Pola Sebaran Collembola Permukaan Tanah Pada Empat Tipe Ekosistem Yang Berbeda

36  13  Download (0)

Teks penuh

(1)

POLA SEBARAN COLLEMBOLA PERMUKAAN TANAH

PADA EMPAT TIPE EKOSISTEM YANG BERBEDA

MUHAMAD HAMDANI

DEPARTEMEN SILVIKULTUR FAKULTAS KEHUTANAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)
(3)

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN

SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Pola Sebaran Collembola Permukaan Tanah pada Empat Tipe Ekosistem yang Berbeda, adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

(4)

ABSTRAK

MUHAMAD HAMDANI. Pola Sebaran Collembola Permukaan Tanah pada Empat Tipe Ekosistem yang Berbeda. Dibimbing oleh NOOR FARIKHAH HANEDA dan PRIYANTO.

(5)

ABSTRACT

MUHAMAD HAMDANI. Distribution pattern of soil surface Collembola on four different ecosystems. Surpervised by NOOR FARIKHAH HANEDA and PRIYANTO.

(6)
(7)

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan

pada

Departemen Silvikultur

POLA SEBARAN COLLEMBOLA PERMUKAAN TANAH

PADA EMPAT TIPE EKOSISTEM YANG BERBEDA

DEPARTEMEN SILVIKULTUR FAKULTAS KEHUTANAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(8)
(9)
(10)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Februari 2014 sampai Juli 2015 ialah Pola Sebaran, dengan judul Pola Sebaran Collembola Permukaan Tanah pada Empat Tipe Ekosistem yang Berbeda.

Terima kasih penulis ucapkan kepada Ibu Dr Ir Noor Farikhah Haneda, MS dan Bapak Priyanto, S Hut MS selaku pembimbing yang telah memberikan ilmu, arahan, dukungan dan motivasi dalam proses penyelesaian skripsi ini. Terima kasih yang disertai rasa haru penulis sampaikan kepada Abdulah dan Hanif Fataroh selaku rekan kerja yang sangat baik dalam menyelesaikan tugas akhir ini terutama dalam mengidentifikasi semua jenis fauna tanah yang telah memakan waktu cukup lama yaitu 1 tahun. Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada ayah, ibu, kakak, adik atas doa dan dukungannya selama masa kuliah hingga penyusunan skripsi ini. Selain itu penulis ucapkan terima kasih kepada teman-teman Silvikultur angkatan 48, keluarga besar Departemen Silvikultur serta keluarga besar SMAN 1 Rumpin yang tidak bisa penulis sebutkan satu-persatu atas segala doa dan kasih sayangnya.

Penulis mengharapkan kritik dan saran yang dapat membangun untuk penyempurnaan skripsi ini. Semoga hasil penelitian ini bermanfaat bagi pengembangan ilmu dan masyarakat.

(11)

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL vi

DAFTAR GAMBAR vi

DAFTAR LAMPIRAN vi

PENDAHULUAN 1

Latar Belakang 1

Tujuan Penelitian 2

Manfaat Penelitian 2

METODE 2

Lokasi dan Waktu Penelitian 2

Alat dan Bahan Penelitian 3

Prosedur 3

Analisis Data 5

HASIL 7

Kelimpahan jenis Collembola Permukaan Tanah 7

Jenis Collembola Permukaan Tanah yang Ditemukan 8

Pola Sebaran Collembola Permukaan Tanah 8

Pengaruh Faktor Lingkungan 9

Analisis Asosiasi Antara Collembola Permukaan Tanah dan Acari 10

PEMBAHASAN 11

Kelimpahan jenis Collembola Permukaan Tanah 11

Jenis Collembola Permukaan Tanah yang Ditemukan 12

Pola Sebaran Collembola Permukaan Tanah 13

Pengaruh Faktor Lingkungan 14

Analisis Asosiasi Antara Collembola Permukaan Tanah dan Acari 15

SIMPULAN DAN SARAN 17

Simpulan 17

Saran 17

DAFTAR PUSTAKA 17

LAMPIRAN 20

(12)

DAFTAR TABEL

1 Klasifikasi strata vegetasi dalam ekosistem penelitian 5 2 Matriks kontingensi untuk merekapitulasi kehadiran Collembola

permukaan tanah dan Acari 6

3 Kelimpahan jenis Collembola permukaan tanah pada setiap ekosistem 7 4 Pola sebaran Collembola permukaan tanah pada setiap ekosistem 8 5 Pengukuran faktor lingkungan biotik dan abiotik di setiap ekosistem 9 6 Interaksi antara Collembola permukaan tanah dan Acari pada setiap

ekosistem 11

DAFTAR GAMBAR

1 Peta lokasi penelitian 2

2 Ilustrasi penempatan plot contoh pada setiap ekosistem 3

3 Corong Berlese Tullgren 4

4 Kondisi strata vegetasi (a) jungle rubber (b) secondary forest 9 5 Kondisi tajuk di ekosistem oil palm plantation 10 6 Jenis Collembola permukaan tanah yang baru di jumpai di Sumatera

dan Jawa (a) Heteromorus sp. (b) Homidia cingula (Path = ukuran

panjang tubuh) 12

7 Jenis Collembola permukaan tanah kosmopolitan (a) Folsomides sp. dan (b) Lepidocyrtus sp. (Path = ukuran panjang tubuh) 13 8 Jenis sub ordo Acari yang ditemukan (a) Acaridida, (b) Oribatida, (c)

Gamasida dan (d) Uropida (Path = ukuran panjang tubuh) 16

DAFTAR LAMPIRAN

1 Daftar jenis Collembola permukaan tanah yang ditemukan di empat

tipe ekosistem Desa Bungku, Provinsi Jambi 20

2 Jenis Collembola permukaan tanah yang ditemukan di empat tipe

ekosistem 21

3 Data kelimpahan dan jumlah jenis Collembola permukaan tanah pada

setiap ekosistem 21

4 Jenis Acari yang ditemukan di empat tipe ekosistem 22 5 Daftar jenis Acari yang ditemukan di empat tipe ekosistem Desa

Bungku, di Provinsi Jambi 22

6 Frekuensi kehadiran Acari di semua tipe ekosistem Desa Bungku,

(13)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Ekosistem merupakan suatu sistem yang terdiri dari makhluk hidup dan lingkungannya, terjadi interaksi antara keduanya untuk mempertahankan kehidupan. Hutan sebagai salah satu bentuk ekosistem yang memiliki karakteristik habitat berbeda untuk spesies tertentu. Indonesia merupakan negara tropis yang memiliki luas hutan 88.17 juta Ha (FWI 2009), akan tetapi laju penebangan pohonnya sangat tinggi dibandingkan dengan semua negara tropis lainnya sehingga luas hutan Indonesia mengalami kerusakan setiap tahunnya (Margono et al. 2014). Perubahan fungsi dari hutan menjadi non-hutan juga berperan dalam perubahan ekosistem dan spesies penyusun di dalamnya. Salah satu daerah di Indonesia yang banyak mengalami perubahan fungsi hutan menjadi non hutan sebagai penggunaan lahan yang berbeda yaitu Provinsi Jambi. Transformasi hutan di Provinsi Jambi terjadi secara terus menerus dimulai dari hutan sekunder hingga sistem perkebunan yang monokultur (Villamor et al. 2014).

Desa Bungku merupakan salah satu desa di Provinsi Jambi yang memiliki empat ekosistem sebagai penggunaan lahan yang berbeda. Keempat ekosistem tersebut yaitu areal hutan sekunder (secondary forest), hutan alam karet (jungle rubber), hutan tanaman karet (rubber plantation) dan perkebunan kelapa sawit (oil palm plantation). Perubahan penggunaan lahan dari hutan menjadi sistem perkebunan monokultur memiliki pengaruh negatif terhadap keanekaragaman spesies penyusun ekosistem salah satunya adalah Collembola permukaan tanah.

Collembolla permukaan tanah merupakan bagian dari sub filum Hexapoda yang dilengkapi seta pada bagian tubuhnya tetapi tidak bersayap dan dikenal dengan istilah Springtail (Ekor pegas) karena sifat dari ekornya seperti pegas. Bentuk tubuhnya bervariasi ada yang gilik, oval atau pipih dorsal-ventral. Selain itu Collembola permukaan tanah memiliki warna tubuh yang bervariasi juga yaitu, putih, kuning, jingga, merah merona, abu-abu dan bahkan ada yang bernoda serta bergaris-garis warna tertentu pada bagian tubuh tertentu (Suhardjono 1992).

(14)

2

Tujuan Penelitian

Tujuan dalam penelitian ini adalah menghitung kelimpahan jenis Collembola permukaan tanah di setiap ekosistem, mengidentifikasi jenis Collembola permukaan tanah yang ditemukan, mengidentifikasi pola sebaran Collembola permukaan tanah, menjelaskan pengaruh faktor lingkungan terhadap keberadaan Collembola permukaan tanah dan mengidentifikasi tipe serta bentuk asosiasi antara Collembola permukaan tanah dan Acari.

Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai pola sebaran Collembola permukaan tanah dan bentuk asosiasinya dengan Acari di empat ekosistem sebagai penggunaan lahan yang berbeda di Desa Bungku

METODE

Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari 2014─Juli 2014 untuk tahap pertama yaitu pengambilan sampel Collembola permukaan tanah dan Acari di empat tipe ekosistem hutan yang berbeda di Desa Bungku, Kecamatan Bajubang, Kabupaten Batang Hari, Provinsi Jambi (Gambar 1). Kemudian tahap kedua yaitu identifikasi sampel kedua spesies tersebut pada bulan Agustus 2014─Juli 2015 di Laboratorium Entomologi, Departemen Silvikultur, Fakultas Kehutanan IPB.

(15)

3 Alat dan Bahan Penelitian

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah botol koleksi, buku identifikasi Borror et al. (1996) dan Suhardjono et al. (2012), cangkul, cawan petri, kamera digital, litterbag dengan ukuran 0.25 mm mesh, mikroskop, kaca pembesar, bambu ukuran 1 m, forcep, pita pengukur, tali plastik, termometer tanah, termometer bola kering dan basah, timbangan, trashbag, GPS dan Arcgis 9.3.

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah koleksi Collembola permukaan tanah dan Acari dari empat ekosistem yang berbeda berasal dari Desa Bungku, Provinsi Jambi. Bahan tersebut dikoleksi di Laboratorium Entomologi Hutan, Departemen Silvikultur, Fakultas Kehutanan IPB. Selain itu, digunakan alkohol 70% yang digunakan untuk mengawetkan spesimen selama proses identifikasi.

Prosedur

Pembuatan littertrap

Littertrap dibuat dengan menggunakan trashbag yang diletakkan di setiap ekosistem pada tiga titik atau plot dengan jarak antar plot 150 meter dan ukuran masing-masing plot 1 m x 1 m (Gambar 2). Dilanjutkan dengan memasukan serasah ke dalam litterbag yang memiliki ukuran mata jala (lubang) 0.25 mm, setelah itu litterbag dikubur dalam tanah dengan kedalaman 5 cm di setiap ekosistem sebanyak tiga kali ulangan, dengan jarak 5 m antar ulangan (Yuniar 2014).

Pemanenan serasah

Pemanenan serasah dari litterbag dilakukan pada minggu ke 0, 2, 4, 6, 8, 10 dan 12. Setelah itu serasah yang dipanen dimasukkan ke dalam kantong plastik untuk ditimbang (Yuniar 2014).

Ekstraksi Collembola permukaan tanah dan Acari dengan teknik Barles-Tullgren Funnel

Hasil pemanenan serasah pada litterbag diekstraksi menggunakan corong Berlese Tullgren selama 24 jam (Gambar 3). Setelah pengekstraksian Collembola permukaan tanah dan Acari yang ditemukan diambil dan dimasukkan ke dalam botol koleksi yang berisi alkohol 70 % dengan dengan teknik handsorting (Yuniar 2014). Kemudian diidentifikasi menggunakan buku Borror et al. (1996) dan Suhardjono et al. (2012).

(16)

4

Pengukuran Faktor lingkungan 1) Suhu tanah

Pengukuran suhu tanah dilakukan dengan cara memasukkan termometer tanah kurang lebih 10 cm dari permukaan tanah, kemudian dibaca langsung angka yang tertera setelah mencapai nilai konstan. Pengamatan dilakukan tiga kali yaitu pagi (pukul 09.00 WIB), siang (pukul 12.00 WIB) dan sore (pukul 15.00 WIB) dengan waktu pengamatan 10 menit (Yuniar 2014). 2) Keasaman tanah

Pengukuran keasaman tanah dilakukan dengan cara mencelupkan pH Indikator ke dalam campuran sampel tanah dan aquades yang telah diendapkan selama ± 3 menit. Kemudian warna yang terbentuk dicocokkan dengan warna-warna baku keasaman yang terdapat pada kertas lakmus tersebut sehingga besaran keasaman dapat ditetapkan (Yuniar 2014). 3) Pengukuran ketebalan serasah

Pengukuran ketebalan serasah dilakukan pada 3 titik pengamatan (Yuniar 2014).

4) Suhu udara

Pengukuran suhu udara dilakukan dengan menggunakan termometer. Pengamatan dilakukan tiga kali yaitu pagi (pukul 09.00 WIB), siang (pukul 12.00 WIB) dan sore (pukul 15.00 WIB) dengan waktu pengamatan 15 menit (Yuniar 2014).

5) Kelembaban udara

Pengukuran kelembaban udara diperoleh dari pengukuran suhu udara dengan termometer bola basah dan bola kering. Pengamatan dilakukan tiga kali yaitu pagi (pukul 09.00 WIB), siang (pukul 12.00 WIB) dan sore (pukul 15.00 WIB) dengan waktu pengamatan 15 menit (Yuniar 2014).

Pengukuran kerapatan tajuk

Pengukuran kerapatan tajuk dilakukan dengan menggunakan densiometer yang memiliki 25 persegi dan masing-masing kotak memiliki skor antara 0–4 sehingga skala densiometer berkisar antara 0 (0 x 25) hingga 100 (4 x 25). Kemudian dikelompokkan menjadi lima kelompok yaitu kelompok 0 (skor 0), kelompok 1 (skor 1-25), kelompok 2 (skor 26-50), kelompok 3 (skor 51-75) dan kelompok 4 (skor 76-100) (Yuniar 2014). Satu plot pengamatan dilakukan pengukuran pada empat arah mata angin. Rata-rata pengukuran tersebut adalah nilai dari tingkat penutupan tajuk (Haneda et al. 2013).

(17)

5 Pengukuran strata vegetasi dan struktur pohon

Pengukuran strata vegetasi dilihat dari komposisi penyusun ekosistem yang terdiri atas pohon, perdu, semak, tumbuhan bawah, epifit dan liana (Yuniar 2014). Selanjutnya diklasifikasikan berdasarkan klasifikasi pada penelitian Room (1975) pada Tabel 1.

Analisis Data

Kelimpahan jenis dan pola sebaran Collembola permukaan tanah dilakukan dengan menghitung jumlah individu dan indeks Morisita (Jongjitvimol et al. 2005). Kemudian analisis asosiasi dilakukan dengan menggunakan metode presence-absence atau tabel kontingensi dan indeks Ochiai (Ludwig & Reynolds 1988). Kelimpahan jenis menunjukkan banyaknya jumlah individu Collembola permukaan tanah yang ditemukan pada setiap ekosistem yang diamati. Indeks morisita merupakan salah satu indeks yang banyak digunakan dalam analisis pola sebaran. Indeks Morisita dihitung menggunakan persamaan:

� = ∑�∑�� − ∑��

� − ∑��

Keterangan:

� = Indeks Morisita

= Jumlah seluruh petak ukur

�� = Jumlah individu Collembola permukaan tanah pada petak ukur ke-i

Indeks Morisita terstandarisasi dihitung menggunakan persamaan:

�� = .5 + .5 � −�− ; jika � ≥ > 1

�� = .5 � − ; jika > � ≥ 1

�� = .5 � −�− ; jika > � > �

�� = .5 + .5 � − � ; jika > � > �

Keterangan: �� = Indeks Morisita yang telah terstandarisasi Tabel 1 Klasifikasi strata vegetasi dalam ekosistem penelitian

Klasifikasi Keterangan

I Sangat rendah, hanya terdiri dari 1-2 strata vegetasi dengan strata paling rendah hanya sedikit.

II Rendah, terdiri atas 2 strata vegetasi III Sedang, terdiri atas 3 strata vegetasi IV Tinggi, terdiri atas 4 strata vegetasi

(18)

6

Pola sebarannya ditunjukkan melalui perhitungan � dan sebagai berikut:

� = � .975∑�− + ∑��

� −

=� . 5∑�− + ∑��

� −

Keterangan:

� = Indeks Morisita pada pola sebaran seragam

� .975 = Nilai � tabel dengan derajat bebas n-1 dan selang kepercayaan 97.5%

= Indeks Morisita pada pola sebaran mengelompok

� . 5 = Nilai � tabel dengan derajat bebas n-1 dan selang kepercayaan 2.5%

= Jumlah seluruh petak ukur

�� = Jumlah individu Collembola permukaan tanah pada petak ukur ke-i

Pengelompokkan pola sebaran Collembola permukaan tanah menggunakan kriteria sebagai berikut:

- Seragam ; jika �� < 0 - Acak ; jika �� = 0 - Mengelompok ; jika �� > 0

Analisis asosiasi antara Collembola permukaan tanah dan Acari

Pada umumnya populasi Arthopoda tanah jenis yang selalu mendominasi adalah Collembola permukaan tanah dan Acari (Borror et al. 1996), maka perlu dilakukan analisis asosiasi antara Collembola permukaan tanah dan Acari. Analisis asosiasi ini dihitung dengan metode presence-absence dan indeks Ochiai melalui tahapan sebagai berikut (Lestari 2011):

a. Rekapitulasi kehadiran masing-masing spesies menggunakan matriks kontingensi seperti terlihat pada Tabel 2.

b. Penyusunan hipotesis, yaitu hipotesis (H0) tidak ada asosiasi antara Collembola permukaan tanah dan Acari (independen).

c. Perhitungan uji statistik menggunakan koreksi Yates.

� = [| − | − ]

Tabel 2 Matriks kontingensi untuk merekapitulasi kehadiran Collembola permukaan tanah dan Acari

a = Frekuensi ditemukan Collembola permukaan tanah dan Acari dalam petak ukur

b = Frekuensi ditemukan hanya Collembola permukaan tanah dalam petak ukur

c = Frekuensi ditemukan hanya Acari dalam petak ukur

(19)

7 d. Keputusan uji:

Nilai � tabel pada derajat bebas 1 dan taraf nyata 5% adalah 3.84 sehingga: Jika � > 3.84, maka tolak H0

Jika � ≤ 3.84, maka terima H0 e. Analisis tipe hubungan asosiasi.

Jika > � , maka hubungan asosiasinya adalah positif.

Jika ≤ � , maka hubungan asosiasinya adalah negatif, dimana � adalah nilai harapan munculnya kejadian .

� = + +

f. Perhitungan indeks asosiasi dengan menggunakan indeks Ochiai ( � :

� =

√ + √ +

Indeks Ochiai bernilai 0 hingga 1, semakin mendekati 1 maka asosiasinya maksimum.

HASIL

Kelimpahan Jenis Collembola Permukaan Tanah

Kelimpahan jenis didapatkan dari jumlah individu yang ditemukan pada setiap ekosistem. Nilai kelimpahan jenis Collembola permukaan tanah pada setiap ekosistem dapat dilihat pada Tabel 3.

Pada ekosistem ekosistem secondary forest kelimpahan individu tertinggi terdapat pada plot 1A sebanyak 82 individu, sedangkan kelimpahan terendah terdapat pada plot 3A sebanyak 7 individu. Kemudian pada ekosistem jungle rubber kelimpahan jenis tertinggi terdapat pada plot 1A sebanyak 63 individu, sedangkan kelimpahan jenis terendah terdapat pada plot 3C sebanyak 16 individu. Kemudian pada ekosistem rubber plantation ditemukan pada plot 1A sebanyak 61 individu dan kelimpahan jenis terendahnya terdapat pada plot 3C sebanyak 33 individu. Pada ekosistem oil palm plantation kelimpahan jenis tertinggi ditemukan pada plot 2C sebanyak 160 individu, sedangkan kelimpahan jenis terendah terdapat pada plot 2A

Tabel 3 Kelimpahan jenis Collembola permukaan tanah pada setiap ekosistem

(20)

Rata-8

dan 2B sebanyak 33 individu. Kelimpahan jenis rata-rata tertinggi terdapat pada ekosistem oil palm plantation dengan nilai kelimpahamnya sebanyak 72.0 individu, sedangkan kelimpahan jenis rata-rata terendah terdapat pada ekosistem secondary forest dengan kelimpahannya sebanyak 28.1 individu.

Jenis Collembola Permukaan Tanah yang Ditemukan

Hasil identifikasi Collembola permukaan tanah yang dilakukan, telah ditemukan 13 genus dari 6 famili yaitu Cyphoderidae, Entomobryidae, Isotomidae, Oncopoduridae, Paronellidae, Dicyrtomidae dan 2 ordo yaitu Entomobyromorpha dan Symphypleona dengan total individu sebanyak 1 618 individu. Persebaran dan habitatnya di Indonesia dari 13 genus yang ditemukan dapat dilihat pada Lampiran 1 dengan mengacu pada Suhardjono et al. (2012).

Pola Sebaran Collembola Permukaan Tanah

Dalam suatu ekosistem terdapat tiga pola dasar persebaran suatu spesies yang telah diakui yaitu: acak, mengelompok dan seragam (Ludwig & Reynold 1988). Untuk mengidentifikasi pola sebaran spasial suatu spesies dapat menggunakan berbagai macam indeks sebaran antara lain dengan rasio varian dan mean, indeks clumping, koefisien green, indeks Morisita yang telah distandarisasi. Salah satu indeks yang sering digunakan adalah indeks Morisita, karena dari suatu hasil penelitian simulasi membuktikan bahwa indeks ini merupakan metode terbaik untuk mengukur pola sebaran spasial suatu individu yang tidak bergantung terhadap kepadatan populasi dan ukuran sampel (Rani 2003). Standarisasi indeks Morisita merupakan perbaikan dari indeks Morisita dengan meletakkan suatu skala absolut antara -1 hingga 1. Pola sebaran Collembola permukaan tanah pada setiap ekosistem dapat dilihat pada Tabel 4.

Nilai indeks Morisita tertinggi ditemukan pada ekosistem secondary forest sebesar 1.79, sedangkan terendah ditemukan pada ekosistem rubber plantation dengan nilai indeks Morisita sebesar 1.04. Untuk menentukan pola sebaran dari nilai indeks Morisita maka dilakukan dengan perhitungan sebaran � dan . Tabel 4 Pola sebaran Collembola permukaan tanah pada setiap ekosistem

Ekosistem ∑� ∑� �� Pola Sebaran

Secondary forest 253 12 923 1.79 0.98 1.04 0.55 Mengelompok

Jungle rubber 294 12 088 1.23 0.98 1.03 0.52 Mengelompok

Rubberplantation 423 20 983 1.04 0.99 1.02 0.50 Mengelompok

Oil palm plantation 648 60 218 1.28 0.99 1.02 0.52 Mengelompok

Keterangan:

∑� = Total jumlah individu Collembola permukaan tanah pada petak ukur ke-i ∑� = Total kuadrat jumlah individu Collembola permukaan tanah pada petak ukur ke-i � = Indeks Morisita

(21)

9 Kemudian hasil dari kedua perhitungan tersebut disesuaikan dengan pernyataan hipotesis dari salah satu rumus standarisasi indeks Morisita yaitu � ≥ > 1, sehingga kesimpulan dari pola sebaran dari setiap ekosistem adalah mengelompok karena nilai dari �� > 0.

Pengaruh Faktor Lingkungan

Keberadaan Collembola permukaan tanah sangat dipengaruhi oleh lingkungan yang menyusun habitat baik biotik maupun abiotik. Faktor lingkungan abiotik dapat berupa suhu tanah, suhu udara, keasaman tanah dan kelembaban udara. Kemudian faktor lingkungan biotik berupa strata vegetasi, ketebalan serasah dan kerapatan tajuk. Oleh karena itu perlu dilakukan pengamatan terhadap faktor lingkungan abiotik dan biotik (Tabel 5).

Tingkat strata vegetasi pada setiap ekosistem berbeda-beda tergantung dari komposisi penyusunnya. Kategori tingkat strata vegetasi sangat rendah (I) terdapat pada ekosistem oil palm plantation dan kategori tingkat strata vegetasi sedang (III) terdapat pada ekosistem secondary forest dan jungle forest dengan didominasi pohon karet, perdu, semak dan tumbuhan bawah yang cukup padat (Gambar 4). Perbedaan yang menyebabkan kondisi tersebut adalah faktor spesies pohon penyusun. Pada ekosistem secondary forest, spesies pohon penyusun tidak hanya pohon karet tetapi terdapat juga jenis bambu, bulian dan rambutan hutan.

Selain strata vegetasi, dilakukan juga pengukuran ketebalan serasah dan kerapatan tajuk di setiap ekosistem. Hasil dari pengukuran ketebalan serasah menunjukkan bahwa pada ekosistem jungle rubber memiliki ketebalan yang tertinggi yaitu 5.85 cm dan ketebalan serasah terendah dimiliki oleh ekosistem oil

Gambar 4 Kondisi strata vegetasi (a) jungle rubber (b) secondary forest.

Tabel 5 Pengukuran faktor lingkungan biotik dan abiotik di setiap ekosistem

Faktor lingkungan Secondary

(22)

10

palm plantation yaitu 0.31 cm. Untuk kerapatan tajuk tertinggi terdapat pada ekosistem jungle rubber sebesar 85% dan terendah terdapat pada ekosistem oil palm plantation sebesar 64% (Gambar 5). ekosistem jungle rubber sebesar 85% dan terendah terdapat pada ekosistem oil palm plantation sebesar 64% (Gambar 5).

Rendah tingginya kerapatan tajuk akan mempengaruhi perbedaan dari kelembaban udara, suhu udara dan suhu tanah dari setiap ekosistem karena penyinaran matahari yang berbeda-beda. Berdasarkan data pengamatan semakin tinggi kerapatan tajuk maka kelembaban udara semakin tinggi pula sedangkan suhu udara dan suhu tanah semakin rendah. kelembaban udara tertinggi terdapat pada ekosistem jungle rubber sebesar 91% dan kelembaban udara terendah terdapat pada ekosistem oil palm plantation sebesar 75%, sedangkan suhu udara dan suhu tanah tertinggi terdapat pada ekosistem oil palm plantation yaitu 30oC dan 27.8oC, suhu udara dan suhu tanah terendah terdapat pada ekosistem jungle rubber yaitu 28oC dan 26.1oC. Kemudian untuk keasaman tanah di semua tipe ekosistem memiliki pH asam lemah yaitu 4 – 5.

Analisis Asosiasi Antara Collembola Permukaan Tanah dan Acari Interaksi antara satu spesies dan sepesies lain dalam suatu komunitas dapat berupa asosiasi (berinteraksi) atau independen (tidak ada hubungan). Untuk menentukan asosiasi antara dua spesies dapat dilakukan dalam 3 langkah, yaitu menguji ada tidaknya asosiasi dengan metode presence-absence, menguji tipe asosiasi (positif atau negatif) dan mengukur derajat asosiasi menggunakan indeks asosiasi (Ludwig & Reynolds 1988). Terdapat 3 indeks asosiasi yang paling umum digunakan yaitu indeks Ochiai, indeks Dice dan indeks Jaccard. Indeks Ochiai merupakan indeks asosiasi dengan derajat asosiasi terbaik karena ukuran sampling unit dan frekuensi kejadian memiliki pengaruh yang minimum terhadap hasil perhitungannya (Jackson et al. 1989). Interaksi antara Collembola permukaan tanah dan Acari pada setiap ekosistem dapat dilihat pada Tabel 6. Kemudian jenis Acari yang ditemukan dan peranannya pada semua tipe ekosistem dapat dilihat pada Lampiran 5 dengan mengacu pada Borror et al. (1996).

(23)

11

Dari semua tipe ekosistem yang tidak berasosiasi atau independen antara Collembola permukaan tanah dan Acari terdapat pada ekosistem secondary forest, karena nilai uji � yaitu 2.28 lebih kecil dari nilai � tabel pada derajat bebas 1 dan taraf nyata 5% yaitu 3.84. Kemudian tiga tipe ekosistem lainnya yaitu jungle rubber, rubber plantation dan oil palm plantation memiliki hubungan asosiasi karena nilai uji � lebih besar dari nilai � tabel. Untuk tipe asosiasi dari tiga tipe ekosistem tersebut adalah positif karena jumlah frekuensi ditemukan kedua spesies tersebut masing-masing yaitu 23, 27 dan 18 lebih besar dari nilai harapan munculnya kejadian masing-masing yaitu 17.84, 18.84 dan 13.64, sedangkan derajat asosiasi kedua sepesies tersebut di tiga tipe ekosistem adalah maksimum karena nilai � masing-masing mendekati 1 yaitu 0.64, 0.70 dan 0.60.

PEMBAHASAN

Kelimpahan Jenis Collembola Permukaan Tanah

Tingginya jumlah individu sangat dipengaruhi oleh frekuensi kehadiran suatu jenis spesies pada suatu habitat. Pada habitat dengan kondisi yang relatif tetap memiliki jumlah jenis yang tinggi dengan jumlah individu masing-masing jenis sedikit. Sebaliknya pada habitat yang mengalami perubahan secara ekstrim, hanya memiliki sedikit jenis namun jumlah individu yang besar dalam masing-masing jenis (Odum 1971). Hal ini sesuai dengan kondisi di ekosistem oil palm plantation yang memiliki jumlah individu Collembola permukaan tanah tertinggi dibandingkan dengan tiga ekosistem lainnya, akan tetapi jumlah jenisnya lebih rendah dibandingkan dengan ekosistem secondary forest dan rubber plantation (Lampiran 3). Hal ini menunjukkan bahwa perubahan fungsi dari hutan menjadi non hutan juga berperan dalam perubahan ekosistem dan spesies yang ada didalamnya, sehingga dari segi ekologis perubahan tersebut tidak menguntungkan karena akan terjadi penurunan keanekaragaman jenis spesies yang ada didalamya salah satunya adalah Collembola permukaan tanah.

Tabel 6 Interaksi antara Collembola permukaan tanah dengan Acari pada setiap ekosistem

Ekosistem � � � Asosiasi

(24)

12

Tingginya jumlah individu Collembola permukaan tanah yang ditemukan pada ekosistem oil palm plantation diduga berkaitan dengan laju dekomposisi yang terjadi karena Collembola permukaan tanah berperan sebagai dekomposer. Kemampuan Collembola permukaan tanah dalam mendekomposisi bahan organik telah dibuktikan oleh penelitian Lawrence dan Wise (2000), yang menyatakan bahwa berkurangnya predator dapat meningkatkan populasi Collembola dan sekaligus meningkatkan laju dekomposisi serasah di lantai hutan. Menurut Jalaludin (1994) bahwa daun kelapa sawit memiliki kandungan lignin yang cukup tinggi dari semua komposisi kimia daun yaitu 27.6%. Tingginya kandungan lignin dari daun kelapa sawit membuat proses laju dekomposisi serasah menjadi lambat sehingga untuk proses dekomposisi di oil palm plantation memerlukan individu dekomposer yang lebih banyak.

Jenis Collembola Permukaan Tanah yang Ditemukan

Hasil identifikasi Collembola permukaan tanah yang diperoleh menunjukkan bahwa jumlah genus yang ditemukan hanya sekitar 10.48% dari jumlah genus yang diketahui di Indonesia yaitu 124 genus (Greenslide et al. 2000). Kemudian dari 2 ordo yang ditemukan, ordo Entomobryomorpha merupakan ordo yang memiliki 12 genus dan 5 famili dengan jumlah individu sebanyak 1 474. Banyaknya individu dan keragaman genus dari ordo Entomobryomorpha karena dapat bergerak aktif dengan didukung tubuh yang ramping dan furkula yang panjang (Hopkin 1997). Collembola permukaan tanah merupakan binatang tidak bersayap dan bertungkai lemah pada umumnya tidak aktif berjalan sehingga jangkauan sebarannya tidak terlalu luas, untuk berpindah tempat pada jarak yang relatif jauh dilakukan dengan furkula. Semua keterbatasan tersebut membuat beberapa anggota dari Collembola permukaan tanah bersifat endemik untuk suatu pulau atau kawasan tertentu, seperti genus Heteromorus persebaran di Indonesia baru dijumpai di Sumatera (Suhardjono et al. 2012). Kemudian satu spesies dari genus Homidia yaitu Homidia cingula tercatat di Indonesia persebarannya ada di Wai Lima dan Bogor (Suhardjono et al. 2012) (Gambar 6).

(25)

13 daya adaptasi tinggi dengan lingkungan barunya pada saat proeses persebaran maka sebarannya kosmopolitan. Salah satu Collembola permukaan tanah yang ditemukan dalam penelitian bersifat kosmopolitan adalah genus Folsomides dan Lepidocyrtus (Gambar 7). Berdasarkan habitatnya Collembola dikelompokkan menjadi eudafik (hidup permanen di dalam tanah), hemieudafik (hidup di tanah dan serasah) dan atmobiotik (hidup diatas dipermukaan tanah dan vegetasi) (Suhardjono et al 2012). Hasil dari identifikasi 13 genus Collembola permukaan tanah yang ditemukan, semuanya hidup pada serasah atau tanah (hemieudafik).

Pola Sebaran Collembola Permukaan Tanah

Pola sebaran suatu organisme adalah salah satu karakteristik yang penting dalam suatu komunitas ekologi. Hal ini merupakan suatu hal yang mendasar dari setiap kelompok organisme dan tahap awal dalam meneliti suatu komunitas. Terbentuknya suatu pola sebaran organisme dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah faktor vektorial yang disebabkan dari gabungan beberapa faktor lingkungan, faktor reproduksi yang berkaitan dengan model reproduksi dari suatu organisme, faktor sosial yang berkaitan prilaku organisme, faktor koaktif yang dihasilkan dari interaksi intraspesifik dan terakhir adalah faktor stokastik yang dihasilkan dari kombinasi beberapa faktor diatas (Rani 2003).

Hasil dari perhitungan indeks Morisita yang telah distandarisasi pada populasi Collembola permukaan tanah menunjukkan bahwa pola sebarannya mengelompok di setiap tipe ekosistem. Pola sebaran mengelompok menunjukkan bahwa setiap individu hidup berkumpul pada suatu habitat yang sesuai dengan kebutuhan atau menguntungkannya (Rani 2003). Dapat dipastikan bahwa semua tipe ekosistem yaitu secondary forest, junggel rubber, rubber plantation dan oil palm plantation merupakan habitat yang masih sesuai dengan kebutuhan Collembola permukaan tanah atau ada beberapa faktor lingkungan di semua ekosistem tersebut yang mendukung kehadiran Collembola permukaan tanah.

Selain itu faktor reproduksi Collembola permukaan tanah yang cepat juga mendukung terhadap pola sebarannya. Menurut Suhardjono et al. (2012) Collembola permukaan tanah secara umum bertelur setelah masa pembuahan selama 2-3 menit, Telur dilettakkan satu persatu atau berkelompok dalam gumpalan kecil pada permukaan serasah atau tanah dan tidak menutup kemungkinan peletakkan telur ditempat yang sudah ada telur-telur dari betina lain pada spesies yang sama. Collembola permukaan tanah bertelur 400-800 butir sepanjang hidupnya, telur akan menetas pada umumnya setelah 10-15 hari pada suhu normal

(26)

14

dengan produksi telur yang cukup banyak dan menetas dalam waktu yang tidak terlalu lama kemudian peletakan telur pada umumnya berkelompok antar individu pada spesies yang sama, sehingga membuat Collembola permukaan tanah sudah memiliki pola sebaran mengelompok pada saat menetas.

Kemudian prilaku sosial dari Collembola permukaan tanah yaitu prilaku agregasi dapat mengakibatkan persebarannya mengelompok. Ada dua hal utama yang membuat Collembola permukaan tanah beragregasi yaitu kondisi lingkungan yang menarik dan adanya feromon agregasi (Hopkin 1997). Agregasi Collembola permukaan tanah terjadi akibat rangsangan dari kondisi salah satu faktor tersebut yang menimbulkan daya tarik yang besar bagi mereka sehingga secara bersamaan mereka menuju dan hidup pada habitat yang sama.

Pengaruh Faktor Lingkungan

Keberadaan populasi Collembola permukaan tanah pada suatu ekosistem dapat dimanfaatkan sebagai bioindikator tingkat kesuburan dan keadaan tanah, karena Collembola permukaan tanah memiliki banyak peran di dalam ekosistem diantaranya adalah perombak bahan organik, pengikat ion-ion logam berat dan pengurai bahan beracun (Suhardjono et al. 2012). Selain itu keberadaan mereka dalam suatu ekosistem juga mengindikasikan bahwa ekosistem tersebut merupakan habitat yang sesuai dengan kebutuhannya. Pengukuran faktor lingkungan baik biotik maupun abiotik di setiap ekosistem dilakukan untuk mengetahui pengaruhnya terhadap keberadaan Collembola permukaan tanah.

Faktor lingkungan biotik yang diukur adalah strata vegetasi, spesies pohon penyusun, ketebalan serasah dan kerapatan tajuk. Selain kerapatan tajuk ketiga komponen penyusun dari faktor lingkungan boitik saling berkaitan. Menurut Suhardjono et al. (2012) bahwa komposisi tumbuhan atau pohon mempengaruhi keadaan lingkungan sekitarnya seperti strata vegetasi, kualitas dan ketebalan serasah sehingga secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap kehidupan Collembola permukaan tanah.

(27)

15 Kemudian faktor penting lainnya yang mempengaruhi kehadiran Collembola permukaan tanah adalah kelembaban udara, karena kelembaban merupakan penyebab utama rendahnya tingkat populasi Collembola permukaan tanah pada bulan-bulan kering (Rohyani 2012). Berdasarkan data pengamatan bahwa kelembaban di setiap ekosistem dipengaruhi oleh kerapatan tajuk, semakin tinggi kerapatan tajuk maka kelembaban udara semakin tinggi pula. Kelembaban minimum baik udara maupun tanah yang dibutuhkan untuk kelangsungan hidup Collembola permukaan tanah adalah 50%, sedangkan kelembaban maksimumnya adalah 100% (Haryoko 2010). Hasil dari pengukuran kelembaban udara pada empat tipe ekosistem diketahui bahwa kelembabannya berada diantara kelembaban minimum dan maksimum yang dikatakan oleh Haryoko (2010) yaitu 75% sampai 91%, sehingga kelembaban udara yang ada di setiap ekosistem sesuai dengan kebutuhan dari Collembola permukaan tanah.

Selain kelembaban faktor abiotik lainnya yang dipengaruhi oleh kerapatan tajuk adalah suhu udara dan suhu tanah, semakin tinggi kerapatan tajuk maka semakin rendah suhu udara dan suhu tanah. Faktor suhu udara dalam ekosistem turut mempengaruhi variasi keberadaan Collembola permukaan tanah, dari data yang didapat bahwa suhu udara berkisar antara 28.0oC 30.0oC. Menurut Riyanto (2007) kisaran suhu 25oC – 2oC merupakan suhu optimal dan toleran bagi aktivitas fauna tanah di daerah tropis. Kemudian suhu tanah merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan kehadiran dan kepadatan Collembola permukaan tanah. Suhu tanah akan menentukan tingkat dekomposisi material organik tanah. Secara tidak langsung terdapat hubungan antara kepadatan Collembola permukaan tanah dan suhu tanah, bila dekomposisi material organik tanah lebih cepat maka vegetasi akan lebih subur. Hasil dari pengukuran suhu tanah pada empat tipe ekosistem adalah berkisar antara 26.1oC – 27.8oC. Menurut Suin (1997) suhu tanah minimum yang mendukung kehidupan Collembola adalah -50oC, sedangkan suhu maksimumnya adalah 34oC sehingga suhu tanah yang ada di setiap ekosistem mendukung keberadaan dari Collembola permukaan tanah.

Faktor lingkungan abiotik yang terakhir diukur adalah keasaman tanah, dari hasil pengukuran keasaman tanah menunjukkan bahwa derajat keasaman tanah di setiap ekosistem adalah asam lemah dengan kisaran pH 4 – 5. Walaupun sifat tanah dari setiap ekosistem asam lemah akan tetapi banyak Collembola permukaan tanah yang ditemukan, hal ini disebabkan oleh sistem pencernaan atau saluran makanan (usus) yang khas dari Collembola permukaan tanah. Usus Collembola permukaan tanah terbagi menjadi tiga bagian utama dengan cairan di dalam usus yang memiliki derajat keasaman berbeda-beda yaitu usus depan dengan pH 5.4 – 6.9, usus tengah

dengan pH ≥ 8.2 dan usus belakang dengan pH ± 5, sehingga Collembola

permukaan tanah mampu hidup di habitat dengan tanah yang asam atau basa (Suhardjono et al. 2012), maka dapat dipastikan tingkat keasaman tanah pada empat ekosistem masih sesuai dengan kebutuhan Collembola permukaan tanah.

(28)

16

pasang tungkai yang bersegmen, akan tetapi tubuhnya tidak bersegmen. Setelah diidentifikasi dengan menggunakan Borror et al. (1996), total Acari yang ditemukan pada semua tipe ekosistem sebanyak 2 393 individu yang terdiri dari 4 sub ordo yaitu Acaridida, Orabatida, Gamasina dan Uropida (Gambar 8).

Hasil dari perhitungan dengan menggunakan metode presence-absence bahwa dari semua tipe ekosistem hanya ekosistem secondary forest yang tidak berasosiasi antara Collembola permukaan tanah dan Acari. Hal ini disebabkan karena pada minggu keempat pemanenan atau pengambilan sampel tidak ditemukan Acari dalam litterbag (Lampiran 6), sehingga mempengaruhi nilai frekuensi kehadiran Acari pada matriks kontingensi dan menyebabkan nilai uji � lebih kecil dari nilai � tabel pada derajat bebas 1 dan taraf nyata 5%. Untuk ketiga tipe ekosistem lainnya yaitu jungle rubber, rubber plantation dan oil palm plantation memiliki hubungan asosiasi karena nilai uji � lebih besar dari nilai � tabel. Hubungan asosiasi antara spesies dan spesies lainnya dapat menjadi suatu penciri untuk menentukan keberadaan spesies yang bersangkutan (Lestari 2011), sehingga jika di tiga tipe ekosistem tersebut ditemukan Collembola permukaan tanah karena kondisi lingkungan yang sesuai maka kemungkinan besar akan ditemukan pula Acari disekitarnya. Tipe hubungan asosiasi antara Collembola permukaan tanah dan acari di tiga tipe ekosistem tersebut adalah positif, Menurut Lestari (2011) jika suatu interaksi antara sepesies satu dan spesies lainnya memiliki tipe asosiasi positif maka keduanya memerlukan suatu kondisi yang sama. Hal ini menunjukkan bahwa Collembola permukaan tanah dan Acari memerlukan suatu kondisi yang sama.

Menurut Husaeni et al. (2006) hubungan antara Collembola permukaan tanah dan Acari adalah kompetisi interspesifik. Hubungan kompetisi interspesifik merupakan persaingan antara spesies yang berbeda dengan kebutuhan yang sama. Akan tetapi pendapat lain menyatakan bahwa hubungan antara Collembola permukaan tanah dan Acari adalah predasi (pemangsaan). Menurut Suhardjono et

(29)

17 al. (2012) Acari merupakan kelompok pemangsa utama dari Collembola permukaan tanah dan menjadi faktor utama dalam menentukan ukuran populasi Collembola permukaan tanah, karena seekor Acari mampu memangsa 2-14 ekor Collembola permukaan tanah. Terdapatnya dua bentuk asosiasi pada kedua spesies tersebut disebabkan oleh peran dari Acari yang berbeda-beda dari setiap sub ordo yang ditemukan. Dalam Borror et al. (1996) dikatakan bahwa kelompok Mesostigmata (Gamasida dan Uropida) merupakan kelompok acari yang hampir seluruh anggotanya merupakan predator bagi fauna tanah lain termasuk Collembola permukaan tanah dan banyak ditemukan di serasah dan tanah, sedangkan kelompok Astigmata (Acaridida) bukanlah pemangsa melainkan sebagian besar anggota merupakan parasit dan pembersih bahan yang membusuk. Kemudian sub ordo Oribatida berperan sebagai dekomposer, selain itu Oribatida merupakan salah satu acari yang menyukai mikroorganisme terutama jamur dan bakteri serta sisa tanaman (Farhana 2015). Oribatida mudah ditemukan di serasah, di bawah kulit kayu dan bebatuan serta di dalam tanah, dari total Acari yang ditemukan di semua tipe ekosistem hampir setengahnya adalah Oribatida yaitu sebanyak 1 007 individu.

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Kelimpahan jenis Collembola permukaan tanah rata-rata tertinggi terdapat pada ekosistem oil palm plantation sebanyak 72.0 individu. Jumlah individu Collembola permukaan tanah yang ditemukan di semua tipe ekosistem sebanyak 1 618 individu terdiri dari 13 genus dan 6 famili yaitu Cyphoderidae, Entomobryidae, Isotomidae, Oncopoduridae, Paronellidae, Dicyrtomidae serta 2 ordo yaitu Entomobyromorpha dan Symphypleona. Pola sebaran Collembola permukaan tanah di empat tipe ekosistem yaitu secondary forest, junggel rubber, rubber plantation dan oil palm plantation adalah mengelompok karena nilai dari �� > 0. Keberadaan Collembola permukaan tanah di setiap ekosistem tersebut sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor lingkungan diantaranya adalah strata vegetasi, spesies pohon penyusun, ketebalan serasah, kerapatan tajuk, kelembaban udara, suhu udara, suhu tanah dan keasaman tanah. Interaksi antara Collembola permukaan tanah dan Acari terjadi pada tiga ekosistem karena nilai uji � lebih besar dari nilai � tabel, tipe dan derajat asosiasi kedua spesies tersebut adalah positif maksimum sedangkan bentuk asosiasinya adalah kompetisi interspesifik dan predasi.

Saran

(30)

18

DAFTAR PUSTAKA

Berg B, McClaugherty C. 2008. Plant Litter: Decomposition Humus Formation, Carbon Sequestration. Ed ke-2. Germany (DE): Springer. 338 hlm.

Borror DJ, Charles AT, Norman FJ. 1996. Pengenalan Pelajaran Serangga. Partosoedjono S, penerjemah. Yogyakarta (ID): Gadjah Mada University Press. Terjemahan dari: An Introduction to Study of Insect.

Farhana J. 2015. Keragaman dan jumlah kelompok Acari tanah pada kebun kelapa sawit di PTPN VIII Cikasungka Kabupaten Bogor [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.

Greenslade PJ, Deharveng L, Bedos A, Suhardjono YR. 2000. Handbook of Collembola of Indonesia. (draf final). Tidak dipublikasi.

Haneda NF, Supriyanto, Kasno, Putra EI. 2013. Pemantauan Kesehatan Hutan. Bogor (ID): Laboratorium Entomologi Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.

Haryoko RW. 2010. Keanekaragaman dan distribusi Collembola permukaan lantai Gua Tegogo di Kaligesing, Purworejo, Jawa Tengah [skripsi]. Yogyakarta (ID). Universitas Atma Jaya.

Hopkin SP. 1997. Biology of the springtail (Insect: Collembola). Oxford (UK): Oxford University Press.

Husaeni EA, Kasno, Haneda NF, Rachmatsjah O. 2006. Pengantar Hama Hutan di Indonesia: Bio-Ekologi dan Teknik Pengendalian. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.

Jackson DA, Somers KM, Harvey HH. 1989. Similarity coefficients: measures of co-occurrence and association or simply measures of occurrence. The American Naturalist 133(3):436-453.

Jalaludin S. 1994. Feeding Systems Based on Oil Palm by Products. Proceeding of a symposium Science Congress Bali, Indonesia, July 11-16, 1994.

Jongjitvimol T, Boontawon K, Wandee W, Deowanish S. 2005. Nest dispersion of a stingless bee species, Trigona collina Smith, 1857 (Apidae, Meliponinae) in a mixed deciduous forest in Thailand. The Natural History Journal of Chulalongkon University 5(2): 69-71.

Lawrence KL, Wise DH. 2000. Spider predation on forest-floor Collembola and evidence for indirect effect on decomposition. Pedobiologia 44(1): 33-39. Lestari DP. 2011. Pola sebaran spasial jenis merbau (Intsia spp.) pada hutan primer

dan hutan bekas tebangan di arael IUPHHK-HA PT Mamberamo Alasmandiri, Provinsi Papua [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor. Ludwig JA, Reynolds JF. 1988. Statistical Ecology: A primer method and

computing. New York (US): John Wiley and Sons Inc.

Margono BA, Potapov PV, Turubanova S, Stolle F, Hansen MC. 2014. Primary forest cover loss in Indonesia over 2000-2012. Nature Clim Change. 4: 730-735.

Odum EP. 1971. Fundamentals of Ecology. Philadelphia (US): WB Sounders Company Ltd.

(31)

19 Rani C. 2003. Metode pengukuran dan analisis pola spasial (dispersi) organisme

bentik. Jurnal Protein 19: 1351-1368.

Riyanto. 2007. Kepadatan, pola distribusi dan peranan semut pada tanaman di sekitar lingkungan tempat tinggal. Jurnal Penelitian Sains 10(2): 241-253. Rohyani IS. 2012. Pemodelan spasial kelimpahan Collembola tanah pada area

revegetasi tambang PT Newmont Nusa Tenggara [tesis]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.

Room PM. 1975. Diversity and organization of the ground foraging ant faunas of forest, grassland, and tree crops in Papua New Guinea. Aust J. Zool. (23): 71-89.

Suhardjono YR. 1992. Fauna Collembola tanah di Pulau Bali dan Pulau Lombok [disertasi]. Jakarta (ID): Universitas Indonesia.

Suhardjono YR, Deharveng L, Bedos A. 2012. Biologi-Ekologi-Klasifikasi Collembola (Ekorpegas). Bogor (ID): VEGAMEDIA.

Suin NM. 1997. Ekologi Hewan Tanah. Jakarta (ID): Bumi Aksara.

Villamor GB, Pontius RG, Jr., Van Noordwijk M. 2014. Agroforest's growing role in reducing carbon losses from Jambi (Sumatera), Indonesia. Regional Environ Change. 14:825-834.

(32)

20

LAMPIRAN

Lampiran 1 Daftar jenis Collembola permukaan tanah yang ditemukan di empat tipe ekosistem Desa Bungku, Provinsi Jambi

Ordo Famili Genus Jumlah Persebaran Habitat

Entomobryomorpha

Cyphoderidae Cyphoderopsis 6 Jawa dan Sumatera Tanah dan gua

Entomobryidae

Ascocyrtus 33 Ambon, Halmahera, Jawa, Kei, Lombok, Papua, Sumatera Ternate dan Timor

Tanah dan serasah

Heteromorus 394 Sumatera Serasah

Homodia 649 Jawa dan Sumatera Tanah dan semak belukar

Lepidocyrtus 50 Jawa, Papua dan Sumatera Permukaan tanah Lepidosira 3 Ambon, Halmahera, Jawa, Papua, Seram,

Sumatera, Ternate dan Timor

Serasah atau humus yang lembab

Rambutsinella 9 Sulawesi, Sumatera dan Ternate Tanah dan serasah

Isotomidae

Folsomides 194 Ambon, Bali, Jawa, Papua, Sulawesi, Sumatera dan Ternate

Tanah dan gua

Isotomiella 8 Bali, Halmahera, Kei, Lombok, Papua, Sulawesi, Sumatera dan Ternate

Tanah dan serasah

Oncopoduridae Harlomillsia 3 Sulawesi dan Sumatera Serasah, tanah dan gua

Paronellidae

Bromocanthus 1 Ambon, Bali, Halmahera, Jawa, Ternate, Seram, Sulawesi dan Sumatera

Tanah

Callyntrura 124 Bali, Flores, Jawa, Kalimantan, Krakatau, Lombok, Sulawesi dan Sumatera

Permukaan tanah

(33)

21

Lampiran 2 Jenis Collembola permukaan tanah yang ditemukan di empat tipe ekosistem

Keterangan: (a) Cyphoderopsis; (b) Isotomiella; (c) Ascocyrtus; (d) Lepidosira; (e) Rambutsinella; (f) Harlomillsia; (g) Papiriodes; (h) Bromochantus; (i) Callyntrura (Path = ukuran panjang tubuh)

Lampiran 3 Data kelimpahan dan jumlah jenis Collembola permukaan tanah pada setiap ekosistem

Data Ekosistem Minggu ke- Jumlah Rata-rata

0 2 4 6 8 10 12

Kelimpahan jenis

Secondary forest 11 155 14 26 17 9 21 253 28.1 Jungle rubber 7 60 75 38 57 20 37 294 32.7 Rubber plantation 2 73 53 116 95 48 36 423 47.0 Oil palm plantation 1 33 67 456 37 15 39 648 72.0 Jumlah

jenis

Secondary forest 2 9 3 3 3 2 3 25 2.8

Jungle rubber 1 3 3 2 4 3 3 19 2.1

(34)

22

Lampiran 4 Jenis Acari yang ditemukan di empat tipe ekosistem sub ordo Oribatida

sub ordo Gamasida

sub ordo Uropida

Lampiran 5 Daftar jenis Acari permukaan tanah yang ditemukan di empat tipe ekosistem Desa Bungku, Provinsi Jambi

Kelas Ordo Sub Ordo Jumlah Peranan

Acari

Acarifomes Acaridia 457 Parasit dan detritivor Oribatida 1 007 Dekomposer

(35)

23

Lampiran 6 Frekuensi kehadiran Acari di semua tipe ekosistem Desa Bungku, Provinsi Jambi

Minggu

Ke− Secondary Forest Jungle Rubber Rubber Plantation Oil Palm Plantation

1A 1B 1C 2A 2B 2C 3A 3B 3C 1A 1B 1C 2A 2B 2C 3A 3B 3C 1A 1B 1C 2A 2B 2C 3A 3B 3C 1A 1B 1C 2A 2B 2C 3A 3B 3C

0 − − − − − − − − + − − − − − − + − − − − + − − − − − − − − + − − − − − −

2 + + + − + + − + + − + + + − − − − − − + − − + − − + − − + + − − − + − +

4 − − − − − − − − − − − − − + − − − − + − − − + + + − − − − − + − − − − −

6 − − − + − − − − − + − − − − − − + − + + + + + + + + + + + + + + + + + +

8 − − + + − − − − − + + + + + + − − − + + + − − + − + − + + − − − − + + +

10 + + + + + + + − + − − + − + − + + + + − + + + − − + + + + + + + − + + +

12 + + − − + + + + + − − − + − − + − − − − − − − + − + − − − − − + + + + −

(36)

24

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Kabupaten Bogor pada tanggal 03 Januari 1992 dari ayah Hasanudin dan ibu Heni. Penulis adalah anak kelima dari tujuh bersaudara. Tahun 2011 penulis lulus dari SMAN 1 Rumpin dan pada tahun yang sama pula penulis lulus seleksi masuk Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN-Undangan) dan diterima di Departemen Silvikultur Fakultas Kehutanan. Penulis adalah mahasiswa penerima beasiswa BIDIK MISI.

Selama mengikuti perkuliahan, penulis aktif di berbagai organisasi, yaitu sebagai anggota English Dormitory Club (EDC), Dewan Gedung Asrama Putra TPB IPB, anggota UKM Gentra Kaheman IPB, anggota Koperasi Mahasiswa IPB dan ketua Divisi Scientist Himpunan Profesi Tree Grower Community (TGC). Selain itu, penulis juga aktif dalam berbagai kepanitiaan yang terdiri dari panitia Jalan Pagi Sehat (JAPAS) tahun 2012, Bina Corps Rimbawan (BCR) tahun 2013, panitia Bersatu dalam Orientasi Anak Rimba (BELANTARA) tahun 2013, panitia Ekspedisi Flora dan Studi Ilmiah (EKSFLORASI) tahun 2013 dan 2014, serta panitia TGC In Action (TIA) tahun 2013 dan 2014. Penulis pernah melakukan program pengabdian masyarakat yang didanai oleh Dikti tahun 2013 dan 2014, Praktik Pengelolaan Ekosistem Hutan (PPEH) di Sancang Timur dan Papandayan pada tahun 2013, Praktik Pengelolaan Hutan (PPH) di Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW) pada tahun 2014 dan pernah melakukan Praktik Kerja Profesi (PKP) di PT Bumi Mekar Hijau, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Provinsi Sumatera Selatan pada bulan Februari–April tahun 2015. Selain itu juga pernah menjadi asisten praktikum di beberapa matakuliah seperti Dendrologi 2014─2015, Ilmu Hama Hutan 2014–2015, Perlindungan Hutan 2014–2015, PPEH 2015 dan Ekologi Hutan 2016. Penulis melakukan penyelesaian skripsi untuk memperoleh gelar

Figur

Gambar 1 Peta lokasi penelitian

Gambar 1

Peta lokasi penelitian p.14
Gambar 3 Corong Berlese Tullgren.

Gambar 3

Corong Berlese Tullgren. p.16
Gambar 8 Jenis sub ordo Acari yang ditemukan (a) Acaridida, (b) Oribatida,

Gambar 8

Jenis sub ordo Acari yang ditemukan (a) Acaridida, (b) Oribatida, p.28

Referensi

Pindai kode QR dengan aplikasi 1PDF
untuk diunduh sekarang

Instal aplikasi 1PDF di