Analisis Faktor-Faktor Ekonomi Makro Yang Mempengaruhi Investasi Sektor Transportasi Di Indonesia

77  27  Download (0)

Teks penuh

(1)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS EKONOMI

MEDAN

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR EKONOMI MAKRO YANG

MEMPENGARUHI INVESTASI SEKTOR TRANSPORTASI DI INDONESIA

SKRIPSI

Diajukan oleh:

MERRYANA CHRISTINA 060501117

Ekonomi Pembangunan

Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi

Medan

(2)

ABSTRACT

This study aims to analyze the influence of gross domestic product (GDP), inflation, and road infrastructure to transport sector investment in Indonesia. The analysis method used Ordinary Least Square (OLS). For the purpose of the research used secondary data from the 1985-2007 year time series data of gross domestic product (GDP) transport sector, inflation, road infrastructure, and domestic investment (PMDN) transport sector. Data obtained from the Central Statistics Agency (BPS), journals, books and other research results.

The results showed that gross domestic product (GDP) transport sector, inflation, and road infrastructure affect the amount of domestic investment in the transportation sector, real and significant. The gross domestic product negatively affect domestic investment (PMDN) the transport sector in Indonesia. While inflation and road infrastructure, both these variables have a positive influence on domestic investment in the Indonesian transport sector.

(3)

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh produk domestik bruto (PDB), inflasi, dan infrastruktur jalan terhadap investasi sektor transportasi di Indonesia. Analisis yang digunakan adalah metode Ordinary Least Square (OLS). Untuk tujuan penelitian digunakan data sekunder berupa time series tahun 1985-2007 yaitu data jumlah produk domestik bruto (PDB) sektor transportasi, tingkat inflasi, infrastruktur jalan, dan penanaman modal dalam negeri (PMDN) sektor transportasi. Data diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS), jurnal, buku, dan hasil penelitian lainnya .

Hasil penelitian menunjukan bahwa produk domestik bruto (PDB) sektor transportasi, inflasi, dan infrastruktur jalan mempengaruhi besarnya penanaman modal dalam negeri sektor transportasi secara nyata dan signifikan. Produk domestic bruto berpengaruh negatif terhadap penanaman modal dalam negeri (PMDN) sektor transportasi di Indonesia. Sedangkan inflasi dan infrastruktur jalan, kedua variabel tersebut memiliki pengaruh yang positif terhadap penanaman modal dalam negeri sektor transportasi di Indonesia.

(4)

KATA PENGANTAR

Sembah dan puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa

yang senantiasa melimpahkan rahmat dan lindungan-Nya dalam menjalani masa

perkuliahan hingga dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul ” Analisis

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Investasi Sektor Transportasi Di Indonesia”.

Segala upaya dan kemampuan yang maksimal telah penulis berikan dalam

penulisan skripsi ini guna sebagai penambahan, pengembangan wawasan dan studi.

Namun demikian penulis menyadari bahwa skripsi ini masih memiliki

kekurangan-kekurangan. Oleh sebab itu, penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca

guna kesempurnaan penulisan ilmiah di masa yang akan datang.

Selama menempuh perkuliahan hingga penyelesaian skripsi ini, penulis sudah

sangat banyak memperoleh motivasi, bantuan serta bimbingan dari berbagai pihak.

Dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan apresiasi dan haturan terima kasih

yang sebesar-besarnya. Dengan diiringi rasa hormat yang mendalam, penulis

menghaturkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Kedua orangtua saya yaitu JS. Manalu dan Ibunda D. Marbun serta adik saya

Fransisca Yulwinner dan Gerico Putra yang selalu memberikan cinta, motivasi,

saran, dan dukungan dalam bentuk moril dan materil yang tak henti-hentinya

mendoakan penulis selama kuliah.

2. Bapak Drs. Jhon Tafbu Ritonga, M.Ec. selaku Dekan Fakultas Ekonomi

Universitas Sumatera Utara.

3. Bapak Wahyu Ario Pratomo, SE, M.Ec. selaku Ketua Departemen dan Bapak

(5)

Pembangunan Universitas Sumatera Utara yang selama ini telah memberikan

dukungan dan bantuan selama menjalani studi.

4. Bapak Drs. Kasytul Mahalli selaku dosen pembimbing yang telah banyak

membantu dan mengarahkan penulisan dalam penyempurnaan skripsi ini.

5. Bapak Drs. Rujiman, M.Si selaku dosen penguji I dan Bapak Drs. Paidi Hidayat ,

M.Ec, selaku dosen penguji II yang telah banyak memberikan saran dan masukan

dalam penyusunan skripsi ini.

6. Bapak Drs. Iskandar Syarief, MA selaku dosen wali selama perkuliahan dan

sebagai dosen pembimbing yang telah memberikan dukungan, waktu, tenaga, dan

pikiran selama mengikuti perkuliahan..

7. Seluruh staf pengajar dan karyawan Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera

Utara yang telah mendukung dengan baik selama perkuliahan.

8. Rekan-rekan seperjuangan di Departemen Ekonomi pembangunan : Irwin Nico,

Albert, Arisandi, Andreas, terutama kedua sahabat saya di LILIPUT yakni Vero

dan valen, senang bisa bersama-sama selama 4 tahun ini, dan kawan-kawan yang

lainnya yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

9. Keluarga di simalingkar, bang virgo, ka imel, yana, dll. Terima kasih unduk

dukungannya.

10.Teman-teman di berdikari 52 : mamak, ka oya, nody, debo, dll yang selalu

(6)

Akhirnya, semoga budi baik dan jasa-jasa semua pihak yang telah membantu

penulis, baik dalam perkuliahan maupun sewaktu penyusunan skripsi ini, mendapat

balasan dari Tuhan Yang Maha Kuasa, dan kiranya tulisan ini dapat bermanfaat bagi

kita semua.

Medan, Juni 2010

Penulis,

(7)

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRACT ... i

ABSTRAK ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI... vi

DAFTAR TABEL ... x

DAFTAR GAMBAR ... xi

DAFTAR LAMPIRAN ... xiii

BAB I: PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Perumusan Masalah ... 5

1.3 Tujuan Penelitian ... 2

1.4 Manfaat Penelitian ... 5

BAB II: URAIAN TEORITIS 2.1 Investasi ... 7

2.2 Transportasi ... 8

2.2.1 Peranan Transportasi ... 9

2.2.2 Fungsi Transportasi ... 11

2.2.3 Manfaat Transportasi ... 11

2.2.4 Jenis Alat Atau Moda Transportasi ... 13

2.3 Produk Domestik Bruto ... 14

(8)

2.4 Inflasi ... 17

2.4.1 Jenis Investasi ... 18

2.4.2 Pengaruh Inflasi Terhadap Investasi ... 19

2.5 Infrastruktur Jalan ... 19

2.5.1 Pengaruh Infrastruktur Jalan Terhadap Investasi ... 20

2.6 Penelitian Terdahulu ... 21

2.7 Hipotesis ... 23

BAB III: METODE PENELITIAN 3.1 Ruang Lingkup Penelitian ... 25

3.2 Jenis dan Sumber Data ... 25

3.3 Metode dan Teknik Pengumpulan Data ... 25

3.4 Teknik Pengolahan Data ... 26

3.5 Metode Analisis ... 26

3.6 Test Goodness of Fit ... 27

3.6.1 Koefisien Determinasi (R-Square) ... 27

(9)

4.2 Kondisi Makro Ekonomi Indonesia ... 34

4.3 Perkembangan Transportasi di Indonesia ... 36

4.3.1 Transportasi Darat ... 36

4.3.2 Transportasi Laut ... 39

4.3.3 Transportasi Udara ... 41

4.4 Perkembangan Produk Domestik Bruto di Indonesia ... 43

4.5 Perkembangan Inflasi di Indonesia ... 44

4.6 Perkembangan Infrastruktur Jalan di Indonesia ... 46

4.7 Perkembangan Investasi Sektor Transportasi di Indonesia ... 48

4.8 Hasil dan Analisis Data ... 49

4.8.1 Interpretasi Model ... 50

4.8.2 Test Goodness of fit ... 50

4.8.3 Uji Penyimpangan Asumsi Klasik ... 55

4.9 Pembahasan ... 57

BAB V: KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 58

5.2 Saran ... 59

(10)

DAFTAR TABEL

No. Tabel Judul Hal

3.1 : Tabel Pengambilan Keputusan 31

4.3.1.1 : Perkembangan Jumlah Kendaraan Bermotor Menurut Jenis

tahun 1987-2007 36

4.3.1.2 : Jumlah Penumpang dan Barang Kereta Api Indonesia

Tahun 1987 – 2007 38

4.3.2.1 : Bongkar Muat Barang Antar Pulau dan Luar Negeri di

Pelabuhan Indonesia Tahun 1988-2007 (000 tons) 40

4.3.2.2 : Jumlah Penumpang Kapal di Pelabuhan Yang Diusahakan

dan Tidak Diusahakan Tahun 1995 - 2007 (000) 41

4.3.3 : Jumlah Keberangkatan Penumpang dan Barang di

Bandara Indonesia Tahun 1999 – 2007 42

4.8.1 : Hasil Regresi 50

(11)

DAFTAR GAMBAR

No. Gambar Judul Halaman 4.4 : Perkembangan GDP Sektor Transportasi

(miliyar Rupiah) 44

4.5 : Perkembangan Inflasi tahun

1985-2007 ( persen ) 45

4.6 : Perkembangan Panjang Jalan Negara 47

4.7 : Perkembangan PMDN Sektor Transportasi

di Indonesia tahun 1985-2007 (miliyar rupiah) 49

4.8.2.1 : Uji t-Statistik Produk Domestik Bruto (X1) 53

4.8.2.2 : Uji t-Statistik Inflasi (X2) 54

4.8.2.3 : Uji t-Statistik Infrastuktur Jalan (X3) 55

(12)

DAFTAR LAMPIRAN No. Lampiran

1 : Data variabel

2 : Hasil regresi

(13)

ABSTRACT

This study aims to analyze the influence of gross domestic product (GDP), inflation, and road infrastructure to transport sector investment in Indonesia. The analysis method used Ordinary Least Square (OLS). For the purpose of the research used secondary data from the 1985-2007 year time series data of gross domestic product (GDP) transport sector, inflation, road infrastructure, and domestic investment (PMDN) transport sector. Data obtained from the Central Statistics Agency (BPS), journals, books and other research results.

The results showed that gross domestic product (GDP) transport sector, inflation, and road infrastructure affect the amount of domestic investment in the transportation sector, real and significant. The gross domestic product negatively affect domestic investment (PMDN) the transport sector in Indonesia. While inflation and road infrastructure, both these variables have a positive influence on domestic investment in the Indonesian transport sector.

(14)

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh produk domestik bruto (PDB), inflasi, dan infrastruktur jalan terhadap investasi sektor transportasi di Indonesia. Analisis yang digunakan adalah metode Ordinary Least Square (OLS). Untuk tujuan penelitian digunakan data sekunder berupa time series tahun 1985-2007 yaitu data jumlah produk domestik bruto (PDB) sektor transportasi, tingkat inflasi, infrastruktur jalan, dan penanaman modal dalam negeri (PMDN) sektor transportasi. Data diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS), jurnal, buku, dan hasil penelitian lainnya .

Hasil penelitian menunjukan bahwa produk domestik bruto (PDB) sektor transportasi, inflasi, dan infrastruktur jalan mempengaruhi besarnya penanaman modal dalam negeri sektor transportasi secara nyata dan signifikan. Produk domestic bruto berpengaruh negatif terhadap penanaman modal dalam negeri (PMDN) sektor transportasi di Indonesia. Sedangkan inflasi dan infrastruktur jalan, kedua variabel tersebut memiliki pengaruh yang positif terhadap penanaman modal dalam negeri sektor transportasi di Indonesia.

(15)

BAB I

PENDAHULUAN 1.1Latar Belakang

Pengangkutan atau transportasi mempunyai peranan yang sangat penting dan

strategis dalam mendukung segala aspek kehidupan dan penghidupan, baik dibidang

ekonomi, sosial-budaya, politik, maupun pertahanan dan keamanan negara. Sistem

pengangkutan harus ditata dan terus menerus disempurnakan untuk menjamin

mobilitas orang maupun barang dalam rangka menjamin kesejahteraan masyarakat.

Pengangkutan menyandang peranan sebagai penunjang dan pemacu bila angkutan

dipandang dari sisi melayani dan meningkatkan pembangunan. Selain itu, transportasi

terkait pula dengan produktivitas. Kemajuan transportasi akan membawa peningkatan

mobilitas manusia, mobilitas faktor-faktor produksi, dan mobilitas hasil olahan yang

dipasarkan. Makin tinggi mobilitas berarti lebih cepat dalam gerakan dan peralatan

yang terefleksi dalam kelancaran distribusi serta lebih singkat waktu yang diperlukan

untuk mengolah bahan dan memindahkannya dari tempat dimana barang tersebut

kurang bermafaat ke lokasi dimana manfaatnya lebih besar. Makin tinggi mobilitas

dengan demikian berarti lebih produktif (Nasution, 2003).

Dalam perkembangannya, sektor transportasi di Indonesia mengalami

perkembangan yang semakin pesat yang dapat dilihat dari banyaknya kendaraan

bermotor yang ada. Pada tahun 1985, jumlah kendaraan bermotor rakitan dalam

negeri sebesar 400.278 unit dan pada tahun 2000 berkembang menjadi 1.275.102 unit.

Untuk panjang jalan juga mengalami kenaikan. Hal ini dibarengi oleh jumlah

investasi yang diperuntukkan untuk membiayai pembangunan sarana dan prasarana

transportasi tersebut. Investasi merupakan kegiatan untuk mentransformasikan sumber

(16)

masing-masing daerah diolah dan dimamfaatkan untuk meningkatkan kemakmuran seluruh

rakyat secara adil dan merata. Namun dalam memanfaatkan sumberdaya alam perlu

memperhatikan kelestarian dan keseimbangan lingkungan hidup bagi pembangunan.

Peranan investasi di indonesia cedung meningkat sejalan dengan banyaknya dana

yang di butuhkan untuk melanjutkan pembangunan nasional. Investasi merupakan

suatu faktor yang kursial bagi kelangsungan proses pembangunan ekonomi, atau

pertumbuhan ekonomi jangka panjang pembangunan ekonomi melibatkan

kegiatan-kegiatan produksi di semua sektor ekonomi. Jadi dari uraian di atas, pokok

permasalahan yang menjadi pembahasan utama adalah iklim investasi yang sangat

kompleks, yang implikasinya adalah bahwa kebijakan investasi tidak bisa berdiri

sendiri (Firmansyah, 2008).

Perkembangan investasi pada sektor transportasi di Indonesia mengalami

fluktuasi jumlah. Pada tahun 1985, investasi dalam negeri sektor tranportasi senilai

Rp. 114,341 miliar akan tetapi mengalami penurunan pada tahun berikutnya menjadi

Rp. 103,081 miliar. Begitu pula pada tahun 2006 yaitu sebesar Rp. 1.1930,3 miliar

dan mengalami penurunan menjadi Rp. 1.231,2 miliar pada tahun 2007.

Terjadinya fluktuasi pada jumlah investasi dalam negeri sektor transportasi ini

juga dibarengi dengan keadaan makro ekonomi di Indonesia yang juga berfluktuasi

dari tahun ke tahunnya. Dalam konteks perekonomian suatu negara, salah satu wacana

yang menonjol adalah mengenai pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi

menjadi penting dalam konteks perekonomian suatu negara karena dapat dijadikan

salah satu ukuran dari pembangunan atau pencapaian perekonomian negara tersebut.

Wijono (2005) menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu

(17)

Pertumbuhan ekonomi Indonesia sama halnya dengan keadaan investasi, juga

mengalami fluktuasi dari tahun ke tahun. Pertumbuhan ekonomi pada tahun 1985

sebesar 2.5% dan mengalami kenaikan pada tahun berikutnya menjadi 5,9%. Hal ini

juga berbarengan dengan keadaan investasi sektor transportasi.

Sedangkan tingkat inflasi yang terjadi pada akhirnya akan mempengaruhi

tingkat suku bunga dan keadaan ekonomi secara makro yang akan mengakibatkan

perubahan pada jumlah investasi yang akan dilakukan oleh penanam modal. Tingkat

inflasi yang sangat mengkhawatirkan akan memberikan dampak kepada penanaman

modal dalam negeri dimana dengan terjadinya inflasi atau kenaikan harga

barang-barang yang secara terus menerus akan mengakibatkna terjadinya perubahan

kemampuan masyarakat dalam membeli barang-barang produksi yang kemungkinan

menjadi penurunan dan mengurangi gairah produsen dalam manciptakan atau

memproduksi barang dan jasa.

Semakin tinggi perubahan tingkat harga maka akan semakin tinggi pula

opportunity cost untuk memegang aset finansial. Artinya masyarakat akan merasa

lebih beruntung jika memegang aset dalam bentuk rill dibandingkan dengan asset

financial jika tingkat harga tetap tinggi. Jika aset finansial luar negeri dimasukan

sebagai salah satu pilihan asset, maka perbedaan tingkat inflasi dapat menyebabkan

nilai tukar Rupiah terhadap mata uang asing akan melemah yang pada gilirannya akan

menghilangkan daya saing komoditas Indonesia (Susanti, 2000). Hal ini bila dilihat

oleh para investor, maka akan mengurangi gairah investor dalam menanamkan

modalnya dan lebih memilih untuk menyimpan dananya di bank karna dampak inflasi

juga akan mengakibatkan nilai suku bunga simpanan manjadi meningkat guna

(18)

Selain pertumbuhan ekonomi dan inflasi, diperlukan partisipasi atau dukungan

pemerintah dalam menyediakan prasarana yang akan mendukung perkembangan

perekonomian yaitu salah satunya dengan keadaan infrastruktur yang baik dan

memadai. Tidak dapat dipungkiri bahwa infrastruktur merupakan salah satu faktor

penentu pembangunan ekonomi, yang sebenarnya sama pentingnya dengan

faktor-faktor produksi umum lainnya yakni modal dan tenaga kerja. Sayangnya, untuk satu

faktor ini, selama ini, terutama sejak krisis ekonomi 1997/98, kurang sekali perhatian

pemerintah dalam penyediaan infrastruktur, khususnya di wilayah di luar Jawa, atau

Indonesia Kawasan Timur. Hal ini karena setelah krisis pemerintah harus fokus pada

hal-hal yang lebih mendesak seperti menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan ekonomi

secara keseluruhan, mencegah pelarian modal, menanggulangi hutang luar negeri

serta menstabilkan kembali kondisi politik dan sosial. Akibatnya, kondisi infrastruktur

terpuruk di mana-mana. Terutama untuk infrastruktur jalan yang merupakan salah

satu faktor yang akan memperlancar perekonomian yang akan meningkatkan

kemajuan suatu daerah karena akan mempermudah dalam menghasilkan barang

maupun kegiatan distribusinya. Hal ini akan meningkatkan pendapatan sehingga akan

menarik para investor untuk menanamkan modal sehingga sangat dibutuhkan keadaan

jalan yang baik.

Berdasarkan uraian diatas maka penulis tertarik untuk menganalisa lebih lanjut

mengenai sejauh mana variabel-variabel tersebut mempengaruhi investasi sektor

transportasi, maka penulis memilih judul : “Analisis Faktor-Faktor Ekonomi

(19)

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka masalah yang dikaji

dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Apakah produk domestik bruto (PDB) berpengaruh terhadap investasi sektor

transportasi di Indonesia?

2. Apakah tingkat inflasi berpengaruh tehadap investasi sektor transportasi di

Indonesia?

3. Apakah infrastruktur jalan terhadap investasi sektor transportasi di Indonesia?

1.3 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui produk domestik bruto (PDB) terhadap investasi sektor

transportasi di Indonesia.

2. Untuk mengetahui pengaruh tingkat inflasi terhadap investasi sektor

transportasi di Indonesia.

3. Untuk mengetahui pengaruh infrastruktur jalan terhadap investasi sektor

transportasi di Indonesia.

1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah :

1. Sebagai bahan studi atau tambahan terhadap penelitian yang sudah ada

sebelumnya.

2. Sebagai bahan tambahan dan informasi bagi masyarakat dan mahasiswa

(20)

3. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran

bahan studi atau tambahan ilmu khususnya bagi mahasiswa/i Departemen

(21)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Investasi

Investasi dapat diartikan sebagai pengeluaran atau pengeluaran

penanaman-penanaman modal atau perusahaan untuk membeli barang-barang modal atau

perlengkapan-perlengkapan produksi untuk menambah kemampuan memproduksi

barang-barang dan jasa-jasa yang tersedia dalam perekonomian. Pertambahan jumlah

barang modal ini memungkinkan perekonomian tersebut menghasilkan lebih banyak

barang dan jasa dimasa yang akan datang. (Sadono, 2006).

Faktor-faktor utama yang menentukan tingkat investasi adalah:

1. Tingkat keuntungan yang diramalkan akan diperoleh.

2. Suku bunga.

3. Ramalan mengenai keadaan ekonomi di masa yang akan datang.

4. Kemajuan teknologi.

5. Tingkat pendapatan nasional dan perubahan-perubahannya.

6. Keuntungan yang diperoleh perusahaan-perusahaan.

Ada tiga tipe pengeluaran investasi. Pertama, investasi dalam barang tetap

(business fixed investment) yang melingkupi peralatan dan struktur dimana dunia

usaha membelinya untuk dipergunakan dalam produksi. Kedua, investasi perumahan

(residential investment) melingkupi perumahan baru dimana orang membeliya untuk

ditempati atau pemilik modal membeli untuk disewakan. Ketiga, investasi inventori

(inventory investment) meliputi bahan baku dan bahan penolong, barang setengah jadi

(22)

Peranan investasi terhadap kapasitas produksi nasional memang sangat besar,

karena investasi merupakan penggerak perekonomian, baik untuk penabahan faktor

produksi maupun berupa peningkatan kualitas faktor produksi, investasi ini nantinya

akan memperbesar pengeluaran masyarakat melalui peningkatan pendapatan

masyarakat dengan bekerja multilier effect. Faktor produksi akan mengalami

penyusutan, sehingga akan mengurangi produktivitas dari faktor-faktor produksi

tersebut. Supaya tidak terjadi penurunan produktivitas (kapasitas) nasional harus

diimbangi dengan investasi baru yang lebih besar dari penyusutan faktor-faktor

produksi. Akhirnya perekonomian masyarakat (nasional) akan berkembang secara

dinamis dengan naiknya investasi yang lebih besar dari penyusutan faktor produksi

tersebut. Bila penambahan investasi lebih kecil dari penyusutan faktor-faktor

produksi, maka terjadi stagnasi perekonomian untuk dapat berkembang

(Nasution,1996).

2.2 Transportasi

Transportasi adalah kegiatan pemindahan barang (muatan) dan penumpang

dari suatu tempat ke tempat lain (Rustian Kamaluddin:3:2003).

Unsur – unsur transportasi meliputi :

- manusia yang membutuhkan

- barang yang dibutuhkan

- kendaraan sebagai alat/sarana

- jalan dan terminal sebagai prasarana transportasi

- organisasi (pengelola transportasi)

Transportasi sebagai dasar untuk pembangunan ekonomi dan perkembangan

(23)

menyebabkan adanya speialisasi atau pembagian pekerjaan menurut keahlian sesuai

dengan budaya, adat istiadat dan budaya suatu bangsa dan daerah kebutuhan akan

angkutan tergantung fungsi bagi kegunaan seseorang (personal place utility).

2.2.1 Peranan Transportasi

Peranan pegangkutan mencakup bidang yang luas di dalam kehidupan

meliputi atas berbagai aspek (Nasution, 2003) yakni:

a. Aspek Sosial dan Budaya

Dampak sosial yang dapat dirasakan dengan adanya transportasi adalah

adanya peningkatan standar hidup. Transportasi menekankan biaya dan memperbesar

kuantitas keanekaragaman barang, hingga terbuka kemungkinan adanya perbaikan

dalam perumahan, sandang, dan pangan serta rekreasi, serta adanya peninkatan

pemahaman dan intelegensi masyarakat. Sedangkan untuk budaya, dampak yang

dapat dirasakan adalah terbukanya kemungkinan keseragaman gaya hidup, kebiasaan

dan bahasa (Nasution.2003).

b. Aspek Politis dan Pertanahan

Bagi aspek politis dan pertanahan, transportasi dapat memberikan dua

keuntungan yaitu :

1. transportasi dapat memperkokoh persatuan dan kesatuan nasional. Dengan

adanya sistem dan sarana perhubungan yang baik maka akan dapat

memperkokoh stabilitas politik negara kesatuan.

2. transportasi merupakan alat mobilitas unsur pertanahan dan keamanan dimana

transportasi dapat digunakan untuk tujuan strategis pertahanan karena adanya

wahana transportasi yang efektif dalam karya bakti dalam proyek – proyek

(24)

c. Aspek Hukum

Didalam pegoperasian dan pemilikan alat angkutan diperlukan ketentuan

hukum mengenai hak dan tanggung jawab serta perasuransian apabila terjadi

kecelakaan lalu lintas, juga terhadap penerbangan luar negeri yang melewati batas

wilayah suatu negara, diatur dalam perjanjian antar negara (bilateral air agreement).

d. Aspek Teknik

Hal – hal yang berkaitan dengan pembangunan dan pengoperasian transportasi

menyangkut aspek teknis yang harus menjamin keselamatan dan keamanan dalam

penyelenggaraan angkutan.

e. Aspek ekonomi

Peranan pengangkutan tidak hanya untuk memperlancar arus barang dan

mobilitas manusia. Pengangkutan juga membantu tercapainya pengalokasian sumber

– sumber ekonomi secara optimal. Dari aspek ekonomi, pengangkutan dapat ditinjau

dari sudut ekonomi mikro dan makro. Dari sudut ekonomi makri penganngkutan

merupaka salah satu prasrana yang menunjang pelaksanaan pembangunan yang dapat

dilihat dari kepentingan dua pihak yaitu :

1) Pada pihak perusahaan pengangkutan (operator)

Pengangkutan merupakan usaha memproduksi jasa angkutan yang dijual

kepada pemakai dengan memperoleh keuntungan.

2) Pada pihak pemakai jasa angkutan (user).

Pengangkutan sebagai salah satu mata rantai dari arus bahan baku untuk

produksi dan arus distribusi barang jadi disalurkan ke pasar serta kebutuhan

pertukaran barang di pasar. Supaya kedua arus ini lancar, jasa angkutan harus cukup

(25)

2.2.2 Fungsi Transportasi

Transportasi perlu untuk mengatasi kesenjangan jarak dan komunikasi antara

tempat asal dan tempat tujuan. Untuk itu dikembangkan sistem transportasi dan

komunikasi, dalam wujud sarana (kendaraan) dan prasarana (jalan). Dari sini timbul

jasa angkutan untuk memenuhi kebutuhan pengangkutan dari suatu tempat ke tempat

lain.

Transportasi memiliki fungsi, yaitu :

a. melancarkan arus barang dan manusia

b. menunjang perkembangan dan pembangunan (the promoting sector)

c. penunjang dan perangsang pemberian jasa bagi perkembangan perekonomian

(the service sector)

2.2.3 Manfaat Transportasi 1. Manfaat Ekonomi

Kegiatan ekonomi bertujuan memenuhi kebutuhan manusia dengan

menciptakan manfaat. Transportasi adalah salah satu jenis kegiatan yang menyangkut

peningkatan kebutuhan manusia dengan mengubah letak geografis barang dan orang

sehingga akan menimbulkan adanya transaksi.

2. Manfaat Sosial

Transportasi menyediakan berbagai kemudahan, diantaranya :

a. Pelayan untuk perorangan atau kelompok

b. Pertukaran atau penyampaian informasi

c. Perjalanan untuk bersantai

d. Memendekkan jarak

(26)

3. Manfaat Politis

a. Pengangkutan menciptakan peratuan dan kesatuan nasional yang semakin kuat

dan meniadakan isolasi.

b. Pengangkutan menyebabkan pelayanan kepada masyarakat dapat

dikembangkan atau diperluas dengan lebih merata pada setiap bagian wilayah

suatu negara.

c. Keamanan negara terhadap serangan dari luar negeri yang tidak dikehendaki

kamungkin sekali tergantung pada pengangkutan yang efisien yang

memudahkan mobilisasi segala daya (kemampuan dan ketahanan) nasional,

serta memungkinkan perpindahan pasukan – pasukan selama perang.

d. Sistem pengangkutan yang efisien memungkinkan negara memindahkan dan

mengangkut penduduk dari daerah yang mengalami bencana ke tempat yang

lebih aman.

4. Manfaat Kewilayahan

Selain dapat memenuhi kebutuhan penduduk di kota, atau pedalaman,

keberhasilan pembangunan di sektor transportasi dapat memenuhi peekembangan

wilayah. Seiring dengan meningkatnya jumlah habitat, dan semakin majunya

peradaban komunitas manusia, selanjutnya wilayah-wilayah pusat kegiatannya

berkembang mengekspansi ke pinggiran-pinggiran wilayah, sedangkan

kawasan-kawasan terisolir semakin berkurang, dan harak antar kota semakin pendek dalam hal

waktu. Lebih dari itu kuantitas dan kualitas baik perkotaan besar maupun perkotaan

kecil tumbuh, dimana kota kecil ditumbuh kembangkan sementara kota besar semakin

(27)

2.2.4 Jenis alat atau moda transportasi

Berdasarkan perbedaan pada sifat jasa, operasi, dan biaya pengangkutan maka

jenis moda transportasi dapat dibedakan menjadi lima kelompok, yaitu sebagai

berikut (nasution, 2003):

1. Angkutan kereta api (rail road railway)

Angkutan kereta api adalah jenis angkutan yang bergerak diatas rel. Kereta api

sendiri dapat mengangkut barang dan manusia dalam jumlah yang banyak

dalam sekali jalan baik menempuh jarak dekat maupun jarak jauh. Kereta api

terdiri dari satu unit lokomotif dan beberapa gerbong yang berguna untuk

tempat menampung barang atau manusia selama perjalanan dari tempat asal ke

tempat tujuan.

2. Angkutan bermotor dan jalan raya (motor/road/hihgway transportation)

Angkutan bermotor pada umumnya beroperasi dijalan raya yang seudah

disediakan sebagai saraa untuk transportasi. Angkutan ini dapat berupa mobil,

sepeda motor, dan sebagainya.

3. Angkutan laut (water/sea transportation)

Angkutan laut adalah jenis angkutan yang digunakan untuk memperlancar

arus perpindahan barang dan manusia dari tempat asal ke tempat tujuan

melalui jalur laut dengan menggunakan kapal. Sekarang ini dibidang

pelayaran beroperasi beberapa jenis kapal, antara lain kapal penumpang, kapal

barang, kapal peti kemas, kapal pengangkut kayu, dan kapal tangki minyak.

4. Angkutan udara (air transportation)

Angkutan udara adalah jenis transportasi yang menggunakan pesawat tebang

sebagai moda transportasinya dengan dilengkapi oleh teknologi di bidang

(28)

5. Angkutan pipa (pipelene)

Angkutan jenis pipa digunakan untuk mengangkut air, minyak, pupuk dan

barang tambang lainnya yang melalui pipa yang sudah saling terhubung baik

itu berada di darat, laut, ataupun di bawah tanah.

2.3 Produk Domestik Bruto

Pertumbuhan ekonomi berarti perkembangan kegiatan dalam perekonomian

yang menyebabkan barang dan jasa yang diproduksi dalam masyarakat bertambah dan

kemakmuran masyarakat meningkat. Perkembangan ekonomi yang berlaku dari

waktu ke waktu dan menyebabkan pendapatan nasional rill semakin berkembang.

Tingkat pertumbuhan ekonomi menunjukan prestasi kenaikan pendapatan nasional rill

pada suatu tahun tertentu dibandingkan dengan pendapatan nasional rill pada tahun

sebelumnya (Sadono, 2006).

Pertumbuhan ekonomi diartikan sebagai kenaikan GDP (Gross National

Product) tanpa memandang bahwa kenaikan itu lebih besar atau lebih kecil dari

pertumbuhan penduduk dan tanpa memandang apakah perubahan dalam struktur

ekonominya (Suryana,2005).

PDB diyakini sebagai indikator ekonomi terbaik dalam menilai perkembangan

ekonomi suatu negara. Perhitungan pendapatan nasional ini mempunyai ukuran makro

utama tentang kondisi suatu negara. Pada umumnya perbandingan kondisi antar

negara dapat dilihat dari pendapatan nasionalnya sebagai gambaran, Bank Dunia

menentukan apakah suatu negara berada dalam kelompok negara maju atau

berkembang melalui pengelompokan besarnya PDB, dan PDB suatu negara sama

dengan total pengeluaran atas barang dan jasa dalam perekonomian (Herlambang,

(29)

dihasilkan dalam batas wilayah suatu negara dalam satu tahun. PDB mengukur nilai

barang dan jasa yang di produksi di wilayah suatu negara tanpa membedakan

kewarganegaraan pada suatu periode waktu tertentu. Dengan demikian warga negara

yang bekerja di negara lain, pendapatannya tidak dimasukan ke dalam PDB. Sebagai

gambaran PDB Indonesia baik oleh warga negara Indonesia (WNI) maupun warga

negara asing (WNA) yang ada di Indonesia tetapi tidak diikuti sertakan produk WNI

di luar negeri (Herlambang, 2001:22).

Sukirno (1994:33) mendefinisikan PDB sebagai nilai barang dan jasa dalam

suatu negara yang diproduksi oleh faktor-faktor produksi milik warga negara tersebut

dan warga negara asing. Sedangkan Wijaya (1997:13) menyatakan bahwa PDB

adalah nilai uang berdasarkan harga pasar dari semua barang-barang dan jasa-jasa

yang diproduksi oleh suatu perekonomian dalam suatu periode waktu tertentu

biasanya satu tahun. Secara umum PDB dapat diartikan sebagai nilai akhir

barang-barang dan jasa yang diproduksi di dalam suatu negara selama periode tertentu

biasanya satu tahun (Ni Nyoman, 2003).

2.3.1 Pengaruh Produk Domestik Bruto Terhadap Investasi

Terdapat keterkaitan yang erat antara pertumbuhan ekonomi atau diproxykan

dalam pendapatan nasional dan investasi. Hubungan keduanya menjadi suatu sorotan

para ekonom, baik dari kalangan Klasik maupun Neo Klasik. Teori pendapatan nasional

Keynesian yang menggunakan pendekatan pengeluaran agregatif dimana besarnya

pendapatan nasional suatu negara diukur dari komponen-konponen expenditure para

pelaku ekonominya lewat anggaran-anggarannya yaitu; sektor rumah tangga

(C;consumtion), perilaku usaha dan dunia usaha tercermin lewat komponen investasi

(30)

internasional yang tercermin lewat nilai ekspor / impor netto-nya. Teori diatas selanjutnya

menurunkan pertimbangan parsial pada faktor-faktor yang menjadi pertimbangan dalam

melakukan investasi. Seperti halnya dalam konsumsi yang dilakukan oleh sektor rumah

tangga, investasi oleh para pengusaha ditentukan oleh beberapa faktor. Salah satu diantara

faktor-faktor penting yang dipertimbangkan adalah besarnya nilai pendapatan nasional

yang dicapai (Sukirno, 2006).

Sudono (1996), dalam kebanyakan analisa mengenai penentuan pendapatan

nasional pada umumnya variabel investasi yang dilakukan oleh pengusaha berbentuk

investasi autonomi (besaran / nilai tertentu investasi yang selalu sama pada berbagai

tingkat pendapatan nasional). Tetapi adakalanya tingkat pendapatan nasional sangat besar

pengaruhnya pada tingkat investasi yang dilakukan (Isa Salim, 2006). Secara teoritis,

dapat dikatakan bahwa pendapatan nasional yang tinggi akan memperbesar pendapatan

masyarakat dan selanjutnya pendapatan masyarakat yang tinggi itu akan memperbesar

permintaan atas barang-barang dan jasa. Maka keuntungan yang dicapai oleh sektor usaha

dapat mencapai targetnya, dengan demikian pada akhirnya akan mendorong dilakukan

investasi-investasi baru pada sektor usaha. Dengan demikian, apabila nilai pendapatan

nasional semakin bertambah tinggi, maka investasi akan bertambah tinggi pula. Dan

sebaliknya semakin rendah nilai pendapatan nasional, maka nilai permintaan investasinya

akan semakin rendah pula. Pengembangan yang dilakukan para ekonom Neo Klasik pada

teori Keynes ini terlihat pada formulasi yang dikembangkannya pada model akselerator

investasi. Dijelaskan bahwa laju investasi adalah sebanding dengan perubahan output

(31)

2.4 Inflasi

Inflasi merupakan fenomena ekonomi yang berkaitan dengan dampaknya yang

sangat luas terhadap makro ekonomi. Inflasi sangat berperan dalam mempengaruhi

mobilisasi dana lewat lembaga keuangan informal. Inflasi didefinisikan sebagai

kenaikan harga umum secara terus menerus dan persisten dari suatu perekonomian

(Susanti, 2000). Kenaikan dalam harga rata-rata seluruh barang dan jasa dalam

perekonomian harus dibedakan dari kenaikan harga relatif dari barang-barang secara

individual. Secara umum, kenaikan harga dalam harga diikuti pula dengan perubahan

dalam struktur harga relatif, tetapi hanya kenaikan secara keseluruhan yang dianggap

sebagai inflasi.

Menurut Nasution (1999:20) inflasi juga dapat dikatakan sebagai suatu

keadaan yang mengidentisfikasikan semakin lemahnya daya beli yang diikuti dengan

semakin merosotnya nilai mata uang suatu negara (Isa Salim, 2006). Jadi inflasi

merupakan suatu keadaan dimana terjadi kenaikan harga secara tajam yang

berlangsung secara terus menerus dalam jangka wakru yang cukup lama. Seiring

dengan kenaikan harga tersebut, nilai uang turun secara tajam pula sebanding dengan

kenaikan harga-harga tersebut. Namun tidak semua kenaikan harga menyebabkan

inflasi. Harga masing-masing barang dan jasa ditentukan dengan banyak cara. Dalam

pasar persaingan sempurna, interaksi banyak pembeli dan penjual yakni bekerjanya

penawaran dan permintaan menentukan harga.

Ketika harga semua barang naik, kenaikan itu bisa atau tidak menjadi bagian

dari inflasi pada kelompok barang yang lebih besar. Karena inflasi adalah kenaikan

tingkat harga keseluruhan, inflasi terjadi ketika harga naik secara serempak. Kita

mengukur inflasi dengan melihat sejumlah barang dan jasa dan menghitung kenaikan

(32)

Inflasi adalah proses kenaikan harga umum barang secara terus menerus

(Nopirin, 1998 : 25). Ini berarti bahwa harga berbagai macam barang itu naik dengan

presentase yang sama, dan kenaikan umum tersebut terjadi tidaklah bersama-sama

yang penting terdapat kenaikan umum secara terus-menerus dalam periode tertentu.

2.4.1 J enis Inflasi

1) Menurut Sebabnya (Nopirin, 1998 : 29)

a. Inflasi Permintaan (Demand-pull Inflation), Inflasi timbul karena bertambahnya

permintaan mesyarakat akan barang-barang atau adanya kenaikan permintaan modal

total (agregat Demand).

b. Inflasi Ongkos (Cost-push Inflation), Inflasi ini ditandai dengan kenaikan harga

serta turunya produksi dan dibarengi dengan resesi, keadaan ini dimulai dengan

adanya penurunan total (Agregat Demand).

2) Menurut Asalnya (Nopirin, 1998 : 30)

a. Inflasi dari dalam negeri (Domestic Inflation), timbul karena defisitanggaran

belanja dengan percetakan uang baru, panenan gagal, dan sebagainya.

b. Inflasi yang berasal dari luar negeri (Imported Inflation), Inflasitimbul karena

adanya kenaikan barang dan jasa di luar negeri atau dinegara-negara langganan

(33)

2.4.2 Pengaruh Inflasi Terhadap Investasi

Tingkat inflasi berpengaruh negatif pada tingkat investasi hal ini disebabkan

karena tingkat inflasi yang tinggi akan meningkatkan resiko proyek-proyek investasi dan

dalam jangka panjang inflasi yang tinggi dapat mengurangi rata-rata masa jatuh pinjam

modal serta menimbulkan distrosi informasi tentang harga-harga relatif.

Di Indonesia kenaikan tingkat inflasi yang cukup besar biasanya akan diikuti

dengan kenaikan tingkat suku bunga perbankan. Dapat dipahami, dalam upayanya

menurunkan tingkat inflasi yang membumbung, pemerintah sering menggunakan

kebijakan moneter uang ketat (tigh money policy). Dengan demikian tingkat inflasi

domestik juga berpengaruh pada investasi secara tidak langsung melalui pengaruhnya

pada tingkat bunga domestik.

2.5 Infrastuktur Jalan

Fungi infrastruktur terutama prasarana jalan adalah sebagai prasarana

distribusi lalu lintas barang dan manusia secara berpengaruh terhadap meningkatnya

pertumbuhan ekonomi dan investasi, berkembangnya kehidupan sosial budaya

maupun lingkungan. Di sisi lain, jalan juga membentuk struktur ruang wilayah

maupun perkotaan sehingga keberadaannya sangat menentukan arah berkembangnya

wilayah maupun perkotaan mendatang. Salah satu wujud keterpaduan antar sektor

untuk medukung pembangunan ekonomi yang lebih merata dan adil adalah

keterpaduan pembangunan jaringan jalan, terutama pemantapan kehandalan prasarana

jalan untuk mendukung kawasan andalan termasuk sentra – sentra wilayah pesisir

melalui (a) keterpaduan sistem jaringan jalan terhadap tata ruang, (b) pemantapan

kinerja pelayanan prasarana jalan terbangun melalui pemeliharaan, rehabilitasi serta

(34)

memfungsikan sistem jaringan. Pengembangan sarana dan prasarana pemukiman,

khususnya untuk kota – kota pesisir, melalui (a) peningkatan prasarana dan saran

perkotaan untuk mengwujudkan fungsi kota sebagai Pusat Kegiatan Nasional,

Wilayah dan Lokal, (b) pengembangan fungsi pelayanan pelabuhan, (c)

pengembangan desa pusat pertumbuhan dan prasarana dan sarana antar desa-kota

untuk mendukung pengembangan agribisnis dan agropolitan, (c) mempertahankan

tingkat pelayanan dan kualitas jalan kota terutama bagi kota metropolitan maupun

kota – kota besar, dan ibukota propinsi (Miro,2005).

Untuk mewujudkan infrastruktur jalan yang baik, dibutuhkan jaringan

angkutan jalan yang menghubungkan seluruh wilayah tanah air. Penetapan jaringan

angkutan jalan merupakan salah satu unsur pokok pembinaan lalu lintas dan angkutan

jalan untuk mencapai tujuan terciptanay system angkutan yang andal, aman, nyaman,

cepat, tertib, teratur, dan efisien. Selain itu, jarigan angkutan jalan harus mampu

memadukan moda angkutan lainnya, menjangkau seluruh pelosok wilayah daratan

untuk menunjang pemerataan, serta menjadi penggerak dan menunjang pembangunan

nasional dengan biaya terjangkau oleh daya beli masyarakat . Dengan ditetapkannya

jaringan perangkutan jalan, akan terwujud keterpaduan baik antara lalu lintas dang

angkutan jalan dengan perkeretaapian atau dengan angkutan sungai dan danau yang

mempunyai kesamaan wilayah pelayanan di daratan, maupun antara lalu lintas dan

angkutan jalan dengan moda angkutan laut dan udara, yang keseluruhannya ditata

dalam satu kesatuan system perangkuta (Warpani,2002).

2.5.1 Pengaruh Infrastruktur Jalan Terhadap Investasi

Dalam pengertiannya Jumlah Panjang Jalan adalah merupakan prasarana

(35)

tersedianya jalan yang berkualitas akan meningkatkan usaha pembangunan

Khususnya dalam upaya memudahkan mobilitas penduduk dan mempelancar lalu

lintas barang dari satu daerah ke daerah lain (Indikator Ekonomi). Seperti dilakukan

banyak negara di dunia, pemerintah mengundang investor guna berpartisipasi

menanamkan modalnya di sektor-sektor infrastruktur, seperti jalan tol, sumber energi

listrik, sumber daya air, pelabuhan, dan lain-lain. Partisipasi tersebut dapat berupa

pembiayaan dalam mata uang rupiah atau mata uang asing. Melihat perkembangan

makro-ekonomi saat ini, terutama memperhatikan kecenderungan penurunan tingkat

bunga, untuk saat ini pembiayaan rupiah masih merupakan alternatif yang lebih baik.

Pembangunan kembali infrastruktur tampaknya menjadi satu alternatif pilihan yang

dapat diambil oleh pemerintah dalam rangka menanggulangi krisis. Pembangunan

infrastruktur akan menyerap banyak tenaga kerja yang selanjutnya akan berpengaruh

pada meningkatnya gairah ekonomi masyarakat. Dengan infrastruktur yang memadai,

efisiensi yang dicapai oleh dunia usaha akan makin besar dan investasi yang didapat

semakin meningkat .

3.6 Peneliti Terdahulu

Aditya Prawatyo (1996), dengan Penelitiannya “ Faktor-faktor yang Mempengaruhi Investasi Swasta di Indonesia “ dalam penelitiannya tersebut Aditya menganalisis pengaruh variabel-variabel Produk Domestik Bruto PDB), Impor Barang Modal dan Bahan Baku

(MB,MBB), ditingkat suku bunga didalam negri (SBD), jumlah uang yang beredar

(JUB), pengeluaran pemerintah (PP), serta kebijaksanaan deregulasi pemerintah (D)

(36)

didalam Produk Domestik Bruto. Sedangkan tingkat suku bunga dalam negeri berpengaruh secara negatif dan elastis terhadap investasi swasta tanah air. Sebaliknya kenaikan suku bunga di luar negeri akan berdampak positif bagi investasi swasta di Indonesia. Dan ternyata pemerintah masih berperan penting sebagai motor penggerak investasi di Indonesia, hal ini

di tunjukan dengan pengaruh pengeluaran pemerintah yang signifikan mempengaruhi

investasi swasta.

Isa Salim (2006) dalam penelitiannya “Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Investasi Pada Sektor Pertanian Di Indonesia Periode Tahun 1984-2004” menganalisis pengaruh pertumbuhan ekonomi, indeks hara produk-produk pertanian, tingkat suku bunga dan tingkat inflasi yang kaitannya dengan penjualan produk pertanian keluar negeri, nilai tukar mata uang asing yang menjadi factor penting dalam menentukan tingkat investasi tersebut baik investasi masyarakat (PMDN) maupun investor asing (PMA). Berdasarkan hasil penelitian diperoleh Pertumbuhan produksi domestik bruto (grPDB), nilai tukar

rupiah terhadap dolar AS, Indeks Harga produk pertanian, Tingkat suku bunga dan Inflasi

secara simultan mempengaruhi besarnya investasi pada sektor pertanian. Hal ini dapat

dilihat dari Nilai F hitung (5,662) yang lebih besar dari F tabelnya (2,901).

Namun, apabila ditinjau dari segi parsial, variabel indeks harga produk pertanian

mempunyai kontribusi positf dalam estimasi model investasi pertanian ini secara kolektif,

demikian pula halnya dengan tingkat produk domestik bruto (GrPDB) terutama setelah

disebutkan melalui beberapa uji seleksi (variabel) model. Sedangkan variabel nilai tukar

rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mempunyai kontribusi negatif dalam

mempengaruhi Nilai Investasi Sektor Pertanian.

Dadang Firmansyah (2008) dalam penelitiannya “Faktor-Faktor Yang

Mempengaruhi Investasi Di Indonesia Periode Tahun 1985-2004” menganalisis

menganalisis pengaruh Produk Domestik Bruto (PDB), Jumlah Tenaga Kerja yang

(37)

pertumbuhan Penanaman Modal Dalam Negeri di Indonesia priode tahun 1985-2004

dengan menggunakan alat uji regresi log linier. Penelitian ini menggunakan uji

Mackinnon, White and Davidson (MWD) yang bertujuan untuk menentukan apakah

model yang akan digunakan berbentuk linier atau log linier. Jadi metode yang

digunakan dalam menganalisis Faktor-faktor yang mempengaruhi Investasi di

Indonesia adalah regresi log linier. Berdasarkan hasil estimasi tersebut Variabel

Produk Domestik Bruto (PDB) tidak berpengaruh terhadap PMDN, Tenaga Kerja

berpengaruh terhadap PMDN, Infrastruktur (Jumlah Panjang Jalan) tidak berpengaruh

terhadap PMDN, dan Krisis Ekonomi (Dm) berpengaruh terhadap PMDN.

Berdasarkan penelitian dan analisis yang telah dilakukan mengenai Penanaman Modal

Dalam Negeri maka dapat di simpulkan bahwa Produk Domestik Bruto (PDB),

Tenaga kerja yang Bekerja, Infrastruktur ( Jumlah Panjang Jalan) dan Krisis Ekonomi

(Dm) secara serempak mempunyai pengaruh terhadap Penanaman Modal Dalam

Negeri.

Imelda Mustika dalam analisis perbandingan PMDN dan PMA di Indonesia

(2007), menganalisis tentang pengaruh produk domestic bruto, inflasi,tingkat suku

bunga kredit dan PMDN terhadap PMDN Indonesia tahun 1986-2005. Dimana

produk domestic bruto PDB) berpengaruh negative terhadap PMDN Indonesia.

Dimana di dapat nilai setiap kenaikan PDB 1% mengakibatkan turunnya PMDN

sebesar Rp. 0,137212 Miliyar dengan asumsi ceteris paribus. Dimana hasil ini tidak

sesuai dengan hipotesis awal. Sedangkan inflasi berpengaruh negatif terhadap PMDN

Indonesia. Untuk tingkat suku bunga kredit berpengaruh negatif terhadap PMDN

(38)

2.7 Hipotesis

1. Produk domestik bruto (PDB) berpengaruh positif terhadapa investasi

sektor transportasi di Indonesia.

2. Inflasi berpengaruh negatif terhadap investasi sektor transportasi di

Indonesia.

3. Infrastruktur jalan berpengaruh positif terhadap investasi sektor

(39)

BAB III

METODE PENELITIAN

Metode penelitian adalah langkah atau prosedur yang akan dilakukan dalam

pengumpulan data atau informasi guna memecahkan permasalahan dan menguji

hipotesis penelitian.

3.1 Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup penelitian ini adalah pertumbuhan ekonomi, inflasi,

infrastruktur jalan , dan investasi sektor transportasi Indonesia tahun 1985-2007.

3.2 Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang dikumpulkan dan digunakan serta diolah dalam penelitian ini

adalah data sekuder yaitu hasil olahan yang diperolah dari dinas dan instansi yang

resmi yang berhubungan dengan penelitian ini. Data diperoleh dalam bentuk time

series yang bersifat kuantitatif dalam kurun waktu 1985-2007.

Sumber data diperoleh dari publikasi Badan Pusat Statistik (BPS) provinsi

Sumatera Utara. Selain itu, data lainnya yang mendukung penelitian ini diperoleh dari

sumber bacaan seperti jurnal, artikel, dan buku bacaan yang berkaitan dengan

penelitian ini.

3.3 Metode dan Teknik Pengumpulan data

Dalam penyusunan skripsi ini, penulis menggunakan metode kepustakaan

(40)

berupa tulisan – tulisan ilmiah dan laporan – laporan penelitian ilmiah yang memiliki

hubungan dengan topik yang diteliti.

Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah pencatatan langsung berupa

data seri waktu (time series) dalam kurun waktu 23 tahun (1985 – 2007).

3.4Teknik Pengolahan Data

Untuk mengolah data dalam penelitian ini, penulis menggunakan program Eviews

5.0.

3.5 Metode Analisis Data

Dalam menganalisis besarnya pengaruh-pengaruh variabel bebas terhadap

variabel terikat digunakan model ekonometrika dengan meregresikan

variabel-variabel yang ada dengan menggunakan metode Ordinary Least Square (OLS).

Permasalah yang akan dibahas adalah sejauh mana pengaruh produk domestik

bruto sektor transportasi, inflasi, dan infrastuktur jalan terhadap sektor transportasi di

Indonesia dengan menggunakan analisis regresi linier berganda. Fungsi

matematikanya adalah sebagai berikut:

Y=f(X1,X2,X3,X4)………..(1)

Kemudian fungsi tersebut ditransformasikan ke dalam model persamaan

regresi linear berganda (multiple regression) sebagai berikut:

Y=α+β1X1+β2X2+β3X3+μ……….(2)

Dimana:

Y = Investasi Sektor Transportasi (rupiah)

(41)

β1β2β3 = Koefisien Regresi

X1 = GDP sector transportasi (rupiah)

X2 = Inflasi (persen)

X3 = Infrastruktur jalan (km)

μ = term of error

3.6 Test Goodness of Fit (Uji Kesesuaian) 1. Koefisien Determinasi (R – Square)

Koefisien determinasi dilakukan untuk melihat seberapa besar kemampuan

variabel independen secara bersama sama mampu memberi penjelasan terhadap

variabel dependen. Nilai R2 bernilai non negatif (0≤R2≤1).

2. Uji t-statistik.

Uji t statistik merupakan suatu pengujian yang bertujuan untuk mengetahui

apakah masing masing koefisien regresi signifikan atau tidak signifikan terhadap

variabel dependen dengan menganggap variabel independen lainnya konstan. Dalam

hal ini digunakan hipotesis sebagai berikut:

Ho:bi = b

Ha:bi ≠ b

Dimana bi adalah koefisien variabel independen ke-I nilai parameter hipotesis

biasanya b dianggap = 0 artinya ,tidak ada pengaruh variabel X1 terhadap Y. Bila

t-hitung >t-tabel, maka pada tingkat kepercayaan tertentu Ho ditolak. Hal ini berarti

bahwa variabel indevenden yang diuji berpengaruh secara nyata (signifikan) terhadap

variabel dependen. Dan bila t-hitung < t-tabel maka pada tingkat kepercayaan tertentu

Ho diterima, ini artinya bahwa variabel independen yang diuji tidak berpengaruh nyata

(42)

Nilai t-hitung diperoleh dengan rumus:

t*= Sbi

b bi )

( −

dimana:

bi = kofisien variabel ke-i.

b = nilai hipotesis nol.

Sbi = simpangan baku dari variabel indevenden ke-i

Kriteria pengambilan keputusan :

H0 : β =0 H0 diterima (t*<t-tabel) artinya variabel independen secara

parsial tidak berpengaruh nyata terhadap variabel dependen.

Ha : β ≠0 Ha diterima (t*>t-tabel) artinya variabel independen secara

parsial berpengaruh nyata terhadap variabel dependen.

3. Uji F- statistik.

Uji F-statistik ini dilakukan untuk melihat pengaruh variabel indevenden

secara keseluruhan atau bersama sama terhadap variabel dependen. Untuk

(43)

Ha:b2=0………..………..i = 1(ada pengaruh)

Pengujian ini dilakukan untuk membandingkan nilai F- hitung dengan nilai F-

tabel. Jika F-hitung> F-Tabel maka Ho ditolak, yanga artinya variabel independen

secara bersama sama mempengaruhi variabel dependen. Jika F- hitung < F-tabel maka

Ho diterima, artinya variabel indevenden secara bersama sama tidak berpengaruh

nyata terhadap variabel dependen.

Nilai F-hitung dapat diperoleh dengan rumus:

F-hitung=

( )

R2 = koefisien determinasi.

k = Jumlah variabel independen.

n = Jumlah sampel

Kriteria pengambilan keputusan :

0

: 1 2

0 β =β =

H H0 diterima (F*<F-tabel) artinya variabel independen

secara bersama-sama tidak berpengaruh nyata terhadap

variabel dependen.

0 :β1 ≠β2

a

H Ha diterima (F*>F-tabel) artinya variabel independen

secara bersama-sama berpengaruh nyata terhadap

(44)

3.7 Uji Penyimpangan Asumsi Klasik.

Uji penyimpangan asumsi klasik dimaksudkan untuk mendeteksi ada tidaknya

multikolinerity dan heterokedastisitas, dalam hal estimasi, karena apabila terjadi

penyimpangan terhadap asumsi klasik tersebut maka uji t dan uji f yang dilakukan

sebelumnya tidak valid dan secara statistik dapat mengacaukan kesimpulan yang

diperoleh.

1. Multikolineritas (Multikolinearity)

Multikolinearitas adalah alat untuk mengetahui suatu kondisi, apakah terdapat

korelasi variabel independen diantara satu sama lainnya. Untuk mengetahui ada

tidaknya multikoleanerity dapat dilihat dari nilai R- Square, F- hitung, t- hitung, serta

standard error. Adanya multikoleanerity ditandai dengan:

1. Standard error tak terhingga.

2. Tidak ada satupun t-statistik yang signifikan pada α=5%,α=10%,

α= 1%.

3. Terjadi perubahan tanda atau tidak sesuai dengan teori

4. R- Square sangat tinggi.

2. Uji Autokorelasi

Uji ini menggunakan uji Durbin Watson yang dilakukan untuk mengetahui ada

tidaknya gejala autokorelasi yang merupakan gangguan pada fungsi regresi berupa

(45)

Table 3.1 Tabel pengambilan keputusan :

Nilai DW hasil estimasi model regresi kesimpulan

(4-DWL) < DW < 4 Tolak Ho (terdapat autokorelasi negatif)

(4-DWL) < DW < (4-DWu) Tidak ada kesimpulan

2<DW < (4-DWu) Terima Ho

DWu < DW < 2 Terima Ho

DWL < DW < DWu Tidak ada kesimpulan

0 < DW < DWL Tolak Ho (terdapat autokorelasi positif)

3.3.8 Definisi Operasional

1. Investasi PMDN sektor transportasi adalah penanaman modal dalam negeri

yang ditujukan untuk sektor transportasi.

2. Produk domestik bruto (PDB) sektor transportasi adalah produk barang dan

jasa total yang dihasilkan oleh perekonomian suatu negara di dalam masa satu

tahun dalam rupiah.

3. Inflasi adalah kenaikan harga-harga secara umum yang diukur berdasarkan

Indeks Harga Konsumen (IHK) dalam persen.

(46)

BAB IV

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum Negara Indonesia

Indonesia merupakan negara demokratis yang dalam pemerintahannya

menganut sistem presidensiil dengan Pancasila sebagai filosofi dasar negaranya.

Pancasila berarti lima dasar yang saling berhubungan dan tidak dapat dipisahkan.

Pancasila merupakan jiwa demokrasi yang dikenal dengan nama Demokrasi

Pancasila. Dasar negara ini dinyatakan presiden pertama Indonesia Soekarno dalam

Proklamasi kemerdekaan negara Republik Indonesia Tanggal 17 Agustus 1945.

4.1.1 Posisi Geografis Indonesia

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari

17.508 pulau dengan luas 1,9 juta mil persegi, yang diapit oleh dua benua (Asia dan

Australia) serta dua samudera (Hindia dan Pasifik) dan terbentang pada 60 LU-110 Ls

dan 960 BT-1410 BT. Posisi strategis ini mempunai pengaruh yang sangat besar

terhadap kebudayaan, sosial, politik dan ekonomi Indonesia.

Indonesia merupakan negara bahari dengan luas laut berkisar 7,9 juta km2

termasuk dengan daerah Zone Ekonomi Exclusive (ZEE) atau 81% dari luas

keseluruhan Indonesia. Daratan Indonesia mempunyai puluhan atau mungkin ratusan

gunung dan juga sungai. Sehubungan dengan letak Indonesia yang dikelilingi oleh

beberapa samudera, serta banyak terdapat banyak gunung merapi yang masih aktif,

menyebabkan Indonesia sering dilanda gempa.

Negara Indonesia adalah negara kesatuan yang berbentuk republik dimana

(47)

yaitu Gorontalo, Kepulauan Bangka Belitung, Banten, dan Maluku Utara. Dan pada

tahun 2005 dibagi atas 33 provinsi dengan 3 tambahan provinsi yaitu : Kepulauan

Riau, Sulawesi Barat, dan Irian Jaya Barat.

4.1.2 Demografi Indonesia

Sasaran utama pembangunan Indonesia adalah pencapaian kesejahteraan

penduduk dalam rangka membentuk manusia Indonesia seluruhnya. Untuk itu,

pemerintah telah melakukan berbagai usaha dalam rangka memecahkan masalah

kependudukan. Usaha-usaha yang mengarah kepada pemerataan penyebaran

penduduk dilakukan dengan cara memindahkan penduduk yang padat ke daerah yang

tidak banyak jumlah penduduknya, yaitu dikenal dengan Transmigrasi, ataupun juga

perpindahan penduduk dari kota ke desa yang disebut dengan Urbanisasi. Selain itu,

dengan diberlakukannya otonomi daerah, diharapakan dapat mengurangi perpindahan

penduduk terutama ke pulau jawa. Usaha untuk menekan laju pertumbuhan juga

dilakukan pemerintah melalui program KB (Keluarga Berencana) yang dimulai pada

awal tahun 1970-an.

Jumlah penduduk tahun 2000 adalah sebesar 205.1 juta jiwa, tidak mencakup

penduduk yang tidak bertempat tinggal tetap sebesar 421,399 juta jiwa. Pada tahun

2004, jumlah penduduk Indonesia sebesar 216, 4 juta jiwa dan meningkat menjadi

219,2 juta jiwa pada tahun 2005. Laju pertumbuhan penduduk mengalami

pertumbuhan yang cukup cepat sejak tahun 1980, yaitu 1,95%, selama periode

1980-1990, menjadi 1,45% pertahun selama periode 1990-2000, kemudian menurun lagi

menjadi 1.34% per tahun selama periode 2000-2005.

Bila dilihat dari aspek kependudukan, Indonesia sebenarnya memiliki potensi

(48)

sumber tenaga kerja sekaligus pasar. Namun jumlah tenaga kerja yang besar tersebut

tidak diikuti dengan tingkat pendidikan yang memadai, dalam konteks pembangunan

yang rendah, membimbing masyarakat dari kemampuan berfikir. Keadaan ini

berpengaruh terhadap kemampuan masyarakat dalam bekerja atau berproduksi guna

memenuhi hidupnya dalam keluarganya. Bila sifat kegiatan produksinya subsistence,

maka balas jasa yang diperoleh oleh sebagian besar tenaga kerja Indonesia tidak

begitu besar, sehingga kemamuannya dalam berkonsumsi pun sangat terbatas.

4.2 Kondisi Makro Ekonomi Indonesia

Perjalanan perekonomian di Indonesia banyak mengalami gejolak dan

fluktuasi akibat permasalahan yang kompleks. Krisis multidimensional di Indonesia

yang bermula dari kemerosotan nilai tukar rupiah memberikan pengaruh yang cukup

besar terhadap perekonomian nasional. Hampir dua tahun lebih krisis ekonomi dan

moneter menimpa perekonomian Indonesia. Pada tahun 1997 dan 1998 merupakan

tahun yang terberat dalam pelaksanaan pembangunan ekonomi Indonesia. Diawali

oleh krisis nilai tukar, kinerja perekonomian Indonesia mengalami penurunan tajam

dan berubah menjadi krisis yang berkepanjangan di berbagai bidang. Pertumbuhan

ekonomi merosot menjadi 4.7% pada tahun 1997 yang semula 7.98% pada tahun

sebelumnya. Pada masa krisis seperti ini juga berdampak kepada harga-harga barang

dan jasa. Tingkat inflasi pada tahun 1997 dan 1998 meningkat drastis mencapai dua

digit yang tadinya tahun sebelumnya hanya 6.49% berubah menjadi 11.05% pada

tahun 1997 dan kemudian naik menjadi tujuh kali lipat pada tahun 1998 menjadi

77.65%.

Berbagai upaya dilakukan pemerintah untuk melakukan pengendalian

(49)

ditekan hingga mencapai 2,01% walaupun disatu sisi pertumbuhan ekonomi hanya

mencapai 0,8%. Sayangnya di satu sisi tahun-tahun berikutnya masih kurang stabil.

Bahkan secara umum, selama tahun 2001, kinerja perekonomian Indonesia

menunjukan pertumbuhan yang melambat. Hal ini tidak terlepas dari kondisi internal

dimana masih tingginya resiko dan ketidakpastian yang berkelanjutan berbagai

permasalahan dalam negeri yang terkait dengan restrukturisasi utang. Hal ini

mengakibatkan menurunnya kepercayaan dunia usaha untuk melakukan kegiatan

produksi da investasi, yang pada akhirnya menghambat pertumbuhan ekonomi yang

tercermin dari pertumbuhan ekonomi yang turun menjadi 3,8% dari 4,9% pada tahun

2000.

Kondisi perekonomian Indonesia pada tahun-tahun berikutnya dapat dikatakan

cukup stabil hingga tahun 2005. Walaupun pertumbuhan ekonomi mencapai 5,6%

lebih tinggi dari tahun 2004 yaitu sebesar 5,1%, tetapi di satu sisi tingkat inflasi

mencapai tingkat tertingginya sejak krisis ekonomi sejak tahun 1998 yaitu sebesar

17,11% dan terjadi depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dollar AS yang cukup tajam.

Hal ini terkait dengan kenaikan harga BBM yang dikeluarkan pemerintah pada

oktober 2005.

Setelah terjadi tekanan yang cukup tinggi pada perekonomian Indonesia pada

tahun 2005, upaya-upaya yang dilakuka oleh pemerintah untuk menstabilkan

perekonomian membuahkan hasil tahun berikutnya. Walaupun pada tahun 2007,

perekonomian Indonesia dibayangi oleh gejolak eksternal sebagai efek dari terjadinya

krisis di Amerika Serikat. Untungnya perekonomian Indonesia masih dapat mencatat

prestasi yang cukup baik, hal ini tercermin pada peninkatan pertumbuhan ekonomi,

penurunan tingkat inflasi dan angka pengangguran dalam negeri dan apresiasi nilai

(50)

4.3 Perkembangan Transportasi di Indonesia

4.3.1 Transportasi Darat

Transportasi darat menggunakan kendaraan bermotor dan kereta api sebagai

fasilitas penggeraknya. Angkutan kendaraan bermotor sangat fleksibel terhadap

pertumbuhan permintaan dari masyrakat dan dapat meberikan pelayanan door to door

sevices yaitu tempat pengiriman barang atau penumpang sampai ke tempat penerima

barang atau tujuan pemunpang.

Table 4.3.1.1 Perkembangan Jumlah Kendaraan Bermotor Menurut Jenis

tahun 1987-2007

Tahun

Mobil

Penumpang Bis Truk Sepeda Motor Jumlah

1987 1 170 103 303 378 953 694 5 554 305 7 981 480

Sum ber : Kantor Kepolisian Republik I ndonesia ( BPS)

* )

sejak 1999 tidak t ermasuk Timor-Tim ur

Di Indonesia, perusahaan angkutan melayani angkutan barang (truk) dan

(51)

disesuiakan dengan sifat dan kebutuhan masyarakat. Kebanyakan jenis muatan adalah

barang-barang yang terbatas berat dan volumenya serta jarak yang dekat.

Perkembangan ini dari tahun ke tahun mengalami perkembangan yang terus-menerus

meningkat jumlah moda transportasinya.

Dilihat dari tabel diatas, kendaraan bermotor jenis mobil penumpang, setiap

tahunnya mengalami pertumbuhan yang relatif stabil peningkatannya. Akan tetapi

pada tahun 1988 mengalami penurunan jumlah dari tahun sebelumnya yang tadinya

1.170.103 unit menjadi 1.073.103 unit. Begitu pula terjadi pada jumlah truk dan

sepeda motor yang sama-sama mengalami penurunan jumlah. Akan tetapi jumlah bis

naik dari 303.378 unit meningkat menjadi 385.731 unit.

Untuk tahun-tahun berikutnya, jumlah seluruh kendaraan bermotor menurut

jenisnya mengalami peningkatan yang terus-menerus. Dilihat dari perkembangannya,

jenis kendaraan sepeda motor adalah jenis kendaraan yang perkembangannya lebih

pesat dari jumlah jenis kendaraan bermotor lainnya. Pada tahun 2006, jumlah sepeda

motor mecapai 33.413.222 unit yang kemudian berkembang pesat menjadi

41.955.128 unit. Hal ini terjadi karena semakin mudahnya masyarakat dalam

memperoleh sepeda motor yang bisa diperoleh dengan cara mengkredit sepeda motor

dengan uang muka yang rendah dan cicilan yang rendah pula. Masyarakat juga lebih

menyukai sepeda motor karena dengan mengunakan sepeda motor akan lebih efisien

digunakan guna mengatasi kemacetan lalu lintas diandingkan dengan menggunakan

mobil penumpang ataupun bis.

Kemudian untuk kereta api, sumbangan kereta api bagi perkembangan

ekonomi dan masyarakat sangat besar. Kereta api yang memulai angkutan barang

dalam jumlah yang besar dengan biaya yang rendah sehingga merangsang

(52)

masyrakat. Banyak kota-kota tumbuh dan berkembang setelah adanya jaringan kereta

api. Perkembangan kereta api di Indonesia pada kahir-akhir ini mulai meningkat,

bukan saja antar kota, tetapi juga di daerah perkotaan yang lalu lintasnya padat.

Table 4.3.1.2. Jumlah Penumpang dan Barang Kereta Api Indonesia

Tahun 1987 - 2007

Jumlah penumpang yang menggunakan jasa trasnportasi kereta api di

Indonesia pada tahun 1987 sampai dengan tahun 2000 terus mengalami kenaikan.

Pada tahun 1995 merupakan tahun dimana jumlah penumpang yang menggunakan

jasa kereta api mengalami kenaikan tertinggi sejak tahun 1987 sampai 2007. Dimana

jumlah penumpang mencapai 145 juta yang sebelumnya hanya berjumlah 116 juta

(53)

turun. Seperti pada tahun 2002 jumlah penurunan yang paling tinggi dari tahun

sebelumnya yaitu dari 176 juta penumpang menjadi 155 juta penumpang.

Sedangkan untuk jumlah barang yang didistribusikan dengan menggunakan

jasa kereta api, sejak tahun 1987-1997 mengalami kenaikan yang terus-menerus.

Akan tetapi pada tahun 1998 mengalami penurunan yang cukup tinggi dimana pada

tahun 1997 sebanyak 23.932 ribu ton menjadi 18.129 ribu ton yang merupakan

penurunan terbesar sejak tahun 1987 sampai 2007. Dimana pada tahun 1998 terjadi

krisis di Indonesia yang juga menghambat kegiatan transportasi. Pada tahun 1999

sampai 2007 jumlah barang yang menggunakan jasa kereta api terus menerus

mengalami perubahan naik turun.

4.3.2 Transportasi Laut

Indonesia adalah negara maritim yang terdiri atas 17.508 pulau merupakan

negara kepulauan terbesar di dunia.berajak dari kondisi geografis Indonesia tersebut,

maka peranan transportasi laut dan penyeberangan sangatt dominan dalam

memperlancar arus barang dan manusia. Mengingat pentingnya transportasi laut dan

penyeberangan maka penyediaan sarana dan prasarana transportasi laut dan

penyeberangan harus dapat mengatasi kebutuhan permintaan akan jasa transsportasi

laut dan penyeberangan secara efektif dan efisien. Dengan tingginya arus barang dan

manusia melalui laut dan penyeberangan sebagai akibat laju pembangunan nasional

dan pemerataan hasil-hasil pembangunan ke seluruh pelosok tanah air, maka

kebutuhan lintasan penyeberangan antar pulau dan antar pelabuhan semakin

meningkat pula.

Dilihat dari tabel 3, diketahui bahwa keadaan bongkar muat barang di

(54)

dalam jumlahnya. Untuk barang yang dimuat baik dari antar pulau maupun luar

negeri, pada tahun 1988 sampai 1993 mengalami kenaikan yang terus menerus.

Begitu pula untuk bongkar barang yang mengalami kenaikan pada tahun 1988 sampai

1994.

Table 4.3.2.1 Bongkar Muat Barang Antar Pulau dan Luar Negeri di Pelabuhan

Indonesia Tahun 1988-2007 (000 tons)

Tahun

Sumber : Kantor Admistrasi Pelabuhan (BPS)

Kemudian pada tahun-tahun berikutnya, keadaan bongkar muat barang

berfluktuasi naik turun. Pada tahun 2006, jumlah bongkar muat barang megalami

penurunan dari tahun sebelumnya. Kemudian pada tahun 2007 jumlah barang bongkar

muat mengalami kenaikan. Kenaikan yang cukup tinggi terjadi pada barang muat luar

(55)

Tabel 4.3.2.2. Jumlah Penumpang Kapal di Pelabuhan Yang Diusahakan dan Tidak Diusahakan Tahun 1995 - 2007 (000)

Tahun Berangkat Datang

Sumber : Kantor Admistrasi Pelabuhan (BPS)

Untuk jumlah penumpang yang mengunakan jasa kapal pelabuhan,

pergerakannya relative stabil dengan pergerakan yang tidak banyak berbeda dengan

tahun-tahun sebelumnya. Akan tetapi terjadi kenaikan yang mencapai lebih dari dua

kali lipat dari tahun sebelumnya yaitu pada tahun 1998 dimana jumlah penumpang

yang berangkat mencapai hampir 23 juta jiwa dimana tahun sebelumnya hanya sekitar

11 juta jiwa. Begitu pula dengan jumlah penumpang yang datang dimana mencapai

hampir 24 juta jiwa dimana tahun sebelumnya hanya sekitar 11 juta jiwa. Hal ini

berarti pada tahun 1998, mobilitas penduduk sangat tinggi. Sedangkan untuk tahun

2007, jumlah penumpnag yang berangkat dan datang hanya mengalami kenaikan yang

kecil dari tahun sebelumnya.

4.3.3 Transportasi Udara

Transportasi udara menggunakan moda pesawat terbang yang dikelola oleh

perusahaan penerbangan. Jasa penerbangan memiliki keunggulan dari jasa moda

Figur

tabel. Jika F-hitung> F-Tabel maka Ho ditolak, yanga artinya variabel independen
tabel. Jika F-hitung> F-Tabel maka Ho ditolak, yanga artinya variabel independen p.43
Table 3.1 Tabel pengambilan keputusan :

Table 3.1

Tabel pengambilan keputusan : p.45
Table 4.3.1.1 Perkembangan Jumlah Kendaraan Bermotor Menurut Jenis

Table 4.3.1.1

Perkembangan Jumlah Kendaraan Bermotor Menurut Jenis p.50
Table 4.3.1.2. Jumlah Penumpang dan Barang Kereta Api Indonesia

Table 4.3.1.2.

Jumlah Penumpang dan Barang Kereta Api Indonesia p.52
Table 4.3.2.1 Bongkar Muat Barang Antar Pulau dan Luar Negeri di Pelabuhan

Table 4.3.2.1

Bongkar Muat Barang Antar Pulau dan Luar Negeri di Pelabuhan p.54
Tabel 4.3.2.2. Jumlah Penumpang Kapal di Pelabuhan Yang Diusahakan dan Tidak Diusahakan Tahun 1995 - 2007 (000)

Tabel 4.3.2.2.

Jumlah Penumpang Kapal di Pelabuhan Yang Diusahakan dan Tidak Diusahakan Tahun 1995 - 2007 (000) p.55
Tabel 4.3.3. Jumlah Keberangkatan Penumpang dan Barang di Bandara Indonesia

Tabel 4.3.3.

Jumlah Keberangkatan Penumpang dan Barang di Bandara Indonesia p.56
Grafik 4.4. Perkembangan GDP Sektor Transportasi (miliyar Rupiah)

Grafik 4.4.

Perkembangan GDP Sektor Transportasi (miliyar Rupiah) p.58
Grafik 4.5. Perkembangan Inflasi tahun 1985-2007 ( persen )

Grafik 4.5.

Perkembangan Inflasi tahun 1985-2007 ( persen ) p.59
Grafik 4.6 Perkembangan Panjang Jalan Negara (km)

Grafik 4.6

Perkembangan Panjang Jalan Negara (km) p.61
Grafik 4.7  Perkembangan PMDN Sektor Transportasi di Indonesia

Grafik 4.7

Perkembangan PMDN Sektor Transportasi di Indonesia p.63
Table 4.8.1 Hasil Regresi

Table 4.8.1

Hasil Regresi p.64
Gambar 4.8.2.1  Uji t-Statistik Produk Domestik Bruto (X1)

Gambar 4.8.2.1

Uji t-Statistik Produk Domestik Bruto (X1) p.67
Gambar 4.8.2.2 Uji t-Statistik Inflasi (X2)

Gambar 4.8.2.2

Uji t-Statistik Inflasi (X2) p.68
Gambar 4.8.2.3 Uji t-Statistik Infrastruktur Jalan (X3)

Gambar 4.8.2.3

Uji t-Statistik Infrastruktur Jalan (X3) p.69
Table 4.8.3 Hasil uji multikolinearitas

Table 4.8.3

Hasil uji multikolinearitas p.70

Referensi

Memperbarui...