Perbandingan aliran Ahmadiyah dengan ahli sunnah wal-jama'ah dari segi teologi dan fiqh : studi kasus komunitas ahmadiyah di masjid al-hidayah kebayoran lama

101 

Teks penuh

(1)

A. Latar Belakang Masalah

Pada tanggal 15 Agustus 2005, bangsa Indonesia khususnya umat islam

dikagetkan oleh suatu peristiwa yang memilukan sekaligus memalukan yang

berdimensi agama. Adalah peristiwa penyerangan dan pengepungan kampus Al–

Mubarok di parung Bogor. Sebuah tempat yang berfungsi sebagai lembaga

pendidikan tinggi (Universitas ) dan kantor pusat milik salah satu organisasi

Islam Ahmadiyah. Sekitar pukul 13.30 WIB, setelah shalat Jum’at, sekelompok

orang yang berjumlah sekitar 1500 orang mengepung dan melakukan aksi

demonstrasi di depan kantor tersebut.1 Aliansi yang merupakan gabungan dari

berbagai elemen berbagai gerakan, Majlis pengajian, dan Organisasi

kemasyarakatan yang tergabung dalam Gerakan Islam Lurus atau Gerakan

Pemurnian Akidah yang memiliki visi ingin mengajak umat islam kepada garis

yang telah ditentukan syariat dan sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW.2

Ada satu tugas besar bagi Ahmadiyah yang seharusnya segera merespon,

mengklarifikasi yang secara serius, dan pro aktif untuk memberikan jawaban

yang dapat menjelaskan kepada publik mengenai gerakannya sehingga

pemahaman dan arah gerakannya dapat difahami oleh khalayak publik.

1. Fajar Kurniawan,Teologi Kenabian Ahmadiyah, ( Jakarta; RMBooks,2006) hal.1 2. Berita ini diambil dalam www.detik.com. Detiknews tanggal 15 juli 2005.

(2)

Sebenarnya beberapa upaya telah dilakukan oleh Ahmadiyah untuk menjawab

pertanyaan tersebut. Banyak buku-buku, buletin, majalah dan media lain yang

diterbitkan sebagai jawaban atas berbagai kritikan dan pertanyaan, baik yang

ditulis oleh Ahmadiyah atau buku yang ditulis oleh para Ilmuwan. Ada beberapa

pokok jawaban yang disampaikan Ahmadiyah kepada publik yang selama ini

dipertanyakan.3

Pertama Ahmadiyah sebenarnya sama seperti umat islam yang lain

dalam hal rukun islam dan rukun iman. Semua ajaran Ahmadiyah didasarkan

kepada Al-Quran dan Al-hadist Rasulullah SAW. Namun demikian, ada

beberapa hal yang menarik untuk dikaji secara lebih mendalam, yaitu Aplikasi

pemahaman terhadap Al-Quran dan Al-Hadist yang dilakukan Ahmadiyah yang

kemudian menjadi paradigma teologis doktriner bagi jemaahnya. Hasil yang

sangat berbeda dengan mainstream umat islam selama ini, khusunya

Ahlus-sunnah wal jama’ah, termasuk dalam konteks keindonesiaan.4

Kedua, Ahmadiyah mempunyai pandanagan yang berbeda dengan umat

islam pada umumnya, khususnya pada ranah teologis. Beberapa perbedaan

tersebut antara lain terletak pada kewafatan Nabi Isa as, Pintu kenabian belum

tertutup khusus pada permasalahan tafsir ayat khotaman Nabiyyin dan Mirzam

Gulaman Ahmad sebagai imam mahdi dan masih mau tiga permasalahan penting

3 Iskandar Zulkarnain, Gerakan Ahmadiyah di Indonesia,(Yogyakarta:LKIS,2006) Hal.20-40

(3)

ini sebenarnya berangkat dari keyakinan atau basis akidah Ahmadiyah yang

menjadi kesatuan dan paralel dengan teologi paradigmatis doktoriner yang

lainnya, yaitu syariat jihad, wahyu, sistem kholifah dan konsep kenabian dalam

pandangan Ahmadiyah yang juga banyak berbeda dengan umat islam pada

umumnya. Ketigat tadzkiroh secara umum umat islam khususnya yang di

indonesia selama ini menganggap tadzkiroh sebagai kitab suci bagi Ahmadiyah. 5

Dewasa ini umat muslim di Indonesia digemparkan dengan

bermunculannya berbagai aliran keagamaan yang di cap “sesat” oleh sebagaian

kelompok lain. Dalam hal ini Majelis Ulama Indonesia dalam Rakernas tanggal 6

November 2007, mengeluarkan fatwa tentang Kriteria Aliran Sesat yaitu :

1. Mengingkari salah satu dari rukun iman dan rukun Islam

2. Meyakini dan atau mengakui aqidah yang tidak sesuai dengan dalil

syari’at (al-Quran dan al-Sunnah)

3. Meyakini adanya wahyu pasca al Quran

4. Mengingkari otensitas al-Quran

5. Melakukan penafsiran al-Quran yang tidak berdasarkan kaidah tafsir

6. Mengingkari kedudukan hadis Nabi sebagai sumber ajaran Islam

7. Menghina, melecehkan atau merendahkan para Nabi dan Rasul

8. Mengingkari Nabi Muhamad Saw sebagai Nabi dan Rasul terakhir

9. Merubah, menambah dan atau mengurangi pokok-pokok ibadah yang

telah ditetapkan oleh syari’ah, seperti shalat, haji dan sebagainya.

(4)

10. Mengkafirkan sesama muslim tanpa dalil syar’i, seperti

mengkafirkan muslim hanya bukan bagian dari kelompoknya.6

Dalam fatwa tersebut dinyatakan tentang kriteria bagaimana kelompok

atau aliran tersebut di nilai sesat, diantaranya mengingkari rukun iman yang telah

disepakati oleh umat Islam, mengikuti aqidah yang tidak sesuai dengan syari’at

Islam, mengkafirkan sesama muslim tanpa dalil syara dan masih banyak lagi.

MUI menyatakan bahwa Ahmadiyah misalnya dikatakan sebagai

penodaan terhadap agama Islam, hal ini dikarenakan bahwa dalam salah satu

doktrin ahmadiyah terdapat penyimpangan seperti pengakuan atas kerasulan

Mirza Ghulam Ahmad ini termasuk bagian dari penodaan terhadap agama Islam,

karena di dalam keyakinan Ahli Sunnah wal Jammah Nabi Muhammad sebagai

Nabi terakhir dan tidak ada lagi Nabi sesudahnya.

Akan tetapi komunitas Jemaah Ahmadiyah tidak sertamerta, dalam

mengklaim kenabian Mirza Ghulam, mereka tentunya melalui proses penafsiran

terhadap al-Quran, kalaupun dalam penafsirannya itu keliru, akan tetapi bukan

kapasitas kita untuk memaksakan pendapat kita agar diadopsi oleh mereka,

dengan kata lain hendak untuk menyeragamkan penafsiran.7

Disinilah penulis melihat bahwa perlunya perbandingan pemahaman

Ahmadiyah dengan aliran-aliran terutama Ahli Sunnah Wal Jama’ah seperti

halnya dalam teologis yaitu adanya perbedaannya penafsiran dan pemahaman

(5)

tentang kenabian begitu juga dalam fiqih ada juga perbedaana baik dalam segi

praktek ibadah maupun bacaan, mulai dari shalat, wuhdu, tharah dan lain-lain.

Dalam hal ini apakah dikalangan Ahmadiyah baik itu shalat, wuhdu dan tharah

mempunyai rukun dan syarat sebagaimana telah dijelaskan di kalangan Ahli

Sunnah Waljama’ah. Maka berangkat dari sini, Penulis tertarik untuk melakukan

penelitian,kajian dan analisis dengan mengangkat judul “PERBANDINGAN

ANTARA ALIRAN AHMADIYAH DENGAN AHLI SUNNAH

WAL-JAMA’AH DARI SEGI TEOLOGI DAN FIQIH (Study Kasus Ahmadiyah di

Masjid Al-Hidayah Kebayoran Lama)”

B. Rumusan dan Pembatasan Masalah

Setelah melihat uraian (latar belakang masalah) di atas, selanjutnya penulis

mencoba merumuskan beberapa masalah sebagai upaya memudahkan pemahaman

yang lebih komprehensif.

Adapun rumusan masalahnya diformulasikan dalam bentuk pertanyaan

sebagai berikut:

1. Bagaimana Perbandingan aliran Ahmadiyah dengan ahli Sunnah wal

Jamaah dalam fiqih dan teologis?

2. Apa saja dalam kegiatan jamaah Ahmadiyah, baik itu aktifitas sehari-

hari maupun pratek ibadah, khususnya Ahmadiyah di Masjid

Al-hidayah Kebayoran lama?

(6)

4. Menganalisis dalil-dalil yang digunakan Ahmadiyah dengan dalil

menurut Ahli sunnah Wal jamaah yaitu di wakili PBNU ?

5. bagaiman perbedaan penasiran yang digunakan Jamaah Ahmadiyah

dengan dalil yang digunakan Ahli Sunnah?

C. Tujuan Penelitian dan Kegunaan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap fakta sejarah Ahmadiyah

sebagai gerakan keagamaan di Indonesia, dan juga kronoogis factor-faktor

timbulnya airan sesat Ahmadiyah di Parung Bogor.

Hasil dari penelitian ini diharapkan diantaranya:

1. Dapat menjadi sumber yang relative, konfrehensip dan ukuran tentang

Ahmadiyah khususnya di kampus al-Mubarok Bogor.

2. Dapat mengungakap fakta-fakta sejarah baru mengenai dinamika gerakan

keagamaan dan pemikiran.

3. Dapat dipergunakan sebagai penyempurnaan terhadap penelitian sejenis yang

telah dilakukan sebelum dan dapat dijadikan modal penelitian sejenis

baik dalam masalah yang sama maupun berbeda.

Dalam kegunna penelitian dibagi dua:

(7)

Skripsi ini diharapkan dapat memberikan solusi, pemecahan masalah

yang terjadi di masyarakat dan di kalangan ilmuan dalam menetapkan kreteria

aliran sesat yang sebagaimana ditetapkan MUI.

2. Kegunaan Ilmiah

Sekripsi ini diharapkan dapat memberi kontribusi pemikiran yang berarti

bagi kajian Islam secara teoritis, khususunya dalam masalah Perbandingan

aliran Ahmadiyah dengan Ahli Sunnah Wal-Jama’ah dan bisa menafsirkan

Al-qur’an dan Sunah dalam menganalisanya dalam kodivikasi terhadap

perkembangan aliran. 8

D. Kerangka Tiori

Dasar Hukum yang Digunakan Berkaitan dengan masalah kriteria Majelis

Ulama Indonesia (MUI) dalam menetapkan suatu fatwa didasarkan pada

al-Quran, as-Sunnah, Ijmas, dan Qiyas. Karena keempat hal tersebut merupakan

sumber hukum syara’ yang disepakati oleh jumhur Ulama. Sedangkan yang

lainnya seperti Ihtisan, Sadz al-Dzari’ah dan sebagainya masih dalam tataran

khilafiyah (diperselisihkan) oleh jumhur ulama. Meskipun demikian. Dalam

pendekatan manhajaliran sesat, MUI menetapkan hukumnya berlandaskan

al-Quran dan as-Sunnah. Dalil yang digunakan MUI adalah sebagai berikut :

(8)

1. Al-Quran padaAl-Ahzab ayat 40 :

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara

kamu., tetapi Dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. dan adalah Allah

Maha mengetahui segala sesuatu”9

“Rasulullah bersabda : Tidak ada Nabi sesudahku” (HR. Bukhari)

لﺎ

tidak ada rasul dan nabi sesudahku.” (HR. Turmudzi)10

Dasar yang berkaitan dengan Akidah atau Teologis, Ibadah dan Fiqih

Pertama, kesesatan yang berkaitan dengan Akidah atau Teologis, dalam

hal ini banyak ayat Al-Quran yang mengungkapkan tetang penyimpangan dan

kesesatan yang berhubungan dengan akidah. Ini merupakan penjelasan dari

kalangan Ahli Sunnah. Salah satu ayat yang berkaitan dengan hal ini terdapat

dalam surat Al-Nisa ayat 136 yang berbunyi sebagai berikut :

(9)

⌧ )

ءﺎ ﻟا

/ 4 : 136 (

Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan

Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab

yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah,

malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari Kemudian,

Maka Sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.

Ayat ini menegaskan kepada kita untuk tetap beriman dan teguh dalam

keimanan tersebut. Orang mukmin diperintahkan untuk tetap beriman kepada

Allah, Rasul, kitabullah. Kemudian Allah melarang orang beriman untuk berbuat

kekafiran dengan menegaskan bahwa siapa yang kufur terhadap Allah, para

malaikat, kitabullah dan rasul-rasul-Nya dan hari kiamat berarti mereka telah

berada dalam kesesatan yang jauh.11

Kedua, kesesatan yang berkaitan dengan ibadah dan Fiqih merupakan

kesesatan yang berkenaan dengan manifestasi kepercayaan seseorang. Beberapa

ayat Al-Quran dikemukakan di sini telah mensinyalir kesesatan tersebut.12

11 Aibdi Rahmat, Kesesatan dalam Persepektif al- Qur’an, Kajian Tematik terhadap Istilah “Dalal” dalam al- Qur’an, Yogyakarta, Pustaka Pelajar.1997.hal.119

(10)

Pada tahun 1901, Mirza Ghulam Ahmad mengaku dirinya sebagai Nabi

dan Rasul, hal ini dapat dilihat dalam karya-karyanya juga tulisannya diberbagi

media massa. Diantaranya adalah :

Mirza Ghulam Ahmad dalam Daafi’ Al-Bala’ :

“Dan Dia-lah Tuhan yang haq yang telah mengutus rasul-Nya di Qodiyan

Mirza Ghulam Ahmad dalam Haqiqat Al-Wahyi :

mengutusku dan menyebutku sebagai Nabi

Mirza Ghulam Ahmad dalam Nuzul Al-Masih :

sebagaimana kaca yang menampakan gambaran yang sempurna, dari

Muhammad dan kenabian Muhammad”

Mirza Ghulam Ahmad dalam koran Akhbar ‘Am tanggal 26 Mei 1908:

“Saya adalah seorang Nabi sebagaimana telah ditetapkan Allah, sekiranya

(11)

bagaimana mungkin aku menolaknya. Dan saya akan tetap meyakini hingga saya

meninggal dunia” 13(MUI, 2007: 21-23)

Hampir semua tulisan karya Mirza Ghulam Ahmad dipenuhi oleh

pengakuan-pengakuannya sebagai Al-Mahdi, Al-Masih dan Nabi. Selain itu,

karyaa-karyanya dipenuhi oleh kutipan Al-Quran dengan tambahan teks tertentu

yang diakuinya sebagai wahyu dari Allah.

Dalam kasus kesesatan Ahmadiyah ini oleh salah seorang Peneliti LPPI,

Hartono Ahmad Jaiz disebutkan bahwa dalam kitab Tadzkirah konon

menjadi pegangan utama pengikut Ahmadiyah-- banyak selewengkan

ayat-ayat Al-Qurán. Berdasarkan bukti-bukti ajaran Mirza Ghulam Ahmad,

sebagaimana tertuang dalam berbagai tulisannya, maka dapat disimpulkan bahwa

ajaran yang di bawa oleh Mirza Ghulam Ahmad adalah sesat.14

E. Langkah-langkah Penelitian

Untuk memperoleh data yang lengkap dan dapat di pertanggungjawabkan

secara ilmiah maka dalam penelitian ini, penulis mengambil langkah-langkah

penelitian sebagai berikut:

1. Metode Penelitian

Metode penilitian adalah gambaran bagaimana penelitian itu akan

ditempuh atau dilaksanakan . Metode yang digunakan dalam penelitian ini

13. Artikel MUI, 2007: 21-23

(12)

adalah metode penelitian content analysis atau analisis isi karena penelitian

ini meneliti atau mencari data dari buku-buku, teks al-Qur’an, al-Hadits,

Artikel, serta hasil wawancara dari Aliran Ahmadiyah, MUI dan PBNU.

2. Jenis Data

Jenis data yang dihimpun dalam penelitian ini adalah data kualitatif yang

datanya diperoleh dari wawancara dan literatur, adapun data yang dihimpun

adalah :

a. Data tentang kegiatan jejak Ahmadiyah masa lalu

b. Data tentang kajian MUI Bogor

c. Data dari Aliran Ahmadiyah di Masjid Al-Hidayah Kebayoran Lama.

d. Data dari PBNU

3. Sumber Data

Sumber data dari penelitian ini terbagi kedalam dua bagian:

a. Sumber Data Primer

Kitab Taskiroh dan Data kajian MUI Bogor.

b. Sumber Data Sekunder

Sedangkan sumber data sekundernya adalah kitab-kitab atau

buku-buku tulisan Ahmadiyah maupun karangan diluar Ahmadiyah, skripsi

yang mendukung dalam pembahasan ini termasuk artikel, makalah,

majalah, tabloid serta berita harian yang memuat tentang masalah aliran

(13)

4. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah

sebagai berikut:

a. Wawancara (interview)

Wawancara dilakukan oleh penulis dengan salah satu anggota

Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia yakni K.H, KhaerulYunus (MUI

Bogor) dan Dr.H, Cholil Nafis Lc, M.A. (PBNU) sebagai penjelas. Dan

Tokoh Ahmadiyah sebagai pelaku aliran.

b. Studi literatur (literature review)

Dengan teknik ini, penulis mencari data tentang konsep ajaran

Ahmadiyah kemudian di bandingkan dengan pendapat-pendapat Ahli

sunnah , menurut MUI, dan PBNU menggunakan metode literatur atau

kepustakaan, berupa buku-buku yang diberikan MUI dan PBNU sebagai

acuan serta buku-buku, artikel, tabloid dan sebagainya yang berkaitan.

5. Analisis Data

Dalam penelitan kualitatif, analisis data yang digunakan adalah secara

Induktif. Proses data dimulai dengan penyeleksian data yang telah

dikumpulkan, kemudian diklasifikasikan menurut katagori tertentu. Tahap

kedua, hasil pengklaifikasian tersebut dihubungkan dengan teks suci sebagai

rujukan utama aspek metodologi dalam memahami teks tersebut.

Adapun langkah-langkah oprasionalnya adalah sebagai berikut :

(14)

2. Dari data yang sudah tersusun, kemudian diklasifikaskan untuk dijadikan

sebagai dasar pijakan dalam menyelesaikan dan pemberian jawaban atas

persoalan yang diteliti, yakni sebab timbulnya aliran sesat baik dari segi

pilitik, ekonmi, budaya dan dipengaruhi oleh kurangnya ilmu pengehuan.

3. Interpretasi data, yaitu mengumpulkan seluruh data yang diperoleh baik

dari data primer maupun data sekunder.

4. Menarik kesimpulan terhadap persoalan yang sedang penulis teliti.

F. Review Study Terdahulu

Sebagai study review terdahulu saya mengambil dari skripsi- skripsi yang

relevan dengan judul saya, yang pertama yang berjudul SIKAP POLITIK

FUNGSIONARIS PARTAI BULAN BINTANG TENTANG KEBEBASAN

BERAGAMA ( Kasus Pelarangan Penyebaran Ahmadiyah) di sesun oleh Fauzi

Rahman NIM : 1040405201500, Konsentrasi Ketatanegaraan Islam Program

Study Jinayah Siyasah Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah

Jakarta 2009 M /1430 H. Diantara Pembahasannya :

a. bagaimana pandangan Fungsionaris Partai Bulan Bintang terhadap

kebebasan beragama.

b. Pandangan Fungsionaris Partai Bulan Bintang terhadap SKB3 Menteri bagi

penganut ajaran Ahmadiyah.

(15)

d. Kosep yangh ditawarkan Fungsionaris Partai Bulan Bintang atas persoalan

eksisfensi ajaran Ahmadiyah di Indonesia

Kedua saya mengambil judul skripsi METODE IJTIHAD MAJELIS

ULAMA INDONESIA MENETAPKAN FATWA ( Study Kasus Terhadap

Terhadap Fatwa MUI Tentang Aliran Ahmadiyah) yang di susun oleh Yanto

NIM ;10104312245 Jurusan Perbandingan Mazhab dan Hukum Fakultas

Syari’ah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2006 M /1427 H. Diantara

Pembahasannya;

a. Bagaimana metode Ijtihad MUI dalam menetapkan Aliran sesat.

b. Pro-kontra Fatwa MUI Tentang aliran Ahmadiyah

c. Efektivitas fatwa di tengah-tengah masyarakat.

d. Bagaimana cara MUI menetapkan aliran Ahmadiyah dan apa dasar

dalilnya.

e. Bagaiman sebab timbulnya aliran sesat.

Ketiga saya mengambil judul skripsi ANALISA TERHADAP DUA

PUTUSAN PENGADILAN NEGERI MENGENAI ALIRAN-ALIRAN SESAT

(Studi Kasus Putusan Tehadap Ahmad Mushadeq dan Lia Eden ) disusun oleh

Eri Setiawan ditulis pada tahun 2009 M / 1430 H. Pada tulisan yang telah ada

diskripsi beliau hanya membahas :

a. Menguraikan analisa hukuman yang terdapat dua pelaku yang hukumannya

(16)

b. Dasar hukum yang sama namun beda penerapan antara kedua.

c. Bagaimana analisis Pengadilan Negeri terhadap putusan yang telah

ditetapkan.

d. Sejarah dan identitas keduanya yaitu Ahmad Mushadeq dan Lia Eden.

Sedangkan saya mengambil judul skripsi “PERBANDINGAN

ANTARA ALIRAN AHMADIYAH DENGAN AHLI SUNNAH DARI SEGI

TEOLOGI DAN FIQIH (Study Kasus Ahmadiyah di Masjid Al-Hidayah

Kebayoran Lama)”. Sepengetahun saya judul ini belum perna di bahas dan

sudah beberapa kali konsultasi ke dosen pembimbing.

G. Sistematika Penulisan

Untuk sistematika penulisan , seluruh skripsi ini terdiri dari lima bab,

Adapun sistematika penulisan sebagai berikut :

BAB I. Pendahuluan Berisikan latar belakang masalah, pembatasan masalah,

perumusan masalah, tujuan masalah, dan manfaat penelitian, kerangka

tiori, metode penelitian review study terdahulu, dan sistematika

penelitian.

BAB II. Pandangan umum tentang Ahmadiyah yang membahas diantaranya;

Sejarah lahirnya aliaran Ahmadiyah,Perkembangan dan penyebaran

aliran Ahmadiyah, keberadaan Ahmadiyah di Indonesia dan kebijakan

(17)

BAB III. Objek pembahasan yaitu Sekilas aliran Ahmadiyah dan Ahli sunnah wal jama’ah :

A. Maksud Aliran Ahmadiyah

B. Kitab Taskirah dan Buku-Buku Ahmadiyah

C. Ajaran-Ajaran Ahmadiyah

D. Maksud Aliran Ahlus Sunnah Wal-jamaah

E. Kitab-Kitab Ahlus Sunnah Wal-jamaah

F. Ajaran-Ajaran Ahlus Sunnah Wal-jamaah

BAB IV. Isi pembahasan yaitu : Perbandingan antara aliran Ahmadiyah dengan

Ahli Sunnah Wal jamaah dari Teologi dan Fiqih di Masjid Al-Hidayah

Kebayoran Lama,

A. Keyakinan : rukun Iman

B. Masalah kenabian

C. Masalah kitab

D. Dalam fiqih pandangan Ahmadiyah dalam rukun Islam,

E. Pandangan Ahmadiyah dalam sholat

F. pandangan Ahmadiyah dalam zakat.

BAB V. Penutup yaitu

A. Kesimpulan

(18)

A. Sejarah Lahirnya Ahmadiyah

Terbentuknya sekte Ahmadiyah seiring dengan “kenabian” Mirza Ghulam

Ahmad. Mirza lahir di Qadian, India. Pada tanggal 15 Februari 1835 M dan

meninngal tanngal 26 Mei 1908.1 Sejarah Ahmadiyah lahir di India pada Akhir

abad ke-19 di tengah suasana kemunduran umt islam di bidang agama, politik.,

sosial, politik, ekonomi, dan bidang kehidupan lainnya. Terutama setelah

pecahnya revolusi India tahun 1857 yang terakhir dengan kemenangan East India

Company yang menjadikan India sebagai salah satu koloni Inggris terpenting di

Asia.

Sebenarnya, kesadaran umat islam untuk mencari solusi atas

keterbelakangannya dalam segala bidang, termasuk bidang agama, telah muncul

pada pertengahan abad ke-18 yang dimotori oleh seorang ulama yang terkenal.

Syeikh Walyullah. Kemudian diteruskan oleh pengikutnya, termasuk Ahmad

Khan. Dialah yang pertama yang memunculkan ide-ide pembaruan untuk

kemajuan umat islam.

Di tengah-tengah kondisi umat islam seperti itu, Ahmadiyah lahir.

Kelahiran Ahmadiyah jiga berorientasi pada pembaruan pemikiran. Di sini Mirza

Ghulam Ahmad yang mengaku telah diangkat Tuhan sebagai Mahdi dan

1

Wawan H.Purwanto, Menusuk Ahmadiyah, (Jaktim: CMB Pres. 2008, hal.14)

(19)

Masih merasa mempunyai tanggung jawab moral untuk memajukan Islam dengan

memberikan interpretasi batu terhadap ayat-ayat Al-Qur’an sesuai tuntunan

zaman dan “Ilham” Tuhan kepadanya. Motif Mirza Ghulam Ahmad ini

tampaknya didorong oleh gencarnya serangan kaum misionaris Kristen dan

propaganda Hindu terhadap umat Islam pada saat itu.2

Jemaat Ahmadiyah didirikan pada tahun 1889 M dan bertepatan tahun

1306 menurut aliran dari Qadiyan. Hal ini di dasarkan pada permulaan

pembai’atan yang dilakukan banyak orang terhadap Mirza Ghulam Ahmad.

Sedangkan dari aliran Lahore berpendapat bahwa Ahmaiyah berdiri tahu 1888 M.

karena berdasarka ilham yang diterimanya untuk mendirikan bahtera dan

melakukan bai’at kepada Mirza Ghulam Ahmad.3

Jemaat berarti kumpulan individu yang bersatu padu dan bekerja untuk

suatu program bersama. Ahmadiyah adalah nama dari ajaran islam, jadi

Ahmadiyah adalah suatu perkumulan, himpunan atau organisasi yang bersatu

padu dan bekerja untuk suatu program yang sama yaitu Islam.4 Ahmadiyah

diambil dari salah satu nama Rasulullah SAW. Yang diinformasikan kepada Nabi

2

Iskandar Zulkarnaen, Gerakan Ahmadiyah di Indonesia, (Yogyakarta: LKIS 2005), cet. 1. h 58

3

Saleh A.Nahdi, Ahmadiyah Selayang Pandang, (Jakarta: Yayasan Raja Pena, 2001). Cet. IV.h.5

4

(20)

Isa a.s. dalam surat ash-shaf ayat 6 yang menyatakan bahwa akan dating seorang

naabi dan rasul bernama Ahmad.5

Tujuan Ahmadiyah didirikan adalah untuk memperbaiki kehidupan

beragama Islam dan mepersatukan Islam. Tujuan tersebut sejalan dengan tugas

yang dibawa oleh Mirza Ghulam Ahmad bahwa kehadirannya untuk memajukan

agam islam dan menegakkan Syari’at Islam.6 Selain itu juga mempunyai tujuan

yuhyiddyna wayuqiymus-syariah yaitu menghidupkan kembali agama islam, dan

menegakkan kembali syari’at Qura’niah dalam arti yang mendalam adalah

menghimbau umat manusia kepada Allah SWT. Dan menciptakan perdamaian

serta persatuan antara berbagai kalangan manusia.7

Sebagai himpunan atau golongan, Ahmadiyah mengklaim dan

menyatakan diri bahwa jemaatnya merupakan pengikut dari Mirza Ghulam

Ahmad atau mereka sering menyebutnya dengan gelar Hadhrat.8

Aliran Ahmadiyah meyakini bahwa Mirza Ghulam Ahmad sebagai Imam

Mahdi, Al-Masih Ma’ud, dan Nabi. Namun demikian kenabian yang diyakini

tidaklah membawa syari’at baru dan hanya mengikuti syari’at yang telah ada

yaitu syari’at Nabi Muhammad SAW. Dalam hal ini Mirza Ghulam Ahmad hanya

sebagai pelangsung dari ajaran yang telah dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.9

5

Maulana Muhammad Ali, Mirza Ghulam Ahmad of Qadian: his life and mission, (Lahore: Ahmadiyah Anjuman Isha’at Islam, 1959_. H. 12

6

Saleh A. Nahdi Ahmadiyah Selayang Pandang. H. 14-15 7

Wawan H. Purwanto, Menusuk Ahmadiyah , h. 1 8

Pengurus Besar Jemaat Ahmadiyah, Kami Orang Islam. Bogor: JAI. 1964. h. 6 9

(21)

Tetapi oleh sebagian umat islam, pandangan ini dinilai sebagai permulaan

perdebatan dan berakhir dengan permusuhan antara Ahmadiyah dengan mayoritas

umat islam, karena menurut sebagian umat islam, Ahmadiyah telah masuk ke

dalam wilayah prinsipil dan sudah tidak ditawar lagi pemaknaannya.10

Sejak tahu 1872 H, Mirza Ghulam Ahmad sudah giat membela islam

membalas serangan-serangan dari kelompok Hindu khusunya Arya Samai dan

Brahmu Samaj. Beliau banyak menulis artikel-artikel berkenaan dengan itu di

berbagai media masa. Antara lain jurnal Manshur Muhammadi yang terbit dari

Bangalore, Maysore, India Selatan, setiap 10 hari sekali. Wakil, Safir Hind,

Widya Prakash, dan Riaz Hind. Demikian pula pada Brother Hind (Lahore).

Aftab Punjab (Lahore), Wazir Hind (Sailkot), Nur Afshan (Ludhiana) dan

Isyaatus-Sunnah (Batala), begitu juga pada Akbar-e aam (Lahore).

Melihat serangan terhadap islam makin menjadi-jadi, dan tidak ada upaya

yang berarti yang dilakukan oleh pemuka-pemuka islam, berdasarkan bimbingan

Allah SWT. Mirza menulis buku Baraahin Ahmadiyya. Jilid 1 dan 2 diterbitkan

pada tahun 1880; jilid 3 terbit pada tahun 1882; dan jilid 4 pada tahun 1884.

intinya ia memaparkan bukri-bukti keunggulan dan hidupnya agama island serta

ketinggian kemuliaan Kitab suci Al-Qur’an dan Rasulullah SAW sebagai

perbandingan dengan agama Hindu, Kristen, dan Agama-agam lainnya.

Pada jilid pertama beliau memfokuskan pada balasan serangan terhadap

ajaran Arya Samaj yang menghina Rasulullah SAW, Nabi Isa a.s, dan Nabi Musa

10

(22)

a.s. serta yang menuduh kitab-kitab suci para nabi tersebut adalah palsu. Selain itu

Mirza menyerang akidah Arya Samaj yang menyatakan bahwa ruh tidak

diciptakan oleh Tuhan, melainkan telah ada dengan sendirinya.

Jilid kedua masih berkenaan dengan akidah-akidah Arya Samaj kemudian

mengenai kedudukan dan perlunya wahyu mengenai keunggulan Kitab Suci

Al-Qur’an atas kitab-kitab agama lainnya. Juga ia menekankan kaidah dasar

pembuktian kebenaran suatu agama yang harus berdasarkan pada kitab suci yang

diakui oleh agama itu sendiri. Pada kilid ketiga Mirza merinci keindahan dan

kemuliaan Al-Qur’an. Beliau menjawab serangan-serangan yang ditujukan

kepada Al-Qur’an. Mirza menyatakan telah menerima wahyu-wahyu dari Allah

SWT. Dan beliau bersedia untuk membuktikan kebenarannya.

Pada jilid keempat Mirza membahas tentang bentuk asli bahasa umat

manusia; tentang kedudukan mukjizat dan pentingnya nubuatun-nubuatun /

Khabar Ghaib seorang Nabi berkenaan masa mendatang. Beliau memaparkan

konsep-konsep Agama Budha, Kristen, dan Hindu Arya Samaj tentang Tuhan,

dan membuktikan keunggulan ajaran agama islam. Kitab-kitab Yahudi pun beliau

paparkan sebagai perbandingan Al-qur’an.

Salah satu aspek yang sangat ia tekankan dan ia tampilkan sebagai bukti

tetap hidupnya agama islam hingga hari kiamat adalah adanya hubungan

(23)

sendiri pengalaman-pengalaman rohaniyahnya dalam bentuk wahyu, ilham,

rukya-rukya.11

Dalam rangka merealisasikan ide pembaruannya. Pada bulan Desember

1888 Mirza Ghulam Ahmad secara terang-terangan menyatakan diri mendapat

perintah Tuhan melalui ilham Ilahi untuk menerima bai’at dari para pengikutnya

Wahyu berbahasa Arab yang ia terimaa berbunyi :

“Jika kamu sudah putuskan dalam hatimu maka bertawakallah pada

Allah; dan buatlah bahtera di bawah tilikan dan wahyu Kami. Orang-orang yang

melakukan bai’at dengan engkau. Mereka sebenarnya melakukan bai’at dengan

Allah. Tangan Tuhan berada di atas tangan mereka”

Perintah Tuhan dalam wahyu tersebut menurut Mirza Ghulam Ahmad

untuk melakukan dua hal. Pertama, menerima bai’at dari pengikutnya; kedua,

membuat bahtera, yakni membuat wadah untuk menghimpun suatu kekuatan yang

dapat menopang misi dan cita-cita kemahdiannya guna menyerukan islam ke

seluruh dunia. Perintah Tuhan untuk menerima bai’at belum dilaksanakan oleh

Mirza Ghulam Ahmad dengan mendirikan Ahmadiyah. Oleh karena itu, pada

tahun 1888 oleh Ahmadiyah Lahore di anggap sebagai tahun berdirinya

Ahmadiyah.

Pembai’atan baru dilaksanakan pada tanggal 11 Maret 1889 di kota

Ludhiana di rumah Mia Ahmad Jaan. Orang yang melakukan bai’at pertama

adalah Maulana Nuruddin sahib yang sekaligus menyatakan bahwa Mirza

11

(24)

Ghulam Ahmad sebagai pendiri faham ini. Setelah itu, diikuti oleh sekelompok

kecil, antara lain Mir Abbas Ali, Mian Muhammad Husain Murodabadi, dan M.

Abdullah Sanauri. Pelaksanaan pembai’atan tidak dilakukan di kota Qadian.

Tempat kelahiran Ghulam Ahmad, tetapi di ludhiana. Menurut A.R. Dard.

Ludhiana adalah sebuah kota yang jauh lebuh penting disbanding Qadian, karena

merupakan pusat aktivitas misionaris Kristen dan merupakan tempat penerbitan

jurnal Kristen Noor Afshan 9pertama terbit pada bulan Maret 1873). Di samping

itu, Ludhiana merupakan salah satu tempat sekolah atas bagi misionaris (Mission

High School) tertua di India dan tempat para tokoh Islam, seperti Maulana abdul

Qadir dan Abdul Azis dan Muhammad yang aktif ambil peran dalam

pemberontakan 1875 melawan Inggris.

Pembai’atan terhadap para pengikutnya tesebut dilakukan setelah Mirza

Ghulam Ahmad menerima wahyu (berbahasa urdu) pada akhir tahun 1980, wahyu

itu menegaskan bahwa Nabi Isa a.s. telah wafat dan Mirza Ghulam Ahmad adalah

Al-Masih yang dijanjikan. Wahyu itu berbunyi :

Masih Ibnu Maryam, Rasul allah telah meninggal. Sesuai dengan janji,

engkau meyandang dengan warnanya” Sejak menerima wahyu, Mirza Ghulam

Ahmad menyatakan dirinya sebagai Al-Masih yang dijanjikan sebagai sekaligus

Al-Mahdi. Akan tetapi, hal itu baru diumumkan pada awal tahun 1891. menurut

Ahmadiyah Qadian, setelah diadakan pembai’atan tahun 1889 Mirza Ghulam

(25)

merupakan bagian dari gerakan baru dalam islam dengan nama gerakan

Ahmadiyah. Tahun terbit dinyatakan sebagai berdirinya Ahmadiyah.12

Pada tahun 1900, Mauluvi Abdul Karim, seorang khatib shalat Jum’at.

Menyampaikan khutbahnya dengan menggunakan kata-kata Nabi dan Rasulullah

untuk Mirza Ghulam Ahmad. Kejadian ini sangat menyakitkan Mauluvi Sayyid

Muhammad Ahsan Amrohawai. ketika Mauluvi Abdul Karim mengetahui hal ini.

Dalam khutbahnya yang lain, ia meminta Mirza agar mencabut pernyataannya.

Kalau ia salah dalam membuat pengakuan Nabi. Setelah selesai sholat Jum’at.

Mauluvi Abdul Karin memegang pakaian Mirza serta meminta untuk

membenarkan keyakinannya yang keliru. Mirza kemudian berbalik dan

mengatakan bahwa ia juga memiliki keyakinan yang sama.

Sementara itu Mauluvi Muhammad Ahsan sangat gusar denga isi khutbah

itu dan dengan kemarahan langsung melangkah ke atas masjid. Ketika Mauluvi

Abdul Karim kembali, ia mulai terlibat adu mulut dengannya. Ketika suara

mereka terdengar keras, Mirza keluar dari rumahnya dan membacakan ayat

Al-Qur’an :

“ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu

melebihi suara Nabi” (QS. Al-Hujurat/49 : 2)

12

(26)

Khutbah Mauluvi Abdul Karim menandakan sebuah fase fase dalam karir

Mirza Ghulam Ahmad. Khutbah ini memberikan keyakinan yang amat ia

butuhkan bahwa para pengikutnya telah mempunyai keyakinan tak tergoyahkan

kepada dirinya sehingga mereka akan menerima klaim apapun yang ia

kemukakan. Anaknya sendiri, Mirza Bashiruddin Mahmood, telah

menggambarkan perkembangan ini dengan menyatakan bahwa Mirza memang

mengklaim bahwa dirinya telah dikaruniai beberapa sifat yang hanya didapatkan

dalam diri Nabi

Ketika ia sadar akan ketidak konsistennya dan mulai menyadari bahwa

sifat-sifat itu adalah sifat kenabian, ia mulai menyatakan kenabiannya.

Bashiruddin Mahmood menuliskan :

“Pendeknya sejak awal mula Isa Al-Masih (Mirza) meyakini bahwa

definisi Nabi adalah seseorang yang membawa syari’ah baru; atau yang

menghapuskan beberapa perintah agama, atau seseorang yang langsung

ditunjuk oleh Tuhan; jadi, meskipun semua sifat dan karakter yang dibutuhkan

oleh seorang NAbi ada pada dirinya, ia masih menolak untuk menunjuk dirinya

sebagai Nabi. Tetapi kemudian, ketika ia mulai sadar bahwa sifat pengakuannya

adalah pengakuan kenabian, ia mulai menyatakan dirinya sebagai Nabi:.

Namun, apakah Mirza menahan diri dari menyatakan bawha ia adalah

Nabi hingga keraguannya hilang dan kemudian telah diperintahkan Tuhan untuk

menyatakan kenabiannya, atau ia sedang menunggu saat yang tepat untuk

(27)

menyatakan kenabiannya. Dan ia merupakan konsekuensi logis dari sejumlah

klaim yang ia buat sebelumnya.

Masalah kenabian akhirnya telah diputuskan pada tahun 1901 dan Mirza

Ghulam Ahmad mulai menulis mengenai hal itu secara ekplisit dalam tulisannya.

Kumpulan artikel yang disebut Arba’in penuh dengan pernyataan dan uraian

tentang misi barunya. Pada tahun 1902, ia menulis sebuah buku berjudul Tuhfat

an-Nadwah yang ditujukan kepada para Ulama yang ikut andil dalam ”Konfrensi

Nadwah” yang diselenggarakan di Amritsar pada 1902. dalam buku tersebut, ia

menuliskan :

“Seperti yang aku katakana berkali-kali bahwa apa yang aku bacakan

kepadamu adalah benar-benar kalam Allah, sebagaimana Al-Qur’an dan Taurat

adalah kalam Allah dan Bahwa aku adalah seorang nabi Zilli dan setiap Muslim

harus mematuhiku dalam masala-masalah agama. Dan siapa saja yang

mengetahui kabar tentang diriku, tetapi tidak menjadikanku sebagai hakim dalam

memutuskan masalahnya, ataupun tidak mengakui wahyu yang aku terima dari

Tuhan, ia akan mendapa azab di akhirat karena ia telah menolak apa yang

seharusnya ia terima. Aku tidak hanya mengatakan bahwa aku menghendaki

kematiansekiranya aku adalah pembohong; aku juga mengatakan bahwa aku

adalah orang yang benar bahkan sebagaimana Musa dan Isa dan Muhammas.

Dan bahwa Tuhan telah menunjukan lebih dari sepuluh ribu tanda untuk

menguatkan pernyataanku. Rasulullah telah beraksi dan para Nabi sebelumnya

(28)

juga telah menunjukan masa tugasku pada zaman ini. Langit dan bumi pun telah

beraksi untuk mendukungku. Dan tak ada seorang nabi pun yang tidak beraksi

untuk membelaku”.

Jadi wahai orang-orang dari umat Muhammad. Akulah satu-satunya yang

telah menerima bagian besar dari wahyu Tuhan dan pengetahuan tentang alam

ghaib. Tak seorang pun dari orang suci sebelumku yang diberi karunia seperti

ini. Atas dasar ini, aku telah diplih sebagai seorang nabi dan tak akan ada lagi

yang berhak menyandang gelar ini.

Seluruh tulisan Mirza selanjutnya, penuh dengan uraian tentang klaim

kenabiannya. Terlalu banyak untuk disebutkan dalam buku itu. Bagi mereka yang

tertarik untuk mengetahui secara lebih detail, maka harus mempelajari bukunya

Haqiyat al-wahyu. Dan buku yang ditulis Bashiruddin Mahmood Haqiyyat

al-Nabuwwah.13

B. Perkembangan dan Penyebaran Ahmadiyah

Khalifah Masih I , yaitu Hz.MIv.Hafiz Hakim Nuruddin ra. Pertablighan

Islam dan perkembangan misi Ahmadiyah ke Eropa sudah mulai pada masa

beliau ini. Khalifah masih I wafat pada tahun 1914 dan digantiak oleh Khalifatul

Mash II. Yaitu Hz Mirza Bashiruddin Ahmad ra. Pertablighan Islam dan

pengembagan misi Ahmadiyah keseluruh dunia lebih terorganisir.

13

(29)

Pengorganisasian itu beliau mewujudkan pada tahun 1935 dalam bentuk suatu

gerakan yang dikenal dengan nama Tahrik Jadid (Gerakan Baru). Di dalam

gerakan ini beliau menghimpun dana sukarela dari para anggota dan

mengumpulkan tenaga-tenaga sukarela yang mewakafkan diri mereka untuk

pengembangan Islam ke seluruh dunia.

Para Khalifatul Masih II ini Ahmadiyah telah berkambang di Asia, Eropa,

Afrika dan Amerika.14 Kemudian setelah Ahmadiyah muncul dan berkembang di

India, bebrapa waktu kemudian disusul dengan menyebarnya Ahmadiyah hamper

ke seluruh dunia, dengan mendirika masjid-masjid di berbagai Negara seperti

London, di kota Zurich (Switzerlad), di Den Haag (Belanda) di kota Frankurt dan

Hambrug (Jerman) dan masih Negara-negara lain termasuk di Benua Afrika.15

Konfrensi organisasi-organisasi Islam se dunia pada tanggal 6-10 April

1974, dibawah anjuran Rabitah Al-Alam Al-islami, merekomendasikan

antaralain:

1) setiap lembaga islam harus mengelokasikan kegiatan kelompok

Qadiyani dalam tempat ibadah, sekolah, panti, dan semua tempat kagiatan mereka

yang distruktif. 2) menyatakan sekte Ahmadiyah kafir dan keluar dari Islam. 3)

memutuskan segala hibungan bisnis dan melaksanakan pemboikotan ekonomi,

social dan budaya terhadap mereka. 4) mendesak pemerintah-pemerintah islam

untuk melarang segala kegiatan pengikut Mirza Ghulam Ahmad dan menganggap

14

Wawan H. Purwanto, Menusuk Ahmadiyah, hal. 33 15

(30)

mereka sebagai minoritas non Islam serta melarang mereka memangku jabatan

yang penting dalam Negara. 5) Menyiarkan salinan semua penerbitan yang

dijadika sekte ini sebagai tempat penyelewengan ayat-ayat Al-qur’an. 6) semua

golongan yan menyelewengkan islam diperlukan sama seperti Qadiyani.16

Karena ditetang di Pakistan, para pengikut Ahmadiyah mengalami banyak

penganiayaan. Mereka dikucikkan tidak boleh menjadi makmu dalam jamah atau

dlam dalam shalat Jum’at, mesjid-masjidnya dirisak dan dibakar, bahkan

mengalami pemumbunuhan sangat kejam dari umat Islam fanatik di Pakistan.

Karena itu, gerakan Ahmadiyah hijerah ke Inggris dan menyabar ke negara-negar

Eropa barat.

Misi dan pusat pertablighan jamaah ahmadiyah selain didapati di Pakistan,

India dan Bangladesh tersebar pula di Amerika dengan masjid-masjidnya dan

bebrapa kota di Kanada.17

Di Benua Afrika misi Ahmadiyah telah banyak membangun proyek

pendidikan dan kesehatan. Seperti di Negeria, Ghana, Sierea Leon dan lain-lain.

Demikian pula terdapt pusat misi dan masjid di Guyana, Trinidad, Sureiname,

Kep. Fiji, Srilangkan, Malaisia, Singapura, Filipina, Jepang dan lain-lain.18

16

H. A. Hafizh Anshari AZ. Dkk. Enseklopedia Islam. (Jakarta: Iehtiar Baru Van Hoeve, 1999), h. 82

17

A. Fajar Kurniawan, Teologi Kenabian Ahmadiyah, H, 8 18

(31)

Pengikut masing-masing golongan mendirikan masjid sebagai pusat

kegiatan, menerjemahkan Al-quran dengan komentarnya ke dalam bahasa asing.

Selain mereka juga menerbitkan buku-buku tentang islam.19

Gerakan Ahmadiyah mendirikan berbagai pendidikan dan pusat-pusat

kesehatan di berbagai kawasan Afrika dan Asia, termasuk Indonesia.20 Dengan

melihat perkembangan Ahmadiyah yang pesat, slah satu organisasi Islam yang

mempunyai jaringan teluas adalah ahmadiyah. Kemajuan organusasi ini telah

hampir keseluruh dunia dan kantornya berada disekitar 200 Negara. Jamaah

Ahmadiyah telah berkembang dan tersebar di 185 Negara di seluruh Benua di

Dunia. Sebagai organisasi yang hanya berkiprah dalam bidang kerohanian dan

sama sekali tidak memeliki tujuan-tujuan politik, jamaah Ahmadiyah telah

berhasil menyebarluaskan dakwah Islam di daratan Eropa, Australia dan Amerika

dengan menderikan masjid-masjid dan pusat-pusat dakwah.21

Khalifah yang ke 4 yang bermaskas di London Hadhrat Mirza Taher

Ahmad, bagi semua anggota Ahmadiyah di seluruh dunia wajib tunduk dan taat

tampe reserve kepad perintah dia.22 Pada tanggal 27 Januari 1986 khaifah

mendirikan bagian bahasa arab dalam jamaah Islam Ahmadiyah salah satu yang

penting dari tujuan-tujuan seksi bahasa arab ini adalah berhubungan dengan

orang-orang Ahmadi Arab dan menyarahkan bantuan yang dibutuhkan mereka

19

Iskandar Zulkarnain, Gerakan Ahmadiyah Di Indonesia, h. 74 20

Ibid, Hal, 74-75 21

Munasir Sidik, Dasar-dasarHukum dan Legalitas Jamaah Ahmadiyah di Indonesia. Hal. 19

22

(32)

dalam menyabarluaskan akidah-akidah Ahmadiayah di dalam Negara-negara

Arab atau di luarnya sesuai denngan direncanakan oleh khalifah dan langsung

dibawah pengarahannya.23

Wajib kepada setiap pembai’at yang masuk kepada Ahmadiyah baik

laki-laki maupun perempuan untuk menandatangani perjanjian dari sepuluh syarat

yang paling akhir adalah berjanji untuk mentaati Mirza Ghulam Ahmad dan

khalifah sesudahnya, dalam setiap perkara kebaikan yang diperintahkannya pada

mereka. Dengan mentaatinya setiap orang Ahmadiyah harus menyarahkan paling

sedikit 6% dari penghasilannya, dan menyerahkan 10% jika orang Ahmadiyah

tersebut ingin Mushi.24

Namun betapa luasnya penyebaran anggota Ahmadiyah tak luput dari

larangan dari berbagai Negara. Seperti misalnya Malaysia telah melarang ajaran

Ahmadiyah di seluruh Malaysia tanggal 18 Juli 1975, Berunai Darussalam,

selanjutnya pemerintah kerajaan Arab Saudi telah mengeluarkan keputusan

bahwa Ahmadiyah adalah kafir dan tidak boleh pergi haji ke Makkah. Pemerintah

Pakistan telah mengeluarkan keputusan bahwa Ahmadiyah golongan minoritas

non Muslim. Rabitah al-Alm al-Islami yang bekedudukan di Makkah telah

mengeluarkan fatwa bahwa Ahmadiayh adalahh kafir dan keluar dari Islam.25

23

Hasan bin Mahmud Audha, Ahmadiyah Kepercayaan dan Pengamalan-pengamlan, (Jakarta: LPPI, 2006), h, 81

24

Ibid, h, 121-122. 25

(33)

Tak terkecuali di Indonesia, MUI pada tahun 1980 mengeluarkan fatwa

bahwa Ahmadiyah adalah jamaah diluar Islam dan menyasatkan. Fatwa-fatwa

sesat itu berdasarkan pada hasil kajian MUI tehadap fakta dan data yang

ditemukan dalam sembilan buku tentang Ahmadiyah, dalam menghadapi

persoslan Ahmadiyah, murkernas merekomendasikan agara MUI selalu

berhubungan dengan pemetintah. Dan yang terakhir pelarangan bagi Ahmadiyah

di Indonesia adalah dengan di keluarkannya SKB 3 Menteri.26 Demikian

perkembangan pesat JAI tidak sepesat jamaah Ahmadiyah secara internasional di

seluruh duinia. Walaupun demikian, perkembangan JAI tetap luarbiasa

dibandingkan masa lalu. Kemajuan jamaah Ahmadiyah Indonesia menjadi makin

pesat setiap tahun.27

C. Keberadaan Ahmadiyah di Indonesia

Pada masa Khalifah Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad, jemaat

Ahmadiyah mulai mengembangkan pahaamnya ke berbagai negara,termasuk

Indonesia. Ahmadiyah Lahore adalah yang pertama masuk ke Indonesia, yang di

bawa oleh seorang mubaligh Khawajah Kamaluddin pada tahun 1922.28

Ada karakteristik yang berbeda antara kedua aliran tersebut dalam

penyebaran pergerakannya. Aliran Lahore banyak menggunakan cara

penyebarannya melalui pengiriman mubaligh-mubalighnya ke berbagai

26

Wawan H. Purwanto, Menusuk Ahmadiyah, hal. 69-70 27

Ibid, h, 42-43 28

(34)

negarameskipun tanpa undangan dari negara yang dituju.29 Sementara aliran

Qadian menyebarkan sayap gerakannya di Indonesia melalui para santri yang

belajar di pesantren Sumatera Thawalib dan melanjutkan sekolah ke Qadian

kemudian kembali ke Indonesia dan menyebarkan ajaran Ahmadiyah30 atas

permohonan mereka, seorang mubaligh Ahmadiyah bernama Maulana Rahmat

Ali diutus ke Indonesia pada tahun 1925.31

Pada awalnya, Jemaat Ahmadiyah di Indonesia di beri nama Anjuman

Ahmadiyah Qasian Departemen Indonesia, kemudian diganti nama dengan

Jemaay Ahmadiyah Indonesia (JAI). JAI adalah bagian Jemaat Ahmadiyah yang

semula berpusat di Qadian, India, tetapi sesudah tahun 1947 berpusat di Rabwah,

Pakistan . Jemaat Ahmadiyah Indonesia berdiri tahun sedangkan Gerakan

Ahmadiyah Lahore Indonesia, yang disingkat GAI berdiri tanggal 28 September

1929.32

Aliran Qadian datang ke Indonesia berawal dari keberangkatan dua santri

Sumatera Thawalib ke India yaitu Abu Bakar Ayyub dan Ahmad Nuruddin. Atas

saran dan nasehat Ibrahim Musa Parabek seorang ulama terkenal di Bukit Tinggi

agar melanjutkan sekolah ke Hindustan, karena sudah banyak santri yang

melanjutkan ke Timur Tengah dan pada waktu itu kualitas pendidikan di

29

A. Fajar Kurniawan, Teologi Kenabian Ahmadiyah, h. 24 30

Ibid, h. 24 31

M. Amin Djamaluddin, Ahmadiyah dan pembajakan Al-Qur’an, h. 198 32

(35)

Hindustan menjadi salah satu pusat ilmu pengetahuan dan pendidikan yang

bermutu tinggi serta memiliki para tokoh intelektual yang ternama.33

Akhirnya pada tahun 1922 M mereka berangkat ke India dengan tujuan

Lucknow dan bertemu dengan seorang ulama besar bernama Abdul Bari Anshari,

kemudian mereka di sarankan belajar di sekolah Nizamiyah yang dipimpinnya. Di

kota tersebut mereka menjadi bertiga karena salah seorang temannya bernama

Zaini Dahlan yang baru datang dari Padang Panjang bergabung dengan mereka.

Setelah dua bulan, mereka memutuskan untuk meninggalkan sekolah tersebut

karena mereka mengetahui ternyata gurunya adalah seorang yang menyembah

kuburan seorang Kiyai. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan ke Lahore dan

di kota inimereka mulai mengenal Ahmadiyah. Mereka juga mengenal beberapa

tokoh Ahmadiyah yang pernah datang ke Indonesia seperti Maulana Abdullah

Malabari, Maulana Syaikh Abdul Khalid, dan Maulana Taqi yang waktu itu

sengaja datang ke Lahore untuk berdebat dengan pimpinan Anjuman Ahmadiyah

Lahore. Maulana Muhammad Ali. Melalui ketiga gurunya mereka mengenal

Ghulam Ahmad pendidi Ahmadiyah yang dimakamkan di Qadian.34

Setelah menetap selama enam bulan di Lahore, tepatnya tahun 1923 M

mereka pergi menuju Qadian untuk menemui Bashiruddin Mahmud Ahmad yang

menjabat sebagai Khalifah II Ahmadiyah Qadian, putera dari Ghulam Ahmad

untuk belajar agama, kemudian mereka berbai’at kepada Khalifah II. Setelah itu,

33

Iskandar Zullkarnaen, Gerakan Ahmadiyah di Indonesia, h. 11 34

(36)

mereka mengirimkan informasi perkembangan belajarnya di Qadian yang sangat

positif kepada keluarga, para guru,, dan teman-temannya di Indonesia. Khususnya

mengenai biaya hidup dan beasiswa yang mereka terima secara gratis. Melalui

informasi itu, pada tahun 1926 M, banyak pelajar Indonesia yang tertarik untuk

belajar ke Qadian mengikuti jejak teman-temannya pada tahun 1926 M.

Mubaligh Maulana Rahmat Ali Haot yang ketika itu secara khusus diutus

oleh pimpinan Ahmadiyah Internasional membawa Ahmadiyah masuk ke wilayah

Indonesia melalui kota Tapaktuan, Aceh pada tanggal 2 Oktober 1925 M.35

kemudian ia tinggal di Tapaktuan di rumah mantan pelajar Indonesia yang belajar

di Qadian yaitu Muhammad Samin. Kegiatan pengajian dan ceramah ke berbagai

pelosok desa di Tapaktuan yang dilakukan Maulana Rahmat Ali telah menarik

banyak orang untuk masuk Ahmadiyah. Apalagi materi yang disampaikannya

seputar Mirza Ghulam Ahmad dan Imam Mahdi. Kewafatan Isa bin Maryam

+pintu kenabian, dan lain-lainnya. Banyakanya orang yang tertarik dengan

Ahmadiyah sampai akhirnya berdirilah cabang Ahmadiyah di Tapaktuan. Setahun

kemudian ia berangkat ke Padang, kota yang sangat ramai dan pusat perdagangan.

Kedatangannya mengundang banyak reaksi dari ulama yang ada di Bukit TInggi

dan Padang Panjang, sampai akhirnya harus dibuat sebuah “komite mencari hak”

pimpinan Tahar Sutan Marajo, tetapi pertemuan yang direncanakan dengan tujuan

35

(37)

akan dilakukan diskusi antara kedua belah pihak akhirnya gagal terlaksana karena

para ulama tersebut tidak datang.36

Reaksi keras pun datang dari Dr. H. Karim Amrullah yang mengecam

bahwa Ahmadiyah adalah di Luar Islam, sesat dan kafir. Bahkan ejekan dan

penghinaan menjadi warna setiap hari dari kegiatan dakwah mubaligh

Ahmadiyah. Banyak orang yang ternyata juga tertarik dengan Ahmadiyah dari

berbagai kalangan dan latar belakang social di Padang. Tidak lama kemudian

datang yang sudah lulus belajar di Qadian di PAdang. Dengan demikian,

sebenarnya Maulana Rahmat Ali dan para pemuda Indonesia yang belajar di

Qadian adalah orang yang membawa ajaran Ahmadiyah Qadian ke Indonesia dan

sebagai perintis Ahmadiyah di Indonesia.37 Dari sana Jemaat Ahmadiyah

berkembang ke wilayah Sumatera Barat dan pada tahun 1931 masuk ke Batavia

(sekarang Jakarta). Pada tahun 1932. jemaat Ahmadiyah telah berkembang di

wilayah Jakarta dan Bogor.38

Kepengurusan organisasi Jemaat Ahmadiyah di kedua wilayah itu pun

ketika itu terbentuk yakni pengurus Jemaat Ahmadiyah Betawi dan Jemaat

Ahmadiyah Bogor. Dari wilayah Betawi dan Bogor Jemaat Ahmadiyah kemudian

berkembang ke wilayah pulau Jawa lainnya seperti Tanggerang, Cianjur,

Sukabumi, Bandung, Garut, Tasikmalaya, Ciamis, Karawang, dan lain-lain.

36

JAI. Riwayat Hidup Maulana Ali, Bogor : JAI, h. 40 37

Ibid, h. 44-45 38

(38)

Setelah Jemaat Ahmadiyah tersebar dan kepengurusannya terbentuk di

beberapa kota si Sumatera dan hamper di seluruh bagian pulau Jawa, maka pada

tahun 1935 Jemaat Ahmadiyah Indonesia membentuk Hoofdbesiur atau pengurus

besar. Dan pada tanggal 12-13 Juni 1937. Jemaat Ahmadiyah di Indonesia

menyelenggarakan kongres yang pertama di Masjid Hidajath. Jl. Balikpapan 1/10

Jakarta di wakili oleh wakil-wakil Ahmadiyah dari cabang-cabang yang ada

ketika itu untuk membahas AD dan ART emaat Ahmadiyah Indonesia dengan

nama AADI yaitu Anjuman Ahmadiyah Departemen Indonesia. Ahmadiyah

Indonesia atau yang ketika itu bernama AADI kembali menyelenggarkan kongres

di Jakarta pada tanggal 9 s/d 11 Desember 1949 yang di hadiri oleh

cabang-cabang AADI. Kongres tersebut menyetujui AD dan ART yang baru dan

menyetujui penggantian nama Anjuman Departemen Indonesia atau AADI

menjadi Jemaat Ahmadiyah Indonesia.39

Pada akhir tahun 1952, pengurus Besar Jemaat Indonesia mengajukan

surat kepada Pemerintah Republik Indonesia yaitu surat permohonan pengesahan

AD dan ART Jemaat Ahmadiyah untuk diakui sebagai badan hokum. Dan pada

tanggal 13 Maret 1953 Menteri Kehakiman RI Indonesia melalui surat keputusan

no. JA 5/23/131 menetapkan, bahwa perkumpulan atau organisasi Jemaat

Ahmadiyah Indonesia diakui sebagai sebuah badan Hukum. Surat keputusan

39

(39)

menteri kehakiman tersebut dimuat dalam tambahan berita negara RI tanggal 31

Maret 1953 No. 2640

Berbeda dengan Ahmadiyah Lahore yang tidak terlalu structural pada

awal berdirinya, hanya saja inisiatif dari Djojosugito dan Muhammad Husni yang

ingin membuat wadah untuk berdiskusi dan berkumpul bersama. Tepatnya pada

tahun1982 M. mereka mendirikan Gerakan Ahmadiyah Indonesia Centrum

Lahore dan secara resmi mendapatkan badan hokum pada tahun 1929 M. dengan

nama Gerakan Ahmadiyah Indonesia (GAI ) Lahore sampai sekarang.41

Aliran Lahore yang berdiri tanggal 28 September 1029 di Yogyakarta

Pedoman besar GAI pada saat didirikan adalah di ketuai oleh, R. Ng. H.

Minhadjurrahman djojosugito, wakil ketua oleh KH. A. Sya’rani. Penulis dan

bendahara Muhammad Husni, penulis II di jabat oleh R. Soedewo PK. Anggota;

Muhammad Irsyad, Muhammad Sabitun, Muhammad Kafi, Muhammad Idris L.

Latjuba, KH. Abdurrahman, S. Hardjo Subroto dan R. Suparalo.

Cabang-cabang GAI yang dibentuk kemudian : 5 cabang yang pertama:

Purwekerto, diketuai oleh Kiyai Ma’ruf. Purbalingga diketuai oleh KH. A.

Sya’rani, Pliken diketuai oleh KH. Abdurrahman, Yogyakarta oleh R.

Supratolodan, Surakarta R. Ng. Muhammad Kusban. Setelah itu menyusul

40

Munasir Sidik, Dasar-Dasar Hukum dan Legalitas Ahmadiyah Jemaat Indonesia. H. 21

41

(40)

cabang-cabang; Sukabumi, Malang, Madiun, Bandung, Jakarta, cirebon,

Wonosobo, dan Magelang.

Nama pergerakan ini telah beberapa kali mengalami perubahan yaitu, pada

zaman koloial Belanda bernama “Gerakan Ahmadiyah Indonesia” (Centrum

Lahore)”. Pada zaman kemerdekaan sampai tahun 1973 bernama “Gerakan

Ahmadiyah Lahore (Aliran Lahore)”. Sejak tahun 1975-1974 bernama “Gerakan

Ahmadiyah Lahore Indonesia” dan sejak 1994 sampai sekarang bernama

“Gerakan Ahmadiyah Indonesia” disingkat GAI. Alamat GAI mula-mula di jalan

A.M Sangaji (Jetis Pasiraman) rumah Bapak Djojosugito, lalu pindah ke Jl.

Suroto No.2, di rumah Bapak Bachrum, dan sekarang di Jl. Kemuning No.14

sebelumnya Jl. Kemuning No.1, semuanya di kota yogyakarta.42

D. Kebijakan Pemerintah terhadap keberadaan Jamaah Ahmadiyah Indonesia MUI mendesak Pemerintah membubarkan secara resmi ajaran Ahmadiyah di Indonesia. Desakan tersebut disampaikan MUI dengan cara menyerahkan fatwa

sesat Ahmadiyah ke Kejaksaan Agung, Jum’at (28/12/07). “Jaksa Agung pernah

mengatakan belum pernah menerima fatwa sesat Ahmadiyah dari MUI, jadi hari

ini kami serahkan fatwa itu,” kata ketua MUI KH. Kholil Ridwan di gedung

kejakgung.43

42

Amin Djamaluddin, Ahmadiyah dan Pembajakan Al-Qur’an, h. 198-199 43

(41)

Di antara pernyataan dan argumentasi MUI yang memutuskan

Ahmadiyah sesat dan berada di luar Islam adalah seperti yang disampaikan oleh

Ketua Majlis Ulama Indonesia (MUI) KH. Kholil Ridwan :

1. Masalah Ahmadiyah sudah sangat lama menjadi duri dalam daging

dalam tubuh umat islam. Salah satu criteria aliran sesat yang

ditetapkan MUI dalam Rakernas bulan November 2007 uang lalu

ialah, mengingkari Nabi Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul

terakhir. Dengan criteria ini, maka Ahmadiyah secara otomatis masuk

kategori aliran sesat, sebab mengimani Mirza Ghulam Ahmad sebagai

Nabi.

2. Fatwa MUI tentang Ahmadiyah tahun 2005, menjadikan keputusan

Majma’ al-Fiqih al-Islami Organisasi Konferensi Islam (OKI), yang

diputuskan tahun 1985 . oleh sebab itu, Menteri Agama Maftuh Basuni

pernah menyarankan agar Ahmadiyah membuat agama baru, di luar

Islam. Kalau MUI memfatwakan sesat terhadap Ahmadiyah,

sebenarnya MUI sekedar menjalankan tugas dalam melindungi umat

dari ajaran luar Islam yang akan merusak Islam. Tidak ada

hubungannya dengan Hak Asasi Manusia (HAM). MUI sama sekali

tidak memasung siapapun untuk memeluk agama apapun, kebebasan

beragama adalah hak asasi setiap manusia, “Lakum dinukum

waliyadin,” bagimu agamu dan bagiku agamaku. Jangan menanam

(42)

sangat luas. Kebebasan memeluk agama bukan kebebasan merusak

agama.44

Dalam penjelasan Pengurus Besar Jemaat Ahmadiyah Indonesia (PB JAI)

tentang pokok-pokok keyakinan dan kemasyarakatan warga Jamaah Ahmadiyah

Indonesia tercantum 12 butir pernyataan :

1. Kami warga Jamaah Ahmadiyah sejak semula meyakini dan

mengucapkan dua kalimah syahadat sebagaimana yang diajarkan oleh

Yang Mulia Nabi Muhammad SAW, yaitu Asyhaduanlaailaaha

illallahu wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullaj, artinya : aku

bersaksi bahwa sesungguhnya tiada Tuhan selain Allah dan aku

bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad adalah Rasulullah.

2. Sejak semula kami warga jamaah Ahmadiyah meyakini bahwa

Muhammad Rasulullah adalah Khataman Nabiyyin (Nabi penutup).

3. Di antara keyakinan kami bahwa Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad

adalah seorang guru, mursyid., pembawa berita dan peringatan serta

pengemban mubasysyirat., pendiri dan syiar Islam yang dibawa oleh

Nabi Muhammad SAW.

4. Untuk memperjelas bahwa kata Rasulullah dalam 10 syaraat bai’at

yang harus dibaca oleh setiap calon anggota jamaah Ahamadiyah

44

(43)

bahwa yang dimaksud adalah Nabi Muhammad SAW adalah sumber

ajaran Islam yang kami pedomani.

5. Kami warga Ahmadiyah meyakini bahwa tidak ada wahyu syariat

setelah Al-Qur’anul Karim yang diturunkan kepada Nabi Muhammad

SAW. Al-Qur’an dan sunnah Nabi Muhammad SAW adalah sumber

ajaran Islam yang kami pedomani.

6. Buku Tadzkirah bukanlah kitab suci Ahmadiyah, melainkan catatan

pengalaman rohani Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad yang dikumpulkan

dan dibukukan serta diberi nama Tadzkirah oleh pengikutnya pada

1935, yakni 27 tahun setelah beliau wafat (1908).

7. Kami warga Jamaah Ahmadiyah tidak pernah dan tidak akan

mengafirkan orang Islam di luar Ahmadiyah, baik dengan kata

maupun perbuatan.

8. Kami warga Jamaah Ahmadiyah tidak pernah dan tidak akan

menyebut Masjid yang kami bangun dengan Masjid Ahmadiyah.

9. Kami menyatakan bahwa setiap masjid yang dibangun dan dikelola

oleh Jamaah Ahmadiyah selalu terbuka untuk seluruh umat Islam dari

golongan manapun.

10.Kami warga Jamaah Ahmadiyah sebagai muslim melakukan

pencatatan perkawinan di Kantor Urusan Agama dan mendaftarkan

perkara perceraian dan perkara lainnya berkenan dengan itu ke kantor

(44)

11.Kami warga Jamaah Ahmadiyah akan terus meningkatkan silaturahim

dan bekerja sama dengan seluruh kelompok/golongan umat Islam dan

masyarakat dalam perkhidmatan social kemasyarakatan untuk

kemajuan Islam, Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia

(NKRI).

12.Dengan penjelasan ini, kami pengurus Besar Jemaat Ahmadiyah

mengharapkan agar warga Jemaat Ahmadiyah khususnya dan umat

Islam umumnya serta masyarakat Indonesia dapat memahaminya

dengan Ukhuwah Islamiyah, serta persatuan dan kesatuan bangsa.45

MUI menegaskan Ahmadiyah masih tetap dalam kesesatan. Ahmadiyah

tidak mengubah sikap dan keyakinan awalnya dan memberikan keterangan yang

tidak benar atau mengandung kebohongan. Untuk itu pemerintah diminta segera

menyelesaikan kesesatan Ahmadiyah dengan keimanan yang benar dan

masyarakat diminta untuk tenang dan tidak melakukan tindakan yang melanggar

hukum.46

Selusin butir penjelasan PB JAI telah diterbitkan. Bakorpakem sudah

mengamininya. Tapi ketua komisi fatwa MUI KH. Ma’aruf Amin menanggapinya

bak lagu lama: Engkau masih seperti yang dulu. Selusin butir itu, memang ibarat

45

Wawasan H. Purwanto, Menusuk Ahmadiyah, h. 85-87 46

(45)

lagu lama yang diaransemen baru. Apapun aramsemennya ya tetap itu-itu juga.

“Ahmadiyah belum kembali ke jalan yang benar.”47

Dengan 12 butir pernyataan itu, Badan Koordinasi Pengawasan

Kepercayaan Masyarakat (Bakorpakem) yang terdiri atas Kejaksaan Agung, Polri,

dan BIN memutuskan untuk tidak melarang aliran Ahmadiyah dan memberi

kesempetan jemaah aliran tersebut untuk melakukan perbaikan. Saat itu

Bakorpakem dapat memahami penjelasan tertulis Ahmadiyah dan akan terus

memantau dan mengevaluasi. Oleh karena itu masyarakat diharapkan bisa

memahami ‘itikad baik Jemaat Ahmadiyah dengan tidak melakukan tindakan

anarkis.48

Keputusan Bakorpakem itu terjadi pada bulan Februari 2008. namun pada

April 2008 Bakorperkam memutuskan ajaran Ahmadiyah menyimpang dari

pokok ajaran Islam yang di anut di Indonesia dan memperingatkan kepada

pengikut ajaran Ahmadiyah untuk menghentikan seluruh aktifitas dari ajaran

mereka. Bakorpakem merekomendasikan dibuatnya SKB 3 Menteri yakni

Menteri Agama, Jaksa Agung, dan menteri Dalam Negeri terkait keputusan

Bakorpakem tersebut, dan jika tidak dilaksanakan maka bakorpakem akan

merekomendasikan agar ajaran Ahmadiyah dibubarkan.

Keputusan itu berkaitan dengan tiga bulan kesempatan yang diberikan

sekaligus berdasarkan pantauan terhadap Jamaah Ahmadiyah. Namun mereka

47 Ibid 48

(46)

tidak menaati kesempatan yang dibuat tanggal 14 Januari 2008 lalu. Dalam masa

tersebut pengikut ajaran Ahmadiyah tetap tidak mengakui Nabi Muhammad SAW

sebagai nabi penutup. Kondisi ini ole Bakorpakem dianggap telah menimbulkan

keresahan di tengah masyarakat.49

Hingga pecan pertama bulan Juni 2008, surat keputusan bersama Menteri

Dalam Negeri, Menteri Agama dan Jaksa Agung soal Ahmadiyah sudah dibahas

dan tinggal dikeluarkan. Wakil Presiden Jusuf Kalla memberi jaminan, SKB

mengenai Ahmadiyah yang akan dikeluarkan akan sejalan dengan undang-undang

dan Undang-Undang Dasar 1945. Jaksa Agung Hendarman Supandji menyatakan,

konsep SKB tentang Ahmadiyah sudah selesai. Ia berharap surat keputusan

bersama itu dapat secepatnya diterbitkan. Menurut Hendarman, sesuai

Undang-Undang Nomor 1 PNPS tahun 1965 tentang pencegahan penyalahgunaan dan

penodaan agama. SKB itu berisi peringatan bagi Jemaat Ahmadiyah Indonesia.

Sementara kelompok anti Ahmadiyah, seperti Ketua Majelis Ulama Idonesia

Pusat Kholil Ridwan menginginkan Presiden mengeluarkan keputusan Presiden

untuk membubarkan Ahmadiyah.

Mengenai SKB pembubaran Ahmadiyah, pemerintah memang dalam

posisi dilematis karena tak menjamin konflik di antara penentang dan pendukung

Ahmadiyah sehingga mereka tak lagi berteriak unjuk rasa menuntut pembubaran.

49

(47)

Namun, keluarnya SKB juga dapat memancng reaksi penentangan dari kalangan

uang selama ini mendukung Ahmadiyah dan menentang keluarnya SKB.50

Dalam keputusan bersama itu, pemerintah memerintahkan kepada Jemaah

Ahmadiyah Indonesia (JAI) untuk menghentikan syiar, yakni penyebaran,

penafsiran, dan kegiatan yang menyimpang dari pokok-pokok ajaran agama

Islam. “Penyebaran faham yang mengakui adanya nabi dengan segala ajarannya

setelah Nabi Muhammad SAW,” kata Menag Muhamad Maftuh Basuni

Menjelaskan SKB nomor 3 tahun 2008, KEP-033/A/IA/6/2008 dan nomor 199

Tahun 2008.51

50

Ibid, h. 158-159 51

(48)

A. Maksud Aliran Ahmadiyah

Sejarah Ahmadiyah lahir di India pada akhir abad ke-19 di tengah suasana

kemunduran umat Islam di bidang agama, politik., sosial, politik, ekonomi, dan

bidang kehidupan lainnya. Terutama setelah pecahnya revolusi India tahun 1857

yang terakhir dengan kemenangan East India Company yang menjadikan India

sebagai salah satu koloni Inggris terpenting di Asia.

Di tengah-tengah kondisi umat Islam seperti itu, Ahmadiyah lahir.

Kelahiran Ahmadiyah juga berorientasi pada pembaruan pemikiran. Di sini Mirza

Ghulam Ahmad yang mengaku telah diangkat Tuhan sebagai Mahdi dan

Al-Masih merasa mempunyai tanggung jawab moral untuk memajukan Islam dengan

memberikan interpretasi batu terhadap ayat-ayat Al-Qur’an sesuai tuntunan

zaman dan “Ilham” Tuhan kepadanya. Motif Mirza Ghulam Ahmad ini

tampaknya didorong oleh gencarnya serangan kaum misionaris Kristen dan

propaganda terhadap umat Islam pada saat itu.1 Jemaat Ahmadiyah didirikan pada

tahun 1889 M dan bertepatan tahun 1306 menurut aliran dari Qadiyan. Hal ini di

dasarkan pada permulaan pembai’atan yang dilakukan banyak orang terhadap

1

Iskandar Zulkarnaen, Gerakan Ahmadiyah di Indonesia, (Yogyakarta: LKIS 2005), cet. 1. h 58

(49)

Mirza Ghulam Ahmad.Sedangkan dari aliran Lahore berpendapat bahwa

Ahmadiyah berdiri tahu 1888 M. karena berdasarkan ilham yang diterimanya

untuk mendirikan bahtera dan melakukan bai’at kepada Mirza Ghulam Ahmad.2

Jemaat berarti kumpulan individu yang bersatu padu dan bekerja untuk

suatu program bersama. Ahmadiyah adalah nama dari ajaran Islam, jadi

Ahmadiyah adalah suatu perkumulan, himpunan atau organisasi yang bersatu

padu dan bekerja untuk suatu program yang sama yaitu Islam.3 Ahmadiyah

diambil dari salah satu nama Rasulullah SAW. Yang diinformasikan kepada Nabi

Isa a.s. dalam surat ash-shaf ayat 6 yang menyatakan bahwa akan datang seorang

nabi dan rasul bernama Ahmad.4

Dalam Perkembangan dan Penyebaran Ahmadiyah tidak terlepas dari

Khalifah Masih I , yaitu Hz.MIv.Hafiz Hakim Nuruddin ra. Pertablighan Islam

dan perkembangan misi Ahmadiyah ke Eropa sudah mulai pada masa beliau ini.

Khalifah Masih I wafat pada tahun 1914 dan digantikan oleh Khalifatul Masih II.

Yaitu Hz Mirza Bashiruddin Ahmad ra. Pertablighan Islam dan pengembagan

misi Ahmadiyah keseluruh dunia lebih terorganisir. Pengorganisasian itu beliau

mewujudkan pada tahun 1935 dalam bentuk suatu gerakan yang dikenal dengan

nama Tahrik Jadid (Gerakan Baru). Di dalam gerakan ini beliau menghimpun

dana sukarela dari para anggota dan mengumpulkan tenaga-tenaga sukarela yang

2

Saleh A.Nahdi, Ahmadiyah Selayang Pandang, (Jakarta: Yayasan Raja Pena, 2001). Cet. IV.h.5

3

Muslim Fathoni, Faham Mahdi Syiah dan Ahmadiyah Dalam Presfektif, (Jakarta:: PT. Raja Grafindo, 1994), h. 53

4

(50)

mewakafkan diri mereka untuk pengembangan Islam ke seluruh dunia. Para

Khalifatul Masih II ini Ahmadiyah telah berkembang di Asia, Eropa, Afrika dan

Amerika.5 Kemudian setelah Ahmadiyah muncul dan berkembang di India,

beberapa waktu kemudian disusul dengan menyebarnya Ahmadiyah hampir ke

seluruh dunia, dengan mendirikan masjid-masjid di berbagai Negara seperti

London, di kota Zurich (Switzerlad), di Den Haag (Belanda) di kota Frankurt dan

Hambrug (Jerman) dan masih Negara-negara lain termasuk di Benua Afrika.6

B. Kitab Taskiroh dan Buku-buku Ahmadiyah

Buku Tazkirah ini, bukan ditulis oleh Pendiri Jemaat Ahmadiyah Hadrat Mizra Ghulam Ahmad, as. {1835-1908}, tetapi himpunan ilham/wahyu, kasyaf,

dan rukya Pendiri Jemaat Ahmadiyah ini yang beliau terima dari Allah yang Maha

Perkasa, Al-Mutakallim, yang dihimpun dan disusun oleh: Maulana Muhammad

Ismail, Syekh Abdul Qodir dan Maulwi Rasyid dari buku-buku,

selebaran-selebaran dan catatan-catatan harian dari Pendiri Jemaat Ahmadiyah Hadhrat

Mizra Ghulam Ahmad, ‘alaihissalam.

Ilham/wahyu, kasyaf dan rukya di dalam buku tazkhirah ini terdiri dari bahasa Arab, Urdu, Farsi, Inggris dan Punjabi. Terjemah/penjelasan/tafsir utama

yang terdapat didalam buku tazkhirah ini adalah Terjemah/penjelasan/tafsir yang

dikemukakan oleh Hadhrat Mizra Ghulam Ahmad, ‘alaihissalam sebagai yang

5

Wawan H. Purwanto, Menusuk Ahmadiyah, hal. 33 6

(51)

terdapat di dalam tulisan-tulisan beliau. Adapun terjemahan lain-lainnya,

dilakukan oleh Tim Penyusun Buku Tazkhirah. Ada juga yang dikutip dari

terjemahan editor surat kabar dan atau majalah terbitan Jemaat yang sebelum

menerbitkannya, mereka memohon pendapat Hadhrat Mizra Ghulam Ahmad,

‘alaihissalam terbitan dahulu. Untuk lebih rincinya, dapat dibaca pada

“Pendahuluan” buku Tazkhirah.

Penerbit buku Tazkhirah, pertama kali dilakukan oleh Book Depot Ta’lif wa Isyaa’at Qadian pada tahun 1935, yang terdiri dari 664 halaman, sedangkan

penerbitan kedua tahun 1956 dan ketiga tahun 1969 diselenggarakan oleh

As-Syirkatul Islamiyah Limited Rabwah, Pakistan—masing-masing terdiri atas 840

dan 818 halaman.7

Isi Kitab At tazkirah ini yang resumenya sebagai berikut :

1. Tadzkirah merupakan buah mimpi dari Mirza Ghulam Ahmad.

2. Pernyataan tersebut dilukiskan dalam sebuah mimpi dan dituangkan

dalam kitab Taskirah.

3. Pernyataan Mirza Ghulam Ahmad, ditafsirkan oleh murid-muridnya

dalam bahasa Urdu dengan Intisari: 1. Membenarkan, memberikan

Justifikasi tentang Kenabian Ahmad (Mirza Ghulam Ahmad) 2.

Seruan dan Pujian Allah kepada Ahmad 3. Kedekatan dengan Allah.

4. Isyarat Kerosulannya 5. Doa-doanya 6. Seruan kepada janji

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Lainnya : Perbandingan aliran Ahmadiyah dengan ahli sunnah wal-jama'ah dari segi teologi dan fiqh : studi kasus komunitas ahmadiyah di masjid al-hidayah kebayoran lama Latar Belakang Masalah Perbandingan aliran Ahmadiyah dengan ahli sunnah wal-jama'ah dari segi teologi dan fiqh : studi kasus komunitas ahmadiyah di masjid al-hidayah kebayoran lama Rumusan dan Pembatasan Masalah Tujuan Penelitian dan Kegunaan Penelitian Kerangka Tiori Perbandingan aliran Ahmadiyah dengan ahli sunnah wal-jama'ah dari segi teologi dan fiqh : studi kasus komunitas ahmadiyah di masjid al-hidayah kebayoran lama Langkah-langkah Penelitian Perbandingan aliran Ahmadiyah dengan ahli sunnah wal-jama'ah dari segi teologi dan fiqh : studi kasus komunitas ahmadiyah di masjid al-hidayah kebayoran lama Sejarah Lahirnya Ahmadiyah Perbandingan aliran Ahmadiyah dengan ahli sunnah wal-jama'ah dari segi teologi dan fiqh : studi kasus komunitas ahmadiyah di masjid al-hidayah kebayoran lama Perkembangan dan Penyebaran Ahmadiyah Keberadaan Ahmadiyah di Indonesia Kebijakan Pemerintah terhadap keberadaan Jamaah Ahmadiyah Indonesia Maksud Aliran Ahmadiyah Perbandingan aliran Ahmadiyah dengan ahli sunnah wal-jama'ah dari segi teologi dan fiqh : studi kasus komunitas ahmadiyah di masjid al-hidayah kebayoran lama Kitab Taskiroh dan Buku-buku Ahmadiyah Ajaran-ajaran Ahmadiyah Perbandingan aliran Ahmadiyah dengan ahli sunnah wal-jama'ah dari segi teologi dan fiqh : studi kasus komunitas ahmadiyah di masjid al-hidayah kebayoran lama Maksud Ahlus Sunnah Wal-Jama’ah Kitab-Kitab Ahli Sunnah Wal-Jama’ah Ajaran-Ajaran Ahli Sunnah Wal-Jama’ah Dalam Teologi Keyakinan Masalah Rukun Iman Masalah Kenabian Perbandingan aliran Ahmadiyah dengan ahli sunnah wal-jama'ah dari segi teologi dan fiqh : studi kasus komunitas ahmadiyah di masjid al-hidayah kebayoran lama Masalah Kitab Perbandingan aliran Ahmadiyah dengan ahli sunnah wal-jama'ah dari segi teologi dan fiqh : studi kasus komunitas ahmadiyah di masjid al-hidayah kebayoran lama Dalam Rukun Islam Pandangan Ahmadiyah Dalam Sholat Pandangan Ahmadiyah Dalam Zakat