Perjalanan Dakwah Islamiyah Rasulullah Saw pada Periode Mekkah dan Madinah

137  42 

Teks penuh

(1)

PERJALANAN DAKWAH ISLAMIYAH

RASULULLAH SAW PADA PERIODE

MEKAH DAN MADINAH

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana Komunikasi Islam ( S.Kom.I ).

Disusun Oleh :

NAMA : MOHAMMAD IRFANDI NPM : 103051028629

JURUSAN KOMUNIKASI PENYIARAN ISLAM

FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

(2)

PERJALANAN DAKWAH ISLAMIYAH RASULULLAH SAW PADA

PERIODE MEKAH DAN MADINAH

Skripsi

Diajukan kepada Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi

Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh

Gelar Sarjana Komunikasi Islam ( S.Kom. I )

Oleh

Mohammad Irfandi NPM : 103051028629

Pembimbing ,

Drs. H.Sunandar , MA NIP : 19620626 199403 1 002

JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM

FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SYARIF HIDAYATULLAH

(3)

PENGESAHAN PANITIA UJIAN

Skripsi berjudul PERJALANAN DAKWAH ISLAMIYAH RASULULLAH SAW PADA

PERIODE MEKAH DAN MADINAH telah diujikan dalam sidang Munaqasyah Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta pada 24

Desember 2010 skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana

Komunikasi Islam ( S.Kom.I ) pada Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam.

Jakarta , 24 Desember 2010

Panitia Sidang Munaqasyah

Ketua Merangkap Anggota Sekretaris Merangkap Anggota

Drs. Study Rizal LK, MA Umi Musyarofah , MA NIP : 1964042 8199 303 1 002 NIP : 19710816 199703 2 002

Anggota ,

Penguji I Penguji II

Drs. Masran , MA Drs. Moh.Sungaidi , MA NIP : 150275 384 NIP : 19600803 199703 1 006

Pembimbing

(4)

LEMBAR PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa :

1.

Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu

persyaratan memperoleh gelar strata 1 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta .

2.

Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai dengan

ketentuan yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

3.

Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya atau merupakan

hasil jiplakan dari karya orang lain , maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakarta , 17 Desember 2010

(5)

ABSTRAKS

Nama : Mohammad Irfandi , NPM : 103051028629 ,Strategi Dakwah Rasul di Mekah dan Madinah .

Rasul Muhammad SAW , adalah seorang pemimpin agama dan pemimpin negara yang mempunyai kepribadian terpuji. Beliau adalah panutan terbaik ( uswatun hasanah ) bagi umat muslim di seluruh dunia Islam. Melalui organisasi dakwah Islamiyah , Rasulullah mampu mengubah jalannya sejarah dan mempengaruhi secara besar - besaran perkembangan penyiaran Islam dari masa jahiliyah ( pra Islam ) menuju masa peradaban Islam. Dakwah Rasulullah SAW periode Mekah - Madinah bertujuan membentuk pribadi muslin (di Mekah ) bersifat majemuk sebagai unsur mutlak membangun pemerintah Islam di Madinah di mana komunitas penduduk Madinah bersifat plural .Kemajemukan di Madinah tercermin dengan adanya perbedaan agama , suku , maupun golongan dan untuk mewujudkan toleransi antar sesama melalui organisasi dakwah Islamiyah . Keberhasilan Rasulullah dalam membangun pemerintah ditandai dengan dibuatnya piagam Madinah sebagai undang - undang yang mengatur komunits penduduk Madinah yang plural. Hal itu terlepas dari upayanya dalam memperjuangkan dan mendakwahkan Islam, sehingga beliau dikenal sebagai Rasul yang amat disegani dan mendapatkan simpati dari umat Islam di Mekah - Madinah pada saat itu dan dunia Islam pada umumnya.

(6)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan ke Hadirat Allah SWT yang selalu memberikan rahmat dan karunia- Nya , sehingga sampai saat ini penulis masih diberi nikmat kesehatan dan karunia untuk dapat menyelesaikan skripsi , dengan judul “Perjalanan Dakwah Islamiyah Rasulullah SAW Pada Periode Mekah - Madinah.“

Dengan segala kerendahan hati penulis sadar meskipun penulis menemui berbagai kesulitan serta hambatan dalam penulisan dan penyusunan karya ilmiah ini , tetapi penulis telah berusaha semaksimal mungkin untuk membahasa tema yang penulis angkat sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Penulis menyadari betul bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna dan masih terdapat banyak kekurangan . Oleh karena itu dengan segala kerendahan hati penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun dan juga koreksi demi kesempurnaan.

Penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada pihak - pihak yang telah membantu baik dalam hal bimbingan , semangat dan perhatian selama kegiatan pembuatan skripsi ini. Untuk itu dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar - besarnya kepada :

1. Bpk. DR. Arif Subhan , MA Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta .

(7)

3. Dosen Pembimbing Bpk. Drs. H. Sunandar , MA yang telah meluangkan waktu dan membimbing penulis dalam penyusunan skripsi ini

4. Orang tua dan saudara tercinta atas perhatian , doa , dan kasih sayang yang tulus dan ikhlas , sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

5. Teman - teman seangkatan penulis di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatulaah Jakarta , khususnya Fakultas Dakwah dan Komunikasi .

6. Seluruh staff dan dosen pengajar di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta .

7. Segenap karyawan Perpustakaan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi serta Perpustakaan Utama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah memudahkan penulis untuk mendapatkan berbagai referensi dalam penyelesaian skripsi ini.

8. Semua pihak yang telah membantu penulis baik secara moril maupun materiil , secara langsung yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu , penulis ucapkan terima kasih yang sebesar - besarnya.

Semoga Allah membalas jasa - jasa dan budi baik mereka sesuai dengan apa yang telah mereka perbuat untuk kesuksesan skripsi ini.

Akhir kata penulis berharap agar skripsi ini dapat berguna bagi yang memerlukannya. Amin.

Jakarta , Desember 2010

(8)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL i

HALAMAN PEMBIMBING ii

HALAMAN PENGESAHAN iii

HALAMAN PERNYATAAN iv

ABSTRAKSI v

KATA PENGANTAR vi

DAFTAR ISI viii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ……….. 1

B. Identifiksi Masalah ………...11

C. Pembahasan dan Perumusan Masalah ………12

D. Tujuan Penelitian dan Manfaat Penelitian ……….……...12

E. Metode Penelitian ……….14

F. Sistematika Penulisan ………...16

BAB II RIWAYAT HIDUP RASULULLAH SAW A. Masyarakat Arab Pra Islam dan Kelahiran Rasulullah ……….18

B. Pengalaman Hidup Rasulullah SAW …………...………22

C. Pribadi Rasulullah SAW ………...24

D. Risalah Muhammad SAW ………..….26

BAB III HAL IHWAL DAKWAH DALAM MASYARAKAT MADANI A. Dakwah …….………..……….29

1. Pengertian Dakwah ………..………...29

2. Konsep Dakwah Pergerakan (da’wat Harakat) ………...35

3. Dakwah dan Dinamika Sosial ...45

(9)

5. Dakwah Kultural , Struktural dan Dakwah Integratif ………..54

6. Tugas Pokok dan Fungsi Kenabian ………. 60

7. Unsur - unsur Gerakan Dakwah ……….. 63

B. Masyarakat Islam ……….. 68

1. Pengertian Masyarakat Islam …….………. 68

2. Masyarakat Islam menurut al-Qur’an dan al-Sunah ………. .69

3. Transformasi Menuju Masyarakat Islam ……… 74

BAB IV DAKWAH ISLAM DAN RASULULLAH SAW A. Turunnya Wahyu ( Perintah Berdakwah ) ………...……..91

1. Penobatan Muhammad Saw menjadi Rasul …………..…………. 94

2. Pribadi Muslim ………..………..98

B. Dakwah Islam Periode Mekah ………..…………99

1. Proses Dakwah ………..………..99

2. Hambatan - hambatan Dakwah …….………103

3. Peristiwa Isra’ Mi’raj………...106

C. Dakwah Islam Periode Madinah ………...………...110

1. Peristiwa Bai’at Aqabah I dan Ke II ………..………110

2. Hijrah ke Madinah ……….113

3. Piagam Madinah ……….………...115

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ………..……….…..123

B. Saran - saran ……….123

(10)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Dakwah merupakan jalan menuju Islam, sebagaimana telah digambarkan dalam Al-Qur'an : QS. Al-Imran (3): 19

Artinya : "Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barang siapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya." (Depag RI, 1978: 102).

Dakwah merupakan jalan menuju Islam maksudnya adalah panggilan dari Allah SWT melalui Nabi Muhammad SAW untuk umat manusia agar menganut ajaran Islam (agama), dengan cara beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT. Bersikap sesuai dengan garis-garis aqidah dan syariat serta akhlak islamiyah, Islam adalah agama yang mencakup dan mengatur segala aspek kehidupan manusia guna memperoleh ridha dari Allah SWT.

(11)

kesatuan, keseluruhan, tidak merupakan aspek agama di satu pihak dan aspek sosial dan politik di pihak lain. Jadi Islam di sini adalah agama risalah yang dikembangkan oleh Rasulullah SAW dan agama Islam adalah agama dakwah artinya agama yang di dalamnya terdapat kewajiban untuk menyebarluaskan kebenaran dalam mengatur segala aspek kehidupan orang mukmin (Boisard, 1980: 52).

Dari sisi lain dakwah adalah upaya setiap muslim untuk merealisasikan fungsi kerisalahan dan fungsi kerahmatan. Fungsi kerisalahan berarti meneruskan tugas Rasulullah SAW, yang patut dijadikan tauladan dalam segala budi pekertinya di setiap nafas zaman. Berkat jasa-jasa perjuangan dakwahnya menyebarkan agama Islam benar-benar membawa rahmat bagi seluruh alam, dan membawa tatanan dunia baru yang tentram dan damai. Dan dakwah secara umum adalah upaya menyampaikan agama Islam kepada seluruh umat manusia.

Berdakwah termasuk ibadah yang paling agung dan ibadah yang memberikan banyak manfaat kepada umat manusia. Kewajiban berdakwah untuk menyebarkan ajaran Islam adalah tanggung jawab umat Islam di manapun berada. Lewat seruan itu, umat Islam dituntut membuat perubahan dalam segala bidang sehingga menjadi situasi yang lebih baik (Hsubky, 1995: 70). Dengan berpedoman pada ilmu dakwah yang bersumber dari kitabullah dan sunah Rasulullah SAW diharapkan dapat menyempurnakan dakwah Islam yang dilakukan oleh para da'i. oleh karena itu setiap pelaku dakwah (da'i) haruslah melengkapi diri dengan ilmu pengetahuan, medan dakwah termasuk kondisi sosial masyarakatnya, metode dan strategi dakwah.

(12)

dengan nilai-nilai Islam. Selain itu berdakwah juga harus bisa menciptakan suasana gembira, nyaman, tidak terkesan bahwa agama Islam itu memberatkan.

Sumber ajaran Islam membuat perbedaan secara tegas antara kebenaran dan kesalahan, al-haq dan al bathil, antara ma'ruf dan munkar. Dakwah Islam memihak kepada kebenaran; al-haq, ma'ruf, karena sesuai dengan fitrah manusia. Dengan demikian ada hubungan antara Islam, dakwah, fitrah manusia dan kebenaran karena dalam prakteknya dakwah merujuk pada fitrah manusia. Karena dalam fitrah itulah ada kebenaran. Jadi hakikat dakwah adalah mengajak manusia kembali kepada hakikat fitri, jalan Allah, tanpa ada unsur paksaan dan tipu muslihat (Sulthon, 2003 : 56).

Muhammad SAWadalah Rasul yang membedakan dengan jelas antara kebenaran dan kebathilan. Beliau diberi cahaya dan petunjuk oleh Allah dalam berdakwah. Beliau tercipta dalam keadaan ma'shum (dihindarkan dari segala kesalahan) oleh Allah SWT. Beliau adalah keturunan bangsawan Arab yang lahir di Mekah, 20 April tahun 571 M. Dakwah juga merupakan tugas Rasulullah yang patut dicontoh dan merupakan kehidupan Rabbaniyah. Dakwah memerlukan pengorbanan tanpa mengharapkan imbalan dan hasil yang segera, tanpa putus asa.

(13)

Dalam konteks inilah kegiatan dakwah dapat mengambil dua bentuk yakni dakwah strutural dan dakwah kultural. Dakwah struktural adalah gerakan dakwah yang beada dalam kekuasaan. Aktifitas dakwah ini bergerak mendakwahkan ajaran Islam dengan menggunakan struktur sosial, politik maupun ekonomi yang ada untuk menjadikan Islam menjadi ideologi negara. Sedangkan dakwah kultural yaitu aktifitas dakwah yang menekankan pendekatan Islam kultural, nilai-nilai kebangsaan dalam bentuk negara-negara bangsa yang berkaitan antara Islam dan politik atau Islam dan negara.

Beberapa strategi pada dasarnya adalah ikhtiar kultural agar fungsi dakwah itu bercorak fungsional. Adapun tiga faktor dakwah menampilkan Islam kultural yaitu; keuniversalan, kerahmatan dan kemudahan Islam . Islam secara kontekstual merupakan aktifitas dakwah kultural untuk mencari hakikat Islam yang sesuai dengan tuntutan zaman yang terus berkembang, sehingga tujuan dakwah kultural adalah agar ajaran nilai-nilai Islam dapat diimplementasikan secara aktual dan fungsional dalam kehidupan sosial sehingga dakwah Islamiyah bagaimanapun kuat dorongannya dan sungguh - sungguh sifatnya, tidak mungkin dilakukan dengan kekerasan, karena hal tersebut bertentangan dengan kehendak Allah yang dalam bentuk ekspresi keluhuran budi umat manusia (Sulthon, 2003: 37) .

(14)

Proklamasi monotheisme yang berarti menolak penyembahan tradisional terhadap arca - arca dan nenek moyang telah membendung kekuatan yang mengancam dan menghancurkan masyarakat. Meski begitu, visi dan pemikiran Rasulullah dalam menyebarkan agama Islam yang diekspresikan dalam idiom-idiom religio-spiritual sangatlah universal. Bahkan dalam pelaksanaannya menimbulkan restrukturisasi masyarakat secara radikal.

Misi utama dakwah Rasulullah SAW adalah untuk mewujudkan kemaslahatan semesta dari semua prinsip dan nilai-nilai universalitas Islam. Islam sebagai suatu nilai-nilai yang mengatur hidup dan kehidupan manusia dalam segala aspeknya dan bukan Islam yang dipahami sebatas simbol dan ritual peribadatan semata. Dakwah Islam merupakan perjuangan jihad di jalan Allah SWT. Pengertian jihad secara umum adalah setiap tindakan positif untuk membela kebenaran atau melawan hawa nafsu. Jihad fi sabilillah tidak boleh pudar dari jiwa setiap ulama dan umatnya demi tegaknya Islam. Sabda Nabi SAW, "Barang siapa berperang untuk menegakkan kalimah Allah (Islam yang mulia maka ia berjuang di

jalan-Nya" (HR. Bukhori Muslim).

Jihad tidak hanya terbatas pada peperangan melawan musuh, jihad pun dapat dilakukan dengan pengorbanan harta dan jiwa dengan tulus ikhlas dalam menegakkan agama Allah SWT. Sesuai dengan petunjuk Al-Qur'an dan As-Sunah. Bagi umat Islam, harta dan jiwa adalah sesuatu yang harus dikorbankan oleh Islam, bukan sebaliknya (Hsubky, 1995: 106). Adanya berbagai hambatan dakwah yang berupa ancaman, teror, tindak kekerasan dan pembunuhan, Rasulullah SAW mulai memberikan instruksi kepada para pengikutnya untuk hijrah ke Madinah.

(15)

hubungan dengan kebodohan, menolak kemungkaran dan kekufuran, dengan ringkas hijrah adalah suatu tindakan keimanan dengan mengasingkan diri oleh sebab hal-hal yang memaksa. Di Mekah Rasulullah SAW mengawali dakwah Islam dengan membentuk manusia-manusia muslim pertama yang merupakan minoritas tertindas dan membutuhkan moral dan bukan perundang-undangan sosial yang mereka tidak akan dapat menerapkannya.

Kemudian di Madinah, dengan pribadi yang sudah dididik dengan iman, Islam membentuk masyarakat persamaan dan gotong royong dengan peraturan-peraturan yang diwahyukan. Kronologi yang menggambarkan proses lahirnya masyarakat Islam dari prasejarah Islam tanpa mengurangi sifat universalitas Islam (Boisard, 1980: 51- 52). Kehidupan Rasulullah SAW semenjak hijrah ke Madinah merupakan bagian yang tidak terpisah dari sejarah Islam. Beliau selalu sabar dan tegas dalam menjalankan dakwah Islam, sifat-sifat Rasulullah telah memberi contoh kepada masyarakat spiritual klasik. Ketiga sifat khusus itu antara lain ketaqwaan (piete), siap berjuang (combativite), dan kebesaran jiwa (magnanimite). Kepribadian luhur Rasulullah SAW merupakan cahaya umat Islam yang mampu menerangi jiwa dari kegelapan. Dalam perspektif ini nampak jelas wajah universalitas Islam tidak perlu dibenturkan secara klasikal dengan tantangan-tantangan temporel, karena Islam pada hakikatnya adalah nafas zaman itu sendiri.

(16)

Keberadaan Rasulullah SAW selaku personifikasi wahyu berada dalam ruang dan waktu tertentu, beliau hidup membentuk, membangun dan mengembangkan ajarannya setelah berinteraksi dengan kondisi, situasi, kultur, tradisi dan konstruksi sosial-budaya politik masyarakat Arab yang sangat pluralistik. Sementara Al-Qur'an sebagai sistem nilai yang dijelaskan bersifat universal (syumul), lintas ruang dan waktu. Proses interaksi yang intens antara universalitas Al-Qur'an dan partikularitas kultur asli masyarakat Arab, itulah sebuah realitas pembangunan Islam.

Dengan demikian dakwah Islam oleh Rasulullah SAW dapat disimpulkan bahwa agama Islam yang dibangun atas dasar, dialektika doktrin (wahyu) yang universal dengan tradisi (realitas) yang partikular, nilai transedental dengan nilai imanental, kehendak Allah SWT. Dengan kata lain Islam adalah penjelmaan dari theoantroposentris. Dan kehidupan Rasulullah SAW merupakan eksperimentasi sejarah manusia yang ideal (khairu ummah). Logikanya, apabila kita menjadikan Islam pada masa Rasulullah SAW, sebagian Islam yang ideal sekaligus sebagai parameter yang otoritatif. Sebagaimana otoritas Al-Qur'an, maka tentu saja sesudah masa itu tenggelam hilang pula wajah agama Islam yang suci yang dibawa oleh Rasulullah dalam kegiatan dakwahnya (Engineer, 1993: 26)

Yang menarik bagi penulis dari dakwah Islamiyah Rasulullah SAW pada masa peradaban Islam adalah adanya tahapan-tahapan yang harus dilalui dalam menyampaikan agama Islam. Melalui tahapan-tahapan inilah (tahapan dakwah periode Mekah dan Madinah) Rasulullah SAW membangun pemerintahan Islam yaitu mengubah susunan masyarakat dari susunan masyarakat prasejarah Islam ke masayarakat Islam yang bersistem keadilan sosial dan berdasarkan syariat Islam.

(17)

Islam, figur ideal kepemimpinan Rasulullah SAW ditampilkan sebagai sendi dan sistem kepemimpinan yang tetap relevan dan penuh teladan. Di tengah krisis kepemimpinan manusia di dunia hampir setiap suksesi kepemimpinan menimbulkan konflik yang berkepanjangan dan jatuhnya korban manusia. Tidak hanya itu tata nilai dan sistem kepemimpinan yang lebih sarat kepentingan dan manipulasi semakin mengaburkan kepercayaan umat sekaligus kehilangan pegangan moral dan nasibnya.

Rasulullah SAW dengan keindahan dan kesempurnan akhlaknya merupakan jawaban dari permasalahan yang menimpa kaum muslimin dengan segenap sumber daya dan perangkat yang dimiliki tampil sebagai sinar cahaya Islam kembali kepada keutuhan Islam. Ajaran Rasulullah SAW yang dibawa dalam kegiatan dakwah disajikan dengan sistematis

dan esoteris, yang menyentuh unsur batiniyah dan kejiwaan umat Islam (Khalid, 1984: 275-288).

Dewasa ini manusia hidup dalam suatu zaman yang penuh dengan citra kinetik, yaitu citra masyarakat yang terus berubah sebagai hubungan manusia yang bergerak cepat ditambah dengan kondisi obyektif masyarakat modern yang mengalami perubahan karakter karena masuknya budaya-budaya barat (westernisasi) yang masuk ke Indonesia, dan adanya penyelewengan - penyelewengan nilai-nilai Islam. Semakin hari tantangan realita kehidupan yang dihadapi umat Islam semakin banyak. Bentuknya pun beragam dari yang mikro kepada yang makro, dari urusan individu sampai masalah politik, sosial, ekonomi, konflik ideologi.

(18)

jauh dari memadai. Dengan berbagai masalah tersebut, kebenaran Islam mendapat tantangan untuk memberikan solusi yang tepat terhadap persoalan ini dapat terselesaikan jika umat Islam bisa memahami eksistensi agamanya menuju jalan Allah SWT, dan mampu meneladani sejarah perjuangan Rasulullah SAW terlepas dari sifat kemungkaran.

Dengan mengulas sejarah perjuangan Rasululah dalam dakwah Islam merupakan jawaban yang dibutuhkan yang kemudian dapat diambil hikmahnya, karena tujuan dari misi dakwah Islamiyah ialah mencegah segala kemunkaran atau kebatilan dari umat manusia. Proses dakwah Islam oleh Rasulullah SAW, terdapat tahapan dakwah faktual dimana pada tahapan yang pertama (di Mekah), Rasulullah membentuk pribadi muslim dari pengaruh masa jahiliyah (pra sejarah Islam), dan pada tahapan kedua (di Madinah) dengan pribadi muslim yang sudah terbentuk, rasulullah mulai membangun sebuah pemerintahan masyarakat Islam yang bersistem keadilan sosial dan berdasarkan syariat Islam dengan akta Piagam Madinah sebagai undang-undang yang mengatur kehidupan masyarakatnya yang plural (majemuk).

(19)

Pada umumnya faktor ini mendorong konflik yang tidak tidak mudah diselesaikan, tetapi Piagam Madinah (47 butir) merupakan upaya untuk menundukkan permasalahan masyarakat bangsa yang sedemikian plural itu pada konteks yang proporsional. Dalam kontreks ini Islam tampaknya memang didesain untuk bisa menata kehidupan sosial dalam segala aspek. Sebagaimana bisa dilihat dalam perumusan dan pelaksanaan butir-butir Piagam Madinah, yang hadir dengan gagasan baru bagi suatu bentuk tatanan "Masyarakat baru" yang disebut umat (community) dalam sejarah umat manusia.

Kepemimpinan Nabi Muhammad SAW pada abad ke-7 M adalah model yang paling ideal dan sempurna (par-excellence) karena keberhasilannya membangun pemerintahan di Madinah. Karena alasan-alasan inilah, penulis menjadikan Piagam Madinah sebagai basis kajian untuk memperoleh kejelasan nilai normatif dan empiric Islam dalam pergumulannya di tengah masyarakat pluralistik ( Azyumardi Azra, 2005: 96-97).

Untuk itu penulis mencoba untuk melakukan penelitian tentang sebuah perjalanan dakwah Rasulullah yang penulis anggap mampu untuk memberikan solusi atas krisis moral dalam masalah di atas, dengan Judul Strategi Dakwah Rasul di Mekah dan Madinah .. Judul ini perlu diangkat karena di samping untuk menambah khazanah pengetahuan dakwah Islam juga untuk mengembangkan pemikiran dan pengetahuan dakwah yang telah ada di tengah-tengah masyarakat tersebut dapat berkembang lebih baik.

(20)

Dalam mendakwahkan agama Islam, Nabi Muhammad menggunakan strategi dakwah dan hijrah demi terwujudnya tujuan dakwah. Kemudian dibuat suatu akta yang disebut Piagam Madinah untuk mengatur dan mempersatukan umat atau masyarakat yang majemuk serta untuk mengetahui sistem pemerintahan yang dibangun oleh Nabi (pemimpin negara). Kemudian diakhiri dengan pembahasan kesuksesan Nabi Muhammad sebagai pemimpin pemerintahan. Di mana letak kunci suksesnya? Di mana kunci sukses kepemimpinan Nabi Muhammad SAW ini masih relevan untuk diteladani setiap zaman bahkan di Indonesia pada era globalisasi ini.

Sejarah perjuangan Rasulullah SAW tidak pernah luntur karena halangan dan rintangan hijrah Rasulullah SAW dalam mennjalankan misi dakwah Islam merupakan alternatif juga garis start kelahiran peradaban baru yang membawa kesejukan dan rahmat bagi serata alam (rahmatan lil 'alamin). Konteks Islam tentang sejarah perjuangan dakwah Rasululah SAW adalah unik dan bersifat universal. Dalam beberapa hal ia lebih signifikan bagi kaum muslim daripada kelompok-kelompok umat yang lain. Dalam perspektif Al-Qur'an, Islam diturunkan untuk menyebar rahmat ke seluruh alam (Shidiqi, 1996: 3-5).

B. Identifikasi Masalah

Setelah dikemukakan tentang gambaran dari latar belakang masalah tersebut di atas, maka dapat diidentifikasikan masalah sebagai berikut:

1. Rasulullah SAW mendakwahkan agama Islam diawali dengan dakwah di Mekah kemudian hijrah ke Madinah .

(21)

3. Untuk mengetahui tatanan atau sistem pemerintahan yang dibangun Rasulullah SAW dibuat sebuah akta Piagam Madinah untuk mengatur masyarakatnya yang majemuk. Dari piagam ini beliau telah berhasil mempimpin umatnya dalam membangun plurarisme .

C. Pembahasan dan Perumusan Masalah

Tujuan dari perumusan masalah adalah memberikan dan mempertegas hubungan korelasi (keterkaitan) pada ruang lingkup pembahasan. Untuk mempermudah dan sedikit membantu uraian di atas, berikut rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana perjalanan dakwah Rasulullah pada periode Mekah? 2. Bagaimana perjalanan dakwah Rasulullah pada periode Madinah?

3. Apa saja kunci sukses kepemimpinan Rasulullah SAW dalam dakwah yang patut untuk diteladani?

D. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.1. Tujuan Penelitian

Berdasarkan gambaran permasalahan di atas dapatlah dikemukakan bahwa tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Untuk mendapatkan kejelasan tentang perjalanan dakwah Islamiyah Rasulullah periode Mekah .

(22)

3. Untuk mengetahui kunci sukses dakwah Rasulullah dalam memimpin umat Islam .

1.2. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi : 1. Akademik :

 Diharapkan dapat dijadikan pengembangan dakwah Islam yang terus dinamis dan progresif serta mampu memberikan sumbangan moril kepada insan akademis serta bagi mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta khususnya dalam mendalami dan mempelajari ilmu dakwah.  Dapat membantu dan memperkaya pemikiran mahasiswa tentang

pengetahuan dan penataan dakwah. 2. Praktis :

 Sebagai khazanah pengetahuan dakwah Islam guna mengembangkan pemikiran dakwah yang sesuai dengan tuntutan zaman atau tingkat perkembangan masyarakat yang sedang berkembang.

 Sebagai sumbangan ilmiah Islami di bidang dakwah guna meningkatkan keilmuan dalam disiplin ilmu dakwah.

(23)

3. Pembaca :

 Diharapkan dapat menambah ilmu pengetahuan dan dasar untuk menerapkan nilai - nilai kemanusiaan dan budi pekerti kepada Rasulullah dalam menjalani realita kehidupan.

 Diharapkan dapat dijadikan referensi bagi para sahabat serta umat Islam pada umumnya untuk meneladani sikap Rasulullah.

E. Metode Penelitian

Penelitian skripsi ini menggunakan metode atau jenis penelitian kepustakaan (literatur) karena tulisan-tulisan ini ditulis dalam waktu yang berbeda dan pada media forum yang berbeda pula. Maka dalam bentuk aslinya tidak dapat diletakkan terjadi pengulangan informasi dan pendekatan yang dipakai oleh penulis adalah pendekatan sejarah. Penelitian pustaka adalah penelitian yang menelaah bahan pustaka atau buku-buku yang berkaitan dengan topik pembahasan. (Keraf. 2001 : 165) .

1. Sumber Data

Sumber data menurut sifatnya dapat digolongkan menjadai dua, yaitu meliputi :

a. Sumber data primer, yaitu sumber-sumber yang memberikan data langsung dari tangan pertama.

b. Sumber data sekunder, yaitu sumber yang mengutip dari sumber lain.

(24)

Rasulullah SAW, psikologi dakwah, kemanusiaan muhammad, desain ilmu dakwah, jeram-jeram peradaban muslim dan lain sebagainya.

2. Tehnik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan penelitian kepustakaan dengan prosedur sebagai berikut:

a. Menentukan data yang digunakan dalam penelitian ini.

b. Melacak sumber data kemudian membaca dan mencatat tulisan yang berkaitan dengan masalah yang akan diteliti.

c. Catatan di atas diklasifikasikan disusun berdasarkan masalah yang akan diteliti. (Rokhmat, 2004 : 23 ).

3. Tehnik Analisa Data

Analisa data merupakan proses penyelenggaraan data ke dalam bentuk yang mudah dibaca dan diinterprestasikan. Setelah data-data diperoleh, kemudian diolah, dipaparkan dan dianalisa dengan menggunakan alur pemikiran, yaitu:

a. Metode deduktif adalah pola pikir yang bermula dari masalah yang bersifat umum ditarik kesimpulan kepada yang bersifat khusus.

b. Metode induktif adalah pola pikir yang bermula dari masalah yang bersifat khusus ditarik kesimpulan kepada yang bersifat umum.

(25)

c. Metode historis

Historis artinya berhubungan dengan sejarah, dan sejarah merupakan studi tentang masa lalu dengan menggunakan kerangka paparan dan penjelasan. Sejarah adalah studi

empiris yang menggunakan berbagai tahap generalisasi untuk memaparkan, menafsirkan dan

menjelaskan data (Rakhmat, 2004: 22). Metode historis adalah Metode ilmu dakwah dengan menggunakan pendekatan ilmu sejarah. Maksudnya realitas dakwah dilihat dengan menekankan pada semua unsur dalam sistem dakwah dalam perspektif waktu dan tempat kejadian. Dengan metode ini fenomena dakwah dapat dideskripsikan secara komprehensif dan utuh (Sulthon, 2003 : 111). Sehingga metode historis bertujuan untuk merekonstruksikan masa lalu secara sistematis dan obyektif dengan mengumpulkan, menilai, memverifikasi dan menyintesiskan bukti untuk menetapkan fakta dan mencapai konklusi yang dipertahankan dalam menguji hipotesis.

Dalam penelitian ini metode yang digunakan untuk menganalisa data adalah analisa deskriptif kualitatif, yakni dimaksudkan untuk eksplorasi san klarifikasi mengenai sesuatu fenomena atau kenyataan sosial dengan jalan mendeskripsikan sejumlah variabel yang berkenaan dengan masalah dan unit yang diteliti. Menurut Isaac dan Michail (1972: 18), metode deskriptif bertujuan melukiskan secara sistematis suatu peristiwa atau siatuasi secara faktual dan cermat (Rakhmat, 2004: 24) .

F. Sistematika Penulisan

(26)
(27)

BAB II

RIWAYAT HIDUP RASULULLAH SAW

A. Masyarakat Arab Pra-Islam dan Kelahiran Rasulullah

Jazirah Arab merupakan bangsa yang plural dengan berbagai suku keyakinan (agama), dan kelompok-kelompok sosial yang dimiliki dengan kata lain pluralisme adalah realitas yang tidak terbantahkan di Jazirah Arab pra- Islam. Terletak di barat daya Asia, dengan jumlah penduduk sekitar 12.000.000 jiwa, terbagi menjadi delapan bagian dan terdapat berbagai sukusuku Arab yang berserak di Jazirah Arab masing-masing terbagi dalam kelompok sosial yang memiliki keyakinan ataupun agama yang berbeda (Amaly, 1986: 11).

(28)

Bangsa Arab dulunya mengikuti agama Nabi Ibrahim a.s. agama tauhid, namun lama kelamaan berganti dengan agama buatan sendiri akibat mengikuti prasangka-prasangka, angan-angan dan khayalan. Plurarisme bangsa Arab pra- Islam merupakan instrumen dari kemajemukan masyarakat Arab yang bisa menjadi persoalan krusial. Kerusakan-kerusakan yang parah dibidang agama, politik, sosial, dan ekonomi. Pada abab VI M menunjukkan bahwa individualisme “pengaruh aku” yang mengakibatkan krisis akhlak melanda kepada masyarakatnya, maka dari itulah Allah SWT mengutus Muhammad SAW untuk menyempurnakan “akhlak” hormat diri yang mulia (Amaly, 1986: 29) .

Kerusakan di bidang agasma fitrah ialah kebanyakan masyarakat membuat “dasar hidup” sendiri berdasarkan akal saja dengan pengaruh lingkungan hidup serta “rasa kepuasannya” mereka enggan menganut agama Allah SWT (agama fitrah: Islam) sehingga berakibat mereka menyekutukan Allah SWT dengan sesuatu makhluk lain. Kerusakan dibidang politik terletak pada terhapusnya rasa “keadilan” oleh karena mereka membuat tata negara “menurut kemauan pandangan akal pikirannya” tanpa mengindahkan tata negara.

(29)

Sehingga kekuatan rakyat menjadi lemah dan timbul berbagai macam mala petaka ataupun bencana yang menimpa mereka. Demikianlah pluralisme negara Arab sebelum Islam yang mempunyai potensi konflik yang besar (Amaly, 1986: 31) Di tengah-tengah masyarakat dengan kondisi seperti itulah Allah mengutus Nabi Muhammad SAW. Ia membawa wahyu yang menjadi landasan segala sikap dan perilakunya. Nabi Muhammad SAW, tidak membawa tugas untuk menghapuskan wahyu-wahyu sebelumnya, akan tetapi untuk memberikan konfirmasi kepada wahyu tersebut .

Selain itu untuk menolak perubahan-perubahan yang telah terjadi dalam kitab-kitab suci sebelumnya. Beliau ditugaskan untuk memurnikan ajaran nabi-nabi sebelumnya dari pemalsuan-pemalsuan serta mengembangkan dan menyempurnakan, agar dapat sesuai dengan seluruh manusia pada segala zaman dan segala tempat (Subky, 1995: 32).

Firman Allah : Q.S. at-Taubah: 33:

Artinya : “Dialah yang telah mengutus RasulNya (dengan membawa petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkanNya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai.” Q.S. At-Taubah: 33).

(30)

Ketika itu Rasullah SAW dalam kandungan ibunya dua bulan (Ibrahim, 1991: 1-2) Rasulullah SAW lahir di waktu menjelang fajar subuh, hari senin, tanggal 12 Rabi’ul Awwal tahun Gajah (20 April 571 M), di zaman Raja Persi Kisra Anu Syarwan yang adil di kota Mekah tepatnya pada sebuah rumah di Safa kepunyaan Muhammad bin Yusuf; dijadikan masjid ketika orang naik haji. Tahun kelahiran Rasulullah SAW disebut tahun Gajah karena menjelang lahirnya beliau beberapa minggu kemudian gubernur Negus (Raja Abessinia), Abrahah bin Al-Asyram yang membangun gereja besar lagi indah di Shoria, ibu kota negeri Yaman yang belum pernah dibangun oleh raja-raja sebelumnya, hendak menghancurkan Ka’bah dengan tentara bergajah sebanyak 12 tentara.

Namun usaha mereka tidak berhasil lantaran belum sampai di kota Mekah baru sampai dekat “Arafah”, mereka diserang oleh burung-burung yang berbondong-bondong (burung Ababil), yang melempari mereka dengan batu-batu kecil dari tanah yang terbakar sehingga mereka musnah semuanya. Itulah yang tersebut di dalam Al Qur’an surat Al Fil (surat gajah), yang bunyinya:

Artinya : “Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah. Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka'bah) itu sia-sia? dan Dia mengirimkan kapada mereka burung yang berbondongbondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat) (Q.S. Al-Fill: 1-5)

(31)

B. Pengalaman Hidup Rasulullah SAW

Rasulullah SAW umur enam tahun oleh ibunya dibawa keluar ke pamannya dari arah ibunya di Madinah, kemudian ibunya Aminah binti Wahab meninggal di desa Abwa, suatu tempat yang terletak antara Makkah dan Medinah dan dimakamkan disana pula. Ketika itu ibunya berusia tiga puluh tahun. Dua tahun sesudah itu meninggal pula neneknya Abdul Muthalib yang mengasuhnya itu. Setelah Muhammad SAW berusia 8 tahun neneknya meninggal, kemudian beliau diasuh oleh pamannya, Abu Thalib, saudara ayahnya.

Ketika Rasulullah SAW di tangan Abu Thalib, beliau sering dibawa bepergian oleh Abu Thalib ke negeri Syam, untuk berdagang. Sebelum sampai di negeri Syam di suatu tempat yaitu Bushra, bertemu dengan Rahib (pendeta Nasrani); Buhairo. Ia melihat tanda-tanda kenabian pada diri Rasulullah SAW dan menasehati untuk segera kembali ke Makkah, karena kalau kaum Yahudi mengenalinya tentu akan mencelakakannya, Abu Thalib kemudian segera menyelesaikan dagangannya dan segera kembali ke Mekah (Amali, 1986: 36).

(32)

(fudhul), yang isinya adalah “Tidak seorangpun yang akan teraniaya di kota Makkah baik oleh penduduk Makkah sendiri ataupun oleh orang lain. Barang siapa teraniaya harus dibela bersama-sama”. (Amaly, 1986: 37).

Setelah dewasa, Rasulullah SAW berusaha hidup mandiri untuk mencukupi kebutuhannya sendiri. Karena beliau dikenal sebagai pemuda yang rajin dan jujur maka seorang janda bernama Khadijah binti Khuwalid, seorang bangsawan dan pedagang kaya memberi kepercayaan untuk membawa barang dagangannya ke negeri Syam. Perjalanan niaganya disertai oleh seorang pembantu Khadijah yaitu Maisaroh. Beliau dipilih sebagai komisioner, lantaran sifat-sifat Rasulullah SAW, kepercayaan, kejujuran dan sifat dan pembawaannya baik, akhlak yang terpuji maka, oleh kaumnya beliau dikenal sebagai “Al Amin” (orang yang terpercaya). Jual belinya sangat maju dan mendapat keuntungan yang besar.

Beberapa waktu setelah Rasulullah SAW pulang dari perjalanan ke negeri Syam itu, datanglah lamaran dari Khadijah untuk menjadi suaminya. Kemudian hal itu disampaikan kepada pamannya, Abbas bin Abu Thalib setelah dicapai kesepakatan pernikahanpun dilangsungkan. Ketika itu Rasulullah Saw berusia 25 tahun sedangkan Khadijah berusia 40 tahun. Khadijah adalah istri pertamanya. Khadijah mendampingi Rasulullah Saw dengan setia dan menyertainya. Dari perkawinan yang diberkati Allah SWT tersebut, beliau dikaruniai empat orang putri dan dua orang putra, yaitu: 1. Qasim, 2. Zaenab, 3. Ruqayyah, 4. Ummu Kulsum, 5. Fatimah, 6. Thayib. Kedua putranya meninggal ketika masih kanak-kanak di masa Jahiliyah.

(33)

perselisihan. Orang-orang yang mulia yang boleh meletakkan Hajrul Aswad itu di tempatnya semula. Perselisihan itu hampir menimbulkan peperangan, dan dapat dihentikan oleh orang yang mula-mula masuk dari pintu Bani Syaibah. Kiranya Muhammad orang yang mula-mula masuk melalui pintu itu. Oleh karena itu Muhammad dipilih sebagai hakim untuk menyelesaikan perselisihan mereka itu.

Oleh Muhammad dibentangkannya ridaknya yakni kain kudung penutup kepalanya dan diletakkan Hajrul Aswad itu di atasnya, dan menyuruh tiap-tiap kabilah itu mengambil ujung ridak itu, sehingga Hajrul Aswad itu terangkat sama tinggi dengan tangan masing-masing kabilah itu dan meletakkan pada tempatnya semula (Amali, 1986: 38-39). Karim (1990: 55) berpendapat bahwa pengagungan Ka’bah sebagaimana yang ditradisikan dikalangan muslim merupakan warisan dari suku-suku Arab, masyarakat Arab yang pluralistik sepakat untuk menyucikan Ka’bah yang ada di Mekah karena pada masa pras Islam terdapat 21 Ka’bah di semenanjung Arab.

C. Pribadi Rasulullah SAW

(34)

(Ali bin Abi Thalib) tentang perilaku Nabi SAW pada sahabat-sahabatnya”. Ayahku berkata: “Rasulullah SAW adalah orang yang bermuka manis, lembut budi pekertinya, tawadhu’ tidak bengis, tiada kasar, tiada bersuara keras, tiada berlaku keji, tidak suka mencela dan juga tiada kikir. Beliau membiarkan (tidak mencela) apa yang tidak disenanginya. Beliau tidak menjadikan orang yang mengharapkan (pertolongannya) menjadi putus asa, tiada pula menolak untuk itu. Beliau tinggalkan dirinya dari tiga perkara, yaitu: dari perbantahan, menyombongkan diri dan dari sesuatu yang tidak selayaknya.

Beliau tinggalkan orang lain dari tiga perkara, yaitu; beliau tidak mencela seseorang, beliau tidak membuat malu orang dan beliau tidak mencari keaiban orang. Beliau tidak bicara melainkan pada sesuatu yang diharapkan ada baiknya. Beliau berbicara semua orang dimajlisnya tertunduk, seolah-olah kepala mereka dihinggapi burung. Bila beliau diam, barulah mereka berbicara. Mereka tidak ada yang berbantahan kata di sisinya. Bila ada yang berbicara disisinya, mereka diam memperhatikannya sampai beliau selesai (berbicara). Yang dipercakapkan mereka disisinya adalah percakapan yang utama.

(35)

karimah inilah, maka beliau menjadi tauladan terbaik bagi umat muslim disegala tempat dan di segala jaman.

D. Risalah Muhammad SAW

Allah SWT Rasulullah SAW untuk menyampaikan risalah kerasulannya. Di dalam diri Muhammad SAW itu terdapat sifat-sifat basiah (alat indera) dan sifat-sifat ma’nawi (bathin). Kedua sifat ini sudah mendarah daging dan sudah menjadi tabiat bagi Muhammad Saw. Sejak mula pertama diberikan kepadanya jiwa yang kuat, budi yang luhur, hati yang suci dan perasaan halus. Diberikan kekuatan Bashirah (melihat dengan kemampuan bathin) untuk menembus segala rintangan. Pemberian Allah SWT yang kedua adalah kebenaran lidah, pikiran tajam, penglihatan jauh dari dosa, kejujuran, kesucian hati, dan bersifat rahim kepada sesama manusia (Al-Abyadi, 1996: 33) .

(36)

sebagai syari’at; hukum tertinggi Islam (Hussain, 1996: 11) Risalah Rasulullah SAW berisi ajaran Tauhid, kesamaan derajat diantara manusia dan persaudaraan serta akhlak mulia.

Setelah beliau menerima wahyu pertama beliau kemudian melaksanakan da’wah. Pokok ajaran yang disampaikan adalah Tauhid; meng-Esakan Allah SWT. Para penyembah berhala diseru untuk meninggalkan berhala. Ajaran Anthropomorphisme, yaitu suatu paham yang menyatakan Tuhan dapat menyerupai bentuk manusia adalah ajaran yang keliru dan menyesatkan. Mereka diajak untuk membersihkan segala macam bentuk kemusyrikan untuk meng-Esakan dan menyembah hanya kepada Allah SWT. Beliau menyampaikan risalahnya di kalangan bangsa Arab yang plural dan keras untuk mengajak merka kepada kebaikan.

Kepada pengikut Zoro Aster dari Persia yang menyakini bahwa Tuhan itu ada dua, yaitu Ahriman; Tuhan kebaikan dan Ahura Mazda; Tuhan kejahatan mereka diajak untuk meluruskan keyakinan yaitu hanya bertuhan kepada Allah SWT. Bagi paham materialisme (menghambakan diri pada materi/kebendaan) Hedonisme (mengejar kesenangan), sinkretisme (paham yang mencampuradukkan agama menjadi satu). Areisme (keberadaan tuhan ada dibenda patung, ataupun pohon besar) mereka diminta menyakini bahwa selain Allah adalah makhluq. Semua yang ada adalah cipaan Allah Tuhan Yang Maha sa. Kepada yang tidak bertuhan ditanamkan keyakinan bahwa Tuhan itu ada. Firman Allah SWT, surat Al Baqarah ayat 163, menerangkan ke-Esaan Tuhan:

Artinya: “Dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan Dia

yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”. (Q.S. Al Baqarah: 163)

(37)

sama derajatnya yang melebihkan seorang dari yang lain adalah ketaqwaannya. Firman Allah SWT dalam Qur’an Surat Al Hujrat ayat 13:

Artinya: “Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya

kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi

Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui

lagi Maha Mengenal”. (Q.S. Al Hujurat: 13)

(38)

BAB III

HAL IHWAL DAKWAH DALAM MASYARAKAT MADANI

A. DAKWAH

1. Pengertian Dakwah

Dilihat dari segi bahasa, kata dakwah berasal dari kata Arab da’wat, merupakan bentuk masdar dari kata kerja da’a-yad’u yang berarti seruan, ajakan atau panggilan.1 Seruan dan panggilan ini dapat dilakukan dengan suara, kata-kata atau tulisan dan perbuatan.2 Kata dakwah juga berarti do’a (al-du’a), yakni harapan, permohonan kepada Allah swt atau seruan (al-Nida’). Do’a atau seruan pada sesuatu berarti dorongan atau ajakan untuk mencapai sesuatu.3

Dalam al-Qur’an berdasarkan penelitian Muhammad Fu’ad Abd al-Baqi kata dakwah dalam berbagai bentuk dan turunanya terulang sebanyak dua ratus sembilan puluh sembilan kali. Dalam bentuk masdar (dakwah) disebut enam kali, dalam bentuk `amr tiga puluh empat kali. Sebagai seruan atau ajakan, kata dakwah dipergunakan baik untuk ajakan kepada yang baik / benar atau jalan yang sesat4 . term-term utama yang terkait dengan dakwah seperti; Nabi sebagai pembawa informasi Ilahi seratus lima puluh empat kali, Rasul penyampai pesan Ilahi lima ratus dua puluh tiga kali. Nashihat tiga belas kali, Irsyad

(bimbingan) sembilan belas kali, Tadbir (mengurus) delapan kali, tadhwir (mengembangkan

1

Ahmad al-Fayumi, al-Misbah al-Munir, Bairut: Dar al-Fikr t,t. hal. 194 2

Abu al-Husein Ahmad Ibnu Faris, Mu’jam Maqayis al-Lughat, Bairut: Dar al-Fikr, 1979, hal. 279 3

Da’wah dalam arti do’a dijelaskan dalam al-Qur’an: surat al-Baqarah, 186: Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang aku, maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar meraka selalu berada dalam kebenaran.

4

(39)

sebelas kali. 5 Sejauh penggunaannya dalam al-Qur’an, kata dakwah ada yang dikaitkan dengan jalan Allah swt, jalan kebaikan atau jalan ke surga. Dan sebaliknya ada pula yang disandarkan pada jalan syetan, kehancuran, jan keburukan atau jalan ke api neraka. 6 Bahkan dalam satu ayat terdapat pula penggunaan kata dakwah untuk arti keduanya secara bersamaan.7 Dari sisi etimologi dakwah memiliki pengertian “ panggilan’’, diambil dari kata masdar da’watan, juga berarti “ memanggil ’’, dari kata da’a. kedua arti ini dapat digunakan tergantung pada pemakaian dalam kalimat.8 Dari sisi terminology, dakwah memiliki pengertian yang berfariasi, diantaranya: Syaikh Ali Mahfudz, dakwah adalah mendorong (motivasi) manusia untuk melakukan kebaikan dan mengikuti petunjuk, memerintahkan mereka berbuat ma’ruf dan mencegahnya dari perbuatan munkar agar mereka memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat.9

Berdasarkan term-term dalam al-Qur’an di atas dakwah secara umum merupakan proses menyeru untuk mengikuti sesuatu dengan cara-cara tertentu, sedangkan dakwah Islam diartikan sebagai proses perilaku keislaman menyeru ke jalan Allah yang melibatkan unsur-unsur. Da’i, pesan (materi), uslub (metode), washilat (media), mad’u dan tujuan. Dari segi bentuknya dakwah dapat berupa irsyad (internalisasi dan bimbingan), tabligh (transmisi dan penyebaran), tadbir (rekayasa sumber daya manusia), tathwir (pengembangan kehidupan

5

Syukriadi Syambas, (ed) Aep Kunawan, Ilmu Dakwah Kajian Berbagai Aspek, Bandung: Pustaka Bani Quraisy, 2004, hal.128

6

Pengertian dakwah yang menjurus kepada kesesatan sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur’an, surat Lukman, ayat 21: Dan apabila dikatakan keada mereka: “Ikutilah apa yang diturunkan Allah”. Mereka menjawab: “ (Tidak), tapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapa kami mengajarkannya”. Dan apakah mereka (akan mengikuti bapak-bapak mereka) walaupun syaitan itu menyeru mereka kedalam siksa api yang menyala-nyala (neraka).

7

Al-Qur’an: Surat al-Baqarah, ayat 21:... mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke syurga dan ampunan dengan izin-Nya, dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perinyah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.

8

Dakwah yang berarti panggilan, dari kata masdar “da’watan” adalah pendapat ulama Basrah, sedangkan dakwah berati memanggil dari kata “da’a”. adalah ulama Kufah. Moh. Ardani, Memahami permasalahan Fiqih Dakwah, Jakarta: Mitra Cahaya Utama, 2006, hal. 9.

9

(40)

dalam aspek kultur universal).10 Manusia dengan cara bijaksana kepada jalan yang benar sesuai dengan perintah Tuhan untuk kemaslahatan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat.11

Sayyid Quthub menjelaskan ayat ke-24 surat al-Anfal, bahwa dakwah adalah ajakan atau seruan ditujukan kepada kehidupan yang sempurna. Dakwah mengandung ajakan kepada lima prinsip dasar yang dapat menghantarkan pada kehidupan yang sempurna, kelima prinsip dasar tersebut adalah: Pertama, seruan kepada aqidah tauhid yang akan membebaskan manusia dari penyembahan diri selain kepada Allah SWT. Kedua, seruan kepada hukum-hukum Allah dalam arti seruan untuk membangun dan mengatur kehidupan dengan undang-undang Allah SWT (prinsip syari’ah) seruan ini akan menempatkan manusia sejajar di hadapan hukum terlepas dari kepentingan dan dominasi perorangan atau kelompok tertentu yang berpengaruh dalam masyarakat. Ketiga, seruan kepada sistem hidup atau konsep mengenai kehidupan yang sesuai dengan fitrah kemanusiaan yang tidak lain adalah sistem Islam. Keempat, seruan kepada kemajuan dan kemuliaan hidup dengan aqidah dan sistem Islam untuk kemudian membebaskan manusia dari perbudakan dan penyembahan terhadap sesama manusia. Kelima, seruan kepada perjuangan dan jihad Islam untuk dapat mewujudkan dan menegakkan sistem Allah di muka bumi.12 Menurut Sayyid Quthub dakwah adalah usaha orang beriman mewujudkan sistem dan ajaran Islamdalam realitas kehidupan, atau usaha orang beriman mengokohkan sistem Allah dalam kehidupan manusia baik pada tataran individu, keluarga, masyarakat dan umat dari kebahagiaan hidup di dunia-akhirat.13

10

Syukriadi Sambas, (ed) Aep Kusnawan, Ilmu Dakwah Kajian Berbagai Aspek, hal.128. 11

Thoha Yahya Umar, Ilmu Dakwah, Jakarta: CV al-Hidayah, hal. 7. 12

Sayyid Quthub, Fi zhila al-Qur’an, Bairut: Dar al-Syuruk, Cek 23, 1994, Jilid III, hal. 1493. 13

(41)

Menurut Al-Bahi al-Khuli, da’i bukan sekedar penceramah. Penceramah adalah penceramah. Da’i adalah orang yang meyakini ideologi Islam (Fikrat), ia mengajak kepada fikrat Islam dengan tulisan, ceramah (pidato), pembicaraan biasa dan dengan semua perbuatannya khusus maupun yang umum, serta dengan segala perangkat dakwah yang mungkin dilakukan. Ia adalah seorang penceramah, pembicara dan tokoh panutan yang berusaha mempngaruhi manusia dengan kerja dan kepribadiannya. Ia juga seorang dokter masyarakat yang berusaha mengobati penyakit-penyakit jiwa dan memperbaiki kondisi masyarakat. Ia seorang pengamat dan peneliti yang kritis yang menjadikan hidupnya untuk melakukan perbaikan kondisi yang dikehendaki Allah SWT. Ia seorang teman dan sahabat bagi si-kaya dan si-miskin, serta teman bagi yang tua maupun yang muda, dari sifat-sifat semacam ini akan tumbuh rasa cinta kasih pada sesama manusia, dalam dirinya tidak ada perbedaan antara kata dan perbuatan. Ini merupakan keharusan bagi seorang da’i. Hal semacam ini merupakan pengaruh jiwa dan hati yang membedakan dengan pengaruh sastra, orator dan politikus. Da’i adalah tokoh masyarakat, pemimpin politik di lingkungannya dan pemimpin bagi gagasan-gagasannya serta pemimpin bagi orang-orang yang mengikuti jalan pikirannya. Para da’i diharapkan dapat membangun umat atau ikut mendukung kelahirannya, mereka diharapkan ikut membangun sistem pemerintahan Islam atau ikut membantu mewujudkannya, karena itu pekerjaan semacam ini tidak mungkin akan terlaksana jika hanya dilakukan dengan ceramah atau pidato, retorika dan humor tanpa disertai adanya gerakan secara sistemtis.14

Ahmad Muhammad Jamil, berpendapat “pengertian yang umum mengenai dakwah adalah, dakwah difahami sebagai nasehat, ceramah dan penyampaian pidato di masjid-masjid. Padahal hakikat dakwah sebenarnya jauh lebih luas dari itu. Dakwah pada dasarnya

14

(42)

adalah kata-kata, perbuatan dan sekaligus perilaku. Medan dakwah sangat beragam, di masjid, madrasah, perguruan tinggi, institusi-institusi sosial yang beragam, mol dan perusahaan, organisasi-organisasi yang beragam bentuknya tujuannya secara singkat padat dikemukakan adalah untuk mewujudkan syari’at Islam dalam semua segi kehidupan masyarakat, baik aqidah, syari’ah maupaun akhlak.15

H. Soedirman memberikan pengertian bahwa dakwah tidak identik dengan tabligh, tetapi meliputi semua usaha mewujudkan ajaran Islam pada semua segi kehidupan, dalam konteks ini tabligh merupakan bagian dari dakwah Islam.16

Muhammad Abu Zahrah memberikan kriteria bahwa sesuatu kegiatan dapat disebut dakwah jika merupakan sistem usaha bersama orang beriman dalam rangka mewujudkan ajaran Islam dalam semua segi kehidupan sosio-kultural yang dilakukan melalui lembaga-lembaga dakwah, sedangkan tabigh merupakan sistem usaha penyiaran dan penyampaian ajaran Islam agar dipeluk individu atau masyarakat yang dilakukan oleh individu atau kolektif baik melalui lisan maupun tulisan. Tabligh merupakan bagian dari sistem dakwah yang dilakukan oleh da’i sesuai profesinya.17

Dalam rumusan lain beberapa definisi dakwah antara lain; dakwah adalah usaha yang mengarah untuk memperbaiki suasana kehidupan yang lebih baik dan layak sesuai dengan kehendak dan tuntutan kebenaran.18 Dakwah adalah usaha membuka konfrontasi di tengah manusia, membuka kemungkinan bagi kemanusiaan untuk menetapkan pilihannya sendiri.19 Dakwah Islam adalah dakwah kepada standar nilai-nilai kemanusiaan dalam tingkah laku pribadi-pribadi di dalam hubungan antar manusia dan sikap perilaku antar

15

Ahmad Muhammad Jamil, Qadlaya Mu’ashsirat fi Muhkamat al-Fikr al-Islami, Kairo: Dar al-Shahwat, 1980, hal. 57-58. 16

H. Soedirman, Problematika Dakwah di Indonesia, Surabaya: 1970, hal. 47. 17

Abu Zharah, al-Da’wat Ila al-Islam, tth, hal. 27. 18

Effendi Zarkasi dkk, Metodologi Dakwah Kepada Suku Terasing, Jakarta: Departemen Agama RI, 1987-1979, hal. 4. 19

(43)

manusia.20 Dakwah adalah mengajak manusia dengan cara bijaksana kepada jalan yang benar sesuai dengan perintah Tuhan untuk kemaslahatan dan kebahagiaan mereka di dunia dan akhirat.21 Dakwah merupkan suatu proses usaha untuk mengajak agar orang beriman kepada Allah swt, percaya dan mentaati apa yang telah diberitakan Rasul serta mengajak agar dalam menyembah Allah seakan-akan melihat-Nya.22 Dakwah adalah usaha mengubah situasi kepada yang lebih baik dan sempurna, baik terhadap individu maupun masyarakat.23 Dakwah adalah gerakan untuk merealisasikan undang-undang Allah yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.24 Dakwah adalah mendorong (memotovasi) umat manuia agar melaksanakan kebaikan dan mengikuti petunjuk serta memerintah berbuat makruf dan mencegah dari perbuatan munkar supaya mereka memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat.25dakwah adalah setiap usaha atau aktivitas dengan lisan atau tulisan lainnya, yang bersifat menyeru, mengajak, memanggil manusia lainnya untuk beriman dan mentati Allah swt sesuai dengan garis-garis aqidah dan syari’ah serta akhlak Islamiyah.26

Dari berbagai konsep dakwah yang dirumuskan para intelektual muslim di atas penulis merumuskan konsep dakwah sebagai berikut: dakwah sebagai suatu kegiatan yang dilakukan orang beriman kepada Allah dalam bidang kemasyarakatan yang diwujudkan dalam sistem kegiatan yang dilaksanakan secara sistematis untuk mempengaruhi cara merasa, berpikir dan berperilaku baik dalam kehidupan individu maupun sosio-kultural dalam rangka mewujudkan kehidupan yang adil, makmur diridhoi Allah.

20

Muhammad al-Bahy, al-Sabil ila Dakwah al-Haq, Kairo: Mathba’at al-Azhar, 1970, hal. 14. 21

Thaha Yahya Umar, Ilmu Dakwah al-Haq,Jakarta: Wijaya, 1971, hal. 1. 22

Ibn Taimiyah, Majmu’ al-Fatawa, Riyad: Mathbah’at al-Riyad, 1985, juz XV, cet. Pertama, hal. 185. 23

Al-Bahy al-Khauly,Tadzkirat al-du’at, Kairo: Maktabat dar al-Turats, 1408 H/1987 M, cetakanke-8, hal. 35. 24

Ra’uf Syalaby, al-Dakwat al-Islamiyat Manahijuha wa Ghayatuha, Kairo: al-Fajr al-Jahid, 1985, hal. 34. 25

Syekh Ali Mahfudz, Hidayat al-Mursyidin, Mesir: Dar al-Mishr, 1975, hal. 7. 26

(44)

Dari konsep ini dapat dijelaskan bahwa sesuatu kegiatan disebut dakwah jika terpenuhi unsur-unsur, Pertama, pelakunya orang beriman. Kedua, dilakukan di tengah-tengah masyarakat. Ketiga, memiliki sistem kegiatan. Keempat, kegiatan tersebut untuk mempengaruhi cara merasa, berpikir dan berperilaku seseorang atau sekelompok orang untuk menjalakan yang makruf dan meninggalkan yang munkar. Kelima, kegiatan itu bersifat ikhtiyar dan bukan pemaksaan. Keenam, memiliki sistem tujuan yaitu terwujudnya kehidupan yang adil, makmur diridhoi Allah dalam rangka memperoleh kebahagiaan dunia- akhirat.

2. Konsep Dakwah Pergerakan (da’wat Harakat)

Menurut Hasan Ibnu Falah dakwah pergerakan memiliki pengertian yang sama dengan a’wat harakat. Dakwah ini lebih menekankan pada aspek tindakan (aksi) daripada wacana (teorisasi). Dakwah pergerakan/da’wat harakat menurut Hasan Ibnu Falah al-Qaththani, adalah dakwah yang berorientasi pada pngembangan masyarakat Islam, dengan melakukan reformasi dalam segala segi kehidupan manusia dari perbaikan individu (ishlah Fard), perbaikan keluarga (ishlah Usrat) dan perbaikan masyarakat (Ishlah al-Mujtama’) serta perbaikan pemerintahan dan negara (ishlah a-Daulat).27

Sementara al-Ja’bari memandang dakwah pergerakan/da’wat harakat sebagai suatu konsep dakwah yang memadukan antara dimensi pemikiran (konseptual), dan pergerakan (pratikal), serta merupakan bagian integral dari gerakan kebangkitan Islam yang banyak bermunculan di negara-negara Islam sejak permulaan beberapa abad yang silam.28 Oleh karena itu dakwah ini bersifat dinamis, progresif dan banyak digunakan oleh

27

Hasan Ibnu Falah al-Qaththani, al-Thariq ila al-Nahdlat al-Islamiyyat, Riyadl: Dar al-Hamidi, 1993, hal. 1-10. 28

(45)

organisasi pergerakan Islam kontemporer, terutama gerakan al-Ikhwan al-Muslimun di Mesir, Jama’at Islamiyat di Pakistan, gerakan Nuriah atau Nurculuk di Turki.

Kata harakat/pergerakan itu sendiri secara harfiah berarti gerak atau gerakan, merupakan lawan dari diam. Dikatakan bergerak, bila seorang berpindah atau mengambil posisi baru.29 Dari makna harifah ini, dapat dipahami dua makna penting kata harakah.

Pertama, harakah menunjuk pada suatu gerakan yang timbul setelah masa atau kondisi vakum. Kedua, harakah menunjuk pada suatu usaha pembaharuan untuk membawa masyarakat kepada kehidupan baru yang lebih baik.30

Harakat/pergerakan menurut Kalim Siddiqui merupakan watak Islam. Dikatakan bahwa Islam lahir menjadi suatu gerakan dan akan selalu menjadi gerakan. Gerakan Islam bertujuan mendirikan dan melindungi negara Islam demi kesejahteraan dan kebahagiaan hidup manusia di dunia dan akhirat.Yusuf Qardhawi menekankan pentingnya dakwah pergerakan/ da’wat harakat ini untuk membebaskan manusia dari kejahatan. Masyarakat Islam, kata Qardhawi, tidak akan pernah sepakat dalam kesesatan, karena itu harus selalu ada sekelompok orang dari kalangan masyarekat Islam yang bangkit membela kebenaran, membimbingan dan mengajak manusia kepada jalan yang benar. Yusuf ardhawi menyebut kebangkitan demi pembaharuan dan kemajuan Islam.31 Harakah atau kebangkitan, menurut Qardhawi harus mencakup beberapa aspek, yaitu kebangkitan intelektual, kebangkitan jiwa, kebangkitan motivasi dan kehendak serta kebangkitan kerja dan dakwah. Dimaksud dengan kebangkitan dakwah adalah “Dakwah bermakna membangun gerakan yang akan membawa manusia kejalan Islam yang meliputi: aqidah dan syari’ah, dunia dan negara, mental dan

29

Raqhib al-Ashfahani, al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an, Bairut: Dar al-Ma’rifat, tt, hal. 114. Lihat pula Ibnu Manzhur, Lisan al-Arab, Bairut: Dar al-Shadir, 1990, hal. 411.

30 Simi Niazi, A New Paradigm in the Making: dalam Kalam Siddiqui (ed), Issues in the Islamic Movement 1980-1981, London: Toronto, The Open Press Limited, `1982, hal. 330-331.

31

(46)

kekuatan fisik, peradaban dan umat. Kebudayaan dan politik serta jihad dalam rangka mewujudkan Islam di muka bumi serta dalam rangka menegakkan ajarannya di kalangan umat Islam sendiri, sehingga terjadi persesuaian antara perilaku dan hati nuraninya. Dakwah juga bermakna bekerja untuk membebaskan umat Islam dari berbagai kekuatan politik yang menindas dan membelenggu mereka.32

Dakwah pergerakan/da’wat harakat tampaknya memiliki identitas dan karakternya sendiri. Menurut MusthafaMasyhur dakwah pergerakan/da’wat harakat tertumpu pada tiga kekuatan. Pertama, kekuatan aqidah dan iman (quwwat al-aqidat wa al-Iman). Kedua,

kekuatan kesatuan dan ikatan jama’ah di antara kaum muslimin (quwwat wahdat wa al-tarabut baina al-muslimin). Ketiga, kekuatan jihad (quwwat al-Jihad). Ketiga kekuatan ini, menurut Musthafa Masyhur merupakan rahasia kekuatan dakwah dan pergerakan/harakat

Nabi saw ketika beliau mendirikan pemerintahan Islam pertama di Madinah.33

Identitas lain yang lebih terang mengenai dakwah pergerakan/da’wat harakat

dikemukakan oleh aktivis Ikhwan al-Muslum, menurut Fathi Yakan dakwah pergerakan/da’wat harakat memiliki empat cirri pokok, yakni: (1) Murni dan autentik (dzatiyyat), (2) Mendorong kemajuan (taqaddumiyyat), (3) universal (syamilat), dan (4) Menjauhkan diri dari perbedaan-perbedaan pendapat dalam masalah fiqih (Madzahib al-Fiqhiyyat).34 Dari karakter dan identitas yang dikemukakan di atas, tampak bahwa paradigm dakwah pergerakan/da’wat harakat memiliki perbedaan dengan dakwah pada umumnya, baik pada tataran filosofis (filsafat dakwah), epistimologi dan metodologi, maupun kualifikasi da’i yang menjadi pendukung gerakan dakwah pergerakan/ da’wat harakat.

32

Yusuf Qardhawi, al-Shabwat al-Islamiyyat wa al-Humum al-Arabi wa al-Islami, juga Musthafa Masyhur, al-Jihad Hua al-Sabil, Iskandariya: Dar al-Dakwat, 1985, hal. 10.

33

Musthafa Masyhur, al-Jihad Hua al-Sabil, hal. 3. 34

(47)

Dari segi metodologi, paradigm dakwah pergerakan/da’wat harakat meniscayakan adanya organisasi yang berfungsi sebagai institusi atau wadah yang akan menghimpun dan menyatukan potensi dan kekuatan umat untuk dimanfaatkan serta diberdayakan bagi kepentingan dakwah. Sementara dari sisi tenaga da’i , paradigm dakwah pergerakan/da’wat harakat meniscayakan adanya pelaku dakwah yang berkualifikasi sebagai pejuang dakwah (mujahid dakwah). Di sini da’i harus merupakan seorang muslim pejuang dan aktifis pergerakan Islam, seperti: Muhammad Ibnu Abd Wahhab (1703-1781), JamalDin Afghani (1839-1897), Muhammad Abduh (w. 1905) Rasyid Ridla (1865-1935), Hasan al-Banna(1906-1949), dan Syayyid Qutub (1906-1966), Abu al-‘Ala al-Maududi, dll.

Menurut Yusuf Qardhawi, para tokoh tersebut di atas bukan saja tokoh pemikir, melainkan juga para tenaga da’i sekaligus pejuang muslim. Dengan perkataan lain, mereka merupakan tokoh dan pelopor dakwah pergerakan/da’wat harakat yang sangat konsen dengan pergerakan Islam. Dalam pandangan Qardhawi gerakan (harakah) merupakan watak Islam dan watak aqidah Islam, juga watak masyarakat yang lahir dan dibentuk dari agama dan aqidah Islam.35

Qur’an diturunkan untuk membangun komunitas Islam dan gerakan Islam. Al-Qur’an bermaksud membangun jama’ah, harakat/pergerakan dan aqidah dalam satu waktu. Ia bermaksud membangun jama’ah dan harakat/pergerakan dengan aqidah, dan ingin membangun aqidah dengan jama’ah dan harakat/pergerakan. Ia menghendaki aqidah itu terwujud dalm bentuk jama’ah yang dinamis dan progresif, sementara jama’ah yang dinamis dan progresif merupakan perwujudan dari aqidah.36

35

Shalah Abd. Al- Fattah al-Khalidi, al-Manhaj al-Haraki fi Zhilali al-Qur’an, Jeddah: Dar al-Manarat, 1986, hal. 35.

36

(48)

Prinsip harakat/pergerakan ini menurut Sayyid Quthub merupakan alat (kunci) yang memungkinkan seseorang dapat berdialog dengan al-Qur’an. Tanpa

harakat/pergerakan dalam arti bergerak dalam peerjuangan Islam, seseorang tidak akan dapat memahami maksud dan cita-cita al-Qur’an. Menurut Quthub hanya orang-orang yang aktif dan dinamis dalam memperjuangkan Islam sajalah yang dapat memahami pesan dan semangat al-Qur’an.

Gerakan dan dinamika umat Islam seperti dikemukakan di atas diperlukan dalam menghadapi kesesatan dan kejahiliyahan yang sudah merajalela pada masa sekarang, dalam hal ini Quthub mngatakan: “Kita memerlukan pemahaman al-Qur’an yang berorientasi pada gerakan yang siap menghadapi kesesatan dan kejahiliyahan yang sudah menyebar di mana-mana. Yaitu suatu gerakan yang bertujuan untuk membebaskan manusia dari kegelapan menuju cahaya, dari jahiliyah menuju Islam, dari penyembahan kepada manusia menuju kepada penyembahan Allah. Suatu gerakan sebagaimana gerakan Islam yang pertama pada masa Nabi Muhammad SAW sewaktu menghadapi Jahiliyah Arab sebelum mendirikan daulah Islam di Madinah dan sebelum Islam memiliki kekuatan atas dunia dan umat manusia.37

Dengan demikian dakwah pergerakan/da’wat harakat merupakan bentuk dakwah alternative untuk mengatasi kemujudan dan keterbelakangan umat. Berbeda dengan paradigm tabligh, dakwah pergerakan/da’wat harakat lebih berorientasi pada pengembangan masyarakat Islam (Islamic Community Development) melalui pembaharuan dan reformasi (ishlah) dalam berbagai kehidupan manusia, mulai dari perbaikan individu (ishlah

37

(49)

fardiyyat), perbaiakn keluarga (ishlah al-usrat), perbaikan masyarakat (ishlah al-Ummat),

sampai kepada perbaiakan pemerintahan dan negara (ishlah al-daulat).38

Paradigma baru tentang dakwah Islam sangat diperlukan demi terumuskannya keilmuan dakwah. Dimaksud dengan paradigma dakwah adalah suatu model,39 pola ideal,40 atau kerangka piker (konsep), yang dipergunakan sebagai cara memandang atau mengkaji suatu masalah, berisi premis-premis teoritik (filosofis) dan metodologis.41 Paradigma dakwah yang dimaksudkan di sini adalah paradigma dakwah pergerakan/da’wat harakat, suatu paradigma dakwah yang menekankan pada suatu pembebasan umat Islam dari keterbelakangan dengan sungguh-sungguh berusaha mengembalikan eksistensi umat Islam kepada kemuliaan dan kemajuan.

Usaha mewujudkan dan mengimplementasikan ajaran iman dan Islam melalui gerakan dakwah dapat dilakukan dengan berbagai cara, melalui komunikasi (tabligh),

pembudayaan nilai-nilai dan control social (amar ma’ruf nahi munkar), keteladanan dan perilaku (uswah hasanat), serta melalui pergerakan (harakat) dengan menciptakan organisasi-organisasi sebagai dakwah bersama yang akan menghimpun dan memobilisasi ekuatan Islam untuk keperluan dakwah. Dakwah dengan pendekatan ini dikenal dengan istilah dakwah harakat/pergerakan.

Dakwah pergerakan/da’wat harakat, kebanyakan berkaitan dengan ide dan gerakan salafisme Islam pada abad ke-20 M atau ke-15 . Dakwah pergerakan /da’wat harakat

dikembangkan oleh organisasi pergerakan Islam internasional seperti Al-Ikhwan

38

Azyumardi Azra, Dalam Pengantar, Ilyas Islamil, Paradigma Dakwah Sayyid Quthub, Jakarta: PT. Penamadani, 2006, hal. Xxviii.

39

Peter Salim & Teni Salim, Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer, Jakarta: Modern Enggris, 1999, hal. 1095.

40 Tim Penyusun Kamus, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, Depdikbud, 1998, hal. 648.

41

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...