• Tidak ada hasil yang ditemukan

Assessment on Implementation of the British Retail Consortium Global Standard for Food SafetyIssue 6 PT SSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Assessment on Implementation of the British Retail Consortium Global Standard for Food SafetyIssue 6 PT SSI"

Copied!
347
0
0

Teks penuh

(1)

ROSTELIANA APRIRIANTY

SEKOLAH PASCA SARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)

Dengan ini saya menyatakan bahwa Tugas Akhir dengan judul Kajian

Penerapan the British Retail Consortium Global Standard fo Food Safety Isu 6 PT

SSI adalah karya saya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada

perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya

yang diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan

dalam Daftar Pustaka di bagian Tugas Akhir ini.

Bogor, Juli 2012

(3)
(4)

Consortium Global Standard for Food SafetyIssue 6 PT SSI. Under the direction of HARSI DEWANTARI KUSUMANINGUM and BETTY SRI LAKSMI JENIE.

The British Retail Consortium (BRC) Global Standards are widely used by suppliers and global retailers, facilitating standardization of quality, safety,

operational criteria and manufacturers’ fulfillment of legal obligations. Since July

(5)
(6)

ROSTELIANA APRIRIANTY. Kajian Penerapan the British Retail Consortium Global Standard for Food Safety Isu 6 PT SSI. Dibimbing oleh HARSI DEWANTARI KUSUMANINGRUM dan BETTY SRI LAKSMI JENIE.

PT SSI adalah industri wafer stik dan kukis yang memasarkan produknya ke 40 negara di dunia dengan pasar utama adalah Amerika Serikat, Inggris, Australia, Selandia Baru, Singapura, dan Cina. Dalam persaingan dan perdagangan internasional, jaminan penerapan dan sertifikat sistem keamanan pangan memiliki tempat khusus dan menjadi persyaratan. Sejak 2011 ada 2 sistem yang disertifikasi yaitu the BRC Global Standard for Food Safety dan SQF 2000

level 3, dimana semua pelanggan dapat menerima sertifikat tersebut. BRC

dikeluarkan pertama kali pada 1998, dibangun sebagai kerangka kerja bagi produsen pangan memproduksi pangan yang aman dan mengelola mutu produk sesuai persyaratan pelanggan. Format dan isi didesain agar dapat dilakukannya suatu kajian kesesuaian bangunan pabrik, sistem operasional dan prosedur perusahaan oleh pihak ketiga yang kompeten yaitu Badan Sertifikasi. BRC isu 6 diterbitkan pada Juli 2011 dan diberlakukan untuk audit sejak 1 Januari 2012.

Penelitian bertujuan mengkaji standar dan implementasi the BRC Global

Standard for Food Safety isu 6 ke dalam sistem keamanan pangan di PT SSI, yang menerapkan dan tersertifikasi BRC sejak 2006. Tujuan khususnya adalah mengidentifikasi perubahan persyaratan pada isu 6, menetapkan dokumen dalam rangka pemenuhan persyaratan isu 6 dan mengkaji serta menyusun rekomendasi implementasi manajemen alergen dan pengendalian benda asing PT SSI.

Penelitian diawali dengan mempelajari satu per satu klausul BRC isu 5 dan isu 6 untuk mengidentifikasi perbedaan persyaratan pada kedua versi. Kajian kesesuaian persyaratan dokumen sistem, prosedur, atau catatan dilakukan melalui

desk evaluation dengan cara membandingkan persyaratan dokumen dengan

dokumen yang dimiliki PT SSI meliputi manual, prosedur, form atau checklist,

standar, spesifikasi dan lainnya. Rekomendasi implementasi manajemen alergen ditetapkan melalui kajian potensi kandungan alergen dalam produk; kajian proses mulai dari pembelian, transportasi dan penyimpanan bahan baku, penyiapan bahan per-batch, proses dan penjadwalan produksi termasuk rework; pembersihan dan sanitasi; serta pelatihan karyawan. Rekomendasi pengendalian benda asing ditetapkan melalui kajian sumber benda asing pada berbagai tahapan proses mulai dari penerimaan bahan sampai pengemasan produk; kajian standar maksimal setiap benda asing; kajian prosedur dan fasilitas pengendalian; serta kajian prosedur verifikasi dan dokumentasi.

(7)

menunjukkan hubungan antara prerequisite programmes dan HACCP. Persyaratan pemasok jasa dipisahkan dari pemasok bahan baku (3.5.3). Beberapa persyaratan baru adalah terkait manajemen pengerjaan proses di luar perusahaan (3.5.4), daya telusur harus dilakukan dalam waktu 4 jam (3.9) agar memungkinkan penanganan penarikan produk yang cepat, serta Badan Sertifikasi harus diinformasikan dalam waktu 3 hari bila terjadi penarikan produk (3.11). Kajian kemanan (4.2.1) harus rutin dilakukan termasuk penetapan akses masuk ke area produksi dan area penyimpanan di pabrik (4.2.2). Klausul 4.3 mensyaratkan

dilakukannya kajian pembagian area menjadi low-risk area, high-care area atau

high-risk area serta penerapan persyaratan bangunan pabrik (4.4), fasilitas

karyawan dan aturan higiene pada tiap area (4.8). Pengendalian kontaminasi fisik dan kimia dikembangkan dengan mensyaratkan pengendalian potensi kontaminasi dari kegiatan pemeliharaan, bahan untuk pemeliharaan baik kontak atau tidak

kontak dengan bahan baku dan produk harus food grade (4.7.5), catatan inspeksi

bahaya dan investigasi tersedia bila terjadi kehilangan peralatan logam tajam (4.9.2.1), dan larangan penggunaan staples di area produk terbuka (4.9.2.2). Pemilihan teknologi untuk deteksi dan penghilangan benda asing (4.10.3-4.10.5) dilakukan berdasarkan kajian resiko. Bahaya alergen dikaji sebagai potensi bahaya pada pengembangan produk baru (5.2.3). Prosedur pengendalian alergen (5.2.4) lebih terperinci terkait penggunaan pakaian pelindung seragam; pengaturan jadwal produksi produk; pengendalian debu, limbah dan luapan bahan alergen;

dan pelabelan (5.2.6). Mass balance test terkait daya telusur identity preserved

materials harus diuji minimal setiap 6 bulan (5.3.2). Terdapat pengembangan persyaratan terkait spesifikasi produk dan proses (6.1.1). Agen penyedia tenaga kerja perusahaan adalah harus melakukan pelatihan (7.1.4) dan pemeriksaan kesehatan karyawan (7.2.4). Audit laundri untuk pakaian care area dan high-risk area wajib dilakukan (7.4.4).

Dari sekitar 158 dokumen sistem, prosedur dan sistem yang disyaratkan dalam isu 6 terdapat sekitar 20 dokumen yang teridentifikasi diperlukan perusahaan dalam rangka pemenuhan persyaratan. Dokumen tersebut terkait prosedur dan perjanjian pemasok jasa (3.5), daya telusur harus dilakukan dalam waktu 4 jam (3.9), kajian resiko keamanan perusahaan (4.2.1), prosedur kalibrasi dan verifikasi peralatan pemeriksaan yang dilengkapi dengan batas toleransi (6.3), dan pelaksaan pelatihan serta kajian kompetensi karyawan yang konsisten (7.1).

Alergen merupakan senyawa penyebab terjadinya alergi, yaitu gangguan kesehatanyang bervariasi mulai dari yang ringan seperti gangguan pada kulit sampai menimbulkan anafalitik hebat yang berakibat pada kematian (AFGC 2007). Tujuan utama pengaturan dalam manajemen alergen adalah agar tidak terjadinya kontaminasi silang dari bahan alergen. Semua produk wafer menggunakan bahan baku yang berpotensi mengandung alergen berupa tepung terigu, susu, telur, dan lesitin kedelai tetapi khusus wafer chocolate hazelnut juga

menggunakan pasta hazelnut. Karena pada label semua bahan tadi telah

dicantumkan dalam komposisi sedangkan hazelnut belum, maka bahaya alergen

yang harus dikendalikan adalah pada pasta hazelnut atau chocolate-hazelnut.

(8)

ball mill mixer dan oven, pemisahan dan pelabelan alergen pada peralatan

pembersihan, serta penggunaan test kit-ELISA untuk pengujian residu alergen

pada hasil pembersihan mesin/peralatan bekas produksi dengan hazelnut atau

chocolate-hazelnut.

Pengendalian benda asing di PT SSI telah dilaksanakan dengan baik melalui prerequisite programmes dan pengendalian bahaya pada rencana HACCP.

Pada tahap penerimaan barang direkomendasikan pengaturan staples pada

prosedur penerimaan bahan baku dan kemasan, dilakukannya prosedur pemeriksaan pada tambahan pemeliharaan mesin dan peralatan untuk memastikan tidak adanya potensi kontaminasi benda asing, prosedur penanganan kejadian pecahnya kaca dimasukkan aturan pencucian seragam dan alat kebersihan yang berpotensi terkena pecahan kaca tadi, serta prosedur pembuangan pecahan kaca.

Ayakan untuk hasil gilingan crumb perlu dibuat untuk memastikan crumb bebas

(9)
(10)

© Hak cipta milik IPB, tahun 2012 Hak Cipta dilindungi Undang-Undang

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB

(11)
(12)

KAJIAN PENERAPAN

THE BRITISH RETAIL CONSORTIUM

GLOBAL STANDARD FOR FOOD SAFETY

ISU 6 PT SSI

ROSTELIANA APRIRIANTY

Tesis

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Profesi Teknologi Pangan pada Program Studi Magister Profesi Teknologi Pangan

SEKOLAH PASCA SARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(13)
(14)

NIM : F252100085

Disetujui

Komisi Pembimbing

Dr. Ir. Harsi D Kusmaningrum Prof. Dr. Ir. Betty Sri Laksmi Jenie, MS

Ketua Anggota

Diketahui

Ketua Program Studi Dekan Sekolah Pascasarjana

Magister Profesi Teknologi Pangan

Dr. Ir. Lilis Nuraida, MSc Dr. Ir. Dahrul Syah

(15)
(16)

Bismillahhirrahmanirrahim.

Puji syukur penulis penjatkan kepada Allah SWT atas segala karuniaNya sehingga tugas karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian ini ialah penerapan sistem BRC versi terbaru yaitu isu 6 yang baru saja digunakan di PT SSI pada akhir tahun 2011.

Terima kasih penulis ucapkan kepada Dr. Ir. Harsi D Kusumaningrum dan Prof. Dr. Ir. Betty Sri Laksmi Jenie selaku dosen pembimbing, yang membimbing dan memberikan banyak sekali masukan dalam penulisan karya ilimiah ini. Terima kasih penulis ucapkan kepada PT SSI terutama pihak Manajemen, yang telah mengijinkan penulis untuk melanjutkan studi di Magister Profesi Tekonologi Pangan IPB serta memberikan kepercayaan penulis membuat karya ilmiah bertemakan BRC di PT SSI. Terima kasih saya ucapkan kepada teman-teman mahasiswa MPTP angkat 2010 agar segala kerjasama, diskusi dan doanya, serta bantuan akomodasi dan transportasi dari Ibu Amiroh, Ibu Endang dan Bapak Muzi. Ungkapan terima kasih disampaikan juga kepada orangtua dan keluarga di Bengkulu dan Temanggung, serta suami tercinta Koko Panuntun, ananda Adam Firsta dan Annisa atas doa, dukungan dan perhatiannya.

Semoga karya ilimiah ini bermanfaat bagi pembaca dan penulis sendiri.

Tangerang, Juli 2012

(17)
(18)

Penulis dilahirkan di kota Bengkulu pada tanggal 29 April 1979 dari Bapak H.Siahaan dan Ibu Adella. Penulis merupakan anak kedua dari empat bersaudara. Tahun 1997, penulis lulus dari SMU Negeri 5 Bengkulu dan lolos seleksi masuk IPB melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB. Pendidikan sarjana ditempuh di Program Studi Teknologi Pangan dan Gizi, Fakultas Teknologi Pertanian, lulus tahun 2001.

Penulis bekerja di bagian Quality Control di perusahaan biskuit PT

(19)
(20)

DAFTAR TABEL ... xi

C. Good Manufacturing Practices (GMP) ... 7

D. The Hazard Analysis Critical Control Points (HACCP) ... 7

E. British Retail Consortium (BRC) the Global Standard for Food Safety... 16

F. Audit pada BRC isu 6 ... 21

G. Spesifikasidanstandar wafers stik ... 22

H. Manajemen alergen ... 24

I. Pengendalian benda asing ... 28

III. METODOLOGI A. Tempatdanwaktu penelitian ... 34

B. Metodepenelitian ... 34

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. KajianPerubahan Persyaratan BRC Isu 6 terhadap Isu 5 ... 37

A.1. Kajian Perubahan Persyaratan Bagian 1- Manajemen Senior ... 39

A.2. Kajian Perubahan Persyaratan Bagian 2 - Rencana– HACCP ... 41

A.3. Kajian Perubahan Persyaratan Bagian 3-Sistem Keamanan dan Kualitas Pangan ... 43

A.4. Kajian Perubahan Persyaratan Bagian 4-Standar Lingkungan Pabrik ... 48

A.5. Kajian Perubahan PersyaratanBagian 5- Pengendalian Produk ... 59

A.6. Kajian Perubahan Persyartan Bagian 6 - Pengendalian Proses ... 61

A.7. Kajian Perubahan Persyaratan Bagian 7- Karyawan ... 63

B. Gap Ketersediaan Dokumen BRC Isu 6 di PT SSI dalam memenuhi BRC Isu 6 ... 65

(21)

Keamanan dan Kualitas Pangan ... 74

B.4. Gap Ketersediaan Dokumen Bagian 4 - Standar Lingkungan Pabrik ... 80

B.5. Gap Ketersediaan DokumenBagian 5 - Pengendalian Produk ... 87

B.6. Gap Ketersediaan Dokumen Bagian 6 - Pengendalian Proses ... 92

B.7. Gap Ketersediaan DokumenBagian 7- Karyawan ... 93

C. Pengembangan Manajemen Alergen di PT SSI ... 95

C.1. Penetapan Potensi Kandungan Alergen dalam Produk ... 96

C.2. Tahap Transportasi dan Penyimpanan Bahan Baku ... 100

C.3. Tahap Penyiapan (per – batch) ... 102

C.4. Tahap Proses Produksi ... 103

C.5. Pengemasan dan Pelabelan ... 108

C.6. Pembersihan dan Sanitasi ... 111

C.7. Pelatihan dan Pendidikan Karyawan ... 114

D. Pengendalian Benda Asing di PT SSI ... 116

D.1. Kajian Sumber Benda Asing pada Berbagai Tahapan Proses ... 123

D.2. Penetapan Standar Maksimal untuk Setiap Benda Asing ... 118

D.3. Penetapan Pengendalian Benda Asing dan Fasilitas yang Diperlukan ... 126

D.4. Verifikasi dan Dokumentasi Pengendalian Benda Asing ... 133

V. SIMPULAN DAN SARAN ... 135

DAFTAR PUSTAKA ... 139

(22)

1 7 Prinsip – 12 Langkah HACCP ... ... 9 2 Contoh cemaran mikrobiologi ... 10

3 Perbandingan program audit beberapa standar internasional... 20

4 Standar mutu cemaran mikroba biskuit SNI 2973:2011 ... 24

5 Allegenic food atau food groups yang disyaratkan dicantumkan

pada pelabelan menurut Codex dan beberapa negara ... 26

6 Persyaratan the BRCGlobal Standard food Safety isu 5 dan 6... 38

7 Kajian perubahan klausul BRC isu 6 bagian 1 terhadap BRC

isu 5 tentang Komitmen Manajemen Senior... 41 8 Kajian perubahan klausul BRC isu 6 bagian 2 terhadap BRC

isu 5 tentang Rencana Keamanan Pangan-HACCP... 42 9 Kajian perubahan klausul BRC isu 6 bagian 3 terhadap BRC

isu 5 tentang Sistem Keamanan dan Kualitas Pangan... 45 10 Kajian perubahan klausul BRC isu 6 bagian 4 terhadap BRC

isu 5 tentang Standar Lingkungan Pabrik ... 49 11 Kajian perubahan klausul BRC isu 6 bagian 5 terhadap BRC

isu 5 tentang Pengendalian Produk... 59 12 Kajian perubahan klausul BRC isu 6 bagian 6 terhadap BRC

isu 5 tentang Pengendalian Proses ... 62 13 Kajian perubahan klausul BRC isu 6 bagian 7 terhadap BRC

isu 5 tentang Karyawan ... 64 14 Persyaratan dokumen pada BRC isu 6 ... 67

15 Gap pemenuhan persyaratan dokumen BRC isu 6 bagian 3 -

Sistem manajemen keamanan dan mutu pangan di PT SSI... 74

16 Gap pemenuhan persyaratan dokumen BRC isu 6 bagian 4-

standar lingkungan pabrik di PT SSI... 82

17 Gap pemenuhan persyaratan dokumen BRC isu 6 bagian 5

pengendalian produk di PT SSI... 88 18 Aktivitas air minimum untuk pertumbuhan beberapa mikroba... 91

19 Gap pemenuhan persyaratan dokumen BRC isu 6 bagian 6 -

Pengendalian proses di PT SSI... 93

20 Gap pemenuhan persyaratan dokumen BRC isu 6 bagian 7-

Karyawan di PT SSI ... 93 21 Analisa keberadaan bahan yang mengadung alergen pada bahan

baku dan formulasi produk wafer... 99 22 Matriks pemakaian crumb dan minyak kurasan... 107 23 Peringatan alergen untuk beberapa negara ... 110 24 Penyusunan rekomendasi berdasarkan gap analysis PT SSI

(23)
(24)
(25)
(26)
(27)

A. Latar Belakang

Produk aman dan bermutu merupakan tuntutan utama pelanggan. Untuk

mencapai hal tersebut, produsen pangan perlu menerapkan suatu sistem jaminan

mutu dan keamanan. Ada berbagai standar nasional maupun internasional terkait

mutu dan keamanan pangan yang terus diperbaharukan mengikuti perkembangan

ilmu dan teknologi pangan serta isu terkait keamanan pangan yang ada di

masyarakat di seluruh dunia. Dalam persaingan dan perdagangan internasional,

jaminan penerapan suatu sistem, dengan bukti telah mendapatkan sertifikat sistem

keamanan pangan memiliki tempat khusus dan menjadi persyaratan.

PT SSI adalah industri produk wafer stik dan kukis yang memasarkan

produknya ke 40 negara di dunia. Pasar utama adalah Amerika Serikat, Inggris,

Australia, Selandia Baru, Singapura dan Cina. Konsumen lainnya adalah

Meksiko, Taiwan, Jepang, Kanada, serta beberapa negara di Asia Tenggara seperti

Thailand, Brunei Darussalam, Malaysia dan lainnya. Produk wafer dengan

beberapa jenis flavor yang dipasarkan adalah wafer coklat, vanilla, cappuccino,

chocolate-mint, strawberi, dan chocolate-hazelnut.

Sejak awal berdirinya di tahun 2006 sampai saat ini, PT SSI telah

mengimplementasikan dan melakukan sertifikasi beberapa sistem mutu dan

keamanan pangan. Sistem itu antara lain adalah ISO 22000:2005 (Sistem

Manajemen Keamanan Pangan), Safe Quality Foods (SQF) 2000 level 3, dan

British Retail Consortium (BRC) the Global Standard for Food Safety isu 5. Sejak

2011, hanya ada 2 sistem yang disertifikasi yaitu SQF 2000 dan BRC karena

semua pelanggan telah dapat menerima sertifikat tersebut. Di PT SSI hanya ada

satu sistem keamanan pangan, yang dirancang dan diimplementasikan agar

memenuhi semua persyaratan dan standar sistem-sistem tersebut.

The BRC Global Standard for Food Safety pertama kali dikeluarkan pada

tahun 1998. Standar ini dibangun sebagai kerangka kerja bagi produsen pangan

memproduksi pangan yang aman dan mengelola mutu produk sesuai persyaratan

pelanggan. Format dan isi Standar didesain agar dapat dilakukannya suatu kajian

(28)

pihak ketiga yang kompeten yaitu Badan Sertifikasi (BRC 2011). Hingga saat ini,

terdapat lebih dari 14.000 perusahaan di lebih dari 90 negara telah tersertifikasi

the BRC Global Standard fo Food Safety (BRC-About the BRC Global Standard,

2012).

Pada Juli 2011, diterbitkan the BRC Global Standard for Food Safety isu 6

dan diberlakukan untuk audit BRC sejak 1 Januari 2012. Perkembangan dalam isu

terbaru ini adalah lebih menspesifikasikan persyaratan mutu dan keamanan

pangan, serta operasional produsen pangan. Tujuannya adalah agar produsen

pangan dapat sepenuhnya memenuhi aturan legal dan memberikan perlindungan

penuh kepada konsumen (BRC 2011).

Kunci perubahan pada isu 6 antara lain adalah pengembangan

klausul-klausul terkait pengendalian benda asing, housekeeping dan higiene, manajemen

alergen, dan pengurangan klausul untuk memastikan setiap klausul mengandung

ide pokok yang signifikan dan menghasilkan konsistensi persyaratan yang nyata

(Food-The Global Standard for Food Safety issue 6 2012). Pada penelitian ini

akan dilakukan kajian terhadap standar dan penerapan dari the BRC Global

Standard for Food Safety isu 6 di PT SSI yaitu pada ruang lingkup produksi wafer

stik. Penelitian juga akan membahas persyaratan pada isu 6 dan implementasinya

di PT SSI terutama terkait aspek pengendalian benda asing dan manajemen

alergen.

B. Tujuan

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji standar dan implementasi isu

terbaru British Retail Consortium (BRC) the Global Standard for Food Safety isu

6 kedalam sistem keamanan pangan yang telah ada di PT SSI.

Tujuan khusus adalah:

1. Mengidentifikasi perbedaan persyaratan antara the BRC Global Standard for

Food Safety isu 5 dengan isu 6.

2. Menetapkan dokumen-dokumen yang diperlukan oleh PT SSI untuk

pemenuhan persyaratan the BRC Global Standard for Food Safety isu 6.

3. Mengkaji implementasi manajemen alergen dan pengendalian benda asing di

(29)

4. Menyusun rekomendasi implementasi manajemen alergen dan pengendalian

benda asing di PT SSI sesuai BRC isu 6.

C. Manfaat

Manfaat penelitian ini adalah :

1. Penerapan sistem jaminan keamanan pangan yang mengacu pada sistem BRC

isu 6 akan memberikan jaminan mutu dan keamanan produk (menghasilkan

produk yang bermutu dan aman bagi konsumen) yang lebih tinggi .

2. Memberikan manfaat bagi perusahaan, termasuk karyawan, yaitu berupa

peningkatan kepedulian terhadap keamanan pangan.

3. Memberikan kepuasan dan kepercayaan kepada konsumen yang lebih tinggi

terhadap terpenuhinya standar yang diharapkan.

4. Meningkatkan nilai jual produk yang dihasilkan, terutama untuk pasar ekspor

ke negara-negara di Eropa. Hal ini disebabkan karena sertifikat BRC diakui

secara internasional.

5. Sistem the BRC Global Standar for Food Safety merupakan sistem yang

diakui oleh Global Food Safety Initiative (GFSI) dan banyak negara di dunia,

sertifikatnya diterima oleh berbagai konsumen PT SSI, sehingga menghemat

waktu dan biaya untuk sertifikasi.

D. Ruang lingkup

Ruang lingkup penelitian ini adalah mengkaji sistem keamanan pangan

yang telah diterapkan di PT SSI yaitu the BRC Global Standard for Food Safety

isu 5 terhadap persyaratan pada BRC isu 6 untuk produk wafer stik. Kajian

dilakukan terhadap dokumentasi dan implementasi sesuai persyaratan pada BRC

isu terbaru tersebut. Kajian dilakukan mulai dari tahap penerimaan bahan baku,

(30)
(31)

II.

TINJAUAN PUSTAKA

A. PT SSI

PT SSI merupakan Perusahaan Modal Asing (PMA), yang memproduksi

wafer stik untuk bebeberapa negara tujuan ekspor. Perusahaan ini berlokasi di

Cikupa, Tangerang, dimiliki oleh warga negara berkebangsaan Australia dan

Selandia Baru. Perusahaan berdiri pada tahun 2005 dan sampai 2012 telah dapat

memasarkan kurang lebih satu juta karton ke 40 negara di dunia, terutama

Amerika Serikat, Inggris, Australia, Selandia Baru, Singapura dan Cina.

Konsumen lainnya adalah Meksiko, Taiwan, Jepang, Kanada, serta beberapa

negara di Asia Tenggara seperti Thailand, Brunei Darussalam, Malaysia dan

lainnya.

Produk wafer stik dengan beberapa jenis flavor yang dipasarkan adalah

wafer stik coklat, vanilla, cappuccino, chocolate-mint, strawberi dan

chocolate-hazelnut. PT SSI memproduksi produk dengan merek sendiri maupun private

label dari sebuah retailer dengan merek utama adalah Royal Dansk (milik

Denmark). PT SSI juga memproduksi kukis dalam jumlah sedikit (kurang dari 5%

dari total penjualan). Penerapan berbagai sistem keamanan pangan bertujuan

menjamin produk yang dihasilkan aman untuk dikonsumsi dan memenuhi

persyaratan pelanggan di berbagai negara tujuan.

PT SSI mengimplementasikan dan mensertifikasi beberapa sistem

manajemen keamanan pangan internasional yang diantaranya adalah the BRC

Global Standard of Food Safety (issue 5 tahun 2008), Safe and Quality Food

(SQF) 2000 Level 3 (tahun 2008) dan the Hazard Analysis Critial Control Points

(HACCP) ISO 22000:2005. Pelanggan internasional menuntut adanya jaminan

bahwa produk yang dihasilkan bermutu dan aman untuk dikonsumsi berdasarkan

suatu sistem tertentu yang baku. Sebagian besar pelanggan menerima cukup

dengan sertifikasi Good Hygiene Practices (GHP) atau Good Manufacturing

Practices (GMP) dan sistem HACCP. Namun tidak dengan pelanggan lainnya

seperti tuntutan salah satu pemilik private label asal Amerika Serikat. Mereka

menuntut PT SSI telah menerapkan SQF sebelum menyetujui kontrak kerjasama

(32)

produknya ke PT SSI dengan merek private label mereka yang telah sangat

dikenal di pasar di USA selama bertahun-tahun.

Alasan beberapa pelanggan termasuk pelanggan Eropa menginginkan PT

SSI tersertifikasi the Global Standard for Food Safety ini secara umum adalah

untuk memperoleh jaminan keamanan dan mutu pangan dari pemasoknya serta

sesuai dengan persyaratan regulasi. Sertifikasi keamanan pangan telah menjadi

alat dalam perdagangan pangan internasional. Suatu pemasok tidak dapat menjual

produknya di ritel-ritel yang tergabung dalam British Retail Consortium dan wajib

memperoleh sertifikat the BRC Global Standard for Food Safety.

B. Safe Quality Foods (SQF)

SQF adalah suatu sistem yang menerapkan prinsip-prinsip keamanan

pangan dari the National Advisory Committee on Microbiological Criteria for

Food (NACMCF) Amerika dan prinsip serta pedoman HACCP yang dibuat oleh

Codex Alimentarius Comission (SQF Institute 2008). Berbagai sistem manajemen

keamanan pangan dikembangkan oleh beberapa negara dengan rujukan pada

prinsip yang dikembangkan oleh Codex Alimentarius Commission-World Health

Organization (Thaheer 2008). Sertifikasi sistem SQF 2000 terdiri dari 3 level.

Level 1 meliputi persyaratan fundatemental bagi keamanan pangan, yang

berisikan prerequisite programmes dasar untuk kemananan pangan. Level 2

mensyaratkan sertifikasi rencana HACCP, meliputi prerequisite programmes pada

level 1 ditambah dengan pengendalian CCP pada rencana HACCP. Level 3

berikan persyaratan lengkap sistem manajemen keamanan pangan dan mutu

pangan. Pada level 3 mensyaratkan pemenuhan persyaratan level 1 dan 2 serta

memenuhi aspek mutu dan pengendalian terkait demi menghasilkan suatu sistem

manajemen keamanan dan mutu pangan yang komprehensif (SQF Institute 2008).

PT SSI tersertifikasi SQF level 3 sejak 2011. SQF terdiri dari 6 bagian utama

yaitu Komitmen, Spesifikasi, Pengendalian Produksi (termasuk persyaratan

prerequisite programmes dan HACCP), Verifikasi, Pengendalian Dokumen dan

(33)

C. Good Manufacturing Practices (GMP)

Penerapan Good Manufacturing Practices (GMP) atau Good Hygiene

Practices (GHP) merupakan fondasi dari semua sistem keamanan pangan,

termasuk the BRC Global Standard for Food Safety. Sistem GMP ini meliputi

sanitasi dan keamanan produk sehingga berkaitan juga dengan sistem HACCP

(Manley 2000).

Cakupan dari GMP adalah proses produksi yang baik, bangunan, fasilitas,

pekerja, praktek sanitasi dan higiene pekerja, pengendalian hama, serta kegiatan

lainnya yang dapat menjamin proses produksi menghasilkan produk yang aman

untuk dikonsumsi oleh manusia. Penerapan GMP ini di PT SSI misalnya dengan

menjaga baik kondisi lingkungan pabrik baik di dalam maupun di sekitar pabrik.

Kondisi di luar pabrik haruslah dikendalikan dan dipastikan tidak akan

mengakibatkan kontaminasi ke produk. Penyimpanan peralatan yang tidak baik,

sampah, limbah, rumput tinggi atau semak di luar menjadi tempat berkembang

biak atau menarik tikus, serangga, dan lainnya. Semua peralatan yang tidak

dipakai yang disimpan di luar hendaklah dipelihara sama seperti penyimpanan di

dalam untuk mencegah perkembangan tikus. Saluran air tidak boleh dibiarkan

mengenang. Genangan pada saluran air setelah hujan akan menyebabkan

kontaminasi dari lalu lintas kaki yang dapat terbawa masuk ke dalam pabrik (AIB

1979).

Salah satu contoh penerapan GMP di dalam area produksi adalah

pengaturan jarak peralatan dan masalah pencahayaan. Area bekerja antar peralatan

atau antara peralatan dan dinding hendaknya cukup lebar agar karyawan dapat

bekerja dan tidak mengkontaminasi permukaan pangan atau zona produk dengan

baju atau kegiatannya. Diperlukan pencahayaan 50 foot-candles di area pengujian,

30 foot-candles pada semua permukaan bekerja, minimal 5 foot-candles pada 30

inches diatas lantai lainnya dan 10-foot candles di ruang toilet (AIB 1979).

D. The Hazard Analysis Critical Control Points (HACCP)

PT SSI menerapkan sistem jaminan keamanan pangan ISO 22000, yang

merupakan pembaharuan dari sistem manajemen keamanan pangan HACCP yang

(34)

keamanan pangan, komitmen manajemen puncak dan pimpinan terhadap

keamanan pangan, komunikasi internal dan eksternal, dan kesiapan serta respon

terhadap kondisi darurat. Sistem ini mencakup paradigma baru pengendalian

keamanan pangan yaitu “from farm to table” yang memberikan jaminan keamanan pangan sepanjang rantai pangan (Muhandri dan Kadarisman 2008).

HACCP pada awalnya dikembangkan untuk pengendalian mikrobiologi pada

pangan yang akan dikonsumsi dalam misi luar angkasa (Goodburn, 2001).

ISO 22.000:2005 mengintegrasikan 12 langkah HACCP Codex

Alimentarius Comission. Sebuah organisasi harus melakukan analisa bahaya pada

setiap bahan dan tahapan proses. Codex Alimentarius Commission menetapkan 7

prinsip HACCP. Ketujuh prinsip tersebut diimplementasikan ke operasional

pangan melalui 12 langkah kunci seperti pada Tabel 1. Codex memberikan

pedoman lebih lanjut sebagai berikut:

a. Rantai pangan hendaknya telah beroperasional sesuai Codex General

Principles of Food Hygiene dan Codex Codes of Practices terkait lainnya

serta legislasi keamanan pangan sebelum menerapkan HACCP.

b. Komitmen manajemen terhadap HACCP menjadi penting dalam

implementasi sistem HACCP

c. Mendesain ulang operasional yang penting jika suatu bahaya membutuhkan

pengendalian

d. Setiap operasional hendaknya menjadi perhatian HACCP dan dikaji rutin.

e. Fleksibel dalam penerapan HACCP, dengan memperhitungkan semua

kemungkinan (Goodburn 2001).

PT SSI memiliki satu rencana HACCP yang memuat semua jenis produk wafer

stik yang dihasilkan.

D.1. Langkah 1: Pembentukan Tim HACCP

Tim HACCP dibentuk dari latar belakang multidisiplin dari semua

departemen. Anggota tim akan mengembangkan rencana HACCP perusahaan, oleh

sebab itu dianjurkan agar anggota-anggota tim juga memiliki kemampuan untuk

mengevaluasi data dengan cara yang logis, analisis, berkomunikasi, dan berpikir ke

(35)

Tabel 1 7 Prinsip – 12 Langkah HACCP Codex

Langkah/Prinsip

Langkah 1 Membentuk tim HACCP Langkah 2 Mendeskripsikan produk Langkah 3 Mengidentifikasi pengguna Langkah 4 Membuat diagram alir

Langkah 5 Mengkonfirmasi diagram alir di lapangan

Langkah 6 Prinsip 1 Mendaftarkan semua bahaya potensial. Lakukan analisa bahaya Langkah 7 Prinsip 2 Menetapkan control measures (alat kendali)

Langkah 8 Prinsip 3 Membuat titik kritis (batas kritis) Langkah 9 Prinsip 4 Menetapkan sistem pemantauan CCP

Langkah 10 Prinsip 5 Menetapkan tindakan koreksi jika saat pemantauan menunjukkan CCP berada diluar kendali

Langkah 11 Prinsip 6 Membuat prosedur verifikasi untuk menetapkan sistem HACCP telah sesuai Langkah 12 Prinsip 7 Membuat dokumentasi terhadap semua prosedur dan catatan yang

ditetapkan pada prinsip-prinsip ini dan implementasinya

Sumber: Codex Alimentarius Comission dalam Gaze dan Campbell (2004)

D.2. Prerequisite program

Pengendalian bahaya dilakukan berbasiskan prerequisite programmes dan

rencana HACCP. National Advisory Committee on Microbiological Criteria for

Foods (NACMCF) di Amerika Serikat memperkenalkan istilah prerequisite

programmes. Prerequisite programmes didefinisikan sebagai “Prosedur, termasuk

Good Manufacturing Practices, yang mengarahkan kepada kondisi operasional,

sebagai fondasi dari penerapan sistem HACCP”. Prerequisite programmes

mengelola dasar lingkungan dan kondisi proses dalam produksi pangan. Menurut

NACMCF yang termasuk dalam daftar dari prerequisite programmes yaitu:

pengendalian pemasok; spesifikasi; peralatan produksi; pembersihan dan sanitasi;

higiene karyawan; pelatihan; pengendalian bahan kimia; penerimaan,

penyimpanan dan pengkapalan; daya telusur dan penarikan produk (recall); dan

pengendalian hama. Prerequisite programmes adalah alat bantu penting dalam

pencegahan dan pengendalian benda asing (Gaze dan Campbell 2004).

Dengan prerequisite programmes, sistem HACCP akan lebih fokus kepada

masalah keamanan yang potensial yaitu produk atau proses tertentu. Sistem akan

fokus kepada titik kendali kritis pada proses karena prerequisite programmes

dapat mengelola risiko bahaya yang kecil seperti masalah mutu dan komersial

(36)

Beberapa prerequisite programmes yang harus diterapkan menurut BRC

(2011) adalah pembersihan dan sanitasi, pengendalian hama, program

pemeliharaan untuk peralatan dan bangunan, persyaratan higiene karyawan,

pelatihan karyawan, pembelian, pengaturan pengangkutan, proses untuk

pencegahan kontaminasi silang, dan pengendalian alergen. Prosedur pengendalian

dan pemantauan prerequisite programmes juga harus terdokumentasi dan menjadi

bagian dari program pengembangan dan pengkajian program HACCP.

D.3. Langkah 2: Deskripsi Produk

Langkah 2 deskripsi produk mendefinisikan awal dan akhir dari proses yang

benar-benar dipertimbangkan. Pada kebanyakan kasus rencana HACCP bersifat

menyeluruh, seperti pada industri pangan dimulai dari penerimaan bahan baku,

proses, hingga distribusi produk ke pelanggan. Lingkup dan tujuan dari rencana

HACCP diputuskan pada bagian awal karena hal tersebut menentukan hal-hal apa

yang harus diketahui oleh tim HACCP untuk melengkapi analisa bahaya hingga

selesai dan selanjutnya akan divalidasi dan diperiksa untuk meyakinkan tidak ada

bagian pada keseluruhan proses yang terlupakan.

D.4. Langkah 3: Identifikasi Pengguna

Didalam analisa risiko, tingkat bahaya suatu produk akan berkaitan dengan

konsumennya. Suatu produk dikategorikan memiliki risiko tinggi bila merupakan

kategori dikonsumsi oleh populasi bayi, hamil dan menyusui, manula, orang sakit

atau dalam masa penyembuhan, atau untuk orang dengan daya tahan tubuh rendah

atau alergi terhadap senyawa tertentu (Thaheer 2008).

D.5. Langkah 4: Diagram Alir Proses

Diagram alir proses menunjukkan gambar dari proses yang ada.

Diagram-diagram alir proses harus mengidentifikasi semua tahapan proses termasuk

tranfer, inspeksi dan penundaan, mencakup semua masukan ke dalam proses

termasuk bahan baku, kemasan, air dan bahan-bahan kimia, serta semua keluaran

dari proses seperti sisa kemasan, bahan baku, pengerjaan ulang, atau yang

dibuang. Tahapan ini sangat penting karena setiap tahapan dari proses dapat

(37)

D.6. Langkah 5: Verifikasi Diagram Alir Proses

Diagram alir proses digunakan sebagai dasar dari analisa bahaya dimana

ketepatannya sangatlah penting bagi sistem HACCP. Cara yang baik untuk

menjamin ketepatan ini adalah dengan memperhatikan proses pada saat proses

tersebut berjalan. Perhatian harus dilakukan untuk menjamin bahwa seluruh

tahapan proses telah sesuai termasuk penundaan dan meliputi jalan-jalan alternatif

bagi produksi (ketika peralatan lain kemungkinan rusak).

D.7. Langkah 6-Prinsip 1: Identifikasi Bahaya

Analisa bahaya dilakukan terhadap bahan baku, peralatan yang kontak

produk, proses produksi, dan alergen. Analisa bahaya bahan baku dan peralatan

kontak produk adalah penilaian risiko bahaya yang timbul dari bahan baku dan

peralatan kontak produk yang bersangkutan. Analisa bahaya proses produksi

adalah melakukan penilaian potensi risiko bahaya yang timbul di masing-masing

tahapan produksi. Analisa alergen adalah untuk menilai risiko bahaya alergen

pada masing-masing produk. Bahaya dikategorikan sebagai bahaya mikrobiologi,

fisik dan kimia.

Identifikasi bahaya dapat dilakukan melalui pengalaman dan pengetahuan

mengenai proses pembuatan makanan, produk, bahan baku, pemeriksaan setiap

keluhan pelanggan, informasi pemasok, dan hasil-hasil penelitian pada literatur

dan jurnal-jurnal yang relevan. Ketika sebuah bahaya telah teridentifikasi Tim

HACCP harus menetapkan lebih lanjut tingkat keparahan dari potensi bahaya

yang ada mengancam keselamatan pelanggan atau mutu produk dan sebesar besar

kemungkinan bahaya terjadi. Sebagai contoh, adanya logam dalam produk wafer

stik adalah risiko bahaya yang tinggi, walaupun demikian kemungkinan untuk

terjadinya sangatlah kecil.

Analisa bahaya digunakan untuk menentukan bahaya yang memerlukan

pengukuran dan pengendalian. Jika tingkat masalah dan kemungkinan dari bahaya

rendah maka tim boleh memutuskan bahwa pengendalian bahaya dicapai melalui

pelatihan dan petunjuk-petunjuk bekerja. Jika bahaya memiliki signifikansi yang

tinggi, tim HACCP harus memastikan bahwa dalam tahapan selanjutnya dari rencana

HACCP bahaya tersebut terkendali. Penulisan semua bahaya yang signifikan atau

(38)

bahaya-bahaya tersebut setidaknya diperhatikan dan dipertimbangkan walaupun bahaya-bahaya

tersebut tidak sering terjadi.

D.7.1. Bahaya Mikrobiologi

Cemaran mikrobiologi tergantung dari tipe produk, asal bahan baku (misalnya

sifat alami bahan, bahan segar atau sintesis), operasional pekerja yang tidak higiene,

dan perlakuan atau pengolahan yang dilakukan (seperti pemanasan, penyimpanan

pada suhu ruang). Faktor-faktor utama yang dapat mempengaruhi pertumbuhan

mikroorganisme adalah temperatur, waktu, kelembaban, keasaman, tingkat oksigen,

organisme-organisme lain, dan jumlah mikroba. Tabel 2 menunjukkan beberapa

contoh cemaran mikrobiologi.

Tabel 2 Contoh cemaran mikrobiologi

No Tipe Contoh mikroorganisme

1 Organisme infektif a. Sel vegetatif seperti Campylobacter jejuni, Salmonella spp., Shigella spp.

b. Virus seperti rotavirus, hepatitis A

c. Khamir/kapang seperti Candida abicans, Aspergillus flavus, Fusarium spp.

d. Parasit seperti Giardia lumblia, Toxoplasma gondii.

2 Spora bakteri Clostridium botulinum, Clostridium perfingens dan Bacillus cereus.

Sumber: Thaheer (2008)

Kemungkinan terjadinya kontaminasi pada produk pangan dapat

dikelompokkan menjadi tiga yaitu:

1. Pencemaran langsung (direct contamination), yaitu adanya bahan pencemar

yang masuk kedalam makanan secara langsung karena ketidaktahuan atau

kelalaian baik disengaja atau tidak, misalnya adanya penggunaan bahan

tambahan yang dilarang dan rambut dalam produk.

2. Pencemaran silang (cross contamination), yaitu pencemaran yang terjadi

secara tidak langsung, misalnya penanganan bahan mentah di lokasi yang

sama dengan penanganan produk jadi.

3. Pencemaran ulang (recontamination), yaitu pencemaran yang terjadi terhadap

makanan yang telah dimasak sempurna. Misalnya makanan yang telah

dimasak tidak dikemas/tidak dilindungi sehingga kemungkinan tercemar

(39)

Pada produksi wafer stik, produk melalui proses pemasakan pada suhu sekitar

140 derajat celcius. Produk akhir memiliki kadar air yang rendah sehingga risiko

bahaya mikrobiologinya relatif rendah. Walaupun demikian, setelah dari oven masih

terdapat risiko bahaya. Beberapa contoh bahaya yang mungkin terjadi di PT SSI

adalah kontaminasi silang dari peralatan dan mesin yang kotor digunakan untuk

proses; kondisi kesehatan karyawan yang sakit, terluka yang menangani produk atau

bahan baku; kurangnya pengawasan lingkungan pabrik sehingga produk

terkontaminasi serangga; dan kondisi tempat penyimpanan yang tidak baik.

D.7.2. Bahaya Fisik

Beberapa contoh bahaya fisik pada produk adalah berupa pecahan kaca;

serpihan logam; batu kerikil, debu atau kotoran tanah lainnya; kayu dari palet atau

peralatan kayu; serangga; plastik keras dari peralatan; dan perhiasan seperti cincin,

anting, dan kalung. Bahaya-bahaya tesebut dapat berasal dari kegiatan pemeliharaan

rutin, peralatan yang berkarat, lampu yang tidak dilindungi atau bahan baku dari

pemasok yang sudah terkontaminasi. Penggunaan peralatan yang dapat

menghilangkan bahaya fisik seperti saringan krim dan adonan, penyaring udara dan

detektor logam haruslah diawasi rutin sehingga efektif menghilangkan bahaya fisik

selama proses dan di produk akhir.

D.7.3. Bahaya Kimia

Beberapa contoh bahaya kimia adalah alergen dari bahan baku dan

kontaminasi silang pangan alergen selama proses pengolahan; bahan pembersih yang

beracun; cat, tinta dan pelarut; dan bahan dari pemeliharaan peralatan seperti pelumas

dan oli. Bahan kemasan dan bahan baku bukan untuk pangan (food grade), seperti zat

pewarna yang dilarang, juga dapat menimbulkan kontaminasi kimia.

D.8. Langkah 7-Prinsip 2; Penetapan Critical Control Points

Ketika bahaya yang signifikan teridentifikasi dalam rencana HACCP

berhubungan dengan tahapan-tahapan proses atau bahan baku tertentu, maka

menjadi hal penting untuk menentukan apakah tahapan-tahapan tersebut merupakan

tahapan kritis (Critical Control Points/CCP) atau bukan (Control Points/CP) dalam

menjamin keamanan produk. Critical Control Point (CCP) adalah tahapan proses

atau bahan baku dimana pengontrolan dapat diterapkan dan merupakan hal yang

(40)

menguranginya sampai pada tingkatan yang dapat diterima. Control Point (CP)

adalah tahapan dalam proses dimana pengontrolan mungkin saja terlewatkan

tanpa menimbulkan bahaya keamanan pangan secara signifikan atau dimana

bahaya keamanan pangan tidak akan mencapai tingkatan yang tidak dapat

diterima.

D.9. Langkah 8–Prinsip 3; Penetapan Batas Kritis CCP

Batas kritis adalah kriteria yang membedakan antara taraf yang dapat diterima

dengan taraf yang tidak dapat diterima. Batas kritis adalah toleransi yang menentukan

dimana tidak boleh ada pengecualian agar produk aman atau memenuhi parameter

mutu tertentu. Tim HACCP harus memahami bahaya dan cara-cara penanganannya

dalam penyusunan batas kritis. Jika tim tidak memiliki pemahaman mengenai

penentuan batas kritis, mereka harus mencari buku petunjuk teknis, petunjuk

penggunaan, jurnal-jurnal dan tenaga ahli di bidangnya, atau sumber lainnya. Batas

kritis harus mudah diukur dan dipantau secara konstan.

Batasan titik untuk setiap CCP harus divalidasi. Validasi adalah cara untuk

mendapatkan bukti bahwa elemen dari rencana aplikasi HACCP berjalan dengan

efektif, yang mampu membuktikan bahwa batas kritis yang telah kita pilih dapat

mengontrol bahaya.

D.10. Langkah 9–Prinsip 4; Menetapkan Sistem Pemantauan CCP

Pemantauan merupakan rencana pengawasan dan pengukuran

berkesinambungan untuk mengetahui apakah suatu CCP dalam keadaan terkendali

dan menghasilkan catatan yang tepat untuk digunakan dalam proses verifikasi.

Tujuan pemantauan CCP adalah sebagai berikut:

1. Mengetahui kapan sebuah CCP kehilangan kendali dan menyebabkan

meningkatnya risiko menghasilkan produk yang berbahaya.

2. Mengidentifikasi masalah sebelum hal tersebut terjadi.

3. Mengetahui secara tepat penyebab masalah tersebut.

4. Membantu memverifikasi aplikasi rencana HACCP.

Pemantauan CCP harus dicatat dan catatannya disimpan selama periode tertentu

(41)

D.11. Langkah 10–Prinsip 5; Penetapan Tindakan Koreksi

Tindakan koreksi adalah suatu tindakan yang dilakukan bila hasil

pemantauan (Langkah 9) menunjukkan tidak terkendali, yaitu melebihi batas kritis

yang telah ditetapkan (Langkah 8). Prosedur tindakan koreksi harus mencakup dua

bagian yaitu tindakan langsung dan tindakan pencegahan. Tindakan langsung

meliputi pengaturan kembali proses sehingga kembali terkendali, penghentian proses

dan perlakuan tertentu terhadap produk yang dicurigai, seperti diganti, diproses ulang

atau dikirimkan ke pasar yang berbeda (misal ke stock feed market). Tindakan

pencegahan meliputi identifikasi akar dari permasalahan, menjalankan tindakan yang

sesuai, seperti merubah prosedur, proses, peralatan, material ataupun produk sehingga

keadaan ini tidak terulang kembali. Tindakan perbaikan juga dapat dilakukan dengan

menambah frekuensi pemanatauan dalam rencana HACCP. Verifikasi harus

dilakukan untuk mengetahui apakah perubahan telah diimplementasikan dan efektif.

D.12. Langkah 11- Prinsip 6; Penetapan Prosedur Verifikasi

Rencana HACCP harus mencakup pencatatan prosedur-prosedur verifikasi

untuk memastikan bahwa rencana HACCP telah diikuti dan dijalankan dengan

benar. Ada tiga elemen penting pada verifikasi :

1. Peninjauan internal secara berkesinambungan terhadap pengendalian dan

pencatatan tindakan koreksi untuk menjamin keseluruhan proses dan setiap

CCP terkendali;

2. Audit internal maupun eksternal untuk menjamin bahwa rencana HACCP telah

mencakup ketujuh prinsip HACCP Codex yang ada, telah diikuti dan tidak ada

perubahan proses serta masukan;

3. Validasi internal ataupun eksternal, yaitu semua bahaya yang relevan telah

teridentifikasi, perkiraan risiko bahaya yang potensial telah valid dan benar,

batas kritis benar, dan prosedur-prosedur pemantauan serta prosedur-prosedur

koreksi telah efektif.

Verifikasi keefektifan rencana HACCP harus dilakukan tim HACCP secara

teratur. Jika teridentifikasi suat perubahan maka analisa bahaya harus diulang

kembali baik untuk keseluruhan proses atau memodifikasi tahapan dalam proses

(42)

D.13. Langkah 12–Prinsip 7; Penetapan Dokumentasi dan Pencatatan

Dokumentasi adalah bukti tertulis bahwa tindakan tertentu telah dilakukan.

Tim HACCP hasil dari aktifitas-aktifitas yang harus didokumentasikan dalam

rencana HACCP. Pendokumentasian ini merupakan bukti yang objektif bahwa

setiap alat ukur pada prosedur pengendalian telah diterapkan dengan benar, tidak

melebihi batas kritis dan telah dilakukannya tindakan koreksi pada penyimpangan.

Audit internal, yang dijadwalkan paling sedikit setiap 6 bulan sekali pada seluruh

lingkup sistem manajemen keamanan dan mutu PT SSI, dilakukan untuk

memastikan bahwa aktifitas yang diterapkan dan dipelihara sesuai dengan yang

direncanakan serta sistem manajemen keamanan dan mutu pangan telah sesuai

dengan persyaratan Standar BRC dan efektif.

E. British Retail Consortium (BRC) the Global Standard for Food Safety

The BRC Global Standard for Food Safety pertama kali dikeluarkan pada

tahun 1998. Standar dibangun sebagai kerangka kerja bagi produsen pangan

memproduksi pangan yang aman dan mengelola mutu produk sesuai persyaratan

pelanggan. Format dan isi Standar didesain agar dapat dilakukannya suatu kajian

kesesuaian bangunan pabrik, sistem operasional dan prosedur perusahaan oleh

pihak ketiga yang kompeten yaitu Badan Sertifikasi (BRC 2011). Hingga saat ini,

terdapat lebih dari 14.000 perusahaan di lebih dari 90 negara telah tersertifikasi

the BRC Global Standard fo Food Safety (BRC-About the BRC Global Standard,

2012).

The Global Standard for Food Safety ditujukan bagi perusahaan dan

pelanggan agar sesuai dengan aturan legal keamanan pangan. Legislasi keamanan

pangan di seluruh dunia secara umum menuntut pelaku bisnis pangan untuk (BRC

2011):

1. Menjamin adanya spesifikasi detil yang absah dan konsisten dengan standar

keamanan dan GMP.

2. Memastikan pemasok mereka mampu menghasilkan produk sesuai

spesifikasi, memenuhi persyaratan legal dan melaksanakan sistem

(43)

3. Membuat kunjungan dari waktu ke waktu, dan jika memungkinkan,

melakukan verifikasi kompetensi pemasok atau menerima hasil audit dari

pihak lain terhadap pemasok mereka.

4. Membuat dan mempertahankan program kajian risiko pada evaluasi,

pengujian atau analisa produk.

5. Memantau dan melakukan reaksi terhadap keluhan pelanggan.

Keuntungan dari mengadopsi Standar BRC secara bisnis adalah karena Standar ini

(BRC 2011):

1. Diakui secara internasional dan sertifikasi dapat diterima oleh pelanggan di

manapun yang mengurangi waktu dan biaya untuk audit.

2. Merupakan sebuah standar dan protokol yang dapat diudit oleh pihak ketiga

yang terakreditasi yaitu Badan Sertifikasi sehingga memungkinkan

dilakukannya suatu kajian independen dan memiliki kredibilitas terhadap

sistem keamanan dan mutu pangan perusahaan.

3. Memungkinkan perusahaan yang tersertifikasi muncul dalam BRC public

directory sehingga adanya pengakuan terhadap pencapaian perusahaan dan

penggunaan logo untuk tujuan pemasaran.

4. Berada dalam ruang lingkup yang komprehensif meliputi mutu, higiene dan

keamanan produk.

5. Mengarahkan industri pangan untuk memenuhi persyaratan legal dan

persyaratan pelanggan mereka. Standar ini juga memungkinkan perusahaan

untuk memastikan pemasok mereka mengikuti tata cara sistem manajemen

keamanan pangan yang baik.

6. Menyediakan pilihan audit berupa program announced audit dan

unannounced audit sehingga sesuai dengan kebutuhan perusahaan dan

memungkinkan perusahaan mendemonstrasikan pencapaian mereka sesuai

proses operasional dan tingkat kematangan sistem keamanan pangan mereka.

Persyaratan dalam Standar BRC ini dibagi dalam 7 bagian yaitu bagian 1 tentang

Komitmen manajemen senior dan perbaikan yang berkesinambungan; bagian 2

tentang rencana HACCP; bagian 3 tentang Sistem Manajemen Keamanan dan

(44)

Produk; bagian 6 tentang Pengendalian Proses; dan bagian 7 tentang Karyawan

(BRC 2011).

Dalam perkembangannya, Standar BRC dibangun terus-menerus

berdasarkan prinsip risiko yang jelas sesuai persyaratan, format pelaporan yang

informatif dan kompetensi auditor. Perkembangan the BRC Global Standard for

Food Safety isu 6 merupakan hasil dari proses konsultasi dari banyak saran dan

masukan dari berbagai kelompok stakeholder internasional, mewakili produsen

pangan, retailer, perusahan jasa boga dan badan sertifikasi. Pembaharuan Standar

dilakukan secara rutin yang mencerminkan pemikiran-pemikiran terbaru dalam

keamanan pangan. Perkembangan dalam BRC isu terbaru ini adalah lebih

menspesifikkan persyaratan untuk mutu dan keamanan pangan, serta soal

operasional produsen pangan. Saat ini Standar telah dipakai di seluruh dunia.

Telah banyak permintaan sertifikasi BRC bagi pemasok retailer, perusahaan jasa

boga dan perusahaan di seluruh dunia. Standar diterjemahkan dalam banyak

bahasa untuk membantu penerapannya pada berbagai bisnis pangan. Pada 1 Juli

2011 dikeluarkan isu terbaru yaitu BRC isu 6 (BRC 2011).

Kunci perubahan pada isu 6 (Food-The Global standar for Food Safety

issue 6 2012) meliputi:

a. Pengembangan dalam pengendalian benda asing, housekeeping dan higiene

dan manajemen alergen.

b. Pengenalan 2 tingkat audit tanpa pemberitahuan (unannounced audit) yang

dapat dipilih secara sukarela.

c. Mengurangi klausul untuk memastikan setiap klausul mengandung ide pokok

yang signifikan, menghasilkan konsistensi persyaratan yang nyata.

Lebih lanjut pada BRC (2011) disebutkan bahwa perubahan pada isu 6 ini adalah:

1. Pilihan kepada perusahaan dalam hal audit tanpa pemberitahuan untuk

memperoleh sertifikasi peringkat A atau B.

2. Panduan yang lebih dalam implementasi HACCP berdasarkan prinsip Codex

Alimentarius.

3. Penekanan yang lebih besar pada manajemen senior agar menunjukkan

komitmen mereka dalam mencapai tujuan yaitu mencapai mutu dan

(45)

4. Pengembangan pada hal utama seperti alergen dan preserved identity,

manajemen laboratorium, dan pengendalian kontaminasi fisik dan kimia.

5. Memperkenalkan sistem peringkat yang lebih jelas untuk grade B, C dan D.

Kunjungan ulang oleh Badan Sertifikasi dilakukan dalam 28 hari untuk

menverifikasi tindakan koreksi untuk peringkat C, frekuensi audit diturunkan

menjadi 6 bulan.

6. Revisi kategori produk yang fokus kepada teknologi produk yaitu

berdasarkan audit di lapangan kepada persyaratan auditor.

7. Memperkenalkan bagian baru yaitu keamanan (site security) yang

membutuhkan pengendalian akses, pelatihan karyawan, gudang penyimpanan

bahan yang aman, dan pendaftaran serta persetujuan pabrik (BRC 2011).

Sertifikat tidak dapat diberikan ke suatu perusahaan jika tidak ada peringkat

yang sesuai, jika tindakan koresi tidak diselesaikan atau tidak ada cukup bukti

yang diterima oleh Badan Sertifikasi dalam 28 hari kalender (BRC 2011).

Perlindungan keamanan pangan (food security) merupakan isu terbaru

dalam program keamanan pangan (food safety). Food security diaplikasikan

sebagai usaha untuk mengatasi ancaman maupun terorisme pangan (food

terrorism) yang dapat membahayakan keamanan pangan. Beberapa tujuan dari

terorisme pangan antara lain adalah menyebabkan ketakutan, penyakit atau

kematian penduduk, mengurangi ketersediaan dan mutu pangan, menyengsarakan

suatu bisnis pangan yang berakibat pada harga, ketersediaan dan pemasaran

produk, atau menggunakan pangan sebagai senjata politik. Dasar dari

perlindungan pangan yang efektif adalah dengan melibatkan dan

mengintegrasikan Rencana HACCP, memberikan aspek perlindungan dan

keamanan pangan dari pelaksanaan GMP, standar operasional prosedur sanitasi

yang berjalan baik dan efektif, serta program penarikan produk (recall) yang

terbaharui (Rasco dan Bledsoe 2005).

Perbandingan sistem audit pada BRC dengan beberapa sistem keamanan

pangan dunia dapat dilihat pada Tabel 3 (SAI Global 2010). Terlihat sistem BRC

dan SQF memiliki banyak persamaan namun cukup berbeda dari ISO 22.000.

BRC dan SQF sama-sama mendetilkan persyaratan terkait prerequisite

(46)

pengendalian hama, pengendalian bahan kimia, persetujuan pemasok, dan

persetujuan penggunanan bahan kemasan. Kedua standar, selain mensyaratkan

penetapan HACCP, juga mensyaratkan pengujian mikrobiologi, penanganan

pangan alergen dan bahan pangan sensitif, serta pengendalian benda asing. Kedua

standar mensyaratkan adanya kajian soal aturan pelabelan dan kesesuaian dengan

aturan negara atau industri. Dari tabel tadi dapat dilihat kesemua hal tadi tidak

disyaratkan dalam ISO 22.000.

Tabel 3 Perbandingan program audit beberapa standar internasional

(47)

F. Audit pada BRC Isu 6

The Global Standard for Food Safety memberikan pilihan-pilihan audit dan

sertifikasi. Pendekatan fleksibel merupakan respon dari permintaan pasar dan

memungkinkan perusahaan untuk memilih satu pilihan audit terbaik untuk

persyaratan pelanggan, operasional pabrik dan kematangan sistem keamanan

pangan mereka. BRC isu 6 memperkenalkan sistem peringkat yang lebih jelas

untuk grade B, C dan D seperti pada Lampiran 1. Berikut ini adalah pilihan audit

pada the Global Standard for Food Safety:

1. Enrolment programme, merupakan pilihan bagi perusahaan untuk yang baru

atau yang belum tersertifikasi.

2. Audit dengan pemberitahuan (announced audit programme). Audit ini

tersedia bagi perusahaan yang telah tersertifikasi dan proses audit yang sama

dengan enrollment programme. Keberhasilan audit diberi sertifikat grade A,

B, atau C tergantung pada jumlah dan tipe non-conformities (ketidaksesuaian)

yang ditemukan. Namun tidak ada nilai A+pada audit ini.

3. Audit tanpa pemberitahuan (unannounced audit programme). Audit hanya

berlaku bagi perusahaan yang telah tersertifikasi Standar BRC dan mendapat

peringkat A+, A, B+ atau B. Pilihan pada unannounced audit memberikan

kesempatan bagi perusahaan untuk mendemonstrasikan kematangan sistem

mutu dan keberhasilan perusahaan, yang kemudian dapat diberi peringkat A+

(peringkat tertinggi BRC),B+ atau C+. Audit independen terhadap sistem dan

prosedur akan memberikan kepercayaan lebih bagi pelanggan perusahaan

karena menunjukkan kemampuan perusahaan menjaga standar secara

konsisten. Terdapat dua pilihan audit tanpa pemberitahuan yaitu:

1. Pilihan 1, yaitu keseluruhan Standar diaudit pada satu kunjungan audit

tanpa pemberitahuan, biasanya berlangsung dua hari.

2. Pilihan 2, yaitu kunjungan audit dibagi menjadi 2 kunjungan terpisah,

yang masing-masing berlangsung satu hari. Audit pada kunjungan

pertama yang tidak diumumkan didominasi audit terhadap GMP. Pada

audit kedua yang direncanakan, didominasi audit terhadap sistem

(48)

G. Spesifikasi dan Standar Wafer Stik

Wafer stik, dikenal juga dengan wafer roll, dikonsumsi sebagai makanan

selingan maupun makanan penutup. Wafer stik terdiri dari kulit yang diisikan

dengan krim, seperti yang diperlihatkan pada Gambar 1. Bahan untuk kulit

ditimbang, diaduk dalam mixer kemudian dipompakan kedalam drum oven yang

berputar sehingga membentuk lembaran. Dalam keadaan panas lembaran

digulung dan direkatkan dengan bantuan air sehingga membentuk gulungan

(flute). Bahan untuk krim diaduk dalam ball mill mixer (dengan bola baja) untuk

mengecilkan ukuran dan menghasilkan krim dengan standar viskositas dan

kehalusan tertentu. Krim kemudian dipompakan kedalam gulungan wafer.

Selanjutnya produk dimasukkan ke dalam kemasan seperti kantong plastik atau

tray, kemudian direkatkan, dimasukkan ke kaleng dan karton akhir. Wafer stik

tersebut dapat langsung dikonsumsi oleh pelanggan.

Gambar 1. Foto wafer stik

Spesifikasi berarti batas-batas terukur yang ditetapkan oleh perusahaan

yang dijadikan acuan oleh semua komponen dalam perusahaan untuk dipenuhi.

Spesifikasi bahan mentah harus didefinisikan dengan baik agar dapat dimengerti

dengan jelas oleh pemasok bahan mentah, bagian pembelian, penerima barang

maupun unit penyimpanan dan produksi. Spesifikasi proses merupakan

persyaratan-persyaratan yang berkaitan dengan kondisi proses selama pengolahan

dan yang berkaitan dengan produk-produk antara sebelum menjadi produk jadi.

Spesifikasi proses pengolahan atau proses antara lain adalah instruksi kerja, suhu

dan waktu, serta berat dan proporsi. Selanjutnya spesifikasi produk akhir adalah

seperti indeks mikrobiologi dan indeks kimia dan fisik produk (Muhandri dan

Kadarisman 2008).

kulit wafer

(49)

Semakin tinggi pengetahuan dan kemampuan ekonomi masyarakatnya,

semakin tinggi pula kecenderungan menuntut pangan yang lebih aman untuk

dimakan. Kemungkinan-kemungkinan bahaya pada produk pangan menyebabkan

produk menjadi tidak aman, antara lain adalah karena terjadinya kontaminasi

mikroba dan kondisi proses pengolahan yang menyebabkan mikroba tumbuh aktif

kembali selama penyimpanan dan pemasaran. Karakteristik keamanan pangan ini

dirasakan telah banyak menghambat ekspor produk pangan ke negara maju seperti

Amerika Serikat, Eropa dan Jepang karena persyaratan yang cukup berat yang

diberlakukan secara ketat. Apabila ingin bersaing mendapatkan pasar di

negara-negara tersebut, karakteristik ini harus ditangani secara intensif. Proses produksi

produk olahan yang aman harus mempertimbangkan bahan, metoda proses,

kontaminasi pasca proses, dan penentuan titik kendali kritis (Muhandri dan

Kadarisman 2008).

Wafer stik termasuk produk pangan yang memiliki parameter mutu tidak

berbeda dengan golongan biskuit pada umumnya. Standar produk yang digunakan

adalah sesuai Standar Mutu Produk Biskuit sesuai SNI 2973-2011. Kulit wafer

mengalami pemanggangan sampai lebih dari 1400C cukup panas untuk

membunuh semua bakteri pembusuk dan patogen. Jumlah TPC (Total Plate

Count) adalah maksimum 1.0 x 106, jumlah koliform adalah maksimum 20

APM/gram, jumlah E. coli adalah maksimum kurang dari 3 APM/gram, dan

jumlah kapang adalah maksimum 1x102 koloni/gram. Standar mutu berupa

cemaran mikorba biskuit sesuai SNI 2973-2011 dapat dilihat pada Tabel 4.

Prosedur pengujian cemaran mikroorganisme mengacu pada SNI 01-2897-1992.

Kadar air produk dari oven cukup rendah yaitu kurang dari 3%. Kadar air

yang rendah pada produk seperti wafer stik, membuat produk lebih awet dan

stabil terhadap kerusakan pangan. Banyak reaksi-reaksi kimia dalam sistem

pangan/biologis melibatkan aktivitas enzim tertentu, yang melibatkan air. Dalam

kondisi kering pangan relatif memiliki water activity (aw) atau aktivitas air yang

rendah, sehingga air bebas yang tersedia untuk aktivitas enzim kecil. Nilai

aktivitas air aw adalah yang paling umum digunakan untuk sebagai kriteria untuk

(50)

lain yang mengandung kadar air 3-5% dengan aw 0,4 tidak memungkinkan

mikroba tumbuh, baik bakteri, kapang, maupun khamir (Kusnandar, 2010).

Tabe1 4 Syarat mutu cemaran mikroba biskuit SNI 2973:2011

Kriteria uji Satuan Persyaratan

Angka lempeng total koloni/g maks. 1 x 104

Coliform APM/g 20

Escherichia coli APM/g < 3

Salmonella sp. - negative/25g

Staphylococcus aureus koloni/g maks. 1 x 102

Bacillus cereus koloni/g maks. 1 x 102

Kapang dan khamir koloni/g maks. 2 x 102

H. Manajemen alergen

Alergen adalah suatu bahan yang mengakibatkan reaksi sistem imun yang

tidak sesuai yang dikenal sebagai “reaksi alergi”. Reaksi alergi adalah reaksi hipersensitif yang dimulai dari mekanisme imunologi (Boye dan Godefroy 2010).

Food allergies memberikan efek pada populasi yang kecil. Akan tetapi dalam

beberapa kasus, suatu reaksi alergi dapat menjadi sangat membahayakan hidup

atau menjadi fatal. Di Australia, hanya 1-2 persen dari populasi yang menderita

akibat true food allergy. Pada anak-anak angka ini meningkat menjadi 5-8 persen

(AFGC 2007). Data lain menyebutkan bahwa secara statistik, anak-anak yang

memiliki alergi pangan adalah kurang dari 4-8 persen dan kurang dari 2-4 persen

dari populasi dewasa (Boye dan Godefroy 2010).

Kebanyakan food allergen adalah protein. Seseorang harus mengalami

sensitization akibat paparan protein yang kemudian membentuk antibodi-antibodi

dan akan bereaksi pada paparan selanjutnya. Allergenic protein biasanya tidak

terdenaturasi oleh proses pengolahan pangan dan relatif tahan terhadap

pencernaan. Reaksi alergi dikarakterisasi dari terlepasnya secara cepat senyawa

kimia seperti histamin oleh antibodi, yang akan terjadi dalam beberapa menit atau

lebih sampai 4 jam setelah mengkonsumsi. Food allergies biasanya dimediasi

oleh antibodi immunoglobulin E (IgE) dan dapat dikonfirmasi dengan skin-prick

test atau blood test. Tingkat keparahan pada reaksi alergi bervariasi diantaranya

adalah sebagai berikut:

a. Masalah pernafasan (radang selaput lendir hidung, asma, dan sakit

(51)

b. Masalah gastrointestinal (mual, muntah, diare, kejang perut).

c. Masalah kulit (bintik-bintik merah dan bengkak di kulit, penyakit gatal,

dermatitis, eksim) (AFGC 2007).

Beberapa reaksi anapylasis dapat terjadi setelah kontak/mengkonsumsi

alergen dalam pangan. Hal ini menyebabkan tekanan darah turun dengan cepat,

gangguan saluran pernafasan, reaksi shock dan kegagalan multi organ. Hal ini

menjadi fatal jika tidak ditangani segera. Meskipun hanya sedikit orang dengan

food allergies yang beresiko mengalami kejadian serius, beberapa kematian

terjadi akibat mengkonsumsi pangan yang mengandung alergen yang sensitif bagi

individu tersebut (AFGC 2007).

Berbeda dengan food allergies, food intolerance secara umum lebih sering

terjadi. Reaksinya tergantung pada dosis dan melibatkan komponen bukan-protein

dalam pangan. Intolerance reactions terhadap suatu jenis pangan bisa

mengakibatkan symptoms yang tertunda, dimana efeknya tidak terlihat selama

beberapa jam setelah mengkonsumsi. Tidak ada tes laboratorium yang dapat

membuktikan food intolerance dan diagnosa dilakukan melalui pengurangan

asupan diet (AFGC 2007).

Reaksi alergi pada kondisi yang tidak beruntung dapat mengakibatkan

anaphylaxis dan bahkan kematian. Sebagai contoh kematian seorang anak

perempuan di Ontario, Kanada setelah mengkonsumsi kentang goreng yang

kontak dengan produk susu dalam kantin sekolahnya. Kasus ini meningkatkan

kepedulian tentang pangan alergen dan pemerintah di propinsi tersebut membuat

undang-undang yang dikenal sebagai “Sabrina’s law”. Aturan ini mensyaratkan

sekolah-sekolah di Ontario agar proaktif memberikan pendidikan dan persiapan

terkait alergi. Kematian Sabrina ini tidak unik dan sayangnya insiden lain telah

terjadi di seluruh dunia (Boye dan Godefroy 2010).

Terdapat lebih dari 160-180 pangan yang diketahui sebagai allergenic,

beberapa diantaranya sebagai alergen utama. Hal ini meliputi telur, susu, kedelai,

kacang tanah, tree nuts, ikan, kerang-kerangan, dan gandum (gluten) (Boye dan

Godefroy 2010). Foods Standard Australian New Zealand (FSANZ) mengatur

dalam Australian New Zealand Food Standard Code 1.2.3 terkait pencantuman 8

Gambar

Tabel 1  7 Prinsip – 12 Langkah HACCP Codex
Tabel 3  Perbandingan program audit beberapa standar internasional
Tabel 6  Perbandingan persyaratan the BRC Global Standard for Food Safety isu
Gambaran organisasi perusahaan
+7

Referensi

Dokumen terkait