Efikasi Ekstrak Daun Srikaya (Annona Squamosa) terhadap Larva Aedes Aegypti

76 

Teks penuh

(1)

Oleh:

YOLANDA HENDRAWAN 120100415

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

KARYA TULIS ILMIAH

Karya Tulis Ilmiah ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh kelulusan Sarjana Kedokteran

Oleh:

YOLANDA HENDRAWAN 120100415

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(3)

LEMBAR PENGESAHAN

Efikasi Ekstrak Daun Srikaya (Annona squamosa) terhadap Larva Aedes aegypti

Nama : Yolanda Hendrawan NIM : 120100415

Pembimbing Penguji I

(Dra. Merina Panggabean, M.Med.Sc)(Dr. dr. Oke Rina Ramayani, Sp.A(K)) NIP.19630523 199203 2 001 NIP.19740201 200501 2 001

Penguji II

(dr. Yuneldi Anwar, Sp.S(K)) NIP.19530601 198103 1 004

Medan, 11 Januari 2015 Dekan

Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

(4)

ABSTRAK

Indonesia adalah negara dengan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD)

terbanyak di Asia Tenggara.DBD merupakan penyakit yang dapat menyebabkan

kematian, oleh karena itu pencegahan harus dilakukan untuk memberantas

penularan DBD.Larvasida yang umum digunakan saat ini adalah larvasida sintetis

Temefos (Abate).Larvasida sintetis mulai mengalami resistensi dan memiliki efek

yang berbahaya terhadap manusia dan populasi non-target, sehingga diperlukan

alternatif berbahan dasar tanaman.Daun srikaya (Annona squamosa) mengandung zat aktif Acetogenin yang memiliki daya larvasida.Tujuan penelitian ini adalah mengetahui efikasi ekstrak daun srikaya (Annona squamosa) terhadap larva Aedes aegypti. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen dengan rancangan penelitian post test only control group design dengan 7 perlakuan yaitu 5 konsentrasi (0,01%; 0,025%; 0,05%; 0,075%.; 0,1%) ekstrak daun srikaya

(Annona squamosa), kontrol positif (abate), dan kontrol negatif (air) serta dilakukan 4 kali pengulangan.Hasil dari penelitian ini adalah ekstrak daun srikaya

(Annona squamosa) memiliki efikasi terhadap larva Aedes aegypti dengan LC50 sebesar 0,057%.

(5)

ABSTRACT

Indonesia is a country with the most Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) cases in Southeast Asia. DHF is a disease that can lead to death, so preventions have to be done to eradicate the spread of DHF. The common larvicide that used nowadays is synthetic larvicide (Temephos). Synthetic larvicide is beginning to resistant and have dangerous effect to human non-target populations, therefore a plant based alternative is needed. Sugar apple (Annona squamosa) leaves contain Acetogenin active substance that have larvicide effect. The purpose of this research is knowing the efficacy of sugar apple (Annona squamosa) leaves on Aedes aegypti larva. This research is an experimental research with post test only control group design. 7 interventions were applied, they ar e 5 concentration (0.01%, 0.025%, 0.05%, 0.075%, 0.1%) of sugar apple (Annona squamosa) leaves extract, positive control (Temephos), and negative control (water). Each interventions multiplied 4 times. The result of this research is sugar apple (Annona squamosa) leaves have efficacy on Aedes aegypti larva with LC50 at

0.057%.

(6)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa atas berkat

dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah ini dengan

baik.Selama penyusunan karya tulis ilmiah ini, penulis banyak mendapatkan

bantuan moril dan materil dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dalam kesempatan

ini dengan kerendahan hati penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus

kepada:

1. Prof. Dr. dr. Gontar Alamsyah Siregar, Sp.PD-KGEH, selaku Dekan

Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

2. Dra. Merina Panggabean, M.Med.Sc selaku Dosen Pembimbing yang tulus

meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk memberikan bimbingan

sehingga karya tulis ilmiah ini dapat diselesaikan.

3. Dr. dr. Oke Rina Ramayani, Sp.A(K) selaku Dosen Penguji I yang telah

memberikan nasihat serta masukan yang membangun dalam karya tulis

ilmiah ini.

4. dr. Yuneldi Anwar, Sp.S(K) selaku Dosen Penguji II yang telah

memberikan nasihat serta masukan yang membangun dalam karya tulis

ilmiah ini.

5. Drs. Awaluddin Saragih, M.Si, Apt selaku Ketua Laboratorium Obat

Tradisional Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara yang telah

membimbing penulis dalam pembuatan ekstrak.

6. dr. Indra Gunasti Munthe, Sp.OG(K) selaku Dosen Pembimbing

Akademik yang telah membimbing dari tahun pertama perkuliahan sampai

sekarang.

7. Orang tua yang sangat penulis sayangi Ayah Alm. Ir. Hendrawan yang

selalu memberikan motivasi dan nasihat-nasihat yang membangun semasa

hidupnya dan Ibu Yunita Wijaya serta adik Yogi Hendrawan yang selalu

memberikan semangat, sehingga karya tulis ilmiah ini dapat diselesaikan

tepat waktu.

8. Sahabat-sahabat baik penulis yang telah memberikan semangat serta

(7)

Ayu, Nadya, Gomedi, Priscillia, Ericko, Meyer, dan teman-teman yang

tidak bisa disebutkan semuanya.

9. Teman bimbingan karya tulis ilmiah yang telah membantu penyelesaian

karya tulis ilmiah ini Nadiah dan Woo serta semua teman stambuk 2012.

Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih belum sempurna

sehingga membutuhkan banyak masukan dan kritikan dari berbagai pihak yang

sifatnya membangun dalam memperkaya materi skripsi ini.Penulis berharap

semoga skripsi ini dapat bermanfaat.

Medan, 5 Desember 2015

Penulis,

Yolanda Hendrawan

(8)

DAFTAR ISI

2.1.7 Membedakan Aedes aegypti dengan spesies lainnya ... 13

2.1.8 Epidemiologi Aedes aegypti... 14

2.1.9 Pengendalian Aedes aegypti ... 15

2.2 Larvasida Nyamuk ... 16

2.2.1 Defenisi ... 16

2.2.2 Syarat Larvasida ... 16

2.2.3 Klasifikasi Larvasida ... 17

2.2.4 Insektisida Temefos ... 18

2.3 Srikaya (Annona squamosa) ... 19

2.3.1 TaksonomiSrikaya (Annona squamosa) ... 19

2.3.2 Nama lain Srikaya (Annona squamosa) ... 19

2.3.3 Kandungan Kimia Srikaya (Annona squamosa) ... 20

(9)

3.1 Kerangka Konsep ... 22

4.4.2 Cara Pengambilan Data (Prosedur Kerja) ... 29

4.4.2.1 Penyediaan Bahan Ekstrak ... 29

5.1.1 Deskripsi lokasi penelitian ... 33

5.1.2 Deskripsi karakteristik sampel ... 33

5.1.3 Data efek larvasida ... 34

5.1.4 Hasil Analisis Statistik ... 34

(10)

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan ... 42

6.2 Saran ... 42

(11)

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 2.1 Penyakit yang ditransmisikan oleh nyamuk ... 5

Tabel 5.1 Jumlah kematian larva pada pemantauan 24 dan 48 jam ... 34

Tabel 5.2 Hasil Uji Normalitas data ... 34

Tabel 5.3 Hasil One-way ANOVA ... 35

Tabel 5.4 Hasil Uji Varian ... 35

Tabel 5.5 Hasil analisis Least Significance Difference pada pemantauan 24 jam ... 36

Tabel 5.6 Hasil analisis Least Significance Difference pada pemantauan 48 jam ... 37

(12)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 2.1 Bagian Kepala Culicinae (Aedes) ... 7

Gambar 2.2 Morfologi Nyamuk Dewasa ... 8

Gambar 2.3 Siklus Hidup Nyamuk ... 9

Gambar 2.4 Telur Aedes aegypti ... 10

Gambar 2.5 Morfologi Larva Aedes aegypti ... 11

Gambar 2.6 Larva Anopheles dan Culicine (Aedes) di permukaan air ... 11

Gambar 2.7 Perbedaan Aedes aegypti dengan spesies nyamuk lainnya ... 14

Gambar 2.8 Klasifikasi Insektisida ... 18

Gambar 2.9 Struktur Kimia Temefos ... 18

Gambar 2.10 Buah, Ranting, Daun, Bunga, dan Biji Srikaya (Annona squamosa) ... 20

(13)

DAFTAR SINGKATAN

ANOVA : Analysis of Variance CE : Carboxylesterase CYP450 : Cytochrome P 450 GST : Glutathion S-Transferase KLB : Kejadian Luar Biasa

LC50 : Lethal Concentration 50 LSD : Least Significance Difference PSN : Pengendalian Sarang Nyamuk

sp. : Spesies

(14)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Daftar Riwayat Hidup

Lampiran 2 Dokumentasi pelaksanaan penelitian

Lampiran 3 Hasil pengolahan data dari SPSS

Lampiran 4 Ethical Clearance

(15)

ABSTRAK

Indonesia adalah negara dengan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD)

terbanyak di Asia Tenggara.DBD merupakan penyakit yang dapat menyebabkan

kematian, oleh karena itu pencegahan harus dilakukan untuk memberantas

penularan DBD.Larvasida yang umum digunakan saat ini adalah larvasida sintetis

Temefos (Abate).Larvasida sintetis mulai mengalami resistensi dan memiliki efek

yang berbahaya terhadap manusia dan populasi non-target, sehingga diperlukan

alternatif berbahan dasar tanaman.Daun srikaya (Annona squamosa) mengandung zat aktif Acetogenin yang memiliki daya larvasida.Tujuan penelitian ini adalah mengetahui efikasi ekstrak daun srikaya (Annona squamosa) terhadap larva Aedes aegypti. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen dengan rancangan penelitian post test only control group design dengan 7 perlakuan yaitu 5 konsentrasi (0,01%; 0,025%; 0,05%; 0,075%.; 0,1%) ekstrak daun srikaya

(Annona squamosa), kontrol positif (abate), dan kontrol negatif (air) serta dilakukan 4 kali pengulangan.Hasil dari penelitian ini adalah ekstrak daun srikaya

(Annona squamosa) memiliki efikasi terhadap larva Aedes aegypti dengan LC50 sebesar 0,057%.

(16)

ABSTRACT

Indonesia is a country with the most Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) cases in Southeast Asia. DHF is a disease that can lead to death, so preventions have to be done to eradicate the spread of DHF. The common larvicide that used nowadays is synthetic larvicide (Temephos). Synthetic larvicide is beginning to resistant and have dangerous effect to human non-target populations, therefore a plant based alternative is needed. Sugar apple (Annona squamosa) leaves contain Acetogenin active substance that have larvicide effect. The purpose of this research is knowing the efficacy of sugar apple (Annona squamosa) leaves on Aedes aegypti larva. This research is an experimental research with post test only control group design. 7 interventions were applied, they ar e 5 concentration (0.01%, 0.025%, 0.05%, 0.075%, 0.1%) of sugar apple (Annona squamosa) leaves extract, positive control (Temephos), and negative control (water). Each interventions multiplied 4 times. The result of this research is sugar apple (Annona squamosa) leaves have efficacy on Aedes aegypti larva with LC50 at

0.057%.

(17)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Nyamuk adalah vektor dari penyakit-penyakit berbahaya seperti malaria,

demam berdarah dengue, chikungunya, dan filariasis. Penyakit yang disebarkan

oleh nyamuk terdapat di lebih dari 100 negara dan menginfeksi lebih dari 700 juta

orang setiap tahun di seluruh dunia (Ghoshet al., 2012).

Penyakit-penyakit yang ditularkan oleh nyamuk dapat mengakibatkan

kematian, contohnya malaria dan demam berdarah dengue. WHO dalam Depkes

(2014) menyatakan bahwa Indonesia adalah negara dengan kasus demam berdarah

dengue terbanyak di Asia Tenggara.

Demam berdarah dengue adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan

oleh virus dengue dan disebarkan oleh nyamuk Aedes sp. yang mengandung virus dengue. Virus dengue disebarkan oleh nyamuk betina Aedes aegypti dan Aedes albopictus (Guzman dan Isturiz, 2010).

Pada tahun 2014, sampai pertengahan bulan Desember tercatat penderita

demam berdarah dengue di 34 provinsi sebanyak 71.668 orang dan 641

diantaranya meninggal dunia. Angka tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan

tahun sebelumnya dengan jumlah penderita sebanyak 112.511 orang dan jumlah

kasus meninggal sebanyak 871 orang. Meskipun terjadi penurunan jumlah kasus

pada tahun 2014 dibandingkan tahun sebelumnya, beberapa provinsi mengalami

peningkatan jumlah kasus demam berdarah dengue, diantaranya Sumatera Utara,

Riau, Kepri, DKI Jakarta, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, Bali dan Kalimantan

Utara (Depkes, 2014).

Dinkes Sumatera Utara menetapkan tiga kabupaten/kota yang berstatus

KLB (Kejadian Luar Biasa) pada tahun 2014, yaitu Labuhan Batu, Labuhan Batu

Utara, dan Kota Binjai. Dari ketiga kabupaten/kota tersebut dilaporkan sebanyak

tujuh orang penderita demam berdarah dengue meninggal dunia.

Demam berdarah dengue merupakan penyakit yang dapat menyebabkan

(18)

penularan demam berdarah dengue. Sampai saat ini, belum tersedia vaksin untuk

demam berdarah dengue, sehingga pencegahan demam berdarah dengue

ditekankan kepada pemutusan rantai penularan dengan menurunkan populasi

nyamuk dan mencegah kontaknya nyamuk dengan manusia (Kemkes, 2011).

Cara pemberantasan nyamuk penular penyakit yang efektif dan efisien

sampai saat ini adalah pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan cara 3M Plus.

3M yang dimaksud adalah menutup tempat penampungan air, menguras bak

mandi, dan memanfaatkan kembali barang bekas yang berpotensi menjadi sarang

nyamuk. Plus yang dimaksud adalah menaburkan bubuk larvasida pada tempat

penampungan air yang sulit dibersihkan, dan menghindari gigitan

nyamuk(Kemkes, 2011).

Larvasida adalah suatu zat yang digunakan untuk membunuh larva

nyamuk (WHO, 2002). Larvasida yang umum digunakan saat ini adalah larvasida

berbahan dasar kimia sintetis yaitu bubuk abate yang mengandung insektisida

temefos (Hoedojo dan Zulhasril, 2008). Resistensi terhadap temefos telah

ditemukan di Brazil, Kuba, El Savador, Argentina, Venezuela, Peru, Kolombia

(Grisales et al., 2013) dan Thailand (Jiranjanakit et al., 2007). Resistensi temefos juga terjadi di Indonesia, seperti Banjarmasin (Istiana et al., 2012)dan Surabaya (Rahardjo, 2006). Berkembangnya resistensi, peningkatan biaya insektisida

sintetis, dan efek yang berbahaya terhadap manusia dan populasi non target

merupakan alasan pencarian produk-produk berbahan dasar tanaman pada

belakangan ini (Ghosh et al., 2012) (Velu et al., 2015).

Pada umumnya, setiap tumbuhan memiliki zat yang berguna untuk

melindungi diri dari serangga-serangga fitofagosit (pemakan tanaman). Oleh

karena itu, zat tersebut diduga dapat menjadi insektisida alami yang ramah

lingkungan (Maia dan Moore, 2011).

Annona sp. merupakan jenis tanaman nangka-nangkaan yang banyak tumbuh di Indonesia, diantaranya adalah Annona squamosa (srikaya). Annona sp. mengandung acetogeninyang memiliki daya insektisida yang menyebabkan kematian larva nyamuk dengan merusak susunan dinding traktus digestivusnya

(19)

Acetogenin murni dari Annonacea larut dalam metanol, etanol, aseton, kloroform, dan pelarut-pelarut organik lain, tetapi tidak larut dalam air atau

heksan (Gu et al., 1995).

Ekstrak dari srikaya (Annona squamosa) telah terbukti memiliki efektivitas terhadap serangga (Khalequzzaman dan Sultana, 2006). Selain itu,

ekstrak dari srikaya (Annona squamosa) juga bermanfaat sebagai anti-konvulsan (Porwal et al.,2011), antihelmintik, antitumor, antidiabetik, hepatoprotektor (Saha, 2011) dan anti kutu rambut (Intaranongpai et al., 2006).

Berdasarkan penjabaran diatas, penelitian ini perlu dilakukan untuk

menguji efikasi ekstrak etanol daun srikaya (Annona squamosa) terhadap larva Aedes aegypti.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka didapatkan masalah

sebagai berikut: “Apakah ekstrak daun srikaya (Annona squamosa) memiliki efikasi terhadap larva Aedes aegypti?”

1.3Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Tujuan umum dalam penelitian ini adalah mengetahui efikasi ekstrak

etanol daun srikaya (Annona squamosa) terhadap larva Aedes aegypti. 1.3.2 Tujuan Khusus

Tujuan khusus dari penelitian ini adalah:

1. Mengetahui konsentrasi

paling efektif (LC50) dari ekstrak daun srikaya (Annona squamosa) sebagai larvasida terhadap larva Aedes aegypti.

2. Mengetahui perbandingan

(20)

1.4Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk:

1. Ilmu pengetahuan

Memberikan informasi pada bidang parasitologi, khususnya

entomologi, mengenai efikasi ekstrak daun srikaya (Annona squamosa) terhadap larva Aedes aegypti untuk mengatasi resistensi temefos yang terjadi.

2. Masyarakat

Memberikan informasi kepada masyarakat bahwa ekstrak daun srikaya

(Annona squamosa) dapat digunakan sebagai larvasida yang ramah lingkungan dan tidak berbahaya bagi kesehatan.

3. Peneliti

Menambah wawasan peneliti mengenai pemberantasan sarang nyamuk

penyebar penyakit, cara mengekstraksi bahan aktif dari suatu

tumbuhan, dan sebagai tambahan informasi serta perbandingan untuk

(21)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 NyamukAedes aegypti

2.1.1 Nyamuk Sebagai Vektor Penyakit

Nyamuk adalah serangga yang tersebar di seluruh dunia kecuali antartika.

Nyamuk dapat hidup antara 5.500 meter di atas permukaan laut sampai 1.250

meter di bawah permukaan laut. Nyamuk tidak hanya menghisap darah manusia

dan hewan, tetapi juga dapat menjadi vektor penyakit (Agoes, 2009).

Vektor penyakit adalah suatu organisme yang mentransmisikan patogen

dan parasit dari manusia (atau hewan) yang terinfeksi ke lainnya dan

menyebabkan penyakit yang serius pada populasi manusia. Vektor-vektor tersebut

umumnya adalah serangga penghisap darah yang menerima mikroorganisme

penyebab penyakit saat menghisap darah manusia atau hewan, kemudian

memasukkan mikroorganisme tersebut pada manusia yang lain saat menghisap

darah lagi. Secara global, terdapat lebih dari 1 miliar kasus dan lebih dari 1 juta

kematian akibat penyakit yang ditularkan oleh vektor (WHO, 2014 ).

Nyamuk yang paling penting pada manusia adalah Anopheles, Culex, Aedes, dan Mansonia (Agoes, 2009). Peran dari nyamuk dalam bidang kedokteran adalah sebagai vektor dari penyakit Malaria, Filariasis, Demam Berdarah Dengue,

Chikungunya, dan Japanese B ensefalitis (Ideham dan Pusarawati, 2009).

Tabel 2.1 Penyakit yang ditransmisikan oleh nyamuk (WHO, 1997)

No. Vektor Penyakit

1. Anopheles Malaria, Filariasis limfatik

2. Culex Filariasis limfatik, Japanese ensefalitis

3. Aedes Yellow fever, Demam berdarah dengue, Filariasis limfatik, Chikungunya

(22)

2.1.2Taksonomi Nyamuk Aedes aegypti Subfamili : Culicinae Tribus : Culicini Genus : Aedes

Species : Aedes aegypti(Natadisastra, 2009).

Nyamuk termasuk ke dalam kelas Insekta. Insekta dibagi menjadi

beberapa ordo yaitu ordo Diptera, Anoplura, Sifonaptera, Hymenoptera,

Orthoptera, Lepidoptera, Coleoptera, dan Hemiptera. Nyamuk termasuk ke dalam

ordo Diptera (Ideham dan Pusarawati, 2009). Nyamuk termasuk ke dalam famili

Culicidae yang kemudian terbagi lagi menjadi 3 tribus, yaitu Tribus Anophelini

(Anopheles), Tribus Culicini (Culex, Aedes, dan Mansonia), dan Tribus

Toxorhynchitini. Nyamuk Aedes aegypti termasuk ke dalam tribus Culicini. (Agoes, 2009).

2.1.3 Morfologi Nyamuk Aedes aegypti

Nyamuk Aedes aegypti berukuran 4-13 mm. Nyamuk Aedes aegyptiterdiri dari kepala, toraks, dan abdomen.

A. Kepala

Pada bagian kepala terdapat sepasang mata, sepasang antena, proboscis, dan

palpus. Antena terdiri dari 15 ruas dan terdapat rambut. Rambut antena pada

nyamuk jantan lebih lebat dan disebut plumosa, sedangkan rambut antenna

betina pendek dan jarang, disebut pilosa. Proboscis halus dan panjangnya

melebihi panjang kepala, fungsinya adalah untuk menusuk dan menghisap

darah. Pada nyamuk jantan, proboscis digunakan untuk menghisap

(23)

menghisap darah. Palpus terdiri dari 5 ruas dan berambut. Palpus merupakan

petunjuk untuk membedakan tiap spesies (Agoes, 2009).

Gambar 2.1 Bagian kepala Culicinae (Aedes) (WHO, 1995) B. Toraks

Pada mesonotum (punggung), terdapat gambaran menyerupai bentuk lira

(lyre-form) yang berwarna putih. Toraks terdiri dari bagian mesonotum dan postnotum. Bagian lateralnya terdiri dari lobus protoraks, propelura,

pronotum posterior, mesopleura, sternopleura, skutelum, mesepimeron,

sklerit metasternal lateral, serta sklerit spirakular. Pada mesonotum terdapat

gambaran menyerupai bentuk lira (lyre-form) yang berwarna putih. Skutelum terletak pada posterior dari mesonotum dan bentuknya membentuk

tiga lengkungan (trilobus). Pada toraks, terdapat sepasang sayap transparan,

panjang, mempunyai vena yang permukaannya ditumbuhi oleh sisik-sisik

sayap (wing scales). Pada pinggir sayap terdapat sederetan rambut yang disebut fringe. Pada bagian toraks, juga terdapat sepasang halter, dan tiga pasang kaki bersegmen yaitu femur, tibia, dan 5 buah tarsus. Pada tarsus ke-5

terdapat kuku (Agoes, 2009).

C. Abdomen

Abdomen berbentuk silinder dan terdiri dari 10 segmen. Segmen terakhir

(24)

pada nyamuk jantan disebut hipopigium. Pada nyamuk betina, di bagian akhir

abdomen, terdapat reseptakel sebanyak 3 buah. (Agoes, 2009)

(Hoedojo dan Sungkar, 2008)

Gambar2.2 Morfologi Nyamuk Dewasa

2.1.4 Siklus hidup Aedes aegypti

Siklus hidup serangga terbagi menjadi 3 jenis yaitu:

a. Ametamorfosis

Serangga pada jenis siklus hidup ini tidak mengalami metamorphosis,

sehingga siklus hidupnya adalah telur yang kemudian menjadi nimfa

(hanya satu stadium) dan menjadi dewasa.

b. Simple metamorphosis (metamorfosis sederhana)

Metamorfosis jenis ini berbeda dengan ametamorfosis karena adanya

perbedaan pada fase nimfa. Pada metamorphosis sederhana, fase nimfa

terdiri dari beberapa stadium.

c. Complete metamorphosis (metamorfosis lengkap)

Pada metamorfosis ini, telur menetas menjadi larva, kemudian menjadi

(25)

Nyamuk Aedes aegypti merupakan salah satu serangga yang bermetamorfosis lengkap, sehingga pada siklus hidupnya terdapat fase telur, fase

larva, fase pupa, dan fase dewasa (Hoedojo dan Sungkar, 2009).

Nyamuk betina Aedes aegypti meletakkan telurnya pada dinding tempat perindukan 1-2 cm di atas permukaan air. Seekor nyamuk betina Aedes aegypti dapat meletakkan rata-rata 100 butir per kali bertelur. Kemudian, setelah 2 hari,

telur menetas menjadi larva, lalu melepaskan kulitnya sebanyak 4 kali, tumbuh

menjadi pupa, dan kemudian menjadi dewasa. Pertumbuhan dari telur sampai

dewasa memerlukan waktu kira-kira 9 hari (Djakaria dan Sungkar, 2008).

(Charlesworth, 2008)

(26)

A. Telur Aedes aegypti

Telur Aedes aegypti berukuran 0,8 mm (Kemkes, 2011), berbentuk lonjong, dan dindingnya berbentuk anyaman seperti kain kasa (Ideham dan

Pusarawati, 2009). Telur yang baru diletakkan berwarna putih, tetapi akan

berubah menjadi hitam setelah 1-2 jam (Hoedojo dan Sungkar, 2009).

Telur Aedes aegypti mampu bertahan pada di tempat kering selama 6 bulan (Kemkes, 2011).

(Ideham dan Pusarawati, 2009)

Gambar 2.4 Telur Aedes aegypti

B. Larva Aedes aegypti

Larva Aedes aegypti terdiri dari bagian kepala, toraks, dan abdomen. a. Kepala

Pada bagian kepala, terdapat sepasang antena dengan rambut antena,

sepasang mata, rambut-rambut mulut (mouth brush), dan rambut-rambut kepala (Agoes, 2009).

b. Toraks

Bagian toraks terdiri dari segmen-segmen dengan rambut-rambut atau

bulu-bulu rusuk (Agoes, 2009).

c. Abdomen

Bagian abdomen terdiri dari 8 segmen. Sebenarnya terdapat 10

segemen, tetapi segmen ke-8 sampai ke-10 bersatu membentuk

alat-alat abdominal seperti sifon (pipa udara), pekten, dan anal gill. Pada segmen ke-8 terdapat comb scale yang hanya terdapat satu baris (Agies, 2009). Sifonnya gemuk dan pendek, dan bulu-bulu sifon atau

(27)

(Hoedojo dan Sungkar, 2008)

Gambar 2.5 Morfologi Larva Aedes aegypti

Larva Aedes aegypti mengalami 4 kali proses pelepasan dan penggantian

kulit luar, proses ini disebut proses ekdisis (moulting). Proses tersebut dibagi

menjadi 4 instar (stadium-stadium pertumbuhan) (Natadisastra, 2009). Larva

instar I berukuran paling kecil yaitu 1-2 mm. Larva instar II berukuran 2,5-3,8

mm. Larva instar III berukuran lebih besar sedikit dari larva instar II dan

anatominya struktur tubuhnya sudah mulai jelas terlihat. Larva instar IV

berukuran paling besar yaitu 5 mm (Kemkes, 2011).

Pada waktu istirahat, larva Aedes aegypti membentuk sudut terhadap permukaan air, berbeda dengan nyamuk Anopheles yang sejajar dengan permukaan air (WHO, 1997).

(Cornstock, 2012)

(28)

C. Pupa Aedes aegypti

Pupa berbentuk seperti koma (Kemkes, 2011). Struktur tubuh pupa terdiri

dari kepala dan abdomen dimana segmen-segmen terlihat jelas pada

abdomen.

Terdiri dari segmen-segmen dan segmen terakhir terdapat paddle, pada abdomen segmen terakhir terdapat rambut yang halus. Fungsinya

adalah sebagai alat gerak sehingga dapat bernafas (Agoes, 2009).

2.1.5 Habitat Aedes aegypti

Tempat perindukan utama Aedes aegypti adalah tempat-tempat berisi air bersih yang letaknya berdekatan dengan rumah penduduk (Djakaria dan Sungkar,

2008). Tempat perindukan nyamuk Aedes aegypti dapat dikelompokkan sebagai berikut:

a. Tempat Penampungan Air (TPA) untuk keperluan sehari-hari, seperti

drum, tangka, bak mandi, ember, dan tempayan.

b. Tempat penampungan air bukan untuk keperluan sehari-hari, seperti

tempat minum hewan peliharaan, vas bunga, perangkap semut, tempat

pembuangan air kulkas atau dispenser, barang-barang bekas (ban,

kaleng, botol, plastik).

c. Tempat penampungan air alamiah, seperti lubang batu, lubang pohon,

tempurung kelapa, dan potongan bamboo (Kemkes, 2011).

2.1.6 Perilaku Aedes aegypti

(29)

menyelesaikan perkembangan telur mulai dari nyamuk menghisap darah sampai

telur dikeluarkan (siklus gonotropik) adalah 3-4 hari. Aedes aegypti mempunyai kebiasaan menghisap darah berulang kali dalam satu siklus gonotropik, sehingga

nyamuk dapat menularkan penyakit (Kemkes, 2011).

Aedes aegypti betina menghisap darah manusia di siang hari (day-biters) di luar (eksofilik) maupun dalam rumah (endofilik). Penghisapan dilakukan dengan

dua puncak waktu yaitu pukul 08.00 sampai 10.00 dan 15.00 sampai 17.00

(Djakaria dan Sungkar, 2008).

Setelah menghisap darah, nyamuk mencari tempat untuk istirahat untuk

menunggu proses perkembangan telur maupun istirahat sementara (Agoes, 2009).

Setelah proses pematangan telur selesai, Aedes aegypti betina akan meletakkan telurnya di permukaan air, kemudian telur menepi dan melekat pada

dinding-dinding habitat perkembangbiakannya. Setiap kali bertelur, Aedes aegypti betina dapat menghasilkan telur sebanyak 100 telur (Kemkes, 2011).

2.1.7 Membedakan Aedes aegypti dengan spesies lainnya

Aedes aegypti dapat dibedakan dari nyamuk bergenus lain dari bentuk telur, posisi larva di permukaan air, dan bentuk dewasa. Telur Aedes aegypti terpisah-pisah dan melekat ke dinding-dinding wadah air, telur Anopheles sp. juga terpisah-pisah tetapi berada di permukaan air, berbeda dengan telur Culex sp. yang menyatu berbentuk seperti rakit (raft). Larva Aedes aegypti membentuk sudut di permukaan air, sama halnya dengan Culex sp., tetapi sifon Aedes aegypti lebih pendek dari Culex sp. Larva Anopheles sejajar dengan permukaan air. Pupa Aedes aegypti umumnya lebih kecil dari pupa nyamuk lain. Aedes aegypti memiliki palpi yang lebih pendek dari proboscisnya sedangkan nyamuk dewasa

(30)

(WHO, 1997)

Gambar 2.7 Perbedaan Aedes aegypti dengan spesies nyamuk lainnya

2.1.8 Epidemiologi Aedes aegypti

Aedes aegypti tersebar luas di seluruh Indonesia meliputi semua provinsi yang ada. Walaupun spesies ini ditemukan di kota-kota pelabuhan yang pdat

penduduknya, namun spesies ini masih dapat ditemukan disekitar kota pelabuhan.

(31)

Aedes aegypti yang terbawa melalui transportasi yang mengangkut benda-benda berisi air hujan pengandung larva tersebut (Agoes, 2009).

2.1.9 PengendalianAedes aegypti

Pengendalian Aedes aegypti dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu: A. Perlindungan perseorangan untuk mencegah gigitan nyamuk

Dilakukan dengan cara memasang kawat kasa di lubang-lubang angin di atas

jendela atau pintu, tidur dengan kelambu, penyemprotan dinding rumah

dengan insektisida malathion dan penggunaan repellent pada kulit (Agoes,

2009).

B. Melakukan tindakan PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk)

PSN dapat dilakukan dengan cara:

a. Kimia

Pemberantasan larva dilakukan dengan larvasida yang dikenal sebagai

istilah abatisasi. Larvasida yang biasa digunakan adalah temefos. Dosis

yang digunakan adalah 1 ppm atau 10 gram (1 sendok makan) untuk tiap

100 liter air. Abatisasi dengan temefos mempunyai efek residu selama 3

bulan (Djakaria dan Sungkar, 2008).

b. Biologi

Memelihara ikan pemakan jentik (ikan kepala timah dan ikan guppy)

(Djakaria dan Sungkar, 2008).

c. Fisik

Cara ini dikenal sebagai kegiatan 3M (Menguras, Menutup, Mengubur)

yaitu menguras bak mandi, menutup TPA (Tempat Penampungan Air) di

rumah tangga (tempayan dan drum), dan mengubur atau memusnahkan

barang bekas (kaleng bekas dan ban bekas). Pengurasan TPA

sekurang-kurangnya 1 minggu sekali agar nyamuk tidak dapat berkembang biak di

(32)

2.2 Larvasida Nyamuk

2.2.1 Defenisi

Larvasida nyamuk adalah suatu zat kimiawi yang digunakan untuk

membunuh larva nyamuk. Beberapa larvasida juga efektif dalam membunuh pupa

dan nyamuk dewasa, tetapi sangat sedikit membunuh telur ( WHO, 2002).

2.2.2 Syarat Larvasida

Banyak bahan kimia yang dapat membunuh larva, tetapi terdapat

syarat-syarat agar suatu bahan kimia dapat digunakan sebagai larvasida. Suatu larvasida

harus dipillih berdasarkan efikasinya, ekonomisnya, dan keamannya pada

pengguna dan organisme non-target. Karakterisitik dari suatu zat kimia yang

diinginkan untuk dapat menjadi larvasida yang layak digunakan adalah sebagai

berikut:

a. Toksisitas tinggi terhadap larva nyamuk

b. Kerja yang cepat dan persisten

c. Kualitas penyebaran yang baik di dalam air

d. Didapatkan dengan mudah dan biaya yang murah

e. Aman dan mudah untuk ditransportasikan dan digunakan

f. Efektif pada kondisi cuaca apa pun

g. Efektif secara primer terhadap larva dan kemungkinan terhadap telur,

pupa, dan nyamuk dewasa

h. Efektif pada jenis air apa pun dimana larva dapat tumbuh (polusi,

asam, basa, keruh)

i. Tidak toksik terhadap mahluk hidup non-target (manusia, makanan,

tumbuh-tumbuhan, ternak, ikan pemakan larva, dan serangga air

pemakan larva)

(33)

2.2.3 Klasifikasi Larvasida

Larvasida nyamuk dibedakan menjadi 3 jenis berdasarkan senyawa

kimianya yaitu inorganik, organik alami, dan organik sintetik. Pengklasifikasian

lain dari suatu insektisida adalah berdasarkan caranya memasuki tubuh serangga,

dimana racun perut dimakan dan diabsorbsi dari sistem pencernaannya; racun

kontak berpenetrasi dari dinding tubuhnya; dan racun pernafasan (fumigant)

memasuki tubuh serangga dari spirakel atau pori nafas (WHO, 2002).

Saat ini, racun perut dan racun pernafasan tidak lagi digunakan sebagai

larvasida melainkan sebagai pestisida. Insektisida yang digunakan sebagai

larvasida saat ini adalah racun konttak. Racun kontak inorganik tidak digunakan

sebagai larvasida karena menyebabkan polusi yang serius pada lingkungan,

misalnya merkuri. Racun kontak organik alami,misalnya pyrethrum dan alkaloid,

merupakan racun pada neuromuskular (WHO, 2002).

Racun organik sintetik yang digunakan saat ini adalah organoklorin,

organofosfat, karbamat, dan piretroid. Organoklorin tidak hanya bekerja sebagai

racun neuromuskular, tetapi juga sebagai racun perut, beberapa lainnya sebagai

fumigant. Contoh insektisida organoklorin adalah metoksiklor, klorden, heptaklor,

dan toksafen. Organofosfat memiliki mekanisme kerja menginhibisi

kolinensterase sehingga menghambat transmisi dari impuls saraf. Organofosfat

sering digunakan sebagai larvasida. Contoh organofosfat adalah malathion,

parathion, temefos, diazion, dan klorpirifos. Karbamat memiliki mekanisme kerja

yang sama dengan organofosfat, namun kurang efektif sebagai larvasida. Contoh

karbamat adalah prolan dan dinitrofenol. Piretroid merupakan racun pada

neuromuscular, tidak digunakan pada larva karena biaya yang tinggi (WHO,

2002) (Hoedojo dan Zulhasril, 2008).

Racun organik alami yang terkenal adalah Piretrum. Piretrum merupakan

(34)

(Hoedojo dan Zulhasril, 2008)(WHO, 2002)

Gambar 2.8 Klasifikasi Insektisida

2.2.4 Insektisida Temefos

Nama Kimia Temefos :

O,O,O’O’-tetramethyl O,O’-thiodi-p-phenylene bis(phosphorothioate) (WHO, 2O11)

Struktur kimia dari temefos adalah :

(WHO, 2011)

(35)

Insektisida temefos adalah insektisida golongan organofosfat yang sering

digunakan untuk pengendalian larva Aedes aegypti di TPA dengan konsenstrasi 1 ppm (1 gram temefos 1% dalam 10 liter air). Temefos dikenal sebagai abate pada

kalangan masyarakat. (Hoedojo dan Zulhasril, 2008)

Temefos banyak digunakan untuk pengendalian vektor dengue karena

biaya yang murah dan dapat diterima oleh masyarakat. Namun, karena

penggunaannya yang sangat luas, resistensi Aedes aegypti terhadap temefos banyak dilaporkan di Amerika Latin (Brazil, Kuba, Argentina, Peru, dan

Kolombia) (Grisales et. al., 2013), Thailand (Jiranjanakit, 2007), Banjarmasin (Istiana et al., 2012) , dan Surabaya (Rahardjo, 2006).

Terdapat 3 enzim utama yang berhunbungan dengan resistensi dari Aedes aegypti terhadap temefos, yaitu glutathione S-transferases (GST), cytochrome P450 monooxygenases (CYP450) and carboxylesterases (CE) (Marcombe, 2009).

Walaupun diperkirakan paparan temefos kepada manusia melalui makanan

dan air minum rendah, terdapat kemungkinan paparan langsung temefos kepada

manusia melalui air minum ketika temefos diberikan langsung pada wadah

penyimpanan air minum (WHO, 2009). Temefos merupakan insektisida golongan

organofosfat. Keracunan organofosfat pada manusia dapat menyebabkan

gangguan pada sistem neurologis, respiratorik, dan kardiovaskular yang dapat

berakhir kepada kematian (Peter et al., 2014).

2.3 Srikaya (Annona squamosa)

2.3.1 Taksonomi Srikaya (Annona squamosa)

(36)

Genus : Annona

Spesies : Annona squamosa (Syamsuhidayat, 1991 dalam CRCC, 2012)

2.3.2 Nama lain Srikaya (Annona squamosa)

Indonesia : Srikaya, atis

Inggris : Sugar apple

Melayu : Buah Nona, Sri kaya (CRCC, 2012)

(Folorunso dan Olorode, 2006)

Gambar 2.10 Buah, ranting, daun, bunga, dan biji Srikaya (Annona squamosa)

2.3.3 Kandungan kimia Srikaya (Annona squamosa)

Srikaya (Annona squamosa) mengandung zat aktif acetogenin. Acetogenin adalah metabolit sekunder dari poliketida asam asetat. Senyawa ini memiliki

rantai panjang alifatik dengan kelompok fungsional hidroksil, karbonil asetil, dan

(37)

Acetogenin memiliki struktur kimia :

(IUPAC, 2006)

Gambar 2.11 Struktur Kimia Acetogenin Acetogenin telah diteliti memiliki efektivitas sebagai: a. Antitumor

b. Antidiabetik

c. Antibakteri

d. Antihelmintik

e. Hepatoprotektor (Saha, 2011)

f. Antikonvulsan (Porwal et. al.,2011)

g. Anti kutu rambut (Intaranongpai et al., 2006)

Bagian-bagian dari pohon srikaya (Annona squamosa) telah digunakan sebagai insektisida secara tradisional. Biji dan daunnya digunakan untuk

(38)

BAB III

KERANGKA KONSEP DAN DEFENISI OPERASIONAL

3.1 Kerangka Konsep

Berdasarkan tujuan penelitian di atas, maka kerangka konsep dalam

penelitian ini adalah:

3.2 Variabel penelitian

3.2.1 Variabel bebas

Variabel bebas dalam penelitian ini adalah ekstrak daun srikaya (Annona squamosa) dalam berbagai konsentrasi (0,01%; 0,025%; 0,05%; 0,075%; 0,1%), Temefos (Abate 1%) sebagai kontrol positif dan Air sebagai kontrol negatif.

3.2.2 Variabel terikat

Variabel terikat dalam penelitian ini adalah kematian larva Aedes aegypti.

(39)

3.3 Defenisi Operasional

No. Variabel Defenisi

(40)
(41)

7. Kontrol

(42)

BAB IV

METODE PENELITIAN

4.1Jenis Penelitian

Untuk mengetahui efek larvasida daun srikaya (Annona squamosa) dibandingkan dengan temefos (Abate 1%), Metode penelitian yang digunakan

adalah eksperimen dengan rancangan penelitian post test only control group design.

4.2Waktu dan Tempat Penelitian

4.2.1 Waktu

Penelitian ini akan dilakukan pada bulan Maret 2015 sampai bulan

Desember 2015. Penelitian dilakukan setelah mendapatkan ethical clearancedari Komisi Etik Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

4.2.2 Tempat

A. Ekstraksi

Proses ekstraksi daun srikaya (Annona squamosa) dilakukan di Laboratorium Obat Tradisional Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara.

B. Pengamatan efek larvasida

Proses pengamatan efek larvasida ekstrak daun buah srikaya (Annona squamosa) terhadap larva nyamuk Aedes aegypti dilakukan di Laboratorium Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

4.3 Populasi dan sampel

4.3.1 Populasi

Populasi dari penelitian ini adalah seluruh larva nyamuk Aedes aegypti yang berkembang biak pada tempat perkembangbiakan buatan yang disiapkan

(43)

4.3.2 Sampel

Sampel pada penelitian ini 175 larva nyamuk Aedes aegypti yang berkembang biak pada tempat perkembangbiakan buatan yang disiapkan oleh

peneliti pada setiap kelompok uji dimana terdapat 25 larva nyamuk (WHO, 2005)

pada setiap tabung penelitian.

A. Kriteria inklusi

a. Larva nyamuk Aedes aegypti instar III/IV

b. Larva nyamuk Aedes aegypti dalam keadaan hidup B. Kriteria eksklusi

a. Larva nyamuk Aedes aegypti cacat

b. Larva nyamuk Aedes aegypti kurang aktif

4.3.3 Besar Sampel

Besarnya sampel penelitian setiap tabungnya adalah 25 larva nyamuk

(WHO, 2005) untuk melihat daya larvasida ekstrak daun srikaya (Annona squamosa) terhadap larva Aedes aegyptidimana terdapat 7 tabung secara keseluruhan, yaitu 5 tabung untuk ekstrak daun srikaya (Annona squamosa) dengan konsentrasi yang berbeda (0,01%; 0,025%; 0,05%; 0,075%, 0,1%) (Costa

et. al., 2014), 1 tabung untuk temefos sebagai kontrol positif, dan 1 tabung untuk kontrol negatif. Agar penelitian valid, diperlukan pengulangan untuk tiap

perlakuan yang dihitung dengan rumus:

(t – 1)(r –1)≥15

Keterangan:

t : jumlah perlakuan

r : jumlah replikasi

Pada penelitian ini terdapat 7 perlakuan, sehingga didapatkan pengulangan

yang harus dilakukan adalah sebanyak 4 kali. Total sampel yang harus disediakan

(44)

4.3.4 Cara Pengambilan Sampel

Pengambilan sampel dilakukan secara randomisasi dimana larva yang

memenuhi kriteria inklusi diambil secara acak dan dimasukkan ke dalam tabung

penelitian.

4.4 Teknik pengumpulan data

4.4.1 Alat dan Bahan

4.4.1.1 Alat

No. Alat Fungsi

1. Timbangan Menimbang berat daun buah srikaya (Annona squamosa) yang akan diekstrak

2. Lemari pengering Mengeringkan daun srikaya (Annona squamosa) dengan menggunakan lampu pijar. 3. Kertas perkamen Alas daun srikaya (Annona squamosa) di

dalam lemari pengering

4. Alat perkolasi Pembuatan ekstrak cair

5. Aluminium foil Menutup alat perkolasi 6. Rotary evaporator Pembuatan ekstrak kental

7. Kapas Penyaring yang diletakkan di dalam alat

perkolasi

8. Botol Wadah penyimpanan ekstrak daun buah srikaya

(Annona squamosa)

9. Ember hitam Wadah tempat perkembangbiakan nyamuk

buatan untuk larva Aedes aegypti

10. Kayu Tempat peletakan telur nyamuk Aedes aegypti 11. Kertas saring Membalut kayu agar kayu tetap lembab dan

penyaring di dalam alat perkolasi

(45)

13. Kasa Menutup tempat perkembangbiakan nyamuk

buatan setelah terdapat telur nyamuk

14. Mikroskop Mengecek bahwa benar larva pada tempat

perkembangbiakan nyamuk buatan adalah larva

Aedes aegypti

15. Gelas Beker Wadah pengamatan efek larvasida ekstrak daun

srikaya (Annona squamosa) dan temefos terhadap larva nyamuk Aedes aegypti 16. Jam Mengukur lamanya waktu penelitian

17. Lembar

pengamatan

Mengisi hal-hal yang diamati dari penelitian

4.4.1.2 Bahan

No. Bahan Fungsi

1. Daun buah srikaya

(Annona squamosa)

Bahan ekstrak

2. Etanol 70% Larutan dalam mengekstraksi daun buah

srikaya (Annona squamosa) 3. Larva nyamuk

Aedes aegypti

Bahan perlakuan

4. Air keran Media pada tempat perkembangbiakan

nyamuk buatan

4.4.2 Cara Pengambilan Data (Prosedur Kerja)

4.4.2.1 Penyediaan bahan ekstrak

Penyediaan dari bahan ekstrak terdiri dari pengambilan dan pengolahan

(46)

1. Pengambilan bahan ekstrak

Bahan ekstrak yang diambil adalah daun srikaya (Annona squamosa) yang langsung dipetik dari pohonnya di Kelurahan Bandar Senembah,

Kotamadya Binjai.

2. Pengolahan bahan ekstrak

Bahan ekstrak dicuci, ditiriskan, dan ditimbang. Kemudian bahan

ekstrak di masukkan ke dalam lemari pengering selama 5 hari sampai

benar-benar kering dimana bahan yang kering akan hancur ketika

diremas. Bahan yang sudah kering disebut simplisia.

4.4.2.2 Pembuatan ekstrak

Pembuatan ekstrak dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut :

1. Simplisia daun srikaya (Annona squamosa) dihaluskan sampai menjadi bentuk serbuk

2. Serbuk simplisia daun srikaya (Annona squamosa) direndam dalam etanol 70% selama 3 jam. Proses ini disebut sebagai maserasi antara.

3. Masukkan ke dalam alat perkolasi dengan hati-hati sambil ditekan.

4. Tuangkan etanol 70% secukupnya sampai serbuk simplisia terendam.

5. Tutup alat perkolasi dan biarkan selama 24 jam.

6. Buka keran alat perkolasi, biarkan cairan menetes dengan kecepatan 1

ml per menit dan tambahkan etanol 70% berulang-ulang agar simplisia

selalu terendam.

7. Perkolasi dihentikan jika tetesan sudah tidak berwarna lagi. Hasil

perkolasi disebut ekstrak cair.

8. Masukkan ekstrak cair kedalam rotary evaporatoruntuk mendapatkan ekstrak pekat.

(47)

4.4.2.3 Persiapan sampel

Sampel didapatkan dengan cara membuat tempat perkembangbiakan

nyamuk buatan. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:

1. Isi ember hitam dengan air keran

2. Letakkan ember hitam berisi air di luar rumah yang tidak terkena tanah

dan terlindungi dari hujan.

3. Masukkan kayu yang telah dililit dengan kertas saring ke dalam ember.

4. Setelah terdapat telur-telur nyamuk, kertas saring yang terdapat telur

nyamuk di bawa ke Laboratorium Parasitologi FK USU.

5. Rendam kertas saring ke dalam air. Telur akan menetas setelah

teerendam air. Tutup dengan kain kasa.

6. Setelah menjadi larva, ambil sedikit larva dengan penciduk.

7. Periksa di bawah mikroskop apakah benar larva yang berkembang

adalah larva nyamuk Aedes aegypti.

8. Jika benar, periksa juga instar dari larva. Kriteria inklusi sampel adalah

instar III/IV.

9. Jika memenuhi kriteria inklusi sampel, lakukan penelitian.

4.4.2.4 Pengamatan efek larvasida

Efek larvasida dapat diamati dengan cara :

1. Masukkan 25 larva ke dalam masing-masing tabung penelitian yang

sudah diisi ekstrak daun buah srikaya (Annona squamosa) berbagai konsentrasi (0,01%; 0,025%; 0,05%; 0,075%, 0,1%), temefos, dan

kontrol negatif (air).

2. Amati jumlah larva yang mati pada tabung reaksi setiap 24 jam.

3. Pengamatan dilakukan sampai 48 jam setelah pemberian perlakuan.

(48)

4.5 Pengolahan dan Analisis Data

Data hasil pengamatan akan diolah secara komputerisasi dan dianalisis

dengan uji one way ANOVA (Analysis of variance) untuk mengetahui perbedaan jumlah kematian larva Aedes aegypti antar kelompok uji, kemudian uji LSD (Least Significance Difference) untuk mengetahui pasangan mean yang perbedaannya signifikan dan analisis probit untuk mengetahui efek larvasida

(49)

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Hasil

5.1.1 Deskripsi Lokasi Penelitian

Penelitian ini melalui beberapa tahap yang mencakup beberapa lokasi.

Bahan ekstrak daun Srikaya (Annona squamosa) dikumpulkan di Kelurahan Bandar Senembah, Kecamatan Binjai Barat, Kotamadya Binjai. Pembuatan

ekstrak daun srikaya (Annona squamosa) dilakukan di Laboratorium Obat Tradisional Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara yang terletak di Jalan

Tri Dharma USU, sedangkan pemantauan efikasi ekstrak daun srikaya (Annona squamosa) terhadap larva Aedes aegypti dilakukan di Laboratorium Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara yang terletak di Jalan

Universitas USU. Universitas Sumatera Utara terletak di Kelurahan Padang

Bulan, Kecamatan Medan Baru, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara dengan

total area 122 hektar.

5.1.2 Deskripsi karakteristik sampel

Sampel pada penelitian ini adalah larva Aedes aegypti instar III dan IV yang dipilih secara acak (simple random sampling). Sampel dipilih sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi yang ada. Sampel didapatkan dengan memerangkap

telur nyamuk (ovitrap), kemudian merendam telur dengan air sumur sampai

menjadi larva instar III dan IV di dalam rumah. Oleh karena telur direndam secara

bersamaan, sampel dapat dikatakan homogen. Sebelum penelitian, larva

diidentifikasi dahulu dengan memperhatikan posisi istirahat larva terhadap

permukaan air untuk memastikan larva tersebut merupakan larva Aedes aegypti. Sampel dimasukkan ke dalam wadah penelitian yaitu kontainer plastik

(50)

5.1.3 Data Efek Larvasida

Tabel 5.1 Jumlah kematian larva Aedes aegypti pada pemantauan 24 dan 48 jam

24 Jam 48 Jam

Sebelum menganalisis data, data terlebih dahulu diuji normalitasnya untuk

mengetahui distribusi data penelitian.

Tabel 5.2 Hasil Uji Normalitas Data

Shapiro-wilk

Konsentrasi Sig.(p) Normalitas

(51)

Data yang dimasukkan ke dalam spss adalah sebanyak 28 data (7 wadah

dengan 4 pengulangan). Oleh karena jumlah data yang kecil (<50), maka uji

normalitas yang digunakan adalah uji normalitas Shapiro-Wilk (Dahlan, 2012).

Berdasarkan uji normalitas Shapiro-Wilk terhadap jumlah kematian larva pada

setiap konsentrasi, didapatkan nilai p>0,05 pada semua konsentrasi (0,01%;

0,025%; 0,05%; 0,075%; 0,1%) pemantauan 24 jam dan 48 jam. Berdasarkan nilai

p dari uji normalitas Shapiro-Wilk, maka dapat disimpulkan bahwa data setiap

konsentrasi berdistribusi normal, sehingga dapat dilakukan uji parametrik seperti

one-way ANOVA.

Tabel 5.3 Hasil one-way ANOVA

Sig.(p) Signifikansi

Pemantauan 24jam .000 Signifikan

Pemantauan 48jam .000 Signifikan

Nilai p one-way ANOVpA menunjukkan angka 0,000 (<0,05) pada pemantauan 24 jam dan 48 jam, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat

perbedaan rata-rata kematian larva yang signifikan. Untuk mengetahui kelompok

mana yang mempunyai perbedaan, maka dilakukan uji Post Hoc. Sebelum

melakukan uji Post Hoc, uji varian perlu dilakukan untuk menentukan uji Post

Hoc yang akan digunakan.

Tabel 5.4 Hasil uji varian

Sig.(p) Varian

Pemantauan 24jam .226 Homogen

Pemantauan48jam .102 Homogen

Uji Varian menunjukkan nilai p 0,226 pada pemantauan 24 jam dan 0,102

pada pemantaun 48 jam. Kedua nilai tersebut menunjukkan p>0,05, maka dapat

(52)

one-way ANOVA signifikan dan varian homogen, maka analisis Post Hoc yang akan digunakan adalah Least Significance Difference (LSD).

Tabel 5.5 Hasil analisis Least Significance Difference pada pemantauan 24 jam

Konsentrasi

Dibandingkan

Konsentrasi Sig.(p) Signifikansi

0,01% 0,025% .000 Signifikan

0,05% .000 Signifikan

0,075% .000 Signifikan

0,1% .000 Signifikan

Air .001 Signifikan

Abate .000 Signifikan

0,025% 0,05% .000 Signifikan

0,075% .000 Signifikan

0,1% .000 Signifikan

Air .000 Signifikan

Abate .000 Signifikan

0,05% 0,075% .000 Signifikan

0,1% .000 Signifikan

Air .000 Signifikan

Abate .000 Signifikan

0,075% 0,1% .000 Signifikan

Air .000 Signifikan

Abate .000 Signifikan

0,1% Air .000 Signifikan

Abate .000 Signifikan

Air Abate .000 Signifikan

Analisis Least Significance Difference (LSD) menunjukkan semua pasangan perbandingan pada pemantauan 24 jam memiliki nilai p<0,05, sehingga

dapat disimpulkan bahwa semua pasangan perbandingan memiliki perbedaan

(53)

Tabel 5.6 Hasil analisis Least Significance Difference pada pemantauan 48 jam

Konsentrasi

Dibandingkan

Konsentrasi Sig.(p) Signifikansi

0,01% 0,025% .000 Signifikan

0,05% .000 Signifikan

0,075% .000 Signifikan

0,1% .000 Signifikan

Air .000 Signifikan

Abate .000 Signifikan

0,025% 0,05% .000 Signifikan

0,075% .000 Signifikan

0,1% .000 Signifikan

Air .000 Signifikan

Abate .000 Signifikan

0,05% 0,075% .000 Signifikan

0,1% .000 Signifikan

Air .000 Signifikan

Abate .000 Signifikan

0,075% 0,1% .000 Signifikan

Air .000 Signifikan

Abate .000 Signifikan

0,1% Air .000 Signifikan

Abate .070 Tidak Signifikan

Air Abate .000 Signifikan

Analisis Least Significance Difference (LSD) menunjukkan semua pasangan perbandingan pada pemantauan 48 jam memiliki nilai Sig.(P) <0,05

(54)

mean yang signifikan, kecuali perbandingan konsentrasi 0,1% ekstrak daun

srikaya (Annona squamosa) dengan abate memiliki perbedaan rerata yang tidak signifikan.

Untuk menentukan konsentrasi yang efektif untuk membunuh larva, maka

diperlukan analisis probit. Konsentrasi ekstrak daun srikaya (Annona squamosa) yang efektif untuk membunuh larva Aedes aegypti dinyatakan dengan Lethal concentration 50 (LC50).

Tabel 5.7 Hasil analisis Probit

IK95%

Konsentrasi Minimum Maksimum

LC1 0.004 0.002 0.006

(55)

5.2 Pembahasan

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efikasi ekstrak daun srikaya

(Annona squamosa) terhadap larva Aedes aegypti instar III dan IV. Pada penelitian ini, terdapat 7 kelompok uji yaitu 5 konsentrasi (0,01%; 0,025%;

0,05%; 0,075%; 0,1%) ekstrak daun srikaya (Annona squamosa), 1 kontrol negatif (air), dan 1 kontrol positif (abate). Pada kelompok uji kontrol negatif, hanya

terdapat air sebagai media perendaman, dan tidak didapatkan kematian larva

sehingga dapat disimpulkan air yang digunakan tidak memiliki daya larvasida dan

tidak ada intervensi lain yang mempengaruhi kematian larva pada kelompok uji

lain.

Hasil penelitian pada tabel 5.1 menunjukkan bahwa ekstrak daun

srikaya(Annona squamosa) memiliki daya larvasida mulai dari konsentrasi 0,01%. Tingkat kematian larva Aedes aegypti semakin tinggi pada peningkatan konsentrasi ekstrak daun srikaya (Annona squamosa).

Data penelitian dianalisis dengan analisis One-way ANOVA (tabel 5.3) dan didapatkan hasil p<0,05 pada pemantauan 24 jam dan 48 jam, sehingga dapat

disimpulkan bahwa terdapat perbedaan rata-rata kematian larva yang signifikan.

Tetapi, dengan analisis One-way ANOVA tidak dapat diketahui pasangan rerata mana yang signifikan, sehingga diperlukan uji post hoc.

Untuk mengetahui perbedaan rerata kematian larva pada masing-masing

konsentrasi yang signifikan, dilakukan uji post hoc Least Significance Difference (LSD). Semua pasangan perbandingan menunjukkan perbedaan rerata kematian

larva yang signifikan, kecuali pasangan perbandingan konsentrasi 0,1% ekstrak

dengan abate pada pemantauan 48 jam (p=0,07).

Kematian larva Aedes aegypti dengan abate mencapai 100% dalam waktu kurang dari 24 jam, sedangkan dengan ekstrak daun srikaya (Annona squamosa) 0,1% diperlukan waktu 48 jam. Ekstrak daun srikaya 0,1% memerlukan waktu

yang lebih lama dari abate untuk membunuh larva Aedes aegypti. Peningkatan konsentrasi ekstrak dapat mempercepat waktu yang diperlukan untuk membunuh

(56)

Konsentrasi yang efektif untuk membunuh larva dapat diketahui dengan

analisis probit. Berdasarkan tabel 5.7, Lethal concentration 50 (LC50) dari ekstrak daun srikaya (Annona squamosa) terhadap larva Aedes aegypti adalah 0,057%, maka dapat disimpulkan konsentrasi ekstrak daun srikaya (Annona squamosa) yang dibutuhkan untuk membunuh 50% larva Aedes aegypti adalah 0,057% pada waktu pemaparan 24 jam. Hasil ini tidak jauh berbeda dengan penelitian

Rosmayanti (2014) menggunakan ekstrak biji sirsak (Annona muricata) yang juga mengandung Acetogenin yaitu LC50 sebesar 0,06%. Menurut WHO (2005), salah satu syarat larvasida yang baik adalah larvasida yang memiliki efektivitas pada

konsentrasi di bawah 1%. Ekstrak daun srikaya (Annona squamosa) memenuhi syarat tersebut.

Abate merupakan racun kontak golongan organofosfat yang bekerja

dengan menghambat enzim kolinesterase yang berfungsi mengubah kembali

asetilkolin setelah menyampaikan pesan antar sinaps. Asetilkolin yang berlebihan

menyebabkan overstimulasi sistem saraf dan menyebabkan kematian serangga

(BASF, 2014). Keracunan organofosfat pada manusia dapat menyebabkan

gangguan pada sistem neurologis, respiratorik, dan kardiovaskular yang dapat

berakhir kepada kematian (Peter et al., 2014). Walaupun diperkirakan paparan abate kepada manusia melalui makanan dan air minum rendah, terdapat

kemungkinan paparan langsung abate kepada manusia melalui air minum ketika

abate diberikan langsung pada wadah penyimpanan air minum (WHO, 2009).

Acetogenin merupakan racun perut bekerja dengan menghambat menghambat respirasi mitokondrial pada kompleks I dan NADH-ubiquinone oxidoreductase sehingga menghambat fosforilasi oksidatif mitokondria yang menyebabkan apoptosis (Chen et al., 2011). Larvasida berbahan dasar tanaman tidak memiliki efek yang berbahaya pada ekosistem (Govindarajulu, 2015).

Larvasida sintetis mulai mengalami resistensi dan memiliki efek yang

berbahaya terhadap manusia dan populasi non-target, sehingga diperlukan

(57)

Konsentrasi dan waktu yang dibutuhkan oleh ekstrak daun srikaya

(Annona squamosa) untuk membunuh larva Aedes aegypti lebih besar dan lebih lama dari abate, namun ekstrak daun srikaya (Annona squamosa) dapat dipertimbangkan sebagai alternatif dari larvasida sintetis abate karena ekstrak

(58)

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan

Dari hasil penelitian dan pembahasan, didapatkan kesimpulan sebagai

berikut:

1. Ekstrak daun srikaya (Annona squamosa) memiliki efek larvasida terhadap larva Aedes aegypti.

2. Lethal Concentration 50 (LC50) ekstrak daun srikaya (Annona squamosa) terhadap larva Aedes aegypti adalah 0,057%

3. Efikasi ekstrak daun srikaya (Annona squamosa) tidak kalahp dari abate walaupun ekstrak daun srikaya (Annona squamosa) membutuhkan konsentrasi yang lebih besar dan waktu yang lebih lama

dari abate.

6.2 Saran

1. Menurut WHO(2005), terdapat 3 tahapan evaluasi larvasida, yaitu

tahap laboratorium, tahap lapangan skala kecil, dan tahap lapangan

skala besar. Penelitian ini merupakan evaluasi larvasida tahap

laboratorium. Penelitian ini dapat dilanjutkan ke tahap evaluasi

selanjutnya.

2. Penelitian ini meneliti konsentrasi ekstrak daun srikaya (Annona squamosa) yang efektif dalam membunuh larva, namun tidak mengetahui onset of action dari ekstrak daun srikaya (Annona squamosa). Penelitian selanjutnya dapat dilakukan untuk mengetahui onset of action dari ekstrak daun srikaya (Annona squamosa) untuk membunuh larva.

3. Penelitian ini memanfaatkan Acetogenin sebagai larvasida. Penelitian selanjutnya dapat dilakukan untuk meneliti kegunaan lain zat aktif

(59)

DAFTAR PUSTAKA

Agoes, R., 2009. Peran Nyamuk dalam Ilmu Kedokteran. Dalam: Natadisastra, D., Agoes, R., Parasitologi Kedokteran Ditinjau dari Organ Tubuh yang Diserang. Jakarta: EGC, 302-319.

Cancer Chemoprevention Research Center (CRCC), 2012. Srikaya (Annona squamosa L.). Fakultas Farmasi UGM. Available from: http://ccrc.farmasi.ugm.ac.id/en/?page_id=2288 [Accessed 28 May 2015].

Charlesworth, S., 2008. Mosquito Life Cycle (Generalized). In: Hill, C.A. and MacDonald, J.F., Purdue Entomology. Purdue University. Available from:

http://extension.entm.purdue.edu/publichealth/images/downloads/lifecycle-mosquito.jpg [Accessed 12 May 2015].

Comstock, J.H., 2012. An Introduction to Entomology. Available from:

http://en.wikipedia.org/wiki/Mosquito#/media/File:Comstock_Mosquito_Lar

vae_IMG_6216.JPG [Accessed 10 May 2015].

Costa, M.S., et al., 2014. Larvicidal and Cytotoxic Potential of Squamocin on the Midgut of Aedes aegypti (Diptera: Culicidae). Toxins 2014 (6):1169-1176. Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2014. Buletin Jendela Epidemiologi

Demam Berdarah Dengue. Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Djakaria, S. dan Sungkar, S., 2008. Vektor Penyakit Virus, Riketsia, Spiroketa,

dan Bakteri. Dalam : Sutanto, I., Ismid, I.S. Sjarifuddin, P.K., Sungkar, S. Buku Ajar Parasitologi Kedokteran Edisi 4. Jakarta: Balai Penerbit FK UI, 265-273.

Folorunso, A.E., Olorode, O., 2006. Biosystematic Studies in Annonaceae

Vegetative and Floral Morphology Studies of Some Species in Nigeria.

(60)

Ghosh, A., Chowdhury, N., Chandra, G., 2012. Plant Extracts as Potential

Mosquito Larvicides. Indian J Med Res 135, 581-598.

Grisales, N., Poupardin, R., Gomez, S., Gonzalez, I.F., Ranson, H., Lenhart, A.,

2013. Temephos Resistance in Aedes aegypti in Colombia Compromises

Dengue Vector Control. PLOS Negl Trop Dis 7(9):e2438.

Gu, Z.M., Zhao, G.X., Oberlies, N.H., Zeng, L., McLaughlin, J.L., 1995.

Annonaceous Acetogenins. Purdue University, Indiana.

Guzman, A., and Isturiz, R.E., 2010. Update on the Global Spread of

Dengue.International Journal of Antimicrobial Agents 540-542.

Hoedojo, R. dan Sungkar, S., 2008. Morfologi, Daur Hidup dan Perilaku Nyamuk.

Dalam : Sutanto, I., Ismid, I.S. Sjarifuddin, P.K., Sungkar, S. Buku Ajar Parasitologi Kedokteran Edisi 4. Jakarta: Balai Penerbit FK UI, 250-253. Hoedojo, R. dan Zulhasril, 2008. Insektisida dan Resistensi. Dalam: Sutanto, I.,

Ismid, I.S. Sjarifuddin, P.K., Sungkar, S. Buku Ajar Parasitologi Kedokteran Edisi 4. Jakarta: Balai Penerbit FK UI, 280-286.

Ideham, B. dan Pusarawati, S., 2009. Penuntun Praktis Parasitologi Kedokteran Edisi 2. Surabaya: Airlangga University Press, 51-54.

Intaranongpai, J., Chavasiri, W., Gritsanapan, W., 2006. Anti-Head Lice Effect of Annona squmosa Seeds. Chulalogkorn University, Bangkok.

International Union of Pure and Applied Chemistry (IUPAC), 2014. IUPAC Gold Book. Available from: http://goldbook.iupac.org/P04734.html [Accessed 28 May 2015].

Istiana, Heriyani, F., Isnaini. Status Kerentanan Larva Aedes aegypti terhadap

(61)

Jirakanjanakit, N., Saengtharatip, S., Rongnoparut, P., Duchon, S., Bellec, C.,

Yoksan, S., 2007. Trend of Temephos Resistance in Aedes (Stegomyia)

Mosquitoes in Thailand during 2003-2005. Environ Entomol 36(3):506-511. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011. Modul Pengendalian Demam

Berdarah Dengue. Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan.

Khalequzzaman, M., dan Sultana, S., 2006. Insecticidal Activity of Annona

squamosal L. Seed Extracts against the Red Flour Beetle, Tribolium

Castaneum (Herbst). J. bio-sci 14:107-112.

Leatemia, J.A., dan Isman, M.B., 2004. Insecticidal Activity of Crude Seed

Extract of Annona spp., Lansium domesticum, and Sandoricum koetjape

against Lepidopteran Larvae. Phytoparasitica 32(1):30-37.

Maia, M.F., Moore, S.J., 2011. Plant-based insect repellents : A Reviwes of Their

Efficacy, Development, and Testing. Malaria Journal 10(Suppl 1):511. Marcombe, S., et al., 2009. Exploring the Molecular Basis of Insectiside

Resistance in the Dengue Vector Aedes aegypti: a case study in Martinique

Island (French West Indies). BMC Genomics 10:494.

Natadisastra, D., 2009. Dasar-dasar Parasitologi Kedokteran. Dalam:Natadisastra, D., Agoes, R., Parasitologi Kedokteran Ditinjau dari Organ Tubuh yang Diserang. Jakarta: EGC, 51-59.

Omena, M.C., Navarro, D.M.A.F., Paula, J.E, Luna, J.S., Lima, M.R.F., Sant’Ana,

A.E.G., 2007. Larvicidal Activities against Aedes aegypti of Brazilian

Medicinal Plants. Biosorce Technology 98:2549-2556.

Porwal, M., Sharma, K., Malik, P. 2011. Anticonvulsant Effect of Annona

(62)

Rahardjo, B., 2006. Uji Kerentanan Nyamuk Aedes Aegypti dari Surabaya, Palembang, dan Beberapa Wilayah di Bandung terhadap Larvasida Temefos. Bandung: Institut Teknologi Bandung.

Rosmayanti, K., 2014. Uji Efektivitas Ekstrak Biji Sirsak (Annona Muricata L.) sebagai Larvasida pada Larva Aedes aegypti Instar III/IV. Jakarta:

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah.

Saha, R., 2011. Pharmacognosy and Pharmacology of Annona squamosal : A

review. Int. J. of Pharm. & Life Sci. (IJPLS) Vol. 2 1183-1189.

Velu, K., Elumalai, K., Velu, K., Hemalatha, P, Babu, M., Janaki, A., Kaleena, K,

2015. Phytochemical Screening and Larvicidal Activity of Peel Extract of

Arachis hypogea Against Chikungunya and Malarial Vector. International Journal of Mosquito Research 2 (1): 01-08.

World Health Organization (WHO), 1995. Guidelines for Dengue Surveillance and Mosquito Control. Manila: Regional Office for The Western Pacific. World Health Organization (WHO), 1997. Mosquitoes and Other Biting Diptera.

Available from

:http://www.who.int/water_sanitation_health/resources/vector007to28.pdf

[Accessed 10 May 2015].

World Health Organization (WHO), 2002. Chemical Control of Mosquito Larva. Available from:

http://whqlibdoc.who.int/offset/WHO_OFFSET_1_(part2).pdf [Accessed 22

May 2015]

(63)

World Health Organization (WHO), 2009. Temephos in Drinking Water: Use for Vector Control in Drinking Water Sources and Containers. Switzerland: WHO Press.

World Health Organization (WHO), 2011. WHO Specifications and Evaluations for Public Health Pesticides. Available from:

http://www.who.int/whopes/quality/Temephos_eval_only_June_2011.pdf

[Accessed 21 May 2015].

World Health Organization (WHO), 2014. Vector Borne Disease. Available from :http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs387/en/ [Accessed 20 April

(64)

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Yolanda Hendrawan

Tempat/Tanggal Lahir : Binjai, 29 Maret 1994

Agama : Buddha

Alamat : Jln. Anggur No. 53, Binjai Barat

No. Hp/E-mail : 082361298626/yao_landa@rocketmail.com

Riwayat Pendidikan :

1. TK Perguruan Kristen Methodist Indonesia Binjai

(1997-1999)

2. SD Perguruan Kristen Methodist Indonesia Binjai

(1999-2005)

3. SMP Perguruan Kristen Methodist Indonesia Binjai

(2005-2008)

4. SMA Perguruan Kristen Methodist Indonesia Binjai

(2008-2011)

(65)

1. Peserta PMB (Penerimaan Mahasiswa Baru) FK USU

Tahun 2012

2. Peserta MMB (Manajemen Mahasiswa Baru) FK USU

Tahun 2012

3. Peserta Seminar dan Workshop Basic Life Support&Traumatology 2013

4. Peserta Seminar dan Workshop Basic Surgical Skills 2013

Lampiran 2

Dokumentasi Pelaksanaan Penelitian

Simplisia daun srikaya (Annona

(66)

Serbuk Simplisia daun srikaya (Annona squamosa)

Perendaman serbuk simplisia dalam etanol 70% (maserasi antara)

Proses perkolasi

(67)

Ekstrak kental daun Srikaya (Annona squamosa)

Ovitrap untuk mendapatkan telur nyamuk

Larva yang didapatkan dari perendaman telur nyamuk

(68)

Perendaman larva Aedes aegypti dalam ekstrak daun srikaya (Annona

squamosa)

(69)

Lampiran 3

Hasil Pengolahan Data dari SPSS

Tests of Normality

Lower Bound Upper Bound

P_24jam 0,01% 0,025% -3.750* .506 .000 -4.80 -2.70

0,05% -8.000* .506 .000 -9.05 -6.95

(70)
(71)
(72)

air 19.750* .523 .000 18.66 20.84

*. The mean difference is significant at the 0.05 level.

Probability

95% Confidence Limits for nilaikonsentrasi

Estimate Lower Bound Upper Bound

(73)
(74)

Figur

Tabel 2.1     Penyakit yang ditransmisikan oleh nyamuk  .................................
Tabel 2 1 Penyakit yang ditransmisikan oleh nyamuk . View in document p.11
Gambar 2.1     Bagian Kepala Culicinae (Aedes) ..............................................
Gambar 2 1 Bagian Kepala Culicinae Aedes . View in document p.12
Tabel 2.1 Penyakit yang ditransmisikan oleh nyamuk (WHO, 1997)
Tabel 2 1 Penyakit yang ditransmisikan oleh nyamuk WHO 1997 . View in document p.21
Gambar 2.1 Bagian kepala Culicinae (Aedes) (WHO, 1995)
Gambar 2 1 Bagian kepala Culicinae Aedes WHO 1995 . View in document p.23
Gambar2.2  Morfologi Nyamuk Dewasa
Gambar2 2 Morfologi Nyamuk Dewasa . View in document p.24
Gambar 2.3 Siklus Hidup Nyamuk
Gambar 2 3 Siklus Hidup Nyamuk . View in document p.25
Gambar 2.4 Telur Aedes aegypti
Gambar 2 4 Telur Aedes aegypti. View in document p.26
Gambar 2.6 Larva Anopheles dan Culicine (Aedes) di permukaan air
Gambar 2 6 Larva Anopheles dan Culicine Aedes di permukaan air . View in document p.27
Gambar 2.5 Morfologi Larva  Larva Aedes aegypti mengalami 4 kali proses pelepasan dan penggantian
Gambar 2 5 Morfologi Larva Larva Aedes aegypti mengalami 4 kali proses pelepasan dan penggantian . View in document p.27
Gambar 2.7 Perbedaan Aedes aegypti dengan spesies nyamuk lainnya
Gambar 2 7 Perbedaan Aedes aegypti dengan spesies nyamuk lainnya . View in document p.30
Gambar 2.9 Struktur kimia Temefos
Gambar 2 9 Struktur kimia Temefos . View in document p.34
Gambar 2.10 Buah, ranting, daun, bunga, dan biji Srikaya ( Annona squamosa
Gambar 2 10 Buah ranting daun bunga dan biji Srikaya Annona squamosa. View in document p.36
Gambar 2.11 Struktur Kimia Acetogenin
Gambar 2 11 Struktur Kimia Acetogenin . View in document p.37
Tabel 5.2 Hasil Uji Normalitas Data
Tabel 5 2 Hasil Uji Normalitas Data . View in document p.50
Tabel 5.1 Jumlah kematian larva Aedes aegypti pada pemantauan 24 dan 48 jam
Tabel 5 1 Jumlah kematian larva Aedes aegypti pada pemantauan 24 dan 48 jam . View in document p.50
Tabel 5.4 Hasil uji varian
Tabel 5 4 Hasil uji varian . View in document p.51
Tabel 5.5 Hasil analisis Least Significance Difference pada pemantauan 24 jam
Tabel 5 5 Hasil analisis Least Significance Difference pada pemantauan 24 jam . View in document p.52
Tabel 5.6 Hasil analisis Least Significance Difference pada pemantauan 48 jam
Tabel 5 6 Hasil analisis Least Significance Difference pada pemantauan 48 jam . View in document p.53
Tabel 5.7 Hasil analisis Probit
Tabel 5 7 Hasil analisis Probit . View in document p.54

Referensi

Memperbarui...

Outline : Pembahasan