Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam
Oleh
Resdhia Maula Pracahya 108011000083
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
Penelitian ini hendak menjawab masalah utama tentang bagaimana konsep pendidikan Islam multikultural menurut K.H Abdurrahman Wahid. Alasanya adalah perlunya dinamisasi dan pembaruan sistem pendidikan agar selaras dan harmonis dengan kebutuhan manusia yang selalu dinamis. Adapun desain penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif yang mencoba mencari data-data primer dan sekunder tentang gagasan pendidikan Islam multikultural menurut K.H Abdurrahman Wahid, lalu dilakukan kajian analisis isi dari data-data yang telah terkumpul.
Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa Gus Dur dalam menggagas serta mengaplikasikan teori pendidikan multikultural melalui beberapa strategi pendekatan antara lain strategi politik, kultural, sosio kultural, dan pedagogis. Hasil dari strategi pendekatan tersebut dapat diaplikasikan dalam pendidikan berlandaskan multikultural. Terlepas dari kekurangan dan kelebihan Gus Dur, penulis kemudian menyimpulkan Gus Dur dapat dikategorisasikan sebagai pemikir bercorak Post Modernisme atau juga Neo modernisme dalam kaitanya sebagai tokoh pendidikan. Alasanya pendidikan yang ditawarkan Gus Dur berupaya mengintegrasikan serta mengharmoniskan antara pendidikan tradisional dengan pendidikan modern, pendidikan umum dengan pendidikan Islam yang bertujuan untuk melestarikan kebudayaan masyarakat, humanisasi, serta mencegah adanya diskriminasi terhadap golongan minoritas.
MOTTO
ix
melimpahkan kekuatan lahir dan batin sehingga penulis dapat menyelesaikan
skripsi ini. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Saw,
beserta keluarga dan para sahabatnya.
Skripsi berjudul “Konsep K.H Abdurrahman Wahid Tentang Pendidikan
Islam Multikultural” ini merupakan tugas akhir yang harus dipenuhi untuk
mencapai gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I).
Selesainya skripsi ini tidak lepas dari sumbangsih berbagai pihak yang
telah membantu dan memberi dukungan baik moril maupun materil. Untuk itu,
penulis menyampaikan terima kasih kepada :
1. Kedua orang tua penulis, beserta keluarga yang telah merawat, mendidik,
membimbing dan mendukung penulis dengan kasih sayang tulus
sepanjang masa.
2. Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta, Bapak Prof. Dr. Rif’at Syauqi Nawawi. MA. beserta
para pembantu dekan dan segenap jajarannya.
3. Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam, Bapak Bahrissalim, M.A. dan
Sekertaris Jurusan Pendidikan Agama Islam, Bapak Drs. Sapiudin Shidiq,
M.A. yang telah memberikan nasehat, arahan, dan kemudahan dalam
penyusunan skripsi ini.
4. Dosen Pembimbing Dr Zaimuddin M.A. dengan penuh kesabaran dalam
memberikan bimbingan dan pengarahan kepada penulis dalam penyusunan
skripsi ini.
5. Bapak dan Ibu Dosen dan para pegawai perpustakaan Fakultas Ilmu
Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah dan Perpustakaan Utama
yang telah memberikan ilmu dan tuntunan kepada penulis dan membantu
x
6. Teman-teman Mahasiswa PAI, khususnya reguler kelas C angkatan 2008,
atas pengalaman dan pembelajaran berharga yang penulis dapatkan saat
berinteraksi dengan mereka.
7. Kepada pihak-pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu dalam
membantu dukungan dan semangat dalam mengerjakan karya tulis ini.
Terima kasih atas bantuan selama penyelesaian skripsi ini, semoga mereka
mendapat imbalan yang sesuai dari Allah Swt. Semoga skripsi ini dapat
bermanfaat bagi penulis dan bagi seluruh pembaca.
Jakarta, 08 Januari 2013
xi
HALAMAN JUDUL ... II
LEMBAR PENGESAHAN DOSEN PEMBIMBING ... III
LEMBAR UJI REFERENSI ... IV
LEMBAR PENGESAHAN PANITIA UJIAN ... V
LEMBAR PERNYATAAN JURUSAN ... VI
LEMBAR PERNYATAAN PENULIS ... VII
HALAMAN MOTTO ... VIII
ABSTRAK ... IX
Kata Pengantar ... X
Daftar Isi ... XI
Pedoman Transliterasi ... XIV
BAB I
Pendahuluan ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Identifikasi Masalah ... 8
C. Pembatasan Masalah ... 9
D. Rumusan Masalah ... 9
E. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 9
BAB II
Kajian Teori Tentang Pendidikan Multikultural ...
…....
11
A. Konsep Pendidikan Multikultural ... 11
B. Landasan Pendidikan Multikultural ... 13
C. Karakteristik Pendidikan multikultural ... 16
xii
E. Paradigma Pendidikan Islam Multikultural... 21
F. Hasil Penelitian yang relevan ... 23
Hasil Penelitian dan Pembahasan ... 29
A. Deskripsi Tokoh ... 29
1. Nasab dan kelahiran ... 29
2. Kehidupan pribadi ... 30
3. Pendidikan Dan Guru-Gurunya ... 31
4. Setting Sosio Masyarakat ... 33
5. Pekerjaan dan Karya-Karya Ilmiah ... 35
6. Penghargaan ... 38
7. Sketsa Pemikiran ... 40
B. Analisis pemikiran Gus Dur tentang Pendidikan Islam Multikultural .... 45
1. Gagalnya pendidikan Islam Ekslusif ... 45
2. Menggagas Pendidikan Islam Multikultural ... 48
3. Strategi pendekatan pendidikan Islam multikultural ... 51
a) Strategi Sosio-Politik ... 52
b) Strategi Kultural ... 52
c) Strategi sosio-kultural ... 53
d) Strategi pedagogis ... 53
4. Kurikulum Pendidikan Islam Multikultural ... 54
5. Aplikasi Pendidikan Islam Multikultural ... 57
BAB V
Penutup ... 63
xiii LAMPIRAN-LAMPIRAN
1
BAB I
Pendahuluan
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan sebuah konsep yang tidak ada habisnya dibahas
dan dikaji lebih dalam. Berbagai macam ide, wacana, dan gagasan tentang hal-hal
yang berkaitan dengan pendidikan menjadi suatu objek kajian yang menarik bagi
para ahli untuk meneliti dan mengembangkanya. Dari beberapa kajian tersebut,
munculah konsep-konsep pendikan yang mempunyai landasan pemikiranya
masing-masing.
Manusia sebagai makhluk sosial memerlukan adanya interaksi. Interaksi
antar individu tersebut bermacam-macam, misalnya interaksi sosial, agama,
budaya, dan sebagainya. Proses adanya interaksi antar individu tidak hanya
melalui pendidikan saja, akan tetapi pendidikan merupakan media utama dalam
interaksi antar individu baik keadaan formal ataupun non formal.
Budaya atau kultur merupakan salah satu interaksi yang merupakan
kebutuhan dan fitrah manusia. Secara etimologi kultur atau culture berasal dari
bahasa latin colere yang berarti mengolah, mengerjakan, menyuburkan dan
mengembangkan. Pengertian tersebut berkembang bahwa kultur atau budaya
berarti segala daya dan aktivitas manusia untuk mengubah dan mengembangkan
sangsekerta “buddayah” yaitu bentuk jamak dari buddhi yang berarti budi atau akal.1
H.A.R Tilaar seperti yang dikutip Maslikhah menyatakan bahwa kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks. Yaitu kebudayaan merupakan prestasi dan kreasi dari cipta, rasa, karsa manusia yang melekat pada kehidupan fisik maupun psikis manusia yang dianugerahkan Allah. Cipta, rasa , dan karsa manusia memiliki jangkauan ruang dan waktu yang sangat besar. Kebesaran itulah yang dapat mengantarkan manusia pada peradaban yang besar.2
Dari beberapa pengertian di atas, yang dapat disimpulkan oleh penulis
yaitu budaya adalah anugerah yang telah diberikan Tuhan kepada manusia berupa
akal, budi pekerti yang ada pada manusia itu sendiri. Budaya dan kebudayaan
terbentuk dengan adanya interaksi antar individu dan bisa diwariskan terhadap
generasi yang lain dengan pendidikan atau enkulturasi. Manusia memiliki akal,
budi pekerti atau budaya yang beraneka ragam, fleksibel, serta dinamis.
Keanekaragaman budaya merupakan sunnatulah, akan tetapi perbedaan budaya
itu tidak dibenarkan mendiskriminasikan antar budaya lainya, justru dari
perbedaan tersebut budaya menjadikan media persatuan antar individu, suku,
kelompok dengan kelompok lainnya.
Islam menggambarkan bahwa budaya ialah media yang membedakan
antara satu kelompok dengan kelompok lainya seperti yang tersirat dalam
Alqur’an surat al Hujurat : 13
Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.
Ayat diatas tersirat berbagai makna menurut penulis yakni Allah telah
menjadikan manusia berbagai macam bentuk serta identitas yang membedakan
1
Abu Ahmadi, Sosiologi Pendidikan, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2004), h.58 2
3
antara satu dengan lainnya. Namun perbedaaan tersebut merupakan kesatuan
tunggal yakni sebagai makhluk Allah, hanya yang membedakan bagaimana suatu
suku atau bangsa tersebut dapat mengenal dan berinteraksi dengan baik antara
bangsa satu dengan bangsa lainnya untuk memperoleh derajat ketaqwaan atau
kemuliaan di hadapan Allah.
Allah S.W.T telah menciptakan dunia ini secara partikular, dunia yang kita
tempati ini terdiri dari beberapa benua (gugusan pulau-pulau), samudra, serta
penghuni yang berlainan. Dari benua tersebut, munculah kerajaan ataupun Negara
yang menjadi ciri khas sendiri. Ciri khas tersebut menandakan bahwa Allah Ta’ala
mengkaruniai perbedaan itu merupakan sebuah identitas multikultural. Tidak ada
identitas yang paling unggul dihadapan Allah kecuali kebaikan dan ketaqwaanya.
Boleh saja dalam hal sosial dan teknologi Negara Amerika lebih unggul daripada
Negara lainnya, tetapi keunggulan yang seperti itu belum tentu sama dihadapan
Allah S.W.T.
Dalam konteks ini, Negara Indonesia sebagai salah satu penghuni benua di
dunia memiliki budaya dan kebudayaan yang sangat beragam, baik dari segi suku,
bahasa, agama, sosial-politik, dan sebagainya. Keragaman tersebut banyak
menimbulkan ethnosentris dan menyebabkan konflik kebudayaan yang sering
terjadi. Banyak contoh dalam hal ini, misalnya konflik suku, konflik organisasi,
konflik keagamaan, dan sebagainya. Konflik tersebut disebabkan oleh beberapa
faktor yang menjadi ciri khas, yaitu :
1. Masyarakat terbagi dalam berbagai bentuk kelompok latar belakang
budaya dan sub-budaya yang berbeda. Perbedaan yang seperti itu
menimbulkan cluster-cluster dalam masyarakat yang mana masyarakat
belum mampu untuk menyikapinya.
2. Memiliki struktur sosial yang terbagi-bagi dalam lembaga-lembaga yang
saling tidak melengkapi. Struktur yang ada tidak menjadi sistem yang
bermuara pada satu tujuan, melainkan hanya struktur yang bersifat ekslusif
semata.
3. Kurang adanya kemauan untuk mengembangkan musyawarah antar
musyawarah lebih mengedepankan sisi formalnya daripada substansinya.
Hal ini yang menjadikan sebuah penyakit bagi lembaga masyarakat yang
menyukai sisi formal dari musyawarah itu.
4. Kurangnya kesadaran mengembangkan musyawarah dan sering
berkembang konflik antar sub-budaya tersebut. Dalam hal ini, konflik
yang sering terjadi merupakan akibat dari bagaimana sistem hukum yang
menaunginya.
5. Konflik dapat dihindari dan integrasi sosial dapat terjadi dengan jalan
paksaan ditambah adanya ketergantungan satu sama lain dalam bidang
ekonomi. Pada era globalisasi ini, Negara kita memang jauh tertinggal
dalam berbagai bidang, sifat ketergantungan tersebut hanya akan
menyebabkan hilangnya kemandirian dan akan selalu menyandang titel
sebagai Negara yang selalu berkembang.
6. Adanya dominasi politik kelompok satu atas kelompok yang lain.
Dominasi yang seperti itu sering menimbulkan cluster dalam berbagai
kelompok, kelompok minoritas sering terintimidasi dan termarginalkan
oleh kelompok-kelompok yang lebih dominan.3
Karakteristik di atas bisa disimpulkan bahwa masyarakat multikultural
merupakan masyarakat yang labil. Walaupun ada simbol perdamaian, namun
perdamaian tersebut masih berkonotasi negatif. Hal seperti itu dibuktikan dengan
banyaknya konflik antar suku, ras, agama terus bermunculan dewasa ini, baik
dalam masalah ideologis, politik, bahkan dalam pendidikan. Hal ini menjadi
penting untuk menyadari dan mencari solusi tentang masalah multikultural
melalui pendidikan supaya tidak terjadi adanya disintegrasi sesuai dengan
undang-undang pendidikan nasional dan ajaran Islam sebagai budaya negeri ini.
Kebudayaan sebagai identitas bangsa dan antar individu tidak akan
berkembang dan berkelanjutan tanpa melalui proses pendidikan, karena
kebudayaan bukan merupakan sesuatu untuk diwariskan secara generative,
3
5
melainkan hanya mungkin diperoleh dengan cara belajar. Pendidikan sebagai
proses budaya seakan tidak membumi jika tanpa kompromi dengan kebudayaaan,
karena pada dasarnya proses pendidikan terdapat nilai budaya masyarakat yang
hendak diwariskan kepada generasi selanjutnya.4
Pendidikan pada dasarnya adalah upaya sadar dan sistematis untuk
mengembangkan potensi manusia menjadi manusia seutuhnya. Potensi yang ada
dalam manusia sangat beragam, karena itu pendidikan pada dasarnya merupakan
alat yang mengarahkan potensi manusia agar mempunyai nilai-nilai yang baik dan
positif. Tujuan mulia ini tidak akan pernah tercapai jika pendidikan ditegakan di
atas rendahnya kesadaran atas kemajemukan masyarakat yang tidak menyadari
pentingnya arti multikultularisme.5
Multikulturalisme sebagai ideologi merupakan alat untuk meningkatkan
dan menyetarakan derajat manusia. Dari ideologi tersebut kemudian lahir sebuah
model pendidikan baru yang dinamakan pendidikan multikultural. Pendidikan
seperti ini merupakan pendidikan yang dilatarbelakangi kesadaran akan
kemajemukan masyarakat yang ada supaya terjadi keadilan dan tidak
mendiskriminasikan golongan tertentu seperti yang dirumuskan undang-undang
dasar No 20 tahun 2003 Bab Prinsip Penyelenggaraan Pendidikan Bab 4 yang
isinya :
1. Pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan,nilai kultural, dan kemajemukan bangsa.
2. Pendidikan diselenggarakan sebagai satu kesatuan yang sistemik dengan sistem terbuka dan multimakna.
3. Pendidikan diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat.
4. Pendidikan diselenggarakan dengan memberi keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran.
5. Pendidikan diselenggarakan dengan mengembangkan budaya membaca, menulis,dan berhitung bagi segenap warga masyarakat.
4
Maslikhah, Op. cit., h. 25-26 5
6. Pendidikan diselenggarakan dengan memberdayakan semua komponen masyarakat melalui peran serta dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu layanan pendidikan.6
Undang-undang pendidikan tersebut mengandung makna menjunjung
tinggi hak asasi manusia serta menghargai keragaman individu. Sistem
Pendidikan yang ada dewasa ini belumlah mempunyai karakteristik yang sesuai
dengan undang-undang tersebut. Oleh karena itu, pendidikan multikultural patut
dikembangkan dan dijadikan sebagai model pendidikan alternatif di Indonesia
dengan berbagai alasan, antara lain :
1. Realitas bahwa Indonesia adalah negara yang dihuni oleh berbagai suku,
bangsa, etnis, agama, dengan bahasa yang beragam dan membawa budaya
yang heterogen serta tradisi dan peradaban yang beraneka ragam.
2. Pluralitas tersebut secara inheren sudah ada sejak bangsa Indonesia ini ada.
3. Masyarakat menentang pendidikan yang berorientasi bisnis,
komersialisasi, dan kapitalis yang mengutamakan golongan atau orang
tertentu.
4. Masyarakat tidak menghendaki kekerasan dan kesewenang-wenangan
pelaksanaan hak setiap orang.
5. Pendidikan multikultur sebagai resistensi fanatisme yang mengarah pada
berbagai jenis kekerasan, dan kesewenang-wenangan.
6. Pendidikan multikultural memberikan harapan dalam mengatasi berbagai
gejolak masyarakat yang terjadi akhir-akhir ini.
7. Pendidikan multikultur sarat dengan nilai-nilai kemanusiaan, sosial,
kealaman, dan ke-Tuhanan.7
Masalah-masalah multikultur yang ada telah membuat berbagai tokoh di
Indonesia maupun di dunia dalam membuat konsepnya masing-masing. Dalam hal
ini penulis ingin menguraikan konsep K.H Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam
hal pendidikan Islam multikultural. Gus Dur berpandangan bahwa kebhinekaan
6
Sisdiknas, Undang-undang sistem pendidikan nasional, (Bidang DIKBUD KBRI Tokyo). h.3-4
7
7
budaya yang berkonotasi positif dapat diwujudkan dengan beberapa aspek, salah
satunya ialah pendidikan. Sebagai tokoh yang digelari Bapak
Pluralisme-Multikulturalisme, Beliau menjelaskan bahwa pendidikan itu harus beragam
sesuai dengan kulturnya masing-masing. Pendidikan yang beragam itu bukan
menyimpang dari tujuan, melainkan suatu upaya untuk mencapai tujuan
pendidikan melalui cara yang beragam.
Gus Dur memandang perlunya sikap percaya diri dari individu atas
kulturnya masing-masing. Dalam contoh ini ia menawarkan solusi yang sering
dinamakan pribumisasi Islam, yakni bagaimana mengintegrasikan Islam dengan
budaya lokal, ataupun pendidikan Islam dengan pendidikan lokal. Dari pengertian
ini munculah sikap inklusif, plural, multikultural terhadap individu. Sikap yang
demikian merupakan solusi dalam perwujudan masyarakat Indonesia yang
multikulturalisme, sehingga tindakan rasisme, separatis, maupun konflik-konflik
SARA lainnya tidak terjadi lagi. 8
Latar belakang kehidupan Gus Dur banyak mempengaruhi bagaimana ia
mempunyai pemikiran yang luas dan paradoks. Gus Dur merupakan seorang yang
multi-talenta dan berkepribadian ganda. Ia seorang Kiai dan juga presiden,
seorang seniman bahkan juga arsitek, sebagai guru bangsa ataupun sebagai
masyarakat biasa pada umumnya. Ia mempunyai kekurangan keterbatasan fisik,
tetapi hatinya keras seperti baja, di satu sisi ia lembut dan fleksibel atas pemikiran
orang lain sehingga sulit mengklasifikasikan pemikiran Gus Dur. Ia mampu
mengintegrasikan semua ideologi yang ada sehingga banyak orang yang
menjuluki Gus Dur sebagai wajah Islam di Indonesia.
Sebagai penerus organisasi NU (Nahdlatul Ulama) Gus Dur merupakan
Cucu dari pendiri organisasi islam terbesar di Indonesia bahkan dunia yaitu K.H Hasyim Asy’ari. Ayahnya K.H. Wahid Hasyim adalah menteri Agama pertama sejak diproklamirkan Nusantara menjadi sebuah negara yang merdeka yaitu
Indonesia. NU pada masa kepemimpinan Gus Dur bertransformasi menjadi NU
yang tidak sepenuhnya tradisionil. NU dibawah kepemimpinanya bernuansa
8
warna-warni yang mengayomi bukan hanya anggotanya saja, melainkan seluruh
masyarakat.
Masalah-masalah yang telah terurai di atas melatarbelakangi penulis untuk
mencoba menguraikan lebih lanjut tentang pendidikan multikultural dengan
menghubung-hubungkan beberapa konsep yang telah dirumuskan oleh para
peneliti sebelumnya. Di samping itu beberapa pemikiran-pemikiran Gus Dur yang
berkaitan dengan masalah-masalah pendidikan dan multikultural menjadi suatu
objek yang akan diuraikan lebih lanjut oleh penulis.
Penulis mencoba memberikan desain terhadap penulisan skripsi ini
berjudul Konsep K.H Abdurahman Wahid tentang pendidikan Islam
multikultural. Alasan pemilihan judul tersebut penulis ingin menguraikan
pengertian yang pertama, yakni konsep dalam bahasa Indonesia yang berarti ide
atau gagasan yang masih samar. K.H Abdurrahman Wahid Sebagai objek yang
akan diteliti, serta pendidikan Islam multikultural merupakan fokus kajian
terhadap konsep yang digagas tokoh tersebut. Implikasi dari pemilihan judul
tersebut, penulis ingin mengkaji seorang tokoh yang menyimpan paradoks, unik
dari seorang Gus Dur lepas dari kelebihan dan kekuranganya dengan
memfokuskan pada masalah pendidikan multikultural.
Seperti yang telah diketahui bahwa Gus Dur adalah seorang dengan
berkepribadian ganda dan multi-talenta dalam berbagai bidang (multidisipliner),
hal inilah yang melandasi penulis untuk mengamati dan mengkaji pemikirannya
dalam bidang tertentu terlepas dari pemikiranya dalam bidang yang lain, yakni
pendidikan. Ia adalah salah satu tokoh pendidikan dan juga guru bangsa yang
banyak berpengaruh dan berkontribusi di Indonesia.
B. Identifikasi Masalah
Permasalahan yang telah diuraikan menjadi sangat lebar, supaya masalah
yang terkait dengan judul menjadi jelas, maka penulis perlu mengidentifikasi
9
1. Masalah-masalah yang terkait kebudayaan dan SARA selalu menjadi
wacana yang menarik untuk dikaji, namun pemecahan masalahnya belum
memuaskan.
2. Indonesia sebagai Negara multikultural berfrekuensi tinggi adanya konflik
kultural.
3. Pemikiran K.H Abdurrahman Wahid terkait dengan pendidikan
multikultural belum terkonsepkan.
4. Pendidikan yang ada sekarang belum bisa mencapai tujuan pendidikan
seperti yang dirumuskan undang-undang sisdiknas.
5. Pendidikan islam multikultural merupakan pendidikan alternatif yang
perlu dikembangkan, tetapi konsepnya masih abstrak untuk terealisasikan.
C. Pembatasan Masalah
Pembahasan dalam penulisan skripsi tidak mungkin dapat dibahas secara
keseluruhan. penulisan ini perlu dibatasi supaya tidak melebar dan menyimpang
dari fokus masalah. Adapun pembatasan masalah dalam penelitian ini yaitu
“Konsep pendidikan islam multikultural menurut pandangan K.H Abdurrahman
Wahid”.
D. Rumusan Masalah
Masalah-masalah yang telah teridentifikasi dan dibatasi diatas, selanjutnya
penulis memformulasikan rumusan masalah ke dalam bentuk pertanyaan
deskriptif yaitu : Bagaimana Konsep K.H Abdurrahman Wahid tentang
pendidikan Islam multikultural?
E. Tujuan Dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian ini
Berdasarkan Rumusan masalah diatas tujuan penelitian ini ialah mengkaji
serta menginventarisir pemikiran K.H Abdurrahman Wahid dengan konsep
pendidikan multikultural tersebut.
2. Manfaat penelitian
Penelitian ini sangat bermanfaat bagi penulis, maupun pembacanya.
Manfaat yang didapat dari penelitian ini ada dua macam :
a). Manfaat teoritis
1) Penulis dan pembaca dapat mengetahui arti pendidikan multikultural
2) Menambah pengetahuan seputar para tokoh pendidikan dan isu-isu
yang ada.
3) Melatih penulis untuk menghasilkan karya ilmiah, dan menambah
pengetahuan serta menambah pengalaman dalam belajar.
b). Manfaat pragmatis
1) Sebagai Bahan Bacaan yang dapat dikritik ataupun saran yang
konstruktif.
2) Menambah khazanah ilmu dan referensi bagi penulis selanjutnya.
11
BAB II
Kajian Teori Tentang Pendidikan Multikultural
A. Konsep Pendidikan Multikultural
Kata pendidikan mempunyai keragaman makna yang kompleks baik dari
kalangan masyarakat umum, maupun para ahli pendidikan. Keragaman makna
tersebut merupakan hal yang wajar, karena masing-masing ahli memiliki
perbedaan latar belakang baik pendidikan, budaya, agama, sosial maupun lainya.
Dari latar belakang inilah para ahli mempunyai pandangan yang berbeda-beda
dalam mendefinisikan pendidikan. Karena setiap definisi menunjukan pandangan
individu dalam pemikiranya masing-masing, misalnya bagi ahli biologi
pendidikan adalah adaptasi, bagi ahli psikologi pendidikan merupakan sinonim
dari belajar, sedangkan ahli filsafat berpandangan bahwa pendidikan merupakan
cerminan ideologi yang dianut setiap individu.1
Dalam konteks sosio-kultural dan pedagogik, kata pendidikan memberikan
pengertian yang beragam misalnya, Koentjaraningrat seperti yang dikutip ngainun
naim dan achmad sauqi mendefinisikan pendidikan sebagai usaha untuk
mengalihkan adat-istiadat dan seluruh kebudayaan dari generasi lama ke generasi
baru. Kemudian N. Drijakarya juga memberikan definisi pendidikan dengan
filosofisnya yaitu suatu perbuatan fundamental dalam bentuk komunikasi
antarpribadi, dan dalam komunikasi tersebut terjadi proses pemanusiaan manusia
muda, dalam arti terjadi proses hominisasi (proses menjadikan seseorang sebagai
1
manusia) dan humanisasi ( proses pengembangan kemanusiaan manusia). Selain
itu bapak pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara memberikan rumusan
pendidikan sebagai usaha orang tua bagi anak-anaknya dengan maksud untuk
menyokong kemajuan hidupnya. 2 Dari definisi-definisi yang beragam ini terdapat
titik temu jika dilihat dari substansi maknanya, yaitu hasil rumusan UNESCO
yang berisi learning to know, to do, to be, dan to life together.
Multikultural merupakan kata yang berasal dari kata multi yang berarti
banyak, ragam atau aneka dan kultur yang berarti budaya, kesopanan dan akal.
Dengan demikian arti dari multikultural ialah keragaman kebudayaan, aneka
kesopanan, dan beragam akal. Dari akar kata ini kemudian kata multikultural
berkembang menjadi konsep, ideologis, ataupun aliran yang dinamakan
multikultularisme. Secara definitif Conrad P. Kottak memberikan kata kunci
dalam memahami kultur yaitu general dan spesifik. Maksudnya kultur secara
general dapat dicontohkan bahwa manusia mempunyai kultur masing-masing,
sedangkan maksud spesifik artinya setiap kultur mempunyai varian tersendiri
yang membedakan satu kultur dengan kultur lainnya.3
Pendidikan multikultural secara umum adalah konsep dan praksis
pendidikan yang mencoba untuk memberikan pemahaman mengenai
keanekaragaman ras, etnis, dan budaya dalam suatu masyarakat. Tujuan dari
konsep tersebut ialah agar manusia dapat hidup berdampingan secara damai antar
komunitas yang berbeda-beda. Lebih dari itu pendidikan multikultural merupakan
praktik pendidikan yang berupaya membangun interaksi sosial yang toleran,
saling menghormati, dan demokratis antar orang lain yang berbeda latar
belakangnya. Dalam pengertian yang luas, pendidikan multikultural bukan hanya
pendidikan formal saja, tetapi meliputi non formal dan informal.4
Dalam memahami makna pendidikan multikultural, Maslikhah
memberikan kata kunci yang lazim disebut kultural, pluralitas, dan pendidikan.
2
Ngainun Naim dan Achmad Sauqi, Pendidikan multikultural (konsep dan aplikasi),
(Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2010). h. 29-31 3
Maslikhah, Quo Vadis Pendidikan Multikultur, (Surabaya: PT Temprina Media Grafika, 2007), h.45-47
4
13
Pemahaman terhadap pluralitas mencakup segala perbedaan dan keragaman,
sedangkan kultur mengandung empat term yaitu agama, ras, suku, dan budaya.
Dari kata kunci di atas, pendidikan multikultural didefinisikan sebagai proses
pengembangan sikap dan tata laku seseorang dalam usaha mendewasakan
manusia melalui upaya pengajaran, pelatihan, proses, perbuatan, dan cara-cara
mendidik yang menghargai pluralitas dan heterogenitas secara humanistik.
Artinya pendidikan multikultural tidak hanya mengenal perbedaan yang ada, akan
tetapi lebih menekankan praktik hidup secara inklusif.5
B. Landasan Pendidikan Multikultural
Pendidikan multikultural sebagai sebuah konsep mempunyai landasan
tersendiri. Penulis memberikan dua hal utama yang melandasi konsep pendidikan
multikultural dalam mekanismenya, yaitu: landasan filosofis, dan landasan
yuridis.
1. Landasan filosofis
Ideologi pendidikan multikultural secara filosofis mengacu pada aliran
filsafat post modernisme, yaitu aliran yang mempunyai konsep transendental.
Aliran ini tidak bisa dijelaskan secara konseptual, tetapi pada ideologinya post
modernisme pada awalnya merupakan sebuah ideologi yang mengkritik akan
ideologi modernisme, namun terkadang post modernisme juga menolak
ideologi tradisionalisme, fundamentalisme, dan sebagainya.6
Menurut post modernisme, pendidikan yang ditawarkan kaum modernisme
yaitu pendidikan yang bercorak sekular, liberal, kapitalis, dan sebagainya
belum bisa mengharmonisasikan dan memajukan umat manusia seluruhnya,
hanya yang kuat yang bisa mencapai kemajuan tersebut. Adapun beberapa
kritik aliran post modernisme terhadap pendidikan modernisme menurut
H.A.R Tilaar antara lain :
5
Maslikhah, Op.cit, h. 48 6
a) Pendidikan modern dinilai gagal dalam memecahkan berbagai
persoalan manusia.
b) Pendidikan modern banyak disalahgunakan untuk kepentingan
individu yang berkuasa daripada kepentingan umat manusia.
c) Pendidikan modern menyimpang dari standar formal maupun
akademiknya dan hanya mengikuti kemauan dari pendidikan yang
lebih maju.
d) Pendidikan modern tidak berdaya dalam memecahkan
masalah-masalah sosio-kultural yang ada pada umat manusia.
e) Pendidikan modern hanya mengakui keberadaan logika dan fisik, dan
menganggap mistis dan metafisik merupakan kajian yang sepele dalam
ilmu pengetahuan.
f) Pendidikan modern memberikan perhatian yang sangat kecil terhadap
hal-hal yang melingkupi norma-norma sosial dan metafisis.7
Pendidikan modern yang lahir bersamaan dengan abad pencerahan di
Barat ternyata terbius oleh kemajuan globalisasi dan pengaruh budaya
kristenisasi saja, sehingga nilai-nilai universal yang tercakup dalam
pendidikan modern tersebut adalah nilai-nilai pendidikan Barat. Pada kasus
yang ada dampak negatif dari pendidikan modern adalah persaingan dan
penindasan terhadap yang lemah seperti perang dunia, diskriminasi ras,
penjajahan terhadap negara-negara yang terbelakang. Hal ini dibuktikan
bahwa teknologi pengetahuan modern berhasil menciptakan senjata pemusnah
massal dan menghancurkan kebudayaan dan peradaban manusia.
Berbeda dengan pendapat H.A.R Tilaar, Ainurrofiq Dawam seperti yang
dikutip Maslikhah berpendapat bahwa ideologi pendidikan multikultural
berasal dari ideologi sirkularisme yang mencakup ideologi-ideologi antara
lain:
7
15
a) Ideologi theisme, yaitu ideologi pendidikan yang mendasarkan diri
pada nilai-nilai ketuhanan. Ideologi ini bersifat spiritual, mistisme, dan
transendental. Nilai-nilai dalam pendidikan ini adalah nilai-nilai yang
sarat dengan dimensi transendental dan spiritual.
b) Ideologi humanisme, yaitu ideologi pendidikan yang berdasarkan pada
nilai-nilai kemanusiaan. Nilai-nilai itu bersumber dari hati nurani
manusia dan secara integral menyatu dalam hukum yang diyakini
kebenarannya.
c) Ideologi sosialisme, yaitu ideologi pendidikan yang berdasarkan pada
nilai-nilai kebersamaan manusia. Ideologi ini memiliki nilai-nilai
bahwa manusia memiliki hak yang sama terhadap segala sesuatu.
d) Ideologi kapitalisme, yaitu ideologi pendidikan yang didasarkan pada
nilai-nilai kapital atau permodalan. Nilai-nilai yang ada dalam
pendidikan ini ialah mengagungkan sesuatu yang bersifat kebendaan.
Dari ideologi ini pada akhirnya diyakini mampu melahirkan karakter
teliti, disiplin, jujur, dan berorientasi terhadap kemajuan.
Dari dua pendapat diatas, penulis menyimpulkan bahwa ideologi
pendidikan multikultural itu ingin mengharmoniskan dan mencoba
mengintegrasikan antara dua aliran ideologi pendidikan yang bertentangan.
2. Landasan Yuridis
Secara teori definitif serta aplikasinya, pendidikan multikultural memang
sangat patut untuk di aplikasikan dalam pendidikan di Negara kita, baik
pendidikan umum, maupun pendidikan Islam semuanya mempunyai orientasi
yang ingin dicapai sesuai dengan undang-undang pendidikan nasional.
Ahmad Gaus , Dkk menyatakan bahwa pendidikan multikultural memang
belum mempunyai landasan yang kongkrit dalam undang-undang pendidikan
nasional kita, akan tetapi peraturan menteri pendidikan nasional no 23 tahun
2006 memuat beberapa mata pelajaran yang dapat dijadikan sebagai gerbang
utama pendidikan multikultural. Dari peraturan tersebut munculah standar
berbasiskan multikultural. Mata pelajaran tersebut antara lain: agama dan
akhlak mulia, kewarganegaraan dan kepribadian, ilmu pengetahuan dan
teknologi, estetika, dan kesehatan jasmani.8
Senada dengan itu, Ali Maksum memaparkan bahwa mata pelajaran
pendidikan multikultural juga termuat dalam undang-undang sistem
pendidikan nasional no 20 tahun 2003 pasal 37 ayat 1 tentang kurikulum
pendidikan dasar dan menengah. Isi dari kurikulum tersebut menggambarkan
penekanan mata pelajaran yang berbasis nilai untuk membentuk kepribadian
anak bangsa yang pancasilais dan agamis serta menjunjung kearifan budaya
lokal.
Lebih dari itu, ali maksum menjelaskan bahwa untuk mengembangkan
pendidikan multikultural diperlukan tiga landasan yuridis yang menjadi
pijakan, yaitu: pertama, pancasila sebagai landasan ideal bangsa, serta
merupakan falsafah yang harus terwujud dalam kehidupan sehari-hari. Kedua,
Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945) disamping merupakan landasan
konstitusional, UUD 1945 juga mengandung nilai, norma, etika bermasyarakat
maupun berbangsa. Ketiga, Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No
20 tahun 2003 sebagai landasan operasional penyelenggaraan pendidikan
nasional. Berdasarkan undang-undang ini mengandung implikasi perlunya
membangun desain pendidikan yang sesuai dengan kebudayaan masyarakat,
norma masyarakat, dan kebutuhan masyarakat. 9
C. Karakteristik Pendidikan Multikultural
Pendidikan multikultural disamping mempunyai landasan teoritis, juga
mempunyai karakteristik tersendiri. Menurut Ali Maksum teori pendidikan
multikultural mempunyai karakteristik sebagai berikut :
8
Ahmad Gaus , Dkk, Op.cit, h.8 9
17
1. Pendidikan multikultural cenderung berupaya memberdayakan yang lemah
dan menolak terhadap teori pendidikan universalitas yang cenderung
mendukung pihak yang kuat,
2. Pendidikan multikultural bersifat inklusif dan harmonis.
3. Pendidikan multikultural tidak hanya mencakup dunia sosial tetapi juga
dunia intelektual.
4. Pendidikan multikultural tanggap dalam mengkritik terhadap diri sendiri
dan pendidikan lainnya.10
Dari hal diatas dapat disimpulkan bahwa pendidikan multikultural bisa
menjadi acuan kepada model-model pendidikan lainnya karena karakteristik
diatas lebih menekankan pada subtansi yang mengandung nilai-nilai universal.
Lebih lanjut menurut Zakiyuddin Baydhawy, pendidikan multikultural memiliki
karakteristik yang khas pula antara lain :
1. Pendidikan yang bertujuan untuk belajar hidup dalam perbedaan
2. Pendidikan yang membangun sikap saling percaya
3. Pendidikan yang memelihara saling pengertian
4. Pendidikan yang menjunjung sikap saling menghargai
5. Pendidikan yang mengajarkan berfikir secara terbuka
6. Apresiasi dan interdependensi, yaitu pendidikan yang menghargai budaya
dan sosio-kultural
7. Resolusi konflik dan rekonsiliasi nirkekerasan, yakni pendidikan yang
mampu menyelesaikan konflik dan menganggap perbedaan itu bukan
ditujukan untuk diskriminasi terhadap golongan lain.11
Dari karakteristik diatas pendidikan multikultural memberi perhatian yang
luas dalam pendidikan, pendidikan multikultural mempunyai karakter khas yang
membedakan dengan pendidikan sekular atau pendidikan lainnya yaitu
10
Ibid., h.152 11
menciptakan harmonisasi dan integrasi antar budaya dalam hidup manusia melalui
beberapa strategi pendekatan yang bersifat inklusif.
Ainurrofiq Dawam menambahkan bahwa karakteristik pendidikan
multikultural pada akhirnya berorientasi penting dalam kehidupan bermasyarakat.
Orientasi tersebut berisikan antara lain: orientasi kemanusiaan, kebersamaan,
kesejahteraan, dan orientasi mengakui adanya pluralitas dan heterogenitas yang
ada dalam masyarakat.12 Atas dasar karakteristik ini, pendidikan multikultural
merupakan pendidikan yang bisa diterima di semua kalangan dan masyarakat.
D. Pendidikan Islam Multikultural
Secara umum Pendidikan Islam didefinisikan sebagai pendidikan yang
dipahami dan dikembangkan dari ajaran Islam dan nilai-nilai fundamental yang
terkandung dalam al-Qur’an dan as-Sunah. Pendidikan Islam sebagai sistem
mempunyai orientasi yang jelas bahwa semata-mata untuk beribadah kepada
Allah dan bermanfaat bagi umat manusia. Bisa dikatakan jika pendidikan Islam
belum membentuk pribadi peserta didik sesuai nilai-nilai universal dan tidak
bermanfaat bagi manusia lainnya maka pendidikan Islam tersebut belum mencapai
tujuan. Atas dasar ini, pendidikan Islam pada dasarnya mengandung nilai-nilai
inklusif dan multikultural. Al-qur’an menegaskan dalam surat ar-Rum ayat 22 :
dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan
itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.
Al-qur’an menjelaskan bahwa keragaman etnis maupun budaya
merupakan fitrah manusia seutuhnya yang telah di anugerahkan sang pencipta.
Fitrah manusia seutuhnya bersifat sosial, tanpa adanya rasa sosial mustahil
manusia dapat hidup secara individual. Dari ajaran fundamentalis ini, Al-Qur’an
12
19
mengakui bahwa budaya merupakan bagian dari fitrah manusia, dan kebudayaan
pula yang membentuk suatu peradaban manusia terlepas dari baik dan buruknya.
Menurut Muslih Usa dan Aden Wijdan seperti yang dikutip Maslikhah memberi
pengertian bahwa pendidikan islam merupakan proses pembelajaran yang sangat
intens pada pembentukan kepribadian, budi pekerti yang luhur. Walaupun
pendidikan Islam dipahami secara berbeda, namun pada dasarnya merupakan satu
kesatuan dalam satu sistem, yaitu pendidikan islam.13
Istilah multikultural tidak lepas dari istilah pluralisme yang menjadi
perhatian masyarakat sekarang ini akibat dari era globalisasi yang semakin
ekstrim. Diskursus tentang multikultural dan pluralis sudah lama bermunculan
dalam dekade terakhir ini. Pluralisme erat kaitanya dengan keragaman agama,
sedangkan multikultural erat kaitanya dengan keragaman budaya. Dalam hal ini
sebagian orang mengartikan kata pluralisme dengan konotasi negatif, menurut
penulis, konotasi negatif tersebut berdasarkan pada sisi transformatif yang
berlangsung tiba-tiba. Masyarakat Indonesia yang kental akan budaya
fundamentalis serta tradisionalis tidak akan bisa menerima pluralisme yang dalam
konotasi ekstrimnya diartikan sebagai kejahatan pemikiran. Dalam konteks
pendidikan, pendidikan multikultural menurut Franz Magnis Suseno seperti yang
dikutip Achmad Syauqi dan Ngainun Naim yaitu pendidikan yang mengandaikan
kita untuk membuka visi tentang cakrawala yang luas, dan mampu melintasi batas
kelompok etnis atau tradisi budaya dan agama kita. Sehingga, kita mampu melihat
manusia sebagai sebuah keluarga yang memiliki perbedaan dan kesamaan
cita-cita. Pendidikan inilah yang akan menjadi nilai-nilai dasar kemanusiaan untuk
perdamaian, kemerdekaan, dan solidaritas.14
Pendidikan multikultural memang mempunyai kesamaan dengan dengan
pendidikan pluralis, tetapi yang menjadikan perbedaan mendasar yaitu
orientasinya. Pendidikan pluralis bertransformatif menjadi pendidikan liberal, neo
modernis yang hanya memikirkan adanya perbedaan, sedangkan pendidikan
13
Maslikhah, Op.cit, h. 120 14
multikultural merupakan pendidikan yang menawarkan sisi humanisme manusia
yang memikirkan bagaimana menghadapi perbedaan itu.
Senada dengan itu, Ainurrofiq Dawam menjelaskan definisi pendidikan
multikultural sebagai proses pengembangan seluruh potensi manusia yang
menghargai pluralitas dan heterogenitasnya sebagai konsekuensi keragaman
budaya etnis, suku, dan agama. Pengertian pendidikan multikultural yang
demikian, tentu mempunyai implikasi yang luas dalam pendidikan. Karena
kependidikan itu sendiri secara umum dipahami sebagai proses tanpa akhir atau
proses sepanjang hayat. Dengan demikian, pendidikan multikultural memiliki
makna penghormatan dan penghargaan setinggi-tingginya terhadap harkat dan
martabat manusia dari segala aspek. Harapannya, dalam jangka panjang adalah
terciptanya kedamaian yang sejati, keamanaan yang tidak dihantui kecemasan,
kesejahteraan yang tidak dihantui manipulasi, dan kebahagiaan yang terlepas dari
jaring-jaring manipulasi rekayasa sosial.15
Berangkat dari kesadaran multikulturalitas dalam masyarakat kita yang
terdiri dari banyak suku dan beberapa agama, maka pencarian bentuk pendidikan
alternatif mutlak diperlukan, yaitu suatu bentuk pendidikan yang berusaha
menjaga kebudayaan suatu masyarakat dan memindahkannya kepada generasi
berikutnya, menumbuhkan tata nilai, memupuk persahabatan antara siswa yang
beraneka ragam suku, ras, dan agama, mengembangkan sikap saling memahami,
serta mengerjakan keterbukaan dan dialog. Bentuk pendidikan seperti inilah yang
dapat mengantisipasi konflik sosial-keagamaan menuju perdamaian. Model
pendidikan tersebut akhirnya dikenal sebagai pendidikan islam berbasis
multikultural.16
Pendidikan Islam dengan berasaskan multikulturalisme tidak saja
mengandaikan hadirnya keanekaragaman elemen sosial budaya tetapi juga
hadirnya proses integrasi. Proses integrasi ini bukan dalam pengertian penciptaan
identitas tunggal melalui penyeragamaan yang bersifat menekan dan merendahkan
, tetapi kerelaan saling melebur tanpa harus menghilangkan identitas-identitas
15
Ainurrofiq Dawam, Emoh Sekolah, (Yogyakarta: Inspeal Ahimsa Karya Press, 2003), h.99-100
16
21
sosial tiap individu atau kelompok. Paradigma multikulturalisme sebagai basis
bagi pendidikan Islam berarti meniscayakan pemahaman bahwa unsur-unsur
sosial budaya harus bersifat inklusif untuk membuka diri terhadap budaya lain
dari luar, dan berani berkompromi dengan yang lain. Pemahaman yang bersifat
inklusif ini pada akhirnya bergerak menuju keberagamaan yang inklusif untuk
menerima perbedaan yang ada pada masyarakat. Dalam konteks pendidikan,
pendidikan islam multikultural menekankan adanya sikap harmonisasi dalam
segala aspek, hal itu sesuai dengan sumber ajaran Islam yang tersirat dalam Al-Qur’an :
Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”(QS Al Anbiya‟: 107)
Menurut Nikmah Rahmawati seperti yang dikutip maslikhah, jika kita
ingin menanamkan nilai-nilai pluralisme, mewujudkan kebebasan yang
bertanggung jawab, serta menghapus praktik monopoli dalam pendidikan
termasuk pendidikan Islam, maka yang perlu kita benahi adalah sistem pendidikan
itu sendiri, sumber daya manusia, dan kurikulum. Untuk merealisasikan upaya
tersebut perlu dirancang strategi serta mengukur kemampuan secara mendalam
dari pendidikan Islam itu sendiri. Kajian ini dimaksudkan untuk memberikan
deskripsi pendidikan Islam yang berbasis multikulturisme.17
E. Paradigma Pendidikan Islam Multikultural
Kata paradigma berarti kerangka berfikir, cara pandang, model teori ilmu
pengetahuan. Paradigma pendidikan berarti model atau kerangka berfikir tentang
proses dan hasil dari pendidikan. Proses dan hasil pendidikan meliputi aspek
prosedur, teknik, strategi, dan komponen-komponen teknis yang diproyeksikan
pada tujuan.18
Pendidikan Islam multikultikultural dilihat dari sudut lembaga dapat
17
Maslikhah, Op.cit. 150-151 18
mempersiapkan generasi baru pada masa yang akan datang. Generasi baru
tersebut agar mampu hidup layak menurut sistem norma yang berlaku serta
mampu hidup mandiri dan menjalankan perannya di masa yang akan datang.
Dalam melaksanakan tugas dan perannya di masa datang, pendidikan Islam
multikultural dapat diberi muatan apa saja termasuk pesan pendidikan agama
Islam. Melihat makna strategis pendidikan, maka tidak mustahil agama
menggunakan lembaga ini untuk melestarikan dan memperkokoh keberadaan
dirinya.
Di antara tujuan pendidikan agama adalah agar siswa gemar menjalankan
ritual hidup sesuai tuntunan agama. Untuk kepentingan tiga hubungan tripartiat,
mampu mempolakan hubungan privat tersebut dalam bentuk pengamalan untuk
kemanusiaan dan kealaman mengikuti tuntunan agama. Agama yang ditujukan
secara universal kepada segenap manusia dapat dipahami secara
total-komprehensif untuk menjunjung tinggi perdamaian, menuntun persaudaraan
sesama manusia, dan kelestarian alam lingkungannya .
Pendidikan Islam multikultural jika ditinjau dalam konteks diatas menurut
Ngainun Naim dan Ahmad Syauqi yaitu pendidikan yang berusaha menerima
ekspresi budaya-budaya manusia dalam memahami pesan utama agama Islam.
Kemudian pendidikan itu dilandasi pada ajaran Islam, penggunaan pendidikan
Islam ini memperkokoh bahwa pendidikan Islam sarat dengan ajaran menghargai
dimensi sosio-kultural sesuai dengan ajaran Islam itu sendiri. Implikasi
multikultural yang dirangkai dengan pendidikan Islam yaitu sebagai paradigma
sekaligus konstruksi teoritis dan aplikatif yang menghargai keragaman agama dan
budaya.19
Manusia memiliki beberapa dimensi yang harus diakomodir dan
dikembangkan secara komprehensif. Kemanusiaan manusia pada dasarnya adalah
pengakuan akan pluralitas, heterogenitas, dan keragaman manusia itu sendiri.
Keragaman itu dapat berupa ideologi, agama, paradigma, pola pikir, kebutuhan,
keinginan, tingkat ekonomi, strata sosial, suku, etnis, ras, budaya, nilai-nilai
tradisi, dan lain sebagainya. Dalam kaitan ini, pendidikan Islam multikultural
19
23
menurut maslikhah mempunyai tujuh dimensi yaitu: dimensi fisik atau jasmani,
akal, keyakinan, etika, kejiwaan, estetika, dan sosial kemasyarakatan.20
Dalam hubungan ini, pendidikan Islam harus mampu menjadi
transformatif, yakni Pendidikan yang mampu untuk memperkokoh rasa cinta
tanah air, setia kawan, dan selalu berorientasi pada upaya mewujudkan islam
sebagai rahmatan lil „alamin. Di samping itu, pendidikan Islam harus memodifikasi dirinya agar mampu menjalankan perannya sebagai subsistem
Pendidikan Nasional. 21
F. Hasil Penelitian yang relevan
Penelitian yang berkaitan dengan masalah pendidikan multikultural dan
pemikiran Gus Dur diperoleh dari kajian relevan penulis terhadap penulis
sebelumnya. penelitian-penelitian tersebut mengupas berbagai hal berkaitan
dengan persoalan paradigma pendidikan multikultural sebagai pendidikan
alternatif yang patut dikembangkan dalam pendidikan umum maupun pendidikan
Islam. Pemikiran-pemikiran Gus Dur yang Kompleks dan penuh paradoks
mempunyai berbagai macam hasil penelitian di berbagai bidang, baik bidang
sosial, agama, politik, dan sebagainya. Dari berbagai hasil penelitian tersebut
tentunya penulis tidak bisa menghimpun kesemua penelitian yang relevan dengan
hal tersebut. Penulis ingin membingkai dan mengembangkanya menjadi satu
konsep tersendiri terhadap pemikiran Gus Dur tentang pendidikan multikultural.
Adapun hasil kajian penelitian yang relevan tersebut antara lain :
1. Skripsi karya Miratul Hayati berjudul “rekontruksi pendidikan islam
berbasis multikultural”. Hasil penelitian yang telah dilakukannya
mempunyai benang merah bahwa pendidikan Islam berbasis multikultural
merupakan sebuah jawaban terhadap era globalisasi dan konflik-konflik
kultur.
2. Skripsi karya Fauzan yang berjudul “Pendidikan Multikultural dalam
Piagam Madinah”. Penelitian tersebut menjelaskan bahwa pendidikan
20
Maslikhah, Op.cit, h. 168 21
multikultural pernah diaplikasikan pada masa Rasulullah, namun
konsepnya belum di rumuskan. Tetapi secara teknis, Rasulullah
mengajarkan cara menghargai keragaman melalui piagam madinah
tersebut.
3. Skripsi karya Subkhi Akhwani berjudul “pendidikan berspektif Multikultural studi pemikiran pendidikan multikultural menurut H.A.R Tilaar”. Penelitian ini menjelaskan pendidikan multikultural menurut H.A.R Tilaar melalui sketsa biografi dan hasil wawancara langsung antara
peneliti dengan tokoh tersebut.
4. Buku Terjemah Biografi Gus Dur yang mengupas potret utuh gambaran
seorang Gus Dur semasa hidupnya karya penulis dan peneliti terkenal
Greg Barton. Dalam buku ini, Greg Barton mencoba membingkai sketsa
biografi sekaligus pemikiran Gus Dur melalui beberapa pendekatan
multidisipliner. Kemudian Greg Barton mencoba menggeneralisasi
pemikiran Gus Dur dengan menempatkan Gus Dur kedalam Tokoh
25
BAB III
Metodologi Penelitian
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah jenis penelitian kepustakaan (library research),
yang bertumpu pada kajian referensi dan telaah teks literature dengan pendekatan
deskriftif dan filosofis. Karena sumber-sumber data yang digunakan oleh peneliti
adalah data literatur. Tujuan dari desain penelitian ini adalah untuk melatih
penulis untuk membaca secara kritis segala literatur yang ada. Tujuan lain dari
jenis penelitian ini ialah melatih penulis dalam mengekspresikan semua bahan
atau data mentah yang bermacam-macam menjadi suatu karya tulis yang panjang
dan teratur.1
B. Setting Penelitian
Setting Penelitian dalam penelitian ini adalah K.H Abdurrahman Wahid
dan pemikiranya dalam pendidikan islam multikultural yang didapat dari berbagai
kajian pustaka di berbagai perpustakaan. Penulis mengambil 2 perpustakaan
utama yang menjadi tempat dalam melakukan penelitian antara lain:
1. Perpustakaan Utama dan Fakultas UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan
1
2. Perpustakaan The Wahid Institute di Jalan Taman Amir Hamzah Matraman
Jakarta Timur. Perpustakaan The Wahid Institute ini merupakan warisan
peninggalan Gus Dur, dan menjadi basis para aktifis HAM dan
Multikulturalisme.
C. Sumber Penelitian
Sumber penelitian yang digunakan penulis yaitu bersifat dokumenter atau
data yang bersifat simbol, literatur kepustakaan, dan sebagainya. Kemudian
sumber penelitian ini ada dua macam. Pertama, sumber primer yaitu
pemikiran-pemikiran K.H Abdurrahman wahid tentang pendidikan multikultural yang
tertulis dalam buku, jurnal, katalog dan sebagainya. Kedua, sumber-sumber
sekunder, yaitu sumber bacaan yang relevan dengan sumber primer, baik dari
koran, internet, dan sebagainya.2
D. Teknik pengumpulan data
Untuk mendapatkan data yang diperlukan dalam penelitian ini, penulis
melakukan telaah kepustakaan, yaitu dengan membaca kajian kepustakaan yang
berkenaan dengan pemikiran-pemikiran K.H Abdurrahman Wahid tentang
pendidikan multikultural. Setelah mengumpulkan data atau informasi mentah,
kemudian data tersebut diseleksi menjadi kerangka penelitian yang sesuai dengan
tujuan yang diinginkan.
Mekanisme teknik dalam mengumpulkan data tidak memungkinkan
penulis untuk membaca semua buku yang ada pada perpustakaan. Faktor waktu
dan tenaga menjadi alasan yang jelas, akan tetapi penulis memanfaatkan alat riset
dan mekanisme standar yang biasa ada pada perpustakaan seperti katalog online,
ensiklopedia, maupun internet.3
2
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2006) cet 13.h. 158
3
27
E. Teknik Analisis Data
Dalam mengkaji penelitian kepustakaan ini penulis menggunakan Content
Analysis yakni analisis data yang menjadi isi atau materi buku kajian. Teknik
analisis isi merupakan teknik utama dalam melakukan kajian dokumentasi atau
kepustakaan. Dalam hal ini penulis mengambil kesimpulan dari data-data yang di
peroleh dari buku-buku yang dikaji. Kemudian data yang terkumpul tersebut
disusun secara sistematis untuk memperoleh gambaran yang valid. 4
Untuk memperoleh kevalidan tersebut, penulis menyusun instrumen
analisis data menggunakan flow model. Langkah-langkahnya dimulai dari
pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan menarik kesimpulan. Adapun
penjelasan dalam teknik tersebut yaitu:
1. Pengumpulan data
Modal utama Penulis dalam mengumpulkan data dalam penelitian ini
ialah dengan membaca katalog, buku, jurnal terkait tema permasalahan
yang penulis inginkan kemudian mengelompokan sumber-sumber data
menjadi sumber primer dan sumber sekunder.
2. Reduksi data
Setelah data berhasil dikelompokan, penulis menyeleksi dan
memfokuskan terhadap masalah yang akan menjadi tujuan dari penelitian
ini.
3. Penyajian data
Penulis kemudian menyajikan data yang telah dibatasi tersebut
menjadi karangan naratif yang mendeskripsikan rumusan masalah
berdasarkan sumber-sumber yang diperoleh.
4. Penarikan Kesimpulan
Setelah kesemua langkah-langkah diatas dilakukan, penulis
mengevaluasi dan memverifikasi data-data yang telah tersaji. Teknik
4
diatas bisa berubah-ubah urutanya, karena teknik dalam penelitian
kepustakaan bersifat fleksibel.5
F. Pemeriksaan keabsahan data
Data-data yang telah dikumpulkan dan dianalisis, sebagai pelengkapnya
penulis memeriksa keabsahan data. Pemeriksaan keabsahan data dalam penelitian
ini dilakukan menggunakan teknik-teknik berikut ini:
1. Kredibilitas
Teknik tersebut menunjukan tingkat kejelasan fenomena hasil
penelitian sesuai dengan kenyataan. Lincoln dan Guba menambahkan
teknik tersebut perlu dikelompokan untuk mencapai kredibilitasnya
dengan perpanjangan waktu penelitian, mengamati secara tekun, menguji
sesuai keabsahan datanya, dan mengadakan pengecekan serta kecukupan
referensi.
2. Dependabilitas
Teknik ini mempengaruhi status dan kedudukan peneliti di lapangan,
situasi dan kondisi yang mempengaruhi informasi yang diberikan, definisi
konsep, dan metode pengumpulan dan analisis data penelitian. Untuk
mempertinggi kualitas proses dalam mengkonsepsikan penelitian ini,
penulis mendeskripsikan uraian yang jelas, kemudian meminta pendapat
dari dosen pembimbing sebagai independent auditor, serta ditunjang
dengan media yang mendukung.
3. Objektivitas
Teknik ini menekankan penulis untuk menganalisis secara sistematis,
cermat, dan teliti. Teknik ini bertujuan untuk menghindari
tendensi-tendensi yang bersifat subjektif, fiktif, dan tidak ilmiah.6
5
Kadir, Dkk, Pedoman Penulisan Skripsi Fakultas Tarbiyah UIN JAKARTA 2011, (Jakarta: UIN Jakarta, 2011), h. 59-61
6
29
BAB IV
Hasil Penelitian dan Pembahasan
A. Deskripsi Tokoh
1. Nasab dan kelahiran
Abdurrahman Wahid dilahirkan pada tanggal 4 Sya’ban atau bertepatan
dengan 7 September 1940 di Denanyar Jombang, Jawa Timur. Ia adalah anak
sulung dari enam bersaudara pasangan Wahid Hasyim dan Solichah. Meskipun
beliau lahir pada tanggal 7 September, ia merayakan ulang tahunnya pada tanggal
4 Agustus, dikarenakan perbedaan persepsi teman-temannya mengenai
penanggalan kalender kelahiran beliau.1 Perbedaan persepsi ini dikarenakan tahun
yang menjadi acuan kelahiran Gus Dur adalah Tahun Hijriyah.
Beliau lahir dengan nama Abdurrahman Addakhil. "Addakhil" berarti
"Sang Penakluk". Kata "Addakhil" tidak cukup dikenal dan pada akhirnya Gus
Dur memberikan akhiran "Wahid" sesuai dengan tradisi ulama NU yang
menisbatkan nama akhir menggunakan nama ayahnya yakni Abdurrahman putera
Wahid. Kemudian beliau lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur. Kata "Gus"
adalah panggilan kehormatan khas pesantren NU kepada seorang anak kiai
laki-laki yang berati bagus atau mas.
Gus Dur dilahirkan di lingkungan keluarga yang sangat terhormat dalam
komunitas Muslim di Jawa Timur bahkan Indonesia. Kakek dari ayahnya adalah
1
Greg Barton, Biografi Gusdur (The authorized bioghraphy of Abdurrahman Wahid) ,
K.H. Hasyim Asyari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU) yang merupakan organisasi
Islam terbesar dan terkuat di Indonesia, sementara kakek dari pihak ibu, K.H.
Bisri Syansuri, adalah pengasuh pesantren yang memperkenalkan kelas santri
puteri pertama dalam dunia pesantren di desa Denanyar Jombang. Ayah Gus Dur
Wahid Hasyim adalah seorang kiai yang disegani masyarakatnya sekaligus
seorang tokoh elit politik yang berperan penting pada masa kemerdekaan
Indonesia. Wahid Hasyim merupakan anak kelima dari sepuluh saudara dan
merupakan anak laki-laki pertama dari K.H Hasyim Asy’ari. Sedangkan Ibu Gus
Dur Nyai Solichah merupakan putri K.H Bisri syansuri yang merupakan teman dekat K.H Hasyim Asy’ari.
Gus Dur pernah menyatakan bahwa nasab keturunanya berasal dari Raja
Brawijaya VI, Raja yang berkuasa di Jawa dan merupakan Raja terakhir Kerajaan
Majapahit. Raja Majapahit tersebut mempunyai anak bernama Jaka Tingkir,
kemudian keturunan dari Jaka Tingkir inilah yang dianggap memperkenalkan
Islam di daerah pantai timur laut pulau Jawa.2
2. Kehidupan pribadi
Abdurrahman Wahid menikah dengan wanita idamannya yakni Sinta
Nuriyah dan dikaruniai empat orang puteri yaitu Alissa Qotrunnada, Zannuba
Ariffah Chafsoh (Yenny Wahid), Anita Hayatunnufus, dan Inayah Wulandari.
Kehidupan Gus Dur selalu perpindah-pindah tempat baik sebelum menikah
maupun setelah menikah. Hal itu dikarenakan banyaknya aktifitas yang ia jalani
terlebih setelah ia menjadi ketua NU. Bakat-bakat yang dimiliki Gus Dur semasa
hidupnya melebihi santri atau kiai pada zamannya. Ia dikenal memiliki daya ingat
yang kuat dengan fisik yang terbatas, naluri yang tajam, serta berpenampilan
sederhana. Sejak kecil ia telah mengenal berbagai macam bahan bacaan yang luas
yang amat jarang dilakukan santri pada zamannya.
Tradisi pesantren pada umumnya adalah memandang para ulama sepuh
sebagai guru spiritual maupun guru intelektual, walaupun daya intelektual Gus
2
31
Dur paling menonjol di antara kiai-kiai NU lainnya ia sangat menghormati dan
patuh terhadap para kiai sepuh dan kiai lainnya. Kecenderungan spiritual Gus Dur
yang amat khas yaitu melestarikan adat ziarah ke makam-makam keramat,
bersilaturahmi terhadap kiai-kiai lainnya, serta memperhatikan kaum yang
minoritas. Dari hal itu Gus Dur menyukai tradisi mistisisme asketik.
Kesibukan dan aktifitas Gus Dur yang ekstrim menyebabkan ia menderita
banyak penyakit, bahkan sejak ia belum menjabat sebagai presiden. Ia menderita
gangguan penglihatan sehingga seringkali surat dan buku yang harus dibaca atau
ditulisnya harus dibacakan atau dituliskan oleh orang lain. Beberapa kali ia
mengalami serangan stroke, diabetes, dan gangguan ginjal yang dideritanya. Ia
wafat pada hari Rabu, 30 Desember 2009, di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo,
Jakarta, pada pukul 18.45 akibat berbagai komplikasi penyakit yang dideritanya
sejak lama. Sebelum wafat ia harus menjalani hemodialisis (cuci darah) rutin.3
3. Pendidikan Dan Guru-Gurunya
Sebagai keturunan seorang kiai yang disegani di masyarakat Jawa waktu
itu, Gus Dur sejak kecil berada di lingkungan pesantren. Ia diajarkan pendidikan
Agama oleh kakeknya sendiri K.H Hasyim Asy’ari mulai dari membaca
Al-Qur’an dan ilmu agama lainnya. Di samping Kakek dan ayahnya ada beberapa
Guru yang membentuk kpribadian dan pemikiran Gus Dur kedepannya yaitu Kiai
Bisri Sansuri, Kiai Wahab Chasbullah, Kiai Khudori Tegal Rejo Magelang yang
merupakan tokoh-tokoh perintis NU, sedangkan Gurunya yang lain yaitu Kiai
Junaidi yang merupakan salah satu anggota majlis tarjih organisasi
Muhammadiyah dan K.H Ali Maksum dari pesantren Al-Munawwir Krapyak
Yogyakarta.
Pada tahun 1949 Abdurrahman Wahid memulai pendidikan formalnya di
Jakarta, ia masuk ke SD KRIS sebelum pindah ke SD Perwari Matraman.
Pendidikan Abdurrahman Wahid pada tahap ini sepenuhnya bersifat sekuler, oleh
ayahnya ia diajarkan membaca buku apa saja tak terkecuali buku non-Muslim,
3
Mahbub Risad, Biografi Gusdur, 2012, p.1,
majalah, dan koran untuk memperluas pengetahuannya. Gus Dur terus tinggal di
Jakarta dengan keluarganya meskipun ayahnya sudah tidak menjadi menteri
agama pada tahun 1952. Bulan April Tahun 1953, ayah Wahid meninggal dunia
akibat kecelakaan mobil, ketika itu Gus Dur baru berumur 12 tahun.4
Pendidikan Gus Dur berlanjut dan pada tahun 1954, ia masuk ke Sekolah
Menengah Ekonomi Pertama (SMEP). Di sekolah itu ia tidak naik kelas sehingga
Ibunya mengirim Gus Dur ke Yogyakarta untuk meneruskan pendidikannya.
Disamping meneruskan sekolah umumnya, secara rutin Gus Dur melengkapi
pendidikanya dengan belajar bahasa Arab di pesantren Al-Munawwir Krapyak dibawah asuhan K.H Ali Ma’shum.
Pendidikan pesantren Gus Dur terus berlanjut pada Tahun 1957, Ia pindah
ke Pesantren Tegal Rejo Magelang di bawah Asuhan Kiai Khudori. Di Pesantren
ini bakat intelektual Gus Dur berkembang dengan pesat, dalam waktu dua tahun
Gus Dur telah menyelesaikan pelajaranya dibanding dengan santri-santri yang
pada umumnya menyelesaikan pelajaranya selama empat tahun.
Setelah menamatkan pesantren di Magelang, tahun 1959 Gus Dur pindah
ke pesantren Tambakberas Jombang di bawah asuhan Kiai Wahab Chasbullah. Di
pesantren ini ia belajar sekaligus mengajar, selain itu Gus Dur sangat tertarik pada
sisi sufistik dari kebudayaan Islam tradisional disamping minat intelektualnya
yang komprehensif. Hal itu dibuktikan dengan hobinya berziarah ke
makam-makam para ulama dan para sesepuhnya.5
Pada tahun 1963, Abdurrahman Wahid pergi ke Mesir untuk melanjutkan
studinya dengan berkuliah di Universitas Al-Azhar. Sebagai seorang intelektual
yang haus dengan ilmu, Gus Dur merasa kecewa dengan sistem pendidikan di
Al-Azhar yang hanya menekankan metode hafalan dan mengulang pelajaran sewaktu
di pesantren. Ia lebih menikmati hidup di Mesir dengan menonton film, sepak
bola, serta jalan-jalan. Karena kegemaranya tersebut Gus Dur gagal dalam
menyelesaikan studi secara penuh di Mesir.6
4
Abuddin Nata, Tokoh-Tokoh Pembaruan Pendidikan Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2005),h. 339-340
5
Greg Barton, Op.cit, h.49-54
6