PENGARUH PEMBERIAN MADU PUTIH CLOVER TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Salmonella thypi SECARA IN VITRO

29 

Teks penuh

(1)

KARYA TULIS AKHIR

PENGARUH PEMBERIAN MADU PUTIH CLOVER TERHADAP

PERTUMBUHAN BAKTERI Salmonella thypi SECARA IN VITRO

Oleh:

JUWITA RAYHANA 201110330311014

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG FAKULTAS KEDOKTERAN

(2)

KARYA TULIS AKHIR

PENGARUH PEMBERIAN MADU PUTIH CLOVER TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Salmonella typhi SECARA IN VITRO

KARYA TULIS AKHIR Diajukan kepada

Universitas Muhammadiyah Malang Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan

dalam Menyelesaikan Program Sarjana Fakultas Kedokteran

Oleh:

JUWITA RAYHANA NIM. 201110330311014

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG FAKULTAS KEDOKTERAN

(3)
(4)
(5)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat, karunia serta hidayah-Nya yang senantiasa tercurah, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir yang berjudul “Pengaruh Pemberian Madu Putih Clover Terhadap Pertumbuhan Bakteri Salmonella typhi Secara In Vitro” ini. Penulisan penelitian ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Kedokteran Jurusan Pendidikan Dokter pada Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang.

Penulis menyadari bahwa penyusunan tugas akhir ini jauh dari sempurna, walaupun demikian penulis telah berusaha semaksimal mungkin serta mendapatkan bantuan dan bimbingan dari dosen pembimbing yaitu dr. Irma Suswati, M.Kes dan dr. Abi Noerwahjono, M.Kes, Sp.An serta dosen penguji dr. Bangun Nusantoro, Sp.Rad dalam rangka penyusunan. Tanpa bantuan dan dorongan dari berbagai pihak, khususnya Allah SWT, sangatlah tidak mudah menjalani masa perkuliahan hingga pada penyusunan tugas akhir ini.

Akhir kata penulis berharap adanya saran dan kritik yang membangun dan semoga penelitian ini dapat menambah wawasan serta bermanfaat bagi semua pihak.

(6)

UCAPAN TERIMA KASIH

1. Allah SWT yang telah memberikan rahmat, karunia kesehatan, kesabaran dan lindungan-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir ini.

2. dr. Irma Suswati, M.Kes, dekan Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang dan selaku pembimbing 1 yang telah membantu, menyediakan waktu, memberikan masukan dan ilmu beliau selaku ahli di bidang mikrobiologi yang sangat membantu dalam penyusunan tugas akhir ini.

3. dr. Moch. Ma’roef, Sp.OG selaku Pembantu Dekan 1 Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang.

4. dr. Rahayu, Sp.S selaku Pembantu Dekan 2 Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang.

5. dr. Iwan Sis, Sp.KJ selaku Pembantu Dekan 3 Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang.

6. dr. Abi Noerwahjono, M.Kes, Sp.An, selaku dosen pembimbing 2 yang dengan sabar telah membimbing penulisan dan senantiasa memberi semangat sehingga saya dapat meyelesikan tugas akhir ini.

7. dr. Bangun Nusantoro, Sp.Rad, selaku dosen penguji yang telah memberikan masukan dan ilmunya sehingga saya dapat menyelesaikan tugas akhir ini. 8. Pak Joko, Mba Fat dan para staf laboratorium FK UMM lainnya yang telah

banyak membantu dengan tulus dan baik secara langsung dan tidak langsung dalam penelitian ini.

(7)

doa, perhatian, kasih sayang, semangat, inspirasi, waktu, materi dan segala hal yang telah diberikan,

10.Sahabat-sahabat tersayang, Alfiyah, Shafitri, Putri, Rosi, Fero, Dita, Iin, Gita, Tiara, Ummi Tia, Kak Tari, Teh Alfi yang selalu sabar, memberikan semangat, motivasi, bantuan, waktu dan canda serta tawanya.

11.Semua teman-teman Adorables yang menjadi teman seperjuangan selama menempuh pendidikan kedokteran.

(8)

DAFTAR ISI

Halaman

LEMBAR PENGESAHAN ... i

LEMBAR PENGUJIAN ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

ABSTRAK ... vi

ABSTRACT ... vii

DAFTAR ISI ... viii

DAFTAR TABEL ... xii

DAFTAR GAMBAR ... xiv

DAFTAR SINGKATAN ... xv

DAFTAR LAMPIRAN ………. xvii

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 4

1.3 Tujuan Penelitian ... 4

1.3.1 Tujuan umum ... 4

1.3.2 Tujuan khusus ... 4

1.4 Manfaat Penelitian ... 4

1.4.1 Manfaat masyarakat ... 4

1.4.1 Manfaat akademis ... 5

(9)

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Madu ... 6

2.1.1 Definisi Madu ... 6

2.1.2 Jenis Madu ... 6

2.1.3 Karakteristik Fisik Madu ... 8

2.1.4 Komposisi Kimia, Biologis, dan Efek Terapeutik Madu ... 12

2.2 Bakteri Salmonella ... 21

2.2.1 Bakteri Salmonella typhi ... 21

2.2.1.1 Morfologi Salmonella typhi ... 23

2.2.1.2 Identifikasi Salmonella typhi ... 33

2.2.1.3 Diagnosis Laboratorium ... 35

2.3 Demam Tifoid ... 38

2.3.1 Definisi Demam Tifoid ... 38

2.3.2 Epidemiologi Demam Tifoid ... 39

2.3.3 Patogenesis dan Patologi Demam Tifoid ... 39

2.3.4 Gejala Klinis Demam Tifoid ... 41

2.3.5 Diagnosis Demam Tifoid ... 42

2.3.5.1 Pemeriksaan Rutin ... 42

2.3.5.2 Diagnosis Mikrobiologik / Pembiakan Kuman ... 43

2.3.5.3 Uji Widal ... 46

2.3.5.4 Uji TUBEX®... 47

(10)

2.3.5.6 Uji Typhidot ... 50

2.3.6 Penatalaksanaan Demam Tifoid ... 54

2.3.6.1 Istirahat dan Perawatan ... 54

2.3.6.2 Diet dan Terapi Penunjang ………... 54

2.3.6.3 Pemberian Antibiotik ……… 55

2.3.6.3.1 Uji Kepekaan Terhadap Antimikroba In Vitro ………... 55

2.3.7 Komplikasi Demam Tifoid ………... 57

BAB 3 KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS 3.1 Kerangka Konsep ... 58

3.2 Hipotesis ... 61

BAB 4 METODOLOGI PENELITIAN 4.1 Desain Penelitian ... 62

4.2 Waktu dan Tempat Penelitian ... 62

4.3 Populasi dan Sampel Penelitian... 62

(11)

4.5

4.7.2 Pembuatan Medium Agar Shigella-Salmonella ……... 66

4.7.3 Pembuatan Medium Nutrient Broth ……….. 66

4.7.4 Persiapan Bakteri Uji ………... 67

4.7.4.1 Identifikasi Bakteri Salmonella typhi ………… 67

4.7.4.2 Perbenihan ………. 68

4.7.4.3 Pembuatan Perbenihan Cair Bakteri 106 sel/ml. 68 4.7.5 Pembuatan Larutan Madu Berbagai Konsentrasi ……. 68

(12)

7.1 Kesimpulan ... 90

7.2 Saran ... 90

DAFTAR PUSTAKA ... 91

(13)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

2.1 Pendekatan untuk prediksi kecepatan mengkristal pada madu

………... 12

2.2 Rasio fruktosa/glukosa dan glukosa/air pada madu ………….... 18

2.3 Perbedaan sifat fisikokimia beberapa jenis madu ……… 19

2.4 Validitas Tes Widal dan PCR of flagellin gene ………... 37

2.5 Positifisitas PCR of flagellin gene terhadap S.typhi dan durasi penyakit ………...………...………....………... 37

2.6 Interpretasi pemeriksaan laboratorium ………...…...………... 38

2.7 Validitas uji diagnostik demam tifoid …...…....…...….... 48

2.8 Kelebihan dan kekurangan uji diagnostic demam tifoid …... 49

5.1 Perbanddingan kekeruhan berbagai konsentrasi maju putih Clover ……….. 72

5.2 Raata-rata jumlah koloni Salmoneella typhi dalam beberapa Konsentrasi maduoutih Clover ………. … 73

5.3 Rata-rata jumlah koloni Salmonella typhi per ml (106) dalam Beberpa konsenrasi madu putih Cover. ……… .. 74

5.4 Analisa raga satu arah (One way Analisis Of Variance) untuk Jumlah koloni percawan. ………... ... 76

(14)

5.6 Uji Korelasi ke depalan macam konsentrasi madu putih

Clover ………. 79

(15)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

2.1 Salmonella typhi di bawah mikroskop ……….... 23

2.2 Salmonella typhi pada MacConkey ……….. 23

2.3 Dinding sel bakteri gram negatif ………... 26

2.4 Morfologi Salmonella typhi ………... 31

2.5 Agar SS ……….... 36

(16)

DAFTAR SINGKATAN

ATP : Adenosina Trifosfat

CAT : Chloramphenicol Acetyltransferase

CDC : Centers For Disease Control and Prevention DNA : Deoxyribose-Nucleic Acid

EMB : Eosin Methyleen Blue H2O2 : Hidrogen Peroksida H2S : Hidrogen Sulfit IgA : Immunoglobulin A IgG : Imnunoglobulin G IgM : Imnunoglobulin M

IMViC : Indole, Methyl-Red, Voges-Proskauer, Citrate KBM : Kadar Bunuh Minimal

KDO : Keto Deoksioktonat KHM : Kadar Hambat Minimal LPS : Lipopolisakarida

MDR-ST : Multi Drug Resistent - Salmonella typhi ml : milliliter

NCCLS : National Committee for Clinical Laaboratory Standard NPV : Negative Predictive Value

OD : Optical Density

(17)

pH : power of Hydrogen PPV : Positive Predictive Value

SGOT : Serum Glutamic Oxaloacetic

SGPT : Serum Glutamic Piruvic Transaminase SS : Salmonella-Shigella

TNF-alfa : Tumor Necrosis Factor alfa TSI : Triple Sugar Iron

(18)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

(19)

DAFTAR PUSTAKA

Alka J.M.H., Zvonimir S., Mirela D., 2002. Qualitative Identification of Metal Ions in Honey by Two-Dimensional Thin-Layer Chromatography. Croatia: JPC 15(5):367-370.

Al-Waili, N.S., dan K. Y. Saloom, 2004. Effects of Topical Honey on Post-Operative Wound Infection due to Gram Positive and Gram Negative Bacteria Following Caesarean Sections and Hysterectomies. European Journal of Medical Research Vol.4 No.3, pp: 126-130 Australian Government, 2008. The Biology of Trifolium repens L. (White Clover).

Department of Health and Ageing Office of The Gene Technology Regulator.

Balbi, H.J., 2004. Chloramphenicol American Academy of Pediatrics. Pediatrics in Review 25, pp:284-288.

Bang L.M., Phil M., Buntting C., Molan PC., 2003. The Effect of Dilution on The Rate of Hydrogen Peroxide Production in Honey and Its Implication for Wound Healing. Journal Altern Complement Medical (2003), 9(2):267-73.

Bittmann, S., Luchter, E., Thiel, M., Kameda, G., Hanano, R., dan Langer, A., 2010. Does Honey Have a Role in Pediatric Wound Management. British Journal of Nursing, 15:S19-S24.

Bogdanov, S., 2010. Propolis: Composition, Health, Medicine. Diakses dari

www.bee-hexagon.com. Pada 28 November 2014.

Bogdanov, S., 2011. Honey as Nutrient and Functional Food: A Review. Journal of The American College of Nutrition.

Bogdanov, S., Jurendic, T., Sieber, R., dan Gallmann, P., 2008. Honey for Nutrition and Health: A Review. Journal of Wound Care. 17(4):172-178.

(20)

Brudzynski, K., dan Robert Lannigan, 2012. Mechanism of Honey Bacteriostatic Action Against MRSA and VRE Involves Hydroxyl Radicals Generated From Honey’s.

Buckle, K.A., et.al., 2010. Ilmu Pangan. UI Press: Jakarta

Chart, H., 2002. Medical Microbiology: A Guide to Microbial Infections. 16th ed, UK, Churchill Livingstone, pp:251-259.

Chayati, I., 2008. Sifat Fisikokimia Madu Monoflora dari Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah. Agritech, Vol.28 No.1 (2008).

Cutting, 2007. Impact of Adhesive Surgical Tape and Wound Dressing on The Skin,with Reference ti Skin Stripping. Journal of Wound Care Vol.17 No.4.

Dahlan S., 2008, Statistik untuk Kedokteran dan Kesehatan. Salemba Medika, Jakarta. hal : 88-101, 169.

Darmawati S., 2009. Keanekaragaman Genetik Salmonella typhi. Diakses dari:

http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/Analis/article/view/225/237. Pada 1 Juni 2015

Departemen Kesehatan Jawa Timur. 2008. Laporan Kesehatan tahun 2008. Surabaya.

Dzen, Sjoekor M., 2004. Bakteriologi Medik. Ed.1. Bayumedia Publishing: Malang. pp:187-197 &223-234.

Erwiyatno, L., Djoko SSBU, Dwi Krihariyani, 2012. Pengaruh Madu Terhadap Pertumbuhan Bakteri Streptococcus pyogenes. Analisis Kesehatan Sains Vol.1 No.1 (2012):31.

Evans, J., dan Flavin, S., 2008. Honey: A Guide for Healthcare Professionals. British Journal of Nursing. 17(15):S24-S30.

Fauci, Anthony S, et.al., 2008. Harrison’s Principlesof Internal Medicine. 17th ed, USA, McGraw Hill Companies, Inc, pp:957-958.

Forbes, Betty A., Sahm, Daniel F., Weissfeld, Alice S., 2007. Diagnostic Microbiology. 12th ed, USA, Mosby Elsevier.

(21)

Gopalakhrisnan V, Shekhar WY, Soo EH, et al., 2002. Typhoid Fever in Kuala Lumpur and A Comparative Evaluation of Two Commercially Available Diagnostic Kits for Detection of Antibodies to S. typhi. Singapore Medical Journal 2002, 43(7):354-358.

Handoyo, Indro., 2004. Imunoasai Terapan pada Beberapa Penyakit Infeksi. Airlangga University Press: Surabaya.Harahap, 2011

Hardi, S., Soeharyo, Karnadi, E., 2002. The Diagnostic Value of The Widal Test in Typhoid Fever Patients. Typhoid Fever: Profile, Diagnostic and Treatment in 2001. 1st ISAC International Symposium. Acta Medica Indonesia.

Hosoglu, S., Bosnak V., Akalin S., Geyik M. F., Ayaz C., 2008. Evaluation of False Negativity of The Widal Test Among Culture Proven Typhoid Fever Cases. Journal Infect Dev Ctries.

House, D., Wain, J., 2001. Serology of Typhoid Fever in Area Endemicity and Its

Relevance to Diagnosis. Diakses dari:

http://jcm.asm.org/content/39/3/1002. Pada 15 Juni 2014.

Jawetz, Melnick, Adelberg, 2008. Mikrobiologi Kedokteran. Alih Bahasa: H. Hartono, C. Rachman, A. Dimanti, A. Diani. EGC: Jakarta. p.199-200:233.

Jindal N, Bansal R, Grover P, et al., 2014. Rapid Diagnosis of Typhoid Fever a Comparative Study of Typhoid and Widal Test. International Journal of Bioassays 2014, 3(11):3438-3440.

Kamaruddin, 2002. Khasiat Madu. Department of Bichemistry, Faculty of Medicine, University of Malaya, Kualalumpur.

Kawono, R.L., Leano, S.A., Agdamag, D.M., 2007. Comparison of Serological Test Kits for Diagnosis of Typhoid Fever in Philippines. Journal Clin Microbiology (2007):1328.

Kelleher, 2004. Selective and Differential Media. Diakses dari:

http://www.midlandstech.edu/science/kelleherk/225/labmaterials/sel_

diff_media.html. Pada 8 Mei 2014.

(22)

Khan, Shahzad, et.al., 2012. Determinants of Customer Satisfactin in Fast Food Industry. International Journal of Management and Strategy. 3, 1-15 Kundra, I Nengah, Sanarto Santoso, Aulanni’am, dan Sri Winarsih, 2012.

Ekspresi Protein ADHF36 pada Perubahan Osmolaritas serta pH Lingkungan Hidup Salmonella typhi secara In Vitro. Jurnal Kedokteran Hewan Vol.6 No.1 (2012): 41-46.

Lukito, 2001. Rancangan Penelitian, Suatu Pengantar. IKIP Malang, Malang. hal : 25-27.

Molan P.C., 2005. Manuka Honey as A Medicine. Public Service Review 5:

52-54. Diakses dari:

www.bio.waikato.ac.nz/pdfs/honeyresearch/bioactives.pdf. Pada 8 Mei 2014.

Molan, P.C., 2001. Potential of Honey in The Treatment of Wounds and Burns. American Journal of Clinical Dermatology Vol.2 No.1, pp: 13-19 Mottalebnejad M., Akram S., Moghadamina, Moulana Z., dan Omidi S, 2008. The

Effect of Topical Application of Pure Honey on Radiation-induced Mucositis: A randomized Clinical Trial. The Journal of Contemporary

Dental Practice, 9(3):1-9

Nelwan RHH., 2012. Tatalaksana Terkini Demam Tifoid. CDK (2012), 39:247-250.

Olsen SJ, et.al., 2004. Evaluation of Rapid Diagnostic Tests for Typhoid Fever. Journal of Clinical Microbiology, pp: 1885-1889

Pollack, David V., 2003. Salmonella enteric typhi. Diakses dari:

http://web.uconn.edu/mcbstaff/graf/student%20presentations/Salmone

llatyphi/Salmonellatyphi.html. Pada 8 Juni 2014.

Purbaya, J.R., 2007. Mengenal dan Memanfaatkan Khasiat Madu Alami. Pioner Jaya: Bandung.

(23)

Sabir, M., Yadi, Firdaus, Mochammad Hatta, 2003. Perbandingan Tes Serologi Dipstick dengan Widal untuk Diagnostik Demam Tifoid. Jurnal Kedokteran Trisakti. 22:83.

Santos, R. L., Tsolis R.M., Baumler A.J., Adams L.G., 2003. Pathogenesis Salmonella-Induced Enteritis. Diakses dari:

http://www.scielo.br/pdf/bjmbr/v36nl/4537.pdf. Pada 8 Juni 2014. Setiawan, D., James Sibarani, Iryanti E. Suprihatin, 2013. Perbandingan

Efektivitas Disinfektan Kaporit, Hidrogen Peroksida dan Pereaksi Fenton (H2O2/Fe2+). Magister Kimia Terapan, Fakultas Pascasarjana: Universitas Udayana. Indonesia E-Journal of Applied Chemistry, Vol.1 No.2 (2013).

Singh, 2001. Symposium: Typhoid Fever, Pathogenesis and Laboratory

Diagnosis. Diakses dari:

http://medind.nic.in/jac/t01/il/jact01ilp17.pdf. Pada 8 Mei 2014

Soewandojo Eddy, Suharto, Usman Hadi, Nasronudin, 2007. Demam Tifoid Deteksi Dini dan Tata Laksana. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Airlangga University Press: Surabaya. Pp:293-300.

Sudoyo A., Bambang S., Idrus A., Siti S., 2007. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia: Jakarta.

Sudoyo A., et.al., 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia: Jakarta.

Suranto A., 2007. Terapi Madu. Penebar Plus: Jakarta. Hal:45

Susanto A., 2007. Terapi Madu. Penebar Swadaya: Jakarta. Hal:30-35.

Suswati Irma, Ayu Juniarti, 2011. Sensitivitas Salmonella typhi terhadap Kloramfenikol dan Seftriakson di RSUD Dr. Soetomo Surabaya dan di RSUD Dr. Saiful Anwar Malang Tahun 2008-2009. Diakses dari:

https://publikasiilmiah.ums.ac.id/bitstream/handle/123456789/2499/V

ol_3_No_1. Pada 8 Mei 2014.

Tim Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, 2003. Bakteriologi Medik. Bayumedia Publishing: Malang. Hal: 122-123.

Todar K., 2011. Salmonella and Salmonellosis. Diakses dari:

(24)

Utami `Tania N., 2010. Demam Tifoid. Riau: Belibis A-17

Wardhani, P., Prihatini, Probohoesodo, 2005. Kemampuan Uji Tabung Widal Menggunakan Antigen Import dan Antigen Lokal. Indonesian Journal of Clinical Pathology and Medical Laboratory, Vol. 12 No.1 (2005) pp: 31-37

Widodo, D., 2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Vol. III. Interna Publishing: Jakarta. Hal: 2797-2806

Winn Jr., Washington C., et.al., 2006. Koneman’s Color Atlas and Textbook of Diagnostic Microbiology, 6th ed. USA, Lippincott Williams & Wilkins, pp:251-259

World Health Organization, 2003. The Diagnosis, Treatment, and Prevention of Typhoid.

(25)

1 BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Penyakit demam tifoid merupakan suatu penyakit sistemik akut yang disebabkan oleh infeksi kuman Salmonella typhi. Kejadian demam tifoid di dunia sekitar 21,6 juta kasus dan terbanyak di Asia, Afrika dan Amerika Latin dengan angka kematian sebesar 200.000. Setiap tahunnya 7 juta kasus demam tifoid terjadi di Asia Tenggara, dengan angka kematian 600.000 orang. Hingga saat ini penyakit demam tifoid masih merupakan masalah kesehatan di negara-negara tropis, Centers For Disease Control and Prevention (CDC) Indonesia melaporkan prevalensi demam tifoid mencapai

358-810/100.000 populasi pada tahun 2007 dengan 64% penyakit ditemukan pada usia 3-19 tahun dan angka mortalitas bervariasi antara 3,1-10,4% pada pasien rawat inap. (Utami, 2010). Kejadian demam tifoid di Jawa Timur, baik di Puskesmas maupun Rumah Sakit masing-masing 4000 dan 1000 kasus per bulan, dengan angka kematian 0,8%. Hasil penelitian terdahulu di Surabaya menunjukkan bahwa penyakit demam tifoid diperkirakan dari tahun ke tahun cenderung meningkat. (Soewandojo et al., 2007). Sedangkan prevalensi demam tifoid di Kabupaten Malang sebanyak 1,2% dari 10.966 sampel pada tahun 2007 (Depkes Jatim, 2008).

(26)

2

memproduksi enzim Chloramphenicol Acetyltransferase (CAT) yang menginaktivasi Kloramfenikol (Balbi, 2004). Penelitian yang dilakukan di RSUD Dr. Soetomo Surabaya, Kloramfenikol sensitif untuk Salmonella typhi sebesar 63,3% dan yang mengalami resisten sebesar 31,6%,

sedangkan di RSU Dr. Saiful Anwar Malang Kloramfenikol sensitif sebesar 23,1% dan mengalami resisten sebesar 76,9%, sedangkan pola kepekaan Salmonella typhi terhadap Sefriakson yang merupakan pilihan kedua untuk

pengobatan demam tifoid di kedua Rumah Sakit juga telah mengalami resisten sebesar 68,4% di RSUD Dr. Soetomo Surabaya dan sebesar 53,8% di RSU Dr. Saiful Anwar Malang (Suswati, 2011).

(27)

3

sudah banyak dikonsumsi oleh masyarakat, baik di negara asalnya, Amerika Utara dan Selandia Baru, maupun diekspor sampai ke Asia terutama Indonesia karena khasiatnya sebagai antibakteri, antiinflamasi, dan dapat menjaga sistem kekebalan tubuh.

Berdasarkan hasil penelitian terdapat empat faktor yang bertanggung jawab terhadap aktivitas antibakteri pada madu. Kadar gula dalam madu yang tinggi sehingga madu memiliki efek osmotik yang akan menghambat pertumbuhan bakteri sehingga bakteri tersebut tidak dapat hidup dan berkembang. Tingkat keasaman madu yang tinggi (pH 3,2-4,5) akan mengurangi pertumbuhan Salmonella typhi yang dapat tumbuh pada pH minimum sekitar 7,2-7,4. Madu juga mengandung senyawa radikal hidrogen peroksida (H2O2), dengan adanya H2O2 yang memiliki efek bakterisidal yang akan mengoksidasi sel bakteri sehingga akan merusak asam nukleat dan protein sel. Selain itu, adanya senyawa organik dalam madu yang bersifat antibakteri, yang telah teridentifikasi antara lain polifenol, flavonoid dan glikosida (Kamaruddin, 2002)

Suganda, 2005 juga telah melakukan uji efektivitas madu sebagai antimikroba terhadap Salmonella typhi secara in vitro dan didapatkan hasil Kadar Bunuh Minimal (KBM) larutan madu terhadap pertumbuhan bakteri Salmonella typhi pada konsentrasi 18 %. Tetapi pada penelitian tersebut

(28)

4

putih Clover terhadap pertumbuhan bakteri Salmonella typhi pada konsentrasi 25 %.

Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti melakukan penelitian tentang efek pemberian madu putih Clover terhadap pertumbuhan bakteri Salmonella typhi secara in vitro.

1.2 Rumusan Masalah

Apakah pemberian madu putih Clover berpengaruh terhadap pertumbuhan Salmonella typhi secara in vitro?

1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum

Membuktikan pengaruh pemberian madu putih Clover terhadap pertumbuhan bakteri Salmonella typhi secara in vitro.

1.3.2 Tujuan Khusus

1. Mengetahui Kadar Hambat Minimum (KHM) madu putih Clover yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri Salmonella typhi secara in vitro.

2. Mengetahui Kadar Bunuh Minimum (KBM) madu putih Clover yang dapat membunuh bakteri Salmonella typhi secara in vitro.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Manfaat Masyarakat

(29)

5

1.4.2 Manfaat Akademis

1. Menambah wawasan penulis terkait dengan ilmu pengetahuan di bidang kedokteran tentang manfaat madu putih Clover terhadap daya hambat minimal dan daya bunuh minimal bakteri Salmonella typhi secara in vitro.

2. Sebagai masukan untuk pengembangan penelitian lebih lanjut mengenai manfaat madu putih Clover terhadap daya hambat minimal dan daya bunuh minimal bakteri Salmonella typhi secara in vitro.

1.4.3 Manfaat Klinis

Figur

Tabel
Tabel . View in document p.13

Referensi

Memperbarui...