Kondisi dan Persepsi Industri Rumah Tangga Pangan (IRTP) Tentang Label Kemasan Pangan (Studi Kasus di Kota Bogor)

35 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

KONDISI DAN PERSEPSI INDUSTRI RUMAH TANGGA

PANGAN (IRTP) TENTANG LABEL KEMASAN PANGAN

(Studi Kasus di Kota Bogor)

JIAN SEPTIAN

DEPARTEMEN ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

(2)
(3)

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN

SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul: Kondisi dan Persepsi Industri Rumah Tangga Pangan (IRTP) Tentang Label Kemasan Pangan (Studi Kasus di Kota Bogor) adalah benar karya saya dengan arahan dari pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

Bogor, Agustus 2013

Jian Septian

(4)

ABSTRAK

JIAN SEPTIAN. Kondisi dan Persepsi Industri Rumah Tangga Pangan (IRTP) Tentang Label Kemasan Pangan (Studi Kasus di Kota Bogor). Dibimbing oleh WINIATI P RAHAYU

Label memiliki peran penting pada produk pangan kemasan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat pengetahuan Industri Rumah Tangga Pangan (IRTP) tentang label kemasan pangan. Penelitian menggunakan jenis explanatory research dengan metode survei. Penelitian dilakukan terhadap 88 IRTP di Kota Bogor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan responden berada pada kategori kurang. Sementara itu, persepsi terhadap label kemasan pangan tergolong masih rendah. Sebanyak >55% label IRTP sudah sesuai dengan peraturan pelabelan, namun hanya 16% IRTP yang benar-benar paham tentang peraturan label kemasan pangan. Sumber informasi yang paling diandalkan tentang peraturan pelabelan berasal dari Dinas Kesehatan (50%). Analisis korelasi spearman, menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan (p>0.05) antara karakteristik IRTP (usia, pendidikan, jabatan dan status sosial ekonomi) dengan persepsinya tentang label kemasan pangan.

Kata kunci: Industri Rumah Tangga Pangan (IRTP), Label Kemasan Pangan, Pengetahuan, Persepsi

ABSTRACT

JIAN SEPTIAN. The Condition and Small of Scale Food Industries Perceptions on Food Labels (in Bogor). Supervised by WINIATI P RAHAYU

Label is one of important part of food packaging. The objective of this research is determining the level of Small-Scale Food Industries' (IRTP) knowledge about food labeling. The research was done by survey method to 88 respondents in Bogor. The result shows that the knowlegde level of respondents was low. More than 55 % IRTP’ labels accordanced to the regulation but only 16 % of IRTP understood about food labeling. About 50 % of the most reliable source of information about food labeling regulation was derived from Indonesian Health District Offices. The results of spearman correlation test showed that the correlation between IRTP characteristics (age, education, occupation and socio-economic status) were not significant (p>0.05) with their perception about food labeling.

(5)

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Teknologi Pertanian

pada

Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan

KONDISI DAN PERSEPSI INDUSTRI RUMAH TANGGA

PANGAN (IRTP) TENTANG LABEL KEMASAN PANGAN

(Studi Kasus di Kota Bogor)

JIAN SEPTIAN

DEPARTEMEN ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

(6)
(7)
(8)

Judul Skripsi : Kondisi dan Persepsi Industri Rumah Tangga Pangan (IRTP) Tentang Label Kemasan Pangan (Studi Kasus di Kota Bogor) Nama : Jian Septian

NIM : F24090046

Disetujui oleh

Prof. Dr. Winiati P Rahayu NIP. 195608131982012001

Diketahui oleh

Dr. Ir. Feri Kusnandar MSc NIP. 196805261993031004

(9)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Terima kasih penulis ucapkan kepada Prof. Dr. Winiati P Rahayu selaku dosen pembimbing, Prof. Dr. Ir. Rizal Syarief, DESS dan Prof. Dr. Slamet Budijanto, MAgr selaku dosen penguji yang telah banyak memberi saran. Di samping itu, penghargaan penulis sampaikan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor, Kepala Pelayanan Kesehatan Kota Bogor, Industri Rumah Tangga Pangan (IRTP) yang ada di Kota Bogor serta Teman-teman ITP angkatan 46 yang telah membantu selama proses penelitian. Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada ayah, ibu, serta seluruh keluarga, atas segala doa dan kasih sayangnya, serta kepada Beasiswa Astaga Peduli Pendidikan (BAPP) yang telah memberikan dukungan pendanaan bagi penelitian ini.

Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.

Bogor, September 2013

(10)

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL vi

DAFTAR GAMBAR vi

DAFTAR LAMPIRAN vi

PENDAHULUAN 1

Latar Belakang 1

Perumusan Masalah 1

Tujuan Penelitian 2

Manfaat Penelitian 2 METODOLOGI 2

Kerangka Pemikiran 2

Metode Penelitian 2

Tahapan Penelitian 3

Penentuan Sampel, Teknik dan Cara Pengambilan Sampel 3

Pembuatan Kuisioner 4

Uji Coba Kuisioner 4

Pengumpulan Data, Tabulasi dan Analisis Data 5

HASIL DAN PEMBAHASAN 6

Pengujian Kuisioner 6

Keadaan Umum Responden 7

Kesesuaian Label Kemasan Pangan dengan Peraturan Label Kemasan 9

Pengetahuan dan Persepsi Responden Terhadap Peraturan Label Kemasan Pangan 10

Hubungan Karakteristik IRTP dengan Persepsi 13

SIMPULAN DAN SARAN 14

Simpulan 14

Saran 15

DAFTAR PUSTAKA 15

(11)

DAFTAR TABEL

1 Nilai angka kritik *r 5

2 Hasil uji validitas dan reliabilitas kuisioner 6

3 Pengelompokkan status sosial ekonomi 8

4 Persentase gap tingkat kesesuaian label dengan peraturan 10

5 Persentase gap responden dengan jawaban yang diharapkan 11

6 Nilai hubungan karakteristik IRTP dengan persepsi 13

DAFTAR GAMBAR

1 Tahapan penelitian 3

2 Usia responden dan tingkat pendidikan 7

3 Jenis usaha dan tempat produksi 8

4 Kesesuaian label kemasan pangan dengan peraturan 9

5 Pengetahuan responden tentang peraturan label 11

6 Persepsi responden tentang definisi label 12

7 Persepsi responden tentang fungsi label kemasan 13

8 Persepsi responden tentang jumlah keterangan minimum 13

9 Persepsi responden tentang sumber informasi yang diandalkan 13

DAFTAR LAMPIRAN

1 Hasil survei secara umum 18

2 Peraturan mengenai pelabelan 20

3 Hasil korelasi spearman antara karakteristik IRTP dengan persepsinya tentang definisi label kemasan pangan 21

4 Hasil korelasi spearman antara karakteristik IRTP dengan persepsinya tentang fungsi label kemasan pangan 22

5 Hasil korelasi spearman antara karakteristik IRTP dengan persepsinya tentang jumlah keterangan minimum yang harus ada pada label kemasan pangan 23

(12)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Peran label pada produk pangan sangat penting. Label yang baik dan benar akan memudahkan konsumen dalam pemilihan produk yang diperlukannya. Pelabelan produk pangan dapat dijadikan sumber informasi utama mengenai pangan kemasan. Menurut UU No. 18 tahun 2012 Tentang Pangan, pada pasal 96 ayat (1), label berfungsi untuk memberikan informasi yang benar dan jelas kepada masyarakat tentang setiap produk pangan yang dikemas sebelum membeli dan/atau mengonsumsi pangan. Sehingga aspek pelabelan diharapkan dapat menjadi perangkat efektif pengendali mutu dan keamanan pangan.

Mutu pangan sangat berkaitan erat dengan masalah keamanan pangan. Saat ini banyak beredar produk pangan dalam kemasan. Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 69 tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan pada pasal 3 ayat 2 dijelaskan bahwa label tersebut sekurang-kurangnya memuat mengenai 1) nama produk; 2) daftar bahan yang digunakan; 3) berat bersih; 4) nama dan alamat pihak yang memproduksi; 5) tanggal, bulan dan tahun kedaluwarsa. Sedangkan Menurut UU No. 18 Tahun 2012 Tentang Pangan juga mengharuskan pencantuman nomor izin edar bagi Pangan Olahan.

Dalam Laporan tahunan Badan POM RI tahun 2011 dinyatakan bahwa dari 6.604 label produk pangan yang dipantau ditemukan sejumlah 2.346 (35.52%) tidak memenuhi ketentuan, antara lain karena tidak mencantumkan 1) nomor pendaftaran; 2) tanggal kedaluwarsa; 3) netto (berat bersih); 4) komposisi; 5) serta nama dan alamat produsen.

Menurut Peraturan Pemerintah (PP) No. 28 Tahun 2004 Tentang Keamanan, Mutu dan Gizi Pangan, Industri Rumah Tangga Pangan (IRTP) adalah perusahaan yang memiliki tempat usaha di tempat tinggal dengan peralatan pengolahan pangan manual hingga semi otomatis. Mengingat IRTP merupakan salah satu penggerak ekonomi yang mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, sedangkan disisi lain produk pangan IRTP dapat menjadi penyebab masalah keamanan pangan, maka perlu dikaji permasalahan yang dihadapi oleh IRTP terutama terkait dengan aspek pelabelan kemasan pangan.

Perumusan Masalah

Permasalahan yang sering dihadapi IRTP terkait dengan pelabelan dalam kemasan masih ditemukan beberapa pelanggaran. Diantara pelanggaran tersebut yakni (a) ketentuan data label tidak terpenuhi, (b) tanggal kedaluwarsa yang ditulis tangan, (c) pencantuman halal tidak sesuai ketentuan, (d) penggunaan BTP tidak dicantumkan pada label/BTP di luar peraturan, (e) menggunakan nomor IRTP untuk lebih dari satu produk, (f) menggunakan kode MD untuk IRTP, dan (g) klaim fungsi obat (Rahayu WP 2011).

(13)

2

sistem manajemen formal. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui persepsi IRTP tentang label kemasan produk pangan.

Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah:

1. Mengetahui tingkat pengetahuan IRTP tentang label kemasan pangan

2. Mengetahui hubungan antara karakteristik IRTP dengan persepsinya tentang label kemasan pangan.

Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai masukan kepada pemerintah (Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM)) dan khususnya Dinas Kesehatan Kota Bogor) untuk mengembangkan program edukasi IRTP yang terkait dengan aspek pelabelan kemasan pangan.

METODOLOGI

Kerangka Pemikiran

Persepsi dapat diartikan sebagai proses yang timbul akibat adanya sensasi, yaitu aktivitas merasakan atau penyebab dari keadaan emosi yang menggembirakan (Suharini 2008). Timbulnya persepsi dimulai dari pemaparan stimulus yang kemudian diterima oleh konsumen (Ardiansyah 2012)

Persepsi dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal (Kotler 2001). Faktor internal berkaitan dengan karakteristik responden seperti jenis kelamin, usia, pekerjaan, pendidikan dan status sosial ekonomi. Sedangkan Faktor eksternal responden berasal dari lingkungan sekitar responden yang dapat mempengaruhi persepsinya. Oleh karena itu, dalam penelitian ini dilakukan hubungan antara karakteristik internal IRTP dengan persepsi IRTP tentang label kemasan produk pangan. Karakteristik responden (faktor internal) yang diteliti adalah tingkat usia, jabatan, tingkat pendidikan dan status sosial ekonomi. Unit analisis yang digunakan adalah IRTP yang sudah mempunyai nomor pendaftaran P-IRT. Persepsi produsen yang diteliti adalah persepsi IRTP tentang hal yang berkaitan dengan label pangan. Melalui survei persepsi IRTP tentang label kemasan pangan dapat diketahui faktor-faktor internal dan eksternal yang berhubungan dalam membentuk persepsi IRTP tentang label kemasan pangan.

Metode Penelitian

(14)

3 Tahapan Penelitian

Penelitian ini didasarkan pada tahapan penelitian yang sesuai dengan itas metodologi penelitian survei (Singarimbun dan Effendi 2006). Tahapan tersebut dijelaskan pada Gambar 1.

Gambar 1. Diagram tahapan penelitian

Penentuan Sampel, Teknik dan Cara pengambilan Sampel

Pengambilan sampel dilakukan secara purposive karena memiliki alamat lengkap, nomor telepon dan mudah untuk diakses (Hidayat et al. 2009). Sampel yaitu responden yang memproduksi pangan dalam kemasan di wilayah kota Bogor yang bernomor P-IRT. Pengelompokkan sampel didasarkan atas IRTP yang memproduksi pangan olahan berdasarkan enam belas kategori pangan (CODEX 2013). Jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian dihitung dengan

ya

Selesai Analisis data Tabulasi data

Data sekunder

Pembuatan laporan tidak

Pembuatan kuisioner Penentuan sampel, teknik dan cara

pengambilan sampel

Perbaikan kuisioner

Uji coba kuisioner

Mulai

(15)

4

menggunakan rumus slovin (Simamora et al. 2013). Adapun rumus slovin adalah sebagai berikut:

Keterangan :

n = ukuran sampel N = ukuran populasi

E = tingkat kelonggaran 10%

Penelitian ini menggunakan data primer dan data sekunder. Data primer yang dikumpulkan merupakan wawancara responden dengan menggunakan kuisioner (Waysima et al. 2010). Data primer meliputi kondisi label di IRTP dan persepsi responden terhadap label kemasan pangan secara langsung. Sedangkan data sekunder didapat dari dari situs internet berupa Undang-Undang Tentang Pangan, Undang-Undang Tentang Label dan Iklan Pangan dan laporan beberapa instansi seperti Laporan Tahunan Badan POM terkait pelabelan dalam kemasan.

Pembuatan Kuisioner

Kuisioner disusun untuk memperoleh informasi dari responden (Badrie et al.

2006). Kuisioner terdiri dari empat blok. Blok I berisi pertanyaan yang bertujuan untuk mengetahui karakteristik responden. Blok II berisi pertanyaan mengenai kondisi pelabelan. Selanjutnya, Blok III berisi pertanyaan mengenai pengetahuan responden tentang label kemasan pangan. Sedangkan Blok IV berisi pertanyaan mengenai persepsi responden tentang label kemasan pangan.

Uji coba Kuisioner

Kuisioner yang telah disusun dilakukan uji coba terlebih dahulu sebelum diajukan kepada responden yang sebenarnya. Uji coba pada penelitian ini dilakukan terhadap 30 IRTP di wilayah kota Bogor dan dilakukan dalam 2 tahap. Setelah dilakukan perbaikan kuisioner tahap 1 maka dilakukan pengujian kuisioner tahap 2.

a. Uji Validitas

(16)

5

Secara statistik angka korelasi yang dihasilkan untuk tiap-tiap pertanyaan harus dibandingkan dengan angka kritik tabel nilai korelasi r (N-2) (Tabel 1). Apabila r hitung lebih besar dari r tabel, maka pertanyaan tersebut dianggap valid. (Singarimbun dan Effendi 2006).

Tabel 1. Nilai angka kritik r*

Derajat Bebas Taraf Kepercayaan Derajat Bebas Taraf Kepercayaan

5% 1% 5% 1% pengukuran ulang (test-retest). Salah satu alat untuk mengukur keandalan kuisioner dengan Alpha Cronbach (Kikulwe et al. 2011). Dalam teknik ini, responden yang sama menjawab pertanyaan yang sama. Jarak waktu antara pengukuran pertama dan pengukuran kedua adalah selama 1 minggu. Hasil pengukuran dengan menggunakan teknik korelasi product moment.

Pengumpulan Data, Tabulasi dan Analisis Data

(17)

6

Korelasi dapat menghasilkan angka positif atau negatif. Apabila korelasi menghasilkan angka positif maka hubungan kedua variabel bersifat searah. Apabila korelasi menghasilkan angka negatif maka hubungan kedua variabel bersifat tidak searah. Sarwono (2006) menyebutkan bahwa angka korelasi berkisar antara 0 hingga 1, yaitu sebagai berikut :

a. 0-0.25 : Korelasi lemah c. > 0.5-0.75 : Korelasi kuat

b. > 0.25-0.5 : korelasi cukup d. > 0.75-1 : Korelasi sangat kuat Signifikansi hubungan antara dua variabel dapat dianalisis dengan ketentuan sebagai berikut:

a. Apabila probabilitas < 0.05 maka hubungan kedua variabel signifikan b. Apabila probabilitas > 0.05 maka hubungan kedua variabel tidak

signifikan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengujian Kuisioner

Pengujian Kuisioner dilakukan terhadap 30 IRTP di Kota Bogor. Hasil Uji validitas dan Reliabilitas dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Hasil uji validitas dan reliabilitas kuisioner Blok Kelompok Parameter Validitas

(p<0.05)

(18)

7 Selanjutnya, setelah dilakukan perbaikan pada tahap 1, nilai probabilitas dari masing-masing pertanyaan pada tahap 2 adalah bernilai <0.05 (Tabel 2) yang menandakan bahwa pertanyaan pada kuisioner tersebut dianggap valid dan sesuai dengan instrumennya. Sedangkan nilai reliabilitas masing-masing pertanyaan >0.3610 (Tabel 2) yang menandakan kuisioner juga bersifat reliabel dan dapat dipercaya.

Keadaan Umum Responden

Hasil survei secara umum dapat dilihat pada Lampiran 1. Profil Responden

Responden pada penelitian ini berjumlah 88 dan dikelompokkan berdasarkan jabatan, usia, tingkat pendidikan dan status sosial ekonomi. Sebagian besar responden (51%) yang diwawancara adalah pemilik IRTP. Berdasarkan tingkat usia, responden pada penelitian ini berada pada rentang usia 36-45 tahun yaitu sebanyak 35% (Gambar 2.a). Menurut Depkes RI Tahun 2009 yang termasuk dalam kisaran usia produktif adalah usia 15 hingga 64 tahun. Sedangkan berdasarkan tingkat pendidikan, sebagian besar responden memiliki pendidikan SMA/Sederajat yaitu sebanyak 48% (Gambar 2.b). Berdasarkan hasil ini diperoleh bahwa secara umum responden memiliki pendidikan yang memadai untuk dapat mengelola IRTP dengan baik.

a.Usia b. Tingkat pendidikan Gambar 2. Profil responden

Profil Usaha

(19)

8

definisi IRTP hanya 77% sedangkan yang 23% seharusnya sudah mendapatkan izin MD.

a. Jenis usaha b. Tempat produksi Gambar 3. Profil usaha

Sebagian besar (77%) responden menempati rumah dan ruko sebagai tempat produksinya. Sehingga dapat diperkirakan bahwa status sosial ekonomi responden tergolong menengah tinggi bila hanya berdasarkan status kepemilikan rumah. Namun untuk menentukan status sosial ekonomi diperlukan lebih dari satu kriteria. Menurut Sumarwan (2003), kelas sosial tidak hanya dicerminkan dari penghasilan tetapi juga indikator pekerjaan, pendidikan dan tempat tinggal. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Wachidah (2007), status sosial ekonomi dibagi menjadi tiga kelompok yaitu rendah, menengah dan tinggi. Pengelompokkan ini dilakukan berdasarkan tiga kriteria yaitu status kepemilikan rumah (tempat produksi) yang ditempati responden, daya listrik yang digunakan oleh responden serta besarnya biaya telepon selama tiga bulan terakhir (Tabel 3). Tabel 3. Pengelompokkan status sosial ekonomi

Status rumah Daya listrik (watt)

Biaya telepon 3 bulan terakhir

Status Sosial Ekonomi Menumpang atau

Rumah Saudara

450 ≤ Rp 300.000 rendah

Ruko 900 Rp 300.001 – Rp 600.000 menengah

Pribadi >1300 ≥ Rp 600.000 tinggi

Kesesuaian Label Kemasan Pangan dengan Peraturan Label Kemasan

(20)

9 Pendaftaran Pangan (Gambar 4) adalah nomor yang diberikan bagi Pangan Olahan dalam rangka peredaran Pangan. Maka dari itu, nomor pendaftaran juga menjadi wajib untuk produsen pangan (IRTP) dalam menjual produk pangannya. Sedangkan menurut Undang-Undang No. 18 Tahun 2012 Tentang Pangan, pada pasal 97 ayat (3) dijelaskan bahwa ada 9 keterangan minimum pada label tidak termasuk informasi gizi melainkan kriteria mengenai asal usul bahan pangan (Gambar 4). Namun, kriteria asal-usul bahan pangan tersebut tidak dianalisis dalam penelitian ini.

Gambar 4. Kesesuaian label kemasan pangan dengan peraturan

Hasil penelitian tentang kesesuaian label kemasan pangan dengan peraturan menimbulkan adanya gap dari hasil persentase jawaban yang diharapkan (Tabel 4). Adanya gap tersebut menunjukkan bahwa responden memilki persepsi yang berbeda meskipun objek yang digunakan sama. Perbedaan dari adanya gap tersebut disebabkan oleh beberapa masalah yakni kurangnya pengetahuan responden tentang peraturan label, kurangnya motivasi responden dalam menerapkan peraturan label dan kurangnya kesadaran responden terhadap peraturan label.

Pada umumnya >55% (Gambar 4) IRTP telah menerapkan peraturan pelabelan kemasan pangan menurut PP No. 69 Tahun 1999 Tentang Label dan Iklan Pangan. Namun, tingkat pengetahuan responden hanya 16% IRTP (Gambar 5) yang paham betul terhadap peraturan pelabelan. Selain itu baru terdapat 27.3% dan 12.5% IRTP yang sudah mencantumkan keterangan halal dan informasi gizi pada label. Hal ini sejalan dengan penelitian Krukowski et al. (2006) yang menyatakan bahwa sekitar 44-57% konsumen tidak mengerti informasi gizi. Hal

PP No. 69 Tahun 1999

(21)

10

ini masih menandakan bahwa pencantuman informasi gizi yang minim pada label menyebabkan kebutuhan konsumen akan informasi gizi belum terpenuhi.

Tabel 4. Persentase gap tingkat kesesuaian label dengan peraturan Kriteria Harapan (%) Hasil survei

(%) Gap (%)

Nama produk 100 100 -

Nama dan alamat produsen 100 92.1 7.9

Komposisi 100 75.0 25.0

Berat bersih 100 64.8 35.2

Tanggal kedaluwarsa 100 55.0 45.0

Nomor pendaftaran 100 68.2 31.8

Tanggal kode produksi 100 58.0 42.0

Keterangan halal 100 27.3 72.7

Informasi gizi 100 12.5 77.5

Pengetahuan dan Persepsi Responden Terhadap Peraturan Label Kemasan Pangan

Pengetahuan diklasifikasikan menjadi dua tipe, yaitu pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural (Worsley 2002). Dalam penelitian ini akan digali pengetahuan prosedural karena responden diharapkan dapat mempraktekan pengetahuannya tentang peraturan pelabelan kemasan pangan pada produk usahanya. Responden diharapkan menjawab dengan benar setiap pertanyaan sesuai kenyataan di lapangan. Namun, penelitian ini tidak menjamin bahwa kuisioner selalu dijawab sesuai pengetahuan maupun pengalaman dari responden sendiri. Responden mungkin saja terpengaruh oleh keadaan sekelilingnya atau kondisi ideal yang diharapkan.

(22)

11 Tabel 5. Persentase gap responden dengan jawaban

Parameter Jawaban yang

Definisi label -Keterangan gambar dan tulisan pada kemasan produk pangan Fungsi label Informasi yang jelas

tentang produk

100 58 42

Jumlah keterangan minimum pada label

Ada 5 keterangan 100 40 60

Sebanyak 23% (Gambar 5) responden hanya tahu sekilas tentang peraturan pelabelan kemasan pangan dan hanya 16% (Gambar 5) responden yang sudah paham tentang peraturan pelabelan kemasan pangan. Sedangkan sekitar 51% (Gambar 6) responden mampu menjawab dengan benar tentang definisi label. Selain itu, Sebanyak 58% (Gambar 7) responden sudah mengetahui fungsi label. Namun hanya sebanyak 40% (Gambar 8) responden yang mengetahui jumlah keterangan minimum yang harus ada pada label. Perbedaan persepsi responden tersebut membuktikan bahwa responden memiliki tingkatan persepsi yang berbeda terhadap suatu objek yang sama, dalam hal ini terhadap peraturan label kemasan pangan. Hal ini juga ditemui pada penelitian Jayanti et al. (2011) yang menyatakan bahwa seseorang memiliki tingkatan persepsi yang berbeda terhadap suatu objek yang sama. Dalam hal ini Jayanti et al. (2011) meneliti mengenai persepsi, pengetahuan dan perilaku remaja terhadap pembelian Compact Disc

(CD) bajakan.

Gambar 5. Pengetahuan responden tentang peraturan label

(23)

12

menyebutkan jenis keterangan yang harus ada pada label. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh faktor sosial (lingkungan) yang menyebabkan perbedaan persepsi responden tentang jumlah keterangan minimum pada label kemasan pangan. Kecilnya persentase (<60%) skor responden menjawab dengan benar semua pertanyaan tentang label kemasan pangan membuktikan bahwa pengetahuan responden tentang label kemasan pangan dapat dikategorikan masih kurang.

Seseorang dapat mengajarkan pengetahuan tentang sesuatu, namun konsumen akan menerjemahkan pengetahuan tersebut dan melakukan apapun yang mereka suka. Selain itu, Pengetahuan akan berpengaruh terhadap kepercayaan seorang individu terhadap sesuatu (Worsley 2002). Hal ini menunjukkan bahwa meskipun telah ada sosialisasi tentang peraturan label kemasan pangan oleh dinas terkait, tetapi masih banyak IRTP yang melanggar peraturan pelabelan kemasan pangan tersebut. Seharusnya dengan adanya sosialisasi dari dinas terkait, pengetahuan IRTP menjadi meningkat, namun pada penelitian ini justru pengetahuan IRTP masih kurang sehingga tingkat kepercayaannya pun terhadap peraturan pelabelan kemasan pangan masih kurang. Pengetahuan tentang perilaku konsumen menjadi hal yang sangat penting tidak hanya bagi produsen tetapi juga kepada pihak yang berwenang, karena merupakan kekuatan pendorong peraturan pangan (Carrillo et al. 2012).

Persepsi dapat ditimbulkan oleh adanya sumber informasi yang masuk kedalam memori seseorang (Kotler 2001). Persentasi terbesar responden (51%) (Gambar 9) untuk mendapatkan informasi tentang label kemasan pangan adalah dari Dinas Kesehatan. Dinas Kesehatan merupakan salah satu pihak yang terkait dalam memberikan sumber informasi yang akurat tentang peraturan pelabelan kemasan pangan. Selain informasi dari Dinas Kesehatan, informasi lainnya didapatkan dari media cetak, media elektronik, Internet dan website Badan POM. Media merupakan sumber informasi yang memiliki jangkauan luas (Jayanti et al.

2011), tetapi tidak sepenuhnya media memberikan informasi yang benar kepada konsumen (Hidayat et al. 2009). Penelitian ini menunjukkan bahwa pemahaman responden yang rendah (16%) terhadap peraturan pelabelan kemasan pangan disebabkan oleh sumber informasi yang didapat bukan berasal dari sumber yang sama melainkan dari berbagai sumber diantaranya adalah media.

(24)

13

Gambar 7. Persepsi responden tentang fungsi label kemasan

Gambar 8. Persepsi responden tentang jumlah keterangan minimum

Gambar 9. Persepsi responden tentang sumber informasi yang diandalkan Hubungan Karakteristik IRTP dengan Persepsi

Uji korelasi spearman menunjukkan nilai signifikansi dari masing-masing karakter bernilai >0.05 (Tabel 6). Hal ini memperlihatkan bahwa hubungan antar variabel dengan persepsinya tidak signifikan. Hasil penghitungan korelasi dapat dilihat pada Lampiran 3,4 dan 5.

(25)

14

Perbedaan persepsi tersebut kemungkinan berasal dari sumber informasi yang didapat. Sumber informasi responden sebagian besar (50%) (Gambar 9) berasal dari Dinas Kesehatan. Maka dari itu hal ini dianggap wajar ketika persepsi responden tentang label kemasan pangan adalah sama (tidak berpengaruh nyata). Meskipun persepsi sama, namun, hal ini belum menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan responden dikatakan tinggi, karena hanya 16% (Gambar 5) responden yang paham terhadap peraturan label kemasan pangan.

Praktek pelabelan kemasan pangan yang baik menjadi hal yang sangat penting. Penerapan label yang tidak baik akan berdampak kepada penurunan mutu dari produk pangan dan dapat memberikan efek keracunan pangan yang disebabkan oleh makanan yang terkontaminasi (OSHA 2013). Saat ini, label kemasan pangan menjadi instrumen utama untuk memberikan informasi kepada konsumen tentang aspek gizi seperti nilai kebutuhan energi, lemak, protein, dan karbohidrat (Wills et al. 2009; Visschers et al. 2009). Selain itu, label kemasan pangan juga membantu dalam pendidikan konsumen (Jarosz et al. 2003). Maka dari itu, pemerintah harus berupaya untuk mengatur pelabelan yang baik, untuk memastikan bahwa label dapat digunakan dan dipahami oleh sebagian besar konsumen. Seperti halnya hasil penelitian di Spanyol oleh Carrillo et al. (2012) menyatakan bahwa pemerintah Spanyol mengatur peraturan pelabelan kemasan yang baik sehingga masyarakat menjadi paham akan pentingnya peraturan label kemasan.

Sosialisasi mengenai peraturan pelabelan kemasan pangan perlu ditingkatkan terutama aspek keterangan minimum pada label. Mengingat masih rendahnya pengetahuan IRTP tentang peraturan pelabelan kemasan pangan diharapkan menjadi evaluasi Dinas Kesehatan. Oleh karena tidak ada hubungan antara karakteristik internal (usia, pendidikan, jabatan dan status sosial ekonomi) terhadap persepsi tentang label kemasan pangan akan memudahkan Dinas Kesehatan memberikan sosialisasi dengan materi yang sama terhadap semua karakteristik individu.

Tabel 6. Nilai hubungan karakteristik IRTP dengan persepsi Karakteristik Usia Tingkat

Pendidikan Jabatan

Status Sosial Ekonomi IRTP dengan definisi label 0.485 0.840 0.327 0.192 IRTP dengan fungsi label 0.559 0.902 0.114 0.240

(26)

15 menerapkan jumlah keterangan minimal pada label produknya berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 69 Tahun 1999 Tentang Label dan Iklan Pangan. Namun pengetahuan IRTP terhadap peraturan pelabelan kemasan pangan dikategorikan masih kurang. Mayoritas IRTP memperoleh sumber informasi tentang label kemasan pangan berasal dari Dinas Kesehatan. Hasil analisis korelasi menyatakan tidak terdapat hubungan yang signifikan (p>0.05) antara karakteristik IRTP (usia, tingkat pendidikan, jabatan dan status sosial ekonomi) terhadap persepsinya tentang label kemasan pangan.

Saran

Penelitian lebih lanjut yang disarankan adalah kajian untuk mengetahui tingkat kesesuaian setiap keterangan yang wajib dicantumkan pada label IRTP berdasarkan PP No. 69 Tahun 1999 Tentang Label dan Iklan Pangan. Selanjutnya penelitian mengenai pengaruh label produk IRTP terhadap persepsi konsumen tentang mutu dan keamanan produk juga disarankan.

DAFTAR PUSTAKA

Apriani F. 2009. Pengaruh kompetensi, motivasi dan kepemimpinan terhadap efektifitas kerja. Jurnal Ilmu Administrasi dan Organisasi, Bisnis & Birokrasi. 16(1): 13-17

[BPOM] Badan Pengawasan Obat dan Makanan. 2013. Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 69 Tahun 1999 Tentang Label Dan Iklan pangan [Internet]. [diacu 2013 Juli 2]. Tersedia dari: http://jdih.pom.go.id/produk/PERATURAN%20

PEMERINTAH/PP_No_69_th_1999.pdf

[BPOM] Badan Pengawasan Obat dan Makanan. 2013. Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 28 Tahun 2004 Tentang Kemanan, Mutu dan Gizi Pangan [Internet]. [diacu 2013 Juli 2]. Tersedia dari: http://jdih.pom.go.id/produk/

[BPOM] Badan Pengawasan Obat dan Makanan. 2013. Undang-undang Nomor 18 tahun 2012 Tentang Pangan [internet]. [diacu 2013 Juli 2]. Tersedia dari: http://jdih.pom.go.id/produk/

[BPOM] Badan Pengawasan Obat dan Makanan. 2013. Peraturan Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan No. HK.03.1.23.04.12.2205 Tahun 2012 Tentang Pedoman Pemberian Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga [internet]. [diacu 2013 Juli 2]. Tersedia dari: http://jdih.pom.go.id/produk/

(27)

16

Tentang Pendaftaran Pangan Olahan [internet]. [diacu 2013 Juli 3]. Tersedia dari:http://jdih.pom.go.id/produk/

[BPOM] Badan Pengawasan Obat dan Makanan. 2012. Laporan Tahunan Badan POM RI 2011 [internet]. [diacu 2012 Desember 12]. Tersedia dari: http://www.pom.go.id/ppid/rar/LAPTAH_2011.pdf.

Carrillo E, Varela P, Friszman S. 2012. Influence of nutritional knowledge on the use and interpretation of Spanish nutritional food labels. Journal of Food Science. 71(1). doi: 10.1111/j.1750-3841.2011.02479.x

[CAC] Codex Alimentarius Commision. 2013. Food Categories [internet]. [diacu 2013 Februari 7]. Tersedia dari: http://www.codexalimentarius.net/ gsfaonline/foods/index.html?collapse=0

[DEPKES] Departemen Kesehatan RI. 2009. Data Penduduk Sasaran Program Pembangunan Kesehatan 2007-2011. Jakarta (ID): Departemen Kesehatan. Djamaludin MD, Simanjuntak M, Rochimah N. 2012. The influence of message

appeals and booklet presentation toward perception and knowledge about healthy streetfood. JIKK. 5(1): 67-76

Hidayat IK, Sumarwan U, Yuliati LN. 2009. The relationship of perception and mothers attitude to nutritional claim on advertisement of formula milk for pre-school children and purchasing decision. JIKK. 2(1): 77-85

Jarosz A, Kozłowska-Wojciechowska M, Uramowska-Zyto B. 2003. Expectation regarding nutrition information on food product packages. Rocz Panstw Zakl Hig: 54(2):231-9

Jayanti TS, Djamaludun MD, Latifah M. 2011. Perception, knowledge, and behavior of pirated compact disc purchasing. JIKK. 4(2): 190-198

Kikulwe EM, Wesseler J, Zepeda JF. 2011. Attitudes, perceptions, and trust. insights from a consumer survey regarding genetically modified banana in Uganda. Appetite. 57:401-403

Khomsan A, Anwar F, Mudjajanto ES. 2009. Nutrition knowledge, attitude, and practice of posyandu participants. Journal of Nutrition and Food. 4(1): 33-41

Kotler P. 2001. Manajemen Pemasaran di Indonesia: Analisis, Perencanaan, Implementasi dan Pengendalian. Susanto AB, penerjemah. Jakarta (ID): Salemba Empat. Terjemahan dari: Marketing Management: Analysis, Planning, Implementation and Control.Ed ke-11.

Krukowski RA, Harvey-Berino J, Kolodinsky J, Narsana RT, Desisto TP. 2006. Consumers may not use or understand calorie labeling in restaurants. J Am Diet Assoc. 106:917-920

[OSHA] Occupational Safety and Health Administration 2013. Foodborne disease [internet]. [diacu 2013 Februari 7]. Tersedia dari: http://www.osha.gov/SLTC/foodbornedisease/index.html

Rahayu WP. 2011. Keamanan Pangan Peduli Kita Bersama. Bogor (ID): IPB Pr. Sarwono J. 2006. Analisis Data Penelitian Menggunakan SPSS. Yogyakarta (ID):

PT Andi.

Setiadi NJ. 2003. Perilaku Konsumen: Konsep dan Implikasi Untuk Strategi dan Penelitian Pemasaran. Jakarta (ID): Kencana Media.

(28)

17 Singarimbun M dan Effendi S. 2006. Metode Penelitian Survei. Edisi revisi.

Jakarta (ID): PT Pustaka LP3ES Indonesia.

Suharini M. 2008. Persepsi nasabah terhadap penerapan sistem layanan produk dan jasa E-Banking. Jurnal Ilmu Administrasi dan Organisasi, Bisnis & Birokrasi. 15(3): 168-177

Sumarwan U. 2003. Perilaku Konsumen: Teori dan Penerapannya dalam Pemasaran. Jakarta (ID): Ghalia Indonesia.

Visschers V, Siegrist M. 2009. Applying the evaluability principle to nutrition table information: how reference information changes people’s perception of food products. Appetite. 52:505–12.

Wachidah RN. 2007. Pandangan konsumen ibu rumah tangga terhadap label halal pada produk pangan di kota Tanggerang [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.

Waysima, Sumarwan U, Khomsan A, Zakaria FR. 2010. Mother’s preference towards fish significantly increase children’s appreciation for consuming fish. Journal of Nutrition and Food. 5(3): 197–204

Wills J, Schmidt D, Pillo-Blocka F, Cairns G. 2009. Exploring global consumer attitudes toward nutrition information on food label. Nutr Rev. 67:S102-6 Worsley A. 2002. Nutrition knowledge and food consumption: can nutrition

(29)

18

Lampiran 1. Hasil survei secara umum

Parameter Jawaban Frekuensi Persentase

(%) Usia responden a. 15-25 tahun

b. 26-35 tahun

b. Pernah dengar tetapi tidak tahu isi peraturannya

c. Tahu sekilas atau sebagian dari isinya Definisi label a. Keterangan mengenai gambar,

tulisan pada kemasan b. Keterangan mengenai

keamanan pangan

c. Keterangan mengenai mulainya perubahan tekstur Fungsi label a. Memberikan informasi

gambar dan tulisan

b. Memberikan informasi yang jelas tentang produk

c. Memberikan informasi tentang keamanan pangan

(30)

19

a. Media cetak (Koran, majalah dan sejenisnya)

b. Media elektronik (TV/Radio) c. Internet

(31)

20

Lampiran 2. Peraturan mengenai pelabelan

Peraturan Label Kriteria Wajib

UU No. 18 tahun 2012 Tentang Pangan

Pasal 97 ayat 3 - Nama produk

- Daftar bahan yang digunakan - Berat bersih

- Nama dan alamat pihak yang memproduksi

- Halal bagi yang dipersyaratkan - Tanggal dan kode produksi - Tanggal, bulan dan tahun

kedaluwarsa

- Nomor izin edar bagi pangan olahan - Asal-usul bahan pangan tertentu PP No. 69 tahun 1999 Tentang Label

dan Iklan Pangan

Pasal 3 ayat 2 - Nama produk

- Daftar bahan yang digunakan - Berat bersih

- Nama dan alamat pihak yang memproduksi

- Tanggal, bulan dan tahun kedaluwarsa

Peraturan Kepala Badan POM Tahun 2011 Tentang Pendaftaran pangan Olahan

Pasal 1 ayat 18

(32)
(33)

22

(34)
(35)

24

RIWAYAT HIDUP

Figur

Gambar 1. Diagram tahapan penelitian
Gambar 1 Diagram tahapan penelitian . View in document p.14
Tabel 1. Nilai angka kritik r*
Tabel 1 Nilai angka kritik r . View in document p.16
Tabel 2. Hasil uji validitas dan reliabilitas kuisioner
Tabel 2 Hasil uji validitas dan reliabilitas kuisioner . View in document p.17
Tabel 3. Pengelompokkan status sosial ekonomi
Tabel 3 Pengelompokkan status sosial ekonomi . View in document p.19
Gambar 4. Kesesuaian label kemasan pangan dengan peraturan
Gambar 4 Kesesuaian label kemasan pangan dengan peraturan . View in document p.20
Tabel 4. Persentase gap tingkat kesesuaian label dengan peraturan
Tabel 4 Persentase gap tingkat kesesuaian label dengan peraturan . View in document p.21
Gambar 5. Pengetahuan responden tentang peraturan label
Gambar 5 Pengetahuan responden tentang peraturan label . View in document p.22
Tabel 5. Persentase gap responden dengan jawaban
Tabel 5 Persentase gap responden dengan jawaban . View in document p.22
Gambar 6. Persepsi responden tentang definisi label
Gambar 6 Persepsi responden tentang definisi label . View in document p.23
Gambar 7. Persepsi responden tentang fungsi label kemasan
Gambar 7 Persepsi responden tentang fungsi label kemasan . View in document p.24
Gambar 8. Persepsi responden tentang jumlah keterangan minimum
Gambar 8 Persepsi responden tentang jumlah keterangan minimum . View in document p.24
Gambar 9. Persepsi responden tentang sumber informasi yang diandalkan
Gambar 9 Persepsi responden tentang sumber informasi yang diandalkan . View in document p.24
table information: how reference information changes people’s perception of
table information: how reference information changes people’s perception of . View in document p.28

Referensi

Memperbarui...