• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bantuan Dana bagi Partai Politik

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Bantuan Dana bagi Partai Politik"

Copied!
1
0
0

Teks penuh

(1)

23

Kontan

Jumat, 27 Maret 2015

Opini

Bantuan Dana bagi Partai Politik

M

enteri Dalam Negeri me-lontarkan usulan agar setiap partai memperoleh bantuan dana senilai Rp 1 triliun dari negara. Sayangnya, lontaran politisi PDI Perjuangan ini tidak disertai penjelasan yang memadai mengenai kondisi partai politik saat ini serta bagaimana bantuan dana itu dapat memperbaikinya.

Sesungguhnya, dana bantuan negara untuk partai politik bukan-lah sesuatu yang baru. Sesuai de-ngan UU No 2/ 2011 tentang Partai Politik, terdapat tiga sumber dana partai politik, yakni iuran anggota, sumbangan, dan bantuan negara. Berdasarkan PP No 5/2009 jo PP No 83/2012, setiap partai politik di tingkat nasional berhak memper-oleh bantuan Rp 108 untuk setiap suara sah di pemilu.

Jumlah itu dinilai sangat kecil, sementara iuran anggota pun ti-dak dapat diharapkan. Akhirnya, partai politik bergantung pada sumbangan para pemodal. Sum-bangan itu tidak gratis, sehingga partai politik dan parlemen dido-minasi para pengusaha dan mere-ka berlimpah harta. Muncul tu-dingan, partai politik dijalankan bak mengelola perusahaan.

Ketergantungan kepada pemo-dal ini kerap membuat partai

poli-tik mengenyampingkan fungsinya sebagai agregator dan artikulator suara rakyat, terutama saat terjadi benturan kepentingan antara kon-stituen dengan para penyandang dananya. Suara menolak bantuan dana dilatarbelakangi oleh kerap-nya ketidakhadiran parpol saat masyarakat butuh dukungan.

Penyokong gagasan bantuan dana untuk partai politik menda-lilkan beragam alasan. Pertama, kebijakan ini akan mendorong kemandirian partai politik. De-ngan bantuan dana dari negara, ketergantungan partai politik ke-pada penyandang dana berkurang, sehingga dapat mengutamakan pelaksanaan fungsinya untuk per-juangkan kepentingan rakyat.

Kedua, mengurangi potensi ko-rupsi kader partai politik di legis-latif dan eksekutif yang selama ini “dipaksa” mencari tambahan dana untuk membiayai operasional ke-giatan partai politiknya. Jamak dipercaya, keterlibatan kader par-tai politik dalam beragam kasus korupsi berkaitan erat dengan besarnya ongkos politik yang di-keluarkan. Bantuan dana dari ne-gara diharapkan menurunkan ke-butuhan ongkos politik, sehingga nafsu korupsi pun mengendur.

Ketiga, bantuan dana dari nega-ra memungkinkan partai politik melakukan perekrutan dan kade-risasi lebih baik. Karena besarnya ongkos politik, selama ini hanya

mereka yang berharta yang bisa berkuasa di partai politik dan ma-suk parlemen. Kondisi ini tentu merugikan rakyat karena para aktivis yang aktif memperjuang-kan kepentingan mereka menjadi tersingkirkan karena keterbatas-an kemampuketerbatas-an fi nketerbatas-ansial.

Keempat, dengan bantuan dana dari negara, masyarakat akan le-bih memiliki hak moral untuk be-rani menuntut transparansi dan akuntabilitas penggunaan dana.

Mengelola bantuan dana

Apabila bantuan dana dari nega-ra untuk partai politik nanti dise-pakati, beberapa aturan ketat perlu ditetapkan agar apa yang diniatkan dengan penggelontoran dana tersebut tidak sia-sia.

Pertama, kriteria partai politik calon penerima bantuan dana ha-ruslah jelas. Hal ini untuk mence-gah para petualang politik berbon-dong-bondong mendirikan partai politik, padahal sistem politik kita

justru dirancang menuju penye-derhanaan jumlah partai politik.

Kedua, perlu ditentukan jumlah bantuan dana yang akan diberi-kan. Apakah setiap partai politik akan menerima jumlah yang sama atau disesuaikan dengan peroleh-an suara dalam pemilu.

Ketiga, laporan keuangan ban-tuan dana partai politik haruslah diaudit oleh akuntan publik. Mes-kipun kualitasnya masih jauh dari harapan, sesungguhnya hal ini bukanlah praktik baru. Berdasar-kan UU No. 2/ 2011, setiap peng-gunaan dana bantuan dari negara haruslah diaudit oleh BPK.

Keempat, melaporkan penggu-naannya kepada publik. Selama ini, partai politik terkesan enggan melaporkan penerimaan dan penggunaan dananya. Bahkan, masyarakat sampai harus melapor ke Komisi Informasi Pusat untuk memaksa partai politik menyerah-kan laporan keuangannya.

Terakhir, harus diatur sanksi untuk penyelewengan atas penge-lolaan bantuan dana dari negara, baik berupa administratif untuk kelalaian, atau sanksi pidana jika terdapat tindak pidana korupsi dalam penggunaannya.

Bantuan dana dari negara ini haruslah sekadar komplemen, se-hingga partai politik tetap perlu bekerja keras sehingga masyara-kat tidak ragu bergabung dan ber-iuran menghidupi partainya. ■

Ali Mutasowifi n,

Dosen Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB

Bantuan dana dari

negara ini haruslah

sekadar

komplemen.

mkeu

Herlin Panjaya,

Patunuang, Wajo, Makassar

Dr. Anajanti,

Ketua STMIK WIT, Lemahwungkuk, Cirebon

Sisan Pradono,

Jl Dewi Sartika, Cawang, Jakarta Timur

Hp 0812805xxxx

Hp 0811223xxxx

Referensi

Dokumen terkait

Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengetahui komposisi kimia daging teripang, (2) Mendapatkan ekstrak, hidrolisat, dan isolat protein teripang

Pada posisi 3 dan 4 memiliki hasil yang terbalik dimana pada posisi 4 memiliki daya kincir yang lebih tinggi dari pada posisi 3, ini memiliki kasus yang sama

[r]

Dengan mengamati interaksi yang terjadi di Perguruan Kristen Methodist Banda Aceh, penulis merumuskan model konstruksi harmoni dalam relasi lintas agama dengan

Keluarga memberikan dukungan informasional dengan cara memberikan informasi untuk minum obat dengan teratur. Sebagian besar partisipan mengungkapkan bahwa kunjungan rumah

Ada empat bagian yang membentuk kerabang telur, yaitu (a) kutikula, lapisan tipis sekali (3--10 mikron) dan tidak mempunyai pori-pori, tetapi sifatnya dapat dilalui gas; (b)

Dari hasil pengujian SEM untuk perbesaran rendah, seperti ditunjukkan oleh Gambar 3, terlihat bahwa semakin lama waktu ultrasonikasi, diperoleh lapisan lembaran

Penelitian dilakukan untuk mencari jenis, bentuk, dan penyebab kesalahan penggunaan struktur frasa subordinatif pewatas-inti bahasa Mandarin pada kalimat pembelajar yang