Manajemen Keuangan dan Kepuasan Keuangan Istri pada Keluarga dengan Suami Istri Bekerja

78 

Teks penuh

(1)

MANAJEMEN KEUANGAN DAN KEPUASAN KEUANGAN

ISTRI PADA KELUARGA DENGAN SUAMI ISTRI BEKERJA

FITRI APRILIANA HAKIM

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)
(3)

PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN

SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis berjudul Manajemen Keuangan dan Kepuasan Keuangan Istri pada Keluarga dengan Suami Istri Bekerja adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

Bogor, November 2014

Fitri Apriliana Hakim

(4)

RINGKASAN

FITRI APRILIANA HAKIM. Manajemen Keuangan dan Kepuasan Keuangan Istri pada Keluarga dengan Suami Istri Bekerja. Dibimbing oleh EUIS SUNARTI dan TIN HERAWATI.

Meningkatnya jumlah wanita yang bekerja menggambarkan semakin meningkatnya kesempatan wanita untuk bekerja di sektor publik. Salah satu faktor yang membuat wanita bekerja adalah untuk pemenuhan kebutuhan ekonomi keluarga. Namun, keterlibatan wanita dalam lapangan pekerjaan membuat wanita memiliki peran ganda, yaitu peran di sektor publik sebagai pekerja dan peran di sektor domestik sebagai istri dan ibu. Salah satu peran wanita sebagai istri adalah mengelola sumberdaya keluarga untuk mencapai tujuan keluarga. Salah satu sumberdaya yang harus dikelola adalah sumberdaya keuangan. Istri harus melakukan manajemen keuangan keluarga dengan baik agar tercapai kesejahteraan keluarga dan secara pribadi agar mencapai kepuasan keuangan.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis manajemen keuangan dan kepuasan keuangan istri pada keluarga dengan suami istri bekerja. Penelitian ini merupakan bagian dari penelitian bersama dengan tema keseimbangan kerja-keluarga dan lingkungan pengasuhan pada kerja-keluarga dengan suami istri bekerja. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional study. Penentuan lokasi dilakukan secara purposive di Kecamatan Bogor Barat dan Kecamatan Bogor Tengah. Pengumpulan data dilakukan pada bulan Februari – April 2014. Contoh dalam penelitian ini adalah ibu bekerja yang memiliki anak terakhir usia 0 – 6 tahun dengan jenis pekerjaan formal atau informal pada keluarga dengan suami istri bekerja. Teknik penarikan contoh dilakukan secara stratified non-proporsional random sampling sejumlah 120 orang.

Hasil penelitian menunjukkan istri yang bekerja di sektor formal melakukan manajemen keuangan lebih baik sehingga tingkat kepuasan keuangan lebih tinggi dibandingkan dengan istri yang bekerja di sektor informal. Hal tersebut karena tingkat pendidikan dan pendapadan per kapita istri yang bekerja di sektor formal lebih tinggi dibandingkan dengan istri yang bekerja di sektor informal. Tingkat pendidikan istri dan pendapatan per kapita berhubungan positif dengan manajemen keuangan. Semakin tinggi tingkat pendidikan istri dan pendapatan per kapita, maka semakin baik manajemen keuangan yang dilakukan.

Besar keluarga, usia istri, dan lama pernikahan berhubungan negatif dengan manajemen keuangan. Semakin besar jumlah anggota keluarga, semakin rendah manajemen keuangan yang dilakukan. Semakin tua istri, semakin lama usia pernikahannya, maka semakin rendah manajemen keuangan yang dilakukan. Hasil uji pengaruh menunjukkan bahwa manajemen keuangan berpengaruh terhadap kepuasan keuangan istri. Semakin baik manajemen keuangan yang dilakukan, maka kepuasan keuangan istri semakin tinggi. Pengetahuan tentang manajemen keuangan perlu diberikan oleh instansi terkait keluarga dan perguruan tinggi kepada keluarga dengan pendapatan dan pendidikan rendah agar mencapai kepuasan keuangan.

(5)

SUMMARY

FITRI APRILIANA HAKIM. Financial Management and Wife’s Financial Satisfaction of Dual Earner Families. Supervised by EUIS SUNARTI and TIN HERAWATI.

The increasing of women working illustrated the increasing of opportunities for women working in the public sector. One of factors that make women worked to meet the needs of the family economy. The involvement of women in employment made women have a dual role, in public sector as workers and in domestic sector as wife and mother. One of the roles of women as wives managed resources to achieve family goals. One of the resources that must managed financial resources. Wife had to do with a family financial management in order to achieve well-being of families and wife’s financial satisfaction.

The purpose of this study was to analyze financial management and wife's financial satisfaction in dual earner families. The research is part of a joint research with the theme of the work-family balance and parenting environment in dual earner families. The research design was a cross sectional study. Location determination is purposive in Bogor District of West and Central Bogor. Data collected from February until April 2014. Samples in this study were working mothers who have children past the age of 0-6 years with the job type is formal or informal in dual earner familie in Bogor District of West and Central Bogor. Samples of selected non-proportional stratified random sampling with a sample number of 120 people.

The result of this study showed that the wife worked in the formal sector make better financial management so that a higher level of financial satisfaction than wives who work in the informal sector. This is because the level of education and per capita income wives who work in the formal sector is higher than the wife who works in the informal sector. The level of wife’s education and per capita income positively correlated with financial management. The higher the level of

wife’s education and per capita income made the better financial management. Large families, wife’s age, and length of marriage negatively correlated with financial management. The greater the number of family members made the lower the financial management. The older wife and the longer the age of marriage made the lower the financial management. Financial management and wife’s education had significant positively influenced on wife's financial satisfaction. The better financial management and the higher wife’s education made the higher the wife's financial satisfaction. Knowledge of financial management should be give by the relevant institutions and universities to families with low income and education in order to attain financial satisfaction.

(6)

© Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2014

Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan IPB

(7)

Tesis

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains

pada

Program Studi Ilmu Keluarga dan Perkembangan Anak

MANAJEMEN KEUANGAN DAN KEPUASAN KEUANGAN

ISTRI PADA KELUARGA DENGAN SUAMI ISTRI BEKERJA

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR 2014

(8)
(9)

Judul Tesis : Manajemen Keuangan dan Kepuasan Keuangan Istri pada Keluarga dengan Suami Istri Bekerja

Nama : Fitri Apriliana Hakim NIM : I251130136

Disetujui oleh Komisi Pembimbing

Prof Dr Ir Euis Sunarti, MS Ketua

Dr Tin Herawati, SP, MSi Anggota

Diketahui oleh

Ketua Program Studi Ilmu Keluarga dan Perkembangan Anak

Dr Ir Herien Puspitawati, MSc, MSc

Dekan Sekolah Pascasarjana

Dr Ir Dahrul Syah, MScAgr

(10)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala karunia-Nya sehingga tesis ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan pada bulan Desember 2013 hingga Agustus 2014 ini adalah keseimbangan kerja-keluarga dan lingkungan pengasuhan pada keluarga dengan suami istri bekerja dengan judul Manajemen Keuangan dan Kepuasan Keuangan Istri pada Keluarga dengan Suami Istri Bekerja.

Terima kasih penulis ucapkan kepada Prof Dr Ir Euis Sunarti, MS dan Dr Tin Herawati, SP, MSi selaku pembimbing yang telah banyak memberikan perhatian, saran, arahan, dan motivasi kepada penulis, sehingga penulisan tesis ini menjadi lebih baik.

Di samping itu, penulis ucapkan terima kasih kepada kedua orangtua dan keluarga besar yang senantiasa mendoakan dan memberikan motivasi bagi keberhasilan penulisan tesis ini. Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada suami tercinta, atas segala doa, kesabaran, perhatian, motivasi, dan kasih sayangnya yang tidak pernah berhenti.

Selain itu, ucapan terima kasih disampaikan kepada rekan penelitian yaitu Risda Rizkillah dan Fitri Meliani yang senantiasa memberikan saran, masukan, dan motivasi untuk bersama-sama mencapai target penelitian, serta teman-teman

IKA ’05 atas saran dan masukan yang telah diberikan. Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.

Bogor, November 2014

(11)

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL xiii

DAFTAR GAMBAR xiii

DAFTAR LAMPIRAN xiv

PENDAHULUAN 1

Latar Belakang 1

Perumusan Masalah 3

Tujuan Penelitian 4

Manfaat Penelitian 5

TINJAUAN PUSTAKA 5

Pengertian Keluarga 5

Teori Struktur Fungsional 6

Teori Sosial Konflik 7

Teori Gender 8

Karakteristik Pekerjaan Istri 8

Manajemen 9

Manajemen Keuangan 11

Kepuasan Keuangan 13

Penelitian Terdahulu 14

KERANGKA PIKIR 16

METODE 17

Disain, Lokasi, dan Waktu Penelitian 17

Contoh dan Teknik Penarikan Contoh 17

Jenis dan Cara Pengumpulan Data 18

Pengolahan dan Analisis Data 20

DEFINISI OPERASIONAL 21

PERBEDAAN MANAJEMEN KEUANGAN DAN KEPUASAN KEUANGAN ISTRI MENURUT JENIS PEKERJAAN PADA KELUARGA DENGAN

SUAMI ISTRI BEKERJA 23

Pendahuluan 24

Metode Penelitian 25

Hasil 27

Pembahasan 32

Simpulan 34

PENGARUH KARAKTERISTIK KELUARGA DAN MANAJEMEN KEUANGAN TERHADAP KEPUASAN KEUANGAN ISTRI PADA

KELUARGA DENGAN SUAMI ISTRI BEKERJA 35

Pendahuluan 36

(12)

Hasil 40

Pembahasan 50

Simpulan 52

PEMBAHASAN UMUM 52

SIMPULAN DAN SARAN 56

Simpulan 56

Saran 57

DAFTAR PUSTAKA 57

LAMPIRAN 61

(13)

DAFTAR TABEL

1. Penelitian terdahulu 14

2. Variabel, skala, dan kategori data 19

3. Hasil uji beda item karakterisitik keluarga berdasarkan jenis pekerjaan 27

4. Hasil uji beda item karakteristik pekerjaan istri berdasarkan jenis

pekerjaan 28

5. Sebaran contoh (%) berdasarkan jam kerja menurut jenis pekerjaan 28

6. Hasil uji beda item rataan capaian manajemen keuangan berdasarkan

jenis pekerjaan 29

7. Sebaran contoh (%) berdasarkan kategori capaian manajemen keuangan

menurut jenis pekerjaan 30

8. Sebaran contoh (%) berdasarkan kategori kepuasan keuangan istri

menurut jenis pekerjaan 31

9. Hasil uji beda rataan capaian item kepuasan keuangan berdasarkan jenis

pekerjaan 31

10. Persamaan regresi linear berganda 39

11. Sebaran rataan karakteristik keluarga 40

12. Sebaran rataan capaian manajemen keuangan berdasarkan item

pernyataan 41

13. Sebaran contoh berdasarkan kategori capaian manajemen keuangan 42

14. Sebaran rataan capaian kepuasan keuangan istri berdasarkan item

pernyataan 42

15. Sebaran contoh berdasarkan kategori tingkat kepuasan keuangan istri 43

16. Koefisien korelasi antarvariabel penelitian 43

17. Koefisien regresi pengaruh karakteristik keluarga dan jenis pekerjaan

istri terhadap manajemen keuangan 44

18. Koefisien regresi pengaruh karakteristik keluarga terhadap manajemen

keuangan berdasarkan jenis pekerjaan 45

19. Koefisien regresi pengaruh karakteristik keluarga, jenis pekerjaan istri, dan manajemen keuangan terhadap kepuasan keuangan istri 46

20. Koefisien regresi pengaruh karakteristik keluarga dan manajemen keuangan terhadap kepuasan keuangan istri berdasarkan jenis pekerjaan 46

21. Koefisien regresi pengaruh subvariabel manajemen keuangan dan jenis pekerjaan istri terhadap kepuasan keuangan istri 47

22. Koefisien regresi pengaruh subvariabel manajemen keuangan terhadap kepuasan keuangan istri berdasarkan jenis pekerjaan 48

23. Koefisien regresi pengaruh karakteristik keluarga, subvariabel manajemen keuangan, dan jenis pekerjaan istri terhadap kepuasan

keuangan istri 48

24. Koefisien regresi pengaruh karakteristik keluarga dan subvariabel manajemen keuangan terhadap kepuasan keuangan istri berdasarkan

(14)

DAFTAR GAMBAR

1. Sistem keluarga dengan penekanan subsistem manajerial (Deacon dan

Firebaugh 1988) 10

2. Model manajemen keuangan (Goldsmith 2010) 12

3. Kerangka pikir penelitian 17

4. Teknik penarikan contoh istri bekerja di Kota Bogor 18

DAFTAR LAMPIRAN

1. Sebaran contoh berdasarkan kelompok usia menurut jenis pekerjaan 62

2. Sebaran contoh berdasarkan kelompok pendidikan menurut jenis

pekerjaan 62

3. Sebaran contoh berdasarkan pekerjaan menurut jenis pekerjaan 62

4. Sebaran contoh berdasarkan pendapatan per kapita per bulan menurut

jenis pekerjaan 62

5. Sebaran contoh berdasarkan besar keluarga menurut jenis pekerjaan 63

6. Sebaran contoh berdasarkan lama pernikahan menurut jenis pekerjaan 63

(15)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Seiring dengan tingkat modernisasi yang begitu cepat, maka semakin meningkat kesempatan masyarakat untuk memperoleh pendidikan yang lebih tinggi termasuk kaum wanita. Dengan meningkatnya pendidikan wanita dan semakin luasnya kesempatan kerja, maka semakin banyak wanita yang memasuki lapangan pekerjaan. Sesuai data Sakernas, jumlah penduduk yang bekerja selama tiga tahun (2008-2010) cenderung mengalami peningkatan yakni dari 102.01 juta orang pada tahun 2008 menjadi 107.41 juta orang pada tahun 2010. Jika dilihat menurut jenis kelamin, pada tahun 2010 komposisi penduduk yang bekerja dengan jenis kelamin laki-laki lebih besar daripada perempuan yaitu 61.42 persen dan 38.58 persen. Namun, dari tahun 2008-2010, persentase perempuan yang bekerja mengalami peningkatan sebesar 0.68 persen, sedangkan persentase laki-laki yang bekerja mengalami penurunan sebesar 0.68 persen (Depnakertrans 2012). Angkatan kerja wanita di Kota Bogor pada tahun 2012 sejumlah 134 038 orang, sedangkan wanita yang bekerja sejumlah 121 581 orang (BPS Kota Bogor 2013). Hal tersebut mengindikasikan bahwa kesempatan bekerja untuk wanita terus meningkat, sehingga diprediksi jumlah wanita bekerja akan mengalami peningkatan pada masa mendatang. Hal ini diakibatkan adanya tuntutan ekonomi yang membuat perempuan harus bekerja di luar rumah. Adanya motif ekonomi yaitu untuk pemenuhan kebutuhan keluarga menjadi alasan utama wanita untuk bekerja sehingga wanita harus membagi waktu antara peran domestik dan peran publik (Sunarti et al. 2013). Selain pemenuhan kebutuhan ekonomi keluarga, faktor kesempatan kerja juga melandasi wanita untuk bekerja di sektor publik (Sudarwati 2003). Dengan demikian, bekerja dipandang sebagai wujud kontribusi wanita terhadap perekonomian keluarga.

Pendapatan suami yang rendah mengakibatkan pemenuhan kebutuhan ekonomi rumah tangga kurang terpenuhi sehingga mendorong istri untuk berusaha memenuhi kekurangan tersebut dengan bekerja (Nugraheni 2012). Selain itu, jumlah anggota keluarga yang semakin besar dan tingkat pendidikan yang tinggi menjadikan peran wanita semakin besar dalam membantu ekonomi keluarga. Pada tahun 2012, angka sumbangan pendapatan wanita mencapai 34.70 persen atau meningkat sebesar 0.54 persen dari tahun 2011. Hal ini terjadi karena dua faktor yang mempengaruhinya, yaitu faktor angkatan kerja dan upah yang diterima (Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak 2013).

(16)

2

sektor informal masih memiliki cukup waktu untuk mengurus rumah dan mengasuh anak. Sebuah data menunjukkan persentase wanita yang bekerja di sektor informal dari tahun 2001-2009 mengalami peningkatan sebesar 3.54 persen (ILO 2010).

Pada tahun 2012, wanita yang bekerja baik di sektor formal maupun informal rata-rata upah atau pendapatan bersih yang diterima setiap bulan sebesar Rp1 249 juta, jumlah ini lebih kecil dibandingkan laki-laki yaitu sebesar Rp1 552 juta (Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak 2013). Namun, meski upah yang diterima wanita rendah, masih banyak wanita yang tetap mumutuskan untuk bekerja. Hal ini diduga karena alokasi sumberdaya yang dimiliki keluarga tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dan standar hidup meraka. Adanya perbedaan jumlah pendapatan dengan kebutuhan hidup yang harus dipenuhi maka memunculkan kesulitan ekonomi yang dialami keluarga. Kesulitan ekonomi yang terjadi menjadi landasan utama munculnya tekanan ekonomi. Pendapatan yang rendah dan berkurangnya pendapatan juga memberikan efek yang sama pada tekanan ekonomi (Elder et al. 1992). Keluarga dengan pendapatan yang rendah dapat mengurangi tekanan ekonomi dengan mengurangi pengeluaran pangan maupun nonpangan atau menambah pendapatan keluarga dengan pola nafkah ganda. Keluarga dengan pendapatan yang tetap dapat meminimalisir tekanan ekonomi dengan melakukan manajemen keuangan keluarga dengan baik.

Manajemen keuangan dapat diawali dengan perencanaan keuangan dalam satu bulan. Namun, tidak semua keluarga membuat perencanaan keuangan, karena perencanaan keuangan dianggap tidak perlu dilakukan dengan asumsi setiap bulan pengeluaran sama atau pendapatan yang diterima tidak menentu. Minat yang mendorong istri membuat perencanaan keuangan keluarga dipengaruhi oleh faktor pendidikan, kepribadian, pendapatan, dan pola pikir (Yohnson 2004). Semakin tinggi pendidikan yang dimiliki oleh seseorang, maka semakin tinggi minatnya untuk membuat perencanaan keuangan keluarga. Tingginya pendidikan juga akan membedakan pengetahuan seseorang tentang keuangan keluarga. Pengetahuan tentang keuangan berhubugan dengan perilaku manajemen keuangan (Titus et al.

1989).

Manajemen keuangan yang baik dapat diprediksi dari perilaku dan pengetahuan tentang keuangan (Parrotta dan Johnson 1998). Untuk dapat melakukan manajemen keuangan keluarga yang baik dibutuhkan pengetahuan manajemen keuangan. Setiap keluarga pasti menginginkan kehidupan dengan kondisi keuangan yang mapan, sehingga dibutuhkan manajemen keuangan yang baik. Pentingnya melakukan perencanaan keuangan agar ketika terjadi hal-hal di luar perkiraan, maka keluarga tidak bingung dan dapat menanggulanginya dengan baik. Perencanaan keuangan juga memiliki tujuan, yaitu tujuan jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang.

(17)

3 keuangan dengan baik maka istri akan merasa puas dengan keuangannya, namun akan berbeda pada istri yang tidak mampu melakukan manajemen keuangan dengan baik akan tidak puas dengan keuangannya meski pendapatannya tinggi. Oleh karena itu, dalam penelitian ini ingin melihat pengaruh manajemen keuangan terhadap kepuasan keuangan istri pada keluarga dengan suami istri bekerja.

Perumusan Masalah

Kebutuhan hidup yang semakin meningkat membuat keluarga harus membuat pilihan yang sulit, yaitu apakah keluarga harus berhutang, mengurangi pengeluaran, atau menambah pendapatan keluarga dengan pola nafkah ganda. Alasan ekonomi menjadi alasan utama seorang istri memutuskan untuk berperan ganda. Pendapatan suami yang rendah mengakibatkan pemenuhan kebutuhan ekonomi rumah tangga belum terpenuhi sehingga mendorong istri berusaha memenuhi kekurangan tersebut dengan bekerja (Nugraheni 2012). Selain itu, jumlah anggota keluarga yang semakin besar dan tingkat pendidikan yang tinggi menjadikan peran wanita semakin besar dalam membantu ekonomi keluarga. Namun, dengan istri yang bekerja di area publik, memiliki konsekuensi sendiri, dimana waktu untuk keluarga seperti mengurus rumah dan mengasuh anak menjadi berkurang. Goldsmith (2001) mengatakan bahwa kerja dapat mengganggu kehidupan keluarga dan begitu juga sebaliknya, keluarga dapat mengganggu kerja. Banyak keluarga yang merasa tertekan terhadap waktu dan stress untuk mengatasi konflik kerja dan tuntutan keluarga. Hasil penelitian Vallone dan Donaldson (2001) menyebutkan bahwa orangtua yang memiliki anak dengan usia dibawah enam tahun merasa memiliki banyak konflik antara pekerjaan dengan tuntutan pekerjaan.

Konflik kerja-keluarga yang muncul karena istri bekerja tidak menjadi alasan seorang istri untuk memilih tidak bekerja. Namun, karena tekanan ekonomi yang dialami oleh keluarga, tidak membuat istri untuk mundur dari lapangan pekerjaan. Tekanan ekonomi yang dialami keluarga muncul karena adanya perbedaan antara pendapatan dengan kebutuhan keluarga yang tinggi, pekerjaan yang tidak stabil, dan perubahan pendapatan yang merugikan. Secara umum tekanan ekonomi yang terjadi di dalam keluarga dapat dikurangi dengan melakukan pengurangan pengeluaran atau menambah pendapatan keluarga. Selain melakukan pengurangan pengeluaran dan penghematan, untuk mengurangi tekanan ekonomi yang terjadi, keluarga dapat melakukan praktek-praktek manajemen keuangan yang baik. Namun, masih banyak orang memiliki pandangan bahwa perencanaan keuangan hanya untuk orang kaya dan orang yang akan pensiun. Minat seseorang dalam membuat perencanaan keuangan keluarga dipengaruhi oleh tingkat pendidikan. Semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin tinggi orang untuk melakukan perencanaan keuangan (Yohnson 2004). Kurangnya pengetahuan tentang prinsip-prinsip pengelolaan keuangan dan masalah keuangan membuat beberapa keluarga tidak mengikuti praktek-praktek keuangan yang telah dianjurkan (Hilgert dan Hogarth 2003).

(18)

4

tidak adanya tabungan, dan tidak adanya persiapan dana di hari tua (Garman dan Irine 1996 dalam Ika 2011). Sebagian besar keluarga tidak melakukan pencatatan keuangan, sehingga mengindikasikan perencanaan keuangan yang tidak komprehensif, namun berdasarkan kebutuhan sesaat atau insidentil. Selain itu, mayoritas keluarga kurang memikirkan perencaan hari tua, karena perencanaan keuangan hanya berorientasi kebutuhan jangka pendek, bahkan sebagian besar keluarga berpendapat setelah pensiun menerima uang pesangon dari perusahaan tanpa mempertimbangkan dampak inflansi tiap tahun (Joko 2012). Pada tahun 2007, 26 persen masyarakat Indonesia tidak merencanakan masa pensiun, enam dari sepuluh tidak mengetahui apakah tabungan mereka cukup untuk kebutuhan keuangan saat pensiun nanti dan hanya 29 persen membuat dan mematuhi anggaran bulanan (Sundjaja et al. 2011). Dengan demikian, terlihat masih rendahnya kesadaran akan pentingnya perencanaan keuangan keluarga sehingga akan menimbulkan masalah keuangan dan akhirnya ketidakpuasan terhadap keuangan keluarga. Kepuasan keuangan ditentukan oleh faktor demografi seperti pendapatan, pendidikan, etnis, dan usia, serta stres keuangan, pengetahuan keuangan, sikap dan perilaku keuangan. Tingginya tingkat pengetahuan dan praktek manajemen keuangan berhubungan langsung dengan peningkatan tingkat kepuasan keuangan (Joo dan Grable 2004; Loibl dan Hira 2005). Perilaku keuangan memiliki lebih banyak efek yang signifikan dan langsung pada kepuasan keuangan dari tingkat pendapatan rumah tangga atau faktor demografis lainnya (Joo dan Grable 2004). Selain itu, stres keuangan, seperti penurunan pendapatan, menjadi sakit, atau kehilangan pekerjaan, dapat meningkatkan total tingkat stres seseorang (Nesteruk dan Garrison 2005), yang pada gilirannya dapat menyebabkan penurunan kepuasan keuangan (Joo dan Grable 2004).

Berdasarkan uraian tersebut, dirumuskan beberapa pertanyaan yang ingin dijawab dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut:

1. Bagaimana karakteristik keluarga, karakteristik pekerjaan istri, manajemen keuangan, dan kepuasan keuangan istri pada keluarga dengan suami istri bekerja?

2. Adakah perbedaan karakteristik keluarga, manajemen keuangan, dan kepuasan keuangan istri antara istri yang bekerja di sektor formal dengan informal? 3. Adakah hubungan antara karakteristik keluarga dan manajemen keuangan

dengan kepuasan keuangan istri?

4. Adakah pengaruh karakteristik keluarga dan manajemen keuangan terhadap kepuasan keuangan istri?

Tujuan Penelitian

Tujuan Umum

(19)

5

Tujuan Khusus

Adapun tujuan khusus dari penelitian ini adalah:

1. Menganalisis karakteristik keluarga, karakteristik pekerjaan istri, manajemen keuangan, dan kepuasan keuangan istri pada keluarga dengan suami istri bekerja.

2. Menganalisis perbedaan karakteristik keluarga, karakteristik pekerjaan istri, manajemen keuangan, dan kepuasan keuangan istri antara istri yang bekerja di sektor formal dengan informal.

3. Menganalisis hubungan antara karakteristik keluarga dan manajemen keuangan dengan kepuasan keuangan istri.

4. Menganalisis pengaruh karakteristik keluarga dan manajemen keuangan terhadap kepuasan keuangan istri.

Manfaat Penelitian

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menambah informasi yang bermanfaat mengenai manajemen keuangan dan kepuasan keuangan terutama pada keluarga dengan suami istri bekerja. Berdasarkan informasi tersebut, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan penelitian-penelitian selanjutnya. Bagi keluarga, diharapkan dapat lebih memahami manajemen keuangan yang dapat dilakukan istri untuk mengurangi tekanan ekonomi yang dialami keluarga dan kepuasan keuangan yang dirasakan oleh istri. Bagi pemerintah dan instansi terkait dapat bermanfaat sebagai acuan dalam membuat kebijakan yang dapat mendukung keseimbangan kerja-keluarga pada keluarga dengan suami istri bekerja. Bagi pembaca, penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan mengenai kehidupan keluarga terutama pada keluarga dengan suami istri bekerja.

TINJAUAN PUSTAKA

Pengertian Keluarga

Keluarga merupakan unit sosial terkecil yang membangun institusi masyarakat. Menurut UU Nomor 10 Tahun 1992 Pasal 1 Ayat 10, keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami istri, atau suami, istri, dan anak-anaknya, atau ayah dan anaknya, atau ibu dan anaknya (BKKBN 1992). Hal yang sama dinyatakan oleh Burges dan Locke (Puspitawati 2013) bahwa keluarga merupakan unit sosial terkecil yang terdiri atas individu-individu yang terikat oleh perkawinan, darah atau adopsi. Pengertian tersebut menunjukkan bahwa keluarga terdiri dari orangtua dan anak yang terikat oleh ikatan perkawinan.

(20)

6

keluarga. Keluarga didefinisikan sebagai wahana utama dan pertama bagi anggota-anggotanya untuk mengembangkan potensi, mengembangkan aspek sosial dan ekonomi, serta penyemaian cinta-kasih-sayang antara angggota keluarga (Puspitawati 2009).

Keluarga merupakan konsep yang bersifat multidimensi. Murdock menjelaskan bahwa keluarga merupakan kelompok sosial yang memiliki karakteristik tinggal bersama, terdapat kerja sama ekonomi, dan terjadi proses reproduksi. Pandangan berbeda disampaikan oleh Reiss yang mengatakan bahwa keluarga adalah suatu kelompok kecil yang terstruktur dalam pertalian keluarga dan memiliki fungsi utama berupa sosialisasi pemeliharaan terhadap generasi baru (Lestari 2012).

Teori Struktur Fungsional

Pendekatan struktural fungsional merupakan pendekatan teori sosiologi yang diterapkan dalam institusi keluarga. Keluarga adalah sebuah institusi dalam masyarakat yang memiliki prinsip-prinsip serupa yang terdapat dalam kehidupan sosial masyarakat. Pendekatan ini mempunyai warna yang jelas, yaitu mengakui adanya segala keragaman dalam kehidupan sosial. Di mana keragaman ini merupakan sumber utama dari adanya struktur masyarakat dan keragaman dalam fungsi sesuai dengan posisi seseorang dalam struktur sebuah sistem (Puspitawati 2009).

Menurut Eshleman (1991), Gelles (1995), Newman dan Grauerholz (2002) dalam Puspitawati (2012) menyatakan bahwa pendekatan toeri struktural fungsional dapat digunakan dalam menganalisis peran keluarga agar dapat berfungsi dengan baik untuk menjaga keutuhan keluarga dan masyarakat. Asumsi dasar dari teori struktural fungsional yaitu: (1) keluarga terbentuk atas substruktur-substruktur fungsi mereka masing-masing, saling bergantungan, sehingga perubahan yang terjadi dalam fungsi satu substruktur akan mempengaruhi pada substruktur lainnya, dan (2) setiap substruktur yang telah mantap akan menopang aktivitas-aktivitas atau substruktur lainnya (Puspitawati 2009).

Levy mengatakan bahwa tanpa ada pembagian tugas yang jelas pada masing-masing aktor dengan status sosialnya, maka fungsi keluarga akan terganggu dan akan mempengaruhi sistem yang lebih besar lagi. Apabila hal ini terjadi, maka keberadaan institusi keluarga tidak akan berkesinambungan. Levy membuat daftar persyaratan struktural yang harus dipenuhi agar struktur keluarga sebagai sistem dapat berfungsi (Megawangi 1999):

(a) Diferensiasi Peran. Dari serangkaian tugas dan aktivitas yang dilakukan di dalam keluarga, maka harus ada alokasi peran untuk setiap aktor dalam keluarga. Terminologi diferensiasi peran bisa mengacu pada umur, gender, generasi, juga posisi status ekonomi dan politik masing-masing aktor.

(b) Alokasi Solidaritas. Distribusi relasi antaranggota keluarga menurut cinta, kekuatan, dan intensitas hubungan.

(21)

7 (d) Alokasi Politik. Distribusi kekuasaan dalam keluarga dari siapa yang

bertanggung jawab atas setiap tindakan anggota keluarga.

(e) Alokasi Integrasi dan Ekspresi. Distribusi teknik atau cara untuk sosialisasi, internalisasi, dan pelestarian nilai-nilai dan perilaku yang memenuhi tuntutan norma yang berlaku untuk setiap anggota keluarga.

Teori Sosial Konflik

Teori konflik lebih menitikberatkan analisisnya pada asal usul terjadinya suatu aturan atau tata tertib sosial. Teori ini tidak bertujuan untuk menganalisis asal usul terjadinya pelanggaran peraturan atau latar belakang seseorang berperilaku menyimpang. Perspektif konflik lebih menekankan sifat pluralistik dari masyarakat dan ketidakseimbangan distribusi kekuasaan yang terjadi di antara berbagai kelompoknya. Dapat disimpulkan bahwa konflik adalah fenomena sosial biasa dan merupakan kenyataan bagi masyarakat yang terlibat di dalamnya. Dimana konflik dipandang sebagai suatu proses sosial, proses perubahan dari tatanan sosial lama ke tatanan sosial baru yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat (Puspitawati 2012).

Asumsi dasar yang menjadi landasan teori sosial konflik menurut Klein dan White (1996) adalah: (1) manusia tidak mau tunduk pada konsensus; (2) manusia adalah individu otonom yang mempunyai kemauan sendiri tanpa harus tunduk kepada norma dan nilai, manusia secara garis besar dimotivasi oleh keinginannya sendiri; (3) konflik adalah endemik dalam grup sosial; (4) tingkatan masyarakat yang normal lebih cenderung mempunyai konflik daripada harmoni; dan (5) konflik merupakan suatu proses konfrontasi suatu pegangan hidup yang sangat berarti. Oleh karena itu, konsensus dan negosiasi adalah teknik yang masih ampuh untuk digunakan sebagai alat mengelola konflik (Puspitawati 2012).

Menurut perspektif sosial-konflik, hubungan yang penuh konflik terjadi juga di dalam keluarga. Sesuai dengan asumsinya, setiap individu cenderung memenuhi kepentingan pribadi (self-interest) dan konflik selalui mewarnai kehidupan keluarga. Menurut C. Wright Mills (1959) dikutip dari Megawangi (1999) mengatakan bahwa keluarga struktural-fungsional justru telah menimbulkan konflik peran karena kedudukan para wanita dianggap sebagai

“budak kecil tercinta”. Menurut teorinya, situasi konflik dalam kehidupan sosial

tidak dianggap sebagai sesuatu yang abnormal atau disfungsional, tetapi bahkan dianggap sesuatu yang alami dalam setiap proses sosial. Adanya konflik bersumber dari struktur dan fungsi keluarga itu sendiri.

(22)

8

Teori Gender

Istilah “gender” diperkenalkan oleh berbagai ilmuwan sosial dengan tujuan untuk menjelaskan perbedaan perempuan dan laki-laki yang memiliki sifat bawaan (sebagai ciptaan Tuhan) dan bentukan (konstruksi) sosial budaya yang dipelajari dan disosialisasikan sejak kecil. Orang seringkali mencampuradukkan antara ciri-ciri manusia yang bersifat kodrati (tidak dapat berubah, tidak dapat dipertukarkan, dan berlaku sepanjang masa) dengan yang bersifat bukan kodrati (gender) yang dapat berubah dan dapat dipertukarkan. Gender berkaitan dengan aturan sosial yang berhubungan dengan jenis kelamin manusia. Perbedaan peran gender sangat membantu untuk membagi peran yang selama ini dianggap telah melakat pada laki-laki dan perempuan (Puspitawati 2012).

Dwyer (1992) dalam Ihromi (1999) menyarankan agar dalam melakukan kajian keluarga atau rumah tangga sebaiknya dipilah menurut gender. Melihat posisi masing-masing anggota keluarga atau rumah tangga menurut gender, maka dapat ditemukan pihak istri memiliki jaringan sosialnya sendiri. Istri sebagai pribadi yang utuh melalui jaringan sosialnya mampu memiliki peluang dalam meniti suatu posisi tertentu, bahkan berhasil meraih kekuasaan tertinggi dalam struktur jaringan sosial yang dimilikinya. Moser (1993) dalam Ihromi (1999) juga menambahkan pentingnya memisahkan unsur-unsur dalam rumah tangga ataupun keluarga berdasarkan gender, karena laki-laki dan perempuan memiliki peranan yang berbeda, sehingga mempunyai kebutuhan yang berbeda pula, yang akhirnya masing-masing kebutuhan yang berbeda harus diidentifikasi.

James McKean Cattel berpendapat bahwa memberikan pendidikan yang tinggi kepada wanita adalah tidak tepat, karena kehidupan sekolah akan memberikan pengaruh negatif kepada wanita daripada pria. Menurut Cattel, wanita terlalu memandang serius kehidupan sekolah yang dalam waktu tertentu dapat membahayakan wanita. Cattel mengaitkan antara pendidikan wanita dengan faktor reproduksi, dimana apabila wanita diberikan pendidikan yang tinggi, maka ia akan mempunyai anak lebih sedikit. Hal tersebut dianggap sebagai social cost

yang harus dibayar oleh masyarakat (Megawangi 1999).

Alice Rossi juga berpendapat bahwa perbedaan peran gender bukan karena faktor sosialisasi, melainkan bersumber dari keragaman antarseks yang mempunyai tujuan fundamental untuk kelangsungan hidup spesies manusia. Rossi juga berpendapat bahwa tidak ada satu masyarakat yang dapat menggantikan figur ibu sebagai figur pengasuh, kecuali dalam kasus-kasus yang jarang terjadi dimana wanita tertentu yang terdeviasi dari kecenderungan sifat normalnya. Selain itu, Rossi juga menyatakan apabila sebuah masyarakat mau menciptakan pembagian peran reproduksi antara pria dan wanita, maka masyarakat harus siap menerima adanya kemungkinan besar bahwa hubungan ibu dan anak akan terus mempunyai ikatan emosional yang lebih besar daripada hubungan ayah dan anak (Megawangi 1999).

Karakteristik Pekerjaan Istri

(23)

9 dibantu buruh tetap dan kategori buruh/karyawan. Bekerja di sektor formal biasanya membutuhkan tingkat pendidikan yang memadai dan dikenai pajak. Pekerjaan di sektor informal adalah tenaga kerja yang bekerja pada jenis pekerjaan tanpa ada perlindungan negara dan tidak dikenai pajak. Pekerja informal (blue collar) terdiri dari penduduk bekerja dengan status berusaha sendiri, berusaha dibantu buruh tidak tetap, pekerja bebas di pertanian, pekerja bebas di nonpertanian, dan pekerja keluarga/tidak dibayar (BPS 2013).

Berdasarkan data BPS (2013) pada Agustus 2013, sebanyak 44.8 juta orang (40.42%) bekerja pada kegiatan formal dan 66.0 juta orang (59.58%) bekerja pada kegiatan informal. Setahun terakhir (Agustus 2012 – Agustus 2013), persentase pekerja formal naik dari 39.86 persen pada Agustus 2012 menjadi 40.42 persen pada Agustus 2013. Sedangkan persentase pekerja informal berkurang dari 60.14 persen pada Agustus 2012 menjadi 59.58 persen pada Agustus 2013. Kenaikan persentase pekerjaan formal berasal dari bertambahnya jumlah penduduk bekerja berstatus buruh/karyawan sekitar 620 ribu orang, sedangkan penurunan persentase jumlah pekerja informal berasal dari penurunan pada hampir seluruh komponen pekerja informal, kecuali penduduk bekerja berstatus berusaha sendiri.

Jam kerja menjadi bagian penting dari pekerjaan yang layak. Indikator jam kerja yang layak terkait dengan jam kerja yang berlebihan atau jam kerja yang kurang. Jam kerja yang berlebihan sering menjadi tanda adanya upah per jam yang tidak memadai dan merupakan ancaman fisik dan mental dalam jangka panjang. Jam kerja berlebihan dalam konteks Indonesia berdasarkan ambang batas 48 jam per minggu sesuai dengan Konvensi ILO No.1 dan No.30. Kenyataan bahwa Undang-undang Ketenagakerjaan di Indonesia No.13 tahun 2003 menyatakan 40 jam sebagai jam kerja maksimum per minggu. Pada UU Ketenagakerjaan No.13 tahun 2003 mengenai jam kerja disebutkan dalam Pasal 77 sampai Pasal 85. Pada Pasal 77 ayat 1 disebutkan bahwa setiap pengusaha wajib melaksanakan ketentuan waktu kerja. Waktu kerja yang dimaksud dijelaskan dalam Pasal 77 ayat 2 yaitu 40 jam per minggu (7 jam sehari/6 hari seminggu atau 8 jam sehari/5 hari seminggu). Prakteknya, pada tahun 2010, 73.8 persen dari pekerja regular bekerja lebih dari 40 jam per minggu di pekerjaan utama meraka, dengan proporsi lebih tinggi untuk laki-laki (77.6 %) dari perempuan (66.8%). Untuk pekerjaan bebas, tingkatnya adalah 50.8 persen dari keseluruhan, dan 59.1 persen dari seluruh pekerja bebas laki-laki dan 26.8 persen dari pekerja bebas perempuan (ILO 2011).

Menurut BPS (2013), penduduk yang dianggap sebagai pekerja penuh waktu (full time worker) yaitu penduduk yang bekerja pada kelompok 35 jam ke atas per minggu. Pada Agustus 2013 jumlah pekerja penuh waktu mencapai 74.0 juta orang (66.78%), sementara dalam setahun terakhir pekerja tidak penuh (jumlah jam kerja kurang dari 35 jam per minggu) meningkat sebanyak 2.5 juta orang (7.32%). Di samping itu, penduduk yang bekerja kurang dari 15 jam per minggu pada Agustus 2013 mencapai 8.6 juta orang (7.77%).

Manajemen

(24)

10

Demands

Resources Subsystem Personal

Planning

Standard setting Action sequencing

Implementing

Actuating Controlling

Managerial Subsystem

INPUT

Facilitating conditions Family System

Demands Responses Resources Changes

OUTPUT

atau mengelola. Selanjutnya, kata benda “manajemen” atau management

memiliki beberapa arti. Pertama sebagai pengelolaan, pengendalian, atau

penanganan (“managing”). Kedua, perlakukan secara terampil untuk menangani sesuatu berupa skillful treatment. Ketiga, sesuatu yang berhubungan dengan pengelolaan suatu perusahaan, rumah tangga, atau suatu bentuk kerja sama dalam mencapai suatu tujuan tertentu. George R. Terry menyatakan bahwa manajemen adalah suatu proses yang berbeda terdiri dari planning, organizing, actuating, dan

controlling yang dilakukan untuk mencapai tujuan yang ditentukan dengan manusia dan sumber daya lainnya (Herujito 2001).

Gambar 1 Sistem keluarga dengan penekanan subsistem manajerial (Deacon dan Firebaugh 1988)

Griffin (2004) mendifinisikan manajemen sebagai serangkaian aktivitas (termasuk perencanaan dan pengambilan keputusan, pengorganisasaan, kepemimpinan, dan pengendalian) yang diarahkan pada sumber-sumber daya organisasi (manusia, finansial, fisik, dan informasi) dengan maksud mencapai tujuan organisasi secara efisien dan efektif. Manajer adalah seseorang yang tanggung jawab utamanya adalah melaksanakan proses manajemen dalam suatu organisasi. Aktivitas dasar dari proses manajemen adalah perencanaan dan pengambilan keputusan (menentukan arah tindakan), pengorganisasian (mengkoordinasikan aktivitas dan sumber daya), kepemimpinan (memotivasi dan mengelola orang), dan pengendalian (memonitor dan mengevaluasi aktivitas).

Menurut Deacon dan Firebaugh (1988), manajemen merupakan alat dasar untuk hidup kreatif, untuk mencapai tujuan yang diinginkan dengan menggunakan sumber daya untuk memperoleh keuntungan. Manajemen dapat membantu orang dalam mengendalikan kejadian-kejadian kehidupan dan mampu mempengaruhi hasil dari situasi. Secara umum, perencanaan manajemen digunakan untuk menerapkan dan penggunaan sumber daya untuk memenuhi permintaan. Ada tiga bagian dalam manajemen, yaitu input, throughput, dan output.

(25)

11 dalam pencapaian hasil atau output. Input untuk sistem keluarga dan subsistemnya, memberikan motivasi yang disebut sebagai tuntutan atau demand. Demand yang berupa sumber daya, mungkin berasal dari dalam atau dari luar sistem keluarga. Sumber daya (resource) adalah sarana yang mampu mempertemukan berbagai

demand, yaitu memberikan sifat atau karakteristik melalui tujuan dan peristiwa mana yang ingin dicapai.

Throughput adalah transformasi dari materi, energi, dan/atau informasi oleh sistem dari input ke output. Sistem manajerial, throughput adalah kegiatan yang mengejar jawaban atas pertanyaan tentang bagaimana, berapa banyak, seberapa baik, kapan, dan di mana. Pengelolaan rumah dan urusan pribadi, throughput

terdiri dari perencanaan dan pelaksanaan. Perencanaan adalah serangkaian keputusan tentang standar masa depan dan/atau urutan tindakan. Pelaksana adalah penggerak rencana dan prosedur (standar dan urutan) dan pengendali tindakan. Setelah standar dan urutan berkembang menjadi sebuah rencana yang sesuai dengan sumber daya dan tuntutan, maka pelaksanaan tindakan adalah tugas lain dari manajemen. Jika tindakan selesai melalui implementasi tanpa komplikasi, efektivitas rencana tersebut dapat dievaluasi. Implementing atau pelaksanaan rencana, tindakan harus diambil oleh seseorang. Actuating adalah melaksanakan rencana yang telah disusun. Itu adalah tanggung jawab dari manajer untuk berhubungan tindakan tersebut dengan rencana yang lebih besar. Jika rencana tidak berjalan dengan baik, maka sebagai antisipasi selama pelaksanaan yaitu membuat koreksi sebagai bagian dari pengendalian. Pengendalian (controlling) adalah memeriksa tindakan dan hasil untuk menyesuaikan dengan rencana dan standar atau urutan yang telah direncanakan.

Output merupakan materi, energi, dan/atau informasi yang dihasilkan oleh sistem dalam menanggapi input dan throughput. Output dari sistem manajerial adalah respon permintaan dan perubahan sumberdaya. Umpan balik (feedback) adalah bagian dari output yang kembali memasuki sistem sebagai input untuk mempengaruhi output. Umpan balik dari output manajemen merupakan respon positif atau negatif terhadap tindakan yang menyampaikan perubahan pada subsistem manajerial dan pribadi yang membuat perbedaan dalam pengambilan keputusan lainnya. Respon permintaan (demand response) adalah output dari tindakan manajerial yang berkaitan dengan nilai-nilai dan kepuasan. Sedangkan perubahan sumber daya (resource change)adalah output dari tindakan manajerial yang berhubungan dengan komposisi saham dari manusia dan/atau materi (Gambar 1). Sumberdaya manusia umumnya bertambah melalui kegiatan manajerial, seperti melalui keterampilan atau pengetahuan yang lebih. Sumberdaya material dapat berupa peningkatan atau penurunan.

Manajemen Keuangan

(26)

12

kepada kecepatan dan kemudahan pengalihan aset menjadi uang disaat dibutuhkan. Sedangkan keamanan mengarah kepada kebebasan dari berbagai risiko keuangan (Garman dan Forgue 2000).

Menurut Goldsmith (2010), manajemen keuangan adalah ilmu atau praktek dalam mengelola uang atau aset lainnya. Manajemen keuangan memerlukan pemikiran yang sistematis dan disiplin, misalnya menyimpan uang daripada membelanjakannya. Hal ini memerlukan disiplin dan kontrol diri, keahlian untuk menetapkan tujuan, dan kemauan untuk menempatkan kebutuhan masa depan sebelum kebutuhan saat ini.

Setiap keluarga tentunya memiliki tujuan keuangan yang ingin dicapai. Menurut Senduk (2000), tujuan keuangan (financial goal) adalah segala tujuan yang ingin dicapai pada waktu yang akan datang, yang membutuhkan sebuah persiapan keuangan. Untuk mencapai tujuan keuangan tersebut, diperlukan sebuah rencana keuangan. Rencana keuangan harus dibuat sesuai dengan situasi dan kondisi keuangan dari orang yang bersangkutan. Menurut Garman dan Forgue (2000), perencanaan keuangan adalah proses mengembangkan dan mengimplementasikan rencana jangka panjang untuk mencapai tujuan keuangan. Hal yang sama juga dikemukakan oleh Senduk (2000) bahwa perencanaan keuangan adalah proses merencanakan keuangan untuk mencapai tujuan-tujuan keuangan jangka pendek maupun jangka panjang. Pencapaian tujuan tersebut ada yang dalam bentuk menabung, melakukan investasi, melakukan budgeting, atau mengatur komposisi harta yang dimiliki saat ini. Beberapa alasan perlunya melakukan perencanaan keuangan untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai, antara lain:

1) Tingginya biaya hidup saat ini

2) Naiknya biaya hidup dari tahun ke tahun (inflasi) 3) Keadaan perekonomian yang tidak akan selalu baik 4) Fisik manusia yang tidak selalu sehat

5) Banyaknya alternative produk keuangan

Manajemen keuangan dalam terminologi sistem adalah suatu proses transformasi yang melibatkan identifikasi tujuan keuangan, pengumpulan informasi, analisis sumberdaya; keputusan tentang apakah untuk belanja, investasi, atau tabungan; dan evaluasi keputusan. Manajemen mengambil perspektif bahwa uang, seperti sumber daya lainnya, dapat dikontrol dan digunakan untuk mencapai tujuan (Goldsmith 2010). Gambar 2 menunjukkan proses pengelolaan keuangan dapat dibagi menjadi tiga tahap: perencanaan, tindakan, dan pascaperencanaan.

Gambar 2 Model manajemen keuangan (Goldsmith 2010)

Hasil penelitian Alabi et al. (2006) menunjukkan bahwa mayoritas perempuan di perdesaan telah menikah, berpendidikan rendah dan di usia aktif, mereka terlibat dalam berbagai pekerjaan dan memiliki beberapa sumber

(27)

13 keuangan. Hal ini juga menunjukkan bahwa lima faktor penting dalam meningkatkan manajemen keuangan yang efektif dari perempuan tersebut ialah, membutuhkan kepuasan, pengaruh masyarakat, keamanan finansial, kemandirian ekonomi, dan pengaruh pekerjaan. Salah satu cara yang sering dilakukan oleh keluarga untuk meningkatkan manajemen keuangannya adalah dengan jalan menabung, sehingga merasa aman ketika ada kebutuhan yang tak terduga. Namun, orang cendurung menabung ketika memiliki pendapatan yang lebih setelah konsumsi dilakukan. Menurut Hong et al. (2002), tingkat tabungan secara positif berhubungan dengan pendapatan rumah tangga, jumlah aset likuid, dan jumlah penerima dalam rumah tangga. Tingkat tabungan lebih tinggi untuk rumah tangga menabung untuk anak-anak atau pensiun dibandingkan mereka menabung untuk tindakan pencegahan.

Menurut Gutter et al. (2012), faktor ekonomi memiliki hubungan yang lebih kuat dengan perilaku tabungan jika dibandingkan dengan faktor-faktor sosiologis dan psikologis. Secara khusus, usia dan skor perilaku keuangan secara signifikan terkait dengan kemungkinan memiliki rekening tabungan sedangkan pendapatan, kekayaan bersih, dan pendidikan secara signifikan terkait dengan kemungkinan memiliki rekening tabungan dan investasi. Banyaknya sumber informasi yang digunakan seseorang (faktor sosiologis) secara signifikan terkait dengan kepemilikan rekening tabungan dan investasi. Pandangan perencanaan yang panjang yang dilakukan seseorang dan jumlah hambatan yang dirasakan (faktor psikologis) secara signifikan terkait dengan adanya tabungan.

Kepuasan Keuangan

Kepuasan keuangan adalah persepsi subjektif individu dari kecukupan sumber daya keuangan sendiri. Kepuasan keuangan telah lama diakui sebagai komponen kesejahteraan dan telah mendapat perhatian dalam studi tentang kesehatan terkait stres seperti tekanan keuangan dan isu-isu manajemen risiko (Roob dan Woodyard 2011). Penentu kepuasan keuangan meliputi faktor demografi seperti pendapatan, pendidikan, etnis, dan usia, serta stres keuangan, pengetahuan keuangan, sikap dan perilaku keuangan. Tingginya tingkat pengetahuan dan praktek manajemen keuangan berhubungan langsung dengan peningkatan tingkat kepuasan keuangan (Joo dan Grable 2004; Loibl dan Hira 2005). Menurut Joo dan Grable (2004), perilaku keuangan memiliki lebih banyak efek yang signifikan dan langsung pada kepuasan keuangan dari tingkat pendapatan rumah tangga atau faktor demografis lainnya. Selain itu, stres keuangan, seperti penurunan pendapatan, menjadi sakit, atau kehilangan pekerjaan, dapat meningkatkan total tingkat stres seseorang (Nesteruk dan Garrison 2005), yang pada gilirannya dapat menyebabkan penurunan kepuasan keuangan (Joo dan Grable 2004 ). Kepuasan keuangan juga dapat mempengaruhi keinginan individu untuk mencari bantuan keuangan.

(28)

14

perilaku manajerial, tabungan bulanan, dan jumlah jenis asuransi memiliki efek positif yang signifikan terhadap kepuasan dengan persiapan untuk keadaan darurat keuangan. Pembayaran utang bulanan memiliki dampak yang signifikan namun negatif terhadap kepuasan. Indeks perilaku manajerial dan pembayaran utang bulanan memiliki efek langsung dan tidak langsung pada kepuasan dengan persiapan untuk keadaan darurat keuangan. Efek tidak langsung mereka dimediasi melalui tabungan bulanan. Tabungan bulanan dan jumlah jenis asuransi hanya menunjukkan efek langsung pada kepuasan dengan persiapan untuk keadaan darurat keuangan.

Penelitian Terdahulu

Penelitian mengenai manajemen keuangan dan kepuasan keuangan telah banyak dilakukan oleh peneliti terdahulu. Namun, sejauh penulis temukan, penelitian terkait manajemen keuangan dan kepuasan keuangan istri pada keluarga dengan suami istri bekerja masih belum banyak dilakukan. Sedangkan pembahasan mengenai keluarga dengan suami istri bekerja semakin sering diperbincangkan karena adanya peningkatan kontribusi istri yang bekerja di luar rumah.

Tabel 1 Penelitian terdahulu

Tahun Penulis Judul Hasil

2012 Sunarti et al. Family vulnerability, family resource

2011 Hugeng Alokasi waktu kerja

dan kontribusi

2008 Iskandar A Analisis praktis

(29)

15

Tahun Penulis Judul Hasil

dan Kota Bogor dibandingkan dengan keluarga

contoh yang memiliki pendapatan rendah dan di usia aktif, mereka terlibat dalam berbagai pekerjaan dan memiliki beberapa sumber keuangan.

2004 Yohnson Peran universitas di

Surabaya dalam tinggi, serta stress yang lebih besar.

(30)

16

KERANGKA PIKIR

Keluarga merupakan konsep yang bersifat multidimensi. Keluarga sebagai unit sosial terkecil di dalam masyarakat yang memiliki karakteristik terdiri atas individu-individu yang terikat oleh perkawinan (suami-istri), darah, atau adopsi (orangtua-anak) yang tinggal bersama. Selain itu, dalam keluarga terdapat kerja sama ekonomi, di mana setiap anggota keluarga memiliki hak dan kewajiban seperti pembagian tugas dalam mencari nafkah untuk memperoleh pendapatan, di dalam keluarga juga terjadi proses reproduksi. Keluarga dibentuk dengan tujuan untuk mewujudkan kesejahteraan bagi anggota keluarganya.

Salah satu teori yang menjadi dasar untuk mempelajari ilmu keluarga adalah teori struktural fungsional. Teori ini mengakui adanya segala keragaman dalam kehidupan sosial, dimana keragaman tersebut menjadi sumber utama adanya struktur dalam masyarakat. Pembagian peran dan fungsi terjadi di dalam struktur masyarakat maupun keluarga. Di dalam keluarga tradisional, pembagian peran antara suami dan istri dimana suami berperan sebagai pencari nafkah di luar rumah (area publik), sedangkan istri berperan sebagai pengelola rumah tangga dan pengasuh anak di dalam rumah (area domestik). Namun, seiring dengan meningkatnya kesempatan memperoleh pendidikan dan semakin luasnya kesempatan kerja bagi wanita, maka semakin meningkat peran wanita atau istri sebagai pencari nafkah di area publik. Akibat adanya perubahan struktur keluarga tersebut, menjadikan istri memiliki peran ganda yang harus dijalankan secara bersamaan.

Keterlibatan wanita pada area publik pada umumnya disebabkan antara lain oleh faktor pendidikan, faktor kesempatan kerja, dan faktor untuk pemenuhan kebutuhan ekonomi. Kebutuhan ekonomi keluarga yang lebih tinggi dibandingkan sumberdaya keuangan yang dimiliki keluarga, membuat keluarga dihadapkan pada pilihan yang sulit. Kesulitan ekonomi yang dirasakan oleh keluarga menjadi landasan munculnya tekanan ekonomi dalam keluarga. Oleh karena itu, keluarga harus membuat keputusan untuk berhutang atau mengurangi pengeluaran baik pangan maupun non pangan atau menambah pendapatan dengan menambah anggota keluarga yang berkeja. Hal demikian yang membuat wanita memutuskan untuk mencari pekerjaan di luar rumah (area publik).

(31)

17

Gambar 3 Kerangka pikir penelitian

METODE

Disain, Lokasi, dan Waktu Penelitian

Penelitian ini merupakan bagian dari penelitian bersama dengan tema keseimbangan kerja-keluarga dan lingkungan pengasuhan pada keluarga dengan suami istri bekerja. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional study. Penelitian dilakukandi Kecamatan Bogor Barat (Kelurahan Pasir Jaya, Kelurahan Menteng, dan Kelurahan Cilendek Barat) dan Kecamatan Bogor Tengah (Kelurahan Paledang dan Kelurahan Panaragan). Penentuan lokasi penelitian dengan alasan Kecamatan Bogor Barat termasuk kecamatan dengan jumlah penduduk terbanyak dan Kecamatan Bogor Tengah termasuk kecamatan dengan kepadatan penduduk yang tinggi di Kota Bogor. Pengumpulan data dilakukan pada bulan Februari – April 2014. Waktu penelitian dilakukan mulai bulan Desember 2013 hingga Agustus 2014, meliputi pendahuluan, menyusun kerangka sampling, uji coba kuesioner, pengumpulan data, pengolahan dan analisis data, serta penyusunan laporan.

Contoh dan Teknik Penarikan Contoh

Populasi penelitian ini adalah seluruh istri bekerja pada keluarga dengan suami istri bekerja yang memiliki anak terakhir usia 0–6 tahun di Kota Bogor. Contoh dalam penelitian ini adalah ibu bekerja yang memiliki anak terakhir usia 0–6 tahun yang bekerja dengan jenis pekerjaan formal atau informal pada keluarga dengan suami istri bekerja di Kecamatan Bogor Barat dan Kecamatan Bogor Tengah. Teknik penarikan contoh dilakukan secara stratified

non-Manajemen Keuangan:

1. Planning

2. Organizing

3. Actuating

4. Controlling

Kepuasan Keuangan Karakteristik Keluarga:

1. Usia suami dan istri 2. Pendidikan suami dan istri 3. Pekerjaan suami dan istri 4. Pendapatan per kapita 5. Besar keluarga 6. Lama pernikahan 7. Nilai aset

Karakteristik pekerjaan istri: 1. Formal atau informal 2. Pengalaman bekerja 3. Lama jam kerja

(32)

18

proporsional random sampling berdasarkan jenis pekerjaan (formal atau informal) dengan contoh sebanyak 120 orang. Teknik penarikan contoh yang dilakukan pada penelitian ini ditunjukkan oleh Gambar 4.

Gambar 4 Teknik penarikan contoh istri bekerja di Kota Bogor

Jenis dan Cara Pengumpulan Data

Berdasarkan jenis datanya, maka jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara langsung terhadap responden dengan menggunakan alat bantu kuesioner. Data primer yang dikumpulkan meliputi:

1. Karakteristik keluarga dan karakteristik pekerjaan istri.

2. Manajemen keuangan yang dilakukan oleh istri diukur dengan keusioner hasil modifikasi dari Fitzsimmons et al. (1993), Firdaus dan Sunarti (2009), dan Kumari (2011) dengan nilai Cronbach’s alpha 0.885. Manajemen keuangan dibagi menjadi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengontrolan. Manajemen keuangan pada penelitian ini diukur dengan menggunakan 20 item pernyataan dengan skala jawaban dari tidak pernah hingga selalu.

3. Kepuasan keuangan istri yang dirasakan oleh istri diukur dengan kuesioner hasil modifikasi dari Morris dan Lown (1991) dan Loibl dan Hira (2005) dengan nilai Cronbach’s alpha 0.847. Kepuasan keuangan istri pada

Kecamatan Bogor Barat Kecamatan Bogor Tengah

(33)

19 penelitian ini diukur dengan menggunakan 10 item pernyataan dengan skala jawaban dari tidak puas hingga sangat puas.

Tabel 2 Variabel, skala, dan kategori data

Varibel Skala Kategori data

Karakteristik keluarga Besar keluarga

(BKKBN 1998)

Rasio 1) Keluarga kecil (0-4 orang)

2) Keluarga sedang (5-7 orang)

Pekerjaan suami-istri Nominal 1)PNS; 2)Swasta; 3)Buruh; 4)BUMN;

5) Guru; 6) Wiraswasta; 7)PRT;

4) Tidak miskin (> Rp433 113)

Lama pernikahan Rasio 1) 1-5 tahun

2) 6-10 tahun

Jenis pekerjaan Nominal 0) Formal; dan 1) Informal

Lama jam kerja Rasio 1) ≤ 8 jam/hari

2) ≥ 8 jam/hari

Lama perjalanan ke tempat kerja Rasio 1) < 1.00 jam

(34)

20

Varibel Skala Kategori data

5) 4.00-4.99 jam 6) 5.00-5.99 jam

Lama pengalaman bekerja istri Rasio 1) < 1 tahun

2) 1-5 tahun 3) 6-10 tahun 4) 11-15 tahun 5) 16-20 tahun 6) > 20 tahun

Manajemen keuangan Ordinal Manajemen keuangan diukur dengan

20 item pernyataan dengan skala

Perencanaan (planning) Rasio Rataan data dari 5 item pernyataan

Pengorganisasian (organizing) Rasio Rataan data dari 5 item pernyataan

Pelaksanaan (actuating) Rasio Rataan data dari 6 item pernyataan

Pengontrolan (controliing) Rasio Rataan data dari 4 item pernyataan

Kepuasan keuangan istri Ordinal Kepuasan keuangan istri diukur

dengan 10 item pernyataan dengan

Data sekunder dalam penelitian ini diperoleh dari dokumentasi-dokumentasi dari kantor kelurahan setempat. Data sekunder yang diambil ialah data dasar keluarga pada masing-masing kelurahan yang dipilih.

Pengolahan dan Analisis Data

Data yang telah dikumpulkan dari kuesioner diolah dengan komputer. Kegiatan yang dilakukan mulai dari presurvei, pengambilan data sekunder, pengambilan data primer, entry data, cleaning data, dan analisis data. Berikut urutan kegiatan dalam pengolahan data yaitu penyusunan code-book sebagai panduan entry dan pengolahan data; setelah entry data, kemudian dilakukan

cleaning data untuk memastikan tidak ada kesalahan dalam memasukkan data. Setelah itu dilakukan penyajian hasil dari pengolahan data dan penganalisisan data.

Reliabilitas data dilakukan dengan menggunakan uji Cronbach α, menyajikan

statistik deskriptif untuk setiap peubah, pemberian skor terhadap jawaban kuesioner; kategorisasi terhadap data, dan analisis data.

Pengolahan data yang diperoleh dilakukan dengan menggunakan program

Microsoft Excel dan SPSS for windows. Data dan informasi yang diperoleh, kemudian diolah dan dianalisis secara deskriptif. Analisis statistik yang digunakan pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

(35)

21 suami-istri; pendapatan per kapita; lama pernikahan; dan nilai aset), karakteristik pekerjaan istri (jenis pekerjaan; lama jam kerja; lama perjalanan ke tempat kerja; dan lama pengalaman bekerja istri), manajemen keuangan, dan kepuasan keuangan istri. Kategori pengelompokkan untuk manajemen keuangan dibedakan menjadi tiga kategori berdasarkan nilai capaiannya yaitu kurang (0.0-33.3%), cukup (33.4-66.6%), dan baik (66.7-100.0%). Begitu juga dengan kepuasan keuangan istri dibedakan menjadi rendah (0.0-33.3%), sedang (33.4-66.6%), dan tinggi (66.7-100.0%). Nilai capaian dari manajemen keuangan dan kepuasan keuangan istri diperoleh dari rumus yang disajikan sebagai berikut:

Y = X – nilai minimum x 100 Nilai maksimum – nilai minimum

Keterangan:

Y = Skor dalam persen

X = Skor yang diperoleh untuk setiap contoh

2. Uji beda digunakan untuk melihat perbedaan karakteristik keluarga, karakteristik pekerjaan istri, manajemen keuangan, dan kepuasan keuangan istri antara istri yang bekerja di sektor formal dengan informal.

3. Uji hubungan digunakan untuk melihat hubungan antara karakteristik keluarga, karakteristik pekerjaan istri, manajeman keuangan, dan kepuasan keuangan istri pada keluarga dengan suami istri bekerja

4. Uji regresi linear berganda digunakan untuk menganalisis pengaruh karakteristik keluarga, karakteristik pekerjaan istri, dan manajemen keuangan terhadap kepuasan keuangan istri. Beberapa model persamaan regresi linear berganda yang lainnya dijelaskan dalam artikel 2 di dalam tesis ini. Adapun model persamaan regresi linear berganda yang utama sebagai berikut.

Y = α + 1X1+ 2X2+ 3X3+ 4X4+ 5X5+ 6X6+ 7X7 + 1D1+ ε

Keterangan:

Y = Kepuasan keuangan istri

α = Konstanta

1-7 = Koefisien regresi

ε = Galat

X1 = Usia istri (tahun) X2 = Pendidikan istri (tahun)

X3 = Pendapatan per kapita (Rp/bulan) X4 = Besar keluarga (orang)

X5 = Lama pernikahan (tahun) X6 = Nilai aset (rupiah)

X7 = Manajemen keuangan 1 = Koefisien dummy

D1 = Jenis pekerjaan (0= formal; 1= informal)

DEFINISI OPERASIONAL

(36)

22

dan controlling. Dalam penelitian ini, manajemen keuangan diukur dengan dua puluh item pernyataan dengan jawaban dari tidak pernah sampai selalu (1-4).

Kepuasan keuangan istri adalah tingkat kepuasan yang dirasakan oleh istri terhadap keuangan keluarga setelah istri melakukan pengelolaan keuangan. Dalam penelitian ini, kepuasan keuangan diukur dengan sepuluh item pernyataan dengan jawaban dari tidak puas sampai sangat puas (1-4).

Karakteristik keluarga adalah ciri-ciri aspek sosial ekonomi yang melekat pada keluarga responden berupa usia (suami dan istri), pendidikan (suami dan istri), pekerjaan (suami dan istri), pendapatan keluarga, jumlah anggota keluarga, pendapatan per kapita, lama bekerja istri, lama pernikahan, dan nilai aset.

Karakteristik pekerjaan istri adalah jenis pekerjaan istri yang dibedakan menjadi formal atau informal, pengalaman kerja istri (lama bekerja sejak pertama bekerja, pindah kerja, bekerja sebelum menikah atau setelah menikah), lama jam kerja, dan lama perjananan ke tempat kerja.

Usia suami dan istri adalah usia istri dan suami dalam satuan tahun saat pengambilan data.

Pendidikan suami dan istri adalah lama pendidikan formal yang telah ditempuh oleh suami dan istri dalam satuan tahun.

Pendapatan per kapita adalah hasil bagi dari total pendapatan keluarga dengan jumlah anggota keluarga.

Jumlah anggota keluarga adalah jumlah anggota keluarga yang tinggal di dalam satu rumah dan menjadi tanggungan keluarga.

Lama pernikahan adalah lama menikah istri dengan suami dalam tahun, jika terdapat istri yang menikah lebih dari satu, maka lama menikah terhitung dari pernikahan pertama.

Nilai aset adalah kepemilikan aset keluarga yang dinilai dalam bentuk rupiah.

Pekerjaan formal adalah pekerjaan dengan penghasilan tetap, jam kerja tetap, di sebuah instansi, dan di luar rumah. Pekerjaan formal dalam penelitian ini adalah PNS, swasta, buruh, BUMN, dan guru.

Pekerjaan informal adalah pekerjaan dengan penghasilan tidak tetap, jam kerja lebih fleksibel, tidak dibawah sebuah instansi, dan bisa dilakukan di luar atau di dalam rumah. Pekerjaan informal dalam penelitian ini adalah wiraswasta, pembantu rumah tangga (PRT), dan lainnya.

Lama pengalaman bekerja istri adalah lama istri telah memiliki pengalaman bekerja dalam tahun.

Lama jam kerja adalah jumlah waktu dalam jam yang digunakan istri untuk bekerja di sektor publik atau di luar rumah.

(37)

23

PERBEDAAN MANAJEMEN KEUANGAN DAN KEPUASAN

KEUANGAN ISTRI MENURUT JENIS PEKERJAAN PADA

KELUARGA DENGAN SUAMI ISTRI BEKERJA

Abstrak

Manajemen keuangan perlu dilakukan oleh istri yang bekerja untuk dapat mencapai kepuasan keuangan dan kesejahteraan seluruh anggota keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan manajemen keuangan dan kepuasan keuangan istri antara istri yang bekerja di sektor formal dengan informal pada keluarga dengan suami istri bekerja. Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional study pada 120 contoh dari keluarga dengan suami istri bekerja yang memiliki anak terakhir usia 0-6 tahun dan bekerja di sektor formal dan informal. Teknik penarikan contoh menggunakan stratified non-proportional random sampling di Kecamatan Bogor Barat dan Bogor Tengah. Pengumpulan data dilakukan dari Februari hingga April 2014. Hasil penelitian menemukan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara manajemen keuangan dan kepuasan keuangan istri antara istri yang bekerja di sektor formal dengan di sektor informal. Capaian manajemen keuangan dan kepuasan keuangan istri yang bekerja di sektor formal lebih tinggi daripada istri yang bekerja di sektor informal. Pengetahuan tentang manajemen keuangan perlu diberikan oleh instansi terkait keluarga dan perguruan tinggi kepada keluarga dengan pendapatan dan pendidikan rendah agar mencapai kepuasan keuangan.

Abstract

Financial management needs by a working wife to attain financial satisfaction and well-being of all family members. The purpose of this study to analyze the differences in financial management and wife’s financial satisfaction among wives who work in the formal and informal sectors in dual earner families. The study was a cross sectional study design of 120 dual earner families with children aged 0-6 last years and working in the formal and informal sectors. Sample of selected non-proportional stratified random sampling technique in Bogor District of West and Central Bogor. Data collected from February until April 2014. The result of this study found that there are significant differences between financial management and wife’s financial satisfaction among wives who work in the formal sector to the informal sector. Attaiment of financial management and wife’s financial satisfaction in wives who work in the formal sector is higher than wives who work in the informal sector. Knowledge of financial management should be give by the relevant institutions and universities to families with low income and education in order to attain financial satisfaction.

Figur

Gambar 1 Sistem keluarga dengan penekanan subsistem manajerial (Deacon dan
Gambar 1 Sistem keluarga dengan penekanan subsistem manajerial Deacon dan . View in document p.24
Gambar 2 Model manajemen keuangan (Goldsmith 2010)
Gambar 2 Model manajemen keuangan Goldsmith 2010 . View in document p.26
Tabel 1 Penelitian terdahulu
Tabel 1 Penelitian terdahulu . View in document p.28
Gambar 3 Kerangka pikir penelitian
Gambar 3 Kerangka pikir penelitian . View in document p.31
Gambar 4 Teknik penarikan contoh istri bekerja di Kota Bogor
Gambar 4 Teknik penarikan contoh istri bekerja di Kota Bogor . View in document p.32
Tabel 2 Variabel, skala, dan kategori data
Tabel 2 Variabel skala dan kategori data . View in document p.33
Tabel 3 Hasil uji beda item karakterisitik keluarga berdasarkan jenis pekerjaan
Tabel 3 Hasil uji beda item karakterisitik keluarga berdasarkan jenis pekerjaan . View in document p.41
Tabel 6 Hasil uji beda item rataan capaian manajemen keuangan berdasarkan jenis pekerjaan
Tabel 6 Hasil uji beda item rataan capaian manajemen keuangan berdasarkan jenis pekerjaan . View in document p.43
Tabel 9 Hasil uji beda rataan capaian item kepuasan keuangan berdasarkan jenis
Tabel 9 Hasil uji beda rataan capaian item kepuasan keuangan berdasarkan jenis . View in document p.45
Tabel 10 Persamaan regresi linear berganda
Tabel 10 Persamaan regresi linear berganda . View in document p.53
Tabel 17 Koefisien regresi pengaruh karakteristik keluarga dan jenis pekerjaan
Tabel 17 Koefisien regresi pengaruh karakteristik keluarga dan jenis pekerjaan . View in document p.58
Tabel 18 Koefisien regresi pengaruh karakteristik keluarga terhadap manajemen
Tabel 18 Koefisien regresi pengaruh karakteristik keluarga terhadap manajemen . View in document p.59
Tabel 19 Koefisien regresi pengaruh karakteristik keluarga, jenis pekerjaan istri, dan manajemen keuangan terhadap kepuasan keuangan istri
Tabel 19 Koefisien regresi pengaruh karakteristik keluarga jenis pekerjaan istri dan manajemen keuangan terhadap kepuasan keuangan istri . View in document p.60
Tabel 20 Koefisien regresi pengaruh karakteristik keluarga dan manajemen
Tabel 20 Koefisien regresi pengaruh karakteristik keluarga dan manajemen . View in document p.60
Tabel 23 Koefisien regresi pengaruh karakteristik keluarga, subvariabel
Tabel 23 Koefisien regresi pengaruh karakteristik keluarga subvariabel . View in document p.62
Tabel 24 Koefisien regresi pengaruh karakteristik keluarga dan subvariabel
Tabel 24 Koefisien regresi pengaruh karakteristik keluarga dan subvariabel . View in document p.63

Referensi

Memperbarui...