KEWENANGAN BADAN PENANAMAN MODAL DAN PERIZINAN DALAM PELAKSANAAN PEMBERIAN IZIN PENANAMAN MODAL DAERAH DI PROVINSI LAMPUNG

Teks penuh

(1)

KEWENANGAN BADAN PENANAMAN MODAL DAN PERIZINAN

Dalam upaya pelayanan yang transparan, mudah, efisien, berkeadilan, akuntabilitas, dan berkepastian hukum, diperlukan pengaturan pelayanan perizinan penanaman modal secara terpadu satu pintu. Permasalahan dalam skripsi ini adalah bagaimanakah kewenangan BPMPPT dalam pemberian izin penanaman modal di Provinsi Lampung dan apakah faktor-faktor penghambat dalam pelaksanaan pelayanan perizinan penanaman modal di Provinsi Lampung? Pendekatan masalah menggunakan normatif empiris. Sumber data menggunakan data primer dan data sekunder. Metode pengumpulan data menggunakan studi kepustakaan dan studi lapangan. Metode pengolahan data menggunakan seleksi data, klasifikasi data dan sistematika data. Analisis data menggunakan analisis kualitatif.

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa Pengaturan PTSP disahkan melalui Pergub Lampung No. 15 Tahun 2011 tentang Pelimpahan Kewenangan di Bidang Perizinan dan Nonperizinan kepada BPMPPT Provinsi Lampung. Dalam upaya meningkatkan investasi, BPMPPT meningkatkan fasilitas, sumber daya manusia dan sarana prasarana. Faktor penghambat dalam pelayanan pemberian izin penanaman modal di Provinsi Lampung adalah masih kurangnya sumber daya manusia yang kompeten dalam PTSP, persepsi masih belum utuh dan terkotak-kotak, serta ketidaksiapan BPMPPT dalam hal pelayanan perizinan penanaman modal sehingga masih memerlukan kerjasama satuan kerja lainnya. Oleh sebab itu disarankan BPMPPT meningkatkan sumber daya manusia yang benar-benar berkompeten dalam hal pelayanan pemberian izin, serta tugas pokok dan fungsi yang diperjelas sehingga tidak terjadi persepsi yang berbeda dan masing-masing satuan kerja yang memberikan rekomendasi dapat menempatkan sumber daya manusia nya berada di satu tempat sesuai dengan masing-masing satuan kerja sehingga tidak memakan waktu yang lebih lama.

(2)

THE AUTHORITY OF PERMIT AND INVESTMENT AGENCY IN CONDUCTING GRANTING REGIONAL CAPITAL INVESTMENT PERMIT IN LAMPUNG

PROVINCE By

Oktavianti Puspitasari

In efforts of giving transparent, easy, efficient, fair, accountable service with legal security, a regulation on integrated capital investment permit service is required. The problem statement in this research is how does the authority of Permit and Investment Agency (or BPMPPT) in granting permit of capital investment in Lampung province and what are inhibiting factors in conducting giving permit of capital investment in Lampung province?

This research used normative empirical approach. It used primary and secondary data. Data were collected with literary study and field study. Data were processed with data selection, data classification, and data systematization. Data were analyzed quantitatively.

(3)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Kewenangan

Kewenangan adalah merupakan hak menggunakan wewenang yang dimiliki pejabat atau institusi menurut ketentuan yang berlaku, dengan demikian kewenangan juga menyangkut konpetensi tindakan hukum yang dapat dilakukan menurut kaedah-kaedah formal yang dimiliki oleh pejabat atau institusi. (Tubagus Ronny Rahman Nitibaskara 2002:102)

Menurut H.D Stout, kewenangan adalah pengertian yang berasal dari hukum organisasi pemerintahan, yang dapat dijelaskan sebagai keseluruhan aturan-aturan yang berkenan dengan perolehan dan penggunaan wewenang-wewenang dari pemerintahan oleh subyek hukum publik di dalam hubungan hukum publik, (Ridwan HR 2002:71)

Sedangkan menurut Bagir Manan (1994:37) dalam bukunya Hubungan Antara Pusat dan Daerah Menurut UUD 1945 berpendapat bahwa wewenang dalam bahasa hukum tidak sama dengan kekuasaan. Kekuasaan hanya menggambarkan hak untuk berbuat dan tidak berbuat, sedangkan kewenangan memilki arti hak dan kewajiban.

(4)

Adapun kewenangan menurut Philipus M. Hadjon bahwa kewenangan dapat diperoleh melalui tiga sumber, yaitu :

1) Atribusi, adalah wewenang yang melekat pada suatu jabatan yang berasal dari undang-undang.

2) Delegasi, adalah pemindahan atau pengalihan wewenang yang ada. Atau dengan kata lain pemerintahan kewenangan atribusi kepada pejabat dibawahnya dengan dibarengi pemindahan tanggung jawab.

3) Mandat, dalam hal ini tidak ada sama sekali pengakuan kewenangan atau pengalihan tanganan kewenangan. Yang ada janji-janji kerja interen antara pengusaha dan pegawai.

Sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 bahwa Pemerintahan Daerah menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangannya, kecuali urusan pemerintahan yang menjadi urusan pemerintah. Dalam menyelenggarakan urusan pemerintah yang menjadi kewenangan daerah tersebut, pemerintahan daerah menjalankan otonomi untuk mengatur sendiri urusan pemerintah berdasarkan asas otonomi dan tugas pembantuan.

2.2 Pengertian Perizinan dan Penanaman Modal

2.2.1 Perizinan

(5)

Pembukaan UUD 1945 menetapkan dengan tegas tujuan kehidupan bernegara berdasarkan pada hukum. Hal ini menjelaskan bahwa tiada kekuasaan lain yang lebih tinggi selain hukum.

Upaya merealisasi Negara berdasarkan hukum dan mewujudkan kehidupan bernegara maka hukum menjadi pengarah, perekayasa, dan perancang bagaimana bentuk masyarakat hukum untuk mencapai keadilan. Berkaitan dengan hal tersebut perlu adanya pembentukan peraturan dimana harus disesuaikan dengan perkembangan masyarakat serta tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Pengertian izin menurut definisi yaitu perkenan atau pernyataan mengabulkan. Sedangkan istilah mengizinkan mempunyai arti memperkenankan, memperbolehkan, tidak melarang.

Secara garis besar hukum perizinan adalah hukum yang mengatur hubungan masyarakat dengan Negara dalam hal adanya masyarakat yang memohon izin.Hukum perizinan berkaitan dengan Hukum Publik

Prinsip izin terkait dalam hukum publik oleh karena berkaitan dengan perundang-undangan pengecualiannya apabila ada aspek perdata yang berupa persetujuan seperti halnya dalam pemberian izin khusus. Izin merupakan perbuatan Hukum Administrasi Negara bersegi satu yang diaplikasikan dalam peraturan berdasarkan persyaratan dan prosedur sebagaimana ketentuan perundang-undangan.

(6)

utama bagi pemerintah. Peranan pemerintah dalam proses pemberian pelayanan, adalah bertindak sebagai katalisator yang mempercepat proses sesuai dengan apa yang seharusnya. Dengan diperankannya pelayanan sebagai katalisator tentu saja akan menjadi tumpuan organisasi pemerintah dalam memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat. Oleh karena itu, pelayanan yang diberikan oleh pemerintah sebagai penyedia jasa pelayanan kepada masyarakat sangat ditentukan oleh kinerja pelayanan yang diberikan kepada masyarakat dapat terjangkau, mudah, cepat, dan efisien baik dari sisi waktu maupun pembiayaannya.

2) Izin khusus

Izin Khusus yaitu persetujuan dimana disini terlihat adanya kombinasi antara hukum publik dengan hukum prifat, dengan kata lain izin khusus adalah penyimpamgan dari sesuatu yang dilarang. Izin yang dimaksud yaitu :

(a) Dispensasi adalah merupakan penetapan yang bersifat deklaratoir, menyatakan bahwa suatu perundang-undangan tidak berlaku bagi kasus sebagaimana diajukan oleh seorang pemohon.

(b) Linsesi adalah izin untuk melakukan suatu yang bersifat komersial serta mendatangkan laba dan keuntungan.

(7)

bersangkutan. Wewenang pemerintah diberikan kepada konsensionaris walupun terbatas dapat menimbulkan masalah pilitik dan sosial yang cukup rumit, oleh karena perusahaan pemegang konsesi tersebut dapat memindahkan kampung, dapat membuat jaringan jalan, listrik dan telepon, membentuk barisan keamanan, mendirikan rumah sakit dan segala sarana laiannya.

Menurut W.F Prins yang diterjemaahkan oleh Kosim Adi Saputra, menyatakan bahwa istilah izin dapat diartikan tampaknya dalam arti memberikan dispensasi dari sebuah larangan dan pemakaiannya dalam arti itu pula.

Sedangkan menurut Uthrecht, izin mempunyai arti pembuatan peraturan yang tidak umumnya melarang suatu perbuatan tetapi masih juga memperkenankannya asal saja diadakan secara yang ditentukan untuk masing-masing hal konkrit maka perbuatan administrasi Negara memperkenankan perbuatan tersebut bersifat suatu izin(vergunning).

Akan tetapi Prajyudi Atmosoedirdjo menyatakan bahwa izin adalah suatu penetapan yang merupakan dispensasi dari suatu larangan oleh undang-undang yang kemudian larangan tersebut diikuti dengan perincian dari pada syarat-syarat , kriteria dan lainnya yang perlu dipenuhi oleh pemohon untuk memperoleh dispensasi dari larangan tersebut disertai denganpenetapan prosedur dan juklak (petunjuk pelaksanaan) kepada pejabat-pejabat administrasi negara yang bersangkutan.

(8)

persyaratan dan prosedur sebagaimana ditetapakan oleh ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

Sedangkan Ateng Syafruddin menyatakan izin merupakan bagian dari hubungan hukum antara pemerintah administrasi dengan warga masyarakat dalam rangka menjaga keseimbangan kepentingan antara masyarakat dengan lingkungannya dan kepentingan individu serta upaya mewujudkan kepastian hukum bagi anggota masyarakat yang berkepentingan.

Perbedaan prinsip antara Hukum Publik dengan Hukum Privat

1) Hukum Publik

(a) Bersifat umum

(b)Bersifat ordonatif (sepihak) (c)Diatur oleh perundang-undangan

(d)Sanksi sangat tegas

(e)Mengatur masyarakat

2) Hukum Privat

(a) Bersifat individu

(b)Bersifat koordinatif (dua pihak)

(c)Berdasaran kesepakatan atau perjanjian

(9)

(e)Mangatur individu dengan individu 3) Fungsi lain dari izin

(a) Untuk memberikan kepastian hukum bagi pemohon dan masyarakat

(b) Sebagai tindakan preventif untuk menghadapi pihak-pihak yang mengganggu

(c) Sebagai pengaman secara hukum

4) Proses pengeluaran izin

(a) Proses sentralisasi (pengaitan terhadap hukum-hukum yang berlaku). Sentralisasi adalah memusatkan seluruh wewenang kepada sejumlah kecil manajer atau yang berada di posisi puncak pada suatu struktur organisasi. Sentralisasi banyak digunakan pada pemerintahan lama di Indonesia sebelum adanya otonomi daerah.Kelemahan dari sistem sentralisasi adalah di mana seluruh keputusan dan kebijakan di daerah dihasilkan oleh orang-orang yang berada di pemerintah pusat, sehingga waktu yang diperlukan untuk memutuskan sesuatu menjadi lama. Kelebihan sistem ini adalah di mana pemerintah pusat tidak harus pusing-pusing pada permasalahan yang timbul akibat perbedaan pengambilan keputusan, karena seluluh keputusan dan kebijakan dikoordinir seluruhnya oleh pemerintah pusat

(b) Proses Disentralisasi

(10)

lagi banyak menerapkan sistem sentralisasi, melainkan sistem otonomi daerah atau otda yang memberikan sebagian wewenang yang tadinya harus diputuskan pada pemerintah pusat kini dapat di putuskan di tingkat pemerintah daerah atau pemda. Kelebihan sistem ini adalah sebagian besar keputusan dan kebijakan yang berada di daerah dapat diputuskan di daerah tanpa adanya campur tangan dari pemerintahan di pusat. Namun kekurangan dari sistem desentralisasi pada otonomi khusus untuk daerah adalah euforia yang berlebihan di mana wewenang tersebut hanya mementingkat kepentingan golongan dan kelompok serta digunakan untuk mengeruk keuntungan pribadi atau oknum. Hal tersebut terjadi karena sulit untuk dikontrol oleh pemerintah di tingkat pusat.

2.2.2 Penanaman Modal

Penanaman Modal adalah kegiatan yang dilakukan penanam modal yang berhubungan dengan keuangan dan ekonomi dengan harapan untuk mendapatkan keuntungan di masa depan.

Pendaftaran Penanaman Modal adalah permohonan yang disampaikan oleh penanam modal untuk mendapatkan persetujuan awal pemerintah atas rencana penanaman modalnya.

Pendaftaran Perluasan Penanaman Modal adalah permohonan yang disampaikan oleh perusahaan untuk mendapatkan izin dari pemerintah dalam memulai rencana perluasan penanaman modal, adapun perluasan yag dimaksud adalah penambahan kapasitas produksi melebihi kapasitas produksi yang telah diizinkan.

(11)

prinsip adalah izin untuk memulai kegiatan penanaman modal dibidang usaha yang dapat memperoleh fasilitas fiskal dan dalam pelaksanaan penanaman modalnya membutuhkan fasilitas fiskal.

Izin Prinsip Perluasan Penanaman Modal adalah Permohonan yang disampaikan oleh perusahaan untuk mendapatkan izin dari pemerintah dalam memulai rencana perluasan penanaman modal, adapun perluasan yang dimaksud adalah penambahan kapasitas produksi melebihi kapasitas produksi yang telah diizinkan.

Izin Prinsip Perubahan Penanaman Modal adalah izin untuk melakukan perubahan atas ketentuan yng telah ditetapkan dalam Izin Prinsip/izin Prinsip Perluasan sebelumnya.

Izin usaha adalah Izin yang wajib dimiliki perusahaan untuk melaksanakan kegiatan produksi/operasi komersialbaik produksi barang maupun jasa sebagai pelaksanaan atas Pendaftaran/Izin Prinsip/Surat persetujuan, kecuali ditentukan lain oleh peraturan perundang-undangan sektoral.

Izin Usaha Perluasan adalah izin yang wajib dimiliki oleh perusahaan untuk melaksanakan kegiatan produksi/operasi komersial atas penambahan kapasitas produksi melebihikapasitas produksi yang telah diizinkan (diatas 30%).

(12)

2.3 Tugas Pokok dan Fungsi Badan Penenaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu.

Badan Penanaman Modal dan Pelayanan PerizinanTerpadu (bahasa Inggris: Investment Coordinating Board) adalah Lembaga Pemerintah Non DepartemenIndonesia yang bertugas untuk merumuskan kebijakan pemerintah di bidang penanaman modal, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Badan ini didirikan sejak tahun 1973, menggantikan fungsi yang dijalankan oleh Panitia Teknis Penanaman Modal yang dibentuk sebelumnya pada tahun 1968.

Dengan ditetapkannya Undang-Undang tentang Penanaman Modal pada tahun 2007, BPMPPT menjadi sebuah lembaga Pemerintah yang menjadi koordinator kebijakan penanaman modal, baik koordinas antar instansi pemerintah, pemerintah dengan Bank Indonesia, serta pemerintah dengan pemerintah daerah maupun pemerintah daerah dengan pemerintah daerah. BPMP juga diamanatkan sebagai badan advokasi bagi para investor, misalnya menjamin tidak adanya ekonomi biaya tinggi.

a. Tugas Pokok Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu.

(13)

b. Fungsi Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu.

(1) Penyusunan dan pelaksanaan rencana kerja (2) Perumusan kebijakan teknis

(3) Perencanaan,monitoring dan evaluasi Penanaman Modal (4) Mengevaluasi kebijakan penanaman modal

(5) Pembinaan dan pengembangan iklim penanaman modal (6) Pengordinasian fasilitasi dan pelaksanaan kegiatan promosi (7) Pelayanan terpadu bidang penanaman modal

(8) Fasilitasi, pelayanan, pembinaan dan pengendalian rekomendasi dan/atau perizinan penanaman modal

(9) Pembinaan, monitoring dan evaluasi atas pelaksanaan kerjasama penanaman modal

2.4 Dasar Hukum Perizinan dan Penanaman Modal

Dalam rangka peningkatan pelaksanaan perizinan penanaman modal pemerintah telah menetapkan kebijakan pelimpahan kewenangan kepada pemerintah provinsi dan kabupaten/kota untuk melakukan pelayanan dibidang perizinan penanaman modal berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 38 tahun 2007.

(14)

Sistem Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) diharapkan dapatmemotong kerumitan rantai birokrasi sehingga mempercepat proses perizinan usaha bagi para investor. Sasarannya adalah merampingkan dan mengkonsolidasi jumlah langkah dan tempat yang harus dikunjungi seorang investor untuk memperoleh izin-izin usahanya.

Melalui pelayanan terpadu satu pintu bidang penanaman modal yang dilakukan oleh pemerintah, pemerintah provinsi/kabupaten/kota, diharapkan akan memperoleh kemudahan pelayanan serta mempercepat proses penyelesaian perizinan dan non perizinan.

Perizinan Penanaman Modal diatur dalam ketentuan sebagai berikut :

1. Ketentuan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia No. XVI/MPR/1998 Politik Ekonomi Dalam Rangka Demokrasi Ekonomi sebagai sumber hukum materiil. 2. Undang-Undang Republik Indonesia No. 25 Tahun 2007 tentang penanaman modal 3. Perda Provinsi Lampung No.12 Tahun 2009 tentang Pembentukan, Organisasi dan

Tatakerja Inspektorat, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah dan Lembaga Teknis Daerah Provinsi Lampung

4. Peraturan Kepala Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu No. 12 Tahun 2009 tentang bidang usaha terbuka bagi penanaman modal, kecuali ditentukan lain oleh perundang-undangan.

(15)

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hal-hal yang telah diuraikan pada bab-bab terdahulu maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

(16)

2. Faktor penghambat BPMPPT dalam pelayanan perizinan penanaman modal di Provinsi Lampung antara lain:

a. Kurangnya sumber daya manusia yang kompeten dalam pelayanan PTSP baik tentang penguasaan IT, bahasa asing maupun peraturan yang berlaku sehingga terciptanya pelayanan yang prima.

b. Persepsi masih belum utuh dan terkotak-kotak sehingga terjadi perbedaan persepsi atas pelaksanaan tugas.Persepsi yang belum utuh ini tentunya akan mengganggu dalam pelaksanaan PTSP.

c. Proses perizinan yang masih memerlukan kerjasama dengan satuan kerja lainnya dalam hal pemberian rekomendasi izin yang dipandang dapat membuat suatu proses perizinan dapat memakan waktu yang lebih lama dan kurang praktis dalam pelayanan PTSP.

5.2 Saran

Dari kesimpulan tersebut guna melalui pengaturan PTSP dalam upaya meningkatkan investasi di Provinsi Lampung, maka dapat diberikan beberapa saran yang kiranya dapat berguna untuk kemajuan PTSP di BPMPPT Provinsi Lampung:

1. Diharapkan BPMPPT meningkatkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi dalam PTSP serta memiliki kualifikasi tentang penguasaan IT, bahasa asing maupun peraturan yang berlaku dalam PTSP dengan mengadakan penerimaan pegawai yang berkompetensi di bidang perizinan serta penguasaan IT dan bahasa asing.

(17)
(18)

DAFTAR ISI

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian... 7

1.3.1 Tujuan Penelitian... 7

1.3.2 Manfaat Penelitian... 7

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Kewenangan ... 8

2.2 Pengertian Perizinan dan Penanaman Modal ... 10

2.2.1 Perizinan... 10

2.2.2 Penanaman Modal ... 16

2.3 Tugas Pokok dan Fungsi BPMP... 18

2.4 Dasar Hukum Perizinan dan Penanaman Modal ... 19

BAB III. METODE PENELITIAN 3.1 Pendekatan Masalah ... 21

(19)

3.3 Prosedur Pengumpulan Data ... 23

3.4 Prosedur Pengolahan Data... 24

3.5 Analisis Data ... 24

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum BPMPPT Provinsi Lampung ... 25

4.1.1 Tugas Pokok Dan Fungsi BPMPPT Provinsi Lampung ... 26

4.1.2 Susunan Organisasi BPMPPT Provinsi Lampung ... 27

4.2 Pembentukan BPMPPT Provinsi Lampung ... 28

4.3 Kewenangan BPMPPT Provinsi Lampung ... 28

4.3.1 Mekanisme Pelayanan Perizinan BPMPPT... 34

4.3.2 Upaya BPMPPT Dalam Meningkatkan Investasi Provinsi Lampung ... 38

4.4 Faktor–Faktor Penghambat BPMPPT Provinsi Lampung ... 41

BAB V. PENUTUP 5.1 Kesimpulan ... 45

5.2 Saran... 46

(20)

MOTTO

Do not wait for leaders, do it alone, person to person

(21)

PERSEMBAHAN

Atas keridhoan Allah SWT, kupersembahkan hasil karyaku ini untuk orang yang ku cintai

dan ku sayangi:

Ayahanda tercinta Ir.Hi.Syamsul Azhary dan Ibunda tercinta Dra.Hj.Arlaini yang tidak

pernah lelah mencurahkan kasih sayang, mendo’akan serta dukungan yang kalian berikan.

Kakak dan adik-adikku Mellinda Rachmasari, S.H , Maharani Puspasari dan M. Rizky

Maulana, serta orang terdekat yang senantiasa memberikan bantuan dan dukungan baik

(22)

Judul skripsi :KEWENANGAN BADAN PENANAMAN MODAL DAN PERIZINAN DALAM PELAKSANAAN PEMBERIAN IZIN PENANAMAN MODAL DAERAH DI PROVINSI LAMPUNG

Nama Mahasiswa :Oktavianti Puspitasari No. Pokok Mahasiswa: 0912011281

Bagian : Hukum Administrasi Negara

Fakultas : Hukum

MENYETUJUI 1. Komisi Pembimbing

Dr. Yuswanto, S.H., M.H. Sri Sulastuti, S.H., M.H. NIP 196205141987031003 NIP 196207271987032004

2. Ketua bagian Hukum Administrasi Negara

(23)

MENGESAHKAN

1. Tim Penguji

Ketua : Dr. Yuswanto, S.H., M.H. ...

Penguji Utama : Nurmayani, S.H., M.H. ...

Sekertaris/Anggota : Sri Sulastuti, S.H., M.H.

2. Dekan Fakultas Hukum

(24)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Bandar Lampung pada tanggal 20 Oktober 1990, putri ke dua dari empat bersaudara dari pasangan Ayahanda Hi.Ir.Syamsul Azhary dan Ibunda Hj.Dra.Arlaini.

Pendidikan formal pertama ditempuh di Taman Kanak-kanak (TK) Pertiwi Pahoman Bandar Lampung diselesaikan tahun 1997, Sekolah Dasar (SD) di SD Fransiskus Bandar Lampung yang diselesaikan tahun 2003, kemudian melanjutkan Pendidikan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) di SLTPN 25 Bandar Lampung pada tahun 2006, serta Pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) di SMAN YP Unila Bandar Lampung pada tahun 2009

(25)

SANWACANA

Alhamdulillah, segala puji dan syukur kehadiran Allah SWT yang melimpahkan Rahmat dan Karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi yang berjudul ”Kewenangan Badan Penanaman Modal Dan Perizinan Dalam Pelaksanaan Pemberian Izin Penanaman Modal Daerah Di Provinsi Lampung” sebagai salah satu syarat dalam meraih gelar Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Lampung.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penulisan skripsi ini tidak terlepas dari kekurangan-kekurangan dalam berbagai hal karena pengetahuan dan pengalaman penulis masih terbatas.

Keberhasilan penulisan skripsi ini tidak terlepas dari peranan dan bantuan moriil maupun materiil dari berbagai pihak. Maka dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada:

1. Dekan Fakultas Hukum Universitas Lampung Bapak Dr. Heryandi, S.H, M.S.

2. Ketua jurusan Hukum Administrasi Negara Fakultas Hukum Universitas Lampung dan selaku Pembahas 1 Ibu Nurmayani, S.H., M.H. yang telah banyak memberikan masukan dan nasehat untuk perbaikan penulisan skripsi ini.

3. Dosen Pembimbing 1 Bapak Dr. Yuswanto, S.H., M.H. yang telah berkenan meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan, banyak masukan dan arahan selama dalam proses penulisan skripsi ini.

(26)

5. Dosen Pembahas 2 Bapak Agus Triyono, S.H., M.H. yang telah memberikan banyak masukan serta arahan untuk perbaikan dalam penulisan skripsi ini.

6. Pembimbing Akademik Ibu Ria Wierma Putri, S.H., M.H. atas segala bantuan selama menjadi mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Lampung.

7. Seluruh Staf Administrasi Fakultas Hukum Ibu Hera dan Pak Marlan yang telah memberikan banyak bantuan mulai dari proses perkuliahan hingga penyusunan skripsi.

8. Dosen Hukum Administrasi Negara Fakultas Hukum Universitas Lampung Ibu Eka Deviani,S.H., M.H. yang telah banyak memberikan nasehat selama perkuliahan.

9. Kepala badan BPMPPT Bapak Ruslan, S.H., M.H. beserta Bapak Sopian Cholik S.Sos selaku Kasubbid Perizinan Perekonomian BPMPPT yang telah banyak membantu penulis selama mengadakan penelitian.

10. Papaku Hi.Ir.Syamsul Azhary dan Mamaku Hj.Dra.Arlaini yang menjadi sumber motivasiku dan telah memberikan kasih sayang perhatian serta do’anya, sehingga penulis dapat

menyelesaikan skripsi ini.

11. Kakak dan Adik-adikku Uwo Mellinda Rachmasari, S.H., Maharani Puspasari dan M. Rizky Maulana terima kasih atas kebersamaan, rasa sayang serta do’a kalian.

12. Randy Wahyuono, terima kasih atas motivasi dalam menyusun skripsi ini serta semangat, doa serta dukungan dan kesetiaan menemaniku dan membantu selama proses pengerjaan skripsi ini.

13. Sahabat tercinta Nadia Purnama Sari, Mega Puteri, Raisa Harly Runida Agustine, Febby Purnama Putri, terima kasih atas dukungan, bantuan dan kebersamaan kita selama ini.

(27)

Semoga ALLAH SWT, membalas segala budi dan kebaikan serta bantuan yang telah diberikan kepada penulis. Mudah-mudahan skripsi ini berguna dan dapat memberikan manfaat bagi kita semau. Amiin...

Bandar Lampung, Februari 2013 Penulis

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...