• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VII Perencanaan dan Pengadaan Logistik

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "BAB VII Perencanaan dan Pengadaan Logistik"

Copied!
36
0
0

Teks penuh

(1)

BAB VII

PERENCANAAN DAN PENGADAAN LOGISTIK

A. PENDAHULUAN

Langkah pertama yang harus dilakukan oleh unit logistik dalam kegiatan manajemen logistik adalah perencanaan logistik. Pada tahap inilah dirumuskan berbagai kebijakan logistik menyangkut pemenuhan kebutuhan logistik unit-unit kerja, biaya pengadaannya, sumber barang dan distribusinya. Tanpa perencanaan yang baik mustahil diperoleh tata kelola logistik yang handal pada unit logistik tersebut. Pada akhirnya, tanpa perencanaan organisasi/ perusahaan tidak dapat mengalokasikan sumber daya financial yang memadai untuk pengadaan barang-barang kebutuhan. Akibatnya tentu fatal, unit-unit kerja yang ada tidak dapat menjalankan aktifitasnya untuk mencapai tujuan organisasi secara keseluruhan.

Pada bab ini dibahas tentang pengertian perencanaan dan arti penting perencanaan logistik, jenis-jenis perencanaan logistik, pengadaan logistik, berbagai macam cara pengadaan barang dan pengadaan barang dan jasa pemerintah.

a. Kompetensi Dasar

Setelah mengikuti perkuliahan ini mahasiswa dapat memahami konsep perencanaan logistik, hambatan-hambatan perencanaan logistik, macam-macam perencanaan logistik, pengadaan barang logistik dan berbagai macam cara pengadaan barang logistik serta prosedur pengadaan barang dan jasa pemerintah b. Indikator Pencapaian

(2)

2. Mahasiswa dapat menjelaskan perencanaan strategis, perencanaan operasional dan perencanaan taktis.

3. Mahasiswa dapat menjelaskan pengertian pengadaan barang.

4. Mahasiswa dapat membedakan macam-macam cara pengadaan barang logistik

5. Mahasiswa dapat menjelaskan secara singkat prosedur pengadaan barang dan jasa di instansi pemerintah.

c. Tujuan Pembelajaran

Memberikan pemahaman kepada mahasiswa/ pembaca tentang perencanaan dan pengadaan barang-barang logistik baik di instansi swasta, organisasi umum maupun instansi pemerintah.

B. PERENCANAAN LOGISTIK

Perencanaan merupakan dasar aktifitas manajemen yang lain. Dalam kegiatan perencanaan ini dilakukan proses analisis, pemikiran, penelitian dan perhitungan dalam upaya memenuhi kebutuhan-kebutuhan logistik. Untuk itu diperlukan sumber daya manusia yang mumpuni di bidang perencanaan logistik ini sehingga dapat mengambil keputusan secara tepat dan cepat.

Setelah perencanaan dilakukan, maka tindakan selanjutnya yang harus dilakukan oleh manajer dan staf logistik adalah melaksanakan proses pengadaan barang/ jasa yang dibutuhkan. Banyak metode pengadaan barang yang dapat dipilih, misalnya: peminjaman, sewa, kontrak atau pembelian. Cara dan proses yang seperti apa yang perlu diambil oleh unit logistik sangat dipengaruhi oleh kemampuan dan kondisi organisasi/ perusahaan masing-masing.

(3)

kualitas. Demikian pula halnya dalam perencanaan logistik yang harus mendapat perhatian dari para stakeholders

Apakah yang dimaksud dengan perencanaan logistik? Perencanaan dapat diartikan sebagai merumuskan segala sesuatu sebelum dilaksanakan. Perencanaan dapat juga dipahami sebagai penentuan berbagai tindakan yang dapat dilakukan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Sedangkan istilah logistik dapat diartikan sebagai berbagai barang-barang yang dibutuhkan untuk melakukan suatu tindakan-tindakan tertentu untuk mencapai tujuan. Perencanaan logistik merupakan kegiatan pemikiran, penelitian, perhitungan, dan perumusan tindakan-tindakan yang kan dilakukan di masa yang akan datang, baik berkaitan dengan kegiatan-kegiatan operasional dalam pengadaan logistik, penggunaan logistik, pengorganisasian, maupun penegendalian logistik. Dengan demikian maka secara sederhana perencanaan logistik ini dapat diartikan sebagai proses perumusan kebutuhan-kebutuhan logistik yang akan akan digunakan pada masa yang akan datang untuk mendukung tercapainya tujuan organisasi/ perusahaan secara efektif dan efisien.

Perumusan kebutuhan logistik ini didahului oleh usulan dari berbagai unit kerja yang ada. Dalam proses perencanaan ini setidak-tidaknya harus mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini:

1) Barang apa yang akan diadakan? 2) Mengapa barang itu perlu diadakan? 3) Kapan barang tersebut akan dibutuhkan? 4) Kapan barang itu akan diadakan?

5) Dimana barang tersebut dapat diperoleh?

6) Siapa yang akan menggunakan barang-barang tersebut? 7) Siapa yang bertanggung jawab melakukan pengadaan

barang?

(4)

9) Berapa harga barang-barang yang akan diadakan? 10) Bagaimana cara pengadaan barangnya?

11) Bagaimana prosedur pengadaan barang?

12) Bagaimana aturan-aturan tentang pengadaan barang baik di interal organisasi maupun dari pihak lain misalnnya pemerintah?

Dengan merumuskan jawaban-jawaban yang tepat dari pertanyaan-pertanyaan tersebut maka diharapkan dapat diperoleh barang-barang dengan spesifikasi yang sesuai kebutuhan, jumlah yang tepat dan waktu pengadaan dan distribusi yang tepat. Jawaban yang tepat juga akan memberikan gambarang tentang dimana dan bagaimana barang-barang itu bisa diperoleh dengan harga yang paling efisien. Penanggung jawab pengadaan barang juga dapat disepakati dalam proses perencanaan ini sehingga panitia pengadaan barang tidak melakukan kegiataannya secara tergesa-gesa. Perencanaan logistik ini harus dilakukan jauh-jauh hari sebelum barang itu dibutuhkan. Jangan sekali-kali meremehkan proses pengadaan barang dengan cara melakukan pengadaan barang pada saat barang itu akan digunakan. Akan banyak masalah jika hal ini dilakukan. Yang pertama, apakah kas organisasi mencukupi? Jika mencukupi, kedua apakah barang yang dibutuhkan ada yang menjual? Jika ada yang menjual, ketiga apakah harganya sesuai dengan harga pasar? Jika sesuai harga pasar, keempat apakah jumlah dan kualitas barang yang ada sesuai dengan kebutuhan organisasi. Dan tentu masih banyak lagi. Coba saudara sebutkan kira-kira masalah apalagi yang mungkin terjadi jika pengadaan barang dilakukan dengan perencanaan seadanya selain empat masalah tersebut?.

Secara teoritis setiap perencanaan (termasuk perencanaan logistik) hendaknya memenuhi unsur-unsur sebagai berikut:

(5)

Tujuan merupakan orientasi utama suatu organisasi. Dalam perencanaan tujuan harus dinyatakan secara tegas dan jelas sehingga setiap anggota organisasi memiliki pemahaman yang sama tentang orientasi mereka. Tujuan-tujuan ini harus dicapai melalui berbagai kegiatan yang dilakukan oleh organisasi. Tujuan ini dapat bersifat material maupun bersifat moral 2) Politik

Politik disini bukanlah politik yang bermakna kekuasaan atau perebutan kekuasaan. Politik disini lebih merupakan peraturan-peraturan yang digariskan bagi tindakan tindakan organisasi yang dihubungkan dengan tujuan yang akan dicapai.

3) Prosedur

Yakni menentukan bagaimana urutan-urutan pelaksanaan yang akan dilalui dan harus diikuti oleh karyawan atau orang yang melaksanakan suatu kegiatan atau tindakan dalam meneapai tujuan.

4) Budget

Usaha yang dilakukan tentunya membutuhkan biaya. Karena itu dalam perencanan sangat penting membahas secara detail masalah anggaran. Masukan yang diharapkan akan diperoleh yang dikaitkan dengan output yang dikeluarkan yang dinyatakan dalam bentuk angka-angka.

5) Program

Yakni serangkaian tindakan yang akan dilakukan diwaktu yang akan datang, terdiri atas penggabungan dari politik, prosedur dan budget.

Perencanaan logistik ini penting dilakukan karena dalam perencanaan ini dibahas mengenai hal-hal sebagai berikut:

a) Ramalan jumlah dan kualitas barang yang dibutuhkan.

(6)

c) Suatu program yang terdiri dari serangkaian tindakan kegiatan untuk mencapai tujuan manajemen logistik berdasarkan pada prioritas pelaksanaan.

d) Jadwal pekerjaan logistik sehingga dapat diselesaikan tepat pada waktunya.

e) Anggaran untuk mengalikasikan sumber-sumber yang ada atas dasar efisiensi dan efektifitas, anggaran belanja ini dinyatakan dalam bentuk uang.

f) Cara yang tepat dalam pengadaan dan distribusi logistik. g) Penafsiran kebijakan yang akan diambil agar terjamin

dalam keselarasan dan keseragaman kegiatan serta tindakan logistik yang akan dilakukan.

Perencanaan logistik merupakan proses yang rumit yang melibatkan berbagai unit kerja dalam suatu organisasi. Berbagai hambatan mungkin saja akan dihadapi oleh para perencana logistik (logistic planner). Berikut ini adalah beberapa hambatan yang perlu diantisipasi oleh perencana logistik:

(1)Kurang pengetahuan tentang organisasi; (2)Kurang pengetahuan tentang lingkungan;

(3)Ketidakmampuan melakukan peramalan secara efektif; (4)Kesulitan perencanaan operasi-operasi yang tidak berulang; (5)Biaya;

(6)Takut gagal;

(7)Kurang percaya diri;

(7)

bukan unit struktural. Sebagai unit fungsional, maka tugas unit logistik lebih banyak tergantung pada kebijakan-kebijakan manajerial. Dengan demikian untuk mengatasi hambatan-hambata dalam proses perencanaan logistik, diperlukan intervensi yang cukup dari pimpinan puncak organisasi.

Perencanaan logistik dapat dibedakan menjadi 3 (tiga) tipe, yaitu strategis, operasional, dan taktis. Kriteria dasar untuk menentukan masing-masing sifatnya adalah komitmen aktiva, lamanya waktu perencanaan, dan kemungkinan pelaksanaannya.

1. Perencanaan Strategis

Perencanaan strategis merupakan perencanaan pada level tertinggi pada suatu organisasi. Agar dapat disusun dengan baik perencanaan strategis membutuhkan banyak komitmen dan sumber daya manajerial. Rencana strategis merupakan dasar bagi perencanaan-perencanaan dibawahnya uakni rencana operasional dan rencana taktis. Dengan demikian maka rencana strategis merupakan merupakan main map bagi perencanaan lainnya. Perencanaan strategis dapat diartikan sebagai suatu proses untuk mengalokasikan sumber daya logistik selama jangka waktu yang panjang, konsisten dan menunjang bagi seluruh kebijaksanaan dan tujuan organisasi. Jangka waktu perencanaan strategis ini meliputi jangka waktu yang panjang, antara 5 sampai 10 tahun.

(8)

disebut dengan konsep SWOT (Strenght, Weakeness, Opportunity and Threat). Proses menilai kebutuhan dan kebaikan dari perubahan ini disebut sebagai feasibility assessment. Langkah-langkah yang disarankan dalam menyelesaikan feasibility assessment adalah analisis situasi, pengembangan logika penunjang dan taksiran biaya manfaat.

Analisis situasi dilakukan atas kondisi internal dan ekseternal. Analisis situasi adalah pengumpulan fakta tentang kebutuhan logistik yang dihadapi oleh suatu organisasi dan seluruh ruang lingkup operasinya yang sekarang. Penilaian yang lazim meliputi tinjauan internal, penilaian kompetitif, dan penaksiran teknologi untuk menentukan apakah cukup terdapat daerah yang luas untuk perbaikan biaya dan pelayanan.

2.Perencanaan Operasional

Perencanaan operasional dapat diartikan sebagai suatu proses untuk mengembangkan kebijaksanaan dan rencana logistik untuk menangani tindakan manajemen yang rutin atau reguler dalam suatu organisasi. Rencana operasional adalah alat untuk mengkoordinir usaha logistik suatu organisasi. Rencana ini pada umumnya meliputi jangka waktu sampai satu tahun. Rencana operasional yang menyeluruh sekurang-kurangnya mempunyai 3 (tiga) tujuan yaitu modifikasi sistem, pelaksanaan, dan anggaran. Rencana operasional ini dirumuskan oleh manajer logistik sebagai tindakan merealisasikan rencana strategis yang telah dirumuskan oleh manajer puncak organisasi/perusahaan.

(9)

penyelenggaraan rencana operasional adalah penyebaran modal jangka pendek dan penyebaran sumber daya manajerial ke arah tercapainya sasaran organisasi. Pada umumnya, makin stabil atau makin repetitif situasi operasinya, maka makin besar jangka waktu yang dicakup oleh rencana penyelenggaraan itu. Akan tetapi jadwal penyelenggaraan jarang melebihi lamanya waktu rencana operasional. Dasar utama yang digunakan untuk merumuskan rencana penyelenggaraan adalah peramalan. Tujuan utama rencana penyelenggaraan adalah mengkoordinir aktivitas berencana selama jangka waktu pendek dalam rencana operasional. Aspek finansial dari perencanaan operasional adalah anggaran logistik. Aspek anggaran dari perencanaan operasional ini paling kecil kemungkinannya terwujud selama jangka waktu tertentu.

3.Perencanaan Taktis

(10)

prosedur perencanaan taktis yang ideal akan memasukkan kemampuan tindakan mendahului dan bereaksi untuk digunakan berdasarkan tingkat kegawatan dari kejadian itu.

Beberapa faktor yang mempengaruhi proses perencanaan logistik adalah sebagai berikut (Dwiantara dan Sumarto, 2004): a. Faktor Fungsional

Logistik merupakan unsur yang memperlancar aktifitas-aktifitas suatu organisasi. Dengan fungsi memperlancar ini maka maka para perencana logistik harus memperhatikan dengan sungguh-sungguh masalah ketersediaan logistik. Jangan sampai kekurangan atau ketiadaan suplai logistik mengakibatkan berhenti atau terganggunya aktifitas unit kerja lainnya. Karena itulah, maka manajer logistik harus senantiasa mengendalikan ketersediaan logistik ini baik secara kuantitas maupun kualitasnya.

b. Faktor Biaya dan Manfaat

Dalam merumuskan kebutuhan logistik, manajer logistik beserta staffnya harus mempertimbangkan faktor biaya dan manfaat. Artinya, jangan sampai barang-barang yang diadakan itu menelan biaya besar tapi manfaatnya kecil. Atau sebaliknya, biaya untuk mendapatkan barang tersebut kecil (murah) namun ternyata tidak ada manfaatnya bagi organisasi. Dalam hal inilah perencana logistik tidak boleh mengabaikan aspek kualitas dari barang yang diadakan tersebut. Daya tahan dan hasil yang diperoleh dari barang-barang yang berkualitas akan mendorong semangat kerja para pegawai, sebaliknya para pegawai akan merasa jengah jika menggunakan alat-alat atau barang-barang yang tidak berkualitas karena pasti akan menimbulkan banyak masalah teknis seperti kerusakan atau keterbatasan kapasitas kerja dan sebagainya.

(11)

Ketersediaan dana yang dimiliki oleh organisasi yang dialokasikan untuk pengadaan dan pemenuhan kebutuhan logistik juga menjadi bahan pertimbangan bagi perencana logistik. Adakalanya organisasi menganggarkan dana yang tidak terlalu banyak untuk pengadaan logistik, meskipun mereka tahu bahwa logistik itu sangat penting untuk kelangsungan hidup organisasi. Akantetapi karena keterbatasan anggaran yang dimiliki oleh organisasi, akhirnya pimpinan harus mengambil kebijakan mengalokasikan anggaran secara terbatas untuk pengadaan logistik ini. Oleh sebab itu, jika kondisi ini yang terjadi maka perencana logistik harus mampu menyusun kebutuhan logistik dengan tingkat prioritas yang tinggi. Sebaliknya ada organisasi yang mengalokasikan anggaran untuk logistik ini sangat besar karena menganggap bahwa ketersediaan logistik yang memadai akan mempermudah organisasi mencapai tujuannya. Jika ini yang terjadi maka para perencana logistik tidak boleh terlena dan akhirnya tidak merencanakan kebutuhan logistik dengan karena merasa mudah mendapatkan anggaran. Memang betul bahwa anggaran ini adalah nafasnya unit logistik. Tanpa anggaran tidak mungkin bagian ini akan berjalan, namun suplai anggaran yang tidak terbatas juga akan dapat mematikan kreatifitas unit logistik untuk membuat rencana logistik yang handal sesuai dengan prioritas organisasi. Para perencana logistik tetap harus mengutamakan aspsek efektifitas dan efisiensi anggaran baik dalam kondisi minimnya anggaran maupun anggaran yang tidak terbatas.

d. Faktor Keamanan dan Kewibawaan

(12)

masyarakat. Dengan menggunakan barang-barang yang berkualitas maka tidak saja menjaga kewibawaan pejabat yang bersangkutan, tetapi juga dapat menjaga nama baik lembaga/ organisasi.

e. Faktor Standarisasi dan Normalisasi

Setiap organisasi memiliki standar atas barang-barang tertentu yang harus ada dalam organisasi. Standar barang ini meliputi: jenis barang, jumlah barang, kualitas barang, ukuran barang dan sebagainya. Jika organisasi telah memiliki standar baku atas barang-barang tertentu, maka perencana logistik tidak boleh menyalahi standar barang tersebut.

Penentuan kebutuhan logistik merupakan bagian kegiatan pengadaan logistik yang cukup krusial (penting) dan strategis karena kegiatan ini sangat menentukan tingkat efektifitas kerja setiap unit kerja yang ada di suatu organisasi. Bila terjadi kesalahan dalam penentuan kebutuhan logistik akan mempengaruhi kinerja organisasi secara keseluruhan. Kesalahan perencanaan ini juga dapat mengakibatkan pemborosan keuangan organisasi.

Unit logistik harus mampu merumuskan kebutuhan-kebutuhan logistik baik logistik rutin maupun logistik non-rutin. Logistik rutin umumnya adalah barang-barang yang digunakan sehari-hari oleh unit-unit kerja dan telah digunakan dalam jangka waktu yang lama. Karena itu dalam menentukan barang-barang logistik yang rutin unit logistik tidak akan mengalami kesulitan lagi. Lain halnya untuk barang-barang logistik yang sifatnya non-rutin. Unit logistik harus mampu melakukan penilaian-penilaian secara baik sebelum memutuskan mengadakan barang-barang logistik tersebut. Dwiantara dan Sumarto (2004) menyatakan bahwa secara teknis ada beberapa tahap dalam penentuan kebutuhan logistik non-rutin, yaitu:

(13)

mempertimbangkan relevansi usulan logistik dengan fungsi unit kerja tertentu yang mengusulkan, biaya yang diusulkan, mafaat yang diperoleh dan mendukung kepentingan dan tujuan organisasi atau tidak atau apakah barang tersebut dapat menunjang produktifitas unit kerja atau tidak.

- Menyusun daftar nama-nama barang tersebut berdasarkan urutan prioritasnya: Mutlak (harus ada), penting dan perlu. Mutlak artinya bahwa kebutuhan barang tersebut sangat mendesak dan harus segera diadakan. Penting artinya barang tersebut sifatnya mendesak, tetapi dapat ditunda untuk waktu yang tidak terlalu lama. Perlu artinya barang tersebut sifatnya kurang mendesak dan dapat ditunda untuk waktu yang cukup lama. Sifat-sifat barang ini (mutlak, penting dan perlu) ini sifatnya relatif. Artinya bisa saja barang yang sebelumnya bersifat perlu, karena situasi dan kondisi yang berubah maka menjadi mutlak. Dan sebaliknya barang yang tadinya bersifat mutlak berubah menjadi penting atau perlu saja sifatnya.

- Menetapkan secara pasti barang-barang yang akan diadakan sesuai dengan prioritasnya dan menuangkannya dalam Daftar Nama Barang yang akan diadakan.

Bagaimanakah perencanaan logistik dilakukan? Berikut ini prosedur umum perencanaan logistik di berbagai organisasi.

(14)

Usulan dan permintaan barang-barang yang diajukan oleh unit-unit kerja merupakan hasil dari proses penentuan kebutuhan logistik oleh masin-masing unit kerja. Agar pengajuan kebutuhan barang ini efektif dan efisien sebaiknya unit-unit kerja mengajukannya secara periodik sesuai jadwal pengadaan barang yang berlaku di organisasi masing-masing.

3) Setelah semua usulan kebutuhan logistik dari setiap unit kerja terkumpul sesuai dengan jadwal yang ditetapkan, pihak-pihak yang berkompeten dalam memutuskan pengadaan logistik akan memulai proses penyusunan daftar dan nominasi barang. Unit logistik (manajer logistik, pengawas logistik, pelaksana pengadaan logistik) merupakan unsur utama dalam penyusunan daftar barang yang akan diadakan ini. Pihak-pihak lain yang terlibat dalam penentuan kebutuhan logistik ini adalah pimpinan puncak dan penanggung jawab keuangan organisasi.

(15)

maupun surfing di internet. Dari berbagai cara ini surfing di internet merupakan cara yang paling praktis dan efektif. Setelah mendapatkan informasi di internet dapat dilanjutkan dengan mencari informasi kepada pemasok langsung untuk mendapatkan informasi tentang harga yang lebih valid.

Setelah semua persiapan dalam perencanaan logistik selesai maka kegiatan berikutnya dari proses manajemen logistik adalah pengadaan logistik.

C. PENGADAAN LOGISTIK

Kegiatan pengadaan merupakan aktifitas yang paling menentukan dalam rangkaian manajemen logistik. Melalui proses pengadaan inilah unit logistik dapat menunjukkan separuh dari kinerjanya, karena jika pengadaan berhasil ini berarti telah ada barang-barang yang dimiliki oleh organisasi dan siap didistribusikan dan digunakan oleh unit-unit kerja yang membutuhkan. Dwiantara dan Sumarto (2004) menyatakan bahwa fungsi pengadaan ini pada hakikatnya merupakan serangkaian kegiatan untuk menyediakan logistik sesuai dengan kebutuhan, baik berkaitan dengan jenis dan spesifikasi, jumlah, waktu maupun tempat, dengan harga dan sumber yang dapat dipertanggung jawabkan. Dengan demikian tujuan pengadaan barang adalah untuk memperoleh barang atau jasa dengan harga yang dapat dipertanggungjawabkan, dengan jumlah dan mutu yang sesuai, serta selesai tepat waktu.

(16)

Salah satu hal yang penting dalam pengadaan barang adalah mengangkut masalah kualitas/ mutu suatu barang. Unit logistik tidak boleh mengadakan barang yang asal-asalan. Akibatnya akan fatal jika unit logistik mengadakan barang-barang yang tidak berkualitas. Yang dimaksud dengan kualitas barang disini adalah adanya kecocokan antara produk dengan kegunaannya. Kualitas dapat diartikan sebagai conformance to requirement, yaitu sesuai dengan yg disyaratkan/distandarkan. Standar kualitas meliputi bahan baku, proses, produk jadi.

Barang-barang berkualitas atau tidak dapat dilihat dari dimensi-dimensinya, yakni:

 Kinerja (Performa)

 Keistimewaan (feature)

 Keandalan (reliability)

 Konformasi (conformance)

 Daya tahan (durability)

 Kemampuan pelayanan (service ability)

 Keindahan (Estetika)

 Kualitas yang dirasakan (perceived quality)

D. MACAM-MACAM CARA PENGADAAN BARANG LOGISTIK Beberapa cara pengadaan logistik bagi suatu organisasi atau perusahaan adalah sebagai berikut:

1) Pembelian 2) Peminjaman 3) Menyewa

4) Membuat Sendiri 5) Menukarkan 6) Substitusi

(17)
(18)

1). Pembelian

Yang dimaksud dengan pembelian adalah suatu pristiwa atau tindakan yang dilakukan oleh dua belah pihak dengan tujuan menukarkan barang atau jasa dengan menggunakan alat transaksi yang sah dan sama-sama memiliki kesepakatan dalam transaksinya, dalam pembelian terkadang akan terjadi tawar menawar antara pembeli dan penjual hingga mendapatkan kesepakatan harga yang kemudian akan melakukan transaksi penukaran barang atau jasa dengan alat tukar yang sah dan di sepakati kedua belah pihak.

Menurut Galloway (2000) “The role of purchasing function is to make materials and parts of the right quality, and quantity available for use by operations at the right time and at the right place.” Pendapat tersebut kurang lebih mempunyai arti bahwa peran fungsi pembelian adalah untuk mengadakan material dan part pada kualitas yang tepat dan kuantitas yang tersedia untuk digunakan dalam operasi pada waktu yang tepat dan tempat yang tepat. Dalam konteks logistik pembelian merupakan cara pemenuhan kebutuhan logistik dengan jalan organisasi membayar sejumlah uang tertentu kepada penjual atau supplier untuk mendapatkan sejumlah barang sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak. Setelah transaksi pembelian selesai maka hak miliki barang tersebut pindah dari penjual ke pembeli. Pengadaan logistik dengan cara ini adalah yang paling dominan dan paling mudah dilakukan (Dwiantara dan Sumarto, 2004).

Meskipun pembelian adalah cara pengadaan barang yang paling umum dan paling mudah dilaksanakan, namun tetap harus memperhatikan prinsip-prinsip pembelian yang baik. Tujuannya adalah agar unit logistik tidak salah membeli, tidak kemahalan dan barang yang dibeli sesuai dengan spesifikasi yang dibutuhkan. Prinsip-prinsip pembelian barang yang baik adalah sebagai berikut:

(19)

The right price merupakan nilai suatu barang yang dinyatakan dalam mata uang yang layak atau yang umum berlaku pada saat dan kondisi pembelian dilakukan. Untuk mendapatkan harga yang tepat unit logistik bagian pengadaan harus melakukan studi banding (perbandingan) terhadap harga-harga barang yang akan dibeli di pasar ke berbagai suppier, sehingga bisa mendapatkan harga termurah tentunya dengan spesifik barang yang sama.

b. The Right Quantity

Jumlah yang tepat dapat dikatakan sebagai suatu jumlah yang benar-benar diperlukan oleh suatu perusahaan pada suatu saat tertentu. Unit logistik juga harus tahu berapa kebutuhan pembelian kita. Pembelian barang dengan jumlah sedikit tentu berbeda dengan pembelian dalam jumlah yang besar. Untuk mendapatkan jumlah barang dalam jumlah yang besar maka unit logistik harus mencari supplier besar (main dealer) sehingga dapat mendapatkan jumlah barang yang sesuai.

c. The Right Time

Waktu merupakan hal penting dalam proses pengadaan. Jangan sampai terjadi keterlambatan pembelian barang, karena hal ini akan mengganggu proses operasional organisasi.

d. The Right Place

Mengandung pengertian bahwa barang yang dibeli dikirimkan atau diserahkan pada tempat yang dikehendaki oleh pembeli. e. The Right Quality

(20)

f. The Right Source

Mengandung pengertian bahwa barang berasal dari sumber yang tepat. Sumber dikatakan tepat apabila memenuhi prinsip-prinsip yang lain yaitu the right price, the right quantity, the right time, the right place, and the right quality. Berdasarkan prinsi-prinsip pembelian barang tersebut diatas, maka dalam rangka melakukan pembelian unit organisasi harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

 Melakukan transaksi pembelian pada watu dan tempat yang tepat

 Barang yang dibeli memiliki manfaat dan fungsi yang diperlukan

 Sebelum membeli membandingkan harga dari tempat yang berbeda

 Bertanggung jawab atas pelaksanaan pembelian barang atau jasa

 Barang yang dibeli kemungkianan dapat dijual kembali

 Sebelum membeli lakukan periksalah harga pasar yang ada Pembelian barang dapat dilakukan secara tunai maupun kredit. Pembelian barang secara tunai (cash) adalah pembelian yang dilakukan sekali transaksi dengan menerima barang yang dibeli dan memberikan uang sebagai alat tukar yang sesuai dengan jumlah yang disepakati. Sedangkan pembelian secara kredit adalah pembelian yang dilakukan lebih dari satu kali transaksi, pada transaksi pertama pembeli memberikan sejumlah uang sebagai uang muka dan penjual memberikan barang yang dibeli dengan catatan akan terjadi pembayaran kedua, ketiga dan seterusnya sesuai kesepakatan.

2). Peminjaman

(21)

Organisasi/perusahaan juga dapat mengadakan barang-barang yang dibutuhkan dengan cara meminjam. Menurut (Dwiantara dan Sumarto, 2004) meminjam merupakan cara pemenuhan kebutuhan logistik yang diperoleh dari pihak lain dengan cara tanpa memberikan kontra prestasi (imbalan) dalam bentuk apapun. Pemenuhan dengan cara ini hendaknya dilakukan hanya untuk memenuhi kebutuhan logistik yang sifatnya sementara dan harus mempertimbangkan citra baik suatu organisasi.

Secara sederhana, pinjaman dapat diartikan sebagai barang atau jasa yang menjadi kewajiban pihak yang satu untuk dibayarkan kepada pihak lain sesuai dengan perjanjian tertulis ataupun lisan, yang dinyatakan atau diimplikasikan serta wajib dibayarkan kembali dalam jangka waktu tertentu. Dalam konteks meminjam barang, barang yang dipinjam itu pada saatnya harus dikembalikan sesuai dengan kesepakatan. Meminjam berarti memakai barang (uang dan sebagainya) orang lain untuk waktu tertentu (kalau sudah sampai waktunya harus dikembalikan).

Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata bab XII Bagian 1 dijelaskan bahwa pinjam pakai adalah suatu perjanjian dalam mana pihak yang satu menyerahkan suatu barang untuk dipakai dengan cuma-cuma kepada pihak lain, dengan syarat bahwa pihak yang menerima barang itu setelah memakainya atau setelah lewat waktu yang ditentukan, akan mengembalikan barang itu. Orang yang meminjamkan itu tetap menjadi pemilik mutlak barang yang dipinjamkan itu. Disinilah pentingnya bagi organisasi mengusahakan pemenuhan barang-barang logistik secara pembelian agar tidak tergantung pada pihak lain.

3). Menyewa

(22)

pemenuhan logistik dengan cara pinjaman, pemenuhan barang dengan cara menyewa juga hendaknya hanya dilakukan oleh unit logistik untuk barang-barang yang tidak terlalu vital dan sifatnya sementara. Sedapat mungkin organisasi mengupayakan tanpa melalui sewa menyewa.

Menurut Pasal 1548 KUH Perdata menyebutkan bahwa: perjanjian sewa-menyewa adalah suatu perjanjian, dengan mana pihak yang satu mengikatkan dirinya untuk memberikan kepada pihak yang lainya kenikmatan dari suatu barang, selama waktu tertentu dan dengan pembayaran suatu harga, yang oleh pihak tersebut belakangan telah disanggupi pembayaranya. Sedangkan Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia sewa berarti pemakaian sesuatu dengan membayar uang sewa dan menyewa berarti memakai dengan membayar uang sewa.

Jika terpaksa harus melakukan penyewaan barang maka organisasi/ perusahaan harus memperhatikan benar-benar resiko yang mungkin ditimbulkan. Resiko ini dimaknai sebagai kewajiban untuk memikul kerugian yang disebabkan oleh suatu peristiwa yang terjadi diluar kesalahan salah satu pihak, yang menimpa barang yang menjadi obyek dari suatu perjanjian. Risiko merupakan suatu akibat dari suatu keadaan yang memaksa (Overmacht) sedangkan ganti rugi merupakan akibat dari wanprestasi.

Pembebanan risiko terhadap obyek sewa didasarkan terjadinya suatu peristiwa diluar dari kesalahan para pihak yang menyebabkan musnahnya barang/ obyek sewa. Musnahnya barang yang menjadi obyek perjajian sewa-menyewa dapat dibagi menjadi dua macam yaitu :

(23)

yang menjadi obyek perjanjian sewa-menyewa tidak lagi bisa digunakan sebagai mana mestinya, meskipun terdaat sisa atau bagian kecil dari barang tersebut masih ada. Ketentuan tersebut diatur di dalam pasal 1553 KUH Perdata yang menyatakan jika musnahnya barang terjadi selama sewa-menyewa berangsung yang diakibatkan oleh suatu keadaan yang diakibatkan oleh suatu keadaan yang tidak bisa dipertanggung jawabkan pada salah satu pihak maka perjanjian sewa-menyewa dengan sendirinya batal.

 Musnah sebagian. Barang yang menjadi obyek perjanjian sewa-menyewa disebut musnah sebagian apabila barang tersebut masih dapat di gunakan dan dinikmati kegunaanya walaupun bagian dari barang tersebut telah musnah. Jika obyek perjanjian sewa-menyewa musnah sebagian maka penyewa mempunyai pilihan, yaitu: (a) Meneruskan perjanjian sewa-menyewa dengan meminta pengurangan harga sewa, (b) Meminta pembatalan perjanjian sewa-menyewa.

Pasal 1560, 1564, dan 1583 KUH Perdata menentukan bahwa pihak penyewa memiliki kewajiban-kewajiban, yaitu:

 Memakai barang yang disewa sebagai bapak rumah yang baik, sesuai dengan tujuan yang diberikan pada barang itu menurut perjanjian sewanya, atau jika tidak ada perjanjian mengenai itu, menurut tujuan yang dipersangkakan berhubungan dengan keadaan.

 Membayar harga sewa pada waktu-waktu yang telah ditentukan.

 Menanggung segala kerusakan yang terjadi selama sewa-menyewa, kecuali jika penyewa dapat membuktikan bahwa kerusakan tersebut terjadi bukan karena kesalahan si penyewa.  Mengadakan perbaikan-perbaikan kecil dan sehari-hari sesuai

(24)

4). Membuat Sendiri

Membuat sendiri merupakan salah satu upaya pemenuhan kebutuhan logistik dengan cara membuat barang-barang yang dibutuhkan. Pembuatan barang-barang kebutuhan logistik ini harus benar-benar disesuaikan dengan kebutuhan organisasi baik dari sisi waktu maupun kualitas barang. Pemilihan cara ini juga harus mempertimbangkan tingkat efektifitas dan efisiensinya dan jangan sampai mengorbankan usaha-usaha pokok organisasi/perusahaan.

5). Menukarkan

Menukarkan merupakan cara pemenuhan kebutuhan logistik dengan jalan menukarkan barang yang dimiliki dengan barang yang dimiliki oleh pihak lain yang dibutuhkan oleh organisasi/perusahaan. Pemilihan metode/ cara ini harus mempertimbangkan faktor saling menguntungkan di antara kedua belah pihak dan barang yang dipertukarkan harus merupakan barang yang sifatnya kelebihan/ berlebihan yang dipandang tidak memiliki daya guna untuk perusahaan. Cara ini cukup efektif dalam rangka untuk meningkatkan efektifitas barang-barang yang dimiliki oleh organisasi/ perusahaan. Barang-barang yang berlebih menjadi tidak mubazir karena tidak terpakai tetapi dapat ditukar dengan barang lain yang lebih berguna.

6). Substitusi

(25)

tidak tersedia di pasaran, dan tidak bisa diusahakan baik dengan cara sewa, pinjam maupun dibuat sendiri.

7). Pemberian/ hadiah

Meski jarang terjadi, tetapi pengadaan barang melalui proses pemberian (hibah) atau hadiah tetap bisa menjadi salah satu alternatif. Hibah/ pemberian barang ini diberikan oleh pihak lain tanpa adanya ikatan yang dapat merugikan organisasi/ perusahaan. Oleh sebab itu sebelum menerima hibah/ pemberian unit logistik harus benar-benar mengkaji dampak-dampak yang tidak diinginkan di kemudian hari.

8). Perbaikan/ rekondisi

Dalam rangka meningkatkan efisiensi penggunaan barang-barang yang ada di organisasi maka unit logistik hendaknya memiliki tenaga terampil yang dapat melakukan usaha-usaha perbaikan (repair) terhadap barang-barang logistik yang mengalami kerusakan, terutama kerusakan ringan. Namun demikian, unit logistik tetap harus mempertimbangkan untuk mengadakan barang yang baru jika tingkat kerusakan barang yang ada sudah parah. Jika kerusakan telah cukup parah dan tetap dipaksakan untuk direkondisi, dikhawatirkan biaya perawatannya akan lebih mahal dibandingkan dengan mengadakan barang yang baru.

(26)

E. SISTEM PENGADAAN LOGISTIK

Ada dua sistem pengadaan logistik yakni sistem sentralisasi dan sistem desentralisasi. Namun karena kedua sistem ini memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing, maka kemudian dikembangkan sistem campuran, yakni campuran antara sistem sentralisasi dan sistem desentralisasi.

Menurut Dwinantara dan Sumarto (2004) yang dimaksud dengan sistem pengadaan barang secara sentralisasi adalah pengadaan barang-barang logistik yang dilakukan oleh satu unit logistik yang diberikan kewenangan untuk mengadakan barang-barang kebutuhan semua unit-unit kerja dalam suatu organisasi. Unit logistik inilah satu-satunya unit kerja yang mengadakan kebutuhan logistik organisasi. Semua unit kerja mengajukan barang-barang kebutuhannya kepada unit logistik ini.

(27)

hal-hal yang dianggap sepele oleh unit logistik justru menjadi sangat penting bagi unit kerja yang bersangkutan.

Sistem desentralisasi pengadaan barang adalah adanya pemberian kewenangan kepada masing-masing unit kerja untuk menyusun daftar kebutuhan barang dan sekaligus melakukan proses pengadaan secara mandiri. Dengan demikian maka masing-masing unit kerja harus memiliki semacam unit logistik di dalam organisasinya. Kondisi semacam ini mengakibatkan terlalu banyaknya personil yang mengurusi masalah pengadaan barang dalam suatu organisasi. Jika setiap organisasi memiliki 5 bagian/ unit kerja, maka setidaknya ada 5 orang yang kerjanya berurusan dengan masalah logistik. Tentu saja sistem desentralisasi ini juga memiliki kelebihan dan kekurangan.

(28)

saja biaya transportasi, biaya pegawai, biaya pergudangan, biaya administrasi, dan sebagainya.

Atas dasar adanya ketidak sempurnaan kedua sistem tersebut, maka dikembangkanlah sistem campuran (sentralisasi-desentralisasi) sebagai upaya untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi pengadaan barang dan menghilangkan masalah-masalah pengadaan barang. Dapat dikatakan bahwa sistem campuran ini merupakan suatu cara pengadaan barang dengan mengombinasikan antara sistem sentralisasi dan sistem desentralisasi. Yang ingin dicapai dari sistem ini adalah terpenuhinya spesifikasi barang setiap unit kerja secara tepat dan cepat berdasarkan standar barang organisasi disatu sisi dan mengurangi biaya-biaya overhead cost disisi lain. Salah satu yang dilakukan oleh sistem ini adalah, jika pembelian barang sejenis jumlahnya banyak dan dibutuhkan oleh banyak unit kerja, maka pengadaannya dilakukan secara sentralisasi, namun jika barang yang dibutuhkan oleh unit kerja sifatnya khusus, sifatnya mendesak dan jumlahnya sedikit maka digunakan sistem desentralisasi.

F. PRINSIP PENGADAAN BARANG

Pengadaan barang logistik bagi organisasi/ perusahaan harus dilakukan dengan perhitungan dan pertimbangan matang. Hal ini dilakukan untuk menghindari berbagai kerugian yang mungkin dapat ditanggung oleh organisasi secara keseluruhan dan pada akhirnya justru akan menggangu kinerja unit-unit kerja yang ada. Oleh sebab itu agar pengadaan barang logistik tidak menimbulkan masalah bagi organisasi, perlu memperhatikan prinsi pengadaan barang sebagai berikut;

1) Mempertahankan kualitas material.

2) Membeli material dengan harga termurah dan kualitas serta service yang dibutuhkan.

(29)

4) Menghindari waste, duplikasi dan obsolescene. 5) Mempertahankan posisi kompetitif perusahaan. 6) Ketersediaan terjamin dan biaya pengadaan efisien. 7) Mencari material baru yang memungkinkan dilakukan

peningkatan efisiensi dan produktifitas perusahaan.

G. PEMILIHAN PEMASOK (SUPPLIER)

Pemasok merupakan pihak yang sangat penting perannya dalam proses pengadaan barang. Unit logistik harus dapat membangun kerjasama yang baik dengan berbagai pemasok sehingga dapat mempermudah proses pengadaan barang. Jika unit logistik harus menolak pemasok tertentu, maka penolakan itu harus dilakukan secara baik dan bijaksana sehingga tidak menyakitkan bagi pemasok tersebut. Mungkin saja saat ini pemasok tersebut tidak dapat kita jadikan partner dalam pengadaan barang, namun siapa tahu pada masa yang akan datang dia justru menjadi satu-satunya pemasok yang ada atas barang logistik yang kita butuhkan. Oleh karena itu sebelum memutuskan untuk bekerjasama dengan pemasok unit logistik ada baiknya mempertimbangkan dan memperhatikan pemasok seperti apa yang benar-benar dapat bekerjasama.

Untuk mengetahui bagaimana profil pemasok yang ada, maka kita dapat mencari informasi pemasok-pemasok barang yang ada dari berbagai sumber yakni:

• Pengalaman perusahaan sendiri • Salesman

• Katalog

• Direktori Perdagangan • Jurnal dagang

• Pameran

(30)

• Konsultan • Internet

Untuk memilih pemasok mana yang akan dihubungi untuk diajak bekerja sama, maka perlu mempertimbangkan hal-hal berikut ini:

• Pertimbangan ekonomis • Pertimbangan teknis • Sumber pembiayaan • Peraturan pemerintah • Pertimbangan sosial politik • Green Purchasing

Setelah kita menemukan pemasok yang cocok maka kita persiapkan bahan-bahan sebagai informasi pemasok yang akan dibicarakan. Unit logistik tidak seharusnya menemui pemasok tanpa memiliki informasi-informasi berikut ini sebagai bahan untuk bernegoisasi.

• Waktu penyerahan (kecepatan, kehandalan & fleksibilitas) • Jumlah pengiriman minimum

• Mutu

• Biaya pengangkutan • Persyaratan pembayaran • Koordinasi

• Pajak dan nilai tukar • Kelangsungan hidup • Safety

(31)

H. METODE PEMILIHAN PEMASOK

Berikut ini adalah beberapa metode yang dapat digunakan untuk memilih pemasok yang tepat untuk dapat memenuhi barang-barang kebutuhan organisasi:

– Tender/Lelang Dunn ranking

Delphi

The law of comparative judgment AHP (Analytical Hierarchy Process)

I. PENGADAAN BARANG DAN JASA PEMERINTAH

Pemerintah sebagai suatu entitas/organisasi yang memiliki banyak kebutuhan akan barang dan jasa, juga sangat berkepentingan terhadap masalah pengadaan barang logistik. Pengadaan barang dan jasa pemerintah ini diatur dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 54Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (Perpres No.54/2010).

Perpres No. 54/2010, Bab III, pasal 8, ayat (1) menyatakan bahwa Pengguna Anggaran (PA) memiliki tugas dan kewenangan menetapkan Rencana Umum Pengadaan dan mengumumkan secara luas Rencana Umum Pengadaan paling kurang di website K/L/D/I, pasal 11 ayat (1) bahwa PPK menetapkan rencana pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa, serta pasal 17 ayat (2) bahwa ULP/Pejabat Pengadaan menyusun rencana pemilihan Penyedia Barang/Jasa dan menetapkan Dokumen Pengadaan.

(32)

1. Satuan kerja adalah bagian dari suatu unit organisasi pada Kementerian Negara/Lembaga yang melaksanakan satu atau beberapa kegiatan dari suatu program

2. Satuan Kerja Perangkat Daerah yang selanjutnya disingkat SKPD adalah perangkat daerah pada pemerintah daerah selaku pengguna anggaran/pengguna barang.

3. Rencana Kerja dan Anggaran

Kementerian/Lembaga, yang selanjutnya disingkat RKA-K/L, adalah dokumen rencana keuangan tahunan Kementerian/Lembaga yang disusun menurut Bagian Anggaran Kementerian/Lembaga.

4. Rencana Kerja dan Anggaran SKPD, yang selanjutnya disingkat RKA-SKPD, adalah dokumen perencanaan dan penganggaran yang berisi program dan kegiatan SKPD serta anggaran yang diperlukan untuk melaksanakannya.

5. Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara, yang selanjutnya disingkat PPAS, merupakan program prioritas dan patokan batas maksimal anggaran yang diberikan kepada SKPD untuk setiap program sebagai acuan dalam penyusunan RKA-SKPD.

6. Pagu indikatif merupakan ancar-ancar pagu anggaran yang diberikan kepada Kementerian Negara/Lembaga sebagai pedoman dalam penyusunan Renja- K/L.

7. Pagu Anggaran Kementerian/Lembaga, yang selanjutnya disebut Pagu Anggaran K/L, adalah batas tertinggi anggaran yang dialokasikan kepada Kementerian/Lembaga dalam rangka penyusunan RKA-K/L. 8. Inisiatif Baru adalah usulan tambahan rencana Kinerja

selain yang telah dicantumkan dalam prakiraan maju, yang berupa program, kegiatan, keluaran, dan/atau komponen. 9. Perencanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah,

(33)

Barang/Jasa, adalah proses perumusan kegiatan yang meliputi prosedur penyusunan Perencanaan Umum Pengadaan Barang/Jasa dan Persiapan Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa.

10. Prosedur Penyusunan Rencana Umum Pengadaan Barang/Jasa adalah tata cara perumusan kegiatan persiapan pengadaan barang/jasa, yang dimulai dari mengidentifikasi kebutuhan barang/jasa sampai dengan diumumkannya Rencana Umum Pengadaan Barang/Jasa oleh PA.

11. Prosedur Persiapan Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa adalah tata cara perumusan kegiatan persiapan pengadaan yang dimulai dari penyerahan Dokumen Rencana Umum Pengadaan Barang/Jasa oleh PA kepada PPK dan ULP/Pejabat Pengadaan sampai dengan ditetapkannya Dokumen Pengadaan Barang/Jasa.

12. Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran, yang selanjutnya disebut DIPA, adalah Dokumen Pelaksanaan Anggaran yang berfungsi sebagai dokumen pelaksanaan pembiayaan kegiatan serta dokumen pendukung kegiatan akuntansi pemerintah yang dibuat oleh Kementerian/Lembaga dan disahkan oleh Menteri Keuangan. 13. Dokumen Pelaksanaan Anggaran SKPD, yang

selanjutnya disingkat DPA- SKPD, merupakan dokumen yang memuat pendapatan dan belanja setiap SKPD yang digunakan sebagai dasar pelaksanaan oleh pengguna anggaran.

(34)

Pengadaan barang dan jasa pemerintah harus mengikuti alur dan proses yang telah ditentukan dalam Perpres Nomor 54 tahun 2010 yang terdiri atas:

1) Penyusunan Rencana Umum Pengadaan Barang/Jasa, yang meliputi:

 Identifikasi kebutuhan barang/jasa;

 Penyusunan dan penetapan rencana penganggaran;

 Penetapan kebijakan umum tentang pemaketan pekerjaan;

 Penetapan kebijakan umum tentang cara pengadaan, yang meliputi:

 Pengadaan dengan cara Swakelola; dan

 Pengadaan dengan menggunakan Penyedia Barang/Jasa.

 Penetapan kebijakan umum tentang pengorganisasian pengadaan;

 Penyusunan Kerangka Acuan Kerja (KAK);

 Penyusunan jadwal kegiatan pengadaan;

 Pengumuman Rencana Umum Pengadaan;

2) Persiapan Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa, yang meliputi:  Persiapan Pelaksanaan Pengadaan Swakelola

 Pelaksanaan Swakelola oleh K/L/D/I Penanggungjawab Anggaran;

 Pelaksanaan Swakelola oleh Instansi Pemerintah Lain PelaksanaSwakelola;

 Pelaksanaan Swakelola oleh Kelompok Masyarakat Pelaksana Swakelola;

 Persiapan Pelaksanaan Pengadaan Melalui Penyedia Barang/Jasa

 Perencanaan pemilihan Penyedia Barang/Jasa;

 Pemilihan sistem Pengadaan Barang/Jasa;

(35)

b. Penetapan metode penyampaian dokumen penawaran

c. Penetapan metode evaluasi penawaran d. Penetapan jenis kontrak

 Penetapan metode penilaian kualifikasi Penyedia Barang/Jasa.

 Penyusunan jadwal pemilihan Penyedia Barang/Jasa

 Penyusunan dokumen Pengadaan Barang/Jasa.

 Penetapan Harga Perkiraan Sendiri (HPS)

H. RANGKUMAN

1. Perencanaan Logistik merupakan kegiatan pemikiran, penelitian, perhitungan, dan perumusan tindakan-tindakan yang kan dilakukan di masa yang akan datang, baik berkaitan dengan kegiatan-kegiatan operasional dalam pengadaan logistik, penggunaan logistik, pengorganisasian, maupun penegendalian logistik.

2. Perencanaan logistik dapat dibedakan menjadi 3 (tiga) tipe, yaitu strategis, operasional, dan taktis. Kriteria dasar untuk menentukan masing-masing sifatnya adalah komitmen aktiva, lamanya waktu perencanaan, dan kemungkinan pelaksanaannya

3. Pengadaan merupakan serangkaian kegiatan untuk menyediakan logistik sesuai dengan kebutuhan, baik berkaitan dengan jenis dan spesifikasi, jumlah, waktu maupun tempat, dengan harga dan sumber yang dapat dipertanggung jawabkan dengan tujuan untuk memperoleh barang atau jasa dengan harga yang dapat dipertanggungjawabkan, dengan jumlah dan mutu yang sesuai, serta selesai tepat waktu.

(36)

1. Jelaskan pengertian perencanaan logistik dan jenis-jenis perencanaan logistik?

2. Apakah tujuan pengadaan barang logistik?

3. Jelaskan proses pengadaan barang pada instansi pemerintah?

REFERENSI

Bowersox, D.J. 2004. Manajemen Logistik 2. Jakarta. Bumi Aksara.

Indrajit R.E dan Djokopranoto, R. 2005. Manajemen Persediaan. Jakarta. Grasindo

Referensi

Dokumen terkait

Perencanaan pada empat sub-sistem kedua yang meliputi perencanaan jadwal induk produksi ( master production scheduling ), rough-cut-capacity planning ,

Kedua, menentukan profil pembelajaran dengan mengkaji upaya proses pembelajaran untuk menghadirkan bahan ajar secara otentik dan konkrit, sehingga akan ditemukan adanya

Untuk mengetahui efektifitas dalam pembelajaran sistem e-learning adaptif yang telah dikembangkan tersebut, maka perlu dilakukan penelitian esperimen yang melibatkan pengguna

Kedua menara mewadahi fungsi unit hunian apartemen sementara podium dasar terdiri atas beberapa lantai yang mewadahi fungsi shopping mall, entrance dan fasilitas

Pembangunan Jaringan Infrastruktur secara terintegrasi satu sama lain, Meningkatkan kualitas dan kuantitas jalan dan jembatan, Meningkatkan Sistem Jaringan Drainase,

Bahwa dalam rangka meningkatkan efisiensi, efektifitas, transparansi, persaingan sehat dan akuntabilitas dalam pelaksanaan pengadaan barang/jasa pemerintah dan Non pemerintah,

Tujuan dari perlindungan aset, integritas data, efektivitas sistem, dan efisiensi sistem dapat dicapai dengan baik jika manajemen organisasi meningkatkan sistem pengendalian

Tujuan dari perlindungan aset, integritas data, efektivitas sistem, dan efisiensi sistem dapat dicapai dengan baik jika manajemen organisasi meningkatkan sistem