Konflik batin tokoh utama dalam Novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari serta implikasinya terhadap pengajaran bahasa dan sastra Indonesia di MTS Al-Mansuriyah, Kec Pinang, Kota Tangerang

99  21 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

DI MTS AL-MANSURIYAH, KEC PINANG,

KOTA TANGERANG

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan pada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

oleh

Nikmat Saputra

1811013000008

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SYARIF HIDAYATULLAH

(2)
(3)
(4)
(5)

i

Tangerang. Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan. Universitas Islam Negri Syarif Hidaytullah Jakarta. Pembimbing Rosida Erowati, M.Hum.

Novel RDP mewakili sebagian kehidupan manusia yang mengalamiI konflik batin, ini dialami oleh Rasus, baik terjadi pada diri dan lingkungannya. Mengisahkan selama bertahun-tahun ia hanya berandai-andai tentang kepergian Emak yang menjadi salah satu korban tempe bongkrek sehinggga mengakibatkan pergolakan batin, dan kecemasan yang menggangu kejiwaan Rasus. Pergolakan batin Rasus semakin menjadi setelah Srintil menjadi seorang ronggeng yang harus melewati syarat ritual terakhir. Sedangkan metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, dengan menggunakan pendekatan interdisipliner, yaitu psikologi sastra yang memfokuskan penelitiannya pada masalah konflik batin, pada masalah pribadi dan lingkungannya, karena manusia sering mengalami hal seperti itu dalam suatu masyarakat. Temuan penelitian ini diantaranya, pertama, seorang pemuda yang kuat perlu memiliki prinsip hidup dan pendirian serta ketegasan dalam mengambil keputusan. Kedua seorang pemuda harus mau keluar bermasyarakat untuk mencari pengalaman hidup dari tempat yang membuatnya terkungkung.

Pembahasan novel RDP dapat disampaikan dalam pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di MTs, untuk materi, agar peserta didik dapat membangun karakterkritis, kreatif, mengajarkan bagaimana menghargai sesama manusia di lingkungan sekitarnya dan dapat mengambil nilai-nilai moral kemanusian yang jelas tersampaikan dalam novel RDP.

(6)

ii

Literature Teaching in MTs Al-Mansuriyah district. Pinang,Tangerang. Education Department of Indonesian Language and Literature Faculty of MT and Teaching. State Islamic University Syarif Hidaytullah Jakarta. Supervisor Rosida Erowati, M.Hum.

RDP novel human life that represent the inner conflict that had been experienced by Rasus,both happen to themselves and their surroundings, telling over the years he could only suppose about the departure of Mother who became one of the victims so as tempeh Bongkrek resulting inner turmoil,and anxiety that interfere with psychiatric Rasus. Rasus inner turmoil after Srintil become increasingly becoming a requirement ronggeng must pass the last rites. While the methods used in this study is qualitative deskriptive, using an interdisciplinary approach, namely the psychology literature that focused his research on the problem of inner conflict, the personal and environmental issues,because humans often experienced anything like that in a society. The findings of this study in between, first, a strong young man needs to have the principle of life and the establishment as well as firmness in making decisions. Both young man must come out of society for the experience of a life that made him confined.

Discussion novel RDP can be delivered in learning Indonesian language and literature at MTs, for the material, so that learners can build a critical character, creative, teaches how to respect fellow human beings in the surrounding environment and can take the moral values of humanity that is clearly conveyed in the novel RDP.

(7)

iii

Maha kuasa akan segala sesuatu yang berada di seluruh alam raya, yang telah menciptakan kenikmatan dan memberikan rahmat serta karunianya, sehingga penelitian ini dapat terselesaikan. Salawat dan salam semoga senantiasa Allah SWT memberikan kepada Nabi Muhamad SAW, keluarga, sahabat, dan para pengikutnya.

Dalam penyelesaian penelitian ini, penulis banyak menerima saran, petunjuk, bimbingan dan masukan dari berbagai pihak .Penulis berutang jasa kepada mereka yang telah mendampingi dalam proses penyelesaian skripsi sebagai tugas akhir untuk menempuh S1. Oleh karena itu penulis menyampaikan terima kasih kepada:

1. Nurlena Rifa’i, MA, Ph.D., Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN

Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Dra. Hindun, M.Pd.,dan Dona Aji Karunia Putra, MA., Ketua dan Sekertaris Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Tarbiyah.

3. Rosida Erowati, M.Hum., Dosen pembimgbing skripsi, yang selalu sabar dalam mengoreksi dan meluangkan waktunya, tenaga, dan pikiran untuk memberikan bimbingan dan arahan di sela-sela kesibukannya, dan meminjam buku koleksi perpustakaan pribadi sebagai penunjang penelitian, sehingga peneliti yakin penelitian ini dapat terselesaikan dengan baik.

4. Dosen-dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, khususnya Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

(8)

iv menyelesaikan penelitian ini.

8. Teman-teman PBSI seperjuangan, yang dengan sabar selalu membantu dalam memberi informasi kepada penulis.

Terimakasih pula kepada semua pihak yang telah membantu proses penyelesaian penelitian ini. Semoga Tuhan membalas kebaikan kalian semua. Penulis mengarapkan saran dan kritik yang membangun dalam pembuatan penelitian ini semoga penelitian ini dapat bermanfaat khususnya untuk penulis dan umumnya untuk yang membutuhkan.

Jakarta, 12 Januari 2015

(9)

v

ABSTRACT……… ii

KATA PENGANTAR………... iii

BAB I PENDAHULUAN……… 1

A. Latar Belakang Masalah ………. 1

B. Identifikasi Masalah ………... 3

C.

Pembatasan Masalah ……….. 3

2. Penghargaan yang Pernah diraih……….. 35

B. Karya Ahmad Tohari………. 36

C. Karakteristik Dunia Kepengarangan Ahmad Tohari ………. 36

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN KONFLIK BATIN TOKOH DALAM NOVEL RDP……….. 39

A. Unsur Intrinsik Novel RDP ………... 39

1. Tema ………. 39

(10)

vi

Amanat ………...

B. Implikasi ………. 71

BAB V PENUTUP……….. 72

A. Simpulan ……….. 72

B. Saran ……… 73

DAFTAR PUSTAKA………... 75 LAMPIRAN

(11)

1 A. Latar Belakang

Karya sastra merupakan suatu cerita tentang kehidupan yang terjadi di masyarakat yang mempunyai hubungan dengan lingkungan dan manusia itu sendiri. Novel merupakan hasil dialog, dan reaksi pengarang terhadap lingkungan dan kehidupan. Walau berupa khayalan, tidak benar jika novel dianggap sebagai hasil kerja lamunan belaka, melainkan dengan penghayatan dan perenungan secara mendalam, perenungan terhadap hakikat hidup dan kehidupan, serta perenungan yang dilakukan dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab dari segi kreativitas seni.

Di dalam novel tidak terlepas dari adanya peristiwa yang dibangun oleh pengarang. Peristiwa tersebut jadi adalah sebuah kebenaran, yang ingin disampaikan kepada khalayak umum. Meskipun novel dianggap sebagai karya imajinatif. Bagi sebagian orang, peristiwa yang dibangun oleh pengarang dalam karyanya merupakan sebuah pesan tentang kebenaran yang ingin disampaikan kepada khalayak umum. Dengan demikian, pendapat tentang novel merupakan karya imajinatif belaka tidak sepenuhnya benar. Peristiwa yang diangkat dalam novel mencakup segala kehidupan seluruh lapisan masyarakat.

Kita tidak memungkiri dan harus mengakui bahwa sebuah karya sastra begitu menyentuh hati dan perasaan pembaca, karena karya sastra sebagai cerminan, dan pengalaman yang pembaca alami. Karya sastra juga dapat dijadikan sebagai sumber pengetahuan tentang kebudayaan suatu masyarakat, dan berbagai peristiwa, baik psikologi, sosial, hubungan kekeluargaan serta sistem budaya yang ada di dalamnya.

(12)

tempat itu juga ditunjukan oleh citra-citra yang menyarankan keserasian lingkungan hidup.

Selain pelukisan latar yang bagus dan menarik, RDP memberikan gambaran kondisi sosial masyarakat pedesaan di Jawa, khususnya masyarakat Dukuh Paruk. Pada masa itu disibukkan oleh perubahan-perubahan sosial yang susul menyusul seiring dengan bergairahnya orang berpolitik untuk menghimpun kekuatan dan kekuasaan.

RDP bercerita tentang suatu pedesaan terpencil yang dihuni oleh

masyarakat terbelakang dengan paham mistis. Pada waktu itu Dukuh Paruk mengalami malapetaka yang menyebabkan seorang anak Dukuh Paruk mengalami konflik batin. Hal ini seakan melukiskan dan menggambarkan sisi kehidupan insan manusia yang mengalami pergolakan batin yang selalu menghantui. Konflik batin ini merupakan suatu gejolak yang terjadi di dalam diri seorang tokoh yang dialami, baik terjadi di dalam suatu keluarga maupun yang terjadi di lingkungan sekitarnya yang dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Peristiwa yang dialami oleh tokoh dalam novel RDP tersusun dalam urutan peristiwa yang mempunyai hubungan sebab akibat, sehingga membentuk suatu alur yang runtut. Alur itu sendiri dibangun oleh konflik dengan dunia sekitarnya. Adapun konflik dalam novel ini didominasi oleh konflik tokoh Rasus dengan dirinya sendiri dan konflik dengan dunia sekitarnya. Konflik dengan diri sendiri terjadi karena Rasus sangat merindukan sosok Emaknya yang ia temukan pada diri Srintil. Namun, hal itu kemudian harus ia akhiri setelah Srintil memutuskan untuk menjadi ronggeng. Konflik dengan dunia sekitar terjadi ketika Dukuh Paruk sangat mendambakan dan membanggakan sosok ronggeng, sementara Rasus justru mengutuk tokoh seni tersebut di dalam hatinya.

RDP mengisahkan bagaimana perjuangan tokoh utama, yaitu Rasus

(13)

kehidupan para tokohnya dalam menjalani kehidupan. Tokoh Srintil serta sistem nilai yang mengelilinginya hadir mewakili dunia perempuan yang mempunyai peran atau bahkan kewajiban alami sebagai penyeimbang bagi dunia lelaki.

Novel RDP karya Ahmad Tohari tidak hanya menceritakan konflik batin tokoh utamanya saja, akan tetapi menceritakan bagaimana seorang ronggeng menjalankan ritual terakhirnya. Dari cerita novel di atas akan dicari peristiwa-peristiwa yang berhubungan langsung dengan konflik batin yang dialami oleh tokoh utama dalam novel tersebut. Novel ini banyak memiliki cerita di masa lalu tentang masyarakat Indonesia, yang nantinya bisa dijadikan materi pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di sekolah yaitu, tentang nilai-nilai kebudayaan dalam masyarakat, maupun unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik di dalam novel tersebut.

B. Identifikasi Masalah

Identifikasi masalah yang memungkinkan menjadi pembahasan suatu penelitian mencakup seluruh variabel karya sastra yang meliputi:

1. Perlunya pembahasan tentang struktur novel RDP.

2. Perlunya pembahasan tentang konflik batin tokoh utama RDP.

3. Perlunya pembahasan tentang Peran tokoh dalam novel sebagai inspirasi siswa di Mts Al-Mansuriyah

4. Perlunya pembahasan tentang implikasi RDP dalam pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di Mts Al-Mansuriyah.

C. Batasan Masalah

Dalam penelitian sastra, melalui kegiatan analisis sebuah karya sastra, tidak harus meliputi keseluruhan aspek yang terkandung dalam karya tersebut, melainkan dapat dibatasi, oleh karena itu, peneliti membatasi masalah pada Konflik Batin Tokoh Utama dalam Novel Ronggeng Dukuh Paruk Karya Ahmad Tohari Serta Implikasinya Terhadap Pengajaran Bahasa

(14)

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan dari penelitian ini adalah: 1. Bagaimanakah konflik batin yang dialami tokoh utama RDP?.

2. Bagaimanakah implikasi novel dalam pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di Mts Al-Mansuriyah?.

E. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah:

1. Mendeskripsikan karakter tokoh dalam novel RDP.

2. Mendeskripsikan konflik batin yang dialami oleh tokoh utama dalam novel RDP.

3. Mendeskripsikan implikasi novel dalam pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia.

F. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dalam aspek cakupan, aspek teoretis maupun praktis. Manfaat teoretis penelitian ini dapat diharapkan memperluas pengetahuan tentang sastra Indonesia, khususnya dalam pembelajaran sastra di sekolah. Penelitian ini juga diharapkan mampu memberi sumbangan dalam kajian psikologi sastra dalam mengungkapkan novel RDP karya Ahmad Tohari. Sedangkan secara praktis penelitian ini diharapkan dapat membantu pembaca untuk lebih memahami isi cerita dalam novel RDP karya Ahmad Tohari, terutama menguraikan yang dipentasikan dalam karyanya, dengan menggunakan lintas disiplin ilmu, yaitu psikologi dan sastra.

G. Metodologi Penelitian

(15)

metode apa yang akan digunakan dalam penelitian yang akan dilaksanakan. Metode merupakan rancangan menyeluruh untuk menyajikan pembahasan secara teratur, tak ada bagian yang bertentangan, dan semuanya berdasarkan pada asumsi pendekatan.

Metode yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif, yaitu metode yang secara keseluruhan memanfaatkan cara-cara penafsiran dengan menyajikannya dalam bentuk deskriptif, dengan model kajian ini berdasarkan penelitian multi disiplin psikologi sastra, jadi penelitian ini berupaya memaparkan suatu peristiwa secara rinci, cermat, sistem matis, dan faktual mengenai Konflik Batin Tokoh Utama Dalam Novel RDP Karya Ahmad Tohari Serta Implikasi Terhadap Pengajaran Bahasa dan

Sastra Indonesia di Mts Al-Mansuriyah, Kec. Pinang, Kota Tangerang.

Dengan demikian, laporan penelitian berisi kutipan-kutipan data dan interpretasi untuk memberi gambaran penyajian laporan tersebut.Dalam penelitian ini, data yang dikumpulkan berupa kutipan kata, kalimat, dan wacana dari novel RDP karya Ahmad Tohari.

Hal-hal yang perlu dipaparkan dalam penelitian ini meliputi objek penelitian, data dan sumber data, teknik pengumpulan data, dan teknik analisis data.

1. Objek Penelitian

Sesuai dengan tujuan penelitian, yang menjadi objek penelitian ini adalah Konflik Batin Tokoh Utama dalam Novel RDPKarya Ahmad Tohari Serta Impliksinya Terhadap Pengajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di Mts Al-Mansuriyah Kec. Pinang, Kota Tangerang.

2. Data dan Sumber Data Penelitian

a. Data

Data adalah keterangan yang benar dan nyataatau bahan nyata yang dapat dijadikan dasar kajian (analisis atau kesimpulan)1. Data meliputi semua keterangan yang dicari dan dikumpulkan oleh peneliti untuk memberikan jawaban terhadap masalah yang akan dikaji. Data

1

(16)

penelitian ini berupa kutipan-kutipan kata, kalimat, dan wacana yang terdapat dalam novelRonggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari yang di dalamnya terkandung konflik batin tokoh utama.

b. Sumber Data

Sumber data penelitian ini dibagi menjadi dua, yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder.

1) Sumber Data Primer

Sumber data primer dalam penelitian ini adalah novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari yang diterbitkan oleh

PT Gramedia Pustaka Utama pada tahun 2011.

2) Sumber Data Sekunder

Sumber data sekunder dalam penelitian ini yaitu buku maupun artikel yang berkaitan dengan penelitian ini dan karya-karya Ahmad Tohari

3. Teknik Pengumpulan Data

Adapun langkah-langkah pengumpulan data dalam novel RDP karya Ahmad Tohari dan yaitu:

a. Membaca novel secara cermat dan teliti tentang konflik batin tokoh utama dalam novel RDP.

b. Mencatat kalimat yang berkaitan dengan struktur novel kalimat yang menggambarkan konflik batin tokoh utama.

c. Hasil dari poin b digunakan sebagai data untuk menganalisis konflik batin dalam novel.

d. Hasil poin c digunakan untuk mengimplikasikan Konflik Batin Tokoh Utama dalam Novel RDP Karya Ahmad Tohari pada Terhadap PembelajaranSastra.

4. Teknik Analisis Data

Adapun langkah-langkah yang digunakan untuk menganalisis data adalah:

(17)

membaca dan memahami kembali data yang sudah diperoleh. Berikutnya mengelompokkan teks-teks yang terdapat dalam novel RDP yang mengandung unsur tema, tokoh dan penokohan, alur, sudut pandang, gaya bahasa, dan amanat.

b. Analisis dengan tinjauan psikologi sastra dilakukan dengan membaca dan memahami kembali data yang diperoleh. Selanjutnya mengelompokkan tek-teks yang mengandung bahasan mengenai konflik batin dalam novel.

(18)

8 BAB II

KAJIAN TEORI

Pada prinsipnya, penelitian tentang, Konflik Batin Tokoh Utama dalam Novel RDP Karya Ahmad Tohari Serta Implikasinya Terhadap Pengajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di Mts Al-Mansuriyah, Kec. Pinang, Kota Tangerang. Ini memanfaatkan kajian yaitu, penelitian bidang pendekatan psikologi meliputi Oedipus komplek, Delir, dan Kecemasan. Oleh sebab itu, perlu diketahui lebih jauh lagi atau lebih seksama tentang tinjauan teori yang relevan dengan penelitian yang akan dilaksanakan.

A. Hakikat psikologi

1. Pengertian Psikologi

Perlu peneliti sampaikan, bahwa telaah karya-karya sastra yang mencerminkan konsep psikologi, agar dapat diselusuri secara komprehensif. Apa yang menjadi latar belakang timbulnya masalah-masalah psikologis dari tokoh di dalam sebuah karya sastra, sehingga dapat dipahami proses dan akibat dari kondisi yang mendorong pencerminan konsep psikologis.

Berbicara mengenai istilah “Psikologi” berasal dari kata Yunani psyche, yang berarti jiwa, dan logos yang berarti ilmu. Jadi psikologi

berarti ilmu jiwa atau ilmu yang menyelidiki dan mempelajari tingkah laku manusia.1 Tingkah laku dan perbuatan manusia mempunyai arti yang lebih konkret daripada “jiwa.” Yang termasuk dalam tingkah laku di sini adalah perbuatan-perbuatan yang terbuka maupun tertutup. Tingkah laku terbuka misalnya berpikir, berkhayal, sedih, bermimpi dan sebagainya. Objek materi psikologi yaitu manusia, karena manusia berkepentingan dengan ilmu ini. Lingkungan yaitu tempat di mana manusia itu hidup,

1 Atkinson, dalam Albertine Minderop, Psikologi Sastra, (Jakarta: Yayasan Pustaka Obor

(19)

menyesuaikan dirinya (beradaptasi) dan mengembangkan dirinya.2 Kadang-kadang tingkah laku itu sifatnya tersembunyi, seperti ditunjukan dengan ketegangan otot, atau pengerutan isi perut.

Tingkah laku manusia dapat dilihat dari gejala-gejala kejiwaan yang pastinya berbeda satu dengan yang lainnya. Pada diri manusia dapat dikaji dengan ilmu pengetahuan yakni psikologi yang membahas tentang kejiwaan. Karya sastra dianggap sebagai hasil aktivitas penulis, yang sering dikaitkan dengan gejala-gejala kejiwaan, seperti: obsesi, kontemplasi, kompensasi, sublimasi, bahkan sebagi neurosis. Oleh karena itulah, karya sastra disebut sebagai salah satu gejala (penyakit) kejiwaan.3 Sastra dan psikologi sama-sama mempelajari hidup manusia. Bedanya, kalau sastra mempelajari manusia sebagai ciptaan imajinasi pengarang, sedangkan psikologi mempelajari manusia sebagai ciptaan ilahi secara riil.4 Dengan demikian, psikologi diartikan sebagai ilmu jiwa atau sebuah kajian yang membicarakan masalah kejiwaan. Namun, dengan suatu perubahan dan perkembangan keduanya menjadi bidang yang mempunyai sedikit berbeda kecenderungan dan penggunaannya dikalangan masyarakat.

Karya sastra yang merupakan hasil kreativitas penulis sering dikaitkan dengan gejala-gejala kejiwaan karena karya sastra merupakan hasil dari penciptaan seorang pengarang yang secara sadar atau tidak sadar menggunakan teori psikologi. Sedangkan asumsi dasar penelitian psikologi antara lain dipengharui oleh beberapa hal. Pertama adanya anggapan bahwa karya sastra merupakan produk dari suatu kejiwaan dan pemikiran pengarang yang berada pada situasi setengah sadar, setelah jelas baru dituangkan ke dalam bentuk secara sadar. Antara sadar dan tidak sadar selalui mewarnai dalam proses imajinasi pengarang. Kekuatan karya

2

Nuraida Zahara, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Lembaga Penelitian Uin Syarif Hidayatullah, 2011), hlm. 6.

3

Nyoman Kutha Ratna, Teori, Metode, dan Penelitian Sastra, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), hlm.62.

4 Ahmad Bahtiar, Metode Penelitian Sastra, (Jakarta: Pujangga Rabani Perss, 2013), hlm.

(20)

sastra dapat dilihat dari seberapa jauh pengarang mampu mengungkapkan ekpresi kejiwaan yang tak sadar itu ke dalam karya sastra yang diciptakannya. Kedua kajian psikologi di sampinh mengkaji perwatakan tokoh secara psikologi, juga aspek-aspek pemikiran dan perasaan jiwa ketika menciptakan karya tersebut.5 Dua hal dasar yang menjadi acuan penelitian sastra tersebut merupakan aspek psikologi pengarang, sehingga kejiwaan dan pemikiran serta perasaan jiwa seorang pengarang sangat mempengharui hasil dari karya sastra tersebut. Pengarang dalam menuangkan ide-idenya ke dalam karya sastra terkadang terjebak dalam situasi tak sadar atau halusinasi yang dapat membelokan rencana pengarang semula. Sastra sebagai gejala kejiwaan yang di dalamnya terkandung kejadiaan atau fenomena-fenomena yang terkait dengan fisikis atau kejiwaan. Dengan demikian, karya sastra dapat didekati dengan menggunakan pendekatan psikologi.

2. Oedipus Kompleks

Istilah “kompleks” (complex) sangat penting dan sering digunakan dalam psikoanalisis. Jadi perlu kiranya dijelaskan lebih dahulu. Suatu kompleks adalah keseluruhan reaksi efektif (tampilan dan kenangan) yang sebagian atau seluruhnya taksadar. Pembentukan suatu “kompleks” terlaksana dari hubungan antarpribadi yang dijalin subjek pada masa kanak-kanaknya, dan hal itu normal saja. Yang bersifat patologis bukanlah “kompleks” itu sendiri, tetapi keadaanya yang terus-menerus berlangsung, melampaui batas stadium yang ditentukan.6

Oedipus kompleks adalah suatu keseluruhan hasrat cinta dan benci yang dirasakan anak terhadap orang tuanya. Oedipus kompleks berkaitan dengan stadium phalus, jadi sekitar tiga sampai lima tahun. Pada anak laki-laki, terpancang libido pada ibu betul-betul terdapat dalam logika kehidupan afektif dan material sebelumnya, tetapi hal itu tidak berlangsung tanpa frustrasi, agresivitas karena tidak mungkin memiliki ibu

5

Suwardi Endraswara, Metodologi Penelitian Sastra, (Yogyakarta: Capes, 2011), hlm.96

6Okke K. S. Zaimar, Psikoanalisis dan Sastra,(Depok: Pusat Penelitian Kemasyrakatan dan

(21)

secara total (adanya bapak, saudara laki-laki, dan saudara perempuan). Agresivitas itu membangkitkan perasahan bersalah yang dapat menimbulkan kecemasan yang dapat dikemukakan melalui proses taksadar (mimpi, fantasme) maupun melalui tindakan yang tidak biasa.7 Sedangkan menurut Freud Oedipus compleks adalah masa ketika seorang anak laki-laki secara normal menunjukan rasa erotikanya kepada ibunya.8 Dengan demikian menurut peneliti Oedipus complex merupakan rasa kasih dan sayang serta perhatian dari seorang ibu yang harus diberikan kepada seorang anak yang masih anak-anak.

3. Delir

Delir adalah gangguan kejiwaan yang menyebabkan penderitanya memberi kepercayaan yang sama besar pada ciptaan imajinasi, khayalan maupun persepsi nyata sehingga si penderita membiarkan kelakuannya dibelokan atau diarahkan oleh apa saja yang timbul dalam khayalannya.9 Gejala delir biasanya berupa khayalan yang dipercaya oleh penderita sebagai kenyataan atau biasanya berupa tindakan-tindakan yang diakibatkan oleh kepercayaan pada khayalan.

4. Kecemasan

Situasi apa pun yang mengancam kenyamana suatu organisme diasumsikan melahirkan suatu kondisi yang disebut anxitas. Salah satu sumber anxitas adalah berbagai konflik dan bentuk prustasi yang menghambat kemajuan individu untuk mencapai tujuan.

Freud membagi kecemasan dalam tiga jenis: kecemasan tentang kenyataan /kecemasan objektif merupakan respon realistis ketika seorang merasakan bahaya dalam suatu lingkungan. Kecemasan neurotik berhasal dari konflik alam bawah sadar dalam diri individu, karena konflik tersebut tidak disadari, orang tersebut tidak menyadari alasan dari kecemasan tersebut. Kecemasan moral yang sumber ancamanya adalah hati nurani

7

Ibid, hlm. 34-35

8 Minderop, Op. Cit, hlm. 101 9

(22)

dan sistem superego.10 Kebanyakan dari pulsi tersebut mengancam individu yang disebabkan oleh pertentangan nilai-nilai personal atau berseberangan dengan nilai-nilai dalam suatu masyarakat. Misalnya perasaan tidak senang seorang anak kepada orang tuanya yang bertentangan dengan keharusan anak mencintai orang tuanya, mengakui perasan sesungguhnya akan mengakibatkan kecemasan bagi si anak karena akan menghancurkan konsep diri sebagai anak baik dan mengancam posisinya karena akan kehilangan kasih sayang dan dukungan orang tua.

B. Hakikat Novel

1. Pengertian Novel

Novel adalah jenis prosa yang mengandung unsur tokoh, alur, latar rekaan yang menggelarkan kehidupan manusia atas dasar sudut pandang pengarang dan mengandung nilai hidup, diolah dengan teknik kisahan dan ragaan yang menjadi dasar konvensi penulisan.11 Dengan demikian, novel dapat diartikan oleh pengarang sebagai karya rekaan dan dinikmati oleh pembaca dengan memperhatikan konvensi sastra, bahasa, dan budaya yang ada. Di dalam suatu novel, seorang sastrawan mengutarakan pengalaman lewat perasaan dan pikiran kepada para pembaca lewat penceritaan.

Dari penjabaran di atas, dapat diambil suatu kesimpulan bahwa novel adalah suatu bentuk karya sastra seoarang sastrawan yang disampaikan melalui tulisan berupa pikiran dan perasaan kepada para pembaca dengan bahasa sebagai mediumnya. Para pembaca sebagai penikmat karya sastra karya sastra maka harus memahami karya sastra yang ditulis oleh pengarang, cara ini agar menghindari salah penafsiran dan pemahaman suatu karya sastra.

Novel RDP merupakan salah satu jenis karya sastra yang menyimpan unsur kenyataan dari pengalaman hidup seorang pengarang atau orang lain yang disampaikan melalui sebuah karyanya. Dengan

10Minderop, Op. Cit, hlm. 28 11

(23)

menukil sebuah tema konflik batin yang dialami oleh tokoh yang ada dalam novel tersebut, ini sebagai bahan informasi dan daya tarik untuk pembaca.

2. Jenis Novel

Dalam dunia kesusastraan, ada usaha mengelompokan sebuah karya sastra yang berbentuk prosa, yaitu novel, tidaklah mudah seperti kita membalikan telapak tangan. Ini semua harus ada unsur subjektivitas dari kritikus, dan campur tangan pengarang dan penerbit. Akan tetapi, terlepas dari pendapat di atas, mengelompokan sebuah karya sastra, yaitu novel dibedakan menjadi dua, yaitu novel popular dan novel serius, meskipun mengelompokkan tersebut masih kabur dikarenakan batas-batas pemisahannya kurang jelas.

a. Novel populer

Kehadiran novel-novel populer di Indonesia sudah ada sejak perkembangan kesusastraan Indonesia. Kehadiran novel-novel terbitan swasta baik yang diproduksi komunitas Tionghoa peranakan dan kaum pergerakan yang kemudian pemerintah kolonial mendirikan Balai Pustaka merupakan awal kehadiran novel-novel populer di Indonesia.12 Novel populer mulai merebak dikalangan masyarakat dan sangat digemari khususnya bagi remaja, sesudah suksesnya novel Karmila dan Cintaku di Kamupus Biru. Pada tahun 70-an dan mulai bermunculan

industri-industri baik media massa dan penerbitan. Pada masa itu pula menjamurnya majalah-majalah wanita. Dalam hal ini, faktor sosial, politik, dan ekonomi yang merupakan sebagai pendukung yang penting. Tema yang ditulis umumnya masih berkisar tentang cinta yang serba manis. Namun, beberapa pengarang laki-laki seperti Ashadi Siregar, Teguh Esha, Remy Silado, Yudhistira Ardinugraha, dan Eddy D. Iskandar mencoba memasukkan protes sosial, dalam novelnya. Novel

12 Rosida Erowati, dan Bahtiar, Sejarah Sastra Indonesia, (Jakarta: Lembaga Penelitian

(24)

ini memberikan informasi dan masalah-masalah yang aktual dan menzaman, namun hanya sampai pada tingkat awalan saja.

Novel populer merupakan jenis sastra populer yang menyuguhkan problema kehidupan yang berkisar pada cinta asmara yang bertujuan menghibur. sebagai sastra literer.

b. Novel Serius

Novel serius lebih dominan menampilkan yang baru, dengan cara pengucapan yang baru juga. Di dalam novel ini unsur kebaruan yang diutamakan, baik dari bahan bacaan dan gagasan yang diungkap kembali dengan cara dan gaya bahasa yang khas, ini yang harus diperhatiakan dalam kesusatraan. Secara singkat dapat dikatakan, bahwa tujuan kehadiran atau penciptaan karya serius adalah untuk memberi peluang bagi pembaca mengimajinasi dan memahami pengalaman manusia.13

Novel serius mengambil sebuah kenyataan hidup sebagai model, kemudian menciptakan sebuah “dunia baru” dengan menapilkan cerita dan tokoh-tokoh dalam situasi yang khusus. Novel serius menuntut aktivitas pembaca secara lebih serius, menuntut pembaca untuk “mengoprasikan” daya intelektualnya. Pembaca diuntut untuk ikut merekontruksikannya duduk persoalan masalah dan hubungan antartokoh. Walau hal yang demikian juga ditemui dalam novel popular, teks kesusastraan menuntut aktivitas yang lebih besar. Teks kesusastraan sering mengemukakan sesuatu secara inplisit, sehingga hal itu boleh jadi “menyibukan” pembaca, dan pembaca haruslah mengisi sendiri bagian-bagian yang kosong tersebut, (ingat: peran pembaca implisit „Implicit reader‟) untuk merekontruksi cerita.14

Dengan demikian RDP bisa dikatakan termasuk novel serius. Novel ini termasuk jenis teks sastra yang menuntut pembacanya agar

13

M. Atar Semi, Anatomi Sastra, (Padang: Angkasa Raya Padang, 1990), hlm.71

14 Nurgiantoro,Teori Pengkajian Fiksi, (Yogyakarta: Gajah Mada University Perss,

(25)

lebih memperhatikan untuk ikut serta merekontruksikan permasalahan yang ada di dalam novel, sehingga membutuhkan peran serta aktivitas yang lebih besar saat membaca dan mengkajinya.

3. Unsur Novel

Sebuah karya sastra yang jadi, diibaratkan seperti sebuah bangunan, cerita yang mempunyai struktur atau unsur-unsur yang membangun sebuah karya sastra yang ikut mempengaruhi kehadiran karya sastra tersebut.15 Struktur luar dan struktur dalam merupakan unsur atau bagian yang secara fungsional berhubungan satu sama lainnya. Apabila kedua unsur tersebut tidak mempunyai hubungan maka ia tidak dapat dinamakan struktur. Struktur karya sastra secara garis besarnya dibagi atas dua bagian, yaitu struktur luar (ektrinsik} dan struktur (intrinsik). Pembagian tersebut dimaksudkan untuk mengkaji novel, serta karya sastra pada umumnya.

a. Unsur Ekstrinsik

Unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang berada di luar karya sastra, tetapi secara tidak langsung mempengaruhi bagunan sistem organisme karya sastra. Atau, secara lebih khusus ia dapat dikatakan sebagai unsur-unsur yang mempengaruhi bagunan cerita sebuah karya sastra, namun sendiri tidak ikut menjadi bagian di dalamnya. Walaupun demikian, unsur ekstrinsik cukup berpengaruh (untuk tidak dikatakan: cukup menentukan) terhadap totalitas bangunan cerita yang dihasilkan. Oleh karena itu, unsur ini tetap dipandang sebagai suatu yang penting juga.

Ada beberapa unsur ekstrinsik di luar dari karya itu sendiri. Unsur yang dimaksud antara lain biografi pengarang, buah pikiran pengarang, serta latar sosial-budaya yang dapat mendukung kehadiran karya sastra. ini berarti menunjukan bahwa karya sastra lahir tanpa adanya kekosongan budaya.

15

(26)

b. Unsur Intrinsik

Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun suatu sebuah karya sastra itu sendiri. Unsur-unsur inilah yang menyebabkan karya sastra hadir sebagai karya sastra imajinasi seorang pengarang. Unsur-unsur secara faktual akan dijumpai jika orang membaca karya sastra. unsur intrinsik sebuah novel adalah unsur-unsur yang (secara langsung) turut serta membangun cerita kepaduan antar-berbagai unsur intrinsik inilah yang membuat sebuah novel berwujud.16

Adapun unsur yang termasuk dalam karya ini adalah tema, tokoh dan penokohan, alur (plot), sudut pandang, latar (setting), gaya bahasa, serta amanat. Unsur ini akan dijumpai dalam novel saat kita membacanya.

1) Tema

Tema adalah ide, gagasan, pandangan hidup pengarang yang melatarbelakangi ciptaan karya sastra.17 Ketika seorang membaca sebuah novel tidak hanya bertujuan semata-mata mencari dan menikmati kehebatan dari cerita tersebut, maka akan tersirat suatu pernyataan yang sederhana. Apa sebenarnya yang ingin diungkapkan pengarang lewat cerita ini?. Menanyakan makna sebuah karya, sebenarnya, juga mempertanyakan tema. Setiap karya fiksi tentulah mengandung dan menawarkan tema. Namun isi tema itu sendiri tidak mudah ditunjukan. Ia harus dipahami dan ditafsirkan melalui cerita dan data-data (unsur-unsur pembangun cerita) yang lain, dan itu merupakan kegiatan yang sering tidak mudah dilakukan.

Unsur tokoh (dan penokohan), plot, latar, ini merupakan menjadi padu dan bermakna jika diikat oleh sebuah tema. Tema merupakan bersifat memberi koherensi dan makna terhadap keempat unsur tersebut dan juga berbagai unsur fiksi yang lain. Dengan

16

Ibid, hlm. 23.

17 Zainuddin Fananie, Telaah Sastra, (Surakarta: Muhammadiyah Unipersity Perss

(27)

demikian, tokoh-tokoh cerita dalam sebuah novel yang bertugas untuk menyampaikan tema yang dimaksudkan oleh pengarang.

Kata tema sering kali disamakan dengan pengertian topik; padahal kedua istilah itu mengandung pengertian yang berbeda. Topik berarti pokok pembicaraan sedangkan tema merupakan suatu gagasan sentral, sesuatu yang hendak diperjuangkan dalam fiksi. Tema sering juga disebut ide atau gagasan yang menduduki tempat utama dalam pikiran pengarang dan sekaligus menduduki tempat utama cerita. Serangkaian pernyataan di atas bahwa tema merupakan sesuatu ide atau gagasan yang telah diuraikan pada tempatnya oleh seorang pengarang.

Tema adalah gagasan utama atau pikiran pokok.18 Jadi dengan demikian tema merupakan suatu pikiran yang akan

diungkapkan oleh seorang pengarang yang akan ditemui oleh setiap pembaca. Tema merupakan aspek cerita yang sejajar dengan makna dalam pengalaman manusia; sesuatu yang menjadikan suatu pengalaman begitu diingat. Ada banyak cerita yang menggambarkan dan menelaah kejadian atau emosi yang dialami seperti cinta, derita, rasa takut, kedewasaan, keyakinan penghianatan manusia terhadap diri sendiri, atau bahkan usia tua.19 Dengan demikian, menentukan sebuah tema haruslah membaca secara cermat dan detail dan menelusuri seluruh cerita, sehingga bisa mengetahui yang menjadi terbangunnya sebuah cerita.Terlepas dari masalah di atas, penafsiran tema sebuah novel memang bukan pekerjaan yang mudah.

Walaupun penulisan sebuah novel berdasarkan tema atau ide tertentu. Namun, tema itu sendiri pada umumnya tidak di kemukakan dengan secara eksplisit. Maka dalam usaha menemukan dan menafsirkan tema sebuah novel kita harus memulai dengan cara memahami cerita, mencari kejelasan ide-ide perwatakan,

18

Guntur Tarigan, Menulis Sebagai Keterampilan Berbahasa, (Bandung: Aangkasa, 2008), hlm. 167.

19

(28)

peristiwa konflik, dan latar. Di samping menemukan tema, dengan cara tersebut, sebaiknya juga disertai dengan usaha menemukan konflik sentral yang ada dalam cerita, dengan mengamati secara teliti setiap konflik yang ada di dalamnya. Tema dalam sebuah novel dapat dibagi menjadi beberapa bagian yaitu:

a) Tema Utama atau Tema Mayor

Tema pada hakikatnya merupakan makna yang terkandung dalam sebuah cerita atau secara singkat di sebut makna cerita. Makna cerita pada sebuah fiksi-novel, mungkin saja lebih dari satu, hal inilah yang menyebabkan tidak mudahnya kita menentukan tema pokok cerita, atau tema mayor. Artinya makna pokok cerita yang menjadi dasar atau gagasan dasar umum karya itu).20

Dalam menentukan tema pokok sebuah cerita pada hakikatnya ,antara sejumlah makna yang kita tafsirkan ada dan tersimpan di dalam karya yang bersangkutan.

b)Tema Tambahan atau Tema Minor

Tema minor atau tema tambahan merupakan makna yang terdapat pada bagian-bagian tertentu cerita. Dengan demikian, banyak sedikitnya tema minor tergantung pada banyak sedikitnya makna tambahan yang dapat ditafsirkan dari sebuah cerita novel. Penafsiran makana itu haruslah dibatasi pada makna-makna yang terlihat menonjol, di samping mempunyai bukti-bukti konkret yang terdapat pada karya itu yang dapat dijadikan dasar untuk penunjukan dan penafsiran sebuah makna tertentu pada sebuah karya itu bukannya dilakukan secara ngawur.

Makna-makna tambahan bukan merupakan sesuatu yang berdiri sendiri, terpisah dari makna pokok yang bersangkutan berhubungan sebuah novel yang jadi merupakan satu kesatuan. Makna pokok cerita bersifat merangkum berbagai makna khusus,

20

(29)

makna-makna tambahan yang terdapat pada karya itu. Sebaliknya, makna-makna tambahan itu bersifat mendukung dan mencerminkan makna utama keseluruhan cerita.21 Dengan demikian, makna utama keseluruhan cerita mempunyai hubungan yang sangat erat dengan makna tambahan inilah yang akan memperjelas makna pokok cerita. jadi makna tambahan atau tema minor bersifat mempertegas eksistensi makna utama atau tema mayor.

Adanya penafsiran tema pokok dan tema-tema tambahan dalam sebuah karya pembacalah sebenarnya yang lebih banyak menentukan berdasarkan persepsi, dan pemahaman.

2) Tokoh dan Penokohan

Berbicara tentang masalah tokoh dan penokohan ini merupakan salah satu hal yang penting kehadirannya dalam sebuah karya sastra dan bahkan sangat menentukan, karena tidak akan mungkin ada suatu karya sastra tanpa adanya tokoh yang diceritakan dan tanpa adanya tokoh yang bergerakyang akhirnya membentuk alur cerita. tokoh dan penokohan bisa juga dikatakan sebagai tulang punggung dari suatu cerita sebuah karya sastra. prilaku para tokoh dapat diukur melalui tindak-tanduk ucapan kebiasaan dan sebagainya. Penokohan adalah proses penampilan tokoh dengan pemberian watak, sifat, atau kebiasan tokoh pemeran suatu cerita.22

Sedangkan tokoh cerita biasanya mengemban suatu perwatakan tertentu yang diberi bentuk dan isi oleh pengarang. Perwatakan (karakterisasi)dapat diperoleh dengan memberi gambaran mengenai tindak-tanduk, ucapan atau sejalan tidaknya antara apa yang dikatakan dengan apa yang dilakukan.23 Serangkaian pernyataan di atas jelas menyiratkan bahwa, tokoh dan penokohan merupakan dua hal yang paling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan,

21

Ibid, hlm. 83

22 Zaidan, dkk.,Op. Cit, hlm. 206. 23

(30)

keduanya menjadi pembahasan dalam unsur intrinsik pada sebuah karya sastra yang berbentuk prosa. Tokoh dan penokohan merupakan bagian unsur intrtinsik yang bersama dengan unsur-unsur yang lain membentuk totalitas. Tokoh-tokoh cerita dalam sebuah fiksi-novel dapat dibedakan ke dalam beberapa jenis penamaan berdasarkan perbedaan sudut pandang dan tinjauan.

a) Tokoh Utama dan Tokoh Tambahan

Ketika kita membaca sebuah novel, pasti kita akan dihadapkan sejumlah tokoh yang hadir di dalamnya. Namun, dalam kaitan keseluruhan cerita, peranan masing-masing tokoh berbeda. Dilihat dari peranan atau tingkat pentingnya tokoh dalam sebuah cerita, ada tokoh yang berperan penting dan ditampilkan terus menerus sehingga mendominasi sebagian besar cerita, dan sebaliknya ada tokoh yang dimunculkan sekali atau beberapa kali dalam cerita.

Tokoh utama adalah tokoh yang diutamakan penceritaannya dalam novel yang bersangkutan.24 Dengan demikian tokoh utama merupakan tokoh yang paling banyak diceritakan, baik sebagai pelaku kejadian maupun yang dikenai kejadian. Karena tokoh utama paling banyak diceritakan dan selalu berhubungan dengan tokoh lain, maka ia sangat menentukan perkembangan plot secara keseluruhan.

Munculnya tokoh tambahan dalam keseluruhan cerita lebih sedikit, tidak dipentingkan, dan kehadirannya hanya jika ada keterkaitannya dengan tokoh utama, secara langsung ataupun tak langsung.

b)Tokoh Protagonis dan Tokoh Antagonis

Jika dilihat dari peran tokoh dalam pengembangan alur cerita atau plot dapat dibedakan tokoh utama dan tokoh tambahan,

24

(31)

dan jika dilihat dari pungsi penampilan tokoh dapat dibedakan yaitu: tokoh protagonis dan tokoh antagonis.

Tokoh protagonis adalah tokoh yang dikagumi yang salah satu jenisnya secara popular disebut hero tokoh yang merupakan pengejawantahan norma-norma dan nilai yang ideal bagi kita.25 Serangkaian pernyataan di atas tokoh protagonis merupakan menampilkan sesuatu yang sesuai dengan pandangan dan harapan kita, sebagai pembaca.Maka, kita harus mengenalinya sebagai memiliki kesamaan dengan kita, permasalahan yang dihadapinya seolah-olah juga sebagai permasalahan kita.

Sebuah fiksi-novel harus mengandung konflik, ketegangan, khususnya konflik dan ketegangan yang dialami oleh tokoh protagonis. Tokoh antagonis yang menjadi penyebab terjadinya konflik.

c) Tokoh Sederhana dan Tokoh Bulat

Berdasarkan perwatakannya, tokoh cerita dapat dibedakan ke dalam tokoh sederhana dan tokoh bulat. Pengkatagorian seorang tokoh ke dalam sederhana atau bulat haruslah didahului dengan analisis perwatakan.Tokoh sederhana, dalam bentuknya yang asli, adalah tokoh yang hanya memiliki satu kualitas pribadi tertentu, satu sifat-watak yang tertentu saja.26 Dengan demikian, sebagai seorang tokoh manusia, ia tak diungkap berbagai kemungkinan sisi kehidupan Sifat dan tingkah laku seorang tokoh sederhana bersifat datar, monoton hanya mencerminkan satu watak tertentu.

Tokoh sederhana dapat saja melakukan berbagai tindakan, namun semua tindakannya itu dapat dikembalikan pada perwatakan yang dimiliki dan yang telah diformulakan itu.

25

Altenbernd dan Lewis, dalam Nurgiantoro, Teori Pengkajain Fiksi, (Yogyakarta: Gajah Mada University Perss, 1995), hlm. 178.

26

(32)

Dengan demikian, seorang pembaca dengan mudah memahami watak dan tingkah laku tokoh sederhana.

Tokoh bulat adalah tokoh yang memiliki dan diungkap berbagai kemungkinan sisi kehidupannya, sisi kepribadiannya dan jati dirinya. Ia dapat saja memiliki watak tertentu yang dapat diformulasikan, namun ia pun dapat pula menampilkan watak dan tingkah laku bermacam-macam, bahkan mungkin bertentangan dan suit diduga.27 Ada juga yang mengatakan bahwa tokoh bulat adalah tokoh cerita yang sifatnya mempunyai lebih dari satu dimensi.28 Dengan demikian, tokoh bulat tokoh yang sulit dipahami dan kurang akrap serta kurang dikenal kadang-kadang tingkah lakunya sering tak terduga memberikan efek kejutan kepada pembaca.

3) Alur (Plot)

Alur atau plot adalah struktur rangkaian kejadian dalam cerita yang disusun sebagai sebuah interrelasi fungsional yang sekaligus menandai urutan bagian-bagian dalam keseluruhan fiksi.29 Serangkaian pernyataan di atas jelas menyiratkan bahwa, alur merupakan perpaduan unsur-unsur yang membangun cerita sehingga menjadi kerangka utama. Dalam pengertian ini, alur merupakan rangkaian-rangkaian cerita yang menjadi tempat lewatnya rentetan suatu peristiwa. Alur merupakan kerangka dasar yang penting dan alur juga bisa dikatakan sebagai tulang punggung cerita.

Kejadian peristiwa dalam cerita dipengaruhi dan dibentuk beberapa hal karakter tokoh, pikiran atau suasana hati sang tokoh, latar, waktu dan suasana lingkungan. Unsur alur yang penting yaitu, konflik dan klimaks. Di dalam novel terdiri dari konflik internal, yaitu pertentangan dua keinginan dalam diri seorang tokoh. Dan konflik eksternal yaitu konflik antara satu tokoh dengan tokoh yang

27

Ibid, hlm. 183.

28Zaidan, dkk., Op. Cit, 206. 29

(33)

lain. Ada yang mendeskripsikan bahwa plot atau alur, kadang-kadang disebut juga jalan cerita, ialah struktur rangkaian kejadian dalam cerita yang disusun secara logis. Plot atau alur dibangun oleh beberapa peristiwa yang biasa disebut alur. Unsur-unsur alur meliputi perkenalan, pertikaian, perumitan, klimaks, peleraian, akhir.Unsur-unsur alur tidak selalu berurutan, tetapi ada yang dari tengah dulu, lalu ke peristiwa awal, kemudian berakhir. Ada pula yang dari akhir terus menuju ke tengah kemudian sampai ke awal.30

Dengan demikian, dari kedudukan unsur-unsur inilah, maka ada yang disebut alur maju, alur mundur, dan alur maju mundur atau alur campuran.

4) Latar (Setting)

Sebuah karya fiksi-novel, pada hakikatnya kita berhadapan dengan dunia, yang sudah dilengkapi dengan tokoh dan permasalahan. Namun, tentu saja hal itu kurang lengkap sebab tokoh dengan berbagai pengalaman kehidupannya itu memerlukan ruang lingkup, tempat dan waktu. Setiap suatu peristiwa terjadi pasti ada tempat, waktu, hari, tahun, bahkan musim kejadian. Begitu juga dengan halnya latar atau setting sebagai unsur intrinsik dalam sebuah karya sastra memerlukan ruang, tempat, waktu, dan sosial sebagaimana kehidupan manusia di dunia nyata. Kadang-kadang pembaca tidak terlalu memperhatikan latar, karena lebih terserap asik dan dengan asiknya jalan cerita.

Latar memberikan pijakan cerita secara konkret dan jelas. Hal ini sangat penting untuk memberikan kesan realistis kepada pembaca, seakan menciptakan suasana sungguh-sungguh ada dan terjadi.31

Pelukisan latar dapat dilakukan dengan cara sejalan dan dapat pula digambarkan secara kontras. Maksud penggambaran ini untuk

30

Widjojoko dan Hidayat, Teori dan Sejarah Sastra Indonesia, (Bandung: Upi Press, 2006), hlm.46-47.

31

(34)

menunjang suasana cerita.latar memberikan pijakan cerita secara konkret dan jelas. Hal ini penting untuk memberikan kesan realistis kepada pembaca, menciptakan suasana tertentu yang seolah-olah dan sungguh-sungguh ada dan terjadi, dengan demikian merasa dipermudah untuk mengoperasikan daya imajinasinya di samping dimungkinkan untuk berperan serta secara kritis sehubungan dengan pengetahuannya tentang latar. Akan tetapi, tidak semua karya sastra menunjukan ketiga latar tempat, waktu, maupun sosial. Mungkin bisa saja dalam sebuah cerita yang paling menonjol adalah latar waktu maupun tempat dan ada juga yang paling dominan adalah latar sosial dan budaya.

a) Latar Tempat

Latar tempat menyaran pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi.unsur tempat yang dipergunakan mungkin berupa tempat-tempat dengan nama tertentu, dan inisial tertentu. Penggunaan latar tempat dengan nama tertentu haruslah mencerminkan, atau paling tidak tak bertentangan dengan sifat dan keadaan geografis tempat yang bersangkutan. Untuk dapat mendeskripsikan suatu tempat secara meyakinkan pengarang harus menguasai situasi geografis lokasi yang bersangkutan. Namun, tidak semua latar tempat digarap secara teliti dalam berbagai fiksi, novel, cerpen.Latar hanya sekedar terjadinya peristuiwa, dan kurang mempengaruhi perkembangan alur dan tokoh. Latar tempat dalam sebuah novel biasanya meliputi berbagai lokasi, ia akan berpindah-pindah tempat sejalan dengan perkembangan plot dan tokoh.

b)Latar Waktu

(35)

waktu faktual, waktu yang ada kaitannya atau dapat dikaitkan dengan peristiwa sejarah.32

Latar waktu dalam sebuah novel dapat menjadi dominan dan fungsional jika digarap secara teliti, terutama jika dihubungkan dengan waktu sejarah. Namun, hal itu membawa juga sebuah konsekuensi, suatu yang diceritakan itu harus sesuai dengan perkembangan sejarah, dan pengangkatan unsur sejarah ke dalam karya fiksi akan menyebabkan waktu yang diceritakan menjadi bersifat khas, tipikal, dan dapat menjadi sangat fungsional, sehinnga tak dapat diganti dengan waktu yang lain tanpa mempengaruhi perkembangan cerita. Akhirnya, latar waktu juga dikaitkan dengan latar tempat karena pada kenyataannya memang saling berkaitan.

c) Latar Sosial

Latar sosial menyaran pada hal-hal yang berhubungan dengan prilaku kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi.33 Dengan demikian latar sosial merupakan tata cara kehidupan masyarakat yang mencakup berbagai pandangan hidup, cara berpikir, dan bersikap di lingkungan masyarakat itu sendiri.

Latar sosial merupakan bagian latar secara keseluruhan. Jadi latar sosial berada dalam kepadauan dengan unsur latar yang lain, yaitu unsur tempat dan waktu. Ketiga unsur tersebut dalam satu kepaduan jelas akan menyaran pada makna yang lebih khas dan meyakinkan dari pada secara sendiri-sendiri.

5) Sudut Pandang

Sudut pandang (point of view) adalah posisi fisik, tempat pesona/pembicara melihat dan menyajikan gagasan-gagasan atau peristiwa; merupakan persepektif/ pemandangan fisik dalam ruang

32Ibid, hlm. 230 33

(36)

dan waktu yang dipilih oleh penulis bagi personanya, serta mencakup kualitas-kualitas emosional dan mental persona yang mengawasi sikap dan nada. Sudut pandang merupakan salah satu unsur karya sastra yang dikatagorikan sebagai sarana cerita, kehadiran sudut pandang harus diperhitungkan, sebab sudut pandang akan mempengaruhi terhadap penyajian cerita. Sudut pandang pada dasarnya merupakan strategi, teknik, siasat, yang secara sengaja dipilih oleh pengarang untuk mengemukakan gagasan dan ceriteranya untuk menampilkan pandangan hidup dan tapsirannya terhadap kehidupan yang semua ini disalurkan melalui sudut pandang tokoh.34 Maka dari sinilah pengarang akan memainkan peranan seorang tokoh untuk memaparkan dalam suatu cerita. Dengan demikian, segala sesuatu yang dikemukakan oleh pengarang disalurkan melalui sudut pandng tokoh.

Ada beberapa sudut pandang, tetapi semuanya tergantung dari mana sudut pandang tersebut dilakukan. Di bawah ini jenis-jenis sudut pandang yang dipaparkan oleh Nurgiantoro.

a) Sudut Pandang Persona Ketiga: “Dia”

Pengisahan cerita yang mempergunakan sudut pandang persona ketiga, gaya “dia”, narator adalah seorang yang berada di luar cerita yang menampilkan tokoh-tokoh cerita dengan menyebut nama, atau kata gantinya; ia, dia, mereka. Nama-nama tokoh cerita, khususnya yang utama, kerap atau terus menerus disebut, dan sebagai variasi dipergunakan kata ganti.35 Hal ini untuk mempermudah pembaca untuk mengenali siapa tokoh yang diceritakan atau siapa yang bertindak. Misalnya, Srintil, Kartareja, Sakarya, dan sakum dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk.

Dalam adegan percakapan antartokoh banyak terdapat penyebutan “aku”, seperti juga “engkau”, sebab tokoh-tokoh

34

Albertine Minderop, Metode Karakterisasi Telaah Fiksi, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2005), hlm.88

35

(37)

“dia” tersebut oleh narator sedang dibiarkan untuk mengungkapkan diri sendiri. Cerita yang dikisahkan secara berselang-seling antara showing dan telling, narasi dan dialog, menyebabkan cerita menjadi lancar, hidup, dan natural. Hal inilah antara lain yang merupakan kelebihan teknik sudut pandang “dia”.36

Sudut pandang “dia” dapat dibedakan ke dalam dua golongan berdasarkan tingkat kebebasan dan keterkaitan pengarang terhadap bahan ceritanya. Di satu pengarang, narator, dapat bebas menceritakan segala sesuatu yang berhubungan dengan tokoh “dia”, jadi bersifat mahatahu, di lain pihak ia terkait, mempunyai keterbatasan “pengertian” terhadap tokoh “dia” yang di ceritakan itu, jadi bersifat terbatas, hanya selaku pengamat saja.

Serangkaian pernyataan di atas jelas menyiratkan bahwa sudut pandang “dia” terletak pada seorang narator yang ada di luar cerita yang menampilkan tokoh-tokoh cerita dengan menyebut nama, atau kata ganti. Hal ini semuanya untuk mempermudah bagi pembaca.

1) “Dia Mahatahu”

Dalam sudut pandang ini, cerita dikisahkan dari sudut “dia”, namun pengarang, narator dapat menceritakan apa saja hal-hal yang menyangkut tokoh “dia” tersebut. Narator mengetahui segalanya, ia bersipat mahatahu.37 Dalam teknik mahatahu tersebut bahwa narator mampu menceritakan sesutau baik yang bersifat fisik, dapat diindra, maupun sesuatu yang hanya terjadi dalam hati dan pikiran tokoh, bahkan lebih dari seorang tokoh.

36Ibid, hlm. 257 37

(38)

Serangkaian pernyataan di atas jelas menyiratkan bahwa sudut pandang mahatahu menunjukan betapa kuatnya teknik “dia” mahatahu untuk mengisahkan sebuah cerita. Ia merupakan teknik yang paling natural dari semua teknik yang ada, dan sekaligus dikenal sebagai teknik yang memiliki fleksibilitas yang tinggi.

2) “ Dia” Terbatas

Dalam sudut pandang “dia” terbatas, seperi halnya dalam “dia”mahatahu, pengarang melukiskan apa yang dilihat, didengar, dialami, dipikir, dan dirasakan oleh tokoh cerita namun terbatas hanya pada seorang tokoh saja.

Dalam teknik “dia” terbatas sering juga dipergunakan teknik narasi aliran kesadaran yang menyajikan kepada pembaca pengamatan-pengamatan luar yang berpengaruh terhadap pikiran, ingatan, dan perasaan yang membentuk kesadaran total pengamatan.38 Dengan demikian sudut pandang “dia” terbatas sebagai pengamatan yang benar-benar objektif, narator bahkan yang hanya dapat melaporkan segala sesuatu yang dapat dilihat dan didengar, atau yang dapat dijangkau oleh indra. Namun, walaupun Cuma melaporkan harus diperhitungkn, khususnya dalam ketelitian mencatat dan mendeskripsikan suatu peristiwa.

b) Sudut Pandang Persona Pertama; “Aku”

Dalam pengisahan cerita yang menggunakan sudut pandang ini terletak pada seorang narator yang ikut terlibat dalam cerita. Jika dalam sudut pandang “dia” mahatahu narator bebas melukiskan apa saja dari tokoh yang satu ke tokoh yang lain, dalam sudut pandang “aku” sifat kemahatahuannya terbatas. Sudut pandang persona pertama dapat di bedakan ke dalam dua

38

(39)

golongan berdasarkan peran dan kedudukan “aku” dalam cerita. “aku” mungkin menduduki peran utama, jadi tokoh utama protagonist, mungkin hanya menduduki peran tambahan, jadi tokoh tambahan protagonis, atau berlaku sebagai saksi.

1) “Aku” Tokoh Utama

Dalam sudut pandang teknik ini, si “aku” mengisahkan berbagai peristwa dan tingkah laku yang dialaminya, baik yang bersifat batiniah, dalam diri sendiri, hubungannya dengan sesuatu yang di luar dirinya.39 Sudut pandang “aku” ini menjadi tokoh utama cerita praktis menjadi tokoh protagonis. Tokoh “aku” dapat dipergunakan untuk melukiskan serta membeberkan bebagai pengalaman kehidupan manusia yang paling dalam dan rahasia sekalipun. Dengan demikian, sudut pandang aku tentu saja punya nama, namun karena ia mengisahkan pengalaman sendiri, nama itu jarang disebut

2) “Aku” Tokoh Tambahan

Dalam sudut pandang ini tokoh “aku” muncul bukan sebagai tokoh utama, melainkan sebagai tokoh tambahan.Tokoh “aku” hadir untuk membawakan cerita kepada pembaca, sedang tokoh cerita yang dikisahkan itu kemudian dibiarkan untuk mengisahkan sendiri berbagai pengalamannya. Tokoh cerita yang dibiarkan berkisah sendiri itulah yang kemudian menjadi tokoh utama, sebab dialah yang lebih banyak tampil, membawakan berbagi peristiwa, tindakan, dan berhubungan dengan tokoh-tokoh lain. Setelah cerita tokoh utama habis, “aku” tambahan tampil kembali, dan dialah kini yang berkisah.40Dengan demikian “aku “ hanya tampil sebagai

39Ibid, hlm. 263 40

(40)

saksi saja. Saksi terhadap berlangsungnya cerita yang ditokohi oleh orang lain.

c) Sudut Pandang Campuran

Penggunaan sudut pandang dalam sebuah novel mungkin saja lebih dari satu teknik seorang pengarang dapat berganti-ganti dari teknik yang satu ke teknik yang lain. Semuanya itu tergantung kepada kemauan pengarang untuk menciptakan sebuah kreativitas dalam karyanya. Penggunaan sudut pandang yang bersipat campuran itu di dalam sebuah novel, mungkin berupa penggunaan sudut pandang persona ketiga dengan teknik „dia” mahatahu dan “dia” sebagai pengamat persona pertama dengan teknik “aku” sebagai tokoh utama dan “aku” tambahan atau sebagai pertama dan saksi, bahkan dapat berupa campuran antara persona pertamadan ketiga, antara “aku” dan “dia” sekaligus.

6) Gaya Bahasa

Gaya bahasa dikenal dalam retorika dengan istilah style. Kata style diturunkan dari kata latin stilus yaitu semacam alat untuk

menulis pada lempengan lilin. Keahlian menggunakan alat ini akan mempengaruhi jelas tidaknya tulisan pada lempengan tadi. Kelak pada waktu penekanan dititikberatkan pada keahlian untuk menulis indah, maka style lalau berubah menjadi kemampuan dan keahlian untuk menulis atau mempergunakan kata-kata secara indah.41

Pada umumnya orang beranggapan bahwa bahasa sastra berbeda dengan bahasa nonsastra, bahasa yang dipergunakan bukan dalam (tujuan) pengucapan sastra. Namun, perbedaannya itu sendiri tidaklah bersifat mutlak, atau bahkan sulit diidentifikasikan. Bahasa sastra, bagaimanapun perlu diakui eksistensinya, keberadaannya. Sebab, tidak dapat disangkal lagi, ia menawarkan sebuah fenomena

41 Gorys Keraf, Diksi dan Gaya Bahasa, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1984),

(41)

yang lain.42Artinya bahasa yang digunakan dalam sastra adalah bahasa yang sebenarnya lalu dibumbuhi dengan bahasa kiasan dan dipadukan dengan emosi jiwa seorang pengarang sehingga pembaca terhanyut dan bisa menikmati hasil karya tersebut.Yang paling penting kesadaran dan pengakuan kita, usaha kita untuk memahami dan menerimanya secara wajar. Pemahaman pembaca akan mengacu dan berangkat dari makna denotatif atau paling tidak makna itu akan dijadikan dasar pijakan. Sebaliknya, makna konotatif banyak dijumpai dan dipergunakan dalam penggunaan bahasa yang lain yang tidak tergolong karya kreatif.

7) Amanat

Amanat adalah merupakan suatu pesan yang akan disampaikan oleh pengarang lewat karyanya kepada para pembaca.43 Makna yang terkandung dalam sebuah karya dan tertuang secara tersirat dalam cerita, biasanya seorangpengarang akan menuangkan pengalaman hidupnya yang pernah dialami.

C. Penelitian yang Relevan

Sebuah penelitian agar mempunyai orisinalitas perlu adanya tinjauan dan penelitian terdahulu, tinjauan ini bertujuan untuk mengetahui keaslian sebuah karya ilmiah. Ini untuk memberikan pemaparan tentang penelitian dan analisis sebelumnya yang telah dilakukan oleh peneliti lainnya terkait dengan masalah yang diteliti. Tinjauan terhadap hasil penelitian dan analisis sebelumnya akan dipaparkan berkaitan dengan penelitian yang akan diteliti Dengan demikian diperlukan beberapa penelitian yang relevan agar penelitian yang dilakukan berbeda atau mengandung kebaruan dibanding penelitian sebelumnya. Peneliti menggunakan novel untuk diteliti yaitu Ronggeng Dukuh Paruk, karya Ahmad Tohari.Di bawah ini beberapa penelitian yang

relevan dengan penelitian ini.

42 Nurgiantoro, Op. Cit, hlm. 273 43

(42)

Penelitian mengenai eksistensi Ahmad Tohari pernah dilakukan oleh Ali Imron dari pendidikan linguistik program pascasarjana. Universitas Sebelas Maret pada tahun 2006, dengan skripsi berjudul “Ahmad Tohari dan Ronggeng Dukuh Paruk” Kesimpulan skripsi ini yaitu: (1). Mencermati kekuatan dan keunikan dan keiklasan karya-karyanya maka eksistensinya sebagai sastrawan dapat disejajarkan dengan sastrawan-sastrawan terkemuka negri ini. Tidak berlebihan kiranya jika dikatakan bahwa Ahmad Tohari dengan RDP yang memiliki konstribusi penting dalam jagat sastra Indonesia. (2). Figur tokoh Rasus dalam RDP sebagai cerminan dari Ahmad Tohari, (3). Ahmad Tohari mampu mengungkapkan masalah-masalah kemanusiaan yang kompleks yang ditunjang dengan keberaniannya melakukan bid‟ah budaya, tanpa terjebak dalam khutbah yang sloganistis.

Penelitian terhadap novel RDP karya Ahmad Tohari pernah dilakukan jugaoleh Monica Martaose dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma pada tahun 2010, berjudul “Pandangan Positif Pada Novel RDP”. Kesimpulan penelitian ini yaitu: (1). Unsur intrinsik dalam novel RDP mengangkat tema mengenai karakteristik tokoh Ahmad Tohari dalam karyanya. Latar dalam novel tersebut sangat memperlihatkan karakteristik Ahmad Tohari. (2). Latar belakang penciptaan novel RDP yaitu pengarang ingin menunjukan situasi politik dan ekonomi sekitar tahun 1960-1965, (3). Tanggapan pembaca tentang isi novel RDP yaitu mereka pada umumnya tertarik dengan cerita yang bagus mengenai kritik kondisi zaman orde baru.

Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya yaitu, mengenai konflik batin tokoh utama yang terjadi pada diri dan lingkungannya dalam novel RDP karya Ahmad Tohari.

D. Pembelajaran Sastra

(43)

tinggi. Masalah yang kita hadapi sekarang adalah menentukan bagaimana pengajaran sastra dapat memberikan sumbangan yang maksimal untuk pendidikan secara utuh. Jika pembelajaran sastra diajarkan dengan baik dan tepat sasaran, maka pembelajaran sastra dapat membantu dibidang pendidikan.

Ketepatan dalam pengajaran sastra tersebut dapat membantu pendidikan secara utuh apabila cakupannya meliputi empat manfaat, yaitu membantu keterampilan berbahasa, meningkatkan pengetahuan budaya, mengembangkan cipta dan rasa, serta menunjang pembentukan watak.44

Kemanfaatan tersebut juga berguna untuk menafsirkan dan memahami masalah-masalah dunia nyata, walaupun sastra sendiri merupakan karya fiktif, sehingga pengajaran sastra dapat dijadikan sebuah pembelajaran yang penting dan patut menempati tempat selayaknya. Dalam pembelajaran sastra di sekolah novel tersebut mudah-mudahan dapat diterapkan di sekolah menegah tingkat pertama.

Sepintas, penelitian pengajaran sastra tidak langsung berhubungan dengan karya sastra, melainkan terkait dengan pengajaran. Namun, kalau pengajaran sastra dilakukan sebagai sebuah proses “bersastra,” sesungguhnya penelitian ini erat dengan teks sastra. Penelitian pengajaran sastra akan mengaitkan tiga hal yaitu penelitian, pengajaran, dan sastra. Karenanya, di samping menguasai masalah metode penelitian, pengajaran sastra dan liku-likunya, juga harus paham betul tentang sastra.Jika tiga hal itu ada yang timpang salah satu, tentu penelitian pengajaran sastra jelas kurang efektif.45

Dengan demikian, memang telah waktunya pembelajaran sastra harus menata diri. Pembelajaran sastra yang asal-asalan tanpa kompetensi yang jelas, hanya menyetak sampah pendidikan. Akibatnya, pembelajaran sastra tidak ada artinya apa-apa bagi kehidupan peserta didik.

44 B. Rahmanto, Metode Pengajaran Sastra, (Yogyakarta: Kanisius, 1988), hlm. 16 45

(44)

34

A.Biografi Pengarang

Ahmad Tohari dilahirkan di desa Tinggarjaya, kecamatan Jatilawang, Banyumas, 13 Juni 1948. Ia menempuh pendidikan Formalnya hanya mencapai SMA di SMAN II Purwokerto. Akan tetapi, ia pernah menjelajahi pengalaman pendidikan di beberapa Fakultas, seperti Fakultas Ilmu Kedokteran Ibnu Kaldun, Jakarta (1967-1970), Fakultas Ekonomi Universitas Sudirman, Purwokerto (1974-1975), Fakultas Sosial Politik Universitas Sudirman, Purwokerto (1975-1976), dan International Wiriting Program Lowa, Amerika Serikat (1990) di salah satu universitas yang berada di Jakarta dan Purwokerto walaupun semuanya tidak berhasil diselesaikannya.

Ahmad Tohari tidak pernah melepaskan diri dari pengalaman hidup kedesaannya. Maka warna hampir semua karyanya adalah lapisan bawah dengan latar alam. Dia memiliki kesadaran dan wawasan alam yang begitu jelas terlihat pada tulisan-tulisannya. Boleh jadi karena rasa ketertarikannya dengan keaslian alam Ahmad Tohari tidak betah hidup di kota. Jabatannya dalam staf redaksi kelompok Merdeka, Jakarta, yang dipegangnya selama dua tahun ditinggalkannya. Kini dia kembali berada di tengah sawah di antara lumpur dan katak, di antara lumut dan batu cadas di desanya.1

Dalam situasi yang kalut, ia sering membuat tulisan-tulisan untuk membunuh rasa jenuhnya. Setelah beberapa tulisannya berhasil diterbitkan oleh beberapa surat kabar, ia memutuskan untuk memasuki dunia tulis-menulis dengan sungguh-sungguh.

1Ahmad Tohari, Ronggeng DukuhParuk, (Jakarta: Gramedia PustakaUtama, 2011), hlm.

(45)

Ahmad Tohari merupakan salah seorang sastrwan Indonesia yang telah lama malang-melintang di dunia kepenulisan. Sudah banyak karya-karya Ahmad Tohari, begitu ia akrab disapa, yang berhasil memenangkan berbagai penghargaan dalam ruang lingkup nasional maupun internasional. Dalam dunia kepengarangan, kemampuan Kang Tohari dalam meramu kata telah diakui secara luas baik di dalam maupun di luar negeri.

Novel trilogy Ronggeng Dukuh Paruk yang meliputi Ronggeng Dukuh paruk (1982), Lintang Kemukus Dini Hari (1985), dan Jantera

Bianglala (1986) telah diterjemahkan dan diterbitkan dalam bahasa Jepang,

Jerman, Belanda, dan Inggris. Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk juga telah diadaptasi kelayar lebar oleh sutradara Ifa Irfansyah dengan judul Sang Penari.

Novel RDP yang diterbitkan di tahun 2011 ini bercerita tentang konflik batin Rasus, seorang anak Dukuh Paruk yang kehilangan orang tuanya akibat malapetaka tempe bongkrek.2

1. Karir Ahmad Tohari

a. Penulis/Pengarang

b. Tenaga honorer di Bank BNI 1946 (1966-1967) c. Redaktur harian Merdeka (1979-1981)

d. Staf redaksi majalah Keluarga (1981-1986) e. Dewan redaksi majalah Amanah (1986-1993)

2. Penghargaan yang Pernah diraih

a. Memenangkan hadiah hiburan sayembara kincir emas (1975) yang diselenggarakan Radio Nederlands Wereldomroep

b. Memenangkan hadiahYayasanBukuUtama (1980) c. Meraih hadiah Yayasan Buka Utama (1986)

d. Memenangkan hadiah sayembara mengarang roman Dewan Kesenian Jakarta (1986)

2Riset dan Analisis oleh: Oleh Meidita Kusuma Wardhana, diunggah pada tanggal 13 april,

(46)

e. Memenangkan hadiah The Fellow of The University of lowa (1990) f. Memenangkan hadiah Pengharggaan Bhakti Upapradana pemerintah

Propinsi Jawa Tengah untuk pengembangan seni budaya (1995) g. Memenangkan hadiah Southeast Asian Writers Award (1995) h. Memenangkan hadiah Rancage Award 2007.3

B.Karya Ahmad Tohari

1. Cerpen Jasa-Jasa Buat Sanwirya 2. Novel Kubah

3. Novel di Bawah Kaki Bukit Cibalak 4. Novel Lintang Kemukus Dinih Hari 5. Novel Jantera Bianglala

6. Kumpulan cerpen Senyum Karyamin 7. Novel Berkisar Merah

8. Novel Lingkar Tanah Air

9. Kumpulan cerpen Nyanyian Malam 10. Novel Belantik

11. Novel Orang-Orang Proyek

12. Kumpulan cerpen Rusmi Ingin Pulang 13. Novel Ronggeng Dukuh Paruk

C.Karakteristik Dunia Kepengarangan Ahmad Tohari

Di tengah keprihatinan dan kondisi batinnya yang gundah melihat situasi dan kondisimasyarakat di sekitarnya dan setelah sekian tahun ia meninggalkan pekerjaan sebagai karyawan honorer di Bank BNI 1946 (1966-1967). Ia kemudian mulai menulis karya sastra, dan lahirlah beberapa cerita pendek dan ternyata dengan mudah dimuat di beberapa surat kabar dan majalah yang terbit di Jakarta. Upacara Kecil adalah cerpen pertamanya yang dimuat di media massa. Demikian pula beberapa cerpennya ternyata

3

Figur

gambaran mengenai tindak-tanduk, ucapan atau sejalan tidaknya
gambaran mengenai tindak-tanduk, ucapan atau sejalan tidaknya . View in document p.29

Referensi

Memperbarui...