• Tidak ada hasil yang ditemukan

Recreation Landscape Management of Ocean Ecopark at Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta Utara

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Recreation Landscape Management of Ocean Ecopark at Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta Utara"

Copied!
273
0
0

Teks penuh

(1)

DENISSA VIKADITYA PARAMASTRI

DEPARTEMEN ARSITEKTUR LANSKAP FAKULTAS PERTANIAN

(2)

Dengan ini, saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul “Pengelolaan Lanskap

Kawasan Rekreasi Ocean Ecopark di Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta Utara” adalah benar merupakan hasil karya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Semua sumber data dan informasi, baik yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun yang tidak diterbitkan dari penulis lain, telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan pada Daftar Pustaka skripsi ini.

Bogor, Desember 2012

(3)

DENISSA VIKADITYA PARAMASTRI. Recreation Landscape Management of Ocean Ecopark at Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta Utara. Supervised by WAHJU QAMARA MUGNISJAH.

In this modern era, recreation becomes an important element for human life. Recreational options are increasingly diverse and interesting. Along with the rise of the enviromental sustainability issue and the high human need for a recreational green open space, recreational areas associated with nature is more and more popping up. Taman Impian Jaya Ancol being one of recreation industry that can answer the needs of society quickly. This is indicated by the presence of a new recreation area that offers the comfort of the environment with a large green open spaces, namely Ocean Ecopark . The success and sustainability of recreational places are determined by a good management system. From intership activity in Ocean Ecopark, the student expected to learn the process of managing recreation areas in depth and provide an alternative landscape management strategies for solving any problems arise. To solve the problems, student used alternative strategies using SWOT analysis that produced seven points to be input for the Ocean Ecopark management.

(4)

DENISSA VIKADITYA PARAMASTRI. PENGELOLAAN LANSKAP KAWASAN REKREASI OCEAN ECOPARK DI TAMAN IMPIAN JAYA ANCOL, JAKARTA UTARA. Dibimbing oleh WAHJU QAMARA MUGNISJAH.

Di era modern ini rekreasi menjadi unsur penting bagi kehidupan manusia. Kegiatan rekreasi ini bertujuan melepas kejenuhan akan rutinitas sehari-hari. Rekreasi juga berdampak positif bagi kehidupan manusia karena dapat menimbulkan rasa senang dan menghilangkan stress. Taman rekreasi menjadi salah satu alternatif wisata untuk melepaskan kepenatan dari rutinitas keseharian. Pilihan tempat rekreasi pun semakin beragam dan menarik. Seiring dengan maraknya isu tentang kelestarian lingkungan dan tingginya kebutuhan manusia akan ruang terbuka hijau yang rekreatif, tempat rekreasi yang berhubungan dengan alam pun semakin banyak bermunculan. Taman Impian Jaya Ancol menjadi salah satu industri rekreasi yang dapat menjawab kebutuhan masyarakat dengan cepat, hal ini ditunjukkan dengan hadirnya tempat rekreasi baru yang menawarkan kenyamanan lingkungan dengan ruang terbuka hijau yang luas, yaitu Ocean Ecopark. Ocean Ecopark adalah tempat rekreasi yang mengedepankan kelangsungan ekosistem alam sehingga masyarakat tidak hanya menikmati wahana rekreasi, tetapi juga dapat menikmati lingkungan yang serasi dengan alam. Selain itu, Ocean Ecopark juga menyajikan kepada masyarakat akan arti pentingnya membangun lingkungan yang kondusif bagi pengembangan sebuah ekosistem dan keragaman hayati.

Dalam kegiatan magang yang dilaksanakan di bawah bimbingan Manager Operasional dan Kepala Bagian Pemeliharaan Lingkungan Ocean Ecopark, Taman Impian Jaya Ancol, dipelajari sistem pengelolaan yang diterapkan dalam suatu kawasan rekreasi. Mahasiswa mempelajari sistem organisasi perusahaan serta alur koordinasinya, serta berpartisipasi aktif dalam kegiatan pengelolaan baik secara administratif maupun operasional di lapang. Pengambilan data dilakukan dengan cara pengamatan langsung, wawancara pihak pengelola dan instansi terkait, penyebaran kuisioner, dan studi literatur.

(5)

olahraga outdoor yang variatif, mudah dijangkau dan nyaman secara fungsional dan estetika; (2) meningkatkan promosi terhadap wahana rekreasi yang ada; (3) menjalin hubungan baik dengan instansi-instansi yang peduli akan aksi go green atau greenlife style; (4) mempertahankan keunggulan area rekreasi dalam hal pelayanan dan mutu; (5) mengembangkan wahana dan kegiatan rekreasi dengan inovasi-inovasi baru agar semakin menarik minat pengunjung; (6) melengkapi kekurangan fasilitas yang dibutuhkan pengunjung untuk mempertahankan kinerja Ocean Ecopark sebagai tempat rekreasi; (7) memanfaatkan kemajuan teknologi dan pengetahuan tentang alat-alat pertamanan dalam merespon perubahan iklim dan alam.

Tujuh alternatif strategi yang didapatkan dengan prioritasnya masing-masing diharapkan dapat menjadi masukan bagi pihak pengelola Ocean Ecopark untuk mengembangkan Ocean Ecopark sebagai tempat rekreasi yang nyaman, aman, indah, bersih, dan selaras dengan alam. Selain itu, dalam pengembangannya, Ocean Ecopark harus berpedoman pada pengertian dasar ecopark, yaitu suatu taman ekologis yang berbasis rekreasi alam dengan tujuan untuk meningkatkan interaksi manusia dengan lingkungan dan konsep-konsep pengembangan yang ada masih perlu ditingkatkan agar tujuan awal Ocean Ecopark sebagai ecopark dapat tercapai.

(6)

© Hak cipta milik IPB, tahun 2012

Hak cipta dilindungi undang-undang

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya diizinkan untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan

kritik, atau tinjauan suatu masalah, dan pengutipan tersebut tidak merugikan IPB.

(7)

DENISSA VIKADITYA PARAMASTRI

Skripsi

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada

Departemen Arsitektur Lanskap

DEPARTEMEN ARSITEKTUR LANSKAP FAKULTAS PERTANIAN

(8)

Nama : Denissa Vikaditya Paramastri

NRP : A44080023

Program Studi : Arsitektur Lanskap

Menyetujui, Dosen Pembimbing

Prof. Dr. Ir. Wahju Qamara Mugnisjah, M. Agr. NIP 19491105 197403 1 001

Mengetahui,

Ketua Departemen Arsitektur Lanskap

Dr. Ir. Siti Nurisjah, MSLA NIP 19480912 197412 2 001

(9)

Denissa Vikaditya Paramastri dilahirkan di Semarang pada tanggal 20 September 1990. Penulis merupakan anak pertama dari dua bersaudara dari pasangan Drs. Eko Timur Putranto Wardhoyo dan Vita Triargini.

Penulis memulai pendidikan di SDN Polisi 4, Bogor, pada tahun 1996 sampai dengan 2002. Kemudian pada tahun 2002 sampai dengan 2005 penulis mengenyam pendidikan di SMP Negeri 1, Bogor. Selanjutnya, pada tahun 2005 sampai dengan 2008 penulis mengenyam pendidikan di SMA Negeri 1, Bogor.

(10)

Puji syukur dipanjatkan kepada Allah Swt. atas berkat dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pengelolaan Lanskap Kawasan Rekreasi Ocean Ecopark di Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta

Utara”.

(11)

dukungan, dan motivasi yang tiada henti-hentinya diberikan kepada penulis, serta seluruh teman-teman yang tidak mungkin disebutkan satu per satu dan seluruh pihak yang telah memberikan motivasi, saran, nasehat, dukungan, dan bantuan untuk penulis selama proses penyusunan skrpsi ini.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih banyak mengandung kekurangan. Penulis berharap adanya saran dan kritik yang membangun agar dapat bermanfaat bagi pihak yang berkepentingan.

Bogor, Desember 2012

Penulis

(12)

Halaman

DAFTAR GAMBAR ... v

DAFTAR TABEL ... vii

DAFTAR LAMPIRAN ... viii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Tujuan ... 2

1.3 Manfaat ... 2

1.4 Kerangka Pikir ... 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 4

2.1 Pengelolaan dan Pemeliharaan Lanskap ... 4

2.2 Wisata dan Rekreasi ... 4

2.3 Manajemen Pemeliharaan Taman Rekreasi... 5

2.4 Rekreasi Ekologi ... 8

BAB III METODOLOGI ... 10

3.1 Lokasi dan Waktu Pelaksanaan Magang ... 10

3.2 Alat dan Bahan ... 10

3.3 Metodologi ... 10

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 22

4.1 Kondisi Umum ... 22

4.1.1 Sejarah Taman Impian Jaya Ancol ... 22

4.1.2 Letak dan Aksesibilitas ... 23

4.1.3 Luas dan Batas Kawasan ... 25

4.1.4 Iklim ... 25

4.1.5 Hidrologi ... 26

4.1.6 Topografi dan Tanah ... 27

4.1.7 Vegetasi ... 28

4.1.8 Satwa ... 29

4.1.9 Sosial dan Ekonomi ... 29

(13)

4.2.1 Konsep Hijau ... 41

4.2.2 Konsep Biru ... 42

4.2.3 Konsep Merah ... 42

4.2.4 Konsep Kawasan ... 43

4.3 Pengelolaan Lanskap Ocean Ecopark ... 47

4.3.1 Struktur Organisasi ... 47

4.3.2 Kontraktor Pemeliharaan dan Kebersihan Taman ... 48

4.3.3 Tenaga Kerja dan Penjadwalan Pemeliharaan Taman ... 50

4.3.4 Peralatan dan Bahan Pemeliharaan Taman ... 53

4.3.5 Pemeliharaan Lanskap ... 55

4.3.6 Anggaran Pemeliharaan Taman dan Kebersihan ... 65

4.3.7 Pengawasan dan Evaluasi Pekerjaan Taman ... 66

4.4 Karateristik dan Penilaian Pengunjung ... 68

4.5 Analisis SWOT ... 75

4.5.1 Identifikasi Faktor Internal ... 75

4.5.2 Identifikasi Faktor Eksternal ... 76

4.5.3 Pembuatan Matriks IFE dan EFE ... 77

4.5.4 Pencocokan ... 78

4.5.5 Penentuan Alternatif Strategi ... 79

4.5.6 Pemeringkatan Alternatif Strategi SWOT ... 80

4.6 Strategi Pengelolaan ... 81

BAB V SIMPULAN DAN SARAN ... 89

5.1 Simpulan ... 89

5.2 Saran ... 90

DAFTAR PUSTAKA ... 91

LAMPIRAN ... 93

(14)

Halaman

1. Kerangka Pikir ... 3

2. Peta Lokasi Ocean Ecopark ... 10

3. Diagram Kuadran IPA ... 14

4 Formulir Matriks IE ... 19

5 Jumlah Pengunjung Ocean Ecopark Bulan Januari-April ... 30

6 Kondisi Signage yang Rusak ... 33

7 Kegiatan Panen di EcoLearning Farm ... 34

8 Bercocok Tanam dengan Menggunakan Caping ... 35

9 Pertunjukan Fantastique... 35

10 Peta Outbondholic ... 36

11 Salah Satu Trek pada Sirkuit Dewasa ... 37

12 Pemain dengan Kelengkapan Paintball ... 38

13 Fun Boat Cruiser ... 39

14 Commuter Area ... 40

15 Peta Konsep Kawasan Ocean Ecopark ... 43

16 Plaza Ecoenergy... 44

17 Ecoisland Toyota ... 45

18 Suasana Jalur Sepeda Econature ... 46

19 Kegiatan Memberi Pakan Ikan ... 46

20 Alur Kordinasi Sistem Organisasi ... 48

21 Alur Proses Tender ... 49

22 Penyiraman Taman Menggunakan Mobil Tangki ... 56

23 Penggunaan Alkon untuk Penyiraman Taman ... 56

24 Penyiraman Tambahan Menggunakan Torn ... 57

25 Kegiatan Pendangiran dan Penyiangan Gulma... 59

26 Kegiatan Pemupukan ... 60

27 Kegiatan Penyapuan ... 61

(15)

31 Pencabutan Rumput Liar pada Paving ... 65 32 Alur Kordinasi Pengawasan Pekerjaan Taman dan Kebersihan... 66 33 Persentase Pengunjung Ocean Ecopark Berdasarkan Umur ... 68 34 Persentase Pengunjung Ocean Ecopark Berdasarkan Tingkat Pendidikan .. 69 35 Persentase Pengunjung Ocean Ecopark Berdasarkan Jumlah Pendapatan

Perbulan ... 69 36 Persentase Pengunjung Ocean Ecopark Berdasarkan Jenis Pekerjaan ... 70 37 Persentase Pengunjung Ocean Ecopark Berdasarkan Lama Kunjungan ... 70 38 Persentase Pengunjung Ocean Ecopark Berdasarkan Tujuan Kunjungan .... 71 39 Persentase Pengunjung Ocean Ecopark Berdasarkan Frekuensi

Kunjungan... 71 40 Persentase Pengunjung Ocean Ecopark Berdasarkan Kendaraan yang

Digunakan ... 72 41 Persentase Pengunjung Ocean Ecopark Berdasarkan Pendamping Saat

Berkunjung ... 72 42 Grafik Penilaian Pengunjung terhadap Ocean Ecopark Menggunakan

IPA ... 73 43 Matriks IE Ocean Ecopark... 78

(16)

Halaman

1. Atribut Penilaian IPA ... 12

2. Bobot Tingkat Kinerja dan Kepentingan ... 13

3. Penentuan Bobot Faktor Internal ... 16

4. Penentuan Peringkat Faktor Internal ... 16

5. Matriks IFE ... 17

6. Penentuan Bobot Faktor Eksternal ... 17

7. Penentuan Peringkat Faktor Eksternal ... 18

8. Matriks EFE ... 18

9. Formulir Matriks SWOT ... 20

10. Formulir Penentuan Peringkat Alternatif Strategi ... 21

11. Pembagian Luasan Ocean Ecopark ... 25

12. Data Iklim Rata-Rata Tahun 2006-2011... 26

13. Jumlah Satwa yang Dipelihara oleh Ecopark Ancol ... 29

14. Sarana dan Prasarana di Ocean Ecopark ... 31

15. Harga Tiket Wahana Rekreasi Ocean Ecopark ... 41

16. Pembagian Wilayah Kerja Pemeliharaan Taman Ocean Ecopark ... 51

17. Frekuensi Item Pekerjaan Taman Ocean Ecopark ... 52

18. Kapasitas Tenaga Kerja Pemeliharaan Taman Ocean Ecopark ... 53

19. Peralatan dan Bahan Pemeliharaan Taman dan Kebersihan Ocean Ecopark selama 1 tahun ... 54

20. Matriks IFE ... 77

21. Matriks EFE ... 78

22. Matriks SWOT Ocean Ecopark ... 79

23. Peringkat Alternatif Strategi SWOT ... 80

(17)

Halaman

1. Jenis Data dan Pengamatan ... 94

2. Kuisioner Penilaian Pengunjung ... 95

3. Kuisioner SWOT ... 100

4. Perhitungan Bobot Faktor Internal dan Eksternal ... 107

5. Perhitungan Peringkat Faktor Internal dan Eksternal ... 108

6. Data Vegetasi Ocean Ecopark ... 109

7. Struktur Organisasi Ocean Ecopark... 111

8. Surat Perintah Kerja Kontraktor Pemeliharaan ... 112

9. Peta Kawasan Ocean Ecopark ... 113

10. Peta Wilayah Pemeliharaan Ocean Ecopark... 114

11. Standar Penampilan dan Pedoman Perilaku Kerja Pertamanan ... 115

(18)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Di era modern ini rekreasi menjadi unsur penting bagi kehidupan manusia. Kegiatan rekreasi bertujuan melepas kejenuhan rutinitas sehari-hari. Rekreasi juga berdampak positif bagi kehidupan manusia karena dapat menimbulkan rasa senang dan menghilangkan stress. Rekreasi sekarang ini menyuguhkan suatu bentuk rehabilitasi secara mental dan fisik dan telah menjadi fokus utama dalam lingkungan industrial yang modern (Kraus,1977).

Pilihan tempat rekreasi semakin beragam dan menarik. Seiring dengan maraknya isu tentang kelestarian lingkungan dan tingginya kebutuhan manusia akan ruang terbuka hijau yang rekreatif, tempat rekreasi yang berhubungan dengan alam pun semakin banyak bermunculan. Taman rekreasi menjadi salah satu alternatif wisata untuk melepaskan kepenatan dari rutinitas keseharian. Taman Impian Jaya Ancol merupakan salah satu industri rekreasi yang dapat menjawab kebutuhan masyarakat tersebut, hal ini ditunjukkan dengan hadirnya taman rekreasi baru yang menawarkan kenyamanan lingkungan dengan ruang terbuka hijau yang luas, yaitu Ocean Ecopark.

Ocean Ecopark yang dibangun di atas lahan seluas 33,8 ha adalah tempat rekreasi yang mengedepankan kelangsungan ekosistem alam sehingga masyarakat tidak hanya menikmati wahana rekreasi, tetapi juga dapat menikmati lingkungan yang serasi dengan alam. Selain itu, Ocean Ecopark juga menyajikan kepada masyarakat mengenai arti penting dalam membangun lingkungan yang kondusif bagi pengembangan sebuah ekosistem dan keragaman hayati. Dengan demikian, Ocean Ecopark dapat dimanfaatkan sebagai sarana pendidikan lingkungan hidup.

(19)

masyarakat. Kehadiran Ocean Ecopark ini dirancang untuk memperkuat koridor hijau dan menjadi pusat paru-paru di Taman Impian Jaya Ancol.

Ocean Ecopark merupakan tempat rekrerasi baru yang memerlukan strategi pengelolaan. Perumusan strategi pengelolaan Ocean Ecopark tentunya harus melihat segala aspek secara terpadu untuk mengetahui potensi dan kendalanya. Oleh karena itu, diperlukan adanya penyusunan strategi pengelolaan yang direncanakan dengan baik dan tepat agar tujuan awal dari pembangunan tempat rekreasi ini dapat tercapai dan berkelanjutan.

1.2 Tujuan

Tujuan dari kegiatan magang ini adalah sebagai berikut:

1. mempelajari segala proses pengelolaan yang dikerjakan secara nyata;

2. meningkatkan pengetahuan dan kemampuan dalam bidang pengelolaan lanskap kawasan rekreasi, khususnya dalam hal pengelolaan Ocean Ecopark;

3. memberikan alternatif strategi pengelolaan untuk pemecahan permasalahan pengelolaan lanskap Ocean Ecopark.

1.3 Manfaat

Kegiatan magang ini diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan di bidang pengelolaan lanskap dan memberikan pengalaman kerja nyata untuk mahasiswa. Kegiatan magang menyediakan kesempatan bagi mahasiswa untuk memberikan masukan bagi pihak pengelola Ocean Ecopark agar pengelolaan yang dijalankan dapat berjalan secara berkelanjutan.

1.4 Kerangka Pikir

(20)

Keseluruhan aspek ini harus dilihat secara terpadu agar diketahui potensi dan kendalanya. Perumusan potensi dan kendala tersebut diketahui melalui kegiatan magang, dimana mahasiswa dapat terlibat dalam kegiatan-kegiatan pengelolaan yang berlangsung. Selanjutnya, dengan analisis SWOT strategi pengelolaan yang tepat bagi Ocean Ecopark dapat dirumuskan agar tujuan pembangunannya dapat terwujud secara berkelanjutan. Kerangka pikir dapat dilihat pada Gambar 1.

(21)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengelolaan dan Pemeliharaan Lanskap

Pengelolaan lanskap merupakan sebuah upaya terpadu dalam penataan, pemanfaatan, pemeliharaan, pelestarian, pengawasan, pengendalian, dan pengembangan lingkungan hidup sehingga tercipta lanskap yang bermanfaat bagi manusia dan makhluk hidup lainnya (Arifin dan Arifin, 2005). Menurut Arifin dan Arifin (2005), pemeliharaan merupakan bagian dari pengelolaan yang dimaksudkan untuk menjaga dan merawat areal lanskap dengan segala fasilitas yang ada di dalamnya agar tetap baik dan sesuai dengan tujuan desain fungsi semula.

Pemeliharaan dibagi menjadi dua, yaitu pemeliharaan ideal dan pemeliharaan fisik. Pemeliharaan ideal merupakan pemeliharaan yang mengacu pada tujuan dan desain semula sehingga pada periode waktu tertentu diadakan suatu evaluasi (Arifin dan Arifin, 2005). Pemeliharaan fisik dilakukan terhadap elemen keras dan lunak. Pemeliharaan elemen lunak merupakan pemeliharaan terhadap elemen taman berupa tanaman dan satwa yang meliputi penyiraman, pemangkasan, penyiangan, pemupukan, dan penyemprotan hama dan penyakit. Pemeliharaan elemen keras merupakan pemeliharaan terhadap elemen taman seperti bangunan taman dan lantai yang meliputi penyapuan, pembersihan kanal dan saluran, pengangkutan sampah, dan pemeliharaan paving dan pedestrian.

2.2 Wisata dan Rekreasi

Wisata adalah kegiatan perjalanan seseorang atau sekelompok orang untuk sementara dalam jangka waktu tertentu ke tujuan-tujuan di luar tempat mereka tinggal dan tempat rutinitas bekerja, untuk tujuan kesenangan (Gunn dan Var, 2002).

(22)

saat waktu luang dan tidak ada hubungannya dengan pekerjaan. Aktivitas tersebut biasanya juga bersifat menyenangkan, dan jika kegiatan tersebut merupakan bagian dari komunitas yang tersusun dengan baik atau suatu agen perjalanan, kegiatan tersebut akan bersifat membangun dari segi sosial bagi seseorang yang mengikutinya.

Pada umumnya, rekreasi dan wisata memiliki tujuan yang sama, yaitu untuk mendapat kenikmatan dan penyegaran kembali mental dan fisik. Tempat tujuan bagi orang yang melakukan wisata merupakan suatu kesatuan ruang tertentu yang dapat menarik keinginan untuk berekreasi. Setiap ruang umum dan pribadi yang diperuntukkan bagi penggunaan rekreasi merupakan area rekreasi (Gold,1980).

Simonds dan Starke (2006) menggambarkan taman rekreasi sebagai tempat berbagai bentuk, gerakan, suara, warna, dan ilusi yang menyenangkan. Atmosfer yang tercipta di dalamnya harus dapat mengejutkan, menarik, mengagumkan, sekaligus menggembirakan pengunjungnya.

2.3 Manajemen Pemeliharaan Taman Rekreasi

Pemeliharaan taman memerlukan manajemen yang baik. Menurut Stoner dan Freeman (1994), manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pemimpinan, dan pengedalian upaya anggota organisasi dan proses penggunanaan semua sumber daya organisasi untuk tercapainya tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Sternloff dan Warren (1984) menyatakan bahwa pemeliharaan lanskap dimaksudkan untuk menjaga dan merawat areal lanskap dengan segala fasilitas yang ada di dalamnya agar kondisinya tetap baik dan sedapat mungkin mempertahankan keadaan yang sesuai dengan rancangan dan desain semula.

Manjamen pemeliharaan suatu areal atau kawasan memiliki prinsip dasar. Menurut Sternloff dan Warren (1984), prinsip dasar tersebut adalah sebagai berikut.

1. Tujuan dan standar pemeliharaan harus ditetapkan.

2. Pemeliharaan harus dilaksanakan dengan waktu, tenaga kerja, peralatan, dan bahan yang ekonomis.

(23)

4. Jadwal pekerjaan pemeliharaan harus didasarkan pada kebijakan dan prioritas.

5. Pengelola pemeliharaan hendaknya menekankan pada pemeliharaan untuk pencegahan.

6. Pengelola pemelihara harus terorganisir dengan baik.

7. Suatu agen taman rekreasi harus memiliki sumber dana yang cukup untuk mendukung program pemeliharaan.

8. Suatu agen taman rekreasi harus menyediakan tenaga kerja yang cukup untuk melaksanakan fungsi-fungsi pemeliharaan.

9. Program pemeliharaan harus dirancang untuk melindungi lingkungan alami. 10. Pengelola pemeliharan harus bertanggung jawab terhadap keamanan umum

dan pegawai pemeliharaan.

11. Dalam desain dan kontruksi suatu taman rekreasi dan fasilitasnya, pemeliharaan hendaknya menjadi pertimbangan awal saat pembangunan. 12. Para pegawai pemeliharaan bertanggung jawab terhadap pencitraan khalayak

umum dan pihak pengelolaaan taman rekreasi.

Pemeliharaan lanskap memerlukan manajemen yang terjadwal dengan baik agar semua kegiatan berjalan dengan lancar dan tepat. Menurut Sternloff dan Warren (1984), perencanaan pengelolaan yang baik dan logis harus mencakup hal-hal seperti berikut:

1. inventarisasi lengkap seluruh area taman rekreasi, fasilitas, dan peralatan yang akan dipelihara;

2. perencanaaan pemeliharaan rutin secara tertulis yang meliputi

a. standar pemeliharaan seluruh area, fasilitas, dan peralatan yang telah didata dalam inventarisasi,

b. pengidentifikasian dan pembuatan daftar kegiatan pemeliharaan rutin untuk mencapai standar yang telah ditetapkan,

c. prosedur yang menerangkan metode yang efisien dalam melaksanakan kegiatan pemeliharaan rutin,

(24)

g. peralatan untuk melaksanakan kegiatan, dan h. pendugaan waktu yang akurat;

3. cara pelaksanaan pemeliharaan yang bersifat tidak rutin dan insidental seperti pekerjaan perbaikan atau persiapan untuk suatu acara khusus;

4. pemeliharaan yang bersifat pencegahan terhadap kondisi yang dapat mempercepat kerusakan melalui inspeksi yang sistematik dan terjadwal; 5. jadwal penugasan untuk tipe pekerjaan pemeliharaan yang meliputi

perorangan, tim, atau kontraktor sehingga dapat terpantau dengan baik;

6. sistem untuk mendesain dan merencanakan pekerjaan, jadwal pemeliharaan, dan pengawasan beban kerja;

7. sistem analisis dan pengawasan biaya pemeliharaan.

Pada suatu taman rekreasi berskala besar, biasanya manajemen pemeliharaan dibentuk dalam suatu sistem organisasi. Sistem organisasi ini biasanya dibagi dalam beberapa seksi yang spesifik. Menurut Arifin dan Arifin (2005), seksi-seksi yang diperlukan dalam manjemen pemeliharaan agar mencapai efisiensi dan efektivitas kerja, antara lain, sebagai berikut:

1. Seksi Pemeliharaan Taman, yang meliputi berbagai pekerjaan pemeliharaan semua tanaman;

2. Seksi Pemeliharaan Bangunan Taman, yang meliputi berbagai pekerjaan pemeliharaan elemen keras taman;

3. Seksi Teknik Perpipaan dan Utilitas, yang meliputi pengawasan, pemeliharaan, dan pengontrolan terhadap keseluruhan utilitas;

4. Seksi Bengkel dan Pergudangan, yang meliputi inventarisasi seluruh peralatan pemeliharaan, pengontrolan kelancaraan kerja alat, dan perbaikan apabila terdapat kerusakan.

Jika dilihat dari segi penanggung jawab pekerjaan pemeliharaan, menurut Sternloff dan Warren (1984), terdapat tiga sistem/metode pemeliharaan berikut: 1. sistem pemeliharaan unit, yaitu sistem dengan setiap unit taman mempunyai

tim pemeliharaan tersendiri;

(25)

3. sistem pemeliharan secara kontrak, yaitu seluruh pekerjaan pemeliharaan diserahkan dan dikerjakan oleh kontraktor.

Kapasitas kerja pegawai pemeliharaan berpengaruh terhadap efesiensi biaya pemeliharaan. Kemampuan dan keterampilan tenaga kerja sangat dibutuhkan agar pemeliharan dapat berjalan dengan maksimal. Efektivitas tenaga kerja menurut Sternloff dan Warren (1984) sangat ditentukan oleh

1. motivasi kerja dan tingkat keterampilan yang dimiliki oleh pegawai; 2. sistematika jadwal perencanaan pemeliharaan;

3. ketersediaan alat dan bahan yang sesuai dengan kebutuhan; 4. tingkat pengawasan kerja di lapangan;

5. kelancaran komunikasi antara pimpinan dan pegawai.

Untuk kolam di taman rekreasi yang berukuran besar atau jumlahnya relatif banyak, misalnya, diperlukan kontrol sistem distribusi air bersih dan filtrasi air kolam. Sistem air bersih terdiri dari pompa air bersih, pompa deep well (bila menggunakan sumber air tanah), hydrofor, dan pompa drain. Sistem filtrasi berfungsi untuk menyaring air kolam sehingga air yang dihisap pompa tidak terlalu banyak membawa kotoran (Arifin dan Arifin, 2005). Kerusakan aliran air harus dapat diperbaiki sesegera mungkin. Pengelola pemeliharaan harus dapat menjaga blueprints dan gambar akurat dari seluruh lokasi aliran atau pipa air pada suatu fasilitas taman rekreasi.

2.4 Rekreasi Ekologi

Ekologi secara umum didefinisikan sebagai studi tentang interaksi antara organisme dengan lingkungan sekitanya dan lanskap adalah sebuah mosaik yang merupakan bagian dari ekosistem lokal dan penggunaan lahan (Dramstad et al., 1996). Menurut Dramstad et al. (1996), ekologi lanskap dengan cepat muncul di dekade terakhir ini menjadi sesuatu yang sangat penting dalam praktik seorang perencana penggunaan lahan dan arsitek lanskap.

(26)

kontradiksi antara perlindungan alam dengan travel massa dan hal ini merupakan tantangan dalam perencanaan rekreasi berbasis ekologi (Gunn dan Var, 2002).

(27)

BAB III METODOLOGI

3.1 Lokasi dan Waktu Pelaksanaan Magang

Kegiatan magang dilaksanakan di Ocean Ecopark Ancol yang terletak di Jalan Lodan Timur No.7, Jakarta Utara (Gambar 2). Ocean Ecopark yang terletak di kawasan rekreasi terpadu memiliki luas 33,8 ha.

Pelaksanaan kegiatan magang dilakukan selama tiga bulan dari pertengahan bulan Februari 2012 sampai dengan pertengahan bulan Mei 2012. Kegiatan magang ini meliputi seluruh kegiatan dan proses pekerjaan yang berkaitan dengan pengelolaan lanskap yang dikerjakan oleh pihak pengelola baik secara lapangan maupun administratif.

Sumber: Anonim (2011)

Gambar 2. Peta Lokasi Ocean Ecopark Ancol

3.2 Alat dan Bahan

Kegiatan magang ini memerlukan alat-alat seperti perekam suara, kamera digital, alat tulis, alat gambar, dan komputer. Bahan yang dibutuhkan adalah catatan, kuisioner, data aspek fisik-biofisik, sosial ekonomi dan pengelolaan.

3.3 Metodologi

(28)

3.3.1 Persiapan

Pada tahap ini dilakukan persiapan berupa penentuan lokasi yang sesuai dengan bidang arsitektur lanskap, pembuatan proposal, perizinan kegiatan magang pada pihak pengelola, serta pencarian informasi umum tentang kondisi saat ini di tempat magang.

3.3.2 Inventarisasi

Kegiatan dalam proses inventarisasi adalah pengumpulan data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari pengamatan langsung pada tapak dan wawancara terhadap pihak pengelola serta pengunjung kawasan rekreasi. Data sekunder dapat diperoleh dari studi literatur yang berasal dari buku-buku teks, brosur, internet, skripsi, dan tesis.

Dalam proses inventarisasi juga dilakukan identifikasi terhadap manajemen kerja pengelolaan Ocean Ecopark melalui proses pengenalan kelembagaan dan pelaksanaan kegiatan pengelolaan yang bersifat partisipasi aktif. Pengenalan kelembagaan ini bertujuan mengetahui dan memahami tujuan pembangunan dan pengelolaan Ocean Ecopark, melalui sejarah kawasan, struktur organisasi, dan prosedur pelaksanaan pengelolaan kawasan, sedangkan pelaksanaan kegiatan pengelolaan adalah keikutsertaan dalam seluruh kegiatan pengelolaan lanskap Ocean Ecopark, baik secara administrasi maupun operasional di lapang. Kegiatan ini bertujuan menambah pengetahuan manajerial dan pengalaman kerja praktis dalam bidang pengelolaan lanskap. Data yang dibutuhkan adalah berupa data yang berkaitan dengan aspek fisik/biofisik, teknis, manajerial, dan sosial ekonomi (Lampiran 1).

3.3.3 Pengolahan Data dan Analisis

(29)

3.3.3.1 Analisis Deskriptif

Analisis deskriptif adalah analisis yang dilakukan dengan penjabaran hasil pengamatan berdasarkan data dan informasi yang diperoleh melalui survei lapang, penyebaran kuisioner dengan purposive sampling, wawancara, dan studi pustaka.

3.3.3.2 Importance Performance Analysis (IPA)

IPA dilakukan untuk mengukur atribut-atribut dari tingkat kepentingan dengan tingkat kinerja pengelola yang diharapkan oleh pengunjung. Terdapat 16 atribut yang dinilai oleh responden (Tabel 1). Hasil IPA ini dapat dijadikan sebagai salah satu dasar perumusan strategi pengelolaan untuk meningkatkan kepuasan pengunjung.

Tabel 1. Atribut Penilaian Pengunjung

No. Atribut

1. Kestrategisan lokasi

2. Kemudahan akses menuju lokasi

3. Ketersedian fasilitas dan sarana untuk berolahraga 4. Ketersediaan wahana rekreasi dan edukasi keluarga

5. Ketersediaan fasilitas umum, seperti toilet umum, tempat sampah,lampu taman, bangku taman, areal parkir, shelter, tempat ibadah dan sebagainya 6. Ketersediaan area untuk berinteraksi atau berkumpul, seperti gazebo,

saung, lawn dan sebagainya

7. Kondisi sarana dan prasarana yang baik 8. Keberadaan satwa

9. Keberadaan pohon peneduh 10. Keberagaman tanaman

11. Kenyamanan area untuk berekreasi 12. Keindahan penataan taman

13. Kebersihan area rekreasi 14. Keamanan area rekreasi 15. Keramahan pelayanan

16. Kemudahan untuk mendapatkan informasi, seperti adanya penunjuk jalan, informasi lokasi wahana, harga tiket, dan sebagainya

(30)

tanggapan pengunjung terhadap atribut-atribut yang disebutkan dalam kuisioner. Pilihan pada skala Likert dibuat mulai dari prioritas rendah hingga prioritas tinggi. Skala tersebut terdiri dari tidak penting atau tidak puas, kurang penting atau kurang puas, cukup penting atau cukup puas, penting atau puas, dan sangat penting atau sangat puas (Supranto, 2001). Kelima penilaian tersebut memiliki bobot-bobot tersendiri (Tabel 2).

Tabel 2. Bobot Tingkat Kinerja dan Kepentingan

Skala (Bobot) Kinerja (X) Kepentingan (Y)

1 Tidak puas Tidak penting

2 Kurang puas Kurang penting

3 Cukup puas Cukup penting

4 Puas Penting

5 Sangat puas Sangat penting

Skor dengan menggunakan skala Likert digambarkan pada diagram kartesius, tingkat kepuasan yang menggambarkan kinerja pengelola digambarkan dengan Sumbu X (garis mendatar) dan tingkat kepentingan digambarkan dengan Sumbu Y (garis tegak). Perhitungan untuk mengetahui skor sumbu X dan Y pada masing-masing atribut yang pada kuisioner adalah sebagai berikut,

n

X = skor rataan tingkat kinerja (tingkat kepuasan atribut dalam Lampiran 2), i

Y = skor rataan tingkat kepentingan (tingkat kepentingan atribut dalam Lampiran 2)

n = jumlah responden.

(31)

Keterangan :

X = skor rata-rata dari tingkat pelaksanaan kinerja seluruh atribut, Y = skor rata-rata dari tingkat kepentingan seluruh atribut,

k = banyaknya atribut yang dapat mempengaruhi kepuasan konsumen

Menurut Wong et al. (2011), keempat kuadran yang terbentuk oleh diagram kartesius menggambarkan keadaan yang berbeda-beda (Gambar 3), sebagai berikut:

Sumber: Wong et al. (2011) Gambar 3. Diagram Kuadran IPA

1. Kuadran I (Prioritas Utama), kuadran ini menunjukkan nilai suatu atribut dengan

tingkat kepentingan diatas rata-rata, tetapi kurang mendapat perhatian dari pihak

pengelola karena tingkat kinerja dibawah rata-rata, sehingga tingkat kepuasaan

pengunjung rendah;

2. Kuadran II (Pertahankan Prestasi), kuadran ini menunjukkan nilai suatu atribut

dengan tingkat kepentingan yang dinilai oleh pengunjung diatas rata-rata dan

dilaksanakan pengelola dengan baik, dengan tingkat kinerja juga diatas rata-rata

sehingga tingkat kepuasan pengunjung tinggi;

3. Kuadran III (Prioritas Rendah), kuadran ini menunjukkan atribut yang dianggap kurang penting oleh pengunjung dan pada kenyataannya kinerjanya tidak terlalu istimewa;

4. Kuadran IV (Terlalu Berlebihan), kuadran ini menunjukkan nilai suatu atribut

yang tidak begitu penting oleh pengunjung tetapi dilaksanakan sangat baik oleh

(32)

3.3.3.3 Analisis SWOT

Analisis SWOT digunakan untuk merumuskan strategi pengelolaan lanskap Ecopark Taman Impian Jaya Ancol dengan menganalisis faktor internal yang terdiri dari kekuatan (strengths) dan kelemahan (weaknesses) serta faktor eksternal yang terdiri dari peluang (opportunities) dan ancaman (threats). Metode analisis data yang digunakan adalah analisis data secara kualitatif dan kuantitatif. Analisis data secara kualitatif adalah analisis yang dilakukan terhadap faktor-faktor internal dan eksternal, sedangkan analisis secara kuantitatif dilakukan dengan pembobotan dan pemberian peringkat.

Dalam merumuskan strategi dengan menggunakan analisis SWOT dibutuhkan identifikasi terhadap faktor-faktor internal dan eksternal. Perumusan faktor internal dan eksternal berdasarkan hasil diskusi dengan pihak yang sangat memahami kondisi Ocean Ecopark secara internal maupun eksternal, serta hasil kuisioner pengunjung menggunakan metode IPA. Setelah merumuskan faktor internal dan eksternal, pemberian bobot dan peringkat dilakukan oleh tiga responden ,yaitu dua responden internal dan satu responden eksternal, ketiganya merupakan responden yang paham mengenai Ocean Ecopark (Lampiran 3).

Pada analisis SWOT, faktor internal akan dirumuskan dalam matriks yang dikenal dengan sebutan matriks IFE (Internal Factor Evaluation) dan faktor eksternal dirumuskan dalam matriks EFE (External Factor Evaluation). Langkah kerja dengan menggunakan pendekatan analisis SWOT adalah sebagai berikut. 1. Pembuatan Matriks Evaluasi Faktor Internal (IFE)

Evaluasi faktor internal ini digunakan untuk mengetahui faktor-faktor internal perusahaan yang dimasukkan dalam kategori kekuatan dan kelemahan (David, 2011). Matriks IFE membantu perusahaan untuk menganalisis dan mengatur faktor-faktor strategi internal. Menurut David (2011), dalam membuat matriks IFE terdapat lima langkah yang harus dilakukan sebagai berikut:

a. Langkah kesatu, mengindentifikasi dan mendaftar setiap faktor yang menjadi kelemahan dan kekuatan bagi perusahaan.

(33)

penting). Jumlah seluruh bobot sama dengan 1,0. Menurut David (2011), Bobot mengindikasikan pentingnya suatu faktor terhadap keberhasilan perusahaan. Pengolahan data untuk mengetahui bobot dari setiap faktor strategis dilakukan dengan menggunakan teknik Delphi mengingat responden yang digunakan berjumlah lebih dari satu orang. Perhitungan bobot dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Penetuan Bobot Faktor Internal Faktor

Internal

Tingkat Kepentigan Jumlah

Responden Rata-rata Bobot

1 2 3 4

c. Langkah ketiga, memberikan peringkat 1-4 pada setiap faktor, dengan 1 kelemahan utama, 2 kelemahan minor, 3 kekuatan minor, dan 4 kekuatan utama. Kekuatan harus mendapat peringkat 3 atau 4 dan kelemahan harus mendapat peringkat 1 atau 2. Pada Tabel 4, peringkat adalah nilai rata-rata dari tingkat kepentingan.

Tabel 4. Penentuan Peringkat Faktor Internal Faktor

(34)

Tabel 5. Matriks IFE

Simbol Faktor Internal Bobot Peringkat Skor Bobot S1

e. Langkah kelima, menjumlahkan seluruh skor bobot untuk mendapatkan skor bobot total. Skor bobot maksimal adalah 4,0 dan skor bobot minimal adalah 1,0, dengan skor rata-rata 2,5. Skor bobot total di bawah 2,5 menandakan bahwa perusahaan lemah secara internal, sedangkan skor di atas 2,5 menandakan bahwa perusaahaan kuat secara internal.

2. Matriks Evaluasi Faktor Eksternal (EFE)

Evaluasi faktor eksternal digunakan untuk mengetahui faktor-faktor eksternal perusahaan yang dimasukkan dalam kategori peluang dan ancaman (David, 2011). Secara umum, tahapan kerja pada matriks EFE sama dengan matriks IFE, yaitu sebagai berikut.

a. Langkah kesatu, mengidentifikasi dan mendaftar faktor yang menjadi ancaman dan peluang yang mempengaruhi perusahaan.

b. Langkah kedua, menentukan bobot pada setiap faktor eksternal mulai dari 0,0 (tidak penting) sampai 1,0 (sangat penting). Pengolahan bobot menggunakan menggunakan teknik Delphi. Perhitungan bobot dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6. Penentuan Bobot Faktor Eksternal Faktor

Eksternal

Tingkat Kepentigan Jumlah

Responden Rata-rata Bobot

(35)

c. Langkah ketiga, memberikan peringkat 1-4 pada setiap faktor eksternal untuk menunjukkan seberapa efektif kinerja perusahaan dalam merespon faktor-faktor eksternal yang berpengaruh. Peringkat 1 menandakan bahwa respon perusahaan di bawah rata-rata, Peringkat 2 menandakan bahwa respon perusahaan rata-rata, Peringkat 3 menandakan bahwa respon perusahaan di atas rata-rata, dan Peringkat 4 menandakan bahwa respon perusahaan sangat bagus. Baik ancaman maupun peluang dapat menerima peringkat 1,2,3, atau 4. Perhitungan peringkat dapat dilihat pada Tabel 7. Peringkat merupakan nilai rata-rata tingkat kepentingan.

Tabel 7. Penentuan Peringkat Faktor Eksternal Faktor

d. Langkah keempat, mengalikan bobot dengan peringkat setiap faktor untuk mendapatkan skor bobot. Perhitungan ini dibuat dalam matriks EFE (Tabel 8).

Tabel 8. Matriks EFE

(36)

e. Langkah kelima, menjumlahkan seluruh skor bobot tiap faktor untuk mendapatkan skor bobot total. Skor bobot total tertinggi yang mungkin didapatkan adalah 4,0 sedangkan skor bobot terendah yang mungkin didapatkan adalah 1,0. Semakin tinggi skor bobot total yang didapatkan mengindikasikan bahwa perusahaan mampu merespon peluang dan ancaman yang ada dengan baik, perusahaan dapat memanfaatkan peluang dan meminimalisir ancaman yang ada.

3. Pencocokan (Matriks Internal-Eksternal)

Tahapan pencocokan dilakukan untuk mengetahui strategi mana yang sesuai untuk diterapkan pada perusahaan. Dari skor pembobotan yang diperoleh dari matriks IFE dan EFE dapat diketahui Matriks Internal-Eksternal (IE) yang dibagi kuadran-kuadran yang masing-masing kuadran tersebut menggmabarkan implikasi strategi yang berbeda-beda. Sumbu X pada matriks IE menggambarkan skor bobot IFE dan skor bobot EFE digambarkan pada Sumbu Y (Gambar 4).

Sumber: David (2011) Gambar 4. Formulir Matriks IE

Menurut David (2011), matriks IE memiliki sembilan kuadran yang dapat dibagi menjadi tiga bagian sebagai berikut.

a. Grow and build strategy (Kuadran I, II, dan IV)

Fokus strategi ini adalah penetrasi pasar, pengembangan pasar, dan pengembangan produk yang bersifat intensif dan agresif.

b. Hold and maintain strategy (Kuadran III, V, dan VII)

(37)

c. Harvest and divest strategy (Kuadran VI, VIII, dan IX)

Fokus strategi ini adalah perlunya manajemen biaya yang agresif saat biaya peremajaan bisnis untuk merevitalisasi bisnis tergolong rendah. 4. Penentuan Alternatif Strategi

Pemilihan alternatif strategi berfokus terhadap kuadran yang didapatkan. Fokus strategi tersebut tentunya akan dikembangkan agar didapatkan suatu alternatif strategi manajemen lanskap yang dapat meningkatkan kekuatan dan peluang serta mengatasi kelemahan dan ancaman yang kemudian digambarkan dengan matriks SWOT (Tabel 9). Matriks SWOT memiliki empat alternatif strategi (David, 2011). Keempat strategi tersebut adalah sebagai berikut.

a. Strategi SO (Strengths-Opportunities)

Strategi ini memanfaatkan kekuatan internal perusahaan untuk menarik keuntungan dari peluang eksternal.

b. Strategi ST (Strengths-Threats)

Strategi ini menggunakan kekuatan internal perusahaan untuk menghindari atau mengurangi dampak ancaman eksternal.

c. Strategi WO (Weaknesses-Opportunities)

Strategi ini bertujuan memperbaiki kelemahan internal dengan cara mengambil keuntungan dari peluang eksternal.

d. Strategi WT (Weaknesses-Threats)

Strategi ini merupakan taktik defensif yang diarahkan untuk mengurangi kelemahan internal dan menghindari ancaman eksternal.

(38)

5. Pemeringkatan Alternatif Strategi

Penentuan prioritas dilakukan kepada beberapa alternatif strategi yang diperoleh dari matriks SWOT. Jumlah dari skor pembobotan yang menentukan peringkat dari setiap strategi. Peringkat diurut berdasarkan skor tertinggi sampai yang terendah (Tabel 10). Urutan peringkat tersebut menunjukkan urutan alternative strategi pengelolaan yang direkomendasikan.

Tabel 10. Formulir Penentuan Peringkat Alternatif Strategi

Alternatif Strategi Keterkaitan dengan Unsur SWOT Skor Peringkat SO1

SO2 SOn ST1 ST2 STn WO1 WO2 WOn WT1 WT2 WTn

Sumber: Saraswati (2010)

3.3.4 Sintesis

(39)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Kondisi Umum

Gambaran kondisi umum Ocean Ecopark meliputi beberapa aspek, yaitu sejarah pembangunannya, letak dan aksesibilitasnya, luas dan batas kawasan, iklim, hidrologi, topografi dan tanah, vegetasi, satwa, sosial dan ekonomi, sarana dan prasarana, serta wahana rekreasi dan olahraga.

4.1.1 Sejarah Taman Impian Jaya Ancol

Ancol adalah sebuah kawasan rekreasi yang telah berdiri sejak abad ke-17. Pada saat itu keindahan pantainya sangat mempesona berbagai kalangan. Namun, hal tersebut sirna saat Sungai Ciliwung meluap dan menumpahkan lumpurnya. Ancol pun berubah menjadi rawa-rawa yang kotor, kumuh, dan berlumpur.

Setelah masa kemerdekaan, melalui keputusan Presiden Soekarno pada akhir Desember 1965 diperintahlah Gubernur DKI Jakarta, Dr. H. Soemarno Sosroatmodjo, untuk melaksanakan proyek pembangunan Taman Impian Jaya Ancol.

Pembangunan kawasan rekreasi Taman Impian Jaya Ancol baru terlaksana saat masa jabatan Ali Sadikin sebagai Gubernur DKI Jakarta. Pemikiran Ali Sadikin saat itu, Jakarta harus memiliki dua pencapaian utama. Pencapaian pertama adalah Ancol yang harus dapat menjadi kawasan rekreasi yang dapat mengayomi rakyatnya dari sejak lahir hingga meninggal dan harus dapat memfasilitasi semua kebutuhan rakyat sekarang dan akan datang. Pencapaian kedua adalah Ancol yang harus dapat menjadi tempat rekreasi yang representatif dan mewah untuk kota Jakarta. Ali Sadikin pun bertemu dengan Ir. Ciputra yang dapat memberikan masukan dan ide-ide untuk pembangunan kawasan rekreasi yang diinginkan oleh Ali Sadikin.

(40)

sebagai kawasan wisata terpadu oleh pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, pemerintah Provinsi DKI Jakarta menunjuk PT Pembangunan Jaya sebagai Badan Pelaksanaan Pembangunan (BPP) Proyek Ancol.

Pembangunan proyek Ancol ini dilakukan secara bertahap sesuai dengan peningkatan perekonomian nasional serta daya beli masyarakat. Bisnis rekreasi Ancol diawali dengan membuat saung-saung di pinggir pantai. Semua diawali dengan sederhana, tetapi mendapat respon yang baik dari masyarakat Jakarta.

Status Badan Pelaksana Pembangunan (BPP) Proyek Ancol pun berubah menjadi PT Pembangunan Jaya Ancol pada tahun 1992. Ancol merupakan proyek kerja sama antara pemerintah dan swasta. Taman Impian Jaya Ancol berdiri di atas lahan pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang kemudian dikelola oleh PT Pembangunan Jaya Ancol.

Pada awal Taman Impian Jaya Ancol berdiri, sesuai dengan akta perubahan No. 33 tanggal 10 Juli 1992, persentase kepemilikan saham masing-masing adalah Pemda DKI Jakarta sebesar 80% dan PT Pembangunan Jaya sebesar 20%. Namun, pada 2 Juli 2004, Ancol melakukan go public dan mengganti statusnya menjadi PT Pembangunan Jaya Ancol, Tbk. dengan persentase kepemilikan saham masing-masing Pemda DKI Jakarta sebesar 72%, PT Pembangunan Jaya sebesar 18%, dan masyarakat sebesar 10%. Langkah go public ini dilakukan untuk menciptakan Good & Clean Governance yang akan memacu perusahaan untuk terus tumbuh dan berkembang secara sehat di masa depan.

Pada 10 Juli 2005 PT Pembangunan Jaya Ancol, Tbk. juga melakukan upaya repositioning dengan diluncurkannya logo baru untuk memacu semangat dan budaya perusahaan secara keseluruhan.

4.1.2 Letak dan Aksesibilitas

Taman Impian Jaya Ancol terletak di Jalan Lodan Timur No.7, Jakarta Utara. Ocean Ecopark berada di dalam kawasan rekreasi Taman Impian Jaya Ancol. Taman Impian Jaya Ancol ini memiliki enam pintu gerbang, yaitu

(41)

3. Pintu Gerbang Carnaval, 4. Pintu Gerbang Selatan, 5. Pintu Gerbang Marina, dan 6. Pintu Gerbang Transjakarta.

PGU, Pintu Gerbang Timur, dan Pintu Gerbang Carnaval adalah pintu gerbang yang buka 24 jam setiap harinya yaitu Senin sampai dengan Minggu. Ketiga pintu tersebut diperuntukkan bagi kendaraan baik motor maupun mobil, pejalan kaki, dan rombongan. PGU hanya digunakan untuk akses masuk saja sedangkan untuk Pintu Gerbang Timur dan Pintu Gerbang Carnaval dapat digunakan sebagai akses keluar masuk kawasan rekreasi Taman Impian Jaya Ancol.

Pintu Gerbang Selatan buka setiap hari dari pukul 07.00 – 22.00. Pintu gerbang ini diperuntukkan untuk pejalan kaki saja, tetapi saat hari libur Sabtu dan Minggu, pintu gerbang ini juga digunakan untuk akses keluar kendaraan bermotor baik roda dua maupun roda empat dan saat hari besar nasional, pintu ini dapat digunakan untuk pintu masuk kendaraan bermotor.

Pintu Gerbang Marina buka setiap hari dari pukul 07.00 – 22.00. Pintu ini diperuntukan untuk akses keluar masuk kendaraan bermotor baik roda dua maupun roda empat.

Pintu Gerbang Transjakarta merupakan pintu gerbang untuk pengunjung yang ingin menggunakan kendaraan umum. Untuk mengakses kawasan rekreasi Taman Impian Jaya Ancol, pengunjung dapat menggunakan Transjakarta Busway Koridor V jurusan PGC-Ancol atau Koridor VII dengan jurusan Kampung Melayu- Ancol.

Kawasan rekreasi Taman Impian Jaya Ancol ini dapat diakses melalui Jalan Tol dengan exit Ancol yang berdekatan dengan Pintu Gerbang Timur dan Jalan Tol dengan exit Lodan yang berdekatan dengan PGU. Selain melalui jalan tol, kawasan rekreasi Taman Impian Jaya Ancol ini dapat diakses melalui Jalan Martadinata.

(42)

gerbang Ecocare berada di dekat pintu masuk Dunia Fantasi, gerbang Econature dapat diakses melalui area Pasar Seni, dan gerbang Ecoart yang berada dekat Ecovention dan lapangan parkir Ocean Ecopark.

4.1.3 Luas dan Batas Kawasan

Ocean Ecopark merupakan taman yang dibangun di atas lahan seluas kurang lebih 34 hektar. Di atas lahan seluas ini dibangun berbagai macam wahana rekreasi dan edukasi, fasilitas untuk berolahraga, serta fasilitas yang yang mengakomodasi kebutuhan pengunjung untuk melakukan kegiatan rekreasi lainnya. Seluruh fasilitas, sarana, dan prasarana yang menunjang kegiatan tersebut dibangun dan diatur dengan pembagian luasan yang berbeda-beda. Pembagian luasan Ocean Ecopark dapat dilihat secara terperinci dan jelas pada Tabel 11.

Tabel 11. Pembagian Luasan Ocean Ecopark

No. Jenis Area Luas (m2)

Sumber: Pengelola Ocean Ecopark (2012)

Ocean Ecopark ini memiliki batas wilayah sebelah utara yaitu Hotel Mercure, batas selatan yaitu Kali Ancol, batas barat yaitu Dunia Fantasi, dan batas timur yaitu Atlantis.

4.1.4 Iklim

(43)

dengan ketinggian 4 meter di atas permukaan laut, daerah ini memiliki suhu rata-rata sebesar 28,4oC, suhu mimimum pada bulan Februari 27oC dan suhu maksimum pada bulan Oktober 29oC. Curah hujan rata-rata adalah 159,98 mm/bulan, curah hujan maksimum 387,33 mm/bulan pada bulan Februari dan curah hujan minimum 43,6 mm/bulan pada bulan Agustus. Kelembaban udara rata-rata adalah 74,59%, penyinaran matahari rata-rata adalah 57,89%, dan kecepatan angin rata-rata adalah 5 km/jam (Tabel 12).

Tabel 12. Data Iklim Rata-rata Tahun 2006-2011

Bulan Suhu

Sumber : Badan Meteorologi dan Geofisika Kemayoran, Jakarta (2012)

Ocean Ecopark yang terletak di pinggir pantai yang merupakan daerah yang rawan akan banjir baik karena naiknya air pasang laut ataupun banjir yang disebabkan oleh adanya dua banjir kanal yang ada di dekat wilayah rekreasi ini. Selain itu, iklim pada daerah ini tergolong cukup kering dan panas sehingga diperlukan vegetasi peneduh yang banyak agar pengunjung merasa nyaman. Oleh karena itu, diperlukan perawatan yang ekstra pada area hijau yang ada.

4.1.5 Hidrologi

(44)

secara langsung. Perusahaan ini merupakan penyedia air bersih layak pakai untuk masyarakat.

Pembangunan kanal di Ocean Ecopark sebesar 20% dari luas Ocean Ecopark bertujuan meningkatkan kemampuan water management yang mampu mengantisipasi air pasang, gelombang laut, dan curah hujan yang tinggi. Selain itu, kanal ini juga berfungsi sebagai habitat ikan dan menjadi sumber air bagi kehidupan satwa lain serta tanaman yang berada pada pulau besar yang berada di tengah-tengah Ocean Ecopark. Sumber air kanal berasal dari air resapan tanah dan hujan. Letak Ocean Ecopark yang berdekatan dengan laut membuat air pada kanal bersifat payau karena tercampurnya air tawar dengan air laut yang asin.

Pada musim kemarau, ketinggian air mengalami penurunan, saat itulah dua saluran inlet akan dibuka agar air pada kanal tidak mengalami kekeringan. Air tersebut berasal dari tiga sumber yang berbeda. Ketiga sumber tersebut adalah Kali Ancol, air limbah kolam renang yang masih layak pakai, dan air hujan. Ketiga sumber tersebut mengalami proses penyaringan dan penetralan pH terlebih dahulu agar tidak berbahaya. Pada musim hujan, ketinggian air akan melebihi kapasitas, sehingga pembuangan air akan dilakukan melalui tiga saluran outlet menuju ke Kali Ancol.

Selain PAM dan kanal, sumber air Ocean Ecopark juga berasal dari RO. RO adalah tempat produksi air bersih yang didirikan oleh Taman Impian Jaya Ancol. Air bersih ini berasal dari air laut yang kemudian diolah dengan teknologi reverse osmosis. Penyulingan air laut menjadi bersih ini merupakan inovasi sebagai langkah mengantisipasi krisis air yang sering terjadi. Air RO ini digunakan untuk penyiraman tanaman di beberapa wilayah di Ocean Ecopark. Namun, karena sulitnya birokrasi, penggunaan air RO ini bukan menjadi sumber utama air untuk Ocean Ecopark.

4.1.6 Topografi dan Tanah

(45)

pembangunannya. Konturnya tetap bergemlobang mengikuti topografi awal lapangan golf. Saat pembangunan Ocean Ecopark berlangsung proses cut and fill dilakukan pada beberapa titik untuk pembuatan kanal.

Tanah Ocean Ecopark merupakan tanah lumpur yang berasal dari proses cut and fill pembuatan kanal. Tanah lumpur ini sifatnya keras, tidak subur, dan mengandung kadar garam karena berdekatan dengan laut sehingga pada kondisi ini tidak ada tanaman yang bertahan hidup. Untuk menyiasati hal tersebut, bagian yang akan dijadikan untuk taman diurug dengan tanah merah super setinggi 10-20 cm. Tanah merah super ini subur sehingga tanaman dapat tumbuh.

4.1.7 Vegetasi

Ocean Ecopark merupakan kawasan rekreasi yang didominasi oleh elemen lunak. Vegetasi merupakan salah satu elemen lunak yang dijual di dalam kawasan rekreasi ini. Ocean Ecopark menawarkan kenyamanan dan kesejukan yang diperoleh melalui banyaknya vegetasi yang ditanam.

Jenis vegetasi yang ada di Ocean Ecopark saat ini diodominasi oleh pepohonan dan rumput. Semak, perdu, dan tanaman air berfungsi sebagai aksen pada zona-zona tertentu. Vegetasi di Ocean Ecopark ditanam berdasarkan konsep tiap kawasan yang berbeda-beda.

Ocean Ecopark memiliki vegetasi eksisting sebelum adanya pembangunan tempat rekreasi ini, vegetasi tersebut adalah Accasia mangium, Barringtonia asiatica, Cocos nucifera, Khaya senegalensis, Kigelia pinnata, Melia azaderach, Parkia speciosa, Pritchardia pacifica, Sterculia foetida, dan Terminalia catappa.

Salah satu pohon yang dibudidayakan di Ocean Ecopark adalah ebony (Diospyros celebica) atau lebih dikenal dengan sebutan Kayu Hitam Sulawesi. Pohon ini menghasilkan kayu yang berkualitas baik. Berwarna cokelat gelap, kehitaman, atau hitam belang-belang kemerahan.

(46)

lagi, pohon-pohon yang ada pada kawasan ini sudah tumbuh besar dan kawasan rekreasi ini menjadi teduh dan nyaman untuk pengunjung. Jenis data vegetasi dapat dilihat pada Lampiran 6.

Pengelola Ocean Ecopark menargetkan untuk menanam 200-300 pohon dalam setiap satu hektar. Jadi, untuk ke depannya Ocean Ecopark yang memiliki luas sekitar 34 hektar akan memiliki pohon lebih dari 3.000 pohon. Saat ini, Ocean Ecopark masih berusaha untuk mencapai target yang telah ditentukan.

4.1.8 Satwa

Ocean Ecopark Ancol memiliki satwa yang dipelihara dan dibudidayakan seperti siamang, rusa, kasuari, burung merpati, burung pelikan, kambing, angsa, kelinci, ikan koi, ikan mujaer, ikan nila merah, dan ikan mas (Tabel 13). Satwa yang tidak dibudidayakan dan tidak dipelihara secara sengaja, diantaranya, adalah burung kutilang, burung gereja, kucing, anjing, dan monyet. Anjing liar dan monyet adalah hewan yang menjadi perusak atau pengganggu hasil pemeliharaan yang telah dikerjakan di Ocean Ecopark Ancol

Tabel 13. Jumlah satwa yang dipelihara oleh Ocean Ecopark Ancol

No. Nama Binatang Jumlah Binatang

(ekor) Sumber: Pengelola Ocean Ecopark (2012)

4.1.9 Sosial Ekonomi

(47)

rekreasi hiburan saja, sarana edukasi pun disediakan untuk para pengunjung Ocean Ecopark.

Dilihat dari tingkat sosial, pengunjung Ocean Ecopark Ancol berasal dari kalangan menengah ke atas. Umumnya, pengunjung kalangan menengah ke atas ini adalah penghuni apartemen dan perumah elite yang berada di sekitar kawasan Taman Impian Jaya Ancol. Keberagaman tingkat sosial pengungjung Ocean Ecopark terjadi karena kawasan rekreasi ini tidak mengenakan tarif masuk. Pengunjung hanya membayar tarif masuk gerbang utama kawasan rekreasi Taman Impian Jaya Ancol yaitu sebesar Rp 15.000,00 per orang, Rp 15.000,00 per motor, dan Rp 20.000,00 per mobil (Pengelola Taman Impian Jaya Ancol, 2012). Jam operasional Ocean Ecopark pada hari Senin-Jumat adalah pukul 06.00-21.00, sedangkan pada hari Sabtu-Minggu dan hari libur nasional adalah pukul 05.00-21.00.

Ocean Ecopark Ancol merupakan wahana baru yang dibuka pada tanggal 22 Juni 2011, sehingga jumlah pengunjung yang datang pun masih mengalami naik dan turun tiap bulannya (Gambar 5). Pada bulan Januari 2012, jumlah pengunjung Ocean Ecopark cukup tinggi. Hal ini disebabkan, pada bulan Januari terdapat perayaan Tahun Baru dan Liburan Sekolah. Lonjakkan kunjungan biasanya terjadi saat ada hari libur nasional, libur sekolah, dan hari libur Sabtu dan Minggu.

(Sumber: Pengelola Ocean Ecopark, 2012)

(48)

Pada tahun 2012, pengelola Ocean Ecopark menargetkan jumlah pengunjung sebanyak 8-9 juta orang. Untuk mencapai target tersebut tentunya diperlukan inovasi terhadap program rekreasi yang ada sehingga dapat menarik minat pengunjung. Saat ini, Ocean Ecopark masih melakukan promosi kepada masyarakat agar kawasan rekreasi ini makin banyak dikunjungi dan dikenal sehingga dapat mencapai target yang diinginkan.

4.1.10 Sarana dan Prasarana

Suatu area rekreasi harus memiliki sarana dan prasarana yang memadai dan terawat agar dapat mengakomodasi kegiatan pengunjung. Hampir seluruh sarana dan prasarana yang ada di Ocean Ecopark memiliki kondisi yang baik karena perawatannya yang baik dan masih tergolong baru (Tabel 14).

Tabel 14. Sarana dan Prasarana di Ocean Ecopark

No. Jenis Jumlah Kondisi Fungsi Keterangan

1. Pedestrian dan

jogging track

14,939 m2 Lebar rata-rata 3-6 m

Baik Sebagai sarana untuk

pengunjung yang ingin berjalan kaki atau jogging

2. Trek sepeda 5,254 m2

Lebar rata-rata 2,5 m

Baik Sebagai jalur untuk

pengunjung yang ingin

Baik Sebagai tempat keperluan

sanitasi pengunjung

11. Menara Pandang 8 buah Baik Bangunan untuk melihat

(49)

posisi yang lebih tinggi

Baik Tempat yang aman dan

tertib untuk

memberhentikan kendaraan

19. Ecovention 6,372 m2 Baik Merupakan Exhibition Hall

kegiatan MICE

(Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition)

Sebagian besar sarana dan prasarana dalam kondisi yang baik. Hal ini terjadi karena perawatannya yang diberikan cukup baik dan umur sarana dan prasarana yang masih tergolong baru. Namun, beberapa sarana dan prasarana dirasa masih kurang jumlahnya dan terdapat pula sarana dan prasarana yang dalam kondisi kurang baik seperti signage dan tempat sampah.

Signage yang ada di Ocean Ecopark tidak dalam kondisi yang baik. Signage yang berbahan dasar kayu dengan tulisan timbul yang ditempel pada kayu tersebut dirasa tidak cocok dengan kondisi Ocean Ecopark. Hampir semua tempelan tulisan yang ada pada signage terlepas dari kayu (Gambar 6), hal ini disebabkan oleh kurang rekatnya tulisan tersebut atau juga karena adanya tangan-tangan usil yang mencoba melepas tulisan tersebut. Saat ini, baru beberapa signage yang diperbaiki. Tulisan pada signage dibuat menjadi pahatan agar lebih awet. Selain itu, kondisi beberapa tempat sampah di Ocean Ecopark sudah rusak, hal ini disebabkan oleh kesalahan desain awal tempat sampah yang kurang sesuai.

(50)

Gambar 6. Kondisi Signage yang Rusak

4.1.11 Wahana Rekreasi dan Olahraga

Ocean Ecopark memiliki enam wahana yang dapat dinikmati oleh pengunjung setiap harinya. Target pasar utama Ocean Ecopark adalah keluarga dan pelajar. Seluruh wahana yang ada dapat dinikmati oleh segala usia. Wahana-wahana tersebut adalah Ecolearning Farm, Fantastique, Outbondholic, Paintball, Fun Boat Cruiser, dan Commuter area (Ecobike, Segway, dan Ecotricke). Selain itu, wahana-wahana ini merupakan kegiatan rekreasi yang saat ini sudah sulit ditemui di kota Jakarta sehingga daya tarik dan minat pengunjung tergolong tinggi. Berikut adalah penjabaran tiap masing-masing wahana rekreasi dan olahraga yang dimiliki oleh Ocean Ecopark.

4.1.11.1 Ecolearning Farm

Ecolearning Farm merupakan wahana rekreasi yang bertujuan memberikan pendidikan tentang pertanian dan peternakan organik. Konsep pengembangan Ecolearning Farm adalah pemanfaatan material alam sebagai sumber pengelolaan pertanian dan peternakan untuk mendapatkan hasil yang baik, tetapi tetap menjaga keseimbangan alam dan tidak merusak lingkungan. Sasaran utama dari wahana ini adalah pelajar dari tingkat playgroup sampai dengan SMA dan keluarga.

(51)

menggunakan atap sirap dan tembok bangunan pun tidak dicat agar terlihat lebih alami.

Ecolearning Farm terdiri dari dua kegiatan, yaitu praktik langsung dan pemberian materi. Peserta mendapatkan materi tentang bercocok tanam yang baik terlebih dahulu sebelum melakukan praktik langsung. Materi ini dikemas dengan menarik seperti melalui games. Kegiatan-kegiatannya seperti bercocok tanam dari proses awal pembuatan media tanam sampai praktik perawatan tanaman, pemberian makan pada kelinci dan kambing, pembuatan kompos, pembuatan telur asin, dan pemanenan sayuran (Gambar 7).

Gambar 7. Kegiatan Panen di Ecolearning Farm

Selain kegiatan utama, peserta dapat memilih kegiatan tambahan. Kegiatan tambahan yang dapat dipilih oleh peserta adalah menyusuri kanal, memberi makan rusa, burung pelikan, dan burung kasuari dengan menggunakan Fun Boat Cruiser, belajar membuat keramik, ataupun bermain outbond di Outbondholic. Seluruh kegiatan ini berlangsung selama 1,5 jam – 2,5 jam dan dibimbing oleh tutor-tutor yang telah terlatih.

Selama kegiatan berlangsung, peserta diberi pinjaman caping (Gambar 8) dan sepatu boots, tujuannya agar sensasi bertani lebih terasa dan memberikan kesempatan bagi peserta untuk mendapatkan pengalaman baru yang jauh dari kehidupan kota.

(52)

karena wahana ini memiliki prospek yang baik untuk kedepannya melihat respon pengunjung yang cukup baik.

Gambar 8. Bercocok Tanam dengan Menggunakan Caping

4.1.11.2 Fantastique

Fantastique merupakan wahana pertama dan satu-satunya di Indonesia yang menyajikan pertunjukan drama musikal dan animasi dengan permainan laser, water fountain, dan 3D video mapping (Gambar 9). Dahulu, pertunjukan seperti ini hanya terdapat di luar negeri saja, tetapi sejak tahun 2011 pertunjukan ini dapat disaksikan di Ocean Ecopark.

Gambar 9. Pertunjukan Fantastique

(53)

selama 30 menit. Bangunan pertunjukan dapat menampung kurang lebih 1.500 penonton.

4.1.11.3 Outbondholic

Outbondholic dibangun di atas lahan seluas 1,5 hektar. Desain area wahana outbond ini sangat mendukung kegiatan yang bersifat petualangan memacu adrenalin. Outbondholic ini memiliki dua sirkuit, yaitu sirkuit anak anak usia 6-12 tahun dan sirkuit remaja dan dewasa usia 12 tahun ke atas (Gambar 10).

(a)

(b)

Sumber: Pengelola Ocean Ecopark (2012)

(54)

Setiap sirkuit memiliki empat zona, yaitu zona hijau, zona biru, zona merah, dan zona hitam. Zona-zona tersebut dibedakan berdasarkan tingkat kesulitannya. Setiap zona memiliki 7-8 tantangan yang harus dilewati. Selain keempat zona yang disebutkan, Outbondholic memiliki sirkuit special yang hanya terdapat di sirkuit remaja dan dewasa, yaitu zona coklat. Zona coklat X-Track ini memiliki kesulitan tertinggi di antara zona-zona yang lainnya.

Tantangan terberatnya adalah pada saat pemain diharuskan melompat dari ketinggian 15 meter untuk menyelesaikan permainan. Selain itu, terdapat produk unggulan lainnya, yaitu flying fox sepanjang 480 meter diatas ketinggian sekitar 7 lantai gedung bertingkat (Gambar 11). Kapasitas pemain untuk sirkuit remaja dan dewasa adalah 35 orang/jam sedangkan untuk sirkuit anak-anak adalah 60 orang/jam.

Gambar 11. Salah Satu Trek pada Sirkuit Dewasa

(55)

4.1.11.4 Paintball

Ocean Ecopark memiliki wahana paintball dengan tiga zona berbeda, yaitu Zona Battle Savanna, Zona Battle Village, Zona Batlle Field. Ketiga zona ini memiliki desain yang berbeda-beda.

Battle Savanna merupakan zona pertempuran dengan hamparan rumput dan barikade tempur yang berupa gundukan rumput. Sensasi sebagai seorang tentara sangat terasa dengan adanya barikade-barikade rumput, semak, mobil pick up, potongan kayu, dan ban traktor yang disediakan untuk tempat bersembunyi dari serangan lawan.

Battle Village merupakan zona pertempuran yang didesain semirip mungkin dengan area perkampungan yang telah menjadi reruntuhan karena perang. Area ini dipenuhi dengan rimbunan pohon dan barikade yang dibuat menyerupai dinding bangunan yang runtuh, bunker pasir, drum bekas, tumpukan kayu, serta kolam alami sehingga para petempur bisa merasakan sensasi tempur luar biasa terhadap lawan. Di zona ini perang-perangan lebih menekankan kepada taktik perang dan tim tempur yang solid.

Battle Field memiliki area pertempuran yang didesain di atas hamparan rumput yang memiliki benteng tempur setinggi 2 meter. Sensasi peperangan di area ini sangat berbeda dengan di zona-zona sebelumnya karena di area ini mempunyai karakter lahan unik dengan properti barikade yang berbeda seperti gerbong kereta, tanah yang lebih berkontur, dan tumpukan daun-daun alami.

Wahana Paintball memiliki target pasar untuk anak-anak di atas 9 tahun keatas. Seluruh perlengkapan pertempuran telah disediakan oleh pihak pengelola seperti google, senapan, sepatu, dan perlengkapan safety lainya (Gambar 12).

(56)

Selain itu pemain juga dapat memilih zona dan skenarionya tersendiri. Permainan ini dapat dilakukan minimal oleh 4 pemain selama maksimal 20 menit.

4.1.11.5 Fun Boat Cruiser

Fun Boat Cruiser merupakan wahana yang mengajak pengunjung untuk berkeliling wilayah Ocean Ecopark melalui kanal (Gambar 13). Selain mengelilingi Oean Ecopark, pengunjung juga dapat melihat, memberi makan, bahkan menyentuh binatang yang ada. Binatang-binatang tersebut di antaranya, rusa, burung pelikan, kasuari, angsa, dan ikan. Kegiatan ini memberikan pengalaman yang berbeda bagi pengunjung.

Gambar 13. Fun Boat Cruiser

Pengunjung diajak mengelilingi Ocean Ecopark selama 20 menit. Kapal yang dapat menampung maksimal 20 orang dewasa atau 25 orang anak-anak ini menyediakan pelampung yang wajib digunakan oleh pengunjung yang ingin menaiki kapal ini dengan tujuan keamanan.

4.1.11.6 Commuter Area

(57)

tidak termasuk kedalam paket yang ada di Ocean Ecopark karena merupakan wahana kerja sama dengan pihak luar

(a) (b)

(c) (d) Gambar 14. Commuter Area

(a) Eco Bike, (b) Loket Commuter Area, (c) Eco Tricke, dan (d) Segway

Commuter area memiliki sistem keamanan bagi penggunanya yaitu berupa helm, pengaman dengkul, dan siku. Hal ini tentu untuk mencegah terjadinya kecelakaan saat mengendarai kendaraan tersebut. Namun, masih banyak pengunjung yang menggunakan peralatan keamanan disebabkan oleh kurang tegasnya pihak pengelola dalam menerapkan peraturan penggunaan peralatan keamanan tersebut.

4.1.11.7 Paket Single Tiket

(58)

dan Segway dengan harga yang relatif lebih murah dibangkan jika pengunjung menikmatinya satu-satu secara terpisah.

Paket single tiket ini merupakan salah satu usaha pengelola untuk memperkenalkan wahana wahana di Ocean Ecopark yang merupakan tempat rekreasi baru di kawasan rekreasi Taman Impian Jaya Ancol. Perbandingan harga tiket persatuan dengan paket single tiket dapat dilihat pada Tabel 15.

Tabel 15. Harga Tiket Wahana Rekreasi Ocean Ecopark

No. Wahana Harga Tiket Paket Single Tiket Senin-Jumat Sabtu-Minggu/

Hari Libur Nasional

1. Fantastique 50.000 100.000 125.000

2. Outbondholic 120.000 3. Paintball 120.000

4. Ecobike 50.000

5. Funboat 30.000

Sumber: Pengelola Ocean Ecopark (2012)

4.2 Konsep Ocean Ecopark

Pada awalnya, Ocean Ecopark merupakan lapangan golf yang dikenal dengan Padang Golf Ancol. Lapangan golf ini berdiri sejak 22 Juni 1975 dan ditutup pada akhitahun 2009. Perubahan padang golf menjadi Ocean Ecopark berawal dari keinginan untuk lebih dapat memanfaatkan lahan yang ada agar dapat menampung lebih banyak pengunjung. Selain itu, perubahan ini membuat tempat tersebut lebih bermanfaat bagi masyarakat juga kelestarian alam agar menjadi lebih asri dengan tanaman yang lebih sesuai dengan habitatnya dan ramah lingkungan, serta memiliki fungsi ganda bagi area sekitarnya. Dibangunnya Ocean Ecopark mendapat respon yang baik serta dukungan dari berbagai pihak.

Dalam penataannya, Ocean Ecopark yang dibuka pada tanggal 22 Juni 2011 memiliki tiga konsep utama, yaitu konsep hijau, konsep biru, dan konsep merah, serta empat konsep kawasan dengan tema yang berbeda, yaitu Econature, Ecoart, Ecoenergy, dan Ecocare. Berikut adalah penjelasan masing-masing konsep.

4.2.1 Konsep Hijau

Gambar

Tabel  12. Data Iklim Rata-rata Tahun 2006-2011
Tabel 14. Sarana dan Prasarana di Ocean Ecopark
Gambar 6. Kondisi Signage yang Rusak
Gambar 8. Bercocok Tanam dengan Menggunakan Caping
+7

Referensi

Dokumen terkait

Distribution o f Dinoflagellates at Jakarta Bay, Taman Jaya, Banten, and Benoa Bay, Bali: A Report o f an Incident o f Fish Poisoning at Eastern Nusa Tenggara Quraisyin Adnan National