BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kata pariwisata atau dalam bahasa Inggris diistilahkan dengan ‘tourism’ diasosiasikan sebagai rangkaian perjalanan (wisata, tours/traveling) seseorang atau sekelompok orang (wisatawan, tourist/s) ke suatu tempat berlibur, menikmati keindahan alam dan budaya
(sightseeing), bisnis, mengunjungi kawan atau kerabat dan tujuan yang lainnya. World Tourism Organization (WTO), mendefinisikan pariwisata (tourism) sebagai “activities of person traveling to and staying in places outside their usual environment for not
more than one consecutive year for leisure, business and other purposes”.
Sumber lainnya menyebut bahwa pada dasarnya wisata adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang di luar tempat tinggalnya, bersifat sementara, untuk berbagai tujuan selain untuk mencari nafkah, sementara pariwisata disebut sebagai fenomena perjalanan manusia secara perorangan atau kelompok dengan berbagai macam tujuan asal tidak untuk mencari nafkah atau menetap (Suranti, 2005). Dari beragam definisi tersebut diperoleh gambaran bahwa pariwisata merupakan suatu bidang yang bersifat multidimensi serta melibatkan dan bersinggungan dengan banyak sektor dan pelaku. Secara sepintas, kata wisata dan juga pariwisata tampak mempunyai makna yang sama tetapi jika ditinjau lebih rinci tampak ada makna yang lebih luas pada kata pariwisata dibandingkan dengan wisata.
11 Dalam kenyataan yang sesungguhnya pengembangan kebudayaan Indonesia menjadi terlantar disebabkan perhatian yang kurang terhadap arti penting kebudayaan. Padahal kebudayaan itu sangat penting sebagai alat perjuangan untuk mendapatkan pengakuan kesetaraan dalam pergaulan antarbangsa yang sesungguhnya (Sutomo, dkk, 1999). Setiap negara akan selalu berusaha tampil dengan kelengkapan budayanya sebagai jatidirinya yang membedakan dengan negara lain (Sinclair, 1991; Wilson, 1998). Di samping itu, pembangunan kebudayaan nasional didorong oleh kebutuhan akan media sosial yang dapat mempersatukan bangsa merupakan tenaga yang kuat dan menjadi dasar kebanggaan suatu bangsa. Oleh karena itu, pengembangan semua potensi wisata di daerah perlu terus dipacu (Sutomo, dkk., 1999).
Solo atau Surakarta atau Sala dikenal sebagai salah satu daerah tujuan wisata (DTW) di Indonesia yang kaya akan berbagai atraksi wisatanya, yaitu mulai dari wisata budaya, wisata alam, dan juga wisata kulinernya. Meskipun demikian, kontribusi kepariwisataan terhadap PDRB Solo tidaklah terlalu besar dibandingkan dengan sektor yang lain. Fakta ini tentu menjadi pertimbangan tersendiri bagi Pemkot Solo untuk dapat lebih memacu sektor kepariwisataan. Salah satu upaya untuk memacu dan membangun kepariwisataan Solo misalnya dengan menetapkan pencitraan dirinya dengan slogan: ‘Solo The Spirit of Java’.
Di satu sisi pencitraan ini menjadikan Solo sebagai salah satu kawasan yang potensil bagi pengembangan ekonomi dan bisnis. Di sisi lain, pencitraan diri dengan menyebut sebagai ‘The Spirit of Java’ memang menjadi tantangan untuk dapat mengembalikan jatidiri Solo yang memang penuh nuansa kejawen, adiluhung, dan berperikemanusiaan
Dari sejumlah program tersebut, nampaknya yang kini marak diberitakan adalah seputar pengembangan kawasan Balekambang dan Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ). Hal utama dibalik program tersebut tentu mengarah pada optimalisasi semua potensi DTW yang dimiliki Solo sebagai Kota Budaya. Mencuatnya tuntutan Solo ditetapkan sebagai Kota Cagar Budaya secara tidak langsung justru menunjukan adanya keunggulan kompetitif. Logika dibalik ini karena memang Solo memiliki sejumlah aset budaya yang adiluhung. Bahkan, banyak yang menyatakan Solo memiliki urban artifact secara menyeluruh dan karenanya sangat beralasan jika pelestarian Solo tidak hanya meliputi lingkungan fisik tapi juga menyangkut sejarah, geografi, struktur dan semua aspek yang meliputi ragam kehidupan kota Solo. UU No 5/1992 tentang Benda Cagar Budaya memungkinkan Kota Solo secara keseluruhan dijadikan benda cagar budaya.
Taman Balekambang dan TSTJ memang menjadi salah satu aset wisata yang terabaikan ditengah modernitas pembangunan dan perkembangan Solo. Semua tahu bahwa pada 10 tahun terakhir orientasi pembangunan Solo lebih mengarah pada aspek modernitas yang mengedepankan fisik, misalnya pembangunan mal dan pusat-pusat perbelanjaan modern serta konsep city walk. Meski ini tidak bisa disalahkan, namun perlu dipikirkan lagi tentang berbagai kemungkinan untuk menghidupkan tradisi-tradisi lama, aset-aset lokal tujuan wisata, dan berbagai budaya adiluhung yang dimiliki Solo, termasuk juga potensi pengembangan wisata kulinernya. Bagaimanapun juga, tidak ada yang hina jika Pemkot Solo berani untuk memacu lagi kehidupan nuansa lama tersebut. Bahkan bukan tidak mungkin nostalgia atas budaya dan tradisi lama, termasuk berbagai masakan Solo tersebut bisa secara konkret memacu sinergi harmoni kehidupan bermasyarakat di Solo.
13 sementara yang lainnya semakin tidak jelas dan kondisinya kian mengenaskan. Bahkan, jika melihat kondisi Balekambang dan TSTJ tidak jauh berbeda dan kesan yang muncul adalah kumuh dan tidak terurus.
Jika kemudian pemkot Solo berjanji membangun Taman Balekambang dan TSTJ, maka ini bisa menjadi langkah penting untuk mengembalikan keelokan Taman Balekambang dan TSTJ, termasuk juga implikasinya terhadap potensi pengembangan wisata kuliner di Solo. Bahkan, rencananya pengembangan Taman Balekambang menjadi hutan kota
(Partinah Bosch) dan Taman Air (Partini Tuin) dimulai maret 2007 ini. Esensi dibalik rencana pembangunan kembali Taman Balekambang tak lain adalah implementasi dari konsep pengembangan yang telah disusun KGPAA Mangkunegoro VII. Jika semua rencana pembangunan Taman Balekambang tercapai maka salah satu rangkaian yang tidak bisa terpisahkan adalah pembangunan kembali Taman Tirtonadi.
Esensi dibalik niat mulia pembanguan kembali aset-aset lama memang memberikan sisi kemanfaatan makro, yaitu selain menghadirkan kembali kenangan dan nuansa lama atas sejarah perkotaan, juga bisa membangun kembali daya tarik wisata yang semakin pudar akibat jenuh atas perkembangan modernitas perkotaan. Selain itu, program ini juga bisa memacu rasa cinta budaya lokal, termasuk juga prospek bagi pengembangan potensi wisata kuliner.
Selain Sriwedari, kasus Benteng Vastenburg juga tidak bisa diabaikan. Menurut banyak pengamat budaya, ada semacam garis penghubung antara benteng Vastenburg, Pasar Gede, Balai Kota, yang kemudian membentuk landmark dan mengungkapkan tentang nilai aspirasi dari ekspresi budaya masyarakat Solo. Oleh karena itu sebenarnya masih banyak aset budaya lain yang perlu diperhatikan misalnya Taman Balekambang, Jurug, dll. Jadi, membangun kembali semua potensi DTW lokal banyak memberikan nilai kemanfaatan, tidak saja bagi pemkot terkait PAD, tapi juga masyarakat dan wisatawan. Jika itu semua dapat tercapai maka Solo Masa Lalu akan hadir kembali di wajah Solo Masa Depan, termasuk juga potensi pengembangan wisata kuliner di Solo tentunya.
Esensi terhadap pengembangan wisata kuliner di Solo, Pemkot Solo berencana segera membangun kawasan pusat jajanan malam yang terkonsentrasi di jalan Cokronegaran dan Mayor Sunaryo. Pengembangan pusat jajanan malam pada tahap pertama ini akan membutuhkan dana sekitar Rp.2 miliar (Kompas, 22 Pebruari 2007). Oleh karena itu, pusat jajajan malam akan menjual makanan dan masakan unggulan Solo dan menurut studi kelayakan yang telah dilakukan ternyata kawasan jalan Cokronegaran dan Mayor Sunaryo adalah tempat yang representatif untuk dikembangkan.
B. Perumusan Masalah
Urgensi pengembangan pariwisata, maka diperlukan pengkajian komprehensif terhadap berbagai faktor yang mendukung kepariwisataan (Kasimati, 2003). Solo sebagai bagian integral dari pintu gerbang pariwisata nasional pada dasarnya juga mempunyai peran sangat penting untuk mendukung pengembangan pariwisata termasuk juga bagi wisata kuliner. Untuk mendukung tujuan itu perlu ada upaya penciptaan atraksi wisata yang lebih bervariatif (Middleton, 2002). Oleh karena itu, rumusan masalah penelitian ini adalah:
60 DAFTAR PUSTAKA
Antariksa, B. dan Axioma, D. (2004), Liberalisasi dalam Kerangka WTO: Beberapa Isu Politis yang Perlu Diwaspadai, Jurnal Ilmiah Kebudayaan dan Pariwisata. Vol. VII Maret 2004. Puslitbang Budpar. Jakarta.
A. Rivai dan K. Putranto. (1999), Upaya meningkatkan penerimaan konsumen bagi makanan tradisional, Dalam Prosiding Seminar Nasional Makanan Tradisional, Yogyakarta, 16 Maret.
Bungin, Burhan (2003), Analisis Data Penelitian Kualitatif. Edisi Pertama. Cetakan Kedua. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Dharmmesta, BS (1997), Meningkatkan daya saing perusahaan dalam era persaingan global, Jurnal Kajian Bisnis, STIE Widya Wiwaha, no.10 Januari, hal.47-60. ... (1997), Pemasaran produk kerajinan: tinjauan strategik menghadapi
globalisasi pasar, Kajian Bisnis, no.11 mei-sept, hal.1-10.
Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (2006), Rencana Strategis Departemen Kebudayaan dan Pariwisata tahun 2005 – 2009, Jakarta
Dwyer, L. et al (2000), Economic impacts of inbound tourism under different assumptions regarding the macroeconomy. Current Issues in Tourism Vol 3 (4), hal. 325-363. Engel, J.F., RD Blackwell, dan PW. Miniard (1990), Cunsumer behavior, 6th ed, Dryden
Press.
Folkes, Valerie, Susan Koletsky, dan John L. Graham, (1987), A Field Study of Causal Inferences and Consumer Reaction: The View from the Airport, Journal of Consumer Research, 13, hal. 534-539.
Fornell, C. (1992), A National Customer Satisfaction Barometer : The Swedish Experience,
Journal of Marketing, 56 (January), hal. 6 - 21.
Fletcher, J.E. (1989), Input-output analysis and tourism impact studies, Annals of Tourism Research Vol 16 (4), 514-529.
Frechtling, D. dan Horvath, E. (1999), Estimating the multiplier effects of tourism expenditures on a local economy through a regional input-output. Journal of Travel Research Vol 37 (4), hal. 324-332.
Ganie, Suryatini H. (1995), Promosi makanan Indonesia lewat jalur media massa, Dalam Widyakarya Nasional Khasiat Makanan Tradisional, Prosiding, Jakarta, 9-11 Juni.
Goodwin, H dan Francis, J (2003), Ethical and responsible tourism: consumer trends in the UK , Journal of Vacation Marketing Vol 9 (3), hal.271-284
Hardy, A, Beeton, R dan Pearson, L (2003), Sustainable tourism: an overview of the concept and its position in relation to conceptualisations of tourism, Journal of Sustainable Tourism Vol 11 (5), hal. 109-124.
Huda, Ibnu Wahyul (2004), Identifikasi potensi wisata alam di hutan wisata Sumber Semen Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, http://digilib.bi.itb.ac.id
Http://www.surakarta.go.id
Http://wisatakulinersolo.wordpress.com
Ismail dkk (2006), Peningkatan Daya Saing Ekonomi Indonesia: Studi Kasus Industri Pariwisata (Persepsi Wisatawan), http://www.ekonomi.lipi.go.id
Junardy, Y.W (2007), Diferensiasi Pemasaran Wisata, Bisnis Indonesia, 18 maret 2007. Kasimati, E (2003), Economic aspects and the summer Olympics: a review of related
research , International Journal of Tourism Research Vol 5 (6), hal. 433-444 Keegan, WJ dan MC.Green (1997), Principle of global marketing, Prentice-Hall, Inc, USA. Kompas (2007), Wisata Kuliner: Pengembangan Pusat Jajanan Butuh Rp. 2 miliar,
Jakarta, 22 pebruari.
Koentjaraningrat (1995), Antropologi dan sejarah pangan, Dalam Widyakarya Nasional Khasiat Makanan Tradisional, Prosiding, Jakarta, 9-11 Juni.
LIPI (2007), Teknologi peningkatan nilai bahan pangan pokok, Info Ristek Vol. 5 No. 3/2007, hal. 1-11.
Lowwenberg, L. Et al. (1970), Food Policy in Local Setting. Development and change. 9(3): 439-57.
Lundberg, DE., Krishnamoorty, M., dan S. Mink H (1995), Tourism Economics, John Willey and Sons, Inc, 10, New York.
McKercher, Bob dan Hilary du Cros, (2002), Cultural Tourism: The Partnership Between Tourism and Cultural heritage Management, The Haworth Hospitality Press, New York.
Middleton, V.T.C. (2002), Measuring the local impact of tourism: the big issue for the next five years. Insights, Vol 14, hal. A1-6.
Nirwandar, Sapta (2006), Pembangunan Sektor Pariwisata di era otonomi daerah, Makalah disampaikan pada acara Diskusi Pengembangn Pariwisata Bahari di Pulau-Pulau Kecil, Bogor, 23 Februari 2006.
Nugroho, H (1997), Industrialisasi sektor pariwisata: pintu masuk pembangunan atau pelembagaan keterbelakangan?, Kelola, no.16, vol.VI, hal.,28-38.
Nurdiana, Fereshti (2007), Manajemen Transportasi Perkotaan, Kompas, 21 Pebruari. Patton, M.Q (1980), Qualitative evaluation methods, Beverly Hills, CA.: Sage Publications Rahardjo, Supratikno (2004), Menelusuri pariwisata budaya di Indonesi, Jakarta.
Parikesit, D dan W.Trisnadi (1997), Kebijakan kepariwisataan Indonesia dalam pembangunan jangka panjang, Kelola, no.16, vol.VI, hal.1-14.
Rosyidle, Arief (1998), Pengembangan city tour untuk menunjang pariwisata kota: Kasus Kota Bandung, Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota, vol 9,no. 1.
Saputro, Edy Purwo (2007), Spirit of Java vs Problem Perkotaan, Solo Pos, 16 Januari. Sinclair, M. (1991), The economics of tourism. Progress in Tourism, Recreation and
Hospitality Management Vol 3, 1-27.
Sinombor, Sonya Hellen (2007), Gudeg Ceker Dini Hari Bu Kasno, Kompas, 18 maret. Sugiarti, Rara., Diyah Ernawati, dan Alastair Birtles (2002), The potential for developing
ecologically sustainable rural tourism in Surakarta, Indonesia: A case study,
ASEAN Journal on Hospitally and Tourism, Vol. 2, hal. 78-90.
Sugiharto, Akhmad (2006), Kajian peran pariwisata dalam mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat lokal di Kabupaten Demak: Studi kasus Masjid Agung Demak dan Makam Sunan Kalijaga, http://digilib.itb.ac.id
62 Surya, Helmi (2006), Kajian ketersediaan komponen pariwisata yang menunjang fungsi
Kota Bukittinggi sebagai Kota Pariwisata, http://pl.lib.itb.ac.id
Susilowati, Dewi., Tuty Handayani, Triako Nurlambang dan Dewi Susiloningtyas (2005),
Perilaku penduduk Kota Depok dalam memilih lokasi wisata, Seminar Nasional MIPA, FMIPA UI Depok, 24-26 Nopember.
Sutomo, Heru, dkk., (1999), Permintaan Untuk Perjalanan Rekreasi bagi Wisatawan Nusantara : Studi Kasus Yogyakarta. Pusat Penelitian dan Pengembangan Pariwisata Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Sutopo, H (1993), Taman Budaya Surakarta (TBS) dan aktifitas seni di Surakarta, Laporan Penelitian, Fak.Sastra UNS, Surakarta.
Suwarto, Yuni (1996), Konsepsi pengembangan ekonomi rakyat dan langkah strategis dalam pemberdayaan rakyat, Buletin Bergetar, no.128, Oktober, YIS: Surakarta Tate, P (2003), Alternative destinations for the future , Travel & Tourism Analyst Vol 2,
hal.1-30
Triyatna, Stefanus Osa (2008), Jalan berliku dongkrak sektor pariwisata, Kompas, 19 april, Jakarta.
United Nation-World Tourism Organization (2005), Tourism Highlight 2005, UN-WTO, Madrid.
Widowati, Sri., Hj. Suarni dan S. Dewi Idrasari (2002), Kumpulan resep masakan aneka tepung bahan pangan lokal non beras, Balai Penelitian Pasca-Panen Pertanian, Badan Penelitiaan dan Pengembangan Pertanian, Jakarta.
Wilson, K. (1998), Market and industry confusion in tourism economic analyses. Annals of Tourism Research Vol 25 (4), hal. 803-817.
Wiyasa, I Gde (1997), Hotel ramah lingkungan, alternatif hotel masa depan, Kelola, no.16, vol. VI, hal. 39-49.
LAPORAN PENELITIAN
POTENSI PENGEMBANGAN WISATA KULINER: STUDI KASUS DI SOLO
Oleh:
Edy Purwo Saputro, SE, MSi Fatchan Achyani, SE, MSi
DIBIAYAI PROYEK PENGKAJIAN DAN PENELITIAN ILMU PENGETAHUAN TERAPAN DENGAN SURAT PERJANJIAN PELAKSANAAN PENELITIAN NOMOR: 188/SP2H/PP/DP2M/III/2008
DIREKTORAT PEMBINAAN PENELITIAN DAN PENGABDIAN PADA MASYARAKAT DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN TINGGI
DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
FAKULTAS EKONOMI
Ringkasan
Tujuan pembangunan suatu daerah pada dasarnya untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan rakyat melalui pembangunan yang serasi antar sektor. Sektor pariwisata diyakini merupakan salah satu sektor yang mampu berperan untuk mewujudkan tujuan tersebut. Pariwisata telah menjadi industri yang berkembang pesat selama dasa warsa terakhir, terutama pariwisata internasional. Pariwisata memberikan hasil seperti perluasan lapangan kerja, peningkatan pendapatan, peningkatan sarana dan prasarana daerah wisata.
Solo merupakan salah satu daerah tujuan wisata (DTW) Jawa Tengah yang cukup potensial. Kedudukannya ini telah menciptakan daya tarik bagi pengunjung, baik wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara. Diharapkan, melalui pengembangan objek-objek wisata yang ada dapat lebih mendorong peningkatan jumlah pengunjung di tahun-tahun mendatang.
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran pariwisata dalam mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat lokal di Solo serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Adapun sasaran penelitian ini adalah teridentifikasinya peran sektor pariwisata dalam mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat lokal, identifikasinya faktor-faktor yang mempengaruhi peran pariwisata dalam mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat dan terumuskannya arahan pengembangan pariwisata untuk mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.
4 Summary
The aim of development of an area is basically to increase the level and welfare of the people through a harmonious development among sectors. The tourism sector is believed to be one of the sectors which is capable to play a role to actualize the a.i, mentioned. Tourism have become an industry that growing fast during last decade, especially international tourism. Tourism could expand the field of employment, get up people earning and develop structure and infrastructure facilities of it’s surrounded area.
Solo regency is one of the potential tourism destination in Central Java. Its location has attracted visitors both foreign and domestic. It is expected that by developing the existing tourism objects could more encouraging the increasing number of visitors in the future.
The research is aimed at studying the role of tourism in boosting the economic growth of the local people in Solo Regency as well as the factors influencing it. While the target of research is the identifying of the role of tourism sector in boosting the economic growth of the local people, the identifying of factors influencing the role of tourism in boosting the economic growth of the local people and the formulating of guidance of tourism development in order to boost the economic growth of the local people.
Abstraksi
Solo merupakan salah satu daerah tujuan wisata (DTW) Jawa Tengah yang cukup potensial. Kedudukannya ini telah menciptakan daya tarik bagi pengunjung, baik wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara. Diharapkan, melalui pengembangan objek-objek wisata yang ada dapat lebih mendorong peningkatan jumlah pengunjung di tahun-tahun mendatang. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran pariwisata dalam mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat lokal di Solo serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Adapun sasaran penelitian ini adalah teridentifikasinya peran sektor pariwisata dalam mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat lokal, identifikasinya faktor-faktor yang mempengaruhi peran pariwisata dalam mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat dan terumuskannya arahan pengembangan pariwisata untuk mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat. Metodologi yang digunakan dari penelitian ini adalah metode deskriptif dengan melakukan pengumpulan data primer dan sekunder yang meliputi wisatawan, pemilik usaha pelayanan, masyarakat di sekitar lokasi dan instansi pemerintah terkait, sedangkan metode analisa yang dipakai yaitu metode analisis tabulasi data dan analisis kualitatif. Hasil pengkajian terhadap peran pariwisata menunjukkan bahwa bahwa pariwisata mempunyai peranan mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat lokal di Solo ditinjau dari kepemilikan usaha pariwisata dan penyerapan tenaga kerja.
Kata kunci: daerah tujuan wisata, pariwisata, bisnis
Abstract
Solo regency is one of the potential tourism destination in Central Java. Its location has attracted visitors both foreign and domestic. It is expected that by developing the existing tourism objects could more encouraging the increasing number of visitors in the future. The research is aimed at studying the role of tourism in boosting the economic growth of the local people in Solo Regency as well as the factors influencing it. While the target of research is the identifying of the role of tourism sector in boosting the economic growth of the local people, the identifying of factors influencing the role of tourism in boosting the economic growth of the local people and the formulating of guidance of tourism development in order to boost the economic growth of the local people. The methodology used in this research was a descriptive method by collecting primary and secondary data consisting of tourists, owner service business, people a round the location and related government institution analysis method and qualitative analysis. The result of the study towards the role of tourism showed that tourism has a role in boosting the economic growth of the local people in Solo regency from the aspect of ownership of tourism business and the absorption of workforce.
6 PRAKATA
Assalamu'alaikum wr.wb.
Alhamdulillah. Akhirnya penelitian ini telah selesai sesuai dengan jadwal yang ditetapkan. Terlepas dari kekurangan dan kelemahan yang ada dari penelitian ini, yang jelas program penelitian tentang pariwisata dan wisata kuliner sangatlah penting, yaitu tidak saja terkait kesejahteraan masyarakat di era otda dalam jangka panjang, tetapi juga dalam konteks memacu kebangkitan sektor riil serta penyerapan tenaga kerja.
Konsekuensi dari hasil penelitian ini tentu menjadi suatu pemicu bagi para peneliti lainnya untuk lebih mengembangkan berbagai celah penelitian yang nantinya akan memberikan kontribusi optimal bagi proses perekonomian dan atau kesejahteraan masyarakat. Dengan kata lain kelemahan dari penelitian ini menjadi stimulus untuk pengembangan penelitian lainnya.
Akhirnya, kami menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penelitian ini dan semoga hasil penelitian ini ada nilai manfaatnya bagi semua pihak.
Wassalamu'alaikum wr.wb.
Surakarta, September 2008
DAFTAR ISI
Halaman Judul ……….... i
Halaman Pengesahan ……… ii
Abstraksi ……….... iii
Prakata ……… iv
Daftar Isi ……… v
Daftar Tabel ……… vi
Daftar Gambar ……… vii
Bab I Pendahuluan ……… 1
A. Latar Belakang ……… 1
B. Perumusan Masalah ……… 5
Bab II Tinjauan Pustaka ……… 6
A. Potret Kepariwisataan Solo ……… 6
B. Perkembangan Kepariwisataan ……… 8
C. Perilaku Wisatawan ……… 16
D. Penelitian Sebelumnya ……… 19
Bab III Tujuan dan Manfaat Penelitian ……… 25
A. Tujuan Penelitian ……… 25
B. Manfaat Penelitian ……… 25
Bab IV Metode Penelitian ……… 26
A. Bidang Penelitian ……… 26
B. Lingkup Penelitian ……… 26
C. Bentuk Penelitian ……… 27
D. Obyek Penelitian ……… 27
E. Sumber Data ……… 27
F. Teknik Analisis ……… 28
Bab V Hasil dan Pembahasan ……… 31
A. Potret Kota Solo ……… 31
B. Kepariwisataan Solo ……… 34
C. Karakteristik dan Potret Wisata Solo ……… 39
Bab VI Kesimpulan dan Saran ……… 50
A. Kesimpulan ……… 50
B. Saran ……… 50
C. Keterbatasan ……… 51
8 DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Perkembangan pariwisata di Asia Tenggara ……… 10
Tabel 2.2 Jumlah wisatawan dan perolehan devisa ……… 10
Tabel 2.3 Jumlah wisatawan dan pengeluarannya ……… 10
Tabel 2.4 Kekuatan dan kelemahan ……… 11
Tabel 2.5 Kekuatan dan kelemahan wisata Indonesia ……… 11
Tabel 2.6 Perilaku wisatawan di Indonesia ……… 17
Tabel 5.1 PDRB Solo ……… 33
Tabel 5.2 Inflasi, pertumbuhan dan investasi di Solo ……… 34
Tabel 5.3 Identifikasi responden penelitian ……… 40
Tabel 5.4 Identifikasi responden ……… 40
Tabel 5.5 Identifikasi responden penelitian ……… 41
Tabel 5.6 Persepsi responden atas wisata kuliner Solo ……… 41
Tabel 5.7 Identifikasi potensi wisata kuliner ……… 42
Tabel 5.8 Kekuatan, kelemahan dan peluang ……… 42
Tabel 5.9 Matrik SWOT dari wisata kuliner Solo ……… 45
Tabel 5.10 Strategi SWOT ……… 45
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Pola pikir budparnas ……….... 12
Gambar 2.2 Sinergi pariwisata dan otda ……… 18
Gambar 2.3 Model keputusan wisata ……… 19
Gambar 4.1 Model analisis interaktif ……… 30
Gambar 5.1 Luas daerah dan batas Solo ……… 31
Gambar 5.2 Interaksi persepsi dan loyalitas ……… 43
Gambar 5.3 Proses interaksi pariwisata ……… 43
1 RINGKASAN LAPORAN PENELITIAN
POTENSI PENGEMBANGAN WISATA KULINER: STUDI KASUS DI SOLO
Oleh:
Edy Purwo Saputro, SE, MSi Fatchan Achyani, SE, MSi
DIBIAYAI PROYEK PENGKAJIAN DAN PENELITIAN ILMU PENGETAHUAN TERAPAN DENGAN SURAT PERJANJIAN PELAKSANAAN PENELITIAN NOMOR: 188/SP2H/PP/DP2M/III/2008
DIREKTORAT PEMBINAAN PENELITIAN DAN PENGABDIAN PADA MASYARAKAT DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN TINGGI
DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
FAKULTAS EKONOMI
POTENSI PENGEMBANGAN WISATA KULINER: STUDI KASUS DI SOLO Oleh:
Edy Purwo Saputro dan Fatchan Achyani
Abstract
Solo regency is one of the potential tourism destination in Central Java. Its location has attracted visitors both foreign and domestic. It is expected that by developing the existing tourism objects could more encouraging the increasing number of visitors in the future. The research is aimed at studying the role of tourism in boosting the economic growth of the local people in Solo Regency as well as the factors influencing it. While the target of research is the identifying of the role of tourism sector in boosting the economic growth of the local people, the identifying of factors influencing the role of tourism in boosting the economic growth of the local people and the formulating of guidance of tourism development in order to boost the economic growth of the local people. The methodology used in this research was a descriptive method by collecting primary and secondary data consisting of tourists, owner service business, people a round the location and related government institution analysis method and qualitative analysis. The result of the study towards the role of tourism showed that tourism has a role in boosting the economic growth of the local people in Solo regency from the aspect of ownership of tourism business and the absorption of workforce.
Keyword: destination, tourism, business
A. Latar Belakang
Solo atau Surakarta dikenal sebagai salah satu daerah tujuan wisata (DTW) di Indonesia yang kaya akan berbagai atraksi wisata yaitu mulai dari wisata budaya, wisata alam dan wisata kuliner. Meski demikian kontribusi kepariwisataan terhadap PDRB Solo tidaklah terlalu besar dibanding dengan sektor yang lain. Fakta ini tentu menjadi pertimbangan tersendiri bagi Pemkot Solo untuk bisa lebih memacu sektor kepariwisataan. Salah satu upaya untuk memacu - membangun kepariwisataan Solo misalnya dengan menetapkan pencitraan dirinya dengan slogan: ‘Solo The Spirit of Java’.
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah penelitian ini adalah : (1) Bagaimana identifikasi karakteristik dan potret wisata kuliner di Solo? Dan (2) Bagaimana potensi pengembangan wisata kuliner di Solo?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
3 Manfaat penelitian ini adalah (1) Memberikan gambaran lebih jelas dan komprehensif tentang identifikasi karakteristik dan potret wisata kuliner di Solo dan (2) Memberikan gambaran lebih jelas dan komprehensif tentang potensi pengembangan wisata kuliner di Solo.
D. Metode Penelitian
Fokus kajian penelitian ini adalah menganalisa potensi pengembangan wisata kuliner di Solo. Penelitian ini adalah studi evaluasi dan eksplanatori dengan menekankan pada pendekatan kualitatif dengan fokus pada analisis induktif yang terkait kajian pustaka dan studi lapangan melalui proses eksplanatori. Kajian penelitian ini lebih terfokus pada bagaimana strategi kebijakan pembangunan dan pengembangan potensi wisata kuliner mampu mendukung suksesnya program kepariwisataan di Solo.
Pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner tertutup. Secara spesifik, kuesioner pada penelitian ini mencakup tentang informasi umum yang terkait karakteristik pengelolaan manajemen kepariwisataan di Solo dan potensi untuk mengembangkan wisata kuliner di Solo dan untuk memperoleh gambaran yang jelas tentang latarbelakang pengembangan kepariwisataan dilakukan interview dengan pihak yang berkompeten dengan proses pengembangan kepariwisataan, terutama yaitu wisata kuliner di Solo.
Penekanan analisis penelitian ini memakai pendekatan kualitatif. Untuk mendukung hasil yang optimal melalui pendekatan kualitatif, prosedural analisis data penelitian ini mengacu pada beberapa tahap. Secara spesifik, fokus penelitian ini yaitu penentuan strategi pemasaran yang terkait strategi (orientasi segmentation, positioning, targeting), taktik (orientasi differentiation, selling, marketing mix), dan juga value (orientasi brand, process, dan service) yang harus diaplikasikan untuk bisa lebih meningkatkan dan juga mengembangkan wisata kuliner di Solo.
E. Hasil dan Pembahasan
Jumlah responden dalam penelitian ini yaitu 200. Mayoritas responden berjenis kelamin laki-laki yaitu 121 orang (60,5%), umur lebih dari 30 tahun yaitu mencapai 109 orang (54,5%), status profesi adalah swasta mencapai 94 orang (47%) dan masa kerja lebih dari 10 tahun dari setiap profesi yaitu mencapai 132 orang atau 66%. Secara umum responden berkeyakinan bahwa identifikasi karakteristik dan juga potensi wisata kuliner di Solo terfokus pada makanan rakyat - tradisional dan makanan modern. Alasan yang mengemuka karena kedua makanan ini memiliki karakteristik - citra yang berbeda dan khas. Selain itu makanan rakyat - tradisional juga sangat terkait dengan karakteristik budaya. Mayoritas responden menyebutkan makanan tradisional adalah potensi wisata kuliner yaitu 129 responden (64,5%) dan yang menganggap makanan modern sebagai potensi wisata kuliner hanya 71 respoden (35,5%).
pengembangan pariwisata, termasuk wisata kuliner harus mengakomodasi semua nilai lebih dari menu tradisional yang dimiliki Solo. Konsekuensi atas penentuan andalan menu tradisional sebagai aset wisata kuliner Solo, maka kajian tentang rantai nilai terhadap tindaklanjutnya menjadi penting. Oleh karena itu, kajian tentang rantai nilai sebagai konsekuensi pengembangan wisata kuliner Solo menjadi bagian yang tidak bisa terpisahkan dengan potensi pariwisata di Solo pada umumnya.
F. Kesimpulan, Saran dan Keterbatasan
Kesimpulan: (1) Pengembangan wisata kuliner pada dasarnya merupakan salah satu aset wisata yang terkait dengan pemberdayaan masyarakat karena wisata kuliner melibatkan semua lapisan masyarakat dan (2) Aset utama dari potensi wisata kuliner di Solo adalah makanan tradisional yang dari sisi jumlah memang sangat beragam. Selain itu aspek ketersediaan bahan baku yang terjangkau dan harga yang relatif murah menjadi faktor pendukung terhadap aspek kekuatan dari potensi wisata kuliner di Solo dan (3) Kecenderungan berbagai menu tradisional sebagai wisata kuliner Solo sudah tidak banyak yang menjajakannya. Oleh karena itu, semua pihak perlu berkelanjutan dan komprehensif memunculkan kembali menu-menu tradisional dalam berbagai event pariwisata, termasuk juga misalnya parade menu tradisional khas Solo.
Saran: (1) Pemkot Solo perlu melakukan koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk juga dari departemen dan dinas terkait untuk mempromosikan berbagai menu khas tradisional dari Solo sehingga hal ini bisa menjadi aset wisata kuliner, (2) Perlu ada pemberdayaan kepada masyarakat, terutama pelaku usaha yang bergerak di wisata kuliner terutama dalam kaitan pelestarian berbagai menu khas tradisional agar tidak punah, dan (3) Aspek pengemasan potensi wisata kuliner di Solo perlu adanya upaya peningkatkan baik dari aspek kuantitas ataupun kualitas sehingga mampu memberikan kesan lebih baik terutama dibandingkan dengan menu-menu modern yang kian beragam.