• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sikap Politik Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Dalam Suksesi Kepemimpinan Negara Pada Pemilu 2014

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Sikap Politik Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Dalam Suksesi Kepemimpinan Negara Pada Pemilu 2014"

Copied!
101
0
0

Teks penuh

(1)

SIKAP POLITIK PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN (PPP) DALAM SUKSESI KEPEMIMPINAN NEGARA PADA PEMILU 2014

SKRIPSI

Diajukan kepada Fakultas Syari’ah dan Hukum

Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh

Gelar Sarjana Syari’ah (S.sy)

Disusun Oleh :

ADE HIKMATUL FAUZIAH NIM. 1110045200006

KONSENTRASI KETATANEGAARAN ISLAM PROGRAM STUDI JINAYAH SIYASAH

FAKULTAS SYARI’AH DAN HUKUM UIN SYARIF HIDAYATULLAH

(2)
(3)
(4)
(5)

i

ABSTRAK

Ade Hikmatul Fauziah, 1110045200006. Sikap Politik Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Dalam Suksesi Kepemimpinan Negara Pada Pemilu 2014.

Konsentrasi Ketatanegaraan Islam Program Studi Jinayah Siyasah, Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta 1435 H/2015 M. 1x 76 Halaman + 15 Lampiran.

Skripsi ini berjudul Sikap Politik Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Dalam Suksesi Kepemimpinan Pada Tahun 2014, ini merupakan hasil penelitian yang menggambarkan arah sikap politik Partai PPP dalam suksesi kepemimpinan pada pemilu 2014. Metode pedekatan yang digunakan oleh penulis dalam penelitian ini adalah deskriptif –kualitatif. Fokusnya adalah penggambaran secara menyeluruh tentang partai Persatuan Pembangunan (PPP) dalam pemilu 2014, sikap politik partai PPP serta konflik yang terjadi di internal partai. Hal ini sejalan dengan pendapat Bogdan dan Taylor dalam Moleong (2000;3) yang menyatakan “metodelogi kualitatif” sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Dengan kata lain, penelitian kualitatis karena merupakan penelitian yang tidak mengadakan perhitungan.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang partai PPP dalam pemilu 2014, Sikap PPP dalam suksesi kepemimpinan pada pemilu 2014, serta konflik internal partai yang ada pada saat karya tulis ini dibuat.

Dalam hal ini berdasarkan hasil penelitian maka diperoleh suatu kesimpulan, bahwa dalam pemilu 2014 perolehan suara PPP naik dibandingkan dengan pemilu 2009 . pada pemilu 2014 semua anggota Partai PPP resmi mendukung koalisi merah putih yang dipimpin oleh Prabowo saat itu, bagi PPP suksesi kepemimpinan pada pemilu 2014 sudah berjalan dengan lancar dan dijadikannya pembelajaran untuk masa yang akan datang. Sebelum adanya konflik internal PPP, suara PPP bersatu untuk memilih koalisi merah putih namun setelah pelantikan presiden terpilih Jokowi-JK maka sebagian anggota PPP memilih untuk mendukung pemerintahan.

Kata kunci : Sikap Politik Partai Persatuan Pembangunan (PPP)

Dalam Suksesi Kepemimpinan Negara Pada Pemilu 2014.

Pembimbing : 1. Masyrofah, M.Si.

2. Atep Abdurofiq, M.Si

(6)

ii

Alhamdulillah, puji syukur ke hadirat Allah SWT penulis panjatkan atas

segala rahmat, hidayah dan inayah-Nya yang telah diberikan kepada penulis

sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini. Shalawat serta

salam semoga selalu tercurahkan kepada baginda besar Nabi Muhammad SAW,

Rasul yang berjasa besar kepada kita semua dalam membuka gerbang ilmu

pengetahuan.

Setulus hati penulis sadari bahwa tidak akan sanggup menghadapi dan

mengatasi berbagai macam hambatan dan rintangan yang mengganggu lancarnya

penulisan skripsi ini, tanpa adanya bantuan dan motivasi dari berbagai pihak. Oleh

karena itu, dalam kesempatan yang berharga ini perkenankan penulis untuk

menyampaikan rasa terimakasih yang sedalam-dalamnya kepada:

1. Dr. Phil. Asep Saepuddin Jahar, MA, selaku Dekan Fakultas Syariah

dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Jakarta.

2. Ketua Program Studi Jinayah Siyasah, Dra. Hj. Maskufa, MA., dan

Sekretaris Program Studi Jinayah Siyasah Ibu Rosdiana, MA., yang

telah membantu penulis secara tidak langsung dalam menyiapkan

skripsi ini.

3. Prof. Dr. Zaitunah Subhan, sebagai Pembimbing Akademik yang juga

senantiasa mengingatkan penulis semasa mengikuti perkuliahan hingga

(7)

iii

4. Kepada Ibu Masyrofah, M.Si, dan Bapak Atep Abdurofiq, M.Si.,

selaku dosen pembimbing yang telah meluangkan waktu, pikiran, dan

perhatiannya kepada penulis dalam memberikan pengarahannya

hingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

5. Segenap Bapak / Ibu Dosen Fakultas Syariah dan Hukum Universitas

Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan ilmu

pengetahuannya kepada penulis selama duduk dibangku perkuliahan.

6. Segenap jajaran karyawan akademik Perpustakaan Syariah dan Hukum

dan Perpustakaan Utama yang telah membantu penulis dalam

pengadaan referensi-referensi sebagai bahan rujukan skripsi.

7. Kepada semua jajaran pengurus DPP PPP Bapak Akhmad Gozali

Harahap S.Ag, M.Si dan Bapak Nur Salam AS, S.IP yang telah

bersedia untuk penulis wawancarai, Saya ucapkan terimakasih untuk

beliau semua, karena tanpa bantuan beliau-beliau skripsi ini tidak akan

mungkin terselesaikan.

8. Kepada Ayahanda dan Ibunda penulis, Bpk. H. Nawin Hs. Dan Ibu Hj.

Aminah Hs. yang telah membesarkan dan membimbing penulis dari

kecil hingga saat ini dengan penuh kesabaran dan pengertian. Serta

tiada henti memberikan doa dan dukungan kepada penulis baik secara

moril maupun materil.

9. Ucapan terimakasih juga penulis sampaikan teruntuk kakak Muniroh

H.N, S.Ag dan Abang Bastari yang sudah penulis anggap sebagai

(8)

iv

melimpahkan rahmat dan kasih sayang-Nya kepada mereka..

10.Kepada Ibu mertua Djariah H.S dan Bapak mertua H. Saman H.R, D1

Meteo, terimakasih telah memberikan doa dan semangatnya kepada

penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini

11.Teruntuk Suami tercinta Jamaludin A.Md, terimakasih karena atas

dorongan dan semangat yang tak kenal henti dari mu, skripsi ini dapat

terselesaikan dalam waktu yang telah kita harapkan.

12.Terimakasih penulis sampaikan kepada kakak-kakak ku Naiyam

Khairul Umma H.N, Muniroh H.N. S.Ag, Eni Rustini H.N, Imron

Rosyadi H.N. S.Ag, Nur Jannah H.N.S.Pd M.Pd, Ridwan H.N,

Raudhatul Jannah H.N. A.Mk, Ahmad Fauzan H.N. S.E, Tety Syafitri

H.S. S.Ak dan adik ipar ku yang ganteng-ganteng Zaenal Arifin H.S.

S.I, Rizky Ferdiansyah H.S. yang telah senantiasa dan tak henti untuk

memberikan semangatnya sehingga penulis dapat menyelesaikan

skripsi ini.

13.Kepada sahabat-sahabat terbaikku, Eli Rinawati S.Sy, Rifanny Fathia

Caesa Putri S.Sy, Ihda Raudhotul Ihsaniah, Luluk Husnawati, Siti

Nurhilaliyah S.Sy, Hafidz, M. Arifin Saleh, Siti Nurlaela,Wardah

Susanti, Cicih Susanti yang telah membantu penulis dalam berjalannya

skripsi ini, selalu mengingatkan akan kesabaran dan mendengarkan

(9)

v

14.Kepada sahabat seperjuangan SS Angkatan 2010 yang tidak bisa

disebutkan satu persatu, terimakasih atas kebaikan kalian, yang selalu

memberikan semangat, motivasi, dan do’anya kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

15.Kepada sahabat-sahabat KKN BERDIKARI 2013 dan sahabat-sahabat

seperjuangan dari Alumni MAN 4 Jakarta 2009 terutama yang berada

di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang selalu memberikan motivasi,

selama penulis menyelesaikan skripsi ini.

Semoga amal baik mereka dibalas oleh Allah SWT dengan balasan yang

berlipat ganda. Sungguh hanya Allah SWT yang dapat membalas kebaikan

mereka dengan kebaikan yang berlipat ganda pula. Penulis berharap skripsi ini

dapat memberkan manfaat bagi penulis khususnya, dan bagi pembaca pada

umumnya.

Ciputat, 01 April 2015

(10)

vi

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... vi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Pembatasan Dan Perumusan Masalah ... 7

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 8

D. Tinjauan Pustaka ... 9

E. Metode Penelitian ... 12

F. Sistematika Penulisan ... 14

BAB II PARTAI POLITIK ISLAM DALAM SUKSESI KEPEMIMPINAN NEGARA A. Pengertian Suksesi dan Kepemimpinan ... 16

B. Jenis – jenis Kepemimpinan ... 18

C. Sekilas Mengenai Partai Politik Islam di Indonesia 1. Partai Politik Islam Pada Era Orde Lama (1945 – 1965) ... 20

2. Partai Politik Islam Pada Era Orde Baru (1967 – 1998) .... 23

3. Partai Politik Islam Pada Era Reformasi (1999 – 2014) .... 31

(11)

vii

B. Visi dan Misi PPP ... 46

C. Ideologi Politik PPP ... 51

BAB IV ANALISIS DATA DAN TEMUAN A. Partai Persatuan Pembangunan Dalam Pemilu 2014 ... 54

B. Sikap Politik PPP Dalam Suksesi Kepemimpinan Negara ... 57

C. Konflik Internal dan Kelompok Kepentingan ... 61

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 70

B. Saran – Saran ... 71

DAFTAR PUSTAKA ... 73

(12)

1

A. Latar Belakang

Lengsernya Soeharto sebagai ‘icon’ Orde Baru menandai lahirnya Era

Reformasi, hal ini telah melambungkan harapan masyarakat bahwa bangsa

Indonesia akan segera meninggalkan kekelaman politik yang

berkepanjangan dan memasuki era baru yang dilandasi oleh semangat

demokratisasi.1 Hal ini dapat membuka kesempatan bagi berlangsungnya

reformasi demokratis di Indonesia. Untuk memenuhi aspirasi rakyat yang

digemakan oleh gerakan reformasi, perubahan–perubahan mendasar harus

ditegakkan, termasuk perubahan menyeluruh pada semua pranata politik,

sosial, ekonomi, dan perubahan pada basis hubungan antara rakyat dan

negara.

Perubahan-perubahan semacam ini hanya dapat diwujudkan melalui

penyusunan satu agenda reformasi yang menyeluruh, sebagai hasil dari

proses dialog yang terbuka, inklusif dan partisipatif. Keruntuhan rezim Orde

Baru pada pertengahan tahun 1998 merupakan babak baru dalam kehidupan

perpolitikan di Indonesia yaitu berakhirnya era otoriter dan lahirnya era

demokratisasi.2

1 Zainal Abidin Amir, Peta Islam Politik: Pasca Soeharto (Jakarta: Pustaka LP3ES, 2003),

Hal. 282

2 Dede Rosyada, Pendidikan Kewargaan (Civic Education) Demokrasi, Hak Asasi Manusia

(13)

2

Peluang semakin besar di Era Reformasi khususnya di bidang politik,

yang diwujudkan dengan lahirnya banyak partai politik Islam. Sebelumnya

dizaman Orde Baru partai Islam telah habis setelah Partai Persatuan

Pembangunan (PPP) menetapkan asas pancasila dan menghilangkan asas

Islam dalam muktamarnya yang pertama tahun 1984.3

Secara resmi PPP didirikan pada 5 Januari 1973, menurut

undang-undang ditetapkan pada tahun 1975 partai ini mempunyai dua tujuan yakni

mewujudkan cita-cita bangsa seperti dimaksud dalam UUD 1945 dan Islam,

menciptakan masyarakat adil dan makmur yang diridhai Allah berdasarkan

pancasila dan UUD 1945 dalam wadah Negara Kesatuan Republik

Indonesia. Pada mulanya partai ini mempunyai tiga asas, yaitu ; Pancasila,

UUD 1945, dan Islam dan penggunaan Ka’bah sebagai lambang partai.

Sesuai dengan asas, tujuan dan usaha diatas salah satu diantara program

utama PPP digariskan pada tahun 1973 untuk memelihara persatuan umat

Islam untuk memperkukuh persatuan dan kesatuan Bangsa Indonesia dalam

segala kegiatan kemasyarakatan dan kenegaraan.4

Dengan sosok seperti itu, PPP mempunyai kejelasan basis pendukung

dari kalangan Islam. Dalam menggunakan ukuran hasil pemilu 1955,

dukungan yang bisa diperoleh PPP sebenarnya berkisar 43,5%. Sebagian

besar dari jumlah itu berasal dari Masyumi dan NU sebagai dua sumber

konstituen politik Islam terbesar. Akan tetapi, pada kenyataannya dengan

3 Sudirman, Tebba.,Islam Orde Baru : Perubahan Politik Dan Keagamaan. (Yogyakarta:

Tiara Wacana Yogya, 1993), Cet.1, Hal. ii

4 M. Rusli Karim., Negara Dan Peminggiran Islam Politik, (Yogyakarta: Tiara Wacana

(14)

diberlakukannya sistem dan praktik politik yang hegemoni dan tidak

kompetitif, pemerintah berhasil menggembosi suara PPP, antara lain karena

sejak kelahirannya PPP hanya mampu meraih peralihan suara dibawah 28%.

Dalam hal perolehan suara ini, guncangan hebat dialami PPP ketika partai

ini memperoleh suara 15% lebih sedikit pada tahun 1987.

Secara umum dapat dikatakan bahwa konfigurasi perolehan suara

sudah pasti akan berubah, dengan munculnya banyak partai dan secara

teoretis hal itu akan memekarkan pola distribusi pemberian suara. Jelas

dalam hal ini partai-partai lama akan mengalami perubahan besar, dan

cenderung mengarah pada penurunan perolehan suara. Demikian hal dengan

PPP seperti telah diisyaratkan, partai ini menjadi korban pemerintah lama

dalam suasana kemarahan yang sangat mencolok terhadap kehidupan politik

lama.5

Meskipun bertahun-tahun menjadi penurut terhadap rezim Orde Baru,

partai PPP berhasil mempertahankan hidup hingga kemasa reformasi

dengan keluarnya sebagai partai yang memiliki suara terbanyak keempat

dan jumlah kursi ketiga terbesar pada pemilu 1999. Keuntungan PPP adalah

namanya yang sudah dikenal dengan pemilih yang terbiasa memilih PPP,

sebuah organisasi nasional, dan legitimasi reformasi karena posisinya

sebagai partai oposisi paling dinamis di akhir zaman Orde Baru.6

Dalam bahan-bahan kampanye pemilu 1999, PPP menekankan sifat

moderatnya. Mereka mengatakan mendukung reformasi, namun ketua partai

5 Bahtiar Effendy, (RE)Politisasi Islam, (Bandung: Penerbit Mizan, 2000), Cet. 1, Hal. 255

(15)

4

Hamzah Haz pada saat itu menyakinkan, ia tidaklah fanatik dalam

pendekatan kepada Islam. Contoh, ia tidak mendukung implementasi hukum

syari’ah Islam, namun dengan prinsip-prinsip Islam.

Seiringan dengan berjalannya waktu pemilu 2014 telah berlangsung.

Sebelumnya partai-partai politik telah mempersiapkan diri untuk bersaing.

Survei terbaru dari Lingkaran Survei Indonesia tentang nasib dan masa

depan partai Islam menarik untuk dicermati. Popularitas dan elektabilitas

mereka berada dibawah partai politik yang berhaluan Nasionalis. Hasil

survei tersebut menjadi peringatan bagi partai Islam untuk berbenah,

survei-survei yang dilansir belakangan ini masih menempatkan partai-partai

Islam dibawah partai Nasionalis. Sebagaimana diketahui, survei LSI itu

dilakukan pada 1-8 Oktober 2012, melibatkan 1.200 responden di 33

provinsi, dengan tingkat kesalahan sekitar 2,9 persen. Dari bukti-bukti

empiris, memang menjadi trend penurunan perolehan suara partai Islam.

Pada pemilu pertama tahun 1955 partai Islam menjadi kampium di

Indonesia dengan perolehan suara sebesar 43,7 persen, kemudian menurun

pada pemilu tahun 1999 menjadi 35,95 persen, naik sedikit menjadi 37,74

persen pada pemilu tahun 2004, pemilu 2009 kembali menurun menjadi

28,62 persen, dan pemilu 2014 partai Islam kembali meraih suara 31,41

persen.7

Dalam sistem demokratis, pergantian kekuasaan suksesi ditentukan

melalui cara yang demokratis, berupa pemilihan umum. Pelaksanaan pemilu

7 Muhammad Ridwan, Elektabilitas Partai Dan Kompatibilitas Demokrasi. 2013. Diakses

(16)

sendiri merupakan ajang pertarungan bagi parpol-parpol dalam

menempatkan kader-kader yang terbaik untuk dapat menempati kursi di

lembaga legislasi. Hal ini tentunya dapat terealisasi apabila masyarakat

percaya ikut memberikan suaranya untuk memberi mandat kepada kader

partai yang akan duduk di lembaga perwakilan tersebut.8

Adanya pergantian kepemimpinan dalam suatu negara, maka kita

mengenal istilah suksesi. Singkatnya suksesi adalah penggantian

kepemimpinan dari suatu negara, suksesi menjadi hal yang mutlak dalam

sebuah organisasi, dewasa ini suksesi hanyalah dimaknai sebagai ajang

perebutan kekuasaan saja. Akan tetapi, dibalik itu tersirat makna akan

kehadiran setitik sinar yang dapat membawa pada benderangnya lautan

gulita. Langkah dan sikap yang bijak diperlukan dengan tujuan

mengkonstruk organisasi yang lebih baik. Egoisitas hendaknya

dikesampingkan demi kepentingan bersama, terkhusus dalam setiap suksesi

di sebuah organisasi dan lembaga manapun agar terciptanya kebersamaan,

dan kedamaian yang dinantikan oleh khalayak dalam kelompok atau

organisasi tersebut.9

Suksesi presiden tahun 2014 menjadi sangat penting ketika bangsa ini

memasuki era baru. Indonesia terus menjalani proses konsolidasi demokrasi,

yaitu membangun demokrasi yang kokoh dan menyelesaikan sejumlah

masalah dalam beragam bidang kehidupan. Suksesi menjadi sangat penting

8 Ahmad Budiman, Eksistensi Parpol Islam Dalam Pemilu 2004, Dalam Sali, Ed., Susiana,

Pemilu 2004 : Analisis Politik, Hukum Dan Ekonomi (Jakarta: Tiga Putera Utama, 2003), Hal. 57

9 Artikel Diakses Pada Tanggal 16 Mei 2014 Pukul 23.00 Wib Dari

(17)

6

karena transisional dari era lama (era baru hingga reformasi) menuju era

yang benar-benar baru dengan generasi yang terlepas dari beban masa lalu.

Sebagai salah satu lembaga yang berfungsi menciptakan kader pemimpin

nasional, menjadi tugas partai politik mencari pemimpin baru yang bisa

mempin Indonesia di era baru.10

Kepemimpinan adalah tingkah manusia yang mengadung unsur

kemampuan, melebihi kemampuan orang lain dalam suatu lingkungan kerja

sama, guna untuk mempengaruhi orang lain untuk bekerja sesuai dengan

rencana, demi tercapainya tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.11

Kepemimpinan merupakan kemampuan mempengaruhi kelompok menuju

tercapainya tujuan dalam suatu organisasi.12

Dari penjelasan latar belakang tersebut, penulis bermaksud

mengadakan penelitian ilmiah dan akan dibahas dalam skripsi dengan judul: “Sikap Politik Partai Persatuan Pembanguan (PPP) dalam Suksesi Kepemimpinan Negara Pada Pemilu 2014.”

10 Artikel Diakses Pada Tanggal 12 Mei 2014 Pukul 16.15 Wib Dari

Http://Nasional_Kompas_Com/Read/2013/08/26/0833212/Pentingnya_Suksesi_2014

11 Alex Gunur, Manajemen; Kerangka-Kerangka Pokok (Jakarta: Bhratara Karya Aksara,

1982), Cet. 4, Hal. 55

12 Stephen P.Robbins, Marry Coulter, Manajemen (Jakarta: PT Indeks Gramedia Grup,

(18)

B. Pembatasan Dan Perumusan Masalah

Studi tentang Partai Persatuan Pembangunan berangkat dari sebuah

kenyatan politik, berupa sebagai Partai Politik yang ikut mewarnai dinamika

demokrasi di Indonesia keterlibatan PPP dalam dinamika demokrasi

tersebut, dapat dilihat dengan keikutsertaan menjadi kontestan dan

berkompetisi dalam pemilu di era reformasi yang dianggap sebagai pemilu

yang demokratis. Dalam hal ini, PPP telah ikut berpartisipasi dalam

mewujudkan demokrasi dipentas politik nasional bersama partai-partai

lainnya. Disisi lain, reformasi dianggap sebagai masa pencarian jati diri

setelah terbebas dari tekanan Orde Baru selama hampir 32 Tahun.

Berdasarkan acuan tersebut, agar pembahasan skripsi ini tidak terlalu

melebar dan terjebak pada kurang terfokusnya pembahasan serta

kesimpulan, maka penulis membatasi permasalah pada aktifitas politik

Partai Persatuan Pembangunan yang dilakukan mulai pada saat pemilu 1999

sampai pada tahun 2014. Dalam hal itu, Partai Persatuan Pembangunan ikut

berpartisipasi aktif dalam pemerintahan sebagai bentuk aktifitas bagian dari

gerakan politik Islam di Indonesia yang begitu aktual dan menghegemoni.

Beberapa pertanyaan yang dirumuskan dan menjadi fokus

(19)

8

1. Bagaimanakah sikap politik PPP dalam pemilu 2014 ?

2. Bagaimanakah suksesi kepemimpinan Negara pada Pemilu 2014

menurut PPP?

3. Bagaimanakah strategi PPP dalam menyikapi konflik internal dan

kelompok kepentingan yang terjadi pada PPP ?

C. Tujuan Dan Manfaat Penelitian

1. Tujuan Penelitian

Setiap penelitian yang dilakukan pasti untuk mencapai suatu

tujuan, maksud dan manfaatnya. Adapun tujuan dari penelitian ini

adalah:

1) Mengidentifikasi, mendeskripsikan dan menganalisa sikap politik

Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dalam pemilu 2014

2) Untuk menambah wacana perpolitikan nasional.

3) Untuk mengetahui strategi yang dijalankan dalam menyikapi konflik

yang terjadi pada PPP

4) Untuk mengetahui suksesi kepemimpinan Negara pada pemilu 2014

menurut PPP.

2. Manfaat Penelitian

Salah satu hal terpenting di dalam kegiatan penelitian ini adalah

mengenai manfaat dari penelitian tersebut, adapun manfaat tersebut

(20)

1) Menambah khazanah ilmu pengetahuan dalam suksesi kepemimpinan

Negara

2) Agar dapat dipahami dan dimengerti oleh khalayak umum terutama

civitas akademika bahwa terdapat beberapa jenis mengenai

kepemimpinan.

3) Karya ilmiah ini diharapkan menjadi motivasi bagi masyarakat

Indonesia mengenai bagaimana sikap politik PPP dalam suksesi

kepemimpinan Negara pada pemilu 2014.

D. Tinjauan Pustaka

Sejumlah penelitian dengan bahasan tentang suksesi kepemimpinan

yang mengarah pada upaya formalisasi syari’at Islam telah dilakukan, baik

yang mengkaji secara spesifik topik tersebut maupun yang bersinggungan

secara umum dengan bahasan penelitian. Berikut ini merupakan paparan

atas sebagian karya karya penelitian tersebut.

Untuk melihat pembahasan yang mendekati dengan kajian skripsi,

maka diperlukan kajian atau studi terdahulu, seperti skripsi M. Septiadi

Fadli dengan judul Muhammadiyyah dan Suksesi Kepemimpinan Nasional.

Dalam skripsi ini dijelaskan bahwa konsep suksesi kepemimpinan yang

telah lama pada masa Soeharto akan menimbulkan

penyimpangan-penyimpangan kedudukan dan tidak jalannya sistem demokrasi untuk

(21)

10

Penelitian juga dilakukan oleh, disertasi milik Sihabudin Noor yang

berjudul: “Politik Islam Studi Tentang Artikulasi Politik PPP1973-2004”.

Dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa artikulasi politik PPP

disepanjang menyangkut kepentingan penyelenggaraan Islam, hampir selalu

diakomodir oleh rezim. Sedangkan menyangkut kepentingan status

kekuasaan, sebagaimana dimasa Orde Baru upaya yang ditempuh PPP harus

dilalui jalan panjang.

Buku pertama disunting dalam bentuk tesis yang pernah ditulis oleh

Imam Ibnu Hajar (1999) yang berjudul :“Suksesi Dalam Pemerintahan

Islam: Telaah Historis Atas Sistem Peralihan Kekuasaan Pada Masa

Al-Khula’ Al-Rasyidun”. Tesis rotasi kepemimpinan yang bukan atas dasar

hubungan darah yang memungkin suksesi mendapatkan pilihan terbaik dari

para calon, serta terwadahinya pilihan bebas umat dalam bai’at, kiranya

menjadi benang merah yang menjadi titik temu dari cara-cara peralihan

kekuasaan pada masa khalifah.Sehingga kaum muslimin dapat menerima

cara-cara itu semua dengan lapang dada, dan tentu implikasi langsungnya

adalah bahwa mereka semua dapat diterima oleh umat dengan suara bulat.

Buku kedua disunting dari penjelasan sederhana oleh Kartini

Kartono (2006).Dalam bukunya yang berjudul “Pemimpin Dan

Kepemimpinan”, yang menjelaskan tentang pentingnya ketertiban.

Menurutnya dalam kompleksitas masyarakat, manusia harus hidup bersama

dan bekerja sama dalam sauna yang tertib dan terbimbing oleh seorang

(22)

mencapai tujuan bersama, dan untuk mempertahankan hidup bersama,

diperlukan kerja kooperatif yang perlu dipandu oleh seorang pemimpin.

Selain ketertiban, kata kunci lain yang perlu diperhatikan adalah panutan,

suatu komunitas memerlukan panutan, yakni sosok yang dianggap mampu

mengayomi dan melindungi mereka, serta bisa diandalkan untuk

berdiplomasi dengan komunitas lain.

Buku ketiga disunting oleh M. Alfan Alfian (2009), dalam bukunya

yang berjudul “Menjadi Pemimpin Politik (Perbincangan Kepemimpinan

dan Kekuasaan)” ia menyimpulkan definisi dari beberapa pendapat para

ahli kepemimpinan, yang menjelaskan bahwa kepemimpinan : (1)

Kepemimpinan itu proses leadership is a process, (2) dalam kepemimpinan

ada pengaruh leadership involves influences, (3) konteks konteks

kepemimpinan adalah kelompok leadership occurs within a group context,

(4) ada unsur pencapaian tujuan leadership involves goal attainment. Dapat

disimpulkan bahwa kepemimpinan adalah suatu proses dimana seseorang

punya pengaruh dalam satu kelompok (organisasi) untuk menggerakkan

individu lain untuk dapat meraih tujuan bersama. Dengan demikian,

pemimpin bukan saja orang yang memiliki sifat utama kepemimpinan

(potensial), tetapi juga mampu mengaktualisasikannya.

Dari judul di atas penulis mengambil kesimpulan bahwa suksesi

presiden tahun 2014 menjadi sangat penting ketika bangsa ini memasuki era

(23)

12

membangun demokrasi yang kokoh dan menyelesaikan sejumlah masalah

dalam beragam bidang kehidupan.

Maka dalam hal ini penulis menambahkan bagaimana partai PPP

dalam pemilu 2014, dengan adanya arah sikap partai PPP dalam suksesi

kepemimpinan Negara pada pemilu 2014, serta akan mengkaitkan adanya

konflik internal partai PPP yang ada pada saat karya tulis ini dibuat.

E. Metode Penelitian

Pada bagian ini, penulis akan menjelaskan secara rinci tentang

hal-hal yang terkait dengan metode penelitian dari proposal skripsi ini, yaitu :

1. Jenis Penelitian

Dalam menyusun skripsi ini penulis menggunakan metode yang

bersikap deskriptif kualitatif, yaitu suatu penelitian yang bertujuan

memberikan gambaran terhadap keadaan seseorang, lembaga, atau

masyarakat sekarang ini. Berdasarkan faktor-faktor dan latar belakang

pendidikan yang nampak dalam situasi yang diselidiki. Penelitian ini

terbatas pada usaha untuk mengungkapkan suatu masalah dan keadaan

sebagaimana keadaan, sehingga hanya merupakan penyingkapan fakta.13

2. Objek Penelitian

Yang menjadi objek penelitian ini adalah sikap politik PPP

dalam suksesi kepemimpinan negara pada pemilu 2014.

13 Hermawan Wasito, Pengantar Metodologi Penelitian, (Jakarta: PT.Gramedia Pusaka

(24)

3. Tahapan Penelitian

a. Sumber Data

 Data Primer

Teknik pengumpulan data primer yaitu berupa wawancara

secara langsung untuk mendapatkan informasi yang actual kepada

objek yang akan dijadikan permasalaha dalam pembahasan ini.

Adapun yang dimaksud wawancara adalah percakapan antara

penulis dengan seseorang yang berharap mendapat informasi dari

seseorang yang diasumsikan mempunyai informasi langsung dari

sumbernya. Misalnya antara penulis dengan tokoh yang ada pada

Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

 Data Sekunder

Teknik pengumpulan data sekunder yaitu berupa studi

dokumentasi, yang artinya pengumpulan data tersebut sering

digunakan dalam berbagai pengumpulan data. Dokumentasi dapat

terbentuk dokumen publik atau dokumen privat melalui

buku-buku, makalah-makalah dan rekaman yang berhubungan dengan

judul yang peneliti angkat.14

b. Analisis Data

Data hasil penelitian yang telah dikumpulkan sepenuhnya

dianalisis secara kualitatif. Analisis data dilakukan setiap saat

pengumpulan data dilapangan secara berkesinambungan. Diawali

(25)

14

dengan proses klarifikasi data agar tercapai konsistensi dilapangan

dengan langkah abstraksi-abstraksi teoritis terhadap informasi

lapangan, dengan menghasilkan pernyataan-pernyataan yang sangat

memungkinkan dianggap mendasar dan universal.15

4. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di sekretariat pusat PPP yang bertempat

di Jl. Diponegoro No. 60, Jakarta Pusat. Waktu penelitian dimulai sejak

bulan September 2014.

5. Teknik Penulisan

Adapun metode penulisan dalam skripsi ini, penulis mengacu

pada buku pedoman penulisan skripsi Fakultas Syariah dan Hukum UIN

Syarif Hidayatullah Jakarta Tahun 2012, dengan menggunakan ejaan

yang disempurnakan.

F. Sistematika Penulisan

Adapun penulisan skripsi ini terdiri dari lima bab. Masing-masing

bab berisi sub-sub bab, secara sistematis, bab-bab tersebut adalah sebagai

berikut :

Tulisan didahulukan dengan Bab I, yaitu merupakan bab

pendahuluan yang berfungsi sebagai acuan pembahasan dalam bab-bab

selanjutnya, sekaligus mencerminkan isi skripsi ini secara global. Bab ini

mencakup latar belakang masalah, batasan dan rumusan pokok masalah,

15 Burhan Bagin, Metode Penelitian KualitaTif (Akutualisasi Metodologis Ke Arah Ragam

(26)

metode penelitian, tujuan dan manfaat penelitian, serta sistematika

penulisan.

Dilanjutkan Bab II, bab ini berisi tentang penjelasan suksesi

kepemimpinan. Pada bab ini, penulis akan coba menjelaskan perjalanan

partai politik Islam di Indonesia pada saat dan sebelum era reformasi.berupa

perjalanan PPP dalam pemilu pada masa era reformasi yang mengalami

penurunan suara akan dikaji lebih jauh. Dan kepemimpinan terbagi menjadi

tiga bagian juga akan penulis kaji dalam bab ini.

Sedangkan Bab III, akan membahas gambaran umum tentang profil

dari Partai Persatuan Pembangunan(PPP), sejarah berdirinya Partai

Persatuan Pembangunan, visi dan misi Partai Persatuan Pembangunan

(PPP). Serta Ideologi politik PPP sebagai salah satu indikator dari

demokrasi akan dibahas juga dalam bab tiga ini.

Sementara Bab IV, adalah fokus dari pembahasan penulis. Fokus

dari penelitian dan pembahasan dalam bab ini adalah bagaimana perjalanan

Partai Persatuan Pembangunan dalam pemilu 2014, sikap politik PPP dalam

suksesi kepemimpinan negara pada pemilu 2014. Dalam pembahasan ini,

penulis akan mengeksplorasi lebih jauh bagaimana strategi PPP dalam

menyikapi konflik internal dan kelompok kepentingan yang terjadi di dalam

partai PPP pada saat karya tulis ini dibuat.

Penulisan ini diakhiri Bab V, dalam bab penutup ini berisikan

(27)

16

BAB II

PARTAI POLITIK ISLAM DALAM SUKSESI KEPEMIMPINAN NEGARA

A. Pengertian Suksesi dan Kepemimpinan

Adanya pergantian kepemimpinan dalam suatu negara, maka

terdapat istilah mengenai suksesi, yang biasa diartikan sebagai suatu proses

perubahan yang berlangsung satu arah secara teratur yang terjadi didalam

suatu negara dalam jangka waktu tertentu sehingga terbentuk negara baru

yang berbeda dengan negara semula. Singkatnya, suksesi ialah penggantian

kepemimpinan dari suatu negara. Sedangkan seorang pemimpin adalah

seorang yang mempunyai wewenang untuk memerintah orang lain, dalam

pekerjaan untuk mencapai tujuan sebuah organisasi memerlukan bantuan

orang lain.

Istilah suksesi diambil dari kata bahasa Inggris succession atau

bahasa latin succieo, yang berarti penggantian, urutan dan pewarisan.

Suksesi yang diartikan sebagai suatu proses perubahan yang berlangsung

satu arah secara teratur terjadi didalam suatu negara dalam jangka waktu

tertentu sehingga terbentuk negara baru yang berbeda dengan negara

semula.1

(28)

Kepemimpinan berasal dari kata dasar “Pimpin” yang berarti

dibimbing atau dituntun.2 Kepemimpinan mendapatkan awalan “ke” dan

sisipan “em” serta akhiran “an”. Menurut tata bahasa awalan ke- dan ke-an

berfungsi sebagai pembentuk, kata benda abstrak yang mengandung arti

menjadi atau peristiwa. Sedangkan sisipan “em” pada kata pemimpin

berfungsi membentuk kata baru yang artinya tidak berbeda dengan kata

dasar. Arti sisipan “em” disini mengandung sifat, jika pemimpin berasal dari

kata “pimpin” yang dapat awalan “pe” mempunyai arti orang yang

melakukan. Jadi, pemimpin adalah orang yang memimpin.3

Dalam Negara Indonesia masalah suksesi ini sering disebut sebagai

masalah estafet kepemimpinan. Yang berarti penyerahan kepemimpinan dari

generasi tua kepada generasi muda. masalah suksesi pada dasarnya ialah

masalah memilih pemimpin yang diperkirakan akan mampu membawa

suatu dinasti suatu negara, suatu organisasi politik atau suatu perusahaan

mengarungi kehidupan yang terbentang dimasa kini dan dimasa depan

masalah ini pada umumnya timbul pada waktu seorang pemimpin atau

sekelompok pemimpin kelihatan menua dan menurun kemampuannya untuk

menyelesaikan dengan baik persoalan-persoalan yang dihadapi

organisasinya, dan menurun pula kemampuannya untuk menangkap

peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam zamannya. Masalah suksesi mulai

2 WJS.Pooerwadinata, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1982).

Cet.4, Hal.754

(29)

18

menjadi pembicaraan, apabila orang mulai meragukan kemampuan suatu

pimpinan untuk mengemudikan jalan bahtera organisasi yang dipimpinnya.4

Setiap tipe kepemimpinan efektif yang mampu bertahan, merupakan

hasil dari ikhtiar budaya yang dilakukan oleh suatu masyarakat atau bangsa.

Negara melahirkan kepemimpinan politik yang terdiri dari tokoh-tokoh

politik, para pemimpin partai. Kepemimpinan politik di Indonesia lahir dari

sejarah, budaya, dan harapan-harapan masyarakat.Kepemimpinan politik

sesudah proklamasi cenderung bersifat ideologis pada zaman orde lama,

bergerak menuju kepemimpinan yang bersifat pragmatis pada Orde Baru

disebabkan oleh perubahan harapan masyarakat.

Kepemimpinan politik bergeser dari politik ideologi menuju

pragmatism bersifat karismatik. Sudah saatnya untuk kita meninggalkan

kepemimpinan karismatis menuju kepemimpinan legal-rasional karena

kepemimpinan politik karismatik tidak baik untuk dalam jangka panjang,

sedangkan kepemimpinan rasional berdasarkan hukum dan bukan

berdasarkan wibawa perorangan.

B. Jenis - jenis Kepemimpinan

1. Kepemimpinan Partisipatif dan Pendelegasian

Kepemimpinan partisipatif adalah suatu kepemimpinan yang

memberikan seperangkat aturan untuk menentukan ragam dan

banyaknya pengambilan keputusan partisipatif dalam situasi-situasi

4 Muchtar Buchori, Suksesi Dan Masalah Masalah Demokrasi (Jakarta: Ikip

(30)

yang berlainan. Pemimpin meminta dan mempergunakan saran-saran

dari bawahan, tetapi masih membuat keputusan. Kebanyakan studi

dalam organisasi industri manufaktur, terdapat bahwa dalam tugas-tugas

yang tidak rutin, seperti karyawan lebih puas dibawah pimpinan yang

pertisipatif daripada kepemimpinan yang non partisipatif.

Kepemimpinan partisipatif memberikan suatu perangkat urutan aturan

yang seharusnya diikuti untuk menentukan ragam dan banyaknya

partisipasi yang diinginkan dalam pengambilan keputusan, sebagaimana

ditentukan oleh jenis situasi yang berlainan.

2. Kepemimpinan karismatik

Kepemimpinan karismatik merupakan perpanjangan dari teori

atribusi. Teori ini mengemukakan bahwa para pengikut membuat

atribusi dari kemampuan kepemimpinan yang luar biasa bila mereka

mengamati prilaku-prilaku tertentu.

3. Kepemimpinan Transformasional

Kepemimpinan transformasional adalah tipe kepemimpinan yang

memadu atau memotivasi pengikut mereka dalam arah tujuan yang

ditegakkan dengan memperjelas peran dan tuntutan tugas. Pemimpin

jenis ini yang memberikan pertimbangan dan rangsangan intelektual

yang di individualkan, dan yang memiliki karisma. Pemimpin

transformasional mencurahkan perhatian pada keprihatinan dan

kebutuhan pengembangan dari pengikut individual, mereka mengubah

(31)

20

mereka memandang masalah lama dengan cara-cara baru dan mereka

mampu menggairahkan, membangkitkan, dan mengilhami para pengikut

untuk mengeluarkan upaya ekstra untuk mencapai tujuan kelompok.5

C. Sekilas Mengenai Partai Politik Islam Di Indonesia 1. Partai Politik Islam Pada Era Orde Lama (1945-1965)

Setelah proklamasi kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945,

kelahiran partai politik di Indonesia diawali dengan keluarnya Maklumat

pemerintah pada tanggal 3 November 1945, yang memuat “Pemerintah

menyukai timbulnya partai politik karena dengan adanya

partai-partai itulah dapat di pimpin ke jalan teratur segala aliran paham yang

ada dalam masyarakat. Pemerintah berharap supaya partai-partai itu

telah tersusun, sebelumnya dilangsungkan pemilihan anggota

badan-badan perwakilam rakyat pada bulan Januari 1946”.6

Sejak dikeluarkan Maklumat pemerintah, setiap kelompok dan

organisasi dalam masyarakat mempunyai kesempatan yang luas dalam

membentuk partai politik. Partai politik yang pertama terbentuk adalah

Partai Nasional Indonesia (PNI), kemudian diikuti dengan Majelis Syuro

Muslimin Indonesia (Masyumi), Partai Sosialis Indonesia (PSI) dan

partai-partai kecil lainnya.

5

Kuntowijoyo, Identitas Politik Islam, Penerbit Mizan (Anggota IKAPI) Bekerjasama Dengan Majalah UMMAT, (Bandung: 40124), Cet. 1, Hal. 186

6 Wilopo, Zaman Pemerintahan Parai-Partai Dan Kelemahan-Kelamahannya, (Jakarta:

(32)

Sejalan dengan pembentukan partai-partai politik terjadi

perubahan fungsi komite nasional Indonesia pusat (KNIP). KNIP yang

sebelumnya berfungsi sebagai dewan penasihat pemerintah berubah

menjadi dewan yang mempunyai kekuasaan legislatif. Selanjutnya

melalui badan pekerja KNIP diajukan usul kepada Presiden agar

mempertimbangkan perubahan sistem pemerintahan Presidential

menurut UUD 1945 menjadi sistem pertanggungjawaban Menteri

kepada Badan Perwakilan Rakyat (pada waktu itu adalah Badan Pekerja

KNIP). Melalui Maklumat pemerintahan tanggal 14 November 1945,

Presiden menyatakan persetujuannya atas usul tersebut, sambil

mengumumkan susunan kabinet Syahrir yang pertama.7

Kelahiran partai yang didorong oleh kebutuhan pemerintah untuk

menjaga kedaulatan negara, membuat proses terbentuknya partai tidak

melalui tahap-tahap tertentu yang dapat mematangkan dirinya. Hal ini

akan berimplikasi pada kualitas pemimpin partai dalam wawasan

politiknya, yang mungkin lebih berorientasi pada nilai primordial

daripada ideologi nasional. Keadaan politik seperti yang disebutkan

diatas, dapat ditemui pada partai Masyumi. Sekalipun Masyumi

berlandaskan pada ideologi Islam bahkan dapat dikatakan sudah

menghimpun seluruh aspirasi kelompok Islam di Indonesia.8

7 A. Dahlan Ranuwihardjo, Pergerakan Pemuda Setelah Proklamasi Beberapa Catatan,

(Jakarta: Yayasan Idayu, 1979), Hal.17

8 Satu-Satunya Partai Politik Islam Yang Berada Di Luar Masyumi Adalah Perti Yang

(33)

22

Pemilu yang diselenggarakan pada tanggal 29 September 1955

tersebut, kelompok Islam mampu memenangkan kompetisi

dibandingkan aliran politik lainnya dengan klasifikasi suara aliran Islam

sebesar 45,2%, aliran Nasionalis 27,6%, aliran sosialis 17,2% serta

sisanya dibagi antara golongan Kristen dan partai-partai kecil lainnya

yang beraliran Nasionalis maupun Marxis. Secara lebih spesifik, pemilu

1955 mengantarkan Masyumi menduduki urutan kedua setelah PNI

dengan memperoleh 57 kursi di parlemen sedangkan NU memperoleh

45 kursi di parlemen.

Dengan pembagian suara tersebut, pemilu 1955 menghasilkan

Masyumi sebagai kekuatan Islam yang dominan di Majelis Konstituante

mendapatkan 112 kursi dengan perolehan suara sebesar 7.903.886 suara

atau 20,9%, sedangkan partai Islam lainnya NU mendapatkan 91 kursi

dengan perolehan suara sebesar 6.955.141 suara atau 18,4%, PSII 16

kursi dan Perti 7 kursi. 14 kursi lainnya diperoleh oleh partai Islam

kecil.9

Dapat dilihat dari pemilu 1955 memberikan suara sebagai

berikut: aliran Islam 45,2% (116 dari 217 kursi dalam DPR hasil

pemilu), aliran Nasionalis 27,6% (71 dari 257 kursi), sedang Sosialis

Maka Pengaruhnya Tidak Begitu Besar. Endang Saifuddin Anshari, Wawasan Islam : Pokok-Pokok Pikiran Tentang Islam Dan Umatnya, (Bandung: Perpustakaan Salman ITB, 1983), H.221

9Ahmad Budiman, Eksistensi Parpol Islam Dalam Pemilu 2004, Dalam Sali Susiana. Ed.,

(34)

Kanan 2% (5 dari 257 kursi), aliran Sosialis Kiri (Komunis) 15,2% (39

dari 257 kursi), golongan Kristen Katolik 4,6% (14 dari 257 kursi).10

Keutuhan Masyumi sebagai partai politik umat Islam tidak

berlangsung lama, perbedaan kultur dan tahap perkembangan

masing-masing unsur pendukungnya jauh lebih berperan daripada

memperjuangkan kepentingan partai. Masyumi akhirnya mengalami

keretakan karena terjadi perebutan kekuasaan di dalam partai. Dengan

alasannya sendiri, pemimpin unsur membawa pengikutnya keluar untuk

membangun partai baru atau mengubah sifat organisasinya menjadi

politik tersendiri. PSII keluar karena ajakan Amir Syarifuddin untuk

membentuk kabinet diluar Masyumi. NU megubah dirinya menjadi

partai politik, setelah mengenal kursi Menteri Agama.11

2. Partai Politik Islam Pada Era Orde Baru (1967-1998)

Ketika Orde Baru berkuasa, Indonesia telah menyelenggarakan

pemilu sebanyak 6 (enam) kali, yaitu 1971, 1977, 1982, 1987, 1992, dan

1997. Meskipun demikian, pelaksanaan pemilu dibawah Orde Baru

memiliki karakter yang berbeda dengan pemilu yang dikenal

negara-negara demokrasi pada umumnya. Jika dinegara-negara demokrasi karakter

pemilu dibangun atas prinsip free and fair baik dalam struktur dan

proses pemilu sebaiknya, Orde Baru menghindari penerapan prinsip

tersebut. Yang terjadi kemudian adalah ketidakseimbangan kontestasi

10 Sumarno, Megawati Dan Aspirasi Politik Islam, Dalam Rusdi Muhtar et.all, Megawati

Soekarno Putri : Presiden Republik Indonesia (Jakarta: Rumpun Dian Nugraha, 2002) Hal.64

(35)

24

antar peserta pemilu dan hasil pemilu tidak mencerminkan aspirasi dan

kedaulatan rakyat.Pelaksanaan pemilu diatur melalui cara-cara tertentu

untuk kelanggengan kekuasaan Orde Baru itu sendiri. Kenyataan ini

disebabkan beberapa faktor utama , yakni :

1) Banyak anggota parlemen yang diangkat, dari 460 orang anggota

DPR hanya 360 kursi yang dipilih melalui pemilu, 75 kursi lainnya

diangkat dari unsur ABRI (Angkatan Bersenjata Republik

Indonesia), dan 25 lainnya dari Golkar (Golongan Karya).

2) Kontrol Rezim terhadap partai dilakukan lewat upaya :

a) Fusi (paksaan bergabung) partai-partai berasaskan Islam (NU,

Parmusi, PSII, dan Perti) menjadi PPP (Parai persatuan

pembangunan) pada 5 Januari 1973 dan partai-partai Nasionalis

(PNI, IPKI, Murba, Parkindo, dan Partai Katolik) menjadi PDI

(Partai demokrasi Indonesia) pada 10 Januari 1973. Fusi diatur

dalam UU No. 3/1975 Tentang Partai Politik dan Golongan

Karya dalam satu konsideran.

b) Meminimalkan citra parpol dengan cara mewajibkan seluruh

organisasi kemasyarakatan dan parpol menerapkan pancasila

sebagai satu-satunya asas pada tahun 1985, melalui UU No.

3/1985 Tentang Perubahan atas UU No. 3 Tahun 1975 Tentang

partai politik dan Golongan Karya, diundangkan tanggal 19

Februari 1985. Ketentuan pasal 2 diganti dengan ketentuan pasal

(36)

berasaskan pancasila sebagai satu-satunya asas, (2) asas

sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah asas dalam

kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.”Kewajiban

tersebut dirasa berat oleh parpol yang memiliki basis dikalangan

agama seperti PPP.Sehingga mengakibatkan perolehan suara

PPP dari pemilu ke pemilu semakin merosot.

Sistem kepartaian dizaman Orde Baru tersebut dinamakan sistem

kepartaian yang hegemonic, yaitu dimana sistem kepartaian yang mana

tingkat kompetensi antara parpol dibuat seminimal mungkin oleh parpol.

Daniel Dhakidae menyebutnya sebagian sistem partai tunggal (Golkar)

dengan dua partai satelit (PPP dan PDI), sebagai rekayasa rezim

Soeharto tentu saja menjauhkan pemilu sebagai sarana bagi rakyat untuk

memastikan politisi yang terpilih dapat bertindak atas nama dan berdasar

preferensi serta mewakili rakyat. Akibatnya : 1). Lemahnya parpol

sebagai representasi politik rakyat terutama karena partai dibuat

tergantung dan tunduk pada kekuasaan, kelemahan terjadi tidak saja

pada partai PDI dan PPP, tetapi juga Golkar. 2). Hilangnya ikatan

ideologis yang membawa banyak orang pada pragmatisme dalam

berpolitik. 3). Dalam kerangka hubungan antara rakyat dengan

wakilnya, menjadikan pemilu bukan lagi sebagai sarana yang efektif

bagi rakyat untuk menyatakan keinginannya, apalagi sebagai ekspresi

(37)

26

Pelaksanaan pemilu yang tidak demokratis tersebut, bukan tanpa

alasan. Orde Baru menginginkan adanya pemenang tunggal yang

menyokong dalam segala kebijakan yang telah mereka buat.Hal ini

berangkat dari pengalaman era demokrasi liberal, pluralitas kekuatan

politik menjadikan pemerintah tidak dapat berjalan efektif. Paradigma

Orde Baru “ekonomi sebagai panglima” atau juga dikenal dengan

ideologi pembangunanisme menuntut stabilitas politik yang dalam

rancang pembangunan Orde Baru, hanya bisa dilakukan apabila ada

kekuatan politik dominan dan menjauhkan rakyat dari aktivitas dan

isu-isu politik penting. Dengan demikian pemilu bagi Ode Baru adalah

bukan merupakan suatu alat atau saran untuk mengubah pemerintahan

atau negara, dan keterlibatan masyarakat didalam pemilu lebih

merupakan kewajiban daripada hak warganya.12

Pemilu pertama pada masa Orde Baru diadakan pada tahun 1971,

selama kampanye pemilu, para pemimpin Islam tetap mengingatkan

sesama muslim bahwa suatu kewajiban secara agama untuk memberikan

suara kepada partai Islam. Usaha itu tidak berlangsung secara efektif

ketika diadakan pemungutan suara partai Islam hanya mampu

memperoleh 20,44% suara atau 94 kursi dari 460 kursi yang

diperebutkan di DPR.

Partai Islam terdiri dari Perti, NU, Permusi, dan lainnya

sebagainya menyatakan berfusi menjadi satu partai yang diberi nama

12 Fernita Darwis, Pemilihan Spekulatif Mengungkap Fakta Seputar Pemilu 2009,

(38)

dengan Partai Persatuan Pembangunan pada bulan Januari tahun 1973,

dengan menggunakan Islam sebagai asas dan Ka’bah sebagai

lambangnya. Dengan harapan bahwa partai ini terdapat dihati pemilih

Indonesia yang mayoritas beragama Islam.

Setelah pemilu 1971 secara berkala pemerintahan Orde Baru

berhasil mempertahankan kalender lima tahun penyelenggaraan pemilu,

walaupun pemilu kedua terjadi keterlambatan selama satu tahun yaitu

pada 2 Mei 1977, akibat keterlambatan pelantikan anggota MPR hasil

pemilu 1971 baru dilantik 1 oktober 1972. Pada pemilu tahun 1977

partai Islam hanya mampu mampu memperoleh 21,52% atau 99 kursi

dari 460 kursi di parlemen, serta pemilu tahun 1982 hanya mampu

memperoleh 20,44% dari jumlah suara atau kursi 94 kursi13.

Tabel.1.1

Sebagaimana dalam UU sebelumnya, sistem pemilu yang digunakan

13 Bahtiar Effendy, Islam Politik Pasca Soeharto Di Indonesia, Refleksi: Jurnal Kajian

(39)

28

yaitu dengan sistem pemilihan proporsional. Pada pemilu saat itu jumlah

penduduk Indonesia adalah 146.532.407 jiwa, dan jumlah pemilih

82.134.195 orang atau 56.05% dan suara sah 75.126.306 orang atau

91.47%, hasil pemilu tahun 1982 ini adalah

Tabel.1.2

Pemilu 1987, yaitu ketika PPP tidak lagi memakai asas Islam dan

diubahnya lambang dari Ka’bah kepada Bintang dan terjadinya

penggembosan oleh tokoh-tokoh unsur NU, terutama Jawa Timur, dan

Jawa Tengah, sehingga terjadinya penurunan suara PPP yang

mencerminkan sebagai partai Islam. Akibat berbagai kebijakan yang

tidak mengakui hak-hak dan etika dalam berdemokrasi, khususnya

ketika kepartaian, kekuatan politik umat Islam terbesar pada masa Orde

Lama, yaitu dengan hilangnya Masyumi dari peredaran politik. Namun

pada waktu pertengahan tahun 80-an sebetulnya ada keinginan dari

tokoh-tokoh Masyumi untuk kembali mendirikan sebuah partai.

(40)

tidak mendukung untuk itu keinginan mereka baru terealisir pada era

reformasi.14

Kebijakan politik yang menghapus legal formal Islam adalah

politik dan lebih menekankan dimensi substansif Islam menandai telah

tertutupya partai Islam untuk hidup dan bersaing dalam dinamika

demokrasi di Indonesia serta partai Islam tidak bisa lagi untuk

berkompetisi dalam pemilu, sehingga dalam pemilu 1987 PPP hanya

mampu memperoleh 12,20% atau 61 kursi dari 500 kursi.

Pemilu 1992 dilaksanakan pada 9 Juni 1992, pemilu ini

dilakukan dengan landasan hukum yaitu UU No. 1/1985 Tentang

Pemilu. Pada pemilu 1992 jumlah penduduk Indonesia mencapai

177.489.747 jiwa, sementara pemilih terdaftar adalah 107.565.569 jiwa

atau 60,60%. Pemilu pada saat itu adalah untuk memilih 400 anggota

DPR, suara sah nasional pada saat itu ialah 97.789.534 suara atau

90.91%. Hasil pemilu saat itu adalah Golkar memperoleh 66.599.331

suara dan mendapat 282 kursi DPR, PPP memperoleh 16.624.647 suara

dan mendapat 62 kursi DPR, PDI memperoleh 14.565.556 suara dan

mendapat 56 kursi DPR, dengan hasil keseluruhan 97.789.534 jumlah

suara, dan 400 kursi DPR.

14 Arsekal Salim, Partai-Partai Islam Dan Relasi Agama Negara, (Jakarta: Puslit IAIN,

(41)

30

Pemilu 1997 diselenggarakan pada tanggal 29 Mei 1997. Dengan

landasan hukum seperti sebelumnya, yaitu UU No. 1/1985 Tentang

Pemilu. Sistem pemilu yang digunakan adalah sistem proporsional untuk

pemilu ini anggota DPR yang dipilih berjumlah 425 orang atau

bertambah 25 orang. Hal ini karena pemerintah mengubah UU No.

16/1969 Tentang Susunan dan Kedudukan dengan UU No. 5/1995

Tentang Susunan dan Kedudukan. Pelaksanaan pemilu diatur melalui

cara-cara tertentu untuk kelanggengan kekuasaan Orde Baru, misalnya

penunjukan pimpinan parpol, seperti tertengarai dengan jelas dalam

konflik internal antara PDI Soerjadi dengan PDI Megawati Soekarno

Putri yang memuncak, peristiwa pengambil alihan kantor PDI Jalan

Diponegoro tanggal 27 Juli 1997. Ketika pemilu diselenggarakan

penduduk Indonesia berjumlah 196.286.613 jiwa, sedangkan yang

terdaftar sebagai pemilih 124.740.987 jiwa atau 63,55%. Suara yang sah

tercatat pada pemilu saat itu adalah 112.991.150 atau 90,58%, dan hasil

pemilu 1997 adalah Golkar mendapatkan 84.187.907 suara dan 325

(42)

mendapatkan 3.463.225 dan mendapat 11 kursi DPR. Dengan jumlah

keseluruhan 112.991.150 suara dan 425 kursi DPR.

Pemilu 1997 merupakan pemilu terakhir dari masa pemerintahan

Orde Baru pemilu ini dilasanakan pemerintah yang sebenarnya

direncanakan untuk memilih anggota DPR, MPR dan DPRD periode

3. Partai Islam Pada Era Reformasi (1998-2014)

Tabel1.5.

Perbandingan Perolehan Suara Partai Islam Era Reformasi

Pemilu 1999 Pemilu 2004 Pemilu 2009 Pemilu 2014

(43)

32

Jangka waktu adalah zaman Orde Reformasi yang sangat

semarak dalam pelaksanaan demokrasi. Pada masa ini telah terjadi

pergantian kekuasaan yang cepat yaitu telah terjadi pergantian

kekuasaan yang cepat yaitu dari Presiden Soeharto ke B.J.Habibie tahun

1998, selanjutnya dari Presiden B.J.Habibie ke Abdurrahman Wahid

tahun 1999. Dari Presiden Abdurrahmah Wahid ke Megawati Soekarno

Putri tahun 2001, dan dari Presiden Megawati Soekarno Putri ke Susilo

Bambang Yudhoyono tahun 2004-2014 (2 periode). Selain itu, di Era

Reformasi telah terjadi perubahan secara mendasar tentang sistem

ketatanegaraan Indonesia.

Dimasa Presiden Soeharto, Pancasila dan Undang-Undang Dasar

1945 sebagai dasar sakral dan tidak boleh dirubah, maka berdasarkan

tuntutan gerakan reformasi, MPR sesuai tugasnya yaitu merubah

Undang-Undang Dasar 1945 telah melakukan perubahan atau

amandemen Undang-Undang Dasar. Salah satu bagian yang paling

mendasar yang dirubah ialah pemilihan Presiden dan wakil Presiden

yang semula dipilih oleh anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat

(MPR), kini dipilih langsung oleh rakyat, yang untuk pertama

dilaksanakan pada 5 Juli 2004. Selain itu rakyat telah memilih calon

(44)

Kabupaten/kota, serta calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD)

sebanyak empat orang yang mewakili 32 provinsi di Indonesia.15

Perubahan besar arus politik dan sektor kehidupan lainnya yang

diusung dalam bingkai reformasi membawa dampak positif bagi

kehidupan politik yang selama rezim Orde Baru berkuasa hampir 32

tahun. Kemerdekaan berserikat dan berkumpul untuk menyampaikan

pendapat baik secara lisan maupun tulisan yang telah dijamin dalam

konstitusi sesuai dengan amanat reformasi mulai dijalankan.

Undang-undang kepartaian baru pun digodok dan UU nomor 05

tahun 1985 Tentang Azaz Tunggal pun dicabut yang membawa angin

segar bagi aktifis Islam untuk menghidupkan kembali partai Islam,

apalagi dalam menyongsong pemilu 1999. Menjelang pemilu tersebut

tidak kurang dari 141 partai baru didaftarkan dan sebanyak 48 darinya

adalah partai Islam, jumlah tersebut secara kuantitas melebih partai

Islam dalam pemilu 1955. Dari 48, namun dari jumlah tersebut hanya 33

partai yang dinyatakan memenuhi syarat untuk mengikuti verifikasi oleh

Departemen Kehakiman dan sisanya tereliminasi dan dari 33 partai

tersebut hanya 18 partai yang lolos verifikasi untuk ikut serta dalam

pemilihan umum tanggal 7 Juli 1999.16

Dari 18 partai tersebut, hanya 9 partai Islam yang memperoleh

satu kursi atau lebih diparlemen. Partai yang mendapatkan jatah kursi di

15 Musni Umar, Islam Dan Demokrasi Di Indonesia Kemenangan Abangan Dan Sekuler,

(Jakarta: Insed Bersama Lembaga Pencegah Korupsi, 2004) Cet. 1, Hal. 69

16 Arsekal Salim, Partai-Partai Islam Dan Relasi Agama-Negara (Jakarta: Puslit IAIN

(45)

34

DPR tersebut adalah PPP (58 Kursi), PKB (51 Kursi), PBB (13 Kursi),

PKS (7 Kursi), PNU (5 kursi), PP (1 Kursi), PSII (1 Kursi), Masyumi (1

kursi), dan PKU (1 kursi).17

Pemilu 1999 merupakan pemilu yang dipercepat dari jadwal

yang ditetapkan yaitu tahun 2002. Pemilu ini diselenggarakan pada masa

pemerintahan Presiden B.J. Habibie yang menjabat sebagai Presiden

pengganti Presiden Soeharto setelah berhenti secara sepihak pada 21

Mei 1998. Percepatan pemilu ini adalah hasil tekanan rakyat pada

pemerintahan Habibi karena Ia dipandang tidak memiliki legitimasi

untuk memegang tampuk kekuasaan. Pemilu 1999 tidak lagi

diselenggarakan pemerintah, tetapi dilaksanakan oleh komisi pemilihan

umum (KPU). Dalam UU No. 3/1999 Tentang Pemilu disebutkan

sebelum KPU terbentuk, lembaga pemilihan umum melakasanakan

tugas KPU paling lama tiga puluh hari setelah UU disahkan.18

Dari 8 partai Islam itu hanya tiga yang memperoleh suara yang

cukup signifikan, yakni PPP, PKB, dan PBB. Partai Amanat Nasional

juga meraih suara yang lumayan, tetapi tidak dikategorikan sebagai

partai Islam, Karena tidak memenuhi kriteria partai Islam, walaupun

partai ini sangat dekat dengan kalangan Islam, karena pada saat itu ketua

umum Partai Amanat Nasional (PAN) Prof Dr M. Amien Rais adalah

sebagai mantan ketua pimpinan pusat Muhammadiyah.

17 Bahtiar Effendy, Islam Politik Pasca Soeharto Di Indonesia, Refleksi: Jurnal Kajian

Agama Dan Filsafat III, No. 5 (Agustus 2003), Hal. 45

18 Fernita Darwis Pemilihan Spekulatif Mengungkap Fakta Seputar Pemilu 2009,

(46)

Meleburnya partai-partai Islam menjadi satu partai politik

kelihatannya tidak mungkin terjadi. Ada beberapa faktor yang

menyebabkan partai-partai Islam tidak mungkin menjadi satu.

Diantaranya ialah tidak semua orang yang menjadi pimpinan partai

Islam memiliki komitmen terhadap kemajuan Islam dan kaum muslimin.

Faktor lain yang menyulitkan penyatuan partai Islam adalah

bahwa basis Islam saling berbeda dan tersebar ke dalam berbagai

organisasi keagamaan, seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah,

Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ikatan Cendekiawan Musllim

se-Indonesia (ICMI), dan lain-lain. Masing-masing organisasi itu memiliki

basis dan strategi perjuangan yang berbeda. Mereka memiliki wawasan

keagamaan yang berbeda. Seperti NU berpegang teguh kepada paham

Ahlussunnah wal Jamaah, khususnya mazhab Syafi’i di bidang hukum

dan mazhab Asy’ariyah dibidang teologi. Sedang Muhammadiyah

memiliki slogan “kembali kepada Al-qur’an dan Hadits” ini berarti

Muhammadiyah tidak terikat pada salah satu mazhab, khususnya yang

tergolong dalam kelompok Ahlussunnah wal Jamaah.

Karena itu kalau partai-partai Islam bisa disatukan mungkin

umurnya tidak akan panjang, karena perbedaan kepentingan dan aspirasi

masing-masing kelompok mereka bisa bertikai dan kemudian bubar

sebagai partai politik. Dengan demikian partai-partai Islam kelihatannya

(47)

36

komitmen yang sama dalam memperjuangkan kepentingan dan aspirasi

kaum muslimin.

Secara kelembagaan partai Islam terbagi menjadi beberapa

bagian partai, tetapi dalam memperjuangkan aspirasi umat mereka

bersatu. Hal ini telah dibuktikan dengan membentuk forum silahturahmi

partai-partai Islam yang kemudian melahirkan poros tengah. Poros

tengah yang lalu menggalang kekuatan bersama Golkar untuk

memperjuangkan Abdurrahman Wahid menjadi Presiden setelah B.J.

Habibie megundurkan diri dari pencalonan Presiden dalam sidang umum

MPR 1999. Perjuangan poros tengah ternyata berhasil, yang dibuktikan

dengan terpilihnya Abdurrahman Wahid sebagai Presiden Indonesia

yang keempat.

Dengan begitu penyatuan partai Islam bukanlah satu-satunya

cara untuk memperjuangkan aspirasi umat. Tampaknya inilah strategi

yang tepat bagi partai-partai Islam dalam menghadapi pemilu 2004

dengan menjalin kerja sama dalam memperjuangkan aspirasi umat.19

Pemilu 2004 merupakan pemilu kedua setelah Soeharto jatuh

meskipun demikian, pada pemilu kedua ini memiliki perbedaan yang

sangat jauh dalam banyak hal pada pemilu 1999. Pemilu 2004

merupakan pemilu pertama setelah amandemen ke-4 UUD 1945.

Melalui amandemen struktur politik Indonesia diubah sedemikian rupa

sehingga mempengaruhi proses rekrutmen elit politik.

19 Sudirman Tebba, Islam Pasca Orde Baru, (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2001),

(48)

Menurut konstitusi 1945 hasil amandemen ke-4, pemilihan

pasangan Presiden dan wakil Presiden tidak lagi dipilih melalui Majelis

Permusyawaratan Rakyat (MPR). Konstitusi mengamanatkan pemilihan

Presiden dan wakil Presiden dilakukan oleh rakyat secara langsung

melalui mekanisme pemilu.20 Indonesia adalah negara muslim terbesar

didunia, akan tetapi sepanjang sejarah pemilihan umum di Indonesia

sejak pemilu 1955 sampai dengan Era Reformasi 1999-2014, belum

pernah partai-partai politik Islam berhasil memenangkan pemilu

legislatif.

Dalam pemilu tahun 2004, PPP merupakan salah satu partai

politik Islam terkemuka di Indonesia dengan membuat kejutan yang

mengajukan ketua umum H.Hamzah Haz sebagai calon Presiden RI

periode 2004-2009. Akan tetapi, hasilnya sangat menyedihkan karena

berdasarkan hasil rekapitulasi penghitungan suara pemilu Presiden/wakil

Presiden 5 Juli 2004, yang diumumkan komisi pemilihan umum (KPU)

26 Juli 2004, Hamzah Haz yang berpasangan dengan Jend.(Purn.) Agum

Gumelar hanya memperoleh dukungan suara sebesar 3.09% atau

3.569.861, sebelumnya partai PPP berhasil memperoleh dukungan suara

sebesar 8,15 % atau 9.248.764.21

20 Fernita Darwis Pemilihan Spekulatif Mengungkap Fakta Seputar Pemilu 2009,

(Bandung: Alfabeta Cv, 2011), Cet. 1 Hal.18

21 Musni Umar, Islam Dan Demokrasi Di Indonesia Kemenangan Abangan Dan Sekuler,

(49)

38

Pada pemilu demokratis pertama di Era Reformasi pada tahun

1999, gabungan partai lebih tajam terjadi antara partai Islam dengan

partai Nasionalis. Partai Islam meraih suara sebesar 35,95%, partai

Nasionalis mendapat suara sebesar 64,05%. Pada pemilu 2004, partai

Islam mendapat perolehan suara sebesar 37,74%, sementara partai

Nasionalis mendapatkan suara sebesar 62,26%.22

Pada pemilu 2009 terjadi banyak perubahan, diantaranya adanya

dua threshold. Pertama, Electoral Threshold (ET) yaitu syarat untuk

dapat ikut serta dalam pemilu sebelumnya sebesar 3% suara. Kedua,

diadakan Parliamentary Threshold (PT) yaitu syarat partai untuk dapat

diikut sertakan dalam penghitungan fungsi yaitu sebesar 2,5%.

Partai-partai yang diperoleh suaranya tidak mencapai 2,5% tidak dapat

menempatkan wakilnya di DPR.

Pemilihan umum Presiden dan wakil Presiden tahun 2009

diselenggarakan untuk memillih Presiden dan wakil residen Indonesia

periode 2009-2014. Pemungutan suara diselenggarakan pada 8 Juli

2009. Pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Budiono berhasil menjadi

pemenang dalam satu putaran langsung dengan memperoleh suara

60,80%, mengalahkan pasangan Megawati Soekarno Putri-Prabowo

Subianto dan Muhammad Jusuf Kalla-Wiranto. Pasangan calon terpilih

adalah pasangan yang memperoleh suara lebih dari 50% dari jumlah

22

(50)

suara dengan sedikitnya 20% suara disetiap propinsi yang tersebar

dilebih dari 50% jumlah propinsi di Indonesia.

Pada pemilu 2009, gabungan partai Islam mengalami penurunan,

tingkat keterpilihan gabungan partai Islam sebesar 28,62%. Sedangkan

gabungan elektabilitas partai Nasionalis mencapai 71,38%.Pemilu 2009

seolah menjadi kuburan bagi partai yang berideologi Islam. Dari enam

partai yang berideologi Islam yang ikut serta dalam pemilu (PKS, PPP,

PBB, PKNU, PBR, dan PMB), hanya 2 partai yang lolos aturan

parliamentary threshold 2,5%, yakni PKS dan PPP.

Pada hasil pemilu tahun 2009 menempatkan dua poros koalisi

Megawati dan Prabowo, sementara Susilo Bambang Yudhoyono akan

menjadi pengikut karena partai yang dipimpinnya hanya meraih 9,42%

perolehan suara mengalami penurunan dari perolehan pada pemilu 2009

yang mencapai 20,81%. Satu poros koalisi lainnya adalah partai Golkar

Aburizal Bakrie alias ARB menjadi calon Presiden.

Dengan fenomena politik seperti itu, tiga pemimpin partai

Nasionalis (Megawati, Prabowo, Aburizal Bakrie) masing-masing akan

memimpin poros koalisi. Adapun partai-partai Islam, kecuali mereka

bersatu hanya akan menjadi pengikut.23

Hal ini terlihat lebih jelas pada pilpres 2014 yang baru saja

berlangsung.Prabowo yang didukung oleh partai-partai Islam (PPP,

PKS, dan PBB) dan bahkan ormas-ormas Islam ternyata mesti menelan

23 Artikel Diakses Pada Tanggal 1 November 2012, Pukul 20.40 Wib Dari

(51)

40

kekalahan. Jokowi yang “diboikot” oleh kalangan formalis Islam dengan

beragam kampanye hitam sertahingga isu “perang badar” dan fatwa

haram justru menang telak. Dalam pandangan Azyumardi Azra,

fenomena ini menunjukkan bahwa simbolisme Islam tidak lagi efektif,

sehingga teori “jebakan demokrasi” tidak berlaku di Indonesia.

Menurut teori ini, demokrasi yang terbuka di dalam negara

berpenduduk mayoritas Muslim hanya akan menghasilkan kekuasaan

partai Islam. Namun, kemerosotan perolehan suara partai-partai Islam di

Indonesia memperlihatkan gagalnya teori “jebakan demokrasi”.24

24Artikel Diakses Pada Tanggal 30 Oktober 2014, Pukul 19.30 Wib Dari

Gambar

Tabel.1.1
Tabel.1.2
Tabel 1.3.
Tabel 1.4.
+2

Referensi

Dokumen terkait

Sesuai dengan Peraturan Preseiden no.54 tahun 2010 pasalS3 , maka dengan ini panitia Pengadaan Barang / Jasa Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Sidoarjo

Permintaan keterangan atau pemeriksaan pelapor/korban ini ditulis dalam Berita Acara Pemeriksaan ( BAP ) yang berisi kronologi kejadian. Korban ditahap ini juga berhak

[r]

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data yang diperoleh, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh pembelajaran inkuiri menggunakan KIT IPA terhadap

Jasa Raharja (Persero) sebagai lembaga yang ditunjuk oleh pemerintah dalam pelaksanan Program Asuransi Kecelakaan Lalu Lintas Jalan memiliki peranan dan tanggung

Faktor-faktor produksi yang berpengaruh nyata dan signifikan terhadap produksi kedelai di Desa Takeranklating, Kecamatan Tikung, Kabupaten Lamongan yaitu luas lahan, pupuk,

Solusi persamaan Laplace homogen pada cakram dalam koordinat polar merupakan hal yang sederhana untuk didapatkan, meskipun demikian untuk model elektroda lengkap merupakan

Adapun saran yang dapt peneliti sampaikan pada penelitian ini adalah sebagai berikut: Bagi pimpinan panti agar musik digunakan untuk peningkatan kesehatan lansia yang