Tinjauan Yuridis Mengenai Praktek Sewa M

16 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

TINJAUAN YURIDIS MENGENAI PERJANJIAN SEWA-MENYEWA

VIRTUAL OFFICE DAN DAMPAK PENGGUNAAN ALAMAT VIRTUAL

OFFICE SEBAGAI DOMISILI PADA PERJANJIAN

Mira Aranti Ciptadi dan Abdul Salam (Pembimbing)

Ilmu Hukum, Fakultas Hukum, Universitas Indonesia, Jalan Lingkar Kampus Raya, Depok, 16424, Indonesia.

E-mail: miraaranti@yahoo.com, miraaranti@gmail.com

Abstrak

Perkembangan perekenomian menjadikan pelaksanaan virtual office semakin berkembang di berbagai belahan dunia, Pelaksanaan virtual office merupakan sebuah lokasi usaha yang hanya ada di dunia maya, menyediakan sebuah alamat kantor untuk disewakan yang memungkinkan untuk penyewa menggunakan alamat Virtual Office tersebut sebagai alamat bisnis sehingga memiliki alamat bisnis yang prestigious. Pelaksanaan virtual office di Indonesia berbeda dengan pelaksanaan virtual office dibebetapa Negara. Konsep pelaksaan virtual office di Indonesia menggunakan konsep sewa-menyewa, hubungan hukum yang timbul antara pengguna dan penyedia virtual office di Indonesia diwujudkan dalam perjanjian sewa-menyewa, objek perjanjian virtual office yang dilaksanakan di Indonesia dapat hanya berupa sebuah alamat kantor. Konsep perjanjian sewa-menyewa yang diatur dalam kUH Perdata menjelaskan bahwa perjanjian sewa-menyewa harus memiliki objek sebuah benda, dalam hal ini dapat atau tidak alamat kantor dikategorisasikan sebagai sebuah benda/ property. Berdasarkan permasalahan tersebut dengan menggunakan metode yuridis normatif, penelitian ini ditujukan untuk mengkaji keabsahan perjanjian sewa-menyewa alamat virtual office dengan dikaitkan alamat sebagai suatu benda atau properti yang dapat dijadikan sebagai objek didalam suatu perjanjian serta mengkaji mengenai pertanggungjawaban hukum perdata pihak penyedia virtual office terhadap permasalahan hukum yang ditimbulkan oleh pihak pengguna virtual office. Hasil dari penelitian ini adalah perjanjian sewa-menyewa alamat virtual office yang dilaksanakan di Indonesia bukan merupakan suatu perjanjian sewa-menyewa yang diatur didalam KUH Perdata melainkan dikategorisasikan sebagai perjanjian tak bernama (inominaat). Pertanggung jawaban hukum perdata mengenai hubungan kontraktual antara pengguna virtual office dengan pihak ketiga tidak dapat mengikat pihak penyedia virtual office sehingga apabila terjadi permasalahan hukum yang ditimbulkan atas hubungan kontraktual tersebut pihak penyedia virtual office tidak memiliki tanggung jawab perdata.

“Juridical Analysis of Virtual Office Lease Agreement and the impact of the use of virtual addresses office as domicile at an agreement”

Abstract

(2)

an office address. The concept of the lease agreement are regulated in chapter third Civil Code, explains that the lease agreement should have “suatu hal tertentu” an object, in this case might or not “office address be categorized as an object / property. Based on these problems by using normative methods, this study aimed to assess the validity of the tenancy agreement with the associated virtual office address as the address of an object or property that can be used as an object in an agreement and examine the civil liability of the provider of virtual office to problems law posed by the virtual office users. The results of this study are the lease agreement is implemented virtual office address in Indonesia is not a lease agreement that is regulated in the Civil Code but is categorized as a inominaat agreement. Civil liability law regarding the contractual relationship between the virtual office users with third parties can not bind the virtual office provider so that in the event of legal problems arising on the contractual relationship the virtual office provider does not have a civil legal liability.

Keywords: virtual office, lease agreement, agreement, contractual, legality, liability,inominaat.

Tinjauan Teoritis

1. Perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu pihak atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih.1

2. Perjanjian Sewa-Menyewa adalah suatu perjanjian dengan mana pihak yang satu mengikatkan dirinya untuk memberikan kepada pihak yang lainnya kenikmatan dari suatu barang, selama waktu tertentu dan dengan pembayaran suatu harga yang oleh pihak tersebut belakangan telah disanggupi pembayarannya.2

3. Pacta sunt servanda adalah asas dalam perjanjian yang merupakan asas kekuatan mengikat yang berhubungan dengan akibat dari perjanjian. Berdasarkan asas ini setiap pihak dalam perjanjian bertanggungjawab untuk hal-hal yang tidak dijalankan meskipun kegagalan itu di luar kekuasaannya dan tidak dapat dilihat lebih dahulu pada waktu penandatanganan perjanjian.3 Asas ini terdapat didalam

Pasal 1338 KUH Perdata yang menyatakan bahwa perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai Undang-Undang bagi para pihak didalam perjanjian tersebut.4

Jika salah satu pihak dalam perjanjian tersebut tidak melaksanakan perjanjian, pihak lain dalam perjanjian berhak untuk menagih atau memaksakan pelaksanaannya melalui mekanisme dan jalur hukum yang berlaku.5

4. Asas kebebasan berkontrak merupakan asas hukum perjanjian yang berarti orang bebas untuk menutup suatu kontrak, mengatur sendiri isi perjanjian yang akan mengikat pembuatnya. Kebebasan berkontrak ini terdapat pembatasan yakni

1 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata [Burgerlijk Wetboek], Op.Cit., Ps. 1313. 2 Ibid., Ps.1548.

3 Madjedi Hasan, Pacta Sund Servanda Penerapan Asas“ janji itu mengikat” Dalam Kontrak Bagi

Hasil di Bidang Minyak dan Gas Bumi, (Jakarta: Fikahati Aneska,2005), hal.13.

4 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata [Burgerlijk Wetboek], Op.Cit., Ps. 1338 Ayat (1).

5 Mariam Darus Badrulzaman [2], Kompilasi Hukum Perikatan, ( Bandung: PT Citra Aditya

(3)

perjanjian tidak boleh bertentangan dengan kesusilaan, ketertiban umum dan Undang-Undang.6

5. Virtual Office adalah sebuah lokasi usaha yang hanya ada di dunia maya, menyediakan sebuah alamat kantor untuk disewakan yang memungkinkan untuk penyewa menggunakan alamat Virtual Office tersebut sebagai alamat bisnis sehingga memiliki alamat bisnis yang prestigious.7

6. Domisili dapat diartikan juga sebagai tempat kediaman. Tempat kediaman atau domisili adalah tempat seseorang melakukan perbuatan hukum. Perbuatan hukum merupakan suatu perbuatan yang menimbulkan akibat hukum. 8

7. Kebendaan adalah tiap-tiap barang dan tiap-tiap hak, yang dapat dikuasai oleh hak milik,9 maka cakupan benda sangat luas, disamping terdapat istilah benda

didalamnya terdapat juga istilah barang ( goed ) dan hak (recht). Sehingga pengertian benda masih absrak karena tidak saja meliputi benda berwujud tetapi juga benda tidak berwujud.10

Metode Penelitian

Metode penelitian yang akan dipergunakan dalam mengumpulkan data dan bahan bagi penelitian ini adalah penelitian yuridis normatif, artinya mengacu kepada penggunaan norma hukum secara tertulis yang didukung dengan hasil wawancara dengan Bapak Risman Daulay dan Mba Tyas Widiaswara selaku pihak management sebuah kantor Virtual Office.

Ditinjau dari sifatnya, penelitian ini adalah penelitian deskriptif, yakni penelitian yang bertujuan untuk menggambarkan secara jelas mengenai penggunaan konsep Virtual Office di Indonesia, serta mengenai keabsahan perjanjian sewa-menyewa alamat Virtual Office berdasarkan hukum positif Indonesia, dikaitkan dengan alamat dapat dikatakan sebagai sebuah benda/properti sehingga dapat dijadikan objek (suatu hal tertentu) didalam perjanjian sewa-menyewa. Selain itu juga dijelaskan mengenai pertanggungjawaban yang dimiliki pihak penyedia Virtual Office terhadap permasalahan hukum yang timbul karena adanya penggunaan konsep Virtual Office oleh pengguna/penyewa Virtual Office.

6 J. Satrio, Hukum Perjanjian, ( Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 1992), hal.360. 7 Virtual Office Definition | Investopedia,

htttp://www.investopedia.com/terms/v/virtual-office.asp. diakses pada tanggal 20 Februari 2014.

8 Salim HS, SH.,M.S, Suatu Pengantar Hukum Perdata Tertulis (BW), Cet. 3, (Yogjakarta: Sinar

Grafika, 2005), hal.37.

9 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata [Burgerlijk Wetboek], Op.Cit., Ps. 499.

10 Ny. Frieda Husni Hasbulah, SH., MH, Hukum Kebendaan Perdata, Hak-Hak Yang Memberi

(4)

Alat pengumpulan data yang digunakan dalam memperoleh data sekunder adalah dengan studi kepustakaan dan penggunaan studi dokumen. Metode analisis data yang digunakan adalah metode kualitatif dengan menekankan kepada kebenaran berdasarkan sumber-sumber hukum serta doktrin yang ada bukan dari segi kuantitas kesamaan data yang diteliti. Penulis juga memakai metode wawancara dengan mewawancarai beberapa akademisi, para pihak yang menggunakan Virtual Office dan pihak-pihak yang bekerja di Kantor yang menyediakan Virtual Office hal tersebut bertujuan untuk mendapatkan pandangan dari berbagai sudut pandang mengenai pelaksanaan penggunaan Virtual Office dalam teori dan praktek.

Bentuk hasil penelitian dilakukan untuk menjawab permasalahan dengan melakukan penelitian yang bersifat deskriptif analitis yaitu dengan memberikan penjelasan mengenai syarat sahnya suatu perjanjian pada umumnya, kemudian dilanjutkan dengan penjelasan lebih lanjut mengenai keabsahan perjanjian sewa-menyewa Virtual Office berdasarkan hukum positif Indonesia dan tinjauan penggunaan alamat Virtual Office sebagai domisili dikaitkan dengan pertanggungjawaban penyedia jasa Virtual Office terhadap permasalahan hukum yang timbul oleh pengguna jasa Virtual Office.

Pendahuluan

Perkembangan perekonomian harus disertai dengan perkembangan hukum yang baik untuk mendapatkan kepastian hukum antar pihak didalam hubungan bisnis diperlukan adanya perjanjian atau kontrak.11 Perjanjian berdasarkan namanya terbagi menjadi 2 penggolongan

yaitu perjanjian nominaat serta perjanjian inominaat (tidak bernama). Penggolongan perjanjian berdasarkan nama diatur didalam Pasal 1319 KUH Perdata.12

Perjanjian menyewa merupakan salah satu perjanjian nominaat. Perjanjian sewa-menyewa diatur didalam BAB VII Buku III KUH Perdata (Pasal 1548-1600 KUH Perdata). Definisi perjanjian sewa-menyewa diatur didalam Pasal 1548 KUH Perdata dimana perjanjian sewa-menyewa adalah “suatu perjanjian dengan mana pihak yang satu mengikatkan dirinya untuk memberikan kepada pihak yang lainnya kenikmatan dari suatu barang, selama waktu tertentu dan dengan pembayaran suatu harga, yang oleh pihak tersebut belakangan telah disanggupi pembayarannya”.13 Pelaksanaan virtual office semakin berkembang di setiap

Negara, virtual office adalah sebuah lokasi usaha yang hanya ada di dunia maya, menyediakan sebuah alamat kantor untuk disewakan yang memungkinkan untuk penyewa

11 Salim SH.,M.S, Suatu Pengantar Hukum Perdata Tertulis (BW), Cet. 3, (Yogjakarta: Sinar Grafika,

2005), hal.37.

12 Lihat Pasal 1313, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata [Burgerlijk Wetboek], diterjemahkan oleh

Subekti dan R. Tjitrosudibio, (Jakarta: Pradya Paramita, 2009), Ps.1313.

(5)

menggunakan alamat Virtual Office tersebut sebagai alamat bisnis sehingga memiliki alamat bisnis yang prestigious.14 Pelaksanaan virtual office memang sangat mudah dan efisien tetapi

dapat menimbulkan beberapa permasalahan, terdapat dua permasalahan mengenai dampak penggunaan dari virtual office sebagai kantor. Pertama, permasalahan pertama yang dapat timbul dari penggunaan virtual office adalah mengenai apakah pelaksanaan virtual office yang didasarkan dengan sebuah perjanjian sewa-menyewa dapat digolongkan sebagai perjanjian sewa-menyewa yang sah menurut hukum positif di Indonesia. Perjanjian sewa-menyewa menurut hukum Indonesia dapat dikatakan sah apabila memenuhi ketentuan yang tercantum di dalam Pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata dan memenuhi ketentuan Pasal 1548 KUH Perdata.Perjanjian virtual office memiliki permasalahan mengenai “hal tertentu” karena didalam perjanjian sewa-menyewa objek perjanjian harus merupakan “kenikmatan dari suatu barang”, barang merupakan pengertian sempit dari benda yaitu sesuatu yang bersifat konkrit dan berwujud, sementara didalam perjanjian virtual office dicantumkan bahwa telah terjadi penyewaan sebuah “alamat kantor”. Kedua, permasalahan kedua yang dapat timbul adalah mengenai pertanggung jawaban penyedia virtual office atas permasalahan yang timbul atas pengguna Virtual Office. Dalam penggunaan “alamat” virtual office di Indonesia khususnya di PT.ABC sebagai studi kasus dalam skripsi ini tidak melakukan pembatasan mengenai penggunaan alamat yang dijadikan objek perjanjian tersebut. Hal tersebut dapat membuat pengguna virtual office bukan hanya menggunakan alamat Virtual Office sebagai alamat yang berhubungan dengan korespodensi saja tetapi untuk segala keperluan yang dikehendaki oleh pengguna Virtual Office. Tidak adanya pembatasan tersebut dapat menimbulkan permasalahan apabila alamat Virtual Office tersebut digunakan oleh pengguna Virtual Office sebagai alamat domisili didalam perjanjian yang dibuat dengan pihak ketiga. Permasalahan akan muncul apabila dalam perjanjian tersebut terjadi permasalahan hukum yang timbul akibat tindakan pengguna virtual office maka apabila terjadi hal tersebut penyedia Virtual Office memiliki dan dapat dimintakan pertanggung jawaban atau tidak. Berdasarkan penjelasan diatas serta permasalahan yang dapat terjadi didalam pelaksanaan virtual office maka penulis tertarik untuk menulis skripsi dengan judul “Tinjauan Yuridis Mengenai Perjanjian Sewa-Menyewa Virtual Office dan Dampak Penggunaan Alamat Virtual Office sebagai Domisili Pada Perjanjian".

Berdasarkan hal-hal yang dipaparkan diatas, maka terdapat beberapa rumusan masalah yang akan dipecahkan dalam skripsi ini, yakni:

14 Virtual Office Definition | Investopedia,

(6)

1. Bagaimanakah keabsahan perjanjian sewa-menyewa Virtual Office PT.ABC ditinjau dari hukum positif di Indonesia ?

2. Apakah alamat dapat dikatakan sebagai sebuah benda/properti sehingga dapat dijadikan objek didalam perjanjian sewa-menyewa ?

3. Bagaimana pertanggungjawaban perusahaan penyedia Virtual Office (PT. ABC) terhadap permasalahan hukum yang timbul oleh pengguna/penyewa Virtual Office (PT.ABC) ?

Maka tujuan dari penulisan skripsi adalah untuk mengetahui dan memahami bagaimana keabsahan perjanjian sewa-menyewa Virtual Office yang dilakukan oleh PT.ABC ditinjau dari hukum positif di Indonesia dan mengetahui dan memahami bahwa alamat dapat dijadikan sebagai sebuah objek didalam perjanjian sewa-menyewa Virtual Office atau tidak.

Pembahasan

Sistem hukum Eropa Kontinental disebut sebagai sistem hukum sipil (civil law).15 Sistem

civil law berarti mengembangkan cara berhukum berdasarkan pada supremasi peraturan (rule based).16 Dalam sistem hukum civil law peraturan hukum yang telah dikodifikasikan berlaku

sebagai Undang-Undang dan merupakan pedoman penegakan hukum dalam Negara tersebut. Salah satu penganut sistem hukum civil law adalah Indonesia, sistem hukum Indonesia merupakan sistem hukum yang sama seperti sistem hukum yang ada di Negara Belanda hal ini disebabkan karena sistem hukum yang dianut oleh Indonesia merupakan sistem hukum Belanda, Indonesia menerapkan sistem hukum yang sama dengan sistem hukum di Belanda melalui asas konkordasi.17 Dengan demikian, di Indonesia segala peraturan hukum Belanda

yang telah dikodifikasikan diberlakukan juga sebagai Undang-Undang dan menjadi pedoman untuk penegakan hukum.18 Perjanjian atau kontrak dibuat untuk membuat kepastian hokum

bagi para pihak yang memiliki kepentingan. Saat ini berkembang pelaksanaan virtual office di Indonesia, praktek ini sebenarnya telah ada sebelumnya di berbagai Negara salah satu penggagas konsep ini adalah Xerox di Waltham Negara bagian di Massachusets. Pelaksanaan

virtual office di Indonesia berbeda dengan pelaksanaan di berbagai Negara lainnya, di Perancis perlaksanaan virtual office diberlakukan pengawasan yang sangat ketat bagi

15 Satjipto Rahardjo [1], Ilmu Hukum, (Bandung:PT. Citra Aditya Bakti, 1991), hal. 73-74.

16 Satjipto Rahardjo [2], Manusia Komunikasi, Komunikasi Manusia, (Jakarta:Kompas, 2008), hal.

185.

17 Subekti [1], Pokok-Pokok Hukum Perdata, cet. 26, (Jakarta: Intermasa, 1994), hal.11.

18 Riduan Syahrani, Seluk Beluk dan Asas-Asas Hukum Perdata, cet. 3, (Bandung:PT. Alumni,2006),

(7)

pengguna virtual office terdapat badan pengawas yang berwenang memberikan persetujuan kepada pihak yang ingin menggunakan virtual office. Alamat virtual office yang digunakan didalam praktek di Perancis hanya terbatas pada alamat bisnis saja, penggunaan alamat tersebut hanya mengenai koresprodensi, berbeda dengan perancis yang melakukan pembatasan serta pengawasan mengenai pelaksanaan virtual office , Dubai melarang penggunaan virtual office hal tersebut sesuai dengan ketentuan dalam undang-undang perusahaan UAE (UAE Companies Law).19 Di Indonesia virtual office tidak memiliki

pengaturan tersendiri dan konsep pelaksanaannya berbeda, tidak jarang penyedia virtual office di Indonesia menyediakan paket virtual office yang hanya terdiri dari penyewaan “alamat kantor” dan tidak ada pembatasan tentang penggunaan alamat kantor yang disewakan tersebut. Perjanjian sewa-menyewa yang diatur didalam Pasal 1548 KUH Perdata menjelaskan bahwa suatu hal tertentu didalam perjanjian sewa-menyewa harus merupakan suatu “kenikmatan dari suatu barang”. Barang memiliki pengertian yang lebih sempit dibanding benda di dalam hukum perdata di Indonesia, barang mempunyai pengertian lebih sempit daripada benda, barang merupakan suatu yang berwujud tidak bersifat abstrak seperti benda.Jadi objek perjanjian sewa-menyewa diharuskan barang hal ini ditegaskan juga oleh

arrest Hoge Raad tanggal 27 Mei 1910 dimana mengatakan bahwa perjanjian sewa-menyewa harus memiliki objek perjanjian yaitu benda.20 Sehingga untuk dapat dikatakan sah sebagai

perjanjian sewa-menyewa menurut hukum perdata Indonesia harus diliat dahulu apakah perjanjian ini telah mememnuhi ketentuan umum mengenai syarat sah suatu perjanjian di dalam Pasal 1320 KUH Perdata dan Pasal 1548 KUH Perdata mengenai perjanjian sewa-menyewa, untuk dapat memenuhi syarat sah perjanjian menurut Pasal 1320, untuk syrarat yang menjadi permasalahan adalah syarat mengenai “suatu hal tertentu”. Suatu hal tertentu dirumuskan didalam Pasal 1320 Angka (3) kUH Perdata dan diperjelas didalam Pasal 1333 KUH Perdata yang menyatakan bahwa suatu perjanjian harus mempunyai pokok berupa suatu barang yang sekurang-kurangnya ditentukan jenisnya. Jumlah barang itu tidak perlu pasti, asal saja jumlah itu kemudian dapat ditentukan atau dihitung serta hanya barang-barang

19 “Virtual Office are Illegal : Says DED”,

http://www.emirates247.com/news/virtual-offices-are-illegal-says-ded-2011-04-10-1.379074, diakses pada tanggal 20 Juni 2014.

20 Dalam pengaturan di dalam Nieuw Burgelijk Wetboek Belanda pengertian mengenai benda lebih

(8)

yang dapat diperdagangkan saja yang dapat dijadikan pokok-pokok perjanjian.21 Dalam kedua Pasal tersebut menjelaskan bahwa suatu hal

tertentu/ pokok perjanjian adalah “barang” , barang diartikan sebagai suatu yang lebih sempit dibandingkan dengan benda karena bersifat lebih

konkrit dan berwujud.22 Pasal 1320 KUH Perdata merupakan peraturan

yang umum mengenai perjanjian, apabila Pasal 1332 dan Pasal 1333 KUH Perdata diartikan menjadi barang yang sempit maka perjanjian-perjanjian yang menggunakan objek perjanjian benda tidak berwujud tidak akan dapat memenuhi unsur syarat sah perjanjian mengenai suatu hal tertentu. Menurut Salim yang menjadi objek dalam perjanjian adalah prestasi (pokok perjanjian), prestasi adalah perbuatan positif dan negatif yang terdiri dari: memberikan sesuatu, berbuat sesuatu dan tidak berbuat

sesuatu (Pasal 1234 KUH Perdata).23Sri Soedewi menambahkan bahwa

benda memiliki arti yang sangat luas, karena benda juga meliputi:

Perbuatan hukum, kepentingan dan kenyataan hukum.24 Jadi pengertian

barang didalam penjelasan mengenai suatu hal tertentu dapat diartikan secara luas atau dipersamakan dengan benda. Perjanjian yang dijadikan pembahasan didalam skripsi ini adalah perjanjian sewa-menyewa virtual office maka selain memenuhi syarat sah perjanjian di dalam Pasal 1320 KUH Perdata maka perjanjian sewa-menyewa virtual office harus memenuhi juga ketentuan-ketentuan mengenai sewa-menyewa yang diatur didalam Pasal 1548- Pasal 1600 KUH Perdata. Dengan begitu untuk dapat dikatakan sebagai perjanjian sewa-menyewa yang memenuhi ketentuan KUH Perdata objek perjanjian sewa-menyewa harus jelas dan merupakan suatu barang ( berwujud).

Objek perjanjian didalam perjanjian sewa-menyewa virtual office PT.ABC adalah sebuah “alamat kantor” dengan begitu untuk dapat dikatakan sebagai perjanjian yang sah maka harus memenuhi unsur-unsur yang telah ditentukan didalam Pasal 1320 KUH Perdata dan Pasal 1548 KUH

21 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata [Burgerlijk Wetboek],Op.Cit., Ps.1332. 22 Frieda Husni Hasbullah.,Op.Cit.,hal.20.

(9)

Perdata, bila dikaikan dengan studi kasus didalam skripsi ini maka untuk dapat menentukan hal tersebut maka harus terlebih dahulu mendefinisikan serta menggolongkan “alamat kantor” merupakan barang atau benda.apabila diliat dari definisi barang maka “alamat kantor” bukan merupakan sebuah barang kareana tidak berwujud, untuk dapat mengatakan suatu perjanjian sah atau tidak maka harus juga melihat ketentuan di Pasal 1320 KUH Perdata. Alamat kantor memang bukan merupakan barang hal ini dapat dilihat dari pengertian barang yaitu segala hal yang berwujud, tetapi alamat kantor dapat dikategorisasikan sebagai benda. Terdapat persamaan yang mendasar antara alamat kantor dan nama domain. Nama domain memiliki pengertian sebagai suatu kata, frasa atau serangkaian huruf alfabetik yang merupakan perkembangan dari alamat IP ( internet protocol) dari suatu computer atau jaringan computer yang akrab dengan manusia dan mudah diingat. Alamat IP adalah angka-angka yang mengidentifikasikan suatu

host computer sedemikian rupa sehingga paket-paket informasi sampai kepada computer yang dituju.25 Jka dilihat dari pengertian dan tujuannya maka alamat kantor dengan nama domain

memiliki kesamaan. Untuk dapat mengatakan suatu hal dapat dikategorikan sebagai benda maka harus memnuhi kedua unsur yaitu memiliki nilai ekonomi dan dikuasain oleh manusia. Nama domain dan alamat dapat dilakukan penguasaan atasnya, jika domain dapat dilakukan penguasaan dengan mendaftarkan nama domain tersebut kepada registrar kalau di Indonesia didaftarkan kepada pengelola nama domain Indonesia (PANDI)26 untuk digunakan sebagai

alamat web, sedangkan alamat dapat digunakan dengan bebas ketika seseorang sudah memiliki hak eigendom atau hak perserorangan atas suatu bangunan, rumah dan kantor. Adanya nilai ekonomis saat ini nama domain merupakan asset yang sangat berharga, bahkan dari aspek tertentu nama domain dianggap lebih berharga dibandingkan dengan merek.27Nama

domain bukan saja dapat mengidentifikasi tidak hanya sumber barang, jasa, bisnis atau informasi tetapi dapat juga mengidentifikasi lokasi virtual dari sumber tersebut.28 Nilai

ekonomis dari nama domain setiap minggu semakin bertambah semakin banyak orang yang merasakan nilai ekonomis dari nama domain, tiap minggunya rata-rata pada tahun 2009 meningkat tiap minggunya sebanyak 600.000 nama domain.29 Alamat dahulu tidak dipandang

sebagai sesuatu yang bernilai ekonomis, tetapi saat ini alamat-alamat konvensional dari suatu rumah atau gedung terutama yang terletak di kawasan stategis menjadi penawaran yang

25 Robinson, Sinaga,Op.Cit.,hal.15. 26 Robinson, Sinaga,Op.Cit.,hal.40. 27Ibid.,hal.24.

(10)

menarik bagi para pengusaha yang ingin memililki alamat kantor yang bonafide tetapi tidka memiliki cukup dan untuk menyewa atau membeli kantor dikawasan strategis. Hal ini ditegaskan oleh Pitlo, beliau mengatakan bahwa yang dimaksud dengan zaak itu ditentukan oleh kebutuhan-kebutuhan masyarakat.30 Pengertian zaak dibelanda dapat diartikan sebagai

barang bila dihukum perdata, barang adalah suatu yang bersifat konkrit atau dapat diraba, pitlo membuat rumusan yang luas mengenai definisi barang, maka dapat disimpulkan bahwa

goed dalam rumusan hukum perdata Belanda yang dapat dipersamakan dengan benda didalam hukum perdata Indonesia memiliki arti yang lebih luas lagi. Dengan kedua unsur adanya penguasaan dan nilai ekonomi atas nama domain dan alamat dapat dilakukan suatu perbuatan hukum. Perjanjian adalah salah satu bentuk dari perbuatan hukum karena atasnya menimbulkan hak dan kewajiban hukum, perjanjian berfungsi untuk menjamin adanya kepastian hukum serta memiliki fungsi ekonomis juga yaitu untuk menggerakkan sumber daya dari nilai penggunaan yang lebih rendah menjadi nilai yang lebih tinggi. Alamat dan Nama domain sudah banyak menjadi objek perjanjian, didalam penggunaan alamat website, dan didalam penggunaan virtual office bagi alamat konvensional.

Pelaksanaan virtual office melibakan beberapa pihak yaitu, pihak penyedia virtual office dan pengguna virtual office sehingga pihak- pihak yang terikat dengan perjanjian sewa-menyewa

virtusl office adalah pengguna dan penyedia virtual office tetapi dalam pelaksanaannya karena penggunaan “alamat kantor” sebagai objek perjanjian tidak diberikan pembatasan penggunaannya maka pihak pengguna dapat melakukan semua hal menggunakan alamat kantor yang merupakan objek dari suatu perjanjian virtual office. Salah satu contohnya adalah dengan menggunakan alamat kantor virtual office sebagai domisili di berbagai perjanjian yang dibuat oleh pihak pengguna, pemasalahan timbul saat terjadi permasalahan hokum atas perjanjain –perjanjian yang mencantumkan domisili ‘alamat kantor” virtual office milik pengguna virtual office dengan pihak ketiga. Dalam hal terjadi permasalahan hokum yang ditimbulkan oleh pengguna virtual office sebagai dampak digunakannya alamat kantor virtual office menjadi domisili didalam perjanjian, pihak penyedia virtual office memiliki pertanggungjawaban secara perdata atau tidak atas hal tersebut.

Pertanggung jawaban perdata terbagi atas 2 macam yaitu, pertanggungjawaban perbuatan melawan hukum dan pertanggungjawaban kontraktual. 31

30 Sri Soedewi,Op.Cit.,hal.18.

31Rosa Agustina,dkk, Hukum Perikatan (Law of Obligation), cet.1,(Denpasar: Pustaka Larasan;

(11)

Tanggung jawab kontraktual didasarkan adanya hubungan kontraktual. Hubungan kontraktual adalah hubungan hukum yang dimaksudkan untuk menimbulkan akibat hukum, yaitu menimbulkan hak dan kewajiban terhadap para pihak dalam perjanjian. Apabila salah satu pihak tidak melaksanakan kewajibannya dan karenanya menimbulkan kerugian bagi pihak lain, pihak yang dirugikan tersebut dapat menggugat dengan dalil wanprestasi.

Pertanggungjawaban Perbuatan Melawan Hukum adalah pertanggungjawaban diluar hubungan kontraktual dimana untuk dapat dikatakan sebagai pertanggungjawaban perbuatan melawan hukum maka harus memenuhi unsur-unsur PMH yang berda didalam Pasal 1365 KUH Perdata. Unsur-unsur yang terdapat di dalam pasal 1365 KUH Perdata adalah adanya unsur perbuatan dimana perbuatan tersebut harus melawan hukum, adanya unsur kesalahan, adanya unsur kerugian, adanya hubungan kausal antara perbuaatan dan akibat dari perbuatan secara langsung.

Menurut penulis, perjanjian sewa-menyewa virtual office bukan merupakan perjanjian yang sewa-menyewa yang memenuhi unsur esensalia dari suatu perjanjian sewa-menyewa yang diatur didalam KUH Perdata, tetapi dengan tidak memenuhi unsur esensialia dari suatu perjanjian sewa-menyewa bukan berarti perjanjian ini batal demi hukum, hal tersebut dapat dianalisis bukan hanya menggunakan Pasal 1548 saja tetapi menggunakan Pasal 1320 KUH Perdata, jika dianalisis menggunakan Pasal 1320 KUH Perdata maka perjanjian PT .ABC memenuhi seluruh ketentuan dari Pasal 1320 ini karena alamat kantor merupakan benda maka perjanjian virtual office yang memiliki objek perjanjian hanya sebuah “alamat kantor” tetap dapat dikatakan perjanjian yang sah tetapi dikategorisasikan sebagai perjanjian inominaat.

Perjanjian inominaat adalah perjanjian yang timbul, tumbuh dan berkembang didalam masyarakat. Jenis perjanjian ini belum dikenal didalam KUH Perdata, yang termasuk jenis perjanjian inominaat adalah leasing, beli-sewa, franchise, kontrak rahim, joint venture,

kontrak karya, keagenan, production sharing, nominee agreement, dan lainnya. Konsekuensi dari digolongkan sebagai perjanjian inominaat adalah ketentuan-ketentuan mengenai perjanjian sewa-menyewa yang diatur didalam Pasal 1548 – Pasal 1600 kuh perdata tidak dapat dberlakukan ke dalam perjanjian PT.ABC , ketentuan – ketentuan umum mengenai perjanjian yang dapat diberlakukan terhadap perjanjian PT .ABC.

(12)

“Persetujuan hanya berlaku antara pihak-pihak yang membuatnya. Persetujuan tidak dapat merugikan pihak ketiga; persetujuan tidak dapat memberi keuntungan kepada pihak ketiga selain dalam hal yang ditentukan dalam pasal 1317.”

Sesuai dengan ketentuan Pasal diatas maka hubungan kontraktual hanya terjadi antara para pihak yang turut serta didalam suatu perjanjiannya, hal tersebut dapat diartikan bahwa pihak lain diluar perjanjian tidak dapat menerima keuntungan ataupun turut bertanggungjawab atas permasalahan-permasalahan hukum yang timbul akibat dari dilaksanakannya suatu perjanjain, maka apabila pihak pengguna virtual office menimbulkan permasalahan hukum yang ditimbulkan atas suatu perjanjian yang dibuat dengan pihak ketiga meskipun alamat yang terdapat di dalam perjanjian (domisili) tersebut merupakan alamat penyedia virtual office , pihak penyedia tidak dapat dimintai pertanggungjawaban perdata atas suatu permasalahan hukum yang ditimbulkan antara hubungan kontraktual pihak pengguna dengan pihak ketiga. Dalam hal pertanggungjawaban PMH ,maka tidak ada batasan mengenai pertanggungjawaban PMH ini pihak ketiga yang merasa dirugikan atas adanya penyewaan alamat kantor ( yang dijadikan sebagai domisili oleh pengguna virtual office) sehingga membuat pihak ketiga yang terikat oleh perjanjian merasa dirugikan dapat mengajukan gugatan PMH kepada penyedia

virtual office asalkan dapat membuktikan bahwa tindakan yang dilakukan penyedia virtual office ( PT ABC ) memenuhi ke-4 unsur-unsur suatu perbuatan dapat dikatakan sebagai PMH.

Kesimpulan

(13)

inominaat. Perjanjian inominaat yang dapat digunakan sebagai konsep dalam perjanjian virtual office di Indonesia adalah perjanjian jasa.

3. Terkait pertanggungjawaban hukum atas permasalahan hukum yang timbul oleh pengguna virtual office terhadap pihak ketiga, untuk permasalahan yang timbul dari adanya hubungan kontraktual maka pihak penyedia virtual office yaitu PT.ABC tidak memiliki tanggungjawab hukum, karena disetiap perjanjian hanya pihak-pihak yang mebuat perjanjian saja yang terikat oleh seluruh ketentuan yang berada didalam suatu perjanjian ( Pasal 1340 KUH Perdata jo Pasal 1315 KUH Perdata). Mengenai permasalahan pertanggungjawaban diluar hubungan kontraktual, dimungkinkan untuk pihak ketiga melakukan gugatan perbuatan melawan hukum kepada pihak penyedia virtual office PT.ABC dengan ketentuan harus dapat membuktikan telah terpenuhinnya semua unsur-unsur dalam Perbuatan Melawan Hukum ( PMH).

Saran

(14)

maka tidak akan ada lagi penyimpangan-penyimpangan dalam penggunaan alamat virtual office di Indonesia, seperti penipuan dengan menggunakan alamat virtual office, pendirian kantor pusat PT dengan menggunakan virtual office.

Daftar Referensi Buku

Badrulzaman, Mariam Darus,. et.al.. Kompilasi Hukum Perikatan. Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 2001.

Badrulzaman, Mariam Darus. Aneka Hukum Bisnis, cet.1. Bandung: Alumni, 1994.

_______________________. KUH Perdata Buku III Hukum Perikatan Dengan Penjelasan. Bandung: Alumni, 1993.

Departemen Keuangan. Hukum Kontrak Konstruksi Dan Non Konstruksi. Jakarta: KPDK. Eddy, Richard. Aspek Legal Properti. Teori. Contoh. dan Aplikasi. Jakarta: CV Andi Offset,

2010.

Erawati, Elly dan Herlien Budiono. Penjelasan Hukum Tentang Pembatalan Perjanjian. Jakarta: NLRP, 2010.

Fuady, Munir. Hukum Kontrak (Dari Sudut Pandang Hukum Bisnis). Bandung: PT Citra Aditya Bakti: 2001.

Harahap, M. Yahya. Segi-Segi Hukum Perjanjian. Bandung: Penerbit Alumni, 1986. ________________. Hukum Perseroan Terbatas. Jakarta. Sinar Grafika, 2009.

Khairandy, Ridwan. Itikad Baik Dalam Kebebasan Berkontrak. Jakarta: UI Press, 2003. Mamudji, Sri, dkk.. Metode Penelitian dan Penulisan Hukum, cet.1. Jakarta: Badan Penerbit

Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2005.

McLeod Raymond, Sistem Informasi Manajemen,edisi Bahasa Indonesia, Jilid 2, Prentice Hall, 2001.

Meliala, A. Qirom Syamsudin. Pokok-Pokok Hukum Perjanjian Beserta Perkembangannya, cet.1. Jogyakarta: Liberty, 1985.

Muhammad, Abdulkadir. Hukum Perikatan. Bandung: PT.Citra Aditya Bakti, 1992.

Muljadi, Kartini dan Gunawan Widjaja. Perikatan Yang Lahir Dari Perjanjian, cet.1. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003.

Prodjodikoro, Wirjono. Azas-Azas Hukum Perjanjian, cet. 8. CV.Mandar Maju, 2000.

__________________. Hukum Perdata Tentang Persetujuan-Persetujuan Tertentu, cet. 9. Bandung: Sumur Bandung,1991.

Rahardjo, Satjipto. Ilmu Hukum. Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 1991.

______________. Manusia Komunikasi. Komunikasi Manusia. Jakarta: Kompas, 2008. Satrio, J. Hukum Perjanjian (Perjanjian Pada Umumnya), cet.1. Bandung: PT Citra Aditya

Bakti, 1992.

Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi. Yogyakarta: SNATI, 2005.

(15)

Soekanto, Soerjono. Pengantar Penelitian Hukum. Jakarta: UI Press, 1986. Subekti. Hukum Perjanjian. Jakarta: Intermasa, 2008.

_______. Pokok-Pokok Hukum Perdata. cet, 26. Jakarta: Intermasa, 1994.

_______. Aspek-aspek Hukum Perikatan Nasional. Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 1988. Sudikno Mertokusumo. Mengenal Hukum: Suatu Pengantar. Yogyakarta: Penerbit Liberty,

2002.

Suryodiningrat, R.M. Asas-Asas Hukum Perikatan, cet. 1. Bandung: Tarsito, 1982.

_________________. Perikatan-Perikatan Bersumber Perjanjian. Bandung: Tarsito, 1991. Warmelo, P. Van. An Introduction to the Principles of Roman Law. Cape Town: Juta& Co Ltd,

1976.

Disertasi

Sinaga, Robinson. “Pengaturan nama domain internet di Indonesia : studi tentang sengketa antara pemilik nama domain internet dan pihak lain di Indonesia”. Disertasi Fakultas Hukum Universitas Indonesia Tahun 2010.

Peraturan Perundang-Undangan

Indonesia. Undang-Undang Perseroan Terbatas. UU No. 40 Tahun 2007.

Kitab Undang-Undang Hukum Perdata [Burgerlijk Wetboek]. diterjemahkan oleh Subekti dan R. Tjitrosudibio. Jakarta: Pradya Paramita, 2009.

Internet

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...