungutan atau iuran dalam sistem hukum sektor jasa keuangan Indonesia juga

telah dikenal sebelumnya dengan adanya Pasal 9 ayat (3) dan ayat (4)

Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal yang menyatakan :

1. Bursa Efek dapat menetapkan biaya pencabutan Efek, iuran keanggotaan, dan

biaya transaksi berkenaan dengan jasa yang diberikan.

2. Biaya dan Iuran sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) disesuaikan menurut

kebutuhan pelaksanaan fungsi Bursa Efek.

Selain itu, pungutan, iuran atau premi juga dikenal di dalam UU LPS

khususnya pada bagian ketiga mengenai premi. Oleh karena itu, pungutan, iuran

atau premi yang dikenakan kepada para pelaku pasar merupakan praktik yang

lazim dalam sistem hukum sektor jasa keuangan di Indonesia. Namun demikian,

pembiayaan OJK yang bersumber dari APBN tetap diperlukan untuk memenuhi

kebutuhan OJK pada saat pungutan dari pihak yang melakukan kegiatan di

industri jasa keuangan belum dapat mendanai seluruh kegiatan operasional secara

mandiri, antara lain pada masa awal pembentukan OJK.86

84 Zulkarnail Sitompul, Op.Cit., hlm. 17.

85Siaran pers: Aturan Pelaksanaan Pungutan

OJK,http://www.ojk.go.id/siaran-pers-aturan-pelaksanaan-pungutan-ojk (diakses tanggal 16 Mei 2015).

(9)

Berdasarkan Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003

tentang Keuangan Negara , yang dimaksud dengan Keuangan Negara adalah

semua hak dan kewajiban Negara yang dapat dinilai dengan uang, serta segala

sesuatu baik berupa uang maupun berupa barang yang dapat dijadikan milik

negara berhubung dengan pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut.

Pendekatan yang dipergunakan untuk merumuskan defenisi stipulatif

keuangan negara adalah dari sisi objek, subjek, proses dan tujuan yang dapat

dijelaskan sebagai berikut:87

1. Dari sisi objek, keuangan negara meliputi semua hak dan kewajiban yang

dapat dinilai dengan uang, termasuk kebijakan dan kegiatan dalam bidang

fiscal, moneter dan pengelolaan keuangan negara yang dipisahkan, serta

segala sesuatu baik berupa uang, maupun berupa barang yang dapat dijadikan

milik negara berhubungan dengan pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut.

2. Dari sisi subyek, keuangan negara meliputi seluruh objek sebagaimna tersebut

di atas yang dimiliki negara, dan/atau dikuasai oleh pemerintah pusat,

pemerintah daerah, perusahaan negara/daerah, dan badan lain yang ada

kaitannya dengan keuangan negara .

3. Dari sisi proses, keuangan negara mencakup seluruh rangkaian kegiatan yang

berkaitan dengan pengelolaan obyek sebagaimana tersebut di atas mulai dari

perumusan kebijakan dan pengambilan keputusan sampai dengan

pertanggungjawaban.

87

(10)

4. Dari sisi tujuan, keuangan negara meliputi seluruh kebijakan, kegiatan dan

hubungan hukum yang berkaitan dengan pemilikan dan/atau penguasaan

obyek sdalam rangka penyelenggaraan pemerintahan negera.

Selanjutnya, Pasal 2 Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang

Keuangan Negara menyatakan bahwa keuangan negara sebagaimana dimaksud

pada Pasal 1 angka 1 meluputi :

1. hak negara untuk memungut pajak, mengeluarkan dan mengedarkan uang,

dan melakukan pinjaman;

2. kewajiban negara untuk menyelenggarakan tugas layanan umum

pemerintahan negara dan membayar tagihan pihak ketiga;

3. penerimaan negara ;

4. pengeluaran negara;

5. penerimaan daerah;

6. pengeluaran daerah;

7. kekayaan negara/kekayaan daerah yang dikelola sendiri atau pihak lain

berupa uang, surat berharga, piutang, barang, serta hak-hak lain yang dapat

dinilai dengan uang, termasuk kekayaan yang dipisahkan pada perusahaan

negara/perusahaan daerah.

8. kekayaan pihak lain yang dikuasai oleh pemerintah dalam rangka

pennyelenggaraan tugas pemerintahan dan/atau kepentingan umum.

9. kekayaan pihak lain yang diperoleh dengan menggunakan fasilitas yang

(11)

Ruang lingkup keuangan negara tersebut di atas dikelompokan ke dalam

tiga bidang pengelolaan yang bertujuan untuk memberikan pengklasifikasian

terhadap pengelolaan keuangan negara. Yang meliputi bidang pengelolaan pajak ,

bidang pengelolaan moneter dan bidang pengelolaan kekayaan negara yang

dipisahkan.88

Pasal 37 ayat (3) UU OJK menyebutkan bahwa pungutan kepada pihak

yang melakukan kegiatan di sektor jasa keuangan adalah penerimaan OJK.

Berdasarkan uraian diatas maka pungutan OJK yang berasal dari pungutan

sebagaimana diatur dalam pasal 37 ayat (3) UU OJK adalah merupakan kekayaan

negara yang dikelola sendiri oleh OJK dan merupakan lingkup dari keuangan

negara sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 huruf (g) UU Nomor 17 Tahun 2003

tentang Keuangan Negara. Dengan demikian, penerimaan OJK yang berdasar dari

pungutan kepada pihak yang melakukan kegiatan di sektor jasa keuangan

merupakan lingkup dari keuangan negara. Hal ini sejalan dengan Pasal 23A UUD

1945 yang menyatakan bahwa pajak dari pungutan lain yang bersifat memaksa

untuk keperluan negara diatur dengan undang-undang.89

Mempertimbangkan bahwa penerimaan OJK melalui pungutan kepada

pihak yang melakukan kegiatan di sektor jasa keuangan yang tekah diatur dengan

UU OJK merupakan lingkup keuangan negara, maka penerimaan OJK melalui

pungutan tersebut memiliki kekuatan yang sama dengan kewajiban pembayaran

Pajak dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang telah diatur dengan

peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan dan PNBP. Dengan

88Muhammad Djafar Saidi, Hukum Keuangan Negara (Makasar: PT Rajagrafindo

Persada, 2008), hlm.5.

89

(12)

demikian, setiap pembayaran atas pungutan oleh pihak-pihak yang melakukan

kegiatan di sektor jasa keuangan dihitung sebagai beban biaya usaha yang dapat

mengurangi perhitungan pembayaran pajak sesuai dengan Pasal 6 ayat (1)

Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 sebagaimana diubah terakhir kali dengan

Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan.90

Pengaturan pungutan OJK sebagai mana diatur dalam UU OJK tersebut,

telah diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2014

tentang Pungutan Oleh OJK. Untuk mendorong struktur regulasi independen,

efisien dan efektif, memang perlu pungutan oleh OJK. APBN bagi OJK dapat

diamati sebagai sebagai sumber pembiayaan sementara. Dengan itu, terdapat

pengelolaan khusus keuangan OJK, sebagaimana dapat diamati dalam UU OJK

dan PP No. 11 Tahun 2014. Pungutan itu dipraktekkan juga oleh otoritas

pengawas industri jasa keuangan di negara-negara lain dan sudah meruapakan

international base practice.91

Pembiayaan kegiatan yang bersumber dari pungutan pihak yang

melakukan kegiatan di sektor jasa keuangan ini di Indonesia bukan merupakan hal

baru. Pembaiayaan kegiatan regulator di sektor jasa keuangan oleh industri jasa

keuangan dalam bentuk pungutan adalah peraktek yang lazim dibanyak negara.

Sebagai contoh, Office of the Comptroller of the Currency (OCC) di Amerika

Serikat memungut biaya dari bank secara sementara yang didasarkan pada skala

usaha bank sesuai dengan total asetnya. Selain itu terdapat tambahan pungutan

dengan presentase tertentu sesuai dengan peringkat resiko bank. Selain hal

90

Ibid.hlm19.

91

(13)

tersebut diatas, OCC memperoleh pendapatan dari memproses aplikasi perusahaan

investasi terutama pada US-Treasury, pungutan atas pemeriksaan khusus/

investigasi tertentu, pungutan atas perizinan, serta pendapatan lainnya dari

kegiatan seminar, penjuaan publikasi dan sebagainya.92

Tidak terlalu berbeda dengan OCC di Amerika Serikat, Office Of

Superintendent Of Financial Institute (OSFI) di kanada memiliki pendanaan

bersumber dari pungutan atas penilaian terhadap lembaga keuangan yang

diperhitungkan baik berbasis total aset, berbasis premi, maupun berbasis

keanggotaan.93

Financial Service Supervisory (FSS) Korea Selatan memperoleh

pendanaan dari supervisory fee, yaitu pungutan yang dikenakan kepada lembaga

keuangan sehubungan dengan kegiatan pengawasan yang dilakukan oleh FSS.

Selain supervisory fee, FSS juga memungut issuer regulatory fee yaitu pungutan

yang dikenakan kepada emiten sehubungan dengan pengajuan perizinan kepada

FSC-Korea sesuai dengan exchange act (capital market).94

Selain contoh diatas, terdapat banyak contoh negara yang pembiayaan

otoritas jasa keuangannya sepenuhnya dilakukan melalui pungutan dari indutri,

misalnya Australia, Singapura, Belgia, Bolivia, Bosnia, Ekuador, Jerman,

Hungaria, Islandia, Latvia, Norwegia, Luxemburg, Malta, Meksiko, Panama,

Swedia, Peru, Swiss, Turki dan Inggris.95

92

Zulkarnail Sitompul,Op.Cit., hlm. 19.

93Ibid,hlm. 19-20. 94Ibid.

95

(14)

Terdapat juga regulator di beberapa negara yang kegiatannya dibiayai oleh

indutri dan anggaran negara, misalnya Austria, El-Salvador, Guatelama,

Nikaragua, dan Venezuela. Sedangkan regulator yang sepenugnya dibiayai oleh

negara antara lain Cili, Cina, Costa Rica, Kazakhstan, Libanon, Jepang dan

Uruguay.96

B.Mekanisme Pelaksanaan Pungutan Oleh Otoritas Jasa Keuangan

Sebagai pelaksanaan dari amanat Pasal 37 ayat (6) UU OJK, telah ditetapkan

PP No. 11 Tahun 2014 yang mengatur mengenai pungutan OJK kepada Wajib

Bayar yang melakukan kegiatan di sektor jasa keuangan, yang antara lain

mencakup tata cara penetapan, penggunaan, jenis, besaran, waktu penagihan dan

pembayaran pungutan, dan sanksi denda. Penetapan besaran pungutan tersebut

dilakukan dengan tetap memperhatikan kemampuan Wajib Bayar yang melakukan

kegiatan di Sektor Jasa Keuangan serta kebutuhan pendanaan OJK.97 Wajib bayar

adalah Pihak sebagaimna dimaksud dalam Pasal 1 ayat (3) PP No. 11 Tahun 2014.

Pokok –pokok pengaturan pungutan oleh OJK dan aturan pelaksanaannya

yaitu PP No. 11 Tahun 2014, Peraturan Otoritas jasa Keuangan (POJK) Nomor 3

Tahun 2014 tentang Tata Cara Pelaksanaan Pungutan Oleh Otoritas Jasa

Keuangan (selanjutnya disebut POJK Nomor 3 Tahun 2014), serta Surat Edaran

Otoritas Jasa Keuangan (SEOJK) Nomor 4 Tahun 2014 tentang Mekanisme

96Ibid.

97Republik Indonesia, Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 3 Tahun 2014 tentang

(15)

Pembayaran Pungutan Otoritas Jasa Keuangan (selanjutnya disebut SEOJK

Nomor 4 Tahun 2014), adalah sebagai berikut:98

1. Penerimaan pungutan OJK tahun berjalan digunakan untuk kebutuhan

anggaran OJK tahun berikutnya.

2. Jenis pungutan OJK meliputi :99

a. Biaya perizinan, persetujuan, pendaftaran, pengesahan, dan penelaahaan

atas rencana aksi korporasi (biaya registrasi).

b. Biaya tahunan dalam rangka pengaturan, pengawasan, pemeriksaan, dan

penelitian.

3. Penjelasan biaya registrasi :

a. Biaya registrasi tidak berlaku bagi industri jasa keuangan yang telah

memperoleh registrasi sebelum berlakunya pungutan OJK.

b. Biaya regustrasi tidak berlaku bagi perizinan, persetujuan, pendaftaran,

pengesahan, dan penelaahan atas rencana aksi korporasi yang masi dalam

proses termasuk izin prinsip bagi perbankan yang diterima OJK sebelum

berlakunya PP tentang Pungutan OJK.

4. Pembayaran biaya registrasi dilakukan sebelum pengajuan dan bersifat final.

5. Penjelasan biaya tahunan :

a. Biaya tahunan dengan tarif presentase

Wajib dibayar dalam 4 (empat) tahap, pembayaran setiap tahap dihitung

dengan cara :100

98Pungutan Terhadap Industri Jasa Keuangan oleh Otoritas Jasa Keuangan, (Medan:

disampaikan pada seminar Pungutan oleh OJK dalam Mendukung Fungsi dan Tugas OJK secara Independen dan Profesional, April 2014), hlm. 5-7.

99Republik Indonesia, Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2014 Tentang Pungutan

(16)

1) Pembayaran biaya tahunan tahap I paling lambat 15 April untuk

pembayaran atas kewajiban triwulan I yaitu mulai tanggal 1 januari

sampai dengan 31 Maret tahun berjalan;

2) pembayaran biaya tahunan tahap II paling lambat tanggal 15 Juli untuk

pembayaran atas kewajiban triwulan II yaitu mulai tanggal 1 April

sampai dengan 30 Juni tahun berjalan;

3) pembayaran biaya tahunan tahap III paling lambat tanggal 15 Oktober

untuk pembayaran atas kewajiban triwulan III yaitu mulai tanggal 1

Juni sampai dengan 30 Desember tahun berjalan; dan

4) pembayaran biaya tahunan tahap IV paling lambat tanggal 31

Desember untuk pembayaran atas kewajiban triwulan IV yaitu mulai

tanggal 1 Oktober sampai dengan tanggal 31 Desember tahunan

berjalan. Masing-masing tahap sebesar 25% dari kewajiban biaya

tahunan selama setahun dan dihitung secara self assesment

berdasarkan laporan keuangan tahunan audited tahun sebelumnya.

b. Biaya tahunan dengan tarif nominal tertentu

Biaya tahunan yang besaran tarifnya ditetapkan dalam nominal

tertentu yang tidak mengacu pada laporan keuangan, pembayaran

dilakukan paling lambat tanggal 15 Juni untuk pembayaran atas kewajiban

periode satu tahun yaitu mulai tanggal 1 kewajiban periode satu tahun

100Republik Indonesia, Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 3 tahun 2014 tentang

(17)

yaitu mulai tanggal 1 Januari sampai dengan 31 desember tahun

berjalan.101

6. Urutan acuan laporan keuangan sebagai dasar perhitungan biaya tahunan

meliputi :102

a. laporan keuangan tahunan audit;

b. laporan keuangan tahunan yang tidak diaudit;

c. buku, catatan, atau dokumen lain atas pembukuan yang dikelola.

7. Biaya tahunan dihitung kembali berdasarkan laporan keuangan tahunan tahun

bersangkutan yang telah diaudit. Apabila terdapat kurang atau lebih akan

diperhitungkan pada pembayaran tahap terdekat berikutnya.103

8. Timbulnya kewajiban biaya tahunan dimulai sejak industri jasa keuangan

memperoleh perizinan, persetujuan, pendaftaran, dan pengesahan, dan

berakhir setelah perizinan, persetujuan, pendaftaran, dan pengesahan dicabut,

dibatalkan, dibubarkan, atau perusahaan terbuka menjadi perusahaan

tertutup.104

9. Industri jasa keuangan yang kewajiban biaya tahunan tidak setahun penuh,

dihitung secara proporsional bulanan dengan bagian bulan dihitung secara

harian.105

101Republik Indonesia, Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 3 tahun 2014 tentang

tata cara pelaksanaan Pungutan Oleh Otoritas jasa keuangan, Bab II, Pasal 9.

102Republik Indonesia, Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2014 tentang Pungutan

oleh Otoritas Jasa Keuangan, Bab V, Pasal 9.

103Republik Indonesia, Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2014 tentang Pungutan

oleh Otoritas Jasa Keuangan, Bab V, Pasal 11 ayat (1) .

104

Republik Indonesia, Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 3 tahun 2014 tentang tata cara pelaksanaan Pungutan Oleh Otoritas jasa keuangan, Bab II,Pasal 10 ayat (1).

105Republik Indonesia, Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 3 tahun 2014 tentang

(18)

10.Perhitungan biaya tahunan bagi emiten, nilai emisi autstanding dihitung

berdasarkan jumlah keseluruhan nilai emisi yang meliputi :

a. jumlah nilai penerbitan efek yang bersifat ekuitas pada saat penawaran

umum, penawaran umum dalam rangka penambahan modal dengan hak

memesan efek terlebih dahulu (Penawaran Umum terbatas/right issue),

penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu, pelaksanaan

efek yang dpat dikonversi menjadi saham, dikurangi dengan nilai saham

dari emisi yang dibeli kembali dan menurunkan modal disetor;

b. jumlah nilai efek bersifat utang yang diterbitkan melalui penawaran umum

dan belum lunas; dan

c. jumlah nilai sukuk yang diterbitkan melalui penawaran umum dan belum

lunas.

11.Verifikasi oleh OJK

a. Otoritas jasa keuangan dapat melakukan verifikasi atas pembayaran

kewajiban biaya tahunan.

b. Verifikasi dilakukan secara rutin dan khusus

Verifikasi rutin dilaksanakan melalui pencocokan data, permintaan

keterangan, konfirmasi, dan pengujian offsite lainnya.106Dan menurut

Pasal 14 ayat (5) POJK Nomor 3 Tahun 2014, verifikasi khusus dilakukan

dalam hal terdapat antara lain;

106Republik Indonesia, Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 3 tahun 2014 tentang

(19)

1)keterangan tertulis dari Wajib Bayar atas kehendak sendiri yang

menyatakan bahwa biaya tahunan yang telah dibayar tidak sesuai

dengan kewajibannya;

2)perubahan nilai dasar pengenaan biaya tahunan;

3)indikasi ketidaksesuaian perhitungan kewajiban dan pembayaran biaya

tahunan.

4)industri jasa keuangan dapat meminta klarifikasi atas hasil verifikasi.

12. Sanksi terhadap biaya tahunan

Apabila wajib bayar tidak melunasi kewajiban biaya tahunan sampai

dengan batas waktu sebagaimana ditetapkan pada surat teguran pertama, OJK

memberikan surat teguran kedua yang memuat :107

a. kewajiban membayar biaya tahunan paling lambat 30 (tiga puluh) hari

sejak tanggal teguran pertama; dan

b. pengenaan sanksi administratif berupa denda sebesar 2% (dua persen)

per bulan dari kewajiban pembayaran pungutan yang wajib dibayar

karena terlambat melakukan pembayaran dan paling banyak 48%

(empat puluh delapan persen) dari pungutan yang wajib dibayar

dengan ketentuan bagian dari bulan dihitung 1 (satu) bulan. Selain

sanksi administratif berupa denda OJK dapat menetapkan pengenaan

sanksi administratif tambahan dan tindakan tertentu.

13. OJK menyerahkan penagihan piutang macet kepada Panitia Urusan Piutang

Negara, kriteria piutang macet yaitu apabila kewajiban kepada OJK tidak

107Republik Indonesia, Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 3 tahun 2014 tentang

(20)

dibayar selama 1 tahun setelah jatuh tempo sesuai dengan ketentuan Pasal 13

POJK Nomor 3 Tahun 2014.

Tata cara pembayaran pungutan bagi sektor pasar modal,perasuransian,

dana pensiun, lembaga pembiayaan, bank perkreditan rakyat, bank pembiayaan

rakyat syariah, dan lembaga jasa keuangan lainnya diatur dalam SEOJK Nomor 4

Tahun 2014 tetang Mekanisme Pembayaran Pungutan oleh OJK, antara lain :

1. Wajib Bayar bagi sektor pasar modal, perasuransian, dana pensiun, lembaga

pembiayaan, bank perkreditan rakyat, bank pembiayaan rakyat syariah, dan

lembaga jasa keuangan lainnya melakukan penyetoran pungutan ke rekening

OJK di Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.

2. Penyetoran sebagaimana dimaksud pada angka 1 dilakukan dengan cara:.

a. Penyetoran langsung dengan menggunakan Surat Setoran sebagai slip

setoran pada jaringan pelayanan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk

meliputi kantor cabang, kantor cabang pembantu, kantor kas, unit, dan

teras pada PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.

b. Penyetoran langsung dengan mencantumkan NRS melalui electronic

channel PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk meliputi internet banking, Automatic Teller Machine (ATM), cash management system, dan mobile banking.

c. Pemindah bukuan atau transfer dengan mencantumkan NRS dari rekening

Wajib Bayar di PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau bank lain ke

(21)

Tata cara pembayaran pungutan bagi bank umum sebagaimana diatur

dalam SEOJK Nomor 4 Tahun 2014 tetang Mekanisme Pembayaran Pungutan

oleh OJK adalah sebagai berikut:

1. Wajib Bayar bagi bank umum melakukan penyetoran Pungutan ke rekening

OJK di Bank Indonesia.

2. Penyetoran sebagaimana dimaksud pada angka 1 dilakukan dengan

pemindahbukuan, kliring atau Real Time Gross Settlement (RTGS) bagi Bank

Umum Konvensional, Bank Umum Syariah, Kantor Cabang dan Kantor

Perwakilan dari Bank yang berkedudukan di luar negeri dengan

mencantumkan NRS ke rekening OJK di Bank Indonesia.

3. Segala biaya yang timbul terkait pembayaran pungutan ditanggung oleh Wajib

Bayar.

4. Pembayaran pungutan berlaku efektif pada tanggal dicatatnya penerimaan

pembayaran pungutan di rekening OJK.

5. Wajib Bayar menyimpan bukti pemindahbukuan sebagaimana dimaksud pada

angka 2 sebagai bukti pembayaran.

C. Keberadaan Sumber Keuangan Otoritas Jasa Keuangan Terkait dengan

Fungsi Otoritas Jasa Keuangan sebagai Pengawas Lembaga Keuangan

Berdasarkan pasal 34 ayat (2) UU OJK menentukan bahwa anggaran OJK

(22)

pihak yang melakukan kegiatan di sektor jasa keuangan. Berkaitan dengan

anggaran OJK ditentukan sebagai berikut:108

1. OJK mengenakan pungutan kepada pihak yang melakukan kegiatan disektor

jasa keuangan.

2. Pihak yang melakukan kegiatan di sektor jasa keuangan wajib membayar

pungutan yang dikenakan OJK sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

3. Pungutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah penerimaan OJK.

4. OJK menerima, mengelola, dan mengadministrasikan pungutan sebagaimana

dimaksud pada ayat (3) secara akuntabel dan mandiri.

5. Dalam hal pungutan yang diterima pada tahun berjalan melebihi kebutuhan

OJK untuk tahun anggaran berikutnya, kelebihan tersebut disetorkan ke Kas

Negara .

6. Ketentuan lebih lanjut mengenai pungutan sebagaimana dimaksud pada ayat

(1) diatur dengan Peraturan pemerintah.

Penjelasan Pasal 37 ayat (1) UU OJK menyatakan yang dimaksud dengan

pungutan antara lain pungutan untuk biaya perizinan, persetujuan, pendaftaran,

dan pengesahan, biaya pengaturan, pengawasan, pemeriksaan, serta penelitian dan

transaksi perdagangan efek. Pungutan digunakan untuk membiayai anggaran OJK

yang tidak dibiayai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Pungutan OJk

dingunakan untuk membiayai kegiatan operasional, administrasi dan pengadaan

aset serta kegiatan pendukung lainnnya untuk penyesuaian biaya-biaya dimaksud

108Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa

(23)

terhadap standar yang wajar di industri jasa keuangan.109 OJK dapat melepaskan

diri dari ketergantungan pada kesedian anggaran yang berasal dari APBN,

sehingga dapat mengurangi dan membentuk indenpendensi dalam segi

pembiayaan, 110

Independensi dari segi pembiayaan (Budgetary Independence) mengacu

pada keterlibatan dari ekekutif dan legislative dalam memutuskan anggaran OJK

termasuk personel dan besarnya gaji. Otoritas yang mempunyai kebebasan dalam

merancang anggaran dan sumber dayanya akan lebih siap untuk menghadapi

tekanan politik. Sehingga, proses pengambilan keputusan akan berjalan lebih

cepat dan sesuai dengan perkembangan pasar. Dalam hal ini, maka sebaiknya

pendanaan dari OJK diperoleh dari luar anggaran pemerintah.111

Namun demikian, disisi lain, apabila pendanaan hanya berasal dari

industri, ada kekhawatiran bila nantinya OJK akan mengalami conflict interest di

saat mengambil keputusan yang berpotensi merugikan. Misalnya dalam situasi

krisis dimana industri dapat menekan OJK untuk mengambil kebijakan yang

menguntungkan industri tanpa melihat kepentingan publik secara umum.112

Pasal 2 ayat (2) UU OJK menentukan OJK adalah lembaga yang

independen dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya, bebas dari campur

tangan pihak lain, kecuali untuk hal-hal yang secara tegas diatur dalam

undang-undang, indenpendensi tidak berarti OJK bebas menajalankan pengaturan dan

109 Bismar Nasution, “Keberadan Pungutan Otoritas jasa Keuangan untuk pelaksaan

tugas, fungsi dan wewenangnya secara independen,” ( Medan : disampaikan pada seminar pungutan oleh OJK dalam mendukung fungsi dan tugas OJK secara independen dan professional, 14 April 2014).hlm 3-4.

110 Bismar Nasution, Op Cit, hlm.6. 111Ibid , hlm.14

112

(24)

pengawasan yang mereka inginkan. Indenpendensi berarti OJK dapat

menggunakan instrumen yang dimilikinya untuk mencapai tujuan yang telah

ditetapkan oleh sistem politik tanpa adanya campur tangan dari pihak luar OJK. Ini yang disebut dengan “instrument independence”. Konsekwensi independen

bagi OJK adalah harus lebih akuntabel untuk tindakan yang dilakukan dalam

pengaturan dan pengawasan secara transparan.113

Transparansi adalah fitur utama pemerintahan demokratis. Transparansi

dapat mengurangi kekuasaan kelompok penekan dan memberikan kesempatan

luas kepada publik memantau proses pengambilan keputusan. Transparansi

meliputi:114

1. Pemberian informasi kepada publik oleh pembuat kebijakan tentang rencana

kebijakan yang akan diambil dan implikasi kebijakan tersebut bagi

masyarakat.

2. Kemampuan masyarakat atau pihak yang akan diatur untuk mengajukan

tanggapan baik lisan maupun secara tertulis tentang usulan kebijakan.

3. Informasi yang diberikan oleh pembuat kebijakan tentang proses penetapan

kebijakan dan kebijakan yang diputuskan dapat diakses oleh publik.

Esensi dari transparansi adalah pada proses pembuatan kebijakan sehingga

transparansi dapat meningkatkan rasionalitas keputusan karena transparansi

memberikan kesempatan kepada beragam pihak untuk memberi masukan kepada

pembuatan kebijakan.115Dalam membentuk kebijakan yang tepat regulasi di

bidang keuangan haruslah didesain untuk memberikan keleluasaan untuk OJK.

113Bismar Nasution, Op.Cit., hlm.2. 114Zulkarnain Sitompul, Op.Cit., hlm. 5. 115

(25)

Undang –undang harus memberikan ruang dan fleksibilitas kepada OJK untuk

dapat mendesain dan merubah kebijakan sesuai dengan kebutuhan dan

pengembangan ekonomi.116

Mengingat fungsinya yang sangat krusial untuk menyeimbangkan keadaan

perekonomian, menjadi sangat penting untuk menjaga indenpendensi OJK dari

pengaruh politik dan pemerintah. untuk itu ada beberapa faktor penting yang

harus diadopsi oleh sebuah struktur regulasi yang independen sebagai berikut:117

1. Peraturan yang jelas mengenai pengangkatan dan pemberhentian dari personel

senior. Kepastian mengenai proses pengangkatan dan pemberhentian

diperlukan untuk memberikan jaminan kepada anggota OJK untuk dapat

mengambil keputusan tanpa adanya kekhawatiran atas ancaman

pemberhentian.

2. Struktur pengaturan yang jelas. Pengambilan kebijakan di OJK sebaiknya

bersifat kolektif dan diisi oleh para ahli dibidangnya. Hal ini untuk mencegah

adanya satu individu yang terlalu dominan yang pada gilirannya dapat

mempengaruhi kebijakan yang di ambil.

3. Proses pengambilan kebijakan yang transparan. Walaupun ada beberapa

keputusan yang menurut sifatnya bersifat rahasia dan sensitif. Proses

pengambilan kebijakan yang transparan harus tetap dilakukan. Hal ini penting

untuk memastikan adanya kontrol dari publik terhadap kebijakan yang diambil

oleh OJK.

116Bismar nasution,Op.Cit., hlm. 11. 117

(26)

Indonesia adalah negara berkembang dengan perekonomian yang masi

berkembang. Infrastruktur perekonomian yang ada juga masih belum sematang

negara lain yang mempunyai perekonomian yang maju. Oleh karenanya

harmonisasi antara kebijakan pemerintah dan regulasi di bidang perekonomian

menjadi sangat penting untuk menjamin pertumbuhan ekonomi yang sehat dan

tepat untuk kesejahteraan rakyat. Dalam konteks inilah, struktur regulasi otoritas

jasa keuangan di Indonesia (OJK) harus dapat menyeimbangan antara kepentingan

pemerintah dan kepentingsn industri agar nantinya arah kebijakan perekonomian

di bidang keuangan dapat berjalan dengan selaras. Oleh karenanya, independensi

yang dimaksud bukanlah independensi yang absolute. OJK sebagai regulator dan

pengawas jasa keuangann harus dapat berfungsi sebagai katalisator pembangunan

ekonomi dan wasit untuk fair play.118

Undang-Undang Otoritas Jasa Keuangan telah mengambil langkah tepat.

Dalam UU OJK, pendanaan OJK berasal dari kombinasi APBN dan premi dari

Industri. Mengingat masih rentannya perekonomian Indonesia, kombinasi ini

merupakan solusi yang baik dimana OJK tetap dapat berfungsi penuh di saat krisis

dengan dukungan dari pemerintah.119

(27)

BAB IV

PENGURANGAN PUNGUTAN OLEH OTORITAS JASA KEUANGAN

SEBAGAI AKIBAT DARI KEPAILITAN

A. Kepailitan Lembaga Keuangan

Kepailitan adalah sita umum atas semua kekayaan Debitur Pailit yang

Pengurusan dan Pemberesannya dilakukan oleh Kurator di bawah pengawasan

Hakim Pengawas sebagaimana diatur dalamPasal 1 ayat (1)

Undang-UndangNomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban

Pembayaran Utang (selanjutnya disebut Undang-Undang Kepailitan dan PKPU.)

1. Syarat-syarat kepailitan

Syarat-syarat kepailitansangat penting karena bila permohonan kepailitan

tidak memenuhi syarat, maka permohonan tersebut tidak akan dikabulkan oleh

pengadilan niaga. Syarat-syarat tersebut ialah sebagai berikut :120

a. Pailit ditetapkan apabila debitur yang mempunyai dua kreditur atau lebih

tidak mampu membayar sedikitnya satu hutang yang telah jatuh tempo dan

dapat ditagih (Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang t Kepailitan dan PKPU).

b. Paling sedikit harus ada 2 (dua) kreditur (concurus creditorum).

c. Harus ada utang.

Undang-Undang Kepailitan dan PKPU tidak menentukan apa yang

dimaksud dengan utang. Dengan demikian para pihak yang terkait dengan

120

(28)

suatu permohonan peryataan pailit dapat berselisih pendapat mengenai ada

atau tidaknya utang.

d. Syarat utang harus telah jatuh tempo dan dapat ditagih. Pasal 2 ayat (1)

Undang-Undang Kepailitan dan PKPU tidak membedakan, tetapi

menyatukan syarat utang yang telah jatuh tempo dan utang yang telah

dapat di tagih.

e. Syarat cukup satu utang telah jatuh tempo dan dapat ditagih. Bunyi Pasal 2

ayat (1) di dalam Undang-Undang Kepailitan dan PKPU merupakan

perubahan dari bunyi Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Nomor 4 Tahun

1998 tentang Kepailitan dan Faillissementsverordening Stb. 1905 Nomor

2017 jo.S.1906 Nomor 348. Bunyi Pasal 1 ayat (1) Fv adalah :

“setiap debitur yang tidak mampu membayar utangnya yang berada dalam

keadaan berhenti membayar kembali utang tersebut, baik atas

permintaannya sendiri maupun atas permintaan seseorangkreditor atau

beberapa orang kreditornya, dapat diadakan putusan oleh hakim yang menyatakan bahwa debitur yang bersangkutan dalam keadaan pailit”.

f. Debitur harus dalam keadaan insoven, yaitu tidak membayar lebih dari

50% utang-utangnya. Debitur harus telah berada dalam keadaan berhenti

membayar kepada para krediturnya, bukan sekedar tidak membayar

kepada satu atau dua orang kreditur saja.121

Sedangkan syarat selanjutnya terdapat suatu utang adalah kewajiban yang

dinyatakan atau dapat dinyatakan dalam jumlah uang, baik secara langsung

121

(29)

maupun yang akan timbul dikemudian hari atau kontinjen, yang timbul karena

perjanjian atau undang-undang dan yang wajib dipenuhi oleh debitur, dan bila

tidak dipenuhi memberi hak kepada kreditur untuk mendapat pemenuhan dari

harta kekayaan debitur.122 Berdasarkan definisi atau rumusan di atas, unsur-unsur

untuk dapat dikatakan utang adalah :123

a. Adanya kewajiban

Kewajiban yang dimaksud tidak saja yang timbul akibat suatu perikatan,

baik yang timbul karena persetujuan juga timbul dari undang-undang,

maupun yang timbul akibat suatu perintah hakim demi kepentingan

kreditur.

b. Yang dapat dinyatakan atau dapat dinyatakan dalam jumlah utang

Kalimat atau dapat dinyatakan dalam jumlah utang menunjukan

Undang-Undang Kepailitan dan PKPU telah memberikan utang dalam pengertian

yang luas, yaitu utang yang timbul akibat suatu perjanjian, juga termasuk

utang yang timbul akibat suatu undang-undang yang dapat meliputi suatu

akibat perbuatan melawan hukum;

1) baik secara langsung maupun yang timbul di kemudian hari;

2) ditimbulkan akibat suatu perjanjian atau karena undang-undang;

3) wajib dipenuhi oleh debitur; dan

4) menimbulkan hak dari kreditur untuk menuntut debitur.

122

Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Bab I, pasal 1 ayat (6).

123 Bagus Irawan, Aspek-Aspek Hukum Kepailitan; Perusahaan; dsn Asuransi (Bandung

(30)

Timbulmya utang menimbulkan hak untuk memperoleh pembayaran

sejumlah uang atau Right to payment.

2.Pihak yang dapat mengajukan permohonan pailit sesuai dengan Pasal 2

Undang-Undang Kepailitan dan PKPU adalah sebagai berikut :

a. Debitur sendiri

Undang-undang memungkinkan seorang debitur untuk mengajukan

permohonan pernyataan pailit atas dirinya sendiri. Jika debitur masih terikat

dalam pernikahan yang sah, permohonan hanya dapat diajukan atas

persetujuan suami atau istri yang menjadi pasangannya diatur dalam Pasal 4

ayat (1) Undang-Undang Kepailitan dan PKPU.

b. Seorang kreditur atau lebih

Kreditur yang dapat mengajukan permohonan pailit terhadap debiturnya

adalah kreditur konkuren, kreditur preferen, ataupun kreditur sparatis diatur

dalam Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Kepailitan dan PKPU.

c. Kejaksaan

Permohonan pailit terhadap debitur juga dapat diajukan oleh kejaksaan

demi kepentingan umum124 Pengertian kepentingan umum adalah kepentingan

bangsa dan negara dan /atau kepentingan masyarakat luas, misalnya:125

1)debitur melarikan diri;

2)debitur menggelapkan bagian dari harta kekayaannya;

124Republik Indonesia, Undang-Undang nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan

Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Bab II, Pasal 2 ayat (2).

125

(31)

3)debitur mempunyai utang kepada BUMN atau badan usaha lain yang

menghimpun dana dari masyarakat;

4)debitur mempunyai utang yang berasal dari penghimpunan dana dari

masyarakat luas;

5)debitur tidak beritikad baik atau tidak kooperatif dalam menyelesaikan

masalah utang piutang yang telah jatuh waktu; atau

6)dalam hal lainnya yang menurut kejaksaan merupakan kepentingan

umum.

d. Otoritas Jasa Keuangan

Permohonan pernyataan pailit terhadap perbankan, perusahaan

efek, bursa efek, lembaga kliring dan penjaminan, lembaga penyimpanan,

dan penyelesaian dengan adanya OJK, otomatis telah mengubah prosedur

permohonan pailit terbatas pada perusahaan perusahaan efek, bursa efek,

lembaga kliring dan penjaminan, lembaga penyimpanan dan penyelesaian

yang dahulu menjadi kewenangan Badan Pengawas Pasar Modal

(Bapepam-LK) dan tersebut beralih ke OJK.126Terhadap perusahaan

asuransi, perusahaan asuransi syariah, perusahaan reasuransi, dan

perusahaan reasuransi syariah juga hanya dapat diajukan oleh OJKsesuai

dengan Pasal 50 ayat (1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2014 tentang

Perasuransian yang menyatakan:

“Permohonan pernyataan pailit terhadap perusahaan asuransi,

perusahaan asuransi syariah, perusahaan reasuransi, dan

(32)

perusahaan reasuransi syariah berdasarkan Undang-Undang ini

hanya dapat diajukan oleh Otoritas Jasa Keuangan”.

Sejalan dengan ruang lingkup tugas Otoritas Jasa keuangan yang

berfungsi menyelenggarakan sistem pengaturan dan pengawasan yang

terintegrasi terhadap keseluruhan kegiatan di dalam sektor jasa keuangan,

maka kewenangan pengajuan pailit terhadap perusahaan asuransi,

perusahaan asuransi syariah, perusahaan reasuransi, dan perusahaan

reasuransi syariah dan dana pensiun yang semula dilakukan oleh Menteri

Keuangan berdasarkan Undang-Undang Kepailitan dan PKPU beralih

menjadi kewenangan OJK berdasarkan Undanag-Undang ini.127

Transaksi efek di pasar modal, mengandalkan analisis pasar yang

dilakukan oleh profesional di bidang pasar modal. Jika perusahaan yang

bergerak di pasar modal sewaktu-waktu di pailitkan, otoritas jasa

keuangan yang mengetahui seluk-beluk badan usaha yang bergerak di

bidang pasar modal tersebut.128

f. Menteri keuangan

Perusahaan arusansi, perusahaan reasuransi, dana pensiun dan badan

usaha milik negara yang bergerak dibidang kepentingan publik,

permohonan pernyataan pailit hanya dapat diajukan oleh Menteri

Keuangan, sesuai denganPasal 2 ayat (5) Undang-Undang Kepailitan dan

PKPU, Namun dengan diundangkannya Undang-Undang Nomor 40 Tahun

127

Republik indonesia, Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2014 tentang Perasuransian, bab X, Pasal 50 ayat (1).

128Sentosa sembiring, Hukum Kepailitan dan Peraturan Perundang-Undangan yang

(33)

2014 tentang Perasuransian maka kewenangan permohonan pernyataan

pailit terhadap perusahaan asuransi, perusahaan asuransi syariah,

perusahaan reasuransi, dan perusahaan reasuransi syariah hanya dapat

diajukan oleh Otoritas Jasa Keuangan, yang diatur dalam Pasal 50 ayat (1).

Sedangkan Permohonan pernyataan pailit terhadap BUMN yang bergerak

di bidang kepentingan publik hanya dapat diajukan oleh Menteri

Keuangan, dengan maksud untuk membangun tingkat kepercayaan

masyarakat terhadap usaha-usaha tersebut.129

Kepailitan perusahaan merupakan cara untuk perampingan perusahaan

yang dilakukan dengan cara mempergunakan pranata hukum tentang kepailitan

yang kemudian diikuti oleh likuidasi perusahaan. Walaupun likuidasi perusahaan

ini dapat dilakukan tanpa terlebih dahulu menggunakan prosedur pailit. Namun

prosedur likuidasi dengan atau tanpa prosedur pailit baru dilakukan jika cara-cara

;ain sudah tidak feasible lagi untuk dilakukan.130 Suatu hukum kepailitan dapat

memenuhi tujuan-tujuan di bawah ini :131

a. Meningkatkan upaya pengembalian kekayaan

Semua kekayaan debitur harus ditampung dalam suatu kumpulan dana

yang sama disebut harta kepailitan yang disediakan untuk pembayaran

tuntutan kreditur. Kepailitan menyediakan suatu forum untuk likuidasi

secara kolektif atas asset debitur.

129 Jono, Op. Cit., hlm. 20.

130 Bagus Irawan, Op.Cit.,hlm. 98-99.

Likuidasi adalah tindakan penyelesaian seluruh hak dan kewajiban sebagai akibat pencabutan izin usaha dan pembubaran perusahaan dengan menetapkan aktiva dan membagi-bagikan aktiva untuk menutupi utang-utang atau kewajiban-kewajiban.

131

(34)

b. Memberikan perlakuan baik yang seimbang dan yang dapat diperkirakan

sebelumnya kepada para kreditur

Pada dasarnya, para kreditor dibayar secara pari passu; mereka menerima

suatu pembagian secara pro rata parte dari kumpulan dana tersebut sesuai

dengan besarnya tuntutan masing-masing. Prosedur dan peraturan dasar

dalam hubungan ini harus dapat memberikan suatu kepastian dan

keterbukaan. Kreditur harus mengetahui sebelumnya mengenai kedudukan

hukumnya.

c. Memberikan kesempatan yang praktis untuk reorganisasi perusahaan yang

sakit, tetapi masih potensial bila kepentingan para kreditur dan kebutuhan

sosial dilayani dengan lebih baik dengan mempertahankan debitur dalam

kegiatan usahanya.

3. Peroses permohonan pernyataan pailit diatur dalam Pasal 6 sampai Pasal 11

Undang-Undang Kepailitan dan PKPU, yang memuat tahap-tahap sebagai

berikut:

a. Tahap pendaftaran permohonan pailit

Pemohon mengajukan permohonan pailit kepada Ketua Pengadilan

Niaga. Panitera Pengadilan Niaga wajib mendaftarkan permohonan

tersebut pada tanggal permohonan yang bersangkutan diajukan dan kepada

pemohon diberikan tanda terima tertulis yang ditandatangani oleh pejabat

yang berwenang dengan tanggal sama dengan tanggal pendaftaran.132

132

(35)

Pasal 6 ayat (3) Undang-Undang Kepailitan dan PKPU

mewajibkan panitera untuk menolak pendaftaran permohonan pernyataan

pailit bagi institusi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (3), ayat (4),

dan ayat (5) Undang-Undang Kepailitan dan PKPU, jika dilakukan tidak

sesuai dengan ketentuan dalam ayat-ayat tersebut.133Pasal 6 ayat (3)

Undang-Undang Kepailitan dan PKPU ini pernah diajukan Judicial

Review di Mahkamah Konstitusi dan Putusan Mahkamah Konstitusi

Perkara Nomor 071/PUU-II/2004 dengan Perkara Nomor

001-002/PPU.III/2005 telah menyatakan bahwa Pasal 6 ayat (3) beserta

penjelasannya tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.

Berdasar putusan Mahkamah Konstitusi tersebut, panitera

Pengadilan Niaga menjadi tidak berwenang untuk menolak setiap perkara

yang masuk. Setelah mendaftarkan permohonan pernyataan pailit, panitera

menyampaikan permohonan tersebut kepada Ketua Pengadilan Niaga

paling lambat 2 (dua) hari setelah permohonan didaftarkan.134

b. Tahap pemanggilan para pihak

Sebelum persidangan dimulai, pengadilan melalui juru sita melakukan

pemanggilan para pihak baik debitur dan kreditur, dengan ketentuan

sebagai berikut :135

1) Wajib memanggil debitur, dalam hal permohonan pernyataan pailit

diajukan oleh kreditor, kejaksaan, OJK, atau Menteri Keuangan.

133Ibid. 134Ibid. 135

(36)

2) Dapat memanggil kreditur, dalam hal permohonan pernyataan pailit

diajukan oleh debitur dan terdapat keraguan bahwa persyaratan untuk

dinyatakan pailit sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1)

Undang-Undang Kepailitan dan PKPU telah terpenuhi, pemanggilan

dilakukan juru sita dengan surat kilat tercatat paling lambat 7 hari

sebelum siding pemeriksaan pertama diselenggarakan.

c. Tahap Persidangan atas permohonan pernyataan pailit

Jangka waktu paling lambat 3 hari setelah tanggal permohonan

pernyataan pailit didaftarkan, pengadilan mempelajari permohonan dan

menetapkansidang pemeriksaan atas permohonan tersebut. Sidang

diselenggarakan dalam jangka waktu paling lambat 20 hari setelah tanggal

permohonan didaftarkan.136

Selama putusan atas permohonan pernyataan pailit belum

diucapkan, setiap kreditor, kejaksaan, bank Indonesia, OJK, atau Menteri

Keuangan dapat mengajukan permohonan kepada pengadilan berupa:137

1) meletakkan sita jaminan terhadap sebagian atau seluruh kekayaan

debitur;

2) menunjuk kurator sementara untuk mengawasi ;

a) pengelolaan usaha debitur;

b) pembayaran kepada kreditor, pengalihan, atau pengagunan

kekayaan debitur yang dalam kepailitan merupakan wewenang

kurator.

136Ibid.

137Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang kepailitan dan

(37)

d. Tahap putusan atas permohonan pernyataan pailit

Putusan Pengadilan Niaga atas permohonan pernyataan pailit harus

diucapkan paling lambat 60 hari setelah tanggal permohonan pernyataan

didaftarkan, sebagai perwujudan asas perdilan yang bersifat cepat, murah,

dan sederhana. Putusan atas permohonan pernyataan pailit wajib

diucapkan dlam siding terbuka untuk umum dan wajib memuat secara

lengkap pertimbangan hukum yang mendasari putusan tersebut serta

memuat pula;138

1)Pasal tertentu dari peraturan perundang-undangan yang bersangkutan

dan/atau sumber hukum tak tertulis yang dijadikan dasar untuk

mengadili;

2)pertimbangan hukum dan pendapat yang berbeda dari hakim anggota

atau ketua majelis.

Salinan putusan pengadilan atas permohonan pernyataan pailit wajib

disampaikan oleh juru sita dengan surat kilat tercatat kepada debitur, pihak yang

mengajukan permohonan pailit, kurator, dan hakim pengawas paling lambat 3

(tiga) hari setelah tanggal putusan atas permohonan pernyataan pailit

diucapkan.139 Putusan kepailitan adalah bersifat serta merta dan konstitutif yaitu

meniadakan keadaan dan menciptakan keadaan hukum baru.140

138

Jono, Op. Cit., hlm.91.

139Ibid.

140Rahayu Hartini, Hukum Kepailitan (Malang: Universitas Muhammadyah, 2007),

(38)

B.Akibat Hukum Kepailitan Terhadap Lembaga Keuangan

Putusan hakim tentang kepailitan ada tiga hal yang esensial yaitu,

pernyataan bahwa si debitur pailit, pengangkatan hakim pengawas yang di tunjuk

hakim pengadilan dan pengajuan kurator. Bila tidak diajukan maka Balai Harta

Peninggalan (BHP) yang bertindak selaku kurator.141Sejak debitur dinyatakan

pailit melalui putusan pengadilan, debitur pailit kehilangan kewenanganya

(onbevoegd) dan dianggap tidak cakap (onbekwaam) untuk mengurus dan

menguasai hartanya tersebut. Pengurusan dan penguasaan atas harta debitur

beralih kepada kurator.142 Hal tersebut sebagaimana dijelaskan dalam Pasal 24

Undang-Undang Kepailitan dan PKPU yang menyebutkan sebagai berikut :

1. Debitur demi hukum kehilangan haknya untuk menguasai dan mengurus

kekayaanya yang termasuk dalam harta pailit, sejak tanggal putusan

pernyataan pailit diucapkan.

2. Tanggal putusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dihitung sejak pukul

00.00 waktu setempat143.

3. Dalam hal sebelum putusan pernyataan pailit diucapkan telah dilaksanakan

transfer dana melalui bank atau lembaga selain bank pada tanggal putusan

sebagaimana dimaksud pada ayat (1), transfer tersebut wajib diteruskan.

4. Dalam hal sebelum putusan pernyataan pailit diucapkan telah dilaksanakan

transaksi efek di bursa efek maka transaksi tersebut wajib diselesaikan.

141

Rahayu Hartini, Op.Cit.,hlm. 103.

142 Bagus Irawan, Op.Cit., hlm. 28.

143 Waktu setempat adalah waktu tempat putusan pernyataan pailit diucapkan oleh

(39)

Transaksi dana melalui bank dan transaksi efek di bursa efek perlu

dikecualikan untuk menjamin kelancaran dan kepastian dan sistem transfer

melalui bank maupun transaksi efek di bursa efek, adapun penyelesaian transaksi

efek di bursa efek dapat dilaksanakan dengan cara penyelesaian pembukuan atau

cara lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal.144

Putusan Pailit bukan menyangkut para kreditor saja tetapi menyangkut

para pemangku kepentingan lainnya atau stakeholders dari debitur, yaitu Negara

sebagai penerima pajak, para karyawan dan buruhnya, pemasok barang dan jasa

kebutuhan debitur, para pedagang atau pengusaha yang memperdagangan barang

dan jasa debitur.145

Meskipun debitur kehilangan hak untuk mengurus dan menguasai harta

kekayaanya tetapi debitur tidak kehilangan kecakapan untuk melakukan perbuatan

hukum sepanjang perbuatan tersebut tidak mempunyai akibat hukum atas harta

kekayaan yang telah dikuasi kurator. Apabila debitur tetap melakukan perbuatan

hukum yang berkaitan dengan harta pailit, perbuatan tersebut tidak mengikat harta

pailit kecuali apabila perbuatan tersebut mendatangkan keuntungan bagi harta

pailit.146

Hal tersebut sejalan dengan Pasal 25 Undang-Undang Kepailitan dan

PKPU yang menyatakan semua perikatan debitur pailit yang dilakukan sesudah

pernyataan pailit, tidak dapat dibayar dari harta pailit, kecuali bila

144Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan

Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Penjelasan, Bab II, Pasal 24 ayat (3) dan ayat (4).

145 Andriani Nurdin, Kepailitan BUMN Persero Berdasarkan Asas Kepastian

Hukum(Bandung : P.T Alumni, 2012), hlm. 217.

146

(40)

perikatan tersebut mendatangkan keuntungan bagi harta kekayaan itu. Dalam

pemberesan harta pailit diterapan beberapa asas yakni :147

1. Asas keseimbangan

Penerapan Asas Keseimbangan akan mencegah terjadinya penyalahgunaan

pranata dan lembaga kepailitan oleh baik debitur yang tidak jujur maupun

kreditur yang tidak beritikad baik.

2. Asas keadilan

Pemenuhan utang-utang debitur dari asset pailit dapat memenuhi rasa keadilan

bagi par pihak yang berkepentingan, dan mencegah terjadinya

kesewenang-wenangan pihak penagih.

3. Asas kelangsungan

Penyelesaian kepailitan akan diarahkan agar perusahaan debitur pailit yang

prospektif dapat dilanjutkan.

4. Asas integritas

Asas Integritas tidak membedakan proses kepailitan yang menyangkut

perorangan, badan usaha swasta dan BUMN/BUMD, kecuali mengenai

persyaratan pihak-pihak yang dapat mengajukan permohonan pernyataan pailit.

Setelah putusan pailit diucapkan dalam sidang yang terbuka untuk umum

maka putusan itu menjadi mengikat secara hukum.148 Akibatnya antara lain

sebagai berikut:

1. Terhadap gugatan-gugatan

147 Andriani Nurdin,Op.Cit.,hlm. 226.

148Syamsudin M. Sinaga, Hukum Kepailitan Indonesia (Jakarta: PT. Tatanusa,2012), hlm.

(41)

Akibat hukum dari putusan kepailitan membawa konsekwensi bahwa

gugatan-gugatan hukum yang bersumber pada hak dan kewajiban harta kekayaa

debitur pailit harus diajukan oleh atau terhadap kurator.149Dalam Pasal 28

Undang-Undang Kepailitan dan PKPU putusan pernyataan pailit membawa akibat

hukum terhadap gugatan-gugatan yang sedang berjalan, baik dalam kapasitas

debitur sebagai tergugat maupun penggugat yaitu:

a. gugatan ditunda/ ditangguhkan;

b. kurator mengambil alih perkara (pengalihan kedudukan kreditor sebagai

tergugat, dialihkan kepada kurator) dengan menggantikan kedududkan

debitur;

c. perkara digugurkan;

d. gugatan diteruskan.

2. Terhadap perikatan-perikatan

a. Perjanjian timbal balik

Apabila terdapat perjanjian timbal balik yang belum atau baru

sebagian terpenuhi, maka pihak dengan siapa Debitur mengadakan

perjanjian tersebut dapat meminta kepada kurator untuk memberikan

kepastian tentang kelanjutan pelaksanaan perjanjian tersebut dalam jangka

waktu yang disepakati oleh kurator dan kedua belah pihak. Bila tidak

tercapai kesepakatan tentang jangka waktu, Hakim Pengawas akan

menetapkan jangka waktu tersebut. Dalam hal kurator tidak memberikan

jawaban atau tidak bersedia melanjutkan pelaksanaan perjanjian, maka

149

(42)

perjanjian berakhir dan pihak dengan siapa Debitur mengadakan perjanjian

tersebut dapat menuntut ganti rugi dan akan berkedudukan sebagai kreditur

kokuren. Dalam hal kurator menyatakan kesanggupannya, maka kurator

dapat dimintakan untuk memberikan jaminan atas kesanggupannya

melaksanakan perjanjian tersebut.150

b. Penyerahan barang

Apabila perjanjian penyerahan benda dagangan dengan suatu

jangka waktu dan pihak yang harus menyerahkan benda tersebut sebelum

penyerahan dilaksanakan dinyatakan pailit maka perjanjian menjadi hapus

dengan diucapankan putusan pernyataan pailit dan dalam hal pihak lawan

dirugikan maka yang bersangkutan dapat mengajukan disi sebagai kreditor

kunkuren untuk mendapatkan ganti rugi.151

c. Perjanjian sewa menyewa

Bila debitur telah menyewa suatu benda, maka baik kurator

maupun pihak yang menyewakan benda, dapat menghentikan perjanjian

sewa dengan syarat pemberitahuan penghentian dilakukan sebelum

berakhirnya perjanjian sesuai dengan adat kebiasaan setempat. Untuk itu

harus diindahkan pemberitahuan penghentian menurut perjanjian atau

menurut kelaziman dalam jangka waktu paling singkat 90 hari. Bila uang

telah dibayat di muka maka perjanjian sewa tidak dapat dihentikan lebih

awal sebelum berakhirnya jangka waktu yang telah dibayar uang sewa

150 Sunarmi, Op.Cit.,hlm. 100. 151

(43)

tersebut. Sejak tanggal Putusan diucapkan, uang sewa merupakan utang

harta paili.152

d. Hubungan kerja

Pekerja yang bekerja pada debitur dapat memutuskan hubungan

kerja dan kurator dapat memberhentikannya dengan mengindahkan jangka

waktu menurut persetujuan atau ketentuan perundang-undangan yang

berlaku, dengan pengertian paling singkat 45 (empat puluh lima) hari

sebelumnya. Sejak tanggal putusan pernyataan pailit diucapkan, upah yang

terutang sebelum maupun sesudah pernyataan pailit diucapkan merupakan

utang harta pailit.153Terkait dengan kedudukan pekerja, menurut joseph E.

Stiglitz, Hukum kepailitan harus mengandung tiga prinsip yaitu :154

1) Peran utama kepailitan dalam ekonomi kapitalis modern adalah untuk

menggalakkan reorganisasi perusahaan. Hukum kepailitan harus

memberikan waktu cukup bagi perusahaan untuk melakukan

pembenahan perusahaan.

2) Meskipun tidak dikenal Hukum kepailitan yang berlaku universal dan

ketentuan kepailitan telah berkembang dari waktu ke waktu seiring

dengan perubahan keseimbangan politik diantara para pelaku,

trsnformasi structural perekonomian dan perkembangan sejarah

masyarakat namun setiap hukum kepailitan bertujuan

menyeimbangkan beberapa tujuan termasuk melindungi hak-hak

kreditur dan menghindari terjadinya likuidasi premature.

152Ibid hlm. 101. 153Ibid.

154

(44)

3) Hukum Kepailitan mestinya tidak hanya memperhatikan kreditur dan

debitur, tetapi yang lebih penting lagi adalah memperhatikan

kepentingan stakeholder yang dalam kaitan ini yang terpenting adalah

pekerja.

e. Pembayaran utang

Jika sebelum Putusan pailit dijatuhkan, Debitur telah melakukan

pembayaran utangnya kepada kreditur tertentu, maka pembayaran uang

tersebut dapat dibatalkan apabila dapat dibuktikan penerima pembayaran

mengetahui bahwa permohonan pernyataan pailit debitur sudah

didaftarkan dan pembayaran tersebut merupakan persekongkolan antara

Debitur dan Kreditur dengan maksud untuk menguntungkan bagi Kreditur

tersebur melebihi Kreditur lainnya.155

f. Terhadap penjualan surat berharga

Pembayaran yang telah diterima oleh pemegang “surat pengganti’

atau “surat atas tunjuk”, yang karena hubungan hukum dengan pemegang

terdahulu wajib menerima pembayaran, maka pembayaran tersebut tidak

dapat diminta kembali.156

g. Pembayaran kepada debitur pailit akibat perikatan

Setiap orang yang sesudah Putusan pernyataan pailit diucapkan

tetapi belum diumukan, membayar kepada Debitur pailit untuk memenuhi

perikatan yang tertib sebelum putusan peryantaan pailit diucapkan,

155Ibid, hlm. 111. 156

Figur

Kriteria Kesulitan KeuanganTabel. I 168

Kriteria Kesulitan

KeuanganTabel. I 168 p.49

Referensi

Memperbarui...