1
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penterjemahan sangat diperlukan dalam era informasi dan komunikasi yang bergerak cepat seperti saat ini. Proses penterjemahan dan hasil-hasilnya dapat dilihat tersebar dalam segala bidang, mulai dari bidang pendidikan sampai hiburan. Buku, film dan berbagai media pembawa informasi lainnya yang dibuat tidak dalam bahasa asli memerlukan suatu proses penterjemahan. Penterjemahan sendiri merupakan suatu proses penyampaian informasi dari bahasa sumber ke dalam padanan yang sesuai pada bahasa sasaran.
2 Menterjemahan terdapat berbagai macam jenis, misalnya menterjemahan film, novel, buku, komik dan lain-lain. Akhir-akhir ini di Indonesia yang paling banyak penggemarnya adalah terjemahan komik Jepang yang biasa disebut Manga. Membaca manga dapat menarik minat pembaca kaum muda karena gambar, tokoh-tokoh, dan bahasanya disesuaikan dengan kehidupan sehari-hari, sehingga mudah dipahami oleh pembacanya. Adanya pendekatan visualisasi dengan membaca komik dapat memudahkan pembaca dalam memahami materi yang disampaikan.
Karena komik menggunakan kehidupan sehari-hari sebagai latarnya, sehingga bagi pelajar bahasa Jepang dapat sekaligus mempelajari kebiasaan dan kebudayaan tentang Jepang melalui komik tersebut. Agar pesan dari komik tersebut dapat diterima oleh pembaca, penterjemah harus bisa menyesuaikan terjemahan ke dalam bahasa yang dituju.
Dalam menterjemahkan komik bahasa Jepang, banyak sekali kendala-kendala yang dialami oleh penterjemah seperti, penggunaan dialek di Jepang yang salah satunya adalah dialek Osaka, penggunaan onomatope atau tiruan bunyi, wakamono kotoba dalam ragam lisan dan lain sebagainya.
3 1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas, dapat dirumuskan masalah yang akan dibahas dalam laporan penelitian ini, dengan rumusan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimanakah proses penterjemahan komik “Yozakura Quartet” jilid 2 karya Yasuda Suzuhito?
2. Kendala apa yang dihadapi pada proses penterjemahan komik “Yozakura Quartet” jilid 2 karya Yasuda Suzuhito?
3. Bagaimana solusi untuk mengatasi kendala yang dihadapi pada proses penterjemahan komik “Yozakura Quartet” jilid 2 karya Yasuda Suzuhito?
1.3Pembatasan Masalah
Penelitian ini dibatasi hanya pada proses dan kendala yang dihadapi penulis ketika menterjemahkan komik Yozakura Quartet Jilid 2, dari segi penggunaan onomatope, Osaka-ben, dan wakamono kotoba.
1.4Tujuan Penelitian
4 1.5 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dalam menterjemahkan komik, menambah kosakata baru yang didapat selama menterjemahkan komik Yozakura Quartet jilid 2, dan juga dapat memahami kendala-kendala yang akan dihadapi ketika proses menterjemahkan komik Jepang seperti penggunaan onomatope, Osaka-ben, dan wakamono kotoba.
1.6 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan penulis adalah:
1. Studi kepustakaan, yaitu dengan cara mencari buku-buku sumber, situs internet, maupun website untuk mempelajari dan menganalisa teori-teori yang berhubungan dengan penelitian yang dilakukan oleh penulis. Studi ini berguna untuk memperoleh landasan tentang informasi yang berhubungan dengan masalah yang akan dibahas.
5 1.7 Sistematika Penulisan
Bab I Pendahuluan
Bab ini menjelaskan tentang latar belakang, tujuan dan manfaat penelitian, pembatasan masalah, metode penelitian dan sistematika penulisan.
Bab II Landasan Teori
Bab ini berisi teori mengenai onomatope, Osaka-ben, dan wakamono kotoba.
Bab III Gambaran Umum Perusahaan
Bab ini berisi data atau profil dari perusahaan Acolyte Publishing Co. Bab IV Data Penelitian
Bab ini mengungkapkan tentang kendala-kendala dalam menterjemahkan komik “Yozakura Quartet” jilid 2
Bab V Kesimpulan dan Saran
Bab ini berisi tentang kesimpulan dan saran untuk penelitian yang telah dilakukan.
1.8 Lokasi dan Waktu KKL
6
BAB II
LANDASAN TEORI
1.1Definisi Penterjemahan
Penterjemahan merupakan kegiatan menghasilkan kembali di dalam bahasa penerimaan barang yang secara sedekat-dekatnya dan sewajarnya sepadan dengan pesan dalam bahasa sumber, pertama-tama menyangkut makna dan kedua menyangkut gayanya.
Menurut Dick Hartoko kebutuhan menterjemahkan buku bukanlah tanda keterbelakangan justru sebaliknya tanpa keterbukaan, tanda kegiatan hendak ikut serta dalam tukar menukar informasi.
Dalam menterjemahkan suatu bahasa kedalam bahasa yang dituju hal pertama yang harus dilakukan adalah kita harus tahu bahan yang akan kita terjemahkan, kita harus memahami pula bahasa yang digunakan oleh pengarang agar kita dapat membayangkan pilihan kata dan kalimat yang selaras.
2.2 Onomatope
7 Giseigo adalah bahasa yang meniru suara manusia dan hewan. Misalnya;
Suara manusia
パチパチ pachi-pachi prok-prok(suara tepuk tangan) ずる zuru sruut (suara menyeruput mie)
リ リ gari-gari krauk-krauk (suara makan es) Suara hewan
ワンワン wan-wan gog-gog (suara anjing) ニャニャ nya-nya meong-meong (suara kucing) ブウブウ buu-buu ngok-ngok (suara babi)
Giongo adalah bahasa yang meniru bunyi dari benda, alam dan lainnya. Misalnya
ジュウジュウ jyuu-jyuu suara ketika sedang memanggang sesuatu
ロン ロン goron-goron suara batu yang sedang menggelinding
そよそよ Soyo-soyo suara angin sepoi-sepoi Gijougo adalah bahasa yang menggambarkan kondisi hati manusia.
Misalnya;
8 ド ド doki-doki menggambarkan seseorang sedang
berdebar jantungnya
ワクワク waku-waku menggambarkan seseorang sedang
berharap sesuatu
Gitaigo adalah bahasa yang menirukan bunyi dari sesuatu yang tidak berbunyi (Iwabuchi, 1989:73-74).
Misalnya;
ロ ロ goro-goro menggambarkan seseorang sedang --- ---bermalas-malasan
ペ ペ peko-peko menggambarkan seseorang sedang lapar
リ リ kiri-kiri menggambarkan seseorang sedang kesakitan.
2.3 Dialek Osaka
Sama halnya dengan di Indonesia, di Jepang juga terdapat berbagai macam dialek daerah. Dialek daerah di Jepang dibedakan berdasarkan daerah tempatnya.
9 Dialek Osaka masih termasuk dalam Keluarga dialek Kansai. Orang-orang sering tertukar-tukar dalam menggunakan dialek Kansai dengan dialek Osaka. Karakter dialek Osaka terdengar lebih kasar dan memiliki ciri khasnya sendiri apabila dibandingkan dengan bahasa Jepang standar yang selama ini depelajari.
Di dalam dialek Osaka, aksen adalah penting. Hal ini terlihat misalnya pada: “おおきに” dan “まいど”. Kedua kata itu merupakan kata dalam dialek Osaka yang artinya “terima kasih”. Tapi kata-kata itu bisa menjadi bukan dialek Osaka bila pengucapannya menggunakan aksen pada Bahasa Jepang Standar. Dalam hal ini, aksen Bahasa Jepang Standar identik dengan aksen orang Tokyo. Dengan kata lain, jika suatu frase Bahasa Jepang Standar diucapkan dengan aksen dialek Osaka, berarti frase tersebut adalah dialek Osaka. Untuk mengucapkan dialek Osaka dengan benar, terlebih dahulu pembicara harus tahu apakah suku kata pertama dari suatu suku kata dimulai dengan nada tinggi atau rendah.
2.4 Wakamono kotoba
Dalam Bahasa Jepang, terdapat berbagai macam bahasa, seperti bahasa daerah dan bahasa informal. Bahasa informal di Jepang biasanya digunakan oleh anak muda di Jepang. Bahasa ini lahir dari kumpulan-kumpulan pemuda yang kadang kala hanya dimengerti oleh anggota kumpulan saja.
10 dengan ejaan atau penggunaan berbahasa yang baik dan benar seperti yang telah ditetapkan. Anak muda biasanya lebih suka menggunakan bahasa yang mereka anggap keren, santai dan lebih nyaman bagi mereka, sehingga lebih sering menggunakan bahasa non baku. Selain itu anak muda juga kerap kali membuat istilah dan kosa kata baru dalam pergaulan mereka yang dikenal juga sebagai bahasa gaul (wakamono kotoba).
Wakamono kotoba seperti halnya dengan bahasa gaul Indonesia, salah satu pembentukkannya adalah dengan menyingkat kata seperti pada jenis kata sifat satu „kimoi‟ yaitu singkatan dari kata kimochi warui yang berarti suasana hati sangat buruk. Selain itu banyak juga kata serapan dari bahasa asing seperti makudonarudo yaitu serapan dari bahasa Inggris McDonald atau biasa disingkat menjadi makudo. Selain contoh di atas masih banyak lagi wakamono kotoba lainnya.
Wakamono kotoba sering digunakan dalam beberapa media cetak Jepang, seperti majalah cetak Jepang untuk remaja dan manga (komik), dalam audio seperti lagu-lagu modern, dan audio visual seperti dalam film, dorama (drama) dan anime yang kebanyakan mengisahkan tentang anak muda.
11 1. Getto Suru
Kata ini diambil dari dalam bahasa Inggris “get”. Kosa kata ini dalam bahasa Jepang mengungkapkan “mendapatkan sesuatu yang diinginkan”. Kata ini
juga mengungkapkan keberhasilan seseorang dalam mendapatkan lawan jenis.
2. Bari-bari
Berasal dari kata bahasa Inggris “very”, mengalami pengulangan menjadi bari-bari yang mempunyai makna orang yang luar biasa hebat.
3. Yabai
Digunakan untuk mengungkapkan segala sesuatu yang benar-benar menari, bagus, atau keren. Tapi kata ini juga bisa digunakan untuk mengungkapkan sesuatu yang bermakna payah atau gawat, sama dengan arti dari kata mazui.
4. Shikuyoro
12
BAB III
GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
3.1 Profil Umum Perusahaan
Acolyte Publishing Co. adalah perusahaan penerbitan komik yang terdapat di Bandung sejak tahun 2001. Perusahaan ini merupakan Comicon dan anak perusahaan perusahaan Acolyte Inc, yaitu perusahaan berlisensi Jepang yang menjalin hubungan dengan Kodansha sebagai partner utamanya. Acolyte Inc. sendiri memiliki anak perusahaan lain, yaitu Illustration Factory yang merupakan agensi ilustrasi dengan jaringan hingga ke China dan Australia.
Karya yang diterbitkan oleh Acolyte Publishing Co. selalu dicetak berdasarkan format aslinya, termasuk dengan double cover, halaman warna maupun bonusnya. Karena karya yang diterbitkan tersebut tidak diubah formatnya, para pembaca akan mendapatkan cerita yang diharapkan serta tidak akan merasa kecewa.
13 4. Mr. Tan Yue Er
b. President Direktur : Mr. Tan Yue Er c. Manajemen Pemasaran : Handi S. Gunawan
3.3 Aktivitas Perusahaan
Perusahaan ini tidak hanya berjalan dalam bidang terjemahan saja, tapi menerima juga kursus untuk pelatihan seni karya dan gambar komik.
Materi-materi tersebut diajarkan oleh Mr. Nobuyuki Oku, Mr. Denny A. Djoenaid dan Mr. Yue Sheng Shi.
Berikut ini adalah contoh kegiatan lain yang juga ada di perusahaan Acolyte: a. Profesional Illustrator
3.3.1 Progam Pelatihan Bahasa Jepang khusus untuk Manga
14 kaya akan dialek dan sangat berbeda dengan bahasa resmi yang sering digunakan di kursus-kursus pada umumnya dan materinya pun disusun oleh Mr. Nobuyuki Oku.
3.3.2 Progam Pelatihan Bahasa Jepang khusus untuk Nouryokushiken
Progam pelatihan bahasa Jepang bagi yang ingin mengambil ujian Japanese Proficiency Test (Nouryokushiken) yang dikeluarkan Japan Foundation, serta materi yang disusun oleh Mr. Nobuyuki Oku.
Acolyte bekerja sama dengan penerbit dari Jepang yang bernama Penguin Shobo Inc. pada September 2004, dan komik pertama yang diterbitkannya adalah Fuku-fuku, pada bulan Okober 2004. Acolyte juga bekerja sama dengan Kodansha Ltd. Pada November 2004. Acolyte adalah partner Indonesia yang ketiga yang telah bekerja sama dengan Kodansha Ltd. Dari sinilah, akhirnya Acolyte membuat perjanjian dengan CLAMP, salah satu mangaka yang sangat terkenal di Jepang, untuk menerbitkan salah satu master piece karya mereka yaitu Chobits yang sangat digemari di Jepang pada saat itu, di wilayah Indonesia.
15 telah didukung sepenuhnya oleh Japan Foundation sebagai kontributor dan promotor utama.
Judul-judul buku tersebut antara lain: The Illustrated Encyclopedia of Japanese Ghost & Monster, The Illustrated Encyclopedia of European Mythical Creatures, Japanes for Manga, The Figure Drawing for Ilustratis & Comic Artist, How to Draw Fighting and Martial Arts Movements.
3.4 Kerjasama antar Perusahaan
1. Kontrak kerjasama (Permanen) :
a. Acolyte Illustration Factory,Inc.- www.acolytecomics.com/illustration b. Acolyte Publishing,Inc.- www.acolytecomics.com/publishing
c. Deny Animation-www.ainaki.org
d. Megindo Tunggal Sejahtera, PT.- www.megindo.net e. Industrial Support Service Indonesia, PT.
f. Citra Sastra Media, PT. – www.komikwarna.web.id 2. Kontrak Kerjasama (Non Permanen)
a. Lyto GameOn – Lyto Datarindo Fortuna ( Ragnarok Online, Seal Online ) b. 24 Internet Center – PlayOn Interactive ( Tantra Online )
16
BAB IV
Proses dan kendala dalam Menterjemahkan Komik
“Yozakura
Quartet” Jili
d 2 Karya Yasuda Suzuhito
4.1Proses Penterjemahan Komik “Yozakura Quartet” Jilid 2 Karya Yasuda Suzuhito
Dalam proses penterjemahan, penulis melakukan beberapa tahapan yaitu sebagai berikut:
1. Pertama-tama penulis menginstal komik Yozakura Quartet Jilid 2 yang dalam bentuk data, ke komputer. Kemudian penulis membaca isi komik Yozakura Quartet Jilid 2 secara keseluruhan, dan memakan waktu selama dua hari. Jumlah halaman yang penulis terjemahkan ada 200 halaman, sehingga penulis membacanya dua kali. Pada tahap ini pula penulis menandai kata-kata dan kanji yang tidak penulis pahami. Kata-kata dan kanji-kanji tersebut penulis kategorikan kedalam dua file yang diberi nama file “goi” dan file “kanji”.
17 kanji-kanji gabungan yang diartikan kedalam bahasa Inggris. Sedangkan Suiteki adalah aplikasi kamus bahasa Jepang yang dilengkapi dengan hiragana, katakana, dan kanji, yang diartikan juga kedalam bahasa Inggris. Karena kedua kamus elektronik tersebut artinya kedalam bahasa Inggris maka penulis juga menggunakan kamus elektronik Inggris-Indonesia, untuk mengartikan kata-kata yang dipahami penulis. Selain itu penulis juga menanyakan kata-kata yang tidak ada pada kedua kamus tersebut kepada pengajar yang berasal dari Jepang. Karena dalam komik Yozakura Quartet Jilid 2 ini banyak menggunakan dialek Osaka, maka kata-kata yang digunakan pada dialek Osaka tidak ada pada kamus.
3. Tahap selanjutnya, setelah mencari kata-kata yang tidak dipahami penulis mencari kanji-kanji yang tidak diketahui artinya. Penulis kembali menggunakan JlookUp sebagai media pembantu dalam proses penterjemahan komik Yozakura Quartet Jilid 2.
4. Ini merupakan tahap inti, yaitu penulis mulai menterjemahkan komik Yozakura Quartet Jilid 2 dengan menggunakan Adobe Photoshop CS2 untuk mengedit hasil terjemahan. Data asli yang awalnya bahasa Jepang diubah menjadi bahasa Indonesia, dengan menggunakan huruf Comic Sans, dengan ukuran 16pts, dan ditulisnya dengan huruf kapital.
18 menterjemahkan onomatope ini penulis menggunakan media e-onomatope karya Cucu W. Apabila ada onomatope yang tidak tersedia pada media tersebut penulis onomatope tersebut kepada pengajar yang asli orang Jepang. Kemudian penulis mencari arti yang sepadan dalam bahasa Indonesia. 6. Proses penterjemahan ini memakan waktu selama 25 hari. Penulis
mentargetkan dalam satu hari penulis harus menterjemahkan komik Yozakura Quartet Jilid 2 sebanyak delapan halaman. Pada hari selanjutnya penulis membaca kembali hasil terjemahan yang telah penulis kerjakan. Apabila ada kesalahan atau penggunaan bahasa yang kurang tepat maka penulis memperbaikinya kembali.
4.2 Kendala dalam Proses Penterjemahan Yozakura Quartet Jilid 2 Karya Yasuda Suzuhito
4.2.1Penggunaan Onomatope
Onomatope yang terdapat pada komik “Yozakura Quartet” jilid 2 lebih dari 100 onomatope. Dari mulai yang giseigo, giongo, gijougo sampai giteigo dapat ditemukan pada komik ini. Adapun contohnya sebagai berikut:
1. Giseigo
ジ ジ Gajigaji Grauk-grauk (menggigit)
19
ぱくぱく Pakupaku Nyam-nyam (makan)
2. Giongo
ザザ Zaza Bunyi Hujan
こ こ Noko nook Bunyi Langkah Sepatu
ドンドン Dondon Bunyi klason
3. Gijougo
い い Icha Icha Perasaan Jatuh Cinta
わくわく Waku Waku Mengharapkan sesuatu
ド ド Doki Doki Berdebar-debar
4. Gitaigo
Tsuya Tsuya Wajah berseri - seri
ゴロゴロ Goro Goro Berleha-leha
べろんべろん Beron Beron Sedang mabuk
20 a.
gambar 4.2.1
Pada gambar 4.2.1 Hime yang sedang mabuk yang dijelaskan dengan tiruan bunyi “べ ろ ん べ ろ ん”. Karena di Indonesia tidak ada tiruan bunyi untuk menggambarkan hal tersebut hal ini sulit untuk disampaikan dalam bahasa Indonesia.
b.
gambar 4.2.2
21 4.3 Osaka-ben
Osaka ben adalah istilah untuk bahasa yang digunakan di daerah Osaka, dan bahasa ini sering digunakan dalam komik-komik di Jepang. Bahasa daerah di Jepang tidaklah diajarkan di perguruan tinggi sehingga dalam proses penterjemahan terdapat banyak kesulitan. Terdapat kosakata yang sangat berbeda dengan bahasa Jepang yang biasa dipelajari di perguruan tinggi, sehingga penulis harus mempelajari kembali bahasa daerah di Jepang terutama bahasa daerah Osaka.
Sebagai contohnya ada beberapa dialog yang menggunakan bahasa daerah Osaka dalam komik “Yozakura Quartet” jilid 2:
a.
gambar 4.3.1
22 kali digunakan sepagai ucapan salam ketika bertemu dengan seseorang. 毎度dapat diartikan “hai!”, atau “selamat pagi”, “selamat siang”,” selamat malam”.
b.
gambar 4.3.2
Pada gambar 4.3.2 tokoh yang bernama Kana mengucapkan kata yang berakhiran ~ い . Dalam dialek Osaka akhiran ~ い digunakan sebagai pengganti ~ dalam kalimat tanya bahasa Jepang standar.
c.
gambar 4.3.3
23 akhiran ~です dalam bahasa Jepang standar. Dalam contoh kalimat diatas ~ juga bisa digunakan untuk kalimat tanya dengan intonasi yang berbeda. Fungsinya sama dengan kata tanya “何 ?” yang jika diubah ke dialek Osaka menjadi “何 ?”.
d.
gambar 4.3.4
Pada gambar 4.3.4 diatas tokoh bernama Mina mengucapkan kata yang berakhiran “~ ん”. Dalam dialek Osaka “~ ん” adalah partikel untuk akhiran kalimat yang netral. Kalau dalam bahasa Jepang standar sama dengan ~です.
4.4Wakamono Kotoba
24 standart Jepang, dipakai untuk mengekspresikan perasaan dan emosi, untuk mengakrabkan situasi diantara teman-teman.
a.
Dalam gambar diatas ketika seseorang yang sedang kesal dengan temannya lalu memukul temannya sambil mengatakan “馬鹿野郎” yang berarti sialan. Kalu dilihat secara harfiah kata 馬鹿野郎 berarti laki-laki yang bodoh. Namun kata ini biasa diartikan sialan oleh anak muda di Jepang.
25 Kata” ー す” biasa digunakan untuk menyapa seseorang. Bisa juga
sebagai pengganti salam seperti selamat pagi.
4.5 Solusi dalam Proses Penterjemahan Yozakura Quartet Jilid 2 Karya Yasuda Suzuhito
4.5.1 Penggunaan Onomatope
Untuk mengatasi masalah penterjemahan ketika mengartikan kata-kata onomatope dalam komik “Yozakura Quartet” jilid 2, penulis menanyakannya kepada pengajar yang asli orang Jepang dan mencari arti yang sepadan dalam bahasa Indonesia. Apabila ada kata-kata yang tidak ada arti yang sepadan dengan bahasa Indonesia maka penulis membuat catatan kaki pada ujung bawah halaman.
4.5.2 Penggunaan Dialek Osaka
26 4.5.3 Penggunaan wakamono kotoba
27
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1
Kesimpulan
Menterjemahan ternyata bukanlah hal yang mudah, karena kita harus dapat memahami dengan jelas maksud dari penulis. Jika terjadi salah pengertian maka maksud yang disampaikan pun akan berubah.
Pada penulisan laporan penterjemahan “Yozakura Quartet” jilid 2 ini, penulis memaparkan proses penterjemahan, kendala dan solusi saat menterjemahkan komik tersebut. Adapun proses tersebut adalah membaca komik asli yang masih berbahasa Jepang, secara keseluruhan. Lalu ,mencari kata-kata dan kanji-kanji yang sulit dan mengelompokkannya, mencari arti dari kata-kata dan kanji-kanji yang telah dikelompokkan tersebut. Kemudian, memulai proses penterjemahan dengan menggunakan alat bantu adobe photoshop cs2. Menterjemahkan kata-kata yang ada di luar balon kata pada komik, seperti kata-kata onomatope, dan kata-kata yang keluar dari dalam hati tokoh. Mengulang kembali hasil terjemahan dan memperbaiki terjemahan yang masih rancu.
28 banyak kendala, seperti onomatope, dialek daerah yang digunakan, dan wakamono kotoba yang digunakan.
Penulis mengalami kesulitan ketika menterjemahkan onomatope karena dalam bahasa ibu penulis jarang ditemukan tiruan bunyi seperti yang biasa digunakan di komik bahasa Jepang. Seperti “べろんべろん” yang menggambarkan orang sedang mabuk karena terlalu banyak minum. Hal ini menjadi kendala dalam proses penterjemahan.
Selain itu ada juga dialek daerah yang digunakan pada komik bahasa Jepang. Pada komik yang penterjemah terjemahkan banyak sekali menggunakan dialek Osaka. Karena dialek daerah tidak diajarkan oleh pengajar maka penulis harus mempelajari dialek tersebut secara otodidak.
Lalu bahasa informal atau wakamono kotoba juga sering kali digunakan pada komik-komik di Jepang. Karena, bahasa yang digunakan di komik adalah bahasa sehari-hari yang digunakan oleh anak muda di Jepang. Mengingat yang membaca komik tersebut adalah anak muda maka wakamono kotoba-lah yang digunakan oleh penulis. Dalam mempelajari bahasa Jepang di perguruan tinggi bahasa informal tidaklah diajarkan, sehingga dalam proses penulisan mengalami kendala dalam menterjemahkan bahasa informal tersebut.
29 menggunakan kamus elektronik JlookUp untuk mencari artinya. Sedangkan kata-kata onomatope dan dialek Osaka yang tidak penulis ketahui maknanya penulis tanyakan pada pengajar yang asli dari Jepang.
5.2 Saran
Dalam proses penterjemahan para penerjemah akan banyak sekali mengalami hambatan, diluar kemampuan yang dimiliki oleh setiap penterjemah. Untuk dapat menterjemahkan suatu komik dengan baik, kita harus dapat memahami maksud dan isi dari komik tersebut. Agar apa yang ingin disampaikan oleh pengarang dapat disampaikan dengan baik dan benar.
Karena itu, penulis menyarankan kepada pembaca yang berminat untuk melakukan penterjemahan supaya tidak terjadi kerancuan dalam proses penterjemahan, alangkah baiknya terlebih dahulu mengetahui bagaimana bahasa yang digunakan dalam komik biasanya. Dengan cara membaca komik terjemahan lainnya terlebih dahulu, agar dapat gambaran bagaimanakan bahasa yang sebaiknya digunakan.
PROSES DAN KENDALA DALAM MENTERJEMAHKAN
KOMIK
“
YOZAKURA QUARTET
”
JILID 2
Diajukan untuk memenuhi syarat kelulusan mata kuliah KKL Jurusan Sastra Jepang Fakultas Sastra Universitas Komputer Indonesia
Fitriyah 63807012
JURUSAN SASTRA JEPANG FAKULTAS SASTRA
iii
2.1 Definisi Penterjemahan 6
2.2 Onomatope 6
2.3 Dialek Osaka 8
2.4 Wakamono kotoba 9
BAB III GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
3.1 Profil Perusahaan 12
iv
3.2 Aktivitas Perusahaan 13
3.2.1 Progam Pelatihan bahasa Jepang khusus untuk Manga 13
3.2.2 Progam Pelatihan Bahasa Jepang khusus untuk Nouryokushiken 13
3.4 Kerjasama antar Perusahaan 15
BAB IV PRO“E“ DAN KENDALA DALAM KOMIK YOZAKURA QUARTET JILID 2 KARYA
YASUDA SUZUHITO 16
4.1 Proses Penterjemahan 16
4.2 Onomatope 17
4.3 Dialek Osaka 21
4.4 Wakamono Kotoba 23
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 27
5.1 Kesimpulan 27
5.2 Saran 29
DAFTAR PUSTAKA 31
26
DAFTAR PUSTAKA
http://tadotsugakuen.blogspot.com/2007/11/mengenal-dialek-kansaiben-dan-osakaben.html (diuduh tanggal 23 Juli 2010)
Drs Sudjianti, M.Hum dan Drs Dahidi, Ahmd, M.A. (2004) Pengantar Linguistik Bahasa
DAFTAR RIWAYAT HIDUP 6. Kewarganegaraan : Indonesia
Pendidikan Formal
SD Negeri Kebon Melati II Cirebon : 1995-1998
SD Negeri Jonggol II : 1998-2001
SMP Negeri 1 Jonggol : 2001-2004
SMA Negeri 1 Jonggol : 2004-2007
Universitas Komputer Indonesia : 2007-
Pengalaman Organisasi
Anggota HIMA Sastra Jepang UNIKOM Bendahara
ii
KATA PENGANTAR
Puji syukur atas kehadirat Allah SWT karena atas segala petunjuk, bimbingan dan rahmatNya telah memberikan kelancaran dalam pembuatan laporan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) ini.
Penulisan laporan KKL ini adalah guna memenuhi syarat kelulusan mata kuliah KKL, Jurusan Sastra Jepang, Fakultas Sastra, Universitas Komputer Indonesia.
Laporan KKL ini diberi judul “Proses dan Kendala dalam
Menterjemahkan Komik “Yozakura Quartet” Jilid 2 Karya Yasuda Suzuhito”.
Dalam penyusunan makalah ini, penulis menyadari bahwa masih banyak terdapat kekurangan dikarenakan terbatasnya kemampuan dan pengetahuan yang penulis miliki, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik serta saran yang bersifat membangun.
Besar harapan penulis agar laporan ini dapat bermanfaat bagi pembacanya. Penulis juga berterima kasih kepada semua pihak yang membantu dalam penyusunan makalah ini. yaitu :
1. Dekan Fakultas Sastra Universitas Komputer Indonesia, Prof.Dr. Moh Tadjuddin, MA
2. Ketua jurusan, Soni Mulyawan Setiana M.Pd,. untuk dukungan selama perkembangan KKL
iii 4. Pembimbing di perusahaan Acolyte Pubishing Co., Bapak Hardianto
Rahardjo, S.Pd yang telah membantu selama KKL ini berlangsung.
5. Saori Sensei, yang telah memberikan masukan dan banyak membantu selama KKL ini berlangsung.
6. Keluarga yang selalu memberikan semangat agar penulis dapat mengerjakan laporan KKL ini sebaik-baiknya.
7. Teman-teman yang banyak membantu penulis dalam pelaksanaan KKL. 8. Serta semua pihak yang telah terlibat dalam penyelesaian laporan KKL
ini.
Akhir kata penulis berharap laporan ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca dan penulis sendiri.
Bandung, 18 September 2010