• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemetaan Pembuat Film Yogyakarta 2015

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pemetaan Pembuat Film Yogyakarta 2015"

Copied!
88
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)
(4)

PEMETAAN PEMBUAT FILM YOGYAKARTA 2015

Dyna Herlina Suwarto | Firly Annisa | Kurniawan A Saputro | Zaki Habibi

Kajian Perfilman

Dinas Kebudayaan DIY

(5)

DAFTAR ISI

Daftar Gambar dan Tabel ________

Kata Pengantar: Kepala Dinas Kebudayaan DIY ________ BAB I - Perfilman ala Yogyakarta ________

Pembuatan Film di Yogyakarta ________ Perihal Organisasi Perfilman ________

Informalitas Pembuatan Film di Yogyakarta ________

Tata Kelola Berdasar Proyek ________ Pertanyaan Penelitian ________

BAB II - Melacak Para Pembuat Film ________ Pengumpulan Data ________

Profil Pembuat Film Yogyakarta ________

Profil Individu ________ Profil Kelompok ________

BAB III - Kelompok Pembuat Film Yogyakarta ________ Pendanaan dan Hubungan Kerja ________

Penggolongan Kelompok Film ________

Sumber Dana ________

Hubungan Kerja ________

Dari Kampus ke Industri, dari Komunitas ke Perusahaan ________

Sebab-Sebab Perubahan ________

BAB IV - Kesimpulan: Sekarang dan Nanti ________ Refleksi Sekarang ________

Proyeksi Nanti ________ Daftar Pustaka ________ Lampiran:

(6)

DAFTAR GAMBAR DAN TABEL

Gambar 3.1 - Model Kuadran Temuan Penelitian ________

Gambar 3.2 - Persebaran Jumlah Tipe Kelompok sesuai Kuadran ________ Gambar 3.3 - Metode Rekrutmen Kru Produksi Film ________

(7)

KATA PENGANTAR

Assalaamu‘alaikum wr. wb. Salam sejahtera.

Dengan mengucapkan puji syukur kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa, buku

Pemetaan Pembuat Film Yogyakarta 2015 telah terselesaikan penyusunannya. Buku yang telah dituntaskan ini merupakan hasil penelitian atau kajian yang dilaksanakan oleh Tim Swakelola Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Penerbitan buku ini merupakan komitmen Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta (Pemda DIY) untuk mendukung pengembangan perfilman di DIY. Film merupakan seni inti yang termaktub dalam Peraturan Daerah Istimewa (Perdais) DIY Nomor 1 Tahun 2013 tentang Kewenangan dalam Urusan Keistimewaan DIY dan perlu dikembangkan lebih lanjut. Sebagai seni inti dalam dokumen kebijakan Pemda DIY, Dinas Kebudayaan DIY telah mengembangkan perfilman di daerah sekurangnya sejak tahun 2009 dengan pembentukan Seksi Perfilman beserta program dan kegiatannya. Adapun, implementasi kebijakan melalui seksi tersebut terus dikembangkan agar dapat memfasilitasi pengembangan perfilman daerah bagi publik di DIY.

(8)

Kami berharap penerbitan buku ini dapat ditindaklanjuti dengan kajian-kajian yang memperkaya dan lebih dalam, serta memberikan kontribusi bagi pengembangan perfilman daerah. Tentu, Pemda DIY tidak mampu melakukan pengembangan tersebut sendiri, sehingga memerlukan sinergi dengan para pemangku kepentingan. Harapannya, penerbitan buku ini dapat menjadi pemantik pihak-pihak terkait untuk bersama-sama Pemda DIY bersama-sama mengembangkan perfilman daerah.

Terbitnya buku ini tidak lepas dari dukungan berbagai pihak, baik dari internal Dinas Kebudayaan DIY maupun pemangku kepentingan perfilman di DIY. Oleh karena itu, perkenankan kami memberikan apresiasi dan terimakasih sebesar-besarnya kepada sejumlah pihak atas dukungan dan masukannya selama penelitian dan penyusunan naskah buku ini. Semoga buku ini dapat bermanfaat bagi pembaca, memberikan masukan bagi kepentingan praktis kebijakan publik perfilman di DIY, dan dapat dimanfaatkan untuk pengayaan studi akademis perfilman di Indonesia.

Wa‘alaikumsalaam wr. wb.

Jogja Istimewa,

Istimewa untuk Indonesia

Salam Budaya,

Kepala Dinas Kebudayaan DIY

(9)

BAB I

Perfilman ala Yogyakarta

Pembuatan Film di Yogyakarta

Pembuatan film di Yogyakarta tidak sama dengan film di kota lain, seperti Jakarta, atau di negara lain, misalnya Inggris. Bahkan, apa yang disebut film di Yogyakarta bisa tidak sama dengan apa yang disebut film di kota atau negara lain. Oleh karena itu, kalau nanti di buku ini disebut penelitian-penelitian tentang pembuatan film di tempat lain, perlu diingat bahwa kami tidak sedang membandingkan hal yang sama di tempat lain. Melainkan, kami sedang belajar dari tempat lain untuk memahami hal kita sendiri yang memiliki kekhasan. Untuk itu, kita mulai dengan menilik apa itu film di Yogyakarta. Kemudian, kita lihat keadaan-keadaan yang memungkinkannya muncul dan memengaruhi perkembangannya. Terakhir, kita akan lihat secara lebih khusus beberapa pengamatan awal perihal pendanaan dan pengelolaan pekerja dalam pembuatan film.

(10)

makna. Bagi pihak yang menaruh harapan besar, film independen diharapkan bisa menjadi satu batu penjuru bagi pembangunan sistem film yang mandiri, terdiri dari sekolah, pembuatan, pemutaran, dan kritik film yang berbeda dengan film pasaran (mainstream). Sebaliknya, semisal Heryanto (2014: 89), apa yang disebut film independen makin tidak jelas dan kehilangan daya tarik maknanya selepas era 2000-an justru setelah jumlah film independen meningkat drastis hingga ribuan judul, tetapi diiringi dengan latar belakang pembuat yang makin beragam (pembuat film lulusan sekolah film dan profesional, hingga remaja usia sekolah menengah).

Meski istilah independen bisa jadi ajang perbantahan, ia membantu kita menggambarkan pembuatan film Yogyakarta yang tidak terkait dengan industri film Indonesia, yang berpusat di Jakarta. Karya film independen secara umum tidak diputar di layar bioskop yang dimiliki oleh pengusaha Jakarta. Para pembuat film independen tidak bersekolah di sekolah film yang, lagi-lagi, hanya ada di Jakarta. Peralatan dan pekerja film independen ugahari dan didapat dari tempat sekitar. Pendek kata, independen di sini bukan soal membangun gagasan kesenian tersendiri atau gerakan membebaskan diri dari kekuasaan ekonomi-politik tertentu, tetapi swadaya karena keadaan dan keterpisahan.

(11)

festival dan penciptaan beragam film” (Nugroho dan Suwarto, 2013: 361). Jadi, komunitas film inilah yang menciptakan unsur-unsur pembuatan film, mulai dari mencarikan hibah pendanaan, pelatihan keterampilan pembuatan film, pemutaran untuk khalayak, hingga media kritik dan penilaian. Beberapa contoh komunitas yang menyelenggarakan program pelatihan, pemutaran, dan apresiasi adalah komunitas kine klub yang berbasis kampus seperti di Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Akademi Pembangunan Masyarakat Desa (APMD), Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dan Universitas Islam Negeri Yogyakarta (UIN, dulu IAIN). Ada juga komunitas apresiasi dan kajian film yang tidak berbasis kampus, seperti De Javu, Kinoki, Montase, Rumah Sinema, Forum Film Dokumenter (sebelum 2013 disebut Komunitas Dokumenter, penyelenggara Festival Film Dokumenter), serta kelompok yang lebih bergelut dalam kegiatan produksi seperti Limaenam Films, Studio Kasat Mata, dan Fourcolours Films.

(12)

setempat juga bisa membawa para pembuat film ke festival film internasional di luar negeri. Sejumlah pelaku film Yogyakarta telah mencatatkan nama mereka melalui karya-karya yang terpilih dalam program kompetisi, bahkan memenangi penghargaan tertentu. Di antaranya, mengutip Nugroho dan Suwarto (2013: 394-396), beberapa sineas muda itu adalah: Ifa Isfansyah (Busan International Film Festival 2012 serta International Film Festival Rotterdam 2011 dan 2013) dan Yosep Anggi Noen (International Film Festival Rotterdam 2013 dan 2014 serta Busan International Film Festival 2013). Sosok terbaru dari Yogyakarta yang juga turut tercatat dalam sirkuit internasional ini adalah Ismail Basbeth (International Documentary Film Festival Amsterdam 2013 dan International Film Festival Rotterdam 2015).

(13)

menjadi lembaga usaha, semisal Fourcolours Films (Basbeth, 2011). Fourcolour Films berubah dari komunitas menjadi CV, kemudian membentuk PT.

Dalam mencari kru pembuatan film pengamatan sekilas menunjukkan bahwa kru diperoleh melalui hubungan di dalam komunitas sendiri maupun dengan komunitas lain. Selain dari kalangan semiprofesional, pekerja film juga datang dari dunia kampus. Yogyakarta memiliki banyak lembaga pendidikan tinggi yang memberi kesempatan para mahasiswa belajar menggunakan berbagai alat rekam gambar-suara, penataan set, busana, rias, hingga pengolahan animasi di tahap pascaproduksi. Mahasiswa-mahasiswa ini, baik bergabung dalam komunitas film ataupun tidak, membutuhkan kesempatan bekerja dalam pembuatan film untuk meningkatkan kemampuan mereka. Terciptalah hubungan saling membutuhkan antara para pembuat film dan mahasiswa pencari kesempatan berlatih.

(14)

Perihal Organisasi Perfilman

Sebelum melihat lebih dalam perfilman Yogyakarta, mari kita menilik sekilas perfilman di tempat lain. Penelitian yang dilakukan oleh Blair, Culkin, dan Randle (2003: 619) melihat bahwa pasar tenaga kerja film di London dan Los Angeles 'tertanam' ke dalam tatanan kelembagaan yang bersifat khas di masing-masing tempat, bukan sebagai hasil dari mekanisme pasar berdasarkan penetapan harga. Karena mendekati pasar tenaga kerja sebagai bagian dari tatanan kelembagaan, penting untuk melihat terlebih dahulu aturan-aturan (pemerintah, asosiasi profesi) yang berlaku di sana. Lebih jauh lagi, ketertanaman dijabarkan sebagai jejaring hubungan sosial antara pencari kerja dengan orang-orang yang membuka jalan masuk untuk bekerja. Wawasan yang bisa ditarik dari penelitian tersebut untuk penelitian ini adalah bahwa tatanan kelembagaan menjadi penentu ciri dasar suatu sektor kegiatan. Bila kita bawa wawasan ini ke sektor pembuatan film di Yogyakarta, kita melihat bahwa tatanan kelembagaan perfilman Yogyakarta bersifat informal dan berdasarkan proyek (Turner dan Keegan, 1999). Masing-masing sifat, informal dan berdasarkan proyek, akan dibahas dalam bagian tersendiri di bawah ini.

Informalitas Pembuatan Film di Yogyakarta

(15)

Berdasar cara pandang untung-rugi (de Castro dkk., 2014), mendaftarkan diri pada pemerintah dan membayar pajak adalah tindakan mengeluarkan biaya dan membuang waktu, sedangkan keuntungan atau layanan yang didapat tidak jelas. Salah satu temuan penting dari penelitian de Castro dan kawan-kawan (2014) adalah bahwa dalam kenyataan tidak hanya terdapat golongan formal dan informal, namun ada rentang pilihan yang banyak dari antara formal sepenuhnya dan informal sepenuhnya. Masing-masing daerah barangkali memiliki kekhasan dalam pola informalitas usahanya, dipengaruhi oleh tatanan kelembagaan yang berlaku di daerah tersebut. Dalam dunia pembuatan film, contoh luar biasa dari industri perfilman yang informal adalah Nollywood di Nigeria yang menghasilkan judul film terbanyak per tahun sedunia. Di dalam sifat informal ekonomi mereka kegiatan yang legal maupun ilegal bercampur, semisal dalam pembajakan film berformat VCD/DVD meski sebenarnya sistem yang berjalan terbukti mampu menghidupi, bahkan membuat kaya para pengusaha dan pelaku di dalamnya (Bud, 2014; Radwan dan Strauss, 2010).

(16)

2007). Keadaan ini juga dialami komunitas pembuat film di Indonesia pula, yang datang dan pergi, lahir dan ada yang tumbang kemudian (Ratna, 2007). Adapun, program subsidi negara kepada komunitas pembuat film dapat saja tidak mengenai sasaran karena tidak terjangkaunya komunitas film ‘bawah tanah (Ratna, 2007), entah karena mereka memilih mandiri atau mungkin karena tidak terdaftar oleh negara. Dalam situasi tersebut beberapa komunitas pembuat film di Indonesia bersiasat dengan membuat jalur distribusi alternatif dan memungut biaya pemutaran untuk mengembalikan biaya produksi, membuka ruang usaha (seperti, cafe dan toko buku), dan mencari subsidi dari pemerintah daerah setempat atau sponsorship untuk dukungan ruang eksibisi (Ratna, 2007). Mereka dapat pula bersiasat dengan mengerjakan proyek komersial pesanan (iklan, company profile, dan lain-lain) sebagai modus untuk mendapatkan dana untuk organisasi agar bertahan hidup dan tetap dapat memproduksi film alternatif atau independen (Basbeth, 2011).

(17)

pendanaan yang kuat dari negara (melalui komisi film), atau melalui jalur privat seperti produksi bersama.

Seperti telah disinggung di muka, sebagai contoh, Fourcolours Films mengubah-ubah bentuk organisasinya, atau bergerak dari informal menjadi makin formal, untuk menyesuaikan diri dengan pendana atau pemesan produk. Hubungan pembuat film dan pendana ini masih belum diteliti hingga sekarang. Padahal, ini kami pandang penting karena akan menunjukkan jenis-jenis organisasi pembuat film yang ada di Yogyakarta dan perubahan organisasi mereka.

Tata Kelola Berdasar Proyek

(18)

Dalam dunia pembuatan film di Inggris, orang bisa masuk ke dalam proyek pembuatan film melalui dua cara, yaitu rekomendasi dan magang (Davenport, 2006). Rekomendasi biasanya terkait dengan kemampuan teknis dan karakter atau sifat individu. Sedangkan, proses magang dapat diawali melalui sekolah film atau magang dengan pekerja yang lebih senior melalui proses mentoring (Blair dkk., 2010). Terkadang untuk menjaga produktivitas di dalam industri, para pekerja bersedia bekerja paruh waktu atau tidak dibayar. Hal ini untuk menjamin keterlibatan mereka secara terus-menerus di pasar tenaga kerja industri film.

Proses keterlibatan memasuki industri film lebih banyak berlangsung informal daripada formal seperti mengirimkan lamaran kerja, seleksi dan penempatan yang ketat. Oleh karena itu, koordinasi permintaan dan penawaran pasar tenaga kerja lebih banyak melalui mekanisme sosial, bukan harga (Grieco, 1987; Granovetter, 1995; Wial, 1991 dalam Blair dkk, 2003: 621). Kemampuan seseorang membangun kontak personal berpengaruh lebih besar terhadap pengembangan karier seseorang, ketimbang kemampuan teknis itu saja (Blair dkk., 2001 dalam Blair dkk., 2003: 621).

(19)

hambatan kemajuan industri film itu sendiri. Kemajuan dalam hal ini adalah inovasi produksi dalam perluasan bisnis yang berkaitan dengan kapitalisasi finansial dan peningkatan ukuran perusahaan (Davenport, 2006). Hal ini bertentangan dengan tujuan tata kelola proyek yang justru mengharapkan inovasi tinggi melalui struktur organisasi yang informal dan temporer ini.

Para produser yang selalu merasa memiliki keterbatasan finansial merasa nyaman hanya bekerja dengan orang-orang tertentu di lingkaran pergaulannya. Mereka mencari pekerja yang memiliki kemampuan sangat khusus, berbasis keterampilan yang terbatas, dan dapat bekerja sama secara efisien dengan proses kolaborasi dan komunikasi yang cepat (Davenport, 2006: 254). Akibatnya, akumulasi pengetahuan dan keterampilan di level individu tidak terjadi dan hasil tata kelola proyek tidak optimal.

Pertanyaan Penelitian

(20)

tetapi juga penyediaan busana, pemain, lokasi, kendaraan, makan, hingga penyuntingan dan penambahan musik pascaproduksi. Berbeda dengan komunitas film yang dibentuk dan didanai oleh lembaga pendidikan tinggi, kelompok film di luar kampus harus mengupayakan dana dari sumber yang berbeda. Berdasarkan pengamatan awal, kami menduga hubungan antara kelompok pembuat film dan pendana merupakan satu penentu ciri penting pada cara hidup dan cara membuat film kelompok tersebut. Hal kedua, pelibatan banyak orang, juga kami pandang dapat menjadi matra pengelompokan karena setiap kelompok pembuat film selalu menghadapi persoalan ini: siapakah yang akan mengerjakan film ini dan bagaimana hubungan kelompok pembuat film dengan mereka? Di satu sisi, jumlah pekerja film yang dibutuhkan untuk setiap proyek selalu besar. Di sisi lain, mempertahankan orang sebanyak itu dalam satu kelompok dalam jangka waktu panjang adalah sangat sulit, baik dalam hubungan pertemanan maupun jual-beli. Situasi setiap kelompok film dalam menjawab masalah yang selalu dihadapi setiap kali membuat film ini akan membentuk kelompok-kelompok yang berbeda.

(21)

kerja dibayar dan hubungan pertemanan. Kedua matra ini akan memberikan gambaran yang lebih menyeluruh sekaligus terperinci perihal ciri informal dan ciri berdasar-proyek dalam dunia perfilman Yogyakarta. Meskipun matra hubungan pendana dengan pembuat film dan hubungan antara pembuat dengan pekerja termasuk topik penting dalam ranah ilmu manajemen kelompok, tetapi penelitian ini tidak bertujuan memahami manajemen kelompok secara terperinci, seperti aspek pengelolaan keuangan, tenaga kerja, pemasaran, dan produksi.

Meringkas pembahasan di muka, secara lugas riset ini berusaha menjawab pertanyaan penelitian sebagai berikut:

1. Siapa sajakah kelompok pembuat film yang aktif di Yogyakarta dalam lima tahun terakhir?

2. Bagaimanakah hubungan para pembuat film dengan para pendana film mereka? 3. Bagaimanakah hubungan para pembuat film dengan para pekerja film mereka?

(22)

BAB II

Melacak Para Pembuat Film

Pengumpulan Data

Penelitian ini mengumpulkan data dari bahan tertulis maupun keterangan lisan. Beberapa catatan perlu kami sampaikan agar keterangan yang kami dapat bisa dipahami secara tepat.

(23)

Kelompok pembuat film akan dijabarkan lebih rinci sebagai berikut:

1. Kelompok terdiri dari dua orang atau lebih. Kelompok tidak harus memiliki badan hukum atau struktur organisasi yang baku. Pembuat film individu yang tidak tergabung dalam kelompok tidak dijadikan obyek penelitian.

2. Pembuat adalah pihak yang bertanggung jawab dalam proses penciptaan karya gambar-dengar (audiovisual).

3. Film adalah karya utuh gambar-dengar yang telah dipertontonkan kepada khalayak, baik melalui festival film ataupun pemutaran tersendiri.

Kelompok pembuat film yang dimaksud dalam penelitian ini adalah mereka yang membuat kelompok di luar sekolah termasuk perguruan tinggi karena wilayah kerja Dinas Kebudayaan DIY tidak mencakup lembaga pendidikan. Pembatasan ini memberi kesan seolah-olah kelompok pembuat film di luar sekolah terpisah dengan pembuat film berbasis sekolah. Sebenarnya, kedua tipe kelompok bekerja erat dan sebagian besar dari kelompok yang berada di luar kampus pertama kali didirikan oleh para mahasiswa yang berteman di kampus mereka. Ini sekaligus menunjukkan cakupan batasan penelitian ini.

(24)

dengan anggapan bahwa tata kelola ini penting bagi kelangsungan pembuatan film secara kolektif.

Untuk mengetahui kinerja kelompok, para pembuat film diminta mengisi kuesioner dengan pola pembuatan yang paling sering mereka jalani dalam lima tahun terakhir. Jika pola-pola tersebut berubah, maka pola dalam satu tahun terakhirlah yang menjadi acuan. Dengan demikian, penelitian ini berupaya menampilkan ciri utama suatu kelompok dan, yang kedua, adalah dalam keadaannya yang terkini.

Selanjutnya, karena kelompok pembuat film adalah mereka yang menghasilkan

film yang sudah diputar, maka langkah pertama adalah mencari catatan pemutaran film dan festival film dalam lima tahun terakhir, misal JAFF (Jogja-Netpac Asian Film Festival), Festival Film Dokumenter (FFD), Festival Film Indie Yogyakarta - Pekan Film Yogyakarta, dan Data Pembuat Film yang bersumber dari Dinas Kebudayaan DIY.

Dari daftar film tersebut, nama-nama produser film yang diputar dilacak, mana yang bertempat di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan masih aktif. Selain melalui daftar festival maupun publikasi pemutaran, pelacakan juga dilakukan dengan bertanya kepada mereka yang telah masuk dalam daftar kami (metode bola salju). Pelacakan dianggap telah selesai jika tidak ada nama baru yang muncul. Secara terperinci, berikut langkah-langkah yang kami lakukan:

(25)

membuat dan menayangkan film. Kelompok film yang dipilih juga bukan kelompok yang berbasis sekolah, perguruan tinggi, atau kelompok pembuat film yang membawa institusi sekolah. Tim peneliti menemukan bahwa tidak ada daftar pembuat film Yogyakarta yang lengkap dan terkini yang dapat menjadi acuan atau data dasar.

2. Penyusunan kerangka sampel dimulai dari daftar yang disusun Dahlan (2012)1 yang mencantumkan daftar komunitas film di Yogyakarta. Data Dahlan (2012) tersebut relatif baru dan deskriptif dibandingkan Direktori Perfilman Dinas Kebudayaan DIY (2010) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) DIY 2012-2017. Data Dahlan (2012) memuat komunitas film dari berbagai bidang kegiatan, antara lain pembuat film, apresiasi film (kine club), dan kelompok studi film. Tim peneliti kemudian menyaring data Dahlan (2012) untuk mencari kelompok pembuat film saja, sesuai fokus penelitian.

3. Penyusunan kerangka sampel kemudian kami kembangkan dengan melihat data sekunder lain yang relevan. Sumber sekunder tersebut antara lain: daftar pembuat film yang dimiliki Dinas Kebudayaan DIY 2010-2014, daftar film yang berkompetisi atau diputar selama kurun 2010-2014 pada Festival Film Indie Yogyakarta - Pekan Film Yogyakarta, JAFF (Jogja-Netpac Asian Film Festival),

1

(26)

Festival Film Dokumenter (FFD), Lembaga Indonesia Prancis dan Gedung Societeit, Taman Budaya Yogyakarta. Daftar pembuat film juga diperoleh dari jaringan pertemanan peneliti dengan pembuat film.

4. Penyusunan kerangka sampel tersebut menghasilkan daftar berisi 103 (seratus tiga) kelompok film yang membuat film di DIY dan menayangkannya dalam kurun lima tahun terakhir. Penyusunan kerangka sampel tersebut menyisihkan kelompok pembuat film yang membuat produk audiovisual, tetapi tidak ditayangkan publik atau berupa karya pesanan (video profil).

5. Sejumlah 103 kelompok film di DIY yang berhasil kami catat kemudian kami hubungi satu per satu. Lebih dari separuh nama yang ada tidak terpakai karena beberapa alasan berikut: (a) tanpa keterangan kontak, (b) nomor telepon dan/atau alamat surat elektronik sudah tidak aktif, (c) sudah pindah dari DIY, (d) kelompok tersebut sudah tidak aktif, dan (e) tidak bersedia diwawancarai.

(27)

sebagai dua kelompok yang berbeda. Dengan kata lain, kelompok di sini diartikan secara formal sebagai organisasi, bukan substansial berdasarkan orangnya.

7. Selanjutnya, kami mewawancarai secara langsung 51 (lima puluh satu) kelompok pembuat film. Tiga kelompok yang telah kami wawancara tidak kami masukkan sebagai data karena dari wawancara tersebut kami ketahui mereka tidak memenuhi kriteria kelompok karena beranggota kurang dari dua dan telah tidak aktif. Akhirnya, data yang kami sajikan di sini mencakup 48 (empat puluh delapan) kelompok pembuat film di Yogyakarta.

8. Penyusunan kerangka sampel ini mengandung bias sebagai berikut:

a. Tidak memasukkan kelompok berbasis sekolah atau perguruan tinggi dengan melihat kewenangan Dinas Kebudayaan pada urusan kebudayaan, sedangkan urusan pendidikan yang mencakup sekolah dan perguruan tinggi berada di Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga. Pilihan penelitian ini mengabaikan hubungan erat antara dunia perguruan tinggi dan pembuatan film.

(28)

atau tempat pemutaran yang dipilih oleh tim peneliti. Misalnya, karya film dari pembuat film di DIY yang diputar di media YouTube, Vimeo, stasiun televisi, festival film selain yang disebutkan di atas (seperti, Festival Film Indonesia/FFI, JiFFest, dsb), tempat pemutaran lain seperti Cineplex XXI, ruang putar di kampus, galeri seni, dan gedung pertunjukan umum lainnya.

c. Telah disebut di muka bahwa pembuat film yang tidak berkelompok tidak masuk dalam penelitian ini, padahal praktik demikian lazim dilakukan dalam produksi film dokumenter.

9. Meringkas pemaparan kami di muka, langkah-langkah yang kami lakukan adalah untuk memastikan bahwa:

a. Kelompok pembuat film masih hidup dan aktif.

b. Kelompok pembuat film masih berkedudukan di DIY.

c. Kelompok pembuat film masih menggunakan nama yang sama atau berganti identitas.

d. Kelompok pembuat film di DIY dapat dihubungi dan bersedia diwawancarai untuk keperluan penelitian ini.

(29)

menggunakan kuesioner sebagai instrumen wawancara yang sudah dirancang dan diuji sebelumnya. Wawancara direkam menggunakan perekam suara dan jawaban informan dicatat oleh surveyor dalam kuesioner. Selain kuesioner, keterangan informan disarikan dalam catatan terpisah surveyor berdasarkan rekaman suara wawancara. Ini menjamin bahwa keterangan dalam rekaman dituliskan dengan tepat karena penulisnya adalah pewawancara sendiri.

Surveyor seminggu sekali bertemu dengan tim peneliti untuk membahas kendala di lapangan dan melaporkan hasil sementara. Surveyor mengumpulkan laporan kepada tim peneliti berupa:

1. Kuesioner yang terisi lengkap dan ditandatangani informan. 2. Rekaman suara hasil wawancara.

3. Catatan-catatan lapangan yang mendukung.

(30)

Untuk melindungi para pembuat film dari pandangan pihak luar saat mereka menceritakan sesuatu yang bersifat pribadi dan rahasia, atau saat menyampaikan pandangan mereka perihal sesuatu, penelitian ini mengutip pernyataan mereka tanpa menyebut nama.

Profil Pembuat Film Yogyakarta

Sebelum kami melaporkan profil informan dan kelompok mereka, perlu diperhatikan bahwa jumlah informan (n) yang dilaporkan untuk masing-masing topik bisa berbeda disebabkan tidak semua informan memberi jawaban untuk setiap pertanyaan.

Profil Individu

(31)

perihal profesi, yakni hampir dua pertiga informan menyatakan bahwa profesi mereka di bidang pembuatan film (filmmaker, sutradara, produser, editor, dan videografer).

Sebagian besar dari mereka adalah laki-laki (79%, 37 dari 48). Perempuan dalam kelompok pembuat film secara umum tidak menduduki posisi pemimpin (hanya seperlima). Temuan ini menunjukkan persoalan nyata di bidang pembuatan film, yakni perihal kesempatan perempuan bekerja di dalamnya. Karena penelitian ini tidak dirancang sejak awal untuk menyingkapnya, penyebab dari kenyataan ini belum bisa diketahui sehingga butuh penelitian tersendiri. Mungkin perlu juga diketahui apakah secara umum perempuan lebih sedikit daripada laki-laki ataukah hanya di jabatan pemimpin.

(32)

Profil Kelompok

Kelompok pembuat film di Yogyakarta beragam dari segi umur organisasi, bentuk organisasi, maupun ukuran organisasi.

Dari segi umur, hampir semua kelompok pembuat film (n = 48) didirikan pascareformasi, kecuali satu kelompok yang didirikan pada tahun 1970. Empat puluh tujuh kelompok yang lain didirikan antara tahun 2000 hingga tahun 2014. Kemunculan kelompok pembuat film ini berbarengan dengan perubahan sosial-politik pasca-1998 yang membebaskan semua warga negara berkelompok dan mengungkapkan pandangan melalui media. Sebab lain yang mungkin turut mendorong kemunculan mereka adalah komoditisasi alat-alat pembuatan film (kamera, media penyimpanan, komputer, dan sebagainya). Sehingga, kelompok yang ingin belajar membuat film bisa memulai dengan biaya relatif kecil dibandingkan dengan menggunakan teknologi seluloid.

(33)

struktur organisasi. Penelitian ini menemukan bahwa sebagian besar kelompok (71%, 34 dari 48) berawal dari bentuk kelompok informal.

Kelompok-kelompok informal ini kemudian mengalami proses pengorganisasian, sehingga mereka memiliki pemimpin, jadwal, rencana kerja, dana organisasi, tempat bertemu yang permanen, dan aset berupa alat-alat produksi. Seperlima dari mereka (7 dari 34) kemudian melangkah lebih jauh dan melakukan formalisasi menjadi organisasi yang diakui pemerintah dengan ciri-ciri terdaftar di pengadilan dan memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), sedangkan empat perlima sisanya tetap tidak berorganisasi formal. Alasan yang cukup banyak dikemukakan adalah bahwa mereka tidak memerlukan organisasi formal dalam pekerjaan, atau mereka memandang organisasi formal menciptakan beban pekerjaan baru yang tidak sebanding dengan keuntungan yang bisa didapat darinya dan, terakhir, status organisasi formal bisa dipinjam.

(34)

pengajuan tender. Dengan alasan demikian, ada kelompok yang berencana mengubah bentuk organisasi dari yayasan menjadi CV demi mempermudah kerjasama.

(35)

BAB III

Kelompok Film Yogyakarta

(36)

Gambar 3.1 - Model Kuadran Karakter Kelompok Film Yogyakarta

Pendanaan dan Hubungan Kerja

Penggolongan Kelompok Film

(37)

Ujung kiri sumbu mendatar X adalah hubungan pertemanan antara pembuat (tim produser) dengan kru fim, sedangkan titik ujung kanannya adalah hubungan ‘perburuhan’ dengan kru. Hubungan pertemanan ditandai dengan ketiadaan upah kerja, prosedur rekrutmen tidak baku, serta ketiadaan kontrak. Di ujung seberang, hubungan perburuhan ditandai dengan pemberian upah kerja, prosedur rekrutmen, dan kontrak kerja.

Sementara, sumbu tegak Y melambangkan hubungan pembiayaan antara pembuat film dengan pendana. Titik ujung atas adalah pendanaan dengan pengikutsertaan modal, baik dari kelompok pembuat sendiri maupun dari luar, dalam bentuk uang. Dalam hubungan modal, pihak pemodal menanggung risiko ekonomi jika film tidak berhasil dijual. Kami menggolongkan jual-beli pemesanan film ke dalam hubungan pemodal karena kelompok pembuat film itu sendiri yang memodali pembuatan film dan menanggung risiko bila tidak berhasil. Meskipun seolah-olah pendana adalah pemesan film, namun dana yang diserahkan oleh pemesan film telah berpindah kepemilikan. Sehingga, pembuat film sebagai penjual jasalah yang memiliki kekuasaan untuk menggunakannya. Dalam penggunaan model ini terkandung risiko. Sebagai misal, bila film terlambat selesai, gagal, atau tidak mencapai mutu yang disepakati maka ada risiko ekonomi pada kelompok pembuat film untuk tetap membayar tenaga kru film atau mengganti dana produksi.

(38)

memproduksi film berdasarkan keinginan atau konsep yang sepenuhnya diajukan oleh pembuat film. Dana dapat diberikan di awal, di tengah, atau di akhir masa produksi film. Jika film itu tidak selesai dibuat, maka tidak ada kemungkinan untuk menuntut pengembalian dana tersebut. Dengan demikian, pembuat film tidak memiliki risiko ekonomi.

Perlu dipahami bahwa hubungan pendanaan berupa modal dan hibah adalah dua titik ekstrem dalam pengelolaan risiko keuangan yang ditanggung oleh kelompok film. Di antara kedua titik tersebut ada beragam pengelolaan sumber dana produksi. Keragaman yang sama juga kami jumpai dalam hubungan dengan kru film, mekanisme pertemanan dan karyawan adalah dua ekstrem yang di antaranya terdapat beragam hubungan kerja.

Hasil persilangan antara sumbu X (pendanaan) dengan sumbu Y (hubungan kerja) menghasilkan empat bidang atau kami sebut kuadran, seperti tergambarkan dalam tabel di bawah ini.

Tabel 3.1 - Ragam Tipe Kelompok Pembuat Film

Teman Pekerja

Modal Kuadran A:

Mendanai produksi dengan

Kuadran B:

(39)
(40)

Gambar 3.2 - Persebaran Jumlah Tipe Kelompok Sesuai Kuadran

Kuadran A tidak memiliki anggota, yang berarti tidak ada satu pun kelompok film yang tidak membayar kru produksi. Sebagai perbandingan, berdasar pengamatan sekilas para peneliti, kelompok pembuat film di kalangan mahasiswa masih membuat film tanpa dibayar. Kekosongan pada kelompok ini mungkin disebabkan oleh pencuplikan data yang hanya memasukkan kelompok di luar lembaga pendidikan.

(41)

jual-beli jasa produksi film. Konten film ditentukan oleh pemesan dan kelompok pembuat film mengerjakan pesanan tersebut.

Ciri-ciri umum pada kuadran ini bisa dilihat pada kelompok 17. Kelompok 17 berbadan usaha CV. Kegiatan utamanya adalah melayani produksi video. Pengguna jasanya adalah instansi pemerintah dan universitas yang memesan produk-produk audio-visual, seperti film dokumenter dan video profil institusi. Selain menjual jasa pembuatan, ada pula kelompok yang menyediakan jasa teknik berupa penyewaan alat, seperti kelompok 26. Kelompok animasi seperti kelompok 41, 37, 23, 35 tidak hanya membuat film pesanan yang utuh, tetapi juga membuat bagian-bagian saja dari suatu film. Sejumlah besar kelompok dalam kuadran ini juga mengikutsertakan film pesanan atau film yang diproduksi atas inisiatif mereka ke festival film seperti dilakukan oleh kelompok 6 dan 20.

(42)

uang mereka sendiri). Bila pada akhirnya jumlah uang yang mereka terima sama atau kurang dari biaya yang mereka keluarkan, merekalah yang menerima risiko impas atau rugi. Semua ini belum tentu terjadi secara nyata dan bisa jadi dalam kenyataannya risiko tersebut tidak terwujud. Namun, risiko tetaplah potensial dan bila muncul keadaan-keadaan di atas, maka kerugian menjadi kenyataan.

Beberapa kelompok dalam kuadran B menyisihkan sebagian dana sisa produksi film pesanan tersebut untuk memproduksi film sesuai dengan keinginan mereka sendiri. Dalam produksi seperti ini, kru film seringkali tidak mendapat bayaran. Film atas inisiatif sendiri ini dikirimkan ke festival film dengan harapan mendapatkan hadiah atau penghargaan. Jika hadiah festival film berbentuk uang, maka uang tersebut dibagi untuk anggota atau digunakan untuk memproduksi film selanjutnya seperti yang dilakukan oleh kelompok 26, 2, 6, 20, 36.

Kelompok animasi, seperti kelompok 35, 37, 41 dan 23, melakukan kegiatan usaha dengan menjadi subkontraktor dari perusahaan film lain atau perusahaan iklan. Kelompok 35 dan 41 membuat beberapa karya atas inisiatif sendiri dengan harapan ada investor yang bersedia membiayai produksi lebih lanjut (film panjang atau seri lain). Namun, hingga saat ini kesempatan itu jarang terjadi. Maka, karya sendiri itu lebih banyak berfungsi sebagai portofolio kelompok untuk mendapatkan pekerjaan yang diingini pemesan.

(43)

pelatihan sebelum produksi, dan pelatihan pribadi dari anggota senior kepada yunior. Beberapa kelompok dalam kuadran B pada awalnya adalah anggota dari kuadran D yang memproduksi film dengan dana hibah dan pertemanan, seperti kelompok 40, 41, 2, 4, 6, 26. Akan tetapi, sekarang mereka lebih sering bekerja dalam skema kuadran B.

Pemahaman mengenai situasi ini, bahwa sebagian besar kelompok ada di kuadran B, merupakan temuan yang penting. Ini berarti bahwa sebagian besar kelompok pembuat film di Yogyakarta menjadi pemodal bagi mereka sendiri. Keadaan ini menyulitkan mereka mengembangkan usaha, terutama dalam pengertian menciptakan produk baru dan memasarkan produk lebih luas. Bila mereka tetap seperti sekarang, maka cara kerja dan skala usaha tidak akan berkembang. Kami menangkap kesan bahwa kelompok pembuat film tidak memerlukan pendana dari luar dan kami menduga bahwa sebabnya adalah nilai produksi yang masih berkisar di bawah satu miliar. Dengan nilai produksi yang rendah, maka biaya pengerjaan masih bisa dibayar dengan uang pesanan dari pemesan saja. Bila nilai produksi lebih tinggi (untuk jenis film layar lebar, film seri, dan lain-lain), pendanaan sendiri tidak mungkin lagi dilakukan. Di sini pemerintah dapat berperan dengan membuka jalur pendanaan yang lebih luas, misalnya dengan mengundang produser nasional dan internasional atau mendatangkan penyelenggara festival film nasional dan internasional.

(44)

pihak luar, termasuk pemerintah, dapat memberikan dukungan berupa pelatihan teknis dengan mendatangkan ahli-ahli tingkat nasional bahkan internasional untuk berbagai jenis keterampilan pembuatan film, semisal penulisan naskah, tata kamera, tata cahaya, tata suara, penyutradaraan, penyuntingan, pascaproduksi, dan lain-lain.

BOKS 4.1

Proyek “Thank You”

Kelompok 40 adalah salah satu contoh tipikal dari kuadran B. Kelompok ini berdiri pada tahun 2001 dengan empat orang anggota yang saat itu merupakan mahasiswa perguruan tinggi seni di Yogyakarta program studi televisi. Pada awalnya para anggota berkumpul karena didasari oleh hobi atau minat terhadap film. Mereka memproduksi film pendek dengan melibatkan anggotanya sendiri dan sejumlah kecil tenaga di luar anggota. Film mereka didanai dari uang iuran anggota dan diikutsertakan pada festival film amatir. Para pekerja produksi film tidak dibayar atau lazim disebut “proyek thank you”. Film-film tersebut mulai menjuarai beberapa kompetisi nasional.

Pada tahun 2003 kelompok 40 mulai masuk ke wilayah komersial dengan memproduksi profil perusahaan dan iklan. Karena tuntutan dari pemberi pekerjaan, mereka membuat badan hukum untuk kelompoknya. Lalu, para anggota kelompok menyetorkan sejumlah dana sebagai modal usaha. Kelompok 40 mulai mendanai produksinya dengan menggunakan modal yang

didapatkan dari pemberi pekerjaan dan modal sendiri. Mereka mengerjakan karya pesanan yang kontennya ditentukan oleh pemesan sembari tetap memproduksi film pendek inisiatif mereka sendiri. Para pekerja yang terlibat sebagian dari anggota kelompok dan luar kelompok. Mereka dipilih berdasarkan pertemanan yang terkadang dibayar terkadang tidak, tergantung ketersediaan dana.

(45)

yang telah lebih besar dan produktif dibandingkan 14 tahun lalu, tetapi kelompok 40 masih mengandalkan jejaring pertemanan untuk mendapatkan tenaga kerja. Mereka belum pernah melakukan rekrutmen terbuka, tenaga kerja dipilih berdasarkan kredibilitas yang terbangun di kalangan komunitas film. Dua kriteria utama dalam memilih kru adalah sikap dan semangat dari individu pekerja. Kalaupun ada kru yang dipilih melalui seleksi formal, umumnya mereka adalah para pemain film.

Beranjak ke kuadran C, karakternya berupa kelompok pembuat film yang mendanai produksi dengan hibah dan membayar kru produksinya, baik yang tergolong anggota organisasi maupun kru lepas. Kelompok ini bisa disebut kelompok “profesional nirlaba”. Kata profesional di sini merujuk pada adanya tindakan membayar pekerja meski sifat usaha tetap nirlaba. Kelompok pembuat film di kuadran ini tidak menanggung risiko ekonomi. Biasanya mereka menerima uang dari pihak lain, seperti lembaga donor atau lembaga seni internasional, untuk membuat film.

(46)

dibagikan pada kru film dan disisihkan untuk membiayai film berikutnya. Kelompok dalam subkuadran C2 ini juga rajin mengikuti pelatihan di dalam dan luar negeri. Keikutsertaan dalam pelatihan tidak saja ditujukan untuk meningkatkan kemampuan, melainkan juga untuk menjalin kerjasama dengan organisasi film nasional dan internasional. Dalam sebagian kecil kesempatan, kelompok 43 dan 48 (subkuadran C2) juga melayani pesanan film, yang berarti bahwa terkadang mereka berada dalam kuadran B. Kelompok 43, 44, 45, dan 46 di masa-masa awal bekerja tergolong dalam kuadran D, setelah beberapa waktu mereka berubah pola memasuki kuadran C.

Salah satu contoh yang dapat mewakili kuadran C adalah kelompok 44. Kelompok ini didirikan pada tahun 2001 oleh sekelompok siswa SMA. Mereka membuat film lalu mengikutsertakan dalam kompetisi film. Beberapa film mereka menang dan mendapatkan penghargaan berupa uang. Uang tersebut ditambah dengan sumbangan dari donatur kesenian perorangan digunakan untuk memproduksi film lagi, begitu seterusnya. Beberapa tahun terakhir, mereka rajin mengirim proposal hibah pembuatan film ke berbagai lembaga kesenian, seperti galeri dan festival film. Jika film mereka didanai oleh lembaga kesenian atau menang dalam festival film, uang hadiah dibagikan sebagian untuk anggota dan sebagian lagi digunakan untuk membuat film selanjutnya.

(47)

memiliki keahlian tinggi dan menghasilkan film yang bagus dari sisi produksi. Tanpa beban menghasilkan laba dan menghindari risiko ekonomi, kelompok ini mendapat keleluasaan untuk mencapai tujuan-tujuan seni, misalnya, menghasilkan bentuk film yang baru, ungkapan baru, dan lain-lain serta melayani fungsi-fungsi sosial yang kurang bisa dieksploitasi secara ekonomi, seperti fungsi pendidikan dan penyuluhan.

BOKS 4.2

Hidup dari Hibah

Kelompok 48 sudah berumur lebih dari empat puluh tahun. Sejak awal, organisasi ini didirikan untuk kepentingan keagamaan dari organisasi induknya. Pendanaan organisasi didapat dari sumbangan organisasi keagamaan di luar negeri yang berkait dengannya. Sumbangan dipakai untuk mendirikan studio alam, kompleks kantor, membayar gaji pegawai bulanan, hingga untuk membuat film. Kelompok ini hampir sepenuhnya hidup dari sumbangan. Saat penyumbang dari luar negeri mengurangi jumlah sumbangan, kelompok ini merasa bahwa kru yang digaji bulanan menjadi beban biaya. Oleh karena itu, kelompok 48 mulai menciptakan hubungan baru dengan para pekerjanya, yaitu pekerja lepas agar tidak harus membayar beban gaji bulanan. Upaya penghematan juga dilakukan dengan menghentikan perekrutan pegawai tetap.

Selain mengurangi beban pengeluaran, pendanaan di dalam negeri juga digalang lebih kuat. Sebagai misal, kelompok ini menjual jasa pelatihan komersial untuk perusahaan-perusahaan media yang ingin melatih pegawai baru atau meningkatkan kemampuan pegawai lama.

Kemampuan menggalang dana kelompok ini bahkan mampu menyokong pembuatan film layar lebar yang cukup mahal. Tentu tema film yang dibuat harus sesuai dengan misi organisasi dan menyentuh harapan para penyumbang.

(48)

Kelompok pembuat film seperti ini memang tidak banyak, tetapi terbukti mampu hidup lama, mengembangkan keahlian yang dibutuhkan oleh perusahaan-perusahaan media, dan memperkaya khazanah tema film yang diproduksi.

Kuadran terakhir adalah kuadran D yang berisi kelompok pembuat film dengan dana hibah dan tanpa membayar pekerjanya, yakni berdasar pertemanan. Kami menggolongkan mereka ke dalam dua subkuadran berdasar sumber dana, yaitu D1 berdasar dana iuran anggota kelompok dan D2 berdasar sumbangan jemaat. Subkuadran D1 terdiri dari kelompok 9, 11, 13, 15, 16, 21, 30. Subkuadran D2 beranggota dua kelompok, yaitu kelompok 31 dan 32. Keduanya adalah bagian dari organisasi keagamaan. Dana produksi didapatkan dari iuran anggota dan jemaat. Kelompok 32 pernah mendapatkan dana dari pemerintah ketika pertama kali produksi, tetapi produksi selanjutnya didukung dari iuran anggota dan jemaat.

(49)

dengan cuma-cuma atau biaya murah karena mereka membuat film tidak untuk mencari laba dan dengan biaya patungan.

BOKS 4.3

Saweran, Siasat Produksi Film

Kelompok 15 dan 30 berdiri tanpa badan hukum, tidak memiliki nomor pokok wajib pajak (NPWP), dan memiliki organisasi yang cair. Sebagai ilustrasi bagi kuadran D, kelompok 30 adalah kelompok yang didirikan tahun 2009 oleh enam orang mahasiswa perguruan tinggi seni di Yogyakarta program studi televisi. Kelompok ini lebih banyak menggarap film-film bergenre fiksi berdana relatif rendah dengan besaran maksimum lima juta rupiah untuk pembuatan empat film pada kurun 2010-2013.

Produksi film tersebut berasal dari dana patungan para anggota, kerap mereka sebut

bantingan, urunan, atau saweran. Pola pendanaan model patungan atau bantingan ini memiliki risiko rugi atau keuntungan yang tidak diikat kontrak oleh kelompok 30. Risiko kegagalan produksi menjadi tanggungan bersama anggota kelompok yang ditindaklanjuti dengan perombakan gagasan. Adapun, keuntungan ekonomi atas film akan dibagi kepada para

anggotanya. Model pendanaan film ini tidak membutuhkan negosiasi dengan pihak investor dari luar terkait risiko dan kepemilikan atau hak cipta atas karya.

Tenaga kerja pada kelompok 30 diutamakan berasal dari anggota kelompok yang memegang posisi kunci produksi dan memungkinkan rekrutmen kru dari luar kelompok apabila dibutuhkan. Rekrutmen kru dari luar kelompok merupakan keputusan kolektif dari anggota kelompok. Seluruh pekerja, baik anggota maupun kru dari luar, tidak mendapatkan kompensasi secara finansial berupa gaji atau honorarium. Kompensasi dari keterlibatan tenaga kerja adalah nirlaba berupa aktivitas berbagi pengalaman dan pengetahuan. Sehingga, kelompok ini lebih banyak menarik kru dari jalur pertemanan terutama kalangan mahasiswa dengan mempertimbangkan keterampilan, sikap, semangat kerja dalam kelompok, dan kemampuan bekerjasama.

Kelompok 30 dapat dikatakan sebagai komunitas belajar membuat film.

(50)

cair, tetapi tidak sepenuhnya hanya sebagai kelompok belajar nirlaba. Kelompok 15 juga memiliki lini komersial meski volumenya masih di bawah kuantitas proyek patungan atau nirlabanya.

Sumber Dana

Sebagaimana dijelaskan di atas, ada dua jenis hubungan pendanaan, yaitu modal dan hibah. Berdasarkan pemetaan di atas, sebagian besar kelompok pembuat film bisa dimasukkan dalam golongan hubungan pendanaan modal (kuadran B). Karena modal mengandung risiko, maka biasanya pendana dan/atau pengguna jasa serta penerima dana berusaha meminimalkan risiko dengan pengaturan kerjasama dalam kontrak. Namun, dari 33 kelompok di kuadran ini, ada 16 kelompok yang menyatakan tidak pernah menggunakan kontrak dengan pengguna jasa. Dua kelompok tidak menjawab, lalu satu kelompok kadang melibatkan kontrak kadang tidak.

(51)

dari hubungan pertemanan atau jejaring sosial yang telah dikembangkan sebelumnya oleh kelompok film maupun individu-individu di dalam kelompok tersebut, seperti diungkapkan oleh kelompok 40, 37, 12, 22, 17, dan kelompok-kelompok lain. Sedangkan, 12 kelompok tidak menjawab. Sangat sedikit kelompok yang pernah mendapatkan dana melalui pengajuan proposal dengan pihak yang sama sekali tidak dikenal, seperti yang dilakukan oleh kelompok 35, 43, dan 44.

Karena hampir semua kelompok mendapatkan dana dari pemesan film, maka kami kira penting untuk mengelompokkan jenis-jenis asal sumber dana tersebut:

1. Pasar internasional: dilakukan oleh kelompok 3 2. Pemerintah pusat: kelompok 24

3. Pemerintah daerah: kelompok 29, 38

4. LSM/NGO internasional: kelompok 8, 12, 48 5. LSM/NGO dalam negeri: kelompok 8, 12, 39, 48 6. Stasiun televisi: kelompok 34, 40, 3

7. Perusahaan iklan: kelompok 12, 23

8. Donor film internasional: kelompok 43, 44, 45, 46 9. Perusahaan swasta: kelompok 35, 41

10. Universitas: kelompok 17 11. Crowdfunding: kelompok 3

(52)

14. Afiliasi organisasi lain: kelompok 25 dan 10

Pengguna jasa atau pemesan film yang dimaksud di atas memberikan dana tunai yang dipakai sebagai dana produksi. Sebenarnya, kelompok pembuat film sendiri 'turut' menanggung beban produksi film tersebut, meski tidak berupa dana tunai. Biaya yang mereka keluarkan adalah tempat produksi (terutama jika kelompok animasi) dan alat produksi. Kedua komponen ini perlu dibayar, berupa uang sewa tempat dan penyewaan atau pembelian alat. Biaya penyusutan alat produksi sebenarnya juga perlu dibayar, sehingga nanti ketika alat sudah habis masa pakai kelompok pembuat film dapat memiliki alat baru. Namun, ini semua tidak pernah atau jarang sekali diperhitungkan oleh kelompok-kelompok pembuat film. Sekali lagi, menurut kami ini menunjukkan informalitas pengelolaan kelompok pembuat film tersebut.

Ada satu temuan menarik yang tidak berhubungan dengan dana, tetapi berkaitan dengan eksploitasi ekonomi terhadap karya, berupa hak cipta. Ada beberapa pengaturan hak cipta antara pembuat film dengan pemesan dan/atau pendana, sebagai berikut:

1. Hak cipta bersama. Baik kelompok film dan pemberi dana memiliki hak cipta yang sama untuk menguasai dan mengedarkan film, seperti yang dijalankan oleh kelompok 8, 10, dan 28.

(53)

dilihat di kelompok 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 10, 12, 17, 18, 19, 20, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 29, 33, 34, 35, 36, 37, 38, 39, 40, 41, 42, dan 47.

3. Hak cipta dibagi. Dalam pengaturan ini pemesan film berhak atas jual beli film, sedangkan kelompok pembuat boleh mengikutsertakan film di festival. Ini terlihat pada kelompok 14, 20, dan 43.

Hubungan Kerja

Selain hubungan pendanaan, kuadran-kuadran di atas digolongkan menurut hubungan kelompok pembuat film dengan kru produksi. Gambar berikut menunjukkan metode rekrutmen kru produksi film.

(54)

Cara paling umum untuk mendapatkan kru produksi adalah campuran antara pertemanan yang dikenal langsung oleh produser atau kelompok film dan cara rekomendasi dari kenalan mereka. Jejaring pertemanan dan relasi sosial tampaknya memegang arti penting dalam keputusan menentukan dengan siapa kelompok film akan bekerja.

Meskipun hampir semua kelompok membayar kru film mereka, 25 kelompok menggunakan kontrak kerja dengan kru, sedangkan 23 kelompok sisanya tidak menggunakan kontrak. Kelompok yang tidak menggunakan kontrak mengandalkan niat baik para kru film, yang selama proses pembuatan film dinilai oleh pemimpin produksi. Jika ada pekerja yang tidak memenuhi tugasnya dengan baik, maka sebagai konsekuensinya ia tidak akan dilibatkan lagi pada produksi berikutnya dan tentu saja tidak direkomendasikan kepada kelompok lain.

(55)

Dalam soal anggota tetap kelompok, beberapa kelompok film terbentuk ketika anggota mereka masih menjadi mahasiswa dan mereka tetap menjadi anggota hingga sekarang, seperti kelompok 2, 4, 6, 23, 27, 40, 41, 43, 45, dan 46. Selain itu, ada pula kelompok film dengan personel yang telah mengikuti komunitas film sejak di bangku kuliah, lalu kelompok asal mereka bubar, kemudian membentuk kelompok baru saat ini, seperti kelompok 7, 36, dan 39. Ini menegaskan dugaan kami di awal bahwa pertemuan awal para perintis kelompok film diawali saat masih sama-sama menempuh studi di perguruan tinggi di Yogyakarta meski kelompok yang dibentuk tidak berafiliasi dengan perguruan tinggi terkait maupun unit kelompok mahasiswa intrakampus. Kelompok ini lalu bertemu dengan kelompok lain atau anggota komunitas yang lain. Beberapa di antaranya memperbesar kelompoknya dengan menambah anggota yang berasal dari komunitas atau kampus lain. Sedangkan, beberapa lainnya membentuk kelompok baru dengan anggota dari orang-orang yang sudah dikenal sejak mereka duduk di bangku kuliah.

Dari Kampus ke Industri, dari Komunitas ke Perusahaan

(56)

Kami menemukan tiga jenis perubahan yang kami namai sebagai Perubahan I, II, dan III. Perubahan I adalah berubahnya ciri suatu kelompok dari kuadran D ke C, yakni dari berciri teman-hibah (kru film sebagai teman dan dana produksi bersumber dari hibah) ke ciri pekerja-hibah (kru film sebagai pekerja yang dibayar dan dana produksi dari hibah). Dari segi pendanaan, kelompok dalam kuadran ini tetap menggunakan model pendanaan hibah, yakni tanpa risiko ekonomi. Perubahan terjadi pada sumbu hubungan kerja, yakni dari kru film sebagai teman (tanpa upah) menjadi kru film sebagai pekerja berbayar. Dalam keterbatasan data yang ada kami melihat bahwa perubahan hubungan dengan kru film ini berkaitan dengan pembagian peran yang lebih jelas dalam pekerjaan. Sebagai misal, dalam pembuatan film dengan kru sebagai teman meski telah ada pembagian peran, tetapi pembagian peran ini tidak dapat dijaga secara kaku karena tidak ada pertukaran yang jelas. Akibatnya, kru yang terlibat seringkali mau tidak mau merangkap peran dan pekerjaan, bukan hanya karena jumlah pekerja terlalu sedikit namun karena peran tidak terumuskan dengan baik. Sebaliknya, ketika beban kerja yang sama telah dibayar, pihak pembayar sejak awal berhitung apakah dana yang ada cukup untuk menyelesaikan semua pekerjaan yang dibutuhkan, sehingga pekerjaan terumuskan lebih jelas. Pada situasi demikian pekerja film diupah dan menghadapi tuntutan yang jelas dari pemberi upah.

(57)

kinerja kru, juga termasuk kemungkinan kerjasama di masa depan, dinilai berdasarkan upah. Ada tiga kelompok pembuat film yang kami temukan mengalami perubahan ini, yakni kelompok 43, 44, 45.

BOKS 4.4

Sejak Pertemanan Hingga Kru Pekerja

Salah satu kelompok yang mengalami perubahan berpindah dari kuadran D ke kuadran C adalah kelompok 43. Kelompok ini diinisiasi oleh sejumlah siswa SMA III Yogyakarta sejak tahun 2001. Mereka membuat film lalu mengikutsertakan dalam lomba tingkat pelajar, mahasiswa dan umum. Mereka bertumbuh dari kelompok hobi remaja menjadi pekerja film profesional. Produksi film biasanya diinisiasi oleh anggota kelompok, kemudian dicarikan dana dari donor pribadi atau organisasi yang tertarik dengan kegiatan kesenian. Hingga saat ini kelompok 43 masih belum memiliki badan hukum meskipun dana yang dikelola telah mencapai ratusan juta rupiah. Para pendana film-film mereka tidak mensyaratkan badan hukum untuk dapat mengelola dana hibah. Maka, tidak ada tuntutan dari luar yang membuat mereka harus membentuk badan hukum. Satu-satunya hal yang berubah dalam organisasi adalah

ketersediaan upah bagi pekerja film. Jika di awal pendirian kelompok para pekerja tidak mendapatkan upah, saat ini para pekerja diberi upah setiap kali terlibat produksi. Jumlah upah pada setiap produksi bervariasi tergantung ketersediaan dana dari pendana. Terkadang, upah dibayarkan beberapa waktu setelah film berhasil menjuarai festival atau dibeli hak siarnya oleh pihak lain. Insentif lain yang dikembangkan kelompok ini selain upah adalah perjalanan ke beberapa festival internasional ketika film mereka diputar. Perjalanan tersebut selain untuk memperluas relasi, menambah pengalaman, meningkatkan keterampilan, juga dipandang sebagai “imbalan” atas kerja memproduksi film.

(58)

berubah dari kru film sebagai teman menjadi pekerja berbayar. Hubungan pendanaan berubah dari hibah menjadi modal. Kami melihat bahwa peluang anggota kuadran D berpindah ke B (perubahan II) lebih besar ketimbang ke kuadran C (perubahan I) karena peluang mendapat hibah dana film yang besar tidaklah setinggi peluang menggarap film pesanan oleh berbagai lembaga.

Dilihat dari segi pendanaan, perubahan II mengubah cara pandang kelompok pembuat film terhadap dana produksi. Dana produksi diperlakukan sebagai modal, yaitu ada unsur menanggung risiko dan dijalankan sebagai suatu investasi. Sebagai misal, kelompok 40 berdiri ketika para anggotanya masih mahasiswa. Mereka membuat film pertama-tama sebagai latihan dan ungkapan cita-cita seni. Seiring dengan kemampuan yang semakin baik dan pengakuan masyarakat film terhadap mereka (dalam bentuk penghargaan tingkat nasional, beasiswa, dll.), mereka dipercaya mengerjakan film-film layanan sosial, iklan, serta profil organisasi. Karena proyek-proyek ini bernilai besar, mereka menyisihkan pendapatan dari penjualan jasa ini untuk digunakan sebagai dana operasional pembuatan film pesanan berikutnya, juga film-film karya mereka sendiri yang ditujukan untuk mengangkat nama kelompok mereka maupun mengangkat kemampuan anggota kelompok.

(59)

pembelanjaan yang mereka lakukan, baik untuk menalangi belanja produksi film pesanan atau pembuatan film untuk mengangkat nama mereka, selalu mengandung risiko hilang modal tanpa mendapat imbal-hasil. Kelompok-kelompok yang mengalami perubahan ini adalah kelompok 2, 4, 6, 26, 40, dan 41.

BOKS 4.5

Kian Kompleks, Makin Formal

Perubahan II, dari kuadran D ke B, adalah bentuk perubahan yang paling banyak dialami kelompok pembuat film, seperti dialami kelompok 40. Kelompok 40 pada tahun 2001 didirikan oleh para mahasiswa perguruan tinggi seni di Yogyakarta program studi televisi. Film pertama dibuat dengan dana patungan dan melibatkan teman-teman mereka. Ketika itu film pendek ini mendapatkan penghargaan di tingkat nasional. Penghargaan nasional ini membuat pengguna jasa berminat untuk menggunakan kemampuan mereka. Mereka mulai menjual jasa yakni membuat profil perusahaan atau lembaga. Untuk menjalin hubungan kerjasama, mereka

memerlukan bentuk badan usaha. Tiga tahun kemudian mereka membuat CV. Ketika berbentuk CV, kelompok 40 mulai memperhitungkan dana produksi sebagai modal, memperhitungkan peningkatan jumlah dan kemampuan alat kerja, dan peningkatan nilai produksi.

Mereka menyewa rumah sebagai kantor dan membayar semua kru pada setiap produksi

meskipun tidak menggaji karyawan setiap bulan untuk mengurus kantor. Hubungan pertemanan yang setara, baik sesama pendiri maupun dengan teman di luar organisasi, tidak begitu saja bisa diubah menjadi hubungan bertingkat antara direktur dengan anak buah (Basbeth, 2011). Dari segi permodalan, semakin besar nilai produksi audiovisual yang mereka kerjakan, semakin kuat tuntutan pemodal agar mereka mengelola produksi dengan cara yang formal, meliputi segi badan hukum, tata kelola organisasi, hingga pembagian kerja dan keuntungan dengan

(60)

kamera saja, tetapi menggunakan rekomendasi kru-kru yang sudah lebih dulu terlibat dalam produksi.

Terakhir, perubahan III sama dengan perubahan II dalam hal hubungan pendanaan, keduanya berangkat dari pendanaan hibah berubah menjadi modal. Perbedaannya adalah perubahan II mengandung pergeseran hubungan kerja dengan kru film, sedangkan perubahan III tidak ada perubahan dalam hal tersebut. Jadi, perubahan III adalah dari pekerja-hibah ke pekerja-modal, seperti pada kelompok 8. Perubahan ini tidak lazim karena kelompok pembuat film yang membayar krunya dengan uang hibah tidak terlalu banyak. Contoh dalam pola perubahan ini adalah suatu lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang video. Pada awalnya kelompok ini hanya mengerjakan program-program pembuatan video dengan dana hibah dari donor, dengan membayar pegawai-pegawainya maupun pekerja lepas. Kemudian, ketika jumlah hibah dana mulai turun, lembaga swadaya masyarakat ini mulai mengerjakan film-film pesanan yang secara prinsip membuatnya berperan sama dengan perusahaan swasta penjual jasa.

BOKS 4.6

Merespons Tuntutan Luar

(61)

orang. Kelompok 42 merupakan lembaga non-profit yang memiliki tujuan menumbuhkan kesadaran kritis masyarakat melalui pendidikan visual film dan media visual lainnya.

Dengan biaya produksi terbesar pada kisaran 100-200 juta rupiah, pembuatan film oleh kelompok 42 diikat kontrak formal dengan pendana. Relasi formal terjalin dengan tenaga kerja karena proyek pembuatan film tersebut mengupah kru produksinya. Ada pula kru produksi film yang tidak diupah meski hal itu jarang terjadi. Contoh produksi yang tidak mengalokasikan upah bagi kru adalah produksi film pascagempa bumi Yogyakarta 2006. Sebagian besar pekerja produksi adalah anggota kelompok 42 yang umumnya berperan sebagai pimpinan produksi, baik selaku produser maupun sutradara.

Saat ini, kelompok ini sedang memikirkan perubahan kelembagaan menjadi perkumpulan atau perusahaan sebagaimana terungkap sebagai berikut,

Sekarang ini [kami] sedang berpikir untuk berubah, pilihannya menjadi perkumpulan atau CV [Comanditaire Venootschap, persekutuan komanditer]. Yang mendorong perubahan karena adanya kerjasama dengan pihak-pihak lain. Ini meruncing dan sedang dibahas [terkait perubahan kelembagaan tersebut]. (Kepala Sukarelawan, kelompok 42)

Faktor yang mendorong rencana perubahan kelembagaan tersebut ialah tuntutan dari pihak luar, terutama mitra kerja yang mendanai. Mitra kerja tersebut berasal dari lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan lembaga donor lokal maupun internasional yang mendanai film-film proyek-proyek video partisipatori mereka.

Kami menemukan bahwa ada seperlima (10 dari 48) kelompok yang berubah ciri, baik dari hubungan pendanaan maupun hubungan pekerja. Berdasarkan perpindahan antarkuadran, perubahan II adalah perubahan yang paling dominan (6 dari 10), diikuti kemudian perubahan I dari teman-hibah ke pekerja-hibah (3 dari 10), dan perubahan III dari pekerja-hibah ke pekerja-modal (1 dari 10).

(62)

utama, yaitu bahwa 90% (9 dari 10) kelompok bergerak ke atas dan 70% bergerak ke kanan (7 dari 10).

Gerak paling utama adalah gerak ke atas (hibah→modal). Gerak ke atas yang terjadi pada hampir semua kasus perubahan ini kami duga berkaitan dengan proses formalisasi. Mungkin ini terdengar ganjil karena formalisasi seharusnya lebih berkaitan dengan bentuk organisasi itu ketimbang hubungan pendanaaan. Namun, dalam konteks penelitian ini kami menemukan bahwa perubahan dari dana hibah ke modal terjadi seiring dengan perubahan bentuk organisasi, dari komunitas ke badan hukum atau badan usaha. Selain itu, formalisasi juga mencakup pengertian "memberi bentuk" agar menjadi jelas. Di sini, dana yang sebelumnya sekadar uang patungan dari anggota tanpa perhitungan yang jelas siapa memberi berapa, untuk apa, dan nanti akan mendapat apa, kemudian berubah menjadi lebih jelas dan berbentuk. Akan tetapi, perlu dicatat di sini bahwa perubahan bersifat pelan-pelan dan sebagian besar tidak melakukan pembukuan keuangan yang eksplisit dan masih mendapat modal dari diri sendiri, belum dari pemodal luar.

(63)

menjalankan tatakelola organisasi yang formal meskipun bentuk organisasinya tidaklah formal. Sebagai contoh, kelompok 38 dan 39 memiliki bentuk badan usaha, tetapi memiliki hubungan kerja informal (kru tanpa upah, dana berpola hibah). Sebaliknya, kelompok 22 dan 36 yang tidak memiliki badan usaha (informal), justru menjalankan tatakelola yang lebih formal, yakni pekerja diberi honor dan pendanaan berbasis modal karena adanya prinsip berbagi risiko.

Pada aspek gerak ke samping kanan (teman→pekerja), kami juga melihat gerak dominan menuju kanan adalah gerak profesionalisasi hubungan kru film (70%, 7 dari 10). Yakni, mengarah pada hubungan pekerja berbayar ketimbang hubungan pertemanan yang dicirikan dengan kehadiran upah dan honor. Dalam penjelasan sebelumnya kami juga mencatat bahwa kemunculan unsur upah di sini juga berkaitan dengan pengkhususan jenis peran. Kemunculan upah memungkinkan pemberi upah memperhitungkan biaya dan menuntut kinerja dari pekerja film.

Sebab-Sebab Perubahan

(64)

modal yang dibelanjakan dengan terencana dan bertujuan mendapatkan 'keuntungan' meskipun keuntungan itu tidak selalu berupa uang. Keuntungan bisa berupa peningkatan kemampuan anggota kelompok atau nama baik di dunia perfilman saat memenangi suatu penghargaan.

(65)

ditentukan oleh kelompok pembuat film. Mereka hanya bisa mengikuti tuntutan ini, bila tidak maka mereka tidak bisa mengikuti tender.

Selain menjelaskan perubahan bentuk organisasi, tarikan ekonomi juga menjelaskan mengapa ada banyak kelompok yang tidak berubah, yakni tetap menjadi organisasi informal. Ini bukan berarti bahwa kelompok yang tidak berubah tidak tertarik untuk mendapatkan pekerjaan film dengan nilai yang lebih besar, tetapi mereka dapat mengakali peraturan yang ada. Mereka dapat 'meminjam' organisasi lain untuk menjadi pihak pengaju penawaran dan, jika menang lelang, kemudian mengerjakan film dengan nama organisasi lain tadi. Sepanjang organisasi lain tersebut juga mendapatkan untung, atau tidak dirugikan, dan sepanjang peraturan yang ada tidak melarang siasat seperti ini, maka kelompok-kelompok pembuat film masih bisa tetap mendapat nilai pekerjaan yang lebih besar tanpa harus mendaftarkan diri ke pengadilan dan membayar pajak sebagai badan usaha atau badan hukum. Dengan kata lain, tarikan ekonomi sama-sama bekerja pada semua kelompok, yang berbeda adalah tanggapannya: mengubah organisasi atau meminjam dokumen.

(66)

karya audiovisual yang dipesan, perusahaan atau lembaga pemesan, dan jumlah pesanan tidaklah terlalu besar, sehingga kelompok pembuat film tidak kesulitan membayar biaya pengerjaan bilamana pembayaran tidak lancar. Kebanyakan kelompok pembuat film juga tidak mengambil risiko untuk memasarkan sendiri karya mereka, tetapi lebih memilih menerima pesanan dari perusahaan atau lembaga lain.

Selain tarikan ekonomi dari luar, dari dalam kelompok pembuat film juga ada dorongan untuk membuat organisasi formal. Sebagai misal, kelompok 4 mengubah komunitas mereka menjadi CV karena anggota-anggota kelompok tersebut ingin bersungguh-sunguh menjadikan film sebagai lahan pekerjaan. Gejala yang sama muncul pada kelompok 6 dan 40. Meskipun kedua kelompok terakhir tidak mengatakan bahwa ada dorongan dari dalam untuk mengubah bentuk organisasi, secara faktual perubahan bentuk menjadi CV terjadi ketika para anggota kelompok telah lulus kuliah atau pada tahap sangat akhir perkuliahan. Pilihan ini mungkin berkaitan dengan usia para pelakunya yang sudah lulus kuliah. Bisa jadi tuntutan seperti ini tidak ada pada kelompok pembuat film yang sepenuhnya mahasiswa semua. Untuk penelitian di masa depan perkara waktu ini bisa diteliti lebih jauh untuk mengetahui apakah hal ini adalah faktor penjelas yang sahih.

(67)

ungkapan seni, ataukah kegemaran belaka. Bila mereka membuat film dengan memperkerjakan orang-orang seusia, para pekerja sudah terbiasa bekerja dengan dibayar. Ini berbeda dengan dunia pembuatan film di kalangan mahasiswa yang masih banyak mengandalkan pertemanan.

(68)

BAB IV

Kesimpulan: Sekarang dan Nanti

Refleksi Sekarang

Empat puluh delapan kelompok pembuat film di Yogyakarta memiliki ciri khas tersendiri berdasar jenis keluaran produksi film, relasi dengan institusi pendidikan, dinamika organisasi, dan aspek ketenagakerjaan atau sumber daya manusia. Hasil produksi film di Yogyakarta tidak melayani pasar bioskop sebagaimana industri perfilman nasional yang banyak berbasis di Jakarta, ibukota negara. Film produksi Yogyakarta lebih banyak melayani berbagai kebutuhan dari rumah produksi luar negeri, perusahaan iklan, instansi pemerintah, festival film, hingga lembaga swadaya masyarakat internasional (INGO).

(69)

persoalan utama bila produksi masih melayani pasar ala film Yogyakarta ini. Sebenarnya, hal yang lebih diperlukan oleh kelompok pembuat film di Yogyakarta ialah akses kepada pasar yang lebih luas terkait jalur distribusi dan eksibisi film produksinya. Beberapa kelompok pembuat film ikut serta dalam festival film internasional sebagai cara untuk bertemu pelaku pasar yang lebih luas, seperti distributor dan jaringan stasiun televisi, bahkan investor film.

Daerah Istimewa Yogyakarta diuntungkan dengan keberadaan 129 perguruan tinggi (Dikpora DIY, tt) dengan jumlah mahasiswa lebih dari 200 ribu orang (Gubernur DIY, 2013). Keberadaan perguruan tinggi berupa universitas, akademi, dan berbagai sekolah vokasi tersebut memungkinkan perjumpaan orang-orang yang berminat pada produksi film dan mendukung kemunculan kelompok-kelompok film yang berorientasi pada seni, selain untuk mencari pendapatan. Beberapa kelompok pembuat film terbentuk dari proses pertemanan dunia kampus semasa menjadi mahasiswa, terus hidup saat ini dan menjadi pelaku utama dunia perfilman. Selain mereka, juga ada kelompok-kelompok yang terbentuk di luar kampus demi kepentingan ekonomi saja. Keduanya sama-sama menjadi penggerak dunia film. Sehingga, film bagi kelompok-kelompok pembuat film di DIY bukan saja soal ekonomi, melainkan juga soal ungkapan seni-budaya.

(70)

berbadan hukum atau terdaftar sebagai badan usaha. Sedangkan, kelompok yang tidak berorganisasi formal sering meminjam organisasi lain untuk mengikuti tender pekerjaan film. Sebagian besar kelompok sebenarnya memodali sendiri usaha mereka meski kenyataan ini tidak terlalu disadari dan dikelola dengan baik. Hal ini terlihat pada ketiadaan kontrak, pembukuan keuangan, dan perhitungan risiko ekonomi. Perubahan dan ketidakberubahan ini kemungkinan disebabkan oleh faktor-faktor ekonomi di luar kelompok. Apabila tarikan ekonomi cukup kuat berupa nilai produksi meningkat dan pasar meluas, formalisasi organisasi kemungkinan akan terjadi lebih luas dan lebih mendalam

Gambar

Gambar 3.1 - Model Kuadran Karakter Kelompok Film Yogyakarta
Tabel 3.1 - Ragam Tipe Kelompok Pembuat Film
Gambar 3.2 - Persebaran Jumlah Tipe Kelompok Sesuai Kuadran
Gambar 3.3 - Metode Rekrutmen Kru Produksi Film

Referensi

Dokumen terkait

Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Subjek penelitiannya yaitu Paskibraka Daerah Istimewa Yogyakarta. Objek penelitian ini

Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta dalam hal ini Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Istimewa Yogyakarta dengan perantara KPKNL Yogyakarta akan

Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta dalam hal ini Dinas Pendapatan, Pengelolaan keuangan dan Aset Daerah Istimewa Yogyakarta dengan perantara KPKNL Yogyakarta akan

Laporan Kinerja Instansi Pemerintah Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Istimewa Yogyakarta ini merupakan bentuk pertanggungjawaban atas perjanjian kinerja

Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta memberikan penghargaan kepada

Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Subjek penelitiannya yaitu Paskibraka Daerah Istimewa Yogyakarta. Objek penelitian ini

Dana Alokasi Umum (DAU), serta Persentasenya terhadap Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Pemerintah Daerah di Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2013 .... Persentase

Dalam proses persiapan kerjasama sister province antara Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta dengan Pemerintah Saint Petersburg, Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta atau