• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perancangan Perangkat Lunak Prediksi Pergerakan Harga Saham Dengan Metode Relative Strength Index (RSI)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Perancangan Perangkat Lunak Prediksi Pergerakan Harga Saham Dengan Metode Relative Strength Index (RSI)"

Copied!
158
0
0

Teks penuh

(1)

Shafira Guslina : Perancangan Perangkat Lunak Prediksi Pergerakan Harga Saham Dengan Metode Relative Strength Index (RSI), 2009.

RELATIVE STRENGTH INDEX (RSI)

SKRIPSI

SHAFIRA GUSLINA

051401060

PROGRAM STUDI S1 ILMU KOMPUTER

DEPARTEMEN ILMU KOMPUTER

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(2)

Shafira Guslina : Perancangan Perangkat Lunak Prediksi Pergerakan Harga Saham Dengan Metode Relative Strength Index (RSI), 2009.

PERANCANGAN PERANGKAT LUNAK PREDIKSI PERGERAKAN HARGA SAHAM DENGAN METODE RELATIVE STRENGTH INDEX (RSI)

SKRIPSI

Diajukan untuk melengkapi tugas dan memenuhi syarat mencapai gelar Sarjana Komputer

SHAFIRA GUSLINA 0 5 1 4 0 1 0 6 0

PROGRAM STUDI S1 ILMU KOMPUTER DEPARTEMEN ILMU KOMPUTER

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(3)

Shafira Guslina : Perancangan Perangkat Lunak Prediksi Pergerakan Harga Saham Dengan Metode Relative Strength Index (RSI), 2009.

PERSETUJUAN

Judul : PERANCANGAN PERANGKAT LUNAK

PREDIKSI PERGERAKAN HARGA SAHAM DENGAN METODE RELATIVE STRENGTH INDEX (RSI)

Kategori : SKRIPSI

Nama : SHAFIRA GUSLINA

Nomor Induk Mahasiswa : 051401060

Program Studi : SARJANA (S1) ILMU KOMPUTER

Departemen : ILMU KOMPUTER

Fakultas : MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN

ALAM (FMIPA) UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Diluluskan di Medan, 15 Juli 2009

Komisi Pembimbing :

Pembimbing 2 Pembimbing 1

Drs. James Piter Marbun, M.Kom Prof. Dr. Muhammad Zarlis

NIP. 131 639 804 NIP. 131 570 434

Diketahui/Disetujui oleh

Departemen Ilmu Komputer FMIPA USU Ketua,

(4)

Shafira Guslina : Perancangan Perangkat Lunak Prediksi Pergerakan Harga Saham Dengan Metode Relative Strength Index (RSI), 2009.

PERNYATAAN

PERANCANGAN PERANGKAT LUNAK PREDIKSI PERGERAKAN HARGA SAHAM DENGAN METODE RELATIVE STRENGTH INDEX (RSI)

SKRIPSI

Penulis mengakui bahwa skripsi ini adalah hasil karya penulis sendiri, kecuali beberapa kutipan dan ringkasan yang masing-masing disebutkan sumbernya.

Medan, 15 Juli 2009

(5)

Shafira Guslina : Perancangan Perangkat Lunak Prediksi Pergerakan Harga Saham Dengan Metode Relative Strength Index (RSI), 2009.

PENGHARGAAN

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas berkat, rahmat dan karunia yang diberikan-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dalam waktu yang telah ditetapkan. Shalawat dan Salam penulis hadiahkan kepada Nabi Besar Muhammad SAW.

Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya penulis sampaikan kepada Bapak Prof. Dr. Muhammad Zarlis sebagai Dosen Pembimbing I dan Bapak Drs. James Piter Marbun, M.Kom sebagai Dosen Pembimbing II atas bimbingan, saran, masukan kepada penulis untuk menyempurnakan kajian ini. Panduan ringkas dan padat dan profesional telah diberikan kepada penulis agar penulis dapat menyelesaikan tugas ini. Selanjutnya kepada para Dosen Penguji Bapak Syahril Efendi, S.Si, MIT dan Bapak Drs. Muhammad Firdaus, M.Si atas saran dan kritikan yang sangat berguna bagi penulis. Ucapan terima kasih juga ditujukan kepada Ketua dan Sekretaris Program Studi Ilmu Komputer, Bapak Prof. Dr. Muhammad Zarlis dan Bapak Syariol Sitorus, S.Si., MIT, Dekan dan Pembantu Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara, semua dosen pada Program Studi Ilmu Komputer FMIPA USU, pegawai-pegawai di Program Studi Ilmu Komputer FMIPA USU, teman-teman sekelas KomB, sahabat-sahabat terbaik, Wenty, Cahaya, Weny serta kekasih hati M. Abduh Aswin, S.Kom, terima kasih atas motivasi dan perhatiannya.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, karena kesempurnaan hanya milik Allah dan kekurangan adalah milik penulis. Oleh karena itu, penulis menerima saran dan kritik yang bersifat membangun demi penyempurnaan skripsi ini. Semoga dapat bermanfaat bagi kita semuanya.

(6)

Shafira Guslina : Perancangan Perangkat Lunak Prediksi Pergerakan Harga Saham Dengan Metode Relative Strength Index (RSI), 2009.

ABSTRAK

(7)

Shafira Guslina : Perancangan Perangkat Lunak Prediksi Pergerakan Harga Saham Dengan Metode Relative Strength Index (RSI), 2009.

STOCK PRICE TREND PREDICTION SOFTWARE DESIGN USING RELATIVE STRENGTH INDEX (RSI) METHOD

ABSTRACT

Nowadays investment is not only dominated by conventional ways such as bank’s deposit, etc. but it has started with investing stocks that brought more promising profits. That’s where the ideas of this thesis came from. The purpose of this study is to develop a software that had ability to calculate and give the prediction about stock’s price trend using one of the most popular indicator in stock’s technical analysis which called Relative Strength Index (RSI) method. The software was developed by PHP 5 programming language and MySQL 5 as it’s database server. The analysis and design of the software development process was based on object oriented methodology using UML (Unified Modelling Language) as it’s tools to build the blueprint of the system. The result of this thesis is a software that can help public or professional people to make a right decision in stock marketing so it can minimize loss that caused by knowledge limitation about stock’s price trend analysis.

(8)

Shafira Guslina : Perancangan Perangkat Lunak Prediksi Pergerakan Harga Saham Dengan Metode Relative Strength Index (RSI), 2009.

DAFTAR ISI

Bab 1 Pendahuluan

1.1 Latar Belakang 1

1.2 Rumusan Masalah 2

1.3 Batasan Masalah 3

1.4 Tujuan Penelitian 3

1.5 Manfaat Penelitian 4

1.6 Metodologi Penelitian 4

1.7 Sistematika Penulisan 5

Bab 2 Landasan Teori

2.1 Saham 7

2.1.1 Jenis-Jenis Saham 8

2.2 Analisis Fundamental 9

2.3 Analisis Teknikal 10

2.3.1 Prinsip Analisis Teknikal 10

2.3.2 Jenis-Jenis Harga 11

2.3.3 Trend Pasar 12

2.3.3.1 Uptrend 12

2.3.3.2 Downtrend 13

2.3.3.3 Sideways 13

2.3.4 Indikator Teknikal 13

2.3.4.1 Oscillator 14

2.3.5 Exponential Moving Average 17

2.3.6 Relative Strength Index 17

2.3.6.1 Rumus Relative Strength Index 18

2.3.6.2 Periode yang Biasa Digunakan 20

2.4 Konsep Pemodelan Objek 21

2.4.1 Objek dan Kelas 21

2.4.2 Atribut dan Operasi 22

2.4.3 Hubungan (Relationship) 23

(9)

Shafira Guslina : Perancangan Perangkat Lunak Prediksi Pergerakan Harga Saham Dengan Metode Relative Strength Index (RSI), 2009.

2.5.1 Analisis Persyaratan dengan UML 24

2.5.2 Desain dengan UML 24

2.5.3 Teknik Analisis dan Desain Sistem dengan UML 25

2.5.4 Diagram-Diagram dalam UML 26

2.5.4.1 Use Case Diagram 26

2.5.4.2 Activity Diagram 29

2.5.4.3 Class Diagram 32

2.5.4.4 Sequence Diagram 36

2.5.4.5 Package Diagram 37

2.5.4.6 Deployment Diagram 37

Bab 3 Analisis dan Perancangan

3.1 Analisis 39

3.1.1 Analisis Penggunaan Metode Relative Strength Index (RSI) 39

3.1.2 Deskripsi Umum Perangkat Lunak 40

3.1.3 Analisis Kebutuhan Fungsional 40

3.1.4 Tujuan Pengembangan Perangkat Lunak 41

3.1.5 Analisis Kebutuhan Data 42

3.1.5.1 Data Masukan 42

3.1.5.2 Data Keluaran 42

3.1.6 Analisis Batasan Perangkat Lunak 43

3.1.7 Pemodelan Use Case 44

3.1.7.1 Diagram Use Case 44

3.1.7.2 Definisi Aktor 46

3.1.7.3 Definisi Use Case 46

3.1.7.4 Skenario Use Case 49

3.1.7.4.1 Skenario Use Case Melihat Informasi

IHSG 49

3.1.7.4.2 Skenario Use Case Melihat Dashboard

IHSG Harian 50

3.1.7.4.3 Skenario Use Case Melihat Informasi

Historis IHSG 52

3.1.7.4.4 Skenario Use Case Melihat Informasi

Saham 53

3.1.7.4.5 Skenario Use Case Melihat Dashboard

Saham Harian 54

3.1.7.4.6 Skenario Use Case Melihat Informasi

Historis Saham 55

3.1.7.4.7 Skenario Use Case Melakukan Analisis

Teknikal Menggunakan RSI 56

3.1.7.4.8 Skenario Use Case Mengunduh Data

IHSG setiap 15 menit 58

3.1.7.4.9 Skenario Use Case Mengunduh Data

Historis IHSG 60

3.1.7.4.10 Skenario Use Case Mengunduh Data

Saham setiap 30 menit 61

3.1.7.4.11 Skenario Use Case Mengunduh Data

(10)

Shafira Guslina : Perancangan Perangkat Lunak Prediksi Pergerakan Harga Saham Dengan Metode Relative Strength Index (RSI), 2009.

3.2 Perancangan 65

3.2.1 Perancangan Kelas 65

3.2.2 Perancangan Antarmuka 74

3.2.2.1 Navigasi Antarhalaman 74

3.2.2.2 Perancangan Dialog Halaman 76

3.2.2.2.1 Rancangan Halaman Utama 77

3.2.2.2.2 Rancangan Halaman Dashboard IHSG 78 3.2.2.2.3 Rancangan Halaman Historis IHSG 79

3.2.2.2.4 Rancangan Halaman Daftar Saham 79

3.2.2.2.5 Rancangan Halaman Dashboard Saham 80 3.2.2.2.6 Rancangan Halaman Historis Saham 81 3.2.2.2.7 Rancangan Halaman Analisis Teknikal RSI 82

3.2.3 Perancangan Logika Data 84

Bab 4 Implementasi

4.1 Implementasi 88

4.1.1 Lingkungan Implementasi 88

4.1.2 Perangkat Keras 88

4.1.3 Perangkat Lunak 89

4.1.4 Implementasi Antarmuka 89

4.1.4.1 Halaman Utama Aplikasi 89

4.1.4.2 Halaman Dashboard IHSG 90

4.1.4.3 Halaman Historis IHSG 92

4.1.4.4 Halaman Daftar Saham 93

4.1.4.5 Halaman Dashboard Saham 94

4.1.4.6 Halaman Historis Saham 95

4.1.4.7 Halaman Analisis Teknikal RSI 97

4.1.4.8 Halaman Hasil Analisis RSI 97

4.1.5 Implementasi Perancangan Logika Data 100

Bab 5 Penutup

5.1 Kesimpulan 105

5.2 Saran 105

Daftar Pustaka 106

Lampiran A: Contoh Penghitungan Dengan RSI 108

(11)

Shafira Guslina : Perancangan Perangkat Lunak Prediksi Pergerakan Harga Saham Dengan Metode Relative Strength Index (RSI), 2009.

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 2.1 Multiplisitas 33

Tabel 3.1 Aktor pada Model Use Case SAFIRA 46

Tabel 3.2 Definisi Use Case perangkat lunak SAFIRA 47

(12)

Shafira Guslina : Perancangan Perangkat Lunak Prediksi Pergerakan Harga Saham Dengan Metode Relative Strength Index (RSI), 2009.

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.6 Hubungan Asosiasi 27

Gambar 2.7 Hubungan Cakupan 28

Gambar 2.8 Hubungan Perluasan 28

Gambar 2.9 Hubungan Generalisasi 28

Gambar 2.10 Simbol Awal Activity 29

Gambar 2.11 Simbol Akhir Activity 29

Gambar 2.12 Action State 29

Gambar 2.13 Activity State 30

Gambar 2.14 Transisi (Transition) 30

Gambar 2.15 Percabangan (Branching) 31

Gambar 2.16 Forking dan Joining 31

Gambar 2.17 Kelas, Atribut dan Operasi 32

Gambar 2.18 Hubungan Asosiasi 33

Gambar 2.19 Hubungan Agregasi 34

Gambar 2.20 Hubungan Komposisi 34

Gambar 2.21 Hubungan Generalisasi 34

Gambar 2.22 Hubungan Realisasi 35

Gambar 2.23 Constraint dan Notes 35

Gambar 2.24 Sequence Diagram 36

Gambar 2.25 Package Diagram 37

Gambar 2.26 Simpul-Simpul pada Deployment Diagram 38

Gambar 2.27 Hubungan Antarsimpul 38

Gambar 3.1 Use Case Diagram SAFIRA 45

Gambar 3.2 Activity Diagram untuk Use Case Melihat Informasi

IHSG 50

Gambar 3.3 Activity Diagram untuk Use Case Melihat Dashboard

IHSG Harian 51

Gambar 3.4 Activity Diagram untuk Use Case Melihat Informasi

Historis IHSG 52

(13)

Shafira Guslina : Perancangan Perangkat Lunak Prediksi Pergerakan Harga Saham Dengan Metode Relative Strength Index (RSI), 2009.

Saham 53

Gambar 3.6 Activity Diagram untuk Use Case Melihat Dashboard

Saham Harian 54

Gambar 3.7 Activity Diagram untuk Use Case Melihat Informasi

Historis Saham 55

Gambar 3.8 Activity Diagram untuk Use Case Melakukan Analisis

Teknikal Menggunakan RSI 57

Gambar 3.9 Activity Diagram untuk Use Case Mengunduh Data IHSG

setiap 15 menit 59

Gambar 3.10 Activity Diagram untuk Use Case Mengunduh Data Historis

IHSG 60

Gambar 3.11 Activity Diagram untuk Use Case Mengunduh Data Saham

setiap 30 menit 62

Gambar 3.12 Activity Diagram untuk Use Case Mengunduh Data Historis

Saham Manual 64

Gambar 3.13 HTTP Request diperlihatkan sebagai suatu kejadian inisialisasi

antara client dan server 66

Gambar 3.14 Interaksi antara lapisan presentasi, bisnis, dan data 67

Gambar 3.15 Web page output dari server ke client 68

Gambar 3.16 Penerapan pola MVC 69

Gambar 3.17 Struktur Class Diagram dasar 70

Gambar 3.18 Struktur Class Diagram yang sudah disempurnakan 71 Gambar 3.19 Pemisahan Class Diagram untuk level Framework dan

Aplikasi lengkap dengan atribut dan operasinya 73

Gambar 3.20 Statechart diagram memperlihatkan navigasi dari aplikasi 75 Gambar 3.21 Layout yang konsisten digunakan untuk setiap halaman 77

Gambar 3.22 Rancangan Halaman Utama Aplikasi 77

Gambar 3.23 Rancangan Halaman Dashboard IHSG 78

Gambar 3.24 Rancangan Halaman Historis IHSG 79

Gambar 3.25 Rancangan Halaman Daftar Saham 80

Gambar 3.26 Rancangan Halaman Dashboard Saham 81

Gambar 3.27 Rancangan Halaman Historis Saham 82

Gambar 3.28 Rancangan Halaman Analisis Teknikal RSI 83

Gambar 3.29 Rancangan Halaman Hasil Analisis RSI 84

Gambar 3.30 Entity Relationship Diagram (ERD) Perangkat Lunak SAFIRA 85

(14)

Shafira Guslina : Perancangan Perangkat Lunak Prediksi Pergerakan Harga Saham Dengan Metode Relative Strength Index (RSI), 2009.

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Investasi merupakan suatu langkah seseorang dalam pemenuhan kebutuhan di masa

yang akan datang. Dewasa ini dunia investasi tidak lagi didominasi oleh jenis

investasi konvensional seperti tabungan, deposito di bank atau di lembaga keuangan

lain yang memberikan bunga. Para investor saat ini mulai tertarik untuk menanamkan

modalnya melalui pembagian kepemilikan perusahaan yang ditandai dengan surat

berharga yang disebut saham. Proses investasi menggunakan saham dilakukan dengan

cara jual beli sejumlah saham yang akan menentukan persentase kepemilikan seorang

investor terhadap perusahaan yang bersangkutan. Proses jual beli tersebut dilakukan

dengan cara lelang di suatu tempat perdagangan khusus yang disebut dengan bursa

saham atau pasar modal.

Berinvestasi di bursa saham menjanjikan keuntungan yang jauh lebih besar

dibandingkan jenis investasi konvensional. Keuntungan tersebut diperoleh dalam

bentuk dividen (keuntungan dari hasil pembagian laba perusahaan) dan capital gain

(keuntungan dari hasil jual beli saham berupa kelebihan nilai jual dari nilai beli

saham). Investasi di saham rata-rata dapat memberikan yield (tingkat pengembalian)

(15)

Shafira Guslina : Perancangan Perangkat Lunak Prediksi Pergerakan Harga Saham Dengan Metode Relative Strength Index (RSI), 2009.

memberikan yield 5-10% per tahun (Dominic, 2008: 14). Walaupun demikian risiko

yang mungkin dihadapi juga cukup besar. Hal ini mungkin terjadi jika seorang

investor membeli saham dengan harga terlalu tinggi dan menjual dengan harga terlalu

rendah. Risiko dari investasi saham ini akan terasa lebih besar terutama bagi kalangan

umum ataupun pemula yang mungkin sama sekali buta dan belum mempunyai

pengalaman sedikit pun tentang investasi ini tetapi dalam waktu dekat berniat untuk

berinvestasi di bursa saham, ditambah lagi dengan masalah bahwa pada saat sekarang

ini kebanyakan penganalisisan saham dilakukan secara manual dimana hal itu akan

memakan waktu yang lama dan kurang efektif dalam mengolah data saham yang

sangat banyak jumlahnya. Terdapat berbagai faktor yang dapat mempengaruhi naik

turunnya harga saham. Dengan demikian diperlukan analisis dan tindakan yang tepat

dalam berinvestasi di bursa saham agar seorang investor (baik dari kalangan

profesional maupun kalangan umum) dapat melakukan transaksi pembelian dan

penjualan pada saat yang tepat.

Prediksi pergerakan harga saham dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu

dengan menggunakan analisis fundamental dan analisis teknikal. Analisis fundamental

adalah analisis yang dilakukan dengan menggunakan data fundamental perusahaan

penerbit saham, misalnya laporan keuangan ditambah dengan tingkat suku bunga,

inflasi, ekonomi makro, dan faktor-faktor relevan lainnya yang digunakan untuk

memperhitungkan nilai wajar (nilai intrinsik) dari saham suatu perusahaan serta

memastikan bahwa saham yang dibeli merupakan saham perusahaan yang berkinerja

baik (Tryfino, 2009: 17). Sedangkan analisis teknikal adalah analisis yang

menggunakan pengujian atas pergerakan harga saham di masa lampau dan masa kini

dengan menggunakan berbagai metode kuantitatif untuk tujuan prediksi (forecast)

pergerakan harga saham di masa yang akan datang (Hendarto, 2005: 51). Metode

kuantitatif ini dikenal juga dengan sebutan indikator di dalam analisis teknikal.

Dalam Tugas Akhir ini akan dibangun sebuah perangkat lunak yang akan

menggunakan salah satu metode kuantitatif (indikator) dalam analisis teknikal yaitu

metode Relative Strength Index (RSI), yang nantinya diharapkan dapat mengatasi

(16)

Shafira Guslina : Perancangan Perangkat Lunak Prediksi Pergerakan Harga Saham Dengan Metode Relative Strength Index (RSI), 2009.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai

berikut:

a. Bagaimana cara kerja dan kebenaran metode RSI dalam memprediksi

pergerakan harga saham.

b. Bagaimana merancang dan mengimplementasikan metode RSI dalam

memprediksi pergerakan harga saham ke dalam bentuk perangkat lunak

dengan menggunakan UML (Unified Modelling Language).

1.3 Batasan Masalah

Agar pembahasan penelitian ini tidak menyimpang dari apa yang telah dirumuskan,

maka diperlukan batasan-batasan. Batasan-batasan dalam penelitian ini adalah:

a. Data saham yang akan dipergunakan dalam Tugas Akhir ini adalah data

historis saham yang terdapat pada situs

sahamnya hanya berasal dari Jakarta Stock Exchange (Bursa Efek Jakarta).

b. Data saham yang digunakan adalah harga penutupan (closing price) saja.

c. Hanya menggunakan Relative Strength Index (RSI) sebagai metode/indikator

yang utama dan Exponential Moving Average sebagai metode/indikator bantu.

d. Sinyal yang ditampilkan pada grafik adalah sinyal jual (kondisi overbought)

dan sinyal beli (kondisi oversold).

e. RSI akan diuji menggunakan periode 9, 14 dan 25 hari.

f. Tidak menggunakan analisis fundamental, hanya dengan analisis teknikal.

g. Tidak membahas segi sistem pengambilan keputusan.

h. Analisis dan perancangan perangkat lunak menggunakan metodologi

berorientasi objek dengan tools UML (Unified Modelling Language).

i. Perangkat lunak ini akan dibangun dengan menggunakan bahasa pemrograman

(17)

Shafira Guslina : Perancangan Perangkat Lunak Prediksi Pergerakan Harga Saham Dengan Metode Relative Strength Index (RSI), 2009.

1.4 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah dapat mempercepat dan mengotomasikan proses

penganalisisan saham secara teknikal dengan metode RSI sehingga hasil prediksi yang

didapat lebih akurat dan dapat dihandalkan jika dibandingkan dengan perhitungan

secara manual.

1.5 Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini adalah untuk mempermudah pengambilan keputusan dalam

perdagangan saham sehingga dapat meminimalisasi kerugian yang timbul akibat

keterbatasan pengetahuan tentang analisis pergerakan harga saham.

1.6 Metodologi Penelitian

Penelitian yang akan dilakukan nantinya direncanakan ke dalam langkah-langkah

secara sistematis. Penelitian ini dilakukan dengan beberapa tahapan, yaitu:

1. Kepustakaan

Pada tahap ini akan dilakukan studi literatur tentang permasalahan yang ada

untuk dijadikan referensi dalam memahami analisis teknikal, khususnya

metode RSI. Sumber didapat dari perpustakaan dan internet.

2. Analisis

Pada tahap ini akan dilakukan analisis masalah yang dikaji serta

mendefinisikan batasan-batasan terhadap masalah tersebut, serta melakukan

analisis terhadap kebutuhan perangkat lunak yang akan dibangun.

(18)

Shafira Guslina : Perancangan Perangkat Lunak Prediksi Pergerakan Harga Saham Dengan Metode Relative Strength Index (RSI), 2009.

Pada tahap ini akan dilakukan perancangan global terhadap perangkat lunak

yang akan dibangun, dilanjutkan dengan perancangan yang lebih detail yang

meliputi perancangan fungsional dan perancangan antarmuka.

4. Implementasi

Pada tahap ini akan dibangun perangkat lunak berdasarkan perancangan yang

telah dibuat dengan menggunakan bahasa pemrograman PHP 5 dan database

server MySQL 5.

5. Dokumentasi

Pada tahap ini akan disusun laporan Tugas Akhir secara lengkap dengan proses

analisis, perancangan, dan implementasi perangkat lunak.

1.7 Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan dari Tugas Akhir ini terdiri dari beberapa bagian utama, yaitu

sebagai berikut:

BAB 1 PENDAHULUAN

Dalam bab ini diuraikan tentang latar belakang masalah, rumusan masalah,

batasan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, metodologi

penelitian, serta sistematika penulisan Tugas Akhir.

BAB 2 LANDASAN TEORI

Dalam bab ini diuraikan landasan teori yang digunakan dalam

memecahkan masalah dan membahas masalah yang ada. Bab ini

membahas konsep saham, analisis harga saham, analisis fundamental,

analisis teknikal dan metode Relative Strength Index.

(19)

Shafira Guslina : Perancangan Perangkat Lunak Prediksi Pergerakan Harga Saham Dengan Metode Relative Strength Index (RSI), 2009.

Dalam bab ini diuraikan tentang analisis kebutuhan perangkat lunak yang

akan dikembangkan, beserta perancangan pengembangannya.

BAB 4 IMPLEMENTASI

Dalam bab ini diuraikan tentang implementasi dari perangkat lunak yang

dibangun berdasarkan hasil analisis dan perancangan pada bab

sebelumnya.

BAB 5 PENUTUP

Dalam bab ini diuraikan tentang kesimpulan yang didapat setelah

pelaksanaan Tugas Akhir ini, beserta saran-saran untuk perbaikan dan

(20)

Shafira Guslina : Perancangan Perangkat Lunak Prediksi Pergerakan Harga Saham Dengan Metode Relative Strength Index (RSI), 2009.

BAB 2

LANDASAN TEORI

2.1 Saham

Saham adalah surat berharga tanda bukti kepemilikan seseorang atas suatu perusahaan

yang berbentuk perseroan terbatas (PT) (Habib, 2008: 105). Saham merupakan salah

satu jenis investasi yang banyak digunakan saat ini dan telah melampaui kepopuleran

jenis investasi konvensional seperti tabungan, deposito di bank atau di lembaga

keuangan lain yang memberikan bunga. Akan tetapi berbeda dengan jenis investasi

konvensional, investasi dengan saham tidak selalu mensyaratkan pengembalian uang

yang diinvestasikan dan bunga. Artinya jika perusahaan gagal mendapatkan

keuntungan maka pemegang saham tidak akan mendapatkan bagian. Oleh karena itu,

investasi dengan saham harus dilakukan dengan bantuan analisis yang tepat sehingga

(21)

Shafira Guslina : Perancangan Perangkat Lunak Prediksi Pergerakan Harga Saham Dengan Metode Relative Strength Index (RSI), 2009.

berinvestasi saham dapat diperoleh dalam bentuk dividen (keuntungan dari hasil

pembagian laba perusahaan) dan capital gain (keuntungan dari hasil jual beli saham

berupa kelebihan nilai jual dari nilai beli saham).

Saham diperdagangkan di bursa saham atau pasar modal dimana penjual dan

pembeli saling dipertemukan untuk menentukan harga melalui mekanisme lelang.

Bursa tersebut dapat berupa bangunan fisik atau jaringan komputer yang memfasilitasi

perdagangan secara elektronik.

Selain mengetahui informasi saham, harus diketahui juga infomasi indeks

saham (stock index). Indeks saham adalah sebuah indikator yang menunjukkan atau

mengukur tingkat harga rata-rata dari sebagian atau seluruh harga saham yang

diperdagangkan di suatu bursa saham dan nilainya selalu berfluktuasi (Tan, 2008: 3).

Penyajian informasi indeks saham bervariasi, antara lain adalah Indeks Harga Saham

Individual (Individual Stock Index) dan Indeks Harga Saham Gabungan (Composite

Stock Index). Indeks harga saham individual mencatat pergerakan harga

masing-masing saham sampai pada waktu tertentu, sedangkan indeks harga saham gabungan

mencatat pergerakan harga saham gabungan seluruh saham dalam sebuah bursa

saham. Sebuah negara memiliki indeks saham masing-masing, contohnya: Jakarta

Composite (Indonesia) dan LQ45 (Indonesia), Nikkei (Jepang), Hangseng

(Hongkong), dan lain-lain. Indeks Harga Saham Gabungan digunakan untuk

mengukur kinerja gabungan saham yang tercatat dalam suatu bursa saham.

2.1.1 Jenis-Jenis Saham

Ada beberapa sudut pandang untuk membedakan saham, yaitu (Vibby, 2007: 24):

1. Ditinjau dari segi kemampuan dalam hak tagih atau klaim, saham dapat dibedakan

menjadi:

a. Common Stock, yaitu saham biasa. Jika masyarakat membicarakan saham

umumnya yang mereka maksud adalah saham jenis ini. Saham jenis ini

(22)

Shafira Guslina : Perancangan Perangkat Lunak Prediksi Pergerakan Harga Saham Dengan Metode Relative Strength Index (RSI), 2009.

saham jenis ini merepresentasikan klaim atas pendapatan dan aset perusahaan

serta hak suara dalam rapat tahunan pemegang saham. Dalam jangka panjang,

investasi dengan common stock menjanjikan keuntungan yang lebih besar

daripada jenis investasi lain. Akan tetapi, saham jenis ini juga memiliki risiko

paling besar. Apabila perusahaan bangkrut atau dilikuidasi, maka pembagian

dividen dan aset perusahaan akan dibayarkan terlebih dahulu kepada debitor

dan pemegang saham jenis preferred stock. Jika hasil pembagian tersebut tidak

bersisa maka pemegang saham jenis common stock tidak akan mendapatkan

bagian.

b. Preferred Stock, yaitu saham yang memiliki jaminan dividen dalam jumlah

yang tetap selamanya. Hal ini berbeda dengan saham jenis common stock yang

jumlah dividennya tidak terjamin sehingga ada kemungkinan tidak mendapat

dividen sama sekali. Keuntungan lain dari saham jenis preferred stock adalah

jika perusahaan bangkrut atau dilikuidasi, pembagian dividen dan aset

perusahaan akan dibayarkan terlebih dahulu kepada pemilik saham jenis ini

sebelum kepada pemilik saham jenis common stock.

2. Ditinjau dari kinerja perdagangan, saham dapat dibedakan menjadi:

a. Blue-Chip Stock, yaitu saham jenis common stock dari perusahaan yang

memiliki reput asi tinggi, sebagai leader dalam industri sejenis, memiliki

pendapatan yang stabil, dan konsisten dalam membayar dividen.

b. Income Stock, yaitu saham dari suatu perusahaan yang memiliki kemampuan

membayar dividen lebih tinggi dari rata-rata dividen yang dibayarkan pada

tahun sebelumnya.

c. Growth Stock, yaitu saham dari perusahaan yang memiliki pertumbuhan

pendapatan yang tinggi. Saham jenis ini diterbitkan oleh perusahaan yang

memiliki reput asi tinggi sebagai leader dalam industri sejenis.

d. Speculative Stock, yaitu saham dari perusahaan yang tidak konsisten dalam

memperoleh pendapatan dari tahun ke tahun sehingga memiliki kemungkinan

kecil untuk memberikan nilai pengembalian investasi yang normal atau tinggi.

e. Counter Cyclical Stock, yaitu saham yang nilainya tidak terpengaruh oleh

(23)

Shafira Guslina : Perancangan Perangkat Lunak Prediksi Pergerakan Harga Saham Dengan Metode Relative Strength Index (RSI), 2009.

2.2 Analisis Fundamental

Analisis fundamental adalah analisis yang dilakukan dengan menggunakan data

fundamental perusahaan penerbit saham, misalnya laporan keuangan ditambah dengan

tingkat suku bunga, inflasi, ekonomi makro dan faktor-faktor relevan lainnya yang

digunakan untuk memperhitungkan nilai wajar (nilai intrinsik) dari saham suatu

perusahaan serta memastikan bahwa saham yang dibeli merupakan saham perusahaan

yang berkinerja baik (Tryfino, 2009: 17).

Prinsip pada analisis fundamental ini adalah jika harga saham di pasar modal

lebih tinggi daripada nilai intrinsik saham tersebut pada satu waktu, maka saham

tersebut dianggap terlalu mahal harganya (kondisi overvalue) dan disarankan untuk

dijual. Sedangkan jika harga saham pada suatu waktu lebih rendah daripada nilai

intrinsik saham tersebut pada waktu itu, maka saham tersebut dianggap terlalu murah

(kondisi undervalue) dan disarankan untuk dibeli. Akan tetapi, analisis ini tidak bisa

memberikan gambaran trend yang sedang terjadi pada suatu saham sehingga tidak

bisa memberikan keputusan kapan membeli dan menjual saham tersebut serta analisis

ini sangat rumit dan cenderung memakan waktu yang lama.

2.3 Analisis Teknikal

Analisis teknikal adalah analisis untuk memprediksi pergerakan harga saham di masa

depan dengan menggunakan data historis saham di masa lampau dan masa kini

dengan bantuan grafik serta metode kuantitatif (indikator) (Hendarto, 2005: 48).

Kelebihan analisis teknikal adalah analisis ini relatif cepat dan mudah, tidak perlu

terlibat dalam angka-angka keuangan yang rumit dan memberikan sinyal kapan saat

yang tepat untuk melakukan investasi. Dalam pandangan analisis teknikal, semua

faktor fundamental sudah masuk kedalam dan direpresentasikan oleh harga yang

(24)

Shafira Guslina : Perancangan Perangkat Lunak Prediksi Pergerakan Harga Saham Dengan Metode Relative Strength Index (RSI), 2009.

saham. Analisis teknikal pertama kali di populerkan oleh Charles Dow dan dikenal

dengan prinsip Teori Dow (Dow Theory) pada akhir abad 19.

Analisis teknikal tidak berusaha untuk memprediksi angka pasti harga suatu

saham. Output analisis teknikal adalah gambaran mengenai kecenderungan harga

saham di pasaran berdasarkan data-data harga saham di masa lalu. Berdasarkan

gambaran tersebut, seorang analis dapat memberikan saran kepada investor mengenai

waktu yang tepat untuk melakukan pembelian, penjualan, atau menahan sahamnya.

2.3.1 Prinsip Analisis Teknikal

Secara umum analisis teknikal mempunyai tiga prinsip dasar utama, yaitu (Vibby,

2007: 44):

1. Segala faktor yang mempengaruhi nilai intrinsik suatu saham sudah tercermin

dalam aksi pasar. Karena itu, alih-alih mempelajari faktor-faktor luar yang

sedemikian banyak, para analis teknikal memilih untuk mempelajari perubahan

harga saham (aksi pasar).

2. Harga saham bergerak dengan mengikuti trend, dan sebuah trend akan lebih

cenderung untuk berlanjut daripada berubah. Analisis teknikal dilakukan dengan

membentuk sebuah grafik dari pergerakan harga saham di pasar. Grafik ini

kemudian dianalisis agar trend-trend yang ada bisa dikenali pada tahap awal

pembentukannya. Setelah analis teknikal bisa mengenali trend yang sedang

berlaku, maka perdagangan akan dilakukan sejalan dengan trend tersebut sampai

muncul pertanda bahwa trend akan berbalik.

3. Apa yang sudah pernah terjadi akan cenderung berulang. Konsep ini terbentuk

karena pasar modal dijalankan oleh manusia. Pada dasarnya psikologi manusia

tidak pernah berubah dan dapat ditebak. Setiap orang pasti ingin membeli saham

dari perusahaan yang memiliki prospek cerah.

(25)

Shafira Guslina : Perancangan Perangkat Lunak Prediksi Pergerakan Harga Saham Dengan Metode Relative Strength Index (RSI), 2009.

Dalam bagian ini akan dijelaskan berbagai jenis harga saham yang mungkin

digunakan dalam analisis teknikal, yaitu:

1. Opening price

Opening price suatu saham adalah harga saham tersebut pada awal periode

tersebut. Opening price pada suatu hari adalah harga saham tersebut pada saat

pasar modal dibuka pada hari ini. Opening price pada suatu bulan adalah harga

saham tersebut pada saat pasar modal dibuka, pada hari pertama pasar modal

beroperasi pada bulan itu.

2. Closing price

Closing price suatu saham adalah harga saham tersebut pada akhir periode

tersebut. Closing price pada suatu hari adalah harga saham tersebut pada saat pasar

modal ditutup pada hari itu. Closing price pada suatu bulan adalah harga saham

tersebut pada saat pasar modal ditutup pada hari terakhir pasar modal beroperasi

pada bulan itu.

3. High price

High price suatu saham adalah harga tertinggi yang pernah dicapai saham tersebut

pada suatu periode.

4. Low price

Low price suatu saham adalah harga terendah yang pernah dicapai saham tersebut

pada suatu periode.

Harga yang paling sering digunakan dalam analisis teknikal adalah harga

penutupan (closing price). Harga penutupan dianggap sebagai harga yang paling

penting dalam satu hari/satu periode.

2.3.3 Trend Pasar

Trend pasar merefleksikan arah pergerakan harga saham secara umum. Trend

merupakan hal esensial dalam pendekatan teknikal. Teknik-teknik yang digunakan

(26)

Shafira Guslina : Perancangan Perangkat Lunak Prediksi Pergerakan Harga Saham Dengan Metode Relative Strength Index (RSI), 2009.

dengan trend tersebut. Dalam perdagangan saham dikenal tiga jenis trend utama,

yaitu: uptrend (trend kenaikan), downtrend (trend penurunan), dan sideways (kondisi

biasa).

2.3.3.1Uptrend

Uptrend adalah situasi dimana harga penutupan tertinggi suatu saham pada suatu

periode lebih tinggi dari harga penutupan tertinggi pada periode sebelumnya dan harga

penutupan terendahnya juga lebih tinggi dari harga penutupan terendah pada periode

sebelumnya. Uptrend terjadi karena jumlah pembeli lebih banyak daripada penjual

saham sebagai akibat dari peningkatan kepercayaan investor terhadap pasar. Para

investor akan berlomba-lomba untuk menjadi yang pertama dalam memasuki fase

awal trend ini dengan harapan akan mendapatkan capital gain seiring dengan

peningkatan harga saham. Kondisi uptrend sering juga disebut dengan istilah bullish

atau bull market.

2.3.3.2Downtrend

Downtrend adalah situasi dimana harga penutupan terendah suatu saham pada suatu

periode lebih rendah dari harga penutupan terendah pada periode sebelumnya dan

harga penutupan tertingginya juga lebih rendah dari harga penutupan tertinggi pada

periode sebelumnya. Downtrend terjadi karena jumlah pembeli lebih sedikit daripada

penjual saham. Hal ini diakibatkan oleh sentimen negatif terhadap pasar. Para investor

akan segera melakukan penjualan saham untuk menghindari kerugian akibat harga

jual sahamnya lebih rendah daripada harga yang mereka bayar saat pembelian.

Kondisi downtrend sering juga disebut bearish atau bear market.

(27)

Shafira Guslina : Perancangan Perangkat Lunak Prediksi Pergerakan Harga Saham Dengan Metode Relative Strength Index (RSI), 2009.

Sideways adalah situasi dimana harga penutupan tertinggi suatu saham pada suatu

periode sama rata dengan harga penutupan tertinggi pada periode sebelumnya dan

harga penutupan terendahnya juga sama rata dengan harga penutupan terendah pada

periode sebelumnya. Hal ini terjadi karena jumlah pembeli dan penjual berimbang.

Pada situasi ini sentimen yang berkembang di pasar tidak terlalu mempengaruhi

keputusan para investor.

2.3.4 Indikator Teknikal

Indikator teknikal adalah suatu metode kuantitatif atau formula untuk tujuan prediksi

pergerakan harga saham dengan cara mengolah data saham dari serangkaian

pergerakan harga saham sebelumnya yang diaplikasikan dalam bentuk titik-titik data

di grafik. (Hendarto, 2005: 87). Data harga dapat berupa kombinasi dari open, close,

high, atau low pada periode waktu tertentu. Sebagai contoh rata-rata dari tiga close:

(41+43+43) = 42.33

1. To alert, indikator teknikal dapat memberikan peringatan untuk mengamati

pergerakan harga dengan lebih cermat untuk mengidentifikasi perubahan harga

saham baik saat melemah maupun menguat.

adalah sebuah titik data. Akan tetapi, sebuah titik data kurang

memberikan informasi sehingga tidak dapat dijadikan indikator. Rangkaian titik-titik

data pada periode waktu tertentu diperlukan untuk dapat dijadikan referensi yang valid

dalam analisis. Dengan adanya periode waktu, perbandingan dapat dilakukan antara

situasi saat ini dengan situasi di masa lalu. Untuk tujuan analisis, biasanya indikator

teknikal digambarkan dalam grafik berdekatan dengan grafik harga saham. Setelah

digambarkan dalam grafik, indikator dapat dibandingkan dengan grafik harga yang

bersesuaian.

Indikator teknikal memberikan perspektif yang unik terhadap kekuatan dan

arah dari pergerakan harga saham. Secara garis besar ada tiga fungsi indikator

teknikal, yaitu:

2. To confirm, indikator teknikal dapat digunakan untuk mengkonfirmasi sinyal yang

(28)

Shafira Guslina : Perancangan Perangkat Lunak Prediksi Pergerakan Harga Saham Dengan Metode Relative Strength Index (RSI), 2009.

3. To predict, indikator teknikal dapat digunakan untuk memprediksi pergerakan

harga saham di masa yang akan datang.

Indikator teknikal melakukan penyaringan terhadap pergerakan harga dengan

menggunakan formula. Dengan kata lain, indikator teknikal bukanlah refleksi

langsung dari pergerakan harga. Analisis terhadap indikator teknikal harus diikuti

dengan studi pergerakan harga. Hal ini diperlukan untuk menghindari kesalahan dalam

pembacaan sinyal. Contohnya: jika indikator teknikal memberikan sinyal beli,

sedangkan pola grafik harga menunjukkan downtrend, maka mungkin saja sinyal

tersebut adalah sinyal yang salah.

2.3.4.1Oscillator

Oscillator adalah indikator teknikal yang nilainya berfluktuasi naik dan turun

melewati suatu garis tengah atau diantara batas-batas tertentu seiring dengan

perubahan nilainya dalam jangka waktu tertentu. Oscillator adalah tipe indikator yang

paling efektif digunakan pada kondisi pasar normal atau tidak mengikuti trend yang

dikenal dengan istilah sideways. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa

pergerakan harga saham dipengaruhi oleh sentimen pasar. Harga saham berfluktuasi di

antara periode optimis dan pesimis. Oscillator dapat memberikan petunjuk kapan

sentimen-sentimen tersebut mencapai titik ekstrim. Saat pasar sedang mengikuti trend

tertentu, oscillator sebaiknya digunakan sebagai alat bantu, bukan sebagai alat utama.

Seberapapun kuatnya sinyal yang diberikan oscillator, tetap lebih penting untuk

berdagang sesuai dengan arah trend.

Pergerakan grafik oscillator mengikuti/menyerupai pergerakan harga saham.

Jika harga saham sedang naik kemungkinan besar oscillator juga akan bergerak naik,

sebaliknya oscillator akan bergerak turun jika harga sedang mengalami penurunan.

Pergerakan tersebut lebih banyak di antara batas-batas yang telah ditentukan

(29)

Shafira Guslina : Perancangan Perangkat Lunak Prediksi Pergerakan Harga Saham Dengan Metode Relative Strength Index (RSI), 2009.

Ada banyak tipe oscillator dan beberapa indikator teknikal dapat dikategorikan

ke dalam lebih dari satu kategori oscillator. Secara garis besar, oscillator dapat

dibedakan menjadi dua tipe, yaitu:

1. Centered Oscillator, yaitu oscillator yang berfluktuasi naik dan turun melewati

suatu garis tengah. Oscillator jenis ini efektif digunakan untuk mengidentifikasi

kuat dan lemah atau arah dari momentum dibalik pergerakan harga suatu saham.

Momentum akan bernilai positif bila oscillator bergerak di atas nilai tengah dan

akan bernilai negatif bila oscillator bergerak di bawah nilai tengah. Contoh

indikator teknikal bertipe centered oscillator adalah Rate of Change (ROC) dan

MACD.

2. Banded Oscillator, yaitu oscillator yang berfluktuasi naik dan turun di antara

posisi-posisi tertentu (ekstrim atas dan bawah) yang menandakan kondisi ekstrim

harga suatu saham dan tidak memiliki garis tengah. Sebagian besar banded

oscillator berfluktuasi di antara batas-batas/skala yang telah ditentukan (biasanya

0-100). Beberapa banded oscillator yang populer digunakan adalah RSI dan

Stochastic Oscillator.

Oscillator dapat memberikan sinyal jual dan beli dalam beberapa cara.

Sinyal-sinyal yang diberikan oscillator dapat dikelompokkan menjadi:

1. Divergence positif dan negatif. Divergence adalah konsep inti dari sinyal pada

oscillator dan juga pada indikator lainnya. Divergence memberikan peringatan

bahwa kenaikan atau penurunan yang sedang berlangsung akan mengalami

perubahan juga memberikan sinyal jual dan beli. Divergence positif terjadi bila

nilai indikator pada suatu periode mengalami peningkatan sementara pada periode

yang sama harga saham yang bersesuaian mengalami penurunan. Sedangkan

Divergence negatif terjadi bila pada suatu periode nilai indikator mengalami

penurunan sementara pada periode yang sama harga saham yang bersesuaian

mengalami peningkatan.

2. Overbought dan oversold. Sinyal ini dihasilkan oleh oscillator jenis banded

oscillator. Langkah pertama untuk menggunakan indikator jenis ini adalah

menentukan posisi-posisi ekstrim atas dan bawah. Pada RSI posisi ekstrim bawah

(30)

Shafira Guslina : Perancangan Perangkat Lunak Prediksi Pergerakan Harga Saham Dengan Metode Relative Strength Index (RSI), 2009.

Oscillator posisi ekstrim bawah biasanya pada level 20 dan posisi ekstrim atas

pada level 80. Nilai di bawah 30 pada RSI atau di bawah 20 pada Stochastic

Oscillator menunjukkan kondisi oversold. Nilai di atas 70 pada RSI atau di atas 80

pada Stochastic Oscillator menunjukkan kondisi overbought. Cara termudah untuk

mengidentifikasi sinyal pembelian adalah ketika pada kondisi oversold, nilai

oscillator kemudian bergerak naik dan memotong garis ekstrim oversold. Cara

termudah untuk mengidentifikasi sinyal penjualan adalah ketika pada kondisi

overbought, nilai oscillator kemudian bergerak turun dan memotong garis ekstrim

overbought. Untuk mendapatkan sinyal yang lebih baik maka proses identifikasi

sebaiknya dibarengi dengan identifikasi sinyal-sinyal lain seperti divergence.

3. Perpotongan garis tengah. Sinyal ini kebanyakan digunakan oleh centered

oscillator. Sinyal beli diberikan ketika nilai oscillator bergerak naik memotong

garis tengah. Sinyal jual diberikan ketika nilai oscillator bergerak turun memotong

garis tengah. Pergerakan oscillator di atas garis tengah menunjukkan perubahan

momentum dari negatif ke positif dan pasar dapat dikatakan dalam kondisi bullish.

Pergerakan oscillator di bawah garis tengah menunjukkan perubahan momentum

dari positif ke negatif dan pasar dapat dikatakan dalam kondisi bearish.

Pembacaan sinyal seperti ini mendapat kritikan karena dianggap terlalu lama

sehingga dapat mengurangi kesempatan mendapat profit. Akan tetapi, sebagian

orang berpendapat cara ini dapat mengurangi resiko kesalahan pembacaan sinyal

jual dan beli.

Penggunaan oscillator harus dibarengi dengan dasar-dasar analisis trend untuk

menghindari kesalahan pembacaan sinyal. Hal ini menjadi salah satu kekurangan

dalam metode analisis menggunakan oscillator. Walaupun demikian, pada umumnya

pasar lebih sering berada pada kondisi normal (sideways) daripada kondisi uptrend

atau downtrend. Oleh karena itu, metode oscillator dapat memberikan banyak

keuntungan dan masih banyak digunakan sampai saat ini.

(31)

Shafira Guslina : Perancangan Perangkat Lunak Prediksi Pergerakan Harga Saham Dengan Metode Relative Strength Index (RSI), 2009.

Exponential Moving Average adalah salah satu jenis indikator (metode kuantitatif)

pada analisis teknikal yang digunakan di dalam metode Relative Strength Index (RSI)

sebagai penghalus grafik hasil analisis RSI yang berfluktuasi sehingga didapat grafik

yang lebih halus dan lebih mudah diidentifikasi trendnya (kenaikan atau penurunan

harga saham). Exponential Moving average adalah sebuah jenis alat analisis teknikal

yang menggunakan rata-rata harga saham sebagai keluarannya dan indikator ini

merupakan indikator bantu dalam RSI.

Relative Strength Index

Salah satu oscillator yang cukup terpercaya dan sering digunakan oleh para analis

teknikal adalah Relative Strength Index (RSI). Metode ini dikembangkan oleh J.

Welles Wilder pada tahun 1978. Seperti oscillator lainnya, RSI juga berfungsi untuk

membaca kondisi overbought dan oversold, selain untuk memprediksi perubahan

trend.

RSI mempunyai kelebihan dibanding oscillator lainnya. Analisis dengan RSI

dilakukan bukan dengan menghitung perbedaan harga antara dua hari, namun dengan

menghitung rata-rata perbedaan harga selama periode beberapa hari, sehingga RSI

tidak begitu terpengaruh perubahan harga yang drastis. Selain itu, RSI juga memberi

skala 0-100, sehingga lebih mudah dalam melakukan perbandingan. Hasil analisis RSI

berfungsi untuk menampilkan sinyal-sinyal, seperti:

1. Overbought. Pasar disebut dalam kondisi overbought ketika nilai oscillator berada

di sekitar posisi ekstrim atas. Pada RSI posisi ekstrim bawah biasanya pada level

30 dan posisi ekstrim atas pada level 70 sehingga jika nilai RSI di atas level 70,

maka sinyal overbought akan muncul. Kondisi ini diakibatkan oleh permintaan

melebihi penawaran sehingga harga suatu saham meningkat sampai titik tertinggi.

Kondisi ini merupakan pertanda bahwa saham tersebut dihargai terlalu tinggi dan

akan mengalami penurunan, disarankan kepada para investor untuk menjual

(32)

Shafira Guslina : Perancangan Perangkat Lunak Prediksi Pergerakan Harga Saham Dengan Metode Relative Strength Index (RSI), 2009.

2. Oversold. Pasar disebut dalam kondisi oversold ketika nilai oscillator berada di

sekitar posisi ekstrim bawah. Pada RSI posisi ekstrim bawah biasanya pada level

30 dan posisi ekstrim atas pada level 70 sehingga jika nilai RSI di bawah level 30,

maka sinyal oversold akan muncul. Kondisi ini diakibatkan oleh penawaran

melebihi permintaan sehingga harga suatu saham menurun sampai titik terendah.

Kondisi ini merupakan pertanda bahwa saham tersebut dihargai terlalu rendah dan

akan mengalami peningkatan, disarankan kepada para investor untuk membeli

saham (sinyal beli).

2.3.6.1Rumus Relative Strength Index

Pada bagian ini akan dibahas cara menghitung Relative Strength Index.

Pada suatu hari d, dapat dihitung kenaikan atau penurunan harga pada saat

pasar modal ditutup (closing price) pada hari itu dibandingkan harga penutupan hari

sebelumnya. Rumusnya yaitu (Hendarto, 2005: 112):

(1)

dengan CPd adalah closing price pada hari d. Nilai U dan D tidak pernah negatif. Jika

harga saham pada suatu hari mengalami kenaikan maka Ud bernilai positif dan Dd

bernilai nol. Begitu juga sebaliknya, jika harga saham mengalami penurunan maka Dd

bernilai positif dan Ud bernilai nol.

Selanjutnya dihitung nilai U dan D selama N periode/jumlah hari untuk

menghitung nilai rata-rata U dan D. Penghitungan pertama dilakukan secara

sederhana, yaitu dengan menghitung jumlah total U dan D selama N periode/jumlah

hari ke belakang kemudian dibagi jumlah periode/jumlah hari (N). Rumusnya yaitu

(33)

Shafira Guslina : Perancangan Perangkat Lunak Prediksi Pergerakan Harga Saham Dengan Metode Relative Strength Index (RSI), 2009.

(2)

Sementara untuk nilai-nilai berikutnya, nilai rata-rata dihitung menggunakan

Exponential Moving Average, rumusnya yaitu (Hendarto, 2005: 113):

(3)

Nilai

α

berfungsi sebagai faktor penghalus (smoothing factor) bagi

Exponential Moving Average. Nilainya tergantung pada periode/jumlah hari (N) yang

digunakan. Rumusnya yaitu (Hendarto, 2005: 113):

(4)

Nilai rata-rata U dan D kemudian dibandingkan untuk menghasilkan nilai

Relative Strength Index, sehingga didapat rumusnya yaitu (Hendarto, 2005: 114):

(5)

RS kemudian digunakan untuk menghitung RSI, sehingga didapat

rumus/formulasi sebagai berikut (Hendarto, 2005: 114):

(6)

(34)

Shafira Guslina : Perancangan Perangkat Lunak Prediksi Pergerakan Harga Saham Dengan Metode Relative Strength Index (RSI), 2009.

2.3.6.2Periode yang Biasa Digunakan

Pada saat mengembangkan RSI, J. Welles Wilder menyarankan menggunakan RSI

dengan periode 14 hari. Periode 14 hari dirasa tepat untuk mendapatkan keseimbangan

antara frekuensi sinyal yang cukup tinggi, dan kehandalan sinyal yang diberikan.

Pada penggunaan berikutnya, para ahli banyak menggunakan RSI dengan

menggunakan periode yang berbeda-beda. Periode yang paling sering digunakan

adalah 9 dan 14 hari. Periode 5 atau 7 hari digunakan juga untuk mendapatkan

frekuensi sinyal yang tinggi. Periode lain yang sering digunakan adalah 21, 25 dan 28

hari untuk mendapatkan grafik yang lebih halus dan dapat dipercaya. Dalam Tugas

Akhir ini, RSI akan diuji menggunakan periode 9, 14 dan 25 hari karena

periode-periode ini lebih sering digunakan dan lebih popular saat ini.

Pemilihan periode yang berbeda akan menghasilkan hasil analisis dengan sifat

yang berbeda. Memilih periode yang pendek akan menyebabkan perataan dilakukan

selama periode yang pendek pula, sehingga lebih mudah menghasilkan sinyal

overbought atau oversold. Kenaikan harga selama beberapa hari akan lebih mudah

memicu sinyal overbought karena nilai U hanya dibandingkan dengan nilai D selama

periode yang singkat. Pada periode penghitungan tiga hari, misalnya kenaikan harga

selama dua hari sudah cukup untuk memberi sinyal overbought. Sedangkan memilih

periode yang panjang akan memberikan sinyal yang lebih kuat dan dapat diandalkan,

karena perbandingan dilakukan selama periode yang cukup lama. Pada penghitungan

yang dilakukan menggunakan periode panjang, sinyal overbought dan oversold akan

lebih jarang keluar, namun lebih dapat dipercaya.

2.4 Konsep Pemodelan Objek

Pemodelan objek merupakan suatu metode untuk menggambarkan struktur sistem

(35)

Shafira Guslina : Perancangan Perangkat Lunak Prediksi Pergerakan Harga Saham Dengan Metode Relative Strength Index (RSI), 2009.

Beberapa konsep dasar dalam pemodelan objek adalah objek, kelas, atribut, operasi,

dan hubungan.

2.4.1 Objek dan Kelas

Objek merupakan sesuatu, sebuah entitas, sebuah benda, sesuatu yang dapat diangkat

atau apapun yang dapat dibayangkan yang memiliki identitas masing-masing

(O’Docherty, 2005: 13). Ada beberapa objek yang hidup dan ada yang tidak. Contoh

objek dalam dunia nyata yaitu orang, nomor, kucing, dan mobil. Objek adalah orang,

tempat, benda, kejadian atau konsep-konsep yang ada di dunia nyata yang penting

bagi suatu perangkat lunak (Nugroho, 2005: 38).

Kelas seperti juga objek adalah sesuatu yang membungkus (encapsulate)

informasi (atribut) dan perilaku (operasi) dalam dirinya. Dalam pengembangan sistem

tradisional, dilakukan pendekatan dengan cara memisahkan atribut pada sisi basis data

dan operasi pada sisi aplikasi pengakses. Namun hal ini berbeda pada pendekatan

berorientasi objek yang menggabungkan atribut dengan operasi yang akan

mengaksesnya dalam apa yang dinamakan kelas. Kelas didefinisikan sebagai

kumpulan objek dengan atribut yang mirip, operasi yang mirip, serta hubungan

dengan objek yang lain dengan cara yang mirip (Nugroho, 2005: 40).

Gambar berikut memperlihatkan suatu kelas dan objek yang mungkin

dihasilkan dengan prosedur instansiasi. Suatu objek merupakan instansiasi dari suatu

kelas jika objek itu merupakan keturunan yang nyata dari suatu kelas.

Manusia (Manusia)

(36)

Shafira Guslina : Perancangan Perangkat Lunak Prediksi Pergerakan Harga Saham Dengan Metode Relative Strength Index (RSI), 2009.

2.4.2 Atribut dan Operasi

Setiap objek memiliki identitas dan masing-masing dapat dibedakan. (Nugroho, 2005:

38). Setiap objek memiliki atribut, misalnya sebuah mobil memiliki produsen, jenis,

warna dan harga, sedangkan seekor kucing memiliki jenis kelamin, jenis, berat, dan

warna. Setiap objek juga memiliki operasi, misalnya mobil dapat bergerak dari satu

tempat ke tempat lain, sedangkan kucing dapat berlari, minum dan makan.

Atribut adalah informasi-informasi yang dimiliki suatu objek dalam kelas. Dari

contoh di atas dapat ditambahkan, untuk objek Adi dan Ani dapat memiliki atribut

jenis kelamin, usia, berat badan, tinggi badan dan lain-lain. Dari fakta-fakta ini dapat

dipahami bahwa nilai dari suatu atribut adalah karakteristik yang membedakan satu

objek dengan objek lainnya dalam kelas yang sama.

Manusia (Manusia) (Manusia)

Kelas dengan atribut Objek dengan nilai pada atribut

Instansiasi

Gambar 2.2 Atribut dan Nilai

Operasi atau metode berhubungan dengan perilaku yang berhubungan dengan

suatu kelas. Operasi adalah fungsi atau transformasi yang mungkin dapat

diaplikasikan ke/oleh suatu objek dalam kelas. Contohnya suatu objek dalam kelas

manusia dapat memiliki operasi-operasi seperti tersenyum, berbicara, makan, minum

dan sebagainya. Algoritma dari suatu operasi dapat dirincikan dengan menggunakan

pseudocode yang memiliki bagian-bagian yaitu nama metode, kamus yang berisi

semua nama yang ada dan tipe datanya serta algoritma yang berisi langkah-langkah

(37)

Shafira Guslina : Perancangan Perangkat Lunak Prediksi Pergerakan Harga Saham Dengan Metode Relative Strength Index (RSI), 2009.

+Makan() +Pilih(in Point : object) : bool -Warna

-Posisi -Jari-jari

Lingkaran

Gambar 2.3 Operasi

2.4.3 Hubungan (Relationship)

Ketika menggambarkan kelas-kelas dan objek-objek, akan terlihat bahwa kebanyakan

kelas dan objek adalah berdiri sendiri. Pada kenyataannya, hampir semua kelas dan

objek saling bekerja sama satu sama lain sehingga pada pemodelan kelas dan objek,

setelah kelas dan objek didefinisikan, juga dimodelkan bagaimana kelas-kelas dan

objek-objek saling berhubungan.

2.5 UML (Unified Modelling Language)

UML adalah keluarga notasi grafis yang didukung oleh meta-model tunggal, yang

membantu pendeskripsian dan desain sistem perangkat lunak, khususnya sistem yang

dibangun menggunakan pemrograman berorientasi objek (Fowler, 2005: 1). UML

merupakan standar yang relatif terbuka yang dikontrol oleh Object Management

Group (OMG), yang terdiri dari banyak perusahaan. UML lahir dari penggabungan

banyak bahasa pemodelan grafis berorientasi objek antara lain metode Booch oleh

Graddy Booch, metode Object Modelling Technique (OMT) oleh DR. James

Rumbaugh dan metode Object Oriented Software Engineering (OOSE) oleh Ivar

Jacobson.

Dengan UML, dapat dibuat model untuk perangkat lunak, dimana perangkat

lunak tersebut dapat berjalan pada perangkat keras, sistem operasi dan jaringa n

apapun, serta ditulis dalam bahasa pemrograman apapun. Namun, karena UML juga

(38)

Shafira Guslina : Perancangan Perangkat Lunak Prediksi Pergerakan Harga Saham Dengan Metode Relative Strength Index (RSI), 2009.

untuk pemodelan perangkat lunak dalam bahasa berorientasi objek seperti C++, Java,

C# atau VB.NET.

2.5.1 Analisis Persyaratan dengan UML

Analisis persyaratan meliputi usaha untuk mengetahui apa kemampuan sebuah sistem

yang diinginkan pengguna dan pelanggan dari sebuah pengembangan perangkat lunak.

Beberapa diagram yang digunakan dalam analisis persyaratan yaitu:

1. Use case diagram yang digunakan untuk menggambarkan bagaimana orang-orang

berinteraksi dengan sistem tersebut.

2. Activity diagram yang berfungsi menunjukkan aliran kerja organisasi tersebut

yang dapat menunjukkan bagaimana aktivitas interaksi antara perangkat lunak dan

manusia. Activity diagram dapat menunjukkan konteks use case dan juga rincian

bagaimana sebuah use case berjalan.

3. Class diagram yang diambil dari sudut pandang konseptual, dapat berfungsi untuk

membangun kosakata yang besar mengenai domain tersebut.

4. Package diagram untuk mengelompokkan kelas-kelas.

2.5.2 Desain dengan UML

Beberapa diagram yang digunakan dalam mendesain sistem yaitu:

1. Use case diagram yang digunakan untuk menggambarkan bagaimana orang-orang

berinteraksi dengan sistem tersebut.

2. Sequence diagram untuk mengetahui apa yang terjadi dalam perangkat lunak.

3. Class diagram dari sudut perangkat lunak. Diagram ini menunjukkan kelas yang

terdapat di dalam perangkat lunak dan bagaimana mereka saling berhubungan.

4. Package diagram untuk menunjukkan organisasi berskala besar perangkat lunak

tersebut.

5. Penggunaan deployment diagram untuk menunjukkan susunan fisik perangkat

(39)

Shafira Guslina : Perancangan Perangkat Lunak Prediksi Pergerakan Harga Saham Dengan Metode Relative Strength Index (RSI), 2009.

2.5.3 Teknik Analisis dan Desain Sistem dengan UML

Teknik yang digunakan dalam pemodelan analisis dan desain sistem menggunakan

UML di antaranya:

1. Pengidentifikasian fungsionalitas sistem dengan penggunaan use case diagram.

2. Pengidentifikasian skenario sistem berdasarkan use case diagram dengan

penggunaan activity diagram.

3. Pengidentifikasian kelas-kelas yang terdapat dalam sistem dengan penggunaan

class diagram.

4. Pengidentifikasian hubungan inheritance antara kelas.

5. Pengidentifikasian atribut-atribut yang dimiliki setiap kelas.

6. Pengelompokan kelas-kelas dalam package-package tertentu dengan penggunaan

package diagram.

7. Pada setiap use case, dilakukan pengidentifikasian operasi-operasi yang dimiliki

setiap kelas yang terlibat dalam use case tersebut.

8. Pengidentifikasian objek-objek, serta penggunaan sequence diagram untuk

mendeskripsikan aliran komunikasi antara objek-objek pada setiap use case.

9. Desain antarmuka sistem dan spesifikasi detail dari bagian-bagian antarmuka yang

berhubungan dengan fungsi sistem.

10.Pengidentifikasian arsitektur fisik sistem dan kebutuhan sistem dengan

penggunaan deployment diagram.

Teknik yang digunakan tidak terbatas pada teori yang diperoleh, namun

berdasarkan kebutuhan pada saat analisis dan desain sistem. Dalam pembangunan

suatu sistem, jenis diagram yang digunakan disesuaikan dengan kebutuhannya.

(40)

Shafira Guslina : Perancangan Perangkat Lunak Prediksi Pergerakan Harga Saham Dengan Metode Relative Strength Index (RSI), 2009.

Dalam UML, dikenal diagram-diagram yang digunakan untuk membantu dalam

analisis dan desain sistem. Dalam Tugas Akhir ini, ada beberapa diagram yang

digunakan, yaitu use case diagram, activity diagram, class diagram, sequence

diagram, package diagram, dan deployment diagram.

2.5.4.1 Use Case Diagram

Use case diagram mendeskripsikan interaksi tipikal antara para pengguna sistem

dengan sistem itu sendiri, dengan memberi sebuah narasi tentang bagaimana sistem

tersebut digunakan (Fowler, 2005: 50). Use case diagram menampilkan aktor, use

case, dan hubungan diantara mereka yang dijabarkan sebagai berikut:

1. Aktor

Aktor adalah seseorang atau sesuatu yang berinteraksi dengan sistem yang sedang

dikembangkan. Aktor bersifat eksternal, yaitu berada di luar lingkup sistem yang

sedang dikembangkan (Nugroho, 2005: 56). Pengguna sistem merupakan aktor

yang umum di setiap sistem. Aktor disimbolkan dengan:

Gambar 2.4 Aktor

Setiap use case diagram memiliki aktor utama yang meminta sistem untuk

memberi sebuah layanan. Aktor utama adalah aktor dengan tujuan yang akan

dipenuhi oleh use case diagram. Aktor selain aktor utama dikenal sebagai aktor

sekunder.

2. Use Case

Use case menggambarkan bagaimana seseorang akan mengunakan atau

memanfaatkan sistem. Use case dapat membantu untuk berfokus pada apa yang

penting, yaitu menentukan apa yang dibutuhkan serta harapan pengguna terhadap

(41)

Shafira Guslina : Perancangan Perangkat Lunak Prediksi Pergerakan Harga Saham Dengan Metode Relative Strength Index (RSI), 2009.

sistem yang dikembangkan. Pengidentifikasian use case dapat dilakukan dengan

melakukan identifikasi pekerjaan-pekerjaan dan fungsi-fungsi apa yang dilakukan

aktor untuk sistem. Use case disimbolkan dengan:

Us e cas e

Gambar 2.5 Use Case

3. Hubungan (relationship)

Aktor dan use case masing-masing tidak berdiri sendiri, melainkan saling

terhubung dengan apa yang dinamakan hubungan. Ada beberapa hubungan yang

dikenal dalam use case diagram, yaitu:

a. Hubungan asosiasi (association relationship)

Hubungan asosiasi merupakan hubungan yang biasa terjadi antara aktor dan

use case yang menggambarkan bahwa aktor melakukan apa yang dinyatakan

dalam use case. Hubungan disimbolkan dengan:

Aktor Use case

Gambar 2.6 Hubungan Asosiasi

b. Hubungan cakupan (include relationship)

Hubungan cakupan memungkinkan suatu use case untuk menggunakan

fungsionalitas yang disediakan oleh use case lainnya. Hubungan ini dapat

membantu dalam beberapa kasus seperti pada kasus dimana dua atau lebih use

case memiliki sejumlah besar fungsi yang identik, maka fungsi-fungsi yang

sama dapat dipisahkan menjadi suatu use case tersendiri, sehingga use case

lain dapat memiliki hubungan cakupan dengan use case yang baru. Hubungan

(42)

Shafira Guslina : Perancangan Perangkat Lunak Prediksi Pergerakan Harga Saham Dengan Metode Relative Strength Index (RSI), 2009.

NewUseCase1 NewUseCase2 <<incl ude>>

Gambar 2.7 Hubungan Cakupan

c. Hubungan perluasan (extends relationship)

Hubungan perluasan memungkinkan suatu use case memiliki kemungkinan

untuk memperluas fungsionalitas yang disediakan use case lainnya. Hubungan

perluasan disimbolkan dengan:

NewUseCase1 NewUseCase2 <<extend>>

Gambar 2.8 Hubungan Perluasan

d. Hubungan generalisasi (generalization relationship)

Hubungan generalisasi digunakan untuk memperlihatkan bahwa beberapa

aktor atau use case memiliki sesuatu hal yang bersifat umum. Generalisasi

berguna untuk mengelompokkan sifat-sifat yang umum dari sejumlah aktor

atau use case menjadi aktor atau use case tunggal, kemudian bisa mewariskan

sifat-sifat umum tadi ke sejumlah aktor atau use case yang lain. Hubungan

generalisasi disimbolkan dengan:

(43)

Shafira Guslina : Perancangan Perangkat Lunak Prediksi Pergerakan Harga Saham Dengan Metode Relative Strength Index (RSI), 2009.

2.5.4.2 Activity Diagram

Activity diagram secara sepintas mirip dengan diagram alir (flowchart) yang

memperlihatkan aliran kendali dari suatu activity ke activity lainnya. Activity diagram

juga dapat digunakan untuk memodelkan langkah-langkah dalam sebuah use case.

Dalam membangun activity diagram dikenal beberapa komponen, yaitu:

1. Awal dan akhir activity

Simbol yang digunakan untuk awal activity yaitu:

Gambar 2.10 Simbol Awal Activity

Mirip dengan simbol awal activity, simbol yang digunakan untuk

menandakan akhir dari activity diagram yaitu:

Gambar 2.11 Simbol Akhir Activity

2. Action state dan Activity state

Action state merupakan langkah-langkah dalam activity diagram, dimana state

mencerminkan eksekusi dari suatu aksi pada objek. Misalnya pemanggilan operasi

pada sebuah objek, menciptakan objek, atau menghancurkan objek. Pekerjaan

suatu action state secara umum dipertimbangkan mengambil waktu eksekusi yang

tidak signifikan. Action state pada umumnya bersifat atomik, pekerjaannya tidak

dapat didekomposisi lebih lanjut. Action state pada activity diagram disimbolkan

dengan:

X = X + 1

Gambar 2.12 Action State Mulai

(44)

Shafira Guslina : Perancangan Perangkat Lunak Prediksi Pergerakan Harga Saham Dengan Metode Relative Strength Index (RSI), 2009.

Activity state dapat didekomposisi lebih lanjut, activity state dapat

ditampilkan dengan activity diagram yang lain. Activity state tidak bersifat atomik,

yang secara umum berarti membutuhkan beberapa waktu untuk terselesaikan

(45)
(46)

Shafira Guslina : Perancangan Perangkat Lunak Prediksi Pergerakan Harga Saham Dengan Metode Relative Strength Index (RSI), 2009.

2.5.4.3 Class Diagram

Class diagram mendeskripsikan jenis-jenis objek dalam sistem dan berbagai macam

hubungan yang terdapat diantara mereka. Class diagram juga menunjukkan properti

dan operasi sebuah kelas dan batasan-batasan yang terdapat dalam

hubungan-hubungan objek tersebut. Atribut mewakili fitur-fitur struktural dari suatu kelas.

Ada beberapa elemen yang diperlukan dalam membangun sebuah class

diagram, yaitu:

1. Kelas, Atribut, dan Operasi

Kelas merupakan pendeskripsian sekumpulan objek-objek yang memiliki, atribut,

operasi, hubungan, serta behavior yang mirip. Atribut merupakan

informasi-informasi atau ciri-ciri yang dimiliki oleh kelas, sedangkan operasi berhubungan

dengan perilaku yang berhubungan dengan suatu kelas. Operasi merupakan suatu

kegiatan yang dimengerti sebuah kelas untuk dilakukan (Fowler, 2005: 67).

Gambar 2.17 Kelas, Atribut, dan Operasi

2. Hubungan

Hubungan memiliki beberapa bentuk, yaitu:

a. Hubungan Asosiasi

Asosiasi merupakan hubungan antara dua atau lebih kelas yang

menspesifikasikan hubungan antara bagian-bagian mereka. Hubungan antara

dua buah kelas mengindikasikan bahwa objek pada kelas yang satu

“mengenali” objek pada kelas yang lain dan dapat mengirimkan pesan kepada

objek tersebut. Asosiasi memiliki multiplisitas yang memberi petunjuk tentang

(47)

Shafira Guslina : Perancangan Perangkat Lunak Prediksi Pergerakan Harga Saham Dengan Metode Relative Strength Index (RSI), 2009.

yang lain pada satu waktu tertentu. Dalam UML, notasi-notasi multiplisitas

yang dapat digunakan yaitu:

Tabel 2.1 Multiplisitas

Multiplisitas Arti

Satu 1

Nol atau banyak (tak terbatas) * (0..*)

Satu atau banyak 1..*

Nol atau satu (asosiasi pilihan) 0..1

Jangkauan tertentu 2..4

Multiple, jangkauan disjoint 2, 4..6, 8

Asosiasi biasanya diberi nama untuk menggambarkan artinya. Asosiasi

juga memiliki role, yaitu ujung dari suatu asosiasi yang terhubung ke kelas.

Gambar 2.18 Hubungan Asosiasi

b. Hubungan Agregasi dan Komposisi

Agregasi merupakan bentuk hubungan antara suatu keseluruhan ke

Gambar

Gambar 2.9 Hubungan generalisasi
Gambar 2.19 Hubungan Agregasi
Tabel 3.1 Aktor pada Model Use Case SAFIRA
Gambar 3.2 Activity Diagram untuk Use Case Melihat Informasi IHSG
+7

Referensi

Dokumen terkait

Model matematika dan simulasi pergerakan harga saham dalam skripsi ini hanya bisa digunakan untuk data harga saham yang mempunyai return berdistribusi normal saja, mungkin akan

Gambar 1 merupakan pergerakan harga saham yang digunakan sebagai sampel untuk membangkitkan harga saham pada waktu selanjutnya dengan menggunakan parameter dari data real

Pengujian juga menunjukkan bahwa periode penghitungan yang lebih panjang akan menghasilkan sinyal-sinyal perdagangan dengan kuantitas yang lebih rendah dan tingkat kebenaran

Tampilan Form Data Customer KESIMPULAN Dari penelitian ini dapat disimpulkan beberapa hal mengenai kesimpulan dari perangkat lunak sistem pendukung keputusan membangun perangkat

Agar pencarian dapat dilakukan dengan cepat dan mudah, maka digunakan perangkat lunak berbasis intelligent mobile agent yang bertindak untuk memonitor dan mengambil data

Setiap cluster tersebut dilatih dengan algoritma GFS untuk mendapatkan hasil arsitektur fuzzy yang digunakan untuk memprediksi indeks harga saham besok.. Untuk grafik

Pada tugas akhir ini dilakukan penelitian tentang prediksi pergerakan harga saham PT Astra Internasional tbk dengan menggunakan data harian saham yaitu data

Untuk memprediksi digunakan perbandingan antara harga High, Low, Close dari beberapa saham yang digunakan yang membantu kita untuk menemukan apakah harga akan naik atau