Pengaruh Frekuensi Inseminasi Buatan Terhadap Daya Tetas Telur Itik Lokal (Anas plathyrynchos) Yang Di Inseminasi Buatan Dengan Semen Entok (Cairina moschata)

49 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

PENGARUH FREKUENSI INSEMINASI BUATAN TERHADAP DAYA TETAS TELUR ITIK LOKAL (Anas plathyrynchos) YANG DI

INSEMINASI BUATAN DENGAN SEMEN ENTOK (Cairina moschata)

SKRIPSI

O L E H

MEIRIA OKTORA SINABUTAR 040306003

IPT

DEPARTEMEN PETERNAKAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(2)

PENGARUH FREKUENSI INSEMINASI BUATAN TERHADAP DAYA TETAS TELUR ITIK LOKAL (Anas plathyrynchos) YANG DI

INSEMINASI BUATAN DENGAN SEMEN ENTOK (Cairina moschata)

SKRIPSI

O L E H

MEIRIA OKTORA SINABUTAR 040306003

IPT

Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Dapat Menyelesaikan Pendidikan Dan Memperoleh Gelar Sarjana Di Departemen Peternakan Fakultas

Pertanian Universitas Sumatera Utara Medan

DEPARTEMEN PETERNAKAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(3)

Judul : Pengaruh Frekuensi Inseminasi Buatan Terhadap Daya

Tetas Telur Itik Lokal (Anas plathyrynchos) yang di Inseminasi Buatan dengan Semen Entok (Cairina moschata)

Nama : Meiria Oktora Sinabutar NIM : 040306003

Program Study : Ilmu Produksi Ternak Departemen : Peternakan

Fakultas : Pertanian

Disetujui Oleh Komisi Pembimbing

(Ir. Sayed Umar, MS) (Ir. Yunilas, MP) Ketua Anggota

Mengetahui,

(Prof.Dr. Ir. Zulfikar Siregar, MP) Ketua Departemen

(4)

ABSTRACT

Meiria Oktora Sinabutar, 2009. “The Influence of Frequency of

Artificial Insemination on Hatchability of Common Ducks (Anas

plathyrynchos) which an Artificial Insemination with Sperm of Muscovy

Drake (Cairina moschata)”. Under adviced of Ir. Sayed Umar, MS as supervisor

and Ir. Yunilas, MP as co-supervisor.

This research was conducted in the Biology Laboratory of Animal Science Department of Agriculture North Sumatera University Jln. Prof. Dr. A. Sofyan No.3 Medan started from August 2008 until January 2009.

The objectives of this research were to try the influence of AI frequency on fertility, hatchability, fertile mortality and DOMD weight.

This research was conducted by completely randomize design (CRD) which was consists of 3 treatments and 6 replications each replications used 2 ducks so the totals was 36 ducks. The treatments were P0 = AI one times a week; P1 = AI two times a week; and P2 = AI three times a week; when the parameter was observed is fertility, hatchability, fertile mortality and DOMD weight.

(5)

ABSTRAK

Meiria Oktora Sinabutar, 2009. “Pengaruh Frekuensi Inseminasi

Buatan Terhadap Daya Tetas Telur Itik Lokal (Anas plathyrynchos) Yang Di Inseminasi Buatan Dengan Semen Entok (Cairina moschata)”. Dibawah

bimbingan Ir. Sayed Umar, MS selaku ketua komisi pembimbing dan Ir. Yunilas, MP selaku anggota komisi pembimbing.

Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Biologi Ternak Departemen Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara Jln. Prof. Dr. A. Sofyan No.3 Medan mulai bulan Agustus 2008 sampai Januari 2009.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh dari frekuensi IB terhadap fertilitas, daya tetas, mortalitas fertil dan berat Day Old Mule Duck (DOMD).

Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 6 ulangan, setiap ulangan terdiri dari 2 ekor itik sehingga jumlah keseluruhan 36 ekor. Perlakuan tersebut yakni: P0 = IB 1 x seminggu, P1 = IB 2 x seminggu dan P2 = IB 3 x seminggu; dengan parameter yang diamati adalah fertilitas, daya tetas, mortalitas fertil dan berat DOMD.

(6)

RIWAYAT HIDUP

Meiria Oktora Sinabutar, dilahirkan di Medan pada tanggal 16 Mei

1987. Penulis merupakan putri dari Bapak Drs. N. Sinabutar dan Ibu T. Hutabarat,

anak pertama dari tiga bersaudara.

Pendidikan formal yang telah dilalui:

1. Tahun 1991 masuk Taman Kanak-kanak Mongonsidi Medan, lulus tahun

1992.

2. Tahun 1992 masuk Sekolah Dasar Mongonsidi Medan, pada tahun 1993

karena orang tua pindah kerja penulis melanjutkan pendidikan di Sekolah

Dasar Bhinneka Tunggal Ika Medan, lulus tahun 1998.

3. Tahun 1998 masuk Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Parulian 1 Medan,

lulus tahun 2001.

4. Tahun 2001 masuk Sekolah Menengah Umum Negeri 1 Tanjung Morawa,

lulus tahun 2004.

5. Tahun 2004 terdaftar sebagai mahasiswa Departemen Peternakan Fakultas

Pertanian Universitas Sumatera Utara Medan melalui jalur SPMB.

Selama menjalani perkuliahan, kegiatan yang pernah diikuti:

1. Tahun 2005 mengikuti MUSWIL ISMAPETI di Medan.

2. Tahun 2007 mengikuti praktek kerja lapangan di BPTU Babi dan Kerbau

Sinur di Desa Siaro Kecamatan Siborong-borong Kabupaten Tapanuli Utara.

3. Tahun 2008 melaksanakan penelitian selama 5 bulan di Laboratorium Biologi

Ternak Departemen Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera

(7)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas

berkat dan karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Adapun

judul skripsi ini “Pengaruh Frekuensi Inseminasi Buatan Terhadap Daya

Tetas Telur Itik Lokal (Anas plathyrynchos) Yang Di Inseminasi Buatan

Dengan Semen Entok (Cairina moschata)” yang merupakan salah satu syarat

untuk dapat menyelesaikan pendidikan dan memperoleh gelar sarjana di

Departemen Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Terima kasih penulis sampaikan kepada Ir. Sayed Umar, M.S selaku ketua

komisi pembimbing dan Ir. Yunilas, M.P selaku anggota komisi pembimbing

yang telah membimbing dan memberikan saran pada penulis dalam penulisan

skripsi ini.

Penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun terhadap skripsi

ini.

Medan, Maret 2009

(8)

DAFTAR ISI

ABSTRACT……… i

ABSTRAK………..… ii

RIWAYAT HIDUP……….….. iii

KATA PENGANTAR……… iv

Tujuan Penelitian……….….… 2

Hipotesa Penelitian………... 2

Kegunaan Penelitian………... 2

TINJAUAN PUSTAKA Itik Lokal Dan Entok………….………... 3

Inseminasi Buatan (IB)……...……….…. 3

Semen………..………. 5

Bahan Pengencer Dan Pengenceran Semen………. 5

Penyimpanan Semen………..…….. 8

Seleksi Telur Tetas………...… 8

Penetasan Dengan Mesin Tetas……….... 9

Fertilitas……….... 10

Daya Tetas……….... 10

Mortalitas Fertil……… 11

Berat Day Old Mule Duck…...………. 12

BAHAN DAN METODE PENELITIAN Tempat Dan Waktu Penelitian……….. 13

Bahan Dan Alat Penelitian………... 13

Bahan……….………... 13

Alat………... 13

Metode Penelitian………..………... 14

Parameter Penelitian………...……….. 15

(9)

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil

Fertilitas………... 17

Daya Tetas……… 17

Mortalitas Fertil…...………. 18

Berat DOMD………. 19

Pembahasan Fertilitas………... 20

Daya Tetas……… 21

Mortalitas Fertil…...………. 22

Berat DOMD……… 24

Rekapitulasi Hasil Penelitian……… 25

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan……… 26

Saran………. 26

DAFTAR PUSTAKA

(10)

DAFTAR TABEL

Hal

1. Taksonomi itik dan entok……… 3

2. Komposisi susu kambing………. 7

3. Komposisi kuning telur ayam ras…….………. 8

4. Pedoman memperoleh fertilitas tinggi dari berbagai jenis unggas…... 11

5. Pengaruh lama penyimpanan terhadap daya tetas telur itik……… 12

6. Rataan fertilitas telur itik hasil IB……….. 18

7. Rataan daya tetas telur itik hasil IB………. 18

8. Rataan mortalitas fertil telur itik hasil IB…...………. 19

9. Rataan berat DOMD hasil IB……….. 19

10.Analisis keragaman fertilitas telur itik selama penelitian………... 20

11.Analisis keragaman daya tetas telur itik selama penelitian………. 21

12.Analisis keragaman mortalitas fertil telur itik selama penelitian…….... 23

13.Analisis keragaman berat DOMD itik lokal selama penelitian………. 24

(11)

DAFTAR LAMPIRAN

Hal

1. Prosedur pembuatan pengencer………. 29

2. Prosedur penampungan semen……….. 30

3. Prosedur pengenceran semen………. 31

4. Prosedur inseminasi buatan……… 32

5. Data telur fertil (butir)………... 33

6. Rataan fertilitas telur itik (%) yang di IB dengan semen entok + susu kambing + kuning telur + NaCl fisiologis……….. 33

7. Data telur yang menetas (butir)……….. 33

8. Rataan daya tetas telur itik (%) yang di IB dengan semen entok + susu kambing + kuning telur + NaCl fisiologis……….. 33

9. Data telur yang gagal menetas (butir)……… 34

10.Rataan mortalitas fertil telur itik (%) yang di IB dengan semen entok + susu kambing + kuning telur + NaCl fisiologis……… 34

(12)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Itik merupakan ternak yang termasuk spesies unggas air. Di Indonesia,

ternak itik adalah ternak unggas penghasil telur yang potensial selain ayam.

Dalam memenuhi kebutuhan protein hewani, disamping peran unggas darat

terutama ayam, unggas air juga memberi sumbangan yang cukup besar terutama

sebagai penghasil telur.

Entok atau itik muskovi tergolong sebagai unggas air meskipun lebih

bersifat terestrial (lebih banyak hidup di darat). Entok cocok dijadikan ternak

pedaging karena bertubuh besar. Pergerakannya di darat lambat, namun sesekali

dapat terbang cukup jauh karena memiliki sayap yang besar dan kuat.

Perkawinan antara itik dengan entok bukan sesuatu yang aneh, sebab di

alam, perkawinan antara itik dengan entok sering terjadi. Jumlah kromosom yang

sama memungkinkan terjadi pembuahan pada perkawinan tersebut. Perkawinan

ini mustahil terjadi, karena ukuran dan bobot entok jantan lebih besar dan berat

dari itik betina sehingga perkawinan dilakukan dengan Inseminasi Buatan (IB).

IB sudah pernah dilakukan dengan menggunakan itik alabio sebagai betina

dan entok sebagai pejantan. Hasil persilangannya adalah mule duck atau tiktok

yang menjadi ternak alternatif pengganti ayam. Pada IB yang pernah dilakukan,

itik langsung di IB dengan semen entok yang telah ditampung. Ada juga yang

mengencerkan semen terlebih dahulu dengan NaCl fisiologis.

Selain NaCl fisiologis ada bahan pengencer lain yang bisa digunakan yaitu

(13)

mencampurkan kedua bahan tersebut. Menurut Toelihere (1993) pengencer yang

baik hendaknya murah, praktis dan mempunyai daya preservasi yang tinggi.

Inti dari proses IB adalah mengumpulkan sperma dari entok jantan dan

menginseminasi sperma tersebut ke itik betina. IB baiknya dilakukan pada pagi

hari agar tidak mengganggu proses bertelur itik tersebut. Telur yang dihasilkan

pada hari ketiga yang bisa ditetaskan, lalu pada hari keempat dilakukan IB

kembali (2 kali seminggu) sebab salah satu faktor dari keberhasilan IB adalah

frekuensi IB selama masa produksi.

Berdasarkan uraian di atas penulis tertarik untuk melakukan IB dengan

beberapa frekuensi untuk mengetahui hasil IB pada itik lokal.

Tujuan Penelitian

Untuk menguji pengaruh dari frekuensi IB terhadap fertilitas, daya tetas,

mortalitas fertil dan berat Day Old Mule Duck itik lokal (Anas plathyrynchos).

Hipotesa Penelitian

Frekuensi IB berpengaruh terhadap fertilitas, daya tetas, mortalitas fertil

dan berat Day Old Mule Duck (DOMD).

Kegunaan Penelitian

a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dimanfaatkan para peternak dalam upaya

pengembangan IB antara 2 jenis unggas air yang berbeda.

b. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi peneliti, kalangan

(14)

TINJAUAN PUSTAKA

Itik Lokal Dan Entok

Itik asli Indonesia termasuk jenis indian runner (Anas plathyrynchos).

Secara morfologis, Indonesia memiliki sedikitnya 15 jenis itik berdasarkan tempat

berkembangnya (Simanjuntak, 2002). Karakteristik indian runner adalah postur

hampir tegak membentuk sudut 700 dari permukaan tanah, mampu menempuh

jarak jauh, warna paruh dan kaki hitam (Srigandono, 1997).

Entok berasal dari Amerika Selatan dan masuk ke Indonesia dari Filipina.

Taksonomi entok berbeda dari itik. Meskipun tergolong unggas air, entok lebih

banyak hidup di darat. Entok hanya mendesis dan pejantan tidak memiliki “bulu

seks” yakni bulu khas itik jantan yang mencuat dan melengkung ke atas.

Karakteristiknya berupa karankula pada pangkal paruh atas (Srigandono, 1998).

Itik dan entok masih berada dalam famili yang sama berdasarkan

taksonominya (tabel 1).

Tabel 1. Taksonomi itik dan entok.

Taksonomi Itik Entok Sumber : Grzimek (1972) disitasi Srigandono (1997).

Inseminasi Buatan (IB)

Umumnya IB dilakukan pada ternak besar. Namun, kini telah diterapkan

(15)

Sedangkan kekurangannya, sperma yang dihasilkan dapat disimpan maksimal 30

menit setelah ejakulasi (Jayasamudera dan Cahyono, 2005).

Itik betina di IB dengan semen entok akan menghasilkan tiktok. Karena

berasal dari 2 jenis unggas air yang berbeda, tingkat fertilitas dan daya tetas

telurnya lebih rendah. Telur hasil persilangan ini ditetaskan selama 32 hari dan

ternyata menghasilkan individu baru yang unggul terutama pertumbuhan

tubuhnya, tetapi hasil silangannya selalu mandul (Simanjuntak, 2002).

Periode fertil sperma adalah lamanya sperma dalam saluran reproduksi

betina untuk fertilisasi. Hal ini penting diketahui karena berkaitan dengan

penentuan interval pengulangan IB. Keberhasilan IB menyangkut daya fertil

sperma dipengaruhi oleh: pengencer dan dosis IB; ketrampilan inseminator;

frekuensi IB; penanganan sperma sejak diejakulasi, pengenceran, penyimpanan

dan IB dilakukan; daya fertil sperma selama dalam saluran reproduksi betina

(Sastrodihardjo dan Resnawati, 2003).

Menurut (Sastrodihardjo dan Resnawati, 2003) faktor-faktor yang

mempengaruhi keberhasilan IB antara lain: (1) daya tahan hidup spermatozoa

motil progresif selama penyimpanan. Ada 2 tempat pada saluran reproduksi betina

yang dapat memperpanjang daya tahan hidup sperma yaitu uterus-vagina junction

(UVJ=daerah pertemuan uterus dan vagina) dan chalaziferous region (CR=daerah

kalaziferus). Sarang sperma dapat meningkatkan fertilisasi karena daya fertil

spermatozoa mencapai 6-10 hari menghasilkan telur tetas hasil IB (2) metode IB

dengan deposisi semen dapat mempertahankan daya tahan hidup dalam kondisi

invivo. Metode intravagina, sekitar 1-2% sperma tersimpan di UVJ dari total dosis

(16)

Metode intrauterine, sebagian sperma tersimpan di UVJ dan sisanya tertahan di

uterin dan isthmus, peluang menuju CR di infundibulum lebih besar (3) waktu IB

dan oviposisi berkaitan dengan perkiraan waktu untuk fertilisasi di infundibulum,

jumlah kematian sperma yang menuju infundibulum berlawanan arah dengan

perjalanan telur ke arah kloaka untuk oviposisi (4) interval dan frekuensi IB

selama masa produksi. Hal ini berkaitan dengan penambahan jumlah sperma

dalam saluran oviduk betina selama masa produksi agar meningkatkan daya fertil

sperma (5) dosis IB dan pengencer semen yang digunakan (6) lama penyimpanan

semen invitro dan umur sperma dalam oviduk.

Faktor yang mempengaruhi kegagalan fertilisasi telur hasil IB menurut

(Sastrodihardjo dan Resnawati, 2003) antara lain: (1) ketepatan waktu IB, yakni

antara 10-30 menit setelah telur dioviposisikan atau 30 menit sebelum ovum

diovulasikan (2) dosis sperma belum memenuhi dosis IB (3) pengencer tidak

isotonik dan beracun bagi sperma (4) saat penampungan, sperma terkontaminasi

sehingga terkoagulasi, kepala sperma tertambat menjadi partikel-partikel sehingga

motilitas terganggu (5) sperma terlalu lama dalam penyimpanan sehingga mati (6)

dalam saluran reproduksi betina, sperma banyak mati dan motilitas terhambat

pada dinding uterus bagian dalam (7) pada metoda intravagina, sebagian besar

semen dimuntahkan akibat kontraksi musculus vagina, semen dianggap benda

asing sehingga cenderung dikeluarkan tubuh.

Glandula uterovaginal pada alat reproduksi unggas betina adalah tempat

penyimpanan sperma dalam oviduk, yang menentukan fertilitas. Setelah

perkawinan alami, sperma berada diantara uterus, vagina dan infundibulum. Jika

(17)

sperma saat IB menjadi sangat penting agar sperma tidak hilang dari vagina

melalui proses regurgitasi atau tidak tersimpan dalam glandula (Setioko, 1989).

Semen

Semen adalah sekresi kelamin jantan ke saluran kelamin betina saat

kopulasi dan dapat ditampung dengan berbagai cara untuk keperluan IB

(Toelihere, 1993). Bentuk sperma unggas berbeda dari ternak lain, kepala sperma

silindris panjang dan akrosomnya runcing (Toelihere, 1985). Bentuk sperma

unggas seperti pedang dan konsentrasinya lebih tinggi dari sperma ruminansia

(Suprijatna dkk, 2005).

Sifat fisik dan kimiawi semen sebagian besar ditentukan plasma semen

(Toelihere, 1993).Volume semen unggas relatif sedikit dan berbeda-beda menurut

bangsa, tetapi konsentrasi sperma cukup tinggi. Semen segar bersifat basa, pH

antara 7,0-7,6. Sperma unggas tetap memiliki daya gerak pada suhu 2 - 43 0C

(Toelihere, 1985). Penurunan suhu menekan motilitas dan metabolisme sperma,

sehingga memungkinkan semen terpakai maksimal saat di IB (Hunter, 1995).

Bahan Pengencer Dan Pengenceran Semen

Fungsi pengencer adalah menyediakan zat makanan sebagai sumber energi

sperma, melindungi sperma, sebagai penyanggah untuk mencegah perubahan pH

akibat pembentukan asam laktat hasil metabolisme sperma, mempertahankan

tekanan osmotik dan keseimbangan elektrolit serta berisi antibiotika untuk

menghambat pertumbuhan bakteri (Toelihere, 1985).

Jika semen segera dipakai setelah ditampung, pengencer cukup larutan

(18)

harus lebih kompleks. Penyusun utamanya antara lain : substrat metabolis

(biasanya gula);elektrolit dengan konsentrasi tepat guna untuk melindungi sperma

terhadap perubahan pH dan tekanan osmosis; komponen dengan berat molekul

tinggi, seperti pada kuning telur atau susu, untuk melindungi sperma terhadap

pengaruh merusak dari pendinginan dan mengandung antibiotik (Hunter, 1995).

Komposisi susu kambing (Susanto, 2008) tertera dibawah ini.

Tabel 2. Komposisi susu kambing.

Komposisi Kandungan Nutrisi

Air (g) 83 - 87,5

Sumber : Balai Penelitian Veteriner, Bogor.

Sekitar 30% dari berat telur merupakan kuning telur yang komposisi

gizinya lebih lengkap daripada putih telur. Komposisi kuning telur antara lain air,

protein, lemak, karbohidrat, mineral dan vitamin. Protein telur bermutu tinggi dan

mudah dicerna. Dalam telur segar, protein kuning telur sebanyak 16,5% dan

protein telur termasuk sempurna karena mengandung semua jenis asam amino

essensial dalam jumlah yang cukup seimbang (Haryoto, 1996).

Sebagai sumber makanan sperma selama penyimpanan, kuning telur dapat

digunakan dalam komposisi pengencer semen (Situmorang, 1992). Selain itu,

menurut Toelihere (1985) kuning telur mengandung lipoprotein dan lecitin yang

(19)

telur juga mengandung glukosa (digunakan sperma untuk metabolismenya

daripada fruktosa yang ada pada semen), berbagai protein, vitamin-vitamin yang

larut dalam air dan lemak serta memiliki viskositas yang menguntungkan sperma.

Berikut ini adalah komposisi kuning telur ayam ras (Siswono, 2003) antara

lain :

Tabel 3. Komposisi kuning telur ayam ras

Komposisi Kandungan Nutrisi

Air ( g ) 2,95 Sumber : Direktorat Gizi DepKes RI, 1981.

Pengenceran bertujuan untuk meningkatkan volume semen yang akan

dideposisikan ke organ reproduksi betina untuk mendapatkan jumlah IB yang

lebih besar (Winter, 1983). Semen dapat diencerkan segera setelah penampungan.

Pengencer yang mengandung lipoprotein melindungi semen dari cold shock.

Temperatur semen dan pengencer harus 22-26,50C sebelum dicampur. Semen

yang telah diencerkan segera didinginkan agar diperoleh daya hidup sperma yang

maksimal (Salisbury dan Van Demark, 1985). Hasil pengenceran yang baik bagi

ternak itik dengan perbandingan 1:1 dan di IB dengan dosis 0,3 ml. Penentuan

kadar pengencer bertujuan agar tiap satuan volume semen yang akan di IB harus

mengandung cukup spermatozoa untuk memberikan fertilitas yang tinggi tanpa

(20)

Penyimpanan Semen

Untuk dapat menyimpan spermatozoa lebih lama dapat dilakukan dengan

mengencerkannya dengan bahan pengencer yang mengandung zat makanan dan

bersifat melindungi sperma (Situmorang, 1992). Aktivitas fungsional sperma

unggas dapat diawetkan beberapa hari, namun hasil terbaik diperoleh jika interval

antara ejakulasi dan IB kurang dari 30 menit (Toelihere, 1985).

Setelah diencerkan, semen didinginkan sampai suhu 50C. Kadar

metabolisme dan motilitas sperma berbeda-beda menurut suhu (Toelihere, 1993).

Suhu optimum penyimpanan semen cair adalah 38 - 400F (Winter, 1983).

Seleksi Telur Tetas

Telur yang akan ditetaskan harus bersih dan belum terlalu lama disimpan,

yakni tidak lebih dari 7 hari. Suhu simpan yang ideal adalah 10-160C dengan

kelembapan 70-80%. Berat telur yang akan ditetaskan sebaiknya 65-75 gr dengan

bentuk normal, kerabang halus dan memiliki pori merata (Srigandono, 1997).

Jika itik betina yang di IB dalam keadaan sehat dan sedang produktif,

dalam waktu ± 48 jam telur yang dibuahi spermatozoa sudah dikeluarkan dan

layak ditetaskan (Marhiyanto dan Idel, 1996). Telur yang baik untuk ditetaskan

adalah telur yang diproduksi pada hari ketiga. Jika telur diambil pada produksi

hari kedua setelah IB, telur tersebut tidak layak tetas sebab fertilitasnya rendah

(Jayasamudera dan Cahyono, 2005).

Telur tetas yang baik diperoleh dari induk sehat berumur 1-2 tahun agar

fertilitas telur tinggi. Jika telur berasal dari induk yang mengalami gugur bulu

(21)

telur tidak mengandung banyak air dan kuning telurnya tidak kecil. Umur

penyimpanan telur sebaiknya 1 minggu (Jayasamudera dan Cahyono, 2005).

Penetasan Dengan Mesin Tetas

Penetasan merupakan proses perkembangan embrio di dalam telur sampai

menetas. Penetasan dilakukan secara alami atau buatan (Suprijatna dkk, 2005).

Penetasan buatan lebih praktis dan efisien dibandingkan penetasan alami,

kapasitasnya ratusan butir. Penetasan dengan mesin tetas juga dapat meningkatkan

daya tetas telur karena temperaturnya dapat diatur lebih stabil tetapi memerlukan

biaya dan perlakuan lebih tinggi dan intensif (Jayasamudera dan Cahyono, 2005).

Sebelum digunakan, mesin tetas harus disterilkan dengan antiseptik dan air

hangat (Simanjuntak, 2002). Saat membersihkan telur (3 jam sebelum telur

masuk) mesin tetas sudah hidup dalam keadaan tertutup dengan suhu 380C.

Setelah telur masuk, ventilasi mesin tetas ditutup untuk mempertahankan suhu

38-390C hingga akhir penetasan. Pada hari pertama telur membutuhkan kelembapan

70% untuk selanjutnya 60% (Agus dkk, 2001). Pemutaran telur sebaiknya 4 x

sehari sampai hari ke 28 (Simanjuntak, 2002) sebab kegagalan penetasan sering

terjadi akibat malposition (Srigandono, 1997). Pemutaran telur (turning) bertujuan

untuk mencegah embrio menempel ke selaput kerabang di salah satu sisi telur.

Arah pemutaran berlawanan dengan posisi telur semula dengan kemiringan

30-45% (Fadilah dkk, 2007).

Fertilitas

Fertilitas diartikan sebagai persentase telur-telur yang memperlihatkan

(22)

memperhatikan telur tersebut menetas atau tidak. Semakin tinggi fertilitas, maka

daya tetas cenderung semakin tinggi (North, 1984).

Fertilitas adalah persentase telur fertil dari seluruh telur yang digunakan

dalam suatu penetasan. Faktor-faktor penentu fertilitas: sex rasio, umur ternak,

jarak waktu kawin sampai bertelur, pakan dan musim (Suprijatna dkk, 2005).

Faktor-faktor yang mempengaruhi kesuburan telur tetas adalah sperma, jenis

makanan yang diberikan pada bibit, musim, waktu perkawinan, breeding dan

hormon (Sarwono, 1995). Hal lain yang mempengaruhi fertilitas (Rasyaf, 1993)

antara lain perkandangan, jantan dan betina, intensitas cahaya dan daya bertelur.

Banyak faktor yang menentukan fertilitas (Suprijatna dkk, 2005) antara

lain sex ratio (nisbah jantan-betina), umur, bangsa dan musim. Berikut tabel

pedoman untuk memperoleh fertilitas yang tinggi dari berbagai jenis ternak

unggas.

Tabel 4. Pedoman untuk memperoleh fertilitas yang tinggi dari berbagai jenis unggas. Sumber : Jull (1974); Wilson dan Vohra (1980).

Daya Tetas

Persentase telur yang menetas dari total telur yang fertil disebut persentase

daya tetas (North, 1984). Kualitas telur tetas dapat diketahui dari daya tetasnya

(hatchability). Daya tetas diartikan sebagai persentase telur yang menetas dari

telur fertil (terbuahi) (Suprijatna dkk, 2005). Faktor-faktor yang mempengaruhi

(23)

Daya tetas dan kualitas telur tetas dipengaruhi oleh: cara penyimpanan;

lama penyimpanan; tempat penyimpanan; suhu lingkungan; dan kerabang telur.

Batas waktu penyimpanan telur tetas adalah 7 hari. Penyimpanan yang terlalu

lama mengakibatkan daya tetas dan kualitas telur menurun. Semakin lama

disimpan, kesempatan pertukaran gas dan udara makin besar dan penguapan

makin cepat sehingga terjadi penyusutan berat telur dan pembesaran kantong

udara yang menyebabkan daya tetas telur berkurang. Semakin tebal kulit telur

menyebabkan telur lama menetas. Berikut tabel pengaruh lama penyimpanan telur

terhadap daya tetas telur itik (Murtidjo, 1988).

Tabel 5. Pengaruh lama penyimpanan terhadap daya tetas telur itik.

Lama Penyimpanan Daya Tetas Rata-rata

(hari) (%)

3 87,4

5 66,8 7 47,2 Sumber: Anonymous, 1983.

Mortalitas Fertil

Mortalitas adalah persentase jumlah telur yang tidak menetas dari total

telur yang fertil. Daya tetas telur akan menurun sebesar 5% setiap pengurangan

suplai O2 sebanyak 1%. Semakin besar embrio, semakin besar juga CO2 yang

dilepas. Jika kandungan CO2 mencapai 5% dapat menimbulkan mortalitas atau

kematian embrio (Fadilah dkk, 2007).

Selama penetasan, bagian tumpul telur diletakkan di bagian atas. Secara

alami, embrio akan berkembang menuju bagian tumpul dekat rongga udara. Jika

telur diletakkan dengan bagian runcing lebih tinggi maka 60% embrio

(24)

mengalami kesulitan saat menetas untuk memecah rongga udara saat terjadi

peralihan sistem pernafasan yaitu saat pernafasan dengan jantung dimulai.

Pada telur segar, yolk berada pada albumen tebal (thin albumen). Segera

setelah telur di dalam mesin tetas, specific gravity (ukuran kekentalan telur)

berkurang dan telur menjadi lebih encer sehingga yolk akan mudah kontak dengan

bagian lain albumen yang tipis (outer thick albumen). Jika telur tidak diputar,

akan terjadi persinggungan yolk dengan bagian albumen lain yang mengandung

enzim lisozim yang akan menguraikan protein sehingga akan mengakibatkan

kematian embrio yang sedang berkembang (Suprijatna dkk, 2005).

Berat Day Old Mule Duck

Sebaiknya telur yang akan ditetaskan beratnya berkisar 65-75 gr/butir. Jika

telur terlalu kecil maka DOMD akan kecil dan lemah setelah menetas. Tiktok

yang baru menetas dibiarkan dalam mesin tetas selama 24 jam agar bulunya

kering dan pergerakan tubuhnya normal (Jayasamudera dan Cahyono, 2005).

Penetasan dengan berat telur seragam akan memberikan hasil yang baik

karena anak-anak unggas yang menetas nantinya juga akan memiliki berat yang

seragam. Telur harus seragam bentuk, warna dan bobotnya. Ketidakseragaman

bobot akan berpengaruh pada lama pengeraman dan masa penetasan. Penelitian

yang telah dilakukan menunjukkan adanya pengaruh berat telur terhadap

(25)

BAHAN DAN METODE PENELITIAN

Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Biologi Ternak Jln. Prof. Dr. A.

Sofyan No.3 Departemen Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera

Utara Medan, berada pada ketinggian 25 m dari permukaan laut. Penelitian

berlangsung dari bulan Agustus 2008 sampai dengan Januari 2009.

Bahan dan Alat Penelitian

Bahan

• Semen entok yang sudah diencerkan dengan NaCl fisiologis, susu kambing

dan kuning telur.

• Itik lokal betina umur 1 tahun sebanyak 36 ekor. • Telur hasil IB yang akan ditetaskan 180 butir.

• Desinfektan (Rodalon, Alkohol, Formalin dan KMnO4).

Alat

• Kandang 18 unit.

• Mesin tetas 1 unit kapasitas 150 butir dan 1 unit kapasitas 50 butir. • Spuit tanpa jarum suntik.

• Termometer.

• Timbangan dan candling.

• Kertas label, kalkulator dan alat tulis. • Tabung penampung semen dan pengencer.

(26)

Metode Penelitian

Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap

(RAL) dengan 3 perlakuan dan 6 ulangan, tiap ulangan terdiri dari 2 ekor itik.

Perlakuan yang diteliti adalah :

P0 = IB 1 kali seminggu

P1 = IB 2 kali seminggu

P2 = IB 3 kali seminggu

Denah pemeliharaan yang akan dilaksanakan adalah :

P02 P16 P22 P13 P21 P24

P03 P23 P26 P04 P25 P11

P12 P15 P14 P01 P05 P06

Dimana : Perlakuan = (P0, P1, P2)

Ulangan = (1,2,3,4,5,6)

Jumlah ulangan diperoleh berdasarkan rumus :

t (n-1) ≥ 15

3 (n-1) ≥ 15

3 n ≥ 18

n ≥ 6

Model linear yang digunakan (Hanafiah, 2003) adalah :

Yij = µ + τi + Σij

Dimana :

Yij = hasil pengamatan dari perlakuan tingkat ke-i dan pada ulangan ke-j.

I = 0,1,2 (perlakuan).

(27)

µ = nilai rata-rata (mean) harapan.

τi = pengaruh perlakuan ke-i.

Σij = pengaruh galat (experimental error) perlakuan ke-I dan ulangan ke-j.

Parameter Penelitian

1. Fertilitas Telur Tetas adalah persentase telur fertil dari seluruh telur yang

digunakan dalam suatu penetasan (Suprijatna dkk, 2005).

%

2. Daya Tetas diartikan sebagai persentase telur yang menetas dari telur yang

fertil (Suprijatna dkk, 2005).

%

3. Mortalitas Fertil adalah persentase telur yang tidak menetas dari total telur

yang fertil (Fadilah dkk, 2007).

%

4. Berat Day Old Mule Duck yaitu berat DOMD dihitung setelah tiktok menetas

1 hari dengan bulu yang sudah kering (Jayasamudera dan Cahyono, 2005).

Pelaksanaan Penelitian

1. Persiapan kandang; kandang, tempat pakan dan tempat minum didesinfektan

sebelum pemeliharaan dimulai agar bebas dari bibit penyakit.

2. Pengencer semen dibuat antara lain susu kambing yang telah dipanaskan 1

hari sebelum digunakan, NaCl fisiologis dan kuning telur ayam ras.

(28)

4. Semen yang telah ditampung lalu dicampur dengan pengencer yang telah

dibuat terlebih dahulu, kemudian semen yang sudah diencerkan tersebut

disimpan dalam refrigerator selama 30 menit.

5. Setelah penyimpanan semen selama 30 menit kemudian IB pada itik betina

dilakukan.

6. Telur produksi hari ke-3 atau 48 jam setelah di IB yang akan ditetaskan,

dikumpulkan selama 7 hari.

7. Sebelum digunakan, mesin tetas difumigasi dan distabilkan temperaturnya.

8. Pemutaran telur dimulai dari hari ke-3 sampai hari ke-28. Pemeriksaan telur

dilakukan pada hari ke-7 dan hari ke-14, fertilitas dihitung. Daya tetas dan

mortalitas fertil dihitung setelah telur menetas yakni hari ke-32. Berat DOMD

(29)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Fertilitas

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh rataan fertilitas telur itik seperti

tertera pada Tabel 6.

Tabel 6. Rataan fertilitas telur itik hasil IB.

Perlakuan Rataan Standar Deviasi (sd)

P0 51,67 ± 7,53

P1 56,67 ± 5,16

P2 61,67 ± 7,53

Rataan 56,67 ± 7,67

Dari Tabel 6 dapat dilihat bahwa rataan fertilitas tertinggi terdapat pada

perlakuan P2 yaitu sebesar 61,67% dan terendah pada perlakuan P0 yaitu sebesar

51,67%. Menurut Suprijatna dkk (2005) fertilitas telur itik berkisar antara

85-95%. Berdasarkan Tabel 6, semua perlakuan tidak mencapai kisaran dari fertilitas

telur itik.

Daya Tetas

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh rataan daya tetas telur itik seperti

tertera pada Tabel 7.

Tabel 7. Rataan daya tetas telur itik hasil IB.

Perlakuan Rataan Standar Deviasi (sd)

P0 41,39 ± 12,31

P1 52,22 ± 12,05

P2 58,26 ± 13,32

Rataan 50,62 ± 13,82

Dari Tabel 7 dapat dilihat bahwa rataan daya tetas telur itik tertinggi

terdapat pada perlakuan P2 yaitu sebesar 58,26% dan terendah pada perlakuan P0

(30)

(1988) daya tetas telur itik untuk lama penyimpanan 7 hari adalah 47,2%.

Berdasarkan Tabel 7, perlakuan P1 dan P2 sangat bagus karena persentase daya

tetasnya melebihi kisaran 47,2%.

Mortalitas Fertil

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh rataan mortalitas fertil telur itik

seperti tertera pada Tabel 8.

Tabel 8. Rataan mortalitas fertil telur itik hasil IB.

Perlakuan Rataan Standar Deviasi (sd)

P0 58,61 ± 12,31

P1 47,78 ± 12,05

P2 41,75 ± 13,32

Rataan 49,38 ± 13,82

Dari Tabel 8 dapat dilihat bahwa rataan mortalitas fertil telur itik tertinggi

terdapat pada perlakuan P0 yaitu sebesar 58,61% dan terendah pada perlakuan P2

yaitu sebesar 41,75%.

Berat DOMD

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh rataan berat DOMD itik lokal

seperti tertera pada Tabel 9.

Tabel 9. Rataan berat DOMD hasil IB.

Perlakuan Rataan Standar Deviasi (sd)

P0 45,89 ± 1,31

P1 47,25 ± 1,67

P2 46,88 ± 1,43

Rataan 46,67 ± 1,51

Dari Tabel 9 dapat dilihat bahwa rataan berat DOMD itik lokal tertinggi

terdapat pada perlakuan P1 yaitu sebesar 47,25gr dan terendah terdapat pada

(31)

Pembahasan

Fertilitas

Untuk mengetahui pengaruh frekuensi IB terhadap rataan fertilitas telur

selama penelitian, maka dilakukan analisis keragaman yang tertera pada Tabel 10.

Tabel 10. Analisis keragaman fertilitas telur itik selama penelitian.

F.Tabel

SK DB JK KT F.Hitung 0,05 0,01

Perlakuan 2 300 150 3,21tn 3,68 6,36

Galat 15 700 46,67

Total 17 1000 KK = 12,05%

tn = tidak nyata

Hasil analisis keragaman di atas menunjukkan bahwa frekuensi IB 3 kali

semingu tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap fertilitas. Walaupun

demikian, frekuensi IB 3 kali seminggu cenderung meningkatkan fertilitas terlebih

jika saat di IB betina dalam masa produktif, sperma tetap hidup dan bertambah

jumlahnya. Hal ini sesuai dengan tinjauan pustaka Sastrodihardjo dan Resnawati

(2003) yang menyatakan bahwa interval dan frekuensi IB selama masa produksi

dapat meningkatkan daya fertil sperma karena frekuensi IB berkaitan dengan

penambahan jumlah sperma dalam saluran oviduk betina selama masa produksi.

Kisaran fertilitas telur itik adalah 85-95%. Namun, tidak satupun

perlakuan yang diteliti mencapai nilai kisaran tersebut. Rendahnya fertilitas yang

dicapai disebabkan oleh banyaknya sperma motil yang mati atau terhambat

pergerakannya saat berada dalam saluran reproduksi itik betina. Selain itu,

kemungkinan waktu IB dan oviposisi kurang tepat sehingga fertilisasi di

(32)

Sastrodihardjo dan Resnawati (2003) yang menyatakan bahwa waktu IB dan

oviposisi berkaitan dengan perkiraan waktu untuk fertilisasi di infundibulum.

Kematian sperma dalam saluran reproduksi betina karena pergerakan sperma yang

menuju infundibulum berlawanan arah dengan perjalanan telur ke arah kloaka

untuk oviposisi.

Hal lain yang menyebabkan rendahnya fertilitas adalah metode deposisi

sperma yang dilakukan. Metode IB yang digunakan pada penelitian ini adalah

metode uterovaginal. Saat IB, sperma dideposisi pada bagian yang diapit oleh

uterus dan vagina agar sperma setiap kali di IB dapat dengan mudah masuk

kedalam sarang sperma dan disimpan untuk sementara waktu. Hal ini sesuai

dengan tinjauan pustaka menurut Setioko (1989) yang menyatakan bahwa

glandula uterovaginal pada alat reproduksi unggas betina adalah tempat

penyimpanan sperma dalam oviduk, yang menentukan fertilitas. Jika sebagian

besar sperma disimpan dalam glandula uterovaginal maka deposisi sperma saat IB

menjadi sangat penting agar sperma tidak hilang dari vagina melalui proses

regurgitasi atau tidak tersimpan dalam glandula.

Daya Tetas

Untuk mengetahui pengaruh frekuensi IB pada itik lokal terhadap rataan

daya tetas telur itik selama penelitian, maka dilakukan analisis keragaman seperti

tertera pada Tabel 11.

Tabel 11. Analisis keragaman daya tetas telur itik selama penelitian.

F.Tabel

SK DB JK KT F.Hitung 0,05 0,01

Perlakuan 2 876,53 438,27 2,77tn 3,68 6,36 Galat 15 2371,55 158,10

(33)

KK = 24,83% tn = tidak nyata

Hasil analisis keragaman di atas menunjukkan bahwa frekuensi IB pada

itik lokal tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap daya tetas telur hasil IB.

Salah satu faktor yang mempengaruhi daya tetas adalah fertilitas, karena fertilitas

hasil IB rendah (tidak sesuai dengan yang dikemukakan yakni 85-95%) maka

daya tetas juga rendah. Sesuai dengan tinjauan pustaka menurut North (1984)

yang menyatakan semakin tinggi fertilitas, maka daya tetas cenderung semakin

tinggi, begitu pula sebaliknya. Meskipun rendah, namun nilai kisaran daya tetas

telur yang disimpan selama 7 hari telah tercapai. Sesuai dengan tinjauan pustaka

menurut Murtidjo (1988) yang menyatakan penyimpanan telur selama 7 hari daya

tetas telurnya sebesar 47,2%.

Walaupun daya tetasnya rendah, daya tetas telur yang di IB 3 kali

seminggu cenderung meningkat. Fertilitas yang makin tinggi tiap perlakuan

meningkatkan daya tetas tiap perlakuan juga. Tetapi masih ada faktor lama

penyimpanan telur yang juga menentukan daya tetas telur. Jika telur terlalu lama

disimpan, akan terjadi penguapan sehingga mengurangi kualitas telur dan

kemampuan menetas. Sesuai dengan pernyataan Murtidjo (1988) yang

menyatakan penyimpanan yang terlalu lama mengakibatkan daya tetas dan

kualitas telur menurun. Semakin lama disimpan, kesempatan pertukaran gas dan

udara makin besar dan penguapan makin cepat sehingga terjadi penyusutan berat

telur dan pembesaran kantong udara yang menyebabkan daya tetas telur menurun.

(34)

Untuk mengetahui pengaruh frekuensi IB pada itik lokal terhadap rataan

mortalitas fertil telur itik selama penelitian, maka dilakukan analisis keragaman

seperti tertera pada Tabel 12.

Tabel 12. Analisis keragaman mortalitas fertil telur itik selama penelitian. F.Tabel

Hasil analisis keragaman di atas menunjukkan bahwa frekuensi IB pada

itik tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap mortalitas fertil. Tetapi mortalitas

fertil cenderung menurun dari tiap perlakuan. Hal ini berkaitan dengan daya tetas

dan lama penyimpanan telur, karena daya tetas telur yang rendah sehingga

kemampuan untuk menetas dari tiktok juga rendah. Tiktok mengalami kesulitan

untuk memecah kerabang telur dan keluar dari sana. Jika waktu untuk menetas

terlalu lama dan sulit, maka tiktok dapat mengalami kematian. Sesuai dengan

pernyataan Murtidjo (1988) semakin tebal kulit telur maka semakin lama telur

menetas yang dapat menyebabkan kematian pada anak itik.

Mortalitas fertil tidak terlalu terkait dengan frekuensi IB tetapi pada daya

hidup dan motilitas sperma yang di IB. Selain itu, faktor yang mempengaruhi

adalah posisi perkembangan embrio selama dalam telur. Jika embrio berkembang

menuju bagian runcing telur, maka saat menetas akan terjadi kesulitan untuk

memecah rongga udara yang letaknya dibagian tumpul telur. Sesuai dengan

pernyataan Suprijatna dkk (2005) yang menyatakan jika embrio berkembang

(35)

kesulitan saat menetas untuk memecah rongga udara, saat terjadi peralihan sistem

pernafasan yaitu saat pernafasan dengan jantung dimulai anak ayam akan

mengalami kesulitan yang berakibat kematian saat anak ayam hendak menetas.

Mortalitas fertil juga terjadi karena embrio melekat pada satu sisi dari

telur yang berkaitan dengan pemutaran telur. Sesuai dengan pernyataan

Simanjuntak (2002) yang menyatakan pemutaran telur sebaiknya 4 x sehari

sampai hari ke 28 sebab Srigandono (1997) menyatakan kegagalan penetasan

sering terjadi akibat malposition. Fadilah dkk (2007) menyatakan bahwa

pemutaran telur (turning) bertujuan untuk mencegah embrio menempel ke selaput

kerabang di salah satu sisi telur. Suprijatna dkk (2005) menyatakan setelah telur

dalam mesin tetas, specific gravity (ukuran kekentalan telur) berkurang dan telur

menjadi lebih encer sehingga yolk akan mudah kontak dengan bagian lain

albumen yang tipis (outer thick albumen). Jika telur tidak diputar, akan terjadi

persinggungan yolk dengan bagian albumen lain yang mengandung enzim lisozim

yang akan menguraikan protein sehingga akan mengakibatkan kematian embrio.

Berat Day Old Mule Duck (DOMD)

Untuk mengetahui pengaruh frekuensi IB pada itik lokal terhadap rataan

berat DOMD itik lokal selama penelitian, maka dilakukan analisis keragaman

seperti tertera pada Tabel 13.

(36)

Hasil analisis keragaman di atas menunjukkan bahwa frekuensi IB pada

itik tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap berat DOMD. Berat DOMD lebih

dipengaruhi oleh berat telur tetas. Satandar berat telur tetas berkisar 65-75gr/butir

sedangkan telur yang digunakan beratnya berkisar 65-71gr/butir. Rataan berat

DOMD yang diperoleh P0 sebesar 45,89gr, P1 sebesar 46,88gr dan P2 sebesar

47,25gr. Hasil ini menunjukkan keseragaman berat DOMD karena range rataan

berat DOMD dari tiap perlakuan kecil. Menurut Jayasamudera dan Cahyono

(2005) sebaiknya telur yang akan ditetaskan beratnya berkisar 65-75 gr/butir. Jika

telur terlalu kecil maka DOMD akan kecil dan lemah setelah menetas. Pernyataan

tersebut didukung oleh Wiharto (1988) yang menyatakan penetasan dengan berat

telur seragam akan memberikan hasil yang baik karena berat anak-anak unggas

yang menetas nantinya juga akan seragam. Ketidakseragaman bobot akan

berpengaruh pada lama pengeraman dan masa penetasan. Penelitian yang pernah

dilakukan sebelumnya menunjukkan adanya pengaruh berat telur terhadap

persentase daya tetas dan bobot DOD.

Rekapitulasi Hasil Penelitian

Dari hasil penelitian yang dilakukan, maka didapat hasil rekapitulasi

penelitian seperti tertera pada Tabel 14.

Tabel 14. Rekapitulasi fertilitas, daya tetas, mortalitas fertil dan berat DOMD selama penelitian.

(37)

Tabel 14 di atas menunjukkan bahwa frequensi IB tidak berpengaruh nyata

(P>0,05) terhadap fertilitas, daya tetas, mortalitas fertil dan berat DOMD yang

dihasilkan. Walaupun demikian, pada hasil penelitian tampak bahwa perlakuan P2

memiliki efektivitas yang cukup baik dibandingkan perlakuan P0 dan P1. Hal ini

dapat dilihat dari persentase fertilitas, daya tetas dan mortalitasnya.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Frekuensi Inseminasi Buatan (IB) 1 kali seminggu, 2 kali seminggu dan 3

kali seminggu pada itik betina lokal tidak memberi pengaruh nyata terhadap

fertilitas, daya tetas, mortalitas dan berat Day Old Mule Duck (DOMD) tetapi IB

3 kali seminggu cenderung meningkatkan fertilitas dan daya tetas.

Saran

Disarankan untuk penelitian berikutnya, persentase sperma motil dan

sperma hidup setelah semen diencerkan lebih diperhatikan sebelum melakukan

(38)

DAFTAR PUSTAKA

Agus, G.T.K., Agus K.A., A. Dianawati, Dipo U.T., E.S. Irawan, K. Miharja, L. Gusyadi, Luluk A.M., Maman N., P.S. Karno, P. Dachlan, Udin S., Ujang, J.M., T. Yana dan Y. Sastro. 2001. Intensifikasi Beternak Itik. AgroMedia Pustaka. Jakarta.

Damayanti, R. 2002. Susu Kambing Ettawa Untuk Kesehatan. Bogor. http://garasibu.wordpress.com/2008/01/31/susu-kambing-ettawa Posted by: garasibu | January 31, 2008

Dumangas, P.B and E.B. Perena. 1985. Current Trend On Semen Collection,

Processing And Storage. The Impact Of Artificial Insemination On

Livestock Production In South East Asia Proceding Seminar Philipine Council For Agriculture And Resource, Research And Development.

Fadilah, R., A. Polana, S. Alam dan E. Parwanto. 2007. Sukses Beternak Ayam

Broiler. AgroMedia Pustaka. Jakarta.

Hanafiah, K.A. 2003. Rancangan Percobaan. Teori Dan Aplikasi. Edisi ke-3. Fakultas Pertanian. Universitas Sriwijaya. Palembang.

Haryoto. 1996. Pengawetan Telur Segar. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

Hunter, R.H.F. 1995. Fisiologi Dan Teknologi Reproduksi Hewan Betina

Domestik. Terjemahan DK Harya Putra. Penerbit ITB-Pers. Bandung.

Jayasamudera, D.J dan B. Cahyono. 2005. Pembibitan Itik. Penebar Swadaya. Jakarta.

Marhiyanto, B. dan A. Idel. 1996. Budidaya Bebek Darat. GitaMedia Press. Surabaya.

(39)

North, M.O. 1984. Commercial Chicken Production Manual. 3rd Edition. AVI Publishing Company Inc. Westport. Connecticut.

Rasyaf, M. 1993. Pengelolaan Penetasan. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

Salisbury, G.W dan N.L Van Demark. 1985. Fisiologi Reproduksi Dan

Inseminasi Buatan Pada Sapi. Terjemahan R. Djanuar. Gajah Mada

University Press. Yogyakarta.

Sarwono, B. 1995. Pengawetan Dan Pemanfaatan Telur. Penebar Swadaya. Jakarta.

Sastrodihardjo, S dan H. Resnawati. 2003. Inseminasi Buatan. Penebar Swadaya. Jakarta.

Setioko, A.R.1989. Proceedings Seminar Nasional Hasil Penelitian Dan

Pengembangan Peternaka. Lustrum 4. Fakultas Peternakan. Universitas

Gajah Mada. Yogyakarta.

Simanjuntak, L. 2002. Tiktok Unggas Pedaging Hasil Persilangan Itik Dan Entok. AgroMedia Pustaka. Jakarta.

Siswono. 2003. Nutrisi Kuning Telur. Semarang.

Situmorang, P. 1992. Pengaruh Pengencer Gliserol Dan Tingkat Kuning Telur

Terhadap Daya Hidup Spermatozoa. Penerbit Balai Penelitian Dan

Pengembangan Peternakan dan Balai Penelitian Dan Pengembangan Pertanian.

Srigandono, B. 1997. Produksi Unggas Air. Cetakan ke-3. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.

---. 1998. Beternak Itik Pedaging. Cetakan ke-2. Trubus Agriwidya. Ungaran.

Suprijatna, E., U. Atmomarsono dan R. Kartasudjana. 2005. Ilmu Dasar Ternak

Unggas. Penebar Swadaya. Jakarta.

Susanto, H. 2008. Susu Kambing Ettawa.

Toelihere, M.R. 1985. Inseminasi Buatan Pada Ternak. Penerbit Angkasa. Bandung.

(40)

Wiharto. 1988. Petunjuk Pembuatan Mesin Penetas. Penerbit Lembaga Penerbitan Universitas Brawijaya. Malang.

Winter, L.M.. 1983. Animal Breeding. John Wiley and Son. Inc.New York Chapman and Hall Limited. London.

Lampiran 1.

Prosedur Pembuatan Pengencer.

Bahan : susu kambing, kuning telur, NaCl fisiologis, antibiotik, alkohol.

Pelaksanaan :

1. Susu kambing diletakkan dalam erlenmeyer dan dipanaskan sehari sebelum

digunakan kemudian disimpan dalam refrigerator.

2. Siapkan telur ayam ras segar, bersihkan dan gosok dengan alkohol.

3. Pecahkan kulit telur menggunakan pinset dan pisahkan kuning telurnya.

Kuning telur yang masih terbungkus selaput vitelline ditempatkan pada kertas

penyerap untuk menyerap putih telur yang tersisa.

4. Pisahkan selaput vitelline dan alirkan kuning telur memasuki gelas pengukur

dengan meninggalkan sisa-sisa putih telur dan selaput vitelline pada kertas

penyerap.

5. Tuangkan susu kambing kedalam gelas pengukur tersebut sejumlah

perbandingan yang dibutuhkan dan diaduk sampai merata lalu ditambahkan

(41)

Lampiran 2.

Prosedur Penampungan Semen.

Pelaksanaan :

1. Penampungan sperma dilakukan oleh 2 orang operator, yang satu memegang

entok dan melakukan rangsangan urut yang satu lagi menampung sperma.

2. Entok jantan berumur 2 tahun berada dalam kandang individual.

3. Entok betina dewasa umur 7-8 bulan dimasukkan dalam kandang pejantan.

4. Entok jantan kemudian berusaha mengawini betina dengan mematuk kepala

betina sambil berusaha menaikinya.

5. Jika si jantan sudah terangsang (ekor dikibas-kibas), dibersihkan daerah

sekitar kloaka dengan kain lap agar sperma bersih dari kotoran.

6. Dilakukan pengurutan dari punggung bagian bawah dekat kloaka ke arah

kloaka secara berulang-ulang selama beberapa saat sampai testikel yang

berbentuk spiral tampak ereksi.

7. Ereksi dan ejakulasi sperma terjadi secara spontan setelah dirangsang.

8. Sperma keluar dari papilla ejakulator. Saat sperma keluar, tampung dengan

menempelkan tabung penampung sperma pada kloaka oleh operator yang lain.

(42)

Lampiran 3.

Prosedur Pengenceran Semen.

Pelaksanaan :

1. Tuangkan bahan pengencer kedalam tabung yang berisi semen dengan reaksi

dinding, dicampur secara bertahap sesuai kadar pengencer yang telah

diperhitungkan.

2. Masukkan semen yang telah diencerkan kedalam tabung skala berukuran 5 cc

dan tutup rapat.

(43)

Lampiran 4.

Prosedur Inseminasi Buatan.

Pelaksanaan :

1. Inseminasi dilakukan oleh 2 orang operator, yang satu memegang itik betina

dan yang satu lagi menginseminasikan itik betina tersebut.

2. Siapkan betina yang akan diinseminasi.

3. Operator memasukkan sperma entok yang telah diencerkan kedalam spuit

tanpa jarum sebanyak 0,3 ml/ ekor.

4. Operator yang lain kemudian memegang itik betina dengan posisi kepala ke

bawah dan menghadap ke belakang. Telapak tangan kanan operator menekan

bagian bawah kloaka dan secara perlahan memijit ke depan hingga kloaka

terbuka, akan tampak 2 buah lubang pada kloaka.

5. Masukkan spuit yang berisi sperma ke lubang sebelah kiri sedalam 1-2 cm.

6. Operator secara perlahan mengurangi tekanan telapak tangan agar sperma

masuk ke dalam saluran reproduksi betina dan tidak keluar lagi.

7. Operator secara perlahan menarik spuit dan membiarkan kloaka itik kembali

(44)

Lampiran 5. Jumlah telur yang fertil (butir). kambing + kuning telur + NaCl fisiologis.

Ulangan

Lampiran 7. Jumlah telur yang menetas (butir).

Perlakuan Ulangan Total Rataan susu kambing + kuning telur + NaCl fisiologis.

(45)

Lampiran 9. Jumlah telur yang gagal menetas (butir).

Perlakuan Ulangan Total Rataan

1 2 3 4 5 6

P0 2 3 3 4 3 3 18 3,00

P1 3 3 3 2 3 2 16 2,67

P2 3 2 2 3 3 2 15 2,50

Total 49 8,17

Rataan 2,72

Lampiran 10. Rataan mortalitas fertil telur itik (%) yang di IB dengan semen entok + susu kambing + kuning telur + NaCl fisiologis.

Ulangan

Perlakuan 1 2 3 4 5 6 Total Rataan

P0 40 60 50 66,67 60 75 351,67 58,61 P1 60 50 60 33,33 50 33,33 286,66 47,78 P2 50 33,33 28,57 60 50 28,57 250,47 41,75

Total 888,8 148,13

Rataan 49,38

Lampiran 11. Rataan berat DOMD itik lokal (gr) yang di IB dengan semen entok + susu kambing + kuning telur + NaCl fisiologis.

Ulangan

Perlakuan 1 2 3 4 5 6 Total Rataan

P0 46,67 46,5 44,67 47,5 44 46 275,34 45,89 P1 47,67 48,5 48 44,5 47 47,8 283,47 47,25 P2 47 45,67 50 46,25 45,33 47 281,25 46,88

Total 840,06 140,02

(46)
(47)
(48)
(49)

Figur

Tabel 1. Taksonomi itik dan entok.  Itik  Animalia
Tabel 1 Taksonomi itik dan entok Itik Animalia . View in document p.14
Tabel 2. Komposisi susu kambing. Komposisi
Tabel 2 Komposisi susu kambing Komposisi . View in document p.18
Tabel 3. Komposisi kuning telur ayam ras Komposisi
Tabel 3 Komposisi kuning telur ayam ras Komposisi . View in document p.19
Tabel 4. Pedoman untuk memperoleh fertilitas yang tinggi dari berbagai jenis unggas.
Tabel 4 Pedoman untuk memperoleh fertilitas yang tinggi dari berbagai jenis unggas . View in document p.22
Tabel 5. Pengaruh lama penyimpanan terhadap daya tetas telur itik.
Tabel 5 Pengaruh lama penyimpanan terhadap daya tetas telur itik . View in document p.23
Tabel 6. Rataan fertilitas telur itik hasil IB. Perlakuan   Rataan
Tabel 6 Rataan fertilitas telur itik hasil IB Perlakuan Rataan . View in document p.29
Tabel 7. Rataan daya tetas telur itik hasil IB. Perlakuan   Rataan
Tabel 7 Rataan daya tetas telur itik hasil IB Perlakuan Rataan . View in document p.29
Tabel 8. Rataan mortalitas fertil telur itik hasil IB.
Tabel 8 Rataan mortalitas fertil telur itik hasil IB . View in document p.30
Tabel 8. Rataan mortalitas fertil telur itik hasil IB.
Tabel 8 Rataan mortalitas fertil telur itik hasil IB . View in document p.30
Tabel 10. Analisis keragaman fertilitas telur itik selama penelitian.
Tabel 10 Analisis keragaman fertilitas telur itik selama penelitian . View in document p.31
Tabel 11. Analisis keragaman daya tetas telur itik selama penelitian.
Tabel 11 Analisis keragaman daya tetas telur itik selama penelitian . View in document p.32
Tabel 12. Analisis keragaman mortalitas fertil telur itik selama penelitian. F.Tabel 0,05 0,01
Tabel 12 Analisis keragaman mortalitas fertil telur itik selama penelitian F Tabel 0 05 0 01 . View in document p.34
Tabel 13. Analisis keragaman berat DOMD itik lokal selama penelitian.  F.Tabel
Tabel 13 Analisis keragaman berat DOMD itik lokal selama penelitian F Tabel. View in document p.35
Tabel 14. Rekapitulasi fertilitas, daya tetas, mortalitas fertil dan berat DOMD selama penelitian
Tabel 14 Rekapitulasi fertilitas daya tetas mortalitas fertil dan berat DOMD selama penelitian. View in document p.36
Tabel 14 di atas menunjukkan bahwa frequensi IB tidak berpengaruh nyata
Tabel 14 di atas menunjukkan bahwa frequensi IB tidak berpengaruh nyata . View in document p.37

Referensi

Memperbarui...