Pengaruh Pendekatan Active Learning Metode Poster Comment Terhadap Hasil Belajar IPS Siswa di SDN Sunter Agung 11 Pagi Jakarta Utara

195 

Teks penuh

(1)

JAKARTA UTARA

Skripsi

Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan Untuk Memenuhi Syarat Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan (S. Pd)

Oleh

Anis Suryani

1110018300071

JURUSAN PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

(2)

JAKARTA UTARA

Skripsi

Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan Untuk Memenuhi Syarat Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan (S. Pd)

Oleh:

Anis Suryani

(1110018300071)

Di bawah bimbingan

Dr. Marzuki Mahmud

JURUSAN PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

(3)
(4)
(5)
(6)

i

Sunter Agung 11 Pagi Jakarta-Utara”. Skripsi jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyyah, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Kata kunci: Pendekatan Active Learning Metode Poster Comment, Hasil Belajar IPS

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pendekatan active learning metode poster comment terhadap hasil belajar IPS siswa. Penelitian ini dilakukan di SDN. Sunter Agung 11 Pagi Jakarta Utara tahun ajaran 2013/2014. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode quasi eksperimen dengan desain penelitian Nonrandomized Control Group Design. Jumlah populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah 72 siswa yang terdiri dari dua kelas dan masing-masing kelas eksperimen dan kontrol berjumlah 36 siswa yang diperoleh dengan teknik cluster random sampling. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa pendekatan active learning metode poster comment berpengaruh terhadap hasil belajar IPS siswa. Berdasarkan pengujian hipotesis diperoleh varians nilai posttest kelas kontrol adalah 47,67 dan varians posttets kelas eksperimen adalah 73,569. Berdasarkan perhitungan diperoleh thitung > ttabel ( 3,73 > 1,69), sehingga rata-rata hasil belajar IPS siswa dengan menggunakan pendekatan active learning metode poster comment lebih tinggi daripada hasil belajar IPS siswa yang diajarkan dengan metode

(7)

ii

Class IV Sunter Agung SDN 11 Pagi North Jakarta ". Thesis Department of Teacher Education Madrasah Ibtidaiyyah, Faculty of Tarbiyah and Teaching, Syarif Hidayatullah State Islamic University Jakarta.

Keywords: Active Learning Approach Method Poster Comment, IPS Learning

Outcomes

(8)

iii

dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul: “Pengaruh Pendekatan active learning metode poster comment terhadap hasil belajar IPS siswa”. Serta shalawat serta salam penulis haturkan kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabat-sahabat setianya.

Dalam menyelesaikan skripsi ini, penulis banyak mendapatkan bantuan berupa bimbingan dan motivasi dari berbagai pihak. Maka dalam kesempatan ini penulis sampaikan rasa hormat dan terima kasih kepada:

1. Dra. Nurlena Rifai, M.A selaku Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

2. Dr. Fauzan, M.A, Kaprodi PGMI Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Dr. Marzuki Mahmud selaku dosen pembimbing yang senantiasa meluangkan waktunya serta memberikan arahan dan motivasi selama bimbingan skripsi. 4. Dra. Manerah selaku dosen pembimbing akademik

5. Seluruh dosen jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) yang telah memberikan ilmu pengetahuan serta bimbingan kepada penulis selama perkuliahan, semoga ilmu yang diajarkan dapat menjadi ilmu yang bermanfaat dan mendapatkan ridha Allah SWT.

6. Kepala sekolah SDN Sunter Agung 11 Pagi Yohana F.Sarwiyati, S. Pd

7. Guru mata pelajaran IPS kelas IV SDN. Sunter Agung 11 Pagi Anike Manu Riwu, S.S yang membantu penulis selama penelitian berlangsung.

8. Seluruh guru serta staff TU SDN. Sunter Agung 11 Pagi

(9)

iv

ini. Semoga Allah selalu memberkahinya dan melindunginya, I love you sayang. 11.Kakak-kakakku tersayang Rumyati, Hariri dan Nurhayati, yang telah mendoakan

penulis selama penyusunan skripsi serta adik-adikku tersayang dan terbawel Musrifah dan Rohim, tak lupa keponakan-keponakanku tersayang Royhan, Firdan, Fida, Ilham, Zakia, dan yang tak bisa kusebutkan satu persatu.

12.Mertuaku Nurhayati dan Jasuli yang selalu mendoakanku selama ini, dan adik-adik iparku Alya, Mala, Andi dan Lulu yang kusayangi.

Harapan penulis, semoga skripsi ini dapat memberikan kontribusi dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan bermanfaat bagi penulis maupun pembac yang budiman. Segala kekurangan dalam skripsi ini semoga dapat dimaklumi.

Jakarta, 12 November 2014

(10)

v

ABSTRACT ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL... viii

DAFTAR GAMBAR ... ix

DAFTAR LAMPIRAN ... x

BAB I PENDAHULUAN A. LatarBelakangMasalah ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 6

C. Pembatasan Masalah ... 6

D. PerumusanMasalah ... 6

E. TujuanPenelitian ... 7

F. ManfaatPenelitian ... 7

BAB II KAJIAN TEORITIS, KERANGKA BERPIKIR, DAN PENGAJUAN HIPOTESIS A. Deskripsi Teoritik... 8

1. Pendekatan Active Learning ... 8

a. Pengertian pendekatan Active Learning ... 8

b. Prinsip-prinsip Belajar Active Learning ... 9

c. Ciri-ciri Pendekatan Active Learning ... 11

d. Kebaikan Active Learning ... 13

e. Kelemahan Active Learning ... 14

2. Metode Poster Comment ... 14

(11)

vi

a. Pengertian Belajar... 15

b. Ciri- Ciri Belajar ... 17

c. Prinsip-prinsip Belajar ... 18

d. Jenis-Jenis Belajar ... 19

e. Faktor- faktor yang Mempengaruhi Motivasi Belajar ... 20

f. Tujuan Belajar ... 21

g. Hasil Belajar ... 21

4. Pembelajaran IPS ... 24

a. Hakikat IPS ... 24

b. Karakteristik Pendidikan IPS ... 26

c. Tujuan pembelajaran IPS ... 27

B. Hasil Penelitian Relevan ... 28

C. Kerangka Berpikir ... 29

D. Hipotesis Penelitian ... 30

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 31

A. Tempat dan waktu Penelitian ... 31

B. Metode dan Desain Penelitian ... 32

C. Populasi dan Sampel ... 33

D. Teknik Pengumpulan Data ... 34

E. Uji Instrumen Penelitian ... 36

F. Teknik Analisa Data ... 40

G. Hipotesis Statistik... 41

(12)

vii

E. Keterbatasan Penelitian ... 61

BAB V PENUTUP ... 62

A. Kesimpulan ... 62

B. Saran ... 63

DAFTAR PUSTAKA ... 64

(13)

viii

Tabel 3.3 Jumlah siswa kelas IV tahun ajaran 2013/2014

Tabel 3.4 Kisi-kisi Instrumen test Hasil Belajar Kognitif

Tabel 3.5 Hasil Uji Validitas Instrumen

Tabel 3.6 Hasil Uji Reliabilitas Instrumen

Tabel 3.7 Hasil Uji Taraf Kesukaran Instrumen soaL

Tabel 3.8 Hasil Uji Daya Pembeda

Tabel 4.1 Nilai Pre-test Kelas Eksperimen (IV )

Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Hasil Pretest Kelas Eksperimen

Tabel 4.3 Nilai Pre-test Kelas Kontrol (IV A)

Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Hasil Pretest Kelas Kontrol

Tabel 4.5 Nilai Post-test Kelas Eksperimen (IV B)

Tabel 4.6 Distribusi Frekuensi Hasil Posttest Kelas Eksperimen

Tabel 4.7 Nilai Post-test Kelas Kontrol (IV A)

Tabel 4.8 Distribusi Frekuensi Hasil Posttest Kelas Kontrol

Tabel 4.9 Hasil Uji Normalitas Pretest Kelas Kontrol dan Eksperimen

Tabel 4.10 Hasil Uji Normalitas Posttest Kelas Kontrol dan Eksperimen

(14)
(15)

x 3. Kisi- kisi Instrumen Tes Hasil Belajar 4. Soal Instrumen Test

5. Kunci Jawaban Instrumen Tes 6. Uji Validitas

7. Uji Reliabilitas 8. Daya Pembeda 9. Tingkat Kesukaran

10.Daftar Nilai Pretest Kelompok Eksperimen 11.Daftar Nilai Posttest Kelompok Eksperimen 12.Daftar Nilai Pretest Kelompok Kontrol 13.Daftar Nilai Posttest Kelompok Kontrol

14.Distribusi Frekuensi Hasil Pretest Kelompok Eksperimen 15.Distribusi Frekuensi Hasil Posttest Kelompok Eksperimen 16.Distribusi Frekuensi Hasil Pretest Kelompok Kontrol 17.Distribusi Frekuensi Hasil Posttest Kelompok Kontrol 18.Soal Pretest dan Posttest Kelas Eksperimen

19.Kunci Jawaban Soal Pretest dan Posttest Kelas Eksperimen 20.Soal Pretest dan Posttest Kelas Kontrol

21.Kunci Jawaban Soal Pretest dan Posttest Kelas Kontrol 22.Lembar Observasi Guru

23.Lembar Observasi Siswa

24.Surat Permohonan Surat Bimbingan Skripsi 25.Surat Permohonan Izin Pnelitian

(16)

1

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan ialah segala usaha orang dewasa dalam pergaulannya dengan anak-anak untuk memimpin perkembangan jasmani dan rohaninya ke arah kedewasaan, sehingga berguna bagi diri sendiri dan masyarakat. 1Pendidikan memiliki peranan yang sangat penting bagi perkembangan suatu individu yang selanjutnya berujung pada maju atau mundurnya suatu bangsa dan negara. Pendidikan pada umumnya menyediakan lingkungan yang memungkinkan anak didik (siswa) untuk mengembangkan kemampuan secara optimal, sehingga dapat mewujudkan dirinya dan berfungsi sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan pribadinya maupun kebutuhan masyarakat.

Pendidik adalah orang yang selalu dipandang, dicontoh oleh anakdidiknya ataupun oleh masyarakat sekelilingnya. Kita tidak dapat mendidik anak-anak berbuat susila jika kita sendiri tidak sanggup menjelmakan unsure-unsur kesusilaan itu. Menurut seorang ahli ilmu jiwa bangsa Jerman dalam buku Ngalim Purwanto yang berjudul Ilmu Pendidikan disebutkan bahwa “watak manusia itu dibagi menjadi dua bagian yaitu: 1) watak biologis yaitu watak yang berhubungan dengan nafsu dan insting yang rendah, yang terikat kepada kejasmanian. Dan 2) watak inteligibel (watak budi) yaitu watak yang berhubungan dengan budi atau akal pikiran manusia. Watak budi inilah yang dapat diubah dan dididik. Watak ini mengandung unsure-unsur sebgai berikut: kekuatan kemauan, kejernihan keputusan, dan kehalusan perasaan. 2

1

Ngalim Purwqanto, Ilmu Penddikan Teoritis dan Praktis, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2002),. Cet. Keempatbelas, hal. 10

2

(17)

Pembelajaran merupakan suatu proses yang dilakukan secara sadar pada setiap individu atau kelompok untuk merubah sikap dari tidak tahu menjadi tahu sepanjang hidupnya. Sedangkan proses belajar mengajar merupakan kegiatan pokok sekolah yang di dalamnya terjadi proses siswa belajar dan guru mengajar dalam konteks interaktif dan terjadi interaksiedukatif antara guru dan siswa, sehingga terdapat perubahan dalam diri siswabaik perubahan pada tingkat pengetahuan, pemahaman dan keterampilan ataupun sikap. Melalui proses mengajar tersebut akan dicapai tujuan pendidikan tidak hanya dalam hal membentuk perubahan tingkah laku dalamdiri siswa, akan tetapi juga meningkatkan pengetahuan yang ada dalam diri siswa.3

Kurikulum dalam pendidikan mempunyai fungsi sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Pendidikan suatu bangsa dengan bangsa lain tidak akan sama karena setiap bangsa dan negara mempunyain filsafat dan tujuan pendidikan tertentu yang dipengaruhi oleh berbagai segi, baik segi agama, ideology, kebudayaan maupun kebutuhan negara itu sendiri. tujuan pendidikan di negara kita berdasarkan falsafah pancasila dan UUD 1945. 4

Guru tidak hanya berfungsi sebagai pelaksana kurikulum tetapi juga sebagai pengembangan kurikulum dalam rangka pelaksanaan kurikulum tersebut. Dengan suasana yang nyaman dalam proses belajar mengajar memberi ketentraman dan ketenangan dalam diri murid sehingga muncul motivasi belajar yang tinggi dimana motivasi belajar merupakan kekuatan mental yang mendorong proses belajar-mengajar lebih aktif dan menyenangkan.Intelegensi dianggap sebagai suatu norma umum dalam keberhasilan belajar. Intelegensi dapat diartikan sebagai suatu kemampuan yang abstrak dari seseorang untuk memecahkan problema yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Sifat-sifat pribadi seseorang yang sering disebut kepribadian juga turut memperoleh peran dalam belajar. Tiap orang

3

Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Bumi Aksara, 2001), hlm. 48 4

(18)

mempunyai sifat pribadi atau kepribadian antara yang satu dengan yang lain sehingga kepribadian yang ada pada diri seseorang itu sedikit banyak mempengaruhi keberhasilan belajarnya.

Dalam pendidkan saat ini, guru seringkali mendapatkan kesulitan dalam pembelajaran. Misalnya: siswa merasa bosan ketika pembelajaran berlangsung karena tidak ada yang membuat semangat dalam pembelajaran tersebut. Hal ini menyebabkan kurang aktifnya siswa dalam kegiatan pembelajaran, apalagi pada pelajaran yang dianggapnya sulit. Oleh karena itu, peneliti mencoba membuat siswa lebih aktif di dalam kegiatan pembelajaran, dan meningkatkan semangat belajar dalam diri siswa. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan active learning dengan metode poster comment. Peneliti berharap dengan metode ini bisa

menumbuhkan motivasi belajar siswa dalam pembelajaran.

Pentingnya motivasi dalam belajar merupakan bahan kajian yang menarik bagi guru sekaligus mengandung konsekuensi, bahwa para guru perlu mempunyai wawasan yang mendalam mengenai pembelajaran yang menyenangkan dan efektif agar dapat membantu dalam meningkatkan motivasi belajar para siswa khususnya belajar dalam bidang studi IPS.

Numan Sumantri mengatakan bahwa “pembelajaran IPS yang diberikan di sekolah-sekolah sangat menjemukan, dan membosankan. Hal ini disebabkan penyajiannya bersifat monoton dan ekspositori, sehingga siswa kurang antusias yang dapat mengakibatkan pelajaran kurang menarik”.5

5

(19)

Kelemahan-kelemahan tersebut diperberat lagi oleh beberapa kondisi yang ada, diantaranya masih berlakunya sistem guru kelas harus mengajarkan beberapa mata pelajaran. Masing-masing mata pelajaran itu mempunyai karakteristik atau ciri tersendiri.

Manurut hasil pengamatan yang dilakukan peneliti pada tanggal 11 Maret 2014 melalui observasi kelas dan wawancara dengan guru kelas IV semester genap di SDN 11 pagi Jakarta Utara tahunpelajaran 2013/2014 menunjukkan bahwa hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPS masih rendah. Asumsi dasar yang menyebabkan hasil belajar yang belum maksimal dan pencapaian kompetensi mata pelajaran IPS siswa kurang optimal adalah pemilihan metode pembelajaran dan kurangnya peran serta (keaktifan) siswa dalam KBM. Metode belajar guru masih secara konvensional. Proses belajar mengajar IPS masih terfokus pada guru dan kurang terfokus pada siswa. Metode pembelajaran yang digunakan lebih didominasi oleh siswa-siswa tertentu saja.Peran serta siswa belum menyeluruh sehingga menyebabkan deskriminasi dalam kegiatan pembelajaran.

(20)

digunakan untuk mengajar. Dari itu saya merasa terdorong untuk meneliti di sekolah tersebut dengan judul “Pengaruh Pendekatan Active Learning Metode Poster Comment Terhadap HasilBelajar IPS Kelas IV SDN SunterAgung 11 Pagi Jak-ut.

Berdasarkan pertimbangan di atas, maka perlu dikembangkan suatu metode pembelajaran yang mampu melibatkan peran serta siswa secara menyeluruh sehingga kegiatan belajar mengajar tidak hanya didominasi oleh siswa-siswa tertentu saja.Selain itu, melalui pemilihan metode pembelajaran diharapkan sumber informasi yang diterima siswa tidak hanya dari guru melainkan juga dari sumber lainnya, sehingga dapat meningkatkan peran serta dan keaktifan siswa dalam mempelajari dan menelaah ilmu yang ada terutama mata pelajaran IPS.

Salah satu metode yang melibatkan semua siswa adalah metode poster comment yang mana metode ini bertujuan untuk menstimulasi dan meningkatkan

kreaktifitas dan mendorong penghayatan siswa terhadap suatu permasalahan. Dalam metode ini siswa di dorong untuk bisa mengungkapkan pendapatnya secara lisan tentang gambar atau poster. Dengan metode ini diharapkan siswa lebih terampil dalam bekerja sama dalam menyelesaikan tugas dan berani untuk mempertanggungjawabkan tugasnya dengan cara mempresentasikannya di depanteman-temannya. Sehingga mereka terampil bekerja dan berani berbicara di depan umum. Sehingga nantinya dengan menggunakan metode poster comment

(21)

metode poster comment pada mata pelajaran IPS mampu mempengaruhi hasil belajar siswa di kelas IV SDN Sunter Agung 11 pagi.

B. Identifikasi Masalah

Dari uraian tersebut, adamasalah yang muncul, antara lain: 1. Kurang aktifnya siswa dalam kegiatan belajar

2. Rendahnya hasil belajar siswa

3. Metode yang digunakan guru tidak variatif

C. Pembatasan Masalah

Banyak faktor yang dapat mempengaruhi pengaruh pendekatan active learning metode poster comment terhadap hasil belajar IPS, oleh karena itu penelitian ini akan dabatasi pada:

1. Metode yang digunakan guru tidak variatif 2. Rendahnya hasil belajar siswa

D. Perumusan Masalah

Permasalahan mengenai pengaruh pendekatan active learning metode poster comment terhadap hasil belajar IPS dapat dipengaruhi oleh aspek yang dapat dan

akan diteliti, yaitu: Apakah ada pengaruh pendekatan Active Learning metode Poster Comment terhadap hasil belajar siswa pada pelajaran IPS kelas IV SD

Negeri 11 Pagi Jakarta-utara?

E. Tujuan Penelitian

(22)

F. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat:

1. Secara umum, dapat digunakan sebagai bahan pembanding atau dikembangkan lebih lanjut serta sebagai referensi terhadap penelitian yang relevan dengan permasalahn yang sejenis.

2. Secara institusional, pendekatan active learning metode poster comment mampu memberikan kontribusi terhadap peningkatan hasil belajar IPS siswa.

3. Secara praktik

a. Diharapkan dapat berguna dalam perbaikan dan peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah SDN. SunterAgung 11 Pagi.

b. Sebagai dasar untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan sebagai pembanding dalam penelitian-penelitian lebih lanjut dan sejenis.

(23)

8

1. Pendekatan Active Learning

a. Pengertian pendekatan active learning

Pendekatan sifatnya umum, tergantung sudut pandang siapa yang akan mendekati. Pendekatan dapat pula diartikan sebagai titik tolak, awal dari memulai suatu proses. Pendekatan pembelajaran berarti titik awal cara pandang kita menghadapi suatu proses pembelajaran. Dari sinilah dimulai dan melahirkan suatu metode, startegi, teknik pembelajaran. Dilihat dari pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu: pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach), dan pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach). Pendekatan yang berpusat pada guru menurunkan strategi pembelajaran langsung (derict instruction), pembelajaran deduktif atau pembelajaran ekspositori. Sedangkan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa menurunkan strategi pembelajaran discovery dan inkuiri serta strategi pembelajaran induktif. 6

Pendekatan active learning merupakan suatu proses pembelajaran yang bertujuan untuk memberdayakan kemampuan peserta didik secara optimal dengan menggunakan berbagai cara/startegi secara aktif. Dalam hal ini proses aktivitas pembelajaran didominasi oleh peserta didik dengan menggunakan otak sebagai cara untuk menemukan konsep dan memecahkan

6

(24)

masalah yang sedang dipelajari, di samping itu juga untuk melatih mental dan keterampilan fisiknya.7

b. Prinsip-prinsip belajar Active Learning

Untuk dapat menerapkan pendekatan active learning dalam kegiatan belajar mengajar, maka perlu diperhatikan prinsip-prinsip sebagai tolak ukur yang dapat diamati berupa tingkah laku peserta didik. Hal tersebutdikarenakan perilaku peserta didik dapat menampilkan keterlibatan siswa dalam proses belajar mengajar baik secara intelektual, sosial, maupun emosional yang dalam banyak hal dapat diisyaratkan langsung melalui bentuk keaktifan fisik.

Ada beberapa prinsip belajar yang dapat menunjang tumbuhnya cara belajat siswa aktif, sebagaimana disebutkan oleh Hamzah B. uno dan Nurdin Mohamad, diantaranya sebagai berikut:

1) Prinsip perhatian dan motivasi

Perhatian dapat dilakukan melalu komunikasi yang baik antara pendidik dan peserta didik. Dialog yang baik dan sikap terbuka dari pendidik dapat membantu siswa lebih berani berbicara tanpa terbayang rasa takut sehingga mereka terpacu untuk berpikir dan terbuka untuk mengeluarkan semua hambatan yang mereka miliki. Sedangkan motivasi mempunyai peranan member tenaga yang menggerakkan dan mengarahkan aktivitas seseorang. Besarnya motivasi akan terlihat pada besarnya feeling atau rasa ketertarikan siswa terhadap metode pembelajaran yang diterapkan.

7

(25)

2) Prinsip keaktifan, keterlibatan langsung dan pengalaman

Siswa yang aktif dan kreatif dalam kegiatan belajar tidak sekedar mengamati dan mendengarkan, tetapi mereka harus menghayati, terlibat langsung dalam perbuatan, dan bertanggung jawab terhadap hasilnya. Peserta didik akan belajar lebih banyak melalui aktivitas secara langsung. Pengalaman atau keterlibatan diri secara langsung akan mengaktifkan lebih banyak indra yang mereka miliki dibandingkan hanya melalui pendengaran.

3) Prinsip perbedaan individual (hubungan sosial)

Kegiatan belajar mengajar merupakan proses interaksi, sedangkan interaksi yang terjadi dalam pembelajaran aktif tidak hanya melibatkan pendidik dengan siswa, tetapi terdapat pula interaksi atau komunikasi multi arah yang terjalin antara pendidik dengan siswa dan siswa dengan siswa lainnya.

4) Prinsip balikan dan penguatan

Sumber penguatan belajar untuk pemuasan kebutuhan diri siswa dapat berasal dari luar maupun dari dalam dirinya. Penguat belajar yang berasal dari luar seperti nilai, prestasi, persetujuan pendapat siswa, hadiah, dan lain-lain. Merupakan cara memperkuat respon siswa.8

Sedangkan penguatan dari dalam diri siswa hanya mungkin terjadi apabila stimulus/rangsangan yang diberikan oleh guru betul-betul memperkuat respon peserta didik dan sesuai dengan kebutuhannya. Sehingga siswa termotivasi oleh dirinya sendiri untuk belajar lebih giat agar cita-citanya tercapai.

5) Prinsip tantangan dalam penyelesaian masalah

Siswa dibekali pengetahuan dan pemahaman mengenai suatu permasalahan, kemudian mereka berusaha menyelesaikannya. Sehingga

8

(26)

siswa terbiasa mandiri dan kemampuan berpikir serta kreativitasnya dapat ditumbuhkembangkan secara lebih optimal.

Setiap tugas yang diberikan guru harus dapat memicu siswa untuk menyelesaikan tugasnya dengan baik, siswa diberikan tantangan agar masalah tersebut dapat diselesaikan tidak hanya dengan benar tetapi juga dengan tepat waktu.

6) Prinsip pengulangan

Pembelajaran yang baik harus mampu melatih dan mengoptimalkan daya-daya yang ada pada diri anak didik. Banyak cara yang dapat digunakan diantaranya dengan melakukan pengulangan, baik secara ucapan maupun perbuatan. Dengan mengadakan pengulangan maka daya-daya tersebut akan lebih sering digunakan dan difungsikan lebih optimal sehingga dapat berkembang dengan baik.

c. Ciri-ciri Pendekatan Active Learning

Ada beberapa ciri yang harus Nampak dalam proses belajar active learning sebagaimana dikatakan Abuddin Nata, di antaranya adalah:

1) Situasi dalam kelas menantang siswa melakukan kegiatan belajar secara bebas tapi terkendali

2) Guru sebagai motivator dan fasilitator, perancang, dan pengelola 3) Guru dan siswa menerima peran kerja sama

4) Bahan-bahan pelajaran dipilih berdasarkan kelayakan 5) Siswa terlibat langsung dalam proses pembelajaran 6) Tujuan ditulis dengan jelas untuk selanjutnya diukur/dites9

Selanjutnya Darmansyah menyebutkan tiga ciri atau pola umum strategi pembelajaran yang menekankan agar siswa berperan aktif dalam proses pembelajaran di kelas yaitu:

9

(27)

1) Efisiensi

Pada umumnya setiap guru menyikapi adanya keterbatasan waktu mengajar di kelas sebagai kekurangannya yang harus mereka terima, tanpa mengetahui apakah semua siswa telah memahami materi yang telah diajarkan. Terlebih lagi jika guru menggunakan metode ceramah maka waktu yang diberikan tidak akan cukup untuk menyampaikan materinya.

Beda halnya jika guru menggunakan pendekatan active learningsebelumnya guru telah mempersiapkan secara matang dan

sistematis tentang apa yang akan disampaikannya. Dengan demikian waktu yang tersedia akan terpakai secara lebih efesien.

2) Efektivitas

Pada dasarnya efektivitas ditujukan untuk menjawab pertanyaan sejauh mana siswa memahami pelajaran dan sejauh mana tujuan pembelajaran telah dicapai. Kegiatan pembelajaran dapat dianggap efektif jika skor yang dicapai siswa telah memenuhi batas minimal kompetensi yang telah ditentukan. Dan kompetensi yang dimaksud tidak terbatas dalam tataran teoritis tetapi tercermin dalam tataran kehidupannya.10

Pengunaan pendekatan active learning akan lebih menunjukkan efektivitas pembelajaran dengan melihat keaktifan siswa di kelas. Sehingga guru dapat mengetahui apa saja yang belum tercapai dan dapat segera diperbaikinya.

3) Keterlibatan peserta didik

Keterlibatan peserta didik akan sangat dipengaruhi oleh tantangan yang dapat membangkitkan motivasinya dalam pembelajaran. Pembelajaran active learning umumnya dapat

10

(28)

memberikan stimulus atau rangsangan belajar lebih instensif dibandingkan metode ceramah.

Ciri-ciri di atas merupakan sebagian kecil dari hakikat belajar active learning dalam praktek pengajaran. Untuk dapat mewujudkan ciri-ciri di atas memang bukan hal yang mudah tapi perlu pengenalan teori dan keberanian seorang pendidik untuk menguasai pembelajaran dengan pendekatan active learning agar kegiatan belajar dapat berlangsung dengan baik dan tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik.

d. Kebaikan pendekatan active learning

Proses belajar mengajar dapat dikatakan berhasil apabila guru memiliki kewibawaan di depan kelas dan kehadirannya mampu mengkodisikan kelas menjadi tenang dan kondusif. Siswa merasa nyaman atas kehadiran guru, bukan malah tertekan dan takut dengan sikap guru yang pemarah dan tidak bersahabat.

Oemar hamalik menyebutkan beberapa kebaikan yang terdapat pada pembelajaran dengan pendekatan active learning, di antaranya sebagai berikut:

1) Sebagai prakarsa siswa dalam kegiatan belajar, yang ditujukan melalui keberanian memberikan pendapat tanpa secara eksklusif diminta. 2) Keterlibatan mental dan intelektual dapat diamati dalam bentuk

perhatian serta pikiran siswa dengan tugas yang telah dihadapi serta komitmennya untuk menyelesaikan tugas tersebut dengan sebaik-baiknya.

3) Besarnya peranan guru sebagai fasilitator akan menambah partisipasi serta tanggung jawab siswa di dalam kegiatan belajar.

(29)

5) Meningkatkan kecerdasan emosional dan intelektual maupun sosial dalam memecahkan masalah, baik yang berkenaan dengan kegiatan intra maupun ekstrakurikuler.11

e. Kelemahan Pendekatan Active Learning

Berikut adalah beberapa kelemahan dari pendekatan active learning seperti yang disebutkan oleh Oemar Hamalik, di antaranya:

1) Diskusi tidak dapat diramalkan, jika kepemimpinan diskusi tidak produktif mungkin saja diskusi akan mengarah ke tujuan lain.

2) Membentuk pengaturan fisik (seperti kursi, dan meja)

3) Dapat menjadi palsu jika pemimpin mengalami kesulitan mempertemukan berbagai pendapat padahal dia telah mengetahui jawaban yang diinginkan, sehingga ia menolak pendapat orang lain. 4) Dapat didominasi oleh seseorang atau sejumlah siswa

2. Metode Poster Comment

a. Pengertian metode poster comment

Metode ini merupakan salah satu bagian dari strategi pembelajaran aktifatau active learning. Metode ini sering juga disebut sebagai metodemengomentari gambar, yakni suatu strategi yang digunakan pendidik dengan maksud mengajak peserta didik untuk memunculkan ide apa yang terkandung dalam suatu gambar.12 Gambar tersebut tentu saja harus berkaitan denganpencapaian suatu kompetensi dalam pembelajaran.

Metode ini bertujuan untuk menstimulasi dan meningkatkan kreaktifitas dan mendorong penghayatan siswa terhdap suatu permasalahan. Dalam metode ini siswa di dorong untuk bisa mengungkapkan pendapatnya secara lisan tentang gambar atau poster.

11

Oemar Hamalik,Kurikulum dan Pembelajaran, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2007) h. 142 12

(30)

b. Prosedur metode poster comment

1) Pilihlah sebuah gambar atau poster yang ada kaitannya dengan topik bahasan yang akan dibahas

2) Mintalah siswa untuk mengamati terlebih dahulu gambar atau poster tersebut

3) Mintalah mereka untuk berdiskusi secara berkelompok, kemudian mereka diminta memberikan komentar atau pendapat tentang gambar atau poster tersebut.

4) Siswa diminta untuk memberikan solusi atau rekomendasi berkaitan dengan gambar atau poster tersebut.13

c. Kelebihan metodeposter comment

1) Media gambar lebih konkrit

2) Dapat mengatasi batasan ruang, waktu, dan indera

3) Membuatnya relative murah dan mudah dibuat dan digunakan dalam pembelajaran di kelas.

d. Kelemahan metodeposter comment

1) Hanya menekankan persepsi indra mata, ukurannya terbatas sehingga kurang efektif untuk pembelajaran kelompok besar

2) Perbandingan yang kurang tepat dari suatu objek akan menimbulkan kesalahan persepsi

3) Jika gambar terlalu komplek, kurang efektif untuk tujuan pembelajaran tertentu.

3. Belajar dan Hasil Belajar

a. Pengertian belajar

Belajar adalah perubahan tingkah laku. Perubahan tingkah laku tersebut berupa memperoleh kebiasaan, pengetahuan, dan sikap.14 Ngalim

13

Melvin L.Silberman, Active Learning, (Bandung: Nusamedia, 2006), hal. 192 14

(31)

porwanto mendefinisikan belajar dengan: “belajar adalah suatu proses yang menyebabkan suatu perubahan dalam tingkah laku ataupun kecakapan manusia yang bukan disebabkan oleh proses pertumbuhn atau kematangan atau perubahan psikologis.15Menurut Sardiman A.M (2001:22) “dalam arti luas belajar dapat diartikan sebagai kegiatan psiko-fisik menuju perkembangan pribadi seutuhnya. Dalam arti sempit, belajar dimaksudkan sebagai usaha penguasaan materi ilmu pengetahuan yang merupakan sebagian kegiatan menuju terbentuknya kepribadian yang seutuhnya”.

Piaget membedakan duapengertian tentang belajar, yaitu belajar dalam arti sempit dan belajar dalam arti luas. Belajar dalam arti sempit adalah belajar yang hanya menekankan perolehan informasi baru dan pertambahan. Belajar ini disebut dengan belajar figurative yaitu suatu bentuk belajar yang pasif. Sedangkan belajar dalam arti luas atau yang disebut juga dengan perkembangan adalah belajar untuk memperoleh dan menemukan struktur pemikiran yang lebih umum yang dapat digunakan pada bermacam-macam situasi. Belajar ini disebut juga belajar operatif, di mana seseorang aktif mengkonstruksi struktur dari yang dipelajari.16

Dari kedua definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa belajar adalah proses terjadinya perubahan yang diesbabkan oleh sesuatu yang sedang dipelajari. Tujuan belajar IPS pada anak sekolah dasar adalah untuk keperluan sosialisasi dalam kehidupan sehari- hari. Belajar pada anak sekolah dasar akan dapat tercapai dengan baik bila sesuai dengan keadaan peserta didik itu sendiri. Disamping itu guru perlu memahami teori belajar yang sesuai untuk proses belajar mengajar. Terdapat beberapa teori belajar yang sesuai dengan keadaan anak sekolah dasar.

15

Ngalim Purwanto,Pengantar Psikologi, (Jakarta: Nasco, 1980), h. 64 16

(32)

B.F.Skinner dalam teori belajar S-R berpendapat: “ganjaran atau penguatan merupakan unsur terpenting dalam belajar,17 sedangkan menurut hukum latihan dalam teori belajar S-R yang dibuat Thorndike menyatakan: “prinsip utama belajar adalah pengulangan, semakin sering diulang semakin kuat hubungan stimulus dan respon18. Sementara menurut hukum akibat yang dibuan oleh Thorndike pengulangan dengan latihan- latihan tanpa hadiah tidak akan efektif.19

b. Ciri-ciri Belajar

1) Perubahan yang terjadi secara sadar

Ini berarti individu yang belajar akan menyadari terjadinya perubahan itu atau sekurang-kurangnya individu merasakan telah terjadi adanya suatu perubahan dalam dirinya. Misalnya ia menyadari bahwa pengetahuannya bertambah, keecakapannya bertambah, kebiasaannya bertambah. Jadi, perubahan tingkah laku individu yang terjadi karena dalam keadaan tidak sadar itu tidak termasuk kategori perubahan dalam pengertian belajar.

2) Perubahan dalam belajar bersifat fungsional

Sebagai hasil belajar, perubahan yang terjadi dalam diri individu berlangsung terus menerus dan tidak statis. Suatu perubahan yang terjadi akan menyebabkan perubahan berikutnya dan akan berguna bagi kehidupan ataupun proses belajar berikutnya.

3) Perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif

Dalam perbuatan belajar, perubahan-perubahan itu selalu bertambah dan tertuju untuk memperoleh suatu yang lebih baik dari sebelumnya. Dengan demikian, makin banyak usaha belajar itu dilakukan, makin banyak dan makin baik perubahan yang diperoleh.

17

Herman Hudjono, loc. Cit., h. 14 18

Ibid.. 19

(33)

Perubahan yang bersifat aktif artinya bahwa perubahan itu tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan karena usaha individu itu sendiri.

4) Perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara yang bersifat sementara (temporer) yang terjadi hanya untuk beberapa saat saja. Seperti berkeringat, keluar air mata, menangis, dan sebagainya tidak dapat digolongkan sebagai perubahan dalam pengertian belajar. Perubahan yang terjadi karena proses belajar bersifat menetap atau permanen. Ini berarti bahwa tingkah laku yang terjadi setelah belajar akan bersifat menetap.

5) Perubahan dalam belajar bertujuan atau terarah

Perubahan tingkah laku itu terjadi karena ada tujuan yang akan dicapai. Perubahan belajar terarah pada perubahan tingkah laku yang benar-benar disadari.

6) Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku

Perubahan yang diperoleh individu setelah melalui suatu proses belajar meliputi perubahan keseluruhan tingkah laku. Jika seseorang belajar sesuatu sebagai hasilnya ia akan mengalami perubahan tingkah laku secara menyeluruh dalam sikap kebiasaan, keterampilan, pengetahuan, dan sebagainya. 20

c. Prinsip-prinsip Belajar

Dimyati dan Mudjiono, “mengemukakan adanya tujuh prinsip dalam belajar, yaitu:

1) Perhatian dan Motivasi, perhatian terhadap pelajaran akan timbul apabila bahan pelajaran sesuai dengan kebutuhannya.

2) Keaktifan, dalam setiap proses belajar, siswa selalu menampakkan keaktifan itu beraneka ragam bentuknya mulai dari kegiatan fisik samapai psikis.

20

(34)

3) Keterlibatan langsung, keterlibatan di sini bukan hanya keterlibatan fisik semata, namun juga mental emosionalnya.

4) Pengulangan, dengan mengadakan pengulangan maka seperti daya mengamati, menaggapi, mengingat,menghayal, menghayati, berpikir dsb akan berkembang.

5) Tantangan, dalam situasi belajar siswa menhadapi suatu tujuan yang ingin dicapai, tetapi selalu terdapat hambatan yaitu mempelajari bahan belajar. Apabila hambatan itu telah diatasi maka tujuan belajar telah tercapai.

6) Balikan, hasil yang baik merupakan balikan yang menyenangkan dan berpengaruh baik bagi usaha selanjutnya.

7) Perbedaan individual, ini berpengaruh pada cara dan hasil belajar siswa. Karena itu perlu diperhatikan oleh guru dalam upaya pembelajaran.

Secara empiris, mekanisme belajar didasakan pada dua aspek, yaitu:

a) Tampilan-tampilan yang bersifat internal dari gagasan-gagasan yang sederhana (bayangan-bayangan memori) yang berawal dengan mengkopi secara sederhana sesuai dengan apa yang diperoleh dari pengaruh indera yang kemudian disimpan di dalam tempat memori.

b) Gagasan-gagasan yang kompleks dibentuk dengan hubungan antara gagasan-gagasan sederhana dalam memori yang secara berdekatan dialami, dan kemudian mereka terhubung menjadi satu ikatan yang tergabung. 21

d. Jenis-jenis Belajar

1) Belajar Isyarat

21

(35)

Tipe belajar semacam ini dilakukan dengan merespons suatu isyarat. Jadi rerspons yang dilakukan itu bersifat umum artinya belajar seperti ini biasanya bersifat tidak disadari, dalam arti respons juga diberikan secara tidak sadar.

2) Belajar Stimulus-Respons 3) Belajar rangkaian

4) Asosiasi verbal 5) Belajar deskriminasi 6) Belajar konsep 7) Belajar aturran

8) Belajar pemecahan masalah22

e. Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar

1) Faktor dalam diri individu

Banyak faktor yang ada dalam diri individu yang mempengaruhi udaha dan keberhasilan belajarnya. Faktor tersebut menyangkut aaspek jasmani dan rohani. Aspek jasmaniah mencakup kondisi dan kesehatan jasmani dari individu. Aspek psikis atau rohaniah menyangkut kondisi kesehatan psikis, kemampuan-kemampuan intelektual, sosial, psikomotor serta kondisi afektif dan konatif dari individu.

2) Faktor lingkungan

Keberhasilan belajar juga sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor di luar diri siswa. Seperti keluarga yang merupakan lingkungan pertama dan utama dalam pendidikan, memberikan landasan dasar bagi proses belajar pada lingkungan sekolah dan masyarakat. Faktor fisik dalam lingkungan keluarga sangat diperlukan untuk perkembangan belajar

22

(36)

anak, seperti keadaan rumah dan ruangan tmpat belajar, sarana prasarana, serta suasana dalam rumah. 23

f. Tujuan Belajar

Dalam usaha pencapaian tujuan belajar perlu diciptakan adanya sistem lingkungan belajar yang kondusif. Hal ini berkaitan dengan mengajar. Mengajar diartikan sebagai usaha pencitaan sistem lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar.

Dari uraian di atas, jika ditinjau secara umum, maka tujuan belajar itu ada tiga jenis:

1) Untuk mendapatkan pengetahuan 2) Penanaman konsep dan keterampilan 3) Pembentukan sikap24

g. Hasil Belajar

Hasil belajar merupakan gambaran tingkat penugasan siswa terhadap sasaran belajar pada topik bahasan yang dieksperimenkan, yang diukur berdasarkan jumlah skor jawaban benar pada soal yang disusun sesuai dengan sasarna belajar. Hasil belajar tampak sebagai terjadinya erubahan tingkah laku pada diri siswa, yang dapat diamati dan diukur dalam bentuk perubahan pengetahuan sikap dan keterampilan.25

Hasil belajar mengikuti aspek kegiatan, efektif, kecepatan/kemampuan belajar yang oleh Bloom dinyatakan ssebagai hasil belajar ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajar.26

23

Nana Syaodih Sukmadinata, Landasan Psikologi Proses Pendidikan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2007).,cet. Keempat, hal. 162-163

24

Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT Raja Grafindo, 2011), hal. 25-28

25

Oemar Hamalik, Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2009), hal. 155

26

(37)

Hasil belajar terdiri dari dua kata, yaitu hasil dan belajar. Secara umum, hasil belajar didefinisikan sebagai suatu bentuk pertumbuhan dan perubahan tingkah laku seseorang yang dinyatakan dengan cara-cara bertingkah laku yabg baru berkat pengalaman dan latihan. Tingkah laku yang baru itu misalnya dari titik tidak tahu menjadi tahu, timbulnya pengertian baru, perubahan sikap dan kebiasaan-kebiasaan serta keterampilan, kesanggupan menghargai, perkembangan sifat-sifat sosial, emosional dan pertumbuhan jasmaniah.

Berdasarkan pengertian hasil belajar, maka dapat dipahami bahwa hasil belajar adalah hasil yang telah dicapai setelah proses belajar berlangsung. Hasil belajar biasanya diunjukkan dengan nilai atau tes atau angka nilai yang diberikan oleh guru. Angka-angka atau nilai itu menunjukkan prestasi belajar siswa.

Untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan pembelajaran khusus, guru perlu mengadakan tes formatif pada setiap menyajikan suatu bahasan kepada siswa. Penilaian formatif ini untuk mengetahui sejauh mana siswa telah menguasai tujuan pembelajaran khusus yang ingin dicapai. Fungsi penelitian ini adalah untuk memberikan umpan balik pada guru dalam rangka memperbaiki proses belajar mengajar dan melaksanakan program remedial bagi siswa yang belum berhasil. Karena itulah, suatu proses belajar mengajar dinyatakan berhasil apabila hasilnya memenuhi tujuan pembelajaran khusus dari bahan tersebut. 27

Menurut Gagne, ada lima kemampuan sebagai hasil belajar, yaitu: 1) Keterampilan intelektual (suatu kemampuan seorang menjadi komponen

suatu subjek sehingga ia dapat mengklasifikasikan, mengidentifikasi, mendemonstrasikan, dan menggeneralisasikan suatu gejala).

27

(38)

2) Strategi kognitif (kemampuan seseorang untuk bisa mengontrol aktivitas intelektualnya dalam mengatasi masalah yang dihadapi).

3) Informasi verbal (kemampuan seseorang untuk menggunakan bahasa lisan maupun tulisan dalam mengungkapkan suatu masalah).

4) Keterampilan motorik (kemampuan seseorang untuk mengkoordinasikan semua gerak otot secara teratur dan lancer dalam keadaan sadar).

5) Sikap (kedendrungan dalam menerima dan menolak suatu objek sikap).28

Menurut Bugelski, pada sistem pembelajaran biasanya hasil belajar dipengaruhi oleh kualitas guru dan kondisi sekolah, seperti ketersediaan alat-alat dalam belajar.29

Penilaian proses dan hasil belajar dibagi menjadi empat jenis, yaitu:30 1) Penilaian Formatif

Penilaian formatif dimaksudkan untuk memantau kemajuan belajar peserta didik selama proses belajar berlangsung, untuk memberikan balikan (feed back) bagi penyempurnaan program pembelajaran serta untuk mengetahui kelemahan-kelemahan yang memerlukan perbaikan.

2) Penilaian Sumatif

Penilaian sumatif berarti penilaian yang dilakukan jika satuan pengalaman belajar tau seluruh materi pelajaran dianggap telah selesai. Dengan demikian Ujian Akhir Semester (UAS) dan Ujian Nasional (UN) termasuk penilian sumatif.

3) Penilaian Penempatan

Pada umumnya penilaian penempatan dibuat sebagai pratest (pretest). Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah peserta

28

Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2010), hal. 22

29

Muhibbin syah, Psikologi Belajar, (Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2004), hal. 144-145 30

(39)

didik telah memiliki keterampilan-keterampilan yang diperlukan untuk mengikuti suatu program pembelajaran.

4) Penilaian Diagnostik

Penilaian ini dimaksudkan untuk mengetahui kesulitan belajar peserta didik berdasarkan hasil penilaian formatif sebelumnya.

4. Pembelajaran IPS

a. Hakikat IPS

Hakikat IPS adalah telaah tentang manusia dan dunianya. Manusia sebagai makhluk sosial selalu hidu bersama dengan sesamanya. Dengan kemajuan teknologi sekarang ini orang dapat berkomunikasi dengan cepat dimanapun mereka berada melalui handpond dan internet. Kemajuan IPTEK menyebabkan cepatnya komunikasi antara orang satu dengan yang lainnya, dengan demikian arus komunikasi akan semakin cepat. 31

Istilah Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan mata pelajaran di tingkat sekolah atau nama program studi di perguruan tinggi yang identik dengan istilah social studies dalam kurikulum persekolahan di negara lain, khususnya di negara-negara barat seperti Australia dan Amerika Serikat. Nama IPS yang lebih dikenal social studies di negara lain itu merupakan istilah hasil kesepakatan dari para ahli atau pakar kita di Indonesia.32

Dalam kajian Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) terdapat beberapa istilah yang kadang-kadang sering diartikan secara tumpang tindih antara satu dengan yang lain. Istilah-istilah tersebut adalah Studi Sosial, Ilmu-ilmu Sosial, dan Ilmu Pengetahuan Sosial. Istilah itu sama-sama terdapat kata sosial tetapi dalam pengertian dan maknanya ada perbedaan.

31

Rudi Gunawan, Pendidikan IPS Filosofi, Konsep, dan Aplikasi, (Bandung: Alfabeta, 2013), hal. 17-18

32

(40)

Studi Sosial adalah suatu studi yang mengkaji dan menelaah gejala-gejala serta masalah-masalah sosial yang berhubungan perkembangan dan struktur kehidupan manusia. Dan Ilmu Sosial adalah semua disiplin ilmu yang mengkaji tentang tingkah laku kelompok manusia.

Sedangkan Nu’man Sumantri mengartikan Pendidikan IPS yang diajarkan sekolah sebagai “(1) pendidikan IPS yang menekankan pada tumbuhnya nilai-nilai kewarganegaraan, moral idiologi negara dan agama; (2) pendidikan IPS yang menekankan pada isi dan metode berfikir keilmuan sosial; (3) pendidikan IPS yang menekankan pada reflective inquiri; (4) Pendidikan IPS yang mengambil kebaikan- kebaikan dari butir 1, 2, 3 di atas”.33

IPS adalah salah satu mata pelajaran yang diajarkan di sekolah, mulai dari jenjang pendidikan dasar sampai ke pendidikan menengah. Pada jenjang pendidikan dasar pemberian mata pelajaran IPS dimaksudkan untuk membekali siswa dengan pengetahuan dan kemampuan praktis, agara mereka dapat menelaah, mempelajari dan mengkaji fenomena-fenomena serta masalah sosial di sekitar mereka.34

Pengertian IPS merujuk pada kajian yang memusatkan perhatiannya pada aktivitas kehidupan manusia. Berbagi dimensi manusia dalam kehidupan sosialnya merupakan focus kajian dari IPS. Aktivitas manusia dilihat dari dimensi waktu yang meliputi masa lalu, sekarang, dan masa depan. Aktivitas manusia yang berkaitan dalam hubungan dan interaksinya dengan aspek keuangan dan geografis. Aktivitas sosial manusia dalam memenuhi segala kebutuhan hidupnya dalam dimensi arus produksi, distribusi dan konsumsi. Selain itu dikaji juga bagaimana manusia membentuk seperangkat peraturan sosial dalam menjaga pola interaksi

33

Syarifuddin Nurdin, Model Pembelajaran yang Memperhatikan Keragaman Individu Siswa dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi. (Jakarta: Quantum Teaching, 2005) , h. 23

34

(41)

sosial antar manusia dan bagaimana cara manusia memperoleh dan mempertahankan suatu kekuasaan. Pada intinya, focus kajian IPS adalah berbagai aktivitas manusia dalam berbagai dimensi kehidupan sosial sesuai dengan karakteristik manusia sebagai makhuk sosial.

b. Karakteristik Pendidikan IPS

Karakteristik pendidikan IPS SD/MI dilihat dari materi dan strategi penyampaiannya, antara lain sebgai berikut:

1) IPS merupakan perpaduan dari beberapa disiplin ilmu sosial antara lain: sosiologi, geografi, ekonomi, sejarah, politik, hokum, dan Pendidikan Kewarganegaraan.35 Mata pelajaran IPS juga terdiri atas beberapa konsep, prinsip, dan tema yang berkenaan dengan hakikat kehidupan manusia sebagai makhluk sosial.36

2) Cakupan materi dikembangkan dari segala sesuatu atau apa saja yang ada dan terjadi di sekitar anak sejak dari keluarga, sekolah, desa, kecamatan sampai lingkungan yang luas negara dan dunia dengan berbagai permasalahannya.37

3) Kegiatan manusia, misalnya: mata pencaharian, pendidikan, keagamaan, produksi, komunikasi, dan transportasi.

4) Lingkungan geografi dan budaya meliputi segala aspek geografi dan antropologi yang terdapat sejak dari lingkungan anak yang terdekat sampai yang terjauh.

5) Kehidupan masa lampau, perkembangan kehidupan manusia, sejarah yang dimulai dari sejarah lingkungan terdekat sampai yang terjauh, tentang tokoh-tokoh dan kejadian-kejadian yang besar/

6) Anak sebagai sumber materi meliputi berbagai segi, dari makanan, pakaian, permainan, dan keluarga.

35

Nana Supriatna, dkk. Pendidikan IPS di SD, (Bandung: UPI Press, 2008), h. 12 36

Tatang Husen, Karakter IPS 2007, http:tatanghusensmkn7bdg.wordpress.com/karakter-ips/

37

(42)

7) Strategi penyampaian pengajaran IPS pada tingkat Sekolah Dasar menggunakan pendekatan terpadu. Materi disampaikan secara tematik dengan mengambil tema-tema sosial yang terjadi di sekitar siswa. Demikian juga halnya tema-tema sosial yang dikaji berangkat dari fenomena-fenomena serta aktivitas sosial yang terjadi di sekitar siswa. Tema-tema ini kemudian semakin meluas pada lingkungan yang semakin jauh dari lingkaran kehidupan siswa. Pendekatan seperti ini dikenal dengan model pendekatan kemasyarakatan yang meluas (expanding community approach).38

c. Tujuan pembelajaran IPS

Pada dasarnya tujuan dari pendidikan IPS adalah untuk mendidik dan memberi bekal kemampuan dasar kepada siswa untuk mengembangkan diri sesuai dengan bakat, minat, kemampuan dan lingkungannya, serta berbagai bekal bagi siswa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. 39

Tujuan utama IPS ialah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar peka terhadap masalah sosial yang terjadi di masyarakat, memiliki sikap mental positif terhadap perbaikan segala ketimpangan yang terjadi, dan terampil mengatasi seetiap masalah yang terjadi sehari-hari, baik yang menimpa dirinya sendiri maupun yang menimpa masyarakat.40Mata pelajaran IPS bertujuan juga agar peserta didik memliki kemampuan sebagai berikut:

a) Mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungannya.

38

Nana Supriatna, dkk. Loc-cit

39

Etin Solihatin dan Raharjo, Analisis Model Pembelajaran IPS. (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2008), hal. 15

40

(43)

b) Memiliki kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis, rasa ingin tahu, inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampilan dalam kehidupan sosial.

c) Memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan.

d) Memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerjasama dan berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk, di tingkat local, nasional, dan global.

B. Hasil Penelitian yan Relevan

Dalam sebuah penelitian, sebagai bahan perbandingan dan pertimbangan perlu adanya tinjauan pustaka. Hal ini dikarenakan tinjauan pustaka merupakan uraian sistematis tentang hasil-hasil penelitian terdahulu yang memiliki hubungan dengan penelitian yang akan diteliti saat ini. Penelitian yang relevan dengan judul penelitian yang saya buat diantaranya adalah:

1. Fauziyati (809018300193) jurusan KI PGMI yang berjudul “Pengaruh pembelajaran kooperatif tipe jigsaw terhadap hasil belajar siswa pada konsep perubahan kenampakan permukaan bumi”. Dalam penelitiannya dapat disimpulkan bahwasanya terdapat pengaruh metode pembelajaran kooperatif tipe jigsaw terhadap hasil belajar siswa, yang mana rata-rata hasil belajar IPA siswa yang diberikan metode pembelajaran kooperatif tipe jigsaw (kelas eksperimen) lebih tinggi yaitu sebesar 76,50 daripada hasil belajar IPA siswa yang tidak diberikan perlakuan (kelas kontrol) yaitu sebesar 62,33.

(44)

3. Mareta Dwi Satuti (106016200617) yang berjudul “Pengaruh Model Pembalajaran Kooperatif tipe Jigsaw terhadap Hasil Belajar Kimia Siswa pada Konsep Laju Reaksi” dapat disimpulkan bahwa berdasarkan data hasil penelitiannya menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw pada kelas eksperimen mempunyai pengaruh yang lebih baik terhadap hasil belajar kimia siswa dengan nilai rata-rata 70,15 dibandingkan dengan kelas kontrol dengan nilai rata-rata 57,87.

C. Kerangka Berpikir

Pendekatan active learning merupakan suatu pendekatan yang mendorong siswa agar lebih akif saat pembelajaran di kelas dengan menghgunakan metode-metode yang variatif dan menyenangkan. Pada umumnya di kelas gurulah yang selalu aktif saat pembelajaran, bahkan guru menggunakan metode konvensional saat belajar sehingga siswa menjadi bosan saat pembelajaran.

(45)

D. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan teori-teori yang telah diuraikan maka hipotesis penelitian ini sebagai berikut:

1. H0 : Tidak ada pengaruh antara pendekatan active Learning metode poster comment terhadap hasil belajar siswa

(46)

31

Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret – September di semester genap pada tahun ajaran 2013/2014.

Tabel 3.1

Maret April Agustus September

1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

4 Mengumpulkan data-data penelitian

5 Pelaksanaan mengajar di kelas eksperimen

Pelaksana an

6 Pelaksanaan mengajar di kelas kontrol

(47)

B. Metode dan Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode eksperimen semu (quasi eksperimental method) disebut murni karena bukan merupakan eksperimen

murni. .

Metode ini dilakukan dengan membagi kelompok yang ditelliti menjadi dua kelompok, yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, yang kemudian kedua kelompok tersebut di bandingkan. Kelompok eksperimen dalam penelitian ini adalah kelompok yang diberikan perlakuan dengan menggunakan pendekatan active learning metode poster comment. Sedangkan kelompok kontrol adalah kelompok yang tidak diberikan perlakuan, menggunakan model konvensional.41

Adapun desain penelitian yang digunakan adalah Nonrandomized Control Group Design yang dapat digambarkan sebagai berikut:

Tabel 3.2

Nonrandomized Control Group Design

Kelompok Tes awal Perlakuan (X) Tes akhir

Eksperimen T1 X T2

Control T3 - T4

Keterangan :

T1 : Pretest Kelas Eksperimen T2 : Posttest Kelas eksperimen T3 : Pretest Kelas control T4 : Posttest Kelas control

X : Pembelajaran IPSdengan metode Poster Comment

- : Pembelajaran IPS tidak menggunakan metodePoster Comment

41

(48)

C. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Menurut Sutrisno Hadi, “Populasi adalah sejumlah individu yang mempunyai satu sifat yang sama”. Sedangkan menurut Suharsimi Arikunto, “Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian”. Menurut Sugiono, “Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Jumlah populasi dalam penelitian ini adalah 72 siswa dari 2 kelas”.

2. Sample

Dikarenakan populasi kurang dari 100 orang maka penulis menggunakan seluruh dari populasi sebagai sample penelitian ini. Sampel diambil dengan teknik cluster random sampling, yaitu pemilihan sampel bukan didasarkan pada individual, tetapi pada kelompok subjek yang secara alami berkumpul bersama. Maka berdasarkan teknik tersebut diperoleh sampel berjumlah 36 siswa untuk kelompok eksperimen dan 36 siswa untuk kelompok kontrol.

Tabel 3.3

Jumlah siswa kelas IV tahun ajaran 2013/2014

No Kelas L P Jml Ket

1 I 32 32 64 2 Romb

2 II 18 22 40 2 Romb

3 III 37 45 82 2 Romb

4 IV 34 42 76 2 Romb

(49)

6 VI 21 20 41 2 Romb

Total 188 198 386

11 Romb

D. Teknik Pengumpulan Data

1. Tes dapat didefinisikan sebagai suatu pernyataan atau seperangkat tugas yang direncanakan untuk memperoleh informasi tentang sifat atau atribut pendidikan atau psikologik yang setiap butir pertanyaan mempunyai jawaban yang dianggap benar. Dan tes yang dilakukan pada penelitian ini diantaranya sebagai berikut:

a. Pretest merupakan pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh guru sebelum memulai suatu pelajaran. Dan dalam penelitian ini pretest digunakan sebagai mengukur pengetahuan siswa sebelum diberikan perlakuan yaitu metode poster comment.

b. Posttest merupakan bentuk pertanyaan yang diberikan setelah materi telah diberikan, dan dalam penelitian ini posttest digunakan setelah diberikan perlakuan dengan tujuan apakah murid mengalami peningkatan hasil belajar setelah menggunakan metode poster comment.

2. Instrument digunakan untuk memperoleh data mengenai pengaruh metode poster comment dalam proses belajar mengajar. Dan instrument ini berupa tes objektif pilihan ganda dengan 4 alternatif jawaban yang terdiri dari 1-30 pertanyaan.

(50)

4. Observasi, teknik ini dilaksanakan selama proses pembelajaran berlangsung. Dan observasi ini mengamati tentang aktivitas guru dan siswa selama pembelajaran berlangsung.

5. Dokumentasi,dokumentasi ini berupa fhoto-fhoto ketika berlangsungnya penelitian dengan menerapkan metode pembelajaran Poster Comment

Tabel 3.4

Kisi-kisi Instrumen test Hasil Belajar Kognitif No Ranah/jenis

hasil

Jenjang kognitif

Indikator Nomor Butir Soal

1. a.Ranah

1.Dapat memilih

(51)

(C6)

1.Dapat

membedakan 29

Keterangan : C1 : Hafalan C2 : Pemahaman C3 : Penerapan C4 : Analisis C5 : Sintesis C6 : Evaluasi

E. Uji Instrument Penelitian

Data dalam penelitian yang berupa alat tes sebelum diberikan kepada siswa harus diketahui terlebih dahulu apakah tes tersebut baik dan sudah siap diberikan kepada siswa untuk diambil datanya. Pada penelitian ini sebelum digunakan soal (tes) tersebut maka diuji cobakan untuk mengetahui apakah sosal-soal tersebut memenuhi standar persyaratan validitas dan reliabilitas. 1. Uji Validitas

Valid atau tidaknya butir soal dapat diketahui dengan membandingkan rxy dengan rtabel. Apabila rhitung > rtabel maka butir tersebut valid atau sebaliknya. Uji Validitas digunakan rumusproduct moment dengan α =0,05.

(52)

Tabel 3.5

Hasil Uji Validitas Instrumen STATISTIK

Jumlah soal 30

Jumlah siswa 36

Nomor soal valid 1,2,3,6,8,9,11,12,13,15,17,19,20,21,23,24,25,27,28,29

Jumlah soal valid 20

2. Uji Reliabilitas

Reliabilitas alat penilaian adalah ketetapan atau keajengan alat tersebut dalam menilai apa yang dinilainya. Uji reliabilitas untuk soal penilaian ganda dilakukan dengan menggunakan rumus Alpha yaitu. r11 =

Keterangan :

r11 = Reliabilitas yang dicari

∑ = Jumlah varian skor tiap-tiap item

= Varians total

(53)

Perhitungan uji reliabilitas dalam penelitian ini menggunakan bantuan software Anates. Hasil perhitungan daya pembeda dapat dilihat pada tabel

3.6

3.6

Hasil Uji Reliabilitas Instrumen

STATISTIK

rhitung 0,81

Kesimpulan Tingkat reliabilitasnya cukup tinggi

3. Uji Tingkat Kesukaran

Pengujian taraf kesukaran bertujuan untuk mengetahui tingkat mudah atau sukarnya suatu soal. Soal terlalu mudah tidak merangsang siswa untuk mempertinggi usaha memecahkannya dan soal yang terlalu sukar akan menyebabkan siswa menjadi putus asa dan tidak mempunyai semangat untuk mencoba lagi karena diluar jangkauannya indeks kesukaran dihitung menggunakan rumus:42

P =

Keterangan :

P = Indeks kesukaran

B = Banyaknya siswa menjawab soal tersebut dengan benar JS = Jumlah seluruh siswa peserta tes

Kriteria indeks kesukaran ditentukan sebagai berikut

a. Soal dengan P 0,00 sampai 0,30 = soal termasuk kategori sukar b. Soal dengan P 0,30 sampai 0,70 = soal termasuk kategori sedang c. Soal dengan p 0,70 sampai 1,00 = soal termasuk kategori mudah

42

(54)

Perhitungan pengujian taraf kesukaran dalam penelitian ini menggunakan bantuan software Anates. Hasil perhitungan daya pembeda dapat dilihat pada tabel

Tabel 3.7

Hasil Uji Taraf Kesukaran Instrumen soal

kategori Soal

Jumlah

Sangat sukar 0

Sukar 1

Sedang 8

Mudah 10

Sangat mudah 11

Jumlah 30

4. Pengujian Daya Pembeda

Daya pembeda soal adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan antara siswa yang berkemampuan tinggi dengan siswa yang berkemampuan rendah. Rumus perhitungan daya pembeda adalah sebagai berikut43

D=

Keterangan :

D = Daya pembeda

BA = Jumlah siswa yang menjawab benar pada butir soal kelompok atas

43

(55)

BB = jumlah siswa yang menjawab benar pada butir soal kelompok bawah

JA = Banyaknya siswa pada kelompok atas JB = Banyaknya siswa pada kelompok bawah

Kriteria soal-soal berdasarkan daya pembedanya sebagai berikut D = 0,00 - 0,20 daya pembedanya jelek

D = 0,20 - 0,40 daya pembedanya cukup D = 0,40 - 0,70 daya pembedanya baik

D = 0,70 – 1,00 Daya pembedanya baik sekali

Pengujian daya pembeda dalam penelitian ini menggunakan bantuan software Anates. Hasil perhitungan daya pembeda dapat dilihat pada tabel

3.8

Tabel 3.8

Hasil Uji Daya Pembeda

Kategori soal Jumlah soal

Baik sekali 3

Baik 7

Cukup 12

Jelek 8

Jumlah 30

F. Teknik Analisis Data

1. Uji Normalitas

(56)

L = Maks F(Zi)– S(Zi)

Dimana = ̅

Xi = Data tunggal

̅= Rata-rata tunggal = Simpang Baku

2. Uji Homogenitas

Uji Homogenitas dilakukan dilakukan untuk melihat kehomogenan populasi. Uji homogenitas yang dilakukan adalah dengan menggunaknan Uji Fisher.44 yaitu:

Kelompok N Dk

Eksperimen Kontrol

F =

=

Dimana : =

3. Pengujian Hipotesis

Setelah dilakukan pengujian populasi data dengan menggunakan uji normalitas dan uji homogenitas, maka dilakukan uji hipotesis dengan menggunakan uji t. Rumus uji “t” yang digunakan adalah: 45

t = ̅ ̅

Kriteria Pengujian jika Ho di tolak apabilat hitung >ttabel dan Ho di terima apabila t hitung <tabel

44

Sudjana, Metode Statistika, (Bandung: Tarsito, 2001), h. 249 45

(57)

Keterangan :

̅ = rata-rata hasil belajar kelas eksperimen

̅ = rata-rata hasil belajar kelas kontrol

G. Hipotesis Statistik

Hipotesis yang digunakan: Ho : μ1 = μ2

H1 : μ1 μ2 Keterangan :

H0 : Tidak ada pengaruh antara pendekatan active Learning metode poster comment terhadap hasil belajar siswa

HI : Ada pengaruh antara pendekatan active Learning metode poster comment terhadap hasil belajar siswa

μ1:Rata-rata hasil belajar siswa dengan menggunakan metode Poster Comment

(58)

43

BAB IV

HASIL PENELITIAN

A. Gambaran Umum SDN Sunter Agung 11 Pagi Jakarta

1. Sejarah SDN 11 Pagi Jakarta

Maju mundurnya atau berhasil tidaknya suatu pembangunan nasional ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia. Mengingat SDM merupakan aset yang sangat besar bagi suatu bangsa, maka perlu peningkatkan kualitas secara berkesinambungan agar sesuai dengan arah dan kemajuan ilmu pengetahuan dan tehnologi yang berkembang, serta sejalan dengan tujuan pendidikan nasional yakni, Meningkatkan kualitas manusia Indonesia yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian mandiri, profesional serta mempunyai rasa tanggung jawab.

Tujuan pendidikan tersebut dapat dicapai melalui lembaga pendidikan formal maupun non formal, terutama pada jenjang pendidikan dasar yang merupakan salah satu pondasi yang menentukan keberhasilan jenjang pendidikan berikutnya.

2. Data Profil Sekolah

Dalam profil sekolah ini ditunjukkan data-data dan keberadaan sekolah yang mencakup keseluruhan bidang masing-masing sebagai berikut :

a.Nama Sekolah : SDN SUNTER AGUNG 11 PAGI b.Alamat : Jalan Nusantara Selatan

c.Nomor Statistik : 101 016 104 074 d.Nomor Statistik Bangunan : 09.02.03.4.00073

e.Status : Negeri

(59)

g.Instruksi Gubernur DKI : No.1.711.2 / 2389 / 09 – 02 / 282 / P / 1998

h.Status Tanah Bangunan : Milik Pemprov DKI Jak. i.Luas Tanah : 2.800 m²

j.Luas Bangunan : 1.777 m² k.Nomor Sertifikat : AH.593659

l.Kelurahan : Sunter Agung, kec. Tanjung Priok

3. Visi dan Misi

a. Visi

Beraklaq mulia, unggul dalam prestasi, cerdas berpikir berdasarkan iman dan taqwa

b. Misi

1) meningkatkan iman dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa 2) Mengembangkan prestasi siswa

3) Menciptakan lingkungan bersih, indah dan nyaman

4) Mengembangkan kerjasama dalam masyarakat yang cinta pendidikan 5) Menjadikan sekolah sebagai produk mengukur prestasi

4. Tujuan Pendidikan

a. Agar peserta didik menjadi manusia yang beriman, bertaqwa, berakhlak mulia

b. Agar peserta didik mampu mengembangkan potensi pada dirinya, memiliki Kecerdasan dan ketrampilan untuk mengikuti pendidikan lebih lanjut.

5. Sarana & Prasarana Sekolah

Figur

Gambar 4.2 Kerjasama siswa saat mengikuti pembelajaran
Gambar 4 2 Kerjasama siswa saat mengikuti pembelajaran . View in document p.14
Tabel  3.1        Jadwal Penelitian
Tabel 3 1 Jadwal Penelitian . View in document p.46
Tabel 3.2 Nonrandomized Control Group Design
Tabel 3 2 Nonrandomized Control Group Design . View in document p.47
Tabel 3.3
Tabel 3 3 . View in document p.48
Tabel 3.4 Kisi-kisi Instrumen test Hasil Belajar Kognitif
Tabel 3 4 Kisi kisi Instrumen test Hasil Belajar Kognitif . View in document p.50
Tabel 3.5 Hasil Uji Validitas Instrumen
Tabel 3 5 Hasil Uji Validitas Instrumen . View in document p.52
Tabel 3.7 Hasil Uji Taraf Kesukaran Instrumen soal
Tabel 3 7 Hasil Uji Taraf Kesukaran Instrumen soal . View in document p.54
Tabel 4.1
Tabel 4 1 . View in document p.61
Tabel 4.2
Tabel 4 2 . View in document p.63
Tabel 4.3
Tabel 4 3 . View in document p.64
Tabel 4.4
Tabel 4 4 . View in document p.66
Tabel 4.5
Tabel 4 5 . View in document p.67
Nilai  Tabel 4.7 Post-test Kelas Kontrol (IV A)
Nilai Tabel 4 7 Post test Kelas Kontrol IV A . View in document p.69
   Tabel 4.8               Distribusi Frekuensi Hasil Posttest Kelas Kontrol
Tabel 4 8 Distribusi Frekuensi Hasil Posttest Kelas Kontrol . View in document p.71
Tabel  4.9 Hasil Uji Normalitas Pretest Kelas Kontrol dan Eksperimen
Tabel 4 9 Hasil Uji Normalitas Pretest Kelas Kontrol dan Eksperimen . View in document p.72
Tabel  4.10
Tabel 4 10 . View in document p.73
Tabel 4.11
Tabel 4 11 . View in document p.74
Gambar 4.2 Kerjasama siswa saat mengikuti pembelajaran
Gambar 4 2 Kerjasama siswa saat mengikuti pembelajaran . View in document p.76
Gambar 4.1
Gambar 4 1 . View in document p.76
gambar yang
gambar yang . View in document p.98
gambar yang
gambar yang . View in document p.108
gambar yang
gambar yang . View in document p.128
Tabel 3.5 KISI-KISI INSTRUMEN TEST
Tabel 3 5 KISI KISI INSTRUMEN TEST . View in document p.138
gambar yang
gambar yang . View in document p.146
gambar yang
gambar yang . View in document p.148
gambar yang
gambar yang . View in document p.149

Referensi

Memperbarui...