• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengembangan Potensi Lanskap Sejarah Kampus Dramaga untuk Mendukung Program Agroedutourism di Institut Pertanian Bogor

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pengembangan Potensi Lanskap Sejarah Kampus Dramaga untuk Mendukung Program Agroedutourism di Institut Pertanian Bogor"

Copied!
94
0
0

Teks penuh

(1)

PENGEMBANGAN POTENSI LANSKAP SEJARAH KAMPUS

DRAMAGA UNTUK MENDUKUNG PROGRAM

AGROEDUTOURISM

DI INSTITUT PERTANIAN BOGOR

IRMA LASMIANA SUMARNA

DEPARTEMEN ARSITEKTUR LANSKAP FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

(2)
(3)

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN

SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Pengembangan Potensi Lanskap Sejarah Kampus Dramaga untuk Mendukung Program Agroedutourism di Institut Pertanian Bogor adalah benar karya saya dengan arahan dari pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

(4)

ABSTRAK

IRMA LASMIANA SUMARNA. Pengembangan Potensi Lanskap Sejarah Kampus Dramaga untuk Mendukung Program Agroedutourism di Institut Pertanian Bogor. Dibimbing oleh NURHAYATI HADI SUSILO ARIFIN.

Kampus IPB Dramaga memiliki sejarah pada lanskapnya baik sebelum maupun setelah ditetapkan sebagai area kampus IPB. Salah satu cara menjaga dan melestarikan lanskap sejarah kampus IPB adalah dengan mengaitkannya dengan wisata. Berkaitan dengan wisata, IPB memiliki suatu program wisata yang bernama Agroedutourism. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk membuat suatu konsep pengembangan potensi lanskap sejarah kampus IPB untuk mendukung program Agroedutourism di IPB. Penelitian dilakukan di kampus IPB Dramaga dari bulan Maret hingga Juli 2013 dengan metode survai, penelusuran sejarah, analisis deskriptif dan penilaian potensi lanskap sejarah dengan pendekatan teknik scoring. Dari identifikasi, terdapat 47 elemen dan tapak bersejarah yang terbagi ke dalam 5 periode. Setelah penilaian dilakukan, terdapat 19 elemen dan tapak yang memiliki nilai signifikansi tinggi, 12 elemen dan tapak yang memiliki nilai signifikansi sedang, dan 16 elemen dan tapak yang memiliki nilai signifikansi rendah. Penelitian menghasilkan suatu konsep pengembangan potensi lanskap sejarah kampus dengan pengintegrasian elemen-elemen sejarah bernilai penting untuk menjadi obyek wisata Agroedutourism termasuk pengembangan jalur wisata, arahan penataan lanskap dan fasilitas interpretasi. Kata kunci: agroedutourism, kampus IPB Dramaga, lanskap sejarah

ABSTRACT

IRMA LASMIANA SUMARNA. The Development of Historical Landscape in Dramaga Campus to Support Agroedutourism Program at Bogor Agricultural University. Supervised by NURHAYATI HADI SUSILO ARIFIN.

(5)

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian

pada

Departemen Arsitektur Lanskap

PENGEMBANGAN POTENSI LANSKAP SEJARAH KAMPUS

DRAMAGA UNTUK MENDUKUNG PROGRAM

AGROEDUTOURISM

DI INSTITUT PERTANIAN BOGOR

IRMA LASMIANA SUMARNA

DEPARTEMEN ARSITEKTUR LANSKAP FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

(6)
(7)
(8)

Judul Skripsi : Pengembangan Potensi Lanskap Sejarah Kampus Dramaga untuk Mendukung Program Agroedutourism di Institut Pertanian Bogor Nama : Irma Lasmiana Sumarna

NIM : A44090035

Disetujui oleh

Dr Ir Nurhayati H. S. Arifin, MSc Pembimbing

Diketahui oleh

Dr Ir Nizar Nasrullah, MAgr Plh Ketua Departemen

(9)

© Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2013

Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan IPB

(10)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Judul penelitian ini adalah Pengembangan Potensi Lanskap Sejarah Kampus Dramaga untuk Mendukung Program Agroedutourism di Institut Pertanian Bogor. Penelitian ini disusun dalam rangka memenuhi syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Pertanian dari Institut Pertanian Bogor.

Atas semua bimbingan, bantuan, dukungan, dan perhatian yang telah diberikan, penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. Ibu Dr Ir Nurhayati H. S. Arifin, MSc selaku dosen pembimbing akademik sekaligus dosen pembimbing skripsi yang telah memberikan bimbingan dan arahan selama masa perkuliahan hingga terselesaikannya skripsi ini;

2. Bapak Asep dari Subdit Inventaris Faspro IPB dan Bapak Bambang dari Humas IPB yang telah membantu dalam pengumpulan data dan penelusuran sejarah kampus IPB;

3. Bapak Hery Purwanto dan Bapak Dr Drs D. Iwan Riswandi, SE, MSi dari Direktorat Perencanaan dan Pengembangan IPB yang telah memberikan informasi mengenai perkembangan rencana induk IPB;

4. Bapak Dr Ir Bambang Sulistyantara, MAgr selaku ketua Tim Pengelola Agroedutourism IPB, Kak Fiona, Kak Dwinda, Kak Zainul dan teman-teman sesama tour guide Agroedutourism IPB atas dukungan dan bantuannya selama pengamatan dan analisis program Agroedutourism;

5. Orang tua, seluruh keluarga, beserta seluruh teman-teman ARL 46 atas segala doa, semangat, dan kasih sayangnya.

Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.

(11)

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL ix

DAFTAR GAMBAR ix

PENDAHULUAN 1

Latar Belakang 1

Tujuan Penelitian 2

Manfaat Penelitian 2

Kerangka Pikir Penelitian 2

METODE 3

Lokasi dan Waktu Penelitian 3

Metode Penelitian 4

HASIL DAN PEMBAHASAN 7

Kondisi Umum Lanskap IPB Dramaga 7

Sejarah Perkembangan Institut Pertanian Bogor 8

Identifikasi Elemen dan Tapak Bersejarah Kampus IPB Dramaga 9

Analisis Lanskap Sejarah Kampus IPB Dramaga 49

Pelestarian Lanskap Sejarah Kampus IPB Dramaga 57

Program Agroedutourism IPB 62

Konsep Integrasi Potensi Lanskap Sejarah Kampus dalam Agroedutourism 69

PENUTUP 76

Simpulan 76

Saran 77

DAFTAR PUSTAKA 77

(12)

DAFTAR TABEL

1 Kriteria penilaian keaslian (originality) 6

2 Kriteria penilaian keunikan (uniqueness) 7

3 Elemen atau tapak bersejarah sejak masa sebelum kolonial belanda

hingga tahun 1962 16

4 Elemen dan tapak bersejarah periode tahun 1963–1983 23 5 Elemen dan tapak bersejarah periode tahun 1984–1989 29 6 Elemen dan tapak bersejarah periode tahun 1990–2009 41 7 Elemen dan tapak bersejarah periode tahun 2010–2013 47 8 Penilaian keaslian (originality) lanskap sejarah kampus IPB Dramaga 49 9 Penilaian keunikan (uniqueness) lanskap sejarah kampus IPB Dramaga 52 10 Penilaian gabungan aspek keaslian dan keunikan lanskap sejarah

kampus IPB Dramaga 55

11 Tindakan pelestarian lanskap sejarah 58

12 Tindakan pelestarian terhadap lanskap sejarah kampus IPB Dramaga

yang memiliki nilai signifikansi tinggi 59

13 Obyek wisata Agroedutourism IPB 65

14 Kegiatan kunjungan Agroedutourism bulan Januari sampai November

2012 67

15 Susunan kegiatan wisata beserta durasi 76

DAFTAR GAMBAR

1 Kerangka pikir penelitian 3

2 Lokasi penelitian 3

3 Tahapan penelitian 5

4 Kuburan “Mbah Jawa” jika dilihat dari arah: (a) FMIPA, (b) jalan 10 5 Batu nisan di kompleks kuburan Palalangon (PPLH IPB 2012) 11 6 Sisa-sisa perkebunan karet Belanda: (a) di area depan FMIPA, (b) di

Jalan Agatis, (c) di kebun Cikabayan 12

7 (a) Bangunan Landhuis, (b) Lonceng Slavenbel 14

8 (a) Kantor administrasi, (b) Rumah administrator 14

9 (a) Menara air, (b) Bak pengolahan lateks 15

10 (a) Pencangkulan pertama kampus IPB Dramaga (Humas IPB 2010), (b)

Pinus plaza Soekarno 16

11 Bangunan Fakultas Kehutanan 19

12 Asrama: (a) Sylva Sari, (b) Amarilis, (c) Sylva Lestari, (d) Sylva Pinus 19 13 Kondisi lanskap kampus IPB sebelum rencana induk 1981 20 14 (a) Perumahan dosen, (b) Gedung olah raga lama 21 15 Bangunan-bangunan Food Technology Development Center 22 16 (a) Bangunan Agricultural Product Processing Pilot Plant, 22

17 Rencana induk tahun 1981 24

18 (a) Bangunan Lembaga Sumber daya Informasi, (b) Bangunan Pusat

Penelitian Lingkungan Hidup 25

19 (a) Gedung administrasi pusat, (b) Bangunan Fakultas Teknologi

(13)

20 (a) Bangunan Pusat Antar Universitas, (b) Bangunan GMSK 27

21 Kompleks sistem energi tata surya 28

22 Rencana induk hasil revisi tahun 1989 30

23 Gedung Graha Widya Wisuda: (a) lama, (b) baru 31 24 (a) Bangunan Poliklinik IPB, (b) Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan 32 25 (a) Mesjid Al Hurriyyah, (b) Fakultas Peternakan 34 26 Simbol peresmian kampus IPB Dramaga: (a) Dua pohon beringin, (b)

Batu prasasti 35

27 (a) Fakultas Pertanian, (b) Fakultas Kedokteran Hewan 37 28 (a) Rumah Sakit Hewan IPB, (b) Gymnasium (sumber:

avita.unaiya10.student.ipb.ac.id 2013) 38

29 Asrama TPB IPB: (a) putera (b) puteri 38

30 (a) Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, (b) Rusunawa 39 31 (a) Asrama internasional, (b) Gedung Agrimedia 41

32 Rencana induk hasil revisi tahun 2010-2030 44

33 (a) Fakultas Ekonomi Manajemen, (b) Fakultas Ekologi Manusia 45 34 (a) Common Class Room, (b) Laboratorium bersama, (c) Rencana

Gedung Pusat Informasi Kehutanan (sumber:

http://kshe.fahutan.ipb.ac.id 2012) 47

35 Elemen dan tapak bersejarah kampus IPB Dramaga 48 36 Hasil analisis nilai signifikansi sejarah lanskap sejarah kampus IPB

Dramaga 56

37 Obyek wisata Agroedutourism IPB 66

38 Tingkat pendidikan pengunjung Agroedutourism IPB 67 39 Jalur interpretasi lanskap sejarah kampus IPB Dramaga bagi kegiatan

awal kunjungan 71

(14)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Institut Pertanian Bogor (IPB) adalah lembaga pendidikan tinggi pertanian yang secara historis merupakan bentukan dari lembaga-lembaga pendidikan menengah dan tinggi pertanian serta kedokteran hewan yang dimulai pada awal abad ke-20 di Bogor (Anonim 2012). Saat ini IPB memiliki 5 kampus yang tersebar di beberapa lokasi dengan peruntukan khusus, yaitu: kampus IPB Dramaga (267 Ha) sebagai kantor rektorat dan pusat kegiatan belajar-mengajar S1, S2 dan S3, kampus IPB Baranangsiang Bogor (11.5 Ha) sebagai pusat kegiatan penelitian dan pemberdayaan masyarakat serta pendidikan pascasarjana eksekutif, kampus IPB Gunung Gede Bogor (14.5 Ha) sebagai pusat kegiatan pendidikan manajemen dan bisnis, kampus IPB Cilibende Bogor (3.2 Ha) sebagai pusat kegiatan pendidikan vokasional diploma, dan kampus IPB Taman Kencana Bogor (3.4 Ha) yang direncanakan untuk pendirian rumah sakit internasional (Humas IPB 2010).

IPB yang secara resmi berdiri sejak tahun 1963 ini tentunya telah menorehkan banyak sejarah. Begitupun dengan lanskap kampus IPB khususnya kampus IPB Dramaga memiliki berbagai sejarah baik sebelum kampus IPB dibangun maupun setelah kampus IPB dibangun. Sejarah tersebut dapat terlihat dari elemen-elemen lanskap sejarah kampus IPB Dramaga yang sampai saat ini masih ada. Namun keberadaan elemen-elemen lanskap bersejarah ini masih diabaikan dan tidak dianggap penting, sehingga keberadaan elemen-elemen bersejarah ini belum banyak diketahui oleh masyarakat dan belum dimanfaatkan terutama sebagai bukti sejarah IPB dan salah satu identitas kampus IPB Dramaga. Padahal keberadaan elemen-elemen lanskap bersejarah memiliki nilai penting, seperti yang dikemukakan Arifin (2011), bahwa bukti fisik yang dapat merepresentasikan nilai pentingnya, dapat dilihat, dipelajari, diinterprestasi, diteliti sebagai pengingat, pengenal dan penghubung suatu kawasan/masyarakat dengan sejarah masa lalunya, sebagai identitas kawasan, sebagai aset untuk ekonomi/kesejahteraan masyarakat, dan sebagai bagian dari kota (kawasan yang lebih besar) menghasilkan keberagaman yang meningkatkan kualitas kota.

Menjaga dan melestarikan sejarah bagi suatu bangsa sangatlah penting. Salah satu caranya adalah dengan mengaitkannya dengan pariwisata. Hal ini dapat dilakukan dengan menjadikan hal yang berkaitan dengan sejarah sebagai obyek wisata (Gustiawan 2012). Dengan demikian, potensi lanskap sejarah kampus IPB Dramaga penting untuk dilestarikan dan dapat dikembangkan dalam suatu program wisata.

(15)

2

kampus IPB berpotensi untuk dikembangkan atau diintegrasikan menjadi salah satu program pendukung dalam program Agroedutourism IPB. Oleh karena itu, dengan mengembangkan potensi lanskap sejarah kampus dan memasukkannya ke dalam program Agroedutourism, dapat menjadi salah satu upaya melestarikan sejarah IPB untuk menjaga keberlanjutannya.

Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah:

1. mengidentifikasi elemen dan tapak bersejarah kampus IPB Dramaga,

2. menganalisis potensi dan kendala, serta nilai penting lanskap sejarah kampus IPB,

3. menganalisis potensi pengembangan lanskap sejarah untuk program Agroedutourism IPB, dan

4. membuat suatu rekomendasi pengembangan potensi lanskap sejarah kampus untuk mendukung program Agroedutourism IPB.

Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah:

1. menghasilkan suatu rekomendasi pengembangan lanskap sejarah kampus IPB yang dapat menjadi bahan pertimbangan bagi tim pengelola Agroedutourism IPB sebagai salah satu program pendukung Agroedutourism;

2. pertimbangan bagi pengelola kampus IPB agar menjaga dan melestarikan lanskap sejarah kampus IPB Dramaga, sehingga lanskap sejarah kampus tersebut dapat menjadi identitas kampus IPB.

Kerangka Pikir Penelitian

(16)

3

METODE

Lokasi dan Waktu Penelitian

Kegiatan penelitian ini dilakukan di kawasan kampus Institut Pertanian Bogor (IPB) Dramaga, yaitu di Jalan Raya Dramaga, Desa Babakan, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat (Gambar 2). Penelitian dilakukan selama 4 bulan, yaitu pada bulan Maret hingga Juli 2013.

(17)

4

Metode Penelitian

Penelitian ini dilakukan dalam 3 tahap yaitu tahap pengumpulan data, tahap analisis, dan tahap sintesis (Gambar 3). Penjelasan dari tahapan-tahapan yang dilakukan adalah sebagai berikut:

Tahap Pengumpulan Data

Tahap pengumpulan data dilakukan dengan pengumpulan data awal yang berupa data primer dan data sekunder. Data yang diambil meliputi aspek sejarah, fisik, dan wisata. Secara teknis, tahap pengumpulan data dilakukan dengan cara: 1. survai lapang, dilakukan untuk mendapatkan data primer dan mengetahui

langsung kondisi tapak, yaitu: kondisi fisik lanskap yang bernilai sejarah, karakter lanskap dan lingkungan sekitarnya, elemen bersejarah, dan penggunaan lahan saat ini.

2. wawancara, dilakukan untuk memperoleh data dan informasi dari pihak-pihak yang terkait seperti tim pengelola Agroedutourism IPB mengenai kondisi program Agroedutourism IPB, Direktorat Fasilitas dan Properti IPB untuk mendapatkan data keberadaan elemen bersejarah, penelusuran sejarah dan pengelolaan yang telah dilakukan terhadap elemen-elemen bersejarah, Direktorat Perencanaan dan Pengembangan untuk mendapat informasi mengenai perkembangan master plan IPB, serta narasumber lain untuk mendapatkan informasi mengenai perkembangan lanskap kampus IPB Dramaga sebagai salah satu sumber penelusuran sejarah.

3. studi pustaka, dilakukan untuk mendapatkan data dan informasi sekunder yang tidak didapatkan dari survai tapak serta untuk melengkapi data dan informasi yang dirasa belum cukup. Studi pustaka terutama dilakukan di Direktorat Fasilitas dan Properti IPB Subdit Inventaris berupa studi dokumen-dokumen laporan pembangunan kampus IPB Dramaga beserta rencana induk.

Tahap Analisis

Tahap analisis merupakan tahap penilaian kualitas karakter lanskap lokasi penelitian. Analisis dilakukan berdasarkan data yang dikumpulkan, untuk menentukan potensi dan kendala pada tapak. Metode analisis yang digunakan adalah secara deskriptif. Analisis yang dilakukan dimulai dengan identifikasi elemen dan tapak bersejarah kampus IPB Dramaga dengan periodisasi sejarah yang digunakan berdasarkan keberadaan kolonial Belanda untuk masa sebelum kampus IPB dibangun dan berdasarkan rencana induk IPB pada masa pembangunan kampus IPB Dramaga. Periodisasi sejarah tersebut terbagi menjadi 5 periode, yaitu:

1. periode pertama adalah pada masa sebelum Kolonial Belanda hingga tahun 1962. Tahun 1962 digunakan sebagai batas akhir periode pertama karena tahun ini merupakan tahun terakhir kawasan Dramaga belum dikelola oleh IPB yang berdiri secara resmi pada tahun 1963;

2. periode kedua adalah pada tahun 1963 hingga tahun 1983, yaitu masa pembangunan kampus Dramaga sejak IPB berdiri dengan pembangunan yang belum mengikuti rencana induk;

(18)

5 pertama (tahun 1981) hingga pembuatan rencana induk revisi pada tahun 1989;

4. periode keempat adalah pada tahun 1990 hingga tahun 2009, yaitu masa pembangunan kampus IPB Dramaga yang mengikuti rencana induk hasil revisi tahun 1989 hingga pembuatan rencana induk revisi terbaru pada tahun 2010;

5. periode kelima adalah pada tahun 2010 hingga tahun 2013, yaitu masa pembangunan kampus IPB Dramaga yang mengikuti rencana induk revisi tahun 2010 hingga dilakukannya penelitian ini pada tahun 2013.

Setelah identifikasi, analisis dilanjutkan dengan analisis terhadap kondisi fisik dan nilai penting lanskap sejarah kampus sesuai dengan periode sejarah, analisis perkembangan rencana induk IPB sesuai dengan pengaruhnya terhadap keberadaan elemen dan lanskap bersejarah yang berhasil diidentifikasi, serta analisis potensi pengembangan potensi lanskap sejarah kampus untuk mendukung

(19)

6

program Agroedutourism. Analisis untuk mengetahui nilai signifikansi lanskap sejarah adalah dengan melakukan penilaian terhadap beberapa aspek penting menurut Harris dan Dines (1998) yang dimodifikasi dengan menyesuaikan kebutuhan dan kondisi lanskap sejarah. Penilaian signifikansi tersebut meliputi penilaian keaslian (originality) dan keunikan (uniqueness). Penilaian terhadap aspek tersebut dihitung menggunakan metode scoring yang dikemukakan oleh Selamet (1983) dalam Allindani (2007), dengan rumus interval kelas:

Int r al K la ሺIKሻ k r Mak i u Ju lah Kat riሺ Maሻ k r Mini u ( Mi)

Keterangan : Tinggi = SMi + 2IK + 1 sampai SMa Sedang = SMi + IK + 1 sampai (SMi + 2IK) Rendah = SMi sampai SMi + IK

Kriteria penilaian yang digunakan sebagai tolok ukur dalam menentukan tingkat keaslian lanskap sejarah kampus IPB Dramaga adalah fungsi, kondisi fisik elemen atau tapak, dan aksesibilitas menuju elemen atau tapak (Tabel 1). Dengan menggunakan kriteria tersebut dapat diketahui tingkat keaslian dari setiap elemen dan tapak bersejarah yang terdapat di kawasan kampus IPB Dramaga. Kriteria penilaian yang digunakan sebagai tolok ukur dalam menentukan tingkat keunikan lanskap sejarah kampus IPB Dramaga adalah asosiasi kesejarahan, integritas, keragaman yang berbeda dari kebiasaan, dan kualitas estetik (Tabel 2). Dengan menggunakan kriteria tersebut dapat diketahui tingkat keunikan dari setiap elemen dan tapak bersejarah yang terdapat di kawasan kampus IPB Dramaga. Setelah masing-masing dari elemen dan tapak bersejarah diberikan penilaian sesuai dengan kriteria dari tiap-tiap aspek, maka dilakukan overlay untuk mengetahui hasil analisis dan potensi lanskap sejarah untuk dikembangkan menjadi suatu program wisata.

Tabel 1 Kriteria penilaian keaslian (originality) No. Kriteria Skor

2 Fisik Elemen mengalami

perubahan struktur. Tidak mewakili karakter dan gaya arsitektur masa lalu.

Elemen mengalami arsitektur masa lalu. 3

(20)

7

Tahap Sintesis

Sintesis dilakukan sebagai tahapan pengolahan hasil analisis. Pada tahap ini dibuat suatu hasil akhir penelitian berupa rekomendasi konsep pengembangan potensi lanskap sejarah kampus dengan pengintegrasian elemen-elemen sejarah bernilai penting untuk menjadi obyek-obyek wisata Agroedutourism termasuk pengembangan jalur wisata, arahan penataan lanskap dan fasilitas interpretasi.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kondisi Umum Lanskap IPB Dramaga

Kampus Institut Pertanian Bogor (IPB) yang menjadi tapak dalam penelitian ini merupakan kampus IPB Dramaga yang secara administratif terletak di Jalan Raya Dramaga Desa Babakan, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Secara geografis kampus IPB Dramaga berada pada ketinggian 190 mdpl dengan letak astronomis berada antara 06o32’41” sampai 06o33’58” LS dan antara

Tabel 2 Kriteria penilaian keunikan (uniqueness)

No. Kriteria Skor

2 Integritas Elemen lanskap sejarah tidak

Lanskap memiliki > 5 perwakilan elemen

Elemen lanskap tidak memiliki estetika/

(21)

8

106o42’47” sampai 106o44’07”BT. Lokasi kampus ini sekitar + 13,3 km dari pusat kota Bogor ke arah Jasinga dan sekitar + 52 km sebelah selatan Kota Jakarta. Batas-batas kampus IPB Dramaga adalah:

a. sebelah utara berbatasan dengan sungai Ciapus dan sungai Cisadane b. sebelah selatan berbatasan dengan Jalan Raya Bogor-Jasinga

c. sebelah timur berbatasan dengan perkampungan penduduk Desa Babakan d. sebelah barat berbatasan dengan Sungai Cihideung

Berdasarkan data iklim 2012-2013 dari Stasiun Klimatologi Kelas I Dramaga, Bogor, suhu udara rata-rata bulanan sebesar 25,8oC dengan suhu tertinggi sebesar 26,3oC terjadi pada bulan Oktober dan suhu terendah sebesar 25,1oC terjadi pada bulan Januari. Curah hujan rata-rata bulanan sebesar 316,2 mm dengan hari hujan tertinggi sebanyak 28 hari dan curah hujan tertinggi sebesar 548.9 mm terjadi pada bulan Januari. Kelembaban udara relatif rata-rata tahunan wilayah ini adalah sebesar 84,3%.

Kondisi topografi di sepanjang tapak cukup bervariasi. Sebagian besar tapak memiliki kelas lereng 1%-5%. Sebagian daerah Utara dan Barat tapak memiliki kelas 5%-10%. Kelas lereng 10%-15% berada pada bagian belakang kandang sapi dan sebagian pinggiran sungai Cihideung di sebelah Barat tapak memiliki kelas lereng lebih 15% (Saputra 2010).

Sejarah Perkembangan Institut Pertanian Bogor

Sejarah perkembangan IPB dimulai sejak zaman kolonial Belanda. Pendiriannya berawal dari keinginan para cendekia bangsa Indonesia untuk mendirikan Fakultas Pertanian yang sudah muncul pada tahun 1918, tetapi ditolak oleh pemerintah Belanda. Usul tersebut muncul kembali pada tahun 1926/1927, tetapi masih ditolak dengan alasan tidak cukup jumlah lulusan sekolah menengah yang memenuhi syarat, karena pada tahun itu pula Fakultas Kedokteran dibuka. Pada tahun 1931, pada waktu pembukaan Fakultas Sastra, Pemerintah Belanda berjanji akan mendirikan Fakultas Pertanian. Tahun 1937-1938 pendiriannya ditunda karena diperlukan pengkajian terlebih dahulu oleh suatu komisi, sehingga dibentuklah Komisi Pengkajian Fakultas Pertanian. Komisi ini diketuai oleh Dr. De Vries, hoofd ambtenar urusan ekonomi, Departemen Ekonomi Pemerintah Hindia Belanda (Manuwoto 2001).

(22)

9 seorang karena menjalani wajib militer dan seorang lagi pindah ke Sekolah Tinggi Kedokteran (Manuwoto 2001).

Lembaga Pendidikan Tinggi Pertanian yang didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda di Bogor pada tahun 1940 ini diberi nama Landbouw Hogeschool yang kemudian pada tanggal 31 Oktober 1941 dinamakan Landbowkundige Faculteit. Pada masa pendudukan Jepang (1942-1945) Landbowkundige Faculteit ditutup, sedangkan Nederlandsch Indische Veeartsenschool (sekolah Kedokteran Hewan) tetap berjalan, hanya saja namanya diubah menjadi Bogor Zui Gakku (Sekolah Dokter Hewan Bogor). Sejalan dengan masa kemerdekaan tahun 1946, Kementerian Kemakmuran Republik Indonesia meningkatkan Sekolah Dokter Hewan di Bogor menjadi Perguruan Tinggi Kedokteran Hewan (Humas IPB 2010).

Pada tahun 1947 Lembaga Pendidikan Tinggi Pertanian, Landbowkundige Faculteit dibuka kembali dengan nama Faculteit Voor Landbouw-Wetenschappen yang mempunyai jurusan Pertanian dan Kehutanan. Sedangkan Perguruan Tinggi Kedokteran Hewan pada tahun 1948 dijadikan Faculteit voor Dierge neeskunde di bawah Universiteit van Indonesie yang kemudian berubah nama menjadi Universitas Indonesia. Pada tahun 1950 Faculteit voor Landbouw-wetenschappen berubah nama menjadi Fakultas Pertanian Universitas Indonesia dengan 3 jurusan yaitu Sosial Ekonomi, Pengetahuan Alam dan Kehutanan serta pada tahun 1957 dibentuk jurusan Perikanan Darat. Adapun Faculteit voor Dieergeneeskunde berubah menjadi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Indonesia yang pada tahun 1960 berubah nama menjadi Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan. Selanjutnya pada tahun 1962 menjadi Fakultas Kedokteran Hewan, Peternakan Universitas Indonesia (Humas IPB 2010).

Tanggal 1 September 1963 IPB berdiri secara resmi berdasarkan keputusan Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan (PTIP) No. 92/1963 yang kemudian disyahkan oleh Presiden RI Pertama dengan Keputusan No. 279/1965. Pada saat itu, 2 fakultas di Bogor yang berada dalam naungan Universitas Indonesia, yaitu Fakultas Pertanian dan Fakultas Kedokteran Hewan berkembang menjadi 5 fakultas, yaitu Fakultas Pertanian, Fakultas Kedokteran Hewan, Fakultas Perikanan, Fakultas Peternakan dan Fakultas Kehutanan. Pada tahun 1964, lahir Fakultas Teknologi dan Mekanisasi Pertanian (Humas IPB 2010).

Identifikasi Elemen dan Tapak Bersejarah Kampus IPB Dramaga

Identifikasi elemen dan tapak bersejarah di kampus IPB Dramaga bertujuan untuk mengetahui elemen-elemen dan tapak-tapak yang memiliki nilai sejarah yang masih ada di sekitar kampus IPB Dramaga hingga saat ini. Identifikasi elemen dan tapak bersejarah kawasan kampus IPB Dramaga ini dilakukan sesuai dengan periode sejarah yang telah ditentukan, yaitu sebagai berikut:

Pada Masa Sebelum Kolonial Belanda Hingga Tahun 1962

(23)

10

untuk meninggalkan Indonesia dan semua aset peninggalan Belanda disita oleh pemerintah Indonesia, termasuk lahan karet di wilayah Dramaga. Semua orang Belanda yang tinggal di Indonesia beserta keluarganya diminta untuk segera meninggalkan Indonesia, tak terkecuali keluarga Motman di Dramaga ini. Semenjak itu perkebunan karet yang luasnya sekitar 250 hektar beserta seluruh asetnya, disita oleh pemerintah RI (Astari 2010). Setelah itu, lahan perkebunan Dramaga ini dikelola oleh Fakultas Pertanian Universitas Indonesia di Bogor berdasarkan kewenangan yang diberikan Menteri Agraria tanggal 8 Agustus 1958 pada surat keputusan No. SK. 209/Ka Bab II Sub kedua dan Bab III Sub b. Batas akhir periode kedua ini adalah tahun 1962 yang merupakan tahun terakhir Fakultas Pertanian masih menjadi bagian dari Universitas Indonesia sebelum berdiri secara resmi sebagai perguruan tinggi. Identifikasi elemen dan tapak bersejarah pada periode pertama ini menghasilkan 12 elemen dan tapak bersejarah yang masih ada bukti fisiknya hingga saat ini (Tabel 3). Penjelasan ke-12 elemen dan tapak tersebut adalah sebagai berikut:

1. Kuburan “Mbah Jawa”

Suatu pandangan menyebutkan bahwa sebelum warga keturunan dari keturunan terhormat di Banten, kawasan Dramaga sudah dihuni oleh beberapa kalangan yang juga dian ap ba ai “ ran - ran akti”. Pandan an ini mendasarkan pada adanya kuburan tua di dalam areal kampus yang dikenal sebagai kuburan “Mbah Jawa” (Ga bar 4). Adanya kuburan tersebut memberikan keyakinan bahwa Mbah Jawa sebagai penghuni utama di kawasan Dramaga. Kini kuburan tersebut berada di tengah kebun karet di depan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB. Kuburan ini merupakan kuburan tunggal sisa dari pemindahan sejak awal tahun 1960-an. Pada awalnya di areal sekitar kuburan Mbah Jawa diperkirakan lebih dari dua puluh unit kuburan. Namun pada sekitar tahun 1961 seluruh jasad dalam area kuburan tersebut dipindahkan, yakni pada saat perintisan pembangunan kampus IPB Dramaga. Namun setelah pemindahan, salah satu imam yang ikut mengorganisasikan, memindahkan, dan menguburkan mayat tersebut ke tempat lain merasa tidak nyaman karena yang bersangkutan sering mendapatkan gangguan. Bentuk gangguan tersebut antara lain dalam bentuk suara atau mimpi permintaan seseorang untuk dikembalikan ke kuburan semula. Gangguan tersebut datang berulang sehingga diputuskan untuk dikembalikan ke tempatnya semula dan sejak saat itu tidak ada lagi warga yang berani memindahkan kuburan tersebut (PPLH IPB 2012). Cerita gangguan dari penghuni kuburan tersebut secara ilmiah dapat dikaitkan dengan suatu bentuk

(a) (b)

(24)

11 pengelolaan dari lahan perkebunan karet yang masih tersisa di sekitar area akademik kampus IPB Dramaga. Dengan adanya cerita tersebut, perkembangan pembangunan kampus tidak akan membongkar area perkebunan karet tersebut, sehingga dapat menjadi upaya menghambat konversi lahan perkebunan (ruang terbuka hijau) menjadi lahan terbangun.

2. Kompleks Kuburan Palalangon

Pandangan yang lain mengaitkan warga asli Dramaga masa lalu dengan kuburan Palalangon atau kuburan Gunung Carlang yang dianggap sebagai kuburan keturunan orang-orang besar sebelum dan di masa kolonial. Pada areal makam tersebut terdapat sejumlah nama yang dihubungkan dengan keberadaan mereka sebagai pewaris kawasan Dramaga. Hal ini ditandai dengan adanya kuburan golongan bangsawan dan pembesar-pembesar pada masa kolonial di areal kuburan Palalangon (Gambar 5). Lokasi kuburan ini adalah di belakang gedung laboratorium bersama.

Kuburan ini terbagi menjadi dua bagian. Bagian satu berada di sebelah utara dengan luas sekitar 400 meter persegi dengan kondisi terawat baik, dan bagian yang lain berada di sebelah selatan dengan luas sekitar 700 meter persegi dengan kondisi kurang terawat atau baru mulai dirawat kembali pada tahun 2012. Pada keduanya masing-masing terdapat lebih dari 50 unit kuburan. Kuburan bagian utara banyak dikunjungi oleh warga dari berbagai daerah karena pada lokasi ini dianggap terdapat satu kuburan yang memiliki keterkaitan dengan kuburan-kuburan lainnya yang bersejarah di Banten dan Cirebon. Dilihat dari bentuk batu nisan, terdapat beberapa kuburan yang menunjukkan bentuk-bentuk ukiran tua, tepatnya akhir abad ke 18 atau awal abad ke 19, dan disusul dengan batu nisan dengan tulisan huruf latin pada awal abad ke 20. Sebagian kuburan tersebut masih memiliki ahli waris generasi ketiga dan keempat yang tinggal di sekitar kampus IPB Dramaga.

Kuburan Palalangon berisikan kalangan pembesar pada masa kolonial, baik sebagai tuan tanah ataupun tokoh masyarakat/pejabat pemerintahan lokal dan penduduk lokal yang duduk sebagai pejabat penting dalam perkebunan. Bahkan diriwayatkan terdapat satu kuburan yang diidentifikasi sebagai keturunan Kesultanan Banten. Kuburan yang dimaksud adalah kuburan Mbah Surya Atmaja. Mbah Surya Atmaja diyakini sebagai salah satu putra dari Maulana Magribi dari Banten yang juga merupakan keturunan dari Kesultanan Bone. Saudara-saudara dari Mbah Surya Atmaja adalah Surya Winata yang pernah tinggal di daerah

(25)

12

pegunungan Tanah Datar, Cianjur, Jawa Barat. Putra yang lain adalah Suryadireja yang pernah tingga di Cilebut, Bogor. Selanjutnya salah satu putra Surya Atmaja adalah Mbah Mihaja yang bertugas sebagai mandor besar dalam Perkebunan Dramaga pada masa kolonial. Keturunan Mbah Mihaja ini masih ada di sekitar kampus IPB Dramaga saat ini (PPLH IPB 2012).

3. Perkebunan Karet

Lokasi kampus IPB Dramaga dulunya berupa perkebunan karet yang dikelola oleh Pemerintah Hindia Belanda, dan sekaligus sebagai pusat pabrik pengolahan karet di masa kolonial Belanda. Sisa-sisa area perkebunan karet tersebut masih ada hingga saat ini, seperti area karet FMIPA (Gambar 6a), area karet di Jalan Agatis (Gambar 6b), dan area karet kebun percobaan Cikabayan (Gambar 6c). Jauh sebelum pemerintah kolonial masuk, kawasan Dramaga sudah dihuni oleh beberapa orang yang tergolong keturunan terpandang. Menurut suatu pandangan masyarakat, warga asli Dramaga adalah keturunan dari Maulana Hasanuddin yang berasal dari Banten. Keturunan inilah yang menguasai lahan di Dramaga pada masa lalu dan tergolong sebagai tuan tanah hingga masuknya kolonial Belanda. Dari tangan keturunan inilah kolonial Belanda memperolah dan mengakumulasi lahan di sekitar Dramaga. Kolonial Belanda bekerja sama dengan keturunan keluarga terpandang tersebut untuk memperoleh lahan dari warga sekitar. Caranya adalah dengan memberikan hak-hak istimewa kepada tuan tanah. Para tuan tanah tersebut kemudian digunakan oleh kolonial sebagai kaki tangan mereka untuk memperoleh akumulasi lahan dari warga asli. Hak-hak istimewa yang diberikan kepada golongan ini adalah menjadi mandor besar dalam perkebunan karet. Keturunan dari golongan ini yang merupakan generasi ketiga dan keempat masih terdapat di sekitar Bogor, khususnya di sekitar kampus IPB Dramaga (PPLH IPB 2011).

Bangsa Belanda yang menguasai lahan Dramaga ini adalah Gerrit Willem Casimir Van Motman. Ia lahir pada 17 Januari 1773 merupakan anak bungsu dari keluarga yang sebagian besar anggotanya telah meninggal dunia akibat Tuberkulosis. Karena negaranya mengalami stagnasi akibat invasi Perancis, maka pada usia 17 tahun, Motman mencoba peruntungan bergabung dengan VOC, berlayar ke Hindia Belanda dan memulai karir sebagai administrator gudang VOC. Lalu akhirnya di Buitenzorg (nama kota Bogor pada masa Belanda) setelah VOC bangkrut, Motman menjadi tuan tanah dengan luas total kepemilikan seluas 117.099 hektar dan salah satu daerahnya adalah Dramaga (Iswanti 2011).

(a) (b) (c)

(26)

13 Tahun 1813, Motman membeli lahan sekaligus sebagai tuan tanah di Dramaga dan Jasinga. Sampai akhirnya pada tanggal 25 May 1821, Motman meninggal dunia di Dramaga dan dimakamkan di Jasinga. Tuan tanah ini mewariskan perkebunan yang sangat luas kepada dua anaknya, meliputi daerah sekitar Bogor, Dramaga, Jasinga, Rumpin, Jambu, Semplak, Cikandir, Kedung Badak, Pondok Gedeh, dan lain lagi. Anak pertamanya memperoleh tanah di Jasinga, sedangkan yang kedua, Jacob Gerrit Tehodoor van Motman menjadi tuan tanah di Dramaga tahun 1816-1890. Komoditas perkebunan selain teh dan kopi adalah sereh dan karet. Generasi penerus pengelola perkebunan keluarga Motman adalah Pieter Reiner van Motman. Ia tercatat sebagai penerus keturunan keempat. Keluarga Motman terakhir yang pernah tinggal Landhuis ini adalah Pauline Elize Laurence Marie van Motman dan suaminya A. B Paauwe (Humas IPB 2013).

Dramaga dahulu terkenal dengan sebutan Liberia-koffie-aanplantingen atau Perkebunan Kopi Liberia. Awal mula tanaman yang ditanam setelah Motman menjadi tuan tanah adalah kopi. Karena tidak menguntungkan maka ditanam gula lalu beralih ke tanaman teh. Walaupun reputasi teh sangat baik namun produksi hancur gara-gara terjangkit wabah lalat hitam, lalu akhirnya terakhir di Dramaga ditanamlah pohon karet. Perkebunan karet inilah yang menjadi komoditas terakhir yang ditanam di daerah (Iswanti 2011).

4. Bangunan Landhuis

Bangunan Landhuis merupakan bangunan perkebunan yang masih ada hingga saat ini dan menjadi salah satu jejak peninggalan perkebunan karet di masa kolonial Belanda (Gambar 7a). Bangunan ini terletak di Jalan Tanjung No. 4 kampus IPB Dramaga, tepatnya di depan Poliklinik IPB dan Asrama Internasional. Landhuis adalah rumah Landlord (tuan tanah) Belanda. Pada saat hidupnya, Motman memiliki rumah di daerah Dramaga yang disebut Groot Dramaga atau Big Dramaga yang sekarang bernama Landhuis. Disebut Groot Dramaga karena rumah itu ukurannya besar, memiliki 20 kamar (Iswanti 2011).

Tahun 1958, setelah Indonesia merdeka, semua perusahaan asing dinasionalisasikan, termasuk perkebunan karet Dramaga. Sepeninggal keluarga Motman, sekitar tahun 1960-an Landhuis digunakan sebagai asrama mahasiswa putri IPB. Pada tahun 1980-an bangunan itu dipugar untuk menjadi kantor Dekan Fakultas Teknologi Pertanian. Pada tahun 1990-an bangunan direnovasi untuk digunakan sebagai kantor proyek Tim Manajemen Pembangunan Kampus Baru IPB Dramaga, sejak tahun 1996 dilakukan renovasi besar-besaran terhadap bangunan ini sebagai rumah dinas Rektor IPB. Saat ini gedung Landhuis dijadikan sebagai wisma tamu dan sebagai tempat berbagai pertemuan dan kegiatan (Humas IPB, 2013).

5. Lonceng Slavenbel

(27)

14

6. Kantor Administrasi Pabrik Karet

Selain perkebunan karet, di lahan Dramaga ini dibangun juga pabrik pengolahan getah karet. Pabrik ini dibangun di dekat bangunan Landhuis. Pabrik karet ini telah dibongkar pada masa pembangunan kampus IPB Dramaga. Sekarang lokasi bekas pabrik karet ini telah dibangun kompleks mesjid Al Hurriyyah. Walaupun pabrik karet ini telah dibongkar, masih terdapat satu bangunan yang masih dipertahankan hingga saat ini. Bangunan tersebut adalah kantor administrasi pabrik karet (Gambar 8a). Pada masa Belanda, bangunan ini digunakan sebangai kantor tempat berlangsungnya kegiatan pengelolaan pabrik karet, yaitu administrasi. Saat ini bangunan tersebut masih dipertahankan, namun berubah fungsi menjadi asrama marbot mesjid Al Hurriyyah.

7. Rumah Administrator Pabrik Karet

Bangunan rumah ini merupakan salah satu rumah perkebunan karet jaman Belanda yang masih dipertahankan hingga saat ini (Gambar 8b). Lokasinya berada di depan bangunan Landhuis atau di sebelah kiri Poliklinik IPB. Pada masa lahan Dramaga masih menjadi perkebunan karet van Motman, terdapat beberapa bangunan rumah pejabat perkebunan, namun rumah-rumah ini telah dibongkar demi pembangunan kampus IPB Dramaga. Salah satu lokasi bangunan rumah

(a) (b)

Gambar 8 (a) Kantor administrasi, (b) Rumah administrator

(a) (b)

(28)

15 yang dibongkar adalah tempat yang sekarang telah dibangun asrama internasional yang dulunya terdapat beberapa bangunan rumah. Bangunan rumah pejabat perkebunan yang masih ada hingga saat ini hanyalah rumah yang berada di seberang bangunan Landhuis ini. Dahulu, bangunan ini merupakan tempat tinggal dari administrator keuangan pabrik pengolahan karet. Saat ini bangunan rumah ini digunakan sebagai rumah salah satu dari staf IPB.

8. Menara Air dan Bak Bekas Pengolahan Lateks Pabrik Karet

Selain bangunan kantor administrasi pabrik karet, terdapat elemen dari pabrik karet yang masih ada hingga saat ini. Elemen tersebut adalah menara air pabrik karet (Gambar 9a) dan bak bekas pengolahan lateks (Gambar 9b). Kedua elemen ini letaknya berdekatan dan berada di belakang aula Mesjid Al Hurriyyah. Namun berbeda dengan bangunan kantor yang saat ini masih difungsikan dan dirawat dengan baik, kedua elemen sisa pabrik karet ini sudah tidak berfungsi dan dibiarkan begitu saja tanpa adanya pemeliharaan. Menara air saat ini telah ditumbuhi oleh pohon beringin, sehingga bentuknya sudah tidak seperti aslinya. Begitu pun dengan bak bekas pengolahan lateks yang telah ditumbuhi oleh tumbuhan-tumbuhan liar.

9. Pinus Plaza Soekarno

Tahun 1961, Presiden Soekarno melakukan pencangkulan pertama sebagai tanda bahwa dikemudian hari perkebunan ini akan menjadi kampus IPB Dramaga (Gambar 10a). Presiden Soekarno menanam pohon pinus di areal di depan "gedung seng" di Dramaga sebagai tanda dimulainya pembangunan kampus itu yang sekarang dikenal dengan nama Plaza Soekarno. Saat ini plaza Soekarno terletak di Fakultas Pertanian IPB. Kondisi plaza ini cukup baik, pohon pinus masih tumbuh di area ini dan telah diberi pondasi serta penanda (Gambar 10b).

(a) (b)

(29)

16

(a) (b)

Gambar 10 (a) Pencangkulan pertama kampus IPB Dramaga (Humas IPB 2010), (b) Pinus plaza Soekarno

Tabel 3 Elemen atau tapak bersejarah sejak masa sebelum kolonial belanda hingga tahun 1962

No. Elemen/Tapak Lokasi Kondisi Fisik Dibangun Tahun Fungsi

Dahulu Sekarang mudah karena berada di pinggir jalan. ada akses dari jalan kampus menuju area

3 Perkebunan Karet FMIPA di samping jalan utama kampus, sehingga

(30)

17 Tabel 3 Elemen atau tapak bersejarah sejak masa sebelum kolonial belanda hingga

tahun 1962 (lanjutan)

No. Elemen/Tapak Lokasi Kondisi Fisik Tahun

Dibangun

Fungsi

Dahulu Sekarang

5 Perkebunan Karet Cikabayan sebagai salah satu situs bersejarah.

1800-an Alat untuk mengumpul-berada di pinggir jalan.

(31)

18

Pada Tahun 1963 – 1983

Pembangunan kampus IPB Dramaga dilakukan dalam 3 tahap, yaitu tahap perintisan pada tahun 1963-1983, tahap pengembangan pada tahun 1984-2009, dan tahap rekondisi pada tahun 2010-2030. Perkembangan pembangunan kampus IPB yang mengikuti rencana induk yang mengalami beberapa kali revisi bertujuan untuk menyesuaikan kondisi dan kebutuhan nyata (riil) agar lebih relevan terhadap perubahan faktor internal dan eksternal kampus saat sekarang dan yang akan datang. Perubahan rencana induk tersebut ditetapkan MWA-IPB Nomor 21/MWA-IPB/2003 pada tanggal 23 Oktober 2003, dengan pertimbangan bahwa

IPB t ru tu buh dan aju d n an n d pankan “k ndi i ka pu yan ra ah lin kun an” dan k nya anan p n huninya, rta p rataan unit k rja (PPLH

IPB 2011).

Tahun 1963 hingga tahun 1983 dijadikan sebagai periode kedua karena pada rentang tahun ini kampus IPB Dramaga mulai dibangun sejak berdirinya IPB secara resmi dan periode ini merupakan pembangunan tahap perintisan. Pembangunan awal kampus IPB dramaga pada periode ini belum mengikuti rencana induk IPB yang dibuat pada tahun 1981. Kondisi kampus IPB Dramaga pada periode ini disajikan pada Gambar 13. Identifikasi elemen dan tapak bersejarah pada periode kedua ini menghasilkan 7 elemen dan tapak bersejarah yang masih ada bukti fisiknya hingga saat ini (Tabel 4). Penjelasan ketujuh elemen dan tapak tersebut adalah sebagai berikut:

1. Bangunan Fakultas Kehutanan

Fakultas Kehutanan merupakan fakultas yang diberikan prioritas utama untuk menempati Kampus Dramaga dan dibangun pada tahun 1963 (Gambar 11). Hal ini karena fakultas tersebut adalah satu-satunya fakultas yang tidak memiliki bangunan tetap, hanya berupa ruangan seluas 8×15 m yang terletak di Jalan Raya Pajajaran Bogor, di belakang Gedung IPB Pusat/Gedung Fakultas Pertanian IPB (Ramadhani 2010).

(32)

19

sejak tahun 1978. Pada tahun 1990, program studi ini berubah menjadi program studi Ilmu Pengetahuan Kehutanan (Fahutan IPB 2013).

2. Bangunan Asrama Mahasiswa

Asrama yang dibangun pertama kali di kampus IPB Dramaga terdiri atas 4 bangunan. Bangunan-bangunan asrama tersebut adalah asrama Sylva Sari (Gambar 12a), Amarilis (Gambar 12b), Sylva Lestari (Gambar 12c), dan Sylva Pinus (Gambar 12d). Asrama mahasiswa ini dibangun pada tahun 1965. Asrama Sylva Sari dan Sylva Lestari digunakan sebagai asrama mahasiswa, sedangkan Amarilis dan Sylva Pinus digunakan sebagai flat dosen. Asrama Sylva Sari dan Sylva Lestari ikut mengawali perjalanan awal berdirinya Kampus IPB sebagai

(a) (b)

(c) (d)

Gambar 12 Asrama: (a) Sylva Sari, (b) Amarilis, (c) Sylva Lestari, (d) Sylva Pinus

(33)

20

asrama mahasiswa Fakultas Kehutanan. Konsistensi sebagai Asrama Mahasiswa Fakultas Kehutanan terus berlangsung hingga tahun 2006 kedua asrama ini mejadi asrama yang heterogen dengan dihuni oleh mahasiswa dari semua fakultas yang ada di IPB. Pada tahun 2010 kedua asrama ini dijadikan asrama mahasiswa Tingkat Persiapan Bersama (TPB) IPB. Asrama Sylva Sari digunakan untuk asrama puteri dan asrama Sylva Lestari digunakan untuk asrama putera. Asrama

(34)

21 Sylva Pinus digunakan sebagai asrama mahasiswa putera yang sudah keluar dari asrama TPB IPB. Asrama Amarilis saat ini digunakan sebagai wisma tamu IPB. 3. Perumahan Dosen

Perumahan dosen (Gambar 14a) termasuk bangunan-bangunan yang dibangun pada awal pembangunan kampus IPB Dramaga. Perumahan dosen ini dibangun pada tahun 1971. Menurut beberapa sumber, terdapat 8 rumah dosen yang didesain langsung oleh Presiden Soekarno. Kedelapan rumah tersebut berada di sekitar Jalan Palem kampus IPB Dramaga.

4. Gedung Olahraga lama

Unit Olahraga dan Seni didirikan dalam rangka menunjang minat mahasiswa, dosen, dan staf administrasi di bidang olahraga dan seni. Gedung olahraga lama (Gambar 14b) ini dibangun pada tahun 1976.

5. Bangunan Food Technology Development Center

Program pendidikan dan penelitian pangan dan gizi di IPB telah dikembangkan selama lebih dari 30 tahun. Sebelumnya, terdapat beberapa Pusat terkait dengan ilmu dan teknologi pangan dan gizi. Sejak tahun 1979 Pusat Pengembangan Teknologi Pangan (Pusbangtepa) atau Food Technology Development Center (FTDC) didirikan di IPB (Gambar 15). Pusat-pusat lain yang berkaitan dengan ilmu dan teknologi pangan dan gizi juga didirikan, yaitu Pusat Studi dan Kebijakan Pangan dan Gizi (sejak 1987) dan Pusat Penilaian Makanan Tradisional (1997). Karena reorganisasi dan proses konsolidasi di IPB, pada tahun 2004, pusat-pusat dikonsolidasikan dan digabung menjadi satu pusat bernama South East Asian Food Agricultural Science and Technology (SEAFAST) Center. Pusat ini dirancang untuk mengembangkan sistem kemitraan nasional dan regional di bidang pangan dan ilmu teknologi pertanian. Secara umum, SEAFAST Center dirancang untuk mempertemukan sektor universitas, pemerintah, donatur dan bisnis untuk fokus pada peningkatan ilmu dan teknologi pangan bagi Indonesia dan jika perlu, di negara-negara ASEAN lainnya. IPB telah mengamanatkan SEAFAST Center untuk menjadi pusat regional berfokus pada

(a) (b)

(35)

22

peningkatan kualitas dan keamanan pangan dan gizi melalui ilmu pengetahuan dan teknologi (SEAFAST Center IPB 2013).

6. Bangunan Agriculture Product Processing Pilot Plant

Agricultural Products Processing Pilot Plant (AP4) dibangun pada tahun 1977 (Gambar 16a). Bangunan ini dibangun dengan bantuan hibah dari JICA Jepang. Bangunan ini berfungsi sebagai bangunan pengolahan produk pertanian kerja sama antara Indonesia dan Jepang. Bangunan AP4 ini dilengkapi dengan beberapa jalur pengolahan makanan, seperti proses pengeringan (gendang, semprot, beku, fluidized, nampan pengeringan), termal (pengalengan dan pasteurisasi), pengolahan, evaporator, pengolahan roti, penggoreng (deep frying dan vacuum frying), ekstrusi, expeller, penggilingan,dan lain-lain. Fasilitas pabrik percontohan ini mampu mendukung pengembangan produk baru, terutama untuk bidang produksi skala kecil untuk pasar, kualitas dan evaluasi (SEAFAST Center 2013).

7. Laboratorium Lapangan Agronomi

Laboratorium lapangan Agronomi (Gambar 16b) dibangun pada tahun 1981 di lapangan Cikabayan. Laboratorium ini berfungsi sebagai laboratorium lapangan untuk percobaan atau penelitian civitas akademika IPB. Laboratorium ini berupa suatu wilayah yang berisi kebun percobaan dan beberapa bangunan penunjang, seperti bangunan kantor dan rumah kaca.

Gambar 15 Bangunan-bangunan Food Technology Development Center

(a) (b)

(36)

23

Pada Tahun 1984 – 1989

Tahun 1984 hingga tahun 1989 dijadikan sebagai periode ketiga karena pada rentang tahun ini pembangunan kampus IPB Dramaga dibangun dengan mengikuti rencana induk kampus IPB Dramaga yang dibuat pada tahun 1981 (Gambar 17) dan merupakan pembangunan tahap pengembangan. Tahun 1989

Tabel 4 Elemen dan tapak bersejarah periode tahun 1963–1983

No. Elemen/Tapak Lokasi Kondisi Fisik Dibangun Tahun Fungsi

Dahulu Sekarang

1979 Penelitian dan pelayanan di

(37)

24

dijadikan batas akhir periode karena pada tahun ini rencana induk kampus IPB Dramaga mengalami revisi, sehingga pembangunan berikutnya sudah mengikuti rencana induk hasil revisi. Identifikasi elemen dan tapak bersejarah pada periode ketiga ini menghasilkan 8 elemen dan tapak bersejarah yang masih ada bukti fisiknya hingga saat ini (Tabel 5). Penjelasan kedelapan elemen dan tapak tersebut adalah sebagai berikut:

1. Bangunan Lembaga Sumber daya Informasi

Bangunan Lembaga Sumber daya Informasi (LSI) ini dibangun pada tahun 1985 (Gambar 18a). Pada tahun 1986 Perpustakaan Universitas yang berada di kampus Gunung Gede dipindahkan ke bangunan Pusat Sumber daya Informasi (LSI) kampus IPB Darmaga. Bangunan yang dilengkapi dengan fasilitas canggih dan peralatan untuk pengelolaan dan produksi informasi ini didanai oleh proyek kerjasama antara IPB dengan University of Wisconsin (USAID). Pada tahun 1986 Perpustakaan Universitas diubah statusnya menjadi Unit Pelaksana Teknis (UPT). Unit ini dibantu oleh konsultan dari University of Wisconsin - Madison, Prof Leroy Zweifel, untuk pengelolaannya. Selain itu, dalam periode 1980-1986, berdasarkan SK Rektor No 115/1980, kepala unit dibantu oleh Komisi Pengawas

(38)

25 Perpustakaan dan Pengembangan Perpustakaan. Program komputerisasi perpustakaan dimulai pada tahun 1986 dengan merancang Sistem Informasi Perpustakaan (SIMPUS) menggunakan dBaseIII Plus. Untuk mengejar ketinggalan dengan sistem informasi, maka pada tahun 1989 perpustakaan telah mengubah SIMPUS dengan CDS/ISIS perangkat lunak untuk program otomasi perpustakaan (Perpustakaan IPB 2011).

2. Bangunan Pusat Penelitian Lingkungan Hidup

IPB pada tahun 1974-1975 mengerjakan Proyek Pelatihan dan Penelitian Lingkungan (P3L) yang didanai oleh Ford Foundation. Akhir dari proyek direkomendasikan bahwa diperlukan pendirian suatu pusat studi yang bertujuan meningkatkan kapabilitas penelitian dan membantu penyelenggaraan Program Studi Pascasarjana Jurusan Pengelolaan Sumber daya dan Lingkungan. Berdasarkan Surat Keputusan Rektor No. 042 tahun 1976 tanggal 28 April 1976, bahwa dalam rangka pengembangan Sekolah Pascasarjana Jurusan Pengelolaan Sumber daya dan Lingkungan (SPS PSL) dibentuklah Pusat Studi Pengelolaan Sumber daya dan Lingkungan (Pusdi PSL) sebagai badan program di bawah Direktur Pendidikan Sarjana IPB. Kepala Pusdi PSL pertama adalah Prof. Dr. Soeratno Partoatmodjo, Guru Besar pada Fakultas Kedokteran Hewan IPB.

Pusdi PSL awalnya berkantor di Gedung Botani Lt. 2, Kampus IPB Baranangsiang (1976-1984), kemudian pindah ke kantor di Jl. Gunung Gede No. 4, Bogor (1984-1985). Pada tahun 1985, kantor Pusdi PSL pindah ke gedung berlantai 2 di Komplek Biotrop, Tajur, Bogor atas bantuan dana dari Kementrian Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup. Berdasarkan Berita Acara Serah Terima Gedung Pusat Studi Pengelolaan Sumber daya dan Lingkungan IPB tanggal 12 April 1986 dan Surat Keputusan Rektor No. 042/Um/1986 tanggal 1 Mei 1986 tentang Pemanfaatan Gedung UPT Perpustakaan, Biro Administrasi Umum, dan Pusat Studi Lingkungan Hidup IPB, kantor Pusdi PSL dipindahkan ke gedung baru di Kampus IPB Darmaga (Gambar 18b), sedangkan gedung Pusdi PSL di Komplek Biotrop diserahkan kepada IPB.

Pusdi PSL menempati sebuah gedung permanen berlantai 4 di Kampus IPB Dramaga. Gedung baru ini disebut sebagai Gedung Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH), dengan total luas 2.000 m2 yang dibangun di atas danau (Situ Leutik) seluas 3 ha. Sejak saat itu, Pusdi PSL berubah nama menjadi Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) di bawah koordinasi Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat IPB, sedangkan SPS PSL IPB yang selama ini dikelola oleh Pusdi PSL diserahkan pengelolaannya ke Program Pascasarjana IPB (PPLH IPB 2010).

(a) (b)

(39)

26

3. Gedung Administrasi Pusat (Rektorat)

Gedung Administrasi Pusat (Gambar 19a) dibangun pada tahun 1985 dengan fungsi untuk menampung kegiatan rektorat dan unit-unit yang bertanggung jawab atas pekerjaan pengelolaan lembaga sehari-hari yang ditunjang oleh pusat komputer untuk mendukung perkembangan perangkat lunak dan program akademik yang cukup membanggakan. Lokasi gedung sebagai focal point terletak pada sumbu utama jalan masuk utama kampus yang diperkuat oleh ruang terbuka yang luas di depannya yang berfungsi pula sebagai tempat upacara masal. Gedung ini dilepas dari pola rangkaian segitiga akademik yang seragam sehingga perwujudan fisiknya dapat lebih menampilkan kesan representatif dan berwibawa (Badan Pengembangan IPB 1989).

4. Bangunan Fakultas Teknologi Pertanian

Bangunan Fakultas Teknologi Pertanian (Gambar 19b) merupakan salah satu bangunan yang dibangun di awal pembangunan kampus IPB Dramaga setelah mengikuti rencana induk. Bangunan ini dibangun pada tahun 1985. Sejak tahun 1960 Mekanisasi Pertanian merupakan salah satu bagian dari Departemen Agronomi Fakultas Pertanian, Universitas Indonesia (UI). Pada waktu IPB berdiri tahun 1963, pemerintah juga menyadari pentingnya pendidikan tinggi di bidang teknologi dan mekanisasi pertanian. Pada tahun yang sama, Departemen Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan (PTIP) meminta IPB untuk menghimpun semua fasilitas yang ada di IPB untuk dapat mendirikan suatu fakultas di bidang tersebut. Akhirnya pada tanggal 3 Oktober 1964 didirikan Fakultas Teknologi dan Mekanisasi Pertanian yang disingkat FATEMETA dengan dua jurusan studi, yaitu Jurusan Teknologi Hasil Pertanian dan Jurusan Mekanisasi Pertanian. Jurusan Mekanisasi Pertanian terdiri dari dua departemen, yaitu: Departemen Mesin-mesin Pertanian dan Departemen Konstruksi. Pada tahun 1968, departemen-departemen di FATEMETA dikelompokkan menjadi dua departemen sesuai dengan jurusan studi yang ada, yaitu Departemen Teknologi Hasil Pertanian dan Departemen Mekanisasi Pertanian. Bagian-bagian yang ada di Departemen Mekanisasi Pertanian diubah menjadi tiga bagian, yaitu: bagian mesin-mesin budidaya pertanian, bagian teknik tanah dan air, dan bagian elektrifikasi/bangunan/mesin-mesin pengolahan pertanian (Fateta IPB 2011). Saat ini Fakultas Teknologi Pertanian memiliki 4 departemen, yaitu Departemen Teknik Mesin dan Biosistem (TMB), Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan (ITP), Departemen Teknologi Industri Pertanian (TIN), dan Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan (SIL).

(a) (b)

(40)

27 5. Bangunan Pusat Antar Universitas (PAU)

Pusat Antar Universitas (PAU) atau Inter University Center (IUC) untuk pangan dan gizi didirikan pada tahun 1985 dan dikembangkan lebih lanjut menjadi Pusat Studi Pangan dan Gizi pada tahun 1992 (Gambar 20a). Karena proses reorganisasi dan konsolidasi di IPB pada tahun 2004, PAU ikut dikonsolidasikan dan digabung ke dalam South East Asian Food Agricultural Science and Technology (SEAFAST) Center. Pusat ini dirancang untuk mengembangkan sistem kemitraan nasional dan regional di bidang pangan dan ilmu teknologi pertanian. Secara umum, SEAFAST Center dirancang untuk mempertemukan sektor universitas, pemerintah, donatur dan bisnis untuk fokus pada peningkatan ilmu dan teknologi pangan bagi Indonesia dan jika perlu, di negara-negara ASEAN lainnya (SEAFAST Center IPB 2013).

6. Bangunan GMSK

Bangunan GMSK (Gizi Masyarakat dan Sumber daya Keluarga) dibangun pada tahun 1987 (Gambar 20b). Perintisan pendirian Departemen Gizi Masyarakat sudah dimulai sejak tahun 1963 dengan nama Departemen Ilmu Kesejahteraan Keluarga (IKK). Bahkan sebelum dibentuk departemen, pelajaran-pelajaran tentang Ilmu Kehidupan Keluarga, yang merupakan salah satu unsur dari kegiatan Biro ektensi, Fakultas Pertanian (Faperta) Universitas Indonesia (UI) telah dijadikan sebagai mata kuliah (m.k). Seiring berjalannya waktu, terjadi perubahan nama pengelola ilmu gizi di IPB. pada tahun 1963 dibentuk Departemen Ilmu Kesejahteraan Keluarga (IKK) di bawah Faperta-UI. Mulai tahun 1968 IPB membina kurikulum baru dengan lama pendidikan 6 tahun. Melalui program ini Departemen IKK menyediakan dua spesialisasi, yaitu: Gizi dan Makanan, dan Kesejahteraan Keluarga. Mulai Tahun Ajaran 1973 IPB membina kurikulum 4 tahun program S1. Dalam program ini Departemen IKK menyediakan bidang keahlian gizi. Lulusan kurikulum ini memperoleh gelar Insinyur (sarjana) Pertanian dalam bidang keahlian gizi.

Pada tahun 1976 berubah menjadi IKKP (Ilmu Kehidupan Keluarga Pertanian). Misi Departemen IKKP pada periode 1978-1985 diarahkan untuk membina satu bidang keahlian yaitu gizi. Pada tahun 1981 Departemen IKKP berubah menjadi Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumber daya Keluarga (GMSK). Dengan demikian visi Jurusan GMSK berkembang dari better nutrition for better farming menjadi better nutrition for all and better nutrition for better living (GM IPB 2013).

(a) (b)

(41)

28

7. Kompleks Sistem Energi Tata Surya

Kompleks Sistem Energi Tata Surya (Gambar 21a) dibangun sebagai suatu model kerangka dasar dan prasarana yang berisikan contoh-contoh dari teknologi mutakhir dalam keteknikan pertanian pada tahun 1987. Lokasi pembangunan ditetapkan di seberang jalan raya sebelah selatan kampus IPB Dramaga dengan menempati lahan seluas + 4 ha. Kompleks ini berupa lahan percobaan pertanian dan sistem energi tata surya. Lahan percobaan pertanian berisi lahan-lahan untuk mesin-mesin pertanian serta perbengkelan, lahan untuk percobaan teknik tanah dan air (irigasi, drainase, erosi, dan lain-lain), dan lahan untuk percobaan agronomi. Sistem energi tata surya untuk keperluan penyediaan energi untuk permukiman pedesaan, penyediaan air irigasi, sistem pendinginan dalam gudang pendingin, daya pada bangunan sortasi buah dan sayur, daya pada sistem pengeringan, dan sistem pendinginan bagi bangunan pertanaman terkontrol (Badan Pengembangan IPB 1989).

8. SMA Kornita

SMA Kornita (singkatan dari Korpri dan Dharma Wanita) merupakan sekolah umum yang didirikan sejak tahun 1987 dan berlokasi di Jalan Tanjung kampus IPB Dramaga (Gambar 21b). Sejak didirikan oleh rektor saat itu, sekolah ini dibina dan diawasi oleh IPB tepatnya di bawah naungan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Sekolah ini menjadi salah satu sekolah favorit di Kabupaten Bogor. Karena lokasinya, atmosfir akademik sangat kondusif bagi siswa untuk mengeksplorasi dan mengeksploitasi bakat atau potensi mereka. SMA Kornita adalah sekolah tinggi dan bukan sekolah kejuruan. Sekolah mempersiapkan siswa untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Para guru mempersiapkan mereka sejak kelas pertama dan di kelas terakhir (kelas 12) persiapan dilakukan lebih intensif.

Sistem pendidikan holistik dikembangkan di SMA Kornita, yang berarti bahwa fokus kami adalah tidak hanya pada prestasi akademik para siswa, tetapi juga pada pertunjukan emosional dan spiritual mereka. Sekolah menggunakan kurikulum nasional dengan beberapa kegiatan tambahan (ekstrakurikuler), seperti basket, bulu tangkis, futsal, tarian dan musik tradisional, English Conversation Club, Nihongo, Sinematografi, dan lain sebagainya. Selain itu, para siswa juga mendapatkan jam tambahan untuk belajar dan berlatih agama mereka sendiri.

(42)

29 Tabel 5 Elemen dan tapak bersejarah periode tahun 1984–1989

No. Elemen/Tapak Lokasi Kondisi Fisik Dibangun Tahun Fungsi

Dahulu Sekarang

2 Pusat Penelitian Lingkungan terawat. Akses agak sulit, karena tidak

Kondisi sangat baik dan mudah diakses.

(43)

30

Pada Tahun 1990 – 2009

Tahun 1990 hingga tahun 2009 dijadikan sebagai periode keempat karena pada rentang tahun ini pembangunan kampus IPB Dramaga dibangun dengan mengikuti rencana induk kampus IPB Dramaga hasil revisi pada tahun 1989 (Gambar 22), namun masih merupakan pembangunan tahap pengembangan. Tahun 2009 menjadi batas akhir periode ini karena tahun ini merupakan tahun terakhir pembangunan kampus menurut rencana induk revisi tahun 1989 sebelum mengikuti rencana induk yang direvisi pada tahun 2010. Identifikasi elemen dan tapak bersejarah pada periode keempat ini menghasilkan 15 elemen dan tapak bersejarah yang masih ada bukti fisiknya hingga saat ini (Tabel 6). Penjelasan ke-15 elemen dan tapak tersebut adalah sebagai berikut:

(44)

31 1. Gedung Graha Widya Wisuda

Gedung Graha Widya Wisuda (GWW) IPB merupakan gedung serba guna yang dibangun pada tahun 1990 (Gambar 23b). Gedung ini dibangun dengan fungsi untuk menampung berbagai acara IPB, seperti wisuda, lokakarya, seminar, konferensi, dan acara lainnya yang menjadi bagian penting dari kegiatan akademik di IPB. Bangunan ini berbentuk segi enam, memiliki dua lantai dengan luas 4 195 meter per segi, memiliki daya tampung 4 000 orang, dan dilengkapi dengan 1 500 kursi permanen. Area parkirnya cukup untuk 800 mobil (Anonim 2012). Lokasi pembangunan gedung ini ditetapkan di sebelah tenggara daerah akademik sehingga memenuhi persyaratan. Persyaratan-persyaratan tersebut adalah mudah terlihat dari jalan raya sehingga memudahkan orientasi untuk pendatang luar/tamu, jalan keluar yang mudah dari lahan kampus tanpa mengganggu aktivitas rutin akademik dan daerah hunian, mudah dicapai dari bangunan akademik, dekat dengan tempat parkir mobil dengan kapasitas yang memadai, dan didukung dengan ruang terbuka yang luas di sekitarnya (Badan Pengembangan IPB 1989).

Ada cerita unik di balik pembuatan gedung Graha Widya Wisuda ini. Menurut kisahnya, gedung GWW dibangun karena Ibu Tien Soeharto, istri Presiden Soeharto, merasa kepanasan dan kurang nyaman saat menghadiri wisuda putranya yang pada waktu itu dilaksanakan di Gedung Olahraga (GOR) lama IPB. Tidak lama setelah itu, Ibu Tien segera memerintahkan untuk membangun sebuah gedung serba guna yang layak digunakan sebagai tempat penyelenggaraan wisuda. Namun pada Jumat malam, tepatnya tanggal 25 Juni 2004, GWW mengalami kebakaran hebat. Menurut Unit Keamanan Kampus (UKK) IPB, Drs. Subagio, MM., kebakaran tersebut murni diakibatkan oleh hubungan pendek arus listrik di bagian puncak atap gedung setinggi 30 meter. Akibatnya, atap gedung yang dominan terbuat dari kayu ludes. Peristiwa tersebut sangat disayangkan mengingat lima hari kemudian (Rabu, 30 Juni 2004), di gedung GWW akan dilaksanakan kegiatan wisuda (Lufilah 2011). Setelah kejadian tersebut, gedung GWW ini direnovasi dengan desain arsitektur bangunan yang menyerupai bangunan lama (Gambar 23a).

(a) (b)

(45)

32

2. Poliklinik IPB

IPB menyediakan pelayanan kesehatan bagi mahasiswa dan seluruh sivitas akademika. Untuk memberikan pelayanan yang optimal bagi mahasiswa, setiap mahasiswa IPB ditetapkan sebagai peserta Program Penyangga Kesehatan Mahasiswa (PPKM). Oleh karena itu setiap mahasiswa yang tercatat sebagai mahasiswa aktif berhak memperoleh pelayanan PPKM meliputi pelayanan pengobatan rawat jalan yang diberikan oleh Poliklinik IPB Kampus Darmaga dan Kampus Baranangsiang, bantuan biaya kamar dan pengobatan kepada mahasiswa yang mengalami sakit dan mengalami kecelakaan sehingga harus dirawat inap di rumah sakit, dan bantuan biaya evakuasi dan pengurusan jenazah kepada orang tua/keluarga (Humas IPB 2012). Fasilitas pelayanan kesehatan yang diberikan IPB ini berupa gedung Poliklinik IPB yang terletak di Jalan Tanjung Kampus IPB Dramaga (Gambar 24a). Gedung Poliklinik IPB ini dibangun pada tahun 1990. 3. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Gedung Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) dibangun pada tahun 1994 di Jalan Agatis Kampus IPB Dramaga (Gambar 24b). Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB didirikan pada tanggal 1 September 1963 dengan nama Fakultas Perikanan bersamaan dengan berdirinya Institut Pertanian Bogor. Perintisan untuk mendirikan Fakultas Perikanan dimulai sejak tahun 1953 hingga 1958 melalui pembentukan Tim Persiapan Fakultas Perikanan di Universitas Indonesia (UI). Pada tahun 1960 dibuka jurusan Perikanan Laut di bawah Fakultas Kedokteran Hewan, Peternakan dan Perikanan Laut; dan pada tahun 1961 dibuka Jurusan Perikanan Darat di bawah Fakultas Pertanian UI. Pada tahun 1963, Fakultas Pertanian dan Fakultas Kedokteran Hewan, Peternakan dan Perikanan Laut UI memisahkan diri dari UI dan Membantuk Institut Pertanian Bogor (IPB) yang terdiri dari Lima fakultas yaitu Fakultas Pertanian, Fakultas Kedokteran Hewan, Fakultas Perikanan, Fakultas Peternakan dan Fakultas Kehutanan (FPIK IPB 2013). Saat ini Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan memiliki 5 departemen, yaitu Departemen Budidaya Perairan (BDP), Departemen Manajemen Sumber Daya Perairan (MSP), Departemen Teknologi Hasil Perairan (THP), Departemen Pemanfaatan Sumber Daya Perikanan (PSP), dan Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan (ITK).

(a) (b)

(46)

33 4. Mesjid Al Hurriyyah

Mesjid Al Hurriyyah berdiri pada tahun 1965 dengan bentuk yang kecil, sederhana dan berada di tengah hutan . Pada tahun 1992 di sebelah kiri mesjid Al Hurriyyah yang pertama, dibangun mesjid yang lebih besar, yang mampu menampung jamaah 1.000 orang. Namun, pengelolaannya masih berada satu yayasan dengan Yayasan Al Ghifari yang mengelola Masjid Al Ghifari IPB di Kampus Gunung Gede. Kemudian pada tahun 1995, IPB membangun mesjid yang lebih besar lagi (Gambar 25a) yang megah, bahkan menjadi mesjid kampus terbesar ke-2 se-Indonesia yang dapat menampung jamaah 5.000 orang, sebagai renovasi dari masjid lama (sekarang dikenal dengan Aula Al Hurriyyah) dan pengelolaanya pun mandiri sebagai mitra dari Masjid Al Ghifari (Anonim 2010).

Bentuk segi tiga yang terdapat pada dinding masjid, diambil dari ide dasar rencana induk kampus IPB Dramaga. Atap berbentuk kuncup limas yang dikomposisikan sedemikian rupa merupakan ciri tradisional. Bidang-bidang segitiga dimanfaatkan untuk pencahayaan dan sirkulasi udara secara alami. Bentuk bingkai-bingkai bukaan diselaraskan dengan bentuk keseluruhan dengan elemen pengisi yang memiliki pola dan warna khusus. Konsep segi tiga merupakan perwujudan dari ajaran Islam yang mengajarkan hablumminallah, hablumminannaas, dan hubungan dengan alam lingkungan. Penggunaan bidang-bidang segi tiga yang diputar dan dikomposisikan dalam bangunan ini merupakan penerapan seni Islam yang berbentuk pola geometrik yang juga telah digunakan dalam tradisi bangunan Islam. Diketahui pula, segi tiga ialah bentuk paling stabil dalam ilmu mekanika (Anonim 2010).

5. Fakultas Peternakan

Sejarah pendirian Fakultas Peternakan IPB berawal dari pendirian Nederlandsch Indesche Veeartsen School di Bogor sebelum perang dunia ke II. Akan tetapi, selama pendudukan Jepang sekolah ini ditutup. Pada tahun 1946, Menteri Kemakmuran Indonesia, atas nama pemerintah, membuka Perguruan Tinggi Kedokteran Hewan di Bogor yang merupakan pengembangan dari Nederlandsch Indesche Veeartsen School. Pada tahun 1948, Perguruan Tinggi tersebut dirubah namanya menjadi Faculteit voor Diergeneeskunde.

Gambar

Tabel 3  Elemen atau tapak bersejarah sejak masa sebelum kolonial belanda hingga tahun 1962 (lanjutan)
Gambar 12  Asrama: (a) Sylva Sari, (b) Amarilis, (c) Sylva Lestari, (d) Sylva
Gambar 13  Kondisi lanskap kampus IPB sebelum rencana induk 1981
Tabel 4  Elemen dan tapak bersejarah periode tahun 1963–1983
+7

Referensi

Dokumen terkait