Asuhan Keperawatan Pada An.A dengan Prioritas Masalah Kebutuhan DasarNutrisi Di Lingkungan IX Kelurahan Harjosari II Kecamatan Medan Amplas

65  27  Download (0)

Full text

(1)

Asuhan Keperawatan pada An.A dengan

Prioritas Masalah Kebutuhan Dasar Nutrisi

di Kelurahan Harjosari II Kecamatan Medan Amplas

Karya Tulis Ilmiah (KTI)

Disusun dalam Rangka Menyelesaikan

Program Studi DIII Keperawatan

Oleh

Jamal Usman

122500128

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN

FAKULTAS KEPERAWATAN

(2)

i

(3)
(4)

iii

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala Puji bagi Allah SWT Rabb semesta alam, yang Maha Menciptakan, Menghidupkan dan Mematikan, yang Rahmat-Nya meliputi langit dan bumi, dunia dan akhirat dan kepada-Nyalah semua akan kembali. Shalawat serta salam mudah-mudahan terlimpah kepada Nabiullah Muhammad SAW, yang membawa umat manusia dari alam gelap gulita ke alam yang terang benderang.

Tak lupa pula penulis mensyukuri segala Rahmat dan Karunia yang telah dilimpahkan sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini dengan

judul ”Asuhan Keperawatan Pada An.A dengan Prioritas Masalah

Kebutuhan DasarNutrisi Di Lingkungan IX Kelurahan Harjosari II

Kecamatan Medan Amplas”.

Karya Tulis Ilmiah ini disusun dalam rangka menyelesaikan pendidikan Diploma III Keperawatan pada Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara. Dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini, penulis banyak menghadapi hambatan, tetapi berkat bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak Karya Tulis Ilmiah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Untuk itu perkenankanlah penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada yang terhormat. 1. dr. Dedi Ardinata, M.kes selaku Dekan Fakultas Keperawatan USU, yang

telah menyediakan sarana dan prasarana selama pendidikan di Fakultas Keperawatan USU .

2. Ibu Nur Afi Darti, SKp, M.Kep selaku ketua prodi yang telah banyak membantu kami selama pendidikan diploma baik yang tampak maupun yang tidak kami ketahui, terimakasih banyak bu.

3. Ibu Reni Asmara Ariga, S.Kp,. MARS selaku dosen pembimbing yang begitu banyak memberikan sumbangsih pemikiran, saran, nasehat dan dengan penuh kesabaran dan ketelatenan selama proses bimbingan di dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah ini.

(5)

iv

5. Bapak & Ibu Dosen beserta Staf Pengajar fakultas keperawatan USU yang telah memberikan kuliah dan bimbingan kepada penulis selama mengikuti pendidikan di Fakutas Keperawatan USU.

6. Spesial buat ayahanda Nasruddin dan ibunda tercinta Zuniar dan saudara- saudaraku tersayang,serta semua keluarga yang tidak sempat dituliskan namanya dalamlembaran ini terimakasih banyak telah memberikan do’a, support, kasih sayang serta dukungan moril yang tak terhitung nilainya sehingga penulis dapat menyelesaikan studinya.

7. Terima kasih juga kepada teman seperjuangan saya Nova Syafriana, Sartika, Herman Lubis yang telah membantu saya dan memberi semangat kepada saya dalam proses penyelesaian karya tulis ilmiah saya.

Semoga tuhan yang Maha Esa memberikan balasan yang setimpal atas segala bantuan yang diberikan. Akhir kata penulis berharap semoga Karya Tulis ini dapat bermanfaat bagi masyarakat umumnya dan tenaga keperawatan khususnya dalam memberikan Asuhan Keperawatan. Akhirnya penulis memohon kepada Allah SWT semoga apa yang telah diperbuat bernilai ibadah disisi-Nya.

Medan, Juli 2015

(6)

v DAFTAR ISI

HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS……... i

LEMBAR PENGESAHAN………..... ii

KATA PENGANTAR………...... iii

DAFTAR ISI………...... iv

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang………... 1

B. Tujuan………... 3

C. Manfaat………... 4

BAB II PENGELOLAAN KASUS A. Konsep Dasar Nutrisi 1. Pengertian Nutrisi………... 6

2. Komponen zat gizi,manfaat dan fungsinya……… 7

3. Kebutuhan Energi………... 21

4. Penggunaan energi oleh tubuh………... 22

5. Kelompok rentan gizi………... 24

B. Asuhan keperawatan dengan masalah kebutuhan nutrisi 1. Pengkajian………... 26

2. Analisa data………... 33

3. Rumusan masalah………... 34

(7)

vi C. Asuhan keperawatan kasus

1. Pengkajian………... 36

2. Analisa data………... 49

3. Rumusan masalah………... 50

4. Diagnosa keperawatan………... 50

5. Perencanaan………... 51

6. Implementasi………... 53

7. Evaluasi………... 53

BAB III KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan………... 55

B. Saran ………... 56

DAFTAR PUSTAKA ………... 58

(8)

1 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Gizi merupakan peranan yang sangat penting dalam siklus kehidupan

manusia. Pada anak kekurangan gizi akan mengganggu pertumbuhan dan

perkembangan yang apabila tidak diatasi dari usia dini akan berlanjut ke usia

dewasa. Kebutuhan nutrisi bagi tubuh merupakan suatu kebutuhan dasar manusia

yang sangat penting. Dilihat dari kegunaannya nutrisi merupakan sumber energi

untuk segala aktivitas dalam sistem tubuh. Sumber nutrisi dalam tubuh berasal

dari dalam tubuh sendiri seperti glikogen yang terdapat dalam otot dan hati

ataupun protein dan lemak dalam jaringan dan sumber lain yang berasal dari luar

tubuh seperti yang sehari-hari dimakan oleh manusia (Hidayat, 2006).

Masalah nurtrisi erat kaitannya dengan intake makanan dan metabolisme

tubuh serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Secara umum faktor yang

mempengaruhi kebutuhan nutrisi adalah faktor fisiologis untuk kebutuhan

metabolism basal,faktor patofisiologi seperti adanya penyakit tertentu yang

mengganggu pencernaan atau meningkatkan kebutuhan nutrisi,faktor

sosioekonomi seperti adanya kemampuan individu. Status gizi seseorang muncul

dari gabungan beberapa faktor yakni faktor lingkungan,genetik dan juga perilaku

individu. Perilaku merupakan faktor terbesar kedua yang mempengaruhi status

(9)

2

baik gaya hidup,aktivitas fisik,perilaku makan dan disertai penyiapan

lingkungan yang kondusif (Notoatmodjo, 2003).

Pada tahun 2012, Indonesia Negara kekurangan gizi nomor 5 di dunia.

Peringkat kelima karena jumlah penduduk Indonesia juga di urutan empat terbesar

dunia, Jumlah balita yang kekurangan gizi di Indonesia saat ini sekitar 900 ribu

jiwa. Jumlah tersebut merupakan 4,5 persen dari jumlah balita Indonesia, yakni 23

juta jiwa. Daerah yang kekurangan gizi tersebar di seluruh Indonesia, tidak hanya

daerah bagian timur Indonesia. Hingga hari ini Indonesia masih dihantui kasus

gizi buruk.

Angka kasus Gizi buruk ditahun 2013 masih tinggi di sejumlah daerah. Di

Aceh sepanjang tahun 2013 sebanyak 1.034 bayi meninggal dunia akibat

kekurangan gizi. Angka ini mengalami kenaikan sebesar lima persen jika

dibandingkan tahun 2012 yang hanya 985 balita. Kepala Seksi Kesehatan Ibu

Anak dan Gizi Dinas Kesehatan Aceh Dr Sulasmi, mengatakan, angka kematian

ini disebabkan karena kekurangan gizi baik saat janin masih berada di dalam

kandungan maupun usia bayi masih di bawah satu tahun.

Propinsi Banten pada tahun 2013 sebanyak 7.213 balita mengalami gizi

buruk dan 53.680 balita kekurangan gizi. Sementara tahun 2012 sebanyak 5.043

balita, tahun 2010 sebanyak 8.737, tahun 2009 sebanyak 7.589 balita penderita

gizi buruk. Padahal APBD banten mengalokasi dana cukup besar untuk

penanggulangan kasus gizi pada balita. Pada 2010 sekitar Rp 2,5 miliar, naik pada

2011 menjadi Rp 5,4 miliar dan pada 2012 menjadi sekitar Rp 9,7 miliar.

(10)

3

tinggi setiap tahunnya. Sementara di propinsi Kalimantan Barat, pada tahun 2013

tercatat 212 kasus gizi buruk 7 balita diantaranya meninggal dunia.

Data ini hanya menggambarkan sebagian kecil kasus yang terjadi.

Fenomena kasus gizi buruk ini sudah seperti gunung es. Bahkan menteri

kesehatan Nafsiah Mboi pesimis jumlah balita penderita gizi burukmenurun

mencapai target yang ditentukan dalam Millenium Development Goals (MDGs)

2015. Menurut Nafsiah, prevalensi gizi kurang pada balita masih 17,9 persen dan

dikhawatirkan target MDGs tidak tercapai.

Pada kasus yang ditemukan di kelurahan Harjosari 2 kecamatan Medan

Amplas terdapat anak yang memiliki masalah nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

dengan usia 5 tahun dan berat badan 12 kg,konjungtiva pucat,An.A terlihat

lemas,Ny.T mengatakan An.A malas makan dan tidak suka makan sayuran.

Dari latar belakang tersebut,penulis tertarik untuk mengangkat kasus

kebutuhan dasar nutrisi. Penulis menggunakan proses asuhan keperawatan yang

meliputi pengkajian,diagnosa keperawatan,intervensi,implementasi dan evaluasi dalam karya tulis ilmiah dengan judul “Asuhan Keperawatan pada An.A dengan

Prioritas Masalah Kebutuhan Dasar Nutrisi di Kelurahan Harjosari Kecamatan

Medan Amplas”.

2. Tujuan

a. Tujuan Umum

Karya tulis ilmiah ini bertujuan untuk memberikan asuhan

keperawatan kepada An.A dengan Prioritas Masalah Kebutuhan Dasar

(11)

4 b. Tujuan Khusus

a. Mampu melakukan pengkajian pada An.A dengan masalah kebutuhan

nutrisi.

b. Mampu menegakkan diagnosa pada An.A dengan masalah kebutuhan

nutrisi.

c. Mampu memberikan intervensi pada An.A dengan masalah kebutuhan

nutrisi.

d. Mampu memberikan implementasi pada An.A dengan masalah

kebutuhan nutrisi.

e. Mampu melakukan evaluasi pada An.A dengan masalah kebutuhan

nutrisi.

3. Manfaat

1. Pendidikan

Dapat menjadi bahan bacaan bagi mahasiswa keperawatan serta

perawat yang ada dirumah sakit untuk mengambil langkah-langkah asuhan

keperawatan dalam upaya peningkatkan mutu pelayanan keperawatan

khususnya asuhan keperawatan dengan prioritas masalah kebutuhan dasar

nutrisi.

2. Perawat

Dapat menjadi bahan bacaan dalam menentukan asuhan

(12)

5 3. Pasien dan Keluarga

Memperoleh pengetahuan tentang kebutuhan nutrisi serta

meningkatkan kemandirian bagi keluarga dalam merawat keluarga yang

mengalami masalah kebutuhan nutrisi.

4. Penulis

Dapat memperoleh pengetahuan dan pengalaman dalam

melaksanakan asuhan keperawatan dengan masalah kebutuhan dasar

(13)

6 BAB II

PENGELOLAAN KASUS

A. Konsep Dasar Nutrisi

1. Pengertian Nutrisi

Nutrisi merupakan elemen penting untuk proses dan fungsi tubuh. Enam

kategori zat makanan adalah air, karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan

mineral. Kebutuhan energi dipenuhi dengan metabolisme karbohidrat, protein, dan

lemak. Air adalah komponen tubuh vital dan bertindak sebagai penghancur zat

makanan. Vitamin dan mineral tidak menyediakan energi, tetapi penting untuk

proses metabolisme dan keseimbangan asam basa (Potter dan Perry, 2005).

Nutrisi adalah zat-zat gizi atau zat-zat lain yang berhubungan dengan

kesehatan dan penyakit, termasuk keseluruhan proses dalam tubuh manusia untuk

menerima makanan atau bahan-bahan dari lingkungan hidupnya dan

menggunakan bahan-bahan tersebut untuk aktivitas penting dalam tubuh serta

mengeluarkan sisanya. Nutrisi juga dapat dikatakan sebagai ilmu tentang

makanan,zat-zat gizi dan zat-zat lain yang terkandung,aksi,reaksi,dan

keseimbangan yang berhubungan dengan kesehatan dan penyakit. ( Tarwoto dan

Wartonah,2006).

Kebutuhan nutrisi merupakan kebutuhan yang sangat penting dalam proses

pertumbuhan dan perkembangan pada bayi dan anak, mengingat manfaat nutrisi

dalam tubuh dapat membantu proses pertumbuhan dan perkembangan anak, serta

(14)

7

kekurangan energi dan protein, anemia, defisiensi yodium, defesiensi seng (Zn),

defesiensi vitamin A, defesiensi Thimin, defesiensi Kalium dan lain-lain yang

dapat menghambat proses tumbuh kembang anak. Terpenuhinya kebutuhan nutrisi

pada bayi adan anak diharapkan anak dapat tumbuh dengan cepat sesuai dengan

usia tumbuh kembang dan dapat meningkatkan kualitas hidup, serta mencegah

terjadinya morbiditas dan mortalitas (Hidayat,2005).

Nutrisi merupakan elemen penting untuk proses dan fungsi tubuh. Enam

kategori zat makanan adalah air,karbohidrat, protein,lemak,vitamin dan mineral.

Kebutuhan energi dipenuhi dengan metabolism karbohidrat,protein dan lemak.

Air adalah komponen tubuh vital dan bertindak sebagai penghancur zat makanan.

Vitamin dan mineral tidak menyediakan energi,tetapi penting untuk proses

metabolism dan keseimbangan asam basa (Potter dan Perry,2005).

Kebutuhan nutrisi merupakan kebutuhan terhadap proses pemasukan dan

pengolahan zat makanan oleh tubuh yang bertujuan menghasilkan energi dan

digunakan dalam aktivitas tubuh. Dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi terdapat

sistem tubuh yang berperan adalah sistem pencernaan yang terdiri dari saluran

pencernaan dan organ assesoris. Saluran pencernaan dimulai dari mulut sampai

usus halus bagian distal,dan organ assesoris terdiri dari hati,kandung empedu dan

pankreas (Alimul Aziz,2012).

2. Komponen Zat Gizi, Manfaat dan Fungsinya.

Zat gizi merupakan unsur yang penting dari nutrisi mengingat zat gizi

tersebut dapat memberikan fungsi tersendiri pada nutrisi, kebutuhan nutrisi tidak

akan berfungsi secara optimal apabila tidak mengandung beberapa zat gizi yang

(15)

8

kebutuhan nutrisi akan memberikan nilai yang optimal. Ada beberpa komponen

zat gizi yang dibutuhkan pada nutrisi bayi dan ank yang jumlahnya sangat berbeda

untuk setiap umur.Secara umum zat gizi dibagi menjadi dua golongan yaitu

golongan makro dan golongan mikro :untuk zat gizi golongan makro terdiri dari

kalori dan H2O (air), untuk kalori berasal dari karbohidrat, protein dan lemak,

H2O(air) sedangkan kelompok zat gizi mikro terdiri dari vitamin dan mineral

(Berhman, dkk. 1996).

Dibawah ini akan diuraikan komponen zat gizi sebagai berikut:

a. Karbohidrat

Karbohidrat merupakan sumber energi utama. Hampir 80% energi

dihasilkan dari karbohidrat. Setiap 1 gram karbohidrat menghasilkan 4 kkal.

Karbohidrat yang disimpan dalam hati dan otot berbentuk glikogen dengan jumlah

yang sangat sedikit. Glikogen adalah sintesis dari glukosa, pemecahan energi

selama masa istirahat/puasa. Kelebihan energi karbohidrat berbentuk asam lemak.

Karbohidrat merupakan sumber energi yang tersedia dengan mudah

disetiap makanan, karbohidrat harus tersedia dalam jumlah yang cukup sebab

kekurangan karbohidrat sekitar 15% dari kalori yang ada maka dapat

menyebabkan terjadi kelaparan dana berat badan menurun demikian sebaliknya

apabila jumlah kalori yang tersedia atau berasal dari karbohidrat dengan jumlah

yang tinggi dapat menyebabkan terjadi peningkatan berat badan (obesitas). Dalam

mendapatkan jumlah karbohidrat yang cukup maka dapat diperoleh dari susu,

padi-padian, buah-buahan, sirup, sukrosa, tepung, dan sayu-sayuran (Aziz Alimul

(16)

9

Karbohidrat mempunyai fungsi antara lain adalah sebagai berikut :

1) Sumber energi, fungsi utama karbohidrat adalah menyediakan energi bagi

tubuh,satu gram karbohidrat menghasilkan empatKkal.

2) Pemberi rasa manis pada makanan, khususnya monosakarida dan disakarida.

Fruktosa adalah gula paling manis. Bila tingkat kemanisan sukrosa diberi nilai

1, maka tingkat kemanisan fruktosa adalah 1,7; glukosa 0,7;maltosa 0,4;

laktosa 0,2.

3) Penghemat protein, bila karbohidrat makanan tidak mencukupi, maka protein

akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan energi, dengan mengalahkan

fungsi utamanya sebagai zat pembangun. Sebaliknya, bila karbohidrat

makanan mencukupi, protein terutama akan digunakan sebagai zat

pembangun.

4) Pengatur metabolisme lemak. Karbohidrat mencegah terjadinya oksidasi

lemak yang tidak sempurna (Ari Yuniastuti. 2008).

Akibat kekurangan karbohidrat antara lain adalah sebagai berikut :

a) Kurangnya tenaga dan tubuh menjadi lemah jika sumber energi yang lain

(protein dan lemak) juga kurang mencukupi kebutuhan energi.

b) Lemahnya daya pikir karena otak dan sistem saraf pusat membutuhkan

glukosa sebagai sumber energinya.

c) Terhambatnya metabolisme lemak.

d) Protein akan digunakan terlebih dahulu untuk menghasilkan energi

sehingga tidak berfungsi lagi sebagai pembangun.

(17)

10

Kelebihan karbohidrat dapat menyebabkan terjadinya kegemukan dan

obesitas. Hal ini terjadi kerena kelebihan karbohidrat akan disimpan sebagai

glikogen dalam hati dan jaringan otot, dan sebagiannya akan diubah menjadi

lemak sebagai cadangan energi (Rahayu Widodo.2009).

b. Lemak

Lemak merupakan zat gizi yang berperan dalam pengangkut vitamin A, D,

E, K yang larut dalam lemak. Menurut sumbernya lemak berasal dari nabati dan

hewani. Lemak nabati mengandung lebih banyak asam lemak tak jenuh seperti

terdapat pada kacang-kacangan, kelapa dan lain-lainnya. Sedangkan Lemak

hewani banyak mengandung asam lemak jenuh dengan rantai panjang seperti pada

daging sapi, kambing dan lainnya.

Dengan demikian, lemak dapat digolongkan menjadi :

1. Lemak dalam tubuh, yaitu lipoprotein (trigliserida, fosfolipid dan

kolesterol) yang bergabung dengan protein dihasilkan dihati dan mukosa

usus untuk mengangkut lemak yang tidak larut. Jenis yang terdapat di

dalam tubuh adalah HDL (High Dencity Lipoprotein), LDL (Low Dencity

Lipoprotein), VLDL (Very Low Dencity Lipoprotein), dan glikolipid

(merupakan senyawa lipid yaitu gliserol dan asam lemak bergabung

dengan karbohidrat, fosfat, dan atau nitrogen.

2. Lemak yang terdapat dalam bahan pangan dan dapat digunakan oleh tubuh

manusia yaitu:

a. Trigliserida banyak ditemukan pada hewani maupun nabati.

b. Asam lemak jenuh (Saturated Fathy Acid-SAFA) yaitu lemak yang

(18)

11

yang banyak ditemukan pada lemak hewani, keju, mentega, minyak

kelapa dan coklat.

c. Asam lemak tidak jenuh ditemukan pada minyak kacang tanah.

d. Fosfolipid ditemukan pada pangan nabati maupun hewani.

e. Kolesterol ditemukan dalam jaringan hewan seperti telur, daging,

lemak susu.

Lemak mempunyai fungsi yang cukup banyak, lemak yang terdapat dalam

bahan pangan berfungsi sebagai : Sumber energi, di mana tiap gram lemak

menghasilkan 9-9,3 Kkal/g,menghemat protein dan thiamin,membuat rasa

kenyang lebih lama,pemberi cita rasa dan keharuman yang lebih baik,memberi zat

gizi yang lain yang diberikan tubuh. Sedangkan fungsi lemak dalam tubuh adalah

sebagai pembangun/pembentuk susunan tubuh,pelindung kehilangan panas

tubuh,sebagai penghasil asam lemak esensial,sebagai pelarut vitamin A, D, E,

K,sebagai pelumas diantara persendian, sebagai agen pengemulsi yang akan

mempermudah transpor substansi lemak keluar masuk melalui membran

sel,sebagai prekursor dariprostatglandin yang berperan mengatur tekanan darah,

denyut jantung dan lipolisis (Ari yuniastuti. 2008).

Akibat kelebihan dan kekurangan lemak menimbulkan gangguan saraf,

penglihatan, pertumbuhan menjadi terhambat, kegagalan reproduksi, gangguan

kulit, gangguan ginjal dan hati, sedangkan kelebihan lemak akan menimbulkan

obesitas (Rahayu, Widodo. 2009)

Komponen lemak dalam tubuh harus tersedia dalam jumlah yang cukup

sebab kekurangan lemak akan menyebabkan terjadinya perubahan kulit khususnya

(19)

12

yang banyak akan menyebabkan hiperlipidemia, hiperkolesterol atau dapat

menyebabkan penyumbatan darah dan lain-lain (Solihin Pudjiadi. 2001).

Sumber utama lemak adalah minyak tumbuh-tumbuhan (minyak kelapa,

kelapa sawit, kacang tanah, kacang kedelai, jagung dan sebagainya), mentega,

margarin, dan lemak hewan (lemak daging dan ayam). Sumber lemak lain adalah

kacang-kacangan, biji-bijian, krim, susu, keju, dan kuning telur, serta makanan

yang dimasak dengan lemak atau minyak. Sayur dan buah (kecuali alvukat)

sedikit mengandung lemak (Ari Yuniastuti. 2008)

c. Protein

Merupakan zat gizi dasar yang berguna dalam pembentukan

protoplasmasel, selain itu tersedianya protein dalam jumlah yang cukup penting

untuk pertumbuhan dan perbaikan sel jaringan dan sebagai larutan untuk

keseimbangan osmotik. Protein ini terdiri dari 24 asam amino diantaranya 9 asam

amino esensial diantaranya thrionin, valin, leusin, isoleusin, lisin, triftofan,

penilalanin, metionin dan histidin, selebihnya asam amino non esensial. Jumlah

protein dalam tubuh tersebut harus tersedia dalam jumlah yang cukup apabila

jumlahnya berlebih atau tinggi dapat memperburuk insufisiensi ginjal demikian

juga apabila jumlahnya kurang maka dapat menyebabkan kelemahan, edema,

dapat kwhashiokor apabila kekurangan protein saja tetapi jika kekurangan protein

dan kalori menyebabkan marasmus (Solihin Pudjiadi. 2001).

Sumber protein bersal dari yaitu :

1) Protein hewani yaitu protein yang berasal dari hewan seperti susu, daging,

(20)

13

2) Protein nabati yaitu protein yang berasal dari tumbuhan seperti jagung,

kedelai, kacang hijau, terigu, dan sebagainya.

Berdasarkan susunan kimianya, protein dapat dibagi menjadi 3 golongan yaitu :

1) Protein sederhana. Jenis ini tidak berikatan dengan zat lain, misalnya

bumin,dan globulin.

2) Protein bersenyawa. Protein ini dapat membentuk ikatan dengan zat

seperti dengan glikogen membentuk glikoprotein, dengan hemoglobin

membentuk kromoprotein.

3) Turunan atau devirat dari protein. Termasuk dalam turunan protein adalah

albuminosa, pepton, dan gelatin.

Protein mempunyai fungsi sebagai berikut:

1) Membentuk jaringan baru dalam masa pertumbuhan dan perkembangan

tubuh.

2) Memelihara jaringan tubuh, memperbaiki serta mengganti jaringan yang

rusak atau mati.

3) Menyediakan asam amino yang diperlukan untuk membentuk pencernaan

dan metabolisme serta antibodi yang diperlukan.

4) Mengatur keseimbangan air yang terdapat dalam kompartemenyaitu

intraseluler, ekstra seluler/interseluler dan intravaskuler.

(21)

14 d. Vitamin

Vitamin merupakan senyawa organik yang digunakan untuk

mengkatalisator metabolisme sel yang dapat berguna untuk pertumbuhan dan

perkembangan serta dapat mempertahankan organisme, vitamin yang dibutuhkan

antara lain:

1. Vitamin A (Retinol) yang harus tersedia dalam jumlah yang cukup yang

mempunyai pengaruh dalam kemampuan fungsi mata serta pertumbuhan

tulang dan gigi dan dalam pembentukan maturasi epitel, vitamin ini dapat

diperoleh dari hati, minyak ikan, susu, kuning telur, margarin,

tumbuh-tumbuhan, sayur-sayuran dan buah-buahan.

2. Vitami B kompleks (Thiamin) yang merupakan vitamin yang larut dalam air

akan tetapi tidak larut dalam lemak, yang dapat menyebabkan penyakit

beri-beri, kelelahan, anoreksia, konstipasi, nyeri kepala, insomnia, takikardi,

edema, asam piruvat dalam darah akan meningkat apabila tersedia dalam

jumlah yang kurang, kebutuhan vitamin ini dapat diperoleh dari dalam hati,

daging, susu.

3. Vitamin B2 (Riboflavin) merupakan vitamin yang sedikit larut dalam air,

vitamin ini harus tersedia dalam jumlah yang cukup, apabila kurang dapat

menyebabkan fotophobia, penglihatan kabur, gagal dalam pertumbuhan.

Vitamin ini dapat diperoleh di dalam susu, keju, hati, daging, telur, ikan,

sayur-sayuran hijau dan padi.

4. Vitamin B12 (Sianokobalamin) merupakan vitamin yang sedikit larut dalam

(22)

15

sumsum tulang, pengaruh kekurangan vitamin ini dapat menyebabkan anemia

dan vitamin ini dapat diperoleh dari daging organ, ikan, telur, susu, dan keju.

5. Vitamin C (Asam ascorbat) merupakan vitamin yang larut dalam air yang

mudah dioksidasi dan dipercepat oleh panas atau cahaya, kekurangan vitamin

ini dapat menyebabkan lamanya proses penyembuhan luka, vitamin ini dapat

tersedia dalam tomat, buah semangka, kubis, sayur-sayuran hijau.

6. Vitamin D merupakan vitamin yang dapat larut dalam lemak dan akan stabil

dalam suasana panas, vitamin ini berguna dalam pengatur penyerapan dan

pengendapan kalsium dan fosfor dengan mempengaruhi permeabilitas

membran usus, mengatur kadar alkali fosfatase serum, kekurangan vitamin ini

akan menyebabkan pertumbuhan jelak dan osteomalasia. Jika anak-anak

kekurangan vitamin D, erupsi/keluarnya gigi dapat menjadi terhambat. Selain

itu, kekurangan vitamin D juga bisa menghambat pembentukan lapisan dentin.

Hubungan antara vitamin D dengan karies gigi dijelaskan dalam penelitian di

USA dan Kanada memberikan kesimpulan yang sama. Prevalensi dari karies

lebih banyak terdapat di negara-negara bagian utara dibandingkan dengan

negara-negara tropis. Ini disebabkan sedikitnya sinar matahari dan

mengakibatkan sintesa vitamin D di kulit berkurang, pengikisan menyebabkan

kerusakan pada gigi anak-anak. Dalam hal ini vitamin D akan berfungsi pada

waktu absorbsi dan metabolisme kalsium dalam pembentukan tulang gigi

(Mustafa, 1993).

7. Vitamin E merupakan vitamin yang larut dalam lemak dan tidak stabil

terhadap sinar ultraviolet yang dapat berfungsi dalam meminimalkan oksidasi

(23)

16

terjadi kekurangan dapat menyebabkan hemolisis sel darah merah pada bayi

prematur dan akan menyebabkan kehilangan keutuhan saraf. Vitamin E dapat

diperoleh dari minyak, biji-bijian dan kacang-kacangan.

8. Vitamin K merupakan vitamin yang larut dalam lemak yang dapat berfungsi

sebagai pembentukan protombin, faktor koagulasi II, VII, IX, X yang harus

tersedia dalam tubuh yang cukup apabila terjadi kekurangan dapat

menyebabkan perdarahan dan metabolisme tulang yang tidak stabil, vitamin

ini tersedia dalam sayuran berdaun hijau, daging dan hati. (Solihin Pudjiadi

2001).

Kekurangan vitamin dalam tubuh lambat laun akan menampakkan

gejala-gejala berupa terhentinya pertumbuhan dan gangguan kesehatan. Gejala ini

tergantung pada jenis vitamin yang mengalami kekurangan beberapa macam

vitamin secara bersamaan.

Kelebihan vitamin terutama golongan vitamin larut lemak, dapat

membahayakan tubuh.Hal ini disebabkan oleh vitamin ditimbun dalam

jaringan.Sebagai contoh kelebihan vitamin A dan D yang disebabkan oleh

pemberian dosis tinggi secara terus menerus atau dalam jangka waktu lama.

Untuk vitamin yang larut dalam air (vitamin B dan C) tidak terlalu

membahayakan karena kelebihannya dibuang melalui ginjal (Rahayu Widodo

2009).

e. Mineral

Mineral merupakan komponen zat gizi yang tersedia dalam kelompok

(24)

17

iodium, besi, magnesium,mangan,fosfor, kalium, natriun, sulfur, dan

seng.Semuanya harus tersedia dalam jumlah yang cukup.

Kalsium merupakan mineral yang berguna untuk pengaturan struktur

tulang dan gigi, kontraksi otot, iritabilitas syaraf, koagulasi darah, kerja jantung,

dan produksi susu. Kalsium ini akan diekskresi 70% dalam tinja, 10% dalam

urine, 15-25% tertahan dan tergantung dalam kecepatan pertumbuhan. Kadar

kalsium ini harus tersedia dalam jumlah yang cukup karena apabila terjadi

kekurangan menyebabkan mineralisasi tulang dan gigi jelek, osteomalasia,

osteoporosis, rakhitis, dan gangguan pertumbuhan. Tersedianya kalsium ini dapat

diperoleh dari susu, keju, sayuran hijau, kerang , dan lain-lain.

Klorida sangat berguna dalam pengaturan tekanan osmotik, keseimbangan

asam dan basa, yang tersedia dalam garam, daging, susu, dan telur. Golongan

mineral lainnya seperti chromium ini berguna untuk glikemia dan metabolisme

dalam insulin yang tersedia dalam ragi, tembaga yang berguna untuk produksi sel

darah merah, pembentukan hemoglobin, penyerapan besi dan

lain-lain.Kekurangan zat besi dapat menyebabkan anemia dan osteoporosis. Apabila

zat besi berlebih dapat menyebabkan sirosis dan gastritis, hemolisis, tersedianya

tembaga terdapat dalam hati, daging, ikan, padi, dan kacang-kacangan.

Flour merupakan mineral yang berfungsi untuk pengaturan struktur gigi

dan tulang yang apabila tersedia dalam jumlah yang kurang menyebabkan caries

gigi. Sumber dari flour ini terdapat pada air, makanan laut, tumbuh-tumbuhan.

Mineral lain adalah yodium yang merupakan unsurtiroksin dan triiodotironin

yang harus tersedia dalam jumlah yang cukup apabila kurang dapat menyebabkan

(25)

18

merupakan struktur dari hemoglobin untuk pengangkutan karbondioksida (CO2)

dan oksigen(O2)dan kekurangan besi menyebabkan anemia, zat besi tersebut

tersedia dalam hati, daging, kuning telur, sayuran hijau, padi dan

tumbuh-tumbuhan. Magnesium berguna dalam aktivasi enzim pada metabolisme

karbohidrat dan sangat penting dalam proses metabolisme apabila terjadi

kekurangan menyebabkan malabsorbsi yang menyebabkan hipokalsemia atau

hipokalemia, magnesium dapat diperoleh dalam biji-bijian, kacang-kacangan,

daging dan susu. Mangan mineral yang berfungsi dalam aktivitas enzim yang

terdapat dalam kacang-kacangan, padi, biji-bijian dan sayuran hijau. Fosfor

merupakan unsur pokok dalam pertumbuhan tulang dan gigi, kekurangan dapat

menyebabkan kelemahan otot, fosfor tersebut dapat diperoleh dari susu, kuning

telur, kacang-kacangan, padi-padian, dan lain-lain. Kalium berfungsi dalam

kontraksi otot dan hantaran impuls syaraf, keseimbangan cairan, pengaturan irama

jantung. Kalium ini dapat diperoleh dari semua makanan. Natrium berguna dalam

pengaturan tekanan osmotik, pengaturan keseimbangan asam dan basa,

keseimbangan cairan. Kekurangan ini dapat menyebabkan kram otot, nausea,

dehidrasi, hipotensi, natrium ini dapat diperoleh dari garam, susu, telur, tepung

dan lain-lain. Sulfur merupakan unsur pokok dalam protein seluler yang

membantu proses metabolisme jaringan syaraf, sulfur ini dapat diperoleh

darimakanan protein yang mengandung 1%, dan seng merupakan unsur pokok

dari beberapa enzim karboniok anhidrase yang penting dalam pertukaran

karbondioksida (CO2) yang tersedia dalam daging, padi-padian, kacang-kacangan

dan keju. (Solihin Pudjiadi, 2001).

(26)

19

1. Ca yaitu keropos tulang, saraf otot mudah terangsang, penyakit

hipoparatiroidisme, gagal ginjal.

2. K yaitu kelemahan otot, rasa sangat letih, gangguan konsentrasi dan irama

jantung.

3. Na, Cl yaitu mual, muntah, sangat lelah, nyeri kepala, kejang otot betis,

lengan dan perut.

4. Mg yaitu kejang otot, aritmia (jantung)

5. P yaitu penyakit riketsia (Rahayu widodo. 2010).

f. Air

Air merupakan sebagian besar zat pembentuk tubuh manusia.Jumlah air

sekitar 73% dari bagian tubuh seseorang tanpa jaringan lemak (lean body

mass).Tergantung jumlah lemak yang terdapat dalam tubuh, proporsi air ini

berbeda antar orang.Pada orang gemuk, perbandingan antara air dan lemak sekitar

50% berbanding 50%.Pada pria normal, perbandingannya antara 60% berbanding

16%.Pada orang kurus perbandingan tersebut adalah 67% dengan 7%.Pada bayi

perbandingan tersebut sangat mencolok, yaitu 78% dan 0%. Dengan perkataan

lain jumlah air yang terdapat dalam tubuh manusia adalah;

1. Sekitar 80% dari berat badan (untuk bayi dengan low birth weight)

2. Sekitar 70-75% dari berat badan (untuk bayi neonatus)

3. Sekitar 65% dari berat badan (untuk anak) dan

4. Sekitar 55-60% dari berat badan (untuk dewasa)

Air mempunyai berbagai fungsi dalam proses vital tubuh, yaitu:

(27)

20

Air dalam tubuh berfungsi sebagai pelarut zat-zat gizi berupa

monosakarida, asam amino, lemak, vitamin dan mineral serta

bahan-bahan lain yang diperlukan tubuh seperti oksigen, dan hormon-hormon.

2. Katalisator

Air berperan sebagai katalisator dalam berbagai reaksi biologi dalam sel,

termasuk di dalam saluran cerna.Air diperlukan pula untuk memecah atau

menghidrolisis zat gizi kompleks menjadi bentuk-bentuk yang lebih

sederhana.

3. Pelumas

Air berperan sebagai pelumas dalam cairan sendi-sendi tubuh.

4. Fasilitator Pertumbuhan

Air sebagai bagian jaringan tubuh diperlukan untuk pertumbuhan.Dalam

hal ini air berperan sebagai zat pembangun.

5. Pengatur Suhu

Karena kemampuan air untuk menyalurkan panas, air memegang peranan

dalam mendistribusikan panas dalam tubuh.

6. Peredam benturan

7. Air dalam mata, jaringan saraf tulang belakang dan dalam kantung ketuban

melindungi organ-organ tubuh dari benturan.

Kebutuhan air sehari dinyatakan sebagai proporsi terhadap jumlah energi

yang dikeluarkan tubuh dalam keadaan lingkungan rata-rata. Untuk orang dewasa

dibutuhkan sebanyak 1,0-1,5 mlk/kkal, sedangkan untuk bayi 1,5ml/kkal (Ari

(28)

21

Kekurangan cairan dapat berakibat fatal seperti pada diare dan

muntaber.Seseorang dapat mengalami kekurangan cairan jika tidak diimbangi

dengan pemasukan cairan yang cukup. Gejala kekurangan cairan (dehidrasi)

berupa rasa haus, mulut dan bibir kering, kulit menjadi keriput, berkurangnya air

seni dan berat badan, gelisah, mengantuk, lemah otot, sesak nafas (Rahayu

Widodo. 2009).

3. Kebutuhan Energi

Kebutuhan energi seseorang tergantung pada usia, ukuran tubuh dan

kegiatan, jenis kelamin, pertumbuhan, iklim, status kesehatan, istirahat dan tidur,

serta makanan dan aktivitas. Berat tubuh seseorang bergantung pada jumlah kalori

yang tersedia untuk energi yang dikeluarkan. Untuk mempertahankan berat badan

ideal, diperlukan keseimbangan antara kalori yang masuk dan energi yang

dikeluarkan. Kebutuhan energi juga dapat dipengaruhi oleh kegiatan diwaktu

senggang. Sebagai contoh,bermain sepak bola atau tenis lebih banyak menguras

energi dibandingkan kegiatan membaca atau menonton televisi. Menurut Dudek

(1987), ada tiga cara untuk menghitung kebutuhan nutrisi seseorang.

a. Untuk individu dewasa, penghitungan didasarkan pada kebutuhan kalori dasar

atau basal dan tingkat aktivitas. Kebutuhan kalori basal (KKB) adalah hasil

perkalian antara berat badan ideal (BBI) dan angka 10. Jadi rumus KKB

adalah (BBI x 10). Sedangkan anak-anak dibawah usia 12 tahun umumnya

memerlukan 1000 kalori ditambah 100 kalori dikali usia anak. Bila anak

berusia 5 tahun, kebutuhan kalorinya sebesar 1000 + (100 x 5) = 1500 kalori.

b. Berdasarkan tingkat aktivitas dan jumlah kalori untuk setiap berat badan ideal

(29)

22

c. Pedoman yang digunakan oleh United state dietarian association (USDA)

untuk menghitung jumlah kalori per berat badan menurut jenis kelamin. \

4. Penggunaan energy oleh tubuh.

Energi dibutuhkan untuk keperluan metabolisme basal tubuh, yakni untuk

mempertahankan proses-proses dasar dalam tubuh, dan untuk kegiatan fisik.

1. Metabolisme Basal

Basal Metabolisme rate (BMR) atau laju metabolisme basal adalah

rata-rata metabolisme makanan dalam tubuh untuk memenuhi kebutuhan energi

individu pada saat bangun dan istirahat (Guyton, 1986). Energi yang dibutuhkan

seseorang dalam keadaan istirahat dan nilainya disebut dengan Basal Metabolisme

rate (BMR). Setiap orang nilai basal metabolismenya berbeda, dapat dipengaruhi

oleh berbagai faktor diantaranya: usia, kehamilan, malnutrisi, komposisi tubuh,

jenis kelamin, hormonal dan suhu tubuh (Alimul Aziz, 2012). BMR merupakan

istilah yang digunakan untuk menggambarkan proses-proses metabolisme dasar

yang membuat tubuh tetap hidup. Laju penggunaan energi untuk mempertahankan

metabolisme basal disebut dengan laju metabolisme basal. BMR tiap orang

berbeda dan diukur pada saat orang tersebut saat berbaring dilantai, dalam

keadaan tenang serta hangat, dan dikakukan sedikitnya 12 jam setelah makan

(Sherington & Gaman, 1992). Semua reaksi kimia yang berlangsung dalam sel

tubuh memungkinkan sel tersebut untuk melanjutkan hidupnya. Reaksi tersebut

meliputi reaksi anabolik (penyusunan) dan reaksi katabolik (penguraian). Energi

yang dihasilkan dari proses tersebut dibutuhkan untuk berbagai hal

(30)

23

1. Aktivitas otot untuk melakukan aktivitas, seperti berjalan atau meloncat.

2. Sekresi kelenjar, seperti kelenjar keringat dan kelenjar saliva.

3. Mempertahankan membran potensial saraf dan serabut otot.

4. Sintesis zat-zat didalam tubuh.

5. Absorbsi makanan didalam usus.

Pengukuran BMR dilakukan dengan menentukan jumlah panas yang

dikeluarkan dari tubuh, misalnya dengan mengurung seseorang dalam ruangan

berisolasi dan mengukur pengeluaran panasnya. Selain itu, BMR dapat diukur

dengan cara sederhana, yakni dengan meniupkan napas kedalam alat khusus yang

memantau penghirupan oksigen dan pengeluaran oksigen dan pengeluaran

karbondioksida secara cermat. Faktor yang mempengaruhi BMR :

1. Ukuran tubuh. Individu yang ukuran tubuhnya besar lebih banyak

menggunakan energi dibanding individu yamg ukuran tubuhnya kecil.

2. Usia. Anak-anak mempunyai BMR lebih kecil dibandingkan individu

dewasa.

3. Aktivitas kelenjar tiroid.

4. Kurang gizi.

5. BMR individu dengan gizi buruk lebih rendah dibandingkan individu yang

sehat.

6. Temperatur tubuh.

7. Temperatur lingkungan.

8. Pertunbuhan.

(31)

24 5. Kelompok Rentan Gizi

Kelompok rentan gizi ialah kelompok masyarakat yang paling mudah

menderita kelainan gizi, bila suatu masyarakat terkena kekurangan penyediaan

bahan makanan. Pada umumnya kelompok ini berhubungan dengan proses

pertumbuhan yang relatif pesat, yang memerlukan zat-zat gizi dalam jumlah

relatif besar (Alimul Aziz, 2012).

1. Kelompok bayi

Kebutuhan bayi akan zat-zat gizi adalah yang paling tinggi, bila

dinyatakan dalam satuan berat badan, karena bayi sedang ada dalam

periode pertumbuhan yang sangat pesat. Bayi sehat yang dilahirkan

dengan berat badan cukup sekitar 2,5-3,5 kg akan mencapai kelipatan

berat badannya dalam waktu enam bulan (Alimul Aziz, 2012).

Kebutuhan bayi akan enersi adalah 110-100 kal/kg berat badan sehari dan

kebutuhannya akan protein adalah 3-4 gram/kg berat badan sehari. Usus

neonatus masih steril tidak mengandung flora, sampai mengonsumsi

makanan (ASI) pertama dari luar. Flora usus ini sanggup mensintesa

berbagai vitamin B-kompleks dan vitamin K. Sampai umur enam bulan,

bayi cukup diberi makanan (minuman) ASI. Frekwensi pemberian

makanan dan bentuk makanan yang diberikan kepada bayi sebaiknya

sesuai dengan kondisi anatomis dan fungsional alat pencernaannya

(Alimul Aziz, 2012)

(32)

25

Anak balita juga merupakan kelompok yang menunjukkan pertumbuhan

badan yang pesat, sehingga memerlukan zat-zat gizi yang tinggi setiap kg

berat badannya. Anak balita ini justru merupakan kelompok umur yang

paling sering menderita akibat kekurangan gizi (KKP). Di Indonesia anak

kelompok balita menunjukkan prevalensi paling tinggi untuk penyakit

KKP dan defisiensi vitamin A serta anemia defisiensi Fe (Alimul Aziz,

2012).

3. Kelompok anak sekolah

Kelompok anak sekolah pada umumnya mempunyai kondisi gizi yang

lebih baik dari pada kelompok balita, karena kelompok umur sekolah ini

sudah mudah dijangkau oleh berbagai upaya perbaikan gizi yang

dilakukan oleh pemerintah melalaui Usaha Kesehatan Sekolah (UKS)

(Alimul Aziz, 2012).

4. Kelompok remaja

Kelompok umur remaja menunjukkan fase pertumbuhan yang pesat,

sehingga memerlukan zat-zat gizi yang relatif besar jumlahnya.

5. Kelompok ibu hamil

Ibu yang sedang hamil bersangkutan pula dengan proses pertumbuhan,

yaitu pertumbuhan fetus yang ada di dalam kandungan dan pertumbuhan

berbagai organ ibu pendukung proses kehamilan tersebut, seperti alat

kandungan, mammae, dan lainnya. Kondisi gizi dan konsumsi ibu yang

sedang hamil akan berpengaruh pada kondisi fetus dan neonatus setelah

(33)

26

6. Ibu yang menyusukan

Postpartum badan ibu menyesuaikan kembali alat-alat kandungan menjadi

bentuk normal seperti sebelum kehamilan, sedangkan mamae menyiapkan

diri dan mulai berfungsi menghasilkan ASI. Melalui ASI zat-zat yang

diperlukan neonatus diberikan dari tubuh ibunya dari persediaan yang

telah dipersiapkan terlebih dahulu (Alimul Aziz, 2012).

7. Manusia lanjut usia

Lansia dimasukkan ke dalam kelompok rentan gizi, meskipun tidak ada

hubungannya dengan pertumbuhan badan, bahkan sebaliknya sudah terjadi

involusi dan degenerasi jaringan dan sel-selnya. Timbulnya kerentanan

terhadap kondisi gizi disebabkan kondisi fisik, baik anatomis maupun

fungsionalnya (Alimul Aziz, 2012).

B. Asuhan Keperawatan dengan Masalah Kebutuhan Nutrisi

1. Pengkajian

Status nutrisi seseorang, dapat dikaji dengan menggunakan pedoman A-B-C-D.

A : Pengukuran antropometrik (antropometric measurements)

B : Data biomedis (biomedical data)

C : Tanda-tanda klinis status nutrisi (clinical signs)

(34)

27

Tabel 2.1 Pengkajian umum status gizi individu

Area pemeriksaan Tanda-tanda normal Tanda-tanda abnormal (malnutrisi) Penampilan umum dan

vitalitas

Gesit, energik, mampu beristirahat dengan baik

Apatis, lesu, tampak lelah

Berat badan Dalam rentang normal,

sesuai dengan usia dan tinggi badan

Berat badan kurang atau berlebih

Rambut Rambut bercahaya

berminyak tidak kering

Rambut kering kusam, pecah-pecah tipis, rapuh

Kulit Lembab, sedikit lembab,

turgor kulit baik

Kering, kusam,

pecah-pecah, pucat atau

berpigmen ada petekia

atau memar lemak

Lidah Merah muda, lembab Berwarna merah,

bengkak, ukuran lidah

bertambah atau

berkurang

Bibir Lembap, merah muda Bengkak, pecah-pecah

pada sudut bibir

Gusi Merah muda, lembab Bengkak, meradang,

mudah berdarah,

Sistem pencernaan Nafsu makan baik,

eliminasi normal dan

teratur

Anoreksia, indigesti,

diare, konstipasi

Sistem kardiovaskuler Nadi dan tekanan darah normal, irama jantung normal

Frekuensi nadi

meningkat, tekanan darah meningkat, irama jantung abnormal (tidak teratur)

Sistem persarafan Refleks normal, waspada

perhatian baik, emosi stabil

Refleks menurun, emosi

tidak stabil, kurang

(35)

28 Berat badan normal anak usia 5 tahun:

Umur Berat badan ideal Tinggi badan ideal

5 tahun 14,7-18,4 Kg 87,2-109 Cm

Komponen-komponen pengkajian nutrisi meliputi:

a. Pengukuran antropometrik

Metode pengaturan ini meliputi pengkajian ukuran dan proporsi ukuran

dan proporsi tubuh manusia. Pengukuran antropometrik terdiri atas:

1. Tinggi badan. Pengukuran tinggi badan pada individu dewasa dan balita

dilakukan dalam posisi berdiri tanpa alas kaki, sedangkan pada bayi

dilakukan dalam posisi berbaring. Pada kasus-kasus tertentu, seperti pasien

yang mengalami cedera dan fraktur tulang belakang, pengukuran

dilakukan dalam posisi berbaring. Satuan tinggi badan adalah cm atau inci.

2. Berat badan. Alat ukur yang lazim digunakan untuk mengukur berat badan

adalah timbangan manual, meskipun ada pula alat ukur yang

menggunakan system digitalik elektrik. Hal-hal yang harus diperhatikan

saat mengukur berat badan adalah :

a. Alat serta skala alat ukur yang digunakan harus sama setiap kali

menimbang.

b. Pasien ditimbang tanpa alas kaki.

c. Pakaian diusahakan tidak tebal dan relatif sama beratnya setiap kali

menimbang.

(36)

29

Dalam menilai berat badan pasien, kita perlu mempertimbangkan tinggi

badan, bentuk rangka, proporsi lemak, otot, dan tulang, serta bentuk dada pasien.

Disamping itu, kita juga perlu mengkaji kondisi patologis yang berpengaruh

terhadap berat badan, seperti edema, splenomegali, asites, gagal jantung atau

kardiomegali.

3. Tebal lipatan kulit. Pengukuran tebal lipatan kulit bertujuan untuk

menentukan persentase lemak pada tubuh. Pengukuran ini mencerminkan

massa otot, jumlah lemak di jaringan subkutan, dan status kalori. Selain

itu, pengukuran ini juga digunakan untuk mengkaji kemungkinan

malnutrisi. Berat badan normal, atau obesitas (Kamath, 1986). Area yang

sering digunakan untuk pengukuran ini adalah lipatan kulit trisep, scapula,

dan suprailiaka. Hal-hal yang perlu diperhatikan saat pengukuran antara

lain:

a. Anjurkan klien untuk membuka baju guna mencegah kesalahan pada hasil

pengukuran.

b. Perhatikan selalu privasi dan rasa nyaman klien.

c. Dalam pengukuran, utamakan lengan klien yang tidak dominan.

d. Pengukuran dilakukan pada titik tengah lengan atas, antara akrpmion dan

olekranon.

e. Ketika pengukuran dilakukan, anjurkan klien untuk relaks.

f. Alat yang digunakan adalah kaliper.

4. Lingkar tubuh. Umumnya, area tubuh yang digunakan untuk pengukuran

(37)

30

dan kepala digunakan dalam pengkajian pertumbuhan dan perkembangan

otak bayi. Sedangkan lingkar lengan atas (LLA) dan lingkar lengan otot

atas (LOLA) digunakan untuk menilai status nutrisi. Satuan ukuran untuk

LLA adalah sentimeter. LLA diukur dengan menggunakan alat ukur yang

umum digunakan tukang jahit (tape around). Pengukuran dilakukan pada

titik tengah lengan yang tidak dominan.

Lingkar pergelangan tangan merupakan area pengkajian yang digunakan

untuk menilai bentuk atau kerangka tubuh manusia. Untuk mengukurnya,

meteran diletakkan sekeliling bagian distal pergelangan tangan dekat

prosesus stiloideus. Bila hasil pengukuran lebih dari 10,4 cm, kerangka

atau bentuk tubuh dianggap besar. Jika hasilnya 9,6-10,4 cm kerangka atau

bentuk tubuh dianggap sedang, dan jika kurang dari 9,6 cm dianggap kecil

(Potter & Perry, 1992).

b. Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik dilakuakan pada klien merupakan penilaian kondisi fisik

yamg berhubungan dengan masalah malnutrisi. Prinsip pemeriksaan ini adalah

head to toe yaitu dari kepala sampai ke kaki. Selanjutnya dilakukan pengamatan

terhadap tanda-tanda atau gejala klinis defesiensi nutrisi.

c. Pemeriksaan Biokimia

Nilai umum yang digunakan dalam pemeriksaanini adalah kadar total

limfosit, albumin serum, zat besi, transferin serum, kreatinin, hemoglobin,

(38)

31

pemeriksaan laboratorium yang menunjukkan risiko status nutrisi buruk meliputi

penurunan hemoglobin dan hematokrit, penurunan nilai limfosit, albumin serum

kurang dari 3,5 gr/dl, dan peningkatan atau penurunan kadar kolestrol (Taylor,

1989).

d. Riwayat Diet

Kira-kira remaja putri disekolah menegah pernah mencoba diet sedikitnya

satu kali, dan 40 % nya berdiet disembarang waktu. Untuk mengetahui riwayat

diet seseorang,kita bisa melakukan wawancara mengenai status gizi, kesehatan,

sosial-ekonomi, dan budaya orang tersebut, yang berpengaruh terhadap status

nutrisinya. Analisis diet klien dapat dilakukan dengan menggunakan kelompok

makanan harian (daily food groups) dan tabel komposisi makanan (food

composition table). Pengkajian asupan makanan dan pola makan meliputi

pengkajian dan informasi mengenai makanan yang biasa dikonsumsi, persiapan

makanan, dan kebiasaan makan. Pola makan dan kebiasaan makan dipengaruhi

oleh budaya, latar belakang etnis, status sosial ekonomi, dan aspek psikologi.

Berikut adalah faktor resiko yang menyebabkan gangguan nutrisi

1. Riwayat diet

a. Gangguan pada fungsi mengunyah dan menelan

b. Asupan makanan tidak adekuat

c. Diet yang salah atau ketat

d. Kurang persediaan makanan selama 10 hari atau lebih

e. Pemberian nutrisi melalui intravena ( total parenteral nutrisi) selama10

(39)

32

f. Tidak adekuatnya penyediaan bahan makanan

g. Tidak adekuatnya fasilitas penyiapan bahan makanan

h. Tidak adekuatnya fasilitas penyimpanan bahan makanan

i. Ketidakmampuan fisik

j. Lansia yang tinggal dan makan sendiri.

2. Riwayat penyakit (medis)

a. Adanya riwayat berat badan berlebih atau kurang

b. Penurunan berat badan dan tinggi badan

c. Mengalami penyakit tertentu

d. Riwayat pembedahan pada system gastrointestinal

e. Anoreksia

f. Mual dan muntah

g. Diare

h. Alkoholisme

i. Gangguan yang mengenai organ tertentu ( kanker, hati, ginjal, tiroid,

dan paratiroid, serta penyakit adrenal).

j. Disabilitas mental

k. Kehamilan remaja

l. Terapi radiasi

3. Riwayat pemakaian obat-obatan : aspirin, antibiotika, antasida,

(40)

anti-33

neoplastik, digitalis, laksatif, diuretic, natrium klorida, dan vitamin atau

preparat nutrient lain.

2. Analisa data

Tabel analisa data tanda dan gejala klinis defisiensi nutrisi

Bagian tubuh Tanda klinis Kemungkinan

kekurangan

Tanda umum Penurunan berat badan, lemah,

lesu rasa haus, adanya dehidrasi, pertumbuhan terhambat

Kalori, cairan,

vitamin A

Rambut Kusut, kekuningan, kekurangan

pigmen

protein

Kulit Adanya radang pada kulit atau

dermatitis.

Pada bayi terjadi dermatosis

Adanya petechial hemorarhagik

Mata Fotofobia, atau penglihatan

ganda.

Rabun senja

Ribovlafin

Vitamin A

Mulut Stomatitis

(41)

34

Sistem saraf Kelainan mental

Kelainan saraf perifer

Sianokobalamin

3. Rumusan Masalah

Penetapan Diagnosis

Menurut North American Nursing Diagnosis Association (NANDA) ,(Tarwoto

dan Wartonah,2006) diagnosis keperawatan terkait masalah nutrisi dibagi menjadi

dua:

1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan.

2. Perubahan nutrisi lebih dari kebutuhan tubuh.

4. Perencanaan dan Implementasi

Penerapan intervensi keperawatan terkait masalah nutrisi bisa merujuk

pada intervensi yang diterapkan secara umum pada klien dengan gangguan

pemenuhan nutrisi. Akan tetapi, pada kasus-kasus tertentu, penerapan diagnosis

diatas tersebut tentulah harus disesuaikan dengan kasus yang dihadapi.

No INTERVENSI RASIONAL

1. Dx:Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh.

1. Tingkatkan intake makanan 2. Jaga kebersihan mulut pasien 3. Bantu pasien makan jika

tidak mampu

4. Sajikan makanan yang mudah dicerna,dalam keadaan

1. Cara khusus untuk meningkatkan nafsu makan.

2. Mulut yang bersih meningkatkan nafsu makan.

3. Membantu pasien makan.

(42)

35 hangat,tertutup,berikan

sedikit-sedikit tapi sering. 5. Selingi makan dengan

minum.

6. Hindari makanan yang banyak mengandung gas. 7. Lakukan latihan pasif aktif.

intake makan.

5. Memudahkan makanan masuk.

6. Mengurangi rasa nyaman.

7. Menambah nafsu makan.

8. 2. Dx: Perubahan nutrisi lebih dari

kebutuhan tubuh.

1. Lakukan pengkajian kembali pola makan pasien.

2. Diskusikan dengan pasien tentang kelebihan makan. 3. Diskusikan motivasi untuk

menurunkan berat badan. 4. Kolaborasi dengan ahli diet

yang tepat.

5. Buat program latihan untuk olah raga.

6. Hindari makanan yang banyak mengandung lemak. 7. Berikan pengetahuan

kesehatan.

1. Informasi dasar untuk

perencanaan awal dan validasi data.

2. Membantu mencapai tujuan.

3. Membantu memecahkan

masalah.

4. Menentukan makanan yang

sesuai dengan paien.

5. Meningkatkan kebutuhan energi

6. Makanan berlemak banyak

menghasilkan energi 7. Memberi informasi dan

(43)

36 A. ASUHAN KEPERAWATAN KASUS

1. Pengkajian

PROGRAM DIII KEPERAWATAN

FAKULTAS KEPERAWATAN USU

FORMAT PENGKAJIAN PASIEN DI RUMAH SAKIT

I.BIODATA

IDENTITAS PASIEN

Nama : An.A

Jenis kelamin : Laki-Laki

Umur : 5 tahun

Status perkawinan : Belum Kawin

Agama : Islam

Pendidikan : TK

Pekerjaan : -

Alamat : Jln.Bajak II Kel.Harjosari II Kec.Medan Amplas

Golongan darah : -

Tanggal pengkajian : 18 mei 2015

Tanggal operasi : -

(44)

37 II. KELUHAN UTAMA

An.A terlihat lemas, Ny.T mengatakan anaknya malas makan dan lebih

suka jajan diluar.

III. RIWAYAT KESEHATAN SEKARANG

A. Provocative/palliative

a. Apa penyebabnya

An.A hanya sering makan pakai telur, dan sering tidak sarapan

karena Ny. T bekerja dari pagi pulang siang hari.Ny.T mengatakan An.A

tidak suka memakan sayuran dan lebih suka jajan diluar seperti es,permen

dan kue pabrik. Keluarga Ny.T merupakan keluarga yang tidak berada

sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan nutrisi anaknya.

b. Hal-hal yang memperbaiki keadaan

Tidak ada hal yang memperbaiki keadaan,karena keluarga Ny.T

merupakan keluarga kurang mampu,dan An.A malas makan serta tidak

suka makan sayuran dan sering jajan sembarangan tanpa pengawasan

Ny.D.

B. Quantity/quality

1) Bagaimana dirasakan

Klien terlihat lemas karena asupan nutrisi yang di terima kurang dari

kebutuhan tubuh.

(45)

38

Klien tampak lesu,kurus,konjungtiva anemis BB:12 kg, TB: 89 cm.

C. Severity

Ibu klien mengatakan badan anaknya lemah,sehingga terganggu dalam

melakukan aktivitas sehari-hari.

D. Time

Sampai saat ini klien tampak lemas dikarenakan klien tidak memakan

makanan yang bergizi dan keluarga Ny.T kurang pengetahuan Serta

kondisi ekonomi yang kurang.

IV. RIWAYAT KESEHATAN MASA LALU

A. Penyakit yang pernah dialami

Ny.T mengatakan penyakit yang sering dialami An.A adalah batuk,

pilek dan demam dan Ny. T mengatakan jika An.A sakit hanya diberikan

obat yang dibeli di warung dan Ny.T mengatakan tidak mempunyai biaya

untuk berobat kedokter.

B. Pengobatan/tindakan yang dilakukan

Ny.T mengatakan jika An.A sakit hanya diberikan obat yang dibeli

di warung dan Ny.T mengatakan tidak mempunyai biaya untuk berobat

kedokter.

C. Pernah dirawat/dioperasi

Ny.D mengatakan An.A tidak pernah di rawat ataupun dioperasi di

rumah sakit.

D. Lama dirawat

(46)

39 E. Alergi

Pasien tidak memiliki riwayat alergi, baik alergi makanan ataupun

alergi obat.

F. Imunisasi

Imunisasi klien lengkap.

V. RIWAYAT KESEHATAN KELUARGA

A. Orang tua

Kedua orang tua klien tidak memiliki riwayat penyakit yang sama seperti

klien.

Saudara kandung

Klien memiliki dua saudara kandung. kedua saudara klien tidak memiliki

penyakit yang serius dan tidak ada yang memiliki riwayat penyakit yang

sama seperti klien.

B. Penyakit keturunan yang ada

Tidak ada penyakit keturunan dikeluarga klien.

C. Anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa

Tidak ada anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa.

D. Anggota keluarga yang meninggal

Tidak ada anggota keluarga klien yang meninggal

Penyebab meninggal

(47)

40 VI. RIWAYAT KEADAAN PSIKOSOSIAL

A.Persepsi pasien terhadap penyakitnya

Ny.T mengatakan berat badan anaknya adalah hal yang biasa untuk

seumuran anaknya,dan Ny.T tidak mengetahui bahwa anaknya kurang

gizi,Ny.T juga mengatakan anaknya kurus karena lasak.

B.Konsep diri

Gambaran diri : Ibu klien mengatakan tubuh anaknya

kurus dan menginginkan tubuh anaknya

lebih gemuk.

Ideal diri : Ibu klien mengatakan ingin badan anaknya

lebih gemuk dan tidak lemas agar lebih

bersemangat dalam melakukan aktivitas

sehari-hari.

Peran diri : Ibu klien mengatakan klien anak kedua

dari tiga bersaudara,dan klien seorang

murid di taman kanak-kanak.

Identitas : Ibu klien mengatakan klien anak kedua

dari tiga bersaudara,dan klien seorang

(48)

41 C.Hubungan sosial

Orang yang berarti : Ibu klien mengatakan ibu,bapak dan

saudara kandungnya orang yang berarti

bagi anaknya.

Hubungan dengan keluarga : Ibu klien mengatakan klien dekat dengan

keluarganya terutama dengan ibunya.

Hubungan dengan orang lain : Ibu klien mengatakan hubungan klien

dengan orang lain baik, tampak klien

bermain-main dengan teman sebayanya.

D.Hambatan bersosialisasi : Ibu klien mengatakan klien tidak

mengalami hambatan berhubungan dengan

orang lain.

E.Spiritual

Nilai dan keyakinan : Ibu klien mengatakan klien selalu

berdoa bersama orang tua untuk

kehidupannya yang lebih baik.

Kegiatan ibadah :Ibu klien mengatakan klien

shalatnya belum sempurna dan

masih butuh bimbingan orang tua

(49)

42 VII. PEMERIKSAAN FISIK

A. Keadaan Umum

Klien tampak lesu, kurus, konjungtiva anemis,BB:12kg,TB:89cm.

Ny.T mengatakan An.A malas makan tetapi hanya sering jajan diluar

rumah, Kebutuhan gizi klien kurang dari kebutuhan tubuh,dikarenakan

klien hanya sering makan 2 kali sehari dan hanya sering mengkonsumsi

telur sebagai lauknya,disamping itu keluarga klien juga terhambat oleh

status ekonomi sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan gizi An.A.

B. Tanda-tanda vital

Suhu tubuh : 36,5 0C

Tekanan darah : 100/80mmhg

Nadi : 80x/m

Pernafasan : 22x/m

TB : 89cm

BB : 12 kg

C. Pemeriksaan Head to toe

Kepala

Bentuk : bentuk kepala bulat

Ubun-ubun : normal, tidak ada ditemukan adanya

tonjolan

(50)

43

Rambut

Penyebaran dan keadaan rambut : penyebaran rambut tidak merata

dan rambut tampak kusam dan kering.

Warna rambut : kemerahan

Wajah

Warna kulit : warna kulit wajah klien

sawo matang

Struktur wajah : simetris.

Mata

Kelengkapan dan kesimetrisan : kedua mata lengkap dan

simetris antara mata sebelah

kanan dan kiri

Palbebra : normal, tidak ditemukan

adanya kelainan, dapat

menutup dan membuka mata

Konjungtiva : pucat

Pupil : diameter pupil normal,

reaksi terhadap cahaya baik.

Cornea dan iris : tidak dilakukan

pemeriksaan

Visus : tidak dilakukan pemeriksaan

(51)

44 Hidung

Tulang hidung dan posisi septum nasi : normal, dan letaknya di

Medial

Lubang hidung : normal dan simetris antara

kanan dan kiri

Cuping hidung : normal dan tidak ada

Kelainan, tidak terdapat

pernafasan cuping hidung.

Telinga

Bentuk teling : bentuk antara telinga kanan dan kiri normal

Ukuran telinga : ukuran antara telinga kanan dan kiri

simetris

Lubang teling : tidak ditemukan adanya kelainan pada

lubang telinga, tidak ada otitis media

Ketajaman pendengaran : dapat mendengar dengan baik

Mulut dan faring

Keadaan bibir : bibir tampak kering,pecah-pecah.

Keadaan gusi : gusi tampak kering

Keadaan lidah : berwarna merah

Orofaring : tidak ditemukan adanya kelainan, tampak

klien tidak mengalami gangguan dalam

(52)

45 Leher

Posisi trachea : posisi trachea normal di bagian medial

Thyroid : tidak ditemukan adanya pembengkakan

pada thyroid

Suara : normal dan jelas

Kelenjar limfe : tidak ditemukan adanya pembengkakan

pada kelenjar limfe

Vena jugularis : tidak ditemukan adanya pembesaran pada

vena jugularis

Denyut nadi karotis : denyut nadi karotis teraba

Pemeriksaan integumen

Kebersihan : kulit tampak kering dan kusam

Kehangatan : kulit terasa hangat

Warna : kulit berwarna sawo matang

Turgor : kembali < 2 detik

Kelembaban : kulit tampak kering

Kelainan pada kulit : tidak ditemukan adanya kelainan pada kulit

Kuku : pada ujung kuku tampak pecah-pecah

Tonus otot : lembek

(53)

46 Pemeriksaan thoraks/dada

Inspeksi thoraks : simetris antara kanan dan kiri dan tidak

ditemukan kelainan atau luka

Pernafasan : pernafasannya teratur 22x/menit

Tanda kesulitan bernafas : tidak ditemukan tanda kesulitan bernafas

VIII.POLA KEBIASAAN SEHARI-HARI

I. Pola makan dan minum

Frekuensi makan : 2x/hari

Nafsu/selera makan : klien kurang selera makan. Klien hanya

sesekali menghabiskan makanan yang telah

disediakan.

Nyeri ulu hati : tidak ditemukan adanya nyeri ulu hati

Alergi : klien tidak memiliki riwayat alergi

Mual dan muntah : klien tidak mengalami ataupun merasakan

mual dan muntah

Tampak memisahkan diri : klien tidak pernah memisahkan diri dengan

keluarganya pada saat makan

Waktu pemberian makan : pagi hari pukul 07.30 WIB, siang hari

pukul 13.00 WIB, dan malam hari pukul

20.00 WIB

Jumlah dan jenis makanan : klien makan makanan biasa yang telah

disediakan oleh ibunya

Waktu pemberian minum : tidak ditentukan, sesuai dengan kebutuhan

(54)

47

Masalah makan dan minum : klien tidak selera makan

dan hanya sesekali

menghabiskan makanannya.

II. Perawatan diri/personal hygiene

Kebersihan tubuh : kebersihan tubuh klien baik

dan mandi 2 kali

sehari,rambut tampak bersih.

Kebersihan gigi dan mulut : gigi dan mulut tampak

bersih

Kebersihan kuku kaki dan tangan : kuku tangan dan kaki klien

tampak bersih.

III. Pola kegiatan/aktivitas

Mandi, makan, BAB, BAK, ganti pakaian dilakukan klien secara

mandiri.

IV. Pola eliminasi

1) BAB

Pola BAB : 1 x/hari

Karakter feses : tidak dilakukan pemeriksaan

Riwayat perdarahan : tidak ditemukan adanya

riwayat perdarahan

BAB terakhir : sehari yang lalu

Diare : klien tidak mengalami diare

(55)

48

2) BAK

Pola BAK : 4-5 kali sehari

Nyeri/rasa terbakar/kesulitan BAK : tidak ditemukan nyeri/rasa

terbakar/kesulitan saat BAK

Riwayat penyakit ginjal/kandung kemih : tidak ada riwayat penyakit

ginjal

Penggunaan diuretic : tidak menggunakan diuretik

Upaya mengatasi masalah : tidak ditemukan adanya

(56)

49 2. Analisa Data

No Data Etiologi Masalah

Keperawatan

1. Ds:

Ny.T mengatakan tidak

sanggup untuk memenuhi kebutuhan makan sehari hari. Dan Ny.T mengatakan anaknya malas makan dan tidak suka makan sayuran. Do:

(57)

50 3. Rumusan Masalah

Setelah analisa data dilakukan, dapat dirumuskan beberapa masalah

kesehatan. Masalah yang muncul berdasarkan prioritas yang didasari kriteria yang

harus ditangani dan segera. Berikut beberapa masalah yang muncul berdasarkan

analisa data :

a) Kurang nutrisi dari kebutuhan tubuh

b) Kurang pengetahuan

4. Diagnosa Keperawatan (Prioritas)

1. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhn tubuh berhubungan dengan

asupan nutrisi yang tidak adekuat dan penurunan nafsu makan.

2. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang terpaparnya informasi

Figure

Tabel 2.1 Pengkajian umum status gizi individu

Tabel 2.1

Pengkajian umum status gizi individu p.34

References

Scan QR code by 1PDF app
for download now

Install 1PDF app in