Arbitrase Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Bisnis di Luar Pengadilan

10 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

ARBITRASE SEBAGAI ALTERNATIF PENYELESAIAN

SENGKETA BISNIS DI LUAR PENGADILAN

M. Husni

Abstract: Today arbitration overview as important legal institution as one dispute resolution out of court that based on one bussiness arbitration agreement that made by the parties. Arbitration institution have many positive aspect, like/ such as the confidentially of the dispute parties, and the time of resolution that related in short time. Arbitration is an alternative dispute resolution that attractive in business dispute resolution that occur/happen ini bussinessman society, because trusted more efficient and effective.

Kata Kunci: Arbitrase, Penyelesaian sengketa alternatif, Litigasi

Dunia bisnis dalam menjalankan profesinya ingin agar segala sesuatunya dapat berjalan sesuai dengan apa yang telah direncanakan. Namun dalam kenyataannya ada kalanya apa yang telah disetujui oleh kedua belah pihak tidak dapat dilaksanakan karena salah satu pihak mempunyai penafsiran yang berbeda dengan apa yang telah disetujui dalam kontrak, sehingga hal ini dapat menimbulkan perselisihan atau sengketa. Selanjutnya setiap sengketa yang terjadi pada umumnya akan diusahakan agar dapat diselesaikan secara musyawarah untuk mufakat bagi kepentingan bersama. Namun tak sedikit pula harus menyelesaikan sengketa itu melalui jalur hukum baik melalui pengadilan ataupun di luar pengadilan.

Pengadilan sebagai salah satu cara penyelesaian sengketa yang paling dikenal, boleh dikatakan akan selalu berusaha untuk dihindari oleh banyak pihak. Hal ini dikarenakan proses dan jangka waktu yang relatif lama dan berlarut- larut karena ada beberapa tingkatan dalam hierarkhi pengadilan yang harus dilalui. Selain itu juga dikarenakan identitas para pihak yang bersengketa akan diketahui oleh masyarakat, sebab prinsip sidang yang dilakukan oleh lembaga peradilan adalah pada asasnya terbuka untuk umum. Tentunya bagi pihak yang sudah mempunyai nama di kalangan dunia bisnis kurang begitu suka identitasnya dipublikasikan lewat kasus di pengadilan, karena khawatir kebonafiditasnya yang terjamin selama ini akan luntur khususnya di kalangan rekan-rekan bisnisnya, di samping itu juga karena peradilan yang ada di Indonesia saat ini dianggap kurang dapat memenuhi rasa keadilan dalam masyarakat. Dunia usaha sering kali juga secara langsung atau tidak langsung merasa terpukul oleh system dan cara kerja peradilan yang dianggap kurang tanggap terhadap kebutuhan ekonomi dunia usaha.

Sehubungan dengan itu masyarakat mencari cara dan sistem penyelesaian sengketa yang cepat, efektif dan efisien yang dapat menyesuaikan diri dengan laju perkembangan perekonomian dan perdagangan di masa datang. Banyak kalangan yang mencari cara lain atau institusi lain dalam menyelesaikan sengketa di luar badan peradilan. Model penyelesaian sengketa di luar pengadilan inilah yang menjadi alternatif dalam penyelesaian sengketa.

(2)

namun tidak menutup peluang penyelesaian perkara tersebut dilakukan secara litigasi atau pengadilan, manakala penyelesaian secara non litigasi tidak membuahkan hasil.

Pada tanggal 12 Agustus 1999 telah diundangkan dan sekaligus diberlakukan UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR. 30 TAHUN 1999 TENTANG ARBITRASE DAN ALTERNATIF PENYELESAIAN SENGKETA. Undang-undang ini tidak hanya mengatur tentang arbitrase sebagai salah satu alternatif penyelesaian sengketa, melainkan juga alternatif penyelesaian sengketa lainnya di Indonesia.

Alternatif penyelesaian sengketa dalam UU No.30 Tahun 1999 diatur dalam Bab II yaitu Pasal 6. Dari pengertian yang dimuat dalam Pasal 1 angka 10 dan rumusan Pasal 6 ayat (1) UU No.30 Tahun 1999, dapat kita ketahui bahwa yang dimaksud dengan alternatif penyelesaian sengketa adalah: “Suatu pranata penyelesaian sengketa di luar pengadilan, atau dengan cara mengesampingkan penyelesaian secara litigasi di Pengadilan Negeri. Dalam kaitan dengan hal tersebut diatas maka permasalahan yang perlu mendapat perhatian adalah langkah-langkah apa yang harus ditempuh untuk meletakkan arbitrase sebagai pilihan penyelesaian sengketa bisnis.

ALTERNATIF PENYELESAIAN SENGKETA

“Alternatif Penyelesaian Sengketa (termasuk arbitrase) dapat diberi batasan sebagai sekumpulan prosedur atau mekanisme yang berfungsi memberi alternatif atau pilihan suatu tata cara penyelesaian sengketa melalui bentuk arbitrase agar memperoleh putusan akhir dan mengikat para pihak. Secara umum, tidak selalu dengan melibatkan intervensi dan bantuan pihak ketiga yang independent yang diminta membantu memudahkan penyelesaian sengketa tersebut” (Abdulrasyid, 2002).

Dengan demikian, jelaslah yang dimaksud dengan ADR (Alternative Dispute Resolution) atau Alternatif Penyelesaian Sengketa adalah suatu pranata penyelesaian sengketa di luar pengadilan berdasarkan kesepakatan para pihak dengan menyampingkan penyelesaian sengketa secara litigasi di pengadilan. Dalam UU No. 30 Tahun 1999, dapat kita temui sekurangnya ada lima macam cara penyelesaian sengketa di luar pengadilan.

KONSULTASI

Tidak ada suatu rumusan ataupun penjelasan dalam UU No.30 Tahun 1999 mengenai makna dari konsultasi. Dalam Black’s Law Dictionary yang dikutip oleh Gunawan Widjaja, pada prinsipnya konsultasi merupakan suatu tindakan yang bersifat personal antara suatu pihak tertentu, yang disebut dengan klien dengan pihak lain yang merupakan pihak konsultan, yang memberikan pendapatnya kepada kliennya untuk memenuhi keperluan dan kebutuhan kliennya tersebut (Widjaya, 2001). Peran konsultan dalam menyelesaikan perselisihan atau sengketa yang ada tidaklah dominan sama sekali. Konsultan hanyalah memberikan pendapat (hukum), sebagaimana diminta oleh kliennya, yang untuk selanjutnya keputusan mengenai penyelesaian sengketa tersebut akan diambil sendiri oleh para pihak, meskipun adakalanya pihak konsultan juga diberikan kesempatan untuk merumuskan bentuk-bentuk penyelesaian sengketa yang dikehendaki oleh para pihak yang bersengketa tersebut.

NEGOSIASI

(3)

Sampai kepada menyedia negosiator khusus, atau memakai lawyer sebagai negosiator. Dalam Pasal 5 UU No.30 Tahun 1999 dapat dikatakan bahwa pada prinsipnya segala sesuatu yang menurut Undang- Undang yang berlaku dapat diadakan perdamaian dapat pula dinegosiasikan.

Suatu negosiasi berhasil apabila terdapat kompromi atas posisi-posisi para pihak yang antara lain dapat diukur dengan nilai uang. Pendekatan “Problem Solving” dalam negosiasi menekankan pencapaian apa sebenarnya yang dikehendaki kedua belah pihak dan mencari hal-hal yang dapat memuaskan kedua belah pihak. Pendekatan dilakukan sebagai ganti dari pendekatan untuk keuntungan salah satu pihak atas pihak lainnya (Rajagukguk, 2001).

MEDIASI

“Mediasi adalah suatu proses negosiasi untuk memecahkan masalah melalui pihak luar yang tidak memihak dan netral yang akan bekerja dengan pihak yang bersengketa untuk membantu menemukan solusi dalam menyelesaikan sengketa tersebut secara memuaskan bagi kedua belah pihak” (Fuady, 2000).

“Mediasi adalah proses negosiasi pemecahan masalah dimana pihak luar yang tidak memihak (impartial) dan netral bekerja dengan pihak yang bersengketa untuk membantu mereka memperoleh kesepakatan dengan memutuskan. Menurut rumusan Pasal 6 ayat (3) UU No.30 Tahun 1999, “Mediasi adalah merupakan suatu proses kegiatan sebagai kelanjutan dari gagalnya negosiasi yang dilakukan oleh para pihak”. Dari ketentuan Pasal 6 ayat (3) UU No.30 Tahun 1999 itu juga dikatakan bahwa atas kesepakatan tertulis para pihak yang bersengketa atau beda pendapat diselesaikan melalui bantuan seorang atau lebih penasehat ahli maupun melalui seorang mediator (Sudiarto, 2004).

KONSILIASI

Seperti halnya konsultasi, negosiasi, maupun mediasi, UU No.30 Tahun 1999 tidak memberikan suatu rumusan yang eksplisit atas pengertian atau definisi dari konsiliasi. Jika mengacu kepada asal kata konsiliasi yaitu “conciliation” dalam bahasa Inggris yang berarti perdamaian dalam bahasa Indonesia, maka dapat dikatakan bahwa pada prinsipnya konsiliasi merupakan perdamaian.

Konsiliasi sebagai proses penyelesaian sengketa yang melibatkan pihak ketiga yang netral dan tidak memihak dengan tugas sebagai fasilitator untuk menemukan para pihak agar dapat dilakukan penyelesaian sengketa. Konsiliator dalam menjalankan tugasnya harus mengetahui hak dan kewajiban para pihak, kebiasaan bisnis, sehingga dapat mengarahkan penyelesaian sengeta dengan berpegang kepada prinsip keadilan, kepastian dan objektivitas dari setiap kasus tertentu.

Tugas dari konsiliator seperti juga mediator hanyalah sebagai pihak fasilitator untuk melakukan komunikasi diantara pihak sehingga dapat ditemukan solusi oleh para pihak. Pihak konsiliator hanya melakukan tindakan- tindakan seperti mengatur waktu dan tempat pertemuan para pihak, mengarahkan subjek pembicaraan, membawa pesan dari satu pihak kepada pihak lain jika pesan tersbut tidak mungkin disampaikan langsung, dan lain-lain. Sementara pihak mediator melakukan lebih jauh dari itu. Namun, keputusan dan persetujuan terhadap keputusan perkara tetap terletak penuh di tangan para pihak yang bersengketa.

PEMBERIAN PENDAPAT HUKUM

(4)

Rumusan Pasa 52 UU No.30 Tahun 1999 menyatakan bahwa “para pihak dalam suatu perjanjian berhak untuk memohon pendapat yang mengikat dari lembaga arbitrase atas hubungan hukum tertentu dari suatu perjanjian. Pendapat hukum ini bersifat mengikat

(binding) oleh karena pendapat yang diberikan tersebut akan menjadi bagian yang tidak

terpisahkan dari kontrak pokok. Pendapat hukum ini juga bersifat akhir (final) sebagaimana disebutkan dalam Pasal 53 UU NO.30 Tahun 1999 yang menyatakan bahwa:

“terhadap pendapat yang mengikat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 tidak dapat dilakukan perlawanan melalui upaya hukum”.

Adanya berbagai alternatif penyelesaian sengketa dalam kontrak dagang mempermudah para pelaku bisnis dalam menghadapi sengketa dagang. Pada saat ini sudah harus ditinggalkan pembuatan kontrak yang tradisional dan beralih kepada model-model kontrak modern ynag mencantumkan penyelesaian sengketa melalaui forum non litigasi. Para konsultan hukum atau advokat disarankan agar kliennya dalam membuat kontrak dagang selalu mencantumkan cara penyelesaian sengketa dengan memasukkan beberapa pilihan. Misalnya dalam kontrak mensyaratkan bahwa dalam hal timbul sengketa hubungan dengan perikatan tersebut, para pihak pertama- tama akan mencoba menyelesaikannya dengan cara negosiasi atau mediasi. Jika upaya ini gagal, para pihak akan menyerahkan sengketa mereka kepada lembaga arbitrase dengan mengikuti prosedur tertentu.

PERJANJIAN ARBITRASE SEBAGAI PILIHAN DALAM PENYELESAIAN SENGKETA BISNIS

Di kalangan dunia bisnis, umumnya lebih mendayagunakan arbitrase sebagai alternatif penyelesaian sengketa bisnis yang terjadi diantara para pihak, daripada penyelesaiannya melalui lembaga litigasi atau peradilan. Hal ini terjadi karena saat sekarang ini ada suatu tendensi bahwa hampir di setiap kontrak dagang mencantumkan klausul penyelesaian sengketa melalui arbitrase, dimana arbitrase merupakan suatu lembaga penyelesaian sengketa yang sedang populer dan paling dianjurkan untuk digunakan dibandingkan dengan lembaga penyelesaian sengketa lainnya.

Dalam menentukan cara penyelesaian sengketa tersebut, tentunya banyak pertimbangan yang mendasari para pelaku bisnis untuk memilih arbitrase sebagai upaya penyelesaian sengketa yang akan atau sedang dihadapi. Namun demikian, kadangkala pertimbangan para pelaku bisnis dalam memilih lembaga arbitrase sebagai alternatif penyelesaian sengketa para pihak tidaklah sama, karena itu perlu diketahui dasar pertimbangan para pihak yang bersengketa dalam memilih arbitrase sebagai alternatif penyelesaian sengketa dalam kontrak dagang. Secara umum dalam alinea keempat Penjelasan Umum UU No.30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa dinyatakan dalam lembaga arbitrase mempunyai kelebihan dibandingkan dengan lembaga peradilan. Kelebihan-kelebihan itu antara lain: (1) Dijamin kerahasiaan sengketa para pihak. (2) Dapat dihindarkan kelambatan yang diakibatkan karena hal prosedur dan administrative. (3) Para pihak dapat memilih arbiter yang menurut keyakinannya mempunyai pengetahuan, pengalaman, serta latar belakang yang cukup mengenai masalah yang disengketakan, jujur dan adil. (4) Para pihak dapat menentukan pilihan hukum untuk menyelesaikan masalah serta proses dan tempat penyelenggaraan arbitrase. (5) Putusan arbiter merupakan putusan yang mengikat para pihak dan dengan melalui tata cara (prosedur) sederhana saja ataupun langsung dapat dilaksanakan.

(5)

Pengusaha-pengusaha negara maju beranggapan hakim-hakim negara berkembang tidak menguasai sengketa-sengketa dagang yang melibatkan hubungan-hubungan niaga dan keuangan internasional yang rumit. (3) Pengusaha-pengusaha negara maju beranggapan penyelesaian sengketa melalui pengadilan akan memakan waktu yang lama dan ongkos yang besar. (4) Keengganan pengusaha asing untuk menyelesaikan sengketa di depan pengadilan bertolak dari anggapan bahwa pengadilan akan bersikap subjektif kepada mereka karena sengketa diperiksa dan diadili bukan berdasarkan hukum mereka, oleh hakim yang bukan dari negara mereka. (5) Penyelesaian sengketa di pengadilan akan mencari siapa yang salah dan siapa yang benar, dan hasilnya akan dapat merenggangkan hubungan dagang diantara mereka, sedangkan putusan melalui arbitrase dianggap dapat melahirkan putusan yang kompromistis yang dapat diterima oleh kedua belah pihak yang bersengketa.

Dibandingkan dengan pengadilan konvensional, maka arbitrase mempunyai kelebihan, antara lain: (1) Prosedur tidak berbelit dan keputusan dapat dicapai dalam waktu relative singkat. (2) Biaya lebih murah. (3) Dapat dihindari expose dari keputusan di depan umum. (4) Hukum terhadap prosedur dan pembuktian lebih rileks. (4) Para pihak dapat memilih hukum mana yang akan diberlakukan oleh arbitrase. (5) Para pihak dapat memilih sendiri para arbiter. (7) Dapat dipilih para arbiter dari kalangan ahli dalam bidangnya. (8) Keputusan dapat lebih terkait dengan situasi dan kondisi. (9) Keputusannya umumnya final dan

binding (tanpa harus naik banding atau kasasi). (10) Keputusan arbitrase umumnya dapat

diberlakukan dan dieksekusi oleh pengadilan dengan sedikit atau tanpa review sama sekali. (11) Proses/prosedur arbitrase lebih mudah dimengerti oleh masyarakat luas. (12) Menutup kemungkinan untuk dilakukan “Forum Shopping” (Fuady, 2000).

Disamping kelebihan- kelebihan tersebut di atas, menurut Sudiarto dan Zaeni Asyhadie ada beberapa pertimbangan yang melandasi para pihak untuk memilih arbitrase sebagai upaya penyelesaian perselisihan mereka. Pertimbangan tersebut secara lebih terperinci dan lebih jelas ada sebagai berikut:

Ketidakpercayaan para pihak pada Pengadilan Negeri

Sebagaimana diketahui, penyelesaian sengketa melalui pengadilan akan menghabiskan jangka waktu yang relatif panjang. Hal ini disebabkan biasanya melalui pengadilan umum akan melalui berbagai tingkatan, yaitu Pengadilan Negeri, Pengadilan Tinggi, bahkan bisa sampai ke Mahkamah Agung. Apabila diperoleh putusan dari Pengadilan Negeri, pihak yang merasa tidak puas dengan putusan itu akan naik banding dan kasasi sehingga akan memakan waktu yang panjang dan berlarut-larut.

Di samping itu, seringkali dijumpai bahwa dimana- mana seperti di lembaga peradilan umum, dijumpai adanya tunggakan perkara- perkara yang menyebabkan semakin lamanya penyelesaian perkara di pengadilan. Dengan demikian, dapatlah dimengerti mengapa jalur lewat pengadilan tidaklah menguntungkan bagi dunia bisnis yang menuntut penyelesaian serba cepat.

Prosesnya cepat

Sebagai suatu proses pengambilan keputusan, arbitrase memerlukan waktu sekitar 60 (enam puluh) hari sehingga prosesnya relatif cepat, terutama jika para pihak beritikad baik.

(6)

secara terbuka ini sering sangat merugikan bagi perusahaan (pihak yang bersengketa) bila masyarakat mengetahui bahwa perusahaan tersebut mempunyai masalah karena akan menurunkan prestisenya. Dengan demikian, memilih arbitrase merupakan jalan yang tepat karena persidangan maupun pengucapan putusannya dilakukan secara tertutup. Persidangan maupun pembacaan putusan secara terbuka hanya bisa dilakukan dengan seizin para pihak. Kedua; Bebas memilih arbiter, Para pihak yang bersengketa dapat bebas memilih arbiter yang akan menyelesaikan persengketaan mereka. Jika dalam hal ini para pihak tidak bersepakat dalam memilih arbiter, maka penunjukan arbiter akan menjadi kewenangan pengadilan negeri, sebagaimana disebutkan dalam Pasal 13 (1) UU No.30 Tahun 1999, “Apabila tidak tercapai kesepakatan mengenai pemilihan arbiter atau tidak ada ketentuan mengenai pengangkatan arbiter, ketua pengadilan negeri dapat menunjuk arbiter atau majelis arbitrase”. Disamping adanya kemungkinan penunjukan arbiter yang dilakukan oleh hakim, penunjukan arbiter juga bisa dilakukan oleh badan arbitrase tertentu. Badan arbitrase mana yang akan berwenang menentukannya tergantung pada kontrak arbitrasenya. Ketiga; Diselesaikan oleh ahlinya (expert)

Penyelesaian sengketa di pengadilan kadangkala memerlukan biaya tambahan. Hal ini karena seringkali dijumpai hakim kurang mampu menangani kasus/sengketa yang bersifat teknis, seperti kasus pencarteran kapal dan sebagainya sehingga diperlukan saksi ahli yang membutuhkan biaya. Saksi ahli ini dapat diperintahkan untuk memberikan keterangan di bawah sumpah tentang apa saja yang bersifat teknis yang ingin diketahui oleh hakim guna menyelesaikan kasus yang sedang diperiksanya.

Dalam hal penyelesaian melalui arbitrase, saksi ahli tidak mesti diperlukan karena para pihak yang bersengketa dapat menunjuk para ahli untuk menjadi arbiter yang serta mengetahui masalah yang dipersengketakan. Hal ini membuat para pihak yang bersengketa memiliki kepercayaan yang lebih besar pada keahlian arbiter dibandingkan jika mereka menyerahkan kasusnya kepada pengadilan negeri.

Merupakan putusan akhir (final) dan mengikat (binding)

Putusan arbitrase pada umumnya dianggap final dan binding (tidak ada upaya untuk banding). Namun apabila hukum yang berlaku dalam yurisdiksi yang bersangkutan menetapkan pelaksanaan putusan arbitrase melalui pengadilan, maka pengadilan harus mengesahkannya dan tidak berhak meninjau kembali persoalan (materi) dari putusan tersebut.

Biaya lebih murah

Biaya arbitrase biasanya terdiri dari biaya pendaftaran, biaya administrasi dan biaya arbiter yang sudah ditentukan tarifnya. Prosedur arbitrase dibuat sesederhana mungkin, tidak terlalu formal. Di samping itu para arbiter adalah para ahli dan praktisi di bidang atau pokok yang dipersengketakan sehingga diharapkan akan mampu memberikan putusan yang cepat dan objektif. Hal ini tentunya menghemat biaya jika dibandingkan dengan melalui pengadilan.

Bebas memilih hukum yang diberlakukan

(7)

Eksekusinya mudah

Keputusan arbitrase umumnya lebih mudah dilaksanakan daripada putusan pengadilan. Hal ini disebabkan karena putusan arbitrase bersifat final dan binding, yang tentunya dilandasi dengan itikad baik para pihak. Pelaksanaan putusan arbitrase ini tergantung para peraturan arbitrase yang berlaku dalam yurisdiksi dimana para pihak meminta untuk melaksanakan putusan arbitrase. Keputusan arbitrase mungkin akan lebih cepat dilaksanakan daripada melaksanakan putusan pengadilan. Hal ini disebabkan putusan arbitrase dianggap final dan tidak dapat diajukan banding kecuali ada alasan atau dasar yang khusus.

Kepekaan arbiter

Ciri penting lainnya adalah kepekaan/kearifan dan arbiter, termasuk perangkat hukum yang akan diterapkan dalam menyelesaikan sengketa. Sekalipun para hakim di pengadilan arbiter menerapkan ketentuan hukum untuk menentukan penyelesaian sengketa yang dihadapinya, dalam hal-hal yang relevan arbiter akan memberikan perhatian yang besar terhadap keinginan, realitas dan praktik dagang para pihak. Sebaliknya, pengadilan seringkali memanfaatkan sengketa privat sebagai tempat untuk menonjolkan nilai-nilai masyarakat. Akibatnya, dalam penyelesaian sengketa privat yang ditanganinya, pertimbangan hakim seringkali mengutamakan kepentingan umum, kepentingan privat/pribadi merupakan pertimbangan kedua.

Kecenderungan yang modern

Dalam dunia perdagangan modern, kecenderungan yang terlihat adalah liberalisasi peraturan perundang-undangan arbitrase untuk lebih mendorong penggunaan arbitrase daripada penyelesaian sengketa bisnis melalui pengadilan. Pada umumnya Undang-Undang dirancang untuk memberikan otonomi, kebebasan kepada para pihak untuk menunjuk hukum atau prinsip-prinsip yang adil dapat diterapkan terhadap sengketa yang terjadi antara para pihak dan memberikan kewenangan kepada para pihak untuk memilih para arbiter, sekaligus prosedur yang dapat diterapkan dalam arbitrase.

Menurut Tan Kamello, memilih arbitrase yang dilakukan para pihak bukan tidak beralasan, paling tidak sudah diketahui keuntungan dan kelemahan dari forum arbitrase tersebut. Undang-Undang tidak mengajak para pihak untuk menyelesaikan sengketa para forum arbitrase dengan alasan biaya murah. Semua biaya yang diperlukan untuk menyelesaikan sengketa bisnis tersebut ditanggung oleh para pihak, dapat saja jumlahnya besar atau kecil, jadi relative. Kata “biaya murah” para proses arbitrase selalu dikontradiksikan dengan proses perkara di pengadilan, yang biayanya sulit untuk diestimasi, karena besarnya pengeluaran para pihak untuk menghadapi “mafia pengadilan”. Hal ini berbeda dengan arbitrase, yang sudah ditentukan jumlah biayanya oleh BANI, dan masih terasa asing untuk mendengar kata “mafia arbitrase”.

Pada sisi lain, Undang- Undang menentukan proses waktu berlangsungnya penyelesaian sengketa lewat arbitrase lebih singkat dari proses penyelesaian melalui pengadilan. Seiring dengan itu, para pihak dengan kesepakatan tertulis menghindari “sang hakim” memeriksa perkaranya. Sementara itu, ada juga yang berpendapat, memilih arbitrase lebih professional, independent, arbiternya memiliki integritas moral, jujur dan dapat dipercaya serta ahli di bidangnya. Keinginan para pihak memilih arbitrase juga karena untuk menghindari formalitas dalam beracara di pengadilan. Demikian pula karena sifat privatisasi dari penyelesaian arbitrase ini yang tidak dipublikasikan, tidak konfrontatif, damai, win-win

solution bukan win-loose solution, menjadikan arbitrase lebih digemari untuk dipilih para

(8)

Dari beberapa uraian tentang dasar pertimbangan mengapa para pihak lebih condong memilih penyelesaian sengketa dagang melalui arbitrase dari pada pengadilan, pada dasarnya dapat disimpulkan ada 3 (tiga) hal pokok, yaitu dilakukan dengan cepat, oleh ahli dan secara rahasia. Di samping kelebihan tersebut, menurut Tan Kamello, penggunaan forum arbitrase masih memiliki kelemahan. Hal ini terlihat dari beberapa faktor, antara lain: (1) Tidak mudah untuk mengajak para pelaku bisnis menyelesaikan sengketanya kepada arbiter. (2) Klausul arbitrase yang sudah dicantumkan dalam kontrak selalu diingkari salah satu pihak dengan berbagai dalih. (3) Pengingkaran hakim terhadap norma hukum yang sudah dinyatakan secara tegas Undang- Undang. (4) Masih ada keengganan para pihak untuk menyisihkan biaya yang harus dipikul dalam proses arbitrase. (5) Pelaksanaan putusan arbitrase masih juga berkaitan dengan pengadilan. (6) Dalam arbitrase tidak dikenal putusan-putusan yang mengikat arbiter sebelumnya (seperti dalam ilmu hukum dikenal yurisprudensi). (7) Dalam forum arbitrase internasional masih sulit untuk mempertemukan sengketa hukum yang berbeda sistem hukumnya dari negara msing-masing.

Selain itu, arbitrase juga masih terdapat beberapa kelemahan yang bisa saja terjadi, yakni antara lain: (1) Hanya baik dan tersedia dengan baik terhadap perusahaan-perusahaan bonafide. (2) Due Process Kurang terpenuhi. (3) Kurangnya unsure Finalty. (4) Kurangnya power untuk menggiring para pihak ke settlement. (5) Kurangnya power untuk menghadirkan barang bukti, saksi, dan lain-lain. (6) Kurangnya power untuk hal law enforcement dan eksekusi keputusan. (7) Dapat menyembunyikan dispute dari Public Security. (8) Tidak dapat menghasilkan solusi yang bersifat preventif. (9) Kemungkinan timbulnya keputusan yang paling bertentangan satu sama lain karena tidak ada system “precedent” terhadap keputusan sebelumnya, dan juga karena unsur fleksibilitas dari arbiter. Karena itu, keputusan arbitrase tidak predektif. (10) Kualitas keputusannya sangat bergantung pada kualitas para arbiter itu sendiri, tanpa ada norma yang cukup untuk menjaga standard mutu keputusan arbitrase. Oleh karena itu, sering dikatakan “An arbitration is as good arbitrators”. (11) Berakibat kurangnya upaya untuk mengubah system pengadilan konvensional yang ada. (12) Berakibat semakin tinggi rasa permusuhan kepada pengadilan (Fuady, 2000).

Dengan demikian, berbicara di depan peradilan wasit atau arbitrase tidak selalu seperti apa yang dibayangkan atau malah terkadang tidak sesuai dengan dasar pertimbangan di atas. Banyak hal yang harus dipertimbangkan secara mendalam sebelum para pihak membuat kontrak arbitrase yang diharapkan akan mampu menyelesaikan sengketa secara mudah, murah dan cepat dapat menjadi cara penyelesaian yang sukar, lama dan mahal. Contoh untuk hal ini adalah kasus Kartika Plaza yang menghabiskan waktu kurang lebih 9 tahun. Kasus ini pertama kali diajukan pada tanggal 15 Januari 1981 oleh Amco Asia Corporation, Pan American Development Limited dan PT.Amco Indonesia terhadap Republik Indonesia. Hal ini sesuai dengan Konvensi ICSID yang telah disahkan juga oleh Indonesia dan dijadikan UU No.5 Tahun 1968, untuk menjamin dan menunjang iklim investasi di Indonesia. Kasus ini baru selesai setelah pemeriksaan ronde ketiga yang putusannya dijatuhkan pada tanggal 31 Mei 1990 di Kopenhagen (Jerman) dan disampaikan kepada para pihak tanggal 5 Juni 1990. Jadi menghabiskan waktu sembilan tahun.

(9)

menguntungkan bagi dunia bisnis, maka badan arbitrase terbukti sebagai pilihan dalam penyelesaian sengketa dalam kontrak dagang yang paling dianjurkan dan paling diminati.

Di samping itu dengan nama baik para pihak, semua permasalahan ingin diselesaikan dengan cepat dan dengan itikad baik untuk melaksanakan hasil putusan arbiter. Dengan demikian, arbitrase merupakan jalan yang terbaik bagi para pihak, dan itulah sebabnya para pihak memilih arbitrase sebagai alternative penyelesaian sengketa bisnis.

KESIMPULAN

Arbitrase sebagai pilihan dalam penyelesaian sengketa bisnis dilakukan dengan berbagai pertimbangan, dimana mereka tidak ingin sengketa yang dihadapi diketahui orang dan lembaga arbitrase dapat memberikan jaminan kerahasiaan terhadap para pihak, baik dalam proses pemeriksaan berlangsung sampai setelah putusan dijatuhkan. Disamping itu, arbitrase diakui sebagai model penyelesaian sengketa yang mengedepankan pencapaian keadilan dengan pendekatan konsensus dan berdasarkan pada kepentingan para pihak dalam mencapai “Win Win Solution”. Namun dibalik semua kelebihan arbitrase ternyata ada satu hal penting yang sangat tidak memuaskan para pihak, terutama pada saat pelaksanaan (eksekusi) putusan arbitrase, baik putusan arbitrase nasional maupun putusan internasional, di Indonesia selalu menghadapi kesulitan dan hambatan karena norma hukum yang ambivalen. Disatu pihak arbitrase diakui sebagai salah satu model penyelesaian sengketa yang efektif, tetapi disisi lain putusan arbitrase dapat dilaksanakan apabila tidak mendapatkan perintah untuk dieksekusi dari Pengadilan Negeri.

Kontrak arbitrase dan penerapan klausul arbitrase menurut UU No.30 Tahun 1999 pada dasarnya merupakan bagian dari kebebasan para pihak dalam membuat kesepakatan mengenai objek kontrak. Kesepakatan memilih lembaga arbitrase dapat dilakukan melalui dua macam yaitu: (1) Sebelum terjadi sengketa dan dicantumkan dalam kontrak pokok, dinamakan pactum de compremittendo; (2) Sesudah terjadi sengketa, dibuat dalam bentuk tertulis, terpisah dari kontrak pokok, disebut acta compromise

Akan tetapi, tidak semua sengketa dapat diselesaikan melalui lembaga arbitrase. Sengketa-sengketa diluar sengketa perdagangan bukan merupakan jurisdiksi lembaga arbitrase. Kewenangan dan kekuatan hukum lembaga arbitrase terhadap putusannya menurut UU No. 30 Tahun 1999 adalah putusan arbitrase yang bersifat final, mempunyai kekuatan hukum tetap, dan mengikat para pihak yang bersengketa. Namun faktanya, putusan arbitrase tidak memiliki kewenangan untuk melakukan eksekusi atau tidak memiliki kekuatan eksekutorial terhadap putusan yang dibuatnya sendiri, sehingga putusan tersebut tidak benar-benar mandiri dan sangat tergantung pada kewenangan eksekutorial dari Pengadilan Negeri. Hal ini disebabkan oleh syarat yang diatur dalam UU No. 30 Tahun 1999 itu sendiri, seperti dalam pasal 59 s/d pasal 64 untuk putusan arbitrase nasional, dan pasal 65 s/d pasal 69 untuk putusan arbitrase internasional.

DAFTAR PUSTAKA

Abdulrrasyid, Priyatna. 2002. Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa Suatu Pengantar, Jakarta: Fikahati Aneska.

Badrulzaman, Mariam Darus. 2004, Beberapa Pemikiran Mengenai Penyelesaian Sengketa di

Bidang Ekonomi dan Keuangan di Luar Pengadilan, Makalah pada Acara Peresmian

BANI Sumatera Utara di Medan, tanggal 3 April 2004.

(10)

Juwana, Hikmahanto. Modul Pelatihan Dasar-Dasar Perancangan Kontrak Bisnis, Makalah Disampaikan oleh Syapri Chan pada Acara Pendidikan Khusus Profesi Advokat Kerjasama DPD. Ikatan Penasehat Hukum Indonesia (IPHI) Sumatera Utara dengan Fakultas Hukum Universitas Dharmawangsa, Medan, 25 Agustus 2005.

Kamello, Tan. Hukum Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa di Indonesia. Makalah Disampaikan pada Acara Pendidikan Khusus Profesi Advokat Kerjasama DPD. Ikatan Penasehat Hukum Indonesia (IPHI) Sumatera Utara dengan Fakultas Hukum Universitas Dharmawangsa, Medan, 5 Agustus 2005.

Margono, Suyud. 2000, ADR (Alternative Dispute Resolution), & Arbitrase Proses

Pelembagaan dan Aspek Hukum, Jakarta: Ghalia Indonesia.

Rajagukguk, Erman, 2001, Arbitrase Dalam Putusan Pengadilan, Jakarta, Chandra Pratama.

Suparman, Eman. 2004. Pillihan Forum Arbitrase Dalam Sengketa Komersial Untuk Penegakan Keadilan. Jakarta: Tatanusa.

Sudiarto dan Zaeni Asyhadie. 2004. Mengenal Arbitrase Salah Satu Altenatif Penyelesaian Sengketa Bisnis. Jakarta: Tatanusa.

Usman,, Rachmadi. 2002. Hukum Arbitrase Nasional. Jakarta: Gramedia Widisarana Indonesia.

Widjaja, Gunawan. 2001. Seri Hukum Bisnis: Alternatif Penyelesaian Sengketa. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Widjaja, Gunawan dan Ahmad Yani. 2001. Seri Hukum Bisnis: Hukum Arbitrase. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...