Interaksi Sosial Warga Kompleks Perumahan (Studi Deskriptif di Perumahan Bukit Johor Mas, Kelurahan Pangkalan Masyhur Kecamatan Medan Johor).

95 

Teks penuh

(1)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

Interaksi Sosial Warga Kompleks Perumahan

(Studi Deskriptif di Perumahan Bukit Johor Mas, Kelurahan Pangkalan Masyhur Kecamatan Medan Johor)

SKRIPSI

Disusun dan Diajukan Untuk Melengkapi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Sosial Pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Universitas Sumatera Utara Oleh:

Ryan Parlindungan Nasution Nim : 060901016

DEPARTEMEN SOSIOLOGI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

ABSTRAK

Skripsi ini berawal dari sebuah pertanyaan “Bagaimana Interaksi Sosial Warga Komplek Perumahan Bukit Johor Mas?”. Komplek perumahan adalah suatu bangunan perumahan yang dikelilingi oleh tembok dan adanya tapal batas yaitu gerbang perumahan sebagai akses masuk dimana manusia tinggal didalamnya dan melangsungkan kehidupannya. Disamping itu, rumah juga merupakan tempat dimana berlangsung proses sosialisasi pada saat seorang individu diperkenalkan kepada norma dan adat kebiasaan yang berlaku di dalam suatu masyarakat, rumah juga tempat individu untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Salah satu kebutuhan manusia adalah rasa nyaman dan aman. Hubungan sosial yang terjalin diantara warga komplek perumahan Bukit Johor Mas berjalan sangat terbatas. Hal ini terjadi karena faktor pekerjaan, mereka kebanyakan bekerja dari pagi hinga sore hari. Nuansa kehidupan perkotaan juga turut mewarnai kehidupan warga komplek perumahan Bukit Johor Mas karena lokasi perumahan tersebut berada dekat dengan keramaian kota, kehidupan egois dan individualis masih sangat terasa. Misalnya sesama tetangga bisa tidak saling mengenal.

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan yang digunakan dalam melakukan penelitian ini adalah pendekatan deskriptif dimana penulis mencari fakta-fakta, fenomena tentang interaksi sosial warga komplek perumahan Bukit Johor Mas, keberadaan, karakteristik dan kegiatan yang dilakukan setiap hari serta interaksi yang terjadi antara warga komplek perumahan dengan masyarakat luar komplek, dan antar sesama warga komplek dalam kehidupan sehari-hari.Warga komplek perumahan Bukit Johor Mas adalah masyarakat yang hidup menetap di dalam komplek perumahan Bukit Johor Mas, oleh sebab itu penelitian dilakukan di Penelitian ini dilakukan di komplek perumahan Bukit Johor Mas Kelurahan Pangkalan Mansyur Kec. Medan Johor Kota Medan. Adapun alasan pemilihan lokasi di komplek perumahan bukit johor mas karena: 1). Bukit Johor Mas di Kelurahan pangkalan mansyur adalah tempat tinggal para warga komplek perumahan Bukit Johor Mas, 2). Lokasi tersebut mudah dijangkau oleh peneliti sehingga dapat menghemat tenaga, waktu dan biaya.

(3)

DAFTAR ISI

Abstraksi ... i

Kata Pengantar ... ii

Daftar Isi ... v

Daftar Tabel ... vii

BAB I : PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Perumusan Masalah ... 5

1.3. Tujuan Penelitian ... 6

1.4. Manfaat Penelitian ... 6

BAB II : KAJIAN PUSTAKA 2.1. Interaksi Sosial... 8

2.1.1. Pengertian Interaksi Sosial11 2.1.2. Aspek-Aspek Interaksi Sosial. ... 13

2.1.3. Macam-macam Interaksi Sosial ... 15

2.1.4. Faktor-faktor yang berpengaruh dalam Interaksi Sosial...16

2.1.5. Syarat-syarat Terjadinya Interaksi Sosial ………..18

2.1.6. Bentuk-bentuk Interaksi Sosial ………...22

2.2. Kelompok Sosial ... 24

2.3. Teori Mengenai Komplek Perumahan ………25

2.4. Definisi Konsep ………..29

BAB III : METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Jenis Penelitian ………..32

3.2. Lokasi Penelitian ………....34

3.3. Unit Analisis dan Informan ………34

(4)

3.5. Interpretasi Data ……….38

3.6. Jadwal Kegiatan ……….39

3.7. Keterbatasan Penelitian ………..40

BAB IV : DESKRIPSI LOKASI DAN INTERPRETASI DATA 4.1. Deskripsi Lokasi ……….41

4.1.1. Kelurahan Pangkalan Masyhur dan Gambaran Umum Penduduk………...41

4.1.2. Komposisi Penduduk Berdasarkan Etnis………...42

4.1.3.Komposisi Penduduk Berdasarkan Agama………..…..43

4.1.4.Komposisi Penduduk Berdasarkan TingkatPendidikan...44

4.1.5.Komposisi Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian …...45

4.2.Sarana dan Prasarana Sosial di Kelurahan Pangkalan Masyhur…47 4.2.1.Sarana Pendidikan ………...47

4.2.2. Sarana Kesehatan ………...48

4.2.3.Sarana Peribadatan ………...….49

4.3.Komplek Perumahan Bukit Johor Mas ………...50

4.4. Alasan Informan Bermukim di Komplek Perumahan Bukit Johor Mas ………..…...51

4.5.Kodisi Sosial Komplek Perumahan Bukit Johor Mas…………....54

4.6.Profil Informan………...55

4.7. Interaksi Sosial Warga Komplek Perumahan Bukit Johor Mas...59

4.8. Interaksi Sosial Warga Komplek Perumahan Bukit Johor Mas Dengan Masyarkat Sekitar Komplek Perumahan ………...63

(5)

BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan ... …79

5.2. Saran ... …83

DAFTAR PUSTAKA

(6)

ABSTRAK

Skripsi ini berawal dari sebuah pertanyaan “Bagaimana Interaksi Sosial Warga Komplek Perumahan Bukit Johor Mas?”. Komplek perumahan adalah suatu bangunan perumahan yang dikelilingi oleh tembok dan adanya tapal batas yaitu gerbang perumahan sebagai akses masuk dimana manusia tinggal didalamnya dan melangsungkan kehidupannya. Disamping itu, rumah juga merupakan tempat dimana berlangsung proses sosialisasi pada saat seorang individu diperkenalkan kepada norma dan adat kebiasaan yang berlaku di dalam suatu masyarakat, rumah juga tempat individu untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Salah satu kebutuhan manusia adalah rasa nyaman dan aman. Hubungan sosial yang terjalin diantara warga komplek perumahan Bukit Johor Mas berjalan sangat terbatas. Hal ini terjadi karena faktor pekerjaan, mereka kebanyakan bekerja dari pagi hinga sore hari. Nuansa kehidupan perkotaan juga turut mewarnai kehidupan warga komplek perumahan Bukit Johor Mas karena lokasi perumahan tersebut berada dekat dengan keramaian kota, kehidupan egois dan individualis masih sangat terasa. Misalnya sesama tetangga bisa tidak saling mengenal.

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan yang digunakan dalam melakukan penelitian ini adalah pendekatan deskriptif dimana penulis mencari fakta-fakta, fenomena tentang interaksi sosial warga komplek perumahan Bukit Johor Mas, keberadaan, karakteristik dan kegiatan yang dilakukan setiap hari serta interaksi yang terjadi antara warga komplek perumahan dengan masyarakat luar komplek, dan antar sesama warga komplek dalam kehidupan sehari-hari.Warga komplek perumahan Bukit Johor Mas adalah masyarakat yang hidup menetap di dalam komplek perumahan Bukit Johor Mas, oleh sebab itu penelitian dilakukan di Penelitian ini dilakukan di komplek perumahan Bukit Johor Mas Kelurahan Pangkalan Mansyur Kec. Medan Johor Kota Medan. Adapun alasan pemilihan lokasi di komplek perumahan bukit johor mas karena: 1). Bukit Johor Mas di Kelurahan pangkalan mansyur adalah tempat tinggal para warga komplek perumahan Bukit Johor Mas, 2). Lokasi tersebut mudah dijangkau oleh peneliti sehingga dapat menghemat tenaga, waktu dan biaya.

(7)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Manusia sebagai makhluk sosial dalam kehidupannya mempunyai kebutuhan–

kebutuhan, baik kebutuhan material maupun spiritual. Kebutuhan itu bersumber dari

dorongan-dorongan alamiah yang dimiliki setiap manusia semenjak dilahirkan.

Lingkungan hidup merupakan sarana di mana manusia berada sekaligus menyediakan

kemungkinan-kemungkinan untuk dapat mengembangkan kebutuhan-kebutuhan.

Oleh karena itu, antara manusia dengan lingkungan hidup terdapat hubungan

yang saling mempengaruhi. Hubungan-hubungan sosial yang terjadi secara dinamis

yang menyangkut hubungan antara individu dengan individu, individu dengan

kelompok, atau kelompok dengan kelompok dan berhubungan satu dengan yang lain

disebut dengan interaksi sosial (Gillin dan Gillin: 1954).

Interaksi sosial adalah syarat utama bagi terjadinya aktifitas sosial dan

hadirnya kenyataan sosial, kenyataan sosial didasarkan pada motivasi individu dan

tindakan-tindakan sosialnya. Ketika berinteraksi seorang individu atau kelompok

sosial sebenarnya tengah berusaha atau belajar bagaimana memahami tindakan sosial

seorang individu atau kelompok sosial lain, perilaku sosial adalah hal yang dilakukan

seorang individu atau kelompok sosial di dalam interaksi dan dalam situasi tertentu.

Interaksi sosial akan berjalan dengan tertib dan teratur dan anggota masyarakat bisa

berfungsi secara normal, yang diperlukan bukan hanya kemampuan untuk bertindak

(8)

secara objektif perilaku pribadinya dipandang dari sudut social masyarakatnya

(Narwoko, 2004:21).

Masyarakat kota memiliki ciri–ciri yang khas yaitu cara hidup yang

cenderung sekuler dengan berorientasi pada kehidupan duniawi yang dominan, jalan

fikiran manusianya sangat rasional dan menggunakan waktu yang sangat teliti dan

cermat. Adapun perilaku individual masyarakat kota sangat dominan dengan pola

interaksi yang didasarkan pada faktor kepentingan dari pada faktor pribadi atau

komunal (Soekanto, 2001:170-171).

Kehidupan kota memiliki daya tarik yang cukup besar bagi masyarakat di

daerah sekitarnya, karena masyarakat kota dianggap sebagai pusat perekonomian,

sehingga masyarakat desa menganggap mudah mencari uang dan mudah mencari

pekerjaan yang sesuai dengan pendidikannya. Selain itu, menurut Goede dalam

(Ilhami : 1990) daya tarik kota yang lain adalah banyaknya fasilitas berupa sarana dan

prasarana baik berupa fasilitas pendidikan, hiburan, transformasi, komunikasi

maupun tempat-tempat rekreasi.

Pertumbuhan kota yang cenderung cepat mengakibatkan kota tidak mampu

menyediakan sarana dan prasarana yang layak dan memadai bagi kehidupan

masyarakat, seperti sarana kesehatan, penerangan, terutama perumahan.

Ketidakmampuan pemerintah menyediakan sarana perumahan yang memadai ini

menimbulkan adanya pemukiman–pemukiman kumuh ( Slum Area ) dan juga

menimbulkan adanya gagasan untuk mendirikan rumah susun ( flat ) dan Komplek

Perumahan (Gated Community), yang di usahakan untuk meningkatkan derajat

(9)

Di Sumatera Utara ada lebih dari empat puluh komplek perumahan. Gaya

komplek ini bermacam-macam dari yang terdiri dari rumah saja sampai komplek

eksklusif yang termasuk fasilitas bersenam dan berbelanja. Setiap tahun komplek

perumahan terus berkembang. Komplek perumahan ini dibangun untuk menemuhi

permintaan pasar.

Perkembangan komplek perumahan kian pesat, hampir di seluruh sudut kota

Medan komplek perumahan mulai bermunculan. Kebutuhan masyarakat terhadap

tempat tinggal yang nyaman, tanpa mau repot memikirkan proses pembangunannya

dimanfaatkan pengembang sebagai ceruk usaha yang potensial. Berbagai jenis kluster

perumahan pun berdiri, baik di kota maupun kawasan pinggiran.

Komplek Perumahan adalah suatu bangunan perumahan yang dikelilingi oleh

tembok di mana manusia tinggal didalamnya dan melangsungkan kehidupannya. Di

samping itu, rumah juga merupakan tempat di mana berlangsung proses sosialisasi

pada saat seorang individu diperkenalkan kepada norma dan adat kebiasaan yang

berlaku di dalam suatu masyarakat, juga tempat individu untuk memenuhi

kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Maka tidak mengherankan apabila masalah perumahan menjadi

masalah yang sangat penting bagi setiap individu.

Komplek perumahan yang umumnya dihuni masyarakat dari beragam latar

belakang memaksa penghuninya untuk tetap menjaga jarak. Mereka tidak saling

kenal sebelumnya sehingga belum saling percaya. Mereka sukar bertamu atau

menerima tamu kecuali untuk keperluan tertentu. Desain perumahan yang minim

membuat hubungan yang terbangun antar pemilik rumah hanya hubungan lahiriah

(10)

konsekuensi logis dari persinggungan yang tidak disengaja. Sedangkan tradisi tegur

sapa, senda gurau dan kerjasama tidak terbentuk karena mereka merasa mandiri

secara ekonomi. Pandangan seperti ini sering dianggap terjadi di komplek

perumahan.

Fenomena tinggal di komplek perumahan juga memunculkan kekhawatiran

terkait pergaulan antar penghuninya. Masyarakat yang tinggal di komplek perumahan

sering kali terbatasi ruang interaksi sosialnya karena desain perumahan kurang

mendukung. Sebagai barang dagangan, komplek perumahan dibangun dengan

pertimbangan efektif dan efisien. Sebab efisiensi lebih menguntungkan pengembang.

Selain itu, selera masyarakat modern pada sesuatu yang instan, praktis, dan efisien

membuat pengembang menyediakan komplek perumahan yang didesain untuk

memenuhi kebutuhan dasar tempat tinggal.

Sikap permisif bisa saja akan terbangun di komplek perumahan, tentunya ini

akan punya dampak besar terhadap rapuhnya struktur sosial masyarakat. Kerekatan

sosial yang sejak ratusan tahun menjadi ciri khas bangsa Indonesia akan terkikis oleh

proses sosial seperti ini. Masing-masing pemilik rumah tenggelam dalam keasyikan

mengurus keperluan pribadi tanpa peduli urusan warga lain.

Pemukiman berpagar dan kota di dalam kota (yang diurus oleh developer)

dapat memisahkan penduduk setempat dengan para pendatang. Hal ini dikhawatirkan

akan menimbulkan kesenjangan dan kerawanan sosial. Memang mengejutkan bahwa

masyarakat kota (yang bukan miskin) menyenangi kalau pemukimannya berpagar dan

di tembok yang keamanannya dijaga oleh satpam. Developer sangat

(11)

daerah tidak mampu menyediakan kebutuhan mereka akan keamanan, kenyamanan

dan penyediaan sarana pemukiman yang baik

Realita yang terjadi di kecamatan Medan Johor telah berkembang fenomena

klaster-klaster perumahan (terutama elite) yang cenderung memisahkan diri dari

lingkungan sekitarnya. Salah satunya adalah perumahan Bukit Johor Mas.

Keterpisahan tersebut bukan sekedar karena hak pemilikan properti, lebih-lebih juga

didorong oleh intensi para developer yang melihat privacy sebagai sebuah nilai jual

yang mahal, khususnya bagi kalangan elit (orang kaya). Begitu kuatnya makna nilai

privacy ini sampai-sampai developer mengembangkan konsep "kota di dalam

kota". Hal ini di satu sisi memprihatinkan, Karena dapat terjadi separasi kelompok

masyarakat secara alamiah lewat bantuan developer yang menangkap dengan cerdas

komoditas elitis itu untuk dijual demi keuntungan ekonomis.

Berangkat dari latar belakang seperti yang telah diuraikan di atas maka

diangkat sebuah skripsi dengan judul "Interaksi Sosial Warga Komplek Perumahan

Bukit Johor Mas, (Studi Deskriptif di Komplek Perumahan Bukit Johor Mas,

Kecamatan Medan Johor).

1.2. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, maka permasalahan yang

dijadikan sebagai obyek penelitian interaksi sosial warga komplek perumahan Bukit

Johor Mas dan masyarakat sekitar komplek perumahan Bukit Johor Mas. Maka

(12)

Bagaimana interaksi sosial antar warga komplek perumahan Bukit Johor Mas

dan warga komplek perumahan Bukit Johor Mas dengan masyarakat sekitar komplek

perumahan Bukit Johor Mas?

1.3. Tujuan Penelitian

Mengacu kepada masalah yang telah dirumuskan, maka penelitian ini

bertujuan sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui interaksi sosial antar warga komplek perumahan Bukit

Johor Mas dan warga komplek perumahan dengan masyarakat sekitar

komplek perumahan Bukit Johor Mas

2. Mengungkapkan mengenai interaksi sosial antar warga kompleks

perumahan Bukit Johor Mas dan warga Komplek perumahan Bukit Johor

Mas dengan masyarakat sekitar komplek perumahan Bukit Johor Mas

dengan didasarkan pada pendekatan sosiologis.

1.4. Manfaat Penelitian

Signifikansi penelitian ini adalah : (1) pentingnya pemahaman tentang

perkembangan kota dan perkembangan kehidupan masyarakat yang menyertainya, (2)

memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang sisi lain kehidupan perkotaan

kepada para pembaca dan pihak-pihak yang berkepentingan dalam mengambil

kebijakan pembangunan dan penataan kota. Maka, manfaat dari penelitian ini adalah:

1. Secara teoritis manfaat yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:

a. Memperoleh gambaran yang jelas mengenai interaksi sosial warga komplek

(13)

b. Memberikan penjelasan tentang kehidupan warga komplek perumahan Bukit

Johor Mas.

c. Hasil penelitian ini diharapkan menambah khasanah ilmu pengetahuan sosial

khususnya Sosiologi Perkotaan.

d. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi refleksi, sehingga dapat dibaca oleh

siapa saja yang berminat untuk mengetahui interaksi sosial warga komplek

perumahan dan warga komplek perumahan dengan masyarakat sekitar.

2. Manfaat praktis :

a. Untuk lebih memahami permasalahan-permasalahan sosiologis yang muncul di

tengah masyarakat.

b. Sebagai bahan masukan dalam pengambilan kebijakan oleh pemerintah dalam

penanganan permasalahan yang timbul sebagai dampak dari perkembangan kota

terutama dalam pembanguan kompleks perumahan.

c. untuk meningkatkan dan mengembangkan kemampuan berpikir penulis melalui

karya ilmiah sekaligus penerapan ilmu pengetahuan yang telah diperoleh yang

(14)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1. Interaksi Sosial

Dalam kehidupan bersama, antar individu satu dengan individu lainnya terjadi

hubungan dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya. Melalui hubungan itu

individu ingin menyampaikan maksud, tujuan, dan keinginannya masing-masing.

Untuk mencapai keinginan tersebut biasanya diwujudkan dengan tindakan melalui

hubungan timbal balik, hubungan inilah yang disebut dengan interaksi. Menurut

Gillin & Gillin (1954:489) interaksi sosial merupakan hubungan sosial yang dinamis,

menyangkut hubungan antara individu, antara kelompok maupun antara individu

dengan kelompok.

Interaksi terjadi apabila seorang individu melakukan tindakan, sehingga

menimbulkan reaksi dari individu-individu yang lain, karena itu interaksi terjadi

dalam suatu kehidupan sosial. Interaksi pada dasarnya merupakan siklus

perkembangan dari struktur sosial yang merupakan aspek dinamis dalam kehidupan

sosial. Perkembangan inilah yang merupakan dinamika yang tumbuh dari pola-pola

perilaku individu yang berbeda menurut situasi dan kepentingannya masing-masing,

yang diwujudkannya dalam proses hubungan sosial. Hubungan-hubungan sosial itu

pada awalnya merupakan proses penyesuaian nilai-nilai sosial dalam kehidupan

sosial. Kemudian meningkat menjadi semacam pergaulan yang tidak hanya sekedar

pertemuan secara fisik, melainkan merupakan pergaulan yang ditandai adanya saling

(15)

hubungan sosial tersebut. Sudah menjadi hukum alam dalam kehidupan individu

bahwa keberadaan dirinya adalah sebagai makhluk individu sekaligus sosial.

Kebutuhan dasar individu untuk melangsungkan kehidupannya membutuhkan

makanan, minuman untuk menjaga kesetabilan suhu tubuhnya dan keseimbangan

organ tubuh yang lain, (kebutuhan biologi), individu membutuhkan juga perasaan

tenang dari ketakutan, keterpencilan, kegelisahan, dan berbagai kebutuhan kejiwaan

lainnya. Kebutuhan individu yang mendasar juga di perlukan ialah kebutuhan untuk

berhubungan dengan individu lain, kebutuhan untuk melanjutkan keturunan,

kebutuhan untuk membuat pertahanan diri agar terhindar dari musuh, kebutuhan

untuk belajar kebudayaan dari lingkungan agar dapat diterima atau diakui

eksistensinya oleh warga masyarakat setempat. Di dalam kehidupan bermasyarakat,

setiap individu terikat dalam struktur-struktur sosial yang ada dalam masyarakatnya.

Masing-masing struktur sosial mengatur kedudukan masing-masing individu dalam

kaitannya dengan kedudukan-kedudukan dari individu yang lain yang secara

keseluruhannya memperhatikan corak corak tertentu yang berada dari struktur sosial

yang lain. Adanya kedudukan-kedudukan yang diatur oleh struktur sosial tersebut

menuntut dan menghasilkan adanya peranan-peranan yang sesuai dengan

kedudukan-kedudukan yang dimiliki masing-masing individu.

Kebutuhan individu akan individu lain mendorong dirinya untuk belajar

pola-pola, rencana-rencana, dan strategi untuk bergaul dengan individu yang lain. Individu

pun mulai belajar memainkan peranan sesuai dengan status yang diakui oleh

lingkungan sosialnya. Status dapat dibedakan menjadi dua bagian, yaitu status yang

(16)

keras atau diusahakan (achieved status). Ascribed status atau status otomatis adalah

status yang diterima individu secara otomatis sejak individu itu dilahirkan, hal ini

biasanya terjadi karena kedudukan orang tuanya sebagai orang yang terpandang atau

bangsawan. Achieved status atau status disengaja merupakan status yang dicapai

individu melalui usaha-usaha yang disengaja, hal ini tampak dalam usaha pencapaian

cita-cita atau profesi sebagai guru, dokter dan banyak lainnya (Sunarto: 2000).

Interaksi sosial mempunyai korelasi atau hubungan dengan status yaitu bahwa

status memberi bentuk atau pola interaksi. Status dikonsepsikan sebagai posisi

individu atau kelompok individu sehubungan dengan kelompok atau individu lainnya,

status merekomendasikan perbedaan martabat, yang merupakan pengakuan

interpersonal yang selalu meliputi paling sedikit satu individu, yaitu siapa yang

menuntut dan individu lainnya yaitu siapa yang menghormati tuntutan itu. Gejala ini

terlihat misalnya pada hubungan antara atasan dengan bawahannya atau pada

hubungan antara orang tua dengan anak-anak atau yang lebih muda, antara tuan tanah

dengan penggarap, antara orang kaya dengan orang miskin. Dalam hal ini status

memberi bentuk atau pola tertentu dalam interksi sosial. Sebagai mahluk individu

manusia dilahirkan sendiri dan memiliki ciriciri yang berbeda antara yang satu

dengan yang lain.

Perbedaan ini merupakan keunikan dari manusia tersebut. Sebagai mahluk

sosial manusia membutuhkan individu lain untuk memenuhi segala kebutuhannya,

dari sinilah terbentuk kelompok-kelompok yaitu suatu kehidupan bersama individu

dalam suatu ikatan, di mana dalam suatu ikatan tersebut terdapat interaksi sosial dan

(17)

proses sosial, interaksi sosial merupakan sarana dalam melakukan hubungan dengan

lingkungan sekitarnya.

2.1.1. Pengertian Interaksi Sosial

Sebagai makhluk individu dan sosial, individu membentuk interaksi sosial

(hubungan sosial) dengan individu lain. Ciri-ciri Hubungan sosial pada masyarakat

khususnya masyarakat kota memiliki hubungan sosial yang longgar, hal ini karena

kota merupakan pemukiman yang relatif besar, padat dan permanen, dihuni oleh

orang-orang yang heterogen keduduka n sosialnya, selain hubungan sosial yang

longgar ciri-ciri hubungan sosial yang lain adalah solidaritas organik (rasa bersatu

atas dasar kontrak atau perjanjian), pembagian kerja komplek, dan sanksi sosial

berdasarkan hukum.

Dalam hal ini interaksi menurut pendapat Young (Gunawan, 2000:31) adalah

kontak timbal balik antara dua orang atau lebih. Sedangkan menurut Psikologi

Tingkahlaku (Behavioristic Psychology), interaksi sosial berisikan saling

perangsangan dan pereaksian antara kedua belah pihak individu.

Dengan adanya ciri-ciri tersebut, hubungan sosial masyarakat juga tidak

terlepas dari corak hubungan kerjasama, hubungan persaingan, dan corak hubungan

konflik. Ketiga corak hubungan itu akan mewarnai kehidupan masyarakat kota yang

cenderung tidak saling mengenal satu dengan yang lain karena

kepentingan-kepentingan yang berbeda. Individu hanya mempunyai hubungan sosial dengan

individu-individu tertentu karena individu tersebut mempunyai kepentingan yang

sama. Dalam kehidupan sosial yang terkecil, seorang individu terjerat dalam

(18)

berada pada lingkungan sosial tersebut. Pada tingkat berikutnya, hubungan sosial

diperluas menjadi hubungan bertetangga yang tinggal berdekatan dengan rumahnya.

Hubungan bertetangga di kota besar tidak seintim hubungan sosial pada masyarakat

desa yang cenderung saling mengenal satu dengan yang lain, serta mempunyai rasa

bersatu yang biasanya dikuatkan dengan sentimen-sentimen kelompok. Dalam hal ini,

hubungan sosial bertetangga diartikan sebagai kesatuan tempat tinggal yang

menempati suatu wilayah tertentu yang batas-batasnya ditentukan luasnya jaringan

sosial di lingkungan tempat tinggal yang berdekatan yang dalam hal ini ialah

komplek perumahan. Pola-pola hubungan (interaksi) sosial yang teratur dapat

terbentuk apabila ada tata kelakuan atau perilaku dan hubungan yang sesuai dengan

situasi dan kondisi masyarakat. Sistem itu merupakan pranata sosial yang didalamnya

terdapat nilai-nilai dan norma-norma yang dipedomani serta ada lembaga sosial yang

mengurus pemenuhan kebutuhan masyarakat sehingga interaksi sosial dalam

masyarakat dapat berjalan secara teratur.

Dalam hal ini interaksi menurut Susanto (1983 : 32) ialah akibat dari adanya

proses komunikasi, yaitu saling mempengaruhi antara individu satu dengan individu

yang lain di dalam masyarakat yang mengakibatkan terjadinya perubahan dalam

masyarakat ataupun proses sosial. Bonner (Gerungan, 1988 : 57) menyatakan bahwa

interaksi sosial adalah suatu hubungan antara dua atau lebih individu yang saling

mempengaruhi, mengubah atau memperbaiki kelakuan antar individu yang satu

dengan individu yang lainnya. Bintarto (1983 : 61) berpendapat bahwa, interaksi

sosial merupakan hubungan sosial yang dinamis, yang menyangkut hubungan antara

(19)

dengan kelompok yang lain. Menurut Bales dan Homans dalam Santoso (2004:10),

pada hakekatnya manusia memiliki sifat yang dapat digolongkan ke dalam :

a. Manusia sebagai makhluk individual,

b. Manusia sebagai makhluk sosial, dan

c. Manusia sebagai makhluk berkebutuhan.

Menurut Kimbal Young dan Raymond dalam Soekanto (1970:192)

mengatakan bahwa interaksi sosial adalah kunci dari semua kehidupan sosial, oleh

karena itu tanpa interaksi sosial tak akan mungkin ada kehidupan bersama.

Bertemunya orang perorang secara badaniah belaka tidak akan menghasilkan

pergaulan hidup dalam suatu kelompok sosial. Pergaulan hidup semacam itu baru

akan terjadi apabila orang-orang, perorangan atau kelompok-kelompok manusia

bekerjasama, saling berbicara dan seterusnya untuk mencapai suatu tujuan bersama,

mengadakan persaingan, pertikaian dan lain sebagainya.

Selanjutnya dalam penelitian skripsi ini yang dimaksud dengan interaksi

sosial adalah suatu proses hubungan sosial yang dinamis baik dilakukan oleh

perorangan maupun kelompok manusia sehingga terjadi hubungan yang timbal balik

antara individu atau kelompok yang satu dengan yang lain agar terjadi perubahan di

dalam lingkungan masyarakat.

2.1.2 Aspek-Aspek Interaksi Sosial

Setiap individu yang berhubungan dengan individu yang lain, baik hubungan

sosial antara individu dengan individu, individu dengan kelompok atau kelompok

dengan kelompok, hubungan sosial itu memiliki aspek-aspek sebagai berikut :

(20)

Setiap interaksi sudah barang tentu terjadi karena adanya hubungan antara

individu dengan individu maupun antara individu dengan kelompok, serta hubungan

antara kelompok dengan kelompok. hubungan antara individu dengan individu

ditandai antara lain dengan tegur sapa, berjabat tangan, dan bertengakar. Contoh

seorang warga komplek perumahan Bukit Johor Mas yang bertegur sapa dengan

warga lainnya, dua orang warga komplek perumahan yang saling berjabat tangan.

Hubungan timbal-balik antara individu dengan kelompok, misalnya seorang Lurah

yang sedang berpidato di depan warganya, ketua perkumpulan pengajian yang sedang

ceramah. Hubungan timbal balik antara kelompok dengan kelompok, misalnya rapat

antar RT, pertandingan untuk acara 17 Agustus antar RT.

b. Ada individu

Setiap interaksi sosial menuntut tampilnya individu-individu yang

melaksanakan hubungan. Hubungan sosial itu terjadi karena adanya peran serta dari

individu satu dan individu lain, baik secara person atau kelompok.

c. Ada tujuan

Setiap interaksi sosial memiliki tujuan tertentu seperti mempengaruhi individu

lain. Misalnya,seorang ibu rumah tangga yang sedang berbelanja untuk memenuhi

kebutuhan hidupnya di warung atau toko dan menawar barang yang akan dibelinya,

hal itu adalah salah satu fungsi untuk mempengaruhi individu lain agar mau menuruti

apa yang dikehendaki oleh ibu pembeli tersebut.

(21)

Interaksi sosial yang ada hubungan dengan struktur dan fungsi kelompok ini

terjadi karena individu dalam hidupnya tidak terpisah dari kelompok. Di samping itu,

tiap-tiap individu memiliki fungsi dalam kelompoknya. Individu di dalam

kehidupannya tidak terlepas dari individu yang lain, oleh karena itu individu

dikatakan sebagai makhluk sosial yang memiliki fungsi dalam kelompoknya. Hal lain

yang dapat dilihat, seorang Lurah yang memiliki fungsi untuk membentuk anggota

masyarakatnya menjadi masyarakat yang damai, tertib aman dan sejahtera, dan untuk

mewujudkan hal tersebut di butuhkan pula keikutsertaan dari setiap anggota

masyarakatnya. Jadi dalam hal ini setiap individu ada hubungannya dengan struktur

dan fungsi sosial (Santoso, 2004 : 11)

Dengan demikian konsep interaksi sosial yang digunakan di dalam tulisan ini

adalah konsep dari Soerjono Soekanto bahwa interaksi sosial merupakan sarana

dalam melakukan hubungan dengan lingkungan sekitarnya. Karena interaksi

merupakan kunci dari semua kehidupan sosial itu sendiri, tanpa interaksi sosial tidak

mungkin ada kehidupan bersama. Dan Bonner (Gerungan, 1988 : 57) menyatakan

bahwa interaksi sosial adalah suatu hubungan antara dua atau lebih individu yang

saling mempengaruhi, mengubah atau memperbaiki kelakuan antar individu yang

satu dengan individu yang lainnya.

2.1.3. Macam-macam Interaksi Sosial

Upaya manusia dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya dilaksanakan

melalui proses sosial yang disebut interaksi sosial, yaitu hubungan timbal balik antara

(22)

kelompok dalam masyarakat. Dalam kenyataan sehari-hari terdapat tiga macam

interaksi sosial (Rahman D dkk, 2000: 21-22).

a. Interaksi antara individu dan individu

Pada interaksi ini individu yang satu memberi pengaruh, rangsangan, atau

stimulus kepada individu yang lainnya. Sedangkan individu yang terkena pengaruh

akan memberikan reaksi, tanggapan atau respon. Dalam interaksi antara individu dan

individu dapat berwujud dalam bentuk berjabat tangan, saling menegur,

bercakap-cakap atau mungkin bertengkar.

b. Interaksi antara individu dan kelompok

Interaksi antara individu dan kelompok secara konkrit dapat dilihat pada

seorang warga komplek perumahan dengan kelompok pengajian di lingkungan

Kelurahan Pangkalan Masyhur. Selain itu dapat dilihat seorang orator sedang

berpidato di depan orang banyak. Bentuk interaksi ini menunjukkan bahwa

kepentingan seorang individu berhadapan dengan kepentingan kelompok.

c. Interaksi antara kelompok dan kelompok

Bentuk interaksi antara kelompok dan kelompok menunjukkan bahwa

kepentingan individu dalam kelompok merupakan satu kesatuan, berhubungan

dengan kepentingan individu dalam kelompok yang lain. Dalam interaksi ini setiap

tindakan individu merupakan bagian dari kepentingan kelompok misalnya kelompok

pengajian komplek perumahan Bukit Johor Mas dengan kelompok pengajian .

2.1.4. Faktor-faktor yang Berpengaruh dalam Interaksi Sosial

Dalam interaksi sosial terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi interaksi

(23)

(Santoso, 2004:12). Faktor-faktor yang mempengaruhi interaksi sosial sebagai

berikut:

a. Situasi sosial

b. Kekuasaan norma kelompok

c. Tujuan pribadi masing-masing individu

d. Interaksi sesuai dengan kedudukan dan kondisi setiap individu

e. Penafsiran situasi

Dari faktor-faktor di atas dapat dijelaskan sebagai berikut:

a. Situasi sosial, memberi bentuk tingkah laku terhadap individu yang berada

dalam situasi tersebut. Misalnya, apabila berinteraksi dengan individu lainnya yang

sedang dalam keadaan berduka, pola interaksi yang dilakukan apabila dalam keadaan

yang riang atau gembira, dalam hal ini tampak pada tingkah laku individu yang harus

dapat menyesuaikan diri terhadap situasi yang dihadapi.

b. Kekuasaan norma-norma kelompok, sangat berpengaruh terhadap

terjadinya interaksi sosial antar individu. Misalnya, individu yang menaati

norma-norma yang ada dalam setiap berinteraksi individu tersebut tak akan pernah berbuat

suatu kekacauan, berbeda dengan individu yang tidak menaati norma-norma yang

berlaku, individu itu pasti akan menimbulkan kekacauan dalam kehidupan sosialnya,

dan kekuasaan norma itu berlaku untuk semua individu dalam kehidupan sosialnya.

c. Ada tujuan kepribadian yang dimiliki masing-masing individu sehingga

berpengaruh terhadap pelakunya. Misalnya, dalam setiap interaksi individu pasti

(24)

Bukit Johor Mas berinteraksi dengan seorang pedagang, ia memiliki tujuan untuk

memenuhi kebutuhan hidupnya.

d. Setiap individu berinteraksi sesuai dengan kedudukan dan kondisinya yang

bersifat sementara. Pada dasarnya status atau kedudukan yang dimiliki oleh setiap

individu adalah bersifat sementara, misalnya seorang warga yang biasa berinteraksi

dengan ketua RT, maka dalam hubungan itu terlihat adanya jarak antara seorang yang

tidak memiliki kedudukan yang menghormati orang yang memiliki kedudukan dalam

kelompok sosialnya.

e. Ada penafsiran situasi, dimana setiap situasi mengandung arti bagi setiap

individu sehingga mempengaruhi individu untuk melihat dan menafsirkan situasi

tersebut. Misalnya, apabila ada teman yang terlihat murung atau suntuk, individu lain

harus bisa membaca situasi yang sedang dihadapainya, dan tidak seharusnya individu

lain tersebut terlihat bahagia dan cerita dihadapannya. Bagaimanapun individu harus

bisa menyesuaikan diri dengan keadaan dengan keadaan yang sedang dihadapi dan

berusaha untuk membantu menfsirkan situasi yang tak diharapkan menjadi situasi

yang diharapkan.

2.1.5. Syarat-syarat terjadinya interaksi sosial

Interaksi dapat berlangsung apabila individu berhubungan dengan individu

yang lain dan melibatkan hubungan sosial. Dalam interaksi sosial harus ada dua

syarat yang harus dipenuhi, yaitu:

a. Kontak sosial

(25)

Adapun masing-masing syarat interaksi sosial tersebut penjelasannya adalah

sebagai berikut:

a. kontak sosial

Kata kontak terdapat dua buah kata yang berasal dari bahasa Latin yaitu Con

atau Cum yang artinya bersama-sama dan tango yang artinya menyentuh (Soekanto,

2001 : 64). Sehingga kontak dapat diartikan menyentuh bersama-sama. Namun

sebagai gejala sosial, kontak dapat dilakukan tanpa harus dengan menyentuhnya,

seperti berbicara dengan orang lain. Lebih lanjut Soekanto menyatakan bahwa kontak

sosial dapat berlangsung dalam tiga bentuk, yaitu :

1. Antara individu dengan individu, hubungan timbal balik antara individu dan

individu ditandai antara lain dengan tegur sapa, berjabat tangan, dan

bertengkar. Contohnya adalah dua orang sahabat yang saling berjabat tangan.

2. Antara individu dengan kelompok, contoh hubungan timbal balik antara

individu dengan kelompok adalah seorang Lurah yang sedang berpidato di

depan warga masyarakatnya, seorang kyai yang sedang berceramah di depan

jemaahnya.

3. Antara kelompok satu dengan kelompok yang lain, contoh hubungan timbal

balik antara kelompok dengan kelompok adalah pertandingan sepak bola antar

RT, rapat antar RT.

b. Komunikasi

Komunikasi adalah setiap proses pembagian informasi, gagasan, atau

perasaan yang tidak saja dilakukan secara lisan dan tertulis melainkan melalui bahasa

(26)

makna (Walstrom, 1992:8). Proses pembagian ini yang dinamakan interaksi sosial di

lingkungan masyarakat sebagai suatu proses sosial.

Oleh Soekanto pengertian komunikasi difokuskan pada tafsiran seseorang

terhadap kelakuan orang baik berupa pembicaraan, gerak-gerik, badan maupun sikap

guna menyampaikan pesan yang diinginkannya. Orang tersebut kemudian memberi

reaksi terhadap perasaan orang lain tersebut. Adapun yang mendorong terjadinya

interaksi sosial menurut Gerungan (1988:58) berdasarkan pada beberapa faktor, yaitu:

1) Faktor peniruan atau imitasi.

2) Faktor sugesti

3) Faktor identifikasi

4) Faktor simpati

Dari ke empat macam faktor ini dapat dijelaskan sebagai berikut:

1) Faktor peniruan atau imitasi

Faktor imitasi mempunyai peranan yang sangat penting dalam proses interaksi

sosial. Salah satu segi positifnya adalah bahwa interaksi dapat mendorong seseorang

untuk mematuhi kaidah-kaidah dan nilai-nilai yang berlaku. Namun demikian, imitasi

mungkin pula mengakibatkan terjadinya hal-hal yang negatif dimana misalnya yang

ditiru adalah tindakan-tindakan yang menyimpang kecuali dari pada itu imitasi juga

dapat melemahkan atau bahkan mematikan pengembangan daya kreasi seseorang

(Soekanto, 2002:63). Dalam penelitian ini selanjutnya yang dimaksud dengan imitasi

adalah tindakan seseorang untuk meniru orang lain, baik dalam sikap maupun

(27)

a) Imitasi positif, misalnya sikap hemat, berpakaian rapi, dan menghargai

waktu.

b) Imitasi negatif, misalnya mabuk-mabukan, sikap tidak peduli dan

individualis.

2) Faktor Sugesti

Sugesti dalam ilmu jiwa sosial dapat dirumuskan sebagai suatu proses dimana

seorang individu menerima suatu cara pengelihatan atau pedoman tingkah laku dari

orang lain tanpa kritik terlebih dahulu (Gerungan, 1988:6). Sugesti merupakan

tindakan seseorang untuk memberi pandangan atau sikap yang kemudian diterima.

Oleh pihak lain, sugesti mungkin terjadi jika orang yang memberi pandangan adalah

orang yang berwibawa atau bersikap otoriter, orang tersebut merupakan bagian dari

kelompok yang bersangkutan. Contoh dalam menyelesaikan masalah sosial,

kebersihan atau gotong royong.

3) Faktor identifikasi

Identifikasi merupakan suatu kecendurungan-kecendurungan atau

keinginan-keinginan dalam diri seseorang untuk menjadi identik (sama) dengan orang lain

(Soekanto, 2002:63). Menurut kamus istilah sosiologi identifikasi adalah menerima

kepercayaan dan nilai orang lain atau kelompok lain sebagai kepercayaan dan nilai

sendiri (Soekanto, 1993:198). Timbulnya identifikasi sebagai dasar interaksi sosial

menurut Freud, bahwa setiap individu mempunyai nafsu untuk menempatkan diri

pada situasi tertentu ketika individu itu berada bersama-sama individu lain tetapi

tidak semua individu dapat menempatkan diri sehingga sukar untuk berperilaku dan

(28)

ingin mempelajari tingkah laku maupun perilaku individu lain meskipun tanpa

disadari sebelumnya dan baru disadari apabila proses ini telah membawa hasil.

4) Faktor Simpati

Simpati adalah perasaan yang terdapat dalam diri seseorang individu yang

tertarik dengan dengan individu lain. Prosesnya berdasarkan perasaan semata-mata

tidak melalui penilaian yang berdasarkan resiko, dengan kata lain simpati adalah

suatu proses dimana seseorang merasa tertarik pada pihak lain (Soekanto, 2001:70).

Faktor-faktor inilah yang mendorong dalam proses interaksi sosial yang terjadi pada

tiap kelompok pergaulan hidup. Dalam penelitian ini selanjutnya yang dimaksud

dengan simpati adalah suatu proses dimana seseorang merasa tertarik untuk

memahami orang lain dan berkeinginan untuk bekerja sama dengannya, misalkan ada

seorang tetangga yang sedang membenahi rumahnya lalu ada bapak-bapak yang

melihatnya merasa tertarik untuk membantu.

2.1.6. Bentuk-bentuk interaksi sosial

Interaksi sosial adalah bentuk utama dari proses sosial, yaitu pengaruh

timbal-balik antara berbagai bidang kehidupan bersama. Menurut Soekanto (2001:76-107)

interaksi sosial merupakan bentuk yang tampak apabila orang saling mengadakan

hubungan, baik secara individu maupun secara kelompok. Adapun bentuk-bentuk

interaksi sosial dapat berupa kerja sama (cooperation), persaingan (competition),

pertentangan atau pertikaian (conflict) dan juga akomodasi (accomodation). Adapun

lebih jelasnya masing-masing hal tersebut dapat diterangkan sebagai berikut:

Kerja sama (cooperation), kerjasama dimaksudkan sebagai suatu usaha bersama

(29)

Kerja sama timbul karena adanya orientasi para individu terhadap kelompoknya

(yaitu in-group-nya) dan kelompok lainnya (yang merupakan outgroup- nya).

Persaingan (competition), adalah suatu perjuangan dari pihak-pihak tertentu untuk

mencapai suatu tujuan dengan cara menyingkirkan pihak lawan secara damai atau

tanpa mempergunakan ancaman atau kekerasan.

Pertentangan (conflict), merupakan salah satu bentuk dari interaksi dimana

penafsiran makna perilaku tidak sesuai dengan maksud pihak pertama (yang

melakukan aksi), sehingga menimbulkan ketidakserasian diantara

kepentingankepentingan orang lain karena tidak terjadi keserasian ini, maka untuk

dapat mencapai tujuan yang dikehendaki dilakukan dengan cara mengenyahkan atau

menyingkirkan pihak lain yang menjadi penghalang (Soekanto, 2001:76-107).

Akomodasi (accomodation), istilah akomodasi dipergunakan dalam dua arti yaitu

untuk menunjuk pada suatu keadaan dan untuk menunjuk pada suatu proses (Young

dan Raymond, 1959:146). Akomodasi yang menunjuk pada suatu keadaan, berarti

adanya suatu keseimbangan (equilibrium) dalam interaksi antara orang perorangan

atau kelompok-kelompok manusia dalam kaitannya dengan norma-norma sosial dan

nilai-nilai sosial yang berlaku dalam masyarakat. Sebagai suatu proses, akomodasi

menunjuk pada usaha-usaha manusia untuk meredakan suatu pertentangan yaitu

usaha-usaha untuk mencapai kesetabilan. Akomodasi sebenarnya merupakan suatu

cara untuk menyelesaikan pertentangan tanpa menghancurkan pihak lawan sehingga

lawan tidak kehilangan kepribadiannya (Soemardjan, 2002:75-76). Pelbagai macam

bentuk interaksi ini sering terjadi dalam lingkungan masyarakat, sehingga di dalam

(30)

aktivitas sosial itu terjadi karena adanya aktivitas dari individu dalam hubungannya

dengan individu yang lain.

2.2. Kelompok Sosial

Kelompok sosial sangat penting karena sebagian besar kegiatan manusia

berlangsung di dalamnya. Tanpa kita sadari sejak lahir hingga ajal kita menjadi

anggota berbagai jenis kelompok. Dengan menggunakan tiga kriteria, yakni

kesadaran jenis, hubungan satu sama lain, ikatan organisasi. Bierstedt dalam

(Sunarto: 2000) membedakan empat jenis kelompok: kelompok asosiasi, kelompok

sosial, kelompok kemasyarakatan, dan kelompok statistik.

Menurut Merton dalam (Ibid: hal 89) kelompok merupakan sekelompok orang

yang saling berinteraksi sesuai dengan pola-pola yang telah mapan sedangkan

kolektifitas merupakan orang-orang yang mempunyai rasa solidaritas karena berbagi

nilai bersama dan yang telah memiliki rasa kewajiban moral umtuk menjalankan

harapan peranan. Konsep lain yang diajukan Merton ialah konsep kategori sosial.

Merton mengamati bahwa kadang-kadang perilaku seseorang mengacu pada

kelompok lain yang dinamakan kelompok acuan. Di kala seseorang berubah

keanggotaan kelompok, ia sebelumnya dapat menjalani perubahan orientasi, yaitu

suatu proses yang oleh Merton diberi nama sosialisasi antisiaporis.

Durkheim membedakan antara kelompok yang didasarkan pada solidairtas

mekanis, dan kelompok yang didasarkan pada solidaritas organis. Solidaritas mekanis

merupakan cirri yang menandai masyarakat yang sederhana, sedangkan solidaritas

(31)

mengenal pembagian kerja yang rici dan diperastukan oleh kesalingtergantungan

antar bagian(Ibid: hal 90).

Toennies mengadakan perbedaan antara dua jenis kelompok: Gemeinschaft

dan Gesellschaft. Gemeinschaft merupakan kehidupan bersama yang intim, pribadi

dan eksklusif; suatu keterikatan yang dibawa sejak lahir. Gesellschaft merupakan

kehidupan publik, yang terdiri atas orang-orang yang kebetulan hadir bersama tetapi

masing-masing tetap mandiri dan bersifat sementara dan semu(Ibid: hal 91).

Cooley memperkenalkan konsep kelompok primer. Sejumlah ahli sosiologi

menciptakan konsep kelompok sekunder, yakni suatu konsep yang tidak kita jumpai

dalam karya Cooley. Suatu kalidifikasi lain yaitu suatu pembedaan antara kelompok

luar dan kelompok dalam, di dasarkan pada pemikiran Sumner. Sumner

mengemukakan bahwa di kalangan anggota kelompok dalam dijumpai persahabatan,

kerjasama, keteraturan, dan kedamaian sedangkan hubungan antara kelompok dalam

dengan kelompok luar cenderung ditandai kebencian, permusuhan, perang, dan

perampokan(Ibid: hal 91)

2.3. Kompleks Perumahan

Ada persetujuan umum bahwa teori mengenai kompleks perumahan belum

dikembangkan secara lengkap (Grant dan Mittelsteadt, 2004; Rotiman, 2005).

Meskipun begitu beberapa penulis sudah mulai menambah ke penciptaan pembahasan

teori. Blandy (2006) mengenali tiga pembahasan dominan yang digunakan untuk

menerangkan pertumbuhan kompleks perumahan, yaitu:

(32)

Pemisahan secara fisik ini menimbulkan pemisahan sosial atau kerenggangan

sosial. Warga kompleks perumahan tidak usah berinteraksi dengan masyarakat

umum. Sebagai akibat dua kelompok diciptakan, yang dalam (kita) dan yang luar

(mereka). Keeksklusifan ini dapat mengakibatkan perasaan tak terikat tehadap

masyarakat umum yang dapat menimbulkan frustrasi dan kecemburuan. Perasaan ini

dapat menciptakan keadaan yang kurang aman dan menambah kemungkinan

kekerasan (Thuillier, 2005: 264).

Keterpisahan tersebut bukan sekedar karena hak pemilikan properti,

lebih-lebih juga didorong oleh intensi para developer yang melihat privacy sebagai sebuah

nilai jual yang mahal, khususnya bagi kalangan elit (orang kaya).

Deregulasi ekonomi memungkinkan peran swasta dalam "pembangunan"

perumahan membuat kebutuhan akan perumahan dipenuhi oleh para pengembang

yang lazim disebut dengan istilah developer. Mereka mengiklankan

produk-produknya dengan giat di media massa, lengkap dengan jargon-jargon andalan

masing-masing. Salah satu kekurangan kompleks perumahan yang sering dibahas

adalah kemungkinan bermukim di sana akan mengakibatkan pemisahan secara sosial

dan fisik. Secara fisik, pagar dan satpam yang melindungi perumahan merupakan

pemisah antara warga perumahan dan masyarakat umum. Pagar dan batasan ini dapat

menghindari perjalanan orang dan mobil.

b. Preferensi konsumen,

Identitas dan Konsumsi Dalam la société de Consommation Jean Baudrillard

mengatakan bahwa masyarakat konsumeris merupakan tatanan manipulasi tanda.

(33)

dengan demikian arena konsumsi adalah sebuah arena sosial. Media massa, dalam hal

ini iklan perumahan merupakan sebuah mekanisme sosial yang akan merangsang

calon konsumen untuk membeli. Artikel dalam media massa juga dapat

merepresentasikan realita dari sudut pandang surat kabar dan kebutuhan konsumen.

Keamanan dan keselamatan merupakan salah satu alasan utama mengapa

orang memilih bermukim di kompleks perumahan. Dewasa ini tingkat kriminalitas

lebih tinggi daripada sepuluh tahun yang lalu. Melalui proses urbanisasi semakin

banyak orang berpindah ke kota. Akibatnya, tingkat kejahatan meningkat. Menurut

Glasner (dalam Manzi & Smith-Bowers, 2005: 347) terdapat “budaya ketakutan”

(culture of fear) di mana ketakutan persoalan sosial diperkuat oleh media massa.

Karena adanya “budaya ketakutan” ini orang cenderung bereaksi berdasarkan

persepsi bahaya kejahatan yang digambarkan oleh media daripada keadaan

sebenarnya. Faktor-faktor tersebut mengakibatkan sebagian masyarakat, khususnya

mereka yang tinggal di kota, merasa gelisah dan kurang aman. Untuk sebagian

masyarakat ini kompleks perumahan merupakan tempat untuk mencari perlindungan

dari persoalan sosial, termasuk kejahatan. Lingkungan perumahan biasanya aman,

teratur dan dapat diprediksi (Atkinson & Blandy, 2005). Karena itu di kompleks ini

semua aspek kehidupan warganya dapat dikuasai dan diatur.

Gengsi dan Status Sosial Kompleks perumahan sering diidentikkan dengan

kekayaan (Roitman, 2005). Walaupun sekarang ada bermacam-macam tipe

perumahan, termasuk untuk kelas bawah, persepsi itu tetap ada.

Fasilitas yang disediakan oleh kompleks perumahan merupakan salah satu

(34)

dengan fasilitas lengkap seperti Perumahan Malibu, Taman Setia Budi Indah(Tasbih)

dll. Di dalam komplek perumahan ada super market tempat belanja, pusat kebugaran,

café, dan fasilitas swasta lainnya seperti listrik, air, dan keamanan.

c. Teori club goods.

Teori club goods adalah teori yang dikembangkan oleh Glasze. Menurut teori

ini kompleks perumahan merupakan cara efektif untuk menyediakan jasa yang tidak

disediakan oleh pemerintah lokal. Warga perumahan membayar “uang keanggotaan”

dan sebagai anggota “klub” (yaitu perumahan) mereka berhak menggunakan “harta

benda swasta” secara kolektif.

Roitman (2005) memperdebatkan bahwa ada alasan struktur (structural)

maupun subjektif mengapa orang ingin bermukim di komplek perumahan. Alasan

struktur dipengaruhi oleh keadaan sosial, politik dan ekonomi. Alasan semacam ini

termasuk perasaan takut terhadap tindak kejahatan, ketidaksamaan yang terus

meningkat dan pengaruh globalisasi. Alasan subjektif merupakan hasil tujuan dan

keinginan pelaku, misalnya keinginan status sosial dan keeksklusifan. Rotiman juga

memajukan teori structuation oleh Giddens sebagai satu cara untuk menguraikan

gejala kompleks perumahan. Menurut teori ini pelaku-pelaku memiliki kemampuan

mengambil keputusan sendiri dan mempengaruhi masyarakat. Akan tetapi keadaan

masyarakat itu juga dapat mempengaruhi kelakuan pelaku. Sebagai contoh pelaku

dapat dipengaruhi oleh tingkat kejahatan, tetapi pelakulah yang akan mengambil

keputusan untuk bermukim di perumahan.

(35)

2.4. Definisi Konsep

Konsep adalah istilah yang terdiri dari satu kata atau lebih yang

menggambarkan suatu gejala atau menyatakan suatu ide gagasan (Iqbal Hasan

2002:17). Untuk mendapatkan batasan yang jelas dari masing-masing konsep yang

dikemukakan, maka penulis memberikan definisi konsep sebagai berikut:

Interaksi Sosial

Bentuk umum dari proses sosial adalah interaksi sosial yang merupakan syarat

utama dalam aktivitas-aktivitas sosial (Soekanto, 1990:67). Dengan interaksi sosial

maka terjadi hubungan dalam masyarakat. H. Bonner (Gerungan, 1988:57)

menyatakan bahwa interaksi sosial adalah suatu hubungan antara dua atau lebih

individu manusia atau yang saling mempengaruhi, mengubah atau memperbaiki

kelakuan antar individu yang satu dengan individu yang lainnya. Dengan demikian

antar individu tersebut terjadi hubungan timbal balik.

Dalam interaksi sosial bukan hanya antar individu saja tetapi dapat pula antara

individu dengan kelompok atau bahkan antara kelompok yang satu dengan kelompok

yang lainnya. Di sini individu atau kelompok tersebut terdapat kemungkinan

menyesuaikan diri dengan yang lain, dapat meleburkan diri, atau bahkan dapat pula

mengubah lingkungan sesuai dengan keadaan individu (Walgito, 2003). Dalam proses

interaksi ada yang mempengaruhi dan ada yang dipengaruhi. Interaksi sosial adalah

kunci dari semua kehidupan sosial yang akan menciptakan kehidupan bersama.

Dalam interaksi sosial bukan hanya pertemuan badaniah saja namun ditekankan pada

pergaulan, kerjasama, saling berbicara dan seterusnya untuk mencapai tujuan,

(36)

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa interaksi sosial memiliki ciri-ciri

sebagai berikut :

a. Adanya subjek yang berupa individu atau kelompok.

b. Adanya kontak antara individu atau kelompok tersebut.

c. Adanya alat komunikasi sebagai sarana interaksi.

d. Memiliki maksud tertentu.

Warga Komplek Perumahan Bukit Johor Mas : Warga komplek

perumahan menunjuk pada bagian masyarakat yang bertempat tinggal di suatu

wilayah (dalam arti geografis) dengan batas-batas tertentu dimana faktor utama yang

menjadi dasar adalah keberadaannya dalam suatu tempat tinggal atau pemukiman.

Dengan demikian pengertian warga komplek perumahan johor mas adalah individu

yang hidup pada suatu wilayah kehidupan sosial yang berada di dalam pagar atau

tembok pembatas dengan kehidupan luar perumahan johor mas.

Proses coping atau perwujudan privasi yang berlebihan : bagaimana

manusia bertindak untuk mengatasi permasalahan-permasalahan yang terdapat

disekitar lingkungan mereka. Hidup dalam lingkungan perkotaan yang penuh dengan

kesesakan, macet, tingkat kejahatan yang tinggi serta polusi udara dan sebagainya

telah menyebabkan manusia berusaha untuk melakukan proses coping untuk

mengantisipasi semua permasalahan perkotaan tersebut.

Personal space : merupakan suatu batas maya yang mengelilingi manusia

yang tidak boleh dilalui oleh orang lain. Fungsi dari personal space ini adalah sebagai

alat komunikasi antara manusia. Banyak penelitian-penelitian yang dilakukan

(37)

beberapa penelitian-penelitian yang telah dilakukan ini diantaranya adalah manusia

dalam bersosialisasi dengan lingkungannya memerlukan jarak-jarak tertentu untuk

mencapai hasil yang maksimal.

Masyarakat sekitar kompleks : Masyarakat adalah kesatuan hidup

manusia yang berinteraksi menurut suatu sistem adat-istiadat tertentu yang bersifat

kontinu dan terikat oleh suatu rasa identitas bersama (Koentjaraningrat, 2000:135).

Suatu masyarakat sekitar komplek perumahan pasti mempunyai lokalitas atau tempat

tinggal (wilayah) tertentu. Mayarakat sekitar komplek perumahan yang mempunyai

tepat tinggal tetap dan permanen biasanya memiliki ikatan-ikatan solidaritas yang

kuat sebagai pengaruh kesatuan tempat tinggalnya. Fungsi masyarakat sekitar

komplek perumahan adalah sebagai ukuran untuk menggaris bawahi hubungan antara

hubungan-hubungan sosial dengan suatu wilayah geografis tertentu. Masyarakat

sekitar komplek perumahan berarti masyarakat yang tinggal di sekitar komplek

peruamahan mencakup masyarakat yang tergabung dalam satu wilayah territorial

tertentu yaitu sekitar perumahan bukit Johor Mas.

Teritorialitas : suatu pola tingkah laku yang ada hubungannya dengan

kepemilikan atau hak seseorang atau kelompok orang atas sebuah tempat atau lokasi

geografis, pola tingkah laku ini juga mencakup personalisasi dan pertahanan terhadap

(38)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan

pendekatan yang digunakan dalam melakukan penelitian ini adalah pendekatan

deskriptif dimana penulis mencari fakta-fakta, fenomena tentang interaksi sosial

warga komplek perumahan Bukit Johor Mas, keberadaan, karakteristik dan kegiatan

yang dilakukan setiap hari serta interaksi yang terjadi antara warga komplek

perumahan dengan masyarakat luar komplek, dan antar sesama warga komplek dalam

kehidupan sehari-hari.

Penulis sepakat tentang prosedur tepat pengumpulan data, analisis, dan

pelaporan data penelitian kualitatif yang di jelaskan oleh Marshall, Rossman, dan

Walcott(1990). Mereka menyarankan untuk membaca terlebih dahulu artikel-artikel

jurnal kualitatif dan jurnal topik penelitian. Sayangnya artikel-artikel dan jurnal

tersebut kebanyakan telah diringkas langkah-langkah dan prosedur penelitiannya

serta lebih menekankan hasil sesuai dengan batas panjang editorial yang

direkomendasikan.

Sebelum memulai penelitian ini, penulis mengandalkan saran dari dosen

pembimbing, menggunakan contoh-contoh dari jurnal, skripsi dan internet tentang

penelitian kualitatif dan topik tentang interaksi sosial warga komplek perumahan,

gated community, dan perkotaan, dan menggabungkannya dengan pengalaman

(39)

Prosedur penelitian ini dimulai dengan mengajukan asumsi penelitian

kualitatif, menetapkan jenis desain penelitian, lokasi penelitian, membahas

pengumpulan data, mengindentifikasi analisis data, menyebutkan langkah-langkah

penelitian dan menggambarkan hasil naratif penelitian.

Penulis memulai dengan meninjau asumsi-asumsi paradigma penelitian

kualitatif. Prosedur ini sangat berguna untuk menjelaskan alasan-alasan pemilihan

metode penelitian. Misalnya, Kirk dan Miller mengemukakan pengertian penelitian

kualitatif sebagai tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara

fundamental bergantung kepada pengamatan manusia dalam kawasannya sendiri dan

berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasanya dan dalam

peristilahannya (Moloeng, 2006).

Nawawi (1994) mengemukakan bahwa Pendekatan kualitatif dapat di artikan

sebagai pendekatan yang mengahasilkan data, tulisan, dan tingkah yang dapat dilihat

dan diamati. Penelitian deskriptif kualitatif ini juga bertujuan untuk menggambarkan,

meringkaskan berbagai kondisi, situasi, sifat, model, tanda atau gambaran tentang

kondisi dan juga fenomena yang terjadi pada suatu daerah tertentu(bungin 2001;68).

Pandangan psikologis penulis, topik ini sangat menyenangkan dan prosedur

kualitatif yang tidak terikat aturan atau prosedur khusus yang ketat lebih memberikan

kebebasan dalam melakukan penelitian interaksi sosial warga komplek perumahan

Bukit Johor Mas. Meskipun demikian, penulis menyadari bahwa penelitian ini

membutuhkan waktu yang lama dan melelahkan, namun demikian toleransi tinggi

terhadap kerancuan yang dianut dalam paradigma penelitian kualitatif, sangat

(40)

3.2. Lokasi Penelitian

Warga komplek perumahan Bukit Johor Mas adalah masyarakat yang hidup

menetap di dalam komplek perumahan Bukit Johor Mas, oleh sebab itu penelitian

dilakukan di Penelitian ini dilakukan di komplek perumahan Bukit Johor Mas

Kelurahan Pangkalan Mansyur Kec. Medan Johor Kota Medan. Adapun alasan

pemilihan lokasi di komplek perumahan bukit johor mas karena: 1). Bukit Johor Mas

di Kelurahan pangkalan mansyur adalah tempat tinggal para warga komplek

perumahan Bukit Johor Mas, 2). Lokasi tersebut mudah dijangkau oleh peneliti

sehingga dapat menghemat tenaga, waktu dan biaya.

3.3. Unit Analisis dan Informan

Unit analisis adalah satuan tertentu yang diperhitungakan sebagai subjek

penelitian (Arikunto, 2007). Adapun unit analisis dalam penelitin ini adalah warga

komplek perumahan Bukit Johor Mas Kelurahan Pangkalan Masyhur. Hal ini

dimaksudkan untuk memperoleh jawaban dan gambaran yang komprehensif

mengenai masalah penelitian.

Informan adalah individu-individu tertentu yang diwawancarai untuk

kepentingan informasi, informan yaitu orang yang dapat memberikan informasi atau

keterangan atau data yang diperlukan oleh peneliti. Informan ini dipilih dari beberapa

orang yang betul-betul dapat dipercaya dan mengetahui obyek penelitian. Informan

merupakan orang yang dimanfaatkan untuk memberikan informasi tentang situasi dan

kondisi latar penelitian. Informan ini secara sukarela menjadi anggota penelitian

walaupun hanya bersifat informal. Informan memberikan pandangan dari segi orang

(41)

komplek perumahan Bukit Johor Mas yang menjadi latar penelitian setempat.

Informan dalam penelitian ini adalah para warga komplek perumahan Bukit Johor

Mas, satpam komplek perumahan Bukit Johor Mas, serta beberapa warga sekitar

komplek perumahan Bukit Johor Mas.

Informan pertama dalam penelitian ini adalah warga komplek perumahan

Bukit Johor Mas. Ada beberapa warga yang tinggal di komplek perumahan johor mas

menjadi informan peneliti. Alasan mengapa warga komplek perumahan johor mas

dijadikan informan adalah karena penelitian ini ditujukan pada interaksi sosial warga

komplek perumahan Bukit Johor Mas sehingga warga komplek perumahan Bukit

Johor Mas merupakan informan kunci dalam penelitian ini.

Informan kedua adalah masyarakat sekitar komplek perumahan Bukit Johor

Mas. Masyarakat sekitar komplek perumahan Bukit Johor Mas penting untuk

dijadikan informan karena dalam penelitian ini juga membahas bagaimana interaksi

warga komplek perumahan Bukit Johor Mas dengan warga sekitar komplek

perumahan Bukit Johor Mas. Selain itu masyarakat sekitar komplek perumahan Bukit

Johor Mas dianggap sebagai pihak yang mengetahui tentang bagaimana interaksi para

warga komplek perumahan Bukit Johor Mas di luar perumahan serta sikap mereka

dengan orang-orang sekitar mereka. Dalam penelitian ini masyarakat yang dijadikan

informan hanyalah beberapa warga yang tinggal di sekitar Perumahan, seperti warga

yang berdagang di sekitar komplek perumahan dan beberapa warga lainnya.

Informan ketiga adalah satpam komplek perumahan Bukit Johor Mas .

Alasannya adalah satpam komplek perumahan johor mas adalah orang yang setiap

(42)

diminta keterangannya tentang kehidupan sehari-hari para warga komplek perumahan

johor mas serta mengetahui hubungan mereka dengan masyarakat sekitar komplek

perumahan johor mas.

3.4. Teknik Pengumpulan Data

Data penelitian ini digolongkan menjadi dua yaitu data primer dan data

sekunder.

a). Data Primer

1. Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Teknik wawancara

adalah teknik yang paling sosiologis dari seluruh teknik penelitian sosial, karena

interaksi langsung secara verbal antara peneliti dengan responden atau informan.

Maksud digunakannya wawancara ini untuk menambah atau melengkapi data yang

belum didapat dari observasi. Teknik wawancara ini dilakukan secara terbuka, luwes,

akrab dan kekeluargaan. Hal ini dimaksudkan agar tidak terkesan kaku dan

keterangan informan tidak mengada-ada atau ditutup-tutupi, dengan demikian didapat

data yang optimal. Wawancara dalam penelitian ini dilakukan pada warga komplek

perumahan Bukit Johor Mas, selain itu peneliti juga dapat mengadakan wawancara

dengan warga sekitar yang berada dilingkungan komplek perumahan Bukit Johor

Mas tersebut. Wawancara dalam penelitian ini bertujuan untuk memperoleh

keterangan lebih rinci dan mendalam mengenai interaksi warga komplek perumahan

Bukit Johor Mas dan antara warga komplek perumahan Bukit Johor Mas dengan

warga sekitar komplek perumahan Bukit Johor Mas.

2. Observasi biasanya diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara

(43)

Teknik ini dijadikan teknik yang utama karena peneliti langsung dapat melihat

keadaan atau kenyataan yang ada. Menurut M. Q. Patton dalam (Nasution, 2003:59–

60) menyatakan manfaat pengamatan adalah :

a. Peneliti memperoleh pandangan yang menyeluruh (holistik) sehingga mampu

memahami konteks data secara keseluruhan situasi,

b. Peneliti dapat menggunakan pendekatan induktif yang mungkin mendapat

penemuan baru, hal ini agar tidak dipengaruhi oleh konsep–konsep atau

pandangan sebelumnya,

c. Peneliti dapat melihat hal–hal yang kurang atau tidak diamati oleh orang lain

karena dianggap sudah biasa sehingga tidak perlu ditanyakan dalam wawancara,

d. Peneliti dapat mengungkap hal–hal yang dianggap sensitif atau ditutupi apabila

ditanyakan dalam wawancara,

e. Peneliti dapat memperoleh data yang komprehensif di luar persepsi informan,

f. Peneliti memperoleh kesan dan merasakan situasi sosial dari penelitiannya.

Dengan pengamatan ini dapat ditemukan hasil yang cukup baik dan valid

sebagai hasil penelitian kualitatif. Observasi dalam penelitian ini bertujuan untuk

mengetahui bagaimana interaksi sosial warga komplek perumahan Bukit Johor Mas,

yaitu dengan mengadakan pengamatan secara langsung apa yang tampak pada

interaksi sosial warga komplek perumahan tersebut dengan cara melihat, mendengar

dan penginderaan lainnya.

b). Data Sekunder

Data sekuder yaitu semua data yang diperoleh secara tidak langsung dari

(44)

cara penelitian kepustakaan dan pencatatan dokumen, yaitu dengan mengumpulkan

data dan mengambil informasi dari buku-buku referensi, dokumen, majalah, jurnal,

dan data internet yang dianggap relevan dengan masalah yang diteliti, dalam hal ini

tentang komplek perumahan.

3.5. Interpretasi Data

Meriam (1988) dan Marshall and Rossman (1989) berpendapat bahwa

pengumpulan dan analisis data harus merupakan sebuah proses yang bersamaan

dalam penelitian kualitatif. Data yang dihasilkan melalui wawancara, pengamatan dan

penelitian dokumen-dokumen tentang interaksi sosial warga komplek perumahan

Bukit Johor Mas Kelurahan Pangkalan Masyhur sangat banyak, sebab analisis data

mengharuskan peneliti terbuka terhadap kemungkinan-kemungkinan dan melihat

pertentangan atau penjelesan alternatif temuan.

Schatzman dan Strauss (1973) menyatakan bahwa analisis data kualitatif

terutama bertujuan untuk mengelompokkan benda, orang, dan peristiwa serta

karakteristik-karakteristiknya. Penulis berusaha untuk mengindentifikasi dan

menggambarkan interaksi sosial warga komplek perumahan Bukit Johor Mas dari

sudut pandang warga komplek perumahan Bukit Johor Mas, lalu berusaha untuk

memahami dan menjelaskan interaksi sosial warga komplek perumahan Bukit Johor

Mas. Selama tahap analisis data, data disusun secara kategoris dan kronologis serta

ditinjau secara berulang-ulang. Penulis membuat daftar ide-ide penting yang muncul

(45)

Sesungguhnya proses analisis dalam penelitian ini telah dimulai sejak awal

penulisan proposal hingga selesainya penelitian ini yang menjadi ciri khas dari

analisis kualitatif. Proses analisis kualitatif ini disebut on going analisys.

3.6. Jadwal Kegiatan

Pengajuan judul skripsi merupakan tahap awal dari serangkain kegiatan

penelitian yang akan dilaksanakan. Setelah seminar proposal penelitian dilakukan,

revisi proposal penelitian dan pengurusan izin administrasi penelitian adalah tahapan

berikutnya untuk persiapan penelitian langsung kelapangan. Untuk lebih rinci,

kegiatan penelitian dapat dilihat pada jadwal kegiatan:

(46)

3.7. Keterbatasan Penelitian

Keterbasan dalam penelitian terkait erat dengan kelemahan instrument

wawancara mendalam. Dalam hal ini terdapat keraguan akan jawaban yang diberikan

informan, karena apa yang diinformasikan tentang situasi, kondisi, dan tindakan

apakah sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Kendala lain adalah keterbatasan

waktu saat melakukan wawancara dengan informan. Hal ini disebabkan kesibukan

informan. Faktor ini dapat dimengerti karena kesibukan akan pekerjaan informan

yang begitu banyak. Pada akhirnya hal ini dapat mempengaruhi kualitas data yang

diperoleh. Walaupun demikian, peneliti menyiasatinya dengan cara melakukan

wawancara saat-saat waktu luang dan hari libur. Awalnya informan terkesan tidak

peduli malah ada yang tidak bersedia untuk diwawancarai, seperti ada hal ketakutan

dalam diri informan. Menyikapi hal seperti itu, melalui interaksi yang akrab peneliti

meyakinkan informan bahwa kegiatan yang dilakukan merupakan bagian dari

kegiatan perkuliahan. Selain itu, adanya ketakutan dari pihak satpam perumahan akan

dimarahi oleh penghuni komplek perumahan membuat ruang gerak peneliti sedikit

terbatas. Terlepas dari permasalahan teknis penelitian dan kendala dilapangan,

peneliti menyadari masih terdapat keterbatasan dalam hal kemampuan dan

pengalaman dalam melakukan kegiatan penelitian ilmiah. Walaupun demikian,

peneliti tetap terus berusaha untuk melaksanakan rangkaian kegiatan penelitian

dengan sebaik mungkin agar hasil penelitian yang diperoleh dapat

Figur

Tabel 1
Tabel 1 . View in document p.48
Tabel 2
Tabel 2 . View in document p.48
Tabel 3
Tabel 3 . View in document p.50
Tabel 4
Tabel 4 . View in document p.51
Tabel 5
Tabel 5 . View in document p.52
Tabel 6
Tabel 6 . View in document p.53
Tabel 7
Tabel 7 . View in document p.54
Tabel 8
Tabel 8 . View in document p.55

Referensi

Memperbarui...

Unduh sekarang (95 Halaman)
Related subjects : Kompleks perumahan